Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2009

Daurah Sejarah Peradaban Islam

Ikutilah Daurah ‘Sejarah Peradaban Islam’
Pusdiklat Dewan Da’wah

Ahad, 03 Mei 2009 (Pukul: 07.30 – 16.00 WIB)

Tema: “Mengenal Peradaban Islam Menuju Kebangkitan Umat”

Materi:

1. “Peradaban: Makna dan Hakikat” oleh: Ust. Romly Qomaruddien, MA (Kepala Divisi Pendidikan dan Pembinaan Pusdiklat Dewan Da’wah)

2.”Sirah Nabawiyah Saw.: Ruh Peradaban Rabbani” oleh: Ust. H. Muzayyin Abdul Wahab, MA (Kepala Biro luar Negeri Dewan Da’wah Pusat dan Pakar kajian Sirah)

3.”Fiqih Sejarah Peradaban Islam: Pelurusan Fakta dan Data” Oleh: Ust. Asep Sobari, Lc (Peneliti INSIST bidang Sejarah Peradaban Islam)

5.”Sejarah Islam di Nusantara: Pelurusan Fakta atas Perkembangan dan Peranan” oleh: Ust. Tiar Anwar Bakhtiar, MA (Magister Sejarah Universitas Indonesia & Ketua PP. Pemuda Persis)

Infaq Peserta Rp. 50.000,(Sertifikat, makalah, makan dan snack)untuk 100 orang peserta.

Akhir pendaftaran 01 Mei 2009 (bisa langsung ke Ust Deni Wahyuddin di Pusdiklat Dewan Da’wah Setiamekar Tambun Bekasi) atau hubungi 021-927 397 40.

Wildan Hasan
http://wildanhasan.blogspot.com/2009/04/daurah-sejarah-peradaban-islam.html

Advertisements

Read Full Post »

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar”. (Fusshilat: 53)

Dr. Muhammad Abdullah As-Syarqawi mengomentari ayat di atas dengan mengatakan bahwa sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi, di dalam Al-Qur’an telah mendorong akal manusia agar senantiasa memperhatikan, berpikir, serta merenung agar akal dan kalbunya merasa puas terhadap aspek ketuhanan, risalah dan kebangkitan.

Sungguh anugerah terbesar Allah kepada umat manusia adalah akal. Jika potensi ini tidak difungsikan atau difungsikan tidak maksimal, maka akan melahirkan sikap jumud yang membawa kepada taklid dan fanatisme buta. Justru Islam datang membawa prinsip keseimbangan (washathiyyah) setelah ideologi sebelumnya sangat kental dengan jumud dan fanatisme. “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang wasath (adil, pilihan, seimbang)”. (QS. Al-Baqarah: 143).

Tindakan mengabaikan anugerah akal bisa menjerumuskan seseorang ke dalam siksa Allah seperti yang disaksikan sendiri oleh para penghuni neraka ketika mereka menyesali sikapnya dengan mengatakan: “Sekiranya kami mau mendengarkan atau menggunakan akal pikiran, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS Al-Mulk: 10).

Untuk keluar dari jebakan taklid buta, umat Islam dituntut untuk berani melakukan “ijtihad” sebagai salah satu pilar tegaknya syariat dalam kehidupan manusia. Ketertinggalan umat Islam dari hakikat agama dan persoalan dunia, tiada lain karena ketertutupan akal mereka yang hanya cukup dengan apa yang mereka terima secara turun temurun (taklid buta). “Dan apabila dikatakan kepada mereka:”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”, mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun dan tidak mendapat petunjuk”. (QS Al-Baqarah: 170).

Di dalam ayat lain, Allah mencela sikap taklid buta dengan menjelaskan keterlibatan syaitan yang membelenggu manusia untuk tetap bersikap jumud dan mengedepankan fanatisme. ““Dan apabila dikatakan kepada mereka:”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”, mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa apai yang menyala-nyala”. (QS Luqman: 21).

Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi mengingatkan bahwa jati diri umat Islam sekarang ini telah hilang; ciri-ciri peradabannya telah cerai berai dan terlupakan. Saat ini umat Islam hidup di bawah kekuasaan peradaban asing dengan segala aspek negatif dan penyimpangannya. Bahkan, justru kita menemukan bahwa ketundukan umat Islam terhadap kekuasaan peradaban asing adalah lebih besar daripada ketundukan orang-orang Barat sendiri selaku pemilik sekaligus pewaris peradaban tersebut. Ini berarti, bangunan masyarakat Islam saat ini telah miring, pilar-pilarnya telah condong ke bawah dan tidak mampu lagi berdiri tegak. Dalam kondisi labil seperti ini, umat Islam dituntut untuk melepaskan belenggu taklid buta dan sikap ikut-ikutan.

Dengan ijtihad, Allah hendak memberikan karunia kepada hambaNya, agar aktifitas ibadah yang mereka lakukan didasarkan kepada pemahaman (ijtihad), sebagaimana Allah mewajibkan jihad agar para hambanya yang shalih menjadi para syuhada. Apabila keutamaan mujahid adalah karena darah yang tercurah di medan perang, maka keutamaan para mujtahid adalah karena mereka mengerahkan segenap kesungguhan di dalam menggali hukum dalam rangka meninggikan kalimatuLlah.

Di sini, Allah telah mewajibkan kepada hambaNya untuk berijtihad (dalam pengertian secara bahasa yakni bersungguh-sungguh) dan menguji ketaatan mereka di dalam lingkup persoalan ijtihad, sebagaimana ketaatan mereka diuji dalam persoalan-persoalan lainnya. Allah berfirman: “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akam menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu”. (QS Muhammad: 31).

Dalam pandangan Dr. Wahbah Zuhaili, Ijtihadlah yang akan menghidupkan kembali syariat di atas muka bumi Allah ini. Syariat tidak akan bisa bertahan selama aktifitas ijtihad tidak hidup, tidak memiliki daya kerja dan daya gerak. Sebab berbagai faktor pertumbuhan dan perkembangan kehidupan serta pentingnya penyebaran syariat Islam ke seluruh pelosok dunia meniscayakan kebutuhan akan ijtihad, terutama di masa kita sekarang ini, masa yang serba instan, komplek, serta penuh dengan tantangan peristiwa dan permasalahan baru. Sehingga tanpa ijtihad dan melepaskan belenggu taklid buta, syariat Islam akan kehilangan relevansinya di setiap zaman dan tempat. Ia akan membuat manusia merasa sempit dengan kehadirannya dan akan menimbulkan kekeliruan di dalam memandang agamanya. Padahal ijtihad merupakan salah satu karakteristik syariat Islam yang tidak akan tertutup pintunya sampai hari kiamat. Di sinilah bukti rahmat Islam yang akan membebaskan umatnya dari kesempitan. Allah menegaskan: “Dia tidak menjadikan di dalam agama ini suatu kesempitan bagi kalian”.(QS Al-Hajj: 78).

Mencermati realitas umat Islam dewasa ini yang semakin terpuruk dan tertinggal, maka karya nyata, kreativitas, ijtihad yang segar sangat ditunggu-tunggu untuk mengembalikan umat kepada kejayaannya yang gilang-gemilang dengan tetap komitmen dengan ajaran Islam yang kaafah.. WaLlahu A’lam

Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA
http://www.dakwatuna.com

http://www.dakwatuna.com/2009/melepas-belenggu-taklid-dan-fanatisme/

Read Full Post »

Trend Muslim Bergaya Musyrik

Seorang berwajah Arab, pengasuh situs yang mendakwakan sebagai tempat duduk yang dibimbing Rasulullah, pernah menyatakan bahwa masalah syirik sudah selesai. Tidak perlu dirisaukan lagi. Karena Rasulullah sendiri, masih menurutnya, sudah tidak merisaukannya lagi. Jadi, orang sekarang yang merisaukan syirik dianggapnya bertentangan dengan beliau.

Dalam situs tersebut pengelola kesannya ingin menunjukkan bahwa masalah terjerumusnya anak manusia dalam gemerlapnya kemewahan hidup di dunia lebih berbahaya dibanding ancaman bahaya laten kesyirikan. Tegasnya, menurut pengasuh yang sehari-hari disapa Habib tersebut, masalah kesyirikan sudah selesai seiring rampungnya dakwah yang diemban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betulkah syirik adalah ancaman sampingan yang remeh?

Anak manusia memang secara fitrah mengakui keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan sejak jauh-jauh hari sebelum terlahir ke dunia. Sejak dalam kandungan jabang bayi sudah mengakui keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala . Hal ini digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلىَ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوْا بَلىَ شَهِدْنَا أَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ اْلقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذاَ غاَفِلِيْنَ # أَوْ تَقُوْلُوْا إِنَّماَ أَشْرَكَ آباَؤُناَ مِنْ قَبْلُ وَكُنّاَ ذُرِّيِّةً مِنْ بَعْدِهِمْ أَفَتُهْلِكُناَ بِمَا فَعَلَ اْلمُبْطِلُوْنَ

“Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Rabbmu’. Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi’. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap hal ini (keesaan Rabb)’. Atau agar kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya orang-orang tua kami telah menyekutukan Ilah sejak dahulu, sedang kami ini adalah keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu.” (Al-A’raf : 172-173)

Terkait itu pula setiap insan yang terlahir ke dunia pun berstatus suci alias dalam keadaan fitrah. Kesucian atau fitrah ini artinya adalah dalam keadaan bertauhid sebagaimana Islam mengajarkannya. Tentang hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua ibu bapaknyalah yang membuatnya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.’ (Shahih Bukhari : 1319)

Jadi, kesyirikan yang menempel pada keyakinan hati maupun yang terwujud dalam perbuatan adalah unsur luar yang menyusup ke dalam fitrah tersebut. Suatu unsur liar dari luar yang telah merusak jiwa kaum jahiliyah di zaman sebelum diutusnya Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah sekian lama terpisah dari masa kenabian nabi sebelumnya.

Untuk Itu Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam Diutus

Dalam kekacauan keyakinan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sudah samar diliputi oleh kabut kesyirikan yang begitu tebal itulah kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus seorang lelaki pilihan. Lelaki itu dipilih-Nya sebagai nabi dan rasul pungkasan, guna menyempurnakan akhlak mulia, menuntun manusia kembali kepada fitrah, mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala . Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْناَ فيِ كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اعْبُدُواْ اللهَ وَاجْتَنِبوُا الطَّاغُوْتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدىَ اللهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلاَلَةُ فَسِيْروُاْ فيَ اْلأَرْضِ فَانْظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ اْلُمُكَذِّبِيْنَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutuskan rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : “Sembahlah Allah Subhanahu wa Ta’ala (saja) dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.” (An-Nahl: 36)

Perjalanan dakwah beliau, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, selama tidak kurang 23 tahun telah berhasil mengentaskan manusia yang semula berkubang dalam lumpur kesyirikan yang gelap pekat, menuju ketauhidan yang terang benderang. Dari bangsa yang tadinya selain mengakui Allah juga berdoa, memuja, berkorban, atau melakukan bentuk ibadah lain kepada selain-Nya; menjadi bangsa yang lurus kembali fitrahnya. Kembali menunggalkan semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala . Kondisi keimanan, ketakwaan, dan ketauhidan mereka begitu kuat mengakar dalam hatinya, sehingga cahaya tauhid yang terpancar menghalau kegelapan kabut hitam kesyirikan. Inilah kondisi yang digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ketauhidan para sahabatnya. Beliau bersabda,

مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ أَنْ تُشْرِكُوا بَعْدِى وَلَكِنْ أَخَافُ عَلَيْكُمْ أَنْ تَتَنَافَسُوا فِيهَا

“Aku tidak mengkhawatirkan kalian (wahai para sahabat) melakukan kesyirikan kembali sepeninggalku, tetapi aku khawatirkan kalian akan bermegah-megah dalam kekayaan dunia.” (Shahih al-Bukhari no. 1279).

Apa Syirik Itu?

Syirik adalah bahaya yang sangat serius, bagaikan virus ganas yang bisa mengganggu kesehatan iman. Imam Ahmad bin Hajar Ali Bithami, seorang ulama dari kalangan madzhab Syafi’iyah, mengingatkan bahwa iman itu bercabang-cabang, demikian juga dengan kekafiran dan kemusyrikan. Orang yang menjalankan cabang-cabang iman sekaligus tersangkut cabang-cabang kemusyrikan, bisa disebut musyrik. Iman seseorang tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila hanya separuh-separuh; separuh iman, separuh kafir. Ia wajib tunduk seraya meyakini terhadap apa yang disebutkan dalam al-Qur’an dan dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mengamalkannya. Orang yang beriman kepada sebagian ajaran al-Qur’an dan tidak beriman kepada sebagian yang lain, termasuk orang kafir. Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan tentang orang-orang seperti ini,

وَيَقُوْلُوْنَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيْدُوْنَ أَنْ يَتَّخِذُوْا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيْلاً

“Orang-orang kafir itu mengatakan, “Kami beriman kepada sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain), serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman dan kafir).” (An-Nisa: 150)

Sekadar mengucapkan dua kalimat syahadat, masih menurut Ahmad bin Hajar, tidak akan berguna hingga mau mengamalkan tuntutan yang terkandung dalam dua kalimat syahadat, yaitu melepaskan diri dari menyembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hanya beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja. Namun, beliau mengingatkan, agar tidak terburu-buru menuduh seseorang yang melakukan tindakan syirik sebagai kafir atau musyrik, sebelum menjelaskan kepadanya tentang kekeliruannya tersebut. Barangkali orang tersebut tidak memahami masalah tersebut karena kebodohannya. Apabila sudah dijelaskan tentang masalah syirik, tetapi tetap menjalankannya, maka barulah bisa disebut sebagai musyrik. (Bayanu al-Syirk wa Wasa-iluhu ‘inda Ulama al-Syafi’iyah karya Dr. Muhammad Abdurrahman al-Khumais)

Syirik bisa dipisahkan menjadi dua, syirik besar (akbar) dan syirik kecil (asghar).

Syirik besar mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan menjadikannya kekal di dalam neraka, jika hingga meninggal dunia belum juga bertaubat. Syirik besar adalah memalingkan sesuatu bentuk ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendekatkan diri dengan penyembelihan kurban atau nadzar untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik untuk kuburan, jin atau setan, atau mengaharap sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tidak kuasa memberikan manfaat maupun mudharat.

Di antara batasan syirik akbar adalah”

1. Syirik dalam rububiyah, seperti keyakinan bahwa arwah orang yang sudah meninggal mampu memberikan manfaat atau mudharat, memenuhi kebutuhan orang yang hidup, atau keyakinan bahwa ada orang yang ikut mengatur alam raya ini bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala , dan seterusnya.
2. Syirik dalam asma’ wa shifat, seperti keyakinan bahwa ada orang yang mengetahui hal ghaib selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, misalnya dukun, peramal, dan semacamnya, syirik dengan menyerupakan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sifat makhluk, dan lain-lain.
3. Syirik dalam uluhiyah (ibadah), seperti syirik dalam ibadah, doa, takut, cinta. Harap, taat, dan sebagainya.

Konsekuensi pelaku syirik akbar ini adalah:

1. Yang tidak diampuni (apabila pelakunya mati dan belum bertaubat).
2. Pelakunya diharamkan masuk surga.
3. Kekal di dalam neraka.
4. Membatalkan semua amalan, termasuk amalan yang lampau.

Sementara di antara batasan syirik ashghar adalah:

1. Qauli (berupa ucapan), seperti bersumpah dengan menyebut selain nama Allah Subhanahu wa Ta’ala , dan sejenisnya.
2. Fi’li (berupa perilaku dan perbuatan), seperti tathayyur, datang ke dukun, memakai jimat dan rajah dan sejenisnya.
3. Qalbi (berupa amal hati/batin), seperti riya, sum’ah, dan sejenisnya.

Syirik kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, tetapi mengurangi tauhid dan menjadi perantara terjerumus dalam syirik besar. Syirik ini meliputi empat macam, yaitu syirik niat: dari semula meniatkan ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala , syirik doa: berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala atau selain berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berdoa kepada selain-Nya, syirik taat: menaati selain Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana menaati-Nya, syirik mahabbah: mencintai selain Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana mencintai-Nya.

Syirik ini terdiri dari dua, yaitu syirik yang jelas dan samar/tersembunyi:

1. Dosanya di bawah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala ampuni pelakunya tidak diadzab dan kalau tidak diampuni, pelakunya masuk terlebih dahulu di neraka meskipun setelah itu dimasukkan ke dalam surga.
2. Tidak kekal dalam neraka (kalau dia dimasukkan ke dalam neraka)
3. Tidak membatalkan semua amalan, tetapi sebatas yang dilakukan dengan syirik.
4. Pelakunya tidak diharamkan dari surga.

Apakah Umat Ini Aman dari Ancaman Syirik?

Sebagian orang mengira bahwa masalah syirik sudah usai, tidak perlu dipermasalahkan lagi. Dikiranya hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dicatat oleh al-Bukhari di muka merupakan jaminan bahwa umat Islam akan selamat bersih dari kesyirikan. Jaminan bagi generasi sahabat memang iya, tetapi bukan untuk generasi jauh setelah mereka. Kini, karena ketidaktahuan dan taklid ada yang terjerumus dalam syirik besar yang nyata. Apalagi syirik yang samar. Syirik ini susah dideteksi karena begitu halus, digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الشِّرْكُ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلةِ السَّوْدَاءِ على صفاة سَوْدَاءِ فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ

“Syirik yang menjangkiti umat ini lebih tersembunyi daripada seekor semut hitam yang merayap pada bebatuan hitam di tengah gelap malam.” (Riwayat Ahmad dalam Musnad-nya IV/303, al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad hal. 242, dan tercantum dalam Majma’ al-Zawa-id X/ 223 & 224).

Dalam hadis ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan kata umat ini, umat Islam secara umum hingga menjelang kiamat kelak, sementara dalam hadits Bukhari digunakan kata kalian yang ditujukan pada sahabat. Masih banyak peringatan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat akhir zaman terhadap bencana syirik. Bahkan beliau tegaskan umatnya kelak ada yang mengekor kaum musyrikin hingga berhala pun disembah.

Dalam sebuah hadits panjang, disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى تُعبَد الأَوْثَان

َ“…Kiamat tidak akan terjadi hingga sekelompok kabilah dari umatku mengikuti orang-orang musyrik dan sampai-sampai berhala pun disembah…” (Shahih Ibni Hibban Juz XVI hal. 209 no. 7237 dan hal. 220 no. 7238 Juz XXX no. 7361 hal 6, Syu’aib al-Arnauth berkata, “Sanad-sanadnya shahih sesuai dengan syarat Muslim).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“لا تقوم الساعة حتى يرجع ناس من أمتي إلى أوثان كانوا يعبدونها من دون الله- عز وجل“.

“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga sekelompok kaum dari umatku kembali kepada berhala. Mereka menyembah berhala tersebut di samping Allah Subhanahu wa Ta’ala . (Riwayat Abu Dawud al-Thayalisi dari Musa bin Muthir, lemah. Ithaful Khirah wal Mahrah Bizawaid Juz 8 hal. 34).

Autsan dalam bentuk jamak (plural) dari watsan, artinya berhala. Watsan adalah segala sesuatu yang mempunyai bentuk badan yang biasanya dibuat dari unsur tanah, kayu, atau bebatuan seperti bentuk manusia. Benda ini dibentuk, dimuliakan, dan disembah. Kadang juga watsan mencakup sesuatu yang tidak berbentuk gambar/bentuk. Shanam adalah gambar tanpa bentuk badan.

Sesembahan ini, kalau zaman jahiliyah berbentuk patung-patung orang saleh, sekarang bisa diwujudkan dalam kuburan-kuburan atau petilasan-petilasan orang shaleh yang dianggap shaleh. Kini ada pembela kesyirikan menganggap melarang orang berdoa di kuburan merupakan bentuk kurang ajar kepada para wali, alias tidak mau menghormati orang yang layak dihormati, bahkan dicap sebagai pengikut iblis yang tidak mau menghormati Adam. Subhanallah!

Gaya-gaya perilaku kaum Musyrik kini memang banyak melanda kaum Muslimin. Di antaranya bersumpah dengan selain Allah, kasidah yang penuh dengan bait-bait syirik, mengubur orang saleh dalam masjid, menjadikan kuburan sebagai tempat perayaan dan ibadah, melakukan nadzar untuk para wali, menyembelih korban di kuburan para wali, thawaf mengitari kuburan yang dianggap wali, bahkan ada yang bersujud kepada kuburan kiai. Di Solo bahkan orang berjubel untuk membuntuti kerbau yang dijuluki Kyai Slamet. Hewan bule ini setiap bulan baru Muharram dilepas mengelilingi kraton Solo. Di antara yang hadir berebut mendapatkan kotoran hewan yang sering menjadi lambang kebodohan tersebut. Ya, kotorannya dijadikan rebutan. Diambil berkahnya, kata mereka. Mereka bukan hanya orang tua, tetapi juga anak-anak muda! Di belahan lain ada sekelompok orang yang tekah bersyahadat, mengantar sesajen ke gunung Lawu dan Merapi. Yang lain memberikan sedekah laut alias larung sesaji ke pantai laut Selatan. La haula wala quwwata illa billah.

Zaman memang sudah bergeser, berubah dari kondisi zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga seorang pakar hadits Imam Bukhari membuatkan sebuah bab dalam Shahih-nya ‘Bab Taghayuru al-Zaman hatta tu’badu al-Autsan—Berubahnya Zaman hingga Berhala Kembali Disembah Shahih Bukhari Juz VI hal. 2604.

Bahkan kelak dedengkot berhala kaum musyrikin Quraisy akan kembali diagungkan. Aisyah berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« لاَ يَذْهَبُ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ حَتَّى تُعْبَدَ اللاَّتُ وَالْعُزَّى ».

“Malam dan siang tidak akan lenyap (terjadi kiamat) hingga Lata dan Uzza kembali disembah.” (Shahih Muslim : 6907, Sunan al-Tirmidzi no. 2228, dan Musnad Ahmad no. 8164, Mukadimah Masail Jahiliyah juz I hal. 16).)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam punya perhatian yang lebih terhadap ancaman kesyirikan, hingga pada hari meninggalnya beliau masih sempat mengingatkan umatnya agar tidak mengikuti perilaku Ahli Kitab yang berlebihan dalam memuji nabi dan orang saleh, sikap mereka menyeret kepada syirik besar. Akankah kita sebagai umatnya yang kini semakin lemah justru merasa aman dari syirik. Sungguh, muslim bergaya syirik kini sedang ngetrend. Semoga kita diselamatkan oleh Allah!

(Dikutip dari Majalah Fatawa Vol. V/No. 03, Jogjakarta, Rabi’ul Awwal 1430, Maret 2009 hal. 8-11)
http://www.nahimunkar.com/trend-muslim-bergaya-musyrik/#more-276

Read Full Post »