Feeds:
Posts
Comments

Archive for April 26th, 2007

Roh Gentayangan?

Assalamu’alaikum wr. wb.

Merebaknya tayangan mistik di berbagai televisi Indonesia, sangat merisaukan umat Islam.

Seolah-olah roh manusia yang telah meninggal masih bergentayangan di bumi, berkomunikasi dengan manusia yang masih hidup, atau mengganggu manusia dan lain-lain.

Tapi menurut seorang Ustaz di sebuah pengajian lewat radio (saya tidak usah menyebutkan namanya), roh-roh yang bcrgentayangan itu adalah iblis (Jin) yang melakukan tipu daya dengan menyerupai orang yang sudah meninggal untuk menyesatkan dan merusak akidah manusia, Sedangkan roh manusia yang telah meninggal berada di alam barzakh, tetap di sana sampai Hari Kebangkitan.

Dalilnya, antara lain, firman Allah “Kemudian, sesudah itu sesungguhnya kamu semua benar-benar akan mati. Kemudian sesungguhnya kamu semua akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.” [QS.Al-Mu’minun (23) : 15-16]

Oleh karena itu, saya mohon Bapak Kiai dapat memberikan bimbingan agama mengenai masalah ini. Di manakah tempat arwah manusia setelah meninggal? Benarkah ada arwah manusia bergentayangan di bumi, bahkan berkomunikasi dengan manusia yang masih hidup? Atas bimbingan tersebut, saya ucapkan terima kasih.

Dari

Agus Sudaryanto
Babelan, Bekasi


Wa’alaikumussalam Wr.Wb.
Bapak Agus Sudaryanto yang baik.
Semaraknya tayangan berbau mistik di berbagai televisi di Indonesia, memang sangat meresahkan dan menggelisahkan umat Islam, terutama bagi orang-orang yang masih memiliki kepedulian akan pentingnya menjaga kemumian akidah umat Islam. Meskipun di sisi lain, kita tahu bahwa pihak pertelevisian yang menayangkan program-program berbau mistik tersebut, lebih berorientasi pada target mengejar rating tinggi, hingga eksistensi televisi sebagai media penyebaran informasi dan media pendidikan sering terabaikan.

Sebelum menjawab pertanyaan Bapak tentang posisi ruh (arwah) manusia yang telah meninggal, terlebi dulu ingin kami paparkan beberapa hal yang ada hubungannya dengan masalah itu.

Pertama,

tentang alam, bahwa alam itu terbagi menjadi tiga, yaitu alam dunia, alam barzakh dan alam akhirat. Ketiga jenis alam itu memiliki status dan aturan sendiri. Alam dunia adalah refieksi dari jasad sedangkan ruh sebagai bagiannya, namun sebaliknya alam barzakh adalah refleksi dari ruh sedangkan jasad sebagai bagiannya. Dan terakhir alam akhirat atau Daru al-Qarar adalah alam setelah kebangkitan manusia dari kuburnya untuk mendapatkan baiasan, di mana jasad dan ruh digabungkan kembali.

Kedua,

kematian atau maut adalah berpisahnya ruh dengan jasad, dan ketika pemisahan tersebut terjadi, ruh berada di alam barzakh atau alam kubur. Ibarat perjalanan waktu, manusia yang sudah pindah ke alam lain itu tidak akan kembaii ke alam semula. Ruh manusia yang sudah pindah ke alam barzakh juga tidak akan kembaii ke alam dunia. dan tidak akan pernah kembali ke alam dunia.

Ketiga,

barzakh secara bahasa berarti pembatas antara dua hal, dan di sini maksudnya pembatas antara alam dunia dengan alam akhirat.

Dengan demikian, ketika seorang meninggal (mati, berpisah jasad dari ruhnya), maka ia tidak akan kembali ke alam dunia. Pada hari kiamat nanti, orang-orang kafir akan memohon kepada Allah agar dikembalikan lagi ke dunia untuk beramal shalih, tetapi permintaan itu tidak dikabulkan oleh Allah. Oleh karena itu, apa yang dikatakan oleh seorang Ustadz tadi, bahwa ruh-ruh yang bergentayangan itu adalah setan yang melakukan tipu daya dengan menyerupai orang yang sudah meninggal, insya Allah benar. Dan ketika ruh akan dibangkitkan dari alam barzakh (alam kubur) ke alam akhirat, ruh itu dikembalikan ke jasad yang baru yang diciptakan untuk alam akhirat.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyebutkan daiam bukunya, al-Ruh, bahwa ada beberapa pendapat tentang keberadaan ruh setelah meninggal hingga hari kiamat. Dari sekian banyak pendapat yang ada, tidak satu pun yang menerangkan bahwa ada ruh yang bergentayangan. Ruh orang-orang beriman berada dialam barzakh yang luas, yang di dalamnya ada ketenteraman dan rezeki serta kenikmatan, sedangkan ruh orang-orang kafir berada di barzakh yang sempit, yang di dalamnya hanya ada kesusahan dan siksa. Allah berfirman, “Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. al-Mukminun : 100).

Adapun kaitannya dengan Jin adalah, bahwa Jin itu makhluk yang dapat menjelma atau merubah fisiknya menyerupai bentuk manusia atau makhluk-makhluk yang lain. Setan yang berasal dari Jin, ingin menyebarkan tipu daya dan keraguan pada keimanan manusia, maka saiah salu caranya adalah dengan menjelma menyerupai seseorang yang telah meninggal. Akibat dari penjelmaan tersebut, orang-orang yang melihat menganggap dan berkeyakinan bahwa yang mereka lihat adalah ruh dari orang yang mereka kenal sebelumnya. Oleh karena itu, apa yang dikatakan oleh kaum awam tentang adanya ruh gentayangan tidaklah benar menurut ajaran Islam.

Mengenai kemungkinan adanya komunikasi antara manusia yang masih hidup dengan orang yang sudah meninggal juga tidak benar, hatta para nabi dan wali yang telah meninggal sekalipun, tidak bisa berkomunikasi dengan manusia yang masih hidup. Oleh karena itu, cerita yang kerap kita dengar tentang pertemuan dan perbincangan seseorang dengan Nabi Haidir di tepi pantai adalah cerita bohong belaka. Rasulullah SAW bersabda, “Setelah seratus tahun, semua yang hidup di atas bumi ini akan meninggal.” (HR Imam AI-Bukhari). Beralasan dengan Hadis tersebut dan beberapa hadis yang lain, para ulama berpendapat bahwa Nabi Haidir benar-benar telah meninggal dan tidak akan kembah’ ke alam dunia, apalagi bertemu dan berkomunikasi dengan manusia.

Memang ada firman Allah yang terjemahannya, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS. Ali Imran : 169) Demikian juga Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam ai-Baihaqi dalam kitabnya, Hayat al-Anbiya fi Quburihim, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Para Nabi itu hidup di daiam kubur mereka senantiasa dalam keadaan shalat.”

Namun demikian, maksud ayat dan Hadis tersebut adalah menjelaskan tentang adanya bentuk kehidupan yang dialami para Syuhada dan para Nabi setelah mereka meninggal. Kehidupan yang dimaksud adalah kehidupan secara khusus yang tidak dapat diketahui hakikatnya kecuali oleh Allah SWT. Demikian juga Hadis Rasulullah yang menyebutkan, “Siapa saja dari umatku yang bershalawat padaku sepeninggalku, maka aku akan membalas salamnya.” Ketika Rasulullah membalas ucapan shalawat umatnya, juga tidak dapat diketahui dan didengar oleh umatnya. (disalin & diedit dari amanahonline)

Demikianlah jawaban kami, mudah-mudahan bermanfaat

Advertisements

Read Full Post »

SIHIR,

PARANORMAL DAN PRAKTEK PERDUKUNAN DALAM ISLAM

Indonesia adalah tempat yang subur untuk perdukunan. Negara ini seolah terbelenggu dengan perdukunan. Jual tanah saja harus pergi ke dukun, mau usahanya lancar, mau jabatannya bertahan, mau punya wibawa dan ditakuti bawahan harus pergi ke dukun. Walaupun mungkin sebutan dukun sekarang kalah populer dengan paranormal atau pensehat spiritual, ditambah lagi oleh mitos-mitos yang berkembang di nusantara ini, seperti orang hamil harus membawa gunting, angka 13 adalah angka sial, diperparah lagi oleh tayangan mistik dan klenik yang berkembang pesat di dunia pertelevisian kita, dan ironinya mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat. Dari data yang ada, sekitar 149 tayangan misteri di TV kita. Di kantor terkumpul jimat dari harga yang terendah Rp 100 dan termahal Rp 1 milyar.

Dunia sihir dan perdukunan erat kaitannya dengan dunia jin dan setan, karenanya pada kesempatan ini perlu kiranya kita menyimak pandangan Islam tentang dunia jin.

Prinsip-prinsip Islam Mengenai Jin dan Setan

1. Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah sumber kita dalam mengenal masalah ghaib. Setiap informasi tentang yang ghaib selain dari keduanya harus kita tolak, kecuali yang selaras dengan ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Allah Swt berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. 49:1)

2. Allah menciptakan jin dan manusia untuk satu tujuan yakni mengabdi kepada Allah Swt.

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. 51:56)

3. Jin diciptakan dari percikan api neraka sebelum manusia diciptakan.

“Dia menciptakan jin dari nyala api.” (QS. 55:15)

4. Iblis adalah keturunan jin yang membangkang dari perintah Allah, Dia bukan golongan malaikat.

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat:”Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim. (QS. 18:50)

5. Syetan adalah sebutan bagi pembangkang dari golongan jin dan manusia, sebagai musuh dari setiap orang beriman.

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkan mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS. 6:112)

6. Jin adalah ummat seperti manusia, ada yang baik dan ada yang jahat, ada yang mukmin dan ada yang kafir, agama mereka berbeda-beda, tetapi mereka harus tetap mengikuti syariat.

Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (QS. 72:11)

7. Jin bisa melihat manusia, sedangkan manusia tidak bisa melihat jin.

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS. 7:27)

8. Jin tidak dapat menampakkan diri kepada manusia, tetapi jika yang muncul sejenis sesuatu yang menakutkan seperti kuntilanak, genderuwo, dsb maka itu adalah setan yang ingin menakut-nakuti manusia tapi bukan asli jin.

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS. 72:27)

9. Setiap manusia diikuti oleh dua qarin dari jin dan dari malaikat. Qarin dari malaikat selalu membisikkan kebaikan, sebaliknya qarin dari jin selalu membisikkan kejelakan dan kejahatan. Sedangkan qarin dari jin yang mendampingi Rasulullah Saw telah masuk Islam.

Tidaklah salah seorang dari kalian, kecuali telah didampingi oleh qarinnya dari golongan jin dan malaikat. Para sahabat bertanya, “Dan engkau juga ya Rasulullah/” Rasulullah menjawab, “Demikian juga dengan saya. Tetapi Allah telah membantu saya atasnya. Maka dia masuk Islam. Dan ia tidak memerintahkan saya kecuali dalam kebaikan” (HR. Muslim)

10. Memohon perlindungan kepada jin adalah haram, seperti minta perlindungan terhadap dirinya, kesehatannya, keselamatannya, hartanya, rumahnya, kantornya, kebunnya, kenadaraannya, jabatannya, usahanya, agamanya, dsb.

Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (QS. 72:6)

11. Jin bisa merasuk ke dalam jasad manusia dan mengalir dalam tubuh manusia melalui aliran darah. Sebagaimana Sabda Rasulullah Saw:

“Sesungguhnya syaitan itu mengalir dari tubuh manusia melalui jalan darah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

12. Syetan atau jin pembangkang tidak akan mampu menguasai orang yang beriman dan selalu bertawal kepada Allah.

Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. (QS. 16:99)

13. Orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan syirik, mereka mendapat jaminan keamanan dan jaminan petunjuk dari Allah.

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 6:82)

14. Gangguan jin terhadap manusia dengan merasuk ke dalam jasadnya adalah tindakan zhalim. Terapinya adalah dengan cara membersihkan keimanannya, meluruskan ibadahnya dengan memperbanyak dzikir.

15. Terapi secara syar’i adalah bagian dari jihad fi sabilillah melawan syaitan maka kita haruslah tetap istiqamah di atas jalan yang haq.

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS. 35:6)

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (QS. 4:76)

Demikianlah makalah yang sederhana ini, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi kita semua dalam rangka menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar dan menjaga kemurnian aqidah kita.

 

(ikadi)-swaramuslim.com-

Read Full Post »

Jika Ada Mahluk Lain

Selain Manusia

Kamis, 26 Apr 07 07:20 WIB

Ust. Ada yang bertanya kepada saya jika memang ada mahluk di luar sana (dari salah satu artikel ust. ) sedangkan para nabi diturunkan di bumi, lalu siapakah yang dijadikan teladan mahluk tersebut? Apakah ada aturan juga seperti di bumi?

Mohon penjelasannya. Terima kasih

Dony

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kalau memang ada makhluq lain di ‘luar sana’ selain manusia, maka mereka tidak perlu beragama dengan agama manusia. Karena agama Islam ini dan juga nabi Muhammad SAW diutus hanya untuk umat manusia, bukan untuk alien.

Kecuali bila aliennya itu manusia juga, maka mereka wajib bernabi kepada nabi Muhammad SAW. Dan beragama dengan agama Islam. Dan kalau alien itu manusia, maka pastilah asalnya dari bumi. Sebab manusia pertama adalah nabi Adam ‘alaihissalam, di mana beliau tidak punya keturunan kecuali setelah beliau ‘mendarat’ di muka bumi.

Memang nabi Adam as itu bukan penduduk asli bumi. Berarti boleh dibilang bahwa beliau pun termasuk jenis ‘alien’. Dan kita ini, anak cucu Adam, berarti juga keturunan ‘alien’. Paling tidak, kita adalah satu-satunya makhluq cerdas di muka bumi.

Namun nabi Adam as tidak pernah punya keturunan kecuali di bumi. Sebab ketika di surga dahulu, beliau belum punya anak. Barulah setelah mendarat di bumi, beliau kemudian punya anak banyak.

Maka kalau seandainya ada alien di luar angkasa dan alien itu manusia, pastilah asalnya dari bumi. Alien itu (kalau ada) yang berbentuk manusia dan merupakan anak cucu dari nabi Adam as, maka dia terikat untuk menjalankan risalah para nabi, termasuk risalah nabi Muhammad SAW.

Seandainya mereka adalah anak keturunan manusia dengan teknologi maju dan bisa memantau bumi dari luar angkasa tanpa kita sadari, maka kewajiban mereka adalah belajar ilmu syariah. Mulai dari thaharah, shalat, puasa, zakat, haji dan seterusnya. Kewajiban yang berlaku pada kita berlaku juga buat mereka.

Tetapi sebelum kita berhayal terlalu jauh, ketahuilah bahwa sampai hari ini pun para ilmuwan belum selesai berdebat tentang apakah alien selain manusia di luar bumi itu memang nyata ada, ataukah hanya konsumsi para penonton film produksi Hollywood saja.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »

Gambar Wanita

Sebagai Iklan

Kamis, 26 Apr 07 07:04 WIB

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pak Ustazd, bagaimana kaidahnya dalam Islam mengenai penampilan atau menampilkan wantia dalam Iklan di TV atau media cetak.

Yang hampir semua orang (laki/wanita) yang melihat hal tersebut.

Terima Kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Abdullah

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kaidahnya sangat mudah dan jelas, yaitu semua wanita muslimah diharamkan memperlihatkan apapun dari tubuhnya, kecuali wajah dan kedua tapak tangannya. Baik secara langsung (live) atau pun lewat media televisi. Termasuk juga pada media lainnya seperti gambar pada majalah, koran, brosur, pamplet, baliho, spanduk dan seterusnya.

Para ulama sejak lama telah bersepakat bahwa batas aurat wanita itu adalah seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan kedua tapak tangan. Memang ada sebagian ulama yang tidak mencantumkan pengecualian, sehingga seluruh tubuh termasuk wajah dan tapak tangan pun dianggap aurat juga. Dan ada juga yang mengecualikan selaion wajah dan tapak tangan, yaitu kaki hingga kedua mata kaki.

Namun yang menjadi kesepakatan jumhur ulama adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua tapak tangan. Jadi selama seorang wanita tidak menampakkan auratnya, maka halal baginya untuk tampil di muka publik. Sebagaimana para wanita shahabiyah dan bahkan para isteri rasul sekalipun, juga tampil di muka publik.

Sedangkan tampil di muka publik dengan terlihat lengan, leher, pundak, dada, betis, paha dan lainnya, jelas haram hukumnya. Meski tanpa niat tampil sensual. Batasannya bukan pada sensualitasnya, atau juga bukan pada niatnya. Tetapi batasnya secara pisik saja, yaitu aurat.

Jadi kaidahnya sederhana dan mudah: Kalau aurat terlihat, haram tampil. Kalau aurat tidak terlihat, boleh tampil.

Adapun masalah kosmetik, bedak, lipstik, gincu, corak warna pakaian, model, potongan, dan lainnya, adalah wilayah yang oleh masing-masing ulama jadi bahan perbedaan pendapat. Mulai dari yang paling longgar hingga yang paling ketat. Tetapi urusan batas aurat, semua sepakat.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

Apakah Memancing Ikan

Termasuk Menyiksa Hewan

Kamis, 26 Apr 07 06:42 WIB

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Semoga pak ustadz terus dipimpin oleh hidayah dan taufiq dari Alllah untuk menjawab segala permasalahan ummat.

Saya baru belajar/mendapat bahwa dalam ajaran agama Islam melarang untuk menyiksa hewan sebelum membunuhnya. Bahkan dalam beberapa hadist diperintahkan untuk menajamkan pisau sebelum digunakan menyembelih hewan, sehingga mengurangi rasa sakit tersebut ketika disembelih.

Seorang ahli ulama yang wara’ tidak hanya menjaga hubungan baik dengan Allah tetapi juga mahluk lain misalnya hewan dan tumbuhan. Bahkan dalam cerita mereka datang terlambat ke masjid karena ketika berangkat ke Masjid terdapat seekor semut di sarungnya, beliau berusaha mengembalikan di mana tempat asal semut tersebut.

Saya mendapat nasehat bahwa memancing ikan adalah salah satu bentuk menyiksa hewan sebelum disembelih.

Ustad mohon saran bila saya memancing ikan di kolam ikan, apakah saya tetap berdosa? Bila saya memancing di laut atau di rawa-rawayang, saya rasa sulit menggunakan jala, apakah saya berdosa? Menangkap belut pada umumnya dipancing dan tidak menggunakan jarring apakah hal ini berdosa juga?

Saat ini dikampung saya melihat ada trend menangkap ikan menggunakan racun atau setrum listrik sehingga jumlah ikan menyusut tajam, apakah ini berdosa juga?

Saya sebenarnya agak suka memancing. Bila memang dilarang saya akan menghentikannya.

Mohon penjelasan yang seksama dari pak ustadz. Konsep memancing ikan apakah diperbolehkan atau tidak?

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh Terima kasih Budi Setia

Budi Setia

Budi Setia

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kalau logika yang dikembangkan adalah kita diharamkan menyakiti hewan sampai ke tingkat tidak boleh memancing ikan, karena dianggap menyakiti, maka seharusnya menggorengnya lebih kejam lagi. Apalagi memakannya, sampai digigit dan dikunyah-kunyah hingga hancur, sungguh tidak punya rasa pri-kebinatangan.

Logika yang dikembangkan oleh orang yang anda sebutkan itu, yakti tidak boleh menyakiti hewan memang kita terima, tetapi sebatas yang wajar. Tetapi yang jadi pertanyaan adalah: Apakah kalau kita sembelih dengan pisau yang tajam, lantas hewan itu tidak merasakan sakit? Apakah hewan itu jadi tersenyum ketika disembelih? Atau menari-nari kegirangan?

Rasanya sih tidak. Hewan itu tetap merasakan sakit. Buktinya hewan itu meronta-ronta, kadang malah keluar suara teriakan tidak berdaya. Anda pasti pernah melihat orang menyembelih kambing atau sapi. Lihatlah ekspresi wajahnya, pasti anda merasa kasihan kan?Itu tandanya hewan itu tetap kesakitan saat lehernya diputus dengan pisau.

Adapun anjuran nabi SAW untuk menajamkan pisau, sekedar sebuah cara untuk sedikit meringankan penderitaannya. Sebab pisau yang tumpul itu akan membuat sakitnya agak lama.Dan pisau yang tajam akan membuatnya sakitnya lebihcepat. Tapi urusan sakit sih tetap sakit.

Maka ikan yang anda pancing itu pasti sakit juga. Akan tetapi tidak ada syariah untuk menyembelih ikan. Yang disembelih hanyalah hewan ternak seperti ayam, kambing, sapi, unta. Seumur-umur kita belum pernah mendengar nabi Muhammad SAW memerintahkan kita untuk menyembelih ikan. Dan di seluruh dunia ini, kita belum pernah melihat ada orang menyembelih ikan.

Sebab yang namanya ikan memang tidak disembelih. Dibiarkan mati, baik karena ditangkap jaring, atau dipancing, atau diangkat ke darat hingga tidak bisa nafas, semuanya halal dan boleh. Bangkai ikan adalah satu dari dua bangkai yang halal dimakan.

Jadi silahkan saja anda meneruskan hobi memancing, tidak usah khawatirdengan logika yang mengada-ada. Selama tidak ada larangan untuk memancing, maka janganasal main haramkan saja. Apalagi dengan logika asal jadi seperti itu.

Kenapa tidak diharamkan kita menginjak bumi? Bukankah kita harus kasihan kepada bumi, jangan diinjak-injak. Kenapa kita mengharamkan bernafas, kan kasihan oxygen itu makhluq Allah juga, jangan dihirup dong. Kenapa kita tidak haramkan minum air, kasihan kan air itu makhluk Allah juga.

Ah, rasanya logika seperti itu terlalu mengada-ada. Sebab Allah SWT telah menciptakan alam semesta ini memang untuk manusia, sepenuhnya untuk kepetingan dan keperlua manusia. Semua hewanituboleh dibunuh untuk dimakan dagingnya. Semua itu memang diciptakan Allah untuk manusia. Kecuali hewan yang diharamkan untuk dimakan, hukumnya haram dimakan. Tapi jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan yang boleh dimakan.

Meracun dan Menyerum Ikan

Sebaiknya kita tidak melakukan peracuanan dan penyetruman ikan di sungai, empang, danau dan lainnya. Bukan karena bab penyiksaan, melainkan lebih karena tindakan itu merusak lingkungan.

Sebab yang mati bukan hanya ikan besar, tetapi ikan kecil-kecil pun ikut mati juga. Bahkan hewan lain yang berguna dalam keseimbangan rantai makanan juga ikut musnah.

Tapi kalau anda punya ikan hidup di dalam ember, mau disetrum silahkan saja. Atau mau dibuang airnya hingga ikan itu mati, lalu dibelah isi perutnya, dibersihkan sisiknya, lalu diceburkan ke dalam minyak mendidih hingga gosok kehitaman, lalu anda masukkan ke mulut dan dikunyah-kunyah hingga hancur berkeping-keping masuk ke perut, semua adalah halal. Dapat pahala bahkan, asal niatnya untuk ibadah kepada Allah.

Wallahu a’lambishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »

Kriteria

Ulama dan Ilmunya

Kamis, 26 Apr 07 05:56 WIB

Assalamu’alaikum wr wb.

Saya punya beberapa pertanyaan.

1. Apakah definisi ulama? Kapankah seseorang bisa dikatakan ulama?

2. Misalkan mayoritas ulama berpendapat A dan ada beberapa ulama berpendapat B, bolehkah kita mengikuti pendapat B karena itu lebih mudah bagi kita? Apakah hal tersebut bisa dikategorikan sebagai mengikuti hawa nafsu, karena kita mengambil sesuatu berdasarkan mudahnya saja?

Untuk itu saya meminta penjelasan juga dari Ustadz

Terima kasih atas jawaban Ustadz

Fatahillah
jdc at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Secara bahasa, kata ulama adalah bentuk jamak dari kata ‘aalim. ‘Aalim adalah isim fail dari kata dasar:‘ilmu. Jadi ‘aalim adalah orang yang berilmu, maksudnya ilmu syariah. Dan ulama adalah orang-orang yang punya ilmu ke dalam di bidang ilmu-ilmu syariah.

Dan secara istilah, kata ulama mengacu kepada orang dengan spesifikasi penguasaan ilmu-ilmu syariah, dengan semua rinciannya, mulai dari hulu hingga hilir.

Keutamaan dan Kedudukan Para Ulama

Al-Quran memberikan gambaran tentang ketinggian derajat para ulama,

يَرْفَعِ اللهُ الذينَ آمَنُوا والذينَ أُوتُوا العِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberikan ilmu (ulama) beberapa derajat. (QS. Al-Mujadalah: 11)

Selain masalah ketinggian derajat para ulama, Al-Quran juga menyebutkan dari sisi mentalitas dan karakteristik, bahwa para ulama adalah orang-orang yang takut kepada Allah. Sebagaimana disebutkan di dalam salah satu ayat:

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Fathir: 28)

Sedangkan di dalam hadits nabi disebutkan bahwa para ulama adalah orang-orang yang dijadikan peninggalan dan warisan oleh para nabi.

والعلماء ورثة الأنبياء، إن الأنبياء لم يُورِّثوا دينارًا ولا درهمًا ولكنهم وَرَّثوا العلم

Dan para ulama adalah warisan (peninggalan) para nabi. Para nabi tidak meninggalkan warisan berupa dinar (emas), dirham (perak), tetapi mereka meninggalkan warisan berupa ilmu.(HR Ibnu Hibban dengan derajat yang shahih)

Di dalam kitab Ihya’u Ulumud-din karya Al-Imam Al-Ghazali disebutkan bahwa manusia yang paling dekat derajatnya dengan derajat para nabi adalah ahlul-ilmi (ulama) dan ahlul jihad (mujahidin). Karena ulama adalah orang yang menunjukkan manusia kepada ajaran yang dibawa para rasul, sedangkan mujahid adalah orang yang berjuang dengan pedangnya untuk membela apa yang diajarkan oleh para rasul.

Kerancuan Istilah Ulama

Namun istilah ulama di masa kini sering kali menjadi rancu dan tertukar-tukar dengan istilah lain yang nyaris beririsan. Padahal keduanya tetap punya perbedaan mendasar. Misalnya, seorang yang berprofesi sebagai penceramah, seringkali disebut-sebut sebagai ulama, meski tidak punya kapasitas otak para ulama. Kemampuannya di bidang ilmu syariah, jauh dari kriteria seorang ulama.

Penceramah adalah sekedar orang yang pandai berpidato menarik massa, punya daya pikat tersendiri ketika tampil di publik, mungkin sedikit banyak pandai menyitir satu dua ayat Quran dan hadits, tetapi begitu ditanyakan kepadanya, apa derajat hadits itu, ada di kitab apa, siapa saja perawinya, dan seterusnya, belum tentu dia tahu.

Bahkan tidak sedikit penceramah yang buta dengan huruf arab, alias tidak paham membaca kitab berbahasa arab. Padahal sumber-sumber keIslaman hanya terdapat dalam bahasa arab.

Namun penceramah tetap dibutuhkan oleh masyarakat awam, yang betul-betul kurang memiliki wawasan dan pemahaman atas agama Islam. Jadi meski seorang penceramah hanya punya ilmu agama pas-pasan, tetapi tidak ada rotan, akar pun jadilah.

Bahkan terkadang terjadi fenomena sebaliknya, banyak orang yang sudah sampai kepada level ulama, punya ilmu banyak dan mendalam, tetapi kurang fasih ketika berbicara di muka publik. Bahkan boleh jadi figurnya malah kurang dikenal. Sebab beliau tidak mampu berpidato di TV untuk menjaring iklan. Padahal dari sisi ilmu dan kedalamanannya atas kitabullah dan sunnah rasul-Nya, tidak ada yang mengalahkan.

Ulama Satu Bidang Ilmu

Di zaman sekarang ini, nyaris kita tidak lagi mendapatkan ulama dengan penguasaan di berbagai disiplin ilmu syariah. Kita hanya menemukan para ulama yang pernah belajar beberapa bidang ilmu, namun hanya menguasai satu atau dua cabang ilmu.

Misalnya, kita mengenal ada Syeikh Nashiruddin Al-Albani yang tersohor di bidang kritik hadits. Buku yang beliau tulis cukup banyak, namun kita tahu bahwa beliau bukan seorang yang ekpert di bidang lain, misalnya ilmu ushul fiqih, juga bukan jagoan ahli dibidang ilmu istimbath ahkam fiqih secara mendalam.

Kalau mau tahu apakah sebuah hadits itu shahih atau tidak, silahkan tanya beliau. Tetapi kalau tanya kaidah ushul fiqih, tanyakan kepada ulama lain yang ahli di bidangnya. Namun demikian, kita tetap harus hormat dan takzim kepada beliau atas ilmunya.

Ilmu-Ilmu Yang Harus Dikuasai Oleh Ulama

Idealnya, ilmu syariah dan cabang-cabangnya itu harus secara mendalam dikuasai, terlebih olehpara ulama. Sekedar gambaran singkat, di antaranya ilmu-ilmu syariah dan keIslaman yang harus dikuasai seorang ulama antara lain:

1. Ilmu Yang Terkait Dengan Al-Quran

  • Ilmu tajwid yang membaguskan bacaan lafadz AL-Quran
  • Ilmu qiraat (bacaan) Al-Quran, sepertiqiraah-sab’ah yang bervariasi dan perpengaruh kepada makna dan hukum.
  • Ilmu tafsir, yang mempelajari tentang riwayat dari nabi SAW tentang makna tiap ayat, juga dari para shahabat dan para tabi’in dan atbaut-tabi’in.
  • Ilmu tentang asbababun-nuzul, yaitu sebab dan latar belakang turunnya suatu ayat.
  • Ilmu tentang hakikat dan majaz yang ada pada tiap ayat Quran
  • Ilmu tentang makna umum dan khusus yang dikandung tiap ayat Quran
  • Ilmu tentang muhkam dan mutasyabihat dalam tiap ayat Quran
  • Ilmu tentang nasikh dan mansukh dalam tiap ayat Quran
  • Ilmu tentang mutlaq dan muqayyad, manthuq dan mafhum
  • Ilmu tentang i’jazul quran, aqsam, jadal, qashash dan seterusnya

2. Ilmu Yang Terkait dengan Hadits Nabawi

  • Ilmu tentang sanad dan jalur periwayatan serta kritiknya
  • Ilmu tentang rijalul hadits dan para perawi
  • Ilmu tentang Al-Jarhu wa At-Ta’dil
  • Ilmu tentang teknis mentakhrij hadits
  • Ilmu tentang hukum-hukum yang terkandung dalam suatu hadits
  • Ilmu tentang mushthalah (istilah-istilah) yang digunakan dalam ilmu hadits
  • Ilmu tentang sejarah penulisan hadits yang pemeliharaan dari pemalsuan

3. Ilmu Yang Terkait dengan Masalah Fiqih dan Ushul Fiqih

  • Ilmu tentang sejarah terbentuknya fiqih Islam
  • Ilmu tentang perkembangan fiqh dan madzhab
  • Ilmu tentang teknis pengambilan kesimpulan hukum (istimbath)
  • Ilmu ushul fiqih (dasar-dasar dan kaidah asasi dalam fiqih)
  • Ilmu qawaid fiqhiyah
  • Ilmu qawaid ushuliyah
  • Ilmu manthiq (logika)
  • Ilmu tentang iIstilah-istilah fiqih istilah fiqih madzhab
  • Ilmu tentang hukum-hukum thaharah, shalat, puasa, zakat, haji, nikah, muamalat, hudud, jinayat, qishash, qadha’, qasamah, penyelenggaraan negara dan seterusnya.

4. Ilmu Yang Terkait dengan Bahasa Arab

  • Ilmu Nahwu (gramatika bahasa arab)
  • Ilmu Sharaf (perubahan kata dasar)
  • Ilmu Bayan
  • Ilmu tentang Uslub
  • Ilmu Balaghah
  • Ilmu Syi’ir dan Nushus Arabiyah
  • Ilmu ‘Arudh

5. Ilmu Yang Terkait dengan Sejarah

  • Tentang sirah (sejarah nabi Muhammad SAW)
  • Tentang sejarah para nabi dan umat terdahulu dan bentuk-bentuk syariat mereka
  • Sejarah tentang Khilafah Rasyidah
  • Sejarah tentang Khilafah Bani Umayyah, Bani Abasiyah, Bani Utsmaniyah dan sejarah Islam kontemporer.

6. Ilmu Kontemporer

  • Ilmu politik dan perkembangan dunia
  • Ilmu ekonomi dan perbankan
  • Ilmu sosial dan cabang-cabangnya.
  • Ilmu psikologi dan cabang-cabangnya
  • lmu hukum positif dan ketata-negaraan
  • Ilmu-ilmu populer

Di masa lampau, orang yang disebut dengan ulama adalah orang-orang yang menguasai dengan ahli cabang-cabang ilmu di atas tadi. Namun di zaman sekarang ini, nyaris kita tidak lagi menemukannya.

Maka di zaman sekarang ini, para ulama dari beragam latar belakang keilmuwan yang berbeda perlu duduk dalam satu majelis. Agar mereka bisa melahirkan ijtihad jama’i (bersama), mengingat ilmu mereka saat ini sangat terbatas. Sementara ilmu pengetahuan berkembang terus.

Perbedaan Pendapat di Kalangan UIlama

Masalah perbedaan pendapat di kalangan ulama, barangkali yang anda maksud adalah pendapat fiqih dan fatwa-fatwa.

Sebelum kita memilih pendapat mereka yang menurut anda berbeda-beda, anda harus tahu terlebih dahulu latar belakang keilmuan mereka.

Untuk jawaban masalah hukum fiqih, maka janganlah bertanya kepada ulama hadits, atau ulama tafsir, atau ulama bahasa, atau ulama sejarah. Anda salah alamat. Kalau pun mereka jawab, jawaban mereka tetap kalah dibandingkan dengan jawaban ahlinya.

Misalnya, di Mesir saat ini ada ulama yang berfatwa tentang hukum wanita menjadi kepala negara. Sayangnya, beliau bukan ahli fiqih, tetapi doktor di bidang ilmu pendididikan. Tentu saja fatwanya aneh bin ajaib. Para ulama fiqih tentu terpingkal-pingkal kalau mendengar isi fatwanya.

Masalah fiqih tanyakan kepada ulama yang ahli di bidang ilmu fiqih. Sebab ilmu yang mereka miliki memang lebih menjurus kepada ilmu hukum fiqih.

Faktor Perbedaan Kasus dan Fenomena Sosial

Kalau para ahli fiqih berbeda pendapat, maka anda harus melihat pada konteks ketika mereka menjawab masalah itu. Apakah fatwa yang mereka keluarkan sesuai kondisi sosialnya dengan kondisi sosial di mana anda berada.

Misalnya ketika Syeikh bin Bazz mengeluarkan fatwa haramnya ziarah kubur, maka anda harus tahu bahwa fenomena ziarah kubur di negeri tempat tinggalnya memang sulit untuk dibilang tidak syirik. Sebab orang-orang di sana memang nyata-nyata menyembah kuburan, baik dengan jalan mencium, mengusap, meratap dan meminta rezeki kepada kuburan. Wajar sekali bila Syeikh bin Baz mengharamkan ziarah kubur.

Tetapi fatwa haramnya ziarah kubur versi beliau tidak bisa digeneralisir di semua tempat, yang fenomenanya berbeda.

Kalau di negeri kita ada orang yang ziarah kubur, namun tanpa menyembah dan melakukan hal-hal yang dinilai syirik, maka kita tidak bisa mengharamkannya. Karena ziarah kubur itu sunnah nabi, namun harus dengan cara yang dibenarkan.

Terkadang kesalahan bukan datang dari para ulama, tetapi dari orang awam yang salah kutip dan salah penempatan sebuah fatwa.

Faktor Perbedaan Nash dan Dalil

Terkadang perbedaan pendapat itu dilatar-belakangi oleh perbedaan nash dan dalil. Bila perbadaan pendapat itu memang berangkat dari perbedaan nash, yang oleh para ulama memang sejak dulu sudah menjadi titik perbedaan pendapat, maka kita dibolehkan untuk memilih yang mana saja dari pendapat yang berbeda itu.

Misalnya, ada dua hadits yang sama-sama shahih namun berbeda isi hukumnya. Hadits pertama mengatakan bahwa nabi Muhammad SAW sujud dengan meletakkan lutut terlebih dahulu baru kedua tanggannya. Hadits kedua mengatakan sebaliknya, beliau meletakkan tangan terlebih dahulu baru kedua lututnya. Maka yang mana saja dari hadits ini yang kita pakai, keduanya boleh digunakan. Toh keduanya sama-sama didasari oleh hadits shahih.

Faktor Perbedaan Dalam Menilai Keshaihan Hadits

Ada juga perbedaan pendapat karena perbedaan dalam menilai keshahihan suatu riwayat hadits. Sebab keshahihan suatu hadits memang sangat mungkin menjadi perbedaan pendapat. Seorang Bukhari mungkin saja tidak memasukkan sebuah hadits ke dalam kitab shahihnya, karena mungkin menurut beliau hadits itu kurang shahih. Namun sangat boleh jadi, hadits yang sama justru terdapat di dalam shahih Muslim.

Maka perbedaan dalam menilai keshahihan suatu hadits adalah hal yang pasti terjadi dan lumrah serta wajar.

Seperti dalam kasus hadits bahwa nabi Muhammad SAW diriwayatkan selalu melakukan qunut shalat shubuh hingga akhir hayatnya. Sebagian ulama menerima keshaihannya dan sebagian lainnya menolaknya.

Maka dalam hal ini, kita pun boleh menerima yang mana saja dari kedua pendapat itu, karena masing-masing jelas punya argumentasi yang kuat atas pendapat keshahihan riwayat itu.

Pendeknya, ketika sebuah pendapat dari seorang ulama memang betul-betul telah mengalami proses ijtihad dengan benar, meski pun sering kali tidak sama, maka pendapat yang mana pun boleh kita pakai.

Bahkan meski tidak konsekuen dalam menggunakan pendapat seorang ulama. Kita dibolehkan untuk mengambil sebagian pendapat dari seorang ulama dan dibolehkan juga untuk meninggalkan sebagian pendapatyang lainnya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »

Kristenisasi di Maroko

Lewat Lagu-Lagu Tradisional

Oleh : Fakta 25 Apr, 07 – 4:41 pm

Upaya-upaya menyebarkan pengaruh Kristen di kalangan Muslim Maroko, mulai merambah dunia seni dengan cara mengubah lirik-lirik lagu tradisional Maroko dengan lirik-lirik yang bernuansa pemujaan terhadap Yesus Kristus.

Menurut kritikus musik Abdul Qadir al-Sahli, para penyebar agama Kristen itu sangat paham bahwa masyarakat Maroko, terutama kalangan generasi mudanya tidak bisa dipisahkan dari lagu-lagu tradisional mereka.

“Mereka sangat menyadari bahwa lagu-lagu rakyat merupakan pilar utama dari identitas nasional dan merupakan cara untuk merangkul berbagai elemen masyarakat di Maroko, ” kata al-Sahli, seperti dikutip Islamonline. Ia mencontohkan lagu “Essiniya” yang populer pada tahun 1974 oleh kelompok musisi Nass El-Ghiawane, yang dijuluki sebagai The Rolling Stones-nya Afrika.

Lirik lagu itu diubah dengan cerita tentang Yesus dan kekristenan yang antara lain berbunyi, “Wahai Rakyat! Saya minta perhatiannya/Saya percaya pada Yesus Kristus yang telah menerangi hidup saya dan menuntut saya ke jalan yang benar/Dia mengorbankan dirinya sendiri untuk saya. ”

Sahli mengungkapkan, para penyebar agama Kristen berupaya mempengaruhi sisi spiritual masyarakat Maroko lewat karya seni, tanpa mempedulikan aspek-aspek teologi yang cukup rumit dalam ajaran Kristen.

“Mereka menyebarkan pesan-pesan dan nilai-nilai agama mereka melalui lagu-lagu populer, ” tukasnya.

Diperkirakan, saat ini ada sekitar 800 penginjil dari Eropa yang aktif melakukan kegiatannya di Maroko, negara yang terletak di Afrika Utara dengan mayoritas penduduknya Muslim. Data tak resmi menyebutkan, pada tahun 2004 ada seribu orang Maroko yang berpindah agama ke Kristen.

Kristenisasi di negara-negara Muslim Afrika, sudah lama dilaporkan oleh sejumlah media Barat dan Arab, karena aktivitasnya yang makin meningkat. Surat kabar Prancis, Le Monde pernah mengungkap ada sekitar 500 orang Tunisia yang masuk Kristen pada tahun 2006 lalu. Selain di Tunis, ribuan warga suku pedalaman di Aljazair dikabarkan juga masuk Kristen sejak 1992. (ln/iol/eramuslim).

Read Full Post »

Older Posts »