Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2006

Dibekukan Asset IM

Aset Ekonomi Al-Ikhwan Al-Muslimun Dibekukan di Mesir

Senin, 25 Des 06 12:13 WIB

Jamaah Al-Ikhwan Al-Muslimun Mesir mengumumkan sejumlah asset milik anggotanya disegel oleh pemerintah Mesir. Selain itu, dinyatakan pula 25 orang yang terlibat dalam pengelolaan yayasan mereka ditangkap. Inilah fase mihnah (ujian) baru yang tengah dialami anggota gerakan Islam terluas di dunia itu.

Dalam pernyataan sikapnya, Al-Ikhwan menyatakan bahwa sejumlah polisi Mesir telah menyegel sejumlah kantor percetakan dan penerbitan Islam di berbagai tempat, antara lain di Al-Haram yang terletak di sisi Barat Kairo dan kota Nashr di sisi Timur Kairo. Masih menurut pernyataan tersebut dituliskan, penggerebekan juga dilakukan di kantor distribusi dan sirkulasi di kota Qalyub utara Kairo. Juga kota Asyir di Timur Laut Kairo.

Situs web Al-Ikhwan menginformasikan aksi penangkapan dan penyegelan juga terjadi di sejumlah lembaga milik individu anggota Al-Ikhwan Al-Muslimun, antara lain sebuah klinik dan apotiknya. Pemiliknya, Dr. Muhammad Hafez, ditangkap. Selain itu, ada 20 orang pekerja yang juga turut diseret ke penjara polisi, tanpa alasan yang jelas. Karena belum tentu para pekerja itu berafiliasi pada Al-Ikhwan. Menurut pernyataan sikap Al-Ikhwan, uang sebesar 165 ribu juneih yang setara dengan 28 ribu dolar, hilang dari kantor tersebut setelah penggerebekan.

Menurut pimpinan Al-Ikhwan, Jamal Nashar dalam keterangannya pada Reuters, penutupan yayasan dan semua aset ekonomi milik Al-Ikhwan itu merupakan tekanan keamanan yang baru atas Al-Ikhwan. “Ini adalah aksi yang tak mungkin ditolerir. Saya menduga aksi ini merupakan surat tekanan dari pemerintah kepada Al-Ikhwan agar mereka menyetop aksi-aksi menuntut reformasi yang selama ini mereka dengungkan.” Tapi dengan tegas ia mengatakan, “Tekanan seperti ini takkan menghentikan kami untuk tetap menyerukan tuntutan perbaikan pemerintahan dan perang terhadap korupsi dan sikap otoriter pemerintah.”

Sementara itu, pemerintah mengatakan bahwa akan terus melakukan upaya perbaikan demokratisasi meliputi revisi undang undang Mesir pada tahun depan. Tapi kalangan oposisi menanggapi hal intu dengan mengatakan bahwa ruang perbaikan dan reformasi versi pemerintah tidak lain hanya untuk lebih menguatkan hegemoni Partai Nasional Demokratik yang saat ini memimpin Mesir.

Sejumlah kader independen Al-Ikhwan dalam pemilu lalu memenangkan 88 kursi parlemen dari total 454 kursi yang ada di parlemen Mesir. Sejak pekan lalu, keamanan Mesir juga telah menangkap sejumlah pimpinan Al-Ikhwan yang jumlahnya tak kurang dari 139 orang. Aksi penangkapan itu terjadi begitu saja setelah ada blow-up demonstrasi yang digelar mahasiswa Al-Ikhwan di Universitas Al-Azhar. (na-str/iol) (Eramuslim)

Advertisements

Read Full Post »

KEAGUNGAN SHADAQAH

Sarana Untuk Membersihkan Harta dan Menyucikan Hati

Perhatikanlah Firman Allah subhanahu wata’ala artinya, “Ambillah shadaqah (zakat) dari sebagian harta mereka, dengan shadaqah

(zakat) itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah:

103)

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Membersihkan mereka” adalah membersihkan mereka dari dosa-dosa dan sifat bakhil. Sedangkan “menyucikan mereka” yaitu mengangkat derajat mereka kepada derajat mukmin dan mukhlis. (Riyadhush Shalihin)

Merupakan Karakter Orang yang Bertaqwa dan Orang yang Ihsan (Muhsin)

Perhatikanlah Firman Allah subhanahu wata’ala artinya, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat ihsan (muhsin).” (QS. Ali Imron: 133-134)

Shadaqah Sarana Penghapus dan Pelebur Dosa

Shadaqah Sarana untuk Mening-gikan Derajat

Merupakan Ciri Khas Seorang Mukmin

Perhatikanlah Firman Allah subhanahu wata’ala artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfaal: 2-4)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shodaqoh adalah bukti.” (HR Muslim). Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Shadaqah Adalah Bukti” Artinya adalah bukti dari kejujuran iman dan keikhlasan seseorang dengan bershadaqah.

Shadaqah Berarti Memberikan Pinjaman kepada Allah, Maka Pinjaman tersebut Pasti Allah Kembalikan dengan Berbagai Macam Cara

Perhatikanlah firman Allah subhanahu wata’ala artinya, “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (yaitu menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan memperlipatgandakan pembayaran kepadanya dengan kelipatan yang banyak.

Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) serta kepada-Nya kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)

Silahkan periksa juga firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat

Al-Hadiid: 18 dan surat At-Taghaabun: 17.

Shadaqah termasuk Berjihad dengan Harta

Perhatikanlah Firman Allah subhanahu wata’ala artinya, “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (QS.

At-Taubah: 20)

Shadaqah Mendatangkan Keberuntungan dan Kemudahan di Dunia dan di Akhirat

Perhatikanlah Firman Allah subhanahu wata’ala artinya, “Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu, dengarlah dan taatlah; serta nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taghabun: 16)

Firman Allah subhanahu wata’ala dalam ayat yang lain, artinya, “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa.

Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga). Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5-8)

Orang yang Bershadaqah Mendapat Naungan Allah subhanahu wata’ala Pada Hari Kiamat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan hal itu sebagaimana terdapat dalam hadits yang bersumber dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berikut ini, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya.” Beliau menyebutkan salah satunya adalah seorang yang bershadaqah secara diam-diam (sembunyi), sehingga apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya tidak diketahui oleh tangan kirinya. (Muttafaqun ‘Alaihi)

Shadaqah Itu Sendiri Juga Akan Menaungi Seseorang di Hari Kiamat

Yazid Bin Abi Habib menceritakan bahwa Abu Khair bercerita: bahwa sesungguhnya dia pernah mendengar Uqbah Bin Amir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap orang akan berada di bawah naungan shadaqahnya (pada hari Kiamat), sehingga diputuskan perkara terhadap manusia atau ditegakkan hukum di antara manusia.”

Yazid berkata, “Abu Khair setiap kali dia berbuat kekhilafan, maka dia akan bershadaqah (untuk menutupi kesalahannya tersebut) meskipun hanya dengan sepotong kue atau sebutir bawang atau yang lainnya.” (Ahmad:

16695, dishahihkan oleh Syekh Al-Albani)

Shadaqah Menjadi Penghalang dan Penghijab Seseorang dari Neraka

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar ke tanah lapang pada hari Raya Qurban atau Fitri, kemudian selesai melaksanakan sholat beliau khutbah, di dalam nasehatnya kepada manusia, beliau memerintah-kan mereka untuk bershadaqah, seraya bersabda, “Wahai sekalian manusia bershadaqahlah kalian,” lalu beliau melewati kaum wanita, seraya bersabda, “Wahai kaum wanita bershadaqahlah kalian karena saya melihat kebanyakan penghuni neraka adalah dari kalian.” (HR. Al-Bukhari)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari ‘Adi Bin Hatim radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Takutlah kalian kepada api nereka walau hanya bershadaqah dengan setengah butir korma.”

(HR. Al-Bukhori)

Memberikan Menu Berbuka kepada Seorang yang Berpuasa, Maka Mendapatkan Pahala Seperti Orang yang Berpuasa Tersebut

Hal ini dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan dari Zaid Bin Khalid Al-Juhaimi radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda, “Barangsiapa yang menyediakan menu untuk berbuka puasa bagi seorang yang puasa, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala yang diperoleh oleh orang berpuasa.” (HR. At-Tirmidzi dan Abu ‘Isa berkata, “Hadits ini hasan shahih)

Shadaqah yang Diiringi dengan Puasa, Perkataan Baik dan Shalat Malam akan Memuluskan Jalan Seseorang ke Surga

Tentang hal ini perhatikanlah hadits yang bersumber dari Nu’man Bin Sa’ad, beliau meriwayatkan dari Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda, “Sesungguhnya di dalam surga ada ruangan-ruangan yang bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar”, lalu seorang badui bertanya, “Untuk siapa ruangan-ruangan itu wahai Rasulullah?” Lalu beliau menjawab, “Untuk siapa saja yang berkata baik, memberi makanan, selalu berpuasa dan melakukan qiyamul lail (sholat

malam) sedang orang-orang dalam keadaan tidur.” (HR. At-Tirmidzi dan Abu ‘Isa berkata: hadits hasan gharib)

Shadaqah Mendatangkan Keberkahan karena Do’a Malaikat untuk Sang Dermawan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda, “Tiada suatu hari yang dilewati oleh hamba-hamba Allah kecuali ada dua malaikat yang turun, salah satunya berdo’a, “Ya Allah berikanlah ganti kepada seorang yang dermawan”, dan yang satunya lagi berdo’a,” Ya Allah berikanlah kehancuran kepada orang yang kikir.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Harta Tidak Akan Berkurang karena Dishadaqahkan, Justru Allah Menyuburkannya

Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan shodaqoh. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al-Baqarah: 276)

Perhatikan juga hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shadaqah tiada akan mengurangi harta.” (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Kuzaimah)

Shadaqah Dapat Meredam Murka Allah Sekaligus Menghantarkan Seseorang untuk Memperoleh Husnul Khatimah

Diriwayatkan dari Anas Bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda, “Sesungguhnya shadaqah itu dapat meredam murka (kemarahan) Rabb (Allah) dan shadaqah itu dapat menghindarkan seseorang dari kematian su’ul khotimah.” (HR.

At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban). Abu ‘Isa berkata: hadits ini hasan gharib.

Bershadaqah Walau Sekecil Apa pun, Nilainya Tetap Besar di sisi Allah

Dari Asma` radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, Saya berkata (kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam): “Ya Rasulullah! Saya tidak memiliki harta kecuali apa yang diberikan suamiku Zubair kepadaku, apakah saya juga bershadaqah?” Beliau menjawab, “Bersadaqahlah dan janganlah engkau terlalu memperhatikannya (memperhatikan kwantitasnya), sebab Allah tetap memberikan perhatian-Nya kepadamu.” (HR. Al-Bukhari dan Ibnu Hibban)

Allah subhanahu wata’ala Membebaskan Seseorang dari Kesulitan di hari Kiamat yang Membebaskan Orang yang Berhutang

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dahulu ada seorang laki-laki yang biasa memberikan hutang orang-orang, lalu dia berkata kepada pembantunya, “Jika engkau melihatnya kesulitan, maka bebaskanlah hutangnya, mudah-mudahan dengan hal itu Allah membebaskan kita (dari azab-Nya).” Beliau berkata, “Ketika dia meninggal dunia, maka Allah membebaskannya (dari azab-Nya).” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad dan

lain-lain)

Melapangkan Dada dan Menentramkan Hati.

Mengobati Penyakit Jasmani dan Rohani.

Meraih Sifat Qona’ah dan Tawadhdhu’.

Menyucikan Hati Pemberi Shadaqah dan Mendatangkan Rahmat Bagi Penerimanya

(Isnain Azhar, Lc)

Read Full Post »

Ihsan ?

Perlunya sikap ihsan. Yaitu, selalu merasa dilihat Allah SWT di mana pun berada

Ihsan adalah puncak kesadaran seorang Muslim. Saat ihsan telah terhujam di hati

seorang Muslim, di mana pun dan kapan pun ia akan selalu sadar diri, sehingga

tertuntun hidupnya. Saat melakukan ketaatan, ia akan berusaha
menyempurnakan ketaatan tersebut, sebab ia sadar bahwa Allah melihatnya. Ia pun
akan malu melakukan maksiat, sebab pandangan Allah tak mungkin lepas dari
dirinya.

Seorang muslim yang taat terlatih saat bulan Ramadhan,. Allah SWT mendidik kita untuk

berlaku ihsan. Dan alhamdulillah kita pun mampu melakukannya. Lihatlah saat tengah hari Ramadhan, saat sedang lapar-laparnya. Walau di kamar kita banyak makanan, kita tidak
berani memakannya. Padahal kalau toh kita memakannya tidak ada seorang pun yang
tahu. Saat Ramadhan pun, sebagian kita mampu menjaga panca indera. Tidak mau
ber-ghibah, memandang yang diharamkan, ada mendengar perkataan sia-sia.
Demikianlah, saat Ramadhan kita mampu menjaga diri bukan hanya dari hal yang
diharamkan tapi juga dari yang dihalalkan, khususnya dari makan, minum, dan
berhubungan suami istri. Semuanya terjadi karena keyakinan bahwa Allah SWT
melihat kita.

Ada lima faktor yang bisa mempertahankan sikap ihsan kita. Yaitu:

(1). Tadzwidul ‘ulum atau membekali diri dengan ilmu yang bisa mengantar kita semakin
mengenal Allah SWT. Pupuk iman adalah ilmu. Maka jadilah orang yang haus ilmu
dan terus belajar dan belajar tentang islam;

(2) Shahabatus shalihin atau bersahabat dengan orang shalih. Rasulullah SAW bersabda bahwa seseorang akan mengikuti agama dan keyakinan sahabat karibnya. Maka hendaknya seseorang memperhatikan siapa yang akan dijadikan sahabat karibnya (HR Abu Dawud dan Tirmidzi);

(3) Ad-diinun nashihah. Jadikan agama sebagai nasihat. Artinya budayakan saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, minimal dalam lingkup terdekat;

(4) Istiqamah fil ‘amal atau istikamah dalam beramal. Pengamalan melahirkan pengalaman. Maka, usahakan untuk merutinkan diri dalam beramal, termasuk melakukan muhasabah;

(5) Berdoa atau memohon kepada Allah agar dikaruniai sikap ihsan

Read Full Post »

1. Pernahkah anda memikirkan bahwa anda tidak ada sebelum dilahirkan ke dunia ini; dan anda telah diciptakan dari sebuah ketiadaan?

 

2. Pernahkan anda berpikir bagaimana bunga yang setiap hari anda lihat di ruang tamu, yang tumbuh dari tanah yang hitam, ternyata memiliki bau yang harum serta berwarna-warni?

 

3. Pernahkan anda memikirkan seekor nyamuk, yang sangat mengganggu ketika terbang mengitari anda, mengepakkan sayapnya dengan kecepatan yang sedemikian tinggi sehingga kita tidak mampu melihatnya?

 

4. Pernahkan anda berpikir bahwa lapisan luar dari buah-buahan seperti pisang, semangka, melon dan jeruk berfungsi sebagai pembungkus yang sangat berkualitas, yang membungkus daging buahnya sedemikian rupa sehingga rasa dan keharumannya tetap terjaga?

 

5. Pernahkan anda berpikir bahwa gempa bumi mungkin saja datang secara tiba-tiba ketika anda sedang tidur, yang menghancur luluhkan rumah, kantor dan kota anda hingga rata dengan tanah sehingga dalam tempo beberapa detik saja anda pun kehilangan segala sesuatu yang anda miliki di dunia ini?

 

6. Pernahkan anda berpikir bahwa kehidupan anda berlalu dengan sangat cepat, anda pun menjadi semakin tua dan lemah, dan lambat laun kehilangan ketampanan atau kecantikan, kesehatan dan kekuatan anda?

 

7. Pernahkan anda memikirkan bahwa suatu hari nanti, malaikat maut yang diutus oleh Allah akan datang menjemput untuk membawa anda meninggalkan dunia ini?

 

8. Pernahkan anda berpikir mengapa manusia demikian terbelenggu oleh kehidupan dunia yang sebentar lagi akan mereka tinggalkan dan yang seharusnya mereka jadikan sebagai tempat untuk bekerja keras dalam meraih kebahagiaan hidup di akhirat?

 

Manusia adalah makhluk yang dilengkapi Allah sarana berpikir. Namun sayang, kebanyakan mereka tidak menggunakan sarana yang teramat penting ini sebagaimana mestinya. Bahkan pada kenyataannya sebagian manusia hampir tidak pernah berpikir.

 

Sebenarnya, setiap orang memiliki tingkat kemampuan berpikir yang seringkali ia sendiri tidak menyadarinya. Ketika mulai menggunakan kemampuan berpikir tersebut, fakta-fakta yang sampai sekarang tidak mampu diketahuinya, lambat-laun mulai terbuka di hadapannya. Semakin dalam ia berpikir, semakin bertambahlah kemampuan berpikirnya dan hal ini mungkin sekali berlaku bagi setiap orang. Harus disadari bahwa tiap orang mempunyai kebutuhan untuk berpikir serta menggunakan akalnya semaksimal mungkin.

 

Buku ini ditulis dengan tujuan mengajak manusia “berpikir sebagaimana mestinya” dan mengarahkan mereka untuk “berpikir sebagaimana mestinya”. Seseorang yang tidak berpikir berada sangat jauh dari kebenaran dan menjalani sebuah kehidupan yang penuh kepalsuan dan kesesatan. Akibatnya ia tidak akan mengetahui tujuan penciptaan alam, dan arti keberadaan dirinya di dunia. Padahal, Allah telah menciptakan segala sesuatu untuk sebuah tujuan sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an:

 

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Ad-Dukhaan, 44: 38-39)

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minuun, 23:115)

 

Oleh karena itu, yang paling pertama kali wajib untuk dipikirkan secara mendalam oleh setiap orang ialah  tujuan dari penciptaan dirinya, baru kemudian segala sesuatu yang ia lihat di alam sekitar serta segala kejadian atau peristiwa yang ia jumpai selama hidupnya. Manusia yang tidak memikirkan hal ini, hanya akan mengetahui kenyataan-kenyataan tersebut setelah ia mati. Yakni ketika ia mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya di hadapan Allah; namun sayang sudah terlambat. Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa pada hari penghisaban, tiap manusia akan berpikir dan menyaksikan kebenaran atau kenyataan tersebut:

 

“Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.” (QS. Al-Fajr, 89:23-24)

 

Padahal Allah telah memberikan kita kesempatan hidup di dunia. Berpikir atau merenung untuk kemudian mengambil kesimpulan atau pelajaran-pelajaran dari apa yang kita renungkan untuk memahami kebenaran, akan menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi kehidupan di akhirat kelak. Dengan alasan inilah, Allah mewajibkan seluruh manusia, melalui para Nabi dan Kitab-kitab-Nya, untuk memikirkan dan merenungkan penciptaan diri mereka sendiri dan jagad raya:

 

“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya.” (QS. Ar-Ruum, 30: 8)

Read Full Post »

Cara Memulai Bisnis

Saya seorang karayawan sebuah perusahaan. Saya bekerja 8 jam sehari, dari jam 12 sampai jam 20.00. Usaha apa yang cocok buat saya? Saya tidak punya pengalaman bisnis apa-apa. Terima kasih.

Sugiarto

Jawaban

Wa ‘alaikum salaam Wr. Wb.

Bung Sugiarto. Jam kerja yang sudah pasti sangat memudahkan anda untuk memulai usaha. Setidaknya, jadwal usaha anda tidak akan terganggu karena anda harus punya aktivitas lain. Yang jadi pertimbangan saat ini adalah usaha apa yang akan anda lakukan. Dalam usaha apapun, titik tolak seharusnya dimulai dari kebutuhan masyarakat. Jadi, kemampuan anda mengidentifikasi kebutuhan masyarakat akan sangat menentukan, usaha apa yang bisa anda lakukan. Di bawah ini, saya hanya akan memberikan satu contoh. Anda bisa mengembangkannya, berdasarkan tingkat pengetahuan anda, dan juga minat anda.

Waktu luang anda, adalah waktu pagi sampai menjelang siang. Berangkat dari kebutuhan masyarakat, biasanya pada waktu-waktu seperti itu, banyak masyarakat membutuhkan makanan dan atau minuman untuk sarapan pagi, terutama di lokasi-lokasi pemukiman yang agak jauh dari pusat kota, atau bahkan lokasi-lokasi di pusat kota. Dengan kata lain, kedua lokasi itu membutuhkan pasokan makanan sarapan pagi.

Kalau anda tinggal dan berjualan di lokasi yang jauh dari pusat kota, maka konsumen anda adalah para pemukim yang berpikir praktis, biasanya suami isteri bekerja sehingga nyaris tidak punya waktu untuk menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga. Kalau anda tinggal dan berjualan di pusat kota, maka konsumen anda adalah para pekerja yang umumnya juga tinggal jauh dari pusat kota, tetapi memang tidak sempat sarapan di rumah dengan berbagai alasan. Berjualan di kedua lokasi itu, sama menguntungkannya. Bedanya, kalau di kawasan jauh dari pusat kota, anda harus menyiapkan dagangan lebih pagi daripada ketika anda berjualan di pusat kota.

Anda menyatakan bahwa anda tidak punya pengalaman bisnis. Sama saja bung. Ketika saya memutuskan berhenti dari pekerjaan di sebuah perusahaan kontraktor, saya juga tidak punya pengalaman berwirausaha. Bahkan kalau ditarik lebih jauh, ketika saya (secara tidak sadar) memutuskan untuk belajar berjalan waktu kecil dahulu, ternyata saya juga tidak pernah punya pengalaman berjalan. Hal ini menunjukkan perbedaan belajar dengan mengalami. Proses belajar, bisa kita dapatkan dari banyak orang, atau hanya dengan membaca buku. Tapi proses mengalami, harus dilalui dengan melakukannya sendiri. Anda belum punya pengalaman berwirausaha karena anda belum pernah berwirausaha. Dan untuk dapatkan pengalaman itu, tidak ada jalan lain. ANDA HARUS MULAI BERWIRAUSAHA. Cari pengalaman sebanyak-banyaknya. Kalau kemudian anda mengalami kerugian, setidaknya anda sudah punya pengalaman rugi dalam bisnis.

Itu satu contoh dari saya. Anda bisa mencari contoh-contoh lain, yang lebih cocok bagi anda. Apapun contoh yang anda temukan, saran saya, pilih salah satu kegiatan bisnis dan mulai lah dari sekarang. Jangan menunda lagi.

Demikian jawaban yang bisa saya berikan. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Selamat berwirausaha. Semoga Allah mengabulkan keinginan anda.

Wa ‘alaikum salaam Wr. Wb.
Zainal Abidin

(eramuslim)

Read Full Post »

Banyaknya Jamaah

Tentang Banyaknya ‘kelompok’

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr wb
salam kenal, saya adalah seorang mahasiswa baru di kota Depok. sebenarnya
saya berasal dari daerah Jabotabek.
langsung saja….
ini mengenai kebingungan saya di kampus dimana saya kuliah berkenaan dengan
adanya ‘kelompok-kelompok’ Islam. Saya tidak tahu mengapa bisa ada
bermacam-macam ‘kelompok’ ini….
agar lebih jelas mungkin dapat saya jelaskan diantaranya (yang ada di kampus
saya…), yaitu; Salaf; Jamaah tabligh; Ikhwan; Hizbut tahrir; dlll
saya tidak tahu pembagian-pembagian ini berdasarkan apa…
apakah mahzab yang berbeda, atau aliran, atau apa…tolong dijelaskan
tentang keberadaan mereka.
saaya menanyakan ini karena hal ini mengganggu saya…, banyak senior-senior
yang mengajak masuk/menganjurkan saya untuk gabung di ‘kelompok’
ini….padahal di tempat asal saya dulu tidak ada ‘kelompok’ yang seperti
ini….
sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak…
wassalamu’alaikum wr wb

Muhammad Bayuaji

Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil
Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

Sebenarnya adanya sekian banyak jamaah itu bisa dilihat sebagai buah dari
upaya umat Islam mengembalikan kekuatannya. Setelah lama tenggelam dalam
keterpurukan dan kemunduran. Dan masing-masing meninggalkan potret cerita
yang jujur tentang kondisi dimana pendirinya pernah hidup dan berinteraksi
dengan lingkungannya. Sehingga bila masing-masing memiliki konsentrasi yang
berbeda, kita bisa pahami bahwa permsalahan yang mereka hadapi juga berbeda.
Begitu juga dengan kondisi masyarakat, zaman, wawasan dan juga realitas yang
berbeda. Masing-masing tumbuh di masa dan kondisi yang juga berbeda.

Yang menarik diperhatikan adalah ternyata jamaah-jamaah itu agaknya
mencerminkan jamaah-jamaah dari dunia international. Karena nama-nama jamaah
yang Anda sebutkan itu memang memiliki induk nun jauh disana di luar
Indonesia. Ada yang di Saudi Arabia, Mesir, Jordan dan India/Pakistan.
Sedangkan yang bersifat lokal, kelihatan tidak terlalu menggebu. Atau paling
tidak sedikit banyak dipengaruhi oleh jamaah yang lebih besar dan luas
pengaruhnya di dunia.

Jamaah-jamaah itu memang bisa dibilang cukup besar dan memiliki pengikut
yang lumayan tersebar di berbagai negara. Tidak terkecuali di Indonesia dan
di lingkungan kampus Anda itu. Tapi sejauh mana keterkaitan dan keterikatan
mereka dengan induknya, kami tidak punya data yang akurat. Yang jelas mereka
sering menisbahkan diri atau dinisbatkan oleh orang lain dengan induk-induk
yang besar itu, baik secara eksplisit maupun implisit.

Lepas dari apa dan siapakah mereka yang ada di lingkungan kampus Anda itu,
kami hanya hanya memiliki sedikit literatur tentang mereka, diantaranya kami
cuplikkan untuk Anda sebagai bahan :

1. Salafiyah

Dakwah salafiyah umumnya lebih punya titik tekan pada masalah pembenaran dan
pelurusan aqidah. Sehingga istilah-isitlah yang berkaitan dengan tauhid,
aqidah, manhaj ahlussunnah dan sejenisnya lebih sering terdengar dari
kelompok ini. Selain itu mereka juga sering mengangkat masalah pemberantasan
bid`ah-bid`ah yang sering terjadi di tengah masyarakat.

Dalam masalah fiqhiyah umumnya mereka lebih dekat dengan mazhab Imam Ahmad
bin Hanbal, selain itu Imam Ibnu Taimiyah dan muridnya, Ibnul Qayyim adalah
dua tokoh yang paling sering dikutip pendapatnya.

Sedangkan tokoh ulama yang paling sering mereka jadikan rujukan adalah
Syeikh Muhammad ibn Abdul Wahhab, salah seorang pembaharu di hijaz.
Sedangkan tokoh-tokoh ulama mereka kini antara lain adalah Syeikh Abdullah
bin Baz, Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Bani, Syeikh Al-`Utsaimin dan
lain-lainnya. Selain itu ada Dr. Rabi`, mantan dosen di Univ. Islam Madinah
dan juga syeikh Muqbil di Yaman yang waktu itu sempat memberi fatwa kepada
Ustaz Ja`far untuk mengeksekusi pezina di Ambon.

Secara fiqih, umumnya pendapat mereka lumayan tegas dan saklek sebagaimana
fatwa para tokoh ulama mereka di Timur Tengah. Sehingga bisa dilihat dari
ciri penampilan pisik mereka yang paling kentara adalah masalah isbal, yaitu
meninggikan kain / celana di atas mata kaki dan jenggot. Sedangkan aktifis
wanitanya umumnya mengenakan cadar / niqab. Termasuk pengharaman gambar
makhluq hidup dan photografi pada sebagian mereka.

Namun sebagai sebuah organisasi yang terstruktur, nampaknya mereka tidak
terlalu antusias kalau boleh dibilang tidak setuju untuk membentuk sturktur
sebuah jamaah.
Mereka pun umumnya menjauhi dunia politik karena dianggap tidak sesuai
dengan manhaj Rasulullah SAW.

2. Jamaah Tabligh

Kelompok ini bercirikan mengajak orang untuk membersihkan hati, memperbanyak
amal ibadah mahdhah, meramaikan masjid, hidup sederhana dan bersahaja serta
menghidupkan praktek yang mereka yakini sebagai sunnah Nabi SAW.

Diantaranya makan bersama dalam satu wadah dengan tangan, memakai pakaian
gaya Arab (pakistan ?), memakai parfum dan celak mata, memakai kayu `ara`
untuk menggosok gigi (bersiwak) serta memperbanyak zikir dan mengajak orang
untuk ibadah.
Mereka tidak terlalu antusias dengan urusan politik suatu negeri, atau
memberantas kemungkaran, bid`ah atau syirik. Mereka lebih senang
berkonsentrasi kepada Amar Makrufnya yaitu mengajak kepada kebaikan saja.

Begitu juga mereka tidak terlalu mempermasalahkan hukum-hukum fiqih dan
kajian syariat Islam. Karena ada anggapan hal itu hanya akan menimbulkan
perbedaan dan perselisihan antar umat Islam. Dalam acara pengajian mereka
yang sering disebut dengan ‘bayan’ umumnya dibahas masalah keutamaan zikir,
menghidupkan sunnah, hidup sederhana, meramaikan masjid, tolong menolong dan
persaudaraan Islam.

Mereka punya program jaulah dan khuruj yang bentuknya menginap di masjid dan
berpindah dari satu masijd ke masjid lain. Mereka tidak merasa risih untuk
mengetuk pintu rumah orang-orang muslim dan berziarah serta mengajak anggota
keluarga untuk shalat di masjid. Meski mereka tidak kenal dengan penduduk
setempat. Bahkan rute khuruj dan jaulah mereka bisa sampai ke manca negara
dan berhasil mengislamkan banyak orang di negeri non muslim.

Diantara buku rujukan mereka yang utama adalah ‘Hayatus Shahabah’ karya
Al-Kandahlawi. ‘Riyadhus shalihin’ karya Imam An-nawawi dan lainnya.

3. Al-Ikhwan Al-Muslimun

Gerakan Ihkwan sejak awal menyatakan bahwa gerakan mereka adalah gerakan
yang integral dan mencakup semua bentuk aktifitas.

Al-Ikhwan Al-Muslimun didirikan pertama kali di Isma’iliyyah, sebuah wilayah
di Mesir oleh Al-Banna pada tahun 1928 M. Mulai dari ceramah beliau di
kedai-kedai kopi hingga menjadi sebuah gerakan yang besar dan memiliki
cabang di berbagai pelosok Mesir bahkan ke berbagai negara Arab lainnya.
Dari segi level dan usia kematangan gerakan, Ikhwan termasuk gerakan Islam
yang paling besar dan senior. Mereka memilik banyak kekuatan sumber daya
manusia dari ulama, tentara, pejabat, ilmuwan, mahasiswa, pedangan, petani,
nelayan dan para pemuda.

Meski sempat dibubarkan namun aktifitas gerakan ini semakin hari semakin
besar. Para ulama kaliber dunia semacam Yusuf Al-Qaradawi, Muhammad
Al-Ghazali, Dr. Said Ramadhan Al-Buthi, Dr. Fathi Yakan, Dr. Said Hawwa,
As-Sayyid Sabiq, Nasih `Ulwan dan masih banyak lagi adalah aktifis ikhwan.
Buku-buku mereka dibaca hampir oleh semua generasi Islam di berbagai belahan
dunia. Hampir semua jamiah (universitas) di Timur Tengah akrab dengan
pengaruh ikhwan.

Salah satu kelebihan gerakan ini adalah kemampuan mereka merekrut pendukung
dan kepiawaian dalam membentuk sturktur yang solid. Sehingga mampu
menghimpun sekian banyak potensi umat menjadi sebuah kekuatan raksasa yang
ditakuti lawan dan disegani kawan. Dalam banyak literatur, mereka menerapkan
sistem usroh yang berjalan secara kontiniu untuk semua anggota mereka.

Secara aqidah mereka adalah bagian dari ahlussunnah wal jamaah. Sedangkan
secara pemahaman fiqih, mereka tidak mewajibkan anggotanya untuk berpegang
pada satu mazhab tertentu, sehingga kita mendapati mereka memiliki mazhab
fiqih yang bervariasi.
Secara politik, ikhwan memandang bahwa peluang untuk berdakwah bisa
dilakukan dimana saja, termasuk politik. Sehingga bila kondisi memungkinkan,
mereka tidak segan untuk membuat partai politik dan memperjuangkan syariat
Islam melalui parlemen. Meski tujuan mereka bukan semata-mata kekuasaan. Hal
itu tercermin dari peristiwa di Mesir ketika Ihkwan memberikan suara mereka
kepada partai Wafd dengan syarat bila menang Wafd harus menegakkan syariat
Islam. Sayangnya, Wafd ingkar janji dan oleh karena itu dukungan ikhwan
kepada mereka dicabut.

Saat ini gerakan ikhwan telah tersebar di hampir 70 negara arab dan non
arab.

4. Hizbut Tahrir

Hizbut Tahrir maknanya adalah partai pembebas, berpijak kepada keharusan
mengembalikan khilafah Islamiyah. Didirikan pertama kali oleh Syeikh
Taqiyuddin An-Nabhani seorang tokoh kelahiran Ijzim Palestina pada tahun
1952.

Hizbut Tahrir berkonsentrasi juga kepada pemikiran dan tsaqafah islamiyah
serta menjadikannya landasan pembentukan pribadi muslim. Untuk itu mereka
aktif melakukan nadwah (seminar), dialog, diskusi, tanya jawab dan
sebagainya (lihat kitab mafahim al-asasiyah hal. 87).

Hizb dalam rangka melakukan perubahan melakukan tiga langkah / tahap.
Pertama, tahap pertarungan pemikiran dengan cara lontaran-lontaran tsaqafah.
Kedua, tahap revolusi berpikir dengan aktifitas masyakarat melalui aktiftas
tsaqafi siyasi. Tahap ketiga, tahap pengambil alihan kekuasaan melalui
gerakan massa. Menurut hizb, pada tahap ketiga itu, gerakannya harus meminta
bantuan kepala negara, miiter, pimpinan jamaah, ketua suku, duta besar dan
sebagainya. Mereka juga mengenal semacam pentahapan 13 tahunan dalam
pentahapan dakwah yang kemungkinan besar mengacu dari sirah nabawiyah.

Gerakan hizbut tahrir ini juga lumayan banyak diikuti oleh para aktifis di
berbagai belahan dunia termasuk eropa. Namun informasi lebih jelas dan
akurat bisa Anda dapatkan pada kantor hizbut tahrir indonesia. Karena
informasi ini hanya sekilas dan pastilah banyak yang harus di update lagi.

Harapan

Kita sebenarnya tidak usah terlau pesimis dengan banyaknya kelompok dan
jamaah seperti itu. Pertama, karena adanya banyak jamaah itu tidak otomatis
berarti perpecahan dan pertikaian. Karena sebenarnya masing-masing bisa
tetap menjaga ukhuwah, kerjasama dan saling melengkapi kekurangan
masing-masing. Dan sebaiknya para tokoh dari masing-masing jamaah itu pun
tidak menciptakan fanatisme berlebihan sehingga menimbulkan fitnah atau juga
tidak saling menjelekkan dan saling caci.

Kedua, adanya jamaah dengan konsentrasi masing-masing itu bisa menjadi lahan
untuk menajamkan visi dan profesionalitas umat. Karena masing-masing punya
bidang garap dan spesialisasi yang unik. Keunikan masing-masing itu bisa
dimanfaatkan untuk saling bersinergi dalam menegakkan Islam.

Biar bagaimana pun semua itu adalah satu umat dan masing-masing saling
bersaudara. Sehingga Allah SWT tetap akan menolong hambanya selama hambanya
tetap menolong saudarnya.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh

Read Full Post »

Bagaimana Seharusnya

Menghormati dan Mencintai Rasulullah SAW?

Kamis, 21 Des 06 09:31 WIB

Assalamua’laikum wr. wb.

Pak Ustadz yang dirahmati oleh Allah. Ana baca dalam salah satu website seperti berikut:

Durhaka yang 1.000 kali lebih besar dari durhaka pada ayah dan ibu, yaitu durhaka pada Rasulullah saw. Para sahabat radhiyallahu’anhum berebutan air bekas wudhu beliau saw (shahih Bukhari). Para sahabat menjadikan air bekas perasan dari baju beliau saw sebagai obat (shahih Bukhari). Para sahabat memuliakan sehelai rambut beliau saw setelah beliau wafat (shahihBbukhari). Para sahabat berebutan rambut beliau saw saat beliau saw dicukur rambutnya saw (shahih Bukhari). Apakah ini semua musyrik dan kultus?

Sungguh, manakah yang lebih kita ikuti dan panut selain para sahabat radhiyallahu’anhum? Siapakah yang lebih memahami tauhid selain mereka? Adakah makhluk-makhluk sempalan di akhir zaman ini merasa mereka lebih tahu kesucian tauhid daripada sahabat radhiyallahu ‘anhum?

yang menjadi pertanyaan ana:

1. Apakah benar hadits tersebut termaktub dalam kitab shahih Bukhari?

2. Apakah memang demikian prilaku sebahagian sahabat?

3. Bagaimana seharusnya kita menghormati dan mencintai Rasulullah SAW?

Demikian, Jazakumullah
ardibw at eramuslim.com

 

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Terus terang kami belum melakukan penelitian atas kebenaran hal itu disebutkan dalam shahih bukhari. Namun seandainya memang benar ada riwayat seperti itu, ada beberapa hal yang bisa kita jadikan pegangan:

Pertama, perilaku para shahabat itu kepada Rasulullah SAW bukan penyembahan, melainkan memuliakan diri nabi SAW. Kalau dibilang kultus individu, maksudnya kultus dalam arti penghormatan, bukan kultus dalam arti syirik.

Kedua, sikap para shahabat itu hanya mereka lakukan kepada diri Rasulullah SAW saja, tidak kepada orang lain. Sebab kedudukan Rasulullah yang sangat mulia, bahkan melebihi kemuliaan para nabi dan rasul sebelumnya. Tindakan itu tidak selalu tepat untuk dijadikan dasar tindakan yang sama kepada orang lain yang diagungkan, termasuk kepada keturunan beliau SAW.

Ketiga, adanya tindakan para shahabat itu juga tidak bermakna syar’i yang berkonsekuensi hukum syariah. Misalnya, syariah Islam tidak menyebutkan bahwa memuliakan rambut nabi, atau berwudhu dengan air bekas wudhu’ beliau, atau minum obat hasil perasan baju beliau sebagai bagian dari ritual ibadah syariah. Hal itu merupakan mukjizat yang khusus kepada Rasulullah SAW, hanya berlaku pada dirinya, dan tidak berlaku buat umum.

Keempat, tidak semua shahabat melakukan hal yang sama. Yang melakukan hanya sebagian saja. Ini menunjukkan bahwa hal itu bukan bagian dari syariah, meski hal itu tetap dibolehkan.

Misalnya, tindakan Ibnu Umar yang selalu ingin menyamakan diri dan menirukan segala gerak gerik Rasulullah SAW. Hal itu hukumnya sah-sah saja beliau lakukan untuk diri sendiri, mungkin karena kecintaan beliau, tetapi bukan merupakan ketentuan dan ketetapan syariah. Yang merupakan ketentuan syariah adalah melakukan shalat dengan melihat dan meniru beliau, atau bermanasik haji dengan cara manasik beliau.

Sedangkan pada masalah keseharian yang menyangkut hal-hal teknis, kedudukannya tidak selalu sebagai sumber hukum yang mengikat. MKisalnya bahwa Rasulullah SAW suka minum susu kambing mentah yang diperas dengan kedua tangan beliau, tentu tidak menjadi bagian dari syariah. Tetapi kalau ada yang mau melakukannya -tanpa mewajibkan orang lain- namun karena kecintaan kepada beliau SAW, boleh-boleh saja. Tetapi esensi kecintaan kepada Rasulullah SAW bukan pada hal yang remeh-temeh seperti itu, melainkan pada hal-hal yang mengandung segi hukum syariah.

Lalu tentang bagaimana cara kita memilah antara keduanya, tentu perlu pembahasan yang panjang. Kami kira bukan di sini tempatnya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

Older Posts »