Feeds:
Posts
Comments

Archive for April 20th, 2007

Islam

Tak Punya Nasionalisme?
Oleh : Redaksi 19 Apr 2007 – 6:38 pm

Wido Q Supraha.*
Partai-partai yang mengkalim diri ’nasionalis’, selalu melihat Islam tidak nasionalis dan mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Benarkah?

Maret, bulan lalu, 17 partai politik (parpol) memberikan pernyataan bersama dan secara resmi menyatakan berkoalisi untuk mendukung salah satu calon gubernur sebuah propinsi yang juga menjadi ibukota negara Republik Indonesia, meski kemudian 2 parpol menyatakan belum bergabung dengan koalisi tersebut. Deklarasi tersebut secara otomatis menskenariokan 1 parpol yang berideologi Islam berjalan sendirian, dan lebih jauh menjadikannya musuh utama dan terbesar di dalam perhelatan akbar pesta demokrasi yang akan berlangsung di propinsi tersebut.

detik.com, edisi 15 Maret 2006, menurunkan sebuah berita berjudul: ’PDIP DKI: Kita Berhadapan dengan Musuh Ideologis’. Disebutkan dalam berita itu, Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan DPD PDIP DKI Jakarta, Budi Aris Setiadi mengungkapkan, Presiden SBY adalah musuh politik, tapi ada yang lebih dari itu, yaitu musuh ideologis, dan kita sedang berhadapan dengan musuh ideologis.

Masih menurut Budi Aris Setiadi, seperti diberitakan www.detik.com, koalisi antara 17 partai politik adalah koalisi dari partai-partai yang jelas mempertahankan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), karena koalisi tersebut melihat ada ancaman ideologis yang mengancam keutuhan NKRI. PDIP akan tetap mempertahankan aspek pluralisme dan Bhinneka Tunggal Ika, karena yang dihadapi oleh bangsa saat ini adalah terancamnya pluralisme dan Kebhinnekatunggalikaan. Koalisi yang terjadi adalah koalisi Jakarta atau koalisi besar untuk mempertahankan pluralisme, NKRI dan kebhinnekaan, sehingga Koalisi Nasionalisme versus Sektarianisme. Diharapkan dengan koalisi ini semakin jelas siapa yang eksklusif, siapa yang inklusif, terangnya secara bersemangat.

Berita ini sebenarnya merupakan sesuatu yang penting ditinjau dari sudut pemikiran Islam. Jika dilihat dari kacamata politik pada umumnya, menebarkan fitnah atas perjuangan harakatul ishlah adalah sesuatu yang biasa terjadi. Namun, mengeluarkan sebuah pernyataan tanpa ilmu justru akan membuat geli para pendengarnya. Jadi, dalam hal ini berlaku peribahasa ”faqidu-sy-syai’ la yu’ti” (yang kehilangan/kekurangan sesuatu tidak akan [bisa] memberi).

Benarkah Islam tak memikili rasa nasionalisme? Mari kita lihat faktanya!

Islam dan Nasionalisme
Nasionalisme menjadi sebuah isme yang dianut oleh rakyat setiap negara. Islam menjadikan dakwahnya bersifat universal dan integral, dan melihat bahwa tidak ada sisi baik yang ada pada sebuah isme, kecuali telah dirangkum dan diisyaratkan dalam dakwah agama ini. Banyak orang terpesona dan mengaku sebagai seorang nasionalis dengan persepsi nasionalisme yang mereka anut masing-masing.

Jika yang dimaksud nasionalisme oleh para penyerunya adalah mencintai tanah air, akrab dengannya, rindu kepadanya, dan ketertarikan pada hal di sekitarnya, maka sesungguhnya hal ini telah tertanam dalam fitrah manusia di satu sisi, dan di sisi lain diperintahkan oleh Islam.

Adalah sahabat Bilal r.a. yang telah mengorbankan segalanya demi akidah dan agama, adalah juga Bilal yang mengungkap kerinduan pada Mekah melalui bait-bait syair yang lembut dan indah.

Oh angan … mungkinkah semalam saja aku dapat tidur

Di suatu lembah, dan rumput idkhir serta teman di sekitarku

Mungkinkah sehari saja aku mendatangi mata air mijannah

Mungkinkah Syamah dan Thafil nampakkan diri padaku

Rasulullah SAW tatkala mendengar gambaran tentang Mekah dari Ushail, tiba-tiba saja air mata beliau bercucuran, karena rindu padanya. Maka beliau berkata, ”Wahai Ushail, biarkan hati ini tenteram.

Jika yang dimaksud nasionalisme oleh para penyerunya adalah keharusan bekerja serius untuk membebaskan tanah air dari penjajah, mengupayakan kemerdekaannya, serta menanamkan makna kehormatan dan kebebasan dalam jiwa putra-putrinya, maka sesungguhnya kaum Muslimin Indonesia telah memberikan tauladan terbaik di saat perebutan kemerdekaan tanah air Indonesia dari tangan penjajah.

Hampir mayoritas perjuangan bangsa ini dipimpin oleh kaum santri dengan keberanian yang luar biasa, dan ketulusan yang tidak terbeli dengan sesuatu yang lebih murah nilainya.

Jika yang dimaksud nasionalisme oleh para penyerunya adalah memperkuat ikatan antaranggota masyarakat di satu wilayah dan membimbing mereka menemukan cara pemanfaatan kokohnya ikatan untuk kepentingan bersama, maka Islam menganggap itu sebagai kewajiban yang tidak dapat ditawar. Nabi SAW telah bersabda, ”Dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara.

Batasan Nasionalisme
Jika nasionalisme yang mereka anut menganggap batasnya adalah teritorial negara dan batas-batas geografis saja, maka Islam jauh lebih luas daripada itu. Islam melihat seluruh tanah air berhak mendapatkan penghormatan, penghargaan, kecintaan, ketulusan, dan jihad demi kebaikannya.

Islam memperhatikan mereka dan merasakan apa yang mereka rasakan, dan tidak berkehendak terjebak kepada urusan wilayah terbatas dan sempit di muka bumi ini, karena berbagai ikatan akan menjadi renggang, kekuatan melemah, dan musuh menggunakan sebagian untuk menggunakan sebagian yang lain. Ketika sebuah bangsa hendak memperkuat dirinya dengan cara yang merugikan bangsa lain, maka Islam pun tidak akan pernah ridha dengannya.

Jika nasionalisme yang mereka anut hanya memusatkan seluruh perhatian tertuju kepada kemerdekaan negaranya saja, dan kemudikan memfokuskan pada aspek-aspek fisik semata, maka Islam lebih luas daripada itu. Islam membimbing seluruh bangsa dengan cahaya menuju rahmat. Semuanya dilakukan bukan untuk mencari harta, popularitas, kekuasaan atas orang lain, dan bukan pula untuk memperbudak bangsa lain, akan tetapi untuk mencari ridha Allah semata, membahagiakan alam denganNya. Sehingga seluruh dunia mampu bekerjasama membangun dunia yang penuh rahmat dan kasih.

Ketika Budi Aris Setiadi menyebutkan bahwa paham pluralisme harus dipertahankan, maka sesungguhnya ia sedang membicarakan sesuatu yang ia tidak ketahui filosofi perkataannya sendiri.

Pluralisme adalah istilah khusus dalam kajian agama-agama. Sebagai ’terminologi khusus’, istilah ini tidak dapat dimaknai sembarangan, misalnya disamakan dengan makna istilah ’toleransi’, mutual respect, dan lainnya. Sebagai sebuah paham (isme) yang membahas cara pandang terhadap agama-agama yang ada, istilah pluralisme telah menjadi pembahasan panjang di kalangan para ilmuwan dalam studi agama-agama (religious studies).

Adian Husaini, dalam bukunya yang berjudul Pluralisme Agama, dengan tegas menjelaskan secara ilmiah, bahwa Pluralisme adalah Parasit bagi Agama-agama. Ketika kita berbicara pluralisme, maka sesungguhnya ia menjadi ancaman bagi kesucian setiap agama, bukan terbatas kepada Islam belaka.

Pluralisme agama berkembang pesat dalam masyarakat Kristen – Barat disebabkan setidaknya oleh 3 (tiga) hal, yaitu (1) trauma sejarah kekuasaan Gereja di Zaman Pertengahan dan konflik Katolik – Protestan, (2) Problema teologi Kristen, dan (3) Problema Teks Bibel. Ketika gereja berkuasa di zaman pertengahan, para tokohnya telah melakukan banyak kekeliruan dan kekerasan yang akhirnya menimbulkan sikap trauma masyarakat Barat terhadap kebenaran suatu agama tertentu. Problema yang menimpa masyarakat Kristen Barat ini kemudian diadopsi oleh sebagian kalangan Muslim yang ’terpesona’ oleh Barat atau memandang bahwa hanya dengan mengikuti peradaban Baratlah maka kaum Muslim akan maju. Termasuk dalam hal cara pandang terhadap agama-agama lain, banyak yang kemudian menjiplak begitu saja, cara pandang kaum Iklusifis dan Pluralis Kristen dalam memandang agama-agama lain.

Pluralisme berbeda jauh dengan pluralitas, karena pluralitas lebih melihat kepada realitas bahwa bangsa ini adalah plural dan berdiri di atas berbagai perbedaan yang menjadi sebuah sunnatullâh yang tidak dapat dihindari. Banyak masyarakat Indonesia salah kaprah memaknai antara pluralisme dan pluralitas.

Terhadap pluralitas, Islam tidak perlu lagi diajarkan untuk dapat menerima perbedaan dan mensikapi perbedaan agar berbuah rahmat. Fakta sosio-historis telah menjawab segala hipotesa yang menolak pernyataan ini sepanjang peradaban umat Islam.

Sebagai contoh ”pemerintahan madani konstitusional” yang mampu memberikan teladan tentang keadilan dan toleransi yang luar biasa indah bagi pola hubungan bermasyarakat yang pluralistik yang sangat modern. Robert N. Bellah, dalam Beyond Belief, bahkan menyebutkan terlalu modern untuk ukuran zamannya, menjadi umat yang satu (ummah wâhidah) sebagaimana diundangkan Rasulullah saw. dalam teks ”Piagam Madinah”.

Maka, ketika Islam dicitrakan sebagai agama yang menjadi pemecah NKRI, sepertinya kita perlu bertanya kepada sang pencetus gagasan, darimana ia mendapatkan pelajaran seperti itu?. Bukankah NKRI ini dipertaruhkan oleh darah para santri, ulama dan syuhada?

Dr. Anis Malik Thoha, di dalam bukunya, Tren Pluralisme Agama, menegaskan bahwa mengakui eksistensi praktis agama-agama lain yang beragam dan saling berseberangan ini, dalam pandangan Islam, tidak secara otomatis mengakui legalitas dan kebenarannya seperti yang diajarkan oleh kaum pluralis.

Lebih tepatnya, menerima kehendak ontologis Allah swt. dalam menciptakan agama-agama ini sebagai berbeda-beda dan beragam, karena Dia telah menghendaki untuk menciptakan jagad raya dan segala isinya ini dengan bentuk dan kondisi yang demikian balanced.

Dengan demikian, pluralitas adalah unik dan sangat karakteristik, dengan kemampuannya: (i) mengapresiasi secara penuh perbedaan-perbedaan penting dan mendasar antara agama-agama beserta kekhususan-kekhususan masing-masing; (ii) mengidentifikasi berbagai faktor dan sarana yang mengantarkan manusia pada kesempurnaan kemanusiaannya; dan (iii) menamakan segala sesuatu dengan namanya tanpa reduksi atau simplifikasi dengan definisi-definisi baru. Secara tegas dalam ayat Al-Qur’ân ” La ikrâha fi al-din”.

Ideologi sektarian?
Ketika tuduhan berlanjut ke arah kesimpulan yang teramat menyakitkan, sebuah ideologi sektarianisme, maka kalimat ini perlu direvisi sampai ke akar permasalahannya. Secara logika, ketidakmampuan ’kaum nasionalis’ versi 17 parpol menerima ideologi Islam sebagai bagian dari kemajemukan bangsa, menjadi pertanyaan besar, sejauh mana paham nasionalisme mereka akan mampu menyatukan segenap perbedaan mendasar dari setiap komponen bangsa ini?

Apakah setiap perbedaan yang tidak sepaham dengan pendapat mereka akan selalu dianggap sebagai musuh bersama? Jika demikian, rasanya tidak pantas kalau nasionalisme akan mampu menginspirasikan semangat kebangsaan bagi rakyatnya. Yang ada, justru koalisi yang tercipta malah melahirkan semangat neo-eksklusif bukan inklusif, dengan persepsi nasionalisme yang mereka fahami dan artikan sendiri untuk kepentingan besar agenda kelompok elit dan mengabaikan agenda rakyat yang pluralistik.

Menuduh ideologi lain sebagai ideologi sektarian, juga berarti menyebutkan bahwa kelompok mereka anti sektarianisme.

Pertanyaannya, benarkah komponen koalisi tersebut terdiri atas partai-partai yang tidak sektarianisme? Bukankah disana ada partai yang dipimpin oleh seorang bernama Ruyandi Hutasoit, yang oleh The Jakarta Post disebutkan sebagai “president of the Doulos Foundation. Perlu diingat, PDS, di mana pendeta Ruyandi Hutasoit berada jelas-jelas merupakan kelompok misionaris Kristen yang fanatik?.

Adalah menarik, bahwa dalam partainya, PDS, misi Kristen itu dengan halus disembunyikan. Kitapun perlu menelaah lebih jauh, apakah PDI-Perjuangan di saat berkuasa telah benar-benar memberikan teladan kebangsaan, nasionalisme, dan patriotisme yang tinggi dan baik bagi sejarah bangsa ini?

Akhir kata, penulis ingin mengutip Prof. Dr. Taufiq Yusuf al-Wa’iy di dalam bukunya Pemikiran Politik Kontemporer. Dijelaskan, bahwa sesungguhnya, Islam telah memerintahkan agar setiap orang bekerja demi kebajikan negerinya, untuk mempersembahkan pengabdiannya, untuk memberi kebajikan sebanyak yang dia mampu kepada masyarakat yang ia hidup di tengahnya, dan untuk mempersembahkan hal itu mulai dari yang terdekat, kerabat, famili, dan tetangga, hingga zakat tidak boleh didistribusikan lebih jauh dari jarak shalat qashar –kecuali terpaksa– karena memperhatikan yang lebih dekat terlebih dahulu.

Watak Muslim sejati adalah selalu mencari peluang untuk berbuat baik dan berbakti kepada tanah air tempat ia tumbuh. Maka Muslim yang baik, selalu besar sumbangsihyna bagi bangsa, sebagaimana Allah telah mewajibkan atas mereka. Ia adalah sikap nasionalis Dengan demikian, seorang Muslim telah mendapatkan dogma untuk menjadi orang-orang yang paling peduli akan kebaikan tanah air dan paling siap berkorban bagi masyarakatnya, mencintai tanah airnya dan senantiasa berusaha untuk mempersatukan kebangsaannya dengan makna seperti itu. Mereka tidak mendapati keberatan atas setiap orang yang berjuang secara tulus untuk-negerinya dan berjihad demi memperjuangkan bangsanya, dan bercita-cita agar tanah airnya dapat meraih segenap kejayaan dan kebanggaan.

Jika dalam kemerdakaan, jutaan darah umat Islam telah tumpah ditambah sikap hidupnya yang senantiasa akan disumbangkan demi kemaslahatan bangsa dan Negara, lantas apa lagi yang kurang? [hidayatullah]

* Penulis adalah Alumnus Program Kajian Wilayah Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia

Advertisements

Read Full Post »

Shalat Khusyu

Mengapa shalat menjadi rutinitas yang membosankan dan dilakukan hanya untuk memenuhi kewajiban? karena di bawah sadar kita, selama ini ada perasaan tak suka melakukan shalat. Rasa tak suka itu dikarenakan kita tak merasakan nikmatnya shalatnya, sebab tidak khusyu dalam shalat.

Untuk mengecek rasa tak suka ini mudah saja. Tanyakan ke diri, seandainya, shalat lima waktu tidak diwajibkan oleh syariat, apakah kita akan tetap shalat? Ada lagi perintah untuk tahajjud, tapi tidak diwajibkan, bergegaskah kita untuk shalat malam itu? padahal dijanjikan jika melakukan tahajjud akan diberi kemuliaan oleh Allah. Begitu pula saat mendengar azan, di bawah sadar kita selalu ”berkata” (meski kadang tak diucapkan) ”Ya… Azan…” ”Ini pertanda di bawah sadar, kita tak suka shalat,” ujar Abu Sangkan.

Perasaan bawah sadar tak suka shalat itu dikarenakan kita tak  pernah mengalami nikmatnya shalat. Nikmat shalat didapat dari kekhusyukan.

Hal ini disebabkan, ada ”doktrin” yang selalu dan sejak lama masuk ke file otak kita bahwa shalat khusyu itu sulit. Sekian lama file tu terpendam. Sehingga ”doktrin” itu menjadi suatu keniscayaan di alam bawah sadar (mindset). Sama halnya ketika mengatakan diri kita bodoh, tak bisa, maka akan benar-benar menjadi bodohlah dan tak bisalah kita.

Untuk membuktikan kata-kata (”doktrin”) sangat berpengaruh, cobalah ukur panjang hasta tangan kiri anda (mulai dari siku ke ujung jari tengah) dengan menggunakan jengkal tangan kanan. Panjangnya lebih kurang dua jengkal. Lalu pejamkan mata, rentang tangan kiri, perintahkan tangan kiri anda menjadi lebih panjang. Sebutkan panjang… panjang… semakin panjang. Setelah terasa semakin panjang. Buka mata. Lalu ukur kembali. Pasti ukurannya lebih panjang dari ukuran semula. Lakukan sebaliknya, perintahkan untuk menjadi lebih pendek.

”Nah, anda bayangkan, sekian tahun otak kita dijejali perkataan ”bahwa shalat khusyu’ itu sulit”, maka sulitlah untuk menjadi khusyu’ itu,” tambah Ustadz Abu.

Karena itu ubah  mindset menjadi ”shalat khusyu’ i tu mudah”. Dan memang mudah, buktinya nabi dan para sahabat, para ulama dan masih banyak lagi orang-orang yang bisa meraih kekhusyukan. Para peserta pelatihan shalat khusyu pun banyak yang mengaku lebih bisa khusyu (bisa dilihat di milist
www.dzikrullah.com). Bukankah mereka juga manusia yang sama seperti kita, diciptakan dan diberikan fasilitas yang sama oleh Allah.

Dalam QS Albaqaroh 45-46 disebutkan orang yang khusyu itu adalah orang yang senantiasa yakin akan pertemuannya dengan Allah dan mereka akan kembali kepada-Nya. Sayid Qutb dalam Tafsir Fi Zhilalil Quran menyebutkan shalat adalah nyambung (shilatun) dan pertemuan (liqo’) antara seorang hamba dan Tuhannya. Rasa sambung atau hubungan itu dapat menguatkan hati, hubungan yang dirasakan ruh, hubungan yang dengannya jiwa mendapat bekal di dalam menghadapi realitas kehidupan dunia. Dalam QS AlFath (48):4 disebutkan Dia (Allah) yang menurunkan ketenangan ke dalam h ati orang beriman.

Shalat memiliki efek terhadap fisik dan psikis (kejiwaan). Secara fisik, dalam sebuah hadits disebutkan, shalat adalah istirahat  bagi tubuh. Dalam gerakannya, shalat menuntut streching (peregangan) dan memaksimalisasi aliran oksigen dan darah ke otak (saat sujud). Terpenuhinya oksigen dan darah yang membawa berbagai nutrisi ke otak akan membuat seluruh fisik dalam kondisi fit.

Dari sisi kejiwaan, shalat idealnya dapat menenangkan jiwa (kedamaian, ketenangan), sehingga tak emosional, jiwa yang damai, tenang melahirkan prilaku yang juga positif seperti disebutkan ”shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar”. Nah, shalat seperti apa yang dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar itu? Yaitu, shalat yang dilaksanakan dengan menghadirkan hati dalam setiap gerakan dan bacaannya. Bacaan shalat tidak sekadar dibaca tapi dihayati. Sehingga terjadi dialog serta rasa sambung kepada Allah. Cara untuk memunculkan rasa sambung itu adalah dengan menghadirkan kesadaran sang ”aku” (ruh-jiwa) kepada Allah saat shalat.

Menghadirkan kesadaran itulah yang dilatih dalam Pelatihan Shalat Khusyu’ oleh Abu Sangkan.

Menghadirkan sang aku (jiwa) dalam shalat dimulai dari mengetahui siapa sesungguhnya ”aku”. Aku bukanlah fisik. Tubuhku bukan ”aku”, sama seperti  ketika menyebutkan ”rumahku” berarti rumahku bukan ”aku”. Karena rumah dan aku adalah dua wujud yang berbeda dan terpisah. Begitu pula tubuhku, tanganku, kepalaku. Semuanya terpisah dengan aku. Jadi tubuh kita yang
bergerak bukan ”aku”-nya kita. ”Aku” adalah jiwa. Allah berfirman ”wahai jiwa yang tenang kembalilah ke Rab-mu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya”. (AlFajr (89) 27-28).

Jadi, sesungguhnya saat shalat jiwa (aku) kitalah yang pergi menghadap Allah. Menghadirkan ”sang aku” saat shalat menghadap Allah itulah yang disebutkan dengan menghadirkan ”sang aku”. Sang aku secara fitrah senantiasa akan tunduk dan patuh kepada Allah, karena sang aku tercipta dari tiupan ruh Tuhan (min ruhi,   ari ruh-Ku).

Menghadirkan sang aku merupakan kesadaran sang aku. Kesadaran ini harus tetap dijaga selama shalat. Bahkan kesadaran ini nantinya akan tetap terjaga dalam keseharian, sadar bahwa sang aku secara fitrah taat dan tunduk kepada Allah. Sehingga kesadaran ini akan menjadikan shalat bisa mencegah perbuatan buruk dan mungkar.

Jadi, untuk menjadi khusyu, pertama, ubah mindset dari mengganggap khusyu itu sulit menjadi khusyu itu mudah. Jangan gunakan persepsi dalam shalat, shalat dimulai dengan ketundukan hati. Selama masih menggunakan persepsi, selama itulah kita menggunakan pikiran. Mulailah dengan hati, hatilah yang kemudian akan mempengaruhi otak dan fisik.

Seperti disebut di atas, orang khusyu adalah orang yang senantiasa yakin bertemu Allah. Syarat kedua, yakin. Jika kita masih sulit untuk yakin. Maka berdoalah. ”Ya, Allah turunkan keyakinan kepadaku” dan perintahkan ke otak kita dengan sepenuh hati. ”Aku yakin ya Allah, yakin ya Allah” terus begitu. Jadi,
untuk yakin tak perlu dibuat-buat. Pasrah saja kepada Allah.

Nah, pasrah inilah syarat ketiga untuk khusyu. Seperti pasrahnya saat anda akan tidur. Bukankan saat anda akan tidur tidak berpersepsi? tidak pakai ilmu bagaimana tidur. Tidur ya tidur saja. Tak perlu ilmu tidur, tidak perlu dipikirkan. Ketika dipikirkan justru tak akan bisa tidur. Jadi, pasrah saja.

Dalam pengertian lain, pasrah adalah rela, relakan sang aku bertemu Allah. Bagaimana pasrah dan rela itu tidak usah dipikirkan, pasrah begitu saja. Salah satu jalan untuk rela dengan mengakui segala kelemahan/kesalahan lalu bermohon. Misalnya, katakan ”Ya Allah ini hambamu yang berdosa datang menghadap, tundukkan hatiku, turunkan ketenangan di hatiku,” lalu panggil Allah dengan penuh pengharapan, ”ya Allah, ya Allah”. Ikuti saja apa yang dirasakan. Sehingga terasa di hati kita suatu perasaan yakin, tenang dan damai. Keyakinan dan ketengangan itu merupakan suatu pengalaman yang diturunkan Allah. Lalu muncul pertanyaan, khusyu itu seperti apa? Abu Sangkan mengatakan bahwa khusyu tidak dapat didefinisikan, karena khusyu adalah sesuatu yang dirasakan. Bisa jadi khusyu itu adalah perasaan tenang, damai di hati. Perasaan itu Allah yang menurunkan ”Sesuatu yang given (diberi),” jelas Abu Sangkan.

Orang-orang yang diberi kekhusukan itu adalah orang-orang yang bersungguh-sungguh.Dalam QS AlFath (48):4 disebutkan ”Dia (Allah) yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang beriman.”  Indikator khusyu itu bisa juga ditunjukkan dengan sensani seperti menangis dan tersungkur sujud. Dalam QS Maryam (29):58 disebutkan, apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. Atau bisa juga dirasakan secara fisikal tubuh dan jiwa menjadi tenang (Az-zumar:23). Air mata yang keluar bukan karena dibuat-buat menangis tapi benar-benar keluar begitu saja. Kalau begitu khusyu harus nangis? Tidak juga, nangis hanya sensasi saja.

Sekali lagi, khusyu tak dapat didefinisikan, karena ia merupakan kepahaman, sebagaimana pahamnya anak-anak ketika ia disayangi. Bukankah kita sebagai orang dewasa tak pernah mendefinisikan apa itu sayang kepada anak. Tapi sang anak mengerti (paham) apa itu kasih sayang.

Kepahaman merupakan pengalaman yang tidak berupa kata-kata, tapi cukup dirasa dan sangat jelas dirasakan. Sama seperti pahamnya seekor anak kucing yang baru lahir, dengan sendirinya ia paham dimana tempat ia harus menyusui dari ibunya. Padahal saat lahir, sang anak kucing belum diajarkan  apa-apa tapi ia paham. Sama juga dengan pahamnya seorang bayi menyusui ke ibunya. Bukankah sang ibu tak pernah mengajarkan dengan kata-kata cara menyedot puting susu. Sekali lagi, khusyu itu adalah kepahaman. Jadi, kusyu itu apa? Ya.. yang merasakannya paham, tapi tak dapat didefinisikan, karena definisi sering kali mereduksi pengertian.

Setelah yakin bertemu Allah, maka shalat menjadi wahana dialog antara hamba dan Allah.(lihat pengertian Sayid Qutb di atas: shalat merupakan rasa sambung (shilatun) dan pertemuan (liqo’) antara hamba dan Tuhannya. Latihan Shilatun (nyambung) dan Shalat

Secara praktis, para peserta dilatih untuk melakukan shilatun (nyambung) antara sang aku dengan Allah. Anda pun bisa melakukannya. Mulailah duduk dengan posisi yang paling rileks. Misalnya duduk dalam posisi seperti tasyahud awal tapi ujung kaki dibiarkan lurus ke belakang. Duduk dengan rileks. Lalu tenangkan hati. Menyengajakan dengan memulai membaca basmalah, bersyahadat, memohon ampun (tidak sekadar membaca istighfar, dan dihayati,
mengadu, mengaku salah dan berharap). Sengajakan sang aku pergi menuju Allah. Rasakan sang aku semakin dekat dengan Allah. Kian lama kian dekat. Rasakan terus kedekatan itu. Sehingga terasa hati menjadi sangat tenang. Kemudian katakan dengan hati. ”Ya Allah, aku yakin kepada Mu, ampuni aku, tundukkan hatiku, patuhkan aku, ikhlaskan aku” begitu terus, katakan dengan sungguh-sunguh. Lakukan berulang-ulang sembari kita tundukkan hati, makin lama kian dalam menundukkannya. Secara otomatis tubuh kita akan ikut tunduk hingga sujud. Jangan ditahan, ikuti saja maunya tubuh. Terus saja kita panggil Allah. ”Ya, Allah, Ya Allah,” terus bermohon untuk ditundukkan hati, diikhlaskan sembari kita dekatkan hati ke Allah. Rasakan terus. Begitu berulang. Semakin dekat, semakin tenang dan nikmat rasanya sehingga tidak ingin beranjak dari
posisi dan rasa tenang tersebut.

Saat hati sudah tunduk, dekat dengan Allah, rasa sambung itu bisa juga kita tularkan kepada orang-orang terdekat, seperti anak, suami isteri, ayah bunda atau siapapun. Meskipun mereka  jauh secara fisik.

Untuk shalat juga dilatih, katakan pada otak aku bisa khusyu’, bisa dan bisa. Sebagaimana anda memerintah otak anda agar tangan menjadi lebih panjang. Kalau tak juga merasa bisa, mohonlah pada Allah. seperti pada latihan shilatun di atas. Mohon ditundukkan hati, dikhusyukan. Sengajakan jiwa untuk pergi menghadap Allah yang Maha Luas. Luas tanpa batas. Allahu Al-Wasi’ (maha luas). Yang Maha Luas itu adalah Allahu Akbar (Allah Maha Besar), bertakbirlah. Saat mengatakan Allah Maha Besar, maka tanamkan bahwa hanya Allahlah yang besar, diri kita ini tidak ada apa-apa, jabatan yang melekat, harta yang dipunyai tak ada apa-apa, semuanya milik dan hanya dititipkan oleh Allah. La ilaha illallah (Tak ada apapun kecuali Allah). Kita dalam posisi kosong (nol, zero). Ketika kesadaran ini ada, maka otomatis perasaan tenang itu muncul. Lalu lanjutkan dengan membaca dan menghayati sepenuh jiwa doa iftitah, alfatihah, surat pendek.

Ruku’ dengan posisi yang benar, ketika tubuh rukuk biarkan tulang belakang berada pada posisinya. Ketika tubuh ruku’, sang aku sudah sujud ke bawah, sehingga terasa ada tarikan gravitasi. Tulang ekor akan terasa tertarik, syaraf-syarat mulai ujung kaki pun terasa tertarik. Posisi inilah yang disebut tuma’ninah. Lalu baca dan sucikan Allah dengan membaca bacaan ruku’.

Lalu berdiri i’tidal dan kembali puji Allah. Dengan memuji bahwa segala puji hanya milik-Nya. Diri kita tak layak dipuji. Karena memang tak punya kuasa dan daya apa-apa. Kemudian sujud dengan merendahkan hati serendah-rendahnya, makin lama makin rendah, makin dekat rasanya dengan Allah. Nikmati kedekatan tersebut. Sucikan Allah yang Maha Tinggi itu.

Lalu duduk iftirasy awal, berdialoglah dengan Allah, mohon ampun (rabbirgfirli). Tunggu seolah ada jawaban dari Allah. Mohon diberi rahmat (warhamni). Tunggu lagi. Mohon dicukupkan. Begitu seterusnya hingga selesai doa seperti yang kita baca saat iftirasy awal.

Saat Iftirasy akhir begitu juga, beri penghormatan dengan merendahkan diri di hada pan Allah. Sampaikan salam kepada Nabi, orang-orang shaleh (bacaan saat tahiyat). Dalami maknanya, rasakan kedekatan dan dialog tersebut.

Nah, kalau ini dilakukan, bisa-bisa shalat dua rakat hingga setengah jam atau lebih.

Laporan IDRIS AHMAD – Pekanbaru

Read Full Post »

Olahraga

di Tempat Umum Bagi Muslimah

Jumat, 20 Apr 07 04:42 WIB

Assalamu ‘alaikum wr wb.

Saya ingin menanyakan bagaimana hukumnya seorang muslimah olah raga di tempat umum? Saat ini sering diadakan senam bersama dengan menggunakan musik yang Islami dan menggugah semangat kita dan tempatnya terpisah antara laki laki dan wanita. Apakah boleh seorang muslimah ikut?

Bolehkah muslimah memakai baju olahraga (celana panjang dan atasan kaus selutut, longgar) untuk berolahraga di luar ruangan.

Terima kasih

Wassalamu’alaikum

Lis Mintarti
lis_mintarti at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Permasalahan seperti ini memang seringkali mengundang banyak beda pandangan, mulai dari yang agak longgar hingga yang sangat ketat.

Opini Pertama

Opini ini lahir dari para ulama yang berpandangan agak longgar. Mereka biasanya berangkat dari tidak adanya pelanggaran yang fatal atas hal itu. Sebab para wanita sudah mengenakan busana yang menutup aurat, tempatnya sudah terpisah antara laki-laki dan perempuan, sehingga tidak akan ada kekhawatiran untuk timbulnya fitnah.

Mereka memandang, bahwa haram itu harus dikembalikan kepada nash-nash yang sharih dan qath’i. Bila terdapat nash-nash yang tegas melarang, bukan merupakan perluasan dari inti masalah, serta nash itu mencapai derajat yang kuat dalam periwayatan, barulah kita bisa mengeluarkan vonis haram atas sesuatu.

Padahal, kita tidak menemukan satu ayat atau hadits yang bisa dijadikan dasar sebagaidalil yang mengharamkan senam massal, termasuk untuk para wanita. Hadits yang mengharamkan wanita berlenggak-lenggok berpakaian seperti telanjang, tidak bisa dijadikan dasar untuk melarang. Karena senam masal wanita ini tidak dilakukan di hadapan para lelaki.

Rasulullah SAW bersabda:

سيكون في آخر أمتي نساء كاسيات عاريات ، علي رؤوسهن كأسنمة البخت ، العنوهن فإنهن ملعونات

“Akan ada pada akhir umatku nanti wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, kepala mereka seakan-akan punuk unta, laknatlah mereka karena sesungguhnya mereka adalah wanita-wanita terlaknat!”

Ada dua tafsiran dalam hadits ini tentang maksud berpakaian tapi telanjang. Pertama adalah wanita yang berpakaian tebal akan tetapi ketat sehingga menggambarkan lekuk-lekuk tubuhnya. Kedua adalah wanita yang memakai pakaian lebar akan tetapi transparan sehingga terlihat tubuhnya.

Namun ketika pakaian senam yang nyaris memenuhi gambaran hadits di atas menjadi tidak berlaku, lantaran dikenakan di area yang tidak ada laki-laki.

Namun kalangan ini sepakat mengharamkan bila pakaian seperti ini dikenakan di arena yang terbuka, di mana ada begitu banyak laki-laki ajnabi bisa mengaksesnya.

Opini Kedua

Sedangkan opini lain tentang masalah ini lahir dariberpandangan para ulama yang agak ketat. Mereka mengharamkan, atau setidaknya memakruhkan, tidak menganjurkan dan sejenisnya.

Biasanya hujjah mereka berangkat dari kekhawatiran fitnah yang muncul dari senam masal wanita. Di mana senam ini akan membuat para wanita muslimah berlenggak-lenggok, padahal ada hadits yang melarangnya.

Hujjah mereka untuk melarang senam masal wanita ini juga didasari dari pandangan mereka tentang hukum musik. Mereka biasanya berpandangan bahwa tidak ada konsep musik Islami, sebagaimana tidak ada konsep zina Islami, pelacuran Islami dan sebagainya. Bagi mereka, apapun jenis musiknya dan apapun alatnya, semua haram.

Jadi kita berhadapan dengan beragam cara pandang dari para ulama. Tentu masing-masing datang dengan pandangan subjektifnya. Selain juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan, adat, kebiasaan serta latar belakang lingkungannya.

Namun semua ulama sepakat bahwa olah raga adalah bagian dari perawatan kesehatan. Dan kesehatan itu penting untuk dijaga, bahkan agama mewajibkan kita untuk hidup sehat.

Mereka kurang sepakat dalam masalah senam sebagai bagian dari jenis olah raga yang boleh dikerjakan.Sebagian dari mereka adayang mengharamkan senam, karena dianggap senam itu sama dengan tarian. Dan tarian itu dianggap sesuatu yang haram.

Ditambah lagi senam itu diiringimusik, maka semakin haramlah hukum senam musik itu dalam pandangan mereka.

Semakin parah lagi, karena senam itu dilakukan oleh para wanita muslimah di tempat umum, meski dipisah antar laki-laki dan perempuan, namun tetap saja masih ada kemungkinan orang yang bukan mahram datang melihat.

Maka jangan kaget kalau ada pihak-pihak tertentu dari elemen umat ini yang masih agak keberatan dengan adanya senam masal muslimah. Minimal, kita masih akan bertemu dengan banyak pandangan yang saling berbeda.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »

Bintang

Untuk Melempar Setan?

Jumat, 20 Apr 07 05:48 WIB

Assalammualaikum Wr. Wb,

Saya ingin menanyakan maksud dari ayat ke 5 surat Al-Mulk yang berbunyi sebagai berikut:’

Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. ” (QS. 67:5)

Apakah ayat ini mengetengahkan bintang-bintang dijadikan alat untuk melempar setan secara harfiah? Padahal menurut ilmu pengetahuan modern bintang adalah merupakan benda langit yangsama bentuknya seperti matahari, dan dalam pikiran saya, bagaimana bintang (matahari) dapat dijadikan alat pelempar api?

Ayat ini juga sering dijadikan ledekan oleh orang non muslim yang mengatakan bahwa ayat ini menunjukan kemuskilan di dalam Al-quran karena menyatakan bintang (matahari) dijadikan alat untuk melempar setan.

Mohon pencerahan dari Bapak Ustadz, terima kasih sebelumnya

Wassalammualaikum Wr. Wb

AA

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dari sisi ilmu pengetahuan, tidak ada yang aneh bila seandainya kata mishbah itu kita artikan bintang. Dan bahwa bintang-bintang di langit itu dijadikan sebagai media untukmerajamsetan-setan. Justru karena bintang itu pada hakikatnya adalah matahari, malah pernyataan Al-Quran menjadi benar.

Di zaman dahulu, mungkin orang-orang beranggapan bahwa bintang itu benda-benda kecil yang seperti bintik-bintik kecil. Bahkan tidak tahu kalau bintang itu sangat besar dan merupakan bola gas pijar yang amat panas.

Hari ini justru kita tahu bahwa matahari selalu bergejolak, panasnya mencapai ribuan derajat, dan seringkali terjadi badai matahari (solar storm), di mana ada kekuatan lidah atau percikan api yang terlontar keluar. Lidah api inilah yang sangat masuk akal bila dijadikan perajam setan.

Para ilmuwan mengatakan bahwa badai matahari terbentuk karena terjadinya gejolak di atmosfer matahari yang dipicu terbentuknya bintik hitam (sunspot). Bintik hitam merupakan daerah yang mempunyai suhu lebih rendah dibanding daerah sekitarnya.

Kondisi tersebut memicu lidah api (solar flare) dan coronal mass ejection (CME) atau terlontarnya materi matahari yang juga mencapai bumi. Partikel-partikel berkecepatan tinggi dalam jumlah besar yang sampai ke mana saja, bahkan sampai ke atmosfer bumi menghasilkan aurora dan badai geomagnetik. Inilah yang disebut para astronom solar storm atau badai matahari.

Masih ingat peristiwa badai matahari pada bulan Oktober dan November 2003? Badai ini telah menyebabkan berbagai gangguan di lingkungan bumi, termasuk penampakan aurora yang sangat menakjubkan di kutub, kenaikan intensitas sabuk radiasi yang menyelimuti Bumi, dan bahkan mengganggu kinerja satelit. Badai matahari ini, bulan April lalu, secara mengejutkan telah menerpa pesawat Voyager 2 yang ketika itu berada pada jarak 11, 2 miliar km dari Matahari. Ini adalah bukti betapa dahsyatnya badai matahari tahun lalu itu.

Maka kalau Al-Quran mengatakan bahwa bintang-bintang itu menjadi alat perajam setan, justru sangat masuk akal.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »

Islam

Tak Punya Nasionalisme?
Oleh : Redaksi 19 Apr 2007 – 6:38 pm

Wido Q Supraha.*
Partai-partai yang mengkalim diri ’nasionalis’, selalu melihat Islam tidak nasionalis dan mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Benarkah?

Maret, bulan lalu, 17 partai politik (parpol) memberikan pernyataan bersama dan secara resmi menyatakan berkoalisi untuk mendukung salah satu calon gubernur sebuah propinsi yang juga menjadi ibukota negara Republik Indonesia, meski kemudian 2 parpol menyatakan belum bergabung dengan koalisi tersebut. Deklarasi tersebut secara otomatis menskenariokan 1 parpol yang berideologi Islam berjalan sendirian, dan lebih jauh menjadikannya musuh utama dan terbesar di dalam perhelatan akbar pesta demokrasi yang akan berlangsung di propinsi tersebut.

detik.com, edisi 15 Maret 2006, menurunkan sebuah berita berjudul: ’PDIP DKI: Kita Berhadapan dengan Musuh Ideologis’. Disebutkan dalam berita itu, Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan DPD PDIP DKI Jakarta, Budi Aris Setiadi mengungkapkan, Presiden SBY adalah musuh politik, tapi ada yang lebih dari itu, yaitu musuh ideologis, dan kita sedang berhadapan dengan musuh ideologis.

Masih menurut Budi Aris Setiadi, seperti diberitakan www.detik.com, koalisi antara 17 partai politik adalah koalisi dari partai-partai yang jelas mempertahankan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), karena koalisi tersebut melihat ada ancaman ideologis yang mengancam keutuhan NKRI. PDIP akan tetap mempertahankan aspek pluralisme dan Bhinneka Tunggal Ika, karena yang dihadapi oleh bangsa saat ini adalah terancamnya pluralisme dan Kebhinnekatunggalikaan. Koalisi yang terjadi adalah koalisi Jakarta atau koalisi besar untuk mempertahankan pluralisme, NKRI dan kebhinnekaan, sehingga Koalisi Nasionalisme versus Sektarianisme. Diharapkan dengan koalisi ini semakin jelas siapa yang eksklusif, siapa yang inklusif, terangnya secara bersemangat.

Berita ini sebenarnya merupakan sesuatu yang penting ditinjau dari sudut pemikiran Islam. Jika dilihat dari kacamata politik pada umumnya, menebarkan fitnah atas perjuangan harakatul ishlah adalah sesuatu yang biasa terjadi. Namun, mengeluarkan sebuah pernyataan tanpa ilmu justru akan membuat geli para pendengarnya. Jadi, dalam hal ini berlaku peribahasa ”faqidu-sy-syai’ la yu’ti” (yang kehilangan/kekurangan sesuatu tidak akan [bisa] memberi).

Benarkah Islam tak memikili rasa nasionalisme? Mari kita lihat faktanya!

Islam dan Nasionalisme
Nasionalisme menjadi sebuah isme yang dianut oleh rakyat setiap negara. Islam menjadikan dakwahnya bersifat universal dan integral, dan melihat bahwa tidak ada sisi baik yang ada pada sebuah isme, kecuali telah dirangkum dan diisyaratkan dalam dakwah agama ini. Banyak orang terpesona dan mengaku sebagai seorang nasionalis dengan persepsi nasionalisme yang mereka anut masing-masing.

Jika yang dimaksud nasionalisme oleh para penyerunya adalah mencintai tanah air, akrab dengannya, rindu kepadanya, dan ketertarikan pada hal di sekitarnya, maka sesungguhnya hal ini telah tertanam dalam fitrah manusia di satu sisi, dan di sisi lain diperintahkan oleh Islam.

Adalah sahabat Bilal r.a. yang telah mengorbankan segalanya demi akidah dan agama, adalah juga Bilal yang mengungkap kerinduan pada Mekah melalui bait-bait syair yang lembut dan indah.

Oh angan … mungkinkah semalam saja aku dapat tidur

Di suatu lembah, dan rumput idkhir serta teman di sekitarku

Mungkinkah sehari saja aku mendatangi mata air mijannah

Mungkinkah Syamah dan Thafil nampakkan diri padaku

Rasulullah SAW tatkala mendengar gambaran tentang Mekah dari Ushail, tiba-tiba saja air mata beliau bercucuran, karena rindu padanya. Maka beliau berkata, ”Wahai Ushail, biarkan hati ini tenteram.

Jika yang dimaksud nasionalisme oleh para penyerunya adalah keharusan bekerja serius untuk membebaskan tanah air dari penjajah, mengupayakan kemerdekaannya, serta menanamkan makna kehormatan dan kebebasan dalam jiwa putra-putrinya, maka sesungguhnya kaum Muslimin Indonesia telah memberikan tauladan terbaik di saat perebutan kemerdekaan tanah air Indonesia dari tangan penjajah.

Hampir mayoritas perjuangan bangsa ini dipimpin oleh kaum santri dengan keberanian yang luar biasa, dan ketulusan yang tidak terbeli dengan sesuatu yang lebih murah nilainya.

Jika yang dimaksud nasionalisme oleh para penyerunya adalah memperkuat ikatan antaranggota masyarakat di satu wilayah dan membimbing mereka menemukan cara pemanfaatan kokohnya ikatan untuk kepentingan bersama, maka Islam menganggap itu sebagai kewajiban yang tidak dapat ditawar. Nabi SAW telah bersabda, ”Dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara.

Batasan Nasionalisme
Jika nasionalisme yang mereka anut menganggap batasnya adalah teritorial negara dan batas-batas geografis saja, maka Islam jauh lebih luas daripada itu. Islam melihat seluruh tanah air berhak mendapatkan penghormatan, penghargaan, kecintaan, ketulusan, dan jihad demi kebaikannya.

Islam memperhatikan mereka dan merasakan apa yang mereka rasakan, dan tidak berkehendak terjebak kepada urusan wilayah terbatas dan sempit di muka bumi ini, karena berbagai ikatan akan menjadi renggang, kekuatan melemah, dan musuh menggunakan sebagian untuk menggunakan sebagian yang lain. Ketika sebuah bangsa hendak memperkuat dirinya dengan cara yang merugikan bangsa lain, maka Islam pun tidak akan pernah ridha dengannya.

Jika nasionalisme yang mereka anut hanya memusatkan seluruh perhatian tertuju kepada kemerdekaan negaranya saja, dan kemudikan memfokuskan pada aspek-aspek fisik semata, maka Islam lebih luas daripada itu. Islam membimbing seluruh bangsa dengan cahaya menuju rahmat. Semuanya dilakukan bukan untuk mencari harta, popularitas, kekuasaan atas orang lain, dan bukan pula untuk memperbudak bangsa lain, akan tetapi untuk mencari ridha Allah semata, membahagiakan alam denganNya. Sehingga seluruh dunia mampu bekerjasama membangun dunia yang penuh rahmat dan kasih.

Ketika Budi Aris Setiadi menyebutkan bahwa paham pluralisme harus dipertahankan, maka sesungguhnya ia sedang membicarakan sesuatu yang ia tidak ketahui filosofi perkataannya sendiri.

Pluralisme adalah istilah khusus dalam kajian agama-agama. Sebagai ’terminologi khusus’, istilah ini tidak dapat dimaknai sembarangan, misalnya disamakan dengan makna istilah ’toleransi’, mutual respect, dan lainnya. Sebagai sebuah paham (isme) yang membahas cara pandang terhadap agama-agama yang ada, istilah pluralisme telah menjadi pembahasan panjang di kalangan para ilmuwan dalam studi agama-agama (religious studies).

Adian Husaini, dalam bukunya yang berjudul Pluralisme Agama, dengan tegas menjelaskan secara ilmiah, bahwa Pluralisme adalah Parasit bagi Agama-agama. Ketika kita berbicara pluralisme, maka sesungguhnya ia menjadi ancaman bagi kesucian setiap agama, bukan terbatas kepada Islam belaka.

Pluralisme agama berkembang pesat dalam masyarakat Kristen – Barat disebabkan setidaknya oleh 3 (tiga) hal, yaitu (1) trauma sejarah kekuasaan Gereja di Zaman Pertengahan dan konflik Katolik – Protestan, (2) Problema teologi Kristen, dan (3) Problema Teks Bibel. Ketika gereja berkuasa di zaman pertengahan, para tokohnya telah melakukan banyak kekeliruan dan kekerasan yang akhirnya menimbulkan sikap trauma masyarakat Barat terhadap kebenaran suatu agama tertentu. Problema yang menimpa masyarakat Kristen Barat ini kemudian diadopsi oleh sebagian kalangan Muslim yang ’terpesona’ oleh Barat atau memandang bahwa hanya dengan mengikuti peradaban Baratlah maka kaum Muslim akan maju. Termasuk dalam hal cara pandang terhadap agama-agama lain, banyak yang kemudian menjiplak begitu saja, cara pandang kaum Iklusifis dan Pluralis Kristen dalam memandang agama-agama lain.

Pluralisme berbeda jauh dengan pluralitas, karena pluralitas lebih melihat kepada realitas bahwa bangsa ini adalah plural dan berdiri di atas berbagai perbedaan yang menjadi sebuah sunnatullâh yang tidak dapat dihindari. Banyak masyarakat Indonesia salah kaprah memaknai antara pluralisme dan pluralitas.

Terhadap pluralitas, Islam tidak perlu lagi diajarkan untuk dapat menerima perbedaan dan mensikapi perbedaan agar berbuah rahmat. Fakta sosio-historis telah menjawab segala hipotesa yang menolak pernyataan ini sepanjang peradaban umat Islam.

Sebagai contoh ”pemerintahan madani konstitusional” yang mampu memberikan teladan tentang keadilan dan toleransi yang luar biasa indah bagi pola hubungan bermasyarakat yang pluralistik yang sangat modern. Robert N. Bellah, dalam Beyond Belief, bahkan menyebutkan terlalu modern untuk ukuran zamannya, menjadi umat yang satu (ummah wâhidah) sebagaimana diundangkan Rasulullah saw. dalam teks ”Piagam Madinah”.

Maka, ketika Islam dicitrakan sebagai agama yang menjadi pemecah NKRI, sepertinya kita perlu bertanya kepada sang pencetus gagasan, darimana ia mendapatkan pelajaran seperti itu?. Bukankah NKRI ini dipertaruhkan oleh darah para santri, ulama dan syuhada?

Dr. Anis Malik Thoha, di dalam bukunya, Tren Pluralisme Agama, menegaskan bahwa mengakui eksistensi praktis agama-agama lain yang beragam dan saling berseberangan ini, dalam pandangan Islam, tidak secara otomatis mengakui legalitas dan kebenarannya seperti yang diajarkan oleh kaum pluralis.

Lebih tepatnya, menerima kehendak ontologis Allah swt. dalam menciptakan agama-agama ini sebagai berbeda-beda dan beragam, karena Dia telah menghendaki untuk menciptakan jagad raya dan segala isinya ini dengan bentuk dan kondisi yang demikian balanced.

Dengan demikian, pluralitas adalah unik dan sangat karakteristik, dengan kemampuannya: (i) mengapresiasi secara penuh perbedaan-perbedaan penting dan mendasar antara agama-agama beserta kekhususan-kekhususan masing-masing; (ii) mengidentifikasi berbagai faktor dan sarana yang mengantarkan manusia pada kesempurnaan kemanusiaannya; dan (iii) menamakan segala sesuatu dengan namanya tanpa reduksi atau simplifikasi dengan definisi-definisi baru. Secara tegas dalam ayat Al-Qur’ân ” La ikrâha fi al-din”.

Ideologi sektarian?
Ketika tuduhan berlanjut ke arah kesimpulan yang teramat menyakitkan, sebuah ideologi sektarianisme, maka kalimat ini perlu direvisi sampai ke akar permasalahannya. Secara logika, ketidakmampuan ’kaum nasionalis’ versi 17 parpol menerima ideologi Islam sebagai bagian dari kemajemukan bangsa, menjadi pertanyaan besar, sejauh mana paham nasionalisme mereka akan mampu menyatukan segenap perbedaan mendasar dari setiap komponen bangsa ini?

Apakah setiap perbedaan yang tidak sepaham dengan pendapat mereka akan selalu dianggap sebagai musuh bersama? Jika demikian, rasanya tidak pantas kalau nasionalisme akan mampu menginspirasikan semangat kebangsaan bagi rakyatnya. Yang ada, justru koalisi yang tercipta malah melahirkan semangat neo-eksklusif bukan inklusif, dengan persepsi nasionalisme yang mereka fahami dan artikan sendiri untuk kepentingan besar agenda kelompok elit dan mengabaikan agenda rakyat yang pluralistik.

Menuduh ideologi lain sebagai ideologi sektarian, juga berarti menyebutkan bahwa kelompok mereka anti sektarianisme.

Pertanyaannya, benarkah komponen koalisi tersebut terdiri atas partai-partai yang tidak sektarianisme? Bukankah disana ada partai yang dipimpin oleh seorang bernama Ruyandi Hutasoit, yang oleh The Jakarta Post disebutkan sebagai “president of the Doulos Foundation. Perlu diingat, PDS, di mana pendeta Ruyandi Hutasoit berada jelas-jelas merupakan kelompok misionaris Kristen yang fanatik?.

Adalah menarik, bahwa dalam partainya, PDS, misi Kristen itu dengan halus disembunyikan. Kitapun perlu menelaah lebih jauh, apakah PDI-Perjuangan di saat berkuasa telah benar-benar memberikan teladan kebangsaan, nasionalisme, dan patriotisme yang tinggi dan baik bagi sejarah bangsa ini?

Akhir kata, penulis ingin mengutip Prof. Dr. Taufiq Yusuf al-Wa’iy di dalam bukunya Pemikiran Politik Kontemporer. Dijelaskan, bahwa sesungguhnya, Islam telah memerintahkan agar setiap orang bekerja demi kebajikan negerinya, untuk mempersembahkan pengabdiannya, untuk memberi kebajikan sebanyak yang dia mampu kepada masyarakat yang ia hidup di tengahnya, dan untuk mempersembahkan hal itu mulai dari yang terdekat, kerabat, famili, dan tetangga, hingga zakat tidak boleh didistribusikan lebih jauh dari jarak shalat qashar –kecuali terpaksa– karena memperhatikan yang lebih dekat terlebih dahulu.

Watak Muslim sejati adalah selalu mencari peluang untuk berbuat baik dan berbakti kepada tanah air tempat ia tumbuh. Maka Muslim yang baik, selalu besar sumbangsihyna bagi bangsa, sebagaimana Allah telah mewajibkan atas mereka. Ia adalah sikap nasionalis Dengan demikian, seorang Muslim telah mendapatkan dogma untuk menjadi orang-orang yang paling peduli akan kebaikan tanah air dan paling siap berkorban bagi masyarakatnya, mencintai tanah airnya dan senantiasa berusaha untuk mempersatukan kebangsaannya dengan makna seperti itu. Mereka tidak mendapati keberatan atas setiap orang yang berjuang secara tulus untuk-negerinya dan berjihad demi memperjuangkan bangsanya, dan bercita-cita agar tanah airnya dapat meraih segenap kejayaan dan kebanggaan.

Jika dalam kemerdakaan, jutaan darah umat Islam telah tumpah ditambah sikap hidupnya yang senantiasa akan disumbangkan demi kemaslahatan bangsa dan Negara, lantas apa lagi yang kurang? [hidayatullah]

* Penulis adalah Alumnus Program Kajian Wilayah Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia

Read Full Post »

Everyday

Is My Birthday!

Begitu bangun tidur, Rasulullah mengajarkan berdoa:


‘Alhamdulillaah, alladzie ahyaanaa, ba’da ma amaatana, wa ilaihinnusyuur’


“Segala puji bagiMu ya Allah, yang telah menghidupkan kembali diriku setelah kematianku dan hanya kepadaMu nanti kami semua akan berpulang”

Betapa indah dan dalamnya pesan doa ini, bahwa setiap pagi adalah hari kelahiran sebagaimana malam adalah malam kematian.


Begitu terlahir kembali yang pertama diucapkan adalah rasa syukur pada Allah dan kemudian dilanjutkan dengan salat Subuh.

 

Salat Subuh adalah awal kehidupan baru dimulai.

 
Apapun yang kita lakukan, kemanapun kaki melangkah tetap yang menjadi  tujuan adalah keridhaan Allah.

Demikianlah, ketika kesadaran batin itu selalu tertuju pada Allah dan  selalu menjaga kondisi itu agar tetap tidak menjauh dari orbit Ilahi,

Rasulullah mengajarkan untuk melakukan salat Zuhur, Asar, Magrib dan  kemudian Isya.

Ritual salat idealnya lebih dari sekedar peristiwa fisik dan mengulang  bacaan doa.

Salat juga adalah sebuah peristiwa emosional-spiritual  ketika raga-diri yang fitri dan

jiwa-ikhlas bertemu Allah Yang Maha Pengasih.

Jiwa, ruh kita sesungguhnya setiap saat selalu ingin memperoleh kedamaian ketika merasa dekat dengan Yang Maha Damai [QS Ar Ra’du; 13:28]

Sayangnya daya tarik emosi, pikiran dan kenikmatan fisik lebih dominan sehingga kenikmatan jiwa sewaktu salat sulit diraih.

Padahal jika kita lebih intens menghayati, maka setiap hari adalah hari kelahiran dan juga hari kematian.

Setiap hari pula hendaknya kita melakukan pesta tasyakuran dan doa pertobatan pada Allah.
Sungguh manusia terlalu lemah sebagaimana tergambar sewaktu tidur

karena tidak bisa menguasai dirinya sendiri bahkan kita tidak sanggup
menentukan judul mimpi yang kita inginkan.


Selamat berulang hari, semoga panjang dan berkah selalu umurnya.

Everyday is our birthday. Be cheerful and let’s share happiness!

Read Full Post »