Feeds:
Posts
Comments

Archive for April 24th, 2007

KARAKTERISTIK

PENGIKUT AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

[1]. Hanya bersumber kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka senantiasa
menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber pengambilan, baik dalam
ibadah, akidah, mu’amalah, sikap maupun akhlak. Setiap yang sesuai dengan
Al-Qur’an dan As-Sunnah mereka menerima dan menetapkannya. Sebaliknya,
setiap yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah mereka menolaknya,
tak peduli siapa pun yang berpendapat dengannya.

[2]. Menyerah kepada nash-nash syara’, serta memahaminya sesuai dengan
pemahaman As-Salafus Shalih. Mereka menyerah kepada nash-nash syara, baik
mereka memahami hikmahnya maupun tidak. Mereka tidak menghakimi nash-nash
tersebut dengan akal mereka, tetapi mereka menghakimi akal mereka dengan
nash-nash syara’.

[3]. Itiba’ dan meningglakan ibtida’. Mereka tidak mendahului perkataan
Allah dan Rasul-Nya, tidak meninggikan suara di atas suara Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam, dan mereka juga tida rela jika seseorang meninggikan
suara di atas suara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[4]. Mereka memperhatikan Al-Qur’an, baik dalam hal hafalan, bacaan maupun
penafsiran. Juga perhatian dengan Al-Hadits, baik dalam hal dirayah (matan,
isi hadits) maupun riwayah (pembawa hadits).

[5]. Mereka senantiasa berdalil dengan sunnah shahihah dan meninggalkan
pembedaan antara hadits mutawatir dengan ahad, baik dalam hukum maupun
aqidah.

[6]. Mereka tidak memiliki imam yang diagungkan, yang mereka ambil seluruh
ucapannya kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun selain
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka mereka menimbangnya dengan
Al-Qur’an dan As-Sunnah, jika ia sesuai dengan keduanya maka diterima, dan
jika tida maka di tolak.

[7]. Mereka adalah orang yang paling mengerti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam. Mereka mengetahui petunjuk, amal, ucapan dan
ketetapan-ketetapannya. Karena itu, mereka adalah orang yang paling
mencintai beliau dan paling setia mengikuti sunnahnya.

[8]. Mereka masuk ke dalam Islam secara keseluruhan dan beriman kepada
Al-Qur’an secara keseluruhan pula [Al-Baqarah : 208].

[9]. Para pengikut Ahlus Sunnah mengagungkan para As-Salafush Shalih,
meneladani dan menjadikan mereka sebagai teladan. Mereka melihat bahwa jalan
para As-Salafus Shalih adalah jalan yang paling selamat, paling mengetahui
dan paling bijaksana.

[10]. Mereka memadukan antara nash-nash tentang suatu persoalan dan
mengembalikan al-mustasyabih (nash yang belum jelas) kepada al-muhkam (yang
telah jelas ketentuannya), yang dengan demikian mereka bisa mencapai
kebenaran dalam masalah tersebut.

[11]. Mereka memadukan antara ilmu dan ibadah. Ini berbeda dengan selain
mereka yang terkadang sibuk beribadah dengan meninggalkan ilmu, atau
sebaliknya.

[12]. Mereka memadukan antara tawwakal kepada Allah dengan ikhtiar, mereka
tidak mengingkari perlunya ikhtiar, sehingga tetap berusaha, tapi pada saat
yang sama mereka tidak menggantungkan kepadanya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda : ” Bersungguh-sungguhlah dalam menuntut apa yang bermanfaat
bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu) serta
janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah. Apabila kamu tertimpa suatu
kegagalan, maka janganlah kamu berkata, ‘Seandainya aku berbuat demikian,
tentu tidak akan begini atau begitu’, tetapi katakanlah, ‘Ini telah
ditakdirkan Allah, dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki’. Karena ucapan
‘seandainya’ akan membuka (pintu) perbuatan setan”. [Hadits Riwayat Muslim
8/56 No. 2664 dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu].

[13]. Memadukan antara kekayaan harta dengan sikap zuhud terhadapnya.
Parapengikut Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak mengingkari orang yang
memiliki
kekayaan harta yang melimpah. Sebaliknya mereka memandang, setiap orang
harus memenuhi kebutuhan dirinya dan orang yang ada di bawah tanggung
jawabnya, dan tidak menggantungkan kepada orang lain. Tetapi, hendaknya
tidak menjadikan dunia sebagai puncak harapan dan keinginannya. Mereka juga
tidak boleh membenci orang yang lebih menerima dan rela terhadap yang
sedikit dari kesenangan dunia. Sebab mereka berpendapat, zuhud letaknya di
hati, yakni meninggalkan apa yang tidak bermanfaat bagi akhiratnya.
Sedangkan orang yang lapang kekayaannya, tetapi ia meletakkannya di tangan
dan tidak di hati, dan menyedekahkannya kepada fakir miskin, maka itu adalah
karunia Allah yang diberikan kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Dan itulah
keadaan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Abdurrahman bin Auf dan para sahabat
lainnya dari kalangan Muhajirin dan Anshar radiyallahu ‘anhum.

[14]. Mereka memadukan antara khauf (takut), raja’ (harap) dan hubb (cinta),
bahkan mereka berpendapat bahwa antara ketiganya tidaklah bertentangan.
[As-Sajdah : 16]. Dalam hal ini terdapat ucapan yang mashur dari para salaf
: “Siapa yang menyembah Allah hanya dengan cinta maka dia adalah zindiq, dan
siapa yang menyembah Allah hanya dengan perasaan takut maka dia adalah
haruri (Khawarij), dan siapa yang menyembah Allah hanya dengan harapan dia
adalah Murji’. Sedang yang menyembah Allah dengan takut, cinta daan harapan
maka dia adalah mukmin sejati”.

[15]. Mereka memadukan antara kasih sayang dan lemah lembut dengan sikap
keras dan kasar. Ini berbeda dengan selain golongan mereka yang berlaku
keras atau lemah lembut dalam setiap kesempatan. Ahlus Sunnah wal Jama’ah
senantiasa menempatkan sesuatu pada tempatnya, menurut maslahat dan tuntutan
kondisi.

[16]. Mereka memadukan antara akal dengan perasaan. Akal mereka jernih,
perasaan mereka jujur dan ukuran yang mereka gunakan tepat. Mereka tidak
mengalahkan akal atas perasaan atau sebaliknya, tetapi mereka memadukan
antara keduanya dengan sesempurna mungkin. Perasaan mereka kuat, tetapi
dikendalikan oleh akal, dan akal dikendalikan oleh syari’at : “Cahaya di
atas cahaya (berlapis-lapis). Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang
Dia kehendaki”. [An-Nur : 35]

[17]. Keadilan merupakan keistimewaan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang paling
agung. Mereka adalah orang yang paling adil, dan orang-orang yang paling
berhak menta’ati firman Allah : “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah
kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah”.
[An-Nisaa’ : 135]. Bahkan jika kelompok-kelompok lain bertikai maka mereka
akan meminta keputusan hukum kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

[18]. Amanah ilmiah. Di antara bentuk amanah ilmiah yaitu ketika menukil
sesuatu, mereka tidak memalsukan atau memutarbalikkan fakta. Jika mereka
menukil dari orang yang berbeda pendapat dengan mereka, maka mereka
menukilnya dengan sempurna, tidak mengambil apa yang sesui dengan
pendapatnya dan meninggalkan yang lain. Dan mereka tidak berfatwa atau
memutuskan hukum kecuali berdasarkan apa yang mereka ketahui.

[19]. Mereka adalah kelompok moderat dan pilihan. Allah berfirman : “Dan
demikian (pula) kami menjadikan kamu, umat yang moderat dan pilihan”.
[Al-Baqarah : 143]. Sikap moderat Ahlus Sunnah wal Jama’ah tampak dalam
banyak hal, baik dalam hal aqidah, hukum, perilaku, akhlak maupun lainnya.
Mereka adalah kelompok pertengahan, antara yang berlebih-lebihan dan yang
meremehkan.

[20]. Tidak berselisih dalam masalah-masalah prinsip aqidah. Para
As-Salafush Shalih tidak berselisih dalam suatu persoalan prinsip-pun dalam
agama, juga tidak dalam prinsip-prinsip aqidah. Dalam masalah Asma’ dan
Sifat-sifat Allah misalnya, pendapat mereka adalah satu. Pendapat mereka
juga sama dalam masalah iman, defenisi dan berbagai persoalannya, dalam
masalah takdir juga dalam masalah-masalah prinsip lainnya.

[21]. Mereka meninggalkan perseteruan dalam masalah agama, serta menjauhi
orang-orang yang suka berseteru. Sebab perseteruan akan mengakibatkan
fitnah, perpecahan, fanatisme buta dan hawa nafsu.

[22]. Perhatian untuk menyatukan kalimat umat Islam pada kebenaran. Mereka
sangat peduli bagi kesatuan umat Islam, menghilangkan sebab-sebab pertikaian
dan perpecahan. Sebab mereka mengetahui, persatuan adalah rahmat dan
perpecahan adalah adzab. Dan karena Allah memerintahkan persatuan dan
melarang perselisihan. Allah berfirman : “Dan berpegang lah kamu semua
kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai”. [Ali-Imran :
103].

[23]. Mereka adalah orang-orang yang memiliki wawasan yang luas, pandangan
yang jauh ke depan, paling lapang dada dalam soal perselisihan dan paling
teguh memegang berbagai peringatan. Mereka tidak risih menerima kebenaran
dari siapapun, juga tidak malu untuk kembali kepadanya. Selanjutnya, mereka
tidak memaksakan orang lain mengikuti ijtihad mereka, tidak mengatakan sesat
orang-orang yang menyelisihinya, dan tidak menjadi sesak dada mereka karena
persoalan ijtihadiyah, yang di situ banyak orang berbeda paham. Termasuk
tanda keluasan wawasan mereka yaitu mereka jauh dari fanatik, taklid buta
dan hizbiyah.

[24]. Mereka adalah orang-orang yang memiliki akhlak terpuji, rendah hati,
penuh kasih sayang dan toleran. Dan mereka selalu mengajak kepada akhlak
baik dan perbuatan terpuji.

[25]. Mereka senantiasa berdakwah kepada Allah dengan hikmah, pelajaran yang
baik dan perbedaan dengan cara yang baik pula.

[26]. Mereka adalah ghuraba, orang-orang yang memperbaiki apa yang dirusak
menusia dan selalu berbuat baik saat manusia lain rusak.

[27]. Mereka adalah Firqatun Najiyah, yang selamat dari berbagai bid’ah dan
kesesatan di dunia ini dan selamat pula dari siksa Allah kelak di akhirat.

[28]. Mereka adalah Thaifah Manshurah (kelompok yang menang), karena Allah
senantiasa bersama mereka menolong dan meneguhkan mereka.

[29]. Mereka tidak setia atau memusuhi kecuali berdasarkan agama. Mereka
tidak memenangkan hawa nafsunya, juga tidak marah karenanya. Semua kesetiaan
dan kebenciannya hanyalah semata-mata karena Allah.

[30]. Selamat dari sikap saling mengkafirkan satu sama lain. Ahlus Sunnah
hanya membantah dan menjelaskan kebenaran kepada orang yang berselisih
dengan mereka. Ini berbeda dengan kelompok lain seperti Khawarij yang senang
berselisih, menyesatkan dan mengkafirkan.

[31]. Hati dan lisan mereka selamat dari mencerca shahabat Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebaliknya, hati mereka dipenuhi kecintaan
kepada para sahabat, lisan mereka senantiasa basah memuji, karena Ahlus
Sunnah berpendapat bahwa para shahabat adalah sebaik-baik generasi
sebagaimana dinyatakan Allah dan Rasul-Nya.

[32]. Mereka selamat dari keragu-raguan, keguncangan dan kontradiksi. Ahlus
Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang awam di antara mereka. Berbeda dengan
ahli kalam atau kelompok lainnya. Ar Razi, misalnya, salah seorang pembesar
ilmu kalam yang karena kebingungan dan keguncangannya, dalam salah satu
syairnya mengatakan : ” Dan akhir dari usaha para ilmuwan adalah kesesatan”.
Bandingkanlah hal itu dengan ucapan Umar bin Abdul Aziz : “Di pagi hari aku
tidak merasakan kegembiraan kecuali dalam qadha’ dan qadar”.

[33]. Selalu mengecek ulang berita-berita yang datang dan tidak gampang
men-genalisir hukum. Mereka tidak mudah menghukumi fasik, kafir atau
tuduhan-tuduhan lain tanpa bukti dan asalan-alasan nyata.

[34]. Mereka mendapatkan berita gembira saat datangnya kematian, karena
keimanan dan istiqamah mereka dalam keimanan tersebut. [Fush-shilat : 30].

[35]. Kebaikan mereka di lipat gandakan dan derajat mereka ditingkatkan, hal
itu karena aqidah mereka benar dan iman mereka kuat.

Karena semua hal di atas tidak berarti Ahlus Sunnah adalah orang-orang
maksum. Tetapi manhaj (jalan) dan jama’ah mereka adalah yang maksum. Jika
Ahlus Sunnah memiliki kesalahan kelompok lain lebih banyak, dan jika
kelompok lain memiliki keutamaan dan ilmu maka keutamaan dan ilmu Ahlus
Sunnah lebih sempurna dan lengkap.

Karena itulah, menjadi sesuatu yang niscaya agar kita meniti manhaj Ahlus
Sunnah wal Jama’ah.

[Saduran dari Mukhtashar Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah oleh Syaikh
Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Buletin Dakwah An Nur Thn IV/No.140/ Jum’at
II/R.Awal 1419H]

http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=899&bagian=0

Advertisements

Read Full Post »

Berhentilah

Saudaraku!

Saudaraku tercinta! Sesungguhnya alam semesta ini, yang besar maupun
yang kecil, semuanya menghadap kepada Allah subhanahu wata’ala, bertasbih
kepada-Nya, mengagungkan dan bersujud kepada-Nya. Allah subhanahu
wata’ala berfirman yang artinya, “Dan tak ada satu pun melainkan bertasbih
dengan memuji-Nya”. (QS. Al-Isra: 44).

Sesungguhnya seluruh makhluk yang Allah ciptakan menundukkan kepalanya,
merendahkan diri kepada-Nya dan mengakui keutamaan-Nya. Akan tetapi,
tinggal di alam semesta ini makhluk kecil yang rendah dan hina.
Diciptakan dari setetes air hina (mani) tiba-tiba saja ia menjadi penentang yang
nyata. Dia berada di suatu lembah dan seluruh alam semesta di lembah
yang lain. Ia meninggalkan ketaatan, tidak mau tunduk dan bertasbih
kepada-Nya, meskipun segala sesuatu yang ada di sekelilingnya tekun
berdzikir dan bertasbih kepada Allah subhanahu wata’ala. Makhluk kecil ini
ialah manusia yang bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala. Alangkah
dahsyatnya kebatilan ini! Alangkah besarnya kedunguan ini! Dan Alangkah
rendah dan hinanya ketika ia menjadi penyakit di alam yang teratur ini.

Berapa banyak ditawarkan kepada nya pertaubatan namun ia enggan untuk
bertaubat. Berapa kali ditawarkan kepadanya untuk kembali kepada Allah
subhanahu wata’ala, namun dia enggan untuk kembali, malah sebaliknya ia
berlari dari-Nya. Berapa banyak ditawarkan kepadanya perdamaian bersama
kekasihnya namun ia enggan berdamai dan mengangkat kepalanya
menyombongkan diri.

Saudaraku tercinta! Sebelum engkau bermaksiat kepada Allah subhanahu
wata’ala berpikirlah sejenak tentang dunia ini dan kehinaannya.
Berpikirlah tentang penghuni dan pencintanya. Dunia telah menyiksa mereka dengan
siksa yang beraneka ragam. Memberi minum dengan minuman yang paling
pahit. Membuat mereka sedikit tertawa dan banyak berlinang air mata.

Sebelum engkau bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala bepikirlah
tentang kehidupan akhirat dan kekekalannya. Ia adalah kehidupan yang
sebenarnya. Ia adalah tempat kembali. Ia adalah penghujung perjalanan.

Sebelum engkau bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala pikirkanlah
sejenak tentang api neraka, bahan bakarnya, gemuruhnya, kedalaman
jurangnya dan kedahsyatan panas apinya. Bayangkanlah betapa pedihnya siksa
yang dirasakan penghuninya. Mereka di dalam air yang sangat panas dalam
keadaan wajah yang tersungkur. Di dalam neraka mereka seperti kayu bakar
yang menyala-nyala.

Sebelum engkau bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala,wajib bagimu
untuk berpikir tentang surga dan apa yang telah dijanjikan oleh Allah
subhanahu wata’ala kepada orang-orang yang mentaati-Nya. Di dalam surga
terdapat sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mata, telinga belum
pernah mendengarnya dan tidak pernah terlintas dalam hati dan benak
manusia, berupa puncak kenikmatan dengan kelezatan yang paling tinggi berupa
berbagai macam makanan, minuman, pakaian, peman dangan, dan
kesenangan-kesenangan yang tidak akan disia-siakan kecuali oleh orang-orang yang
diharamkan untuk memasukinya.

Saudaraku tercinta! Sebelum engkau bermaksiat kepada Allah subhanahu
wata’ala, ingatlah berapa lama engkau akan hidup di dunia ini? Enam puluh
tahun, delapan puluh tahun. Seratus tahun, seribu tahun? Kemudian apa
setelah itu? Kemudian kematian pasti akan datang. Apakah yang akan
engkau tempati? Surga-surga yang penuh dengan kenikmatan ataukah neraka
jahim?

Saudaraku tercinta! Yakinlah dengan keyakinan yang sebenar-benarnya,
bahwasanya Malaikat Maut yang telah mengunjungi orang lain, sesungguhnya
ia sedang menuju ke arahmu. Hanya dalam hitungan tahun, bulan, minggu,
hari, bahkan hitungan menit dan detik ia akan meghampirimu. Lalu engkau
hidup seorang diri di alam kubur. Tiada lagi harta, keluarga dan
sahabat-sahabat tercinta. Camkanlah dan renungkanlan gelapnya kubur dan
kesendirianmu di dalamnya, sempitnya ruangannya, sengatan binatang-bintang
berbisa, ketakutan yang mencekam dan kedahsyatan pukulan Malaikat Adzab.

Saudaraku tercinta! Ingatlah hari Kiamat. Hari di mana kehormatan di
tangan Allah subhanahu wata’ala. Ketika rasa takut mengisi hati. Ketika
engkau berlepas diri dari anakmu, ibumu, ayahmu, istrimu, dan juga
saudaramu. Ingatlah kondisi dan keadaan-keadaan saat itu. Ingatlah hari di
mana neraca diletakkan dan lembaran-lembaran amal manusia beterbangan.
Berapa banyak amal kebaikan di dalam bukumu? Berapa banyak celah-celah
kosong dalam amal-amalmu? Ingatlah tatkala engkau berdiri di hadapan
Al-Malikul Haqqul Mubin Dzat Yang engkau berlari dari-Nya. Dzat Yang
memanggilmu namun engkau berpaling dari-Nya. Engkau berdiri di hadapan-Nya
dan di tanganmu lembaran catatan amal yang tidak meninggalkan yang kecil
dan tidak pula yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.

Maka lisan manakah yang engkau gunakan untuk menjawab pertanyaan Allah
subhanahu wata’ala,ketika Ia bertanya kepadamu tentang umurmu, masa
mudamu, perbuatanmu, dan juga hartamu. Maka kaki manakah yang engkau
gunakan untuk berdiri di hadapan Allah subhanahu wata’ala? Dengan mata yang
mana engkau memandang-Nya? Dan dengan lisan manakah engkau menjawab-Nya
ketika Ia berkata kepadamu, “Hamba-Ku, engkau menganggap remeh
pengawasan-Ku padamu, Engkau anggap sebagai orang yang paling hina dari
orang-orang yang memperhatikanmu. Bukankah Aku telah berbuat baik kepadamu?
Bukankah Aku telah memberi nikmat kepadamu? Lalu mengapa engkau
mendurhakai-Ku padahal aku telah memberi nikmat kepadamu.”

Saudaraku tercinta! Tidakkah engkau bersabar menjalankan ketaatan
kepada subhanahu wata’ala di hari-hari yang pendek ini? Detik-detik ini
begitu cepat, setelah itu engkau akan meraih kemenangan yang sangat besar
yang engkau akan bersenang-senang di dalam kenikmatan yang abadi.

Saudaraku tercinta! Di sana terdapat segolongan manusia yang
berkeyakinan bahwasanya mereka diciptakan sia-sia belaka dan dibiarkan begitu
saja. Kehidupan mereka hanya diisi dengan senda gurau dan permainan
belaka. Penglihatan mereka tertutup, telinga mereka tuli untuk mendengar
petunjuk, hati mereka terbalik, mata mereka buta dan nurani mereka tak
berfungsi sama sekali. Engkau akan mendapati di majlis-majlis mereka segala
sesuatu kecuali Al-Qur’an dan untaian dzikir kepada Allah subhanahu
wata’ala.

Mereka meninggalkan Allah subhanahu wata’ala, padahal mereka adalah
hamba-hamba-Nya yang berada di hadapan dan genggaman-Nya. Allah subhanahu
wata’ala memanggil mereka namun mereka tidak memenuhi panggilan-Nya,
mereka lebih mendahulukan panggilan syetan, keinginan, dan hawa nafsu
mereka. Luar biasa keadaan mereka! Bagaimana mereka memenuhi ajakan syetan
dan meninggalkan seruan Allah subhanahu wata’ala. Ke manakah perginya
akal mereka?!

Allah subhanahu wata’ala telah berfirman, artinya, “Karena sesungguhnya
bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam
dada.” (QS. Al-Hajj:46).

Apa yang dilakukan Allah subhanahu wata’ala terhadap mereka sehingga
mereka mendurhakai dan tidak menaati-Nya?! Bukankah Allah subhanahu
wata’ala telah menciptakan mereka? Bukankah Dia telah memberi rizki kepada
mereka? Bukankah Dia telah mencukupi harta mereka dan menyehatkan tubuh
mereka? Apakah Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Lembut dan Maha Mulia
telah menipu mereka?

Apakah mereka tidak takut jikalau kematian mendatangi mereka di saat
sedang bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala? Sebagaimana
firman-Nya, artinya, “Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak
terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali
orang-orang merugi.” (QS. Al-A’raf: 99).

Hindarilah dirimu untuk menjadi bagian dari mereka dan jauhkanlah
dirimu dari mereka. Beramallah untuk sesuatu yang karenanya engkau
diciptakan (beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala). Sesungguhnya -demi
Allah- engkau diciptakan untuk sebuah masalah yang sangat agung. Allah
subhanahu wata’ala berfirman yang artinya, “Tidaklah Aku (Allah) menciptakan
jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”.
(QS.Adz-Dzariyat:56).

Saudaraku tercinta! Wahai engkau yang sedang bermaksiat kepada Allah!!
Kembalilah kepada Tuhanmu dan takutlah akan api neraka. Sesungguhnya di
hadapanmu terbentang berbagai kesulitan. Sesungguhnya di hadapanmu
terbentang dua pilihan, kehidupan penuh nikmat atau lingkungan hidup penuh
siksa. Sesungguhnya di hadapanmu terhampar kalajengking-kalajengking,
ular-ular dan masalah-masalah sukar dan pelik. Demi Allah yang tidak ada
tuhan yang berhak untuk diibadahi kecuali Dia, tawa tidak dapat memberi
manfaat kepadamu. Nyanyian-nyanyian, film-film, dan perkara-perkara
hina tidak bisa memberi manfaat kepadamu. Aneka surat kabar dan
majalah-majalah tidak bisa memberi manfaat kepadamu. Isteri, anak-anak, teman dan
sahabat tidak dapat memberi manfaaat kepadamu. Harta yang melimpah
tidak bisa memberi manfaat kepadamu. Tidak ada yang bisa memberi manfaat
kepadamu kecuali kebaikan-kebaikan dan amal-amal shalih yang engkau
kerjakan selama hidupmu di dunia.

Saudaraku tercinta! Demi Allah tidaklah aku menulis perkataan ini
melainkan karena kekhawatiranku kepadamu. Aku khawatir wajah putihmu ini
berubah menjadi hitam pada hari Kiamat. Aku khawatir wajah bercahayamu ini
akan berubah menjadi gelap. Aku khawatir tubuh yang sehat ini akan
dilalap oleh api neraka. Maka bersegeralah -semoga Allah subhanahu wata’ala
memberi taufik kepadamu- untuk membebaskan dirimu dari api neraka.
Umumkanlah ia sebagai bentuk taubat yang sebenarnya dari sekarang. Yakinlah
bahwasanya selamanya engkau tidak akan menyesal melakukan itu. Bahkan
sebalikya -dengan izin Allah subhanahu wata’ala- engkau akan merasakan
kebahagiaan. Hindarilah keraguan atau mengakhirkan semua itu.
Sesungguhnya aku -demi Allah- menjadi penasihat bagimu.

Disarikan dari, “Akhil Habib Qif”, Ibrahim Al-Ghamidy
—————————–
(Zainal Abidin ) –Percikan-iman.com-

Read Full Post »

Haji Perpisahan

Haji Pertama Dan Terakhir Bagi Nabi

Oleh: RE Nadalsyah

Hari ini menjelang akhir tahun ke-10 Hijriah, lebih 14 abad silam. Panas dan udara gurun yang kering tetap tidak berubah, sementara kehidupan Nabi yang sangat produktif itu makin mendekati garis finish. Sebelum berpisah, Nabi mengundang umatnya di Madinah untuk melaksanakan ibadah haji ke Makkah secara sempurna, tanpa seorang musyrik pun terlibat di dalamnya. Ziarah ke Rumah Tuhan dan daerah sekitarnya, yang kemudian dipraktikkan selamanya di kemudian hari. Ziarah yang murni islami ini dimaksudkan pula sebagai ‘Haji Perpisahan’ atau haji al-wada’, menandai hasil akhir karir gemilang yang tidak ada duanya dari makhluk Tuhan paling sempurna.

Undangan Nabi mendapat respon luar biasa. Inilah haji pertama Nabi bersama-sama muslim. Untuk pertama kali pula sejarah mencatat pemandangan lebih 100.000 manusia, laki-laki dan perempuan, berkumpul di Madinah menyertai Nabi, sekaligus haji terakhir sebelum beliau kembali ke pangkuan Al-Khaliq. Pada 25 Dzulkaidah rombongan berangkat. Setelah menginap satu malam di Dhul-Hulaifa, esoknya Nabi mengenakan pakaian ihram diikuti seluruh anggota rombongan. Mereka berjalan bersama-sama dengan pakaian putih yang sederhana, perlambang kesederhanaan dan persamaan yang amat jelas.

Dengan seluruh kalbu Muhammad menengadahkan wajahnya kepada Tuhan sembari mengucapkan takbiah sebagai tanda syukur atas nikmat karunia Nya diikuti kaum muslimin di belakangnya: “Labbaika Allahumma labbaika, labbaika la syarika laka labbaika. Alhamdulillah wa-ni’matu wa’sysyukru laka labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika.” (Aku datang memenuhi panggilan Mu, Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan Mu. Tiada sekutu bagi Mu …. Labbaik, aku datang memenuhi panggilan Mu. Segala puji, kenikmatan dan syukur, hanya bagi Mu …. Labbaik, aku datang memenuhi panggilan Mu).

Di bawah sengatan matahari gurun, di padang pasir yang tidak dikenal banyak umat, bergerak arus manusia dan kafilah menuju satu titik. Mereka menyambut panggilan Nabi Ibrahim beberapa abad silam. Tidak ada peristiwa yang membedakan seseorang dengan lainnya. Tidak pula perbedaan ras, bangsa atau warna kulit. Sesungguhnya, inilah pemandangan paling indah tentang asas persamaan bahwa semua makhluk sama di depan Tuhan. Yang membedakan, hanya kadar iman dan takwa seseorang.

Mereka memenuhi seruan Nabi untuk saling mengenal, merajut kasih sayang, keikhlasan hati dan semangat ukhuwah islamiah. Dengan penuh kesabaran pula mereka menanti tibanya Haji Akbar, dan rasa rindu bertemu Baitullah, dengan jantung berdegup keras. Sementara dunia dan sejarah menatap kagum dan heran. Dan, sejarah ibarat kakak tua yang selalu terbelenggu argumentasinya. Ia sang pembual yang membacakan Hikayat Fir’aun, Kisra, kaisar dan aristokrat yang culas. Ia penjilat dan pembohong besar yang bercerita tentang tahta, pertempuran atau perdamaian, tanpa secuil pun di kuran usianya yang panjang itu, memihak kepada kaum miskin, papa dan tertindas. Karena itu sejarah melihat takjub kepada Nabi dan orang yang bersamanya, bertaut rasa kagum dan heran.

Haji Perpisahan

Pada 4 Dzulhijjah rombongan masuk Makkah, selanjutnya menuju Ka’bah. Muhammad datang kepada Tuhannya di hari-hari akhir hayatnya, di Maqam Ibrahim, bapak agama langit dalam sejarah umat manusia, untuk mempertanggungjawabkan hasil karya dan perjuangannya yang penuh dinamika. Dihadapan Nya pula dia meminta kesaksian kepada umat manusia bahwa dia tidak pernah berhenti bekerja, dan tak kenal lelah dalam berjuang menuntaskan risalah Nya. Dia juga memperlihatkan kepada Ibrahim, karya besar yang diawalinya, kini diantarkannya hingga batas tersebut dan digerakkannya sesuai pedoman yang digariskan.

Sesudah tawaf, Nabi shalat dua rakaat di Maqam Ibrahim, lalu mencium Hajar Aswad untuk kedua kalinya. Kemudian menghadapkan wajahnya ke arah Shafa, lalu lari-lari kecil antara Shafa dan Marwah. Di situ dimaklumatkan barangsiapa yang tidak membawa hadyu (ternak kurban untuk disembelih) hendaknya mengakhiri ihramnya (tahallul) dan menjadikan ibadah itu sebagai umrah. Awalnya maklumat itu dilaksanakan tanpa sepenuh hati. Nabi marah, sampai-sampai beliau kembali ke kemahnya. “Bagaimana aku tidak marah, aku menyuruh mereka melakukan sesuatu, tapi mereka tidak menaatiku,” jawab Nabi atas pertanyaan Aisyah. Namun akhirnya seluruh rombongan menyesali perbuatannya. Mereka segera ber-tahallul seperti yang dilakukan Fathimah putri Nabi, dan semua istrinya.

Hari ke-8 Zulhijjah yaitu Hari Tarwiyah, beliau pergi ke Mina bersama rombongannya. Selama satu hari melakukan shalat dan tinggal bersama kaumnya. Malamnya di saat sang fajar menyembul setelah Shalat Subuh, dengan menunggang untanya al-Qashwa’ tatkala matahari mulai tampak, beliau menuju Gunung Arafat. Dalam perjalanan yang diikuti ribuan muslim yang mengucapkan talbiah dan bertakbir, Nabi mendengarkan dan membiarkan mereka dalam kekhusyuan.

Ketika sampai di perut wadi di bilangan Urana, masih di atas unta, Nabi berdiri dan berkhutbah di depan lebih 100.000 orang yang mengelilinginya. Itulah peristiwa bersejarah yang dikenal dengan julukan ‘haji Perpisahan’. Peristiwa yang begitu mengesankan dan indah, serta merupakan khulasha (kesimpulan) ajaran Islam dan sunnahnya yang ia wariskan kepada masyarakat Islam. Khutbah berlangsung di bawah panas matahari yang mampu membakar ubun-ubun, dan didengarkan dengan khidmat. Kepada Umayyah bin Rabi’ah bin Khalaf diminta mengulang keras setiap kalimat yang beliau sampaikan, agar didengar di tempat yang jauh.

Nabi antara lain bersabda: “Katakanlah kepada mereka bahwa Rasulullah bersabda, tahukah kalian bulan apa ini?” Mereka serentak menjawab: “Bulan Haram!” Kemudian Nabi melanjutkan: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan darah dan hartamu hingga kamu sekalian menemui Tuhanmu sebagaimana keharaman bulan kalian ini.” Nabi melanjutkan: “Ayyuhan-Nas, tahukah kalian hari apa ini?” “Hari ini Haji Akbar!” jawab mereka serempak. Seterusnya beliau berkhutbah: “Wahai manusia, camkan baik-baik perkataanku. Sebab, aku tidak tahu, mungkin aku tidak lagi akan bertemu kalian sesudah tahun ini, di tempat ini, untuk selama-lamanya.”

“Bahwasanya, darah, harta benda dan kehormatanmu adalah suci dan tidak dapat diganggu gugat, seperti sucinya hari ini, sehingga kamu sekalian bertemu dengan Tuhanmu. Sesungguhnya engkau sekalian akan bertemu dengan Tuhanmu, dan Dia akan bertanya kepadamu tentang segala perbuatanmu. Ingatlah, sudah aku sampaikan risalah ini. Wahai Allah, jadilah saksi atas peristiwa ini.”

Tentang dosa Nabi berkata: “Tak ada seorang pun terlibat suatu kejahatan dan bertanggung jawab atasnya kecuali dirinya sendiri. Tidaklah seorang anak menanggung kejahatan yang dilakukan anaknya. Ingatlah, wahai manusia, dengarkan kata-kataku dan pahamilah. Ketahuilah bahwa seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dan orang-orang muslim adalah suatu persaudaraan.” Selanjutnya beliau menekankan: “Ingatlah bahwa seluruh ajaran masa jahiliah telah hancur di bawah kedua kakiku ….”

Beliau juga berbicara tentang penghapusan riba, wanita dan hak istri, larangan mengizinkan siapa pun untuk menginjak-injak tempat tidurmu, atau memasuki rumahmu tanpa perkenanmu. Juga tentang kedudukan anak sebagai milik suami yang sah, serta tidak hak apa pun bagi penzina. “Wahai manusia, Jibril telah datang kepadaku, menyampaikan salam dari Tuhanku dan berkata: Sesunggunya Allah Yang Maha besar dan Maha Kuasa telah memberi ampunan bagi orang-orang yang berkumpul di Padang Arafah dan Rumah Suci (Ka’bah) dari kesalahan-kesalahan mereka.” Tiba-tiba Umar berdiri dan berseru: “Wahai Rasulullah, adakah ampunan itu hanya bagi kita?” Nabi menjawab: “Ampunan itu hanya bagi kamu sekalian dan mereka yang akan datang, setelah kamu, hingga pada Hari Kebangkitan.”

Di bagian akhir khutbahnya Nabi berkata: “Sesungguhnya hal itu telah aku sampaikan kepadamu, dan aku telah meninggalkan untukmu sekalian sesuatu yang bila kamu sekalian berteguh-teguh padanya niscaya kamu tidak tersesat selama-lamanya: Kitabullah dan Sunnah Nabinya.”

Allahumma, ya Allah, bukankah aku telah menyampaikannya kepada mereka?” Pertanyaan itu diulang Rabi’ah dengan suara keras. Maka secara serempak 100.000 lebih manusia yang tercekam keharuan itu menjawab: “Benar, engkau telah menyampaikan.” Sekali lagi Nabi menatap langit lalu berkata: “Allahumma, ya Allah, saksikanlah!”

Berakhirlah Haji Wada’.Kemudian Nabi meninggalkan Makkah menuju Madinah. Beliau tinggalkan pesan-pesan yang sangat penting kelak tetap hidup sepanjang sejarah. Esensi khutbah Nabi yang takkan terlupakan, yang senantiasa bergema dan menghunjang ke seluruh hati sanubari dan jiwa umat Islam yang telah memberikan nama ‘al-Islam’ kepada agama Tauhid yang dibawa Muhammad bin Abdullah ialah: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan nikmat Ku, dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agamamu.” (QS al-Maaidah: 3).

Nabi telah menyelesaikan akhir karya besarnya, yang gigantik, risalahnya yang penting bagi dunia dan umat manusia. Tokoh terbesar sepanjang sejarah itu membaringkan kepalanya untuk selama-lamanya. Beliau wafat di tengah pendukungnya yang setia, penuh ketenteraman dan dengan ruh yang penuh taufiq untuk bertemu Kekasihnya dalam desah nafas terakhir. Ya, keharibaan Yang Maha Tinggi di surga. Ar-Rafiq’l a’la minal jannah.

* Wartawan tinggal di Banjarmasin

 

Read Full Post »