Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2007

Ilmu Mawarits

HUKUM YANG TERABAIKAN

Oleh stadz Armen Halim Naro
PENTINGNYA ILMU MAWARITS
Jika hukum-hukum syari at, seperti shalat, zakat, haji dan yang lainnya
dijelaskan secara global oleh Allah Subhanahu wa Ta ala lalu diperinci oleh
Rasulullah Shallallahu  alaihi wa sallam dalam Sunnah, sedangkan hukum
mawarits diterangkan oleh Allah Subhanahu wa Ta ala secara terperinci di
dalam Al-Qur an.

Sebagai contoh, ketika Allah Subhanahu wa Ta ala berfirman :  Dirikanlah
shalat dan tunaikan zakat   [Al-Baqarah : 43] atau : Dan bagi Allah atas
manusia untuk berhaji ke Baitullah, bagi siapa yang mampu  [Ali-Imran : 97],
baru kemudian Sunnah menjelaskan tata caranya dengan detail.

Adapun pembagian harta warisan, Allah Subhanahu wa Ta ala telah menjelaskan
di awal dan di akhir surat An-Nisa. Allah sendiri yang langsung membagi
warisan demi kemaslahatan mahlukNya. Allah Subhanahu wa Ta ala menetapkan
laki-laki memperoleh dua bagian dari perempuan, tidak ada seorangpun yang
boleh menyangkal hukum dan peraturanNya, karena Dia-lah Dzat yang Maha Adil
dan Bijaksana.

SEKILAS PERBANDINGAN PEMBAGIAN HARTA WARISAN ANTARA ADAT JAHILIYAH DENGAN
ISLAM
Pada zaman Arab Jahiliyah dahulu, harta warisan berpindah ke tangan anak
sulung si mayit, atau kepada saudaranya atau pamannya sepeninggalnya. Mereka
tidak memberikan kepada wanita dan anak-anak. Alasan mereka, karena wanita
dan anak-anak tidak bisa memelihara keamanan dan tidak bisa berperang.

Sebagaimana yang berlaku pada kedua putri Sa ad bin Rabi Radhiyallahu  anhu,
bahwa paman mereka mengambil semua harta peninggalan ayah mereka. Ketika
permasalahan tersebut sampai kepada Rasulullah Shallallahu  alaihi wa
sallam, maka beliau Shallallahu  alaihi wa sallam memerintahkan pamannya
tersebut untuk memberi kemenakannya dua pertiga, dan ibu mereka
seperdelapan, dan sisanya barulah dia ambil.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,  Orang-orang jahiliyah menjadikan seluruh
pembagian kepada laki-laki, tidak kepada perempuan. Oleh karena itu, Allah
Subhanahu wa Ta ala memerintahkan mereka untuk berbagi sama dalam pembagian,
kemudian melebihkan di antara dua kelompok dengan menjadikan laki-laki
memperoleh dua bagian perempuan. Hal itu, karena laki-laki menangggung biaya
nafkah, tanggungan, beban bisnis dan usaha, serta menanggung kesusahan,
Maka, layak dia memperoleh dua kali lipat dari bagian perempuan  [Lihat
Tafsir Ibnu Katsir 1/433]

Pada sebagian suku di Indonesia, terutama yang mengambil nasab kepada ibu,
misalnya di Minangkabau, mereka memberlakukan pembagian harta warisan kepada
perempuan. Karena tugas yang semestinya diemban oleh laki-laki, ternyata
harus dibebankan kepada perempuan, mulai dari pengasuhan orang tua ketika
lanjut usia, sampai pada pemberian uang saku untuk kemenakan dan famili.

Karena itu, suami dianjurkan (baca : diharuskan) tinggal di rumah orang tua
perempuan. Dan merupakan aib bagi suami, jika ia tinggal satu rumah dengan
orang tuanya sendiri, jika memang terpaksa harus tinggal di rumah orang tua.
Bahkan di sebagian daerah Minang, laki-laki dibeli dengan uang sebagaimana
dibelinya barang. Setelah itu, sang suami harus lebih banyak bertandang ke
rumah orang tua isteri dari pada ke rumah orang tuanya sendiri.

Fakta seperti ini berlawanan dengan adat jahiliyah Arab yang menempatkan
laki-laki sangat dominan dan diuntungkan. Dan sebaliknya, pada adat Minang
ini, laki-laki selalu dirugikan. Dikatakan oleh seorang ulama Minang, Buya
Hamka rahimahullah dalam salah satu karangannya : Jika ada laki-laki yang
paling sengsara, maka dialah laki-laki Minang. Bagaimana tidak, sewaktu dia
masih kecil yang seharusnya dia mendapatkan nasihat dan keputusan dari orang
tuanya dalam semua urusannya dari sekolah hingga menikah, itu semua diambil
alih oleh mamaknya (paman dari pihak ibu), ketika dia telah menikah dia
menjadi semanda di rumahnya sendiri, yang duduk harus di bawah dan di
tepi-tepi, ketika sudah tua renta dan mulai pula sakit-sakitan, dia harus
siap-siap untuk menyingkir karena pembagian rumah dan harta hanya untuk anak
perempuan, maka terpaksalah dia tidur di surau dan kalau makan harus pergi
ke lapau (kedai nasi)

Ada pula pemikiran yang menyimpang, dengan mengusung isu persamaan gender
yang awalnya didengungkan para orientalis barat, kemudian di negeri kita
dikembangkan oleh orang-orang Islam sendiri yang sekulit dan satu bahasa
dengan kita. Pendapat aneh tersebut ialah, tentang pembagian mawarits harus
disama-ratakan antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan pembagian waris
antara laki-laki dan perempuan  menurut mereka- tidak adil. Pendapat seperti
ini telah lama dan banyak dilontarkan tokoh-tokoh Islam yang terkontaminasi
oleh pemikiran orientalis, yang kemudian diikuti dan dikembangkan oleh
kelompok yang menamakan diri Jaringan Islam Liberal.

Tentu saja, anggapan aneh seperti diatas tidak terbukti. Karena syari at
Islam memberlakukan keadilan dan keseimbangan, dia sampaikan semua hak
kepada pemiliknya. Nabi Shallallahu  alaihi wa sallam bersabda :
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta ala telah memberi setiap yang mempunyai
hak akan haknya. Maka tidak ada wasiat bagi ahli waris  [Hadis Riwayat Abu
Dawud 3565, Tirmidzi 2/16, Ibnu Majah 2713, Baihaqi 6/264, Syaikh Al-Albani
rahimahullah berkata  sanadnya hasan ]

Jika adat jahiliyah di luar syariat Islam hanya melihat kemaslahatan
orang-orang kuat, maka Islam menjaga kemaslahatan orang-orang lemah, karena
mereka yang layak dikasihi dan dilindungi. Disabdakan oleh Rasulullah
Shallallahu  alaihi wa sallam :  Sesungguhnya engkau lebih baik meninggalkan
ahli warismu dalam keadaan kaya, daripada engkau biarkan mereka miskin
meminta-minta kepada manusia  [Hadist Riwayat Bukhari, Bab Wasiat/2, dan
Muslim, Bab Wasiat/5]

Islam juga tidak mengabaikan orang-orang kuat dan tidak menyia-nyiakan yang
lemah. Setiap orang yang telah memenuhi semua syarat dan tidak ada
penghalang yang menghalanginya, maka dia berhak memperoleh warisan, baik dia
besar maupun kecil, laki-laki maupun perempuan, lemah maupun kuat.

Jika adat jahiliyah hanya mendahulukan kepentingan orang yang dapat
memberikan manfaat, tidak akan mendapatkan warisan kecuali yang ikut serta
dalam berperang dan menjaga kehormatan, atau yang menjaga orang tua dan yang
menjaga tanah persukuan, maka dalam Islam tidak menapikan andil yang lain.
Bahkan Allah Subhanahu wa Ta ala menyatakan, ayah-ayah kalian dan anak-anak
kalian tidak akan mengetahui mana yang lebih banyak manfaatnya. Lihat
An-Nisa ayat 11

Dari paparan sekilas ini, kita dapat menyimpulkan ciri khas pembagian
mawarits dalam Islam sebagaimana berikut.

[1]. Ketetapan warisan merupakan peraturan yang bersifat sosial dan mengikat
bagi siapa saja yang telah bersaksi bahwa Allah Subhanahu wa Ta ala sebagai
Rabb-nya dan Muhammad sebagai rasul.

[2]. Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta ala telah menempatkan setiap pemilik
hak pada posisinya yang layak.

[3]. Dengan pembagian yang adil sesuai syariat tersebut, berarti Islam telah
berusaha memperkuat jalinan persaudaraan dan memperkokohnya dengan tali
silaturrahim. Allah Subhanahu wa Ta ala berfirman :  Dan orang-orang yang
punya jalinan darah sebagian mereka lebih berhak dari sebagian yang lainnya,
merupakan ketetapan dalam Kitab Allah . Lihat Al-Qur an surat Al-Anfaal ayat
75

[4].Islam sangat mempedulikan kepemilikan individu, sehingga mendorong
seseorang untuk berusaha sekuat tenaga, dengan harapan orang-orang yang dia
cintai akan ikut merasakan manisnya hasil usahanya tersebut. Hal seperti ini
tidak didapatkan pada masa jahiliyah Arab dan hukum adapt.

[5]. Pembagian harta waris berdasarkan kebutuhan. Semakin seseorang
membutuhkan kepada harta warisan, semakin banyak pula dia memperolehnya.
Oleh karena itu, laki-laki memperoleh bagian lebih besar, karena laki-laki
lebih membutuhkannya daripada perempuan.

ANCAMAN JIKA TIDAK MENGGUNAKAN HUKUM ISLAM DALAM PEMBAGIAN WARISAN
Orang yang tidak memakai hukum mawarits dalam pembagian hartanya, sama
halnya dengan orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah Subhanahu wa
Ta ala. Ancaman terhadap mereka sama dengan ancaman terhadap siapa saja yang
tidak berhukum dengan Allah Subhanahu wa Ta ala. Firman Allah Subhanahu wa
Ta ala.

Artinya : Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan
Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir  [Al-Maidah : 44]

Artinya : Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan
Allah, maka mereka adalah orang-orang yang zhallim  [Al-Maidah : 45]

Artinya : Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan
Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik  [Al-Maidah : 47]

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata,  Pernyataan tegas (dalam permasalahan ini)
ialah, barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah
Subhanahu wa Ta ala disertai pengingkaran, sedangkan ia mengetahui bahwa
Allah Subhanahu wa Ta ala menurunkan hukum tersebut, sebagaimana yang
diperbuat oleh Yahudi, maka dia telah kufur. Dan barangsiapa yang tidak
berhukum dengan hukum Allah Subhanahu wa Ta ala karena lebih condong kepada
hawa nafsu tanpa pengingkaran (terhadap hukum tersebut), maka dia telah
berbuat zhalim atau fasik  [Zadul Masir 2/366]

Dalam masalah pembagian harta waris, secara khusus Allah Subhanahu wa Ta ala
menyebutkan ancaman bagi orang yang menetapkan pembagian harta waris apabila
tidak berdasarkan hukum Allah. Allah Suhanahu wa Ta ala berfirman setelah
ayat mawarits.

Artinya ; (Hukum-hukum mawarits tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan
dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan RasulNya, niscaya Allah
memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai,
sedangkan mereka kekal di dalamnya, dan itulah kemenangan yang besar. Dan
barangsiapa yang mendurhakai Allah dan RasulNya dan melanggar
ketentuan-ketentuanNya, niscaya Allah memasukannya ke dalam api neraka,
sedangkan ia kekal di dalamnya dan baginya siksa yang menghinakan  [An-Nisa
13-14]

Ayat di atas menerangkan, Allah Subhanahu wa Ta ala menjanjikan surga bagi
orang yang membagi harta waris sesuai ketentuannya. Sebaliknya, Allah
Subhanahu wa Ta ala mengancam setiap orang yang melampaui batas, tidak
memperdulikan atau berpaling, dan menambah atau mengurangi dengan adzab yang
sangat pedih.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu  anhu, ia berkata, Rasuluillah
Shallallahu  alaihi wa sallam telah bersabda : Seseorang beramal dengan amal
orang yang shalih selamah tujuh puluh tahun. Kemudian ketika berwasiat, ia
melakukan kezhaliman dalam wasiatnya. Maka Allah Subhanahu wa Ta ala akan
menutup amalannya dengan seburuk-buruk amalan, hingga membuatnya masuk
neraka. Dan sesungguhnya, seseorang beramal dengan amal orang fasik selama
tujuh puluh tahun, kemudian dia berlaku adil dalam wasiatnya, niscaya ia
dapat menutup amalnya dengan amal yang terbaik, sehingga dia masuk surga
Abu Hurairah berkata :  bacalah kalau kalian mau . Kemudian beliau membaca
ayat di atas. [Hadits riwayat Abu Dawud, 2867, Ibnu Majah 22/3/2703 dan
Ahmad /447/7728. Ahmad Syakir berkata,  Sanadnya Shahih ]

Demikian secara singkat pembahasan ilmu mawarits yang sangat penting bagi
kaum Muslimin. Sebagi pengingat, supaya kita tidak melalaikannya. Dan
mudah-mudahan bermanfaat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi Khusus/Tahun IX/1426H/2005M. Penerbit
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183]
______
Maraji.
[1]. Tafsir Al-Qur anul Azhim, Ibnu Katsir, Maktabah Ulum wal Hikam
[2]. Tafsir Zadul Masir, Ibnu Jauzi
[3]. Irwa ul Ghalil Fi Takhrijil Manaris Sabil, Al-Albani, Al-Maktabul
Islami
[4]. At-Tahqiqatul Mardhiah Fil Mabahits Al-Faradhiyah, Shalih Al-fauzan,
Maktabah Al-Ma arif
[5]. Tashil Al-Mawarits wal Washaya, Abdul Karim Muhammad Nashr, Maktabah
Haramain

Read Full Post »

Warga Palestina:

Cukup, Haram Membunuh Sesama Saudara…

Selasa, 30 Jan 07 11:08 WIB

“Cukup… haram bertikai sesama saudara. Kita harus bersatu menghadapi penjajah, daripada membunuh saudara. Ini dari Fatah dan ini dari Hamas… “

Seperti inilah ungkapan yang dilontarkan di jalan-jalan Palestina, yang meminta agar pertikaian antar sesama pejuang Palestina yang belakangan terjadi, segera dihentikan. Pertikaian itu semakin meruncing hingga menewaskan sekitar 30 orang Palestina.

Abu Abdullah, penduduk Palestina sangat berduka melihat apa yang terjadi antara pendukung dua gerakan besar pejuang Palestina. Ia mengatakan dengan sedih, “Kenapa kita saling membunuh? Untuk sebuah kursi? Ini haram. Daripada engkau arahkan senjata ke dada saudaramu, engkau harusnya tahu bahwa orang mukmin yang membunuh orang mukmin tempatnya adalah di neraka. “

Abu Abdulah dalam dialog dengan Islamonline mengajak pejuang Palestina untuk bersatu menghadapi penjajah. Ia mengatakan, “Kita harus bersatu menghadapi penjajah Zionis Israel. Musuh kita satu, yag merampas tanah suci kita. Tidak benar bila kita saling bertikai. Di tengah banyak peristiwa yang menyedihkan, saya meminta kedua belah pihak untuk menghentikan pertikaian dan menarik semua senjata dari jalanan Palestina. ”

Penduduk Palestina lainnya, Abdurrahman mengingatkan soal adanya infiltrasi asing yang meletupkan fitnah antara rakyat Palestina. “Ada banyak konspirasi yang dimainkan negara-negara yang ingin menjerumuskan rakyat Palestina pada pertikaian internal dan merusak kesatuannya. ”

Sedangkan, dalam komentarnya terhadap aksi bom syahid yang baru terjadi dan menewaskan tiga orang Israel, Jubir gerakan Jihad Islam mengatakan, “Aksi ini dilakukan pada waktu yang tepat, agar menjadi tamparan di muka orang-orang Palestina yang kini sedang saling bertikai. ”

Kontak senjata hingga kini masih terjadi antara pejuang Palestina hingga menewaskan sekitar 30-an orang Palestina sendiri (na-str/iol) eramuslim.com

Read Full Post »

Isteri Meminta Cerai

Pergi Tanpa Ijin Suami

Rabu, 31 Jan 07 05:36 WIB

Assalamu ‘alaikumWr. Wb.

Pa Ustdz Yth,

Beberapa puluh tahun yang lalu (1988), kami mengalami percekcokan suami isteri, tidak mencapai kata sepakat. Tiba-tiba isteriberkata, “Memang kita tidak cocok, kita pisah aja.” Setelah kejadian itu saya mengingatkan bahwa saya sangat pantang untuk mengatakan kata “pisah.” Dan jika mencari orang yang benar-benar cocok dengan diri kita, sampai ke ujung dunia pun kita tidak akan ketemu, karena cocok itu adalah “rasa.”

Selang beberapa tahun kata-kata itu terucap lagi dan saya masih mengingatkan. Selang beberapa tahun kemudian kata iru terucap dan terucap lagi, sampai isteri saya menantang dengan senyum sinis berkata “Kita mau cerai? Kapan? Besok?”

Akhirnya saya tidak dapat membendung hati saya, mungkin memang ini adalah keinginan isteri untuk pisah, maka jatuhlah talak yang ke 1, 2 & 3 dari selang waktu kejadian tersebut di atas.

Dan pernah pada kejadian tersebut di atas isteri saya pergi dari rumah walau saya sudah melarangnya dan mengingatkan akan keberadaan anak-anak.

Yang ingin saya tanyakan,

1. Jika talak 3 sudah jatuh, masih bisakah kamirujuk lagi dengan hanya menerima/memaafkan isteri?

2. Isteri saya telah menanyakan hal ini kpd ustadz-ustdz lain, jawabannyaadalahperceraian/talak tidak sah jika diputuskan dalam keadaan emosi.

3. Menurut pemikiran saya, semua yang saya putuskan ini adalah keinginan dari isteri yang setiap ada masalah yang tidak bisa terpecahkan selalu meminta “pisah.” Maka saya berikan talak.

Sehubungan dengan pendapat para ustadz (no. 2) adakah manusia yang berumah tangga dalam keadaan menyelesaikan suatu masalah yang tanpa didasari oleh emosi tiba-tiba meminta cerai atau menjatuhkan talak? Siapa yang mau berbuat begitu?

4. Sampai saat ini isteri saya tetap sependapat dengan para ustadz yang ia tanyakan, tetapi saya bersikukuh untuk tetap bercerai, karena saya tidak menginginkan adanya perzinahan di dalam ke luarga mengingat tanggung jawab yang harus saya pikul kelak sangat berat.

Saya mohon penjelasan dari ustdz atas masalah yang sedang saya hadapi saat ini. Terima kasih,

Wassalamu ‘alaikumWr Wb.

Joy

Joy

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Islam memberikan kepada seorang muslim tiga talaq untuk tiga kali, dengan suatu syarat tiap kali talaq dijatuhkan pada waktu suci, dan tidak disetubuhinya. Kemudian ditinggalkannya isterinya itu sehingga habis iddah. Kalau tampak ada keinginan merujuk sewaktu masih dalan iddah, maka dia boleh merujuknya. Dan seandainya dia tetap tidak merujuknya sehingga habis iddah, dia masih bisa untuk kembali kepada isterinya itu dengan aqad baru lagi. Dan kalau dia tidak lagi berhasrat untuk kembali, maka si perempuan tersebut diperkenankan kawin dengan orang lain.

Kalau si laki-laki tersebut kembali kepada isterinya sesudah talaq satu, tetapi tiba-tiba terjadi suatu peristiwa yang menyebabkan jatuhnya talaq yang kedua, sedang jalan-jalan untuk menjernihkan cuaca sudah tidak lagi berdaya, maka dia boleh menjatuhkan talaqnya yang kedua, dengan syarat seperti yang kami sebutkan di atas; dan dia diperkenankan merujuk tanpa aqad baru (karena masih dalam iddah) atau dengan aqad baru (karena sesudah habis iddah).

Dan kalau dia kembali lagi dan dicerai lagi untuk ketiga kalinya, maka ini merupakan suatu bukti nyata, bahwa perceraian antara keduanya itu harus dikukuhkan, sebab persesuaian antara keduanya sudah tidak mungkin. Oleh karena itu dia tidak boleh kembali lagi, dan si perempuan pun sudah tidak lagi halal buat si laki-laki tersebut, sampai dia kawin dengan orang lain secara syar`i. Bukan sekedar menghalalkan si perempuan untuk suaminya yang pertama tadi.

Dari sini kita tahu, bahwa menjatuhkan talaq tiga dengan satu kali ucapan, berarti menentang Allah dan menyimpang dari tuntunan Islam yang lurus.

Tepatlah apa yang diriwayatkan, bahwa suatu ketika Rasulullah s.a.w. pernah diberitahu tentang seorang laki-laki yang mencerai isterinya tiga talaq sekaligus. Kemudian Rasulullah berdiri dan marah, sambil bersabda:

`Apakah dia mau mempermainkan kitabullah, sedang saya berada di tengah-tengah kamu? Sehingga berdirilah seorang laki-laki lain, kemudian dia berkata: Ya Rasulullah! Apakah tidak saya bunuh saja orang itu!` (Riwayat Nasa`i)

1. Hukum Talak Tiga

Kami belum mengatakan bahwa apa yang terjadi antara anda dan isteri anda adalah talak tiga, karena cerita anda belum terlalu jelas. Bahkan dalam beberapa kasus, para ulama sendiri masih beda pendapat tentang batasan talak tiga.

Namun jumhur ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan talak tiga adalah tiga kali mentalak isteri dengan diselingi jeda waktu. Bukan menjatuhkan talak sekaligus tiga.

Sebagai ilustrasi, bila anda mentalak isteri anda untuk pertama kalinya, maka jatuhlah talak satu. Ada dua kemungkinan saat itu, rujuk sebelum jatuh tempo atau terus cerai. Bila anda rujuk sebelum jatuh tempo, maka hubungan suami isteri terikat kembali begitu saja, tidak harus dengan nikah dari awal. Tapi persediaan talak anda berdua tinggal dua kali lagi.

Kalau anda tidak segera rujuk dengannya, lalu terkena jatuh tempo, yaitu 3 kali masa suci dari haidh isteri anda, maka segera seusai jatuh tempo itu, anda berdua sudah bukan suami isteri yang sah. Namun masih dimungkin untuk menikah ulang lagi, dengan catatan persediaan talak di antara anda berdua sudah berkurang satu dari tiga yang ada, jadi sekarang tersisa tinggal dua.

Kedua cara di atas masih dalam batas area talak satu. Lalu bagaimana dengan talak dua?

Talak dua baru terjadi setelah anda rujuk, baik sebelum jatuh tempo atau pun sesudahnya, lalu perceraian terjadi lagi. Maka sisa talak yang anda miliki berkurang satu lagi, setelah sebelumnya sudah berkurang satu. Jadi sisa jatah talak untuk anda berdua saat ini tinggal satu. Tetapi anda berdua tetap masih bisa rujuk lagi, baik secara langsung sebelum jatuh tempo atau pun secara tidak langsung, yaitu setelah jatuh tempo dengan nikah yang baru.

Apabila setelah rujuk yang kedua kalinya itu, ternyata terjadi lagi perceraian, di mana anda menjatuhkan talak untuk yang ketiga kalinya dalam sejarah hubungan suami isteri antara anda berdua, saat itulah anda melakukan talak tiga.

Jadi talak tiga adalah talak untuk yang ketiga kalinya, setelah diselingi dengan dua kali rujuk, langsung atau dengan jeda.

***

Nah, membaca sekilas cerita anda, kami belum mendapat informasi yang pasti tentang status talak anda. Apakah termasuk talak satu atau sudah talak tiga.

Tetapi di luar kasus anda, seandainya ada kasus cerai dengan status talak tiga, maka hukumnya adalah talak yang tidak bisa kembali lagi selamanya. Dalam istilah fiqih dikenal dengan sebutan talak ba’in. Lawannya adalah talak raj’i.

Talak ba’in mengakibatkan keharaman untuk rujuk selama-lamanya antara pasangan suami isteri. Dengan sebuah pengecualian yang teramat mustahil, meski masih ada celah kecil kemungkinan. Yaitu dengan cara mantan isteri menikah dengan laki-laki lain, dengan niat untuk membentuk rumah tangga selama-lamanya. Kalau niatnya hanya sekedar untuk menyeling (muhallil), maksudnya setelah nikah akan segera cerai untuk kembali lagi kepada suami pertama, maka hukumnya haram.

2. Talak Dalam Keadaan Marah

Memang benar bahwa talak dalam keadaan marah tidak sah. Tetapi yang menjadi pertanyaan, kapankah ada talak yang dijatuhkan tanpa kemarahan?

Boleh dibilang, nyaris hampir semua kasus penjatuhan talak dilakukan dalam suasana emosi, marah, tidak terkontrol dan seterusnya. Jarang sekali kita temukan kasus terjadinya talak dilakukan dengan riang gembira antara kedua belah pihak.

Maka tidak semua marah dan emosi itu membatalkan talak. Hanya jenis marah tertentu saja yang membuat talak yang dijatuhkan tidak berlaku.

Memang ada hadits yang menyebutkan tidak bahwa lafaz itu tidak bisa menjatuhkan thalaq.

“Dari Asiyah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, Tidak syah talak dan memerdekakan budak dalam keadaan marah”. (HR Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, Hakim).

Hadits ini meski dikeritik sebagian orang bahwa di dalamnya ada rawi yang tidak kuat, namun umumnya para muhaddits menshahihkannya. Dan hadits ini menurut hakim termasuk hadits shahih menurut syarat Muslim.

Imam Al-Bukhari telah menuliskan dalam kitab shahihnya sebuah bab yang berjudul: “Bab Talak Pada Waktu Ighlak (marah), terpaksa, mabuk dan gila”. Lalu beliau membedakan antara talak pada waktu ighlak (marah) dengan bentuk-bentuk lainnya.

Imam Ibnu Taymiyah dan Ibnul Qayyim cenderung menjadikan tolok ukur jatuh tidaknya talak dari sengaja atau tidaknya. Siapa yang tidak bertujuan atau tidak berniat untuk mentalak serta tidak mengerti apa yang diucapkannya, maka dia dalam kondisi ighlaq (marah), yang berarti talaknya tidak jatuh.

Para ulama membedakan marah itu menjadi tiga macam:

  • Marah yang menghilangkan akal hingga batas seseorang tidak ingat lagi apa yang diucapkannya. Dalam kasus seperti ini maka bila dia melafazkan kata talak kepada isterinya, tidak jatuh talaknya.
  • Marah yangseseorang masih bisamengetahui apa yang diucapkannya. Dalam kasus ini maka bila dia melafazkan talak, jatuhlah talak itu.
  • Marah yang ada di antara keduanya yaitu antara sebagian akalnya hilang dan sebagian masih ada. Sehingga begitu marahnya mereda, bisa jadi dia merasa menyesal atas apa yang tadi dilakukan. Marah yang jenis ini adalah menjadi bahan perbedaan pendapat di antara para ulama. Syeikh As-Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah cenderung mengatakan bahwa bila dia melafazkan talak maka talaknya tidak jatuh.

3. Pandangan Kami tentang Perceraian Anda

Sebenarnya masalah urusan rumah tangga anda adalah urusan anda pribadi. Selama masih bisa diselesaikan secara internal, silahkan lakukan. Sebisa mungkin jangan libatkan orang lain.

Tapi karena anda secara khusus meminta pandangan dari kami, sekedar jadi bahan renungan, tidak ada salahnya anda merenungkannya sejenak. Siapa tahu dengan sedikit berpikir dan merenung, anda punya pertimbangan baru. Toh, jadi atau tidaknya perceraian anda, semua terletak di tangan anda sendiri. Dan tentu saja, semua resikonya juga tanggungan anda.

Pertengkaran Adalah Hal Yang Lumrah Terjadi
Setiap pasangan suami isteri di dunia ini pastilah mengalami pertengkaran atau konflik. Bahkan meski rumah tangga seorang nabi sekalipun. Kalau penyebabnya bukan dari pihak suami, mungkin saja dari pihak isteri. Atau mungkin juga datang dari pihak luar.

Selain perbedaan pendapat, mungkin saja pertengkaran disebabkan karena kekhilafan yang sangat manusiawi. Jalan ke luar dari khilaf apabila dilakukan oleh seorang isteri bukan talak, paling tidak, talak itu bukan alternatif yang harus dipilih pertama kali. Talak harus ditempatkan pada posisi paling akhir dalam setiap alternatif jalan ke luar dari setiap persengketaan rumah tangga.

Sebelum wacana tentang talak boleh digelar, ada kewajiban untuk melewati tahap-tahap sebelumnya, seperti nasehat, hukuman baik dalam bentuk pisah ranjang atau pun pukulan yang tidak menyakitkan. Termasuk meminta bantuan pihak ketiga untuk ikut menyelesaikan konflik antara keduanya. Bila semua alternatif tadi kandas karena masalahnya memang sulit dipecahkan, barulah boleh digelar wacana terakhir yang berfungsi sebagai katup penyelamat, yaitu talak.

a. Nasehat
Dan kalau seorang suami menjumpai isterinya ada tanda-tanda nusyuz (durhaka) dan menentangnya; maka dia harus berusaha mengadakan islah dengan sekuat tenaga, diawali dengan kata-kata yang baik, nasehat yang mengesan dan bimbingan yang bijaksana.

b.Pisah Ranjang
Kalau cara ini tidak lagi berguna, maka boleh dia tinggalkan dalam tempat tidur sebagai suatu usaha agar insting kewanitaannya itu dapat diajak berbicara. Kiranya dengan demikian dia akan radar dan kejernihan akan kembali.

c. Pukulan
Kalau ini dan itu tidak lagi berguna, maka dicoba untuk disadarkan dengan tangan, tetapi harus dijauhi pukulan yang berbahaya dan muka. Ini suatu obat mujarrab untuk sementara perempuan dalam beberapa hal pada saat-saat tertentu.

Maksud memukul di sini tidak berarti harus dengan cambuk atau kayu, tetapi apa yang dimaksud memukul di sini ialah salah satu macam dari apa yang dikatakan Nabi kepada seorang khadamnya yang tidak menyenangkan pekerjaannya. Nabi mengatakan sebagai berikut:

`Andaikata tidak ada qishash (pembalasan) kelak di hari kiamat, niscaya akan kusakiti kamu dengan kayu ini.` (Riwayat Ibnu Saad dalam Thabaqat)

Tetapi Nabi sendiri tidak menyukai laki-laki yang suka memukul isterinya. Beliau bersabda sebagai berikut:

`Mengapa salah seorang di antara kamu suka memukul isterinya seperti memukul seorang hamba, padahal barangkali dia akan menyetubuhinya di hari lain?!` (Riwayat Anmad, dan dalam Bukhari ada yang mirip dengan itu)

Terhadap orang yang suka memukul isterinya ini, Rasulullah s.a.w. mengatakan:

`Kamu tidak jumpai mereka itu sebagai orang yang baik di antara kamu.` (Hadis ini dalam Fathul Bari dihubungkan kepada Ahmad, Abu Daud dan Nasa`i dan disahkan oleh Ibnu Hibban dan Hakim dari jalan Ayyas bin Abdillah bin Abi Dzubab).

Ibnu Hajar berkata: `Dalam sabda Nabi yang mengatakan: orang-orang baik di antara kamu tidak akan memukul ini menunjukkan, bahwa secara garis besar memukul itu dibenarkan, dengan motif demi mendidik jika suami melihat ada sesuatu yang tidak disukai yang seharusnya isteri harus taat. Tetapi jika dirasa cukup dengan ancaman adalah lebih baik.

Apapun yang mungkin dapat sampai kepada tujuan yang cukup dengan angan-angan, tidak boleh beralih kepada suatu perbuatan. Sebab terjadinya suatu tindakan, bisa menyebabkan kebencian yang justru bertentangan dengan prinsip bergaul yang baik yang selaiu dituntut dalam kehidupan berumahtangga. Kecuali dalam hal yang bersangkutan dengan kemaksiatan kepada Allah.

Imam Nasa`i meriwayatkan dalam bab ini dari Aisyah r.a` sebagai berikut:

`Rasulullah s.aw. tidak pernah memukul isteri maupun khadamnya samasekali; dan beliau samasekali tidak pernah memukul dengan tangannya sendiri, melainkan dalam peperangan (sabilillah) atau karena larangan-larangan Allah dilanggar, maka beliau menghukum karena Allah.`

d. Libatkan Pihak Ketiga (hakim)

Kalau semua ini tidak lagi berguna dan sangat dikawatirkan akan meluasnya persengketaan antara suami-isteri, maka waktu itu masyarakat Islam dan para cerdik-pandai harus ikut campur untuk mengislahkan, yaitu dengan mengutus seorang hakim dari ke luarga laki-laki dan seorang hakim dari ke luarga perempuan yang baik dan mempunyai kemampuan. Diharapkan dengan niat yang baik demi meluruskan ketidak teraturan dan memperbaiki yang rusak itu, semoga Allah memberikan taufik kepada kedua suami-isteri.

Perihal ini semua, Allah s.w.t. telah berfirman dalam al-Quran sebagai berikut:

`Dan perempuan-perempuan yang kamu kawatirkan kedurhakaannya, maka nasehatlah mereka itu, dan tinggalkanlah di tempat tidur, dan pukullah. Apabila mereka sudah taat kepadamu, maka jangan kamu cari-cari jalan untuk menceraikan mereka, karena sesungguhnya Allah Maha Tinggi dan Maha Besar. Dan jika kamu merasa kawatir akan terjadinya percekcokan antara mereka berdua, maka utuslah hakim dari ke luarga laki-laki dan seorang hakim lagi dari ke luarga perempuan. Apabila mereka berdua menghendaki islah, maka Allah akan memberi taufik antara keduanya; sesungguhnya Allah Maha Tinggi dan Maha Mengetahui.` (an-Nisa`: 34-35)

e. Perceraian Adalah Pilihan Terakhir

Di sini, yakni sesudah tidak mampunyai lagi seluruh usaha dan cara, maka di saat itu seorang suami diperkenankan memasuki jalan terakhir yang dibenarkan oleh Islam, sebagai satu usaha memenuhi panggilan kenyataan dan menyambut panggilan darurat serta jalan untuk memecahkan problema yang tidak dapat diatasi kecuali dengan berpisah. Cara ini disebut thalaq.

Islam, sekalipun memperkenankan memasuki cara ini, tetapi membencinya, tidak menyunnatkan dan tidak menganggap satu hal yang baik. Bahkan Nabi sendiri mengatakan:

`Perbuatan halal yang teramat dibenci Allah, ialah talaq.` (Riwayat Abu Daud)

`Tidak ada sesuatu yang Allah halalkan, tetapi Ia sangat membencinya, melainkan talaq.` (Riwayat Abu Daud)

Perkataan halal tapi dibenci oleh Allah memberikan suatu pengertian, bahwa talaq itu suatu rukhshah yang diadakan semata-mata karena darurat, yaitu ketika memburuknya pergaulan dan menghajatkan perpisahan antara suami-isteri. Tetapi dengan suatu syarat: kedua belah pihak harus mematuhi ketentuan-ketentuan Allah dan hukum-hukum perkawinan.

Dalam satu pepatah dikatakan: `kalau tidak ada kecocokan, ya perpisahan.` Tetapi firman Allah mengatakan:

`Dan jika (terpaksa) kedua suami-isteri itu berpisah, maka Allah akan memberi kekayaan kepada masing-masing pihak dari anugerah-Nya.` (QS. An-Nisa`: 130)

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

Allahu Akbar

dengan Sepeda Ia Pergi ke Tanah Suci

Rabu, 31 Jan 07 13:25 WIB
“Mahmud…Pergilah, tunaikan haji” ucap seorang ibu. Mahmud, sang anak, bertanya, “bagaimana caranya bu?” Ibunya menjawab, “Kamu punya sepeda. Allah akan menyertaimu…”

Itulah cuplikan dialog singkat yang melatarbelakangi seorang warga Chechnya bernama Dozaner Mahmud Ali (63) pergi ke tanah suci dengan sepeda.

Dialog ini terjadi di dalam mimpi, tapi inilah awal kisah Mahmud menempuh jarak 12 ribu km, dan melewati tak kurang 13 negara hingga akhirnya sampai ke Makkah.

Mahmud yang sudah berumur itu tampaknya tidak peduli dengan panjangnya jarak dan sarana transportasi yang ia miliki, asal sampai ke tanah suci. Cita-citanya hanya satu, mewujudkan mimpinya untuk bisa melihat langsung Ka’bah dan menunaikan rukun Islam yang kelima, berhaji ke Baitullah.

Mahmud tinggal di perkampungan Arus Martn, yang berdekatan dengan ibukota Chechnya, Grozni. Ia membanggakan perjalanan yang ia lakukan sejak 8 November 2006 dan memakan waktu 10 minggu. Ia menuangkan kisah perjalanannya pada sebuah harian Yordania, yang akan ia sampaikan juga kepada para penduduk dan tamu-tamu yang datang ke negaranya.

Menurut Mahmud kepada Kantor Berita Prancis (29/1), persiapan yang ia lakukan adalah dengan bersepeda ke sejumlah kota di Chechnya untuk mengetest jarak jauh yang akan ia tempuh nantinya. Ia juga melakukan reparasi sepedanya sendiri dengan peralatan yang ia bawa. Tidak lupa pula, ia membawa sejumlah serep ban sepeda sebanyak 6 buah dan membeli peta rinci tentang negara-negara yang akan ia lewati.

Mahmud menyebut sepedanya dengan istilah “kuda besi”. Kendaraan itulah yang kemudian membawa Mahmud sampai ke Baitullah. Tentu saja, Mahmud memerlukan visa untuk bisa masuk ke Saudi. Untuk itu ia mendirikan kemah di depan Kantor Kedutaan Besar Saudi di negaranya untuk mengurus visa. Ia mengaku sempat ditolak oleh pengurus visa di Saudi.

“Tapi para karyawan konsulat terkejut dengan apa yang saya ceritakan, mereka mengira apa yang saya lakukan itu mustahil karena saya akan pergi ke Saudi dengan bersepeda, ” ujar Mahmud.

Tidak tanggung-tanggung keseriusan Mahmud untuk tetap berangkat ke tanah suci. Setelah 18 hari ia berkemah di depan kedutaan, akhirnya pihak konsulat Saudi mengizinkannya memiliki visa.

Dipukul Tentara AS di Irak

Singkat cerita, Mahmud akhirnya sampai ke sisi selatan Iran dan memasuki Irak. Di negeri seribu satu malam ini, Mahmud mendapat kesulitan dan ancaman berbahaya. Ia berulangkali mendapat cercaan dan pukulan dari tentara AS. “Aku tidak bisa memperoleh visa untuk masuk Irak. Itulah yang menyebabkan aku ditolak oleh pasukan AS, dengan pukulan dan merusak sepedaku yang kemudian mereka buang di jalanan. Mereka menyebutku dengan istilah “babi Rusia”.

Mahmud terus berupaya menyampaikan bahwa dirinya bukanlah orang Rusia tapi seorang Muslim. “Tentara AS itu lalu mengambil paksa paspor saya dan menggambar tanda salib di sampulnya, ” ujar Mahmud. Karena merasa tak mungkin masuk Irak, Mahmud kembali ke Iran dan mencoba mencari jalan lain melewati Georgia, melewati Armenia dan menuju Turki, Suriah lalu Yordania.

Akhirnya, ia pun menginjakkan kaki di Saudi Arabia untuk menunaikan haji. Mahmud bersyukur pada Allah atas pertolongan-Nya dalam perjalanan. Mahmud telah menempuh jarak 12 ribu kilometer, dari jarak yang seharusnya bisa ditempuh dengan 5 ribu kilometer. Di tanah suci, ia melepaskan keharuan dan kerinduannya kepada Baitullah.

“Aku sungguh-sungguh memohon ampunan kepada Allah swt untuk ibuku, ke luargaku dan meminta kemerdekaan untuk Chechnya…. ”

Kepada orang-orang yang mendatanginya, Mahmud bercerita bahwa keinginan kuatnya untuk pergi naik haji dengan bersepeda adalah karena mimpinya bertemu sang ibu yang memintanya untuk naik haji. Kini, Mahmud telah kembali ke Chechnya dan menghias sepeda bersejarahnya dengan moto pejuang Chechnya untuk merdeka dari Rusia. Allahu Akbar. (na-str/iol) eramuslim.com

Read Full Post »

Yang Mengharamkannya

Adalah Takbir

Selasa, 30 Jan 07 09:07 WIB

Assalamu’alaikum Wr Wb

Ustadz yang dirahmati Allah.

Saya agak bingung dengan hadits di bawah ini, maksudnya apa?

Dari Ali bin Thalib ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, `Kunci shalat itu adalah kesucian, yang mengharamkannya adalah takbir dan menghalalkannya adalah salam`. (HR Abu Daud, Tirmizi, Ibnu Majah dan hadits ini statusnya adalah hasan shahih).

Syukron katsiron

Wassalam

Abu Hasna

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kunci shalat maksudnya adalah pembuka shalat. Ibarat rumah, sebelum kita masuk ke dalamnya, kita harus membuka pintunya. Dan pintu itu terkunci. Untuk membukanya, kita harus memiliki anak kunci. Maka anak kunci yang berfungsi untuk membuka kunci itu adalah taharah (kesucian).

Maksudnya, seseorang tidak bisa memasuki ritual shalat tanpa bersuci sebelumnya. Bersuci ada dua macam, yaitu suci dari najis dan suci dari hadasts besar dan hadats kecil.

Maka tidak sah shalat seseorang bila di badan, pakaian atau tempat shalatnya terdapat najis. Juga tidak sah shalat seseorang bila masih berhadats, baik kecil apalagi besar. Karena itu diharuskan berwudhu’ bagi yang berhadats kecil, atau diwajibkan mandi janabah bagi yang berhadats besar.

Itulah maksud dari kunci shalat adalah kesucian.

Yang Mengharamkannya Takbir

Di dalam ibadah shalat adalah hal-hal yang haram dilakukan, misalnya makan, minum, bergerak-gerak ke sana kemari atau berbicara. Padahal di luar shalat, semua itu halal hukumnya.

Begitu seseorang bertakbiratul-ihram, maka shalat pun sudah dimulai. Otomatis semua yang tadi disebutkan menjadi haram hukumnya untuk dikerjakan selama shalat berlangsung.

Itulah maksud kalimat: yang mengharamkannya adalah takbir.

Yang Menghalalkannya Salam

Maksudnya bahwa semua yang tadi diharamkan selama shalat sudah kembali menjadi halal. Dan titik penghalalannya adalah saat shalat dinyatakan selesai, yaitu ketika salam diucapkan. Salam yang dimaksud adalah salam pertama, sebab salam yang kedua hukumnya sunnah dan bukan rukun atau kewajiban.

Maka begitu salam diucapkan, maka shalat pun usai dan semua perbuatan yang tadi diharamkan dalam shalat, kembali menjadi halal.

Itulah maksud kalimat: yang menghalalkannya adalah salam.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

Bom Bali dan Mariot

Selasa, 30 Jan 07 09:24 WIB

Assalamualaikum…

Ustadz, bagaimana perihal bom Bali, JW Marriot, dan sebagainya? Sebagian yang ana dengar ini dikataka Jihad, di lain pihak ini tak lebih dari kebrutalan Islam semata yang tak layak ada.

Kalau tidak berkeberatan, mohon ustadz juga memaparkan opini-opini mereka tentang mengapa hal ini dikatakan jihad oleh sebagian mereka.
Syukran.

Maha Fitra Nd
maha_mosa at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatulahi wabarakatuh,

Bom yang diledakkan di luar wilayah peperangan yang syar’i tidak bisa dikatakan jihad, melainkan pembunuhan massal. Pelakunya harus ditangkap dan dihukum sesuai syariat Islam.

Senjata pembunuh hanya dihalalkan untuk digunakan membunuh orang dalam batas-batas yang dibenarkan syariah Islam. Salah satunya adalah medan tempur. Selain itu senjata yang digunakan untuk membela diri dari ancaman langsung. Juga senjata para eksekutor yang menjalankan keputusan pengadilan untuk mengeksekusi para terhukum.

Sedangakan meledakkan bom di tempat umum yang mengorbankan banyak nyawa tak bersalah, baik nyawa itu milik seorang muslim atau pun milik seorang non muslim, hukumnya dosa besar serta termasuk kriminal. Tidak ada kaitannya dengan jihad.

Jihad pisik dengan senjata punya aturan main tersendiri. Untuk itulah para fuqaha menyusun bab khusus dalam banyak kitab fiqih mereka, yaitu bab Al-Jihad. Sebuah bab yang secara khusus membahas semua hukum fiqih tentang jihad dan peperangan.

Selain harus memenuhi semua hukum fiqih, pelaksanaan jihad pisik juga harus ditetapkan berdasarkan syura (musyawarah) dari para pemimpin umat Islam. Kalau ada negara Islam, maka pemimpin negeri itulah yang punya hak untuk menetapkan perang. Kalau tidak ada pemimpin umat yang formal, maka harus ada majelis permusyawaratan para pemimpin mujahidin. Seperti yang dahulu pernah terjadi di masa perang pembebasan Afghanistan dari cengkraman Uni Soviet.

Bila tidak ada syura dan masing-masing kelompok jalan sendiri-sendiri serta mementingkan urusannya sendiri, apalagi ditambah dengan tidak ada support secara hukum fiqih, maka jihad itu adalah jihad yang keliru. Sulit untuk mendapatkan kemenangan. Bahkan sekedar legitimasi dan dukungan dari umat Islam sekali pun juga sulit.

Khusus kasus peledakan bom di JW Mariot dan Bali, banyak pihak yang yakin 100% bahwa pelaku di belakang layarnya tidak lain adalah pihak-pihak yang ingin memojokkan umat Islam. Banyak fakta yang tidak bisa dipungkiri. Kalau pun pelakunya beragama Islam, satu pun tidak ada yang paham dengan hukum syariah, khusus bab fiqih jihad.

Dan aroma intervensi asing dengan Datasemen 88 adalah fakta yang telalu terbuka untuk mengungkat betapa di balik semua bom itu, ada kepentingan asing.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatulahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

Apa Sebabnya Anda Menangis, Hai Abu Muhammad….?

Pada suatu hari, kota Madinah sedang aman dan tenteram, terlihat debu tebal yang mengepul ke udara, datang dari tempatketinggian di pinggir kota; debu itu semakin tinggi bergumpal-gumpai hingga hampir menutup ufuk pandangan mata. Anginyang bertiup menyebabkan gumpalan debu kuning dari butiran-butiran sahara yang lunak, terbawa menghampiri pintu-pintu kota, dan berhembus dengan kuatnya di jalan-jalan rayanya.

Orang banyak menyangkanya ada angin ribut yang menyapu dan menerbangkan pasir. Tetapi kemudian dari balik tirai debu itu segera mereka dengar suara hiruk pikuk, yang memberi tahu tibanya suatu iringan kafilah besar yang panjang.

Tidak lama kemudian, sampailah 700 kendaraan yang sarat dengan muatannya memenuhi jalan-jalan kota Madinah dan menyibukkannya. Orang banyak saling memanggil dan menghimbau menyaksikan keramaian ini serta turut bergembira dan bersukacita dengan datangnya harta dan rizqi yang dibawa kafilah itu ……

Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘Anha demi mendengar suara hiruk pikuk itu ia bertanya: “Apakah yang telah terjadi di kota Madinah..?” Mendapat jawaban, bahwa kafilah Abdurrahman bin ‘Auf barn datang dari Svam membawa barang-barang dagangannya . .. Kata Ummul Mu’minin lagi: — “Kafilah yang telah menyebabkan semua kesibukan ini?” “Benar, ya Ummal Mu’ minin … karena ada 700 kendaraan…… !” Ummul Mu’minin menggeleng-gelengkan kepalanya, sembari melayangkan pandangnya jauh menembus, seolah-olah hendak mengingat-ingat kejadian yang pernah dilihat atau ucapan yang pernah didengarnya.
Kemudian katanya: “Ingat, aku pernah mendengar Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wa Salam bersabda:
“Kulihat Abdurrahman bin’Auf masuk surga dengan perlahan-lahan!”

Abdurrahman bin ‘Auf masuk surga dengan perlahan-lahan… ? Kenapa ia tidak memasukinya dengan melompat atau berlari kencang bersama angkatan pertama para shahabat Rasul.. ? Sebagian shahabat menyampaikan ceritera Aisyah kepadanya, maka ia pun teringat pernah mendengar Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wa Salam Hadits ini lebih dari satu kali dan dengan susunan kata yangberbeda-beda.

Dan sebelum tali-temali perniagaannya dilepaskannya,ditujukannya langkah-langkahnya ke rumah Aisyah lain berkata kepadanya: “Anda telah mengingatkanku suatu Hadits yang tak pernah kulupakannya….”. Kemudian ulasnyalagi: “Dengan ini aku mengharap dengan sangat agar anda menjadi saksi, bahwa kafilah ini dengan semua muatannya berikut kendaraan dan perlengkapannya, ku persembahkan di jalan Allah ‘azza wajalla…..!” Dan dibagikannyalah seluruh muatan 700 kendaraan itu kepada semua penduduk Madinah dan sekitarnya sebagai perbuatan baik yang maha besar ….

Peristiwa yang satu ini saja, melukiskan gambaran yang sempurna tentang kehidupan shahabat Rasulullah, Abdurahman bin ‘Auf. Dialah saudagar yang berhasil. Keberhasilan yang paling besar dan lebih sempurna! Dia pulalah orang yang kaya raya. Kekayaan yang paling banyak dan melimpah ruah …! Dialah seorang Mu’min yang bijaksana yang tak sudi kehilangan bagian keuntungan dunianya oleh kawna keuntungan Agamanya, dan tidak suka harta benda kekayaannya meninggalkannya dari kafilah iman dan pahala surga. Maka dialah Radhiyallahu ‘Anhu yang membaktikan harta kekayaannya dengan kedermawanan dan pemberian yang tidakterkira, dengan hati yang puas dan rela … !

******

Kapan dan bagaimana masuknya orang besar ini ke dalam Islam? Ia masuk Islam sejak fajar menyingsing…. Ia telah memasukinya di saat-saat permulaan da’wah, yakni sebelum Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wa Salam memasuki rumah Arqam dan menjadikannya sebagai tempat pertemuan dengan para shahabatnya orang-orang Mu’min …

Dia adalah salah seorang dari delapan orang yang dahulu masuk Islam.. . . Abu, Bakar datang kepadanya menyampaikan Islam, begitu juga kepada Utsman bin ‘Affan, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubedillah, dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Makatak ada persoalan yang tertutup bagi mereka, dan tak ada keragu-raguan yang menjadi penghalang, bahkan mereka segera pergi bersama Abu Bakar Shiddiq menemui RasuIullah Sholallahu ‘Alaihi Wa Salam menyatakan bai’at dan memikul bendera Islam….

Dan semenjak keislamannya sampai berpulang menemui Tuhannya dalam umur tujuhpuluh lima tahun, ia menjadi teladan yang cemerlang sebagai Seorang Mu’min yang besar. Hal ini menyebabkan Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wa Salam memasukkannya dalam sepuluh orang Yang telah diberi kabar gembira sebagai ahli surga.

Dan Umar Radhiyallahu ‘Anhu mengangkatnya pula sebagai anggota kelompok musyawarah yang berenam yang merupakan calon khalifah yang akan dipilih sebagai penggantinya, seraya katanya: “Rasulullah wafat dalam keadaan ridla kepada mereka!”

******

Segeralah Abdurrahman masuk Islam menyebabkannya menceritakan nasib malang berupa penganiayaan dan penindasan dari Quraisy …. Dan sewaktu Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wa Salam, memerintahkan para shahabatnya hijrah ke Nabsyi, Ibnu ‘Auf ikut berhijrah kemudian kembali lagi ke Mekah, lalu hijrah untuk kedua kalinya ke Habsyi dan kemudian hijrah ke Madinah . . . ikut bertempur di perang Badar, Uhud dan peperangan-peperangan lainnya.

********

Keberuntungannya dalam perniagaan sampai suatu batas yang membangkitkan dirinya pribadi ketakjuban dan keheranan, hingga katanya:

“Sungguh, kulihat diriku, seandainya aku mengangkat batu niscaya kutemukan di bawahnya emas dan perak……!”

Perniagaan bagi Abdurrahman bin ‘Auf Radhiyallahu ‘Anhu bukan berarti rakus dan loba .. Bukan pula suka menumpuk harta atau hidup mewah dan ria! Malah itu adalah suatu amal dan tugas kewajiban yang keberhasilannya akan menambah dekatnya jiwa kepada Allah dan berqurban di jalan-Nya …

Dan Abdurrahman bin ‘Auf seorang yang berwatak dinamis, kesenangannya dalam amal yang mulia di mana juga adanya ….Apabila ia tidak sedang shalat di mesjid, dan tidak sedang berjihad dalam mempertahankan Agama tentulah ia sedang mengurus perniagaannya yang berkembang pesat, kafilah-kafilahnya membawa ke Madinah dari Mesir dan Syria barang-barang muatan yang dapat memenuhi kebutuhan seluruh jazirah Arab berupa pakaian dan makanan …..

Dan watak dinamisnya ini terlihat sangat menonjol, ketika Kaum Muslimin hijrah ke Madinah ….Telah menjadi kebiasaan Rasul pada waktu itu untuk mempersaudarakan dua orang shahabat, salah seorang dari muhajirin warga Mekah dan yang lain dari Anshar penduduk Madinah.

Persaudaraan ini mencapai kesempurnaannya dengan cara yang harmonis yang mempesonakan hati. Orang-orang Anshar penduduk Madinah membagi dua seluruh kekayaan miliknya dengan saudaranya orang muhajirin .. , sampai-sampai soal rumahtangga. Apabila ia beristeri dua orang diceraikannya yang seorang untuk memperisteri saudaranya ……!

Ketika itu Rasul yang mulia mempersaudarakan antara Abdurrahman bin ‘Auf dengan Sa’ad bin Rabi’…. Dan marilah kita dengarkan shahabat yang mulia Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan kepada kita apa yang terjadi:
” … dan berkatalah Sa’ad kepada Abdurrahman: “Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang kaya raya, silakan pilih separoh hartaku dan ambillah! Dan aku mempunyai dua orang isteri, coba perhatikan yang lebih menarik perhatian anda, akan kuceraikan ia hingga anda dapat memperisterinya……!
Jawab Abdurrahman bin ‘Auf: “Moga-moga Allah memberkati anda, isteri dan harta anda ! Tunjukkanlah letaknya pasar agar aku dapat berniaga….!
Abdurrahman pergi ke pasar, dan berjual belilah di sana…….ia pun beroleh keuntungan …!

Kehidupan Abdurrahman bin ‘Auf di Madinah baik semasa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam maupun sesudah wafatnya terus meningkat Barang apa Saja yang ia pegang dan dijadikannya pokok perniagaan pasti menguntungkannya. Seluruh usahanya ini ditujukan untuk mencapai ridla Allah semata, sebagai bekal di alam baqa kelak…..!

Yang menjadikan perniagaannya berhasil dan beroleh berkat karena ia selalu bermodal dan berniaga barang yang halal dan menjauhkan diri dari perbuatan haram bahkan yang syubhat Seterusnya yang menambah kejayaan dan diperolehnya berkat, karena labanya bukan untuk Abdurrahman sendiri . tapi di dalamnya terdapat bagian Allah yang ia penuhi dengan setepat-tepatnya, pula digunakannya untuk memperkokoh hubungan kekeluargaan serta membiayai sanak saudaranya, serta menyediakan perlengkapan yang diperlukan tentara Islam ……

Bila jumlah modal niaga dan harta kekayaan yang lainnya ditambah keuntungannya yang diperolehnya, maka jumlah kekayaan Abdurrahman bin ‘Auf itu dapat dikira-kirakan apabila kita memperhatikan nilai dan jumlah yang dibelanjakannya pada jalan Allah Rabbul’alamin!
Pada suatu hati ia mendengar Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wa Salam bersabda:
“Wahai ibnu ‘Auf! anda termasuk golongan orang kaya dan anda akan masuk surga secara perlahan-lahan ….! Pinjamkanlah kekayaan itu kepada Allah, pasti Allah mempermudah langkah anda….!”

Semenjak ia mendengar nasihat Rasulullah ini dan ia menyediakan bagi AIlah pinjaman yang baik, maka Allah pun memberi ganjaran kepadanya dengan berlipat ganda.

Di suatu hari ia menjual tanah seharga 40 ribu dinar, kemudian uang itu dibagi-bagikannya semua untuk keluarganya dari Bani Zuhrah, untuk para isteri Nabi dan untuk kaum fakir miskin.

Diserahkannya pada suatu hari limaratus ekor kuda untuk perlengkapan balatentara islam …dan di hari yang lain seribu limaratus kendaraan. Menjelang wafatnya ia berwasiat lima puluh ribu dinar untuk jalan Allah, lain diwasiatkannya pula bagi setiap orang yang ikut perang Badar dan masih hidup, masing-masing empat ratus dinar, hingga Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu yang terbilang kaya juga mengambil bagiannya dari wasiat itu, serta katanya:
“Harta Abdurrahman bin ‘Auf halal lagi bersih, dan memakan harta itu membawa selamat dan berkat”.

******

Ibnu ‘Auf adalah seorang pemimpin yang mengendalikan hartanya, bukan seorang budak yang dikendalikan oleh hartanya …. Sebagai buktinya, ia tidak mau celaka dengan mengumpulkannya dan tidak pula dengan menyimpannya ….Bahkan ia mengumpulkannya secara santai dan dari jalan yang halal ….Kemudian ia tidak menikmati sendirian …. tapi ikut menikmatinya bersama keluarga dan kaum kerabatnya serta saudarasaudaranya dan masyarakat seluruhnya. Dan karena begitu luas pemberian serta pertolongannya, pernah dikatakan orang:

“Seluruh penduduk Madinah berserikat dengan Abdurrahman bin ‘Auf pada hartanya. Sepertiga dipinjamkannya kepada mereka . . Sepertiga lagi dipergunakannya untuk membayar hutang-hutang mereka. Dan sepertiga sisanya diberikan dan dibagi-bagikannya kepada mereka”.

Harta kekayaan ini tidak akan mendatangkan kelegaan dan kesenangan pada dirinya, selama tidak memungkinkannya untuk membela Agama dan membantu kawan-kawannya. Adapun untuk lainnya, ia selalu takut dan ragu.

Pada suatu hari dihidangkan kepadanya makanan untuk berbuka, karena waktu itu ia sedang shaum …. Sewaktu pandangannya jatuh pada hidangan tersebut, timbul selera makannya, tetapi iapun menangis sambil mengeluh:

“Mushab bin Umeir telah gugur sebagai syahid, ia seorang yang jauh lebih baik daripadaku, ia hanya mendapat kafan sehelai burdah; jika ditutupkan ke kepalanya maka kelihatan kakinya, dan jika ditutupkan kedua kakinya terbuka kepalanya!

Demikian pula Hamzah yang jauh lebih baik daripadaku, ia pun gugur sebagai syahid, dan di saat akan dikuburkan hanya terdapat baginya sehelai selendang. Telah dihamparkan bagi kami dunia seluas-luasnya, dan telah diberikan pula kepada kami hasil sebanyak-banyaknya. Sungguh kami khawatir kalau-kalau telah didahdukan pahala kebaikan kami…!”

Pada suatu peristiwa lain sebagian shahabatnya berkumpul bersamanya menghadapi jamuan di rumahnya. Tak lama sesudah makanan diletakkan di hadapan mereka, ia pun menangis; karena itu mereka bertanya:”Apa sebabnya anda menangis wahai Abu Muhammad … ?” Ujarnya: “Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wa Salam telah wafat dan tak pernah beliau berikut ahli rumahnya sampai kenyang makan roti gandum, apa harapan kita apabila dipanjangkan usia tetapi tidak menambah kebaikan bagi kita … ?”

Begitulah ia, kekayaannya yang melimpah-limpah, sedikitpun tidak membangkitkan kesombongan dan takabur dalam dirinya …. ! Sampai-sampai dikatakan orang tentang dirinya:

“Seandainya seorang asing yang belum pernah mengenalnya, kebetulan melihatnya sedang duduk-duduk bersama pelayan-pelayannya, niscaya ia tak akan sanggup membedakannya dari antara mereka!”

Tetapi bila orang asing itu mengenal satu segi saja dari perjuangan ibnu ‘Auf dan jasa-jasanya, misalnya diketahuinya bahwa di badannya terdapat duapuluh bekas luka di perang Uhud, dan bahwa salah satu dari bekas luka ini meninggalkan cacad pincang yang tidak sembuhsembuh pada salah satu kakinya……sebagaimana pula beberapa gigi seri rontok di perang Uhud, yang menyebabkan kecadelan yang jelas pada ucapan dan pembicaraannya …. Di waktu itulah orang baru akan menyadari bahwa lakilaki yang berperawakan tinggi dengan air muka berseri dan kulit halus, pincang serta cadel, sebagai tanda jasa dari perang Uhud, itulah orang yang bernama Abdurrahman bin ‘Auf … ! Semoga Allah ridla kepadanya dan ia pun ridla kepada Allah … !

******

Sudah menjadi kebiasaan pada tabi’at manusia bahwa harta kekayaan mengundang kekuasaan … artinya bahwa orang-orang kaya selalu gandrung untuk memiliki pengaruh guna melindungi kekayaan mereka dan melipat gandakannya, dan untuk memuaskan nafsu, sombong, membanggakan dan mementingkan diri sendiri, yakni sifat-sifat yang biasa dibangkitkan oleh kekayaan… !

Tetapi bila kita melihat Abdurrahman bin ‘Auf dengan kekayaannya yang melimpah ini, kita akan menemukan manusia ajaib yang sanggup menguasai tabi’at kemanusiaan dalam bidang ini dan melangkahinya ke puncak ketinggian yang unik … !

Peristiwa ini terjadi sewaktu Umar bin Khatthab hendak berpisah dengan ruhnya yang suci dan ia memilih enam orang tokoh dari para shahabat Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wa Salam sebagai formatur agar mereka memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi khalifah yang baru….

Jari-jari tangan sama-sama menunjuk dan mengisyaratkan Ibnu ‘Auf …. Bahkan sebagian shahabat telah menegaskan bahwa dialah orang yang lebih berhak dengan khalifah di antara yang enam itu, maka ujamya: “Demi Allah, daripada aku menerima jabatan tersebut, lebih balk ambil pisau lain taruh ke atas leherku, kemudian kalian tusukkan sampai tembus ke sebelah. ..!”

Demikianlah, baru saja kelompok Enam formatur itu mengadakan pertemuan untuk memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi khalifah yang akan menggantikan al-Faruk, Umar bin Khatthab maka kepada kawan-kawannya yang lima dinyatakannya bahwa ia telah melepaskan haknya yang dilimpahkan Umar kepadanya sebagai salah seorang dari enam orang calon yang akan dipilih menjadi khalifah. Dan adalah kewajiban mereka untuk melakukan pemilihan itu terbatas diantara mereka yang berlima saja ….

Sikap zuhudnya terhadap jabatan pangkat ini dengan cepat telah menempatkan dirinya sebagai hakim di antara lima orang tokoh terkemuka itu. Mereka menerima dengan senang hati agar Abdurrahman bin ‘Auf menetapkan pilihan khalifah itu terhadap salah seorang di antara mereka yang berlima, sementara Imam Ali mengatakan:

“Aku pernah mendengar Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wa Salam bersabda, bahwa anda adalah orang yang dipercaya oleh penduduk langit, dan dipercaya pula oleh penduduk bumi … !”

Oleh Ibnu ‘Auf dipilihlah Utsman bin Affan untuk jabatan khalifah dan yang lain pun menyetujui pilihannya.

*****

Nah, inilah hakikat seorang laki-laki yang kaya raya dalam Islam! Apakah sudah anda perhatikan bagaimana Islam telah mengangkat dirinya jauh di atas kekayaan dengan segala godaan dan penyesatannya itu, dan bagaimana ia menempa kepribadiannya dengan sebaik-baiknya?

Dan pada tahun ketigapuluh dua Hijrah, tubuhnya berpisah dengan ruhnya …. Ummul Mu’minin Aisyah ingin memberinya kemuliaan khusus yang tidak diberikannya kepada orang lain,maka diusulkannya kepadanya sewaktu ia masih terbaring diranjang menuju kematian, agar ia bersedia dikuburkan di pekarangan rumahnya berdekatan dengan Rasulullah, Abu Bakar dan Umar….

Akan tetapi ia memang seorang Muslim yang telah dididik Islam dengan sebaik-baiknya, ia merasa malu diangkat dirinya pada kedudukan tersebut … !

Pula dahulu ia telah membuat janji dan ikrar yang kuat dengan Utsman bin Madh’un, yakni bila salah seorang di antara mereka meninggal sesudah yang lain maka hendaklah ia dikuburkan di dekat shahabatnya itu … !

******

Selagi ruhnya bersiap-siap memulai perjalanannya yang baru, air matanya meleleh sedang lidahnya bergerak-gerak mengucapkan kata-kata:

“Sesungguhnya aku khawatir dipisahkan dari shahabat-shahabatku karena kekayaanku yang melimpah ruah … !”
Tetapi sakinah dari Allahsegera menyelimutinya, lain satu senyuman tipis menghiasi wajahnya disebabkan sukacita yang memberi cahaya serta kebahagiaan yang menenteramkan jiwa… Ia memasang telinganya untuk menangkap sesuatu ….seolah-olah ada suara yang lembut merdu yang datang mendekat ….
Ia sedang mengenangkan kebenaran sabda Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wa Salam yang pernah beliau ucapkan: “Abdurrahman bin ‘Auf dalam surga!”, lagi pula ia sedang mengingat-ingat janji Allah dalam kitab-Nya:

“Orang-orang yang membelanjakan hartanya dijalan Alloh kemudian mereka tidak mengiringi apa yang telah mereka nafqahkan itu dengan membangkit-bangkit pemberiannnya dan tidak pula kata-kata yang menyakitkan, niscaya mereka beroleh pahala di sisi Tuhan mereka; mereka tidak usah merasa takut dan tidak pula berdukacita … !”(QS. 2 al-Baqarah: 262)

******

Posted on 15 Dec 2006 by eL_piojo

 

Read Full Post »

Older Posts »