Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2007

Demam

APAKAH DEMAM ITU?

Tubuh kita memiliki hipotalamus anterior di otak yang bertugas mengatur agar suhu tubuh stabil (termostat) yaitu berkisar 37 +/- 1 derajat selsius.  

Pengukuran Suhu

Suhu di daerah dubur (temperatur rektal) paling mendekati suhu tubuh sebenarnya (core body temperature). Suhu di daerah mulut atau ketiak (aksila) sekitar 0,5 sampai 0,8 derajat lebih rendah dari suhu rektal, dengan catatan setelah pengukuran selama minimal 1 menit. Tidak dianjurkan mengukur (“menebak”) suhu tubuh berdasarkan perabaan tangan (tanpa mempergunakan termometer)

Fisiologi Demam (Bagaimana Demam Terjadi)

Demam biasanya terjadi akibat tubuh terpapar infeksi mikroorganisme (virus, bakteri, parasit). Demam juga bisa disebabkan oleh faktor non infeksi seperti kompleks imun, atau inflamasi (peradangan) lainnya. Ketika virus atau bakteri masuk ke dalam tubuh, berbagai jenis sel darah putih atau leukosit melepaskan “zat penyebab demam (pirogen endogen)” yang selanjutnya memicu produksi prostaglandin E2 di hipotalamus anterior, yang kemudian meningkatkan nilai-ambang temperatur dan terjadilah demam. Selama demam, hipotalamus cermat mengendalikan kenaikan suhu sehingga suhu tubuh jarang sekali melebihi 41 derajat selsius.  

DAMPAK DEMAM

Dampak Menguntungkan terhadap Fungsi Imunitas (Daya Tahan) Tubuh

Beberapa bukti penelitian ‘in-vitro’ (tidak dilakukan langsung terhadap tubuh manusia) menunjukkan fungsi pertahanan tubuh manusia bekerja baik pada temperatur demam, dibandingkan suhu normal. IL-1 dan pirogen endogen lainnya akan “mengundang” lebih banyak leukosit dan meningkatkan aktivitas mereka dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Demam juga memicu pertambahan jumlah leukosit serta meningkatkan  produksi/fungsi interferon (zat yang membantu leukosit memerangi mikroorganisme).  

Dampak Negatif

Pertama, kemungkinan dehidrasi (kekurangan cairan tubuh). Ketika mengalami demam, terjadi peningkatan penguapan cairan tubuh sehingga anak bisa kekurangan cairan.  

Kedua, kekurangan oksigen. Saat demam, anak dengan penyakit paru-paru  atau penyakit jantung-pembuluh darah bisa mengalami kekurangan oksigen sehingga penyakit paru-parau atau kelainan jantungnya   infeksi saluran napas akut (Isakan semakin berat.

Ketiga, demam di atas 42 derajat selsius bisa menyebabkan kerusakan neurologis (saraf), meskipun sangat jarang terjadi. Tidak ada bukti penelitian yang menunjukkan terjadinya kerusakan neurologis bila demam di bawah 42 derajat selsius.

Terakhir, anak di bawah usia 5 tahun (balita), terutama pada umur di antara 6 bulan dan 3 tahun, berada dalam risiko kejang demam (febrile convulsions), khususnya pada temperatur rektal di atas 40 derajat selsius. Kejang demam biasanya hilang dengan sendirinya, dan tidak menyebabkan gangguan neurologis (kerusakan saraf). Lihat guideline kejang demam.

Demam seringkali disertai dengan gejala lain seperti sakit kepala, nafsu makan menurun (anoreksia), lemas, dan nyeri otot. Sebagian besar di antaranya berhubungan dengan zat penyebab demam tadi.

Demam pada Infeksi Virus

Demam pada bayi dan anak umumnya disebabkan oleh infeksi virus. Pada demam yang disertai sariawan, ruam cacar, atau ruam lainnya yang mudah dikenali, virus sebagai penyebab demam dapat segera disimpulkan tanpa membutuhkan pemeriksaan khusus. Demam ringan juga dapat ditemukan pada anak dengan batuk pilek (common colds), dengan rinovirus salah satu penyebab terseringnya. Penyebab lain demam pada anak adalah enteritis (peradangan saluran cerna) yang disebabkan terutama oleh rotavirus.

Penyakit yang disebabkan virus adalah self-limiting disease (akan berakhir dan sembuh dengan sendirinya).  

Demam pada Infeksi Bakteri

Di antara demam yang disebabkan oleh infeksi bakteri pada anak, salah satu yang paling sering ditemukan adalah infeksi saluran kemih (ISK). Umumnya tidak disertai dengan gejala lainnya. Risiko paling besar dimiliki bayi yang berusia di bawah 6 bulan.  

Infeksi bakteri yang lebih serius seperti pneumonia atau meningitis (infeksi selaput otak) juga dapat menimbulkan gejala demam. Namun demikian persentasenya tidaklah besar. Dari bayi > 3 bulan dan anak 1-3 tahun dengan demam > 39C, hanya 2% (1–3.6%) saja yang bakterinya sudah memasuki peredaran darah (bakteremia).  

Pada golongan usia ini, program imunisasi HiB berhasil menurunkan risiko meningitis bakterial secara sangat signifikan. S. pneumoniae (penyebab utama infeksi bakteri yang cukup serius) hanya ditemukan pada < 2 % populasi. Dan sebagian besar anak dalam golongan usia ini dapat mengatasi S. pneumoniae tanpa antibiotika. Hanya 10 %-nya yang berlanjut menjadi pneumonia yang lebih berat dan 3-6 % menjadi meningitis.  

Usia yang menuntut kewaspadaan tinggi orangtua dan dokter adalah usia di bawah 3 bulan. Bayi harus menjalani pemeriksaan yang lebih teliti karena 10 %-nya dapat mengalami infeksi bakteri yang serius, dan salah satunya adalah meningitis. Untuk memudahkan penilaian risiko tersebut, Rochester menetapkan beberapa poin untuk mengidentifikasi risiko rendah infeksi bakteri serius pada bayi yang demam. Kriteria Rochester ini adalah: 

  • Bayi tampak baik-baik saja
  • Bayi sebelumnya sehat :
    • Lahir cukup bulan (≥ 37 minggu kehamilan)
    • Tidak ada riwayat pengobatan untuk hiperbilirubinemia (kuning) tanpa sebab yang jelas
    • Tidak ada riwayat pengobatan dengan antibiotika
    • Tidak ada riwayat rawat inap
    • Tidak ada penyakit kronis atau penyakit lain yang mendasari demam
    • Dipulangkan dari tempat bersalin bersama / sebelum ibu
  • Tidak ada tanda infeksi kulit, jaringan lunak, tulang, sendi, atau telinga
  • Nilai laboratorium sebagai berikut  :
    • Leukosit 5000 – 15000/µl
    • Hitung jenis neutrofil batang 1500/µl
    • ≤10 leukosit/LPB di urin
    • ≤ 5 eritrosit (sel darah merah)/LPB pada feses bayi dengan diare  

Walaupun diketahui bahwa sebagian besar penyebab demam adalah infeksi virus, namun data menunjukkan bahwa justru sebagian besar tenaga medis mendiagnosisnya  sebagai infeksi bakteri. Dalam satu penelitian di Amerika Serikat, persentase ini mencapai 56 %. Dan pada penelitian yang sama masih ditemukan adanya pemberian antibiotik pada demam yang belum jelas diidentifikasi penyebabnya (virus atau bakteri).  

Efek Obat Pereda Demam (Antipiretik)

Sebuah penelitian melaporkan relawan dewasa yang secara sukarela diinfeksi virus Rhinovirus dan diterapi dengan aspirin dosis terapetik (dosis yang lazim digunakan dalam pengobatan), lebih cenderung menjadi sakit dibandingkan yang mendapatkan plasebo. Hasil serupa (meski tidak signifikan), dilaporkan dengan penggunaan aspirin dan parasetamol. Lebih lanjut, penggunaan kedua obat ini, ditambah ibuprofen, meningkatkan penyumbatan di hidung (obstruksi nasal) dan menekan respon antibodi  Penelitian-penelitian lain belum menunjang temuan ini.  

Pada sebuah survei terhadap 147 anak dengan infeksi bakteri, tidak ada perbedaan lama rawat inap pada mereka yang diberi dua atau lebih obat antipiretik, dibandingkan yang menerima satu, atau sama sekali tidak diberi antipiretik.  

Sebuah penelitian randomized terhadap anak-anak demam yang diduga akibat virus, menunjukkan parasetamol tidak mengurangi lamanya demam dan tidak menghilangkan gejala-gejala yang terkait. Namun demikian, parasetamol membuat anak sedikit lebih aktif dan lebih bugar.  

REKOMENDASI TATA LAKSANA DEMAM

Pengobatan dengan Antipiretik

Mekanisme Kerja

Parasetamol, aspirin, dan obat anti inflamasi non steroid (OAINS) lainnya adalah antipiretik yang efektif. Bekerja dengan cara menghambat produksi prostaglandin E2 di hipotalamus anterior (yang meningkat sebagai respon adanya pirogen endogen).  

Parasetamol

Parasetamol adalah obat pilihan pada anak-anak. Dosisnya sebesar 10-15 mg/kg/kali.  

Parasetamol dikonjugasikan di hati menjadi turunan sulfat dan glukoronida, tetapi ada sebagian kecil dimetabolisme membentuk intermediet aril yang hepatotoksik (menjadi racun untuk hati) jika jumlah zat hepatotoksik ini melebihi kapasitas hati untuk memetabolismenya dengan glutation atau sulfidril lainnya (lebih dari 150 mg/kg). Maka sebaiknya tablet 500 mg tidak diberikan pada anak-anak (misalnya pemberian tiga kali tablet 500 mg dapat membahayakan  bayi dengan berat badan di bawah 10 kg). Kemasan berupa sirup 60 ml lebih aman.

Aspirin

Merupakan antipiretik yang efektif namun penggunaannya pada anak dapat menimbulkan efek samping yang serius. Aspirin bersifat iritatif terhadap lambung sehingga meningkatkan risiko ulkus (luka) lambung, perdarahan, hingga perforasi (kebocoran akibat terbentuknya lubang di dinding lambung). Aspirin juga dapat menghambat aktivitas trombosit (berfungsi dalam pembekuan darah) sehingga dapat memicu risiko perdarahan). Pemberian aspirin pada anak dengan infeksi virus terbukti meningkatkan risiko Sindroma Reye, sebuah penyakit yang jarang (insidensinya sampai tahun 1980 sebesar 1-2 per 100 ribu anak per tahun), yang ditandai dengan kerusakan hati dan ginjal. Oleh karena itu, tidak dianjurkan untuk anak berusia < 16 tahun.

Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS)

Jenis OAINS yang paling sering digunakan pada anak adalah ibuprofen. Dosis sebesar 5-10 mg/kg/kali mempunyai efektifitas antipiretik yang setara dengan aspirin atau parasetamol. Sama halnya dengan aspirin dan OAINS lainnya, ibuprofen bisa menyebabkan ulkus lambung, perdarahan, dan perforasi, meskipun komplikasi ini jarang pada anak-anak. Ibuprofen juga tidak direkomendasikan untuk anak demam yang mengalami diare dengan atau tanpa muntah.  

Jenis Lainnya

Turunan pirazolon seperti fenilbutazon dan dipiron, efektif sebagai antipiretik, tetapi jauh lebih toksik (membahayakan).

Terapi Suportif

Upaya Suportif yang Direkomendasikan

Tingkatkan asupan cairan (ASI, susu, air, kuah sup, atau jus buah). Minum banyak juga mampu menjadi ekspektoran (pelega saluran napas) dengan mengurangi produksi lendir di saluran napas. Jarang terjadi dehidrasi berat tanpa adanya diare dan muntah terus-menerus.. Hindari makanan berlemak atau yang sulit dicerna karena demam menurunkan aktivitas lambung.

Kenakan pakaian tipis dalam ruangan yang baik ventilasi udaranya. Anak tidak harus terus berbaring di tempat tidur)tetapi dijaga agar tidak melakukan aktivitas berlebihan.

Mengompres atau anak dengan air hangat dapat dilakukan jika anak rewel merasa sangat tidak nyaman, umumnya pada suhu sekitar 40 selsius. Mengompres dapat dilakukan dengan meletakkan anak di bak mandi yang sudah diisi air hangat. Lalu basuh badan, lengan, dan kaki anak dengan air hangat tersebut.  

Umumnya mengompres anak akan menurunkan demamnya dalam 30-45 menit. Namun jika anak merasa semakin tidak nyaman dengan berendam, jangan lakukan hal ini.  

Upaya Suportif yang Tidak Direkomendasikan

Upaya ‘mendinginkan’ badan anak dengan melepaskan pakaiannya, memandikan atau membasuhnya dengan air dingin, atau mengompresnya dengan alkohol. Jika nilai-ambang hipotalamus sudah direndahkan terlebih dahulu dengan obat, melepaskan pakaian anak atau mengompresnya dengan air dingin justru akan membuatnya menggigil (dan tidak nyaman), sebagai upaya tubuh menjaga temperatur pusat berada pada nilai-ambang yang telah disesuaikan. Selain itu alkohol dapat pula diserap melalui kulit masuk ke dalam peredaran darah, dan adanya risiko toksisitas.  

KESIMPULAN

Pandangan masyarakat akan demam terus berubah. Kini demam dianggap sebagai respon ‘sehat’ terhadap penyakit dan dianggap wajar. Pengobatan secara ‘agresif’ harus dibuktikan oleh bukti-bukti ilmiah. Sehingga terapi yang rasional adalah menenangkan pasien dan tenaga kesehatan, serta meyakinkan bahwa merekalah yang ‘mengendalikan’ penyakit anaknya, bukan ‘dikendalikan’ penyakit.  

Upaya menangani demamnya bukanlah prioritas utama. Tindakan pertama adalah mengidentifikasi adakah infeksi bakteri (pneumonia, otitis media, faringitis streptokokus, meningitis, atau sepsis), dan kalau perlu merujuk ke RS untuk tindakan selanjutnya.  

Baik orangtua maupun  tenaga kesehatan seharusnya tidak otomatis memberikan obat pereda demam pada semua anak demam. “Tangani anaknya, bukan termometernya”. Usaha meredakan demam lebih ditujukan mengatasi ketidaknyamanan anak (jika memang signifikan), dan biasanya diperoleh melalui pemberian parasetamol secara oral pada anak yang hanya mengalami demam tinggi saja. Hal ini akan menciptakan layanan kesehatan (dan keluarga) yang efisien semata-mata ditujukan bagi kebaikan anak, menekankan pada upaya mencari penyebab serta melalui usaha mengurangi polifarmasi yang tidak perlu, serta memprioritaskan pengobatan esensial saja.

(Disusun oleh dr Arifianto dan dr Nurul Itqiyah Hariadi)  

Catatan: Panduan / guideline ini dapat senantiasa mengalami perubahan seiring dengan ditemukannya perkembangan ilmiah terkini, dan adanya guideline terbaru yang dapat diadaptasi.

Advertisements

Read Full Post »

Bulan Rajab

Hadits Tentang…

Senin, 30 Jul 07 08:55 WIB

Tolong jelaskan tentang hadits yang berkaitan dengan amalan dibulan rajab. Sebab saya pernah membaca bahwa di antara banyak hadits tentang bulan Rajab yang kita sering dengar adalah Hadist Maudhu’, Dhoif, atau bahkan Matruk secara Sanad & Teks. di antaranya:

“Artinya: Rajab bulan Allah, Sya’ban bulanku dan Ramadhan adalah bulan ummatku”
Keterangan: HADITS INI ” MAUDHU’
Kata Syaikh ash-Shaghani (wafat th. 650 H), “Hadits ini maudhu’. ” [Lihat Maudhu’atush Shaghani (I/61, no. 129)]
Hadits tersebut mempunyai matan yang panjang, lanjutan hadits itu ada lafazh:
“Artinya: Janganlah kalian lalai dari (beribadah) pada malam Jum’at pertama di bulan Rajab, karena malam itu Malaikat menamakannya Raghaaib… ”
Keterangan: HADITS INI MAUDHU’
Kata Ibnul Qayyim (wafat th. 751 H), “Hadits ini diriwayatkan oleh ‘Abdur Rahman bin Mandah dari Ibnu Jahdham, telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Muhammad bin Sa’id al-Bashry, telah menceritakan kepada kami Khalaf bin ‘Abdullah as-Shan’any, dari Humaid Ath-Thawil dari Anas, secara marfu’.
[Al-Manaarul Muniif fish Shahih wadh Dha’if (no. 168-169)]
Kata Ibnul Jauzi (wafat th. 597 H), “Hadits ini palsu dan yang tertuduh memalsukannya adalah Ibnu Jahdham, mereka menuduh sebagai pendusta. Aku telah mendengar Syaikhku Abdul Wahhab al-Hafizh berkata, “Rawi-rawi hadits tersebut adalah rawi-rawi yang majhul (tidak dikenal), aku sudah periksa semua kitab, tetapi aku tidak dapati biografi hidup mereka. ” [Al-Maudhu’at (II/125), oleh Ibnul Jauzy]
Imam adz-Dzahaby berkata, ” ‘Ali bin ‘Abdullah bin Jahdham az-Zahudi, Abul Hasan Syaikhush Shuufiyyah pengarang kitab Bahjatul Asraar dituduh memalsukan hadits. ”
Kata para ulama lainnya, “Dia dituduh membuat hadits palsu tentang shalat ar-Raghaa’ib. ” [Periksa: Mizaanul I’tidal (III/142-143, no. 5879)]

Mohon penjelasan dari ustadz, terima kasih

Ar

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Hak untuk memberikan status hukum pada sebuah hadits memang dimiliki oleh para ahli hadits, dan mereka memang telah memiliki ilmunya, sehingga apa yang mereka katakan tentang suatu hadits tentu tidak bisa dibantah begitu saja.

Kecuali bila dibantah oleh ahli hadits lainnya, yang juga pakar di bidang ilmu hadits dan tentunya ilmunya sebanding.

Dan nampaknya para ahli hadits memang senada ketika menilai hadits-hadits tentang keutamaan bulan Rajab dan Sya’ban. Yaitu umumnya mereka menilai hadits-hadits itu kurang kuat, tidak shahih, lemah bahka ada yang sampai ke tingkat hadits palsu.

Lalu bagaimana sikap kita dalam masalah ini? Bolehkah kita mengamalkan hadits-hadits lemah dan palsu?

Jawabnya boleh dan tidak boleh. Maksudnya, hadits-hadits yang lemah tapi tidak sampai ke tingkat palsu, boleh dikerjakan atau diamalakan. Syaratnya sederhana sekali, yaitu tingkat kelemahannya tidak terlalu parah. Dan isinya tidak menyangkut wilayah aqidah dan hukum halal-haram masalah syariah. Tetapi sekedar masalah fadhailul a’mal.

Ini adalah pendapat sebagian besar ulama termasuk al-Imam An-Nawawi rahimahullah. Menurut kelompok ulama ini, selama hanya terkait dengan fadhilah (keutamaan), ajakan untuk mengerjakan hal-hal yang terkait dengan ibadah tambahan (nafilah), maka boleh bersandar kepada hadits yang derajatnya lemah.

Akan tetapi kalau sudah pada tingkat penetapan halal dan haram, apalagi tingkat tertentu dari masalah aqidah, maka hadits lemah tidak boleh diamalkan.

Namun ada juga sebagian ulama dari kalangan lainnya yang tetap mengharamkan kita untuk mengamalkan hadits lemah, meski hadits itu masyhur. Sebab kelemahan suatu hadits justru menunjukkan bahwa tidak bisa dipastikan bahwa sumbernya dari Rasulullah SAW. Padahal urusan ibadah tidak boleh dilakukan kecuali kalau sumbernya benar-benar 100% dipercaya datang dari Rasulullah SAW.

Maka kesimpulan mereka, haram hukumnya beribadah dengan berdasarkan hadits yang tidak shahih.

Adapun hadits palsu (maudhu’), semua ulama sepakat untuk menerimanya, apalagi mengamalkannya.

Puasa Bulan Rajab dan Sya’ban

Dalam masalah puasa di bulan Rajab dan Sya`ban, kita hanya mendapatkan hadits-hadits shahih atau hasan yang menceritakan bahwa secara umum Rasulullah SAW memang banyak melakukan puasa di kedua bulan tersebut. Karena bulan Rajab termasuk bulan haram, dan puasa di bulan-bulan haram itu maqbul (diterima) dan mustahab (disukai) dalam keadaan apapun.

Namun tidak ada riwayat yang kuat menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melakukan puasa sebulan penuh di bulan Rajab atau di bulan Sya`ban.
Sedangkan hadits-hadits yang menceritakan bahwa kalau melakukan shalat ini dan itu di bulan Rajab maka mendapat ganjaran ini dan itu, atau siapa yang beristighfar akan mendapat ganjaran tertentu, umumnya bukanlah hadits yang kuat, bahkan kebanyakannya adalah hadits dhaif dan mungkar.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

”Tujuan Didirikannya IAIN”

Pendirian IAIN yang tadinya untuk ’memperjuangkan Islam’ kini sebaliknya. Berkiblat orientalis Barat.

Dalam dua pekan terakhir, saya berkesempatan mengisi berbagai acara dawrah dirasah Islamiyah dan workshop tentang pemikiran Islam di berbagai daerah: Denpasar, Bogor, Makasar, Malang, Semarang, dan Solo. Daurah dan workshop ini diikuti oleh kalangan dosen, mahasiswa, para ustad, dan wakil-wakil dari berbagai organisasi dan lembaga Islam.

Ketika saya menyampaikan peta pemikiran Islam dan tren perkembangan paham liberalisme di lingkungan perguruan tinggi Islam dewasa ini, muncul banyak pertanyaan, bagaimana mungkin semua itu bisa terjadi?

Dari laporan sejumlah peserta dawrah yang mengambil kuliah S-2 studi Islam di berbagai perguruan tinggi Islam di daerahnya, rata-rata menceritakan tentang dosen yang mengajarkan paham relativisme. Dalam satu forum, ada seorang dosen di Malang yang secara terbuka menyampaikan bahwa Islam adalah banyak dan tidak satu.

Dia berkata di depan forum: ”Islam yang mana yang Anda kembangkan? Tafsir yang mana yang bisa dijadikan rujukan? Bukankah para mufasir itu juga berbeda-beda pendapatnya?” Dalam acara di Solo, pertanyaan serupa juga diajukan kepada saya lagi oleh seorang dosen sebuah Perguruan Tinggi Islam?

Saya jawab ketika itu, bahwa pemahaman seperti itu adalah keliru, dan sudah tercemar virus relativisme. Dari penyebaran virus relativisme di berbagai perguruan Tinggi Islam ini, sebenarnya bisa dilacak dari mana sumber dan distributornya. Relativisme adalah doktrin bahwa ilmu, kebenaran, dan moralitas senantiasa terkait dengan budaya, sosial, dan konteks historis, dan tidak bersifat absolut. (the doctrine that knowledge, truth, and morality exist in relation to culture, society, or historical context, and are not absolute).

Dengan perspektif pemahaman seperti itulah maka para pengusung paham ini menerapkan pola pikir tersebut terhadap Al-Quran dan tafsir Al-Quran. Mereka biasa mengatakan, bahwa Al-Quran adalah produk budaya; bahwa tafsir Al-Quran adalah relatif karena merupakan produk akal manusia yang relatif. Ujung-ujungnya mereka mengatakan, bahwa manusia tidak tahu kebenaran, bahwa yang tahu kebenaran hanya Allah.

Karena itu, kata mereka, tidak boleh mengklaim agamanya atau pendapatnya sendiri yang benar dan menyalahkan pendapat orang lain. Lebih lanjut lagi, kata mereka, hukum-hukum Islam pun bersifat relatif dan terkait dengan budaya Arab.

Kita sudah beberapa kali membahas bahaya paham relativisme ini bagi kaum Muslim. Karena itu, virus ini perlu ditanggulangi dengan serius, karena sudah disebarkan oleh banyak dosen di Perguruan Tinggi Islam. Maka, sangatlah bisa dimengerti jika banyak sarjana agama Islam, justru menjadi tidak yakin dengan Islam, karena sudah terjangkit virus relativisme, dan kemudian juga menjadi agen baru penyebar paham ini kepada masyarakat. Bayangkan, jika virus ini terus menjangkiti para mahasiswa studi Islam, maka bisa dibayangkan, sekitar 5-10 tahun ke depan, akan muncul guru-guru agama, dosen agama, birokrat agama, mubaligh, khatib Jumat yang secara halus menyebarkan virus ini kepada masyarakat, sehingga memunculkan keraguan terhadap kebenaran Islam.

Tentu saja, penyebaran virus relativisme ini sangat bertentangan dengan niat dan tujuan awal didirikannya kampus-kampus Islam.

Dalam Penjelasan Perpres 11/1960 tentang pendirian IAIN disebutkan, bahwa pendidikan tentang Agama dan Ilmu Keagamaan Islam sangatlah penting, mengingat agama Islam dipeluk oleh sebagian besar bangsa Indonesia. Bagi bangsa Indonesia, selain sebagai suatu agama, Islam juga ‘’merupakan dan sudah meluluh adat-istiadat jang meresapi segala aspek hidup dan kehidupannya. Dengan demikian mempertinggi taraf pendidikan dalam lapangan Agama dan Ilmu Pengetahuan Islam adalah berarti mempertinggi taraf kehidupan bangsa Indonesia dalam lapangan kerochanian (spirituil) dan ataupun dalam taraf intellektualismenja.’’

Dengan niat yang baik dan praktis tersebut, maka pada tanggal 2 Rabi’ulawwal 1380 H bertepatan dengan 24 Agustus 1960, Menteri Agama K.H. Wahib Wahab meresmikan pembukaan Institut Agama Islam Negeri ‘’Al-Djami’ah al-Islamiyah al-Hukumijah’’ di Yogyakarta.

Dalam acara peringatan Sewindu IAIN, tahun 1968, di Yogyakarta, Menteri Agama K.H.M. Dachlan menyatakan : ‘’Institut Agama Islam Negeri pada permulaannja merupakan suatu tjita-tjita yang selalu bergelora di dalam djiwa para Pemimpin Islam jang didorong oleh hadjat-kebutuhan terhadap adanja sebuah Perguruan Tinggi yang dapat memelihara dan mengemban adjaran2 Sjariat Islam dalam tjorak dan bentuknja yang sutji murni bagi kepentingan Angkatan Muda, agar kelak di kemudian hari dapat memprodusir Ulama2 dan Sardjana2 jang sungguh-sungguh mengerti dan dapat mengerdjakan setjara praktek jang disertakan dengan pengertian yang mendalam tentang hukum2 Islam sebagaimana jang dikehendaki oleh Allah Jang Maha Pengasih dan Penjajang.’’

Lebih jauh lagi, Menteri Agama K.H.M. Dachlan yang merupakan seorang tokoh NU, menyampaikan dalam pidatonya tersebut pentingnya memelihara semangat untuk melawan penjajahan dalam dunia pendidikan.

Dia katakan :

‘’Di dalam rapat2 sering kami djelaskan, bahwa dimasa pendjadjahan kita telah berhidjrah (non Cooperation/tidak kerdja sama) dengan pendjadjah, akibat sikap yang demikian itu kita tidak menjekolahkan anak2 kita didalam Sekolah2 jang diadakan oleh Kaum Pendjadjah. Sebaliknja anak-anak kita semuanja beladjar dan mendapatkan pendidikan di Sekolah2 Agama (Madrasah2 dan Pesantren jang kita adakan sendiri) karena kita mendjaga djangan sampai anak2 kita keratjunan dengan pendidikan/peladjaran yang diberikan oleh Pendjadjah dimasa itu, dimana anak2 ditjiptakan untuk mendjadi hamba Pendjadjah untuk menjadi orang-orang jang membantu pendjadjah didalam usahanja memprodusir manusia2 robot untuk kepentingan mereka.’’

Mengapa Perguruan Tinggi ini menggunakan nama ‘Islam’ ? Menteri Agama K.H.M. Dachlan menjelaskan sebagai berikut :

‘’Nama Islam jang dihubungkan dengan Institut ini, djuga merupakan suatu manifestasi tentang adanja suatu ikatan jang kokoh kuat dan jang telah berakar-berurat didalam djiwa kita semuanya, jaitu dalam hubungan seorang Muslim dengan sesama Saudaranya, jang tak dapat dipisahkan karena berlainan darah, berlainan bahasa, berlainan warna, berlainan tanah air (Negara) dan sebagainja, hal mana telah mengikat kesatuan Ummat Islam satu dengan lainnja, sehingga Agama, kehormatan dan harakat-martabat Ummat Islam terlindung oleh ikatan jang teguh kuat itu, jang menjebabkan orang2 dan penguasa tyrani dimasa lampau tak berani menjentuh badan djasmani kita dengan sesuatu siksaan atau pukulan, karena kita telah menjadi satu badan, bilamana suatu anggauta-tubuh badan itu ditjubit orang, maka seluruh badan tersebut akan ikut merasakan pedih dan sakitnja.’’

Pada kesempatan itu, Menteri Agama juga membeberkan tantangan dan rintangan yang berat dalam upaya mendirikan IAIN yang menurutnya dilakukan oleh ”orang-orang yang tidak menghendaki kemajuan Islam’’.

Karena itu, kata Menteri Agama, sejak awal dilahirkan, IAIN senantiasa berusaha dan bekerja keras untuk mengisi otak dan jiwa Angkatan Muda dengan mental Islam dan membeberkan kepada mereka sejarah Islam yang sebenarnya, karena generasi muda telah melalaikan atau belum mengetahuinya. Tujuan lain dari IAIN, menurut Menteri, ‘’membasmi tachajjul dan churafat jang telah ditimbulkan oleh kelalaian kita akan adjaran ALLAH dan kurangnya pengertian Generasi Baru kita terhadap tudjuan Islam jang sutji murni.’’

Dari niat, tujuan, dan semangat para tokoh Islam dalam pendirian IAIN tampak bagaimana kuatnya dorongan semangat perjuangan Islam. Dari kampus inilah diharapkan lahir para cendekiawan dan ulama yang tinggi ilmu dan kuat mental Islamnya. Karena itu, pendirian IAIN bisa dilihat sebagai salah satu buah perjuangan Islam di Indonesia. Kampus ini telah melahirkan banyak sarjana Muslim dalam berbagai bidang keilmuan yang tidak sedikit jasanya dalam pelaksanaan ajaran Islam di Indonesia. Di bidang pendidikan agama, peradilan agama, dakwah di tengah masyarakat, IAIN bisa dikatakan telah memainkan peran yang sangat penting.

Tapi, pada sisi lain, harus diakui, ada banyak sisi yang perlu menjadi perhatian besar. Pertama, soal kualitas mahasiswa. Ini menjadi satu masalah laten dalam studi Islam di IAIN – yang kemudian berkembang menjadi UIN di berbagai daerah — yang banyak dikeluhkan para sarjana Muslim. Bukan rahasia lagi, banyak mahasiswa yang menjadikan pilihan kuliah di IAIN sebagai alternatif terakhir setelah tidak diterima di berbagai jurusan lain.

Kedua, nilai pragmatisme juga cukup kental mewarnai studi Islam di IAIN. Banyak yang kuliah di IAIN dan mempelajari ilmu agama bukan karena kecintaannya terhadap ilmu dan idealisme untuk menegakkan Islam, tetapi sekedar untuk mencari gelar dan lahan pekerjaan. Ketika tujuan pragmatis itu sudah tercapai, maka terhentilah aktivitas untuk mengembangkan keilmuan dan dakwah Islam secara lebih luas.

Ketiga, framework dan metodologi studi Islam yang belum terumuskan dengan matang di semua bidang studi keislaman. Keempat, sarana dan prasarana pendidikan, terutama perpustakaan, yang sangat minim.

Berbagai hal yang telah banyak dikeluhkan oleh para sarjana Muslim itu perlu mendapat perhatian serius. Beberapa kampus telah berusaha untuk menjadikan IAIN sebagai pusat studi Islam yang unggul, yang diharapkan mengangkat studi Islam ke taraf internasional.

Tetapi, sayangnya jalan yang ditempuh kemudian adalah menjadikan studi Islam ala orientalis Barat sebagai kiblat. Studi Islam kemudian dibawa ke jalur ’netral agama’ yang menempatkan Islam sebagai objek kajian yang netral dari aspek keimanan dan amaliah.

Karena itu, dengan cara pandang ’netral agama’ seperti itu, jangan heran, jika dosen yang sudah jelas-jelas sangat bejat pikiran dan akhlaknya – misalnya yang memiliki pekerjaan rutin mengawinkan pasangan beda agama – justru diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengajar mahasiswa. Dosen yang menistakan Al-Quran justru diangkat sebagai pejabat penting di kampus. Sarjana yang melecehkan Al-Quran diangkat sebagai dosen ulumul Quran. Begitu juga, mahasiswa yang jelas-jelas menghina Nabi, sahabat Nabi, dan Al-Quran, justru oleh kampusnya diberi gelar terhormat sebagai ”sarjana hukum Islam” aau ”Sarjana Agama”.

Inilah musibah besar bagi umat Islam. Mudah-mudahan para pimpinan kampus berlabel Islam sadar benar akan tanggung jawab mereka dalam bidang keilmuan, di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam. [Jakarta, 27 Juli 2007/ww.hidayatullah.com]

Redaksi 31 Jul 2007 – 11:00 am Oleh: Adian Husaini

Read Full Post »

Abdullah Bin Saba

Hanya Khurofat?

Jumat, 27 Jul 07 10:41 WIB

Ustadz yang semoga dirahmati Allah SWT.

Ana pernah mendengar bahwa Abdullah bin saba hanya khurofat saja. Dia adalah sosok yang hanya di jadikan kambing hitam oleh beberapa orang yang berkepentingan.

Apakah betul demikian? Mohon penjelasannya..

Aakhan

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Berbicara tentang sejarah konflik di masa shahabat, biasanya nama Abdullah bin Saba’ sering dijadikan tokoh kontroversial. Sebagian kalangan menyebutkan bahwa pejahat dalam kisah tragis itu adalah dirinya. Sementara ada sebagian kalangan lainnya yang ingin menyebutkan bahwa dirinya hanyalah tokoh rekaan.

Tentu kami bukan ahli sejarah dan tentunya tidak punya kapasitas untuk melakukan klarifikasi dalam masalah ini. Namun ada beberapa sisi yang bisa kita jadikan bahan kajian yang menarik untuk dibahas.

Kita berangkat dari hasil akhir yang dikejar oleh kedua belah pihak. Pihak pertama adalah kalangan yang ingin mengatakan bahwa tokoh jahatnya adalah Abdullah bin Saba’, bukan salah satu pihak dari para shahabat yang terlibat perang. Kalau pun perang antara dua kubu shahabat itu pernah terjadi, sumber masalah yang utama adalah fitnah keji, sikap hasad dan adu domba dari pihak-pihak yang tidak suka melihat perkembangan umat Islam.

Fitnah itu digelembung oleh kalangan zindiq yang ingin menghancurkan umat Islam dari dalam, lalu berubah menjadi bola api liar yang bisa menimpa siapa saja. Dan aktor intelektualnya adalah Abdullah bin Saba’, tokoh yahudi yang berpura-pura masuk Islam.

Kesimpulannya, tidak ada yang salah dan jahat dari kalangan shahabat, kecuali mereka menjadi korban fitnah dari Abdullah bin Saba’.

Kalau kita meminjam pandangan pihak kedua yang mengatakan tokoh Abdullah bin Saba’ hanya fiktif, maka alur logika kita akan digiring kepada kesimpulan bahwa para shahabat itu bukan korban fitnah, melainkan pelaku kejahatan. Bahkan akan sampai kepada pandangan untuk mendeskriditkan para shahabat itu hingga ke tingkat mengkafirkan mereka. Sebab realitanya, perang itu sudah terjadi dan darah telah berceceran membasahi muka bumi.

Kira-kira ke sana lah arah pandangan kita akan digiring. Dan hasilnya amat jelas, yaitu kalau kalangan shahabat bisa sedemikian rendah karena mereka saling berbunuhan, maka salah satu akar agama ini sudah runtuh. Karena kita tidak menerima informasi tentang agama Islam ini kecuali lewat jalur para shahabat. Kalau posisi shahabat sudah direndahkan, maka agama ini menjadi sangat rendah sejak dari hulunya.

Posisi Para Shahabat: ‘Uduul

Sementara di dalam aqidah muslim yang lurus, posisi para shahabat tidak serendah itu. Mereka adalah orang yang diridhai Allah dan Allah ridha kepada mereka. Dan hal itu ditetapkan di dalam Al-Quran langsung oleh Allah SWT sendiri.

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat. (QS. Al-Fath: 18)

Mungkin mereka pernah khilaf, berdosa dan bersalah, namun karena mereka hidup bersama dengan nabi, semua itu terkoreksi dengan sendirinya. Nabi akan segera membetulkan arah mereka dari kesalahan.

Mungkin sebagian dari mereka ada yang berijtihad, lalu di kemudian hari ternyata ijtihadnya dianggap kurang tepat. Hal itu manusiawi dan wajar sebagai manusia. Dan semua itu tidak mengurangi derajat kemuliaan mereka.

Mungkin di suatu kurun, mereka sempat berselisih dengan sesama shahabat yang lain. Itu pun masih wajar dan manusiawi.

Namun kalau sudah ada orang yang sampai mengkafirkan para shahabat yang mulia, atau menjelekkan, mencaci, mendiskreditkan, apalagi sampai memaki-maki, maka tindakan itu sudah keluar batas dan merupakan pelanggaran berat.

Demikian juga dengan menuduh bahwa para shahabat itu haus darah, pencinta perang, haus kekuasaan dan kekayaan, maka ini bukan sikap seorang muslim.

Maka yang paling logis dan masuk akal adalah bahwa konflik di kalangan shahabat itu terjadi akibat infiltrasi kalangan musuh Islam yang menyebar fitnah dan mengadu domba para shahabat. Dan para shahabat bukan orang yang kebal atas fitnah. Ini adalah logika yang paling masuk akal.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »

Orang -orang yang Didoakan

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam
keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam
pakaiannya.
Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya
Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam
keadaan suci”.
(Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar
ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani
dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang
diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia
berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan
mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah
sayangilah ia'”
(Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra.,
Shahih Muslim no. 469)

3. Orang – orang yang berada di shaf barisan depan di
dalam shalat berjamaah.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para
malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang
berada pada shaf – shaf terdepan”
(Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin
‘Azib ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al
Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang – orang yang menyambung shaf pada sholat
berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam
shaf).
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para
malaikat selalu bershalawat kepada orang – orang yang
menyambung shaf – shaf”
(Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah,
Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra.,
hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam
Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang
Imam selesai membaca Al Fatihah.
Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang Imam membaca
‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka
ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa
ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka
ia akan diampuni dosanya yang masa lalu”.
(Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra.,
Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah
melakukan shalat.
Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat akan selalu
bershalawat ( berdoa ) kepada salah satu diantara
kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia
melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya,
(para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan
sayangilah ia
(Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Al Musnad
no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang – orang yang melakukan shalat shubuh dan
‘ashar secara berjama’ah.
Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat berkumpul pada
saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai
hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari
hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada
siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul
lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang
ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik
(ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada
malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada
mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?’,
mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang
melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan
mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka
pada hari kiamat'”
(Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Al
Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh
Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan
orang yang didoakan.
Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk
saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang
yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada
kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil
baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya
dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata
‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia
dapatkan'”
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra.,
Shahih Muslim no. 2733)

9. Orang – orang yang berinfak.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak satu hari pun dimana
pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2
malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya
berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang
berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah,
hancurkanlah harta orang yang pelit'”
(Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu
Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih
Muslim no. 1010)

10. Orang yang sedang makan sahur.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para
malaikat-Nya bershalawat (berdoa ) kepada orang –
orang yang sedang makan sahur”
Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa “sunnah

(Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan
dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan
oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat
Tarhiib I/519)

11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang mukmin
menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus
70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat
kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di
waktu malam kapan saja hingga shubuh”
(Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra.,
Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar,
“Sanadnya shahih”)

12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada
orang lain.
Rasulullah SAW bersabda, “Keutamaan seorang alim atas
seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang
yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya
penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam
lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada
orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain”
(Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al
Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam
Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

Sumber Tulisan Oleh :
Syaikh Dr. Fadhl Ilahi (Orang -orang yang Didoakan
Malaikat, Pustaka Ibnu Katsir,
Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005

Read Full Post »

Hidup Sehat

Cara Rasulullah SAW

Anak Adam tidak memenuhkan suatu tempat yang lebih jelek dari perutnya. Cukuplah beberapa suap yang dapat memfungsikan tubuhnya. Kalau tidak ditemukan jalan lain, maka (ia dapat mengisi perutnya) dengan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk pernafasan.” HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban

Konon, selama hidupnya Rasulullah SAW hanya sakit dua kali. Yaitu setelah menerima wahyu pertama, ketika itu beliau mengalami ketakutan yang sangat sehingga menimbulkan demam hebat. Yang satunya lagi menjelang beliau wafat. Saat itu beliau mengalami sakit yang sangat parah, hingga akhirnya meninggal. Ada pula yang menyebutkan bahwa Rasul mengalami sakit lebih dari dua kali.

Berapa pun jumlahnya, dua, tiga atau empat kali, memperjelas gambaran bahwa beliau memiliki fisik sehat dan daya tahan luar biasa. Padahal kondisi alam Jazirah Arabia waktu itu terbilang keras, tandus dan kurang bersahabat. Siapa pun yang mampu bertahan puluhan tahun dalam kondisi tersebut, plus berpuluh kali peperangan yang dijalaninya, pastilah memiliki daya tahan tubuh yang hebat.

Mengapa Rasulullah SAW jarang sakit? Pertanyaan ini menarik untuk dikemukakan. Secara lahiriah, Rasulullah SAW jarang sakit karena mampu mencegah hal-hal yang berpotensi mendatangkan penyakit. Dengan kata lain, beliau sangat menekankan aspek pencegahan daripada pengobatan. Jika kita telaah Alquran dan Sunnah, maka kita akan menemukan sekian banyak petunjuk yang mengarah pada upaya pencegahan. Hal ini mengindikasikan betapa Rasulullah SAW sangat peduli terhadap kesehatan. Dalam Shahih Bukhari saja tak kurang dari 80 hadis yang membicarakan masalah ini. Belum lagi yang tersebar luas dalam kitab Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Tirmidzi, Baihaqi, Ahmad, dsb.

Cara Rasulullah menjaga kesehatan
Ada beberapa kebiasaan positif yang membuat Rasulullah SAW selalu tampil fit dan jarang sakit. Di antaranya:

Pertama, selektif terhadap makanan. Tidak ada makanan yang masuk ke mulut beliau, kecuali makanan tersebut memenuhi syarat halal dan thayyib (baik). Halal berkaitan dengan urusan akhirat, yaitu halal cara mendapatkannya dan halal barangnya. Sedangkan thayyib berkaitan dengan urusan duniawi, seperti baik tidaknya atau bergizi tidaknya makanan yang dikonsumsi. Salah satu makanan kegemaran Rasul adalah madu. Beliau biasa meminum madu yang dicampur air untuk membersihan air lir dan pencernaan. Rasul bersabda, “Hendaknya kalian menggunakan dua macam obat, yaitu madu dan Alquran” (HR. Ibnu Majah dan Hakim).

Kedua, tidak makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Aturannya, kapasitas perut dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu sepertiga untuk makanan (zat padat), sepertiga untuk minuman (zat cair), dan sepertiga lagi untuk udara (gas). Disabdakan. ”Anak Adam tidak memenuhkan suatu tempat yang lebih jelek dari perutnya. Cukuplah bagi mereka beberapa suap yang dapat memfungsikan tubuhnya. Kalau tidak ditemukan jalan lain, maka (ia dapat mengisi perutnya) dengan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk pernafasan” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

Ketiga, makan dengan tenang, tumaninah, tidak tergesa-gesa, dengan tempo sedang. Apa hikmahnya? Cara makan seperti ini akan menghindarkan tersedak, tergigit, kerja organ pencernaan pun jadi lebih ringan. Makanan pun bisa dikunyah dengan lebih baik, sehingga kerja organ pencernaan bisa berjalan sempurna. Makanan yang tidak dikunyah dengan baik akan sulit dicerna. Dalam jangka waktu lama bisa menimbulkan kanker di usus besar.

Keempat, cepat tidur dan cepat bangun. Beliau tidur di awal malam dan bangun pada pertengahan malam kedua. Biasanya, Rasulullah SAW bangun dan bersiwak, lalu berwudhu dan shalat sampai waktu yang diizinkan Allah. Beliau tidak pernah tidur melebihi kebutuhan, namun tidak pula menahan diri untuk tidur sekadar yang dibutuhkan. Penelitian Daniel F Kripke, ahli psikiatri dari Universitas California menarik untuk diungkapkan. Penelitian yang dilakukan di Jepang dan AS selama 6 tahun dengan responden berusia 30-120 tahun mengatakan bahwa orang yang biasa tidur 8 jam sehari memiliki resiko kematian yang lebih cepat. Sangat berlawanan dengan mereka yang biasa tidur 6-7 jam sehari. Nah, Rasulullah SAW biasa tidur selepas Isya untuk kemudian bangun malam. Jadi beliau tidur tidak lebih dari 8 jam.

Cara tidurnya pun sarat makna. Ibnul Qayyim Al Jauziyyah dalam buku Metode Pengobatan Nabi mengungkapkan bahwa Rasul tidur dengan memiringkan tubuh ke arah kanan, sambil berzikir kepada Allah hingga matanya terasa berat. Terkadang beliau memiringkan badannya ke sebelah kiri sebentar, untuk kemudian kembali ke sebelah kanan. Tidur seperti ini merupakan tidur paling efisien. Pada saat itu makanan bisa berada dalam posisi yang pas dengan lambung sehingga dapat mengendap secara proporsional. Lalu beralih ke sebelah kiri sebentar agar agar proses pencernaan makanan lebih cepat karena lambung mengarah ke lever, baru kemudian berbalik lagi ke sebelah kanan hingga akhir tidur agar makanan lebih cepat tersuplai dari lambung. Hikmah lainnya, tidur dengan miring ke kanan menyebabkan beliau lebih mudah bangun untuk shalat malam.

Kelima, istikamah melakukan saum sunnat, di luar saum Ramadhan. Karena itu, kita mengenal beberpa saum sunnat yang beliau anjurkan, seperti Senin Kamis, ayyamul bith, saum Daud, saum enam hari di bulan Syawal, dsb. Saum adalah perisai terhadap berbagai macam penyakit jasmani maupun ruhani. Pengaruhnya dalam menjaga kesehatan, melebur berbagai berbagai ampas makanan, manahan diri dari makanan berbahaya sangat luar biasa. Saum menjadi obat penenang bagi stamina dan organ tubuh sehingga energinya tetap terjaga. Saum sangat ampuh untuk detoksifikasi (pembersihan racun) yang sifatnya total dan menyeluruh.

Selain lima cara hidup sehat ini, masih banyak kebiasaan Rasulullah SAW yang layak kita teladani. Dalam buku Jejak Sejarah Kedokteran Islam, Dr Ja’far Khadem Yamani mengungkapkan lebih dari 25 pola hidup Rasul berkait masalah kesehatan, sebagian besar bersifat pencegahan. Di antaranya cara bersuci, cara ”memanjakan” mata, keutamaan berkhitan, keutamaan senyum, dsb.

Yang tak kalah penting dari ikhtiar lahir, Rasulullah sangat mantap dalam ibadah ritualnya, khususnya dalam shalat. Beliau pun memiliki keterampilan paripurna dalam mengelola emosi, pikiran dan hati. Penelitian-penelitian terkini dalam bidang kesehatan membuktikan bahwa kemampuan dalam memenej hati, pikiran dan perasaan, serta ketersambungan yang intens dengan Dzat Yang Mahatinggi akan menentukan kualitas kesehatan seseorang, jasmani maupun ruhani.

 

Read Full Post »

Cara Rasul

Menangkal Pengangguran

Angka pengangguran pada 2007 diperkirakan mencapai 12,7 juta jiwa, dan
jumlah penduduk miskin mencapai 45,7 juta jiwa. Menurut Pusat Penelitian
Ekonomi LIPI Jakarta, angka tersebut berasal dari 1,6 juta pengangguran
baru, di mana jumlah pengangguran pada tahun 2006 mencapai sebesar 11
juta jiwa. Sementara pada tahun 2004, pengangguran baru mencapai 10,25
juta jiwa. Hal ini menunjukan bahwa angka pengangguran setiap tahun
terus meningkat tajam.

Masih menurut LIPI, jika kita mengasumsikan pertumbuhan ekonomi mencapai
skenario optimum yaitu 6,5 persen dengan tingkat serapan tenaga kerja
hanya 218.518 orang untuk setiap pertumbuhan ekonomi sebesar satu
persen, maka lapangan kerja pada 2007 yang tersedia hanya 1,4 juta.
Sedangkan angkatan kerja pada tahun 2007 diperkirakan akan mengalami
kenaikan sebesar tiga juta orang, berasal dari 1,5 juta orang tambahan
tenaga kerja baru dan 1,5 juta dari kelompok bukan angkatan kerja yang
masuk kembali menjadi angkatan kerja.

Kondisi tersebut menunjukan bahwa Indonesia akan menghadapi kondisi
sulit. Untuk menutupi kenaikan angkatan kerja tahun sekarang saja sudah
tidak bisa, apalagi menutup angka pengangguran tahun sebelumnya. Dengan
kata lain, setiap tahun Indonesia hanya akan terus menambah angka
pengangguran dan kemiskinan baru.

Faktor penyebab
Pengangguran dari zaman ke zaman merupakan sebuah keniscayaan yang tidak
bisa dihindari karena hal itu merupakan sebuah sunatullah. Namun bukan
berarti manusia tidak bisa mengantisipasinya. Pengangguran bukanlah
kodrat Ilahi yang tidak bisa diganggu gugat. Mungkin, pengangguran itu
sendiri disebabkan oleh kesalahan manusia sendiri. Allah SWT telah
memberikan kekayaan alam dan akal yang harus dipergunakan sebaik mungkin
oleh manusia.

Secara umum, adanya pengangguran disebabkan beberapa faktor. Di
antaranya, disebabkan pribadi manusia itu sendiri yang malas bekerja dan
berusaha, adanya kelainan pada diri manusia yang membuat tidak bisa
berusaha, dan tidak adanya lapangan pekerjaan.

Rendahnya pendidikan sehingga tidak adanya kreasi untuk membuka lapangan
pekerjaan sendiri, rendahnya fasilitas teknologi, kondisi pemerintahan
yang tidak sehat dikarenakan adanya pejabat-pejabat pemerintah yang
melakukan KKN, terjadinya pemecatan dikarenakan bangkrutnya perusahaan
dan yang tidak kalah pentingnya yaitu dikarenakan bencana alam. Semua
ini bisa diantisipasi jika ada kesadaran dan kerjasama antara individu
dan pemerintah sebagai pembuat kebijakan ekonomi.

Teladan Rasul
Anas bin Malik menceritakan bahwa suatu ketika ada seorang pengemis dari
kalangan Anshar datang meminta-minta kepada Rasulullah SAW. Lalu beliau
bertanya kepada pengemis tersebut, “Apakah kamu mempunyai sesuatu di
rumahmu?” Pengemis itu menjawab, “Tentu, saya mempunyai pakaian yang
biasa dipakai sehari-hari dan sebuah cangkir.” Rasul langsung berkata,
“Ambil dan serahkan ke saya!” Lalu pengemis itu menyerahkannya kepada
Rasulullah, kemudian Rasulullah menawarkannya kepada para sahabat,
“Adakah di antara kalian yang ingin membeli ini?” Seorang sahabat
menyahut, “Saya beli dengan satu dirham.” Rasulullah menawarkanya
kembali,”adakah di antara kalian yang ingin membayar lebih?” Lalu ada
seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham.

Rasulullah menyuruh pengemis itu untuk membelanjakannya makanan untuk
keluarganya dan selebihnya, Rasulullah menyuruhnya untuk membeli kapak.
Rasullulah bersbada, “Carilah kayu sebanyak mungkin dan juallah, selama
dua minggu ini aku tidak ingin melihatmu.” Sambil melepas kepergiannya
Rasulullah pun memberinya uang untuk ongkos.

Setelah dua minggu pengemis itu datang kembali menghadap Rasulullah
sambil membawa uang sepuluh dirham hasil dari penjualan kayu. Lalu
Rasulullah menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan untuk
keluarganya, seraya bersada, “Hal ini lebih baik bagi kamu, karena
meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti.
Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir
miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa
terbayar, dan penyakit yang membuat sesorang tidak bisa berusaha.” (HR
Abu Daud).

Ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari kisah tersebut.

 

Pertama,
pengangguran dan kemiskinan merupakan tanggung jawab pemerintah dan
mereka mempunyai hak untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah. Hadis
tersebut menunjukkan teladan Rasulullah SAW sebagai pemimpin yang
bertanggung jawab atas kemiskinan dan pengangguran yang terjadi pada
rakyatnya. Beliau langsung tanggap terhadap keluhan rakyatnya.

Kedua,

ada kerja sama antara pemerintah dan orang kaya untuk memberantas
pengangguran dan kemiskinan. Kekayaan tidak hanya menjadi milik pribadi
namun di dalamnya ada hak orang lain yang perlu dikeluarkan, sehingga
kesenjangan antara orang miskin dan orang kaya bisa diberantas. Cara ini
bisa ditempuh dengan memberdayakan zakat dan wakaf umat. Malah lebih
baik lagi jika hal ini ditangani langsung oleh seorang menteri.

 

Ketiga,
pemerintah tidak cukup hanya sadar akan tanggung jawabnya, namun harus
dibarengi dengan kerja nyata dengan mencari solusi untuk mengeluarkan
rakyatnya dari jeratan pengangguran dan kemiskinan.

Keempat,

cara terbaik untuk keluar dari jerat pengangguran dan
kemiskinan adalah dengan memberikan pendidikan dan pekerjaan, tidak
cukup dengan cara menyantuni rakyatnya dengan uang atau makanan. Selain
supaya bisa hidup mandiri, hal ini pula akan meningkatkan perekonomian
bangsa, sebagaimana Rasulullah SAW mendidik pengemis selama dua minggu
untuk belajar mengumpulkan kayu dan berdagang.

Kelima,

Rasulullah sangat mencela orang yang suka minta-minta dan malas
bekerja, terkecuali bagi orang yang benar-benar miskin yang tidak
mempunyai peluang untuk bekerja, orang yang banyak hutang yang tidak
bisa membayarnya dan seorang miskin yang sakit. Mereka menjadi tangung
jawab pemerintah dan masyarakat yang kaya untuk menyantuninya. Dengan
adanya kerja sama dan kesadaran antara individu, masyarakat, dan
pemerintah, insya Allah negeri ini akan segera terbebas dari jerat
kemiskinan dan pengangguran.

Rifqi Fauzi
Mahasiswa Jurusan Hadits Universitas Al Azhar Kairo Mesir

Read Full Post »

Older Posts »