Feeds:
Posts
Comments

Archive for December 5th, 2006

Poligami

Poligami dalam Pandangan Syariah

Selasa, 5 Des 06 15:48 WIB

Assallamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Pak Ustadz, bagaimana sebenarnya hukum poligami di Islam, apakah ini syariatkan? Kenapa manusia sekarang sepertinya sangat buruk menganggap orang yang mampu melakukan poligami, seakan-akan poligami ini suatu yang tidak manusiawi?

Pengaruh pola pikir orang-orang kafir yang ingin merusak Islam ini telah diadopsi oleh umat Islam itu sendiri. Orang-orang yang tidak melakukan poligami tapi melacur, selingkuh, berzina malah tidak dijadikan masalah, padahal nyata-nyata itu suatu kemaksiatan, tetapi yang halal malah mereka hina?

Bagaimana seharusnya umat Islam menyikapi hukum poligami ini?

Wassallamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Ahmad Wanto
aw at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sebelum kita bicara tentang pandangan syariah Islam tentang poligami, kita harus pahami terlebih dahulu bahwa poligami sudah ada jauh sebelum zaman kedatangan agama Islam.

Boleh dibilang bahwa poligami itu bukan semata-mata produk syariat Islam. Jauh sebelum Islam lahir di tahun 610 masehi, peradaban manusia di penjuru dunia sudah mengenal poligami, menjalankannya dan menjadikannya sebagai bagian utuh dari bentuk kehidupan wajar. Bahkan boleh dibilang bahwa tidak ada peradaban manusia di dunia ini di masa lalu yang tidak mengenal poligami.

Lebih jauh, kalau kita buka sejarah umat manusia, sesungguhya peradaban kita sudah mengenal poligami dalam bentuk yang sangat mengerikan. Misalnya, seorang laki-laki bisa saja memiliki bukan hanya 4 isteri, tapi ratusan isteri.

Dalam kitab orang Yahudi perjanjian lama, Daud disebutkan memiliki 300 orang isteri, baik yang menjadi isteri resminya maupun selirnya. (silahkan baca buku Ruang lingkup Aktivitas Wanita Muslimah, hal. 184 oleh Dr. Yusuf Al-Qaradawi).

Dalam Fiqhus-Sunnah, As-Sayyid Sabiq dengan mengutip kitab Hak-hak Wanita Dalam Islam karya Ustaz Dr. Ali Abdul Wahid Wafi menyebutkan bahwa bila kita runut dalam sejarah, sebenarnya poligami merupakan gaya hidup yang diakui dan berjalan dengan lancar di pusat-pusat peradaban manusia.

Bahkan bisa dikatakan bahwa hampir semua pusat peradaban manusia (terutama yang maju dan berusia panjang), telah mengenal poligami dan mengakuinya sebagai sesuatu yang normal dan formal. Para ahli sejarah mendapatkan bahwa hanya peradaban yang tidak terlalu maju saja dan tidak berusia panjang yang tidak mengenal poligami.

Bahkan agama Nasrani sekalipun mengenal dan mengajarkan poligami. Berbeda dengan apa yang sering diungkapkan hari ini, namun Nabi Isa dan para pengikutnya mengajarkan dan mengakui poligami.

Kalau pun para pengikut kristiani sekarang ini seolah-olah anti dengan poligami, menurut ahli sejarah, karena saat itu penyebaran Nasrani terjadi di Romawi dan Yunani, sementara kedua peradaban ini memang tidak mengenal poligami, jadilah akhirnya seolah-olah agama Nasrani itu melarang poligami. Sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan sumber asli ajaran mereka sendiri.

Ustaz As-Sayyid Sabiq menyebutkan bahwa peradaban maju seperti Ibrani yang melahirkan bangsa Yahudi mengenal poligami. Begitu juga dengan peradaban Shaqalibah yang melahirkan bangsa Rusia. Termasuk juga negeri Lituania, Ustunia, Chekoslowakia dan Yugoslavia, semuanya sangat mengenal poligami.

Masih ditambah lagi dengan bangsa Jerman, Swis, Saksonia, Belgia, Belanda, Denmark, Swedia, Norwegia dan tidak terkecuali, Inggris.

Jadi pendapat bahwa poligami itu hanya produk hukum Islam adalah tidak benar. Sebab bangsa Arab sebelum masa kedatangan Islam pun mengenal poligami. Dalam salah satu hadits disebutkan bahwa ada seorang masuk Islam dan masih memiliki 10 orang isteri. Lalu oleh Rasulullah SAW diminta untuk memilih empat saja dan selebihnya diceraikan. Beliau bersabda:

Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Pilihlah 4 orang dari mereka dan ceraikan sisanya.” (HR At-tirmizy1128 danIbnu Majah1953)

Masih menurut beliau, poligami itu bukan hanya milik peradaban masa lalu dunia, tetapi hari ini masih tetap diakui oleh negeri dengan sistem hukum yang bukan Islam seperti Afrika, India, China dan Jepang.

Sehingga jelaslah bahwa poligami adalah produk umat manusia, produk kemanusiaan dan produk peradaban besar dunia. Islam hanyalah salah satu yang ikut di dalamnya dengan memberikan batasan dan arahan yang sesuai dengan jiwa manusia.

Islam datang dalam kondisi di mana masyarakat dunia telah mengenal poligami selama ribuan tahun dan telah diakui dalam sistem hukum umat manusia. Justru Islam memberikan aturan agar poligami itu tetap selaras dengan rasa keadilan dan keharmonisan.

Misalnya dengan mensyaratkan adanya keadilan dan kemampuan dalam nafkah. Begitu juga Islam sebenarnya tidak membolehkan poligami secara mutlak, sebab yang dibolehkan hanya sampai empat orang isteri. Dan segudang aturan main lainnya sehingga meski mengakui adanya poligami, namun poligami yang berkeadilan sehingga melahirkan kesejahteraan.

Barat adalah Pendukung Poligami yang Tidak Manusiawi

Dan kini karena masyarakat barat banyak menganut agama nasrani, ditambah lagi latar belakang budaya mereka yang berangkat dari Romawi dan Yunani kuno, maka mereka pun ikut-ikutan mengharamkan poligami.

Namun anehnya, sistem hukum dan moral mereka malah membolehkan perzinahan, homoseksual, lesbianisme dan gonta ganti pasangan suami isteri. Padahal semua pasti tahu bahwa poligami jauh lebih beradab dari semua itu. Sayangnya, ketika ada orang berpoligami dan mengumumkan kepoligamiannya, semua ikut merasa `jijik`, sementara ketika hampir semua lapisan masyarakat menghidup-hidupkan perzinahan, pelacuran, perselingkuhan, homosek dan lesbianisme, tak ada satu pun yang berkomentar jelek.

Semua seakan kompak dan sepakat bahwa perilaku bejat itu adalah `wajar` terjadi sebagai bagian dari dinamika kehidupan modern.

Dr. Yusuf Al-Qaradawi mengatakan bahwa pada hakikatnya apa yang dilakukan oleh Barat pada hari ini dengan segala bentuk pernizahan yang mereka lakukan tidak lain adalah salah satu bentuk poligami juga, meski tidak dalam bentuk formal.

Dan kenyataaannya mereka memang terbiasa melakukan hubungan seksual di luar nikah dengan siapapun yang mereka inginkan. Di tempat kerja, hubungan seksual di luar nikah menjadi sesuatu yang lazim dilakukan oleh mereka, baik dengan sesama teman kerja, atau antara atasan dan bawahan atau pun klien mereka.

Di tempat umum mereka terbiasa melakukan hubungan seksual di luar nikah baik dengan wanita penghibur, pelayan restoran, artis dan selebritis.

Di sekolah pun mereka menganggap wajar bila terjadi hubungan seksual baik sesama pelajar, antara pelajar dengan guru atau dosen, antar karyawan dan seterusnya. Bahkan di dalam rumaah tangga pun mereka menganggap boleh dilakukan dengan tetangga, pembantu rumah tangga, sesama angota keluarga atau dengan tamu yang menginap.

Semua itu bukan mengada-ada karena secara jujur dan polos mereka akui sendiri dan tercermin dalam film-film Hollywood di mana hampir selalu dalam setiap kesempatan mereka melakukan hubungan seksual dengan siapa pun.

Jadi peradaban barat membolehkan poligami dengan siapa saja tanpa batas, bisa dengan puluhan bahkan ratusan orang yang berlainan. Dan sangat besar kemungkinannya mereka pun telah lupa dengan siapa saja pernah melakukannya karena saking banyaknya. Dan semua itu terjadi begitu saja tanpa pertanggung-jawaban, tanpa ikatan, tanpa konsekuensi dan tanpa pengakuan. Apabila terjadi kehamilan, sama sekali tidak ada konsekuensi hukum untuk mewajibkan bertanggung-jawab atas perbuatan itu.

Poligami tidak formal alias seks di luar nikah itu alih-alih dilarang, malah sebaliknya dilindungi dan dihormati sebagai hak asasi. Lucunya, banyak negara yang mengharamkan poligami formal yang mengikat dan menuntut tanggung jawab, sebaliknya seks bebas yang tidak lain merupakan bentuk poligami yang tidak bertanggung jawab malah dibebaskan, dilindungi dan dihormati.

Untuk kasus ini, Syiekh Abdul Halim Mahmud menceritakan sebuah kejadian lucu yang terjadi di sebuah negeri sekuler di benua Afrika. Ada seorang tokoh Islam yang menikah untuk kedua kalinya (berpoligami) secara syah menurut aturan syar`i. Namun berhubung negeri itu melarang poligami secara tegas, maka pernikahan itu dilakukan tanpa melaporkan kepada pemerintah.

Rupanya, inteljen sempat mencium adanya pernikah itu dan setelah melakukan pengintaian intensif, dikepunglah rumah tokoh ini dan diseretlah dia ke pengadilan untuk dijatuhi hukuman seberat-beratnya. Melihat situasi yang timpang seperti ini, maka akal digunakan. Tokoh ini dengan kalem menjawab bahwa wanita yang ada di rumahnya itu bukan isterinya, tapi teman selingkuhannya. Agar tidak ketahuan isteri pertamanya, maka mereka melakukannya diam-diam.

Mendengar pengakuannya, kontan saat itu juga pihak pengadilan atas nama pemerintah meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalah-pahaman itu. Dan memulangkannya dengan baik-baik serta tidak lupa tetap meminta maaf atas insiden itu.

Pandangan Syariah Islam Tentang Poligami

Poligami atau dikenal dengan ta`addud zawaj pada dasarnya mubah atau boleh. Bukan wajib juga bukan sunnah (anjuran). Karena melihat siyaqul-ayah memang mensyaratkan harus adil. Dan keadilan itu yang tidak dimiliki semua orang. Allah SAW berfirman:

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan yang yatim, maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.(QS. An-Nisa: 3)

Jadi syarat utama poligami adalah adil terhadap isteri, baik dalam nafkah lahir batin, atau pun dalam perhatian, kasih sayang, perlindunganserta alokasi waktu. Jangan sampai salah satunya tidak diberi dengan cukup. Apalagi kesemuanya tidak diberi cukup nafkah, maka hal itu adalah kezaliman.

Sebagaimana hukum menikah yang bisa memiliki banyak bentuk hukum, maka begitu juga dengan poligami, hukumnya sangat ditentukan oleh kondisi seseorang, bahkan bukan hanya kondisi dirinya tetapi juga menyangkut kondisi dan perasaan orang lain, dalam hal ini bisa saja isterinya atau keluarga isterinya. Pertimbangan orang lain ini tidak bisa dimentahkan begitu saja dan tentunya hal ini sangat manusiawi sekali.

Karena itu kita dapati Rasulullah SAW melarang Ali bin abi Thalib untuk memadu Fatimah yang merupakan putri Rasulullah SAW. Sehingga Ali bin Abi Thalim tidak melakukan poligami.

Kalau hukum poligami itu sunnah atau dianjurkan, maka apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW untuk melarang Ali berpoligami akan bertentangan.

Selain itu yang sudah menjadi syarat paling utama dalam pertimbangan poligami adalah masalah kemampuan finansial. Biar bagaimana pun ketika seorang suami memutuskan untuk menikah lagi, maka yang harus pertama kali terlintas di kepalanya adalah masalah tanggung jawab nafkah dan kebutuhan hidup untuk dua keluarga sekaligus. Nafkah tentu saja tidak berhenti sekedar bisa memberi makan dan minum untuk isteri dan anak, tapi lebih dari itu, bagaimana dia merencakan anggaran kebutuhan hidup sampai kepada masalah pendidikan yang layak, rumah dan semua kebutuhan lainnya.

Ketentuan keadilan sebenarnya pada garis-garis umum saja. Karena bila semua mau ditimbang secara detail pastilah tidak mungkin berlaku adil secara empiris. Karena itu dibuatkan garis-garis besar seperti maslaah pembagian jatah menginap. Menginap di rumah isteri harus adil. Misalnya sehari di isteri tua dan sehari di isteri muda. Yang dihitung adalah malamnya atau menginapnya, bukan hubungan seksualnya. Karena kalau sampai hal yang terlalu mendetail harus dibuat adil juga, akan kesulitan menghitung dan menimbangnya.

Secara fithrah umumnya, kebutuhan seksual laki-laki memang lebih tinggi dari wanita. Dan secara faal, kemampuan seksual laki-laki memang dirancang untuk bisa mendapatkan frekuensi yang lebih besar dari pada wanita.

Nafsu birahi setiap orang itu berbeda-beda kebutuhannya dan cara pemenuhannya. Dari sudut pandang laki-laki, masalah `kehausan` nafsu birahi sedikit banyak dipengaruhi kepada kepuasan hubungan seksual dengan isteri. Bila isteri mampu memberikan kepuasan skesual, secara umum kehausan itu bisa terpenuhi dan sebaliknya bila kepuasan itu tidak didapat, maka kehausan itu bisa-bisa tak terobati. Akhirnya, menikah lagi sering menjadi alternatif solusi.

Umumnya laki-laki membutuhkan kepuasan seksual baik dalam kualitas maupun kuantitas. Namun umumnya kepuasan kualitas lebih dominan dari pada kepuasan secara kuantitas. Bila terpenuhi secara kualitas, umumnya sudah bisa dirasa cukup. Sedangkan pemenuhan dari sisi kuantitas saja sering tidak terlau berarti bila tidak disertai kualitas, bahkan mungkin saja menjadi sekedar rutinitas kosong. Lagi-lagi menikah lagi sering menjadi alternatif solusi.

Secara fisik, terkadang memang ada pasangan yang agak ekstrim. Di mana suami memiliki kebutuhan kualitas dan kuantitas lebih tinggi, sementara pihak isteri kurang mampu memberikannya baik dari segi kualitas dan juga kuantitas. Ketidak-seimbangan ini mungkin saja terjadi dalam satu pasangan suami isteri. Namun biasanya solusinya adalah penyesuaian diri dari masing-masing pihak. Di mana suami berusaha mengurangi dorongan kebutuhan untuk kepuasan secara kualitas dan kuantitas. Dan sebaliknya isteri berusaha meningkatkan kemampuan pelayanan dari kedua segi itu. Nanti keduanya akan bertemu di ssatu titik.

Tapi kasus yang ekstrim memang mungkin saja terjadi. Suami memiliki tingkat dorongan kebutuhan yang melebihi rata-rata, sebaliknya isteri memiliki kemampuan pelayanan yang justru di bawah rata-rata. Dalam kasus seperti ini memang sulit untuk mencari titik temu. Karena hal ini merupakan fithrah alamiah yang ada begitu saja pada masing-masing pihak. Dan kasus seperti ini adalah alasan yang paling logis dan masuk akal untuk terjadinya penyelewengan, selingkuh, prostitusi, pelecehan seksual dan perzinahan.

Sehingga jauh-jauh hari Islam sudah mengantisipasi kemungkinan terjadinya fenomena ini dengan membuka pintu untuk poligami dan menutup pintu ke arah zina. Dari pada zina yang merusak nilai kemanusiaan dan harga diri manusia, lebih baik kebutuhan itu disalurkan lewat jalur formal dan legal. Yaitu poligami.

Dan kenyataanya, angka kasus sejenis lumayan banyak. Namun antisipasinya sering terlihat kurang cerdas bahkan mengedepankan ego. Hukum agama nasrani jelas-jelas melarang poligami yang legal. Begitu juga hukum positif di banyak negeri umumnya cenderung menganggap poligami itu tidak bisa diterima. Apalagi hukum non formal yang berbentuk penilaian masyarakat yangumumnya juga menganggap poligami itu hina dan buruk.

Secara tidak sadar semuanya lebih memaklumi kalau dalam kasus seperti yang kita bicarakan ini, solusinya adalah ZINA dan bukan poligami. Nah, inilah terjungkir baliknya nilai-nilai agama yang dikalahkan dengan rasa dan selera subjektif hawa nafsu manusia.

Berlebihan Dalam Memahami Masalah Poligami Dalam Islam

Ada orang yang terlalu berlebihan dalam memahami kebolehan poligami dalam Islam. Dan sebaliknya, ada kalangan yang berusaha menghalang-halangi terjadinya poligami dalam Islam, meski tidak sampai menolak syariatnya.

a. Pihak yang Berlebihan

Menurut kalangan ini, poligami adalah perkara yang sangat utama untuk dikerjakan bahkan merupakan sunnah muakkadah dan pola hidup Rasulullah SAW. Kemana-mana mereka selalu mendengungkan poligami hingga seolah hamir mendekati wajib.

Pemahaman keliru seperti itu sering menggunakan ayat poligami yang memang bunyinya seolah seperti mendahulukan poligami dan bila tidak mampu, barulah beristri satu saja. Istilahnya, poligami dulu, kalau tidak mampu, baru satu saja.

Maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.(QS. An-Nisa: 3)

Padahal makna ayat itu sama sekali tidak demikian. Karena meski sepintas ayat itu kelihatan mendahulukan poligami lebih dahulu, tapi dalam kenyataan hukum hasil dari istinbath para ulama dengan membandingkannya dengan dalil-dalil lainnya menunjukan bahwa poligami merupakan jalan keluar atau rukhshah (bentuk keringanan) atas sebuah kebutuhan. Bukan menempati posisi utama dalam masalah pernikahan.

Alasan agar tidak jatuh ke dalam zina adalah alasan yang ma`qul (logis) dan sangat bisa diterima. Karena Allah SWT memang memerintahkan agar seorang mukmin menjaga kemaluannya. Allah SWT berfirman:

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, (QS. Al-Mukminun: 5)

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman,”Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur: 30)

Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, (QS. Al-Ma`arij: 29)

Bila satu isteri saja masih belum bisa menahan gejolak syahwatnya, sementara secara nafkah dia mampu berbuat adil, bolehlah seseorang untuk menikah lagi dengan niat menjaga agamanya. Bukan sekedar memuaskan nafsu syahwat saja.

Bentuk kekeliruan yang lain adalah rasa terlalu optimis atas kemampuan menanggung beban nafkah. Padahal Islam tetap menutut kita berlaku logis dan penuh perhitungan. Memang rezeki itu Allah SWT yang memberi, tapi rezeki itu tidak datang begitu saja.

Bahkan untuk orang yang baru pertama kali menikah pun, Rasulullah SAW mensyaratkan harus punya kemampuan finansial. Dan bila belum mampu, maka hendaknya berpuasa saja.

Jangan sampai seseorang yang penghasilannya senin kamis, tapi berlagak bak seorang saudagar kaya yang setiap hari isi pembicaraannya tidak lepas dari urusan ta`addud. Ini jelas sangat `njomplang`, jauh asap dari api.

b. Pihak yang Mencegah Poligami

Di sisi lain, ada kalangan yang menentang poligami atau paling tidak kurang bersimpati terhadap poligami. Mereka pun sibuk membolak balik ayat Al-Quran Al-Karim dan Sunnah Rasulullah SAW untuk mencari dalih yang bisa melarang atau minimal memberatkan jalan menuju poligami.

Misalnya dengan mengikat seorang suami untuk janji tidak menikah lagi ketika melangsungkan pernikahan pertamanya. Janji itu diqiyaskan dengan sighat ta’liq yang bila dilanggar maka isterinya diceraikan.

Menanggapi hal ini, para ulama berbeda pendapat tentang syarat tidak boleh melakukan poligami bagi suami yang diajukan oleh isterinya pada saat aqad nikah. Apakah pensyaratan tersebut dibolehkan atau tidak?

Sebahagian ulama menyatakan bahwa pensyaratan tersebut diperbolehkan, sedangkan yang lain berpendapat hal tersebut dimakruhkan tetapi tidak haram. Karena dengan adanya pensyaratan tersebut maka suami akan merasa terbelenggu yang pada akhirnya akan menimbulakn hubungan yang kurang harmonis di antara keduanya.

Bentuk lainnya dari upaya menelikung poligami dalam Islam, dikatakan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah melakukan poligami kecuali hanya kepada janda saja. Tidak pernah kepada wanita yang perawan. Memang ketika menikahi Aisyah ra, status Rasulullah SAW adalah seorang duda yang ditinggal mati isterinya.

Dalam menjawab masalah ini, sebenarnya syarat harus menikahi wanita yang berstatus janda bukanlah syarat untuk poligami. Meski Rasulullah SAW memang lebih banyak menikahi janda ketimbang yang masih gadis. Namun hal itu terpulang kepada pertimbangan teknis di masa itu yang umumnya untuk memuliakan para wanita atau mengambil hati tokoh di belakang wanita itu.

Pertimbangan ini tidak menjadi syarat untuk poligami secara baku dalam syariat Islam.

Sebagian kalangan juga ingin menghalangi poligami dengan dasar bahwa syarat berlaku adil dalam Al-Quran Al-Karim adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa dilakukan. Dengan demikian, maka poligami dilarang dalam Islam.

Padahal, meski ada ayat yang demikian, yang dimaksud dengan “keadilan tidak dapat dilakukan” adalah keadilan yang bersifat menyeluruh baik materi maupun ruhiyah. Sementara keadilan yang dituntut dalam sebuah poligami hanya sebatas keadilan secara sesuatu yang bisa diukur dan lebih bersifat materi. Sedangkan masalah cinta dalam dada, sangat sulit untuk diidentifikasi.

Namun demikian, Rasulullah SAW mengancam orang yang berlaku tidak adil kepada isterinya dengan ancaman berat.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Advertisements

Read Full Post »

Kuncinya

KUNCI MEMAHAMI ISLAM YANG BENAR

Islam adalah agama yang benar, dicintai dan diridhoi oleh Allah . Dia menjadikan Islam sebagai agama yang sempurna, tidak butuh tambahan dari luar, cocok bagi seluruh bangsa jin dan manusia disetiap tempat dan masa. akan tetapi amat disayangkan, kebanyakan manusia salah dalam memahami ajaran Islam sehingga mereka tidak dapat mencapai kemuliaan..

Begitulah fenomena yang ada pada ummat ini, ada di antara mereka yang menjadikan akal fikiran sebagai tolok ukur untuk menilai kebenaran. Menurut mereka, kebenaran adalah apa saja yang sesuai dengan akal pikiran. Bila bertentangan dengannya, maka dinilai sebagai suatu kesalahan. Sehingga banyak hukum-hukum agama yang mereka tolak dengan alasan tidak masuk akal.

Ada juga yang memahami agama ini dengan perasaan dan bisikan jiwa. Mereka mengerjakan apa-apa yang dibisikkan oleh jiwa dan menganggapnya sebagai suatu kebenaran. Mereka tidak khawatir jakau-kalau dari bisikan jiwa tersebut ada bisikan yang dilontarkan oleh syaithan yang menyesatkan. Dan masih banyak lagi kekeliruan-kekeliruan yang didapati di tengah-tengah umat Islam.

Melihat fenomena semacam ini, terbetuk satu pertanyaan: “Bagaimana caranya kita bisa memahami Islam dengan baik dan benar sehingga memperoleh keridhoan Allah dan dimasukkan ke dalam surga bersama hamba-hamba yang diridhoi-Nya ?”

Untuk menjawab pertanyaan ini, di sini kami sampaikan kepada pembaca yang budiman, bahwa Islam pertama kali datang ditengah masyarakat yang keadaannya sama seperti keadaan kita sekarang ini, maraknya praktek-praktek kesyirikan, rusaknya tuntunan-tuntunan akhlak yang mulia, merajalelanya kebodohan terhadap ajaran agama yang benar, munculnya berbagai macam khurafat dalam agama menjadikan manusia pada zaman itu dikatakan hina.

Maka Allah yang Rahmat-Nya meliputi segala sesuatu mengutus ke tengah-tengah mereka seoang pembawa cahaya yang menerangi mereka dari gelapnya kebodohan kepada cahaya ilmu, dari gelapnya kesyirikan kepada cahaya tauhid. Kemudian muncullah di antara mereka manusia-manusia pilihan yang menyambut seruan itu dengan lapang dada. Hati mereka bersih, jiwa mereka tenang dan tenteram sehingga Allah menjadikan mereka ummat pilihan. Melihat keberhasilan mereka, para ulamapun berkata: “Tidak baik generasi akhir ummat ini kecuali (dengan mengikuti) sesuatu yang membuat baik pendahulu mereka.”

Yang membuat baik generasi pertama ummat ini adalah mereka benar-benar tunduk dan berserah diri terhadap apa yang Allah syari’atkan di dalam Al-Qur’an dan mereka mengikuti Sunnah Rasulullah yang membimbing mereka bagaimana cara memahami Al-Qur’an dengan benar, menjelaskan tentang perkara yang dicintai dan dimurkai oleh Allah Kemudian mereka melaksanakannya dengan baik dan benar di bawah pengawasan Rasul tersayang.

PERTAMA, Mereka meyakini, bahwa kebenaran itu hanya satu, yaitu apa yang ada di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah yang shahih. Adapun selain itu hanyalah bisikan syaithan yang menyesatkan. Mereka menerima perkataan seseorang apabila sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan menolak dengan tegas apabila bertentangan dengan keduanya. Pijakan mereka adalah Firman Allah : “Sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan itu dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain yang akan memecah belah kalian dari Jalan itu. Itulah yang diwasiatkan kpada kalian agar kalian bertaqwa.” (QS. Al-An’am : 153).

KEDUA, Apabila terjadi perselisihan, mereka segera mengembalikan keputusannya kepada Allah dan Rasul-Nya dan tidak banyak berdebat. Mereka mengamalkan perintah Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya: “Maka jika kalian berselisih terhadap suatu permasalahan, kembalikanlah keputusannya kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir …”

KETIGA, Mereka merasa cukup dengan agama ini dan tidak membuat hal-hal baru dalam agama, mereka yakin Islam telah sempurna sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam surat Al-Maidah ayat 3, dan mereka takut akan ancaman Nabi : “Barangsiapa yang membuat hal baru dalam urusan (Agama) kami yang sebenarnya bukan dari agama, maka hal itu tertolak.: (H.R. Bukhari – Muslim),

Dengan cara inilah, para shahabat memahami agama ini dan memparktekkannya. Mereka berhasil menjalani hidup ini dengan baik dan benar sehingga menjadi ummat pilihan yang diridhoi oleh Allah . Mereka menjadi saksi bagi seluruh manusia pada hari kiamat sebagaimana Rasulullah akan menjadi saksi bagi mereka. Wallahu A’lam.

Read Full Post »

Izzah (hargadiri)

Membangun Izzah Umat
KH Didin Hafidhuddin

Sungguh sangat luar biasa demonstrasi mendukung Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) untuk menjadi undang-undang pada hari Ahad 21 Mei 2006 yang lalu, baik dari sudut jumlahnya maupun dari ketertiban dan kelancarannya. Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah berhasil melakukan koordinasi kegiatan dengan para pimpinan seluruh orpol dan ormas Islam di Indonesia, para da’i, maupun para aktivis lainnya, termasuk para artis yang memiliki komitmen keislaman yang tinggi.

Lebih dari 98 organisasi Islam dengan berbagai macam atribut bergabung bersama dalam kegiatan akbar tersebut. Kita tinggal menunggu sikap dan pemenuhan janji yang disampaikan oleh Ketua DPR RI Agung Laksono yang disampaikan di depan massa demonstran pada hari tersebut. Demikian pula sikap Pansus RUU APP ini maupun para anggota DPR lainnya.

Hal yang penting, yang perlu kita renungkan dari peristiwa hari Ahad tersebut; dan terutama oleh MUI, pimpinan seluruh organisasi Islam di seluruh Indonesia, para da’i, dan para tokoh umat lainnya dalam rangka membangun izzah (harga diri) dan kekuatan umat antara lain sebagai berikut:

Pertama, Ketika kita menghadapi kemunkaran global dan perilaku buruk yang menghancurkan, seperti pornografi dan pornoaksi, kaum muslimin dan terutama para tokohnya harus berani tampil untuk menyuarakan aspirasi kebenaran yang menentang kemunkaran itu. Berbicara lantang dalam menyuarakan hak dan kebenaran merupakan sebuah keniscayaan, sekaligus perintah Allah dan Rasul-Nya. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS Al-Isra ayat 81: “Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” Juga sabda Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian (Hari Kiamat), maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian (Hari Kiamat), maka hormatilah tetangganya; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian (Hari Kiamat), maka muliakanlah tamunya.”

Berdiam diri ketika melihat kemunkaran, bahkan bersikap apatis atau masa bodoh, bukanlah sikap orang yang beriman. Apalagi jika dilakukan secara sadar dan sengaja untuk tidak berpihak kepada kebenaran, maka Nabi menganggapnya bukan orang Islam; sebagaimana sabdanya: “Barangsiapa yang tidak peduli terhadap urusan umat Islam, maka dia bukan termasuk golongan umat Islam.”

Kedua, Kesatuan dan ukhuwwah di antara kaum muslimin, terutama di antara para tokohnya, merupakan sebuah kebutuhan yang mutlak, di samping kewajiban agama. Izzah (harga diri) kaum muslimin hanya mungkin bisa ditegakkan manakala semua komponen umat mau mengeliminasi maupun memperkecil perbedaan-perbedaan yang ada dan menumbuhkan kesatuan dan persatuan. Amar ma’ruf nahyi munkar tidak mungkin bisa ditegakkan dengan baik, kecuali dengan kekuatan dan kebersamaan. Demikian pula menggerakkan potensi umat yang begitu banyak dan besar, seperti potensi SDM, potensi sumber alam dan potensi zakat, infaq dan sedekah (ZIS) yang begitu dahsyat, tidak mungkin bisa dilakukan kecuali dengan kekuatan berjamaah, sinergi dan ta’awun antara sesama kelompok kaum muslimin.

Allah SWT berfirman dalam QS At-Taubah ayat 71: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” Juga sabda Rasulullah SAW yang diriwayakan oleh Bukhari dan Muslim dari Abi Musa: “Orang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti bangunan yang kokoh, yang satu sama lain saling menguatkan.”

Yang perlu kita sadari bersama, bahwa orang-orang kafir yang tidak ingin melihat umat Islam bangkit untuk membangun peradaban yang agung, mereka pun bersinergi membantu antara satu dengan yang lainnya. Sebagai contoh ketika Israel maupun negara-negara lain yang mayoritas penduduknya non-Muslim; membangun reaktor nuklir, semua negara termasuk PBB mendiamkannya. Tetapi, ketika Irak yang mayoritas penduduknya Muslim, diduga membangun reaktor nuklir, mereka pun memerangi dan menghancurkannya secara bersama-sama. Padahal sampai saat ini pun tuduhan mereka sama sekali tidak bisa dibuktikan. Kini, ketika Iran membangun reaktor nuklir untuk kepentingan keilmuan dan perdamaian, mereka pun berusaha bersama-sama untuk menghambatnya. Demikian pula, ketika Hammas memenangkan pemilu di Palestina secara demokratis, mereka pun berusaha bersama-sama memboikot pemerintahan yang didirikan oleh Hammas tersebut. Andaikan yang memenangkan pemilu itu bukan Hammas, pasti mereka akan mendukungnya. Hammas dianggap bertentangan secara diametral dengan kepentingan mereka. Contoh lain yang lebih nyata adalah kasus penentang RUU APP yang sangat sedikit jumlahnya (minoritas), tetapi mereka bersatu padu dan didukung oleh kekuatan kapital dan media yang sangat banyak, seolah-olah mereka adalah merupakan kekuatan mayoritas. Sementara mayoritas yang mendukung, karena tidak memiliki kekuatan kapital dan media yang banyak dan kurang bersatu, seolah-olah merupakan kelompok minoritas.

Itulah sikap orang-orang yang tidak senang dengan kemajuan Islam dan umatnya. Di mana pun dan kapan pun mereka akan malakukannya secara bersama-sama. Ini adalah sebuah sunnatullah yang bersifat pasti dan tetap. Karena itu, kaum muslimin pun harus menghadapinya dengan kekuatan, kesatuan dan kebersamaan. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Anfal ayat 73: “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” Juga firman-Nya dalam QS Al-Anfal ayat 46: “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” Wallahu A’lam bi ash-Shawab

-Republikaonline-

Read Full Post »

Kebahagian Dunia

Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia

Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi’in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu : 

Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.

Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah.

Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu :

“Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita”. Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi.

Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!

Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh

Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.

Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh

Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : “Kenapa pundakmu itu ?” Jawab anak muda itu : “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya”. Lalu anak muda itu bertanya: ” Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?”

Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: “Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu”. Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.

Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita. 

Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah.

Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya.

Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.

Kelima, al malul halal, atau harta yang halal. 

Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya.

Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. “Kamu berdoa sudah bagus”, kata Nabi SAW, “Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan”. Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.

Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama. 

Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya.

Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya.

Semangat memahami agama akan meng “hidup” kan hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.

Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.

Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah. 

Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.

Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu’

mungkin membaca doa `sapu jagat’ , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut “Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw” (yang artinya “Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia “), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah. 

Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.

Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu “wa fil aakhirati hasanaw” (yang artinya “dan juga kebahagiaan akhirat”), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah.

Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah. 

Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.

Kata Nabi SAW, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya :

“Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”. 

Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).

Sumber tulisan: ceramah Ustad Aam Aminudin, Lc. di Sapporo, Jepang, disarikan secara bebas oleh Sdr. Asep Tata Permana

Read Full Post »

Sombong ?

Dalam sebuah perhelatan, dengan ramah seorang akhwat mengucap salam serta hangat memeluk. Namun, rekan akhwat yang disapa menatap dingin, senyum hambar, dan segera berlalu setelah membalas salam temannya itu, tak ada bincang-bincang di antara mereka. Ah, mengapa demikian?

Kutipan di atas merupakan contoh sederhana dari sampel acak bincang-bincang personal yang dilakukan penulis bahwa ternyata ada sejumlah akhwat berterus terang menunjukkan sikap tersebut sebagai bentuk keengganan komunikasi disebabkan ‘perbedaan’ mereka.

Kesan tidak simpatik antarsesama muslimah ini muncul karena adanya arogansi, menganggap tidak selevel, tidak sefikrah, bukan sesama jilbaber, bukan sesama orang yang berjuang, dan tidak seorganisasi. Hal ini tentu sangat disesalkan, melahirkan sikap kontra produktif dalam ukhuwah dan dakwah

Kali lain, seorang ayah sesumbar agar seluruh anggota keluarga selalu ingat bahwa dialah sumber rezeki, manakala dia meninggal terputuslah sumber rezeki itu. Boleh jadi, sang ayah ini bermaksud baik mengingatkan anak-anaknya agar hidup hemat, tidak boros, dan pandai menghargai jerih payahnya. Tapi, alangkah takaburnya kala di hati terbersit anggapan seperti itu.

Kesombongan merasuk di hati tidak terasa. Padahal hakikatnya, sekalipun sang ayah telah tiada, istri dan anak-anak akan tetap hidup karena sumber rezeki tetap ada yang mengatur dan menjamin, yaitu Allah swt. sebagai Maha Pemberi/Pemilik Rezeki, Ar-Razak.

Al Quran mengingatkan manusia untuk tidak berlaku sombong, “Dan janganlah engkau palingkan pipimu kepada manusia dan janganlah berjalan dengan sombong di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang sombong lagi congkak.” (Q.S. Luqman 31: 18).

Tanda-tanda Kekerdilan Manusia

Dialah yang menciptakan, memiliki, tidak memerlukan apa pun, kitalah yang membutuhkan-Nya, “Kepunyaan Allah apa-apa di langit dan di bumi. Sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (Q.S. Luqman 31: 26)

Tidak terhingga ilmu Allah, tanda-tanda kebesaran Allah, nikmat yang Allah berikan, “Dan kalau sesungguhnya segala pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut menjadi tinta, ditambah kemudian dengan tujuh laut, niscaya tidak akan habis kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Luqman 31: 27).

Menghidupkan, mematikan, dan membangkitkan seluruh manusia sejak Nabi Adam a.s. hingga makhluk terakhir sebelum kiamat kelak mudah bagi Allah swt. “Tidaklah kejadian dan kebangkitan kamu melainkan seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.S. Luqman 31; 28).

Kapan dan di mana seseorang wafat tidak ada yang tahu, dan banyak hal lain yang tidak diketahui manusia, “Sesungguhnya Allah di sisi-Nya ilmu (tentang) kiamat, dan Dia menurunkan hujan dan mengetahui apa-apa dalam rahim. Dan tiada seorang mengetahui apa yang akan dikerjakan besok dan tiada seorang pun mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” (Q.S. Luqman 31: 34). “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu sedang kamu tidak mengetahui sesuatu dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati supaya kamu bersyukur.” (Q.S. An-Nahl : 78).

Allah mengajak manusia mengamati makhluk-makhluk kecil seperti nyamuk, lalat, laba-laba, lebah, juga semut. Hanya Allah swt. yang mampu menciptakannya, “Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpaman berupa nyamuk atau sesuatu yang lebih rendah daripadanya…” (Q.S. Al Baqarah 2: 26).

Apa yang ada di sisi manusia fana, uzur, “Apa-apa yang ada pada kamu akan lenyap dan apa yang di sisi Allah adalah kekal.” (Q.S. An-Nahl 16: 96). “Dan Allah menciptakan kamu dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang terlemah (usia lanjut) agar dia tidak mengetahui sesuatu yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Q.S. An-Nahl 16: 70).

Semua manusia sama-sama mendapat rezeki dari Allah. Ada yang melimpah, sedang-sedang saja, atau sedikit. Kualitas jumlah volume rezeki belum tentu sebagai ukuran dia dilebihkan Allah swt., sebab yang terpenting dalam setiap rezeki manusia, sedikit atau banyaknya, ia salurkan lagi kepada orang yang dalam tanggungan nafkahnya dan shadaqahnya. Allah swt. lah yang memberi rezeki kepada hamba-hambanya melalui berbagai macam saluran.

“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu atas sebagian yang lain pada rezeki. Maka bukanlah orang-orang yang dilebihkan itu yang memberikan rezeki mereka kepada hamba-hambanya, maka mereka di dalam rezeki itu sama. Apakah mereka ingkar akan nikmat Allah?” (Q.S. An-Nahl 16: 71).

Allah swt. sendirian menolong, membela, mengadzab dengan full power makhluknya, “Dan jika Allah menimpakan suatu kemadharatan kepada engkau, maka tidak seorang pun yang mampu melepaskannya kecuali Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan Dialah yang berkuasa atas hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al An’Aam 6: 17-18).

Dunia tempat beramal saleh bagi orang yang beriman, sekaligus dunia dapat juga memperdayakan bagi orang fasiq, munafiq, kafir. Sedangkan di akhirat tempat dihisab (dihitung, diperiksa amal, dibalasi amal, digenapkan balasan pahala atau siksa), “Tiap-tiap jiwa akan merasakan mati dan sesungguhnya akan dipenuhi pahala kamu di hari kiamat. Maka barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh dia telah menang. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Q.S. Ali Imran 3:185).

Semoga kita menjadi hamba yang dijauhkan dari sifat sombong dan selalu berzikir memuji-Nya, menyadari bahwa kita makhluk yang kecil di hadapan-Nya, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang adalah tanda-tanda bagi orang-orang yang mempunyai pikiran, yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) ‘Ya Tuhan Kami, tidaklah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau maka hindarkanlah kami dari siksa neraka.” (Q.S. Ali Imran 3: 191). Wallahu A’lam

Majalah Percikan Iman, Januari 2006

Read Full Post »

Kikir

 Manusia bersifat kikir dan itu adalah warna sejati dirinya.

Allah Maha Tahu dan Dia memberitahukan hamba-Nya akan warna diri tersebut.

(QS. 17:100). Dalam buku Tazkiyatun Nafs karya Said Hawa disampaikan bahwa

kikir, pelit, bakhil dan berbagai sinonimnya adalah sebuah penyakit jiwa

manusia yang dapat menjauhkan dirinya kepada Allah Tuhan penguasa alam.

Siapa saja yang ingin berakrab diri kepada Tuhannya, maka semestinya ia

mampu untuk membebaskan diri dari belenggu segala penyakit jiwa, dan salah

satunya adalah penyakit kikir.

            Allah Maha Penyayang terhadap hamba-Nya. Dalam banyak kesempatan,

Dia selalu berfirman agar para hamba-Nya terbebas dari penyakit kekikiran.

Dengan rahmat-Nya, ia mengajak para hamba untuk berderma agar terbebas dari

belenggu sifat kekikiran. “Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk

menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka diantara kamu ada orang yang

kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya

sendiri.Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang

membutuhkan(Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu)

dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini).” (QS. 47:38)

           Di kota suci Madinah, saat Rasulullah Saw masih hidup.

Tersebutlah seorang pria miskin yang sedang melintas di sebuah kebun kurma.

Hari itu ia merasa lapar. Tidak ada makanan yang dapat ia makan dan tidak

ada harta yang ia miliki untuk sekedar membeli pangan. Saat ia melintas di

kebun kurma. Ia dapati ada sebuah pohon kurma yang amat subur. Daunnya

rimbun dan buahnya menjuntai hingga hampir menyentuh tanah. Pria itu khilaf,

sebab saat berjalan, hidungnya yang naas tertubruk dengan jumputan buah

kurma yang ranum dan mengundang selera makan. Ia pun tak kuasa menahan diri.

Ia petik sebuah kurma, lalu dimakanlah. Sial…!!! Apa yang ia lakukan

diketahui oleh pemilik kebun yang datang menghardik dengan mengacungkan

parang. Ia pun tertangkap. Kesialan itu semakin bertambah, saat ia tahu

bahwa pemilik kebun kurma itu adalah orang yang amat kikir. “Aku akan bawa

dan adukan kamu kepada Rasulullah. Biar tanganmu dipotong!” Pemilik kebun

itu berkata dengan nada tinggi dan mata mendelik. Si pria miskin tidak bisa

berbuat banyak. Ia tahu dirinya salah. “Tapi, apakah tanganku harus dipotong

hanya sebab sebuah kurma?” ia membatin. Ia pun pasrah saat digiring oleh

pemilik kebun itu.

           “Ya Rasul, potong tangan orang ini. Ia telah mencuri di kebunku!”

pemilik kebun berkata kepada Rasulullah Muhammad Saw sambil menenteng pria

miskin dengan sebelah tangannya. “Apa yang sudah kau curi, wahai saudaraku?”

Rasul Saw bertanya dengan penuh kesabaran. “Maafkan aku, ya Rasulullah! Aku

telah mencuri sebutir kurma dari kebun bapak ini. Aku khilaf, ya Rasul. Aku

lapar.” Pemuda itu mengiba. Rasul Saw menghela nafas sejenak, kali ini

pandangannya ditujukan kepada pemilik kebun, “Hmm… rupanya hanya sebutir

kurma. Mengapa tidak kau infakkan saja kepadanya sehingga engkau akan

mendapat kebaikan dan pahala berlipat?” Rasul bertanya dan menunggu jawaban

dari pemilik kebun itu. “Tidak ya Rasulullah. Orang ini harus diberi

pelajaran. Kalau dibiarkan nanti menjadi kebiasaan. Aku tidak mau

menginfakkan kurma itu. Aku memilih agar orang ini dipotong saja tangannya!”

ia menyergah. “Infakkan wahai saudaraku…! atau maukah kau aku tawarkan yang

lebih hebat lagi…? infakkan pohon kurma yang lebat itu, dan engkau akan

dapat surga karenanya?!” Rasul menerbitkan senyum di sudut bibirnya tanda

optimis menunggu respon dari pemilik kebun itu.

           Sang pemilik kebun menerawang sesaat. Kepalanya diangkat ke arah

langit. Ia menimbang-nimbang kebenaran janji surga dari Rasulullah Saw yang

baru saja disebutkan untuknya. Terakhir, ia pun menghelakan nafas sambil

berujar, “Surga, ya Rasulullah?! Apakah sedemikian remeh kau tawarkan surga

hanya dengan sebatang pohon kurma? Tidak…. Aku tidak menginginkannya!”

bantah pemilik kebun itu tak percaya. Rasul Saw tersedak… Tak terbayang

olehnya kekikiran yang dimiliki oleh salah seorang umatnya. Namun Allah Swt

tidak akan membiarkan hati Rasul berubah sedih. Lalu terdengarlah tutur

seorang pria yang juga turut hadir dalam kesempatan itu. “Wahai pemilik

kebun, bila engkau tidak mau menerima tawaran surga dari Rasulullah mengapa

tidak kau jual saja padaku?” Rasulullah Saw dan pemilik kebun itu tertegun.

Dalam saat bersamaan keduanya menoleh pada sumber suara. Pemilik kebun itu

berkata kepadanya, “Aku tidak akan menjual pohon itu dengan harga yang

murah, wahai saudaraku?” kesombongan terdengar dalam nada suaranya. “Berapa

yang kau minta untuk pohon kurma itu?” sumber suara menunjukkan

keseriusannya. “Aku akan tukar pohon kurma lebatku itu dengan 40 batang

pohon kurma. Ayo… bagaimana, apakah kamu mau membelinya?” Harga yang amat

hebat, fantastis dan tidak masuk akal. Sebuah harga yang terbit dari sifat

kekikiran yang membawa pada ketamakan.

           Namun, kenikmatan surga tidaklah sebanding dengan mahalnya dunia.

Pria itu lalu membalas, “Baik, aku akan beli pohon kurma itu dengan 40

batang kurma yang aku miliki. Bahkan bila engkau meminta lebih dari itu, aku

pun akan membelinya demi mendapatkan surga di akhirat nanti!” Maka dijuallah

pohon itu dengan 40 batang pohon lainnya. Kemudian pemilik pohon yang baru

menginfakkan pohon itu di jalan Allah, berikut kurma yang telah dimakan oleh

pria miskin. Sementara, si pemilik kebun pelit telah mendapatkan keuntungan

dunia yang berkali lipat. Namun karena kekikirannya, ia telah menyia-nyiakan

ajakan Rasulullah Saw demi mendapatkan surga di sisi Allah Ta’ala.

           Kejadian ini kemudian menyebabkan turunnya (asbabun nuzul)

beberapa ayat dari surat Al Lail: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di

jalan Allah) dan bertakwa, Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik

(syurga), Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan

Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup. Serta mendustakan

pahala terbaik, Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.

Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” QS. Al Lail [92]:5-11).

            Demikianlah akhir kisah manusia kikir yang Allah pastikan akan

mendapat kesukaran. Sementara yang terjadi bagi orang yang bersifat penderma

adalah senantiasa kemudahan. Memang banyak manusia yang bersifat kikir dan

itu akan membawa dirinya kepada kerugian sejati. Saat Allah Swt mengajak

berderma dan meminta kita untuk mengeluarkan apa yang kita miliki, itu

berarti Allah menyediakan sebuah kesempatan emas untuk diraih. Allah Maha

Kaya, dan Dia tidak membutuhkan harta hamba-Nya. Dia hanya ingin

melipat-gandakan harta tersebut. Memberi keberkahan padanya, lalu

melimpahkan segala kemudahan. Bila demikian, lalu apa ruginya berderma di jalan-Nya?

           Allah berfirman dengan nada keheranan atas kekikiran manusia,

“Apakah kemudharatan (rugi) bagi mereka, kalau mereka beriman kepada Allah

dan hari kemudian dan menafkahkan sebahagian rezki yang telah diberikan

Allah kepada mereka Dan adalah Allah Maha Mengetahui keadaan mereka.” (QS.4:39)

            Pada kesempatan lain Allah Swt berfirman hal senada, “Dan mengapa kamu

tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah

yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi” (QS. 57:10).

            Mulai sekarang, tanamkan dalam hati kita semua… untuk selalu

bersedia menerima ajakan Allah Swt untuk berderma. Janganlah kesempatan

ini anda lepaskan dan lewatkan! Sehingga pada saatnya kita semua tidak

menjumpai penyesalan dimana tidak ada lagi orang miskin yang mau

menerima derma kita. Di hari… tiada berguna lagi harta serta

keturunan…. Semoga Allah Swt merahmati selalu. Amien!

Dewan Pengawas Syariah-Dompet Dhuafa Republika

Read Full Post »

Dengki

“Janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling membelakangi (saling berpaling), dan janganlah kalian saling memutuskan. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (H.R. Muttafaq ‘alaih)

Hadis ini diriwayatkan Imam al-Bukhari dalam “Al Adab” dan Muslim dalam “Al Birr“. Lebih khusus tentang larangan dengki disebutkan oleh Rasulullah saw. dalam hadis lain:

“Hindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakar.” (H.R Abu Dawud).

Dengki didefiniskan oleh para ulama sebagai:

“Mengangankan hilangnya kenikamatan dari pemiliknya, baik kenikmatan (yang berhubungan dengan) agama maupun dunia.”

Dari definisi di atas kita dapat memahami bahwa iri dengki tidak hanya menyangkut capaian-capaian yang bersifat duniawi, seperti rumah dan kendaraan, melainkan juga menyangkut capaian-capaian di lingkup keagamaan, misalnya dakwah. Ini juga berarti bahwa penyakit dengki bukan hanya menjangkiti kalangan awam. Iri dengki itu ternyata dapat menjalar dan menjangkiti kalangan yang dikategorikan berilmu, pejuang, dan da’i. Seorang da’i atau mubalig, misalnya, tidak suka melihat banyaknya pengikut da’i atau mubalig lain. Seorang yang berafiliasi kepada kelompok atau jama’ah tertentu sangat benci kepada kelompok atau jama’ah lain yang mendapatkan kemenangan-kemenangan. Dan masih banyak lagi bentuk lainnya dari sikap iri dengki di kalangan para “pejuang”. Tapi bagaimana ini bisa terjadi?

Imam al-Ghazali r.a. menjelaskan, “Tidak akan terjadi saling dengki di kalangan para ulama. Sebab yang mereka tuju adalah ma’rifatullah (mengenal Allah). Tujuan seperti itu bagaikan samudera luas yang tidak bertepi. Dan yang mereka cari adalah kedudukan di sisi Allah. Itu juga merupakan tujuan yang tidak terbatas. Karena kenikmatan paling tinggi yang ada pada sisi Allah adalah perjumpaan dengan-Nya. Dan dalam hal itu tidak akan ada saling dorong dan berdesak-desakan. Orang-orang yang melihat Allah tidak akan merasa sempit dengan adanya orang lain yang juga melihat-Nya. Bahkan, semakin banyak yang melihat semakin nikmatlah mereka.

Al-Ghazali melanjutkan, “Akan tetapi, bila para ulama, dengan ilmunya itu menginginkan harta dan wibawa mereka pasti saling dengki. Sebab harta merupakan materi. Jika ia ada pada tangan seseorang pasti hilang dari tangan orang lain. Dan wibawa adalah penguasaan hati. Jika hati seseorang mengagungkan seorang ulama pasti orang itu tidak mengagungkan ulama lainnya. Hal itu dapat menjadi sebab saling dengki.” (Ihya-u ‘Ulumid-Din, Imam Al-Ghazali, juz III hal. 191.)

Jadi, dalam konteks perjuangan, dengki dapat merayapi hati orang yang merasa kalah wibawa, kalah popularitas, kalah pengaruh, kalah pengikut. Yang didengki tentulah pihak yang dianggapnya lebih dalam hal wibawa, polularitas, pengaruh, dan jumlah pengikut itu. Tidak mungkin seseorang merasa iri kepada orang yang dianggapnya lebih “kecil” atau lebih lemah. Sebuah pepatah Arab mengatakan, “Kullu dzi ni’matin mahsuudun.” (Setiap yang mendapat kenikmatan pasti didengki).

Penyakit dengki sangat berbahaya. Tapi bahayanya lebih besar mengancam si pendengki ketimbang orang yang didengki. Bahkan realitas membuktikan, sering kali pihak yang didengki justru diuntungkan dan mendapatkan banyak kebaikan. Sebaliknya, si pendengki menjadi pecundang. Di antara kekalahan-kekalahan pendengki adalah sebagai berikut.

Pertama, kegagalan dalam perjuangan.
Perilaku pendengki sering tidak terkendali. Dia bisa terjebak dalam tindakan merusak nama baik, mendeskreditkan, dan menghinakan orang yang didengkinya. Dengan cara itu ia membayangkan akan merusak citra, kredibelitas, dan daya tarik orang yang didengkinya dan sebaliknya mengangkat citra, nama baik, dan kredibelitas pihaknya. Namun kehendak Allah tidaklah demikian. Rasulullah saw. bersabda:

Dari Jabir dan Abu Ayyub al-Anshari, mereka mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada seorang pun yang menghinakan seorang Muslim di satu tempat yang padanya ia dinodai harga dirinya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan menghinakan orang (yang menghina) itu di tempat yang ia inginkan pertolongan-Nya. Dan tidak seorang pun yang membela seorang Muslim di tempat yang padanya ia dinodai harga dirinya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan membela orang (yang membela) itu di tempat yang ia menginginkan pembelaan-Nya.” (H.R. Ahmad, Abu Dawud, dan Ath-Thabrani)

Kedua, melumat habis kebaikan.

Rasulullah saw. bersabda, “Hindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakar.” (H.R. Abu Dawud).

Makna memakan kebaikan dijelaskan dalam kitab ‘Aunul-Ma’bud, “Memusnahkan dan menghilangkan (nilai) ketaatan pendengki sebagaimana api membakar kayu bakar. Sebab kedengkian akan mengantarkan pengidapnya menggunjing orang yang didengki dan perbuatan buruk lainnya. Maka berpindahlah kebaikan si pendengki itu pada kehormatan orang yang didengki. Maka bertambahlah pada orang yang didengki kenikmatan demi kenikmatan sedangkan si pendengki bertambah kerugian demi kerugian. Sebagaimana yang Allah firmankan, ‘Ia merugi dunia dan akhirat’.” (‘Aunul-Ma’bud juz 13:168)

Ketiga, tidak produktif dengan kebajikan.

Rasulullah saw. bersabda, “Menjalar kepada kalian penyakit umat-umat (terdahulu): kedengkian dan kebencian. Itulah penyakit yang akan mencukur gundul. Aku tidak mengatakan bahwa penyakit itu mencukur rambut melainkan mencukur agama.” (H.R. At-Tirmidzi)

Islam yang rahmatan lil-‘alamin yang dibawa oleh orang yang di dadanya memendam kedengkian tidak akan dapat dirasakan nikmatnya oleh orang lain. Bahkan pendengki itu tidak mampu untuk sekadar menyungging senyum, mengucapkan kata ‘selamat’, atau melambaikan tangan bagi saudaranya yang mendapat sukses, baik dalam urusan dunia maupun terkait dengan sukses dalam perjuangan. Apatah lagi untuk membantu dan mendukung saudaranya yang mendapat sukses itu. Dengan demikian Islam yang dibawanya tidak produktif dengan kebaikan alias gundul.

Keempat, menghancurkan harga diri.

Ketika seseorang melampiaskan kebencian dan kedengkian dengan melakukan propaganda busuk, hasutan, dan demarketing kepada pihak lain, jangan berangan bahwa semua orang akan terpengaruh olehnya. Yang terpengaruh hanyalah orang-orang yang tidak membuka mata terhadap realitas, tidak dapat berpikir objektif, atau memang sudah “satu frekuensi” dengan si pendengki. Akan tetapi banyak pula yang mencoba melakukan tabayyun, mencari informasi pembanding, dan berusaha berpikir objektif. Nah, semakin hebat gempuran kedengkian dan kebencian itu, bagi orang yang berpikir objektif justru akan semakin tahu kebusukan hati si pendengki. Orang yang memiliki hati nurani ternyata tidak senang dengan fitnah, isu murahan, atau intrik-intrik pecundang. Di mata mereka orang-orang yang bermental kerdil itu tidaklah simpatik dan tidak mengundang keberpihakan.

Orang yang banyak melakukan provokasi dan hanya bisa menjelek-jelekkan pihak lain juga akan terlihat di mata orang banyak sebagai orang yang tidak punya program dalam hidupnya. Dia tampil sebagai orang yang tidak dapat menampilkan sesuatu yang positif untuk “dijual”. Maka jalan pintasnya adalah mengorek-ngorek apa yang ia anggap sebagai kesalahan. Bahkan sesuatu yang baik di mata pendengki bisa disulap menjadi keburukan. Nah, mana ada orang yang sehat akalnya suka cara-cara seperti itu?

Kelima, menyerupai orang munafik.

Di antara perilaku orang munafik adalah selalu mencerca dan mencaci apa yang dilakukan oran lain terutama yang didengkinya. Jangankan yang tampak buruk, yang nyata-nyata baik pun akan dikecam dan dianggap buruk. Allah swt. menggambarkan prilaku itu sebagai prilaku orang munafik. Abi Mas’ud al-Anshari r.a. mengatakan, saat turun ayat tentang infaq para sahabat mulai memberikan infaq. Ketika ada orang Muslim yang memberi infaq dalam jumlah besar, orang-orang munafik mengatakan bahwa dia riya. Dan ketika ada orang Muslim yang berinfak dalam jumlah kecil, mereka mengatakan bahwa Allah tidak butuh dengan infak yang kecil itu. Maka turunlah ayat 79 At-Taubah. (Al-Bukhari dan Muslim)

Keenam, gelap mata dan tidak termotivasi untuk memperbaiki diri.

Pendengki biasanya sulit melihat kelemahan dan kekurangan diri sendiri dan tidak dapat melihat kelebihan pada pihak lain. Akibatnya pula jalan kebenaran yang terang benderang menjadi kelam tertutup mega kedengkian. Apa pun yang dikatakan, apa pun yang dilakukan dan apa pun yang datang dari orang yang dibenci dan didengkinya adalah salah dan tidak baik. Akhirnya dia tidak dapat melaksanakan perintah Allah swt. sebagaimana yang disebutkan dalam ayat, “Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (Q.S. Az-Zumar 39: 18)

Di sisi lain, pendengki –manakala mengalami kekalahan dan kegagalan dalam perjuangan— cenderung mencari kambing hitam. Ia menuduh pihak luar sebagai biang kegagalan dan bukannya melakukan muhasabah (introspeksi). Semakin larut dalam mencari-cari kesalahan pihak lain akan semakin habis waktunya dan semakin terkuras potensinya hingga tak mampu memperbaiki diri. Dan tentu saja sikap ini hanya akan menambah keterpurukan dan sama sekali tidak dapat memberikan manfaat sedikit pun untuk mewujudkan kemenangan yang didambakannya.

Ketujuh, membebani diri sendiri.

Iri dengki adalah beban berat. Bayangkan, setiap melihat orang yang didengkinya dengan segala kesuksesannya, mukanya akan menjadi tertekuk, lidahnya mengeluarkan sumpah serapah, bibirnya berat untuk tersenyum, dan yang lebih bahaya hatinya semakin penuh dengan marah, benci, curiga, kesal, kecewa, resah, dan perasaan-perasaan negatif lainnya. Nikmatkah kehidupan yang penuh dengan perasaan itu? Seperti layaknya penyakit, ketika dipelihara akan mendatangkan penyakit lainnya. Demikian pula penyakit hati yang bernama iri dengki. “Di dalam hati mereka ada penyakit maka Allah tambahkan kepada mereka penyakit (lainnya).” (Q.S. Al Baqarah 2: 10)

Jika demikian, mengertilah kita makna pernyataan seorang ulama salaf, seperti disebutkan dalam kitab Kasyful-Khafa 1:430

“Pendengki tidak akan pernah sukses.” Wallahu A’lam.

Read Full Post »

Older Posts »