Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2007

Hukum Transplantasi

Organ dari Non Muslim

Jumat, 22 Jun 07 10:29 WIB

Assalamu ‘alaikum wr wb

Pak ustaz, saya ingin bertanya tentang donor anggota tubuh. Apakah terlarang bila seorang muslim mendapatkan donor transplatasi organ tubuh dari seorang non muslim? Dan bagaimana dengan firman Allah SWT yang menyebutkan bahwa orang musyrik itu najis?

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak.

Wassalamu’alaikum wr, wb.

Marfuah

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Mencangkok (transplantasi) organ dari tubuh seorang nonmuslim kepada tubuh seorang muslim pada dasarnya tidak terlarang. Mengapa? Karena organ tubuh manusia tidak diidentifikasi sebagai Islam atau kafir, ia hanya merupakan alat bagi manusia yang dipergunakannya sesuai dengan akidah dan pandangan hidupnya.

Apabila suatu organ tubuh dipindahkan dari orang kafir kepada orang Muslim, maka ia menjadi bagian dari wujud si muslim itu dan menjadi
alat baginya untuk menjalankan misi hidupnya, sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT.

Hal ini sama dengan orang muslim yang mengambil senjata orang kafir. Dan mempergunakannya untuk berperang fi sabilillah. Bahkan sesungguhnya semua organ di dalam tubuh seorang kafir itu adalah pada hakikatnya muslim (tunduk dan menyerah kepada Allah). Karena organ tubuh itu adalah makhluk Allah, di mana benda-benda itu bertasbih dan bersujud kepada Allah SWT, hanya saja kita tidak mengerti cara mereka bertasbih.

Kekafiran atau keIslaman seseorang tidak berpengaruh terhadap organ tubuhnya, termasuk terhadap hatinya (organnya) sendiri. Memang AL-Quran sering menyebut istilah hati yang sering diklasifikasikan sehat dan sakit, iman dan ragu, mati dan hidup.

Namun sebenarnya yang dimaksud di sini bukanlah organ tubuh yang dapat diraba (ditangkap dengan indra), bukan yang termasuk bidang garap dokter spesialis dan ahli anatomi. Sebab yang demikian itu tidak berbeda antara yang beriman dan yang kafir, serta antara yang taat dan yang bermaksiat.

Tetapi yang dimaksud dengan hati orang kafir di dalam istilah Al-Quran adalah makna ruhiyahnya, yang dengannya manusia merasa, berpikir, dan memahami sesuatu, sebagaimana firman Allah:

“Lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami “(QS. Al-Hajj: 46)

“Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) “(QS. Al-A`raf: 179)

Lalu bagaimana dengan firman Allah SWT yang menyebutkan bahwa Orang musyrik itu najis?

Benar bahwa Allah SWT telah menyebutkan bahwa orang musyrik itu najis, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Quran:

“Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis” (QS. At-Taubah: 28)

Namun para ulama sepakat mengatakan bahwa ‘najis’ dalam ayat tersebut bukanlah dimaksudkan untuk najis indrawi yang berhubungan Dengan badan, melainkan najis maknawi yang berhubungan dengan hati dan akal (pikiran). Karena itu tidak terdapat larangan bagi orang muslim untuk memanfaatkan organ tubuh orang nonmuslim, apabila memang diperlukan.

Wallahu a’lam bishshawab,

wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »

Dosa Anak Manusia

Musibah kebanyakan memang terjadi secara tiba-tiba. Namun sesungguhnya datangnya diawali dengan banyak sebab. Salah satunya adalah dosa-dosa yang kita lakukan. Malangnya, ketika musibah telah berlalu, banyak di antara kita yang masih saja bergelimang dengan dosa bahkan jauh lebih buruk keadaannya dibanding sebelumnya.

Apa Sebab Umat Terdahulu Mendapat Siksa?
Tahukah anda apa yang menyebabkan bapak moyang manusia Adam ‘alaihissalam berikut istrinya Hawa, dikeluarkan dari surga, diturunkan dari tempat nan penuh kelezatan, kenikmatan, keindahan, dan kebahagiaan menuju ke negeri yang penuh kesedihan, kepedihan, dan susah payah?

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلاَ مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلاَ تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظَّالِمِيْنَ. فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيْهِ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي اْلأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِيْنٍ

“Kami (Allah) berfirman: ‘Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kalian berdua sukai, hanya saja janganlah kalian mendekati pohon ini. Bila kalian lakukan, kalian akan termasuk orang-orang yang zhalim.’ Lalu keduanya (Adam dan Hawa) digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula (yang bergelimang kenikmatan). Kami berfirman, ‘Turunlah kalian (ke bumi)! Sebagian kalian akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Bagi kalian ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan’.” (Al-Baqarah: 35-36)
ِ

Apa gerangan yang menyebabkan datangnya air bah setinggi gunung hingga menenggelamkan penduduk bumi seluruhnya kecuali mereka yang berada di atas bahtera Nuh ‘alaihissalam?

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّوْرُ قُلْنَا احْمِلْ فِيْهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلاَّ مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آمَنَ وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلاَّ قَلِيْلٌ. وَقَالَ ارْكَبُوا فِيْهَا بِسْمِ اللهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُوْرٌ رَحِيْمٌ. وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوْحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَابُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلاَ تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِيْنَ. قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لاَ عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللهِ إِلاَّ مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِيْنَ

“Hingga tatkala datang perintah Kami dan permukaan bumi telah memancarkan air, Kami berfirman kepada Nuh: ‘Angkutlah ke dalam bahtera itu masing-masing dari hewan secara berpasangan (jantan dan betina) dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya (bahwa ia akan binasa oleh azab), dan angkut pula orang-orang yang beriman.’ Dan tidak ada yang beriman kepada Nuh kecuali sedikit. Nuh berkata, ‘Naiklah kalian ke dalam bahtera ini dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Rabbku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang air laksana gunung. Ketika itu Nuh melihat putranya maka ia berseru: ‘Wahai anakku, naiklah ke kapal ini bersama kami dan janganlah engkau berada bersama orang-orang yang kafir.’ Putranya menjawab, ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat melindungiku dari air bah ini.’ Nuh berkata, ‘Pada hari ini tidak ada yang dapat melindungi dari azab Allah selain Allah saja, Dzat Yang Maha Penyayang.’ Dan gelombang menghalangi ayah dan anak ini, maka jadilah si anak termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (Hud: 40-43)

Apa gerangan yang menjadi sebab datangnya angin yang sangat dingin lagi amat kencang menerpa kaum ‘Ad selama tujuh malam delapan hari berturut-turut, hingga mereka terkapar mati di atas bumi seakan-akan tunggul-tunggul pohon kurma yang telah lapuk?

وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيْحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ. سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُوْمًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيْهَا صَرْعَى كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ. فَهَلْ تَرَى لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍ

“Adapun kaum ‘Ad maka mereka dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang. Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus, hingga engkau lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka adakah engkau melihat seorang saja dari mereka yang tertinggal (tidak dibinasakan)?” (Al-Haqqah: 6-8)

Apakah sebabnya hingga kaum Tsamud dikirimi suara yang amat keras hingga mereka mati bergelimpangan di rumah-rumah mereka?

وَأَخَذَ الَّذِيْنَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِيْنَ. كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيْهَا…

“Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang zhalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumah-rumah mereka. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu….” (Hud: 67-68)

Apa pula yang menyebabkan perkampungan kaum Luth ‘alaihissalam berikut penghuninya diangkat demikian tinggi sampai-sampai para malaikat di langit mendengar suara lolongan anjing mereka, setelah itu perkampungan mereka dibalik sehingga bagian atasnya menjadi bagian bawah, disusul dengan datangnya hujan batu dari langit?

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيْلٍ مَنْضُوْدٍ

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu terbalik, yang di atas menjadi ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (Hud: 82)

Ada apa dengan kaum Nabi Syu`aib ‘alaihissalam hingga mereka ditimpa gempa yang sangat keras hingga mereka terkapar menjadi mayat-mayat yang berserakan?

فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِيْنَ

“Kemudian mereka ditimpa gempa yang sangat keras hingga jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka.” (Al-A’raf: 91)
Ada apa dengan Fir’aun beserta bala tentaranya hingga mereka ditenggelamkan di laut Merah?

فَأَسْرِ بِعِبَادِي لَيْلاً إِنَّكُمْ مُتَّبَعُوْنَ. وَاتْرُكِ الْبَحْرَ رَهْوًا إِنَّهُمْ جُنْدٌ مُغْرَقُوْنَ

“(Allah berfirman kepada Nabi Musa,) ‘Berjalanlah engkau dengan membawa hamba-hamba-Ku pada malam hari, sesungguhnya kalian akan dikejar (oleh Fir’aun dengan bala tentaranya). Dan biarkanlah laut itu tetap terbelah setelah kalian berhasil sampai ke seberang laut. Sesungguhnya mereka (Fir’aun dan balatentaranya) adalah tentara yang akan ditenggelamkan’.” (Ad-Dukhan: 23-24)

Kenapa pula dengan Qarun hingga ia ditenggelamkan dalam bumi beserta rumah dan hartanya?

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ اْلأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُوْنَهُ مِنْ دُوْنِ اللهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِيْنَ

“Kami pun membenamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi, maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang dapat menolongnya dari azab Allah dan tiadalah dia termasuk orang-orang yang dapat membela dirinya.” (Al-Qashash: 81)

Ada apa, mengapa dan kenapa dengan orang-orang terdahulu yang hancur binasa dengan azab? Anda tentu dapat menjawabnya dengan tepat. Ya, karena dosa dan maksiat kepada Ar-Rahman.

فَكُلاًّ أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ اْلأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ

“Maka masing-masing mereka itu Kami siksa disebabkan dosa-dosanya. Di antara mereka ada yang Kami timpakan hujan batu kerikil, di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan ke dalam lautan. Allah sekali-kali tidak menganiaya mereka akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Al-‘Ankabut: 40)

Jangan Meremehkan Dosa

Dosa dan maksiat yang diperbuat anak manusia memang mengundang kemudaratan. Kemudaratannya bagi hati seperti halnya kemudaratan racun bagi tubuh. Tidak ada satu kejelekan yang didapatkan di dunia dan di akhirat kelak kecuali karena sebab dosa dan maksiat. (Ad-Da`u wad Dawa`, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullahu, hal. 65)

Dan yang namanya dosa walaupun kecil tetaplah memberi mudarat, apalagi bila dilakukan terus menerus. Namun disayangkan, pada hari-hari ini kita melihat betapa kaum muslimin berenang dalam lumpur dosa dan genangan maksiat. Tak heran bila musibah datang silih berganti. Belum lama berlalu tsunami, datang gempa yang memorakporandakan beberapa negeri. Disusul banjir membenamkan jiwa dan harta. Bersamaan dengan itu, gunung meletus dengan aliran lahar panas menghanguskan. Di tempat lain, memancar lumpur panas yang menenggelamkan dan muncul wabah penyakit. Wallahul musta’an, Allah l lah satu-satunya tempat meminta pertolongan.
Sangat disayangkan kaum muslimin banyak yang tidak sadar, bahkan mereka meremehkan dosa. Jangankan dosa kecil, dosa besar saja begitu mereka gampangkan.

 

Padahal Rasul yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan agar kita tidak meremehkan perbuatan dosa kecil sekalipun. Sebagaimana sabda beliau n yang tersampaikan pada kita lewat sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

إِيَّاكُمْ وَ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوْبِ، فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ
“Hati-hati kalian dari dosa-dosa kecil, karena dosa-dosa kecil itu bila berkumpul pada diri seseorang akan membinasakannya.” (HR. Ahmad, 1/403, dishahihkan sanadnya oleh Asy-Syaikh Ahmad Syakir rahimahullahu dalam catatan kakinya terhadap Musnad Al-Imam Ahmad)

Sahl bin Sa’d z mengabarkan hal yang sama. Beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوْبِ، كَقَوْمٍ نَزَلُوْا فيِ بَطْنِ وَادٍ فَجَاءَ ذَا بِعُوْدٍ وَجَاءَ ذَا بِعُوْدٍ، حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَتَهُمْ، وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوْبِ مَتَى يُؤْخَذُ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ

“Hati-hati kalian dari dosa-dosa kecil! Ibaratnya seperti satu kaum yang singgah di sebuah perut lembah. Masing-masing dari mereka pergi mencari ranting untuk menyalakan api, lalu datang seseorang membawa sebuah ranting. Seorang lagi juga datang membawa sebuah ranting. Demikian seterusnya hingga mereka dapat menyalakan api yang mematangkan roti-roti mereka. Sesungguhnya dosa-dosa kecil itu ketika pelakunya dihukum niscaya akan membinasakannya.” (HR. Ahmad, 5/331, dishahihkan sanadnya di atas syarat Al-Bukhari dan Muslim oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 389)

Benar sekali ucapan sahabat yang mulia Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ketika menyatakan: “Kalian sekarang melakukan perbuatan dosa yang di mata kalian perbuatan itu lebih tipis daripada rambut (sangat remeh, pent.). Padahal dulu di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kami menganggapnya termasuk perkara yang akan membinasakan.” (HR. Al-Bukhari no. 6127)

Bilal bin Sa’d2 rahimahullahu menasihatkan: “Janganlah engkau memandang kepada kecilnya suatu maksiat, akan tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat.”3 (Diriwayatkan Al-Imam Ahmad rahimahullahu dalam kitabnya Az-Zuhd hal. 460)

Karena itu tak patut kita meremehkan dosa dan maksiat, apapun dosa dan maksiat tersebut. Tapi sebaliknya kita selalu takut untuk berbuat dosa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalaupun tergelincir ke dalamnya, segeralah bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menutupnya dengan kebaikan, agar hati dapat bersih kembali dari titik-titik noda.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أََخْطَأَ خَطِيْئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيْدَ فِيْهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوْبِهِمْ مَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Sesungguhnya jika seorang hamba berbuat kesalahan/dosa dititikkan pada hatinya satu titik hitam. Namun bila ia menarik diri/berhenti dari dosa tersebut, beristighfar dan bertaubat, dibersihkan hatinya dari titik hitam itu. Akan tetapi bila tidak bertaubat dan malah kembali berbuat dosa maka bertambah titik hitam tersebut, hingga mendominasi hatinya. Itulah ar-ran (tutupan) yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan di dalam ayat: ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.’ (Al-Muthaffifin: 14)” (HR. Ahmad, 2/297, At-Tirmidzi no. 3334, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi dan Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain no. 1430)

Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari tertutupnya hati karena dosa dan maksiat. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

2 Beliau adalah seorang tabi’in, murid shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tinggal di Syam. Kata Abu Zur’ah Ad-Dimasyqi, “Bilal bin Sa’d di Syam semisal Al-Hasan Al-Bashri di Irak.” (Tahdzibul Kamal, 4/292)

3 Engkau bermaksiat kepada Sang Pencipta, Penguasa alam semesta ini, Pemilik kerajaan langit dan bumi, Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Ahad, 23 Juni 2007 – 22:35:59,  Penulis : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah

Read Full Post »

Wanita

Dalam SorotanApa Lagi yang Engkau Tuntut Wahai Wanita?

Kehancuran sebuah rumah tangga karena salah satu di antara suami atau istri berbuat selingkuh, rasanya telah menjadi berita yang amat biasa. Bukan hanya terjadi di kalangan selebritis, namun juga banyak terjadi di rumah tangga sekitar kita. Fenomena ini merupakan secuil dari petaka yang muncul karena wanita muslimah tergoda dengan slogan-slogan emansipasi.

Ibarat sebuah permata yang sangat berharga, ditempatkan di tempat yang bagus, yang tak gampang terjamah. Itulah wanita dalam Islam. Bukan sekedar omong kosong bila kita katakan bahwa wanita benar-benar mendapatkan kemuliaannya dalam Islam. Pembicaraan tentang hal ini telah kita lewati dalam edisi yang lalu. Namun sayangnya banyak orang yang tidak mau menoleh kepada perlakuan istimewa dari agama yang mulia ini, sehingga mereka menengok ke Barat, ingin beroleh konsep bagaimana mengangkat harkat dan martabat wanita ala Barat.

Orang-orang seperti ini biasanya sudah tertular penyakit minder jadi orang Islam. Atau lebih parahnya, fobi bahkan anti terhadap semua yang berbau Islam namun kagum kepada semua yang datang dari Barat, walaupun itu adalah kesesatan yang dipoles dengan bungkus warna-warni. Timbullah kekaguman mereka kepada wanita-wanita di

 

Barat yang bebas berkeliaran mengejar karir di luar rumah sebagaimana lelaki. Berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan lelaki. Diteriakkanlah kepada para wanita agar meniru wanita-wanita Barat, hingga tampaklah akibatnya yang mengerikan ketika gayung bersambut.

Dan hari ini maupun hari-hari sebelumnya, kita telah melihat hasil teriakan tersebut…
Para wanita berseliweran di setiap tempat keramaian, di kantor, di lapangan… Dan ini adalah pemandangan yang biasa setiap harinya. Para wanita itu mengejar dunianya dengan menjunjung setinggi-tingginya slogan emansipasi.

Kalau dulu, para lelaki baik itu ayah, kakek, suami, paman, ataupun saudara laki-laki, demikian cemburu dengan wanitanya bila sampai terlihat oleh lelaki yang bukan mahramnya, namun kita dapati pada hari ini, di zaman kemajuan ini, rasa cemburu sudah ketinggalan kereta. Tak ada lagi tempat untuknya, bukan zamannya lagi. Ayah, suami, paman dan saudara laki-laki membukakan pintu rumah selebar-lebarnya bagi si wanita untuk mengepakkan sayap kebebasan, menurut mereka.

Para lelaki tak lagi cemburu, sementara si wanita tak lagi memiliki rasa malu. Lalu, diayunkannya langkahnya sampai melampaui pagar ‘istana’nya. Selanjutnya dapat kita duga kerusakan apa yang bakal terjadi bila jalan-jalan dan tempat-tempat di luar rumah dipenuhi wanita, bercampur baur dengan lelaki. Ini semua akibat kebodohan dan jauhnya mereka dari agama, kemudian akibat termakan emansipasi.

Apa itu Emansipasi?
Kami tak bermaksud berbicara panjang lebar tentang emansipasi, karena materi ini akan dibahas secara meluas di majalah kesayangan kita ini dalam edisi-edisi mendatang, Insya Allah. Namun tidak mengapa, kami sedikit menyentil permasalahan ini karena berkaitan dengan pembahasan kami di rubrik ini dalam edisi yang telah lalu.
Kalau ada yang bertanya, apa itu emansipasi? Maka secara praktis kita katakan bahwa yang dimaukan dengan emansipasi oleh para penyerunya adalah upaya mempersamakan wanita dengan lelaki dalam segala bidang kehidupan, baik secara intelektual maupun fisik.

Emansipasi dipandang sebagai kemajuan bagi kaum wanita, yang berarti kebebasan bagi wanita untuk melakukan apa saja yang diinginkan dan menjalani profesi apa saja. Bukan lagi pemandangan aneh bila kita dapati seorang wanita menjadi sopir truk, kondektur, kuli bangunan, tukang parkir, satpam…. Jangan heran bila wanita bisa menjadi perdana menteri, pilot, jenderal bahkan presiden. Walhasil, kalau lelaki bisa unjuk otak dan ototnya dalam segala lapangan penghidupan maka wanita pun dituntut harus bisa dan harus diberi porsi yang sama. Kalau tidak seperti itu, berarti merendahkan wanita dan menginjak hak asasinya!!! Demikian lolongan mereka.
Sesuai atau tidak defenisi emansipasi yang disebutkan di sini dengan defenisi palsu yang mereka –kaum feminis– berikan, tidaklah jadi soal. Yang penting demikianlah kenyataan praktik emansipasi di masyarakat kita. Wallahu a’lam.

Kapan Muncul Emansipasi?
Tidak terlalu penting untuk kita sebutkan di sini kapan gerakan emansipasi ini muncul untuk pertama kalinya. Yang jelas, gerakan ini pertama kali berbentuk slogan pendidikan akademis bagi kaum wanita. Slogan-slogan itu pada awalnya nampak menarik karena mengusahakan peningkatan kecerdasan dan pengetahuan kaum wanita, agar dapat melahirkan generasi baru yang lebih cakap dan lebih berkualitas.
Tetapi, di kemudian hari setelah tercapainya tujuan pertama, gerakan ini mulai melakukan tipu daya baru yang tentu saja dibungkus dengan kata-kata indah nan menawan, yakni persamaan hak pria dan wanita secara mutlak dan kebebasan karir wanita di segala bidang.

Dengan iming-iming yang menarik ini, tak pelak lagi banyak kaum hawa yang tertipu dan terbawa arus gelombang emansipasi. Bahkan hembusan emansipasi seolah angin sejuk bagi masa depan mereka.

Terlahir di negeri Eropa Barat, emanisipasi jelas mewakili pemikiran bangsa yang sangat jauh dari tuntunan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala ini. Bahkan mereka adalah budak-budak hawa nafsu, kesyirikan, dan kekufuran. Kaum wanita dalam masyarakat penyembah salib tersebut sama sekali tidak mendapatkan perlakuan yang semestinya. Mereka diibaratkan barang yang dapat diperjualbelikan di pasaran, dianggap sebagai sampah dan budak pemuas hawa nafsu.

Para pemuka agama mereka bahkan menyimpulkan bahwa wanita adalah makhluk pembawa kejahatan, musuh keselamatan, penunggu neraka, semata-mata dicipta untuk melayani lelaki, dianggap sejenis hewan yang harus dipukul, dan merupakan tangan dari tangan-tangan setan. Dan masih banyak lagi sebutan dan gelar-gelar jelek yang mereka berikan kepada kaum wanita. Dalam kenyataan buruk seperti itulah dihembuskan ‘angin segar’ emansipasi, agar wanita terlepas dari perbudakan dan perlakuan buruk kaum lelaki. Agar wanita mendapatkan hak asasinya sebagai manusia yang selama ini telah diinjak-injak oleh lelaki.

Bila demikian kenyataan yang melatarbelakangi lahirnya emansipasi, apakah pantas wanita muslimah ikut-ikutan menjayakan gerakan ini sementara ia telah dimuliakan dalam Islam, diberikan perlindungan dan kedudukan mulia? Sungguh kebodohan telah meracuninya. Andai ia tahu kemuliaan yang diberikan Islam padanya…. Kemuliaan yang membuat iri wanita-wanita Barat !!!.

Racun Emansipasi

Propaganda yang laris manis ini banyak menebarkan racun di tengah masyarakat. Kaum wanita berbondong-bondong menyerbu tiap bidang kehidupan dan lapangan pekerjaan. Tak peduli apakah hal itu sesuai dengan fitrahnya atau tidak. Akibatnya, jumlah pengangguran di kalangan lelaki meningkat karena lapangan pekerjaannya telah direbut oleh wanita.

Dewasa ini tak jarang wanita memasuki bidang-bidang yang ‘berotot’, yang tentunya standar yang dipakai adalah standar yang biasa berlaku pada kaum lelaki, karena memang demikian kebutuhannya. Wanita yang masuk ke bidang ini berarti harus menyesuaikan diri dengan standar yang ada, sementara wanita diciptakan dengan struktur tubuh yang berbeda dengan lelaki. Lalu pekerjaan apa yang dapat diselesaikannya dengan baik?

Sementara itu, di tempat kerjanya wanita tidak jarang menjadi korban pelecehan -lisan maupun tindakan- dari lawan jenisnya, baik dari rekan kerja ataupun atasannya. Nilai wanita jadi begitu rendah, tak lebih sebagai obyek dari pandangan mata-mata nakal.

 

Kehadirannya di tempat kerja tak jarang hanya sebagai ‘penyegar’ suasana.
Kemerosotan akhlak terjadi di kalangan masyarakat dengan lepasnya wanita dari rumahnya. Lelaki jadi terfitnah1 dengan bebasnya wanita berkeliaran di sekitarnya. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnah wanita.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Wanita dan lelaki bebas bercampur baur dalam satu tempat tanpa adanya pemisah (ikhtilath). Padahal Islam telah melarang hal ini karena ikhtilath merupakan pintu yang mengantarkan pada perbuatan keji dan mungkar, mendekatkan pada perbuatan zina. Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan:

وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيْلاً

“Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang amat buruk.” (Al-Isra`: 32)

Gejala lain yang kini terlihat di kalangan mereka yang menjadi korban emansipasi adalah sepinya ikatan pernikahan. Wanita yang sibuk dengan karirnya lebih suka hidup sendiri daripada harus terikat dengan tanggung jawab mengurus suami, rumah dan anak. Terkadang si wanita lebih memilih hidup bebas, dan bergaul dengan lelaki mana saja yang ia inginkan. Na’udzubillah min dzalik (kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari hal itu).

Tuntutan agar wanita meraih pendidikan formal yang tinggi ternyata mengharuskan si wanita mempraktikkan ilmunya di lapangan, walau ia harus meninggalkan suami, anak, dan rumahnya. Karena tuntutan ekonomi yang semakin meningkat, semangat cinta kehidupan dunia berikut perhiasannya semakin meninggi, akhirnya para wanita merasa harus bekerja di luar rumah untuk menambah penghasilan keluarga. Timbullah dilema antara mengurus rumah tangga dengan kepentingan pekerjaannya. Tak jarang mereka menyisihkan urusan rumah tangga. “Bisa diserahkan kepada pembantu,” kata mereka.

Saat ini, terlalu banyak kita dapati anak-anak yang dibesarkan oleh pembantunya, sementara ibunya hanya menjadi pengawas dari jauh. Berbagai masalah timbul karenanya. Anak-anak menjadi nakal karena kurang perhatian. Mereka lari keluar rumah untuk mencari kompensasi, mengais-ngais kasih sayang yang mungkin masih tersisa.
Rumah tangga terbengkalai, suami pun menyeleweng. Si wanita itu sendiri mendapatkan godaan dari kawan sekerja yang lebih tampan menawan daripada suami di rumah. Akibatnya si wanita pun terdorong untuk berbuat serong. Dan akhirnya…. pernikahan berakhir dengan perceraian. Tinggallah anak-anak sebagai korbannya.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka mau kembali ke jalan yang benar.” (Ar-Rum: 41)

Sebenarnya terlalu banyak dampak emansipasi untuk disebutkan di sini.

Cukuplah apa yang telah kami sebutkan sebagai contoh. Yang perlu diingat oleh setiap wanita, bahwa emansipasi sama sekali bukanlah solusi untuk mendapatkan pengakuan masyarakat terhadap dirinya. Karena emansipasi yang lebih dahulu telah diperjuangkan oleh wanita Barat hanya menghasilkan penderitaan yang lebih parah bagi kaum wanita.
Setelah tercapai apa yang menjadi tujuan ternyata timbul akibat yang buruk bagi individu, masyarakat dan generasi penerus.

 

Dilanggarnya tuntunan Islam tanpa rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dicampakkannya hijab, dibuangnya rasa malu, lahirnya anak yang tak diketahui siapa orang tuanya, perpecahan keluarga, mudahnya kawin cerai, kebebasan hubungan lelaki dan wanita, dan sebagainya menjadikan kehidupan para pelaku serta korban emansipasi dipenuhi stres dan depresi. Wallahul musta’an.

Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari akibat yang diperbuat oleh orang-orang yang jahil dan zalim di antara kita.
Bila sudah seperti ini keadaannya, tidak ada solusi yang lebih tepat kecuali kembali kepada ajaran Islam yang benar. Kembali kepada tuntunan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.

Kembalilah engkau wahai wanita kepada fitrahmu! Lihatlah bagaimana Islam telah memuliakanmu! Pegangilah apa yang diajarkan Nabimu, niscaya kebahagiaan di dua negeri akan kau raih.

Wallahu a’lam.

1 Yang dimaksud dengan fitnah di sini adalah sesuatu yang membawa kepada ujian, bala, dan adzab.

 

Ahad, 23 Juni 2007 – 22:29:03,  Penulis : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah

 

Read Full Post »

Nikmat Allah Syukurilah

dan Ujian-Nya Sabarilah

Demikian banyak nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada satupun manusia yang bisa menghitungnya, meski menggunakan alat secanggih apapun. Pernahkah kita berpikir, untuk apa Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan demikian banyak nikmat kepada para hamba-Nya? Untuk sekedar menghabiskan nikmat-nikmat tersebut atau ada tujuan lain?

Luasnya Pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala
Sungguh betapa besar dan banyak nikmat yang telah dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita. Setiap hari silih berganti kita merasakan satu nikmat kemudian beralih kepada nikmat yang lain. Di mana kita terkadang tidak membayangkan sebelumnya akan terjadi dan mendapatkannya. Sangat besar dan banyak karena tidak bisa untuk dibatasi atau dihitung dengan alat secanggih apapun di masa kini.
Semua ini tentunya mengundang kita untuk menyimpulkan betapa besar karunia dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Dalam realita kehidupan, kita menemukan keadaan yang memprihatinkan. Yaitu mayoritas manusia dalam keingkaran dan kekufuran kepada Pemberi Nikmat. Puncaknya adalah menyamakan pemberi nikmat dengan makhluk, yang keadaan makhluk itu sendiri sangat butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentu hal ini termasuk dari kedzaliman di atas kedzaliman sebagaimana dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya:
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ
“Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kedzaliman yang paling besar.” (Luqman: 13)
Kendati demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap memberikan kepada mereka sebagian karunia-Nya disebabkan “kasih sayang-Nya mendahului murka-Nya” dan membukakan bagi mereka pintu untuk bertaubat. Oleh sebab itu tidak ada alasan bagi hamba ini untuk:
– Ingkar dan kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menyamakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhluk-Nya yang sangat butuh kepada-Nya.
– Menyombongkan diri serta angkuh dengan tidak mau melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan larangan-larangan-Nya atau tidak mau menerima kebenaran dan mengentengkan orang lain.
– Tidak mensyukuri pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ
“Dan nikmat apapun yang kalian dapatkan adalah datang dari Allah.” (An-Nahl: 53)
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا
“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah niscaya kalian tidak akan sanggup.” (An-Nahl: 18)

Pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk Satu Tujuan yang Mulia
Dari sekian nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita, mari kita mencoba menghitungnya. Sudah berapakah dalam kalkulasi kita nikmat yang telah kita syukuri dan dari sekian nikmat yang telah kita pergunakan untuk bermaksiat kepada-Nya. Jika kita menemukan kalkulasi yang baik, maka pujilah Allah Subhanahu wa Ta’ala karena Dia telah memberimu kesempatan yang baik. Jika kita menemukan sebaliknya maka janganlah engkau mencela melainkan dirimu sendiri.1
Setiap orang bisa mengatakan bahwa semua yang ada di dunia ini merupakan pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tahukah anda apa rahasia di balik pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut?
Ketahuilah bahwa kenikmatan yang berlimpah ruah bukanlah tujuan diciptakannya manusia dan bukan pula sebagai wujud cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia untuk sebuah kemuliaan baginya dan menjadikan segala nikmat itu sebagai perantara untuk menyampaikan kepada kemuliaan tersebut. Tujuan itu adalah untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja, sebagaimana hal ini disebutkan dalam firman-Nya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
Bagi orang yang berakal akan berusaha mencari rahasia di balik pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berlimpah ruah tersebut. Setelah dia menemukan jawabannya, yaitu untuk beribadah kepada-Nya saja, maka dia akan mengetahui pula bahwa dunia bukan sebagai tujuan.
Sebagai bukti yaitu adanya kematian setelah hidup ini dan adanya kehidupan setelah kematian diiringi dengan persidangan dan pengadilan serta pembalasan dari Allah l. Itulah kehidupan yang hakiki di akhirat nanti. Kesimpulan seperti ini akan mengantarkan kepada:
1. Dunia bukan tujuan hidup.
2. Kenikmatan yang ada padanya bukan tujuan diciptakan manusia, akan tetapi sebagai perantara untuk suatu tujuan yang mulia.
3. Semangat beramal untuk tujuan hidup yang hakiki dan kekal.
Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan: “Ketahuilah bahwa nikmat itu ada dua bentuk, nikmat yang menjadi tujuan dan nikmat yang menjadi perantara menuju tujuan. Nikmat yang merupakan tujuan adalah kebahagiaan akhirat dan nilainya akan kembali kepada empat perkara.
Pertama: Kekekalan dan tidak ada kebinasaan setelahnya,
Kedua: Kebahagian yang tidak ada duka setelahnya,
Ketiga: Ilmu yang tidak ada kejahilan setelahnya,
Keempat: Kaya yang tidak ada kefakiran setelahnya.
Semua ini merupakan kebahagiaan yang hakiki. Adapun bagian yang kedua (dari dua jenis nikmat) adalah sebagai perantara menuju kebahagiaan yang disebutkan dan ini ada empat perkara:
Pertama: Keutamaan diri sendiri seperti keimanan dan akhlak yang baik.
Kedua: Keutamaan pada badan seperti kekuatan dan kesehatan dan sebagainya.
Ketiga: Keutamaan yang terkait dengan badan seperti harta, kedudukan, dan keluarga.
Keempat: Sebab-sebab yang menghimpun nikmat-nikmat tersebut dengan segala keutamaan seperti hidayah, bimbingan, kebaikan, pertolongan, dan semua nikmat ini adalah besar.” (Mukhtashar Minhajul Qashidin hal. 282)

Untaian Indah dari Ibnu Qudamah
“Ketahuilah bahwa segala yang dicari oleh setiap orang adalah nikmat. Akan tetapi kenikmatan yang hakiki adalah kebahagiaan di akhirat kelak dan segala nikmat selainnya akan lenyap. Semua perkara yang disandarkan kepada kita ada empat macam:
Pertama: Sesuatu yang bermanfaat di dunia dan di akhirat seperti ilmu dan akhlak yang baik. Inilah kenikmatan yang hakiki.
Kedua: Sesuatu yang memudaratkan di dunia dan di akhirat. Ini merupakan bala’ (kerugian) yang hakiki.
Ketiga: Bermanfaat di dunia akan tetapi memudaratkan di akhirat seperti berlezat-lezat dan mengikuti hawa nafsu. Ini sesungguhnya bala bagi orang yang berakal, sekalipun orang jahil menganggapnya nikmat. Seperti seseorang yang sedang lapar lalu menemukan madu yang bercampur racun. Bila tidak mengetahuinya, dia menganggap sebuah nikmat dan jika mengetahuinya dia menganggapnya sebagai malapetaka.
Keempat: Memudaratkan di dunia namun akan bermanfaat di akhirat sebagai nikmat bagi orang yang berakal. Contohnya obat, bila dirasakan sangat pahit dan pada akhirnya akan menyembuhkan (dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala).
Seorang anak bila dipaksa untuk meminumnya dia menyangka sebagai malapetaka dan orang yang berakal akan menganggapnya sebagai nikmat. Demikian juga bila seorang anak butuh untuk dibekam, sang bapak berusaha menyuruh dan memerintahkan anaknya untuk melakukannya. Namun sang anak tidak bisa melihat akibat di belakang yang akan muncul berupa kesembuhan.
(Begitupun) sang ibu akan berusaha mencegah karena cintanya yang tinggi kepada anak tersebut karena sang ibu tidak tahu tentang maslahat yang akan muncul dari pengobatan tersebut.
Sang anak menuruti apa kata ibunya. Hal ini disebabkan oleh ketidaktahuannya sehingga ia lebih menuruti ibunya daripada bapaknya. Bersamaan dengan itu sang anak menganggap bapaknya sebagai musuh. Jika sang anak berakal, niscaya dia akan menyimpulkan bahwa sang ibu merupakan musuh sesungguhnya dalam wujud teman dekat. Karena larangan sang ibu untuk berbekam akan menggiringnya kepada penyakit yang lebih besar dibandingkan sakit karena berbekam.
Karena itu, teman yang jahil lebih berbahaya dari seorang musuh yang berakal. Dan setiap orang menjadi teman dirinya sendiri, akan tetapi nafsu merupakan teman yang jahil. Nafsu akan berbuat pada dirinya apa yang tidak diperbuat oleh musuh.” (Minhajul Qashidin hal. 281-282)

Syukur dalam Tinjauan Bahasa dan Agama
Syukur secara bahasa adalah nampaknya bekas makan pada badan binatang dengan jelas. Binatang yang syakur artinya: Apabila nampak padanya kegemukan karena makan melebihi takarannya.
Adapun dalam tinjauan agama, syukur adalah: Nampaknya pengaruh nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas seorang hamba melalui lisannya dengan cara memuji dan mengakuinya; melalui hati dengan cara meyakininya dan cinta; serta melalui anggota badan dengan penuh ketundukan dan ketaatan. (Madarijus Salikin, 2/244)
Ada juga yang mendefinisikan syukur dengan makna lain seperti:
1. Mengakui nikmat yang diberikan dengan penuh ketundukan.
2. Memuji yang memberi nikmat atas nikmat yang diberikannya.
3. Cinta hati kepada yang memberi nikmat dan (tunduknya) anggota badan dengan ketaatan serta lisan dengan cara memuji dan menyanjungnya.
4. Menyaksikan kenikmatan dan menjaga (diri dari) keharaman.
5. Mengetahui kelemahan diri dari bersyukur.
6. Menyandarkan nikmat tersebut kepada pemberinya dengan ketenangan.
7. Engkau melihat dirimu orang yang tidak pantas untuk mendapatkan nikmat.
8. Mengikat nikmat yang ada dan mencari nikmat yang tidak ada.
Masih banyak lagi definisi para ulama tentang syukur, akan tetapi semuanya kembali kepada penjelasan Ibnul Qayyim sebagaimana disebutkan di atas.
Yang jelas, syukur adalah sebuah istilah yang digunakan pada pengakuan/ pengetahuan akan sebuah nikmat. Karena mengetahui nikmat merupakan jalan untuk mengetahui Dzat yang memberi nikmat. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menamakan Islam dan iman di dalam Al-Qur`an dengan syukur. Dari sini diketahui bahwa mengetahui sebuah nikmat merupakan rukun dari rukun-rukun syukur. (Madarijus Salikin, 2/247)
Apabila seorang hamba mengetahui sebuah nikmat maka dia akan mengetahui yang memberi nikmat. Ketika seseorang mengetahui yang memberi nikmat tentu dia akan mencintai-Nya dan terdorong untuk bersungguh-sungguh mensyukuri nikmat-Nya. (Madarijus Salikin, 2/247, secara ringkas)
Syukur Tidak Sempurna Melainkan dengan Mengetahui Apa yang Dicintai Allah l
Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan: “Ketahuilah bahwa syukur dan tidak kufur tidak akan sempurna melainkan dengan mengetahui segala apa yang dicintai oleh Allah l. Sebab makna syukur adalah mempergunakan segala karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada apa yang dicintai-Nya, dan kufur nikmat adalah sebaliknya. Bisa juga dengan tidak memanfaatkan nikmat tersebut atau mempergunakannya pada apa yang dimurkai-Nya.”

Makna Syukur
Syukur memiliki tiga makna.
Pertama: Mengetahui (pemberian tersebut) adalah sebuah nikmat. Artinya dia menghadirkan dalam benaknya, mempersaksikan, dan memilahnya. Hal ini akan bisa terwujud dalam benak sebagaimana terwujud dalam kenyataan. Sebab banyak orang yang jika engkau berbuat baik kepadanya namun dia tidak mengetahui (bahwa itu adalah perbuatan baik). Gambaran ini bukan termasuk dari syukur.
Kedua: Menerima nikmat tersebut dengan menampakkan butuhnya kepadanya. Dan bahwa sampainya nikmat tersebut kepadanya bukan sebagai satu keharusan hak baginya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tanpa membelinya dengan harga. Bahkan dia melihat dirinya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti seorang tamu yang tidak diundang.
Ketiga: Memuji yang memberi nikmat. Dalam hal ini ada dua bentuk, yaitu umum dan khusus. Pujian yang bersifat umum adalah menyifati pemberi nikmat dengan sifat dermawan, kebaikan, luas pemberiannya, dan sebagainya. Pujian yang bersifat khusus adalah menceritakan nikmat tersebut dan memberitahukan bahwa nikmat tersebut sampai kepada dia karena sebab Sang Pemberi tersebut. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan adapun tentang nikmat Rabbmu maka ceritakanlah.” (Adh-Dhuha: 11) [Madarijus Salikin, 2/247-248]

Menceritakan Sebuah Nikmat Termasuk Syukur
Menceritakan sebuah nikmat yang dia dapatkan kepada orang lain termasuk dalam kategori syukur. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ صَنَعَ إِلَيْهِ مَعْرُوْفًا فَلْيَجْزِ بِهِ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ مَا يَجْزِي بِهِ فَلْيُثْنِ فَإِنَّهُ إِذَا أَثْنَى عَلَيْهِ فَقَدْ شَكَرَهُ وَإِنْ كَتَمَهُ فَقَدْ كَفَرَهُ وَمَنْ تَحَلَّى بِمَا لَمْ يُعْطَ كَانَ كَلاَبِسِ ثَوْبَيْ زُوْرٍ
“Barangsiapa yang diberikan kebaikan kepadanya hendaklah dia membalasnya dan jika dia tidak mendapatkan sesuatu untuk membalasnya hendaklah dia memujinya. Karena jika dia memujinya sungguh dia telah berterima kasih dan jika dia menyembunyikannya sungguh dia telah kufur. Dan barangsiapa yang berhias dengan sesuatu yang dia tidak diberi, sama halnya dengan orang yang memakai dua ­baju kedustaan.” (HR. Abu Dawud no. 4179, At-Tirmidzi no. 1957 dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan adapun tentang nikmat Rabbmu maka ceritakanlah.” (Adh-Dhuha: 11)
Menceritakan nikmat yang diperintahkan di dalam ayat ini ada dua pendapat di kalangan para ulama.
Pertama: Menceritakan nikmat tersebut dan memberitahukannya kepada orang lain seperti dengan ucapan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberiku nikmat demikian dan demikian.”
Kedua: Menceritakan nikmat yang dimaksud di dalam ayat ini adalah berdakwah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan risalah-Nya dan mengajarkan umat.
Dari kedua pendapat tersebut, Ibnul Qayyim rahimahullahu dalam Madarijus Salikin (2/249) mentarjih dengan perkataan beliau: “Yang benar, ayat ini mencakup kedua makna tersebut. Karena masing-masingnya adalah nikmat yang kita diperintahkan untuk mensyukurinya, menceritakannya, dan menampakkannya sebagai wujud kesyukuran.”
Beliau berkata: “Dalam sebuah atsar yang lain dan marfu’ disebutkan:
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيْلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيْرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللهَ، وَالتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهُ كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ
“Barangsiapa tidak mensyukuri yang sedikit maka dia tidak akan mensyukuri atas yang banyak dan barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada manusia maka dia tidak bersyukur kepada Allah. Menceritakan sebuah nikmat (yang didapati) kepada orang lain termasuk dari syukur dan meninggalkannya adalah kufur, bersatu adalah rahmat dan bercerai berai adalah azab.” (HR. Ahmad dari An-Nu’man bin Basyir) [Madarijus Salikin, 2/248]

Dengan Apa Seorang Hamba Bersyukur?
Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan: “Syukur bisa dilakukan dengan hati, lisan, dan anggota badan. Adapun dengan hati adalah berniat untuk melakukan kebaikan dan menyembunyikannya pada khayalak ramai. Adapun dengan lisan adalah menampakkan kesyukuran itu dengan memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Artinya, menampakkan keridhaan kepada Allah k. Dan hal ini sangat dituntut, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
التَّحَدُّثُ بِالنِّعَمِ شُكْرٌ وَتَرْكُهُ كُفْرٌ
‘Menceritakan nikmat itu adalah wujud kesyukuran dan meninggalkannya adalah wujud kekufuran.’
Adapun dengan anggota badan adalah mempergunakan nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut dalam ketaatan kepada-Nya dan menjaga diri dari bermaksiat dengannya. Termasuk kesyukuran terhadap nikmat kedua mata adalah dengan cara menutup setiap aib yang dilihat pada seorang muslim. Dan termasuk kesyukuran atas nikmat kedua telinga adalah menutup setiap aib yang didengar. Penampilan seperti ini termasuk wujud kesyukuran terhadap anggota badan.” (Mukhtashar Minhajul Qashidin hal. 277)
Ibnul Qayyim rahimahullahu menjelaskan: “Syukur itu bisa dilakukan oleh hati dengan tunduk dan kepasrahan, oleh lisan dengan mengakui nikmat tersebut, dan oleh anggota badan dengan ketaatan dan penerimaan.” (Madarijus Salikin, 2/246)

Derajat Syukur
Syukur memiliki tiga tingkatan:
Pertama: Bersyukur karena mendapatkan apa yang disukai.
Tingkat syukur ini bisa juga dilakukan orang Islam dan non Islam, seperti Yahudi dan Nasrani, bahkan Majusi. Namun Ibnul Qayyim rahimahullahu menjelaskan: “Jika engkau mengetahui hakikat syukur, dan di antara hakikat syukur adalah menjadikan nikmat tersebut membantu dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mencari ridha-Nya, niscaya engkau akan mengetahui bahwa kaum musliminlah yang pantas menyandang derajat syukur ini.
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha telah menulis surat kepada Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu: ‘Sesungguhnya tingkatan kewajiban yang paling kecil atas orang yang diberi nikmat adalah tidak menjadikan nikmat tersebut sebagai jembatan untuk bermaksiat kepada-Nya’.” (Madarijus Salikin, 2/253)
Kedua: Mensyukuri sesuatu yang tidak disukai. Orang yang melakukan jenis syukur ini adalah orang yang sikapnya sama dalam semua keadaan, sebagai bukti keridhaannya.
Ibnul Qayyim rahimahullahu menjelaskan: “Bersyukur atas sesuatu yang tidak disukai lebih berat dan lebih sulit dibandingkan mensyukuri yang disenangi. Oleh sebab itulah, syukur yang kedua ini di atas jenis syukur yang pertama. Syukur jenis kedua ini tidak dilakukan kecuali oleh salah satu dari dua jenis orang:
 Seseorang yang semua keadaannya sama. Artinya, sikapnya sama terhadapq yang disukai dan tidak disukai, dan dia bersyukur atas semuanya sebagai bukti keridhaan dirinya terhadap apa yang terjadi. Ini merupakan (gambaran) kedudukan ridha.
 Seseorang yang bisa membedakan keadaannya. Dia tidak menyukai sesuatuq yang tidak menyenangkan dan tidak ridha bila menimpanya. Namun bila sesuatu yang tidak menyenangkan menimpanya, dia tetap mensyukurinya. Kesyukurannya (dia jadikan) sebagai pemadam kemarahannya, sebagai penutup dari berkeluh kesah, dan demi menjaga adab serta menempuh jalan ilmu. Karena sesungguhnya adab dan ilmu akan membimbing seseorang untuk bersyukur di waktu senang maupun susah.
Tentunya yang pertama lebih tinggi dari yang kedua. (Madarijus Salikin, 2/254)
Ketiga: Seseorang seolah-olah tidak menyaksikan kecuali Yang memberinya kenikmatan. Artinya, bila dia melihat yang memberinya kenikmatan dalam rangka ibadah, dia akan menganggap besar nikmat tersebut. Dan bila dia menyaksikan yang memberi kenikmatan karena rasa cinta, niscaya semua yang berat akan terasa manis baginya.

Manusia dan Syukur
Kita telah mengetahui bahwa syukur merupakan salah satu sifat yang terpuji dan sifat yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi tidak semua orang bisa mendapatkannya. Artinya, ada yang diberi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ada pula yang tidak.
Manusia dan syukur terbagi menjadi tiga golongan:
Pertama: Orang yang mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kedua: Orang yang menentang nikmat yang diberikan alias kufur nikmat.
Ketiga: Orang yang berpura-pura syukur padahal dia bukan orang yang bersyukur. Orang yang seperti ini dimisalkan dengan orang yang berhias dengan sesuatu yang tidak dia tidak miliki. (Madarijus Salikin, 2/48)

Dalil-dalil tentang Syukur
وَاشْكُرُوا لِلهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ
“Bersyukurlah kalian kepada Allah jika hanya kepada-Nya kalian menyembah.” (Al-Baqarah: 172)
فَاذْكُرُوْنِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلاَ تَكْفُرُوْنِ
“Maka ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengingat kalian dan bersyukurlah kalian kepada-Ku dan jangan kalian kufur.” (Al-Baqarah: 152)
وَاعْبُدُوْهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
“Dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya dan kepada-Nya kalian dikembalikan.” (Al-‘Ankabut: 17)
وَسَيَجْزِي اللهُ الشَّاكِرِيْنَ
“Dan Allah akan membalas orang-orang yang bersyukur.” (Ali ‘Imran: 144)

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ
“Dan ingatlah ketika Rabb kalian memaklumkan: Jika kalian bersyukur niscaya Kami akan menambah (nikmat Kami) dan jika kalian mengkufurinya sungguh azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata:
أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُوْمُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَقَدْ غَفَرَ اللهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ؟ قَالَ: أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُوْنَ عَبْدًا شَكُوْرًا؟
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun di malam hari sampai pecah-pecah kedua kaki beliau lalu ‘Aisyah berkata: ‘Ya Rasulullah, kenapa engkau melakukan yang demikian, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lewat dan akan datang?’ Beliau menjawab: ‘Apakah aku tidak suka menjadi hamba yang bersyukur?’” (HR. Al-Bukhari no 4660 dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha)
Masih banyak dalil lain yang menjelaskan tentang keutamaan syukur dan anjuran dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Semoga apa yang dibawakan di sini mewakili yang tidak disebutkan.

Ancaman bagi Orang-Orang yang Tidak Bersyukur
Yang tidak bersyukur lebih banyak dari yang bersyukur. Hal ini tidak bisa dipungkiri oleh orang yang berakal bersih. Sebagaimana orang yang ingkar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih banyak dari yang beriman. Demikianlah keterangan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya:
وَقَلِيْلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ
“Dan sedikit dari hamba-hambaKu yang bersyukur.” (Saba`: 13)
Sebuah peringatan tentu akan bermanfaat bagi orang yang beriman. Di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan dari kufur nikmat setelah memerintahkan untuk bersyukur dan menjelaskan keutamaan yang akan di dapatinya sebagaimana penjelasan Al-Imam As-Sa’di rahimahullahu dalam tafsir beliau: “Jika seseorang bersyukur niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengabadikan nikmat yang dia berada padanya dan menambahnya dengan nikmat yang lain.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ
“Dan Rabb kalian telah mengumumkan jika kalian bersyukur niscaya Kami akan menambah (nikmat Kami) dan jika kalian mengkufurinya sungguh azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu menjelaskan: “Jika kalian mengkufuri nikmat, menutup-nutupinya dan menentangnya maka (azab-Ku sangat pedih) yaitu dengan dicabutnya nikmat tersebut dan siksa Allah Subhanahu wa Ta’ala menimpanya dengan sebab kekufurannya. Dan disebutkan dalam sebuah hadits: ‘Sesungguhnya seseorang diharamkan untuk mendapatkan rizki karena dosa yang diperbuatnya’.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/637)

Syukur dan Sabar
Kita akan bertanya: “Jika engkau ditimpa sebuah musibah lalu engkau mensyukurinya, maka tentu pada sikap kesyukuranmu terdapat sifat sabar dan sifat ridha terhadap musibah yang menimpa dirimu. Dan kita mengetahui bahwa ridha merupakan bagian dari kesabaran. Sementara syukur merupakan buah dari sifat ridha.”
Ibnul Qayyim rahimahullahu menjelaskan: “Syukur termasuk kedudukan yang paling tinggi dan lebih tinggi -bahkan jauh libih tinggi- daripada kedudukan ridha. Di mana sifat ridha masuk dalam syukur, karena mustahil syukur ada tanpa ridha.” (Madarijus Salikin, 2/242)

Kenapa Kebanyakan Orang Tidak Bersyukur?
Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan: “Makhluk ini tidak mau mensyukuri nikmat karena padanya ada dua (sifat) yaitu kejahilan dan kelalaian. Kedua sifat ini menghalangi mereka untuk mengetahui nikmat. Karena tidak tergambar bahwa seseorang akan bisa bersyukur tanpa mengetahui nikmat (sebuah pemberian). Jika pun mereka mengetahui nikmat, mereka menyangka bahwa bersyukur itu hanya sebatas mengucapkan alhamdulillah atau syukrullah dengan lisan. Mereka tidak mengetahui bahwa makna syukur adalah mempergunakan nikmat pada jalan ketaatan kepada Allah l.” (Mukhtashar Minhajul Qashidin hal. 288)
Kesimpulan ucapan Ibnu Qudamah rahimahullahu adalah bahwa manusia banyak tidak bersyukur karena ada dua perkara yang melandasinya yaitu kejahilan dan kelalaian.

Mengobati Kelalaian dari Bersyukur
Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan: “Hati yang hidup akan menggali segala macam nikmat diberikan. Adapun hati yang jahil (lalai) tidak akan menganggap sebuah nikmat sebagai nikmat kecuali setelah bala’ menimpanya. Caranya, hendaklah dia terus memandang kepada yang lebih rendah darinya dan berusaha berbuat apa yang telah dilakukan oleh orang-orang terdahulu. Mendatangi tempat orang yang sedang sakit dan melihat berbagai macam ujian yang sedang menimpa mereka, kemudian berpikir tentang nikmat sehat dan keselamatan. Menyaksikan jenazah orang yang terbunuh, dipotong tangan mereka, kaki-kaki mereka dan diazab, lalu dia bersyukur atas keselamatan dirinya dari berbagai azab.” (Mukhtashar Minhajul Qashidin hal. 290)
Wallahu a’lam.

1 Demikianlah makna yang telah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim (no. 4674) dari shahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu.

 

Jum’at, 21 Juni 2007 – 19:01:11,  Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An-Nawawi

 

Read Full Post »

Oase

Pilar-pilar Kekafiran

Pilar kekafiran ada empat:

            sombong,

dengki,

amarah,

syahwat (keinginan jiwa).

 

Kesombongan menghalangi seseorang untuk tunduk.

Dengki menghalanginya untuk menerima nasihat dan memberikannya.

Amarah menghalanginya untuk bersikap adil.

syahwat (keinginan jiwa) menghalanginya untuk konsentrasi dalam ibadah.

Apabila pilar kesombongan tumbang maka akan mudah baginya untuk tunduk.

Apabila pilar kedengkian tumbang maka akan mudah baginya menerima nasihat/ menyampaikannya.

Apabila pilar amarah tumbang akan mudah baginya bersikap adil dan tawadhu’.  

Apabila pilar syahwat (keinginan jiwa) tumbang maka akan mudah baginya untuk sabar, menjaga kehormatan, dan beribadah.

Dan sungguh, bergesernya gunung dari tempatnya lebih mudah dari bergesernya empat perkara tersebut dari orang yang terjangkitinya.

 

Terlebih bilamana keempatnya telah menjadi bangunan yang kokoh, karakter serta sifat yang mapan. Jika demikian maka amalnya tidak akan tegak sama sekali selama sifat itu menyertainya, tidak pula jiwanya akan suci selama ia menyandangnya.

Setiap kali ia sungguh-sungguh dalam beramal maka keempatnya akan merusaknya, dan seluruh problem itu lahir dari keempatnya. Jika yang demikian telah mapan dalam kalbu, itu akan memperlihatkan kepadanya kebatilan dalam penampilan yang benar dan sebaliknya kebenaran dalam penampilan kebatilan, yang baik dalam penampilan yang mungkar dan yang mungkar dalam penampilan yang baik. Dunia pun mendekatinya dan akhirat menjauhinya.

Apabila engkau perhatikan kekafiran umat-umat terdahulu, engkau akan dapati bahwa itu bermula darinya dan atas dasar itu pula azab menimpa. Ringan dan kerasnya azab pun tergantung kepada ringan ataupun kuatnya keempat perkara tersebut. Maka barangsiapa membuka peluang untuknya berarti ia telah membuka segala pintu kejelekan, cepat maupun lambat. Dan barangsiapa tidak memberinya peluang untuk dirinya berarti ia telah menutup pintu-pintu kejelekan atas dirinya.

 

Karena keempatnya menghambat dari keikhlasan, ketundukan, taubat, menerima kebenaran, memberi nasihat untuk muslimin serta tawadhu’ kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Sumber keempatnya adalah kebodohan seseorang terhadap hakikat dirinya.

 

Karena sesungguhnya bila dia tahu Rabbnya dengan sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan-Nya serta tahu tentang dirinya dengan berbagai kekurangan dan cacatnya, tentu dia tidak akan marah demi jiwanya dan tidak akan iri kepada seorangpun atas apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepadanya.

 

Karena sejatinya dengki adalah salah satu bentuk permusuhan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebab dia tidak menyukai nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada seorang hamba padahal Allah menyukainya. Ia suka bila nikmat tersebut hilang dari hamba itu sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala membencinya. Berarti, ia menentang Allah Subhanahu wa Ta’ala pada qadha dan qadar-Nya serta pada kecintaan serta kebencian-Nya. Oleh karenanya iblis adalah musuh-Nya yang sebenar-benarnya, karena dosanya disebabkan sombong dan dengki.

Maka mencabut dua sifat ini adalah dengan cara mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mentauhidkan-Nya, ridha kepada-Nya, dan kembali kepada-Nya. Sedang mencabut sifat amarah adalah dengan cara mengenal hakikat dirinya dan bahwasanya dirinya tidak punya hak dibela dengan kemarahan, tidak pantas membalas dendam demi dirinya.

 

Karena yang demikian berarti mengutamakan jiwanya dengan rasa ridha kepadanya, marah demi jiwanya yang mengalahkan hak pencipta-Nya.
Dan cara yang termanjur untuk menepis cacat ini adalah dengan cara membiasakan jiwanya marah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ridha karena-Nya. Sehingga sedikit saja dari kemarahan atau ridha karena Allah Subhanahu wa Ta’ala masuk kepadanya maka ia bertindak dengannya sebagai ganti kemarahan dan keridhaan demi jiwanya.

Adapun syahwat (keinginan jiwa) maka obatnya adalah ilmu yang benar serta menyadari bahwa memenuhi syahwatnya merupakan salah satu sebab terhambatnya dia dari kesenangan jiwanya. Dan pembelaannya terhadap syahwatnya termasuk sebab terbesar tersambungnya sebab itu dengan segala keinginan jiwanya. Sehingga setiap kali engkau membuka pintu syahwat pada jiwamu berarti engkau sedang berusaha menghambat jiwamu dari kesenangan jiwamu yang (hakiki). Dan setiap kali engkau tutup pintu tersebut artinya engkau sedang mengantarkannya kepada kesenangan jiwa dengan sesempurna-sempurnanya.

Amarah itu sesungguhnya bagaikan binatang buas. Jika sang pemilik melepaskannya maka ia akan memakannya.

Syahwat itu bagaikan api, bila pemiliknya menyalakannya maka akan membakarnya.

Sombongmu itu bagaikan merebut kerajaan dari seorang raja, bila si raja tidak membunuhmu maka dia akan mengusirmu dari kerajaannya.

Hasad bagaikan memusuhi orang yang lebih kuat darimu.

 

Orang yang bisa mengalahkan syahwat dan amarahnya maka setan akan takut walaupun dari bayangannya.

 

Namun barangsiapa dikalahkan oleh syahwat dan amarahnya, dia akan takut dengan khayalannya.

Jum’at, 21 Juni 2007 – 19:10:56,  Penulis : Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah

(diterjemahkan oleh Qomar ZA dari kitab Al-Fawa`id hal. 177-178)

Read Full Post »

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ جَعَلَ تَحْقِيْقَ اْلأَمْنِ مَقْرُوْنًا بِاْلإِيْمَانِ الْخَالِصِ مِنَ الشِّرْكِ وَالطُّغْيَانِ، فَقَالَ تَعَالَى: {الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْا إِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ اْلأَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ}.
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ:
فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَإِنَّ مَنِ اتَّقَاهُ وَقَاهُ، وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ نَجَاهُ.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu dengan bersemangat dalam mempelajari perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan larangan-larangan-Nya, untuk kemudian kita jalankan perintah-perintah-Nya sekuat kemampuan kita dan kita jauhi seluruh larangan-Nya. Dengan bertakwa kepada-Nya kita akan dijaga dari siksa-Nya dan dengan bertakwa kita akan mendapat keberuntungan di dunia dan di akhirat.

Hadirin rahimakumullah,
Suasana yang aman dan tentram adalah suasana yang diidam-idamkan oleh setiap orang. Bahkan kebutuhan seseorang terhadap hal tersebut lebih diutamakan daripada kebutuhannya terhadap makanan dan minuman. Karena orang yang cemas, khawatir dan penuh ketakutan tidak akan bisa merasakan enaknya makanan dan minuman sebagaimana mestinya.
Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:
رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَّارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ
“Wahai Rabb-ku, jadikanlah kota Makkah ini sebagai kota yang aman dan berikanlah rizki kepada penduduknya dari berbagai hasil tanaman.” (Al-Baqarah: 126)

Hadirin rahimakumullah,
Di dalam ayat tersebut Nabi Ibrahim ‘alaihissalam lebih mendahulukan untuk meminta kehidupan yang aman dibanding meminta rizki. Maka jelaslah bahwa kebutuhan terhadap kehidupan yang aman dan nyaman di muka bumi ini merupakan kebutuhan yang sangat diutamakan. Oleh karena itu pula, kita dapati seluruh negara di muka bumi ini berusaha untuk mewujudkannya. Mereka telah berusaha dengan berbagai upaya. Beberapa teori dan sistem telah mereka terapkan untuk menciptakan keamanan dan ketentraman bagi masyarakat di wilayahnya, namun ternyata tidak memberikan hasil sebagaimana mereka inginkan.

 
Jamaah Jum’at rahimakumullah,
Apa sesungguhnya upaya yang harus dilakukan untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang aman dan tentram? Apakah dengan cara otoriter yang dilakukan oleh pihak penguasa, yaitu dengan memaksakan kehendaknya kepada masyarakat dan menyingkirkan segala upaya yang ingin menghalanginya? Ataukah dengan cara menjadikan keinginan mayoritas orang sebagai tolok ukur kebenaran dan memberikan keleluasaan kepada setiap orang untuk berbuat sesuai seleranya masing-masing?
Hadirin rahimakumullah,
Sesungguhnya kehidupan yang aman dan tentram tidak akan terwujud dalam sebuah masyarakat kecuali kalau mereka kembali kepada agama Islam. Karena memang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus Rasul yang membawa ajaran Islam ini sebagai rahmat untuk seluruh alam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِّلْعَالَمِيْنَ
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmat untuk seluruh alam.” (Al-Anbiya`: 107)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Begitu pula ajaran-ajaran yang ada di dalam agama Islam, sangat besar peranannya dalam mewujudkan hal tersebut. Kenyataan di dalam sejarah juga menunjukkan hal yang demikian. Masyarakat di jazirah Arab sebelum datangnya Islam adalah masyarakat yang hidup dalam keadaan saling bermusuhan. Yang kuat menyakiti yang lemah. Mereka juga memiliki kebiasaan melakukan praktik-praktik sihir perdukunan yaitu dengan meminta tolong kepada setan dari kalangan jin untuk menyelesaikan urusan mereka. Hal yang demikian ini tentu akan membuat kehidupan menjadi tidak aman dan nyaman. Begitu pula yang kita dapatkan sebagian masyarakat di sekitar kita yang masih meminta perlindungan kepada jin, kita dapatkan mereka hidup dalam keadaan diliputi rasa khawatir dan takut. Karena memang cara-cara tersebut akan membuat jin semakin menakut-nakuti manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang orang-orang Arab jahiliah dalam firman-Nya:
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ اْلإِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًا
“Dan sesungguhnya dahulu orang laki-laki dari kalangan manusia meminta perlindungan kepada laki-laki dari kalangan jin. Maka mereka (laki-laki dari kalangan jin) menambahkan rasa takut (kepada manusia).” (Al-Jin: 6)
Namun setelah datangnya Islam, keadaan di jazirah Arab menjadi berubah. Akidah yang benar membuat para sahabat menjadi orang-orang yang saling mencintai di antara mereka. Iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan mereka menjadi orang-orang yang meminta perlindungan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menyerahkan urusan hanya kepada-Nya dan menjauhi segala yang diibadahi kepada selain-Nya. Begitu pula keyakinan merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjadikan mereka jauh dari keinginan-keinginan berbuat jahat kepada sesama. Hal ini menjadikan mereka hidup dalam keadaan penuh keamanan dan ketentraman.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Begitu pula ajaran Islam yang lainnya, akan mewujudkan kehidupan masyarakat yang aman dan tentram. Misalnya, kewajiban shalat dan zakat. Dua kewajiban yang sering disebutkan secara beriringan ini sangat besar peranannya dalam mewujudkan kehidupan yang aman. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang hikmah diwajibkannya shalat dalam firman-Nya:
إِنَّ الصَّلاَةَ تَنهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Sesungguhnya shalat akan mencegah perbuatan keji dan munkar.” (Al-‘Ankabut: 45)
Adapun zakat, maka kewajiban ini akan menumbuhkan rasa kasih sayang antara yang kaya dan yang miskin, serta menghilangkan rasa permusuhan di antara mereka.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Di antara ajaran Islam yang sangat besar peranannya dalam mewujudkan kehidupan yang aman dan tentram adalah kewajiban untuk berbaiat (berjanji taat) kepada penguasa yang muslim, dengan menaatinya dalam perkara yang tidak bertentangan dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul -Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَطِيْعُوا اللهَ وَأَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَأُولِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasulullah serta pemimpin di antara kalian.” (An-Nisa`: 59)
Oleh karena itu, agama ini melarang pemeluknya untuk memberontak terhadap penguasa muslim yang sah. Karena yang demikian ini akan menimbulkan kemudaratan (kejelekan) yang sangat besar. Bahkan wajib bagi kaum muslimin untuk menghormati penguasanya, mencintai serta mendoakan kebaikan untuknya ataupun menasihatinya ketika terjatuh dalam kesalahan dengan cara yang baik. Namun tidak boleh bagi kita untuk menasihatinya dengan cara menyebutkan kesalahan-kesalahannya melalui mimbar-mimbar di depan massa ataupun dengan tulisan-tulisan yang disebarkan ke khalayak. Cara yang benar adalah dengan diam-diam, tidak di muka umum. Karena demikian petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini, dan cara ini lebih memungkinkan untuk diterimanya nasihat daripada kalau disampaikan di depan umum. Kemudian apabila nasihat itu diterima, maka itulah yang kita harapkan. Namun apabila tidak, maka telah selesai kewajiban kita.
Selanjutnya kita harus bersabar dengan berbagai kesalahan penguasa selama dia masih menjalankan shalat. Karena demikianlah ajaran agama kita. Dan ini pula yang akan mewujudkan kehidupan aman dan tentram. Begitupula ajaran-ajaran Islam yang lainnya, seperti jihad, penegakan hukum had dan lain-lain, sangat besar fungsinya dalam mewujudkan kehidupan yang aman dan tentram.
Akhirnya mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, baik masyarakat maupun pemerintahnya, untuk bisa mempelajari Islam dengan benar dan mewujudkannya dalam kehidupan kita, sehingga akan terwujud kehidupan yang aman dan tentram.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ بَعَثَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْن وَحُجَّةً عَلَى الْمُعَانِدِيْنَ وَمِنَّةً عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ أَجمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ… أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ {وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ} (البقرة : 194)
عِبَادَ اللهِ، وَكَمَا أَنَّ اْلإِسْلاَمَ يُحَقِّقُ اْلأَمْنَ مِنْ مَخَاوِفِ الدُّنْيَا فَهُوَ كَذَلِكَ يُحَقِّقُ اْلأَمْنَ مِنْ مَخَاوِفِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ. قَالَ تَعَالَى: {الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْا إِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ اْلأَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ} (الأنعام: 82)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kembali kita mengingatkan kepada hadirin untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama orang-orang yang bertakwa, menolong mereka dan menjaga mereka dari berbagai kejelekan yang akan menimpa mereka.

Kaum muslimin rahimakumullah,
Agama Islam sebagaimana akan mewujudkan kehidupan masyarakat yang aman dan tentram di dunia, juga akan mewujudkan kehidupan yang membahagiakan di akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْا إِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ اْلأَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ.
“Orang-orang yang beriman yang tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kesyirikan, mereka akan mendapatkan kehidupan yang aman dan mereka akan mendapatkan hidayah.” (Al-An’am: 82)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
إِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُوْنٍ. ادْخُلُوْهَا بِسَلاَمٍ آمِنِيْنَ. وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُوْرِهِمْ مِّنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُّتَقَابِلِيْنَ. لاَ يَمَسُّهُمْ فِيْهَا نَصَبٌ وَّمَا هُمْ مِّنْهَا بِمُخْرَجِيْنَ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mereka berada di taman-taman surga yang ada di dalamnya sungai-sungai. (Dikatakan kepada mereka), ‘Masuklah kalian ke surga dengan penuh keselamatan dan keamanan.’ Kami hilangkan pada dada-dada mereka rasa dendam, mereka saling bersaudara duduk di atas dipan-dipan saling berhadapan. Mereka tidak merasa lelah di dalam surga dan mereka tidak akan dikeluarkan darinya.” (Al-Hijr: 45-48)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Maka jelaslah bahwa dengan kembali kepada ajaran Islam kita akan mendapatkan kehidupan yang aman dan tentram, jauh dari ketakutan. Akan tetapi perlu diketahui pula bahwa yang dimaksud dengan kembali kepada Islam adalah kembali secara utuh dan menyeluruh. Bukan sekedar kembali pada sebagian ajarannya saja namun meninggalkan ajaran yang lainnya. Sebagaimana didengung-dengungkan oleh sebagian kaum muslimin yang mengajak untuk kembali kepada Islam namun hanya mengajak kepada diterapkannya hukum Islam pada masalah-masalah tertentu saja atau yang hanya mengajak kepada shalat dan keutamaan-keutamaan amalan saja. Namun mereka menyepelekan perkara yang lebih penting yaitu mengajak kaum muslimin untuk berakidah dengan akidah yang benar. Akidah yang tidak dicampuri syirik serta mengajak kaum muslimin untuk beribadah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak dicampuri dengan bid’ah. Semestinya kita harus kembali kepada Islam secara keseluruhan, namun tentunya dengan mendahulukan perkara yang lebih penting dari perkara yang penting lainnya, sebagaimana yang dahulu dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَارْضَ ا

 

Jum’at, 21 Juni 2007 – 19:16:02,  Penulis : Al-Ustadz Saifuddin Zuhri

 

Read Full Post »

Penjelasan Hadits Arba’in No 37:

Bagaimana Allah Membalas Niat Baik dan Buruk?

25 June, 2007

Oleh: Syaikh Shalih Alu Syaikh
Diterjemahkan secara bebas Oleh: Abu Fatah Amrullah (Alumni Ma’had Ilmi)
Murajaah: Ustadz Asas El Izzi, Lc. (Pengajar Islamic Centre Bin Baz)

وَعَنِ بْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- عَنْ رَسُوْلِ اللهِ فِيْمَا يَرْوِيهِ عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَالَ: إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَالِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ، فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا، فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشَرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضَعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ، وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ، فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا، فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً رواه البخاري ومسلم بهذه الحروف

Dari ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari apa yang beliau riwayatkan dari Robbnya tabaaroka wa ta’ala beliau berkata: “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla telah menetapkan kebaikan dan keburukan kemudian menjelaskannya. Barang siapa yang berkeinginan untuk berbuat kebaikan kemudian dia tidak melakukannya, Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia berkeinginan melakukan kebaikan kemudian ia melakukannya, Allah mencatat untuknya 10-700 kali lipat kebaikan sampai tidak terhingga. Jika dia berkeinginan untuk melakukan kejelekan kemudian dia tidak mengamalkannya, Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna. Jika dia berkeinginan melakukannya, kemudian dia melakukannya maka Allah mencatat baginya satu kejelekan.” (HR. Bukhori, Muslim)

Penjelasan

Perkataan Rasulullah [yang beliau riwayatkan dari Robbnya tabaaroka wa ta’ala] menunjukkan bahwa hadits ini adalah hadits qudsi. Beliau berkata, [Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla telah menetapkan kebaikan dan keburukan kemudian menjelaskannya], yaitu Allah menetapkan kebaikan dan keburukan di sisi-Nya kemudian Allah jelaskan dalam Al Quran. Allah jelaskan perbuatan-perbuatan yang merupakan kebaikan dan Allah jelaskan perbuatan-perbuatan yang merupakan keburukan. Allah jelaskan amalan yang akan dicatat sebagai kebaikan bagi seseorang dan Allah jelaskan amalan yang akan dicatat sebagai keburukan bagi seseorang.

Hadits ini juga menunjukkan adanya dua malaikat yang mencatat perbuatan manusia. kedua malaikat ini mengetahui apa yang diniatkan dalam hati manusia. Keinginan manusia dapat diketahui oleh malaikat. Sebagian para nabi dapat mengetahui isi hati orang yang berada di hadapannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah mengabarkan pada seorang laki-laki tentang isi hati laki-laki tersebut dan hal ini juga terjadi pada beberapa Nabi lainnya. Pengetahuan terhadap isi hati seseorang termasuk perkara gaib yang Allah tampakkan pada hamba-Nya yang Ia kehendaki. Allah menampakkan pada malaikat tentang hal gaib ini sebagaimana firman Allah,

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداً إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ

“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, Kecuali kepada utusan yang diridhai-Nya.” (QS. Al Jin: 26,27)

Utusan di sini termasuk utusan berupa malaikat ataupun utusan berupa manusia (Nabi dan Rasul –pent). Beliau bersabda, [Barang siapa yang berkeinginan untuk berbuat kebaikan kemudian dia tidak melakukannya, Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna]. Karena keinginan termasuk bagian dari kehendak dan kehendak yang baik merupakan amal ketaatan. Maka dengan rahmat, karunia dan kemurahan-Nya, Ia mencatat kehendak tersebut sebagai kebaikan.

Kemudian beliau berkata, [Jika ia berkeinginan melakukan kebaikan kemudian ia melakukannya, Allah mencatat untuknya 10-700 kali lipat kebaikan] yaitu bahwa jika seseorang berkeinginan untuk melakukan kebaikan kemudian mengamalkannya maka paling sedikit, akan dicatat baginya sepuluh kebaikan bahkan dapat mencapai 700 kali lipat sesuai kondisinya. Kaum muslimin berbeda-beda dalam balasan kebaikan. Di antara mereka ada yang dibalas dengan 10 kali lipat kebaikan jika dia beramal, ada yang dibalas dengan 700 kali lipat, ada yang dibalas 200 kebaikan dan lebih dari itu sampai 700 kali lipat bahkan sampai tak terhitung. Balasan ini akan berbeda-beda sesuai dengan perbedaan ilmu, perbedaan penghormatan pada Allah dan perbedaan rasa takut pada akhirat. Oleh karena itu, para sahabat –semoga Allah meridhainya- adalah umat yang paling besar pahalanya dan paling tinggi kedudukannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Demi Zat Yang jiwaku berada di tangannya, jika salah seorang kalian berinfak emas sebesar gunung Uhud hal itu tidak bisa menyamai 1 mud infak mereka (para sahabat –pent) bahkan tidak juga setengahnya.” Yaitu bahwa walaupun infak dan amalan para sahabat sedikit akan tetapi hal itu jauh lebih besar dibandingkan infak kalian atau orang-orang yang terakhir masuk Islam, maka bagaimana pula dengan orang yang setelah mereka jika para sahabat berinfak emas sebesar gunung Uhud? Hal ini akan berbeda-beda sesuai dengan perbedaan bagusnya Islam seseorang serta tingginya keyakinan.

Kemudian beliau bersabda, [Jika dia berkeinginan untuk melakukan kejelekan kemudian dia tidak mengamalkannya, Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna]. Yaitu, dia hendak berbuat kejelekan kemudian dia tidak jadi melakukannya. Dalam hal ini, ada perincian. Pertama, jika dia tidak jadi melakukan keburukan karena Allah jalla wa ‘ala, takut kepada Allah dan khawatir dengan azab-Nya, maka bagi orang akan ditulis ini satu kebaikan sebagaimana disebutkan dalam hadits ini. Dalam hadits (qudsi –pent) lain disebutkan bahwa Nabi ‘alaihi sholatu wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang tersebut meninggalkan keburukan karena Aku.” Jika dia meninggalkan keburukan yang ingin dilakukannya dan tidak mengamalkan keburukan tersebut karena Allah jalla wa ‘ala maka akan dicatat baginya satu kebaikan. Hal ini dikarenakan keikhlasannya telah mengubah kehendaknya. Dari niat yang buruk menjadi niat yang baik. Sedangkan niat dan keinginan untuk berbuat baik akan dicatat sebagai kebaikan.

Keadaan kedua, seseorang berkeinginan untuk melakukan keburukan namun dia tidak melakukannya karena tidak ada fasilitas yang mendukungnya sedangkan jiwanya tetap ingin untuk melakukan keburukan tersebut. Maka dalam kondisi seperti ini, walaupun dia tidak melakukan keburukan tersebut, tetap tidak dicatat satu kebaikan untuknya. Bahkan jika dia berbuat untuk melakukan sebab yang membawa pada maksiat, maka akan dicatat untuknya satu keburukan sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, “Jika dua orang muslim saling membunuh dengan pedangnya, maka pembunuh dan yang terbunuh berada di neraka. Para sahabat bertanya, wahai Rosululloh, demikian halnya bagi pembunuh, namun bagaimana dengan yang dibunuh? Beliau menjawab, sesungguhnya dia juga bertekad untuk membunuh saudaranya.”

Para ulama mengatakan bahwa jika memungkinkan bagi seseorang untuk melakukan maksiat namun kemudian ada sesuatu yang menghalanginya yang bukan merupakan kehendaknya, maka keinginannya untuk melakukan keburukan tersebut akan dibalas dengan keburukan. Hal ini disimpulkan berdasarkan hadits, “pembunuh dan yang terbunuh berada di neraka.”

Kemudian beliau bersabda, [Jika dia berkeinginan melakukannya, kemudian dia melakukannya maka Allah mencatat baginya satu kejelekan]. Hal ini adalah sebagian dari besarnya rahmat Allah pada hamba-hambaNya yang beriman. Jika mereka berbuat keburukan, maka balasannya tidak dilipatgandakan bahkan hanya ditulis sebagai satu keburukan. Akan tetapi jika mereka berbuat kebaikan, maka balasannya dilipatgandakan. Oleh karena itu orang yang celaka pada hari kiamat hanyalah orang yang benar-benar celaka. Orang yang keburukannya lebih berat dibandingkan kebaikannya hanyalah orang yang benar-benar hancur. Karena Allah melipatgandakan balasan perbuatan baik bahkan keinginan untuk berbuat buruk jika ditinggalkan akan berubah menjadi kebaikan. Sedangkan keburukan hanya dibalas dengan yang serupa. Akan tampak bahwa bertambahnya timbangan keburukan seseorang dibandingkan timbangan kebaikannya hanyalah terjadi pada orang-orang yang merugi dan dia telah melakukan banyak sekali keburukan dan sangat jauh dari kebaikan.

Kita bersyukur kepada Allah jalla wa ‘ala dan memuji-Nya atas kebaikan, keutamaan dan nikmat-Nya yang mulia yang diberikan pada kita. Dan atas nikmatnya yang Agung ini. Ya Allah, jangan Engkau hukum kami karena perbuatan orang yang bodoh di antara kami.

-muslim.or.id-

Read Full Post »

Older Posts »