Feeds:
Posts
Comments

Archive for April 10th, 2007

Masihkah Boleh Jama’ Qashar?

Pulang ke Jakarta,

Selasa, 10 Apr 07 12:01 WIB

Pak Ustadz,
Saya baru saja dipindah tugas dari Jakarta ke Pekanbaru. Sekarang saya tinggal di Pekanbaru sedangkan keluarga masih tinggal di Jakarta. Biasanya dalam satu bulan, 3 minggu saya tinggal di Pekanbaru dan 1 minggu pulang (tinggal) di Jakarta. Apakah ketika pulang ke Jakarta saya berhak untuk mendapatkan fasilitas shalat jama qoshor karena sekarang saya sudah tinggal (mukim) di Pekanbaru?
Mohon penjelasannya!
Moh. Rafi Akbar
mrafiakbar at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum waahmatullahi wabarakatuh,

Masalah yang anda tanyakan itu memang selalu jadi khilaf di kalangan ulama. Sumber khilafnya pada kriteria safat dan mukim. Sebagian ulama punya kriteria tertentu untuk batasan tempat mukim, yang belum tentu sama dengan pendapat ulama lain.
Sumber perbedaannya berada pada tidak adanya nash yang jelas dan tegas untuk menetapkan batas-batas kriteria yang dimaksud. Sehingga mereka pun berijtihad dengan apa yang bisa jadikan landasan.

Pendapat Pertama,

Ada yang mengatakan bahwa begitu anda pindah ke suatu kota yang bukan kota asal anda, maka tempat tinggal anda adalah kota yang sekarang anda tempati. Adapun kota asal anda sekarang justru menjadi bukan tempat mukim anda lagi.
Maka ketika anda ada di kota asal anda, anda termasuk musafir. Anda boleh shalat dengan jamak dan qashar.
Pendapat Kedua,

Ada lagi ulama yang mengatakan bahwa kota asal anda biar bagaimana pun ada negeri anda yang asli, sehingga tidak ada kebolehan bagi anda untuk menjamak qashar shalat di kota asli anda, meski sekarang anda sudah tidak menjadi penduduknya.
Karena ikatan batin antara anda dan kota kelahiran anda tidak akan hilang. Maka selamanya di kota itu anda tidak diperkenankan untuk menjama’ dan mengqashar shalat.

Pendapat Ketiga,

Pendapat ini mungkin lebih mudah untuk diikuti. Mereka menetapkan bahwa seseorang dianggap bermukim di mana saja di muka bumi ini, asalkan sudah menetap selama 4 hari berturut-turut, baik di kota kelahirannya sendiri atau di kota di mana pun di dunia ini.
Jadi ukurannya masa berlaku selama 4 hari dengan diam dan menetap, tidak ke mana-mana keluar dari kota itu. Dan selama belum ekspire, anda masih punya fasilitas untuk menjama’ dan mengqashar shalat. Begitu ekspired time-ya sudah lewat, maka anda wajib shalat tanpa jamak qashar.

Pendapat ini menggunakan pendekatan menetap 4 hari dengan mengacu kepada praktek Rasulullah SAW ketika menjama’ dan mengqashar shalat selama ritual haji. Beliau mengqashar sejak tanggal 9, 10, 11 dan 12 Dzulhijjah. Baik ketika di Arafah, Muzdalifah maupun Mina. Setelah itu beliau kembali shalat yang sempurna.

Demikianlah ragam beda pandangan di kalangan ulama, yang mana saja yang lebih anda terima, insya Allah bukan hal bid’ah yang mengada-ada, karena semua berangkat dari ijtihad para ulama yang punya kapabilitas dan otoritas di bidang ijtihad.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum waahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Advertisements

Read Full Post »

Benarkah Maulid Nabi

Bukan dari Madzhab Syafi’i?

Selasa, 10 Apr 07 12:13 WIB
Assalamu’alaikum, ,
Saya telah mengikuti pembahasan al-ustadz mengenai madzhab As Syafi’i, dan di situ tertera bahwa salah satu tradisi seperti Maulid Nabi bukan tuntutan dari madzhab As Syafi’i, nah muncul pertanyaan dalam hati saya, benarkah seperti itu?
Berikut sedikit kutipan yang saya ambil mengenai perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW,

Jazakallah

Ibnu Hajar al-Haitami berpendapat bahwa berdiri saat diba’ adalah bid’ah yang tidak ada tendensinya sama sekali dalam Islam, Hal ini dikerjakan oleh masyarakat umum tiada lain hanya mengagungkan kepada nabi sehingga meskipun bid’ah tapi bid’ah hasanah.
Berkata al-halabi dalam kitab sirah:
“telah dikabarkan bahwa dihadapan imam subki pada suatu kali berkumpul banyak ulama ulama pada zaman itu, kemudian salah seorang dari mereka membaca perkataan Sharsari dalam memuji nabi, pada ketika itu Imam subki dan sekalian ulama yang hadir BERDIRI serempak menghormati nabi”
(I’anantut Thalibin Juz III/hal 364)
Imam Taqiyudin Subki adalah seorang ulama besar dalam mazhab syafii juga pengarang kitab “Takmilah al-Majmu” sambungan dari kitab “Al-Majmu syarah Muhadzab” by Imam nawawi.
Mahabbatul Muslim
Mukhsin

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Apa yang anda kutip dari kitab I’anatut Talibin itu sesungguhnya tidak serta merta mewakili pendapat mazhab As-Syafi’i bahwa hal itu menjadi tuntunan dan tuntutan (kewajiban) untuk merayakan haflah (pesta) peringatan kelahiran nabi Muhammad SAW setiap tahun.

Perkata merayakan pesta maulid nabi disikapi dengan cara yang berbeda-beda oleh para ulama. Mulai dari yang membolehkannya, atau memakruhkannya, hingga yang menganjurkannya.

Semua kembali kepada konteks dan kepentingannya, yang sangat tergantung dari kondisi sosial politik di masa masing-masing ulama.
Sebagai sebuah mazhab besar, tidak ada pernyataan resmi dari mazhab As-Syafi’i bahwa perayaan haflah maulid nabi Muhammad SAW tiap tahun sebagai sebuah kewajiban yang harus dijalankan secara rutin.

Kita tidak akan menemukan di dalam kitab-kitab fiqih As-Syafi’iyah yang induk dan muktabar lafadz yang menyebutkan bahwa: peringatan maulid nabi hukumnya wajib atau sunnah serta harus selalu dirayakan setiap tahun oleh orang beriman.
Lafadz seperti itu juga tidak kita temukan di dalam Al-Majmu’ Syarah Al-Muhazzab atau pun kitab ‘terusannya’. Bahwa Imam As-Subki dan ulama lainnya berdiri pada saat itu, tidak lantas bisa dijadikan pendapat resmi mahab As-Syafi’i bahwa maulid itu wajib dikerjakan.

Paling tidak, kita bisa menyimpulkan bahwa sebagian dari ulama yang bermazhab As-Syafi’i telah melakukan penghormatan kepada nabi Muhammad SAW dengan cara berdiri saat syair tentang beliau dibacakan. Dan bahwa sebagian dari mereka tidak mengharamkan perayaan maulid nabi dengan bentuk demikian.

Wallahu a’lam bishshawab, Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

Menggerakkan Jari

Saat Tahiyat, Mana yang Sunnah?

Selasa, 10 Apr 07 11:35 WIB

Assalamu’alaikum wr. Wb.
Ustadz yang dirahmati Allah swt, saya ingin menanyakan hal yang sederhana tetapi mengusik juga karena berkaitan dengan ibadah yang paling penting bagi seorang muslim, yaitu shalat.
Saya ingin menanyakan soal menggerakkan jari telunjuk saat tahiyat dalam shalat. Dalil-dalilnya apa saja? Digerakkan saat membaca syahadat saja atau dari awal sampai akhir? Dan bagaimana cara menggerakkannya, dinaik-turunkan atau diputar?
Selama ini saya hanya menaikkan telunjuk sejenak saat membaca syahadat. Kemudian saya menonton vcd shalat nabi, dan melihat bahwa harus menggerakkan telunjuk. Saya coba membaca buku Sifat Shalat Nabi, tetapi tidak ada penjelasan yang rinci soal kapan dan bagaimana menggerakkan telunjuk ini.
Atas jawaban dari ustadz saya ucapkan terima kasih. Semoga saya bisa menyempurnakan shalat saya.
Wassalamu;alaikum wr. Wb.
Mujahidah

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Masalah menggerakkan jari telunjuk saat tahiyat di dalam shalat adalah masalah khilafiyah yang termasuk paling klasik. Kami katakan klasik, karena sejak zaman dahulu, para ulama sudah berbeda pendapat. Perbedaan pendapat di antara mereka tidak kunjung selesai sampai ribuan tahun lamanya, bahkan sampai hari ini.

Masalahnya bukan karena para ulama itu hobi berbeda pendapat, juga bukan karena yang satu lebih shahih dan yang lain kurang shahih. Juga bukan karena yang satu lebih mendekat kepada sunnah dan yang lain kurang dekat. Masalahnya sangat jauh dan tidak ada kaitannya dengan semua itu.

Titik masalahnya hanya kembali kepada cara memahami naskah hadits, di mana ada dalil yang shahih yang disepakati bersama tentang keshahihannya, namun dipahami dengan cara yang berbeda oleh masing-masing ulama.

Sayangnya, teks hadits itu sendiri memang sangat dimungkinkan untuk dipahami dengan cara yang berbeda-beda. Alias tidak secara spesifik menyebutkannya dengan detail dan rinci.

Yang disebutkan hanyalah bahwa Rasulullah SAW menggerakkan jarinya, tetapi apakah dengan teknis terus-terusan dari awal tahiyat hingga selesai, ataukah hanya pada saat mengucapkan ‘illallah’ saja, tidak ada dalil yang secara tegas menyebutkan hal-hal itu.

Dalil-dalil tentang Menggerakkan Jari
عن وائل بن حجر أنه قال في صفة صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم:(ثم قبض ثنتين من أصابعه وحلق حلقة ثم رفع إصبعه فرأيته يحركها يدعو بها) رواه أحمد والنسائي وأبو داود وغيرهم وهو حديث صحيح.
Dari Wail bin Hujr berkata tentang sifat shalat Rasulullah SAW, “Kemudian beliau mengengga dua jarinya dan membentuk lingkaran, kemudian mengangkat tangannya. Aku melihat beliau menggerakkan jarinya itu dan berdoa”. (HR Ahmad, An-Nasai, Abu Daud dan lainnya dengan sanad yang shahih)
وعن عبد الله بن عمر رضي الله عنه قال:(كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا جلس في الصلاة وضع يديه على ركبتيه ورفع إصبعه اليمين التي تلي الإبهام فدعا بها ) رواه مسلم.

Dari Abdullah bin Umar ra berkata, “Rasulullah SAW bila duduk dalam shalat meletakkan kedua tangannya pada lututnya, mengangkat jari kanannya (telunjuk) dan berdoa”. (HR Muslim)

Dengan adanya kedua dalil ini, para ulama sepakat bahwa menggerakkan jari di dalam shalat saat tasyahhud adalah sunnah. Para ulama yang mengatakan hal itu antara lain adalah Al-Imam Malik, Al-Imam Ahmad bin Hanbal serta satu pendapat di dalam mazhab Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahumullah.

Tinggal yang jadi titik perbedaan adalah cara mengambil pengertian dari kata ‘menggerakkan’.
• Sebagian ulama seperti kalangan mazhab As-Syafi’i mengatakan bahwa yang dimaksud dengan menggerakan hanyalah sekali saja, yaitu pada kata ‘illallah’. Setelah gerakan sekali itu, jari itu tetap dijulurkan dan tidak dilipat lagi. Demikian sampai usai shalat.
• Sebagian lainnya malah sebaliknya. Seperti kalangan mazhab Al-Hanafiyah yang mengatakan bahwa gerakan menjulurkan jari itudilakukan saat mengucapkan kalimat nafi (Laa illaha), begitu masuk ke kalimat isbat (illallaah) maka jari itu dilipat kembali. Jadi menjulurkan jari adalah isyarat dari nafi dan melipatnya kembali adalah isyarat kalimat itsbat.
• Sebagian lainnya mengerakkan jarinya hanya pada setiap menyebut lafadz Allah di dalam tasyahhud. Seperti yang menjadi pendapat kalangan mazhab Al-Imam Ahmad bin Hanbal.
• Dan sebagian lainnya mengatakan bahwa tidak ada ketentuannya, sehingga dilakukan gerakan jari itu sepanjang membaca tasyahhud. Yang terakhir itu juga merupakan pendapat Syeikh Al-Albani. (Lihat kitab Sifat Shalat Nabi halaman 140). Sehingga beliau cenderung mengambil pendapat bahwa menggerakkan jari dilakukan sepanjang membaca lafadz tasyahhud.
Akan tetapi, sekali lagi kami katakan itu adalah ijtihad karena tidak adanya dalil yang secara tegas menyebutkan hal itu. Sehingga antara satu ulama dengan ulama lainnya sangat mungkin berbeda pandangan. Selama dalil yang sangat teknis tidak atau belum secara spesifik menegaskannya, maka pintu ijtihad lengkap dengan perbedaannya masih sangat terbuka luas.

Dan tidak ada orang yang berhak menyalahkan pendapat orang lain, selama masih di dalam wilayah ijtihad. Pendeknya, yang mana saja yang ingin kita ikuti dari ijtihad itu, semua boleh hukumnya. Dan semuanya sesuai dengan sunnah nabi Muhammad SAW.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

Saddam Husein Bertanya

“Apakah Kehidupan Kalian Lebih Baik Saat Ini?”

Selasa, 10 Apr 07 10:51 WIB

“Apakah kalian yakin bahwa kondisi kalian hari ini lebih baik dari empat tahun silam?” Seperti inilah pertanyaan imajinatif yang dituliskan kolumnis Ghasan Sharbel, di harian Al-Hayat yang terbit di London.
Ia mengandaikan, pertanyaan inilah yang akan disampaikan Saddam Husein dari kuburnya, sebagai mantan orang nomor satu Irak yang telah dijatuhi hukuman gantung beberapa waktu lalu.
Ghasan menuliskan artikel itu dalam rangka memperingati empat tahun pendudukan AS di Irak.

Dalam tulisan itu, ia menggambarkan bagaimana kondisi yang dilewati rakyat Irak saat ini di bawah penjajahan pasukan AS, dibandingkan dengan hari-hari saat Saddam berkuasa. Di zaman Saddam, pelanggaran HAM memang terjadi. Tapi ia membandingkan pelanggaran HAM mana yang paling memprihatinkan antara dua zaman tersebut.

Dalam artikelnya, Ghassan melontarkan pertanyaan-pertanyaan imajinatif Saddam Hussein pada rakyat Irak, “Apa pendapat kalian tentang jumlah kematian saat ketiadaan saya dalam waktu yang pendek ini, apakah jumlah kematian itu berlipat lipat ketimbang keberadaan saya saat memimpin dalam rentang waktu yang lama? Apakah kalian yakin bahwa sayap intelejen Ba’th itu lebih kasar membunuh orang-orang ketimbang sayap “kematian” yang kini leluasa melakukan pembunuhan? Jika pemerintahan saya adalah masalah, mengapa saat ini orang-orang meninggal justeru bertambah tanpa kehadiran saya? Kenapa kalian sekarang lari ke negara-negara tetangga dan mencari perlindungan di negara yang amat jauh, sebanyak 2, 5 juta dari kalian kini mengungsi. ”

Dalam kalimat penutup, Ghassan menuliskan pernyataan imajinatif Saddam Husein. “Saya dahulu memang berlaku zalim di Irak. Tapi Irak tetap eksis pada waktu itu. Dan hari ini, kezaliman berlipat-lipat, lalu Irak hari ini sudah tidak ada. ”
Ghassan, dalam tulisannya juga mengatakan bahwa George W. Bush sudah menyebabkan kerugian luar biasa dari Irak.
Selain Ghassan, seorang kolumnis Arab lainnya bernama Abdul Bari, menuliskan di harian Al-Quds mengatakan, “Sebelum empat tahun lalu, dan setelah kehadiran pasukan AS di Baghdad, Presiden Bush mengumumkan dengan bangga bahwa peperangan telah selesai dan keamanan, stabilitas, kesejahteraan di Irak telah dimulai. ” Namun semua tahu bahwa pernyatan Bush hanyalah isapan jempol dan ke balikan dari kenyataan yang ada.

“Pada saat yang sama, Presiden Irak Saddam Husein ketika itu justru menegaskan bahwa peperangan melawan penjajan sebenarnya baru dimulai. Selanjutnya Saddam menghilang dari pantauan dan memimpin perlawanan, berupaya melakukan konsolidasi barisan sukarelawan perang dengan caranya hingga menghasilkan sesuatu yang tidak diduga oleh Bush dan Tony Blair, ” tulis Abdul Hadi.
Ia melanjutkan, “Kita memang mengakui prestasi perlawanan. Kita juga mengakui kekalahan proyek Amerika di Irak. Perlawanan Irak telah mencatat kemenangan yang banyak di sini. Namun warga Irak kini terjerembab dalam konflik antar etnik yang memang dimunculkan oleh penjajah AS hingga menewaskan ratusan ribu orang tak berdosa dan Irak kini berubah menjadi “kuburan massal.” (na-str/iol) -eramuslim.com-

Read Full Post »

Ucapan ‘amin’

dari Mana Asalnya?
Senin, 9 Apr 07 15:48 WIB

Assalamu’alaikumwrwb.
Usztad, ana mau bertanya….di mana datangnya kata “Amien” setelah kita membaca Al-fatiha shalat bersama?
Ana coba mencari di al-quran tidak ketemu… Ana sering mendengar orang-orang Nasrani yang menyebut kata Amien itu..
Sedangkan sebuah hadist mengatakan bahwa umat Islam tidak boleh meniru niru umat nasranai atau Yahudi… Bukankah demikian?
Setahu ana orang-orang Syiah tidak menyebut kata Amien setelah membaca al-fatiah….. Rasanya orang-orang Syiah yang benar….. Menjalankan Shalat.sedangakn kita ini batal…
Aba takut, shalat ana tidak diterima oleh ALLAH dan takut berdosa, cape cape shalat saja 5 kali sehari… Akirnya. Ana tidak mebaca lagi.
Bagaimana menurut Usztad?
Salam Fali.
Ali

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kata ‘amin’ yang anda tanyakan itu sumbernya bukan dari siapa-siapa, tetapi berasal dari malaikat Jibril alaihissalam. Dan keterangannya ada di dalam hadits nabi SAW. Tentunya sumbernya dari Allah SWT juga.
لَقَّنَنِي جبريل آمين عند فَراغي من فاتحة الكتاب وقال: إنه كالخاتم على الكتاب
Rasulullah SAW bersabda, “Malaikat Jibril mentalqinkan (membacakan) kepadaku kata’ amin’, saat aku diam setelah membaca surat Al-Fatihah, seraya berkata, “Itu seperti penutup dari suatu surat.”

Di sisi lain, mengucapkan amin di dalam shalat dijanjikan akan diampuni dosanya, berdasarkan hadits shahih berikut ini.
“إذا أمَّنَ الإمام فأمِّنوا، فإنه مَن وَافَق تأمِينه تأمِين الملائكة غُفِر له ما تَقَدَّم من ذَنْبه” رواه البخاري ومسلم
Apabila Imam mengucapkan amin, maka ucapkanlah amin. Sesungguhnya siapa yang sama amin-nya dengan amin malaikat, maka dosanya yang telah lalu diampuni. (HR Bukhari dan Muslim)

Nabi Muhammad SAW sebagai rasul dan sumber syariah Islam, telah mendapatkan banyak jenis wahyu. Sebagian dari wahyu itu berbentuk ayat Al-Quran, namun jumlahnya sangat terbatas. Hanya sekitar 6000-an ayat saja. Tentu sangat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar pengambilan huku syariah.

Karena itu Allah SWT telah menetapkan bahwa apa yang diucapkan, dikerjakan bahkan yang disikapi dengan diam (taqrir) oleh nabi Muhammad SAW, juga berlaku sebagai sumber syariah Islam. Itulah yang kita sebut dengan istilah hadits atau sunnah nabi. Baik Al-Quran maupun hadits nabi, keduanya adalah wahyu. Sebab semua bersumber dari satu titik yang sama, yaitu dari Allah SWT. Meski masing-masing punya perbedaan yang esensial.

Di dalam Al-Quran, Allah perintahkan kita untuk mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.(QS. Al-Hasyr: 7)

Bahkan mengikuti petunjuk Rasulullah SAW adalah merupakan bentuk implementasi dari kecintaan kita kepada Allah SWT. Allah berfirman:
Katakanlah, “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. Ali Imran: 31)

Mengapa demikian?

Karena Rasulullah SAW telah dijadikan utusan resmi oleh Allah SWT, bahkan apa yang keluar dari mulutnya tidak lain bersumber dari wahyu Allah semata. Sebagaimana firman-Nya:
dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan. (QS. An-Najm: 3-4)

Maka bisa kita simpulkan bahwa mengucapkan kata ‘amin’ bukanlah mengikuti orang nasrani atau yahudi, tetapi bersumber dari agama Islam sendiri. Kalau pun ada kesamaan, yang penting Rasulullah SAW telah menetapkannya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

Ereksi

Saat Shalat

Selasa, 10 Apr 07 09:29 WIB

Assalamualikum Wr. Wb.
Ustad, saya mo tanya beberapa hukum dalam solat.
1. Bagaimana hukumnya menahan kentut dalam solat
2. Bagaimana hukumnya bila terjadi ereksi pada saat solat
Atas jawaban ustd saya sampaikan terima kasih
Wasalam alikum Wr. Wb
Deem

Jawaban
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Menahan kentut hukumnya makruh, karena secara kesehatan kurang baik. Pak dokter tentu lebih mengerti bagaimana resiko dari menahan kentut dari sisi kesehatan biologis.
Namun kalau kita lihat secara hukum fiqih yang bersifat hitam dan putih, maka kita tetap pada ketentuan bahwa selama kentut belum terjadi, maka wudhu’ tidak batal. Meski dengan cara menahannya.
Hal yang sama juga berlaku untuk kasus menahan kencing atau buang air besar, atau kasus-kasus menahan lainnya. Shalat dan wudhu’nya tidak batal, namun sebisa mungkin harus dihindari.

Jadi sebaiknya, sebelum wudhu dan shalat dilaksanakan, tunaikan dahulu semua hajat biologis, agar konsentrasi dalam shalat tidak terganggu. Dan shalat dalam keadaan menahan kebutuhan biologis semacam itu, meski tidak membatalkan, namun hukumnya makruh.
Ereksi Saat Shalat

Ereksi yang dialami oleh seseorang di saat sedang melakukanshalat tidaklah membatalkan secara hukum fiqih. Sebab di dalam daftar hal-hal yang membatalkan shalat, sama sekali tidak disinggung tentang kasus ereksi.
Walhasil, selama suatu hal tidak termasuk ke dalam kriteria yang membatalkan, apabila terjadi, maka tidak akan membatalkan. Dan itulah gunakan ilmu fiqih, yang sifatnya memberikan batasan hukum.
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

Peran Media Komunikasi Modern (TV)

sebagai Sarana untuk Menghancurkan

Al-Ikhwan – Van Doorn & Lammers menyatakan komunikasi adalah merupakan sebagai sebuah tindakan, ia menganalisis komunikasi dari dua sisi yaitu sisi individu dan sisi sosial. Dari sisi individu ia membagi komunikasi menjadi yang bertipe obyektif (dari luar) yang melahirkan kegiatan dan cara tindak dan subyektif (dari dalam) yg melahirkan proses-proses psikis dan sikap. Sedangkan dari sisi sosial ia membagi komunikasi obyektif yang melahirkan interaksi dan relasi sosial, serta subyektif yang melahirkan komunikasi dan hubungan sosial.

1. Pengertian Komunikasi
Van Doorn & Lammers menyatakan komunikasi adalah merupakan sebagai sebuah tindakan, ia menganalisis komunikasi dari dua sisi yaitu sisi individu dan sisi sosial. Dari sisi individu ia membagi komunikasi menjadi yang bertipe obyektif (dari luar) yang melahirkan kegiatan dan cara tindak dan subyektif (dari dalam) yang melahirkan proses-proses psikis dan sikap. Sedangkan dari sisi sosial ia membagi komunikasi obyektif yang melahirkan interaksi dan relasi sosial, serta subyektif yang melahirkan komunikasi dan hubungan sosial.
Koncaid & Schramn menyatakan komunikasi sebagai sebuah proses, artinya komunikasi merupakan proses berbagi/menggunakan sebuah informasi secara bersama dan pertalian antara para peserta dalam proses informasi tersebut dinamakan komunikasi. Ciri adanya proses komunikasi menurutnya adalah : Harus ada 2 pihak atau lebih, dan ada proses berbagi informasi, sehingga harus selektif dalam memilih alat komunikasi dan memilih pola yang sesuai untuk menggambarkan pikiran. Lebih jauh ia menyatakan bahwa langkah-langkah dalam sebuah proses komunikasi adalah menciptakan informasi, menyampaikan informasi tersebut, memperdalam perhatian, menafsirkannya, memahaminya lalu melaksanakan, serta timbulnya pengertian bersama.
Adapun Berlo menyatakan komunikasi sebagai cara mempengaruhi orang lain. Komunikasi bermaksud mempengaruhi org lain, dimana unsur komunikasi menurutnya adalah adanya Source (sumber), Message (pesan), Channel (saluran), Receiver (penerima), dan Effect (akibat). Lebih jauh ia memberikan ilustrasi bahwa seorang dokter yg mendiagnosa pasien, maka ia bertindak sbg sebuah source, pasien sbg receiver, message-nya adalah masalah kesehatan, channel-nya adalah udara (karena merupakan pola komunikasi primer), dan effect-nya adalah perubahan sikap dari sang pasien tsb.

2. Tipe Komunikasi dan Jaringan Komunikasi
Dalam ilmu komunikasi, tipe komunikasi menurut Edward Sapir dibagi menjadi tipe komunikasi primer dan sekunder. Tipe komunikasi primer bersifat langsung, face to face baik dengan menggunakan bahasa, gerakan yg diartikan secara khusus ataupun aba2. Tipe komunikasi ini bisa berbentuk pertemuan (inter-personal), kelompok (kuliah) maupun massa (tabligh akbar). Betapapun besarnya, pengaruh komunikasi jenis ini tidak dapat melalui sebuah wilayah geografis yg sangat sempit dan terbatas. Sementara tipe komunikasi sekunder adalah komunikasi yg menggunakan alat, media seperti menggunakan surat (inter personal), menonton pagelaran nasyid (kelompok), maupun media koran atau TV (massa), yg berfungsi untuk melipatgandakan penerima, sehingga dpt mengatasi hambatan geografis dan waktu.
Jaringan komunikasi terdiri dari jaringan komunikasi tradisional (Lama), dan jaringan komunikasi modern (Baru) Pola komunikasi lama/tradisional, cirinya adalah berlangsung secara tatap-muka sehingga terjelma hubungan interpersonal yg mendlm, hubungan dg status yg berbeda (patron-client), serta pemberi pesan dinilai oleh penerima berdasarkan identitasnya (siapa bicara, bukan apa isinya). Sementara jaringan komunikasi modern, cirinya adalah adanya inovator (penggagas, pencipta media), dan melalui media massa.

3. Media Komunikasi Modern (TV) sebagai Alat untuk Menghancurkan Sebuah Generasi.
Pakar komunikasi Rogers & Shoemaker menyatakan bahwa komunikasi adalah proses pesan yg disampaikan dari sumber kepada penerima. Komunikasi yg menyebar melalui media massa akan memiliki dampak vertikal (mengalami taraf internalisasi/penghayatan) apalagi jk para tokoh (opinion-leaders) ikut menebarkannya. Sementara pakar komunikasi lain, Lazarfield menyatakan bahwa jalannya pesan melalui media massa akan sangat mempengaruhi masyarakat penerimanya.
Peran merusak dari media komunikasi modern, khususnya TV terhadap sebuah generasi menurut penulis dapat dilihat dari dua aspek sbb :
Aspek kehadirannya :
Terjadinya perubahan penjadwalan kegiatan sehari2 dalam keluarga muslim dan muslimah. Sebagai contoh adalah, waktu selepas maghrib yang biasanya digunakan anak2 muslim/ah untuk mengaji dan belajar agama berubah dengan menonton acara2 yang kebanyakan tidak bermanfaat atau bahkan merusak. Sementara bagi para remaja dan orangtua, selepas bekerja atau sekolah dibandingkan datang ke pengajian dan majlis2 taklim atau membaca buku, kebanyakan lebih senang menghabiskan waktunya dengan menonton TV. Sebenarnya TV dapat menjadi sarana dakwah yang luarbiasa, sesuai dengan teori komunikasi yang menyatakan bahwa media audio-visual memiliki pengaruh yang tertinggi dalam membentuk kepribadian seseorang maupun masyarakat, asal dikemas dan dirancang agar sesuai dengan nilai2 yg Islami.

Aspek Isinya :
Berbicara mengenai isi yang ditampilkan oleh media massa diantaranya adalah mengenai penokohan/orang2 yang diidolakan. Media massa yang ada tidak berusaha untuk ikut mendidik bangsa dan masyarakat dengan menokohkan para ulama ataupun ilmuwan serta orang2 yang dapat mendorong bagi terbangunnya bangsa agar dapat mencapai kemajuan (baik IMTAK maupun IPTEK) sebagaimana yang digembar-gemborkan, sebaliknya justru tokoh yang terus-menerus diekspos dan ditampilkan adalah para selebriti yang menjalankan gaya hidup borjuis, menghambur2kan uang (tabdzir) jauh dari memiliki IPTEK apalagi dari nilai2 agama. Hal ini jelas demikian besar dampaknya kepada generasi muda dalam memilih dan menentukan gaya hidup serta cita2nya dan tentunya pada kualitas bangsa dan negara. Produk lain dari GF yang menonjol dalam media TV misalnya, adalah porsi film2 yang Islami yang hampir2 boleh dikatakan tidak ada, 90% film yang diputar adalah bergaya hidup Barat, sisanya adalah film nasional (yang juga meniru Barat), lalu diikuti film2 Mandarin dan film2 India. Hal ini bukan karena tidak adanya film2 yg islami atau kurangnya minat pemirsa thd film2 islami, karena penayangan film the message misalnya menimbulkan animo yg luar-biasa dikalangan masyarakat atau film seperti Children of Heaven mampu mendapatkan award untuk film anak budaya terbaik dunia. Tetapi masalahnya memang lebih karena tidak adanya political-will dikalangan pengelola stasiun TV yg ada.

4. Penutup
Terakhir, perlu diketahui bahwa penjajahan melalui media komunikasi adalah jauh lebih jahat dan berbahaya dari penjajahan fisik. Dari sisi biaya, peperangan fisik membutuhkan biaya yg sangat mahal, sementara peperangan media hanya membutuhkan biaya yg murah dan bahkan dapat dikembalikan (melalui iklan). Dari sisi persenjataan yg digunakan, peperangan fisik menggunakan berbagai senjata canggih yg mahal dan berat, sedangkan peperangan media cukup menggunakan film2, diskusi topik dan iklan. Dari sisi jangkauan, peperangan fisik hanya dibatasi di front2 pertempuran saja, sementara penjajahan media bisa sampai ke setiap rumah
jauh di pelosok2 dan di pedalaman. Terakhir dari sisi obyek, dlm peperangan fisik obyek merasakan dan mengadakan perlawanan, sementara melalui peperangan media obyek sama sekali tidak merasa dan bahkan menjadikan penjajahnya sebagai idola. Maka menghadapinya, hanya sebagian kecil orang yg dirahmati ALLAH SWT sajalah yg mampu bersikap mawas, lalu berdisiplin melakukan filterisasi serta terus berjuang membebaskan masyarakat dari makar yg luar-biasa hebatnya ini,

Maha Benar ALLAH SWT yg telah berfirman :

DAN SUNGGUH MEREKA ITU TELAH MEMBUAT MAKAR YG AMAT BESAR, DAN DISISI ALLAH-LAH (BALASAN) MAKAR MEREKA ITU. DAN SESUNGGUHNYA MAKAR MEREKA ITU HAMPIR-HAMPIR DAPAT MELENYAPKAN GUNUNG-GUNUNGPUN (KARENA BESARNYA).
(Ibrahim, 14:46).

Maka ambillah pelajaran wahai orang2 yg berakal…

Read Full Post »

Older Posts »