Feeds:
Posts
Comments

Archive for April 4th, 2007

10 AMALAN

YANG TERBALIK


Kadang kita dapati amalan kita terbalik atau bertentangan dng apa yang
sepatutnya dilakukan & dituntut oleh Islam.Mungkin kita tidak sadar atau ikut-ikutan dng budaya hidup orang lain.


1. Amalan Selamatan/kenduri beberapa malam setelah saudara/keluarga/tetangga kita meninggal (malam pertama, kedua, ketiga, ketujuh dan seterusnya) adalah terbalik dng yang dianjurkan oleh Rosulullah SAW dimana Rosulullah telah menganjurkan tetangga memasak makanan/minuman untuk keluarga yang berduka guna meringankan kesedihan & kesusahan mereka. Keluarga yang telah ditimpa kesedihan tersebut terpaksa menyediakan makanan & membeli segala sesuatu untuk mereka yang datang membaca Tahlil/doa & mengaji.Tidakkah mereka yang hadir & makan tersebut tidak khawatir
termakan harta anak yatim yang ditinggalkan oleh si mati atau harta
peninggalan si mati yang belum dibagikan kepada yang berhak menurut Islam ?


2. Kalau datang ke resepsi/pesta pernikahan/khitanan selalu berisi
hadiah/uang waktu bersalaman. Kalau tidak ada uang maka kita segan untuk pergi. Tetapi kalau mendatangi tempat orang meninggal. kita tidak malu untuk salaman tanpa isi/uang. Sepatutnya pada saat kita mendatangi tempat orang meninggallah kita seharusnya memberi sedekah. Sebenarnya jika ke Resepsi/pesta pernikahan/khitanan, tidak memberipun tidak apa-apa. Karena tuan rumah yang mengundang untuk memberi restu kepada mempelai & makan bukan untuk menambah pendapatannya.


3. Ketika datang ke sebuah gedung/rumah mewah atau menghadiri rapat dng pejabat, kita berpakaian bagus, rapi & indah tapi bila menghadap Allah baik di rumah maupun di Mesjid, pakaian yang dipakai adalah pakaian seadanya. Tidakkah ini suatu perbuatan yang terbalik ?


4.  Kalau bertamu ke rumah orang diberi kue/minum, kita merasa malu untuk makan sampai habis, padahal yang dituntut adalah jika hidangan tidak dimakan akan menjadi mubazir dan tidak menyenangkan tuan rumah.


5. Kalau Sholat Sunnah di Mesjid sangat rajin tapi kalau di rumah, malas. Sedangkan sebaik-baik Sholat Sunnah adalah yang dilakukan di rumah seperti yang dianjurkan oleh Rosulullah SAW untuk menghindari rasa riya’/pamer.


6. Bulan Puasa adalah bulan mendidik nafsu termasuk nafsu makan yang berlebihan tetapi kebanyakan orang mengaku bahwa biaya makan dan belanja di bulan puasa adalah yang tertinggi dalam setahun. Padahal seharusnya yang terendah. Bukankah terbalik amalan kita ?


7. Kalau untuk menjalankan ibadah haji, sebelum berangkat, banyak orang mengadakan Selamatan/do’a bersama tetapi setelah kembali dari Haji, tidak ada do’a bersama untuk bersyukur. Anjuran do’a bersama/selamatan dalam Islam diantaranya adalah karena selamat dari bermusafir/perjalanan jauh bukan karena akan bermusafir. Bukankah amalan ini terbalik ? Atau kita mempunyai tujuan lain ?


8. Semua orang tua akan kecewa jika anak-anaknya gagal dalam ujian. Maka dicari & diantarlah anak-anak ke tempat kursus walau dengan biaya tinggi. Tapi kalau anak tidak dapat membaca Al-Qur’an, mereka tidak berusaha mencari/mengantar anak-anak ketempat kursus baca Al-Qur’an atau kursus pelajaran Islam. Kalau guru kursus sanggup dibayar sebulan Rp.300.000,00 perbulan untuk satu pelajaran dan 8 kali pertemuan saja, tapi kepada Ustadz yang mengajarkan mengaji hanya Rp.100.000,00 perbulan untuk 20 kali pertemuan. Bukankah terbalik amalan kita ? Kita sepatutnya lebih malu jikaanak tidak dapat baca Al-Qur’am atau Sholat dari pada tidak lulus ujian.


9. Siang-malam, panas-hujan badai, pagi-petang kita bekerja mengejar rezeki Allah dan mematuhi peraturan kerja. Tapi ke rumah Allah (Mesjid) tidak hujan tidak panas, tidak siang, tidak malam tetap tidak datang ke Mesjid. Sungguh tidak tahu malu manusia begini, rezeki Allah diminta tapi untuk mampir ke rumahNya segan dan malas.

 


10. Seorang isteri kalau mau keluar rumah dengan suami atau tidak, berhias secantik mungkin. Tapi kalau di rumah….???Sedangkan yang dituntut seorang isteri itu berhias untuk suaminya bukan untuk orang lain. Perbuatan amalan yang terbalik ini membuat rumah tangga kurang bahagia. Cukup dengan contoh-contoh di atas, Marilah kita berlapang dada menerima hakikat sebenarnya.Marilah kita beralih kepada kebenaran agar hidup kita menurut landasan dan ajaran Islam yang sebenarnya bukan yang digubah mengikuti selera  kita. Allah yang menciptakan kita, maka biarlah Allah yang menentukan peraturan hidup kita. Sabda Rosulullah SAW : “Sampaikanlah pesan-KU walau hanya satu ayat”. (Riwayat Bukhari).

 -?-

Advertisements

Read Full Post »

Benarkah Pemeluk Madzhab Syafi’i

Ahli Bid’ah?

Rabu, 4 Apr 07 11:21 WIB

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Ustadz yang dirahmati Allah, Ustadz, saya ingin bertanya, mengapa di kalangan madzhab Syafi’i dikatakan oleh penganut madzhab lain (dengan tega) sebagai bid’ah? Seperti qunut shubuh, dzikir berjama’ah danyanglainnya.

Apakah Imam Syafi’i telah salah dalam mengambil Ijtihad? Atau penganut beliau lah yang telah menyimpangkannya? Bahkan oleh beberapa orang, penganut Madzhab Syafi’i dianggap sebelah mata, dianggap tidak tahu ilmu?

Memang di beberapa daerah penganut madzhab As-Syafi’i biasanya hanya dari kalangan orang-orang menengah ke bawah, tidak seperti penganut madzhab lain yang biasanya terdiri dari kaum terpelajar, cendekiawan, karyawan dan sebagainya dan dianggap ahli bid’ah dan sebagainya.

Mengapa demikian Ustadz? Terima kasih sebelumnya.

Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Csuntana

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang ada beberapa kerancuan masalah dalam hal ini. Sehingga perlu dijelaskan duduk perkaranya. Agar kita bisa memilah dan memandang dengan pandangan yang objektif dan tepat.

Pertama: Tradisionalis dan Modernis

Kami lebih cenderung memandang bahwa peta demografi umat Islam yang anda sebutkan itu sebagai dua kutub. Tetapi bukan kutub kelompok Syafi’i dan non syafi’i. Tetapi kami cenderung menyebutnya dengan kutub tradisonalis dan modernis.

Kutub pertama diwakili oleh kalangan muslim tradisionalis. Mereka umumnya tinggal di pedesaan dengan status sosial menengah ke bawah. Banyak melakukan ritual keagamaan dan atributnya. Kutub kedua adalah -sebut saja- muslim modernis. Umumnya tinggal di perkotaan dengan status sosial menengah ke atas.

Walau pun demikian, pembagian ini sebenarnya tidak terlalu kaku, karena muslim modern perkotaan pun tidak selalu orang kaya, sebagaimana muslim tradisionalis tidak selalu orang miskin.Bahwa adasedikit jarak antara muslim tradisioalis dengan modern, memang sedikit banyak bisa diterima.

Namun yang jelas, keduanya tidak dibedakan berdasarkan faktor mazhab fiqih. Muslim tradisionalis belum tentu orang yang paham dan mengerti masalah mazhab Syafi’i, demikian juga muslim modernis belum tentu merupakan pemeluk mazhab selain mazhab Asy-Syafi’i.

Bahwa muslim tradisionalis banyak melakukanritual keagamaan danberbagai syiar Islam, memang diakui. Tetapitidak ada kaitannya dengan fiqih syafi’i.Bahwa muslim modernis itu tidak melakukan banyak ritual keagamaan, juga tidak ada kaitannya dengan mazhab fiqihnya. Bahkan mereka pun sama sekali bukan pengikut mazhab Hambali, Hanafi atau Maliki.

Lagi pula, di masa sekarang ini muncul fenomena yang semakin aneh. Begitu banyak muslim perkotaan yang konon disebut modernis, justru asyik mengadakan ritual khas muslim tradisionalis. Seperti melakukan istighotsah, menghadiri majelis zikir, mengadakan tahlilan, bicara masalah tasawuf dan seterusnya.

Sebaliknya, muslim tradisionalis yang dahulu cenderung diwaklili oleh warga pedesaan, kini anak-anak mereka mulai sekolah di kota dan memenuhi IAIN dan sejenisnya, berkenalan dengan pemikiran luar (baca: sekuler) anti Islam. Islam Liberal adalah salah satu contoh sederhana yang bisa dijadikan contoh. Dimotori oleh anak-anak kalangan muslim tradisionalis namun mengembangkan paham yang sangat jauh berbeda dengan apa yang dijalani oleh orang tua mereka.

Kedua: Zikir Berjamaah Bukan Mazhab Asy-Syafi’i

Angapan bahwa pratek zikir berjamaah dan hal-hal sejenisnya berasal dari ajaran Imam Asy-Syafi’i tidak tepat. Sebab beliau adalah peletak dasar ilmu ushul fiqih dan tokoh pendiri mazhab fiqih.

Status beliau adalah mujtahid mutlak yang punya kapasitas untuk membangun ijtihad dari hulu hingga hilir. Para mujtahid besar dunia banyak yang berguru dan mendasarkan ijtihadnya di atas apa yang telah ditetapkan oleh beliau.

Khusus masalah bacaan Al-quran dan pengiriman pahalanya kepada orang yang sudah meninggal, beberapa riwayat menyebutkan bahwa justru beliau tidak mendukungnya. Sebaliknya, Imam Ibnu Taimiyah malah membenarkannya.

Termasuk ritual maulid nabi, isra’ mikraj, nuzulul quran, nisfu sya’ban, dan sejenisnya, bukanlah ritual ibadah yang dikedepankan oleh beliau dan mazhabnya. Mazhab Asy-Syafi’i malah tidak ada kaitannya dengan semua itu.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »

Apakah Kutubussittah

Sudah Ditakhrij?

Rabu, 4 Apr 07 09:54 WIB

Assalamu’alikum wr wb.

Sebelumnya terima kasih pak ustaz, sebenarnya saya juga sudah lama menunggu ulasan atas pertanyaan saya tempo dulu, sepertinya pertanyaan saya hanya omongan belaka. Namun, karena waktu kian laju dan dan tak urung mundur, saya pun berniat untuk menanyakan kembali beberapa pertanyaan saya, khususnya dalam lingkup Hadits. Langsung saja.

Pak ustaz yang saya hormati karena Allah Swt.

1. Apakah benar Kutubussitah sebelumnya telah ditakhrij ataukah belum ditakhrij? Kalau memang benar bahwa Kutubusittah yaitu Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Nasa’i, Sunan turmizi, Sunan Abu Dawud dan Ibnu Majah telah ditakhrij oleh para ulama yang telah lama mendahului kita, mengapa ada takhrijan baru yang dikeluarkan versi Syekh Albani, apakah hal itu tidak bertentangan dengan hasil yang telah ditakhrij sebelumnya?

2. Katakanlah kalau seandainya apa yang telah ditakhrij oleh ulama hadist rahimahullah yang telah lama mendahului kita semisal Syekh Imam Bukhari dan Syekh Imam Muslim berbenturan-bertentangan-dengan apa yang telah ditahkrij oleh syekh Albani, pendapat mana yang lebih berkualitas hendaknya dan lebih berbobot kita jadikan sebagai hujjah bagi kita menurut pandangan ustaz?

3. Apa perbedaan bahwa hadist ini ‘derajatnya shahih dan terdapat dalam shahih Imam Bukhari’ dengan ‘rawahu Bukhari atau akhrajahu Bukhari’? Serta bagaimana menurut pandangan ustaz, dengan ungkapan dalam satu hadist yang mengatakan ‘Hassanahu al-Bani’ dalam riwayat Imam Bukhari?

Saya berharap ustaz dapat menjawab beberapa pertanyaan saya ini.
Sekian saja,

wajazakumullahu Khairan.

Rusdi Ibnu Bukhari

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

1. Istilah Takhrij Hadits

Sebenarnya istilah yang tepat bukan takhrij hadits pada kututussittah, mungkin yang anda maksud adalah al-hukmu ‘alal-hadits. Yaitu memberi status hukum pada hadits yang ada di dalam kitab induk hadits yang enam itu. Status hukumnya bukan halal dan haram, melainkan shahih atau tidak shahih dengan semua variannya.

Sedangkan istilah takhrij hadits sebenarnya lebih tepat untuk digunakan untuk tindakan mencarikan rujukan suatu hadits kepada kitab induknya, misalnya kepada keenam kitab induk itu.

Umpamanya, seorang ulama menulis kitab dengan mencantumkan banyak hadits di dalamnya. Hadits-hadits itu juga ditakhrij oleh penulisnya, yaitu dibuatkan semacam keterangan, misalnya footnote, yang berisi keterangan bahwa hadits itu ada dalam kitab apa, bab apa, jilid berapa, halaman berapa, kitab itu cetakan mana dan tahun berapa. Kitab-kitab yang dijadikan rujukan itu adalah keenam kitab induk hadits yang anda sebut dengan kutubussittah.

Kemudian termasuk bagian dari takhirjul hadits, bisa juga ditambahkan dengan alhukmu ‘alal-hadits, yaitu pendapat para ulama hadits tentang status hukum hadits itu. Dan boleh jadi, pemberian status hukum atas hadits itu didapat dari kitab hadits lainnya.

Sedangkan terkait dengan al-hukmu ‘alal hadits, adalah memberikan status hukum atas hadits-hadits. Dan kalau anda tanyakan apakah keenam kitab hadits itu sudah diberi status hukum, jawabnya sebagian sudah dan sebagian belum.

Yang sudah mendapat status hukum adalah dua kitab induk, yaitu Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Dari namanya saja kita sudah tahu bahwa hadits-hadits yang ada di dalamnya adala hadits yang sudah berstatus shahih. Paling tidak, hadits-hadits itu telah dishahihkan oleh kedua penulisnya. Dan integritas kedua penulisnya memang sudah sangat diakui oleh dunia ulama hadits.

Kitab Sunan Abu Daud juga oleh para ahli hadits dikatakan banyak mengandung hadits-hadits yang shahih.

Termasuk dalam kitab yang enam itu adalah kitab Sunan At-Tirmizy yang juga oleh penyusunnya, Al-Imam At-Tirmizy, telah diberi status hukum. Perhatikan kalau kita membaca hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmizi, biasanya ada tambahan kalimat wa shahhahu At-Tirmizi, artinya “dan At-Tirmizi menshahihkannya”, atau kalimat wa qaalat-tirmizi hasanun shahih, artinya “dan At-Tirmizi mengatakan hadits ini berstatus hasan shahih.”

Tinggal 2 kitab lagi yaitu Sunan An-Nasa’i dan Sunan Ibnu Majah. Hadits-hadits yang ada pada keduanya memang belum diberi status hukum oleh penyusunnya. Sehingga masih harus kita cari satu persatu ke dalam kitab-kitab syarah atau kitab yang secara khusus memuat kajian keshahihan suatu hadits.

Sebenarnya hadits itu tidak hanya sebatas pada yang terdapat di dalam keenam kitab induk itu. Di luar yang enam itu, masih banyak lagi hadits-hadits nabawi, bahkan yang shahih tapi belum tercantum di dalamnya pun masih banyak.

Upaya para ulama di abad ini adala membuat ensiklopedi hadits, tidak terbatas pada keenam kitab induk itu saja, juga tidak terbatas pada 9 kitab (kutubut-tis’ah), tetapi ke ribuan kitab hadits yang telah disusun oleh ulama sepanjang 14 abad ini.

Sayangnya, cita-cita yang mulia ini belum kesampaian hingga sekarang ini. Mengingat ternyata jumlah hadits sangat banyak, bisa sampai jutaan butir. Padahal masing-masing hadits itu juga harus diberi status hukum. Dan pekerjaan ini bukan pekerjaan yang ringan.

Beberapa institusi besar dunia Islam telah mempeloporinya, tapi hingga kini kabarnya masih belum menggembirakan.Al-Azhar di Mesir, Jami’ah Islamiyah Madinah, Syeikh Al-Qaradawi dengan lembaganya di Qatar dan beberapa lainnya punya cita-cita mulia. Mungkin sebaiknya mereka bersatu dan saling bersinergi, ketimbang jalan sendiri-sendiri.

2. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim Yang Dikomentari Al-Albani

Umumnya ulama sepanjang zaman telah menyatakan bahwa puncak keshahihan kitab hadits ada pada kedua kitab ini. Bahkan sudah menjadi suara umat bahwa Shahih Bukhari adala kitab tershahih kedua setelah Al-Quran Al-Karim.

Memang ada satu dua ulama hadits yang sezaman dengan Al-Bukhari yang mengkritisisatu dua hadits yang telah dishahihkan dan dimasukkan ke dalamnya. Hal ini wajar, mengingat di masa itu sangat boleh jadi belum terdapat banyak rujukan kitab. Boleh jadi suatu hadits dishahihkan oleh Al-Bukhari, namun ahli hadits yang lain tidak mendapatkan sanad yang diterimanya sekuat sanad yang diterima Al-Bukhari. Sehingga ahli hadits itu menghukumi bahwa hadits itu tidak kuat sanadnya. Tentu Itu adalah haknya.

Dan ketika Al-Bukhari menshahihkan hadits itu, sudah pasti beliau punya sanad yang kuat dan bisa dipertanggung-jawabkan secara ilmiyah. Serta diakui oleh mayoritas para ulama hadits di zamannya dan di zaman sesudahnya. Itulah yang ditulis oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar ketika menulis syarah (penjelasan) atas kitab Shahih Al-Bukhari.

Adapun Syeikh Al-Albani atau siapapun juga dari ahli hadits, boleh-boleh saja berkomentar apapun terhadap satu dua hadits yang telah ada di dalam shahih Bukhari. Namun semua komentarnya tidak berpengaruh apapun terhadap integritas kitab ini.

Mungkin saja Al-Albani punya rujukan kitab rijalul hadits tersendiri yang berbeda dengan yang digunakan oleh Al-Bukhari. Dan hal ini biasa terjadi. Bahkan tiap muhaddits biasanya punya database sendiri atas rijal yang ditelitinya. Dan sangat mungkin cara penilaianya berbeda.

3. Pengertian Beberapa Istilah

‘Hadits ini derajatnya shahih dan terdapat dalam shahih Imam Bukhari’

Sesuai dengan kalimatnya, berarti hadits ini derajatnya shahih, yang menshahihkannya adalah AL-Bukhari dan Al-Bukhari memasukkannya ke dalam kitab Ash-Shahihnya.

‘Rawahu Bukhari atau akhrajahu Bukhari’?

Isitlah ini sama dengan di atas. Biasanya bila dikatakan rawahul bukhari berarti otomatis hadits itu shahih dan ada di dalam shahih Bukhari. Kecuali ada keterangan tambahan bahwa hadits itu dishahihkan Bukhari tapi tidak ada di dalam kitab Shahihnya.

‘Hassanahu al-Bani’ dalam riwayat Imam Bukhari?

Ada banyak pengertian yang berbeda. Salah satunya adalah hadits ini oleh Al-Albani diberi status hasan, bukan shahih. Meski hadits ini ada dalam shahih Bukhari.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »

HAKIKAT MUDHARABAH

PENGERTIAN MUDHARABAH
Syarikah mudharabah memiliki dua istilah. Yaitu mudharabah dan qiradh sesuai dengan penggunaannya di kalangan kaum Muslimin.

Penduduk Iraq menggunakan istilah mudharabah untuk menyebut transaksi syarikah ini. Disebut sebagai mudharabah, karena diambil dari kata dharb di muka bumi. Yang artinya, melakukan perjalanan yang umumnya untuk berniaga dan berperang. Allah berfirman.

“Artinya : (Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu) orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah ; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah” [Al-Muzzammil : 20]

Ada juga yang mengatakan diambil dari kata dharb (mengambil) keuntungan dengan saham yang dimiliki.

Dalam istilah bahasa Hijaz, disebut juga dengan qiradh, karena diambil dari kata muqaradhah, yang artinya penyamaan dan penyeimbangan. Seperti yang dikatakan.

“Dua orang penyair melakukan muqaradhah”, yakni saling membandingkan syair-syair mereka. Adapun yang dimaksud dengan qiradh disini, yaitu perbandingan antara usaha pengelola modal dan modal yang dimiliki pihak pemodal, sehingga keduanya seimbang.

Ada juga yang menyatakan, bahwa kata itu diambil dari qardh, yakni memotong. Tikus itu melakukan qardh terhadap kain, yakni menggigitnya hingga putus. Artinya, dalam masalah ini, pemilik modal memotong sebagian hartanya untuk diserahkan kepada pengelola modal, dan dia juga akan memotong keuntungan usahanya. [1]

Sedangkan menurut para ulama, istilah syarikah mudharabah memiliki pengertian, yaitu pihak pemodal (investor) menyerahkan sejumlah modal kepada pihak pengelola untuk diperdagangkan. Dan pemodal berhak mendapat bagian tertentu dari keuntungan. [2]

Dengan kata lain, mudharabah adalah akad (transaksi) antara dua pihak. Salah satu pihak menyerahkan harta (modal) kepada yang lain agar diperdagangkan, dengan pembagian keuntungan di antara keduanya sesuai dengan kesepakatan. [3] Sehingga mudharabah adalah bentuk kerja sama antara dua pihak atau lebih. Dalam hal ini, pemilik modal (shahib al mal atau investor) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian pembagian keuntungan. [4]

Bentuk ini menegaskan kerjasama dengan kontribusi 100% modal dari shahib al mal dan keahlian (pengelola) dari mudharib.

HUKUM MUDHARABAH DALAM ISLAM
Para ulama telah sepakat, sistem penanaman modal ini dibolehkan. Dasar hukum dari sistem jual beli ini adalah ijma ulama yang membolehkannya, seperti dinukilkan Ibnul Mundzir[5], Ibnu Hazm[6], Ibnu Taimiyah[7], dan lainnya.

Ibnu Hazm mengatakan, “Semua bab dalam fiqih selalu memiliki dasar dalam Al-Qur’an dan Sunnah yang kita ketahui –alhamdulillah- kecuali qiradh (mudharabah, -pen). Kami tidak mendapati satu dasarpun untuknya dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Namun dasarnya adalah ijma yang benar. Yang dapat kami pastikan, hal ini ada pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengetahui dan menyetujuinya. Dan seandainya tidak demikian, maka tidak boleh” [8]

Berkaitan dengan pandangan Ibnu Hazm tersebut, maka Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengomentari pernyataan Ibnu Hazm, bahwa :

[1]. Bukan termasuk madzhab beliau (Ibnu Hazm) membenarkan ijma tanpa diketahui sandarannya dari Al-Qur’an dan Sunnah, dan ia sendiri mengakui bahwa ia tidak mendapatkan dasar dalil mudharabah dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
[2]. Ibnu Hazm tidak memandang, bahwa tidak adanya yang menyelisihi adalah ijma, padahal ia tidak memiliki disini kecuali ketidak-tahuan adanya yang menyelisihi
[3]. Ibnu Hazm mengakui persetujuan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah mengetahui sistem mu’amalah ini. Taqrir (persetujuan) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk satu jenis sunnah, sehingga (pengakuan Ibnu Hazm) tidak adanya dasar dari sunnah menentang pernyataan beliu ini tentang taqrir ini.
[4]. Jual beli (perdagangan) dengan keridhoan kedua belah pihak, yang ada dalam Al-Qur’an meliputi juga qiradh dan mudharabah.
[5]. Madzhab Ibnu Hazm menyatakan harus ada nash dalam Al-Qur’an dan Sunnah atas setiap permasalahan, lalu bagaimana disini meniadakan dasar dalil qiradh dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
[6]. Tidak ditemukannya dalil tidak menunjukkan ketidak adaannya.
[7]. Atsar yang ada dalam hal ini dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak sampai pada derajat pasti (qath’i) dengan semua kandungannya, padahal Ibnu Hazm memastikan persetujuan Nabi dalam permasalahan ini.[9]

Demikian juga Syaikh Al-Albani mengkritik pernyataan Ibnu Hazm di atas dengan menyatakan, ada beberapa bantahan (atas pernyataan beliau). Yang terpenting, bahwa asal dalam mu’amalah adalah boleh, kecuali ada nash (yang melarang). Berbeda dengan ibadah, pada asalnya, dalam ibadah dilarang kecuali ada nash, sebagaimana dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Qiradh dan mudharabah jelas termasuk yang pertama. Juga ada nash dalam Al-Qur’an yang membolehkan perdagangan dengan keridhaan, dan ini mencakup qiradh. Ini semua cukup sebagai dalil kebolehannya dan dikuatkan dengan ijma yang beliau akui sendiri. [10]

Dibagian lain, Ibnu Taimiyyah menyatakan : “Sebagian orang menjelaskan beberapa permasalahan yang ada ijma di dalamnya, namun tidak memiliki dasar nash seperti mudharabah. Hal itu tidak demikian. Mudharabah sudah masyhur di kalangan bangsa Arab Jahiliyah, apalagi pada bangsa Quraisy. Karena umumnya, perniagaan merupakan pekerjaan mereka. Pemilik harta menyerahkan hartanya kepada pengelola (Umaal). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah berangkat membawa harta orang lain sebelum kenabian, seperti memperdagangkan harta Khadijah. Juga kafilah dagang yang dipimpin Abu Sufyan, kebanyakan dengan sistem mudharabah dengan Abu Sufyan dan selainnya. Ketika Islam datang. Rasulullah menyetujuinya dan para sahabatpun berangkat dalam perniagaan harta orang lain secara mudharabah, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarangnya. Sunnah disini adalah perkataan, perbuatan dan persetujuan beliau. Ketika beliau menyetujui, maka mudharabah dibenarkan dengan sunnah” [11]

Hukum ini, juga dikuatkan dengan adanya amalan sebagian sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya yang diriwayatkan dalam Al-Muwattha [12] dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, bahwa ia menceritakan : Abdullah dan Ubaidillah bin Umar bin Al-Kaththab pernah keluar dalam satu pasukan ke negeri Iraq. Ketika kembali, mereka lewat di hadapan Abu Musa Al-Asy’ari, yakni Gubernur Bashrah. Beliau menyambut mereka berdua dan menerima mereka sebagai tamu dengan suka cita.

Beliau berkata, “Kalau aku bisa melakukan sesuatu yang berguna untuk kalian, pasti akan aku lakukan”, kemudian beliau berkata : “Sepertinya aku bisa melakukannya. Ini ada uang dari harta Allah yang akan aku kirimkan kepada Amirul Mukminin. Aku memimjamkannya kepada kalian, untuk kalian belikan sesuatu di Iraq ini, kemudian kalian jual di kota Al-Madinah. Kalian kembalikan modalnya kepada Amirul Mukminin, dan keuntungannya kalian ambil”.

Mereka berkata, “Kami suka (dengan hal) itu”, maka beliau menyerahkan uang itu kepada mereka dan menulis surat untuk disampaikan kepada Umar bin Al-Khaththab, agar Amirul Mukminin itu mengambil dari mereka uang yang dia titipkan.

Sesampainya di kota Al-Madinah, mereka menjual barang itu dan mendapat keuntungan.

Ketika mereka membayarkan uang itu kepada Umar, lantas Umar berkata : “Apakah setiap anggota pasukan diberi pinjaman oleh Abu Musa seperti yang diberikan kepada kalian berdua?”

Mereka menjawab, “Tidak”.

Beliau berkata, “Apakah karena kalian adalah anak-anak Amirul Mukminin, sehingga ia memberi kalian pinjaman? Kembalikan uang itu beserta keuntungannya”. Adapaun Abdullah, hanya terdiam saja, sementara Ubaidillah langsung angkat bicara : “Tidak sepantasnya engkau berbuat demikian, wahai Amirul Mukminin. Kalau uang itu berkurang atau habis, pasti kami akan bertanggung jawab,” (namun) Umar tetap berkata, “berikan uang itu semuanya”.

Abdullah tetap diam, sementara Ubaidillah tetap membantah.Tiba-tiba salah seorang di antara pegawai Umar berkata : “Bagaimana bila engkau menjadikannya sebagai investasi, wahai Umar?”.

Umar menjawab, “Ya. Aku jadikan itu sebagai investasi”. Umar segera mengambil modal beserta setengah keuntungannya, sementara Abdullah dan Ubaidillah mengambil setengah keuntungan sisanya. [13]

Kaum Muslimin sudah terbiasa melakukan kerja sama semacam itu hingga jaman sekarang ini, di berbagai masa dan tempat tanpa ada ulama yang menyalahkannya. Ini merupakan konsensus yang diyakini umat, karena cara ini sudah digunakan bangsa Quraisy secara turun-temurun, dari zaman jahiliyah hingga zaman Nabi, kemudian beliau mengetahui, melakukan dan tidak mengingkarinya.

Oleh Ustadz Khalid Syamhudi

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183]
__________
Foote Note
[1]. Lihat Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah, tahqiq Abdullah bin Abdulmuhsin At-Turki, Cet II, Th 1412H, Penerbit Hajr (7/133), Asy-Syarh Al-Mumti ‘Ala Zaad Al-Mustaqni, karya Ibnu Utsaimin, tahqiq Abu Bilal Jamal Abdul Aal, Cet. I, Th 1423H, Penerbit Dar Ibnu Al-Haitsam, Kairo, Mesir (4/266), Al-Fiqhu Al-Muyassar, Bagian Fiqh Mu’amalah, karya Prof Dr Abdullag bin Muhammad Ath-Thayar, Prof Dr Abdullah bin Muhammad Al-Muthliq dan Dr. Muhammad bin Ibrahim Alimusaa, Cet. I, Th 1425H, hal.185, Al-Bunuk Al-Islamiyah Baina An-Nadzariyat wa Tathbiq, karya Prof Dr Abdullah bin Muhammad Ath-Thayar, Cet II, Th 1414H, Muassasah Al-Jurais, Riyadh, KSA hal.122
[2]. Al-Mughni, op. cit (7/133)
[3]. Al-Bunuk Al-Islamiyah Baina An-Nadzariyat wa Tathbiq, op.cit, hal. 122
[4]. Al-Fiqhu Al-Muyassar, op.cit, hal. 185. Hal ini juga diakui oleh PKES (Pusat Komunikasi Ekonomi Syari’ah) Indonesia dalam buku saku Perbankan Syari’at, hal.37
[5]. Al-Mughni, op.cit (7/133)
[6]. Maratib Al-Ijma, karya Ibnu Hazm, tanpa tahun dan cetakan. Penerbit Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, hal.91
[7]. Majmu Fatawa (29/101)
[8]. Maratib Al-Ijma, op.cit, hal.91-92
[9]. Naqdh Maratib Al-Ijma, karya Syaikhul Islam yang dicetak sebagai foote note kitab Maratib Al-Ijma, hal. 91-92
[10]. Irwa Al-Ghalil fi Takhrij Ahadits Manar As-Sabil, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Cet II, Th 1405H, Al-Maktab Islami, Beirut (5/294)
[11]. Majmu Fatawa (19/195-196)
[12]. Dalam kitab Al-Qiradh, Bab I, hal. 687 dan dibawakan juga oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu Fatawa (19/196)
[13]. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa Al-Ghalil (5/290-291)

Read Full Post »

Sikap Keras

kepada Pelaku Bid’ah

Rabu, 4 Apr 07 06:19 WIB

Kalau saya membaca penjelasan tentang sikap para ulama kepada para pelaku bid’ah, saya dapati sikap mereka sedemikian keras. Sampai-sampai kita diharamkan untuk bertegur sapa dengan mereka.

Kita juga harus menyebarkan hal ihwal para pelaku bid’ah ini kepada khalayak. Jadi kita dibolehkan untuk berghibah (bergunjing) tentang mereka. Dan yang paling mengagetkan lagi, kita dilarang untuk menshalati jenazah mereka.

Yang jadi pertanyaan saya, apakah saya tidak boleh bergaul dan bermuamalah yang baik-baik kepada ayah dan ibu saya, mengingat keduanya adalah pelaku bid’ah, karena suka zikir berjamaah? Apakah jenazah ayah saya haram dishalati oleh umat Islam, karena dia suka qunut kalau shalat shubuh?

Sebab menurut tulisan yang saya baca, zikir berjamaah adalah bid’ah, termasuk juga qunut pada shalat shubuh. Dan tidak ada bid’ah hasanah, semua bid’ah itu sesat dan pelakunya masuk neraka. Apakaha ayah saya akan masuk neraka, pak ustadz? Mohon pencerahannya.

Jaki Se
jakioye at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Bid’ah memang sebuah dosa yang sangat besar kemungkarannya. Karena esensi dosa bid’ah adalah menciptakan tata cara ritual peribadatan yang tidak diajarkan oleh Rasulullah SAW. Sehingga pencipta bid’ah dan pelakunya, bisa dikategorikan orang-orang yang menentang kenabian Muhammad SAW sebagai pembawa risalah.

Orang yang menciptakan ritual peribadatan di luar apa yang telah disampaikan oleh Rasululah SAW adalah orang yang secara tidak langsung telah mengingkari kenabian Muhammad SAW. Dan ingkar kepada kenabian Muhammad SAW adalah bagian dari kekufuran.

Amat wajar bila para ulama banyak yang bersikap sangat keras kepada para pelaku bid’ah ini. Lantaran memang hakikat dari bid’ah adalah penentangan atas kenabian Muhammad SAW.

Bentuk Bid’ah Yang Disikapi Dengan Keras

Kalau kita perhatikan, sikap keras para ulama di masa lalu tentangbid’ah, umumnya berada di seputar bid’ah dari segi akidah. Kita sering menyebut dengan istilah penyimpangan akidah. Dan digunakan kata ‘bid’ah’ karena penyimpangan akidah itu memang hal yang baru dan diada-adakan, sementara Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkannya.

Padahal biasanya, kita di zaman sekarang ini, lebih sering menggunakan istilah bid’ah untuk menyimpangan di bidang fiqih peribadatan. Sehingga sikap keras para ulama di masa lalu terhadap penyimpangan di bidang akidah, tidak bisa disamakan atau disejajarkan begitu saja dengan penyimpangan di bidang ibadah di masa sekarang.

Apalagi mengingat bahwa di bidang peribadatan, memang ada begitu banyak dalil yang multi tafsir, di mana satu orang mujtahid sangat mungkin berbeda persepsi dan penarikan kesimpulan dengan rekannya yang juga sama-sama mujtahid juga. Perbedaan hasil ijtihad ini sama sekali di luar wilayah bid’ah. Sehingga tidak bisa disikapi dengan cara keras, apalagi menggunakan dalil sikap ulama di masa lalu.

1. Menutup Telingan dengan Jari

Abdurrazaq meriwayatkan dari Muammar bahwa Thawus memerintahkan anaknya untuk memasukkan jari ke dalam telinganya, ketika ada seorang yang berpaham muktazilah mendekatinya.

Sikap ini memang sangat keras, namun di masa itu, para penyebar paham muktazilah memang sangat keras, kasar, bahkan rela membunuh nyawa untuk sekedar memaksakan pendapatnya. Tentu sikap menutup telinga tidak bisa kita lakukan kepada saudara kita yang punya cara ibadah berbeda dengan kita.

2. Memboikot

Ibrahim An-Nakhai pernah berkata kepada seorang yang berpaham murjiah yang sesat, “Bila nanti kamu meninggalkan kami, maka janganlah engkau kembali.”

Penyikapan inisangat sesuai untuk para penyebar paham sesat murjiah, yang secara tegas memusuhi akidah dan syariah Islam. Namun tidak boleh dijadikan landasan untuk memboikot saudara sendiri yang kebetulan punya tata cara zikir yang tidak seragam dengan kita. Tidak ada yang salah dari sikap Ibrahim An-Nakhai, yang salah ada cara kita berdalil.

3. Bergunjing

Sufyan At-Tsauri pernah berkata tentang seorang yang menyimpang dari akidah, khususnya tentang qadha dan qadar Allah. Beliau berupaya ingin melindungi masyarakat dari bahaya kesesatan penyimpangan akidah. Maka beliau berkata, “Terangkanlah ihwal orang ini kepada orang banyak.” Maksudnya, ceritakan tentang bahayanya orang ini, karena dia menyebarkan paham yang menyesatkan.

Sayangnya, oleh sebagian orang di zaman sekarang, perkataan Sufyan Ats-Tauri ini dipelesetkan menjadi dalih dibolehkannya bergunjing dan menceritakan keburukan saudara sendiri, yang sebelumnya divonis secara sepihak sebagai ahli bid’ah.

4. Tidak Menshalati Jenazah

Disebutkan bahwa Sufyan Ats-Tauri membubarkan shaf (barisan) shalat jenazah. Karena jenazahnya adalah seorang yang bernama Abdul Aziz. Ternyata si Abdul Aziz ini adalah orang yang telah divonis kafir oleh mahkamah syariah, lantaran aqidahnya sesat dan tidak tertolong lagi.

Maka alangkah naifnya kalau di zaman sekarang ini ada orang yang menolak menshalatkan jenazah saudaranya, hanya lantaran beda persepsi atas suatu dalil, dan bukan di wilayah aqidah. Sikap At-Tauri ini tidak salah, yang salah adalah kita yang tidak paham hukum syariah.

Dan masih banyak lagi sikap keras para ulama di masa lalu yang sebenarnya sudah pada tempatnya. Namun yang seringkali salah adalah cara kita memahami atau cara menerapkannya. Tindakan asal comot dan asal dalil sering membuat kita terjebak sendiri.

Bid’ah di Bidang Aqidah

Sepeninggal Rasulullah SAW, muncul begitu banyak ragam penyimpangan akidah Islam. Padahal akidah yang Allah SWT jelaskan di dalam kitabullah dan sunnah rasulullah sangat jelas, tegas dan mudah dipahami siapa saja.

Namun musuh-musuh Islam datang menyerbu padabagian aqidah ini. Sehingga bermunculan akidah-akidah yang secara tegas bertentangan dengan apa yang telah Rasulullah SAW ajarakan. Baik akidah itu datang dari eropa yang paganis, atau pun juga datang dari Persia.

Maka sikap para ulama sangat kritis dan keras kepada para penyimpang akidah itu. Dan penyimpangan aqidah ini dikategorikan oleh para ulama di masa itu sebagai bid’ah.

Misalnya, perkataan imam Ahmad bin Hanbal tentang penyimpangan akidah tasybih, tajsim dan takyif. Beliau menghentikan perdebatan bid’ah seputarbagaimana bentukduduknya Allah SWT di Arsy. Beliau mengatakan bahwa istiwa’ (bersemayam) adalah hal yang ma’ruf, semua orang tahu. Namun al-kaifu (bagaimana cara duduknya Allah) adalah majhul (tidak bisa diketahui). Dan as-su’alu anhu bid’ah. Bertanya tentang hal seperti itu bid’ah.

Zikir Berjamaah dan Qunut Shubuh: Bid’ah?

Adapun zikir ber.jamaah, sesungguhnya tidak ada seorang pun dari ulama yang membid’ahkannya. Lantaran dalil-dalil tentang adanya zikir berjamaah itu ada, shahih dan sangat kuat.

Namun yang jadi titik perbedaan adalah tentang teknis zikir berjamaahnya. Apakah dengan satu pimpinan lalu yang lain mengikuti, atau dengan secara bersama-sama satu bacaan dan satu irama, ataukah masing-masing sibuk zikir sendiri-sendiri.

Tidak ada satu pun dalil yang menegaskan tentang manakah yang dilakukan di masa Rasulullah SAW itu. Dengan demikian, dalam masalah ini kita tidak menemukan dalil yang sharih tentang teknis zikir berjamaah. Sehingga sangat besar kemungkinan munculnya variasi dalam masalah teknisnya. Pada saat itu, tidak mungkin satu sama lain saling menuding sebagai pelaku bid’ah.

Demikian juga dengan masalahqunut pada shalat shubuh, tentu saja tidak ada seorang pun yang berhak untuk memboikot saudaranya, memusuhinya, atau tidak menshalati jenazahnya, hanya lantaran melakukan doa qunut pada shalat shubuh. Memang ada sebagian ulama yang berfatwa bahwa qunut pada shalat shubuh adalah bid’ah. Namun tentu saja kita diharamkan untuk bersikap keras.

Mengapa?

Karena yang mengatakan bid’ah itu hanya satu dua ulama saja. Sebagian lagi tidak beranggapan demikian. Bahkan banyak ulama yang malah menganggapnya sunnah. Termasuk Al-Imam As-Syafi’i, beliau malah mengatakan sunnah muakkadah, bila tidak dikerjakan, disunnahkan sujud sahwi.

Kalau demikian keadaannya, tentu kita harus paham, bahwa tidak semuavonis bid’ah atas suatu ibadah yang diucapkan oleh satu dua orang ulama ituberarti ibadah itu harus bid’ah. Ternyata ada banyak pendapat tentang hal itu, dan salah satunya adalah pendapat yang mengatakan bid’ah.

Bid’ah seperti ini pada hakikatnya bukan bid’ah. Tetapi yang benar adalah satu bentuk teknis ibadah yang diklaim oleh seseorang sebagai bid’ah. Apakah klaim itu benar atau tidak, wallahu a’lam. Sebab klaim itu tidak lain hanya ijtihad, yang bisa benar dan bisa salah.

Seperti klaim bahwa zikir berjamaah dengan satu komando dianggap bid’ah, itu hanya klaim dari satu pihak tertentu. Apakah klaim itu benar atau tidak, masih harus dijelaskan lagi. Tetapi yang jelas, klaim itu hanyalah sebuah pendapat, bukan sesuatu yang didasarkan pada dalil yang sharih dan shahih. Klaim itu bisa diabaikan, selama ada banyak perbedaan pendapat, di mana masing-masing juga mendasarkan kepada ijtihad.

Sangat aneh ketika seorang muslim mengguncingkan saudaranya, memboikot, tidak mau bertegur sapa, bahkan sampai tidak mau menshalati jenazah saudaranya, hanya lantaran saudaranya itu ikut zikir berjamaah dan membaca doa qunut pada shalat shubuh.

Menggunjing itu dosa besar, bahkan di dalam Al-Quran disamakan dengan memakan daging saudaranya sendiri. Mengapa untuk menyikapi orang yang berbeda pendapat tentang masalah khilafiyah, harus dengan cara melakukan dosa besar? Apakah zikir berjamaah itu sudah dijadikan ijma’ ulama dan hukumnya dosa besar? Sehingga dosa besar itu harus dihilangkan dengan cara melakukan dosa besar juga?

Tindakan tidak menshalati jenazah seorang muslim, hanya lantaran dia membaca doa qunut pada shalat shubuh, tentu tindakan yang benar-benar kurang bisa dimengerti. Apakah kita akan menuduhnya sebagai pelaku dosa besar karena dia mengikuti ijtihad imam Asy-Syafi’i yang menyunnahkan qunut? Apakah kita memperlakukannya sama dengan orang kafir, dengan cara tidak menshalati jenazahnya?

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »