Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Tanya Jawab’ Category

Pelaut dan Musafir

Kehidupan Seks ..

Selasa, 7 Agu 07 16:40 WIB

Assalaamu’alaikum wr wb

Ust. Sarwat yang saya hormati, semoga ustadz sekeluarga dilimpahi keberkahan dari Allah SWT. Dan semoga senantiasa diberi kesehatan agar tetap dapat mengasuh rubrik yang sangat bermanfaat ini.

Pertanyaan saya:

1. Bagaimana kehidupan seks para pelaut atau musafir yang mereka sampai berbulan-bulan meninggalkan isteri? Akankah onani menjadi halal bagi mereka? Karena banyak orang-orang yang bekerja di luar daerah bahkan hingga ke luar negri dalam waktu yang lama.

2. Bagaimana pula dengan para sahabat yang sering mendapat tugas berdakwah atau berperang dalam waktu yang lama?

Terima kasih atas jawabannya. Jazakallahu khoiron buat eramuslim. Com yang telah menayangkannya. Akhirul kalam,

Wassalaamu’alaikum wr wb

Ari

Ari

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Barangkali kalau hanya sekedar bekerja di luar negeri namun menetap di suatu tempat, masih ada beberapa alternatif solusi. Tetapi yang agak sulit keadaannya adalah para pelaut seperti yang anda sebutkan sebagai contoh.

Pelaut memang bekerja di tengah laut dan terus berpindah dari satu negara ke negara lain. Kondisinya nyaris tidak memungkinkan untuk mengajak isteri dalam perjalanannya, juga tidak mungkin untuk berpoligami di negara lain.

Sebab negara yang disinggahinya sangat banyak, tidak mungkin seorang pelaut menikah di semua negara yang disinggahinya. Adapun bila menggunakan kesempatan pulang liburan, waktunya memang pasti terlalu lama. Tidak mungkin bisa memenuhi kebutuhan seksual yang barangkali dibutuhkannya suatu waktu.

Berbeda dengan mahasiswa atau pekerja yang menetap di suatu kota. Masih dimungkinkan bagi mereka untuk menikah secara resmi dengan wanita setempat, atau mengajak isteri tinggal di luar negeri.

Hukum Onani

Umumnya para ulama sepakat untuk mengharamkannya, dengan berbagai dalil yang mereka kemukakan. Salah satunya adalah ayat Quran berikut ini:

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Mukminum: 5-7)

Ayat ini menyiratkan sebuah kesimpulan, bahwa haram hukumnya mendapatkan kenikmatan seksual kecuali dari isteri atau wanita yang dihalalkan Allah, yaitu para budak yang dimiliki. Sedangkan bila kenikmatan itu didapat di luar dari kedua orang di atas, maka hukumnya dilarang.

Namun Al-Imam Ahmad memberikan pengecualian berdasarkan fatwa dari Ibnu Abbas radhiyallahu a’nhu. Ibnu Abbas ra pernah ditanya oleh seorang pemuda tentang hukum beristimna’ (onani), maka beliau menjawab:

نكاح الأمة خير منه‏،‏ وهو خير من الزِّنا

Menikahi budak wanita lebih baik dari perbuatan itu (onani), tetapi (onani) lebih baik dari zina.

Di lain waktu beliau didatangi oleh seorang pemuda yang belum menikah. Pemuda itu menyatakan bahwa suatu saat dirinya dilanda nafsu seksual yang sangat hebat. Sampai akhirnya dia menggesek-gesekkan kemaluannya hingga terjadi inzal (ejakulasi). Ibnu Abbas kemudian berkomentar, “Hal itu lebih baik dari zina.”

Ada sebuah hadits yang secara terang-terangan menyebutkan tentang haramnya istimna’. yaitu

ناكح اليد ملعون

Menikahi tangan (onani) adalah perbuatan terlaknat

Namun ternyata hadits ini dihukumi oleh sebagian ulama sebagai hadits yang tidak ada dasarnya (laa ashla lahu).

Syeikh Said Ramadhan Al-Buthi, ulama besar Syria dan guru besar syariah, ketika ditanya tentang kasus onani ‘terpaksa’ mengatakan bahwa kira-kira jalan tengah dari perbedaan dua pendapat ini bahwa bila seorang nyaris tidak bisa terhindar dari zina dan hanya ada satu-satunya jalan untuk menghindarinya adalah dengan onani, maka onani itu lebih baik baginya dari pada berzina. Artinya, onani dibolehkan bagi dirinya karena darurat.

Barangakali pendapat Syeikh Said Ramadhan Albuthi ini bisa dijadikan sebagai salah satu dasar fatwa untuk kasus pelaut yang berbulan-bulan tidak bertemu dengan isterinya.

Wallahu ‘alam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Advertisements

Read Full Post »

Islam Suni dan Islam Syi’ah

Perbedaan …

Selasa, 7 Agu 07 11:25 WIB

Assalamu’alakum ustadz…

Saya bingung melihat permusuhan antara kaum sunni dengan syi’ah. Sebenarnya apa perbedaan Islam sunni dengan Islam syi’ah? Apakah salah satu dari aliran tersebut sesat?

Apakah Islam di indonesia seperti salah satu aliran tersebut? Menurut ustadz manakah yang paling benar dari kedua aliran tersebut.

Atas jawabannya terima kasih banyak…

Wassalamualaikum..

Putra

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Barangkali ungkapan yang paling moderat dalam masalah konflik sunni syiah adalah masalah salah paham saja awalnya. Ada kelompok dari kalangan umat Islam yang punya pandangan politik yang berbeda pada awalnya. Dan perbedaan ini sesungguhnya masalah yang manusiawi sekali dan mustahil dihindarkan.

Namun masalahnya berkembang menjadi serius ketika perbedaan itu berkembang ke wilayah aqidah dan syariah. Lalu masing-masing pihak saling mengkafirkan dan menuduh saudaranya sesat bahkan murtad. Inilah yang sebenarnya dikhawatirkan sejak dahulu.

Memang benar bahwa ada sebagian dari akidah syiah yang sudah tidak bisa ditolelir lagi, bukan hanya oleh kalangan ahli sunnah, tetapi oleh sesama penganut syiah pun dianggap sudah sesat. Dan kita harus tegas dalam hal ini, kalau memang sesat kita katakan sesat.

Misalnya mereka yang tidak percaya kepada Al-Quran mushaf Utsmani, dan menggunakan mushaf yang konon susunan yang 100% berbeda. Kalau memang ada yang begitu, tentu kelompok ini sudah keluar dari agama Islam secara muttafaqun ‘alihi.

Atau misalnya ada yang mengkafirkan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, maka jelaslah sikap ini tidak pernah bisa dibenarkan. Apalagi kelompok sempalan syiah yang menyatakan malaikat Jibril salah menurunkan wahyu, seharusnya kepada Ali bin Abi Thalib dan bukan kepada Muhammad SAW. Astaghfirullahal-‘adzhim. Tentu sempalan yang sudah sampai keluar batas ini sudah tidak bisa ditolelir lagi secara aqidah.

Tetapi kita tetap tidak bisa menggenalisir bahwa semua lapisan umat Islam yang ada aroma syiahnya pasti sesat, kafir atau murtad. Rasanya sikap itu kurang bijaksana. Mengapa?

Sebab di berbagai belahan dunia Islam, katakanlah seperti di Iraq sana, ada banyak komunitas yang secara tradisional menjadi penganut syiah secara keturunan. Kakek moyang yang melahirkan keturunan itu bukan orang jahat yang beniat busuk kepada agama Islam. Mereka menjadi syiah karena keturunan dan tidak tahu menahu tentang urusan koflik syiah dan sunnah.

Lalu apakah kita akan memvonis mereka sebagai non muslim, hanya karena mereka tanpa sengaja lahir dari keluarga syiah? Rasanya tidak begitu sikap kita.

Yang barangkali perlu diwaspadai adalah orang-orang jahat betulan yang berusaha menghancurkan agama Islam dari dalam dan menjadi pemeluk syiah sesat. Mereka inilah yang menggulirkan ajaran sesat di dalam syiah sehingga akhirnya muncul ajaran yang aneh-aneh seperti di atas.

Oleh karena itu kita harus tegas tapi tidak boleh asal tebas. Ada kalangan syiah yang memang sesat dan tidak berhak lagi menyandang status muslim. Tetapi kita juga harus dewasa, bahwa ada kalangan yang dianggap berbau syiah atau kesyiah-syiahan, tetapi sesungguhnya masih bisa ditolelir kekeliruannya.

Mengapa kita perlu bijak dalam masalah ini?

Karena kita tahu bahwa musuh-musuh Islam bergembira ria melihat umat Islam di Irak berbunuh-bunuhan, hanya karena urusan syiah dan sunnah. Jangan sampai isu negatif perbedaan syiah sunnah terbawa-bawa ke negeri kita juga. Sudah terlalu banyak pe-er umat Islam, maka sebaiknya kita jangan memancing di air keruh. Jangan sampai kita memancing yang tidak dapat ikannya tapi airnya jadi keruh. Sudah tidak dapat ikan, kotor pula.

Karena itu dialog antara sesama tokoh dari kalangan syiah dan sunnah ada baiknya untuk dirintis. Tentu untuk sama-sama menuju kepada kerukunan, bukan untuk cari gara-gara. Rasanya masih banyak ruang persamaan di antara keduanya, ketimbang kisi-kisi perbedaannya.

Semoga Allah SWT memberikan kelapangan di dalam hati kita untuk menata hati ini menjadi hamba-hamba-Nya yang shalih dan melakukan ishlah. Amien

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

Hadish Terpecahnya Umat

Hanya Satu Masuk Surga

Rabu, 25 Jul 07 10:45 WIB

Assalamualaikum ustadz,

Kita sering dengar hadisbahwa di akhir zaman Islam akan menjadi 9 golongan, yang delapan masuk neraka yang satu masuk surga. Apakah hadish tersebut shoheh? Atau itu hadish politik?

Wassalam

Supri

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Yang kami ketahui hadits tentang perpecahan umat Islam itu bukan menjadi 9 golongan, melainkan menjadi 73 golongan. Terus terang kami belum tahu tentang perpecahan menjadi 9 golongan.

Sedangkan perpecahan yang menjadi 723 golongan cukup banyak, di antaranya adalah hadits berikut ini:

افترقت اليهود على إحدى ـ أو اثنتين ـ وسبعون فرقة، وتفرقت النصارى على إحدى ـ أو اثنتين ـ وسبعين فرقة، وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين فرقة

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Yahudi terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, nasrani terpecah menjadi 71 atau 72 golongan. Dan umatku terpecah menjadi 73 golongan. (HR Abu Daud, Tirmizi, Ibnu Majah, Ibu Hibban dan Al-Hakim)

Kedudukan Hadits Dari Segi Sanad

Al-Imam At-Tirmizi menyebutkan dalam kitabnya bahwa kedudukan hadit ini adalah hasan shahih. Julukan ini agaknya agak berbeda dengan umumnya para perawi hadits lainnya.

Menurut sebagian ulama, kalau Al-Imam At-Tirmizy mengatakan suatu hadits berkekuatan hasan shahih, maka ada dua kemungkinan.

Kemungkinan pertana, hadits itu punya 2 sanad. Sanad pertama hasan dan sanad kedua shahih. Kemungkinan kedua, hadits itu punya 1 sanad saja, oleh sebagian ulama dikatakan hasan dan oleh ulama lain disebut shahih.

Al-Hafidz Ibnu Hajar, ulama besar di bidang hadits yang telah menulis kitab penjelasan dari Shahih Bukhari mengatakan bawa hadits tentang 73 golongan ini berstatus hasan.

Sedangkan Al-Imam Ibu Taimiyah mengatakan bahwa kedudukan hadits ini shahih – karena banyaknya jalur periwayatannya.

Al-Imam Ibu Taimiyah bahkan mengatakannya shahih, karena banyaknya jalur periwayatannya.

Perbedaan Penilaian
Namun seperti biasanya di dalam dunia kritik hadits, ada banyak ulama dengan beragam versinya. Sebagian dari ulama itu menilai bahwa hadits ini bermasalah.

Ibnu Hazm mengatakan bahwa haditsi ini tidak shahih.

Di dalam kitab Tahzibul Kamal, Al-Hafidz Ibnu hajar menyebukan bahwa hadits ini punya masalah pada salah satu perawinya. Dia adalah Muhamad bin Amru bin Alqamah bin Waqqash Al-Laitsi. Orang ini dikatakan sebagai rajulun mutakallam alaihi min qibali hifdzhihi. Artinya adalah orang yang masih diperdebatkan dalam hafalannya. (Lihat: Tahzibul Kamal oleh Al-Mazi dan Tahzibut Tahzib oleh Ibnu Hajar)

Imam Muslim hanya menshahihkan Muhammad bin Amru apabila dengan kesertaaan perawi lainnya. Bukan kalau dia sendirian.

Hadits Kedua
Di samping hadits di atas, ada hadits lain lagi yang bisa kita bedah.

إن بني إسرائيل تفرقت على ثنتين وسبعين ملة وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين ملة ، كلهم في النار إلا ملة واحدة. قال: من هي يا رسول الله ؟ قال: ما أنا عليه وأصحابي

Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 millah (agama), sementara umatku berpecah menjadi 73 millah (agama). Semuanya di dalam neraka, kecuali satu millah.” Shahabat bertanya, “Millah apa itu?” Beliau menjawab, “Yang aku berada di atasnya dan juga para shahabatku.” (HR At-Tirimizi, Abu Daud, Ibnu Majah, Al-Baihaqi dan Al-Hakim)

Al-Hukmu ‘alal HaditsAl-Imam at-Tirmizi mengatakan bahwa status hukum hadits ini hasan. Sedangkan Al-Hakim mengatakan bahwa hadits ini dapat dijadikan hujjah.

Al-Imam Zainuddin Al-Iraqi (w. 809 H) dan Al-Imam Jalaluddin Assuyuthi mengatakan bahwa hadits kedua ini termasuk hadits mutawatir.

Al-‘Ajluni memasukkan hadits kedua ini dalam kitabnya, Kasyful Khafa’ wa Muilul Ilbas. Kitab ini merupakan kitab yang berisi hadits yang populer di tengah masyarakat.

Yang Tidak Shahih dan Dikritik Para Ulama

Namun tidak semua bagian hadits itu shahih, ada penggalan kalimat yang masih dipermasalahkan oleh para ulama. Potongan kalimat itu adalah:

“semuanya di neraka kecuali satu golongan, aku dan shahabatku.”

Ibnu Hazm dengan tegas mengatakan bahwa tambahan kalimat itu adalah hadits palsu, bukan bagian dari sabda Rasulullah SAW.

Hal senada dikatakan oleh Al-Imam Asy-Syaukani ketika mengutip pandangan Ibnu Katsir. Beliau mengatakan bahwa tambahan kalimat, “semuanya di neraka kecuali satu kelompok” telah didhaifkan oleh banyak ulama muhadditsin.

Ulama besar abad ini, Dr Yusuf Al-Qaradawi juga ikut berkomentar dengan ptongan hadits ini. Beliau mengatakan bahwa seandainya tambahan kalimat ini memang shahih, tidak ada ketetapan bahwa perpecahan itu harus terus menerus terjadi selama-lamanya.

Kesimpulan

Kalau pun ada benar dari umat Islam yang sesat karena menyempal dan masuk neraka, maka hadits itu pun juga tidak memastikan bahwa yang masuk neraka itu akan kekal selamanya di dalam neraka. Sebab hadits itu tetap menyebut mereka sebagai ‘ummatku’.

Hal itu berarti bahwa Rasulullah SAW tetap menganggap mereka bagian dari umatnya dan agamanya tetap Islam. Tidak divonis oleh hadits itu sebagai orang kafir yang kekal di dalam neraka.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

Zakat

untuk Pembangunan Masjid dan Pesantren

Senin, 30 Jul 07 09:24 WIB

Assalamu’alaikum,

Ustadz, saya ingin menanyakan beberapa hal:

1. Apakah sah zakat untuk pembangunan masjid dan pesantren? Saya baca di salah satu fiqih sehari-sehari kalau zakat tersebut tidak sah, apakah hal tersebut benar dan apaka zakat saya harus di ulang? Mohon penjelasannya.

2. Apakah zakat itu harus menunggu 1 tahun ataua setiap bulan (setelah gajian) dikeluarkannya.

3. Bagaimana cara mengitung zakat yang benar, seperti setiap bulan saya harus bayar cicilan rumah atau mobil. Apakah hal itu harus dihitung atau penghitungan zakat diluar itu?

Sekian pertanyaan dari saya, atas bantuannya saya ucapkan terimakasih.

Wassalam,

Tasnim
iim_itc@yahoo.co.id at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebenarnya kalau merujuk kepada sistem zakat di masa Rasulullah SAW, zakat-zakat itu tidak diserahkan langsung kepada mustahiq. Tetapi diserahkan kepada para petugas pemungut zakat. Kira-kira mirip dengan petugas pajak di masa sekarang ini.

Dengan demikian, tidak akan terjadi masalah yang anda tanyakan. Tidak akan muncul pertanyaan seperti bolehkah zakat diserahkan kepada si Anu dan si Anu? Atau untuk lembaga ini dan itu?

Karena hak untuk menyerahkan dana zakat ada di tangan para ‘amilin (petugas zakat). Dan tentunya para ‘amilin ini adalah orang yang ahli di bidang hukum zakat. Mereka bertugas memungut dan mendistribusikan zakat. Tentu ada aturan, acuan, SOP dan petunjuk pelaksanaannya.

Ashnaf Zakat

Kita sudah tahu bahwa para mustahiq zakat ada 8 kelompok (ashnaf), yaitu seperti yang ditetapkan Allah SWT dalam Al-Quran:

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.(QS. At-Taubah: 60)

Kalau kita lihat sekilas ayat ini, maka jelas sekali bahwa yang namanya masjid, musholla, pesantrendan sejenisnya, tidak termasuk ke dalam daftar penerima zakat. Apalagi mengingat ayat ini dimulai dengan lafadz innama, yang fungsinya lil hashr, atau untuk mengkhususkan. Jadi di luar dari yang disebutkan, tidak boleh menerima harta zakat.

Penafsiran

Lalu mengapa ada sebagian kalangan yang memasukkan masjid, pesantren dan sejenisnya sebagai penerima zakat?

Barangkali yang dilakukan adalah qiyas atau perluasan makna dari istilah fi sabilillah. Yaitu shinf (kelompok) ketujuh dari delapan penerima harta zakat yang disebutkan di ayat zakat.

Dan ini memang merupakan objek perdebatan panjang sepanjang sejarah di kalangan para ulama. Sebagian ulama cenderung menyempitkan pengertian fi sabilillah hanya pada tentara yang perang di medan perang. Sebab lafadz fi sabilillah di dalam Al-Quran selalu mengacu kepada medan jihad dan peperangan pisik.

Maka mereka menolakbila masjid, pesantren dan lembaga sejenis dikatakan sebagai perluasan makna fi sabilillah.

Namun sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa makna fi sabilillah sangat luas, tidak terbatas pada perang di medan pertempuran semata, melainkan juga pada segala yang berbau perjuangan membela agama Islam.

Maka mendirikan dan mengelola masjid pun dimasukkan ke dalam kriteria fi sabilillah. Demikian juga dengan mengelola pesantren dan seterusnya.

Jalan Tengah

Untuk mendekatkan perbedaan pendapat di atas, maka ada beberapa ulama yang membuat jalan tengah. Lantaran masing-masing pihakmasih mengandung kebenaran.

Salah satu usulan jalan tengah adalah dengan memiliah kriteria fi sabililah. Misalnya masjid yang didirikan di wilayah minoritas Islam, demikian juga dengan pesantren dan lembaga sejenis. Lembaga seperti itu mirip dengan pasukan tentara yang ada di medan perang, berhadapan langsung dengan lawan untuk mempertahankan agama Islam.

Keberadaan masjid dan pesantren di wilayah minoritas ini ibarat sepasukan tentara di mana mereka menjadi pioner dan agen keIslaman. Bedanya, kalau tentara menggunakan bedil dan mesiu, sedangkan masjid dan pesantren dengan dakwah dan pendidikan. Tetapi targetnya sama, mempertahankan agama Islam.

Menurut sebagian ulama yang mencetuskan jalan tengah ini, bila demikian kondisinya, masjid dan pesantren boleh dimasukkan ke dalam makna fi sabilillah.

Namun tidak semua masjid menyandang misi itu. Betapa banyak masjid yang didirikan di tengah kemegahan, kenyamanan dan boleh dibilang tidak punya tantangan langsung dengan lawan. Demikian juga pesantren dan lembaga sejenis, sudah cukup banyak yang mampu mandiri dan menarik bayaran dari siswanya.

Maka sebaiknya masjid dan pesantren seperti ini tidak diberikan harta dari sumber zakat. Tetapi tetap harus disumbang dari sumber-sumber selain zakat, seperti infaq, waqaf, shadaqah jariah, hibah, sahamdan seterusnya.

Zakat Gajian

Zakat gajian sebenarnya istilah lain dari zakatul mihan wal kasb. Kami sudah sering mengangkat masalah ini, silahkan anda cari dan telaah.

Tetapi intinya, zakat gajian ini idealnya dibayarkan setiap bulan, agar tidak berat bila dibayarkan setahun. Tetapi kalau mau membayar tiap tahun, tidak apa-apa.

Menghitung Zakat

Yang paling sederhana adalah anda angkat telepon ke salah satu lembaga amil zakat dan minta mereka datang menjemput zakat. Mereka akan dengan suka rela menghitungkan zakat anda, karena memang sudah kewajiban mereka sebagai amil zakat.

Dan memang adanya Lembaga Amil Zakat adalah untuk membantu para muzakki untuk membayar zakat sesuai dengan hitungan yang tepat.

Selamat membayar zakat, semoga rizki anda semakin berlimpah dan barakah, Amien.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »

Harta Warisan

Harus Segera Dibagikan

Selasa, 31 Jul 07 09:27 WIB

Assalamu’alaikum,

Pak Ustadz yang dirahmati Alloh, sekitar 1 bulan yang lalu ayah saya meninggal dunia, meninggalkan satu orang isteri dan 2 orang anak laki-laki. Yang mau saya tanyakan:

  1. Apakah harta warisan yang ditinggalkan ayah saya harus segera dibagikan dan apakah ada hadits yang menganjurkannya?, karena saya diberitahu oleh salah seorang ustadz bahwa harta yang ditinggalkan ayah saya harus segera dibagikan dan beliau menunjukkan salah satu kitab yang menganjurkan hal tersebut.
  2. Bagaimana cara pembagian warisan untuk kondisi seperti disebutkan di atas?

Jazakalloh,

Wassalam

Armi

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Membagi warisan memang harus segera dilakukan oleh para ahli waris. Sebab hak kepemilikan atas harta itu memang tidak lagi dimiliki oleh almarhum. Maka begitu almarhum wafat, harta harus ada pemiliknya. Dan pemiliknya adalah para ahli warisnya. Karena itu, pembagian warisan memang harus disegerakan.

Mungkin dalam kenyataannya ada komentar yang negatif dari sebagian masyarakat. Kuburan belum kering sudah meributkan bagi waris, demikian kira-kita komentar itu.Sehingga sebagian kita agak segan untuk segera membagi harta warisan milik orang tua mereka.

Padahal masalahnya bukan urusan kuburan sudah kering atau belum. Tetapi karena di dalam syariah Islam ada keharusan untuk menetapkan status hukum suatu harta. Tidak boleh ada harta yang tanpa tuan. Karena ada banyak kaitan hukum di belakangnya.

Sebagai contoh yang sederhana, kaitannya dengan masalah zakat. Kalau harta itu tidak segera dibagikan dan ditetapkan pemiliknya, maka siapa yang berkewajiban untuk membayar zakat? Apakah almarhum yang ada di kuburan? Ataukah anak tertua? Atau anak yang sudah menikah? Tentu ini menjadi kendala.

Juga ketika harus ada biaya perawatan atas harta, misalnya kendaraan dan sejenisnya. Maka siapa yang harus menanggungnya? Tentu ini akan kembali menjadi sumber konflik.

Sebenarnya dalam pembagian warisan, masalahnya sederhana saja. Asalkan semua ahli waris sejak kecil sudah dididik dengan pendidikan yang Islami dan dikenalkan ilmu pembagian warisan, maka insyaallah masalahnya mudah sekali. Sebab sejak masih kecil mereka sudah tahu berapa nilai prosentase hak waris yang bakal menjadi miliknya. Tidak perlu ada perbedaan pendapat dalam pembagian warisan.

Perbedaan pendapat dalam pembagian warisan terjadi umumnya karena anak-anak tidak dididik secara Islami. Kepada mereka tidak pernah dikenalkan ilmu faraidh (bagi waris). Mereka dibiarkan tumbuh dengan sistem jahiliyah yang jauh dari nilai Islam.

Bukti pertama kegagalan seorang ayah atas tanggung-jawabnya mendidikn anak secara Islami adalah ketika anak-anaknya ribut dan memperebutkan warisan. Keributan itu muncul tatkala mereka berbeda pandangan tentang metode apa yang akan dipakai dalam pembagian warisan itu. Yang satu maunya pakai hukum adat, yang satunya pakai hukum barat, lalu yang lain pakai perasaan dan begitu seterusnya.

Perbedaan ini muncul karena sejak dini mereka tidak pernah dikenalka pada hukum waris Islam. Padahal boleh jadi mereka orang yang berpendidikan dan tidak awan dengan matematika, ilmu hitung dan sejenisnya. Tetapi karena fikrahnya tidak pernah terbina dengan baik, ketika membag warisan, masuklah nilai-nilai asing ke dalam kehidupan mereka. Dan timbullah pertengkaran.

Pembagian Warisan

Pembagian warisan atas harta almarhum ayah anda sangat sederhana. Yang menjadi ahli waris ada tiga orang, yaitu ibu, anddan saudara anda:

1. Ibu anda sebagai isteri

Sebagai isteri almarhum, ibu anda berhak untuk mendapatkan bagian sebesar 1/8 dari total harta almarhum. Ini berarti beliau mendapat 12, 5%. Seandainya ayah anda meninggalkan harta senilai 8 milyar, maka ibu anda mendapat 1 milyar.

2. Anda sebagai anak laki-laki

Sisa harta yang telah dikurangi untuk ibu anda menjadi hak anda berdua dengan saudara anda. Besarnya adalah 7/8 bagian atau 87, 5% dari total harta yang dibagi waris.

Dan karena anda berdua laki-laki, maka besar bagian masing-masing sama. Harta yang 7 milyar itu tinggal dibagi 2 sama besar. Berarti anda mendapat 3, 5 milyar.

3. Saudara anda sebagai anak laki-laki

Dan saudara laki-laki anda mendapat bagian yang sama, yaitu 3, milyar

Demikian hitungan sederhananya, dan kalau ada harta bukan berbentuk uang dengan nominal, maka biasanya digunakan taksiran (apprise) untuk memudahkannya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

Apakah Termasuk

yang Mengurangi Timbangan?

Rabu, 1 Agu 07 14:44 WIB

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Pak Ustad yang saya hormati, begini pak, belakangan ini saya memulai usaha berdagang buah, yang menjadi kesulitan saya sekarang, pada saat melakukan transaksi penjualan biasanya banyak calon pembeli yang meminta buah untuk dicicipi dan pada saat sudah deal harga dan barang ditimbang merekapun minta untuk ditambahkan (kadang – kadangpun ada juga yang sampai memaksa).

Ada kawan saya menyarankan agar timbangan itu dikurangi saja 1 ons, jadi kalopun semisalnya ada pembeli yang seperti itu, pedagang tidak terlalu rugi.

Dan semisalnya pun ada pembeli yang tidak mencicipi atau minta tambah, kita sendiri nanti yang berinisiatif utk menambahkan agar timbangannya pas dengan sendirinya dan sesuai dengan yang diinginkan pembeli.

Yang jadi pertanyaan saya, bolehkan seperti itu pak Ustad.
karena kalo diperhitungkan orang mencicipi dan minta tambah juga, kalo diperhitungkan ruginya lumayan besar dan cukup menggangu modal kami yang terbilang masih kecil.

Demikian pertanyaannya, atas bantuannya saya haturkan terima kasih

Wassalam.

E Di Bekasi

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Seharusnya antara kedua belah pihak ada keterbukaan dalam masalah harga barang yang dijual dan barang yang didapat. Jatah untuk mencicipi biasanya memang sudah disiapkan sebagai bagian dari biaya marketing. Sehingga seharusnya sudah diperhitungkan sesuai dengan harga jual yang disepakati.

Demikian juga dengan urusan tambahan atau diskon yang diberikan, seharusnya sudah diperhitungkan termasuk dalam harga jual yang telah disepakati.

Sehingga tidak perlu ada urusan pengurangan jumlah timbangan. Kalau mau disesuaikan, maka sesuaikan saja harganya. Bukan dikurangi timbangannya. Mungkin disesuaikan harganya saja.

Dengan demikian, kita akan terhindar dari ancaman yang anda katakan itu, yaitu dosa atas mengurangi timbangan atau takaran. Dan Allah SWT memang telah menyebutkan tentang haramnya tipu daya dalam masalah jumlah timbangan dan takaran.

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.
(QS. Al-Muthaffifin: 1-3)

Maka sebaiknya metode mengurangi timbangan dihindari, karena rasanya bukan solusi yang baik. Sebab kita tidak pernah tahu apakah dengan cara itu kita sudah berbuat jujur atau tidak. Mungkin alasannya masuk akal, karena pembeli telah ‘merampas’ hak penjual, tetapi jalan keluarga tentu bukan cara ‘merampas’ lagi. Mengurangi timbangan termasuk mengambil hak dengan cara ‘merampas’.

Setidaknya, budaya saling tidak jujur sudah terjadi. Padahal budaya itu harus dihindari sejauh mungkin. Semoga Allah SWT memberkahi rizki yang diberikannya kepada kita, Amien.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

Menikah di Waktu yang Berdekatan

dengan Meninggalnya Orang Tua

Rabu, 1 Agu 07 15:00 WIB

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Pa Ustadz,

Saya mau bertanya mengenai tanggal dan hari pernikahan, apakah ada dasarnya dari Al-Qur’an atau Hadist yang menyatakan bahwa:

1. Ada hari baik/ tidak baik untuk melangsungkan pernikanan?

2. Tidak baik jika kita melangsungkan pernikahan pada bulan dan tanggal yang berdekatan dengan bulan dan tanggal meninggalnya orang tua kita? Orang tua meninggal 1, 5 tahun tang lalu.

Mohon pencerahannya sebagai tambahan ilmu bagi saya yang fakir.

Terima kasih sebelum dan sesudahnya

Semoga kebaikan Pa Ustadz mendapatkan pahala dari Alloh SWT.

Wassalam

Amet

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sepanjang yang kami ketahui, rasanya kami belum pernah menemukan dalil yang menetapkan tentang tanggal baik dan bulan baik untuk melaksanakan pernikahan. Demikian juga sebaliknya, kami belum pernah menemukan dalil yang melarang kita melaksanakan pernikahan pada hari tertentu atau bulan tertentu.

Kalau pun ada hari baik dan hari tidak baik, tidak datang dari dalil-dalil syar’i. Kemungkinan anjuran atau kepercayaan seperti itu datang dari budaya warisan nenek moyang kita yang tidak berangkat dari dalil-dalil agama.

Kepercayaan ini oleh sebagian ulama disebut dengan istilah thiyarah. Yaitu perasaan takut mendapatsial bila melakukan suatu even pada hari yang dipercaya sebagai hari sial. Dan sikap ini adalah sikap yang diharamkan olehRasulullah SAW ketika beliau bersabda:

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiqallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda; “Barangsiapa mengurungkan hajatnya karena thiyarah (merasa sial dengan sesuatu), berarti telah syirik”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah saw, apa kaffarat (pelebur dan penebusnya)?” Beliau bersabda: “Hendaklah salah seorang dan mereka berkata: “Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu, tidak ada kesialan, kecuali dan-Mu, tidak ada Tuhan selain din-Mu “, (HR Ahmad)

Rasulullah saw bersabda:

Thiyarah adalah syirik, Thiyarah adalah syirik, dan tiada seorangpun dan kita kecuali (merasakannya). hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya”. (HR Abu Daud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Maksud “Tiada seorangpun dan kita kecuali..“ adalah: Tidak seorangpun dari kita kecuali di dalam hatinya ada sesuatu darinya, karena kelemahan manusiawi. Hanyaseorang mukmin mempunyai kelebihan, yaitu bahwa Allah menghilangkan lintasan-lintasan itu dan hatinya disebabkan oleh tawakkal-nya kepada Allah.

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya”. . (QS. At-Thalaq: 3)

Lawan dari sikapthiyarah adalah tafa’ul, yakni sikap optimis atau harapan baik. Maksudnya memprediksikan kebaikan berdasarkan apa yang ia dengar atau sesuatu yang ia lihat atau semacamnya.Tidak terikat kepada kepercayaan dan tahayul yang tanpa dasar.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

Older Posts »