Feeds:
Posts
Comments

Archive for April 17th, 2007

Nasib Tragis

Lokomotif Penyesat Umat
Oleh : Redaksi 17 Apr 2007 – 8:50 am

Kontroversi Perkawinan Putri Cak Nur – Menggugat Syahadat Cara Yahudi
IMAM ALI Ra berkata: “Bencana datang diundang oleh dosa, dan tidak akan bisa dicegah kecuali dengan tobat.” Dosa yang mengundang bencana, antara lain kebejatan moral, berupa perselingkuhan seksual yang dilakukan para pemimpin dan pejabat negara, seperti sudah diungkapkan dalam Risalah Mujahidin edisi 5 yang lalu (bagian 123 )

Selain itu, kebejatan intelektual juga tidak kalah dahsyatnya sebagai penyebab malapetaka, sehingga menjadikan umat kehilangan pegangan tentang halal dan haram, haq dan bathil. Akibatnya, masyarakat kian jauh tersesat, bahkan ragu terhadap kebenaran Islam.

Para tokoh yang pernah populer dengan sebutan lokomotif pembaharuan pemikiran Islam, menyumbang amat besar atas terjadinya malapetaka akibat kesesatan berfikir yang ditularkan pada umat.

Di dalam kitab Tadribur Rawi karangan Imam As-Suyuthi, dinyatakan bahwa Imam Malik rahimahullah menggariskan ciri-ciri kaum penyesat agama, antara lain: Pertama, mengabaikan implementasi ayat-ayat Al-Qur’an yang telah berurat-akar sejak masa Rasulullah dan para shahabat. Kedua, menjadikan situasi dan kondisi aktual sebagai landasan untuk melahirkan pemahaman baru dalam beragama, dengan maksud menciptakan toleransi di antara umat beragama serta kerdilisasi jiwa tauhid. Dan yang ketiga, membangga-banggakan ilmu sebagai satu-satunya hakim kebenaran untuk melakukan modifikasi pemahaman terhadap Al-Qur’an dan hadits.

1. Nurcholish Madjid
Pada tahun 1970, saat masih muda usia, Nurcholish Madjid melontarkan gagasan “pembaharuan” pemikiran –lebih tepat membuat hal-hal baru– dalam Islam. Kini, gagasan tersebut berkembang antara lain menjadi sepilis (sekularisme, pluralisme, liberalisme) yang diusung generasi muda semacam Ulil Absar Abdalla dan kawan-kawannya. Sebagaimana Nurcholish, juga komunitas Ulil, merupakan contoh yang tepat bagi umat Islam, kaitannya dengan hadits Nabi SAW:

Diriwayatkan dari Ali r.a, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Pada akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akalnya. Mereka berkata-kata seolah-olah mereka adalah manusia yang terbaik. Mereka membaca al-Qur’an tetapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan. Apabila kamu bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka karena sesungguhnya, membunuh mereka ada pahalanya di sisi Allah pada Hari Kiamat.” (HR Muttafaq ‘alaih).

Dua tahun kemudian, Oktober 1972, Nurcholish Madjid berceramah di Taman Ismail Marzuki (Jakarta Pusat), dengan makalah berjudul “Menyegarkan Faham Keagamaan di Kalangan Umat Islam Indonesia”. Ketika itu, Nurcholish menghubungkan sekularisasi dengan tauhid, sehingga timbul kesan seolah-olah Islam memerintahkan sekularisasi dalam arti tauhid.

Sejak saat itu, media massa seperti Kompas, Sinar Harapan, Majalah Tempo, memainkan peran penting mensosialisasikan gagasan Nurcholish. Di tengah-tengah iklim politik yang represif dan keterbukaan yang tersumbat, gagasan Nurcholish menjadi vitamin yang membangkitkan semangat menaikkan tiras dan keuntungan bagi ketiga media cetak tersebut. Maka, jadilah Nurcholish Madjid ibarat anak kecil yang ditunjang loudspeaker banyak, sehingga omongannya terdengar di mana-mana.

Ketika itu, gelar sarjana (S-1) masih menjadi salah satu simbol sosial yang mentereng, bagai orang kampung memiliki sepeda motor. Dan nurcholish, ibarat bocah kampung yang punya bapak berduit sehingga bisa membelikannya sepeda motor. Karena sepeda motor merupakan simbol kementerengan, maka seisi kampung pun menjadi heboh, ternganga mulut orang kampung ketika melihat bocah kecil melaju dengan pesat di atas sepeda motor. Mereka tidak mempedulikan apakah pantas bocah kecil mengendarai sepeda motor, mereka tidak mempedulikan aturan yang berlaku. Yang penting mentereng.

Membela Iblis
Kenyataannya, Nurcholish kian bernafsu melaju di atas sepeda motornya. Sejak itu, kemasyhuran dan kemujuran terus bergerak mengujinya, sehingga ia mampu melanjutkan studi hingga ke Chicago, Amerika Serikat. Berbekal ilmu, pengalaman, dan mungkin juga dollar AS, kemudian ia mendirikan sebuah yayasan wakaf yang diberi nama Paramadina. Salah satu kegiatannya adalah memberikan ceramah keagamaan. Pada ceramah yang diselenggarakan tanggal 23 Januari 1987, seorang peserta, Lukman Hakim, bertanya, “Salahkah Iblis, karena menolak bersujud kepada Adam, ketika Allah menyuruhnya. Bukankah sujud hanya boleh kepada Allah?

Ketika itu, Nurcholish Madjid sudah menyandang gelar Doktor, menjawab dengan mengutip pendapat Ibnu Arabi: “Iblis kelak akan masuk surga, bahkan di tempat yang tertinggi karena dia tidak mau sujud kecuali kepada Allah saja, dan inilah tauhid yang murni, ” jawab Nurcholish.

Pendapat Nurcholish Madjid di atas jelas menyesatkan, dan bertentangan dengan Al-Qur’an Surah Al Baqarah ayat 34: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

Rupanya, setelah lulus dari Chicago, dan meraih gelar doktor, Nurcholish justru menjadi pembela Iblis. Padahal Iblis jelas kafir, dan tempatnya di dalam neraka jahannam selama-lamanya (QS Al-Bayyinah ayat 6). Ibnu Arabi sendiri telah dianggap kafir dan murtad oleh sejumlah ulama, akibat tulisan-tulisannya yang sangat bertentangan dengan aqidah Islam. Nama lengkap Ibnu Arabi adalah Abu Bakar Muhammad ibn Ali Muhyiddin Al-Hatimi at-Thai al-Andalusi. Sosok ini berbeda dengan mufassir Ibnul Arabi, pengarang tafsir Jami’ Al-Ahkamil Qur’an. Ibnu Arabi sesat ini dianggap sebagai tokoh tasawwuf falsafi, lahir di Murcia Spanyol, 17 Ramadhan 560 H (bertepatan dengan 28 Juli 1165M), dan mati di Damaskus, Rabi’uts Tsani 638H (Oktober 1240M).

Inti ajaran Ibnu Arabi didasarkan pada teori wihdatul wujud (menyatunya makhluk dengan Tuhan) yang menghasilkan wihdatul adyan (kesatuan agama, tauhid maupun syirik) sebagai sinkretisme dari teori-teori al-ittihad (manunggal, melebur jadi satu antara si orang sufi dan Tuhan) dengan mengadakan al-ittishal atau emanasi. Yang jelas, Ibnu Arabi banyak dipengaruhi oleh filsafat Masehi atau Nasrani.

Ternyata, semakin tinggi pendidikannya, sampai jauh-jauh ke Chicago untuk meraih gelar doktor, kesesatan berfikir Nurcholish semakin jauh melampaui masa sebelumnya. Antara lain sebagaimana tercermin melalui berbagai pernyataannya: Islam dianggap bukan nama agama, tapi hanya sikap penuh pasrah kepada Allah; istilah musyrikah dianggap tidak mencakup segala jenis wanita musyrik, tapi hanyalah wanita musyrik Arab; Ahli Kitab bukan hanya Yahudi dan Nasrani, tetapi mencakup watsaniyin (penyembah berhala/paganis) India, China, dan Jepang.

Selain sesat, Nurcholish ternyata juga tidak konsisten dengan gagasan sesat pluralisme yang diusung dan membesarkan namanya. Hal ini terbukti ketika dia menyikapi pernikahan anak perempuannya dengan lelaki Yahudi. Sebagaimana diceritakan Adian Husaini dalam kesempatan diskusi di Kampus Paramadina Jakarta, pada tanggal 22 Mei 2002.

Gatra – Kontroversi Perkawinan Putri Cak Nur
Menggugat Syahadat Cara Yahudi

Baca di : http://www.gatra.com/2002-04-16/artikel.php?id=16909

Diskusi dihadiri sejumlah tokoh, selain Adian dan Nurcholish Madjid, ada Kautsar Azhari Noer, dosen UIN Syarif hidayatullah, Jakarta), dan Martin Sinaga tokoh Kristen dari Teologia. Pesertanya, mahasiswa pascasarjana Paramadina Jakarta. Ketika itu, setelah Nurcholish panjang lebar menjelaskan fahamnya yang pluralis, ia pun pergi begitu saja. Pada kesempatan itu, Adian membacakan kepada audiens sebuah e-mail yang berasal Nurcholish Madjid ditujukan kepada puterinya, Nadia, di Amerika, Agustus 2001. Ketika itu, Nadia sedang merencanakan membangun mahligai perkawinan dengan seorang pria Yahudi bernama David. Isi e-mail tersebut, menunjukkan betapa kegundahan menerpa hati Nurcholish: “Kalau sampai terjadi perkawinan antara Nadia dengan David, itu termasuk dosa terbesar setelah syirik. ” Isi surat elektronik itu jelas sangat bertentangan dengan uraian Nurcholish Madjid tentang faham pluralisme yang baru saja dijelaskan pada forum diskusi itu.

Sekiranya pluralisme itu baik dan benar, baik secara agama maupun pemikiran, seharusnya Nurcholish tidak perlu gundah sampai mengatakan perkawinan antara Nadia yang Muslimah dengan David yang Yahudi merupakan dosa besar setelah syirik. Faktanya, Nurcholish Madjid akhirnya menikahkan puterinya itu dengan lelaki Yahudi, setelah sebelumnya melakukan kebohongan publik, dengan menyebarkan informasi palsu, seakan David sudah masuk Islam dan dinikahkan secara Islam. Padahal, Cak Nur –panggilan akrabnya– mengawinkan puterinya Nadia dengan David lelaki Yahudi berlangsung 30 September 2001, di Amerika, tidak dengan cara Islam, melainkan perkawinan dengan akad universal. Yaitu, perkawinan antara anak manusia dengan anak manusia. Melalui sikapnya itu, sebenarnya Nurcholish menunjukkan isi hatinya yang jujur bahwa pluralisme lebih dekat kepada syirik.

Pada saat-saat tertentu, ketika kesadaran Islami lebih kuat menuntutn hidup seseorang, kejujuran tidak bisa dibendung. Kejujuran nurani itu juga dialami dan menembus kepekatan hati Nurcholish Madjid. Dalam kunjungan delegasi Majelis Mujahidin ke Cak Nur pada 26 Juli 2005, terjadi dialog intensif mengenai pluralisme dan kritik terhadap buku Fiqih Lintas Agama yang di dalamnya terdapat pernyataan Nurcholish, bahwa semua agama sama. Juga, wanita boleh jadi imam shalat di hadapan makmum laki-laki, kawin beda agama dan tanpa walim nikah sah, dan berbagai pernyataan sesat lainnya.

Ketika itu Cak Nur menjawab: “Pluralisme yang saya maksudkan bukan semua agama sama, melainkan kebenaran itu tergantung masing-masing penganut agama.”

Dengan sedikit nalar intelektual, orang bisa mengerti bahwa statement di atas mengandung kesalahan yang fatal. Agama adalah milik Allah, maka segala penilaian benar dan salah haruslah berdasarkan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya. Manusia tidak memiliki otoritas untuk menilai agama ‘yang ini haq dan yang itu bathil’.

Delegasi Majelis Mujahidin sempat meminta Cak Nur bertobat dan beristighfar. Tetapi belum sempat dijawab, pendampingnya, Utomo Dananjaya, dengan nada marah menghentikan dialog itu.

Bohong itu Biasa
Dalam hal melakukan kebohongan, Nurcholish Madjid pernah diprotes Hilma Hamid (dosen IAIN Padang, Sumbar). Hilma adalah putri Abdul Hamid Hakim, penulis buku berjudul Al-Mu’inul Mubin. Menurut Hilma, Nurcholish telah menyalah artikan tulisan ayahnya sehingga tak sesuai dengan Islam. Buku Al-Mu’inul Mubin karangan Abdul Hamid Hakim diperlakukan oleh Cak Nur sebagai landasan untuk memasukkan Konghuchu, Hindu, Budha, dan Sinto sebagai Ahli Kitab. Padahal, pada buku Al-Mu’inul Mubin itu yang dimaksud dengan Ahli Kitab adalah Yahudi dan Nasrani, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 2004.

Banyak yang belum tahu, bahwa Nurcholish sebenarnya adalah pegawai negeri (PNS) di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), sebagai peneliti. Namun, dia hampir sama sekali tidak pernah hadir di kantornya. Meski tidak pernah hadir, namun untuk urusan gaji, Nurcholish tak pernah lalai mengambilnya tiap bulan.

Banyak juga yang belum tahu, bahwa Nurcholish termasuk sosok yang berani secara terang-terangan berbohong di depan umum, memfitnah, dan bahkan mengumpat. Hal ini terjadi ketika Nurcholish membela Gus Dur yang diisukan mau mengganti Assalamu’alaikum dengan Selamat Pagi. Waku itu Nurcholish mengatakan, bahwa Gus Dur tidak bermaksud mengganti Assalamu’alaikum dengan Selamat Pagi. Itu cuma isu yang disebarkan oleh seorang wartawan tengik. Menurut Nurcholish, di hadapan sejumlah wartawan, “…Gus Dur ditanya oleh Pak Siswono Yudohusodo bahwa dirinya tidak fasih mengucapkan assalamu’alaikum, kalau mau berpidato. Lalu dijawab Gus Dur, ya cukup dengan selamat pagi saja. Tahu-tahu diberitakan oleh wartawan tengik itu bahwa Gus Dur akan mengganti assalamu’alaikum dengan selamat pagi…

Wartawan tengik yang dimaksud Nurcholish ternyata bernama Hartono Ahmad Jaiz. Menurut Hartono, cerita Nurcholish di atas adalah bohong. Sebab, Hartono pernah mendengarkan sendiri rekaman wawancara antara Edy Yurnaedi wartawan Majalah Amanah dengan Gus Dur yang kemudian dimuat di Majalah Amanah No. 22, 1987, hal. 39.

Ketika itu Edy Yurnaedi bertanya kepada Gus Dur (GD): “Beberapa waktu yang lalu Anda pernah mempopulerkan istilah ‘mempribumikan Islam’, apa maksudnya?”

GD menjawab: “Yah, selama ini kan Islam di Indonesia terlalu melihat kepada Timur Tengah. Sebagai contoh kalau dulu kita membangun masjid harus memakai kubah. Padahal bangsa kita sudah memiliki bentuk arsitektur yang lebih sesuai dengan budayanya sendiri dan mengandung makna yang mendalam. Lalu tentang ucapan assalamu’alaikum, kenapa kita merasa bersalah kalau tidak mengucapkan assalamu’alaikum. Bukankah ucapan itu bisa saja kita ganti saja dengan selamat pagi atau apa kabar, misalnya…”

Edy Yurnaedi wartawan Majalah Amanah kemudian bertanya lagi: “Bukankah itu (assalamu’alaikum) juga untuk menunjukkan identitas keislaman kita?”

GD menjawab: “Justru di sini saya nggak setuju. Untuk menunjukkan identitas Islam saja kok harus begitu. Menurut saya, selamat pagi, selamat sore atau apa kabar itu sama saja Islamnya dengan assalamu ‘alaikum

Begitulah akhlak Nurcholish, dalam rangka mendukung sesama pengikut Iblis, sampai berani berbohong, memfitnah, dan bahkan mengumpat di hadapan orang banyak, di dalam sebuah forum resmi dan ilmiah, yaitu acara penandatanganan kerjasama penelitian antara Pascasarjana Paramadina Mulia dan Departemen Agama (Balitbang). Acara resmi itu dihadiri para pejabat Depag dan pimpinan Paramadina Mulia serta sejumlah wartawan elektronik dan cetak.

Tahun 2003, Nurcholish sibuk melakukan persiapan untuk mencalonkan diri sebagai salah satu kandidat bakal calon presiden pada pilpres 2004. Padahal, saat Sidang Umum MPR bulan Oktober tahun 1999 berlangsung, Nurcholish menolak untuk diunggulkan sebagai calon Presiden RI 1999-2004. Bahkan sebelumnya Nurcholish juga pernah menolak tawaran Soeharto untuk duduk di Komite Reformasi.

Secara resmi Nurcholish mengumumkan kesediaan dirinya itu melalui sebuah konferensi pers, April 2003, yang diselenggarakannya di kampus Paramadina, Jakarta. Salah satu upaya lanjutan yang ditempuh Nurcholish adalah melakukan pendekatan ke Partai Keadilan (sekarang PKS), parpol Islam yang berbasis massa Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin). Ketika itu, 30 April 2003, Cak Nur tidak sungkan-sungkan menyambangi kantor PKS di bilangan Mampang Prapatan, Jakarta. Padahal dua dasawarsa sebelumnya, dia pulalah yang gencar menggembosi partai Islam dengan slogan “Islam Yes Partai Islam No”. Sebagaimana disampaikan Hidayat Nur Wahid, ketika itu (2003) NM sudah berubah sikap, yaitu “Islam Yes Partai Islam Yes”.

Rupanya, Nurcholish Madjid tidak mau kalah dari Gus Dur yang tanpa dinyana bisa jadi presiden. Padahal, ketika roda reformasi sedang digelindingkan, GD justru sedang dirawat di rumahsakit, alias tidak ikut ambil bagian di dalam proses menggulingkan Soeharto. Bahkan ketika GD sudah agak waras dan bisa berkomentar, isi komentarnya pun mendukung Soeharto yang ketika itu sedang digugat habis-habisan oleh rakyat, terutama mahasiswa. Ketika roda reformasi sedang digelindingkan, GD justru meminta mahasiswa agar menghentikan aksi demo, dan menghentikan hujatan kepada Soeharto. Tetapi, tidak ada yang menggubris.

Tahu-tahu, GD yang tidak ikut susah-payah menggelindingkan roda reformasi, justru bisa terpilih menjadi presiden RI ketiga (20 Oktober 1999 – 24 Juli 2001), mengalahkan Megawati dari PDI-P yang merupakan partai pemenang pemilu Juni 1999. Yang menyedihkan, Nurcholish tidak kebagian kursi kekuasaan ketika GD jadi presiden.

Dan yang lebih menyakitkan hati, ketika Nurcholish bersiap-siap mencalonkan diri sebagai kandidat bakal calon presiden, justru gerakannya dibendung oleh sohibnya sendiri. Ketika itu, Nurcholish mengklaim bahwa dirinya sudah didukung oleh lebih dari 11 partai, termasuk PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). Namun kenyataannya, GD menghambat langkah Nurcholish dengan mengeluarkan pernyataan yang membela goyang ngebor Inul dan mengecam Rhoma Irama.

Inul dan Rhoma tidak menyadari, bahwa mereka dijadikan alat untuk menghambat lajunya gerakan Nurcholish. Begitu juga dengan media massa dan aktivis perempuan. Mereka semuanya berpeluh-basah membela pantat Inul, sehingga muka Nurcholish tenggelam. Dari kasus ini, Inul tambah populer dan mendapat simpati yang luas, begitu juga dengan Rhoma yang popularitasnya tidak berkurang. Sebaliknya, Nurcholish kian tenggelam, wajahnya dikalahkan pantat inul. Kejadian ini konon merupakan salah satu sebab yang membuat hati Nurcholish menjadi sedemikian sakit, sehingga harus dicangkok di RS negeri komunis, RRC, pertengahan tahun 2004. Tiga belas bulan kemudian, Senin 29 Agustus 2005, Nurcholish meninggal dunia, setelah 7 bulan menjalani perawatan pada salah satu rumahsakit di Singapura, kemudian berlanjut di RS Pondok Indah Jakarta sejak 17 Februari 2005.

Selama sakit, Nurcholish membutuhkan banyak dana. Sampai-sampai kelompok usaha Bakrie memberikan penghargaan (award) rekayasa kepada Nurcholish dengan hadiah uang tunai sebesar Rp 100 juta, semata-mata dalam rangka menopang keuangan Nurcholish yang terkuras untuk berobat. Kini, kelompok usaha Bakrie ikut terkuras dananya untuk mengatasi masalah semburan lumpur Lapindo di Sidoardjo, daerah asal Inul, yang terjadi sejak Mei 2006.

Betapa malangnya nasib Nurcholish Madjid, ia sama sekali tidak pernah menjadi menteri meski ketika jabatan presiden diduduki sahabatnya sendiri. Semakin mengenaskan, ketika sang sahabat yang ia bela sampai harus mengeluarkan jurus berbohong dan memfitnah, justru menjegal langkahnya dengan isu kontroversial pantat Inul.

2. Durahman Dianggap Wali
Dari segi kemampuan memproduksi pemikiran sesat, Durahman –panggilan pamannya almarhum KH Yusuf Hasyim pada Gus Dur– memang tidak secanggih Nurcholish. Durahman dibesarkan oleh nama kakeknya yang pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Sehingga status ‘keulamaannya’ diraih karena faktor keturunan. Yang paling menonjol dari Durahman adalah kelicikannya dan kengawurannya. Bahkan ia bisa mempecundangi, bukan saja Nurcholish, bahkan Soeharto bisa ia pecundangi. Padahal, tanpa Soeharto dan Orde Baru, Durahman bukan apa-apa. Ketika pecah kasus Priok (September 1984), dan Benny Moerdani (Pangab kala itu) melakukan cooling down dengan mengunjungi pesantren-pesantren di lingkungan NU, ia bertemu dengan ‘generasi muda’ NU yang menarik hatinya karena pandai memberikan argumen yang dibutuhkan Benny untuk mendapat pembenaran atas aksi pembantaian di Tanjung Priok.

Sebelum bertemu Benny, GD adalah sosok yang tergolong fuqara wal masakin yang kaya gagasan. Gagasan itu ditampung majalah Tempo melalui kolom tertentu, sehingga GD disebut sebagai kolomnis. Kompas dan Sinar Harapan juga kerap memuat tulisan GD. Selain kolomnis, GD juga menerima berbagai pesanan untuk menjadi panelis (narasumber) di berbagai seminar atau sarasehan. Namun semua itu tetap membuat GD harus hidup miskin, bahkan Sitti Nuriyah (yang kelak berganti nama menajdi Sinta Nuriyah) harus pontang-panting mencari uang dengan menjadi penulis lepas di majalah Zaman, sebuah majalah yang lahir dari selangkangan Tempo Group pimpinan Gunawan Mohamad.

Begitu miskinnya, sehingga harus nebeng pada Kartono Mohamad setiap hendak ke tempatnya beraktivitas. Dari kediamannya di Ciganjur (yang kala itu masih belukar, dan belum dijangkau transportasi darat), GD harus tiba tepat waktu di kediaman Kartono Mohamad di Jati Padang (Pasar Minggu, Jakarta Selatan). Sedikit terlambat, ia ketinggalan tebengan, sehingga harus melanjutkan perjalanan dengan bis kota. Kartono Mohamad adalah kakak kandung Gunawan Mohamad.

GD sering berjalan kaki ke suatu tempat yang jaraknya tidak terlalu jauh. Sehari-hari GD jarang memakai sepatu, kecuali ke Istana Negara menemui Soeharto. Sebelum jadi Ketua PBNU, berkat belas kasih Soetjipto Wirosardjono –yang kala itu menjabat sebagai Wakil Ketua BPS (Biro Pusat Statistik) dan juga Ketua Umum PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia)– GD disediakan sebuah kamar di bilangan Menteng, untuk tempatnya bekerja.

Setelah bertemu Benny, kemudian GD berhasil dipasang sebagai Ketua Tanfidziyah PBNU periode 1984-1999. Untuk menyesuaikan dengan statusnya yang baru itu, GD buru-buru menunaikan ibadah haji. Dari sinilah karier GD melesat. Ia berhasil dinobatkan sebagai lokomotif pembaharuan pemikiran Islam, dan tokoh demokrasi. Kemampuan GD memproduksi pernyataan yang kontroversial, menghina Islam dan membingungkan ummat, justru dianggap sebagai terobosan dan angin segar oleh sebagian kalangan. Maka, GD yang hidup miskin berubah menjadi kaya raya.

Durahman dan Nurcholish adalah dua sosok yang succsess story-nya kemudian diikuti oleh generasi muda di bawahnya, seprti Ulil dan lain-lain. Mereka menapak tilas langkah GD-NM yang aneh, nyeleneh, seolah-olah cerdas, seolah-olah Islami namun sebenarnya bertentangan dengan Islam, menyimpang dari aqidah dan membingungkan ummat. Tapi anehnya justru dihormati orang sebagai intelektual, bertabur pujian dan uang.

Salah satu predikat yang disandang GD adalah intelektual. Ciri yang seharusnya melekat pada seorang intelektual, adalah konsistensi. Kenyataannya, GD adalah sosok yang sangat tidak konsisten. Bahkan ketidakonsistenan GD telah menjadi trade mark akhlaqnya.

Ketika di berbagai daerah ramai-ramai menerbitkan sejumlah perda yang dianggap bernuansa syariat Islam, GD termasuk yang menolak, sebagaimana tercermin melalui wawancara yang terjadi antara GD dengan komunitas JIL. Ketika itu GD berkilah, “Otonomi daerah itu perlu dipahami sebagai kebebasan untuk melaksanakan aturan yang sudah ada, bukan kebebasan untuk menetapkan undang-undang sendiri. Pengertian otonomi daerah itu bukan seperti yang terjadi sekarang ini; daerah mau merdeka di mana-mana dan dalam segala hal. Sikap itu tidak benar.”

Namun ketika ditanya, “Apakah beberapa daerah yang mayoritas non-muslim seperti NTT, Papua, Bali, dan lain-lain, dibolehkan menerapkan aturan agama mereka masing-masing dengan alasan otonomi daerah?”

GD menjawab, “Iya nggak apa-apa. Itu konsekuensinya kan? Makanya, kita tidak usah ribut-ribut soal perda dan aturan yang berasal dari satu agama.”

Ini jelas tidak konsisten. Kalau perda bernuansa syariat Islam diterbitkan di daerah yang mayoritas penduduknya beragama Islam, dianggap kacau oleh GD, namun hal yang sama tidak disebut kacau untuk Bali, NTT dan Papua yang non Islam.

Meski GD sering menunjukkan sikapnya yang anti Islam, namun berbagai media tetap saja menyebutnya sebagai cendekiawan Muslim. Sehingga, orang awam pun ikut-ikutan menganggapnya sebagai cendekiawan Muslim. Ada juga yang menganggap GD sebagai ulama, bahkan sebagian lainnya menganggap GD bermaqam wali.

Wali dan Nabi Palsu
Kalau GD diposisikan bermaqam wali oleh orang awam yang punya kecenderungan taklid bodoh, barangkali masih bisa bisa dipahami, karena sikap itu dilandasi oleh kebodohannya. Tapi kalau yang menganggap GD bermaqam wali adalah sosok sekaliber Dawam, betapa memprihatinkannya kualitas bangsa ini. Dawam yang dijuluki intelektual Muslim, berpredikat profesor (guru besar), ternyata mengangap GD bermaqam wali dengan argumen yang tidak berkualitas. Dalam sebuah wawancara dengan ANteve, Selasa pagi 26 Oktober 1999 M (16 Rajab 1420 H), Dawam Rahardjo dimintai komentarnya tentang Gus Dur yang baru saja terpilih sebagai presiden RI ke-4, dan saat itu bertepatan dengan rencana pemerintah mengumumkan susunan kabinetnya. Ketika itu, Dawam mengatakan bahwa GD adalah wali. Alasannya, karena GD mampu belajar Bahasa Inggris dengan cepat sekali, dan pidatonya dalam bahasa Inggris bagus sekali.

Bila kemampuan mempelajari bahasa Inggris dengan cepat, dan mampu berpidato dalam bahasa Inggris dengan baik sekali merupakan persyaratan menjadi wali, maka di Indonesia ini banyak sekali orang yang layak disebut wali.

Kalau GD dianggap wali karena disandarkan pada ketinggian ilmunya tentang Islam, barangkali masih bisa disebut fair. Faktanya, GD sering ngawur di dalam memahami Islam. Misalnya, sebagaimana tercermin melalui artikel berjudul Antara Asas Islam dan Asas Pancasila di harian Media Indonesia, Rabu 17 Maret 1999, halaman 6, “Bahkan, Allah memerintahkan manusia untuk beragam agama, ‘Bagimu agamamu dan bagiku agamaku’ (lakum dienukum wa liya dien). Bahkan, dalam hal perbedaan agama, kita diperintahkan berbeda keyakinan, tetapi boleh bersama-sama dalam hal perbuatan. ‘Bagi kami amal perbuatan kami bagi kamu amal perbuatan kamu.’ (Lanaa a’maalunaa walaikum a’maalukum).”

Jika Allah memerintahkan umat manusia untuk beragam agama, ngapain sampai repot-repot menurunkan wahyu berupa Kitab Suci dan mengutus Nabi segala? Tanpa bimbingan Allah, tanpa Kitab Suci dan Nabi, umat manusia mampu menciptakan agama yang beragam, kok. Buktinya, meski sudah ada Kitab Suci dan Nabi serta Rasul, masih saja lahir nabi-nabi palsu dengan kitab suci palsu pula.

Salah satu nabi palsu itu adalah GD sendiri. Dalam sebuah pertemuan dengan sejumlah wartawan di Kantor PBNU jalan Kramat Raya (Jakarta Pusat), pertengahan Juli 1999, GD mengeluarkan pernyataan, “Saya sekarang menjadi nabinya orang Aceh.” Pernyataan itu tentu saja mendapat reaksi keras. Maka GD pun berkilah, “Dalam budaya Jawa, orang yang dikatakan nabi itu adalah orang yang memperjuangkan sesuatu dengan sunguh-sungguh.”

Padahal, menurut pakar kebudayaan Jawa Karkono Kamajaya, “Nabi itu adalah utusan Tuhan untuk membawa umatnya kepada jalan yang benar. Budaya Jawa juga memandang hanya nabi yang mendapat wahyu dari Tuhan.”

Ternyata, untuk urusan yang berkenaan dengan budaya saja, GD terbukti ngawur dan tidak menguasai persoalan. Apalagi yang berkenaan dengan syari’at Islam! Lha, orang seperti ini koq disebut wali.

Semakin ketahuan ketidakmampuan GD memahami Al-Qur’an adalah ketika ia tanpa ditanya oleh pewawancara (di situs JIL) menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah Kitab Suci paling porno, hanya karena di dalam Al-Qur’an ada perintah menyusui. Kalau hanya karena itu disebut porno, maka banyak sekali dokumen, peraturan, makalah dan anjuran (ucapan) yang tergolong porno. Termasuk, anjuran yang disosialisasikan isteri Presiden SBY melalui berbagai media agar para ibu menyusui bayinya dengan ASI karena ASI lebih sesuai dibanding susu formula.

Sekalipun demikian, Gus Dur bernasib lebih baik dibanding Nurcholish. Meski serba sebentar, GD pernah jadi anggota MPR bahkan sempat menjadi presiden selama hampir dua tahun. Kemudian habis kariernya. Kharisma dan kewibawaannya melorot setelah skandal perzinahannya terkuak lebar, dan kemudian diturunkan dari jabatan Presiden oleh MPR. Memalukan. Begitulah nasib tragis yang harus diterima orang-orang yang menghina agama Allah. Benarlah firman Allah, “Biarkan Aku yang mengurus…”

3. Dawam Raharjo Membela Cak Nur
Berbeda dengan GD yang tega menelikung Nurcholish, Dawam Rahardjo seratus persen loyal dan membela Cak Nur, bahkan jauh ketika dia sudah meninggal dunia. Mengapa demikian? Sebab, tanpa bersandar ke Nurcholish atau GD, nama Dawam tidak punya makna. Makanya, meski Nurcholish sudah tiada, ia berusaha terus membelanya, meski harus berbohong sekalipun. Di Kompas edisi Jumat, 19 Januari 2007, Dawam memuji-muji GD melalui tulisannya berjudul Pembaruan KH Abdurrahman Wahid. Isinya, komentar subyektif Dawam tentang cuatan pemikiran GD yang terangkum di dalam sebuah buku berjudul Islamku, Islam Anda dan Islam Kita, sebuah kumpulan tulisan GD dalam beberapa periode. Begitulah cara Dawam mempertahankan eksistensinya.

Selain Nurcholish, Dawam juga gemar bersandar ke berbagai tokoh lainnya. Antara lain Munawir Sjadzali, menteri agama dua periode (1983-1993). Munawir pernah berpidato di IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan melontarkan gagasan reaktualisasi ajaran Islam dengan mengemukakan bahwa hukum waris Islam tidak adil (laki-laki dua bagian, perempuan satu bagian). Munawir ketika itu juga berpendapat bahwa ada beberapa ayat Al-Qur’an yang kini tidak relevan lagi.

Naluri oportunis Dawam langsung bekerja. Ia tanpa ditunjang kesiapan (ilmu) yang memadai langsung mendukung gagasan Munawir yang nyeleneh itu. Salah satunya, Dawam berpidato di hadapan ahli Syari’ah yang berjumlah lebih dari 200 orang, di Kaliurang, Jogjakarta, ia berceloteh, “… kalau bagian warisan itu lelaki dua kali lipat bagian perempuan, maka bagaimana cara membaginya?”

Melihat kebingungan Dawam, spontan hadirin tertawa terbahak-bahak. Tentu saja mereka terbahak-bahak, karena sebagai tenaga ahli Syari’ah di Pengadilan-pengadilan Agama dari berbagai kota, mereka sudah biasa memberi fatwa waris. Menghitung pembagian waris lelaki dua bagian dan perempuan satu bagian adalah pekerjaan mudah. Ternyata untuk urusan semudah itu, Dawam yang bergelar professor tidak bisa mencernanya dengan baik. Lagi pula, Dawam bukan ahli syari’ah, namun sok tahu mau mengajari para ahli syari’ah yang sudah lama mempraktekkannya.

Menyadari kedunguannya, serta-merta Dawam turun dari podium, langsung kabur ke Jakarta bersama seorang pendampingnya. Selain suka bersandar, Dawam juga senang membela aliran sesat, di antaranya membela Ahmadiyah. Di tahun 2000, bersama Habib Hirzin, Dawam terbang ke London mengundang Tahir Ahmad yang oleh kalangan Ahmadiyah dianggap sebagai Khalifah ke-4 tingkat dunia, untuk datang ke Jakarta (Indonesia).

Ketika rombongan Tahir Ahmad tiba di Bandara Cengkareng, Jakarta, Dawam pun menjemputnya, dan mengalungi bunga, kemudian dipertemukan dengan Presiden (kala itu) Abdurrahman Wahid dan Ketua MPR (kala itu) Prof. Dr. Amien Rais. Keberhasilan Dawam tentu saja mendapat pujian dari Tahir Ahmad. Pujian itu juga dipublikasikan melalui majalah khusus Ahmadiyah yang terbit di London.

Selama berada di Jakarta, Tahir Ahmad sang penerus nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad ini, sesumbar akan menjadikan Indonesia sebagai negeri terbesar Ahmadiyah. Sesumbar itu disambut oleh umat Islam dengan perlawanan, di antaranya penghancuran rumah-rumah orang Ahmadiyah di berbagai tempat di Indonesia.

Rupanya Dawam termasuk tokoh yang gigih membela Ahmadiyah. Ini terbukti ketika dalam rangka menyikapi terjadinya penyerbuan terhadap kantor Pusat Ahmadiyah di Parung (Bogor) pertengahan Juli 2005, ia membela sejadi-jadinya sampai-sampai Dawam menyatakan, “… jika ada gerakan anti Islam, maka saya akan ikut…” Pernyataan itu diucapkannya di hadapan pers dalam acara jumpa pers yang berlangsung di gedung (kantor) PBNU.

Selain mau ikut gerakan anti Islam, Dawam juga tidak sungkan-sungkan melakukan pembelaan dengan argumen bohong. Ketika diwawancarai Rakyat Merdeka edisi Sabtu, 23 Juli 2005, Dawam mengatakan: “… di Parung itu awalnya banyak sarang perjudian dan prostitusi, tapi setelah ada Ahmadiyah semua itu hilang…”

Padahal kenyataannya, masalah prostitusi dan perjudian di Parung, tidak ada korelasinya dengan keberadaan Ahmadiyah. Meski Ahmadiyah telah mendirikan kantor pusatnya di Parung, prostitusi dan perjudian tidak berkurang, malah semakin marak. Kalau prostitusi dan perjudian di Parung kemudian jauh berkurang, itu karena pernyataan Kapolri Jenderal Soetanto yang secara tegas akan melibas praktek perjudian dan prostitusi di seluruh Indonesia.

Barangkali Dawam belum tahu nasib tragis yang menimpa Mirza Ghulam Ahmad (MGA). Ada baiknya sebelum Dawam mengalami nasib yang sama, bertanyalah kepada Dr. Hasan bin Mahmud Audah, mantan orang kepercayaan Khalifah Ahmadiyah ke-4 Thahir Ahmad, yang sudah kembali ke Islam. Dr. Hasan bin Mahmud Audah pernah menjelaskan, berminggu-minggu sebelum kematian menjemput, MGA tidak bisa ke kakus. Akibatnya, MGA buang air besar dan kecil di tempat tidur. Karena sakitnya itu, sampai-sampai dalam sehari dia kencing seratus kali. Jadi tempat tidurnya sangat kotor seperti kakus. Begitulah nasib nabi palsu penyesat umat. Dawam akhirnya dipecat dari Muhammadiyah, ketika Din Syamsuddin naik menggantikan Syafii Ma’arif.

Masalah yang dihadapi bangsa Indonesia bukan cuma tingginya tingkat korupsi, narkoba, pornografi, tetapi juga tingginya tingkat taklid bodoh sebagian rakyat Indonesia. Taklid bodoh ini sudah sedemikian mengkhawatirkan, karena ekspresinya tidak hanya berbentuk memotongi pohon di pinggir jalan dalam rangka membela sang tokoh idolanya, tetapi juga sudah sampai tahap siap mengorbankan nyawa demi membela sang tokoh yang sebenarnya penganjur kesesatan. Yang memprihatinkan, kerelaan mengorbankan nyawa demi sang tokoh sesat seperti ini, mereka anggap sebagai salah satu cara mati syahid. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, di tempat yang sama lahir pula generasi muda yang liberal dan sesat dari aqidah Islam. Ini jelas mengkhawatirkan. Bila dari pantat ayam betina bisa keluar telur, bisa juga tembelek, tetapi dari tempat ini tidak ada telurnya, cuma tembelek yang keluar dari duburnya.

Risalah Mujahidin Edisi 7 Th I Rabiul Awal 1428 H / April 2007 M, hal. 26-37.

Catatan Redaksi
Email Cak Nur kepada Nadia Tentang Pernikahan anaknya

“Assalaamu’alaikum wr. wb.
Nadia Tersayang

Surat elektronikmu lewat Mikel telah Papa-Mama baca…
Kemudian dia itu beragama lain dari kita, yang dalam telinga banyak orang sangat stigmatik. Memang hal itu dapat diatasi, yaitu kalau dia mau masuk agama kita. Kalau tidak, sembilan puluh sembilan persen, suatu dosa yang sangat besar, salah satu yang terbesar dalam agama kita setelah syirik, durhaka kepada orang tua, membunuh dan merusak alam.

Dua hal lagi yang menjadi keprihatinan Papa-Mama, sekali pun sedikit lebih ringan. Yaitu bahwa dia itu agaknya dari keluarga berada dan terkenal, selain tentu saja menganut pola budaya yang cukup berbeda dengan kita, karena dia tidak sebangsa dengan kita…

Kemungkinan-kemungkinan itu janganlah ditepis dengan adanya janji-janji lisan dari dia kepadamu. Kamu sendiri mengetahui hal itu, sebab seperti kata pepatah, “lidah tak bertulang”. Karena itu, inilah saatnya kamu menetapkan kearifan,”lebih baik mandi keringat saat latihan daripada mandi darah saat pertempuran.” Lebih baik bersusah payah saat persiapan daripada menerima derita nestapa saat perjalanan. Maka Mama-Papa dengan amat sangat menasehatkan kepadamu hal-hal berikut:

Kalau memang jadi, dia mutlak harus masuk agama kita. Acara pengislaman itu harus disaksikan cukup banyak orang lain, yang terdiri dari : Teman-teman dan kenalanmu dari kalangan bangsa kita di DC ini. Teman-teman dan kenalan-kenalanmu dari kalangan orang DC, khususnya dari Suara Amerika, Keluarga dan teman-teman dari dia, supaya ikut menyaksikan dan menjadi saksi. Sudah tentu orang-orang dari KBRI…

Setelah itu semuanya terlaksana dengan mantap, dapat lakukan pernikahan resmi menurut syariat agama kita, sehingga benar-benar sah dan legal (agama dan hukum sipil), dan kamu sendiri, serta Papa-Mama dan seluruh keluarga terbebas dari fitnah, gunjingan dan umpatan orang…” (dikutip dari Buku “Nikah Beda Agama Menurut Islam dan Seputar Kontroversi Pernikahan Putri Cak Nur”, penerbit Media Wacana).

-swaramuslim.com-

Advertisements

Read Full Post »

Seorang Pembelajar Sejati

16 Apr 07 09:53 WIB

Oleh Ike Sari Astuti

Sudah bertahun-tahun saya menyandang status sebagai pelajar, bahkan sampai umur yang sudah dewasa sekarang ini, kebanyakan status profesi resmi saya adalah sebagai pelajar (mahasiswa) ketimbang pekerja. Meski demikian, ternyata saya baru menyadari bahwa selama ini saya tidak – atau setidaknya belum – sungguh-sungguh “belajar”. Bukan saja belajar dalam posisi saya yang memang sebagai pelajar, tetapi lebih dari itu, belajar dalam setiap bagian kehidupan saya sebagai manusia dan terutama lagi sebagai seorang muslim.

Semua ini bermula siang itu ketika saya yang hendak menuju ke sebuah komputer di sebuah warnet. “Assalaamu’alaikum, Sari ya?” sebuah suara memanggil saya. Saya menoleh ke arah suara tersebut. Seorang wanita muda berkerudung tersenyum ke arah saya. Saya pun menjawab salamnya dengan muka bingung karena saya merasa tidak mengenal wanita tersebut.

“Aku Ayu, temanmu di SMP dan SMA, ” sambungnya lagi. Saya pun terperangah tak kuasa berkata apa-apa selain menyebut “Subhanallah” berkali-kali. Betapa tidak, teman yang dulu saya kenal sebagai penganut Hindu yang taat itu siang itu berdiri di depan saya dengan balutan busana panjang lengkap dengan jilbabnya yang rapi. Acara nge-net siang itu pun berganti menjadi temu kangen setelah bertahun-tahun berpisah karena kami melanjutkan pendidikan ke universitas yang berbeda.

Merasa penasaran, saya pun segera menanyakan alasan mengapa dia memilih menjadi seorang muslimah. Mulailah dia bercerita bahwa sejak SMA, saat pelajaran agama Islam berlangsung dia memilih untuk tetap tinggal di kelas daripada keluar. Ternyata dari acara mendengar tidak sengaja, dia mulai berpikir dan menganalisa sampai akhirnya dia berkesimpulan, bahwa Islam is not only a bunch of ritual teachings, begitu dia menyebutnya, tapi lebih dari itu adalah sebuah jalan hidup. Ia pun tergerak untuk mencari tahu apa dan bagaimana Islam, meski hidayah benar-benar menjemputnya ke pangkuan Islam setelah dia menikah dengan seorang pemuda muslim di tahun pertama kuliahnya. Saya pun hanya bisa manggut-manggut kagum mendengarnya.

Apa yang saya dengar berikutnya membuat saya lebih terperangah. Bagaimana dia akhirnya berjuang dengan ujian hidup yang teramat berat, yaitu terpaksa bercerai di usia muda, serta menjadi muslim seorang diri di keluarga besarnya. Merasa belum puas, saya kembali bertanya sejak kapan dia memakai jilbab. Dia pun meneruskan ceritanya, akan keinginannya untuk menunjukkan bahwa dia menjadi muslim bukan karena pernikahan semata. Berstatus muallaf membuat dia merasa berkewajiban mengetahui benar-benar apa yang dipilihnya dan belajar mencari apa yang belum diketahuinya. Memakai jilbab adalah salah satu hasilnya. Tak berhenti sampai di situ, statusnya sebagai janda di usia muda pun tak menghalangi langkahnya untuk belajar Islam lebih serius di berbagai kesempatan meski pandangan masyarakat yang miring kerap menjadi penghalang besar.

Apa yang saya saksikan siang itu – lima tahun setelah dia mengucap syahadat – adalah hal yang sangat jauh berbeda. Kini ia adalah seorang muslimah yang rapi berkerudung, fasih membaca Al-Qur’an, fasih pula mengutip hadits-hadits shahih sebagai hujjahnya dalam memandang setiap persoalan, dan juga penuh optimisme memandang dunia dengan keyakinan hati yang begitu kuat bahwa ada hikmah di balik setiap kejadian, bahwa ada kekuatan dalam setiap untaian do’a, kekuatan untuk mengubah langit sekalipun.

Bertemu dengannya membuat saya seperti pelajar kesiangan. Bukan tentang keputusannya untuk memeluk Islam, bukan pula jalan hidupnya, melainkan pada bagaimana ia begitu cepat belajar. Hanya dalam rentang waktu lima tahun, apa yang diketahuinya tentang Islam mungkin lebih baik dari apa yang saya ketahui setelah lebih dari dua puluh tahun mengklaim diri sebagai seorang muslim. Saya pun hanya bisa bertanya pada diri sendiri tentang apa saja yang sudah saya lakukan selama ini yang seperti tanpa hasil yang berarti.

Satu hal yang terus saya ingat adalah ketika dia mengatakan bahwa dia telah berhenti dari pekerjaan yang baru saja didapatnya karena dia merasa banyak hal dalam pekerjaannya yang bertentangan dengan ajaran Islam. Sekali lagi saya hanya bisa terperangah. Bukan, bukan karena alasannya yang memang sangat mengagumkan, tetapi pada bagaimana dia telah melangkah lebih jauh menjadi muslim penuntut ilmu sejati, yang bukan sekedar mencari tahu tetapi telah menerapkan apa yang telah diketahuinya, memegang teguh prinsip amal setelah ilmu, meski dihadapkan pada pilihan yang tidak selalu mudah.

Jikalau dahulu para sahabat tak berani mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an yang lainnya sebelum betul-betul mengamalkannya, kini teman saya begitu tekun mencari tahu dalam setiap ketidaktahuannya. Sementara, saya masih berkutat dengan sedikit peduli dan sedikit mencari. Saya masih berputar-putar pada mencari ilmu tetapi akhirnya hanya kembali tersimpan menjadi tumpukan buku yang berdebu.

Apa yang dituturkannya siang itu betul-betul membuka mata saya bahwa saya belum pernah menjadi seorang pembelajar sejati seperti dirinya. Pembelajar sejati adalah seorang yang dengan segala kerendahan hati mengakui kesalahan dan kebodohan diri, seseorang yang mempergunakan seluruh kapasitas yang ada dalam dirinya untuk mengejar ketertinggalannya, dan terus menerus memperbaiki kesalahannya. Pembelajar sejati bukan terletak pada banyaknya koleksi buku yang dimiliki, bukan pula pada rentetan gelar sebagai bukti banyaknya ilmu yang dikuasai, tetapi lebih dari itu, pembelajar sejati adalah sesorang yang selalu membuka mata membuka hati untuk melihat sekelilingnya dan mencari jawaban pasti terhadap apa masih gelap bagi dirinya. Seorang yang selalu bersungguh-sungguh mencari tahu sebagai konsekuensi logis status ketidaktahuannya, yang pada akhirnya bermuara pada perubahan cara berpikir dan berperilaku yang lebih baik, sebagai buah atas segala apa yang telah diketahuinya.

Menjelang pagi di kaki Semeru, ikesari_2304@yahoo. Com

http://eramuslim.com/atk/oim/461b7d1d.htm

 

Read Full Post »

Andai dulu aku sering berdoa dengan linangan air mata kesedihan,

sekarangpun aku masih sering menangis ketika berdoa, tapi kali ini aku menangis bahagia

 DIBALIK KERUDUNG
(Perjuangan mempertahankan keyakinan)

Assalamualaikum Wr Wb.
Sebelum aku memulai cerita aku ini, izinkanlah aku untuk memohon maaf
apabila ada pihak2 yang tidak berkenan dengan cerita aku ini, terutama
keluargaku. Untuk itu nama2 orang dan tempat tidak akan aku sebutkan. Aku
ucapkan terimakasih untuk Retno (bukan nama sebenarnya) dari Univ. T. di
kotaku yg mau menuliskan kisah sejati aku ini. Semoga kisah sejati aku ini
menjadi inspirasi buat orang yg membacanya atau mengalami hal yg sama.
Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan Hidayah pada kita semua.

Aku, panggil saja “Mawar”, beurusia 30an thn dilahirkan di sebuah pulau di
sebrang pulau jawa, di kota P. Aku lahir sebagai anak terakhir dari 4
besaudara. Kakakku yg pertama dan kedua, laki2, sedangkan yg ketiga
perempuan. Kami berasal dari keluarga keturunan dan kami merupakan generasi
ke 4 yg sudah menetap di negri ini. Kakek buyut kami merupakan pendatang
dari negri jauh dr sebrang di awal abad 20. Keluarga kami memulai bisnis
benar2 dari bawah, menurut cerita orang tua kami, dulu kakek buyut kami
hanya berjualan dengan pikulan bahan2 kebutuhan pokok seperti gula, garam,
beras dll keluar masuk kampong. Usahanya baru berkembang dengan pesat
setelah pada tahun2 awal setelah kemerdekaan, pemerintah pada waktu itu
mulai menggalakan usaha yg dilakukan oleh bangsa sendiri/pribumi. Waktu itu
dikenal istilah AliBaba. Ali untuk pangggilan pribumi, sedangkan Baba untuk
warga keturunan seperti kami. Waktu itu pengusaha pribumi asli diberikan
kemudahan perizinan usaha, bahkan mengimport dari negara2 lain, tapi umumnya
mereka tidak punya banyak modal. Waktu itu banyak warga keturunan yg
mempunyai banyak modal kemudian membeli ijin usaha yg diperoleh olah para
bribumi tsb, sehingga mereka secara mudah melakukan export import dengan
negri2 tetangga (singapura, Malaysia, hongkong, dll) yg pada waktu itu
memang juga dikuasai olah warga dari etnis kami.
Singkat cerita, bisnis keluarga kami benar2 menjadi semakin besar dan
merambah ke segala bidang, mulai dari pertambangan, tambang emas, property,
perkebunan, dll. Boleh dibilang kekayaan keluarga kami sudah diatas rata2
dari orang kaya di negri ini, above than ordinary rich.
Harta kekayan kami yg amat melimpah itu sampai orang tua kami kadangkala
risau seandainya tiba2 kami sekeluarga (tiba2) meninggal sehingga tak ada yg
mengurus harta yg sedemikian banyaknya itu. Untuk itu kami sekeluarga tak
pernah melakukan perjalanan dengan pesawat secara bersama2. Andai kami
sekelurga akan melakukan liburan pada saat dan tempat yg sama, maka biasanya
kami dibagi menjadi 2 atau 3 penerbangan, Papa dan mama satu pesawat, dan
kami sisanya juga dibagi 2 penerbangan yg lain. Sehingga apabila terjadi
sesuatu musibah, maka akan tetap ada bagian keluarga kami yg masih selamat,
dan tetap bisa mengurus bisnis dan kekayaan kami. Aku sengaja cerita panjang
lebar latar belakang keluarga kami, sebab ini akan berhubungan sekali secara
emosi dengan kisah aku selanjutnya.

Papa kami lahir dan dibesarkan di pulau ini, selepas sekolah menengah atas
beliau melanjutkan sekolah bisnis di negri H, sehingga begitu kembali ke
negri ini, beliau manjadi businessman yg amat handal, dan mempunyai banyak
teman2 bisnis di berbagai negara. Papa sebenarnya orang yg rendah hati,
pendiam, bicaranya terukur dan seperlunya, jarang marah pada anak2nya.
Sedangkan mama, sebenarnya berasal dari pulau lain, dia dulu pernah bekerja
pada perusahaan kakek kami (orang tua dari papa), sebelum akhirnya bertemu
papa dan menikah. Mama orangnya keras, pintar, lincah, banyak pergaulan,
sehingga kadang kami berpikir, papa seperti takluk pada mama. Banyak
kebijakan perusahaan yg berasal dari ide mama, dan memang selalu sukses.
Papa dan mama, memang pasangan yg serasi, saling mengisi kekurangan. Masa
kecil aku lalui dengan penuh kebahagian, dan sejak SD sampai SMA aku
disekolahkan disebuah sekolah swasta terkemuka di kota kami, yg siswanya
banyak berasal dari anak2 pejabat, bupati, gubernur, dll. Aku berbaur dengan
siapapun tanpa memandang golongan, agama dan ras. Kadang aku diundang untuk
mampir bermain kerumah mereka (anak bupati, gubernur) sepulang sekolah,
sehingga aku mengenal labih dekat dengan keluarga mereka. Ini pula yg kelak
bermanfaat buat perusahaan keluarga aku.
Di sekolah kami, ada pelajaran agama untuk tiap2 pemeluknya. Pada saat itu
tiap ada jadwal pelajaran agama tertentu, maka bagi pemeluk agama yg lain
diperbolehkan keluar kelas, tapi boleh juga tetap tinggal dikelas apabila
memang menghendaki. Jadi misalnya hari ini giliran pelajaran agama Islam,
maka murid2 non muslim diperbolehkan meninggalkan kelas, begitupula
sebaliknya apabila ada pelajaran agama lain. Tapi aku sendiri sering tetap
tinggal dikelas mendengarkan apa yg diajarkan ibu guru agama Islam di kelas
kami.

Saudara2 ku semua….
Entah kenapa aku yg sejak lahir dididik secara non muslim, bahkan tiap
minggu aku beribadah di tempat ibadah kami, merasa tertarik dengan ajaran
agama Islam. Aku sendiri tak tahu datangnya dari mana. Semacam ada panggilan
dari hati aku yg paling dalam, tapi saat itu aku pikir mungkin itu hanya
rasa keingintahuan semata, bukan mendalami secara jauh dan mendalam. Tiap
mendengar azan, entah kenapa hati aku selalu bergetar. Dirumah kami yg
besar,  kadang hanya aku seorang diri, orang tua kami selalu sibuk di
Jakarta sehingga hanya beberapa hari dirumah dalam sebulan, kakak2 aku ada
yg sudah kuliah di luar negri, sehingga rumah mampunyai 6 kamar yg besar2,
yg seharusnya cukup untuk menampung 20 orang, hanya dihuni oleh aku sendiri.
Pembantu, sopir, satpam, tinggal di pavilion kusus untuk mereka yg terletak
terpisah dengan rumah induk. Dalam kesunyian itu hati aku merasa sejuk tiap
mendengar ayat suci Al Quran yg kadang tak sengaja aku dengarkan di TV.

Kembali ke pelajaran agama di kelas. Entah mengapa aku makin tertarik untuk
mendalami ajaran agama Islam tiap ada pelajaran agama dikelas. Melihat ibu
guru yg mengenakan kerudung, dengan wajah yg bersih, bersinar, hati aku
terasa sejuk. Dengan melihat wajah ibu guru itu saja aku sudah merasa damai.
Tanpa aku sadari kadang aku mencatat apa yg ibu guru iru ajarkan, bahkan aku
mulai hapal diluar kepala ayat2 yg pendek2. Itu semua benar2 terjadi begitu
saja, tanpa ada aku sadari dan tanpa bisa dicegah oleh diri aku sendiri.
Pernah ibu guru tsb menghampiri aku yg tak sengaja, secara reflex mencatat
pelajaran tetang haji yg dia tulis di papan tulis. Beliau tahu aku non
muslim, dan menghampiri tempat duduk ku, jantung ku derdebar keras
membayangkan kemungkinan aku diusir dari kelas.
Tetapi…..ternyata beliau dengan senyumnya ramah melihat catatan yg aku
tulis, sambil berkata, “Insya Allah kelak suatu saat Mawar bersama dengan
ibu melaksanakan ibadah Haji ya..”
Sejak saat itu hubunganku dengan Ibu guru (sebut saja ibu guru Aisyah) makin
akrab, aku hampir tidak sabar menunggu datangnya hari pelajaran ibu Aisyah.
Hubunganku dengan beliau bagai anak dan ibu. Tetapi saat itu aku juga tetap
mengikuti pelajaran agama yg saat itu masih aku anut, walau lebih banyak
melamun, bahkan tidak mencatat sama sekali apa yg diajarkan.

Sebagai gadis remaja, tinggiku sekitar 160cm, tentu sedang mekar2nya dan
giat2nya mancari pacar. Teman2ku banyak yg mengatakan kalau tubuhku indah,
proporsional, berwajah oriental, bakalan banyak menarik perhatian laki2.
Plus dengan latar belakang keluarga ku yg amat berkecukupan, makin banyak
laki2 yg tergila2 padaku. Entah kenapa saat itu aku tidak tertarik dengan
laki2 yg berasal dari etnis ku. Tiap hari jumat melihat siswa2 pria
melakukan ibadah shalat jumat, hatiku langsung bergetar, membayangkan andai
salah seorang dari mereka adalah pacarku, dengan wajah bersih bersinar dan
masih basah tetesan air wudhu, berjalan ke masjid di seberang sekolah,
ah…alangkan indahnya membayangkan wajah2 tersebut. Tapi saat itu aku tahu
diri, aku yg berasal dari etnis keturunan, apakah ada laki2 pribumi yg mau
menjadikan aku pacarnya. Aku tahu masih banyak dari mereka yg membedakan
ras, dan berpacaran dengan ras kami masih dianggap memalukan, bahkan bisa
jadi ejekan dan gunjingan dilingkungan keluarganya. Aku pernah berpacaran
dengan anak bupati dikota ku, tapi kemudian dia memutuskan hubungan kami,
dikarenakan ayahnya akan mencalokan diri menjadi Gubernur,dan dia tidak mau
ada anggota keluarganya yg bisa menghambat pencalonan tsb. Misalnya anaknya
dengan berpacaran dengan ras lain (??). Walau alasan itu amat sangat
mengada2 tapi aku terima dengan lapang dada. Memang aku sudah menyadari akan
ada penolakan, karena aku berasal dari etnis non pribumi. Aku tahu orang
tuanya tentu tak merestui anaknya berhubungan terlalu jauh dgn orang yg
bukan dari ras mereka, dan berlainan agama.
Walau begitu hatiku sudah bulat untuk kelak memiliki pasangan hidup seorang
pribumi, dan aku bahkan bersedia memeluk Islam sebagai agama ku. Kelak
keputusan hidupku ini akan menjadi perjalanan panjang dan penuh cobaan dalam
hidupku.

Selepas SMA aku melanjutkan study ke Ausie lalu ke negri paman sam,
mengikuti kakak2 ku yg sudah berada disana. Tak banyak yg perlu aku
ceritakan dgn masa2 studiku disana. Hampir 5 tahun kemudian aku kembali ke
tanah air, dengan gelar master di tangan dan aku mengabdi ke perusahaan
keluargaku untuk membesarkan bisnis mereka. Dalan waktu singkat perusahaan
kami memperoleh profit yg amat meningkat, dan terus membesar, serta mulai
merambah ke banyak sektor bisnis. Aku banyak memiliki akses ke para petinggi
di daerahku karena semasa sekolahku dulu aku sudah mengenal beberapa
keluarga mereka. Semua urusan perijinan yg menyangkut perusahaanku, bisa aku
selesaikan dengan mudah. Aku masih tetap melajang di pertengahan usia 20an
tahun. Banyak pria2 yg berusaha menarik perhatian ku, dari pengusaha2 muda
yg sukses bahkan sampai pemilik perusahaan2 besar. Tapi hatiku tak bergetar
sama sekali. Aku belum menemukan seseorang yg benar2 menjadi soulmate ku.
Sekedar mencari suami amatlah mudah bagiku, ibarat hanya menjentikan jari
maka puluhan pria akan mendatangi ku. Tapi aku benar2 mancari seorang
soulmate, belahan jiwa sejati untuk mendampingi ku.

Sampai suatu ketika perusahaan kami memperoleh karyawan baru dari kantor
cabang kami di pulau Jawa. Orangnya 3 tahun lebih tua dari ku, wajahnya
bersih, dia berasal dari etnis pribumi Jawa. Tuturkatanya lemah lembut,
sopan, tubuhnya tinggi, proporsional, dan ah…ini dia..dia seorang muslim
yg shaleh. Sejak kedatangan dia dikantor kami, para wanita gak habis2nya
membicarakan tentang dia, dan berlomba bisa mendapatkan dia. Menurut laporan
kantor kami, dia amat rajin, jujur dan berprestasi di kantor yg lama,
sehingga dia dipromosikan pekerjaan yg lebih tinggi dan menantang di kantor
kami ini. Kebetulan kerjaan yg akan dia kerjaan akan menjadi satu divisi
dengan ku. Sehingga aku akan banyak berhubungan dengan dia.

Mula2 di bulan2 pertama aku masih bersikap ‘Jaim’ jaga image, karena aku ini
anak dari pemilik perusahaan ini. Tapi lama2, hatiku gak bisa
berbohong,..hatiku sedikit tapi pasti, luluh juga…aku mulai jatuh cinta.
Pernah suatu ketika sehabis mengunjungi kantor gubernur aku satu mobil
dengan dia. Ditengah jalan dia minta ijin padaku untuk berhenti sebentar di
masjid raya di kota ku untuk shalat ashar. Dari dalam mobil, aku perhatikan
gimana dia berwudhu, lalu melangkah masuk ke masjid dan melakukan
ibadah….ahhh..andai aku kelak bisa mengikuti di belakang……
Awal2nya aku memanggil dia dengan sebutan formal dikantor ‘Pak’ dan dia juga
memanggilku ‘Ibu’..tapi lama2 kelamaan secara tak sengaja aku mulai
memanggil dia ‘mas’, karena aku sering lihat keluarga jawa memanggil orang
yg lebih tua, suami, kakak, dengan sebutan mas. Mulanya dia agak rikuh tiap
aku panggil demikian, tapi lama kelamaan mulai terbiasa,. Tapi itu hanya aku
lakukan apabila hanya sedang berdua dengan dia, tidak didepan orang2 kantor.
Akupun mulai meminta dia memanggilku ‘Dik’, aku merasa risih tiap kali dia
panggil aku ‘Ibu Mawar’.
Seiring dengan waktu, sesuai pepatah jawa, “witing tresno jalaran soko
kulino”, cinta akan tumbuh karena terbiasa selalu bersama2.

Saudara2ku…
Bisa dibayangkan gimana awal kisah cinta kami…didalam mobil yg disupiri
sopirku, kami sama2 duduk dibelakang. Awalnya kami hanya membicarakan dan
membahas berkas2 pekerjaan, kadang secara tak sengaja tangan kami saling
sentuhan. Dan dia secara sopan segera menarik, dan minta maaf..Ah..sebel
rasanya..padahal akulah yg menginginkannya. Tapi itu tak berlangsung lama,
pada akhirnya dia takluk juga, kadang aku biarkan tangan dia memegang
berkas, lalu aku pura2 membahasnya sambil tanganku menyentuh jari dan
tangannya.
Kadang aku genggam jarinya,..dan lama kelamaan dia memberikan response..dia
juga menggenggam tanganku…ahh..
Kadang kalau mobil kami sudah mau sampai tujuan, aku pura2 minta supirku
untuk kembali ketempat lain, aku pura2 ada yg tertinggal..padahal aku hanya
ingin berlama2 dengan dia (sebut saja mas Fariz) di mobil.
Pernah suatu ketika aku pura2 ada yg tertinggal dan suruh sopirku membawa
kami berdua ke rumah ku. Begitu mobil kami memasuki halaman rumahku yg
besar, wajahnya tampak pucat pasi. Dia tampak ketakutan dan gugup. Dia
bilang nanti kalau papaku (alias big boss dia) akan marah kalau melihat dia
jam kerja begini malah mampir kerumah dia. Aku bilang tak perlu takut,
bukankah aku, anaknya big boss, yg membawa dia kesini.

Hampir setahun sudah dia bekerja bersama denganku, dan hubungan kami sudah
makin erat, tapi dia belum menyatakan cintanya padaku. Mungkin dia takut aku
akan menolaknya, apalagi keyakinan kami pada saat itu masih berlainan.
Hingga suatu ketika dia menelponku, dan mengajak bertemu disuatu restoran di
luar kota, dia memintaku datang tanpa sopir. Dia tidak mau ada orang kantor
yg melihat kami berdua. Di restoran itu dia menyatakan cintanya
padaku…langsung saat itu juga aku terima. Dan aku katakan pada dia, kalau
aku merasa mas Fariz adalah soulmate ku. Aku akan bersedia memeluk Islam
mengikuti agama yg dia anut. Aku juga katakan kalau memang aku sudah sejak
lama tertarik dengan agama Islam, jadi mas Fariz semoga bisa menjadi
pembimbingku. Aku bisa melihat air mata dia meleleh dari kedua matanya.
Seumur hidupku baru kali ini aku melihat seorang laki2 berlinangan air mata
karena aku, tak terasa akupun tak kuasa menahan airmataku meleleh dipipiku.
Aku yakin aku sudah mendapatkan ‘Soulmate’ ku dan akan aku pertahankan
sampai kapanpun dan dengan cara apapun.

Di kantor kami tetap bekerja seperti biasa, seperti tak ada hubungan suatu
apapun. Tetapi diluar kantor kami benar2 sepasang kekasih yg lagi jatuh
cinta, dia mulai mengajariku shalat, dan sedikit2 bacaan doa. Dia memang
benar2 lelaki yg taat, dia menjaga kesopananku, tak pernah melebihi batas,
walau kadang aku yg menggoda, tapi dia selalu bilang, sabar..tunggu tanggal
mainnya. Tapi serapat apapun kami tutupi hubungan kami, akhirnya sedikit
demi sedikit bocor juga oleh orang2 kantor kami. Sampai akhirnya terdengar
di telinga papaku.
Sutu hari tiba2 papaku datang ke ruangku, padahal papaku amat sangat jarang
datang ke ruang kerja ku, kalau ada keperluan biasanya aku yg dipanggil
menghadap. Aku lalu diajak bicara berdua dengan beliau. Mula2 papa tidak
menanyakan hubungan ku dengan Fariz, tapi sedikit demi sedikit dia mulai
mengarahkan pembicaraan ke arah sana. Sampai akhirnya dia menanyakan
kebenaran hubungan ku dengan Mas Fariz. Aku tak sanggup menjawab, wajahku
tertunduk. Papaku terus menatapku, menunggu jawabanku. Aku tak sanggup
berbohong, kalau aku bilang tidak, itu bertolak belakang dengan hati ku,
sebaliknya kalau aku bilang Iya, aku khawatir kerjaan Mas Fariz akan manjadi
taruhannya. Akhirnya aku hanya bisa menangis….
Keesokan harinya, Mas Fariz tidak hadir lagi dikantor,menurut orang2 kantor,
dia dipindahkan kembali ke pulau Jawa mulai hari ini, dan aku mulai
kehilangan kontak dengan dia.
Seminggu kemudian dia menelpon ku, dia cerita panjang lebar, bahwa pada hari
itu, setelah papa menemui ku, ternyata papa langsung menemui dia, dan
keesokan paginya dia sudah harus kembali ke kantor yg lama. Dia juga cerita
kalau keadaan makin parah, karena nyaris tiap karyawan dikantornya sudah
mendengar kabar hubungan dia dengan aku. Dan banyak yang menggunjingkan
kalau mas Fariz, mengincar harta dan kedudukan, karena berpacaran dengan
anak pemilik perusahaan. Dia sampai berulang kali menyebut nama Allah, dan
bersumpah kalau dia mencintaiku bukan karena itu semua.
Dua minggu kemudian, dia memutuskan mengundurkan diri dari  perusaan kami,
tapi kami tetap saling berhubungan melalui telp. Dia berjanji mencoba
mancari pekerjaan di perusahaan lain yg punya cabang di kotaku, sehingga
bisa bekerja dikotaku dan kembali menemui ku. Tuhan memang sudah berencana,
akhirnya 3 bulan kemudian mas Fariz sudah mendapat pekerjaan dan di
tempatkan kembali di kotaku walau dengan gaji yang jauh lebih kecil. Dia
bilang sekarang sudah bebas berhubungan dengan ku, dia tidak ada ikatan apa2
dengan perusahaan ku. Tak ada yg bisa melarang. Aku amat terharu, dia
korbankan karir pekerjaannya karena aku. Aku berjanji apapun yg terjadi aku
tak akan tinggalkan dia.

Sekarang kami bebas behubungan tak perduli lagi dengan omongan orang2
kantor, karena dia toh tak lagi bekerja di perusahaan kami ini. Tapi
ternyata papa kembali mengetahui ini, dan kali ini malahan mama ikut turun
tangan. Aku diceramahi habis2an..
Mereka sebenarnya tidak membeda2kan ras, mereka tidak keberatan aku
berhubungan dgn siapapun, tapi mereka mulai curiga kalau aku mulai akan
pindah keyakinan. Dan itu mereka kurang bisa menerima. Aku sudah jelaskan
baik2 bahwa aku sudah cukup dewasa dan bisa mengambil keputusan buat hidupku
sendiri tanpa tergantung papa dan mama. Ternyata jawabanku yg demikian itu
membuat mereka tambah murka dan tersinggung. Mereka katakan bahwa tanpa
mereka jalan hidupku tidak akan seperti ini. Banyak orang yg akan rela mati
demi merasakan hidup seperti ku. Rumah mewah, sopir tersedia tiap saat,
mobil mewah ada di garasi, uang melimpah, dihormati kemana aja pergi, dll.
Mereka juga katakan, tanpa mereka aku tak akan pernah sanggup memperoleh
kehidupan spt ini. Aku hanya menangis mendengar apa yg mama papa ku katakan.
Tapi hatiku sudah bulat apapun yg terjadi aku tak akan tinggalkan Mas Fariz.
Cinta pertamaku dan terakhir.

Walau orang tua ku terus menentang, cintaku ke mas Fariz tak pernah surut.
Akupun makin giat memperdalam agama Islam. Seringkali aku saat istirahat
kantor, aku pergi ke toko buku besar di Mal. Aku baca2 buku tentang Islam.
Pernah aku ajak orang kantor untuk ikut aku ke toko buku tsb. Dan dia tegur
aku, karena dia pikir aku salah memilih bagian rak buku. Dia ingatkan aku
kalau aku di bagian rak buku2 Islam. Aku bilang memang benar, aku mau
membaca buku2 tentang Islam.

Makin hari hubunganku dengan papa mama makin renggang. Padahal aku sudah
bicara sebaik mungkin dengan mereka. Kakak2ku semuanya juga sudah
terprovokasi. Mereka mulai menjauhiku. Kedua kakak laki2 ku sudah menikah
dan menetap di Jakarta menjalankan perusaahan kami disana, sehingga papa dan
mama sekarang lebih banyak menetap dikota kami.
Dirumah, perlakuan mereka makin hari makin berubah terhadap ku. Aku makin
dianggap bukan lagi bagian keluarga mereka. Tiap makan malam, mereka tak
lagi mengajakku makan bersama2 di meja makan. Pembantu dirumah baru disuruh
memanggilku untuk makan apabila papa mama dan kakak perempuanku sudah
selasai makan, dan makanan yg ada dimeja makan, sisa mereka, yg aku makan.
Pembantu tidak diperbolehkan menambah makanan. Bayangkan, aku memakan
seadanya sisa dari mereka. Andai mereka makan ayam, maka aku hanya tinggal
kebagian ceker dan kepalanya saja. Bisa dibanyangkan bagaimana sakit hatiku
rasanya. Tapi aku tetap bersabar, dan mas Fariz selalu mengingatkan aku
untuk tetap berbakti pada orang tua. Padahal kalau aku mau, bisa saja aku
pergi ke restoran yg paling mahal di kota ku ini.

Puncak dari semua itu terjadi pada suatu malam.
Kakak perempuanku memang sebenarnya kasihan kepadaku, sehingga kadang dia
menyimpan sebagaian makanan yg baru dimasak didapur. Sehingga pada saat mama
papa selesai makan, dia diam2 menghidangkan untukku. Suatu ketika secara tak
terduga, papa mama ku kembali ke meja makan, dan mereka memergoki kakak ku
yg membawa makanan yg dia simpan di dapur untukku. Langsung mamaku merebut
piring yg dibawa kakakku, dan melemparkannya ke lantai..Sambil menyindir,
bahwa kakakku tak perlu kasihan pada ku, karena aku sanggup hidup tanpa
diberi makan dari mama papa dan bisa hidup mandiri tanpa mereka.
Ohh….Mereka rupanya sudah amat membenciku…Hancur berkeping2 hatiku pada
saat itu. Aku hanya bisa menangis, tapi aku tak menyesal, dan aku akan terus
bertahan dengan pilihan hidupku.

Mas Fariz, menyarankan aku untuk bicara baik2 dengan mama dan papa, mudah2an
mereka akan luluh dan mengerti. Suatu malam, aku berkesempatan mendatangi
dan berbicara dengan mereka, dan aku secara baik2 dan sopan, tak lupa
meminta maaf apabila aku salah pada mereka. Aku jelaskan baik2 pada mereka
apa yg hatiku rasakan, aku tumpahkan semuanya. Tetapi justru itu membuat
mereka tambah murka, mereka juga malah menuduhku telah diguna2, dan
menyarankanku supaya sadar. Oh Ya Allah…Aku sehat wal afiat, Insya Allah
saat itu tak ada satupun guna2 pada diriku. Semua keinginanku adalah murni
dari hatiku, panggilan jiwaku, yg tak bisa lagi aku cegah. Aku jelaskan pada
mama dan papa, bahwa aku sudah cukup umur, dan bukan lagi gadis remaja lagi,
sehingga apapun keputusanku, aku bisa pertanggungjawabkan. Aku bisa mandiri
andai keputusan hidupku itu memang menghendaki demikian. Papa dan mamaku
tetap pada pendirian mereka, bahkan mereka menantangku, kalau sanggup hidup
mandiri, sekarang juga serahkan seluruh harta ku yg aku punya selama ini, yg
aku dapat selama hidup dengan mereka.
Karena tekatku sudah bulat. Malam itu pula seluruh kartu credit, ATM, buku2
bank, aku serahkan pada mereka. Uang yg aku punya benar2 hanya tinggal yang
ada di dompetku. Aku sepertinya tinggal menunggu waktu saja untuk
meninggalkan rumah ini. Keesokan paginya, karena ada suatu keperluan aku
ingin membuka lemari besi tempat penyimpanan surat2 berharga di rumah kami.
Tetapi berulang kali aku mencoba, aku tak bisa membukanya. Ternyata nomor
kombinasinya sudah diubah olah mama papaku. Padahal didalamnya ada barang2
penting pribadiku, seperti Ijasah, perhiasan, dll. Aku mencoba menelpon
papaku, menanyakan hal ini, dan lagi2 aku mandapatkan jawaban yg menyedihkan
hatiku. Papaku menyindirku, kalau sanggup hidup mandiri, kenapa masih mau
membuka lemari besi milik keluarga, pasti ada barang2 yg mau dijual
didalamnya. Aku benar2 sudah dikucilkan, dan mereka benar2 mencoba
menyiksaku dengan cara demikian, sehingga mereka pikir aku akan menyerah,
dan akhirnya mengikuti apa yg mereka mau. Aku adukan semua itu ke mas Fariz,
dan aku katakan kalau aku akan meninggalkan rumah orang tua ku. Dia tak bisa
berkata apa2. Hanya ingatkan aku jangan sampai memutus silaturahmi dengan
orang tua.

Saudara2 ku..
Beberapa hari setelah kejadian itu, aku benar2 meninggalkan rumah. Aku akan
tinggal kost didekat kantorku. Aku berpamitan baik2 pada mama dan papa ku.
Tapi mereka menolehpun tidak. Aku masih punya cukup uang di dompet. Aku
bersumpah tak akan meminta uang lagi sepeserpun dari mereka. Aku bertekad
membuktikan kata2 ku untuk hidup mandiri tanpa harta siapapun demi
mempertahankan keyakinan ku. Selama aku bekerja diperusahaan papaku, memang
secara formal aku di gaji sesuai dengan posisi kerjaku di perusahaan.Tapi
disamping itu tiap bulan, tentu diluar formal perusahaan, aku mendapat uang
saku dari papa ku yg lumayan banyak, hampir 20x lipat dari gaji resmiku.
Sehingga penghasilan total sebulan bisa cukup untuk hidup mewah  setahun.
Bahkan seluruh uang simpananku di bank, sudah mencapai 10digit. Tentu bukan
jumlah sedikit. Bahkan mungkin cukup untuk biaya hidup seumur hidupku tanpa
bekerja.
Aku berharap perusahaan papaku masih memberikan gajiku, dan itu aku anggap
memang uang hasil kerjaku, bukan pemberian. Tapi diakhir bulan aku tak
memperoleh sepeserpun. Aku sudah meminta agar bisa diberikan cash. Ketika
aku tanyakan ke bagian pembayaran gaji, ternyata mereka sudah diperintahkan
papaku untuk menahan gajiku. Ya Allah, mereka benar2 melakukan cara apapun
agar aku benar2 menderita dan pada akhirnya menyerah.
Saat itu juga aku langsung mengundurkan diri dari perusahaan papaku itu. Aku
tinggalkan perusahaan itu selama2nya.

Ketika aku adukan hal ini pada mas Fariz dia amat sangat sedih dan meminta
maaf padaku, karena gara2 dia hidupku jadi menderita. Dia rela andai aku
tidak kuat dan merubah keputusan. Aku peluk dia, dan aku pastikan
keputusanku tak akan berubah, dan aku makin ingin bisa hidup bersama dia.
Saat itu hanya dialah sandaran hidupku. Dengan berlinangan air mata, dia
sekali lagi menanyakan padaku, apakah aku menyesal dengan keputusanku, dan
apakan aku rela bila menjadi muslimah dan menjadi istrinya. Saat itu juga
aku cium tangannya, dan aku katakan, aku korbankan seluruh kehidupanku hanya
untuk bisa hidup bersamanya, dan aku tak akan mudur ataupun menyesalinya,
apapun yg terjadi aku akan hadapi iklas lahir dan batin.
Singkat cerita, dengan diantar mas Fariz aku mengucapkan 2 kalimah sahadat
di sebuah masjid dikota kami, disaksikan imam dan beberapa jemaah masjid
tsb. Akhirnya penantian panjangku tercapai sudah, walau harus mengorbankan
kehidupanku. Tapi aku tak pernah menyesali.
Mas Fariz lalu mengajakku segera menikah di kota kelahirannya, karena
kebetulan perusahaan tempat dia bekerja akan memindahkan dia ke pulau Jawa.
Sebelum menikah, kami berdua mendatangi rumah papa dan mama, kami akan mohon
restu baik2 pada mereka. Tetapi bapak satpam yg berjaga dipintu gerbang
mengatakan kalau dia diperintahkan untuk tidak membuka pintu apabila kami
berdua datang. Sebenarnya bapak satpam tersebut bersedia membuka pintu
karena dia masih mengenalku. Tapi aku melarangnya, karena khawatir akan
mencelakakan pekerjaan dia. Biarlah cukup aku saja yg menderita, aku tak
ingin orang lain ikut terkena akibatnya. Aku tinggalkan secarik surat, yg
isinya memohon doa restu dari mama papa, bahwa aku akan menikah dengan mas
Fariz, juga aku katakan kalau aku sudah jadi muslimah. Aku bisa lihat mata
bapak satpam itu berkaca2 sewaktu aku katakan aku sudah jadi mualaf.

Awalnya keluarga mas Fariz menanyakan ketidakhadiran keluargaku dipernikahan
kami. Tapi setelelah mas Fariz ceritakan panjang lebar, akhirnya keluarga
mau memahami. Kami menikah secara sederhana di kota tempat keluarga mas
Fariz bermukim. Keluarganya amat sangat menerimaku dengan hangat, mereka
sama sekali tidak mempermasalahkan ras keturunanku. Malah ibu mertuaku amat
sayang padaku.
Setelah menikah, aku dan mas Fariz menetap di pulau Jawa. Aku amat sangat
bahagia, bisa menjadi pendamping hidup dia. Aku merasakan dia bukan sekedar
suami, tapi memang benar2 soulmate hidupku, yg aku cari2 sepanjang hidupku.
Aku hidup dirumah yg sederhana dan hari2ku aku lalui dengan penuh
kebahagiaan, dan aku tak mengeluh sedikitpun dengan yg mas Fariz berikan
untukku. Aku tak lagi bekerja, karena aku benar2 ingin mengabdi pada
suamiku, dan disamping itu semua ijasahku masih tersimpan di lemari besi di
rumah mama papa, aku tak bisa melamar pekerjaan dimanapun. Aku juga tak mau
meminta surat keterangan bekerja di perusahaan papaku. Aku ingin buktikan
bisa hidup mandiri dengan suamiku. Mas Fariz amat sangat menyayangiku, tiap
pagi sebelum berangkat ke kantor dia memeluku. Tiap hari aku bawakan dia
‘lunch box’ untuk makan siang karena aku tak mau makanan yg masuk ke
perutnya berasal dari masakan orang lain. Aku benar2 posesif, ingin memiliki
dan melayani dia secara total. Setiap hari aku bangun sebelum dia bangun,
dan aku baru tidur setelah dia benar2 tidur, untuk memastikan dia sudah
benar2 tak perlu aku layani lagi. Aku siapkan celana, baju, kaus kaki dia
tiap pagi sebelum berangkat kerja. Sehingga dia tak perlu lagi memikirkan
pakaian apa yg harus dia pakai tiap pagi. Bahkan aku potongkan kukunya bila
sudah panjang Pokoknya dia benar2 aku jadikan pangeran bagi diriku.

Tiap malam sebelum tidur, kami selalu mengobrol dan saling mengajarkan
bahasa. Dia mengajariku bahasa jawa, sadangkan aku mengajari dia bahasa
mandarin. Dia amat cepat belajar mandarin, dalam waktu singkat dia sudah
menguasai beberapa kata2 yg umum diucapkan, kadang dia mengajak ku bicara
mandarin dirumah. Memang perusahaan tempat dia bekerja milik keluarga dari
etnis keturuan seperti aku, dan banyak behubungan dengan warga keturunan,
sehingga bila mampu berbahasa mereka akan merupakan keuntungan tambahan.
Suatu ketika dia pulang membawa sepeda motor, dia katakan kalau kantornya
memberinya pinjaman cicilan motor. Memang hanya sepeda motor, tapi aku
sangat bahagia sekali dengan yg dia dapatkan. Berulangkali dia minta maaf
tidak bisa belikan aku mobil mewah seperti yg aku pernah aku miliki dulu.
Aku katakan pd dia motor yg sekarang kita miliki bagiku jauh lebih mewah
dari mobil yg dulu aku miliki. Karena motor ini bukan sekedar dibeli dengan
uang, tapi juga cinta, yg tak akan ternilai berapapun banyaknya uang.

Kehidupan perkawian kami amat indah, kalau dirumah nyaris kami tak bisa
berjauan. Karena tiap hari bagi kami adalah bulan madu, maka hanya setahun
kamudian lahirlah anak pertama (dan satu2nya) kami. Bayi laki2 itu kami
namai ,sebut saja ‘Faisal’. Mas Fariz yg membacakan Azan dan qomat, ketika
bayi kami lahir. Aku merasa lengkap sudah kebahagiaanku. Tiap hari aku
tambah bahagia bisa merasakan ada 2 orang “Fariz” didalam rumahku. Saat mas
Fariz ke kantor, aku di temai Fariz kecil, bayiku. Oh alangkah bahagianya.
Aku mencintai 2 orang yg sama darah dagingnya.

Tiga tahun sudah anak kami hadir bersama kami. Mas Fariz terus bercita2
ingin mendatangi orangtua ku, oma opa si Faisal. Dia benar2 ingin
memperkenalkan cucu mereka dan menyatukan aku dengan papa mama ku lagi. Dia
berharap dengan kehadiran Faisal, akan meluluhkan hati orang tuaku. Tapi
tiap kali aku menelpon papa mama ku masih bersikap seperti dulu, bahkan
waktu aku katakan bahwa mereka sudah mempunyai cucu dari ku, mereka hanya
menjawab, kalau mereka tidak merasa mampunyai keturunan dari ku..Ohh
malangnya anakku. Aku amat sedih, teganya papa dan mama ku berkata spt itu.
Aku masih memaklumi apabila mereka membenciku, tapi jangan pada anakku, cucu
mereka, darah daging mereka sendiri.
Mas Fariz hanya menyuruhku bersabar, dia percaya kelak papa dan mama akan
menerima mereka. Tapi sebelum harapan mas Fariz terpenuhi, musibah mulai
datang….
Suatu ketika, mas Fariz pulang kerumah lebih awal, dia Cuma merasa gak enak
badan seperti orang masuk angin.Aku menyuruhnya segera istirahat dan tidur,
dan memberi obat penghilang sakit. Malam harinya, tubuhnya mulai panas dan
menggigil. Keesokan paginya aku mengantar dia ke dokter, waktu itu dokter
hanya katakan kalau mas Fariz hanya demam biasa sehingga hanya diberi obat
penurun panas, dan disuruh istirahat. Tapi malamnya tubuh nya tetap panas,
dan menggigil, bahkan sampai mengigau. Aku sudah ajak mas Fariz untuk ke
rumah sakit keesokan harinya. Tapi dia menolak, karena dia bilang hanya
demam biasa, dan tak apapa, beberapa hari pasti sembuh. Sampai hari ke empat
kondisinya makin parah, akhirnya disampai tak sadarkan diri, bahkan dari
hidungnya kaluar darah. Dengan pertolongan para tetangga, suamiku segera
dibawa ke RS. Hasil pemeriksaan daranhnya menunjukan trombositnya hanya
tinggal 26ribu. Padahal orang normal harus diatas 150rb. Suamiku terkena
demam berdarah, Dokter menyalahkan aku kenapa tidak segera dibawa ke RS
lebih awal, karena serangan terberat demam berdarah adalah pada hari 5.
Kalau kondisi tubuh tidak kuat, bisa amat berbahaya. Besoknya, hari ke 5,
memang benar2 makin parah kondisi suamiku, napasnya makin berat,
trombositnya belum beranjak naik, tubuhnya udah benar2 digerogoti penyakit
itu., malam itu setengah mengigau, dia memanggil namaku, lalu aku genggam
tangannya dan aku dekati telingaku ke mulutnya, aku bisa dengarkan dia
mencoba mengucapkan sesuatu, dan air matanya meleleh. Dia coba ucapkan kata2
“Maafkan aku” lalu aku tenangkan dia, kalau tak ada yg perlu dimaafkan. Aku
iklas lahir bathin mendampingi dia. Setelah mendengar kata2ku, dia tampak
tenang, lalu dengan satu tarikan napas dia coba mengucapkan “Lailahailallah”
lalu dia pergi selama2nya meninggalkan aku. Dia pergi di pelukan ku. Aku
ingat suatu ketika dia pernah berucap, andai Tuhan mengijinkan, dia ingin
meninggal terlebih dahulu dari aku, dan dalam pelukanku, sebab ia ingin aku
menjadi orang terakhir dalam hidupnya yg dia lihat. Aku sempat memarahi dia,
jangan bilang seperti itu. Tapi dia bilang serius, kalau dia gak akan
sanggup kalau aku yg menginggalkan dia terlebih dahulu. Ternyata Tuhan
benar2 mengabulkan permohonan dia. Orang yg aku jadikan sandaran satu2nya
dalam hidup ini telah pergi selama2nya. Tak terkirakan amat sedih dan
hancurnya hatiku. Andai aku tak ingat dengan si kecil Faisal, mungkin aku
sudah ingin segera mengusul mas Fariz dialam sana.

Mas Fariz benar2 orang yg jujur dan baik, waktu penguburan seluruh rekan2
kerja, bahkan big boss tempat bekerja hadir. Waktu aku tanyakan apakah ada
hutang piutang mas Fariz yg harus aku selesaikan. Mereka katakan tidak ada
sama sekali, bahkan kantornya memberikan santunan 4x gaji, ditambah uang
duka dari rekan2nya. Aku juga ditawarkan bekerja di perusahaan tsb. Tapi
untuk saat itu aku benar2 gak sanggup melakukan apapun. Aku merasa setengah
dari nyawaku sudah hilang. Selama 3 bulan aku berduka, aku tak sanggup pergi
dan melakukan apapun. Bahkan tiap tidur, aku masih membayangkan mas Fariz
disampingku. Akhirnya untuk semantara waktu aku tinggal dengan ibu mertuaku,
supaya Faisal ada yg mengasuh. Rumah dan motor aku jual, karena aku tak
sanggup membayangkan kenangan bersama mas Fariz tiap aku melihatnya. Hampir
setengah tahun tinggal dengan mertuaku, sampai akhirnya aku putuskan kembali
ke kota asalku. Sebenarnya ibu mertuaku amat baik dan sayang padaku. Tapi
aku tahu diri gak mungkin selamanya bergantung pada siapapun. Aku harus bisa
mandiri, membesarkan anakku, satu2nya hartaku yg tersisa.

Aku pulang ke kota asalku dengan sisa uang yg aku punya.Lalu aku mengontrak
rumah, dan membuka toko kecil2an di depannya. Tetapi mungkin karena aku
masih terus berduka dan terbayang suamiku, sehingga aku kadang kurang
memikirkan usahaku ini, sampai akhirnya usahaku ini bangkrut. Tokokupun aku
tutup, uangku habis untuk membayar tagihan2 para suplier barang, semantara
penjualanku tak seberapa menguntungkan.
Aku sebenarnya tidak pernah putus asa, apapun aku jalani asal halal. Pernah
aku coba jadi pelayan restoran, tapi hanya beberapa bulan , karena anakku
tak ada yg jaga. Sampai akhirnya aku benar2 kehabisan uang, tak sanggup lagi
membayar kontrakan. Dengan mambawa koper isi pakaian, aku menggendong
anakku, berjalan tanpa tujuan. Aku benar2 bingung akan kemana. Pernah
terlintas di benakku untuk kembali ke keluargaku. Tapi justru dengan kondisi
seperti ini mereka pasti akan merasa menang. Mereka akan tertawa terbahak2
dan terus bisa mengejeku seumur hidupku, bahwa aku gagal dalam memilih jalan
hidup. Akhirnya ditengah rasa putus asa, aku teringat masjid tempat dulu aku
pertama kali mengucapkan kalimat sahadat. Masjid itu memang bukan masjid
raya dikota kami, tapi karena masjid yg tua dan bersejarah, maka banyak
jemaah yg datang. Aku berpikir, dulu aku memulai jalan hidupku dari masjid
itu, sehingga kalaupun jalan hidupku berakhir aku ingin di masjid itu pula.
Aku datangi masid tsb. Dan aku shalat mohon petunjuk. Anakku karena
kelelahan tertidur di sampingku. Aku tak punya uang untuk membeli makanan.
Akhirnya aku hanya bisa menangis. Rupanya tangisku didengar oleh seorang
bapak, dan beliau rupanya imam masjid tersebut, dan dia yg dulu membimbingku
membaca sahadat. Aku tak lupa dengan wajahnya, tetapi dia pasti sudah tak
ingat dengan wajahku, karena wajahku tak sesegar dulu lagi. Sewaktu aku
perkenalkan diriku dan aku katakan bahwa aku dulu mualaf yg beliau bimbing,
dia langsung ingat tapi juga kaget dengan kondisiku yg seperti ini.
Akhirnya aku ceritakan semuanya pada beliau, sebab aku merasa tak ada lagi
orang di dunia ini yg aku jadikan sandaran hidupku.
Setelah selesai mendengar ceritaku, dia menyuruh aku agar jangan pergi
kemana2, dan tetap tinggal di masjid, beliau juga menyuruh salah seorang
jemaah untuk membelikan makanan untuk aku dan anakku. Sebentar kemudian dia
pergi meninggalkan ku, sambil berpesan akan segera kembali menemuiku
(rupanya dia pergi mencari tempat untuk aku bisa tinggali). Tak lama beliau
kembali menemui ku, sambil tersenyum dia katakan, mulai malam ini aku sudah
memperoleh tempat tinggal. Aku diajak ke belakang masjid, disitu ada sebuah
bagunan tambahan yg terdiri dari beberapa ruangan. Biasanya ruangan itu
untuk gudang menyimpan peralatan masjid, seperti tikar, kursi2, dll. Salah
satu ruangnya tampak sudah kosong, dan dia menunjuk bahwa itu lah rumah ku.
Aku boleh menempatinya selama mungkin aku mau. Ruang disebelahnya ditempati
olah pak tua penjaga masjid, sehingga aku ada yg menemani. Ruangan tsb hanya
berukuran kurang lebih 2x2m. Pak Imam masjid itu juga menambahkan, kalau
nanti aku diberikan honor sekedarnya, kalau mau membantu2 membersikan
masjid, sehingga cukup untuk makan. Bahkan beliau menambahkan kalau aku bisa
datang kerumahnya sekedar2 membantu2 istrinya memasak, kerena memang rumah
beliau hanya beberapa ratus meter dari masjid.

Alhamdulilah, aku amat bersykur ternyata Allah mendengar doaku. Aku ingat,
bahwa Allah tak akan menguji hambanya dengan melebihi beban yg sanggup dia
pikul. Aku sudah bersykur bisa memperoleh tempat berteduh, walau hanya
kamarnya kecil (jauh lebih kecil dibanding kamar mandiku, saat dirumah orang
tuaku). Ada lagi yg membuatku merasa tenang, karena ku tinggal berdekatan
dengan rumah Allah, tiap aku merasa sedih, aku tinggal masuk kedalam masjid,
dan mengadukan langsung pada Allah. Karena tinggal dekat dgn masjid,
otomatis sahalatku tak terlewatkan sekalipun. Alhamdulilah hidupku sedikit2
demi sedikit mulai tenang. Aku sering membantu istri pak Iman memasak
dirumahnya, dan sebagai imbalannya, beliau selalu membekali makanan untuk
aku bawa pulang. Sehingga aku tak perlu risau memikirkan makanan sehari2.
Kalau pak Imam sekeluarga ada keperluan keluar kota, akulah yang dititipi
untuk menjaga rumahnya, dan aku bisa tinggal dirumahnya. Sebenarnya mereka
sudah menawarkan aku untuk tinggal bersama mereka. Tapi aku tahu diri tak
mau terus menerus merepotkan orang lain.
Pekerjaanku rutinku tiap hari adalah, membersihkan halaman masjid,
membersihkan kaca2 jendela, Sedangkan pak tua mengepel lantai masjid. Tiap
minggu aku mendapakan honor sekedarnya dari hasil kotak amal di masjid, tapi
kadang aku tak mendapatkan sepeserpun, karena kadang sudah habis untuk
keperluan masjid, tapi aku lakukan itu dengan senang hati dan iklas.
Sementara ini aku benar2 ingin mengabdi pada Masjid ini, sebagai tanda
terimakasih ku. Aku tak mau bersusah payah kesana kemari mencari pekerjaan,
Aku percaya kelak masjid ini pula yang akan memberiku jalan memperoleh
pekerjaan.
Kadang malam hari aku duduk2 diteras masjid, mengobrol dengan pak tua. Dia
bercerita kalau anak2nya masih ada di kampung, tapi dia juga tak mau
merepotkan anak2nya. Selama masih kuat, dia tak mau merepotkan orang lain.
Lalu saat giliran aku cerita, kadang aku bingung harus cerita apa..??? Apa
aku ceritakan kalau dulu aku pernah naik kapal pesiar keliling eropa, atau
aku pernah menginap di hotel mewah di las vegas, atau aku punya apartment
mewah di Australia..Ahh pasti dia akan tertawa dan menganggap aku berhayal,
sebab jangankan tinggal dihotel, sekarang ini uang yg aku punya tak lebih
banyak dari 20ribu..
Dulu tiap minggu aku bisa membeli peralatan make up, eye shadow, lipstick,
dll jutaan rupiah. Sekarang ini make up ku hanyalah air wudhu ku tiap aku
shalat. Tetapi justru banyak yang mengatakan kalau wajahku tetap bersih,
cantik, alami. Kadang orang berpikir aku masih memakai make up. Yah..mungkin
Allah yang memakaikan make up untuk ku. Kecantikan datang dari dalam. Inner
Beauty. Banyak yg bilang, dengan mata sipit ku dibalik kerudung, aku
terlihat cantik.

Tak terasa aku sudah hampir 2 tahun menetap di masjid itu, anakku sudah
sekolah di SD dekat masjid milik suatu yayasan dan tanpa membayar
sepeserpun. Aku hanya membelikan seragam dan alat2 sekolah. Bahagianya
hatiku melihat anakku sudah masuk sekolah..oh, seandainya mas Fariz masih
ada dan melihat anak kita dihari pertama pergi ke sekolah.. Anaku rupanya
tumbuh besar dalam keprihatinan, sehingga dia sangat tahu diri, dia tak
pernah sekalipun merengek2 minta dibelikan ini itu seperti layaknya anak2
lain. Pernah hatiku amat terenyuh. Ketika dia pulang sekolah dengan kaki
telanjang, sambil menenteng2 sepatunya. Sambil tertawa, tanpa mengeluh, dia
malah menunjukan sepatunya kepadaku “Ma, sepatu Faisal udah minta makan”.
Maksudnya sepatunya udah robek depannya, seperti mulut minta makan. Melihat
dia tertawa, akupun ikutan tertawa, walau hatiku rasanya ingin menangis.
Andai dia tahu, dulu mamanya selalu memakai sepatu berharga jutaan rupiah,
sekarang ini membelikan sepatu anaku yg murahpun aku belum sanggup. Alhasil
selama 2 hari anakku kesekolah memakai sepatu yg robek itu, sampai akhirnya
aku belikan sepatu bekas.yg lebih layak dipakai. Aku bersykur mempunyai anak
yg amat tahu diri. Tak mau membebani ibunya. Memang anak yg shaleh akan
menjadi bekal yg amat bernilai buat orang tua. Pak Imam mesjid kadang
menengok kami, dan menanyakan keadaan kami. Dia sering cerita, gimana istri
nabi Muhammad dulu hidupnya jauh lebih menderita, tetapi tetap tabah
menghadapi cobaan dan tak goyah keimanannya. Beliau kadang bilang, kalau aku
pasti akan jadi ahli surga. Berulangkali dia bilang, kalau orang lain gak
akan mungkin sanggup menghadapi cobaan ini, tapi aku tetap bertahan memegang
keyakinan, meninggalkan kenikmatan dunia yg justru pernah aku peroleh.

Suatu siang, aku melihat ada mobil datang ke halaman masjid, dari dalam
mobil itu keluar 2 orang yg aku masih kenal. Yang satu perempuan bernama
tante Grace, yg satunya lagi laki2 oom Albert. Mereka berdua merupakan
lawyer untuk perusahaan dan keluarga kami. Entah gimana mereka bisa
mengetahui aku ada disini. Mereka mambawa sebundel amplop, dan mengajak aku
berbicara. Aku bisa lihat mata tante Grace yg memerah menahan air mata
sewaktu dia melihat tempat aku tinggal. Bahkan oom Albert suaranya bergetar
seperti lehernya tersekat menahan sedih. Mereka katakan diutus oleh orang
tua kami. Karena orang tua kami sudah tahu gimana keadaan ku sekarang.
Mereka katakan didalam amplop  yg mereka pegang isinya surat2 bank, ATM,
Ijasahku, yg bisa aku miliki lagi. Bahkan aku dijemput untuk pulang ke rumah
mama papa ku. Sejenak aku berbahagia, aku pikir orang tuaku sudah terbuka
hatinya, aku bisa pergunakan uang yg cukup banyak itu untuk hidup yg lebih
baik dgn anakku. Tetapi dengan suara terpatah2 om Albert melanjutkan, bahwa
mama dan papa memberi syarat. Ketika aku tanyakan apa syaratnya. Mereka
berdua nyaris tak sanggup melanjutkan pembicaraan. Tante Grace makin
menunduk menahan tangis. Akhirnya om Albert mengatakan kalau syaratnya aku
dan anakku harus kembali ke keyakinan yg dulu aku anut. Saat itu juga aku
langsung menjawab, kalau aku tak akan mau menerima amplop itu, dan aku
katakan agar kembalikan ke orang tuaku. Mereka amat sangat minta maaf
padaku, karena mereka tahu aku tersinggung. Tapi aku juga sadar mereka hanya
menjalankan tugas. Bahkan tante Grace menambahkan, andai mengikuti hati
nurani pasti mereka udah serahkan itu amplop pada ku tanpa syarat apapun,
tapi mereka terikat profesi mereka. Akhirnya mereka pamit meninggalkan ku.
Tapi beberapa saat kemudia mereka balik kembali menemui ku, aku pikir mereka
akan membujukku. Tapi rupanya mereka berinisiatif memfoto copy ijasah2 ku
dan menyerahkan copynya ke aku. Mereka lakukan atas inisiatif mereka
sendiri, walau dengar resiko kehilangan pekerjaan. Mereka katakan hanya itu
yg bisa mereka bantu untukku. Oh terima kasih tuhan…Sedikit2 Tuhan
memberikan jalan untuk ku.
Akhirnya aku punya bukti kalau dulu aku pernah sekolah tinggi sampai di luar
negri.

Rupanya Tuhan sudah cukup mengujiku, dan sepertinya aku mulai diberikan
rewards atas ketabahanku selama ini. Tuhan mulai memberikan jalan yg terang
untuk ku.
Suatu pagi di halaman masjid tampak 2 orang perempuan yg sedang mengamati
bangunan masjid. Satunya seorang bule entah dari negri mana, sedangkan
satunya lagi perempuan lokal.
Kebetulan pak tua sedang di halaman, sehingga mereka menghampirinya, masjid
tsb memang unik, karena merupakan bangunan tua, dengan arsitektur melayu
kuno, sehingga kadang sering dikunjungi orang, dan biasanya pa tua lah yg
menjadi juru bicara, karena memang dia yg tahu sejarah masjid tsb. Akupun
banyak mendapat carita dari pak tua tetang masjid tsb sehingga aku tahu
banyak pula tentang sejarah masjid tsb.
Aku hanya perhatikan dari jauh, dua orang pengunjung itu ngobrol dengan pak
tua, sampai akhirnya aku lihat si bule agak kebingungan. Didorong rasa ingin
tahu, aku hampiri mereka. Dengan sopan aku perkenalkan diri, dan menawarkan
diri untuk membantu. Ternyata si bule itu adalah mahasiswi arsitektur dari
Australia yg sedang mealkukan study, sedangkan pendampingnya adalah
mahasiswi arsitektur dari univ. T di kotaku yg bertugas sebagai penterjemah,
panggil saja ‘Retno’. Rupanya si mahasiswi lokal tsb kurang lancar bahasa
Inggrisnya sehingga membuat si bule kadang kebingungan mendengar terjemahan
cerita dari pak tua. Dengan sopan pula aku ajukan diri untuk membantu sibule
itu. Dengan bahasa inggrisku yg sangat lancar aku ceritakan dari awal sampai
akhir semua tentang masjid tsb. Aku ajak pula berkeliling ke tiap sudut
masjid. Si bule tambah takjub ketika aku katakan pernah study di negrinya.
Retno terus memandangiku setengah tidak percaya tentang diriku. Setelah puas
mendapatkan informasi, sebelum pulang Retno berjanji akan menemui ku kembali
segera, ada yg ingin dia tanyakan lebih banyak ttg diriku katanya. Aku
dengan senang hati akan menerima kedatangannya kapan saja.

Beberapa hari kemudian Retno memang benar2 kembali datang menemuiku, kali
ini dia sama sekali tidak membicarakan perihal arsitektur masjid. Tapi
tentang diriku. Dia amat ingin tahu tentang diriku, akhirnya aku ceritakan
dari awal sampai saat ini perjalanan hidupku ini. Dia amat bersimpati dan
berkeinginan menolong ku. Walau aku tidak mengaharapkan pertolong orang
lain, tapi aku hargai niatnya membantuku.Dia bilang dengan pendidikan ku dan
kemahiranku berbahasa asing, pasti aku akan dapatkan pekerjaan, apalagi aku
sekarang sudah mempunyai bukti fotocopy ijasah ku. Kira2 seminggu kemudian
dia kembali datang kepadaku, dan menyuruhku membuat surat lamaran, bahkan
dia sendiri yg membawa kertasnya dan amplopnya. Dia katakan di rektorat univ
memerlukan beberapa tenaga honorer. Aku terharu ada orang lain yg peduli mau
membatuku tanpa pamrih, aku ucapkan banyak terimakasih padanya. Bagiku dia
seperti diutus Tuhan untuk menolongku. Tak lama kemudian aku mendapat kabar
gambira, aku dipanggil menghadap ke rektorat universitasnya untuk test dan
wawancara. Sebelum berangkat aku shalat memohon kapada Allah agar diberikan
kelancaran. Anakku aku titipkan pak tua, yg memang sudah aku anggap sebagai
orang tuaku sendiri.
Alhamdulilah semua test aku lalui dengan lancar, bahkan sewaktu wawancara
bahasa Inggris, justru akulah yg lebih menguasai ketimbang yg
mewawancaraiku. Dia sampai menyerah, dan mengatakan bhs inggrisku udah
perfect melebihi kemampuan dia.

Tak sampai seminggu kemudian, Retno mendatangiku lagi, kali ini dia tampak
gembira sekali, dia katakan dalam beberapa hari aku akan mendapat surat dari
rektorat, yg isinya penerimaan aku sebagai karyawan. Dia bisa lebih dulu
tahu karena ada temannya yg bekerja disana. Langsung aku menuju masjid dan
bersujud sukur lama sekali. Aku merasa telah lulus segala test yg diujikan
Allah tehadapku. Memang kadangkala aku sering bertanya pada Allah, apakah
karena aku mualaf sehingga Allah kurang percaya dengan keimananku, sehingga
perlu mengujinya dengan ujian yg amat berat.

Walau sebagai karyawan honorer tapi aku sudah bersukur, yg penting aku sudah
memperoleh penghasilan yg layak. Kerjaanku membantu bagian keuangan di
rektorat, memang sesuai dengan ilmuku, tetapi mulai banyak orang yg tahu
kalau aku lulusan dari luar negri. Setiap ada seminar dan memerlukan makalah
dalam bahasa Inggris pasti aku yg diberikan tugas tambahan untuk
menyusunnya. Akupun banyak membantu menterjemahkan litelatur2 asing untuk
dipergunakan para mahasiswa.Nyaris sejak 3 tahun terakhir, aku tidak pernah
membeli baju baru. Dengan gajiku sekarang aku sudah bisa membeli lagi. Aku
amat sangat senang bukan main, bisa membelikan pakaian yang bagus2 untuk
anakku. Bahagia rasanya melihat anakku bisa aku berikan pakain yg layak.
Pakaian sekolahnya yg sudah menguning, sekarang sudah aku belikan yg baru
putih bersih, dan juga sepatu baru. Sepatunya yg dulu robek, masih aku
simpan sebagai kenangan.
Beberapa bulan kemudian aku sudah mampu mengontrak rumah sendiri, sebelum
aku meninggalkan masjid tsb tak lupa aku berpamitan kerumah pak Imam, aku
ucapkan banyak terimakasih atas pertolongannya, beliau katakan yg menolong
bukan dia tetapi Allah SWT yg menolongku. Aku peluk dia lama sekali, dan aku
katakan dahulu aku mengucapkan sahadat didepan dia, dan aku tak akan pernah
mengingkarinya seumur hidupku, apapun yg terjadi. Sebelum pergi, aku sempat
memandangi kamarku untuk terakhir kali, sempat beberapa menit aku tertegun,
membayangkan, mungkin kelak ruangan ini akan dipakai oleh orang2 yg senasip
seperti aku…..Aku berharap Semoga Allah memberi kekuatan….

Setelah aku melewati segala cobaan, Tuhan tampaknya terus menerus memberikan
semacam rewards kepadaku, belum genap setahun aku bekerja, pihak rektorat
meberikan kabar, kalau statusku akan di tingkatkan menjadi karyawan tetap,
bahkan beberapa dosen senior sudah menawariku untuk membantu mengajar.
Memang rekan2 kerjaku mengatakan, kalau karirku bakal amat bagus, karena
orang dengan kemampuan sepertiku amat dibutuhkan. Mereka bilang,
kesuksesanku hanya menunggu waktu saja. Aku hanya bisa mengucap puji syukur
Alhamdulilah. Andai dulu aku sering berdoa dengan linangan air mata
kesedihan, sekarangpun aku masih sering menangis ketika berdoa, tapi kali
ini aku menangis bahagia.
Sampai saat ini aku masih sendirian, aku bertekad membesarkan anaku
sebaik2nya, bagiku aku masih merasa istri dari mas Fariz. Masih sulit
rasanya menggantikan dia dihatiku. Seperti yg aku pernah katakan, dia bukan
hanya suami, tetapi soulmate ku, dan tak tergantikan.Tetapi entah kalau
Allah mempunyai rencana lain untukku. Tiap memandang anakku, aku seperti
melihat mas Fariz. Seperti dia masih mendampingiku.

Alhamdulilah dengan penghasilanku sekarang ini aku kini bahkan sudah mampu
membeli sepeda motor untuk keperluan transportasiku. Kadang diakhir pekan
aku berboncengan dengan anakku jalan2 rekreasi. Kadangkala aku sengaja lewat
depan rumah orang tuaku, sambil aku katakan bahwa itulah rumah opa dan oma.
Sering anakku bertanya, “Ma kapan kita pergi main kerumah oma-opa? ”  Aku
tak bisa menjawab, karena menahan air mata…
Walaupun begitu aku terus berdoa, semoga suatu saat kelak, kedua orangtuaku
dibukakan pintu hatinya, kalaupun tidak mau menerima aku lagi, mohon terima
anakku, cucunya, darah daging mereka sendiri.

Wassalam,
Mawar.
Di ceritakan kembali oleh Retno (2508)
Di Kota P

 

Read Full Post »

SUJUD SAHWI

Sebab-sebab sujud sahwi ada tiga: karena kelebihan, karena kekurangan, dan karena keragu-raguan.
 
Sujud Sahwi karena Kelebihan
 
Barangsiapa lupa dalam salatnya kemudian menambah ruku', atau sujud, maka dia harus sujud dua kali sesudah menyelesaikan salatnya dan salamnya. Hal ini berdasarkan hadits berikut:"Dari Ibnu Mas'ud radhiallaahu anhu, bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam salat Dhuhur lima rakaat, kemudian beliau ditanya, 'Apakah salat Dhuhur ditambah rakaatnya?' Beliau balik bertanya, 'Apa itu?' Para sahabat menjelaskan, 'Anda salat lima rakaat'. Kemudian beliau pun sujud dua kali setelah salam. Dalam riwayat lain disebutkan, beliau melipat kedua kakinya dan menghadap kiblat kemudian sujud dua kali, kemudian salam." (Muttafaq'alaih)
 
Salam sebelum salat selesai berarti termasuk kelebihan dalam salat, sebab ia telah menambah salam di pertengahan pelaksanaan salat. Barangsiapa mengalami hal itu dalam keadaan lupa, lalu dia ingat beberapa saat setelahnya, maka dia harus menyempurnakan salatnya kemudian salam, setelah itu dia sujud sahwi, kemudian salam lagi. Dalilnya adalah hadis Abu Hurairah radhiallaahu 'anhu berikut.
 
"Dari Abu Hurairah radhiallaahu 'anhu, bahwasanya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam salat Duhur atau Asar bersama para sahabat. Beliau salam setelah salat dua rakaat, kemudian orang-orang yang bergegas keluar dari pintu masjid berkata, 'Salat telah diqashar (dikurangi)?' Nabi pun berdiri untuk bersandar pada sebuah kayu, sepertinya beliau marah. Kemudian berdirilah seorang laki-laki dan bertanya kepadanya, 'Wahai Rasulullah, apakah Anda lupa atau memang salat telah diqashar?' Nabi berkata, 'Aku tidak lupa dan salat pun tidak diqashar.' Laki-laki itu kembali berkata, 'Kalau begitu Anda
memang lupa wahai Rasulullah.' Nabi Shallallaahu alaihi wasallam bertanya kepada para sahabat, 'Benarkah apa yang dikatakannya?' Mereka pun mengatakan, 'Benar.' Maka majulah Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam, selanjutnya beliau salat untuk melengkapi kekurangan tadi, kemudian salam, lalu sujud dua kali, dan salam lagi." (Muttafaq 'alaih)
 
Sujud Sahwi karena Kekurangan
 
Barangsiapa lupa dalam salatnya, kemudian ia meninggalkan salah satu sunnah muakkadah (yaitu yang termasuk katagori hal-hal wajib dalam salat), maka ia harus sujud sahwi sebelum salam, seperti misalnya kelupaan melakukan tasyahud awal dan dia tidak ingat sama sekali, atau dia ingat setelah berdiri tegak dengan sempurna, maka dia tidak perlu duduk kembali, cukup baginya sujud sahwi sebelum salam. Dalilnya ialah hadis berikut.
 
"Dari Abdullah bin Buhainah radhiallaahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam salat Duhur bersama mereka, beliau langsung berdiri setelah dua rakaat pertama dan tidak duduk. Para jamaah pun tetap mengikuti beliau sampai beliau selesai menyempurnakan salat, orang-orang pun menunggu salam beliau, akan tetapi beliau malah bertakbir padahal beliau dalam
keadaan duduk (tasyahhud akhir), kemudian beliau sujud dua kali sebelum salam, lalu salam." (Muttafaq 'alaih)
Sujud Sahwi karena Keragu-raguan
 
Yaitu ragu-ragu antara dua hal (tidak pasti yang mana yang terjadi). Keragu-raguan terdapat dalam dua hal, yaitu antara kelebihan atau kekurangan. Umpamanya, seseorang ragu apakah dia sudah salat tiga rakaat atau empat rakaat.
 
Keraguan ini ada dua macam:
 
  a.. Seseorang lebih cenderung kepada satu hal, baik kelebihan atau kurang, maka dia harus menurutkan mengambil sikap kepada yang lebih ia yakini, kemudian dia melakukan sujud sahwi setelah salam. Dalilnya hadis berikut.
 
  "Dari Abdullah Ibnu Mas'ud radhiallaahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Apabila salah seorang dari kamu ada yang ragu-ragu dalam salatnya, maka hendaklah lebih memilih kepada yang paling mendekati kebenaran, kemudian menyempurnakan salatnya, lalu melakukan salam, selanjutnya sujud dua kali." (Muttafaq 'alaih)
 
  b.. Ragu-ragu antara dua hal, dan tidak condong pada salah satunya, tidak kepada kelebihan dalam pelaksanaan salat dan tidak pula pada kekurangan. Maka, dia harus mengambil sikap kepada hal yang sudah pasti akan kebenarannya, yaitu jumlah rakaat yang lebih sedikit. Kemudian menutupi kekurangan tersebut, lalu sujud dua kali sebelum salam, ini berdasarkan hadits berikut.
 
  "Dari Abu Sa'id al-Khudri radhiallaahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Apabila salah seorang di antara kamu ragu-ragu dalam salatnya, dia tidak tahu berapa rakaat yang sudah ia lakukan, tigakah atau empat, maka hendaknya ia meninggalkan keraguan itu dan mengambil apa yang ia yakini, kemudian ia sujud dua kali sebelum salam. Jika ia telah salat lima rakaat, maka hal itu menggenapkan pelaksanaan salatnya, dan jika ia salat sempurna empat rakaat, maka hal itu merupakan penghinaan (pengecewaan) terhadap setan." (HR Muslim)
 
Ringkasnya, bahwa sujud sahwi itu adakalanya sebelum salam dan adakalanya sesudah salam. Adapun sujud sahwi yang dilakukan setelah salam ialah pada dua kondisi:
 
  a.. Apabila karena kelebihan (dalam pelaksanaan salat).
  b.. Apabila karena ragu antara dua kemungkinan, tapi ada kecondongan pada salah satunya.
 
Adapun sujud sahwi yang dilakukan sebelum salam, juga pada dua kondisi:
 
 
 
 
  a.. Apabila dikarenakan kurang (dalam pelaksanaan salat).
  b.. Apabila dikarenakan ragu antara dua kemungkinan dan tidak merasa lebih berat kepada salah satunya.
 
Hal-Hal Penting Berkenaan dengan Sujud Sahwi
 
 
  a.. Apabila seseorang meninggalkan salah satu rukun salat, dan yang tertinggal itu adalah takbiratul ihram, maka salatnya tidak terhitung, baik hal itu terjadi secara sengaja ataupun karena lupa, karena salatnya tidak sah.
  b.. Jika yang tertinggal itu selain takbiratul ihram, dan ditinggalkan secara sengaja, maka batallah salatnya.
  c.. Jika tertinggal secara tidak sengaja, dan dia sudah berada pada rukun yang ketinggalan tersebut pada rakaat kedua, maka rakaat yang ketinggalan rukunnya dianggap tidak ada, dan dia ganti dengan rakaat yang berikutnya. Dan, jika ia belum sampai pada rakaat kedua, maka ia wajib kembali kepada rukun yang ketinggalan tersebut, kemudian dia kerjakan rukun itu, begitu pula apa-apa yang setelah itu. Pada kedua hal ini, wajib dia melakukan sujudsahwi setelah salam atau sebelumnya.
 d.. Apabila sujud sahwi dilakukan setelah salam, maka harus pula melakukan salam sekali lagi.
  e.. Apabila seseorang yang melakukan salat meninggalkan sunnah muakkadah (hal-hal yang wajib dalam salat) secara sengaja, maka batallah salatnya. 
Jika ketinggalan karena lupa, kemudian dia ingat sebelum beranjak dari sunnah muakkadah tersebut, maka hendaklah dia melaksanakannya dan tidak ada konsekuensi apa-apa. Jika ia ingat setelah melewatinya tetapi belum sampai kepada rukun berikutnya, hendaklah dia kembali untuk melaksanakan rukun tersebut. Kemudian, dia sempurnakan salatnya serta melakukan salam. Selanjutnya, sujud sahwi kemudian salam lagi. Jika ia ingat setelah sampai kepada rukun yang berikutnya, maka sunnah muakkadah itu gugur dan dia tidak perlu kembali kepadanya untuk melakukannya, akan tetapi terus melaksanakan salatnya kemudian sujud sahwi sebelum salam seperti kami sebutkan di atas pada masalah tasyahud awal.
 
 
Sumber: Tuntunan Salat Menurut Alquran & As-Sunnah, Syekh Abdullah bin
Abdurrahman al-Jibrin


SUJUD SAHWI

Pertanyaan.
Syaikh Muhamad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : “Kapan wajibnya sujud sahwi, sebelum atau sesudah salam..?”

Jawaban.
Sujud sahwi adalah dua kali sujud yang dilakukan orang shalat untuk menambal kekurangsempurnaan shalatnya lantaran terkena lupa. Sebab kelupaan ada tiga ; kelebihan, kekurangan dan keraguan.

Kelebihan (tambah) : Jika yang shalat sengaja menambahkan berdiri, duduk, ruku’ atau sujud, batal-lah shalatnya.

Jika ia lupa akan kelebihannya dan baru sadar ketika sudah selesai, maka ia wajib sujud sahwi. Jika sadarnya itu terjadi di tengah-tengah shalat, hendaklah ia kembali ke shalatnya lalu sujud sahwi. Contohnya, jika ia lupa shalat Zuhur lima raka’at dan baru ingat sedang tasyahud, hendaklah ia sujud sahwi dan salam. Jika ingatnya itu di tengah-tengah raka’at kelima, hendaklah langsung duduk tasyahud dan salam. setelah itu sujud sahwi dan salam.

Cara di atas bersumber kepada hadits dari Abdullah bin Mas’ud yang menerangkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah shalat Zhuhur lima rakaat. Lalu ditanyakan apakah ia menambahkan raka’at shalat .? Maka setelah para sahabat menjelaskan bahwa beliau shalat lima raka’at, beliau langsung bersujud dua kali setelah salam (shalat). Riwayat lain menjelaskan bahwa ketika itu beliau berdiri membelahkan kedua kakinya sambil menghadap kiblat lalu sujud dua kali dan salam.

Sujud sahwi terkadang dilakukan sebelum salam dalam dua tempat :

[1] Jika seseorang kekurangan dalam shalatnya, berdasarkan hadits Abdullah bin Buhainah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud sahwi sebelum salam ketika lupa tasyahud awal.

[2] Ketika yang shalat ragu-ragu atas dua hal dan tak mampu mengambil yang lebih diyakininya, seperti yang dijelaskan oleh hadits Abi Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu tentang orang yang ragu-ragu dalam shalatnya, apakah tiga atau empat raka’at. Ketika itu, orang tersebut disuruh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar sujud dua kali sebelum salam. Hadits-hadits yang barusan telah dikemukakan lafaznya dalam bahasan sebelumnya.

Sedangkan sujud sahwi sesudah salam, dilakukan dalam dua hal :

[1] Ketika kelebihan sesuatu dalam shalat sebagaimana yang terdapat dalam hadits Abdullah bin Mas’ud tentang shalat Zuhur lima raka’at yang dialami Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sujud sahwi dua kali ketika sudah diberitahu oleh para sahabat. Ketika itu beliau tidak menjelaskan bahwa sujud sahwinya dilakukan setelah salam (selesai) karena beliau tidak tahu kelebihan. Maka hal ini menunjukkan bahwa sujud sahwi karena kelebihan dalam shalat dilaksanakan setelah salam shalat, baik kelebihannya itu diketahui sebelum atau sesudah salam. Contoh lain, jika orang lupa membaca salam padahal shalatnya belum sempurna, lalu ia sadar dan menyempurnakannya, berarti ia telah menambahkan salam di tengah-tengah shalatnya. Karena itu, ia wajib sujud sahwi setelah salam berdasarkan hadits Abu Hurairah yang menerangkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat Zuhur atau Ashar sebanyak dua raka’at. Maka setelah diberitahukan, beliau menyempurnakan shalatnya dan salam. Dan setelah itu sujud sahwi dan salam.

[2] Jika ragu-ragu atas dua hal namun salah satunya diyakini. Hal ini telah dicontohkan dalam hadits Ibnu Mas’ud sebelumnya.

Jika terjadi dua kelupaan, yang satu terjadi sebelum salam dan yang kedua sesudah salam, maka menurut ulama yang terjadi sebelum salamlah yang diperhatikan lalu sujud sahwi sebelum salam.

Contohnya, umpamanya seseorang shalat Zuhur lalu berdiri menuju raka’at ketiga tanpa tasyahud awal. Kemudian pada raka’at ketiga itu ia duduk tasyahud karena dikiranya raka’at kedua dan ketika itu ia baru ingat bahwa ia berada pada raka’at ketiga, maka hendaklah ia bediri menambah satu rakaat lagi, lalu sujud sahwi serta salam.

Yakni dari contoh di atas diketahui bahwa lelaki tersebut telah tertinggal tasyahud awal dan sujud sebelum salam. Ia-pun kelebihan duduk pada raka’at ketiga dan hendaknya sujud (sahwi) sesudah salam. Oleh sebab itu, apa yang terjadi sebelum salam diunggulkan. Wallahu ‘alam

Read Full Post »

Renungan Seorang Pengamat

Sekitar Etika Penelitian ISLAM GARIS KERAS
Oleh : Redaksi 12 Apr 2007 – 7:57 pm

Oleh Dr. Tim Behrend
Guru Besar Universitas Auckland, New Zealand
KHALAYAK ramai hingga pimpinan nasional Amrikiyyah rata-rata percaya, dan berulang-ulang mengucapkan, bahwa “the world changed forever on September 11th”, yakni, buana berubah secara hakiki sebagai akibat hantaman terhadap gedung-gedung ikonis di New York dan Washington pada tanggal dahsyat itu. Bagi mayoritas besar, keyakinan ini diperoleh dari perbendaharaan retorika dan konsep rezim Bush dibantu oleh media massa yang meminjam leksikon Gedung Putih dan militer tanpa disaring atau dikritisi secara serius. Baik produsen media dunia yang tercap “liberal” maupun yang konservatif, sekalipun berbeda pendapat tentang sebab musabab dan siasat penyelenggaraan perang melawan teror, namun sama-sama berdalilkan mitos berubahnya dunia secara hakiki itu. Dan apabila dunia memang berubah drastis, maka segala sesuatu harus ikut berubah jua: seandainya ingin selamat betul, semua terpaksa menyesuaikan diri dengan “realitas” tata dunia baru.

Ternyata dunia kita secara jelas mengalami perubahan besar-besaran, perubahan mana telah mengakibatkan, antara lain: 1) tewasnya ratusan ribu orang di Afghanistan, Iraq, Lebanon, Palestina, Israel dan lain-lain. 2) melemahnya penegakan HAM secara per negara maupun mondial. 3) dirongrongnya kedaulatan dan kemerdekaan bangsa-bangsa di seluruh permukaan bumi; dan 4) tersitanya bagian yang semakin besar dari kas negara-negara sedunia untuk keperluan “keamanan” dan perang.

Adapun perubahan dimaksud tidak terjadi begitu saja di tengah puing-puing lambang kekayaan dan kekuatan Amerika Serikat yang terhantam runtuh itu. Dunia tidak berubah secara spontan. Dunia malah diubah. Diubah dengan sengaja oleh kekuatan adidaya tunggal dalam suasana amarah dan histeria domestik yang menyusuli serangan kejam September 2001 itu. Dunia diubah seirama dengan strategi dan ideologi kelompok NeoCon 1 yang ingin melestarikan Imperium Amerika untuk masa yang sepanjang mungkin.

Perubahan yang dituntut oleh pemerintah AS tidak gratis adanya, melainkan disertai biaya tinggi. Tekanan finansial menggencet sepanjang perbatasan bilateral antara Amerika dan masing-masing negara yang hendak berkawan atau berhubungan dengannya, terutama seputar kegiatan komunikasi, perjalanan, perkapalan, perniagaan, perbankan, pendidikan, keimigrasian, ketatanegaraan, dan bidang-bidang lain. Sistem keamanan negara lain harus memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh instansi-instansi kepemerintahan Amerika dan yang jelas dimaksud oleh penciptanya untuk mengutamakan kepentingan pihak Amerika, sebagaimana dipahami oleh instansi tersebut.

Industri Terorisme
Sejak lebih enam tahun ini, sekali lagi kita menyaksikan dunia dibelah dua, secara moral dan eksistensial, sebagaimana telah pernah terjadi di bawah kepemimpinan Amerika pada masa Perang Dingin. Dengan polarisasi ini, pemerintah setiap negeri dibujuk, ditekan, diancam, bahkan dipaksa untuk berkiblat kepada kutub Barat. “If you’re not with us, you’re with the terrorists” menjadi semboyan Bush yang mengilhami wawasan sekuritas 2 global gagrag3 baru.

Bersamaan dengan globalisasi tata keamanan baru berdasarkan kepentingan dan tafsir politik Amerika, muncul pula ajang penyelenggaraannya, sebuah ruang yang terbentuk dan dipertahankan bukan saja lewat proses-proses politik, tetapi secara mendasar melalui dinamika sebuah pasaran baru, sebutkan saja pasaran ilmu sekuritas atau pasaran industri terorisme. Tidak mengherankan di dunia pasca kolonial ini bahwa mayoritas pakar yang memperoleh dan menjual keahlian di pasar ini berasal atau berafiliasi dengan AS dan sekutunya. Ahli Indonesia tidak begitu laku di pasar baru ini kecuali sebagai narasumber atau asisten –dan hanya suara Indonesia yang bunyinya berpaduan dengan koor Barat yang berhasil menembus pasar.

Perorangan, lembaga, gerakan, negara dan bangsa Indonesia dijadikan objek penelitian pakar Barat. Misalnya, Dr. A mewawancarai ustadz B, kemudian membungkusnya dalam artikel atau seminar. Paket hasil kajian itu kemudian dijual kembali kepada pemerintah Indonesia yang ingin kelihatan rajin dalam usahanya untuk memenuhi persyaratan dan tuntutan si Adidaya. Dalam pemerintah dan instansi Indonesia, ternyata agenda, metodologi, dan garis besar tafsiran keadaan dunia, semakin tertekan untuk disesuaikan dengan cara, bahasa, dan orientasi yang berpihak di tanah asing dan cenderung membela kepentingan negara luar.

Bagi negeri-negeri lain yang mirip Indonesia, pengalamannya sama dalam hal ini: arus pengaruh dan keahlian selalu mengalir dari sono ke sini, dari Amerika ke Indonesia. Puluhan, bahkan ratusan orang dari lembaga pendidikan, penelitian dan kepemerintahan Amerika bekerja untuk mengenal dan menganalisa situasi di Indonesia. Paling laku di antara profesional tersebut adalah yang memasarkan diri sebagai ahli Islam dan politik –bidang yang dianggap paling rawan dan membahayakan (bagi Amerika, tentu saja).

Sebagai pengamat dan peserta pinggiran proses penelitian itu, saya sering terpukul oleh pertanyaan yang tidak pernah dibahas, apalagi dijawab dalam wacana media massa. Apa sebabnya para guru dan konsultan mesti orang luar? Mengapa Indonesia tetap menjadi objek penelitian, sebuah sumber yang dibudidayakan oleh Barat, dan tidak pernah dihargai sebagai bangsa dan peradaban yang setaraf? Kenapa tidak ada minat dan kegiatan penelitian seperti dilakukan oleh Barat, tetapi diprakarsai, dicetuskan, dan dikembangkan di Indonesia dan dipasarkan kepada Amerika? Misalnya, apa sebabnya tidak satu pun jurusan atau puslit4 studi perdamaian dunia yang mengadakan riset di Amerika mengenai penyebab dan akibat rasialisme anti-oranghitam? Atau Pusat Studi Kristiani (dengan sebagian besar staf beragama Islam) yang mencari sumber dalam Alkitab dan khotbah mingguan para pendeta bagi kemiskinan yang merajalela di bagian-bagian tertentu masyarakat Amerika? Kalau toh tampil bidang studi semacam ini, ia niscaya tanggung dan menjadi fenomena setempat saja, karena sistem dunia pasca kolonial tidak menyediakan tempat untuk sumbangan dari negara dan bangsa bekas jajahan Barat. Berjualan ide tentang perang dan perdamaian di pasaran dunia dewasa ini hanya diperkenankan untuk mantan penjajah; jajahan boleh saja belanja, tetapi jangan sampai membuka kedai.

Pikiran semacam ini gatal-gatal di benak saya sejak seminggu lalu. Pada tanggal 1 Maret 2007, siang hari sekitar pukul dua, saya tahu-tahu diberitahukan lewat telepon bahwa salah seorang ahli Islam dan sekuritas di Indonesia dan Asia Tenggara akan memberi ceramah di Universitas Auckland, tempat saya kerja, pada sore hari itu. Penceramah yang bertamu di Auckland untuk satu hari saja adalah Dr Zachary Abuza. Abuza, dosen ilmu politik di Simmons College, sebuah universitas wanita kecil di Boston, adalah seorang pedagang informasi dan pendapat yang sangat laris di pasaran ilmu sekuritas/terorisme sedunia. Jika (dicari) di Google, terdapat lebih dari 39.000 halaman yang berisi nama “Zachary Abuza” dan rujuan “Islam”. Dalam koran, majalah dan situs web yang memuat atau mengutip tulisannya, Abuza sering diberi predikat “one of the world’s leading experts on JI”, dan ia memang sudah menulis beberapa buku dan monografi mengenai gerakan itu.

Ceramah di Auckland adalah salah satu kegiatan dalam acara perjalanan dan penyuluhan Abuza di Australia dan Selandia Baru berkenaan dengan kehadirannya pada konferensi National Security Australia Forum akhir Februari di Sidney. Sebelum tiba di Auckland, Abuza sudah ceramah di Kedutaan Bear Amerika Serikat di Wellington dan bericara dengan petugas Kementrian Luar Negeri Selandia Baru. Pesan yang ia bawakan adalah sama dengan persembahannya di Australia, yaitu bahwa Jemaah Islamiah sedang menjelma dalam bentuk baru dan tetap merupakan bahaya besar bagi Indonesia dan mitra politik Amerika di wilayahnya. Dalam presentasinya ber-powerpoint, muncullah wajah Abu Bakar Ba’asyir sebagai Amir JI. Nama institusi Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) juga sempat disebut-sebutnya.

Penelitian Islam Radikal
Ketika saya mengetahui bahwa Abuza akan ceramah, saya sempat kontak kepada Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dan Irfan S. Awwas, masing-masing Amir dan Ketua Umum MMI. Saya minta kepada mereka daftar singkat pertanyaan yang ingin mereka ajukan kepada Dr. Abuza. Menurut saya, inilah kesempatan yang baik bagi Abuza, yang makan nasi dan bahkan mengelilingi bumi berkat Ustadz Abu dan sesama mujahidin se Nusantara, untuk membalas budi. Pihak MMI keberatan dan sangat tidak setuju dengan sebagian besar isi paket penerangan gerakan Islam di Indonesia yang diperdagangkannya secara global (termasuk kepada instansi militer dan kepemerintahan di Amerika, Australia dan negara-negara lain sebagai konsultan ahli). Sebagai sesama sarjana, dosen, peneliti Islam garis keras, maka saya harap kenetralan saya dapat membantu Abuza memahami dan menanggapi pertanyaan dari beberapa manusia5 dan wakil lembaga yang diteliti dan dikomentarinya.

Ternyata Abuza tidak ingin memanfaatkan kesempatan itu. Pertanyaan yang dikirim oleh Irfan Awwas dan serentetan undangan berinterview lewat e-mail dari saya dijawabnya dengan jalan terdiam seribu bahasa saja. Surat-surat dari saya, tidak satu pun yang dapat perhatian. Undangan dan bujukan saya mutlak tak digubrisnya.

Inilah beberapa pertanyaan saya kepada saudara Zachary Abuza. Mudah-mudahan dia sudi menjawabnya, cepat atau lambat, secara ringkas atau panjang lebar.

  1. Dalam tulisan anda tentang kelompok Jemaah Islamiyah dan gerakan salafi di Indonesia pada umumnya, anda mengandalkan sumber resmi maupun bocoran dari AS dan pemerintah-pemerintah sekutunya. Pemerintah tersebut menganggap dirinya sedang berperang dengan pertubuhan6 yang mereka namai Jemaah Islamiyah. Apakah Anda menganggap ketergantungan pada salah satu pihak dalam pertikaian sebagai metodologi yang terandal untuk mengetahui kebenaran pertikaian itu?

 

  1. Gedung Putih, State Department, Departement of Defense, Joint Chiefs, CIA, dan lain-lain komponen jaringan intelejen Amerika Serikat telah terbukti bersedia memperdayakan rakyat sendiri, pemerintah sekutu, dan seluruh dunia dalam upayanya memerangi siapa saja yang dimusuhinya. Bagaimana kenyataan ini mempengaruhi keputusan Anda untuk menjadikan dokumen buatan instansi-instansi seperti itu sebagai tumpuan fakta dan analisa?

 

  1. Selain dokumen instansi tadi, Anda juga sering mengutip sumber rahasia dari dalam pemerintah dan militer Amerika maupun Indonesia. Apakah Anda menganggap kebiasaan itu sebagai metode yang bernilai ilmiah? Bagaimana Anda membela diri sendiri dari manipulasi orang-orang seperti itu, sebagaimana terlihat dalam kasus-kasus jurnalis tertentu di Amerika baru-baru ini?

 

  1. Kebanyakan sumber dalam tulisan Anda berupa kutipan pers (yang masih) mentah. Proses pembenaran apakah yang Anda pakai untuk menjamin keakuratan kata-kata di halaman koran? Apakah Anda menganggap diri seorang jurnalis atau akademikus?

 

  1. Dalam mengutip pers dan sumber lain, Anda mempunyai kebiasaan menganggap analisa yang dilakukan penulis pro-Barat sebagai fakta tersendiri, sedangkan analisa dari media Islam Anda anggap sebagai propaganda yang perlu dianalisa lebih jauh. Apa sebabnya?

 

  1. Anda juga mengutip surat dakwaan yang disiapkan penuntut7 dalam sistem hukum perlawanan sebagai sumber fakta, tetapi pleidoi8 terdakwa dianggap fiksi dan dalih melulu. Apa sebabnya dokumen kedua pihak di meja hijau tidak digunakan secara imbang?

 

  1. Dalam beberapa tulisan, Anda mengatakan pernah berwawancara dengan orang-orang pimpinan Majelis Mujahidin. Menurut keterangan dari dewan pimpinan MMI, tidak ada di antara mereka yang pernah berbicara dengan Anda. Apabila Anda mengatakan, “I would like to thank officials … of the Majelis Mujahidin Indonesia for their perspectives”, apa dan siapa maksud Anda?

 

  1. Seperti banyak pengomentar lain, Anda cenderung menerima dan menggunakan perspektif pinjaman dari pemerintah yang jelas berbau politik dan ideologis. Misalnya, pemerintah Amerika menganggap sistem pengiriman uang internasional yang di luar kuasa pemerintah Barat, ialah hawala 9, sebagai sistem korup (padahal kebanyakan uang yang sampai sekarang diketahui digunakan dalam serangan tertentu terbukti berputar melalui sistem perbankan internasional). Dalam tulisan Anda tentang pendanaan kegiatan terorisme di Indonesia Anda (secara) mentah-mentah menelan tuntutan itu, tanpa dipertanyakan atau dibuktikan. Apakah Anda melakukan ini dengan sengaja, atau karena kacamata ideologi Anda sendiri sangat distortif dan memihak?

 

  1. Menurut kebanyakan pengamat, masalah dan ancaman yang sungguh berbahaya bagi masyarakat Indonesia berkaitan dengan hal-hal lain, bukan dengan JI dan dunia suram “militant jihadists” yang selalu Anda seru-serukan. Mengapa Anda menganggap Abu Bakar Ba’asyir, yang tidak pernah terbukti salah atau berafiliasi dengan JI, Anda anggap sebagai ancaman yang lebih penting daripada penjahat beneran seperti koruptor, pembinasa lingkungan dan pelanggar HAM institusional?

 

  1. Manakah yang merupakan ancaman lebih besar: Imperium Amerika bagi rakyat Indonesia? Atau Jemaah Islamiah dan kelompok sejenisnya di Indonesia bagi rakyat Amerika? Tolong jelaskan.

 

  1. Etika profesional mana yang Anda peluk, yang memungkinkan Anda berulang kali menolak undangan untuk berdialog dengan orang dan lembaga yang secara harian Anda bicarakan di depan seluruh dunia, sekalipun menjadi sumber nasi, nama10 dan kemakmuran Anda? Menurut Anda, apa bedanya imperialis zaman Belanda dengan seorang sarjana/jurnalis yang menambang “fakta” di Indonesia (sebagian tanpa izin) dan mengekspornya ke negeri sendiri untuk diperdagangkan tanpa membayar sepeser pun, dan tanpa rasa tanggung jawab untuk berdialog dengan orang-orang yang Anda jadikan tambang pribadi itu?

 

  1. Dan akhirnya, apakah Anda layak dicap sebagai ahli tentang Islamisme dan (ahli tentang) para mujahid Indonesia seperti Abu Bakar Ba’asyir kalau Anda belum pernah membaca tulisannya yang banyak terbit dan beredar, atau mendengarkan ceramah yang sering-sering diucapkannya secara terbuka di hadapan rakyat Indonesia? Apakah ketidakmampuan Anda berbahasa Indonesia tidak mengurangi atau bahkan menafikan keandalan Anda sebagai ahli politik keamanan dan terorisme di Indonesia? Kalau tidak, apa sebabnya?

Mudah-mudahan Dr Abuza akan bersedia menanggapi renungan saya ini, mungkin di halaman Risalah Mujahidin edisi mendatang. Demikian pula seluruh angkatan jurnalis dan peneliti lain yang mengamati, meliput, dan mengomentari Islam dan politik di Indonesia, sebuah bidang yang penuh kompleksitas dan nuansa yang jarang masuk media massa dan seminar internasional, tempat Zachary Abuza suka bersemayam.

FOOTNOTE
01. Neo Conservative
02. Yang dimaksud “keamanan” (istilah sekuritas lebih akrab digunakan dalam dunia saham, sedangkan istilah sekuriti adalah nama lain satuan pengamanan atau satpam).
03. Mungkin yang dimaksud “jagat”. Istilah gagrag tidak ditemukan dalam kamus bahasa Indonesia, mungkin bisa ditemukan dalam kamus bahasa Malaysia.
04. Pusat penelitian
05. Tokoh
06. Sosok atau lembaga
07. Jaksa Penuntut Umum
08. Pembelaan
09. Istilah hawala tidak ditemukan dalam kamus bahasa Indonesia.
10. Kemasyhuran (popularitas)

Risalah Mujahidin Edisi 7 Th I Rabiul Awal 1428 H / April 2007 M, hal. 20-24.

-swaramuslim.com- 

Read Full Post »

10 Kunci Kebaikan

1. Ketulusan (Ikhlash) 

Ketulusan  & keikhlasan  menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi.Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya “Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak”. Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

2. Rendah Hati

Beda dgn rendah diri yg merupakan kelemahan, kerendahhatian justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.

3. Kesetiaan

Kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yg setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.

4. Bersikap Positif

Orang yang bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan drpd keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji dari pada mengecam, dsb.

5. Keceriaan

Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.

6. Bertanggung Jawab

Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan.

Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

7. Kepercayaan Diri

Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.

8. Kebesaran Jiwa

Kebesaran jiwa dapat dilihat dr kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

9. Easy Going

Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak sukamembesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada di luar kontrolnya.

10. Empaty

Empati adalah sifat yg sangat mengagumkan. Orang yg berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

 

Read Full Post »

Bagaimana Indonesia ?

Mancanegara

13/04/07 08:35

China Perangi Pornografi di Internet

Beijing (ANTARA News) – Departemen Keamanan Publik (MPS) China bersama sembilan departemen lainnya, Kamis, mengkampanyekan perang terhadap pornografi di internet China dengan ancaman akan mengenakan tindakan keras terhadap kreatornya.

“Ledakan situs-situs porno di internet telah merusak pikiran anak-anak muda di China,” kata Wakil Menteri MPS, Zhang Xinfen seperti dikutip Xinhua, di Beijing, Jumat.

Dalam enam bulan ke depan, kata Zhang, kementerian akan mengambil tindakan keras terhadap semua kegiatan ilegal terhadap distribusi pornografi dan pertunjukan tidak senonoh, serta seluruh bentuk kegiatan dunia maya berupa cerita, suara, serta vidio klip.

“Kampanye tersebut juga menargetkan perdagangan lotere ilegal, penipuan,” kata Zhang.

Dalam bulan November 2006, aparat kepolisian China menahan jaringan website pornografi terbesar di China dan menahan kreatornya, Chen Hui, yang kemudian dipenjara seumur hidup.

Situs porno yang dikeluarkan Chen memiliki sekitar sembilan juta gambar pornografi dan artikel, dan kegiatannya menarik perhatian sebanyak 600.000 pengguna yang terdaftar.

“Perpindahan pornografi dari luar negeri dan pengawasan dari dalam negeri merupakan masalah bagi kegiatan dunia maya di China,” katanya.

Di China setidaknya terdapat 123 juta pengguna internet, kebanyakan dari mereka adalah anak muda, sehingga pemerintah yakin mereka memerlukan perlindungan dari dampak negatif internet.(*)

Copyright © 2007 ANTARA

Read Full Post »

Older Posts »