Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2007

Wajibkan Kristenisasi

EDHIE SAPTO WEDA Pendeta Radikal Mantan Pembunuh Bayaran :

Oleh : Fakta 27 Apr, 07 – 5:30 pm

Waspadalah!! Gerakan pemurtadan semakin agresif, kasar dan membabi buta. Dua orang pendeta radikal berasal dari dua suku, bersatu dalam misi meng­kristenkan umat Islam. Mereka adalah Edhie Sapto, pendeta asal Sumenep Madura dan Yosua Adhie, pendeta asal Lamongan Jawa Timur yang mengaku mantan ustadz sebuah pesantren. Alih-alih mendapat mandat dari Yesus berupa amanat agung, mereka bertekad untuk mengkristenkan umat Islam sebanyak-banyaknya. Cara radikal ditempuh agar umat Islam dipertobatkan menjadi Kristen, sebagai hadiah kepada Yesus Kristus.

Cara kerja kedua pendeta itu cukup unik. Edhie Sapto yang lebih senior mendirikan sekaligus menjadi ketua Yayasan Kaki Dian Emas (YKDE), berlokasi di rumahnya, Kom­pleks Galaksi Jl Palem F-844 kelurahan Jaka Mulya, Bekasi Selatan. Sedangkan Yosua Adhie adalah pendeta yunior yang dimurtad­kan Edhie Sapto tahun 2003.

Dalam tempo dua tahun, matanglah kekristenan Yosua. Maka mereka mendirikan Sekolah Alkitab Terampil dan Terpadu (SATT) dan menerbitkan majalah Midrash Talmiddim. Pendeta Edhie Sapto menjadi penasihat, sedangkan Pendeta Yosua menjabat sebagai Kepala Sekolah SATT dan Ketua Redaksi Midrash Talmiddim. Sedangkan penanggung jawabnya adalah Pendeta Juanda Senen.

Secara terang-terangan, Edhie dan Yosua mewajibkan para mahasiswa SATT untuk memurtadkan umat Islam minimal 5 orang dari daerah Madura, Cilacap, Lampung, Madura dan Riau. Jika tidak berhasil, mereka tidak memenuhi syarat kelulusan. Program ini diumumkan secara terbuka di majalah:

Midrash Talmiddim
“Program SATT: Pengutusan siswa/siswi SATT dalam rangka mencari jiwa minimal lima jiwa dari saudara sepupu sebagai salah satu syarat kelulusan yang ada di Manado, Cilacap, Madura, Lampung dan Riau” (Midrash Talmiddim edisi 4/2006, hal. 44).

Hasil misi pemurtadan ini dipublikasikan di majalah Midrash Talmiddim. Yang paling menonjol dalam majalah ini adalah publikasi foto-foto full colour seputar aksi pemurtadan oreng Madure. Foto Edhie Sapto yang sedang duduk beralas tikar bersama masyarakat Madura dengan ciri khas sarung dan peci putih­nya, diberi keterangan, “Bersama kiyai di Sampang Madura, di mana para ustadz serius mendengarkan Firman Tuhan” (edisi kedua/2005, hal. 20).

Dari sekian banyak gambar, foto yang paling heboh ditampilkan di sampul depan majalah edisi 4/2006. Tampak para lelaki paruh baya yang memakai baju shalat, bersarung dan berpeci hitam, dipegang kepalanya untuk didoakan secara Kristen oleh Edhie Sapto. Para bapak ini nampak khusyuk mengikuti ritual sang pendeta. (hal. 39).

Nampak pula wanita Madura berkerudung dan beberapa pria paruh baya lengkap dengan busana shalat khas penampilan Madura. Dengan khidmat mereka duduk bersila, pandangannya tertunduk ke bawah. Sementara Pendeta Edhie Sapto berdoa dalam nama Yesus seraya mengangkat tangannya di hadapan orang-orang Madura yang sedang didoakannya. Telapak tangannya terbuka diarahkan ke kepala orang-orang Madura, seolah-olah sedang memancarkan energi tertentu. Setelah didoakan, nampak seorang bapak tak sadarkan diri seperti orang kesu­rupan suatu roh. Foto-foto ini diberi keterangan “Para Ustadz minta didoakan dan mereka dijamah oleh Roh Kudus.

Dalam kesaksiannya di majalah tersebut, Yosua memamerkan prestasi pemurtadan yang dilakukannya. Dalam satu tahun ia berhasil memurtadkan lebih dari 50 orang.

Yosua Adhie menekankan pentingnya bahasa Arab dalam proses pengkristenan umat Islam. Ia menulis: “Dan puji Tuhan, dalam tahun 2004, lebih dari 50 jiwa yang bisa saya hadiahkan untuk tuhan Yesus… Untuk mempermudah dalam penginjilan, saya menggunakan Bahasa Arab untuk memberitakan Firman Tuhan. Selain itu, saya juga mulai menciptakan beberapa lagu yang berbahasa Arab untuk sarana penginjilan.” (Midrash Talmiddim edisi 3/2006, hal. 15).

Lagu yang dimaksud Yosua adalah qasidah berirama padang pasir yang biasa digemari umat Islam. Syairnya berisi tentang ajaran dan doktrin ketuhanan Yesus dalam bahasa Arab.Beberapa judul lagu Qasidah gubahan Yosua adalah: Isa Almasih Qudro­tulloh, Allahu Akbar, Laukanallohu Aba’akum, Isa Kalimatullah, Ahlan Wasahlan Bismi­robbina, Nahmaduka Ya Allah, dll.

Kajian perbandingan agama yang dituangkan di Midrash Talmiddim, sarat pelecehan terhadap Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW, misal­nya: menyatakan Allah dalam Al-Quran itu tidak memberi ampunan (tidak Maha Pengampun) dan membiarkan orang yang sesat dalam kesesatan (tidak memberikan petunjuk); memfitnah Nabi Muhammad dengan tuduhan pernah jadi orang kafir karena pernah beribadah dengan cara semedi di goa; Muhammad adalah seorang pemarah yang membuat ayat Al-Qur‘an untuk melampiaskan kemarahan kepada orang Yahudi; Nabi Muhammad tidak memiliki mukjizat; dll.

Aksi kedua pendeta radikal itu sungguh berbahaya bagi kerukunan umat beragama. Setiap saat umat Islam beribadah dan berdoa kepada Allah SWT. Setiap waktu kaum muslimin mengamalkan sunnah Nabi Muhammad SAW. Lantas, jika Allah dan Nabi Muhammad dihina secara terbuka, tentunya ini bisa memicu kerusuhan umat beragama. Di­tambah dengan menjadikan orang Madura sebagai target Kristenisasi, sungguh sangat berbahaya bagi stabilitas keamanan. Karena orang Madura punya slogan “Mateh odik paggun Islam” (mati dan hidup tetap Islam). Jika kehormatan agama mereka dilecehkan, maka jawaban mereka adalah carok. (lihat: Pengkristenan Madura Pancing Amarah).

KH Kholil Ridwan, salah satu ketua MUI Pusat tidak kaget terhadap ulah Pendeta Edhie Sapto dan Pendeta Yosua. Menurutnya, ulah kedua pendeta ini hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh Pendeta Suradi beberapa tahun silam. Pendeta Suradi dan orang-orang sepertinya sudah difatwa mati oleh para ulama karena melecehkan Allah dan Nabi Muham­mad.

Abu Deedat mengaminkan hal ini. Maka ketua umum FAKTA ini mengimbau agar Komite Penganggulangan Bahaya Pemurtadan MUI Pusat melaporkan kasus ini secara hukum ke pihak yang berwenang.

Dalam kacamata Kristen, tindakan kedua pendeta radikal itu sangat tidak terpuji.

Romo Benny Susetyo, Sekretaris Komisi Agama dan Kepercayaan KWI mengecam aksi kedua pendeta tersebut. Dalam pandangan KWI, pemurtadan adalah tindakan yang dilarang karena bertentangan dengan amanat agung.

“Sebaiknya dilaporkan saja kepada aparat kepo­lisian, karena itu kasus penodaan agama. Apalagi mengganggu, bahkan menjelekkan agama orang lain, itu ada sanksi hukumnya,” tegasnya.

Semua pihak keberatan dengan ulah Pendeta Edhie Sapto dan Pendeta Yosua. Mereka sepakat agar polisi menangani kasus penodaan agama ini. Aksi kedua pendeta radikal itu semakin merajalela dan memakan banyak korban pemurtadan. Sebelum polisi bergerak, Ustadz Arsyad Sulthon berangkat dari pulau garam untuk mengadili kedua pendeta itu. Ia merasa perlu berbuat demi­kian karena salah seorang murid­nya dimurtadkan. Ketika menjalankan misi pemurtadan di Bandung, Pendeta Yosua dibunuhnya. Kini Arsyad mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan polisi (Pikiran Rakyat 5/12/2006; Tribun Jabar 12/12/2006).

Di mata hukum positif, tindakan Arsyad adalah perbuatan anarkhis yang tidak bisa dibenarkan. Tapi dalam kacamata Islam, tindakan Arsyad ini tidak bisa disalahkan. KH Sulaiman Zachawerus menyebutkan bahwa dalam pandangan Islam, pelaku penghinaan terhadap Islam, Allah dan Nabi-Nya hukumnya dibunuh. Akan tetapi, jika umat Islam merasa terhina kemudian melakukan pembunuhan, jelas melanggar hukum positif. Masalahnya, kalau rasa keberagamaan sudah tersinggung, kadang-kadang orang membuat keputusan tanpa memandang hukum lagi.

Bagi kami yang namanya malu itu harus dibayar tunai. Kalau gara-gara itu terjadi kekerasan oleh umat Islam terhadap mereka, ya tidak boleh disalahkan. Tapi kita tidak gegabah. Kita akan menempuh jalur hukum supaya orang-orang yang sengaja menebar fitnah dan penghinaan terhadap Islam ini ditangani oleh hukum. Kalau hukum juga berlagak nggak tahu, ya.. apa boleh buat?” tegasnya. mai, mag, hbj (majalah Tabligh)

EDHIE SAPTO WEDA Pendeta Radikal Mantan Pembunuh Bayaran
Tak heran jika setiap gerakan peng-injilan Pendeta Edhie Sapto selalu memicu kerusuhan. Maklum, putra Madura betubuh kurus ini berasal dari latar belakang dunia hitam. Sebelum menjadi pendeta, Edhie adalah seorang pengusaha ganja dan pembunuh bayaran yang sudah pernah masuk penjara sudah tujuh kali dalam kasus pembunuhan dan peng­aniayaan. (jawaban.com).

Tahun 2002 Edhie Sapto menyekap puluhan orang untuk dikristenkan di kompleks yayasannya yang di dalamnya terdapat Sekolah Tinggi Teologi (STT) dan gereja. Orang-orang dari luar yang direkrut dari berbagai daerah itu semula dijanjikan sekolah gratis dan pekerjaan di Jakarta. Di antara mereka adalah para guru ngaji di kampungnya. Setiba di Bekasi, mereka dijebloskan ke tempat penampungan yang tidak lain adalah lokasi rumah dan yayasan milik Edhie Sapto. Ternyata sekolah yang dimaksud adalah STT dan pekerjaan yang dimaksud adalah menjaga peternakan babi.

Di markas pemurtadan itu, Edhie mewajibkan warga pendatang untuk mengikuti kebaktian setiap hari di gereja. Jika menolak, maka sebagai hukuman­nya mereka tidak diberi makan.

Heryanto, salah seorang korban yang berasal dari Manado mengalami berbagai siksaan akibat menolak masuk Kristen. Ia sempat disiksa, ditelanjangi dan dikunci dalam kamar tanpa diberi makan dan minum beberapa hari. Karena tetap bertahan dalam Islam, Edhie mengancam Heryanto dengan menyatakan bahwa dulu dia adalah preman dan pembunuh.

Suatu hari, dengan susah payah Heryanto berhasil meloloskan diri dari cengkeraman Edhie Sapto. Ia lapor ke masjid terdekat, bertemu dengan Ustadz Masri. Dengan sigap Masri melaporkan kepada Hamdi Elgumanti, koordinator Divisi Khusus Front Bersama Umat Islam (FBUI). Hamdi segera berkoordinasi dengan MUI, FAKTA dan Brigade Ababil serta aparat keamanan.

Tak lama kemudian, markas pemurtadan Edhie Sapto digerebeg oleh FBUI bekerja sama dengan FAKTA, Brigade Ababil, MUI dan warga setempat. Aparat kepolisian dan kelurahan tak ketinggalan ikut mengamankan pendeta ini. Setelah ketangkap basah, maka Edhie menyerahkan penghuni gelap di yayasannya kepada Panglima Brigade Ababil, KH Sulaiman Zachawerus (3/5/2002).

Penyerahan korban penyekapan ini disaksikan oleh Kapolsek Bekasi Selatan Iptu Arief, Kepala Kelurahan Jaka Mulya HA Subawaihi, Ketua Divisi Khusus Front Bersama Umat Islam Hamdi, dan Ketua Umum FAKTA KH Ramly Nawai (alm.). Edhie berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.

Lima tahun berlalu, kini Pendeta Edhie Sapto belum kapok juga. Bersama Pendeta Yosua, ia melancarkan aksi yang lebih nekad lagi, dengan mewajibkan mahasiswanya untuk mengkristenkan umat Islam masing-masing minimal lima orang. Ia juga menargetkan aksinya untuk suku tertentu, antara lain suku Madura. Padahal sebagai orang Madura, Edhie tahu bahwa orang Madura itu adalah orang Islam yang keras dan fanatik. Meng­kristenkan mereka berarti pelecehan kehormatan. Orang Madura berprinsip, bila kehormatan sudah diinjak-injak, maka harus dibayar dengan nyawa. ‘tambana todus mate,’ demikian ungkapan Madura yang berarti obatnya malu adalah kematian.

Modus yang ditempuh Edhie, dengan mendirikan pengajaran bahasa Arab yang diklaim sebagai “pengajaran metode pesantren.” Dengan lantangnya metode ini diiklankan di majalah: “Anda menginginkan putra-putri anda mahir berbahasa Arab? Datang saja ke tempat kami: Pusat Pelatihan Bahasa Arab dengan Metode Pesantren. GRATISS…!!! Dengan master instruktur: Pendeta Edhie Sapto dan Yosua Adhie, Husniah dan Fitriana Agatha” (edisi 3 hal. 21; edisi 4 hal. 44).

Sayangnya, Edhie enggan memberikan keterangan yang jujur ketika dikonfirmasi seputar SATT yang bernaung di bawah yayasannya. Keterangan yang diberikan kepada Tabligh via telepon, berbelit-belit dan sedikit mencla-mencle. Pada mulanya ia mengaku dirinya sebagai ketua SATT. Tapi ketika ditanyakan tentang kewajiban meng­kristenkan umat Islam minimal 5 orang yang diterapkan kepada mahasiswanya, Edhie terdiam sejenak lalu menjawab bahwa itu mesti ditanyakan langsung kepada Yosua Adhie selaku kepala sekolah. Ini adalah jawaban aneh. Seharusnya Edhie mengerti maksud kalimat iklan SATT tersebut, karena di ujung iklan itu nama dan nomor HP Edhie dicantumkan dengan jelas. Tabligh pun mengalami kesulitan untuk crosscheck kepada Pendeta Yosua Adhie. Karena ia sudah dimartil kepalanya “baca: dibunuh” oleh Ustadz Arsyad dari Madura.

Ketika ditanya tentang target penginjilan di Madura, Edhie mengelak bahwa dirinya bersama timnya tidak pernah menargetkan suku Madura. Dialog yang dilakukan di Madura pun dilakukan secara pribadi, bukan dengan pesantren atau tokoh masyarakat.

Jawaban ini adalah jelas dusta yang sangat menggelikan, karena di majalah yang diterbit­kan, kata “Madura” jelas-jelas dicantumkan sebagai salah satu suku yang diwajibkan kepada mahasiswa SATT untuk dikristenkan minimal 5 orang. (edisi 4 hlm. 44). Dusta yang kedua, di majalah yang sama dipampang foto Edhie dan anak buahnya ketika menginjili orang Madura. Foto tersebut diberi keterangan “Pendeta DR Edhie Sapto Wedha dan team berdialog dengan para ustadz di Pondok Pesantren Madura” (edisi 4 hal. 11).

 

Bahkan di majalah yang sama, pada halaman berikutnya Edhie memproklamirkan tekadnya untuk menyiarkan Kristen ke Madura: “Bagaimanapun sikap keras atau ganasnya mereka (suku Madura, pen.), kabar baik tentang Kristus tetap harus diberitakan. Jangan malah kita menghindar dan membenci mereka.” (edisi 4 hal. 13).

Saat menyambangi komplek yayasan dan rumah Edhie di Jaka Mulya, lagi-lagi Tabligh menemui jalan buntu. Karena kawasan yang dikelilingi oleh pagar tinggi itu dijaga ketat oleh para satpam. Seolah sedang menutup-nutupi sesuatu dalam komplek tersebut, para satpam yang kurang bersahabat itu melarang wartawan Tabligh untuk wawancara, memasuki komplek maupun sekedar mengambil gambar lokasi dengan kamera foto.

Dari pintu yang terbuka, wartawan Tabligh sempat melihat ada beberapa orang yang sedang meringis kesakitan. Saat ditanya kenapa orang tersebut, salah seorang satpam menjawab dengan malu-malu, “Itu orang yang sedang dihukum karena melakukan dosa.”

Entah, dosa apa yang telah diperbuat oleh orang tersebut. Apakah sama seperti yang dialami oleh Heryanto lima tahun yang lalu? Wallahu a’lam. mai, mag, hbj (majalah Tabligh)  -swaramuslim.com-

 

Read Full Post »

Perlukah

Bersyahadat Lagi?

Senin, 30 Apr 07 10:57 WIB

Assalamu ‘alaikum. Wr. Wb.

Mudah-mudahan Ustadz ahmad selalu dilimpahi rahmat oleh Allah SWT.. Langsung saja ya Pak Ustadz, beberapa hari belakangan saya sedang “didekati” oleh seorang rekan dekat saya, di mana dia mengajak saya untuk bergabung dengan sebuah komunitas Islam.

Dia tidak menyebutkan siapa sebenarnya komunitas itu, akan tetapi salah satu tahap yang harus dilalui untuk tergabung dengan komunitas itu adalah harus bersyahadat. Hal ini pula yang membuat saya merasa janggal.

Saya ingin bertanya, apakah melakukan syahadat ulang untuk masuk ke dalam suatu komunitas itu dibenarkan? Jika tidak, apakah ada dalil untuk meng-counter ajakan rekan saya itu?

Jazakumullah khairan katsira

Wassalamu ‘alaikumWr. Wb.

A.d.

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Syahadat tidak perlu kita ulang, sebab paling tidak kitasudah kita lakukan tiap hari dalam sehari semalam. Paling tidak 9 kali kita melakukan tasyahhud dalam shalat, yaitu 2 kali dalam shalat Dzhuhur, 2 kali dalam shalat Ashar, 2 kali dalam shalat Maghrib, 2 kali dalam shalat Isya’ dan 1 kali dalam shalat shubuh.

Jadi syahadat yang mana lagi yang harus diucapkan?

Syahadat itudiucapkan oleh orang kafir yang masuk Islam, sebagai tanda bahwa dirinya masuk Islam. Sedangkan orang yang sejak lahir sudah muslim, baginya syahadat bukan lagi tanda masuk Islam. Melainkan untuk menguatkan keimanan, atau memperbaharuinya.

Yang perlu dikritisi dari jamaah yang anda ceritakan itu adalah pemahaman mereka tentang konsep keIslaman. Apakah dia perpikiran bahwa siapa pun orang yang tidak ikut ke dalam jamaahnya dianggap bukan orang Islam? Sehingga harus membaca syahadat lagi?

Apakah dia beranggapan bahwa kalau tidak ikut dalam jamaahnya, orang-orang lain dianggap sesat dan tidak punya status keIslaman?

Kalau memang begini cara berpikirnya, maka ketahuilah bahwa jamaah itu punya cara pemikiran takfir yang sesat. Sebab dia beranggapan bahwa semua orang yang tidak ikut jamaahnya bukan Islam.

Bukankah setiap bayi lahir itu dalam keadaan Islam? Bagaimana mungkin kita menjatuhkan vonis kafir kepada semua orang Islam, sehingga setiap ada yang mau masuk ke dalam suatu jamaah, kita wajibkan mengulang syahadat lagi?

Sejak kapan orang itu dan jamaahnya punya hak untuk memvonis orang lain masuk Islam atau tidak? Siapakah yang memberikan hak itu kepada mereka? Sebagai apakah hak itu diberikan?

Semua pertanyaan itu harus dijawab dengan landasan syariah yang kuat. Bukan sekedar memberikan klaim belaka.

Jadi silahkan anda meminta penjelasan dengan detail atas semua pertanyaan itu, sebab anda toh tidak ingin membeli kucing dalam karung, kan?

Wallahu a’lam bishshawab, wassaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

Orang Tua Lebih Suka Anaknya Pacaran

Ketimbang Menikah?

Senin, 30 Apr 07 08:53 WIB

Assalamualaikum Wr. Wb.

Dewasa ini saya sungguh prihatin bila melihat ada seorang anak yang ingin menikah, bahkan pasangan pun sudah bersedia, namun orang tua cenderung memilih untuk memberikan waktu untuk ta’aruf lebih lama (pacaran dulu)?

Terus terang banyak sekali saya temui teman-teman yang siap menikah namun orang tuanya menolak, dengan berbagai alasan, sehingga teman saya itu pacaran dengan sembunyi-sembunyi. Kebanyakan dari para orang tua tidak tahu bahwa Allah SWT pasti memudahkan rejeki di antara keduanya jika hubungan mereka diresmikan.

Mohon penjelasan, Jazakallahu Khairan Katsira-

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Dimz

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebenarnya niat para orang tua itu baik, yaitu penjajakan pra pernikahan. Jangan sampai pasangan itu terburu-buru menikah, padahal sebenarnya tidak terjadi kecocokan antara keduanya.

Bahkan nabi Muhammad SAW sendiri pun juga menganjurkan adanya penjajakan atau ta’aruf terlebih dahulu sebelum menikah, sebagaimana yang bisa kita baca dalam banyak riwayat.

Dari Abu Hurairah ra berkata `Saya pernah di tempat kediaman Nabi, kemudian tiba-tiba ada seorang laki-laki datang memberitahu, bahwa dia akan kawin dengan seorang perempuan dari Anshar, maka Nabi bertanya: Sudahkah kau lihat dia? Ia mengatakan: Belum! Kemudian Nabi mengatakan: Pergilah dan lihatlah dia, karena dalam mata orang-orang Anshar itu ada sesuatu.` (Riwayat Muslim)

Di lain waktu, juga ada shahabat yang diperintahkan oleh nabi SAW untuk melihat terlebih dahulu calon isterinya.

Dari Mughirah bin Syu`bah bahwa dia pernah meminang seorang perempuan. Kemudian Nabi s.a.w. mengatakan kepadanya:`Lihatlah dia! Karena melihat itu lebih dapat menjamin untuk mengekalkan kamu berdua.` Kemudian Mughirah pergi kepada dua orang tua perempuan tersebut, dan memberitahukan apa yang diomongkan di atas, tetapi tampaknya kedua orang tuanya itu tidak suka. Si perempuan tersebut mendengar dari dalam biliknya, kemudian ia mengatakan: Kalau Rasulullah menyuruh kamu supaya melihat aku, maka lihatlah. Kata Mughirah: Saya lantas melihatnya dan kemudian mengawininya. (Riwayat Ahmad, Ibnu Majah, Tarmizi dan ad-Darimi).

RasulullahSAW juga bersabda:

`Apabila salah seorang di antara kamu hendak meminang seorang perempuan, kemudian dia dapat melihat sebahagian apa yang kiranya dapat menarik untuk mengawininya, maka kerjakanlah.` (Riwayat Abu Daud)

Maka proses saling kenal dan saling ‘melihat’ terlebih dahulu merupakan bagian dari ajaran Islam. Tinggal yang jadi masalah adalah bagaimana teknis yang dibenarkan untuk bisa saling melihat? Bagaimanamendekatan yang sesuai agama tentang saling menjajaki? Bagaimana sikap dan sopan santun syariah terntang saling berpacaran?

Rupanya pada titik inilah kita mengalami kelemahan. Termasuk para orang tua. Melepas sepasang calon pengantin untuk berbicara berduaan saja, baik di rumah atau di luar rumah tentu bukan cara yang dibenarkan agama.

Sebab khalwat itu tetap haram, apapun alasannya. Dan Islam telah menetapkan keharamannya sejak 14 abad yang lalu. Sampai kiamat datang pun akan tetap haram. Tidak bisa kita beralasan bahwa zaman sudah berubah, lalu hukum yang telah ada diubah seenaknya. Tidak lantas karena pola kehidupan sudah mengalami kemajuan maka kita semaunya mengotak-atik agama ini.

Pacaran Islami

Maka yang kita perlukan sekarang ini adalah cara bagaimana ‘pacaran Islami’. Sesungguhnya dalam syariah Islam, seorang laki-laki itu dibolehkan pergi bersama wanita calon isterinya, dengan syarat disertai oleh ayah atau salah seorang mahramnya.

Dbiolehkan mengajaknya ke tempat yang boleh dikunjungi untuk mengetahui, dengan tujuan untuk mengetahuikecerdikannya, perasaannya dan kepribadiannya. Semua ini termasuk kata sebagian yang disebut dalam hadis Nabi di atas yang mengatakan: `... kemudian dia dapat melihat sebagian apa yang kiranya dapat menarik dia untuk mengawininya.`

Dibolehkan juga si laki-laki melihat perempuan dengan sepengetahuan keluarganya; atau sama sekali tidak sepengetahuan dia atau keluarganya, selama melihatnya itu bertujuan untuk meminang. Seperti apa yang dikatakan Jabir bin Abdullah tentang isterinya: `Saya bersembunyi di balik pohon untuk melihat dia.`

Bahkan dari hadis Mughirah di atas kita tahu, bahwa seorang ayah tidak boleh menghalang-halangi anak gadisnya untuk dilihat oleh orang yang berminat hendak meminang dengan dalih tradisi. Sebab yang harus diikuti ialah tradisi agama, bukan agama harus mengikuti tradisi manusia.

Namun di balik itu, seorang ayah dan laki-laki yang hendak meminang maupun perempuan yang hendak dipinang, tidak diperkenankan memperluas mahramnya, seperti yang biasa dilakukan oleh penggemar-penggemar kebudayaan Barat dan tradisi-tradisi Barat. Ekstrimis kanan maupun kiri adalah suatu hal yang amat ditentang oleh jiwa Islam.

Jangan Terburu-buru Menikah

Anjuran orang tua tentang jangan terburu-buru menikah memang ada benarnya. Selain masalah kecocokan, juga masalah persiapan tentang bentuk rumah tangga yang akan dijalani.

Tentu saja salah satu faktor terpenting adalah masalah kemandirian dari sisi finansial. Seorang anak yang masih mahasiswa tingkat satu, tentu jauh dari mandiri, kalau selama ini tidak dididik untuk mandiri.

Yang dimaksud dengan mandiri bukan berarti harus punya rumah pribadi, kendaraan pribadi atau bisa membiayai pesta pernikahan sendiiri. Mandiri adalah mampu menghidupi diri sendiri dan isteri. Tentu saja keduanya harus siap untuk hidup seadanya dan pas-pasan, paling tidak untuk sementara waktu.

Karena mungkin penghasilannya belum bisa mengkover semua kebutuhan hidup yang selama ini ditanggung oleh kedua orang tuanya.

Jadi kalau sudah sedikit mulai punya penghasilan, boleh lah diuji coba untuk mandiri. Bolehlah sedikit diberi kebebasan untuk mulai berumah tangga.

Tetapi kalau sama sekali tidak punya penghasilan, sementara terbiasa hidup enak dengan biaya orang tua, lalu tiba-tiba minta kawin, wajar saja bila orang tua merasa anaknya belum siap.

Maka sebaiknya semua dibuat dengan penuh perhitungan, terburu-buru menikah bukan cara yang benar. Tetapi berlambat-lambat pun penuh resiko. Jadi seimbang dan tawazun agaknya menjadi alternatif yang terbaik.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

Petting

Termasuk Zina?

Senin, 30 Apr 07 07:18 WIB

Assalamu’alaikum wr. Wb.

Saya ingin mengajukan pertanyaan tentang masalah yang saya hadapi sebagai berikut.:

Secara hukum formal Indonesia, saya adalah duda, tapi saya telah menikah sirri (dinikahkan oleh Ulama, tidak di KUA)dengan seorang gadis. Saat ini saya sedang berada diluar negeri menjalani tugas dari tempat saya bekerja, sedang isteri sirri saya di Indonesia.

Insya Allah sepulang dari luar negeri, saya akan menikahi isteri sirri saya secara resmi (nikah KUA). Namun, ketika di luar negeri, saya terjerumus dalam perbuatan dosa. Saya pernah melakukan cumbuan (petting) dengan seorang wanita rekan kerja yang sudah bersuami.

Sewaktu melakukan petting, saya dan wanita tersebut, memakai pakaian, jadi -maaf- alat kelamin saya dan dia tidak bertemu secara langsung (saya tidak sampai memasukkan -maaf- alat kelamin saya ke dalam -maaf- alamat kelaminnya), namun demikian, saya mengalami -maaf- ejakulasi dalam celana jins saya.

Setelah melakukan perbuatan itu, saya merasa menyesal. Saya mengakui kepada Allah sambil menangis bahwa saya bersalah dan berdosa. Saya melakukan sholat taubat kepada Allah, memohon ampun dan rahmat Allah atas dosa saya tersebut. Saya berjanji bahwa saya tidak akan mengulangi lagi perbuatan itu dan saya berusaha menjauhi wanita tersebut dan menjadikan hubungan saya dengannya hanya sebatas hubungan rekan kerja.

Yang menjadi pertanyaan saya:

  1. Apakah perbuatan saya tersebut (petting) sudah termasuk dalam definisi zina menurut syariah?
  2. Apabila wanita itu hamil, apakah petting tersebut menjadi zina? (saya pernah membaca bahwa petting dapat menyebabkan kehamilan, meskipun tidak ada -maaf- penetrasi dari alat lelamin pria ke dalam alat kelamin wanita)
  3. Karena Indonesia tidak menerapkan hukum pidana syariah Islam, apakahyangdapat saya lakukan untuk bertaubat dan menebus dosa saya?
  4. Apakah saya harus mengaku terus terang kepada suami wanita tersebut dan juga isteri sirri saya akan perbuatan saya tersebut sebagai bagian dari taubat saya?

Demikian pertanyaan saya, mohon jawaban.
Wassalamu’alaikum wr. Wb.

BI

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

1. Benar sekali bahwa petting yang anda lakukan itu sudah termasuk kategori zina atau mendekati zina. Dan sekedar mendekati zina sudah diharamkan oleh Allah SWT di dalam Al-Quran.

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Isra’: 32)

Jangankan petting, memandang bagian tubuh selain wajah dan tapak tangan pun sudah termasuk kategori melihat hal yang haram, dan itu bagian dari zina.

Bahkan telinga, tangan, hati dan semua anggota badan, punya cara sendiri-sendiri untuk berzina. Bukan hanya kemaluan saja. Dan semua itu mengakibatkan dosa besar di sisi Allah.

Dan kalau sampai terjadi penetrasi, maka hukumannya di dunia ini adalah rajam, yaitu dilempari dengan batu hingga mati. Namun bila pelaku zina ini belum pernah menikah secara syar’i, hukumannya adalah cambuk 100 kali dan diasingkan 1 tahun.

2. Apabila wanita itu hamil, maka secara urusan nasab yang syar’i memang bukan anak anda. Sebab wanita itu bukan isteri anda, sehingga anak yang lahir dari rahimnya meski dari air mani anda, bukanlah anak anda secara nasab sayar’i.

Yang kedua karena memang tidak terjadi penetrasi (masuknya kemaluan laki-laki ke dalam kemaluan perempuan), sehingga juga tidak terjadi pertautan nasab antaran anda dengan anak itu.

Di dalam kitab Kasysyaf Al-Qanna’ jilid 3 halaman 258-259 disebutkan, “Dan apabila air mani itu air mani haram, seperti bukan milik suami yang sah, makatidak ada hubungan nasab.”

3. Karena di Indonesia tidak dilaksanakan hukum pidana syariah, maka tidak mungkin dijalankan hukum cambuk atau rajam. Namun anda sendiri bukanlah orang yang wajib dicambuk atau dirajam, karena zina yang anda lakukan belum termasuk kategori zina yang mewajibkan cambuk dan rajam.

Batasannya adalah masuknya ember ke dalam sumur, yaitu masuknya kemaluan laki-laki ke dalam kemaluan wanita yang haram (bukan isteri) meski tidak sampai keluar mani.

Maka jalan yang mutlak harus anda lakukan adalah bertaubat dengan taubat yang sesungguhnya. Bukan taubat yang asal-asalan dan punya kemungkinan kembali lagi. Mintalah ampuna kepada Allah SWT dengan sebenar-benar permintaan. Tamballah semua kesalahan anda dengan memperbanyak amal kebajikan, rajin shalat, puasa, zakat dan semua ibadah lainnya. Jangan lupa untuk bermurah hati kepada fakir miskin dan anak yatim.

4. Anda tidak diwajibkan untuk melakukan pengakuan dosa di depan orang-orang, termasuk kepada suami wanita tersebut. Sebaiknya anda tutupi dengan rapat dan lupakan untuk selamanya. Semoga dengan rapatnya rahasia itu, Allah juga akan menutup semua dosa anda.

Sebab di masa nabi ada seorang yang melakukan sebuah dosa di malam hari, lalu Allah tutup dosanya, namun di pagi harinya, dia sendiri yang membuka kembali dosanya dengan jalan bercerita kepada orang lain bahwa tadi malam dirinya telah melakukan dosa. Maka dosanya yang hampir diampuni kemudian menjadi besar lagi.

Islam mengharuskan seorang yang melakukan kesalahan untuk minta ampun, tetapi melarang untuk membuat pengakuan dosa kepada orang lain. Sebab Islam tidak mengenal ritual pengakuan dosa. Kecuali bila dibutuhkan oleh hakim yang menyidang kasus ini.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

Perang

Belum Usai !!!

Penulis: Abu Muslih Ari Wahyudi
Murojaah: Ustadz Aris Munandar

Segala puji bagi Allah yang telah mengutus para Rasul dengan membawa hujjah yang nyata untuk mengajak umat manusia bangkit dari kebodohan dan keraguan menuju ilmu dan keyakinan, dari kegelapan syirik menuju cahaya tauhid, dari pahitnya kekafiran menuju manisnya iman. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan teladan akhir zaman Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan semoga kita termasuk golongan pengikut beliau yang berjihad dengan hati, lisan dan anggota badan kita untuk menaklukkan hawa nafsu, godaan syaithan serta rongrongan musuh-musuh dari kalangan manusia seperti kaum ahlul bida’ wal ahwaa’. Amma ba’du.

Saudaraku, semenjak iblis la’natullah ‘alaih membangkang perintah Allah untuk sujud kepada ayahanda kita Adam ‘alaihis salam maka sesungguhnya era peperangan antara hamba-hamba Ar-Rahman melawan iblis dan bala tentaranya sedang dikobarkan. Saudaraku, ingatkah engkau betapa pahit hukuman yang harus dirasakan oleh ayah dan ibu kita gara-gara ulah iblis dengan rayuan palsunya. Saudaraku, iblis tidak menawarkan sesuatu yang jelek dan menjijikkan kepada mereka berdua. Akan tetapi dia menawarkan keabadian dan kelezatan kepada mereka. Walaupun pada hakikatnya kesenangan yang ditawarkannya adalah kesenangan yang menipu. Saudaraku seperjuangan, tidak tanggung-tanggung, ternyata iblis sejak diusir dari surga sudah memancangkan tekad kuat dan berani bersumpah di hadapan Rabb tabaaroka wa ta’ala untuk bekerja keras menyesatkan seluruh umat manusia. Dengarkanlah apa yang dikatakannya, “Demi kemuliaan-Mu (ya Allah) sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas.” Duhai saudaraku, iblis sudah mengobarkan api peperangan kepada kita. Lalu mengapa kita masih terlena dengan kesenangan-kesenangan yang menipu. Waktu kita terbuang sia-sia, energi kita terforsir untuk hal-hal yang tidak bermakna, pikiran kita larut dalam buaian angan-angan kenikmatan semu yang akhirnya menyeret kita ke jurang dosa dan maksiat. Sehingga hari demi hari yang tercatat dari hati kita adalah maksiat, yang keluar dari lisan kita adalah kesia-siaan atau dosa, dan gerak-gerik tubuh kita pun demikian. Sehingga semua yang kita miliki tidak keluar dari empat kategori:

Pertama, kita gunakan untuk beramal tapi tidak ikhlas.
Kedua, kita gunakan untuk hal-hal yang tidak berguna atau sia-sia.
Ketiga, kita gunakan untuk bermaksiat kepada-Nya.
Keempat, kita gunakan untuk melakukan amal ikhlas dan sesuai petunjuk Nabi-Nya.

Kondisi Medan Sebenarnya

Saudaraku, di manakah posisi kita… Apakah kita termasuk orang yang selalu berada di barisan orang-orang yang beramal shalih dengan ikhlas dan sesuai petunjuk Nabi-Nya dalam setiap perjalanan waktu yang kita lalui???!!! Tanyakan kepada dirimu sendiri… Lihatlah waktumu yang berlalu dengan terbuang percuma. Di atas tempat tidurmu, di atas tempat dudukmu, di atas kendaraanmu, di depan komputermu, di dalam bilik warnet, di dalam kamarmu, di antara teman-teman sepergaulanmu, di antara orang-orang asing yang tidak mengenalimu. Wahai, saudaraku… detik demi detik berlalu sementara iblis dan bala tentaranya mengintaimu dari tempat yang tak tampak olehmu. Mereka lancarkan tipu daya, propaganda, bisikan dan ancaman untuk bisa menyeretmu ke jurang kehancuran dunia dan akhirat. Mereka ingin agar engkau condong dan larut dalam godaan syahwat. Mereka ingin agar engkau tenggelam dalam kerancuan pemikiran dan aqidah yang sesat. Mereka ingin agar engkau menjauh dari ilmu dan para ulama. Mereka ingin agar engkau malas menuntut ilmu agama. Mereka ingin agar engkau jauh dari kawan-kawan yang shalih. Mereka ingin agar engkau mengisi waktumu dengan maksiat dan kesia-siaan. Di atas tempat tidur engkau bermaksiat. Di atas kursi engkau bermaksiat. Di depan komputer engkau bermaksiat. Di dalam kendaraanmu kau pun bermaksiat. Dengan mata, engkau melihat perkara-perkara yang haram untuk dilihat. Dengan telinga, engkau nikmati suara-suara yang haram untuk didengar. Dengan lisanmu, engkau berkata-kata dengan pembicaraan yang haram dan mengundang dosa. Dengan kakimu engkau melangkah menuju arena maksiat. Dengan tanganmu engkau pun menyentuh sesuatu yang haram untuk kau jamah.

Saudaraku, iblis dan bala tentaranya sama sekali tidak akan menaruh belas kasihan kepadamu. Hari demi hari mereka jalani dengan rencana-rencana baru. Waktu demi waktu korban berjatuhan. Hati demi hati manusia mereka jajah dan cabik-cabik. Peperangan belum usai, saudaraku…!!! Kapankah kita sadar dengan tipu daya dan makar setan kepada kita. Di tengah waktu sibuk kita, setan pun datang menggoda kita. Di waktu senggang kita, setan pun datang untuk merayu kita. Dia datang dari depanmu. Dia datang dari sebelah kananmu. Dia datang dari sebelah kirimu. Dan dia datang dari belakangmu. Gempuran bertubi-tubi telah mereka lancarkan kepadamu. Sementara engkau lalai dan tidak menyadari sekian banyak ‘rudal’ dan ‘peluru’ telah membumihanguskan daerah kekuasaanmu. Musuh bercokol di balik benteng pertahananmu. Sementara pandanganmu kabur oleh kabut dosa dan angan-angan semu. Sementara musuhmu terus merangsek, maju dan memperisapkan taktik dan strategi baru. Saudaraku, siapakah panglima kita? Manakah peta pertempuran kita? Apakah yang bisa kita gunakan untuk membalas serangan mereka? Siapakah teman seperjuangan kita? Siapakah penunjuk arah yang akan membantu kita menempuh rute-rute kemenangan kita? Siapakah antek-antek musuh kita supaya kita tidak tertipu oleh penampilan mereka? Persiapkanlah, persiapkanlah senjatamu, siapkanlah bekalmu, atur strategimu, kumpulkanlah bala tentaramu, mari kita hadapi musuh-musuh itu dengan semangat jihad berapi-api, jihad menundukkan hawa nafsu, jihad melawan syaitan, jihad menundukkan kepentingan dunia, jihad dengan hujjah wal bayan, jihad dengan sabar dan keyakinan.

Jihad dan Hidayah

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Allah ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad di jalan kami sungguh Kami akan menunjukkan kepadanya jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabuut: 69)

Allah subhanahu mengaitkan petunjuk dengan jihad. oleh sebab itu orang yang paling sempurna petunjuknya adalah yang paling besar jihadnya. Dan jihad yang paling wajib adalah berjihad menundukkan diri, memerangi hawa nafsu, memerangi syaitan dan menundukkan dunia. Barang siapa yang berjihad melawan keempat hal ini di jalan Allah maka Allah memberikan petunjuk kepadanya jalan-jalan keridhaan-Nya yang akan mengantarkannya ke surga. Dan barang siapa yang meninggalkan jihad maka dia akan kehilangan petunjuk berbanding lurus dengan banyaknya jihad yang ditinggalkan. Al Junaid berkata, “Orang-orang yang berjuang menundukkan hawa nafsu mereka di jalan Kami dengan senantiasa bertaubat maka akan Kami tunjukkan kepadanya jalan-jalan menggapai keikhlasan. Tidak ada orang yang sanggup tegar melawan musuh secara fisik yang dihadapinya kecuali orang yang berhasil melawan musuh-musuh ini secara batin. Barang siapa yang mendapatkan pertolongan sehingga mampu mengalahkannya maka dia akan sanggup melawan musuh secara fisik. Akan tetapi barang siapa yang justru bertekuk lutut pada hawa nafsunya maka musuhnyalah yang akan mengalahkannya.” (Fawaa’idul Fawaa’id, hal. 177).

Syaitan, Musuhmu yang Nyata

Syaitan adalah musuh manusia, seperti yang difirmankan Allah ta’ala,

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuhmu maka jadikanlah dia sebagai musuh, sesungguhnya dia hanya akan menyeru golongannya untuk menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Faathir: 6)

Allah subhanahu juga berfirman,

إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلإنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Yusuf: 5)

Permusuhan syaitan melawan manusia sudah berlangsung sejak dahulu kala yaitu semenjak Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam ‘alaihi salam; karena syaitan menyimpan kedengkian kepada Adam ‘alaihi salam dan dia enggan untuk sujud kepadanya sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla kepadanya dan dia berhasil mengelabuinya sehingga Adam terjatuh dalam kedurhakaan kepada Rabbnya dan akhirnya Adam dikeluarkan dari surga meskipun permusuhan antara syaitan dan manusia ini telah berlangsung sejak dahulu kala tapi ternyata kita dapatkan kebanyakan manusia telah melupakan permusuhan tersebut, dan mereka justru membenarkan syaitan, menyucikannya dan mencintainya dan menaatinya sebagai tandingan bagi Allah, bahkan mereka pun menyembahnya sebagai sekutu bagi Allah ‘azza wa jalla, sebagaimana yang difirmankan Allah yang artinya, “Bukankah Aku telah mengambil janjimu wahai anak keturunan Adam supaya kamu tidak menyembah syaithan, sesungguhnya dia adalah musuhmu yang nyata.”

Maka sudah menjadi kewajiban bagi setiap hamba untuk terus menerus bersungguh-sungguh melawan syaitan dan memeranginya, dan menolak bisikan-bisikan serta bujuk rayunya dan jangan sampai dia bersamanya untuk berdamai atau memberikan loyalitas apapun, tetapi apabila dia telah terjerumus dalam tindakan menaatinya maka segeralah bertaubat, kembali kepada Allah dan meminta perlindungan kepada-Nya agar tidak terjerumus lagi ke dalamnya sebagaimana firman Allah ta’ala,

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-A’raaf: 200). (dinukil dari ‘Isyruuna ‘uqbatan fii thariiqil muslim).

Tingkatan Jihad Melawan Syaitan

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Jihad melawan syaitan itu ada dua tingkatan, Tingkatan pertama, berjihad melawannya dengan cara menolak segala syubhat dan keragu-raguan yang menodai keimanan yang dilontarkannya kepada hamba. Tingkatan kedua, berjihad melawannya dengan cara menolak segala keinginan yang merusak dan rayuan syahwat yang dilontarkan syaitan kepadanya. Maka tingkatan jihad yang pertama akan membuahkan keyakinan sesudahnya. Sedangkan jihad yang kedua akan membuahkan kesabaran. Allah ta’ala berfirman,

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Maka Kami jadikan di antara mereka para pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami karena mereka bisa bersabar dan senantiasa meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24)

Allah mengabarkan bahwasanya kepemimpinan dalam agama hanya bisa diperoleh dengan bekal kesabaran dan keyakinan. Kesabaran akan menolak rayuan syahwat dan keinginan-keinginan yang merusak, sedangkan dengan keyakinan berbagai syubhat dan keragu-raguan akan tersingkirkan.” (dinukil dari ‘Isyruuna ‘uqbatan fii thariiqil muslim).

Mintalah Pertolongan Allah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seorang hamba, sebagaimana dirinya senantiasa memerlukan Allah untuk memberikan pertolongan kepadanya, mengabulkan do’anya, memberikan permintaannya serta memenuhi segala kebutuhannya maka dia pun sangat membutuhkan Allah untuk membimbingnya untuk meraih hal-hal yang berguna baginya dan hal-hal yang ingin dicapai dan diharapkannya. Sesuatu yang harus didapatnya itu adalah perintah, larangan dan syariat. Karena jika seandainya kebutuhan yang dicari dan diinginkannya itu adalah sesuatu yang tidak berguna baginya maka tentunya hal itu justru mendatangkan bahaya baginya. Meskipun ketika dia merasakannya dia mendapatkan kenikmatan dan sedikit manfaat akan tetapi yang dijadikan patokan adalah manfaat yang murni atau yang lebih dominan. Hal ini telah disampaikan oleh Allah kepada hamba-hambaNya melalui perantara para Rasul dan Kitab-KitabNya. Para Rasul mengajarkan, menyucikan dan memerintahkan mereka dengan hal-hal yang berguna untuk mereka. Para Rasul pun melarang mereka dari hal-hal yang membahayakan diri mereka. Mereka menerangkan kepada umat bahwa sesungguhnya apa yang mereka cari dan harapkan serta sosok yang semestinya mereka ibadahi hanya Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagaimana Allah semata Rabb dan Pencipta mereka, dan apabila mereka meninggalkan ibadah kepada-Nya atau mempersekutukan sesuatu dengan-Nya maka pastilah mereka akan mengalami kerugian yang sangat nyata dan sangat jauh tersesat. Meskipun mereka memiliki kekuatan, ilmu pengetahuan, kedudukan, harta dan lain sebagainya (meskipun dalam hal itu pun mereka juga sangat miskin di hadapan Allah, senantiasa butuh pertolongan Allah untuk bisa mendapatkannya dan mereka juga mengakui rububiyah-Nya) maka pada hakikatnya itu semua akan mengundang bahaya dan mereka kelak akan menempati seburuk-buruk tempat kembali dan rumah yang terjelek (neraka)…” (Majmu’ Fatawa, Islamspirit.com, freeprogram).

Mintalah Petunjuk Dari Allah

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Seorang hamba senantiasa berhajat terhadap hidayah Allah menuju jalan yang lurus. Maka dari itu dia sangat memerlukan tercapainya maksud di balik doa ini. Karena sesungguhnya tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari azab dan bisa menggapai kebahagiaan kecuali dengan hidayah ini. Barang siapa yang kehilangan hidayah maka dia akan termasuk golongan orang yang dimurkai atau golongan orang yang sesat. Dan petunjuk ini tidak akan diraih kecuali dengan petunjuk dari Allah. Ayat ini pun (Ihdinash-shirathal mustaqim) menjadi salah satu senjata pembantah kesesatan mazhab Qadariyah.

Adapun pernyataan orang, “Sesungguhnya Allah telah memberikan hidayah kepada mereka (umat Islam) oleh sebab itu mereka tidak perlu meminta hidayah!!” beserta jawaban orang untuk pertanyaan itu bahwa “Yang dimaksud dengan ayat ini adalah permintaan agar hidayah itu terus menerus menyertai hamb”, maka itu semua merupakan ucapan orang yang tidak paham hakikat hukum sebab akibat dan tidak mengerti isi perintah Allah. Karena sesungguhnya hakikat jalan yang lurus (shirathal mustaqim) itu adalah seorang hamba melakukan perintah Allah yang tepat di setiap waktu yang dijalaninya baik hal itu ilmu maupun amal. Dan juga hendaknya dia tidak menerjang larangan Allah. Nah, hidayah semacam ini sangat diperlukan di setiap saat agar bisa berilmu dan beramal sebagaimana apa yang diperintahkan Allah serta meninggalkan larangan-Nya pada kesempatan tersebut. Dan hidayah itu pun dibutuhkan hamba agar bisa memiliki tekad yang bulat dalam rangka menjalankan perintah. Demikian pula halnya diperlukan rasa benci yang amat dalam agar bisa meninggalkan hal-hal yang dilarang. Apalagi ilmu dan tekad yang lebih spesifik ini sulit terbayang bisa dimiliki seseorang di saat yang sama. Bahkan pada setiap waktu hamba sangat membutuhkan pertolongan Allah untuk mengaruniakan ilmu dan tekad ke dalam hatinya sehingga dia akan bisa berjalan di atas jalan yang lurus.” (Majmu’ Fatawa, Islamspirit.com, freeprogram).

Muslim Perlu Petunjuk [?]

Memang benar bahwa seorang muslim telah memperoleh petunjuk global yang menerangkan bahwa Al Quran adalah benar, Rasul pun benar dan agama Islam adalah benar. Anggapan itu memang benar. Akan tetapi petunjuk yang masih bersifat global ini belumlah cukup baginya apabila dia tidak mendapatkan petunjuk yang lebih rinci dalam menyikapi segala perkara parsial yang diperintahkan kepadanya dan dilarang darinya di mana mayoritas akal manusia mengalami kebingungan dalam hal itu. Sehingga hawa nafsu dan syahwat mengalahkan diri mereka dikarenakan hawa nafsu dan syahwat itu telah mendominasi akal-akal mereka. Pada asalnya manusia itu tercipta sebagai makhluk yang suka berbuat zalim lagi bodoh. Sehingga sejak dari permulaan manusia itu memang tidak punya ilmu dan cenderung melakukan hal-hal yang disenangi oleh hawa nafsunya yang buruk. Oleh sebab itu dia selalu membutuhkan ilmu yang lebih rinci untuk bisa mengikis kebodohan dirinya. Selain itu dia juga memerlukan sikap adil dalam mengendalikan rasa cinta dan benci, dalam mengendalikan ridha dan marah, dalam mengendalikan diri untuk melakukan dan meninggalkan sesuatu, dalam mengendalikan diri untuk memberikan dan tidak kepada seseorang, dalam hal makan dan minumnya, dalam kondisi tidur dan terjaga. Maka segala sesuatu yang hendak diucapkan atau dilakukannya membutuhkan ilmu yang menyingkap kejahilannya dan sikap adil yang menyingkirkan kezalimannya. Apabila Allah tidak menganugerahkan kepadanya ilmu serta sikap adil yang lebih rinci -sebab jika tidak demikian- maka di dalam dirinya tetap akan tersisa kebodohan dan kezaliman yang akan menyeretnya keluar dari jalan yang lurus. Allah ta’ala berfirman terhadap Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam sesudah terjadinya perjanjian Hudaibiyah dan Bai’at Ridhwan,

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحاً مُّبِيناً لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطاً مُّسْتَقِيماً

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kemenangan kepadamu dengan kemenangan yang nyata.” hingga firman-Nya,”Dan Allah menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (QS. Al-Fath: 1-2)

Kalau keadaan beliau di akhir hidupnya atau menjelang wafatnya saja seperti ini (tetap memerlukan hidayah-pent) lalu bagaimanakah lagi keadaan orang selain beliau? (Majmu’ Fatawa, Islamspirit.com, freeprogram).

Manfaatkan Waktu Sebaik-Baiknya

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata, “Salah satu bukti kebijaksanaan takdir dan hikmah ilahiah yaitu barang siapa yang meninggalkan apa yang bermanfaat baginya, padahal memungkinkan baginya untuk memetik manfaat itu lantas dia tidak mau memetiknya, maka dia akan menerima cobaan berupa disibukkan dengan hal-hal yang mendatangkan madharat terhadap dirinya. Barang siapa meninggalkan ibadah kepada Ar Rahman, niscaya dia akan disibukkan dengan ibadah kepada berhala-berhala. Barang siapa meninggalkan cinta, harap dan takut kepada Allah maka niscaya dia akan disibukkan dalam kecintaan kepada selain Allah, berharap dan takut karenanya. Barang siapa tidak menginfakkan hartanya dalam ketaatan kepada Allah niscaya dia akan menginfakkannya dalam menaati syaitan. Barang siapa meninggalkan merendahkan diri dan tunduk kepada Rabb-nya niscaya dia akan dicoba dengan merendahkan diri dan tunduk kepada hamba. Barang siapa meninggalkan kebenaran niscaya dia akan dicoba dengan kebatilan.” (Tafsir surat Al Baqarah ayat 101-103, Taisir al-Karim ar-Rahman hal. 60-61).

Maka bergegaslah wahai saudaraku kerahkan kesungguhanmu, singkirkan debu-debu kebiasaan banyak tidur dan tinggalkan bermalas-malasan, raihlah apa yang sudah luput darimu dengan menuntut ilmu dan beramal, bebaskanlah dirimu dari kelemahan akibat berbuat jahat dengan bertaubat, menyesali dosa dan beristighfar dengan tekad yang tulus demi melepaskan diri dari rintangan-rintangan ini, satu demi satu. Sampai tidak tersisa lagi di hadapan syaitan kecuali rintangan teror dan intimidasi musuh-musuhnya kepadamu, dan rintangan yang satu ini tidak akan pernah ada orang yang bisa selamat darinya kecuali dengan kesabaran dan keyakinan dan dengan senantiasa memohon pertolongan kepada Allah ‘azza wa jalla serta berjuang melawan musuhnya, dan apabila hal itu bisa kau raih maka niscaya engkau akan mendapat anugerah martabat yang mulia dan derajat yang tinggi di surga Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa tinggal di dalam taman-taman surga dan sungai-sungai di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang berkuasa.” (QS. Al Qamar: 54-55). (dinukil dari ‘Isyruuna ‘uqbatan fii thariiqil muslim).

Read Full Post »

Tauhid

Pentingnya

Penulis: Abu Yahya Agus Wahyu (Alumni Ma’had Ilmi)
Murojaah: Ust. Afifi Abdul Wadud

Jika dilihat dari judulnya, mungkin banyak di antara kaum muslimin sendiri yang malas untuk membaca tulisan dengan judul ini. Karena menganggap bahwa masalah tauhid ini; anak kecil juga tahu kalau Allah subhanahu wa ta’ala itu Tuhan yang Satu (Esa), Dialah yang menciptakan alam semesta ini beserta segala isinya, jadi buat apa diperpanjang lebar?

Ketahuilah Bahwa Penghuni Surga Itu Sedikit

Yang jadi masalah adalah ketika penghuni surga jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah penghuni neraka sebagai mana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Allah berfirman: “Wahai Adam!” maka ia menjawab: “Labbaik wa sa’daik” kemudian Allah berfirman: “Keluarkanlah dari keturunanmu delegasi neraka!” maka Adam bertanya: “Ya Rabb, apakah itu delegasi neraka?” Allah berfirman: “Dari setiap 1000 orang 999 di neraka dan hanya 1 orang yang masuk surga.” Maka ketika itu para sahabat yang mendengar bergemuruh membicarakan hal tersebut. Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah siapakah di antara kami yang menjadi satu orang tersebut?” Maka beliau bersabda: “Bergembiralah, karena kalian berada di dalam dua umat, tidaklah umat tersebut berbaur dengan umat yang lain melainkan akan memperbanyaknya, yaitu Ya’juj dan Ma’juj. Pada lafaz yang lain: “Dan tidaklah posisi kalian di antara manusia melainkan seperti rambut putih di kulit sapi yang hitam, atau seperti rambut hitam di kulit sapi yang putih.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Padahal kita ketahui bahwa kaum muslimin saat ini adalah hampir separuh penduduk dunia dan terus bertambah, sedangkan kaum kuffar di Eropa jumlahnya kian berkurang karena mereka ‘malas’ untuk menikah dan punya anak. Bahkan di antara negara-negara Eropa yang memberikan tunjangan agar penduduknya mau menikah dan punya anak.

Kabar yang sedikit menggembirakan kita adalah kenyataan bahwa Ya’juj dan Ma’juj yang akan keluar menjelang hari kiamat itu jumlahnya sangat banyak, hingga mampu meminum air danau thobariah hingga kering, sebagaimana dikabarkan dalam hadits yang shahih. Akan tetapi kita tidak mengetahui berapa perbandingan sebenarnya antara orang yang mengaku islam dengan orang-orang kafir. Sedangkan orang yang mengaku Islam dan mengucapkan kalimat syahadat belum tentu masuk surga. Sebab…

Mengucapkan Kalimat Syahadat Bukan Jaminan Masuk Surga

“Wah, ngawur ente!!” (berdasarkan hadits “Siapa yang mengucapkan laa ilaaha illallah akan masuk surga”). Mungkin itu komentar yang muncul, setelah membaca sub judul di atas. Akan tetapi yang kami maksudkan di sini adalah, bahwa hanya sekedar perkataan tidaklah bermanfaat bagi kita jika kita tidak memahami dan mengamalkan maknanya. Karena kaum munafik juga mengatakan kalimat tersebut, mereka juga sholat, puasa, mengeluarkan zakat, dan pergi haji seperti kaum muslimin yang lainnya. Akan tetapi, mengapa kaum munafik ditempatkan pada jurang neraka yang paling dasar? Allah berfirman,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيراً

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisaa’: 145)

Yang lebih mengherankan, apa yang menyebabkan mereka tidak bisa menjawab 3 pertanyaan yang mudah (siapa Rabbmu? apa agamamu? dan siapa nabimu? di dalam kubur?).

Jawaban mereka adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

هاه، هاه، لا أدري، سمعت الناس يقولون شئ فقلته

“Hah… hah… aku tidak tahu, aku mendengar orang mengatakan sesuatu, kemudian aku mengatakan hal tersebut.”

Pertanyaannya memang mudah, tetapi menjawabnya sangatlah sulit. Karena hati manusia di akhirat merupakan hasil dari perbuatannya di dunia. Jika di dunia dia meremehkan agamanya, maka dia tidak akan bisa mengatakan bahwa agamanya adalah Islam. Sekarang, jika kaum munafik yang mengucapkan syahadat kemudian mengamalkan sholat, puasa, zakat, dan haji, tidak dianggap telah mengamalkan makna syahadat, maka apa sih makna syahadat yang (harus kita amalkan) sebenarnya?

Makna Kalimat Syahadat “Laa Ilaaha Illallah”

Makna kalimat syahadat tersebut bukanlah pengakuan bahwa Allah adalah pencipta, pemberi rezeki dan pengatur seluruh alam semesta ini. Karena orang Yahudi dan Nasrani juga mengakuinya. Akan tetapi mereka tetap dikatakan kafir. Bahkan kaum musyrikin yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga meyakini hal tersebut. Sebagaimana difirmankan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam banyak ayat di Al Quran, di antaranya adalah:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Katakanlah (wahai Muhammad): “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (QS. Yunus: 31)

Bahkan kaum musyrikin tersebut mengatakan bahwa penyembahan mereka terhadap berhala-berhala yang merupakan patung orang-orang shalih itu adalah dengan tujuan untuk mendapatkan syafaat mereka dan kedekatan di sisi Allah subhanahu wa ta’ala (sebagaimana para penyembah kuburan para wali di sebagian negeri kaum muslimin). Hal tersebut dinyatakan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar: 3)

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan mudarat dan manfaat bagi mereka, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18)

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah.” (QS. Yusuf: 106)

Yaitu mengimani, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah pencipta, pemberi rezeki dan pengatur alam semesta, akan tetapi mempersekutukan-Nya dalam peribadatan. Secara ringkas makna syahadat “Laa ilaaha illallah” adalah tidak ada sembahan yang haq (benar) kecuali Allah. Seorang yang bersaksi dengan kalimat tersebut harus meninggalkan pengabdian kepada selain Allah dan hanya beribadah kepada Allah saja secara lahir maupun batin. Sama saja, baik yang dijadikan sembahan selain Allah itu malaikat, nabi, wali, orang-orang shalih, matahari, bulan, bintang, batu, pohon, jin, patung dan gambar-gambar. Jika kita masih merasa tenang dengan menganggap diri kita adalah ahli tauhid serta memandang remeh untuk mendalami dan medakwahkannya maka perhatikanlah beberapa hal berikut:

Tujuan Penciptaan Jin dan Manusia Adalah Untuk Menauhidkan Allah

(وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka (hanya) menyembahku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Seseorang tidaklah dianggap telah beribadah kepada Allah jika dia masih berbuat syirik, sebab amalan ibadah dari orang yang mempersekutukan Allah akan dihapuskan dan tidak bermanfaat sedikit pun di sisi Allah.

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنْ الْخَاسِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)

Karena tauhid adalah menunggalkan Allah dalam peribadatan, maka syirik membatalkan tauhid sebagaimana berhadats dapat membatalkan wudhu. Jika sholatnya orang yang berhadats tidaklah sah, dalam arti kata belum dianggap telah melakukan sholat sehingga harus diulangi, maka begitu pun syirik jika mencampuri tauhid, akan merusak tauhid tersebut dan membatalkannya.

Tauhid Merupakan Tujuan Diutusnya Para Rasul

Sebelumnya manusia adalah umat yang satu, berasal dari Nabi Adam ‘alaihissalam. Mereka beriman dan menyembah hanya kepada Allah saja. Kemudian datanglah syaitan menggoda manusia untuk mengada-adakan bid’ah dalam agama mereka. Bid’ah-bid’ah kecil yang semula dianggap remah saat generasi berganti generasi, bid’ahnya pun semakin menjadi. Hingga pada akhirnya menggelincirkan mereka kepada bid’ah yang sangat besar, yaitu kemusyrikan.

Iblis terbilang cukup ‘sabar’ dalam melancarkan aksinya selama sepuluh abad untuk menggelincirkan keturunan Adam ‘alaihissalam kepada kemusyrikan –sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu (lihat “Kisah Para Nabi”, Ibnu Katsir)– Hingga tatkala seluruhnya tenggelam dalam kemusyrikan, Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Nuh ‘alaihi salam.

Demikianlah, setiap kali kemusyrikan merajalela pada suatu kaum, maka Allah mengutus rasul-Nya untuk mengembalikan mereka kepada tauhid dan menjauhi syirik.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thoghut (sembahan selain Allah).” (QS. An Nahl: 36)

وَمَا أَرْسَلنَا مِن قَبلِكَ مِنْ رََسُولٍ إِلا نُوحِي إلَيهِ أنَّه لا إِلهَ إلا أنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: bahwa tidak ada sembahan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Al Anbiya: 25)

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, Allah subhanahu wa ta’ala tidak lagi mengutus rasul. Hal ini bukanlah dalil bahwa kemusyrikan tidak akan pernah terjadi lagi seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagaimana dikatakan beberapa orang. Akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala menjamin bahwa akan senantiasa ada segolongan dari umat ini yang berada di atas tauhid dan mendakwahkannya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim.

Tauhid Adalah Kewajiban Pertama Bagi Manusia Dewasa dan Berakal

Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa mendahulukan perintah tauhid dan menjauhi syirik, sebelum memerintahkan yang lainnya dalam setiap firmannya di Al Quran.

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا وَبِالوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي القُرْبَى وَاليَتَامَى وَالمَسَاكِيْنَ وَالْجَارِ ذِي القُرْبَى وَالجَارِ الجُنُبِ والصَّاحِبِ بِالجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيْلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun. Dan berbuat baiklah pada kedua orang tua (ibu & bapak), karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabiil dan hamba sahayamu.” (QS. An Nisa: 36)

Pelanggaran Tauhid Adalah Keharaman Yang Terbesar

قُلْ تَعَالَوْاْ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا

“Katakanlah: marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: Janganlah kamu mempersekutukan suatu apapun dengan Dia, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua…” (QS. Al An’am: 151)

Allah mendahulukan penyebutan pengharaman syirik sebelum yang lainnya, karena keharaman syirik adalah yang terbesar.

Tauhid Harus Diajarkan Sejak Dini

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada Ibnu Abbas tentang tauhid sejak beliau masih kecil.

إذا سألت فاسأل الله و إذ استعنت فستعن بالله

“Jika engkau hendak memohon, maka mintalah kepada Allah, jika engkau hendak memohon pertolongan, maka memohonlah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)

Tauhid Adalah Materi Dakwah Yang Pertama Kali Harus Diserukan

Saat mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنك تأتي قوما من أهل الكتاب فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله – و في رواية : إلي أن يوحدوا الله

“Sesungguhnya kamu akan mendatangi kaum Ahli Kitab, maka hendaklah dakwah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah syahadat Laa ilaaha illallah (dalam riwayat lain disebutkan: agar mereka menauhidkan Allah).” (HR. Bukhari, Muslim)

Jika kita masih menganggap bahwa, itu jika yang menjadi objek dakwah kita adalah orang kafir. Jika kaum muslimin maka tidak demikian. Maka ingatlah, betapa banyak kaum muslimin yang jika tidak mendapatkan kesembuhan dari penyakit secara medis mereka berbondong-bondong mengunjungi dukun atau yang dikenal dengan istilah sekarang sebagi paranormal. Ingatlah, betapa banyak kaum muslimin yang tinggal di pesisir pantai yang melakukan penyembelihan kurban kepada selain Allah (baca: Nyi Roro Kidul) yang mereka istilahkan dengan sedekah laut. Ingatlah, betapa banyak kaum muslimin yang menyembelih kerbau untuk ditanam kepalanya di bawah jembatan yang hendak mereka bangun, sebagai persembahan agar mereka tidak diganggu oleh jin penunggu daerah tersebut? Berapa banyak kemusyrikan-kemusyrikan yang merajalela di tengah umat ini, sedangkan sebagian kaum muslimin yang lain mengatakan bahwa hal tersebut adalah ‘kebudayaan’ bangsa yang harus dilestarikan? Betapa sedikitnya kaum muslimin yang memahami dan mengamalkan tauhid? Lahan dakwah tauhid masih terlalu luas, akankah kita berdiam diri dan tetap meremehkan masalah ini? Wallahu waliyyut taufiiq.

Rujukan:

  1. Firqotun Naajiyah (Syaikh Muhammad bin Jamil Zaini)
  2. Syarah Qowaidul Arba’ (Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Aalu Syaikh)
  3. Mutiara Faidah Kitab Tauhid (Ustadz Abu Isa Abdullah bin Salam)

 

Read Full Post »

Hijab

Muslimah

Penyusun: Abu Sa’id Satria Buana (Alumni Ma’had Ilmi)

Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala, shalawat dan salam atas Nabi dan Rasul terakhir Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarganya sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik.

Sesungguhnya seorang wanita muslimah akan menemukan bahwa di dalam hukum islam ada perhatian yang sangat tinggi terhadap dirinya agar dapat menjaga kesuciannya, agar dapat menjadi wanita mulia dan memiliki kedudukan yang tinggi. Dan syarat-syarat yang diwajibkan pada pakaian dan perhiasannya tidak lain adalah untuk mencegah kerusakan yang timbul akibat tabarruj (berhias diri) dan menjaga dirinya dari gangguan orang-orang. Syariat Ini pun bukan untuk mengekang kebebasannya akan tetapi sebagai pelindung baginya agar tidak tergelincir pada lumpur kehinaan atau menjadi sasaran sorotan mata dan pusat perhatian.

KEUTAMAAN HIJAB

Pertama, Hijab merupakan tanda ketaatan seorang muslimah kepada Allah dan Rasul-Nya.

Allah telah mewajibkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya berdasarkan firmanNya:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab: 36)

Allah juga telah memerintahkan para wanita untuk menggunakan hijab sebagaimana firman Allah:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” (QS. An Nuur: 31)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah.” (QS. Al Ahzab: 33)

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri- istri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir. cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al Ahzab: 53)

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

Kedua, Hijab itu Iffah (Menjaga diri).

Allah menjadikan kewajiban menggunakan hijab sebagai tanda ’Iffah (menahan diri dari maksiat). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

Itu karena mereka menutupi tubuh mereka untuk menghindar dan menahan diri dari perbuatan dosa, karena itulah Allah menjelaskan manfaat dari hijab ini, “karena itu mereka tidak diganggu.” Ketika seorang muslimah memakai hijabnya dengan benar maka orang-orang fasik tidak akan mengganggu mereka dan pada firman Allah “karena itu mereka tidak diganggu” sebagai isyarat bahwa mengetahui keindahan tubuh wanita adalah suatu bentuk gangguan berupa godaan dan timbulnya minat untuk melakukan kejahatan bagi mereka.

Ketiga, Hijab itu kesucian.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri- istri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al Ahzab: 53)

Allah subhanahu wa ta’ala menyifati hijab sebagai kesucian bagi hati orang-orang mukmin, laki-laki maupun perempuan. Karena mata bila tidak melihat maka hati pun tidak akan bernafsu. Pada keadaan ini maka hati yang tidak melihat maka akan lebih suci. Keadaan fitnah (cobaan) bagi orang yang banyak melihat keindahan tubuh wanita lebih jelas dan lebih nampak. Hijab merupakan pelindung yang dapat menghancurkan keinginan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya, Allah berfirman:

إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلا مَعْرُوفًا

“Jika kalian adalah wanita yang bertakwa maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah Perkataan yang baik.” (QS. Al Ahzab: 32)

Keempat, Hijab adalah pelindung.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Kelima, Hijab itu adalah ketakwaan.

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

”Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raf: 26)

Keenam, Hijab menunjukkan keimanan.

Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah berfirman tentang hijab kecuali bagi wanita-wanita yang beriman, sebagaimana firmannya, ”Dan katakanlah kepada wanita-wanita beriman.” (QS. An-Nuur: 31), juga firman-Nya: ”Dan istri-istri orang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Dalam ayat-ayat di atas Allah menghimbau kepada wanita beriman untuk memakai hijab yang menutupi tubuhnya. Ketika seorang wanita yang benar imannya mendengar ayat ini maka tentu ia akan melaksanakan perintah Tuhannya dengan senang hati. Maka bagaimanakah iman seorang wanita yang mengetahui ada perintah dari Rabbnya kemudian ia tidak melaksanakannya, bahkan ia melanggarnya dengan terang-terangan di hadapan umum !!! (contohnya mengumbar aurat di muka umum).

Ketujuh, Hijab adalah rasa malu.

Rasulullah bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الْأُوْلىَ : إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Sesungguhnya yang didapatkan manusia pada ucapan nubuwwah yang pertama kali: Jika kalian tidak malu maka lakukanlah perbuatan sesuka kalian.” (HR. Bukhari)

Wanita yang mengumbar auratnya tidak disangsikan lagi bahwa tidak ada rasa malu darinya, ia mengumbar auratnya di mana-mana tanpa ada perasaan risih darinya, ia menampilkan perhiasan yang tidak selayaknya dibuka, ia memamerkan barang berharganya yang pantasnya hanya layak untuk ia berikan kepada suaminya, ia membuka sesuatu yang Allah perintahkan untuk menutupnya!

Kedelapan, Hijab adalah ghirah (rasa cemburu).

Hijab berbanding dengan perasaan cemburu yang menghinggapi seorang wanita sempurna yang tidak senang dengan pandangan-pandangan khianat yang tertuju pada istri dan anak wanitanya. Betapa banyak pertikaian yang terjadi karena wanita, betapa banyak tindakan buruk yang terjadi kepada wanita serta betapa banyak seorang lelaki gagah yang menjadi rusak karena wanita. Wahai para wanita jagalah aurat kalian supaya kalian menjadi wanita-wanita yang terhormat! Wahai para lelaki perintahkanlah kepada keluargamu untuk menutup auratnya dan cemburulah kepada orang-orang dekatmu yang membuka auratnya di hadapan orang lain karena tidak ada kebaikan bagi seseorang yang tidak mempunyai perasaan cemburu!.

HIKMAH DARI FIRMAN ALLAH:

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ

”Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera.” (QS. An Nuur: 2)

Dalam ayat ini Allah menyebutkan seorang pezina perempuan terlebih dahulu daripada pezina laki-laki, karena dalam perzinaan seorang wanitalah yang menentukan akan terjadi atau tidaknya perzinaan, ketika seorang wanita membuka hijabnya dan membuka dirinya untuk berdua-duaan dengan seorang pria maka wanita ini telah membuka pintu selebar-lebarnya untuk terjadinya perzinaan! Wallahul musta’an.

KEJELEKAN TABARRUJ (BERHIAS)

Pertama, tabarruj adalah maksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

Barang siapa yang maksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya maka ia hanya akan mencelakakan dirinya sendiri dan tidak akan mencelakakan Allah sedikit pun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبي ، قالوا : يا رسول الله و من يأبي ؟ قال من أطاعني دخل الجنة ، و من عصاني فقد أبي

“Semua umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan”, para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah siapakah orang yang enggan?” Beliau menjawab, “Siapa yang taat kepadaku maka ia akan masuk surga dan siapa yang maksiat kepadaku maka ia telah enggan (untuk masuk surga).” (HR. Bukhari)

Kedua, tabarruj menyebabkan laknat dan dijauhkan dari rahmat Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سيكون في آخر أمتي نساء كاسيات عاريات ، علي رؤوسهن كأسنمة البخت ، العنوهن فإنهن ملعونات

“Akan ada pada akhir umatku nanti wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, kepala mereka seakan-akan punuk unta, laknatlah mereka karena sesungguhnya mereka adalah wanita-wanita terlaknat!”

Ada dua tafsiran dalam hadits ini tentang maksud berpakaian tapi telanjang. Pertama adalah wanita yang berpakaian tebal akan tetapi ketat sehingga menggambarkan lekuk-lekuk tubuhnya. Kedua adalah wanita yang memakai pakaian lebar akan tetapi transparan sehingga terlihat tubuhnya. Maka bagaimana dengan keadaan wanita sekarang yang berpakaian minim sekaligus transparan??

Ketiga, tabarruj adalah sifat penghuni neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صنفان من أهل النار لم أرهما : قوم معهم سياط كأذناب البقر يضربون بها الناس ، و نساء كاسيات عاريات ….

“Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi yang digunakan untuk memukul manusia, dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang…”

Keempat, tabarruj adalah perbuatan keji.

Wanita adalah aurat dan membuka aurat adalah merupakan keji. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَإِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءَنَا وَاللَّهُ أَمَرَنَا بِهَا قُلْ إِنَّ اللَّهَ لا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ

“Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang Kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh Kami mengerjakannya. “Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji” mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS. Al A’raf: 28)

Sebenarnya syaitanlah yang memerintahkan manusia melakukan perbuatan keji sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 268)

Apakah kita ingin menjadikan syaitan sebagai pelindung selain Allah:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلا

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, Maka sujudlah(*) mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil Dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Kahfi: 50)

(*) Sujud di sini berarti menghormati dan memuliakan Adam, bukanlah berarti sujud memperhambakan diri, karena sujud memperhambakan diri itu hanyalah semata-mata kepada Allah.

Kelima, tabarruj adalah ajaran iblis.

Pelajaran ini bisa diambil dari kisah Adam dan Hawa yang terbujuk dengan rayuan iblis sehingga akhirnya terlepaslah aurat yang menutupi keduanya akibat bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kisah Adam dengan iblis memberikan gambaran kepada kita bagaimana musuh Allah tersebut membuka peluang untuk melakukan dosa dan mengoyak tirai pelindung dirinya, tabarruj merupakan tujuan yang diinginkan oleh syaitan, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَا بَنِي آدَمَ لا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya.” (QS. Al A’raf 27)

Jadi iblislah yang memerintahkan tabarruj dan membuka pakaian di hadapan manusia. Dialah pemimpin utama dari pencetus dengan istilah yang dinamakan sekarang ini dengan sebutan Tahrirul mar’ah (Pembebasan wanita).

Keenam, tabarruj adalah gaya hidup orang-orang Yahudi.

Orang-orang Yahudi memiliki peran yang sangat besar dalam menghancurkan umat ini melalui wanita, dan kaum wanita memang memiliki pengalaman di bidang ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hati-hatilah pada dunia!, hati-hatilah pada wanita! Sesungguhnya fitnah (musibah) pertama yang menimpa bani Israil (kaum Yahudi) adalah dari wanita.”

Ketujuh, tabarruj adalah perbuatan Jahiliah yang sangat tercela.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam rangka mencela orang-orang Yahudi,

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al Maidah: 50)

Nabi telah menyifati ajakan Jahiliah sebagai ajakan busuk dan kotor, ajakan jahiliah selaras dengan tabarruj jahiliah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika memperingatkan salah seorang sahabatnya:

(إن فيك امر جاهلية)

“Sesungguhnya pada dirimu ada perkara Jahiliyyah.” (HR. Bukhari)

Dan Jahiliah mencakup semua perkara jahiliah baik tabarruj jahiliah ataupun perbuatan-perbuatan jahiliah lainnya.

Kedelapan, tabarruj adalah keterbelakangan.

Perbuatan buka-bukaan adalah fitrah dari hewan ternak, tidak seorang pun yang condong pada perbuatan tersebut kecuali dia akan hina, dia akan jatuh dari kedudukan tingginya sebagai manusia menuju kedudukan yang paling rendah bahkan lebih rendah dari hewan-hewan ternak. Dari sini tampaklah bahwa tabarruj adalah salah satu tanda dari kerusakan fitrah manusia, tidak adanya rasa malu dan tanda matinya hati.

Seorang penyair berkata:

Anda mengangkat pakaian hingga lutut
Demi Allah, sungai apa yang akan kamu seberangi
Baju itu olehmu seakan naungan di waktu pagi
Yang semakin pendek waktu demi waktu
Anda mengira laki-laki itu tidak punya perasaan
Padahal Anda sendiri yang tidak punya perasaan!!

Kesembilan, tabarruj adalah pintu kerusakan yang sangat nyata.

Bagi orang yang mentadabburi (membaca, memahami, memperhatikan dengan seksama) nash-nash syariat dan sejarah islam maka akan meyakini kerusakan yang besar akibat tabarruj. Fakta di lapangan juga membuktikan hal tersebut, betapa banyak lelaki yang bersih hatinya menjadi rusak, menjadi penuh dengan syahwat karena melihat perempuan-perempuan lewat di hadapannnya membuka aurat, melenggok-lenggokkan badannya dan menebarkan pesona yang luar biasa!!. Sehingga akibatnya terjadi banyak perbuatan keji di masyarakat, para lelaki terdorong untuk melakukan zina, seorang lelaki menjadi mudah melakukan maksiat dengan mengumbar pandangannya dan seterusnya, hal ini terjadi di antaranya karena tabarruj.

Nasihat

Wahai wanita muslimah, sadarlah akan keutamaaan yang besar dari Allah subhanahu wa ta’ala bagi wanita-wanita yang senantiasa menjaga dirinya, dan wahai wanita muslimah janganlah kalian menganggap bahwa hijab merupakan beban yang sangat berat bagi wanita muslimah, janganlah kalian anggap bahwa Allah telah menzhalimi kalian, bahkan sesungguhnya dalam syariat yang Allah subhanahu wa ta’ala turunkan semuanya mendatangkan maslahat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Dan Tuhanmu tidak Menganiaya seorang juapun.” (QS. Al Kahfi: 49)

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلا بِالْحَقِّ وَإِنَّ السَّاعَةَ لآتِيَةٌ فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ

”Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar.” (QS. Al Hijr: 85)

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لا تُرْجَعُونَ

”Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?” (QS. Al Mu’minuun: 115)

Semoga kita termasuk di dalam orang-orang yang mendapatkan keridhaan darinya sehingga kita termasuk dalam penghuni surga yang penuh kenikmatan…

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ

”Perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka.” (QS. Muhammad: 15)

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya radhiallahu ‘anhum.

 

Read Full Post »

Older Posts »