Feeds:
Posts
Comments

Archive for December 19th, 2006

Investasi Ulama

Investasi Ulama

Selasa, 19 Des 06 09:49 WIB

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Ustadz, saya hanya ingin penjelasan lebih detil tentang ulasan ustadz mengenai keberadaan ulama, kyai, ustad dan penceramah di edisi yang lalu.

Sebelumnya ustadz mengatakan alangkah baiknya kalau di setiap masjid dapat menyekolahkan seseorang untuk belajar di Suadi, Yordan, Mesir dan sebagiainya, sehingga setelah 4 tahun belajar bisa dijadikan aset masjid tersebut untuk menjadi tempat rujukan mengenai agama Islam dan mereka stand by di sana tanpa kerja karena sudah dibiayai sekolahnya.

Pertannyaan saya ustadz:

1. Kalau memang demikian adanya apakah masjid-masjid besar di negara kita ada yang menyekolahkan seseorang untuk belajar agama di sana? Yang saya tahu mereka kebanyakan disekolahkan oleh atau memang dapat beasiswa dari negara lain itu untuk belajar di sana. Atau mereka lulusan dari ponpes atau sekolah di LIPIA.

2. Apakah mungkin sesorang di zaman sekarang bisa hanya mengandalkan uang dari yang didapat dengan hanya berada di masjid ustadz, padahal mereka juga butuh kebutuhan-kebutuhan yang lainnya. Mungkin ini tepatnya di kota-kota besar dan beda dengan di kampung-kampung.

3. Seperti sekarang ada seorang lulusan dari Madinah yangs ekarang ini membimbing saya untuk calhaj tahun ini, memberikan kesempatan pada para pemuda untuk dapat dijadikan pendakwah di mana-mana dengan belajarnya di kampus tersebut. Dengan program ini saja sulit untuk terus berkembang kalau para pemimpin atau orang-orang yang memang diberikan oleh Allah kelebihan harta untuk membantu perkembangan sekolah itu. Apakah usaha dari lulusan Madinah itu perlu terus dibantu untuk lebih meningkat dibandingkan harus ataukah mengirimkan orang untuk belajar di tempat yang jauh dan perlu biaya yang banyak.

Demikian ustadz atas jawabannya, saya ucapkan terima kasih.

Wassalam,

Satrio

 

Jawaban

Asalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

1. Sayang sekali nyaris kami belum pernah menemukan adanya masjid yang punya program brilyan seperti yang kami sebutkan, yaitu mengkader para calon ulama dengan menyekolahkan dari jamaah masjid itu para pemuda/mahasiswa yang potensial ke pusat keilmuwan Islam di dunia.

Kebanyakan masjid di negeri kita hanya berpikir jangka pendek, misalnya bagaimana menyelenggarakan perayaan maulid nabi, isra’ mi’raj, nuzulul quran, nisfu sya’ban atau khutbah jumat tiap pekan. Tidak pernah berpikir bagaimana melahirkan para ulama.

Dan untuk semua keperluan itu, para takmir masjid biasanya mendatangkan para penceramah dari mana-mana. Seringkali tanpa kualifikasi yang tegas tentang kafa’ah ilmiyah mereka. Asalkan seorang penceramah sudah sering tampil dan cukup ngetop, biasanya selalu jadi incaran para takmir masjid. Urusan materi ceramah dan kurikulum materi, biasanya terserah para penceramah.

Sayangnya, bahkan masjid-masjid yang dari sisi keuangannya sangat sehat dan makmur, ternyata programnya tidak berbeda. Lagi-lagi hanya sekedar merangkai parade ceramah. Belum terpikir untuk jangka panjang, yaitu membiayai para calon ulama berkuliah di Al-Azhar, Madinah atau lainnya. Keuntungannya akan didapat dalam 4 tahun kemudian, yaitu saat mereka lulus S-1 dengan kualifikasi international, mereka akan jadi para imam masjid yang handal dan mumpuni. Paling tidak untuk ukuran Indonesia.

Kemampuan minimal mereka adalah bisa bahasa Arab baik lisan maupun tulisan dengan baik, mampu menelaah kitab-kitab syariah, punya bacaan quran yang baik, mengerti detail syariah yang bersifat umum.

Tentunya tidak semua masjid melakukan pengkaderan seperti di atas. Namun beberapa masjid di perkotaan yang managemen keuangannya sudah baik, tidak ada salahnya mencoba menerapkannya.

2. Pertanyaan ini terkait dengan managmen masjid dan pengelolaan sumber-sumber dananya. Beberapa masjid di perkotaan sebenarnya sangat mampu untuk menghidupi seorang imam masjid dengan standar gaji yang layak.

Dan ini bisa kita hitung-hitung secara kasar, misalnya dari pendapatan kotak amal tiap jumat yang biasanya dibacakan menjelang khutbah, kita bisa memperhitungkan kemampuan finansial suatumasjid. Beberapa masjid di Jakarta bisa mendapatkan belasan juta rupiah tiap minggu, terutama yang berada di wilayah perkantoran dan sejenisnya.

Dengan pemasukan belasan juta rupiah seminggu, menggaji imam masjid yang qualified tidak jadi masalah tentunya.

3. Pertimbangan menyekolahkan calon ulama di luar negeri bukan sekedar gengsi-gengsian. Tetapi secara realistis memang sangat dibutuhkan untuk mendapat standar yang baik.

Pertimbangannya, mereka yang bisa disekolahkan ke luar negeri (baca: timur tengah) tidak sembarangan. Hanya mereka yang lolos ujian saringan super ketat saja yang bisa berangkat. Ini akan membantu menyeleksi calon ulama untukmendapatkan bibit yang terbaik.

Pertimbangan lainnya adalah bahwa kualitas pengajar di berbagai Universitas Islam di Timur Tengah itu secara umum memang baik. Mereka adalah pakar di bidangnya yang berbicara tentang ilmu-ilmu yang mendasar. Para mahasiswa itu akan bertemu langsung dengan pakar ahli tafsir sungguhan, pakar ahli hadits sungguhan, pakar ahli fiqih sungguhan dan semua yang ulama dunia yang ekspert di bidangnya. Masih ditambah dengan perpustakaan yang lengkap, suasana belajar yang kondusif dan beasiswa yang baik.

Berbeda dengan kampus atau ma’had di tanah air, di mana umumnya pengajarnya kurang qualified, bahkan banyak di antara mereka yang hanya lulusan S-1 saja. Plus kemampuan bahasa yang seadanya. Tanpa perpustakaan, tanpa daya saing dan juga tanpa beasiswa.

Apa yang sedang diusahakan oleh pembimbing haji anda itu hanya anak tangga pertama menuju anak tangga berikutnya. Lulusan-lulusan dari programnya adalah calon-calon mahasiswa yang harus diseleksi lagi lagi untuk bisa masuk ke berbagai perguruan tinggi di Timur Tengah. Tetap harus dibantu dan dikembangkan oleh semua pihak. Tetapi belum menjadi standar minimal kebutuhan.

Wallahu a’lam bishshawab, wasalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

 

Advertisements

Read Full Post »

Sanad

Apakah Seseorang Guru Perlu Mendapat Sanad Bersambung kepada Nabi Muhammad?

Selasa, 19 Des 06 11:19 WIB

Assalamua’laukum warohmatullah

Kepada ustadz, saya ucapkan ribuan terima kasih. Saya mendapat pertanyaan daripada seorang rakan saya siapakah kamu? Siapakah guru kamu? Dan daripada mana dia mendapat sanad daripada ilmu yang diberikannya? Buat pengetahuan ustadz saya baru belajar untuk berda’wah. Namun pertanyaan sahabat saya tadi merunsingkan saya. Kerana beberapa minggu lepas, berlaku pertentangan pendapat antara kami berkenaan dengan ikhwan muslimin, manhaj salaf dan politik dalam Islam. Dia mengatakan Masyaikhnya mempunyai sanad sehingga kepada Rasulullah. Mohon dijelaskan.

Wassalamualaikumwarohmatullahi wabarokatuh
mujahid_fillah85 at eramuslim.com

 

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Masalah sanad dalam menerima ajaran Islam memang sangat penting dan merupakan penentu kebenaran ajaran Islam yang dianut seseorang. Setiap orang harus punya sanad tentang ajaran Islam yang bersambung kepada Rasulullah SAW.

Namun hal ini tidak berlaku secara umum di kalangan awam, kecuali di tingkat para ulama ahli dan di bidang-bidang ilmu tertentu tertentu.

a. Ilmu Qiraat

Misalnya, para ulama ahli qiraat Al-Quran, memang diharuskan punya sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW. Kita mengenal ada beberapa jenis qiaraat Al-Quran yang berbeda-beda. Tiap qiraat itu punya riwayat lewat orang-orang yang dikukuhkan menjadi ulama qiraat, sejak zaman nabi SAW hingga hari ini.

Maka khusus para ulama di kalangan ahli qiraat, sanad-sanad seperti ini masih berlaku dan terus bersambung hingga kepada Rasulullah SAW. Adapun orang awam seperti kita, cukuplah belajar kepada orang yang dianggap baik.

b. Periwayatan Hadits

Misalnya lainnya, di bidang ilmu periwayatan hadits. Kita juga mengenal riwayat-riwayat dari Rasulullah SAW lewat para shahabat, tabi’in, tabi’it-tabi’in hingga kepada para muhadditsin di era Bukhari dan Muslim. Khusus untuk para ulama mutakhashshishin di bidang hadits, kepastian riwyat dan sanad ini menjadi hal yang mutlak. Terutama sebelum masa tadwinul (penulisan) hadits di masa kitab shahihain dan kutub sittah.

Setelah itu, tradisi menggunakan sanad dalam belajar ilmu hadits masih tetap digunakan, namun khusus hanya di kalangan ulama khusus saja. Buat orang awam, cukuplah membaca karya kitab-kitab hadits yang suah menyebar kemudian. Bahkan seorang Al-Bani pun tidak punya sanad periwayatan hadits lewat para masyaikhnya secara khusus yang bersambung langusng kepada Rasulullah SAW, kecuali beliau adalah peneliti dan kritikus hadits di perpusatakaan.

Sebab riwayat hadits itu sudah final di masa lalu, tidak perlu lagi setiap ahli hadits punya riwayat khusus dan talaqqi kepada syeikh tertentu, kecuali sekedar mengambil barokah.

Salah seorang dosen hadits kami waktu kuliah di S-2 lalu menyatakan bahwa dirinya punya jalur periwayatan hadits yang bersambung kepada Rasulullah SAW. Tidak berhenti di tingkat Bukhari dan Muslim saja, tetapi riwayatnya terus bertambah panjang hingga ke diri beliau. Namun beliau sendiri mengatakan bahwa memiliki sanad seperti itu sudah tidak diperlukan lagi sebagai syarat seorang ulama hadits di zaman ini. Kalau pun beliau punya sanad, maka hal itu sekedar mengambil barakahnya saja.

c. Ilmu Fiqih

Misal lainnya di bidang ilmu fiqih, juga ada riwayat dan sanad. Para ulama fiqih juga menggunakan sanad baik urusan bacaan quran maupun urusan periwayatan hadits. Bahkan khusus ahli fiqih, ada tambahan periwayatan hingga ke tingkat mujtahid mutlak dari masing-masing mazhab.

Ada sebuah buku berbahasa arab karya ulama Indonesia yang berjudul: al-Imam Asy-Syafi’i baina mazhabaihil qadim wal jadid (Imam Asy-Syafi’i di antara kedua mazhabnya yang lama dan baru). Di dalam buku itu diuraikan dengan jelas sanad dan periwayatan yang dimiliki Al-Imam As-Syafi’i, semenjak dari Rasulullah SAW hingga kepada dirinya. Lalu dari dirinya kepada para muridnya yang sangat banyakitu.

Maka tradisi keilmuwan dalam bidang fiqih khusus untuk para ulama memang mengenal sanad dan periwayatan ini. Namun tidak berlaku untuk orang-orang awam, mereka cukup bertaqlid saja kepada ulama.

Tradisi Sanad

Dengan masuknya era tadwin atau penulisan ilmu di dalam kitab-kitab oleh para ulama, maka kepentingan talaqqi langsung sudah mulai berkurang. Sebab buku itu sudah berfungsi sebagai penyampai riwayat dan sanad yang diterima di kalangan ahli riwayat.

Beberapa tulisan hadits milik para muhaddits di masa lalu, juga diakui sebagai bagian dari sanad yang diterima dan tersambung secara sah. Beberapa shahabat nabi SAW menuliskan hadits yang mereka terima dari Rasululah SAW, maka tulisan para shahabat itu bila dibaca oleh para tabi’in tidaklah menggugurkan sanad periwayatan. Bahkan dalam beberapa hal, semakin menguatkan jalur periwayatan.

Kecuali mungkin dalam hal yang tidak bisa dituliskan, seperti masalah bacaan qiraat quran, maka masih tetap dibutuhkan sanad periwayatan yang talaqqi, yaitu langsung bertemu dengan gurunya, tidak cukup hanya dalam bentuk tulisan saja.

Maka di zaman sekarang ini, penggunaan sanad tetap penting dan punya peran tersendiri, namun tidak harus dalam bentuk talaqqi langsung. Dan talaqqi bukan merupakan syarat keilmuwan. Dan bukan pula syarat keIslaman seseorang.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Read Full Post »

Qurban

HUKUM-HUKUM QURBAN

Oleh : M. Shiddiq Al Jawi

Pengertian Qurban
Kata kurban atau korban, berasal dari bahasa Arab qurban, diambil dari kata : qaruba (fi’il madhi) – yaqrabu (fi’il mudhari’) – qurban wa qurbaanan (mashdar).Artinya, mendekati atau menghampiri (Matdawam, 1984).

Menurut istilah, qurban adalah segala sesuatu yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah baik berupa hewan sembelihan maupun yang lainnya (Ibrahim Anis et.al, 1972). Dalam bahasa Arab, hewan kurban disebut juga dengan istilah udh-hiyah atau adh-dhahiyah, dengan bentuk jamaknya al adhaahi. Kata ini diambil dari kata dhuha, yaitu waktu matahari mulai tegak yang disyariatkan untuk melakukan penyembelihan kurban, yakni kira-kira pukul 07.00 – 10.00 (Ash Shan’ani, Subulus Salam IV/89).

Udh-hiyah adalah hewan kurban (unta, sapi, dan kambing) yang disembelih pada hari raya Qurban dan hari-hari tasyriq sebagai taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah (Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah XIII/155; Al Jabari, 1994).

Hukum Qurban

Qurban hukumnya sunnah, tidak wajib. Imam Malik, Asy Syafi’i, Abu Yusuf, Ishak bin Rahawaih, Ibnul Mundzir, Ibnu Hazm dan lainnya berkata,”Qurban itu hukumnya sunnah bagi orang yang mampu (kaya), bukan wajib, baik orang itu berada di kampung halamannya (muqim), dalam perjalanan (musafir), maupun dalam mengerjakan haji.” (Matdawam, 1984)

Sebagian mujtahidin –seperti Abu Hanifah, Al Laits, Al Auza’i, dan sebagian pengikut Imam Malik— mengatakan qurban hukumnya wajib. Tapi pendapat ini dhaif (lemah) (Matdawam, 1984).

Ukuran “mampu” berqurban, hakikatnya sama dengan ukuran kemampuan shadaqah, yaitu mempunyai kelebihan harta (uang) setelah terpenuhinya kebutuhan pokok (al hajat al asasiyah) –yaitu sandang, pangan, dan papan– dan kebutuhan penyempurna (al hajat al kamaliyah) yang lazim bagi seseorang. Jika seseorang masih membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut, maka dia terbebas dari menjalankan sunnah qurban (Al Jabari, 1994)

Dasar kesunnahan qurban antara lain, firman Allah SWT :
“Maka dirikan (kerjakan) shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah.” (TQS Al Kautsar : 2)

“Aku diperintahkan (diwajibkan) untuk menyembelih qurban, sedang qurban itu bagi kamu adalah sunnah.” (HR. At Tirmidzi)

“Telah diwajibkan atasku (Nabi SAW) qurban dan ia tidak wajib atas kalian.” (HR. Ad Daruquthni)

Dua hadits di atas merupakan qarinah (indikasi/petunjuk) bahwa qurban adalah sunnah. Firman Allah SWT yang berbunyi “wanhar” (dan berqurbanlah kamu) dalam surat Al Kautas ayat 2 adalah tuntutan untuk melakukan qurban (thalabul fi’li). Sedang hadits At Tirmidzi, “umirtu bi an nahri wa huwa sunnatun lakum” (aku diperintahkan untuk menyembelih qurban, sedang qurban itu bagi kamu adalah sunnah), juga hadits Ad Daruquthni “kutiba ‘alayya an nahru wa laysa biwaajibin ‘alaykum” (telah diwajibkan atasku qurban dan ia tidak wajib atas kalian); merupakan qarinah bahwa thalabul fi’li yang ada tidak bersifat jazim (keharusan), tetapi bersifat ghairu jazim (bukan keharusan). Jadi, qurban itu sunnah, tidak wajib. Namun benar, qurban adalah wajib atas Nabi SAW, dan itu adalah salah satu khususiyat beliau (lihat Rifa’i et.al., Terjemah Khulashah Kifayatul Akhyar, hal. 422).

Orang yang mampu berqurban tapi tidak berqurban, hukumnya makruh. Sabda Nabi SAW :
“Barangsiapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berqurban, maka janganlah sekali-kali ia menghampiri tempat shalat kami.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Al Hakim, dari Abu Hurairah RA. Menurut Imam Al Hakim, hadits ini shahih. Lihat Subulus Salam IV/91)

Perkataan Nabi “fa laa yaqrabanna musholaanaa” (janganlah sekali-kali ia menghampiri tempat shalat kami) adalah suatu celaan (dzamm), yaitu tidak layaknya seseorang –yang tak berqurban padahal mampu– untuk mendekati tempat sholat Idul Adh-ha. Namun ini bukan celaan yang sangat/berat (dzamm syanii’) seperti halnya predikat fahisyah (keji), atau min ‘amalisy syaithan (termasuk perbuatan syetan), atau miitatan jaahiliyatan (mati jahiliyah) dan sebagainya. Lagi pula meninggalkan sholat Idul Adh-ha tidaklah berdosa, sebab hukumnya sunnah, tidak wajib. Maka, celaan tersebut mengandung hukum makruh, bukan haram (lihat ‘Atha` ibn Khalil, Taysir Al Wushul Ila Al Ushul, hal. 24; Al Jabari, 1994).

Namun hukum qurban dapat menjadi wajib, jika menjadi nadzar seseorang, sebab memenuhi nadzar adalah wajib sesuai hadits Nabi SAW :
“Barangsiapa yang bernadzar untuk ketaatan (bukan maksiat) kepada Allah, maka hendaklah ia melaksanakannya.” (lihat Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah XIII/157).

Qurban juga menjadi wajib, jika seseorang (ketika membeli kambing, misalnya) berkata,”Ini milik Allah,” atau “Ini binatang qurban.” (Sayyid Sabiq, 1987; Al Jabari, 1994).

Keutamaan Qurban

Berqurban merupakan amal yang paling dicintai Allah SWT pada saat Idul Adh-ha. Sabda Nabi SAW :
“Tidak ada suatu amal anak Adam pada hari raya Qurban yang lebih dicintai Allah selain menyembelih qurban.” (HR. At Tirmidzi) (Abdurrahman, 1990)

Berdasarkan hadits itu Imam Ahmad bin Hambal, Abuz Zanad, dan Ibnu Taimiyah berpendapat,”Menyembelih hewan pada hari raya Qurban, aqiqah (setelah mendapat anak), dan hadyu (ketika haji), lebih utama daripada shadaqah yang nilainya sama.” (Al Jabari, 1994).

Tetesan darah hewan qurban akan memintakan ampun bagi setiap dosa orang yang berqurban. Sabda Nabi SAW :
“Hai Fathimah, bangunlah dan saksikanlah qurbanmu. Karena setiap tetes darahnya akan memohon ampunan dari setiap dosa yang telah kaulakukan…” (lihat Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah XIII/165)

Waktu dan Tempat Qurban

a.Waktu

Qurban dilaksanakan setelah sholat Idul Adh-ha tanggal 10 Zulhijjah, hingga akhir hari Tasyriq (sebelum maghrib), yaitu tanggal 13 Zulhijjah. Qurban tidak sah bila disembelih sebelum sholat Idul Adh-ha. Sabda Nabi SAW :
“Barangsiapa menyembelih qurban sebelum sholat Idul Adh-ha (10 Zulhijjah) maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa menyembelih qurban sesudah sholat Idul Adh-ha dan dua khutbahnya, maka sesungguhnya ia telah menyempurnakan ibadahnya (berqurban) dan telah sesuai dengan sunnah (ketentuan) Islam.” (HR. Bukhari)

Sabda Nabi SAW :
“Semua hari tasyriq (tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah) adalah waktu untuk menyembelih qurban.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Menyembelih qurban sebaiknya pada siang hari, bukan malam hari pada tanggal-tanggal yang telah ditentukan itu. Menyembelih pada malam hari hukumnya sah, tetapi makruh. Demikianlah pendapat para imam seperti Imam Abu Hanifah, Asy Syafi’i, Ahmad, Abu Tsaur, dan jumhur ulama (Matdawam, 1984).

Perlu dipahami, bahwa penentuan tanggal 10 Zulhijjah adalah berdasarkan ru`yat yang dilakukan oleh Amir (penguasa) Makkah, sesuai hadits Nabi SAW dari sahabat Husain bin Harits Al Jadali RA (HR. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud hadits no.1991). Jadi, penetapan 10 Zulhijjah tidak menurut hisab yang bersifat lokal (Indonesia saja misalnya), tetapi mengikuti ketentuan dari Makkah. Patokannya, adalah waktu para jamaah haji melakukan wukuf di Padang Arafah (9 Zulhijjah), maka keesokan harinya berarti 10 Zulhijjah bagi kaum muslimin di seluruh dunia.

b.Tempat

Diutamakan, tempat penyembelihan qurban adalah di dekat tempat sholat Idul Adh-ha dimana kita sholat (misalnya lapangan atau masjid), sebab Rasulullah SAW berbuat demikian (HR. Bukhari). Tetapi itu tidak wajib, karena Rasulullah juga mengizinkan penyembelihan di rumah sendiri (HR. Muslim). Sahabat Abdullah bin Umar RA menyembelih qurban di manhar, yaitu pejagalan atau rumah pemotongan hewan (Abdurrahman, 1990).

Hewan Qurban

a.Jenis Hewan

Hewan yang boleh dijadikan qurban adalah : unta, sapi, dan kambing (atau domba). Selain tiga hewan tersebut, misalnya ayam, itik, dan ikan, tidak boleh dijadikan qurban (Sayyid Sabiq, 1987; Al Jabari, 1994). Allah SWT berfirman :
“…supaya mereka menyebut nama Allah terhadap hewan ternak (bahimatul an’am) yang telah direzekikan Allah kepada mereka.” (TQS Al Hajj : 34)

Dalam bahasa Arab, kata bahimatul an’aam (binatang ternak) hanya mencakup unta, sapi, dan kambing, bukan yang lain (Al Jabari, 1994).

Prof. Mahmud Yunus dalam kitabnya Al Fiqh Al Wadhih III/3 membolehkan berkurban dengan kerbau (jamus), sebab disamakan dengan sapi.

b.Jenis Kelamin

Dalam berqurban boleh menyembelih hewan jantan atau betina, tidak ada perbedaan, sesuai hadits-hadits Nabi SAW yang bersifat umum mencakup kebolehan berqurban dengan jenis jantan dan betina, dan tidak melarang salah satu jenis kelamin (Sayyid Sabiq, 1987; Abdurrahman, 1990)

c.Umur

Sesuai hadits-hadits Nabi SAW, dianggap mencukupi, berqurban dengan kambing/domba berumur satu tahun masuk tahun kedua, sapi (atau kerbau) berumur dua tahun masuk tahun ketiga, dan unta berumur lima tahun (Sayyid Sabiq, 1987; Mahmud Yunus, 1936).

d.Kondisi

Hewan yang dikurbankan haruslah mulus, sehat, dan bagus. Tidak boleh ada cacat atau cedera pada tubuhnya. Sudah dimaklumi, qurban adalah taqarrub kepada Allah. Maka usahakan hewannya berkualitas prima dan top, bukan kualitas sembarangan (Rifa’i et.al, 1978)

Berdasarkan hadits-hadits Nabi SAW, tidak dibenarkan berkurban dengan hewan :

  1. yang nyata-nyata buta sebelah,
  2. yang nyata-nyata menderita penyakit (dalam keadaan sakit),
  3. yang nyata-nyata pincang jalannya,
  4. yang nyata-nyata lemah kakinya serta kurus,
  5. yang tidak ada sebagian tanduknya,
  6. yang tidak ada sebagian kupingnya,
  7. yang terpotong hidungnya,
  8. yang pendek ekornya (karena terpotong/putus),
  9. yang rabun matanya. (Abdurrahman, 1990; Al Jabari, 1994; Sayyid Sabiq. 1987).

Hewan yang dikebiri boleh dijadikan qurban. Sebab Rasulullah pernah berkurban dengan dua ekor kibasy yang gemuk, bertanduk, dan telah dikebiri (al maujuu’ain) (HR. Ahmad dan Tirmidzi) (Abdurrahman, 1990)

Qurban Sendiri dan Patungan

Seekor kambing berlaku untuk satu orang. Tak ada qurban patungan (berserikat) untuk satu ekor kambing. Sedangkan seekor unta atau sapi, boleh patungan untuk tujuh orang (HR. Muslim). Lebih utama, satu orang berqurban satu ekor unta atau sapi.

Jika murid-murid sebuah sekolah, atau para anggota sebuah jamaah pengajian iuran uang lalu dibelikan kambing, dapatkah dianggap telah berqurban ? Menurut pemahaman kami, belum dapat dikategorikan qurban, tapi hanya latihan qurban. Sembelihannya sah, jika memenuhi syarat-syarat penyembelihan, namun tidak mendapat pahala qurban. Wallahu a’lam. Lebih baik, pihak sekolah atau pimpinan pengajian mencari siapa yang kaya dan mampu berqurban, lalu dari merekalah hewan qurban berasal, bukan berasal dari iuran semua murid tanpa memandang kaya dan miskin. Islam sangat adil, sebab orang yang tidak mampu memang tidak dipaksa untuk berqurban.

Perlu ditambahkan, bahwa dalam satu keluarga (rumah), bagaimana pun besarnya keluarga itu, dianjurkan ada seorang yang berkurban dengan seekor kambing. Itu sudah memadai dan syiar Islam telah ditegakkan, meskipun yang mendapat pahala hanya satu orang, yaitu yang berkurban itu sendiri. Hadits Nabi SAW :
“Dianjurkan bagi setiap keluarga menyembelih qurban.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, An Nasa`i, dan Ibnu Majah)

Teknis Penyembelihan

Teknis penyembelihan adalah sebagai berikut :
Hewan yang akan dikurbankan dibaringkan ke sebelah rusuknya yang kiri dengan posisi mukanya menghadap ke arah kiblat, diiringi dengan membaca doa “Robbanaa taqabbal minnaa innaka antas samii’ul ‘aliim.” (Artinya : Ya Tuhan kami, terimalah kiranya qurban kami ini, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.)

Penyembelih meletakkan kakinya yang sebelah di atas leher hewan, agar hewan itu tidak menggerak-gerakkan kepalanya atau meronta.

Penyembelih melakukan penyembelihan, sambil membaca : “Bismillaahi Allaahu akbar.” (Artinya : Dengan nama Allah, Allah Maha Besar). (Dapat pula ditambah bacaan shalawat atas Nabi SAW. Para penonton pun dapat turut memeriahkan dengan gema takbir “Allahu akbar!”)

Kemudian penyembelih membaca doa kabul (doa supaya qurban diterima Allah) yaitu : “Allahumma minka wa ilayka. Allahumma taqabbal min …” (sebut nama orang yang berkurban). (Artinya : Ya Allah, ini adalah dari-Mu dan akan kembali kepada-Mu. Ya Allah, terimalah dari…. ) (Ad Dimasyqi, 1993; Matdawam, 1984; Rifa’i et.al., 1978; Rasjid, 1990)

Penyembelihan, yang afdhol dilakukan oleh yang berqurban itu sendiri, sekali pun dia seorang perempuan. Namun boleh diwakilkan kepada orang lain, dan sunnah yang berqurban menyaksikan penyembelihan itu (Matdawam, 1984; Al Jabari, 1994).

Dalam penyembelihan, wajib terdapat 4 (empat) rukun penyembelihan, yaitu :

Adz Dzaabih (penyembelih), yaitu setiap muslim, meskipun anak-anak, tapi harus yang mumayyiz (sekitar 7 tahun). Boleh memakan sembelihan Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani), menurut mazhab Syafi’i. Menurut mazhab Hanafi, makruh, dan menurut mazhab Maliki, tidak sempurna, tapi dagingnya halal. Jadi, sebaiknya penyembelihnya muslim. (Al Jabari, 1994).

Adz Dzabiih, yaitu hewan yang disembelih.Telah diterangkan sebelumnya.

Al Aalah, yaitu setiap alat yang dengan ketajamannya dapat digunakan menyembelih hewan, seperti pisau besi, tembaga, dan lainnya. Tidak boleh menyembelih dengan gigi, kuku, dan tulang hewan (HR. Bukhari dan Muslim).

Adz Dzabh, yaitu penyembelihannya itu sendiri. Penyembelihan wajib memutuskan hulqum (saluran nafas) dan mari` (saluran makanan). (Mahmud Yunus, 1936)

Pemanfaatan Daging Qurban

Sesudah hewan disembelih, sebaiknya penanganan hewan qurban (pengulitan dan pemotongan) baru dilakukan setelah hewan diyakini telah mati. Hukumnya makruh menguliti hewan sebelum nafasnya habis dan aliran darahnya berhenti (Al Jabari, 1994). Dari segi fakta, hewan yang sudah disembelih tapi belum mati, otot-ototnya sedang berkontraksi karena stress. Jika dalam kondisi demikian dilakukan pengulitan dan pemotongan, dagingnya akan alot alias tidak empuk. Sedang hewan yang sudah mati otot-ototnya akan mengalami relaksasi sehingga dagingnya akan empuk.

Setelah penanganan hewan qurban selesai, bagaimana pemanfaatan daging hewan qurban tersebut ? Ketentuannya, disunnahkan bagi orang yang berqurban, untuk memakan daging qurban, dan menyedekahkannya kepada orang-orang fakir, dan menghadiahkan kepada karib kerabat. Nabi SAW bersabda :
“Makanlah daging qurban itu, dan berikanlah kepada fakir-miskin, dan simpanlah.” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi, hadits shahih)

Berdasarkan hadits itu, pemanfaatan daging qurban dilakukan menjadi tiga bagian/cara, yaitu : makanlah, berikanlah kepada fakir miskin, dan simpanlah. Namun pembagian ini sifatnya tidak wajib, tapi mubah (lihat Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid I/352; Al Jabari, 1994; Sayyid Sabiq, 1987).

Orang yang berqurban, disunnahkan turut memakan daging qurbannya sesuai hadits di atas. Boleh pula mengambil seluruhnya untuk dirinya sendiri. Jika diberikan semua kepada fakir-miskin, menurut Imam Al Ghazali, lebih baik. Dianjurkan pula untuk menyimpan untuk diri sendiri, atau untuk keluarga, tetangga, dan teman karib (Al Jabari, 1994; Rifa’i et.al, 1978).

Akan tetapi jika daging qurban sebagai nadzar, maka wajib diberikan semua kepada fakir-miskin dan yang berqurban diharamkan memakannya, atau menjualnya (Ad Dimasyqi, 1993; Matdawam, 1984)

Pembagian daging qurban kepada fakir dan miskin, boleh dilakukan hingga di luar desa/ tempat dari tempat penyembelihan (Al Jabari, 1994).

Bolehkah memberikan daging qurban kepada non-muslim ? Ibnu Qudamah (mazhab Hambali) dan yang lainnya (Al Hasan dan Abu Tsaur, dan segolongan ulama Hanafiyah) mengatakan boleh. Namun menurut Imam Malik dan Al Laits, lebih utama diberikan kepada muslim (Al Jabari, 1994).

Penyembelih (jagal), tidak boleh diberi upah dari qurban. Kalau mau memberi upah, hendaklah berasal dari orang yang berqurban dan bukan dari qurban (Abdurrahman, 1990). Hal itu sesuai hadits Nabi SAW dari sahabat Ali bin Abi Thalib RA :
“…(Rasulullah memerintahkan kepadaku) untuk tidak memberikan kepada penyembelih sesuatu daripadanya (hewan qurban).“ (HR. Bukhari dan Muslim) (Al Jabari, 1994)

Tapi jika jagal termasuk orang fakir atau miskin, dia berhak diberi daging qurban. Namun pemberian ini bukan upah karena dia jagal, melainkan sedekah karena dia miskin atau fakir (Al Jabari, 19984).

Menjual kulit hewan adalah haram, demikianlah pendapat jumhur ulama (Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid I/352). Dalilnya sabda Nabi SAW :
“Dan janganlah kalian menjual daging hadyu (qurban orang haji) dan daging qurban. Makanlah dan sedekahkanlah dagingnya itu, ambillah manfaat kulitnya, dan jangan kamu menjualnya…” (HR. Ahmad) (Matdawam, 1984).

Sebagian ulama seperti segolongan penganut mazhab Hanafi, Al Hasan, dan Al Auza’i membolehkannya. Tapi pendapat yang lebih kuat, dan berhati-hati (ihtiyath), adalah janganlah orang yang berqurban menjual kulit hewan qurban. Imam Ahmad bin Hambal sampai berkata,”Subhanallah ! Bagaimana harus menjual kulit hewan qurban, padahal ia telah dijadikan sebagai milik Allah ?” (Al Jabari, 1994).

Kulit hewan dapat dihibahkan atau disedekahkan kepada orang fakir dan miskin. Jika kemudian orang fakir dan miskin itu menjualnya, hukumnya boleh. Sebab –menurut pemahaman kami– larangan menjual kulit hewan qurban tertuju kepada orang yang berqurban saja, tidak mencakup orang fakir atau miskin yang diberi sedekah kulit hewan oleh orang yang berqurban. Dapat juga kulit hewan itu dimanfaatkan untuk kemaslahatan bersama, misalnya dibuat alas duduk dan sajadah di masjid, kaligrafi Islami, dan sebagainya.

Penutup

Kami ingin menutup risalah sederhana ini, dengan sebuah amanah penting : hendaklah orang yang berqurban melaksanakan qurban karena Allah semata. Jadi niatnya haruslah ikhlas lillahi ta’ala, yang lahir dari ketaqwaan yang mendalam dalam dada kita. Bukan berqurban karena riya` agar dipuji-puji sebagai orang kaya, orang dermawan, atau politisi yang peduli rakyat, dan sebagainya. Sesungguhnya yang sampai kepada Allah SWT adalah taqwa kita, bukan daging dan darah qurban kita. Allah SWT berfirman :
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan daripada kamulah yang mencapainya.” (TQS Al Hajj : 37) [ ]

DAFTAR PUSTAKA

 

  • Abdurrahman. 1990. Hukum Qurban, ‘Aqiqah, dan Sembelihan. Cetakan Pertama. Bandung : Sinar Baru. 52 hal.
  • Ad Dimasyqi, Muhammad bin Abdurrahman Asy Syafi’i. 1993. Rohmatul Ummah (Rahmatul Ummah Fi Ikhtilafil A`immah). Terjemahan oleh Sarmin Syukur dan Luluk Rodliyah. Cetakan Pertama. Surabaya : Al Ikhlas. 554 hal.
  • Al Jabari, Abdul Muta’al. 1994. Cara Berkurban (Al Udh-hiyah Ahkamuha wa Falsafatuha At Tarbawiyah). Terjemahan oleh Ainul Haris. Cetakan Pertama. Jakarta : Gema Insani Press. 83 hal.
  • Anis, Ibrahim et.al. 1972. Al Mu’jam Al Wasith. Kairo : Tanpa Penerbit. 547 hal.
  • Ash Shan’ani. Tanpa Tahun. Subulus Salam. Juz IV. Bandung : Maktabah Dahlan.
  • Ibnu Khalil, ‘Atha`. 2000. Taysir Al Wushul Ila Al Ushul. Cetakan Ketiga. Beirut : Darul Ummah. 310 hal.
  • Ibnu Rusyd. 1995. Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid. Beirut : Daarul Fikr. 404 hal.
  • Matdawam, M. Noor. 1984. Pelaksanaan Qurban dalam Hukum Islam. Cetakan Pertama. Yogyakarta : Yayasan Bina Karier. 41 hal.
  • Rasjid, H.Sulaiman. 1990. Fiqh Islam. Cetakan Keduapuluhtiga. Bandung : Sinar Baru. 468 hal.
  • Rifa’i, Moh. et.al. 1978. Terjemah Khulashah Kifayatul Akhyar. Semarang : Toha Putra 468 hal.
  • Sabiq, Sayyid. 1987. Fikih Sunnah (Fiqhus Sunnah). Jilid 13. Cetakan Kedelapan. Terjemahan oleh Kamaluddin A. Marzuki. Bandung : Al Ma’arif. 229 hal
  • Yunus, Mahmud. 1936. Al Fiqh Al Wadhih. Juz III. Jakarta : Maktabah Sa’adiyah Putera. 48 hal.SUmber : www.khilafah1924.org

Read Full Post »

Siksa Kubur

Siksa Kubur


Semua kita hampir dapat dipastikan lalai tentang sebuah dimensi yang disebut alam kubur. Padahal dimensi ini, suka atau tidak semua orang akan menjadi penghuninya. Kesibukan di dunia telah banyak melalaikan orang dari mengingat kubur atau bahkan lupa untuk mempersiapkan diri memasuki alam ini. Firman Allah swt: \”Bermegah-megah telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (At Takatsur:1-2)

Alam kubur adalah suatu alam yang sukar dibayangkan dengan akal manusia. Akan tetapi alam ini dapat dilihat dengan mata hati setelah dipimpin dengan ilmu berlandaskan wahyu, iman dan keyakinan. Salah satu keunikan alam ini ialah ia mampu bertutur walaupun sesungguhnya suara kubur itu tidak terdengar manusia. Perkara ini hanya dimengertikan oleh hati yang penuh keyakinan. Allah swt telah menciptakan lidah (lisan) kepada kubur dan bertuturlah kubur dengan lidahnya itu katanya:

Hadits riwayat Hannad bin Sariq dari Abdillah bin Ubaid bin Umair, Rasulullah saw bersabda yang artinya: “Wahai anak Adam, bagaimanakah kamu hidup di dunia sedang engkau melupakan aku, tidakkah engkau tahu bahwa aku adalah tempat kediaman yang sepi dan perorangan, tempat yang dipenuhi ulat dan cacing.”

Maka kita jangan melupakan alam kubur, karena manusia tidak dapat lari dari perjumpaan dengan ajalnya, seperti firman Allah, “Dan datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” Kaum Muslimin yakin benar bahwa alam kubur, siksaan di dalamnya, dan pertanyaan dua malaikat adalah benar adanya berdasarkan dalil-dalil wahyu, dan dalil-dalil akal seperti berikut ini:

Dalil Tentang Adanya Alam Kubur, Azab dan Kenikmatannya.
“Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata), ‘Rasakan oleh kalian siksa neraka yang membakar,’ (tentulah kamu akan merasa ngeri). Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tangan mereka sendiri, sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya.” (Al Anfal: 50-51)

“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), keluarkanlah nyawa kalian. Pada hari ini kalian dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kalian selalu mengatakan terhadap Allah ( perkataan) yang tidak benar dan (karena) kalian selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. Dan sesungguhnya kalian datang kepada Kaini sendiri-sendri sebagaimana kalian Kami ciptakan pada mulanya, dan kalian tinggalkan di belakang kalian (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepada kalian dan Kami tidak melihat beserta kalian pemberi syafaat yang kalian anggap bahwa mareka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kalian sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kalian dan telah lennyap daripada kalian apa yang dahulu kalian anggap (sebagai sekutu Allah) ‘(Al-An’am: 93-­94).

“Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada adzab yang besar. ‘(At-Taubah: 101).

“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (Dikatakan kepada malaikat), Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras (Ghafir: 46).

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. ‘(lbrahim: 27).

“Jika seorang hamba telah diletakkan di kuburnya, dan sahabat­-sahabatnya telah meninggalkannya, serta a mendengar suara sandal mereka, maka dua malaikat datang kepadanya kemudian duduk padanya. Kedua malaikat tersebut berkata,”Apa yanq dulu engkau katakan tentang orang ini (Rasulullah shalalallahu alahi wasalam) Adapun orang mukmln ia berkata,’Aku bersaksi bahwa dia hamba Allah, dan Rasul-Nya, kemudian dikatakan kepadanya, lihatlah ke kursimu di neraka, Allah telah memberi ganti untukmu dengan kursi dari surga. ‘Orang Mukmin tersebut bisa melihat kedua kursi tersebut. Adapun munafik, atau orang kafir, maka kedua malakat bertanya kepada keduanya,’Apa yang dulu enqkau katakan tentang orang ini (Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam)? ‘0rang munafik atau orang kafir tersebut berkata,’Aku tidak tahu. Dulu aku hanya berkata seperti yang dikatakan manusia. Dikatakan kepada 0rang kafir, atau orang munafik tersebut, Engkau tidak tahu, dan tidak mengikutinya? ‘Kemudian orang kafir, atau orang munafik tersebut dlpukul dengan martil besi dengan pukulan yang membuatnya berteriak dengan teriakan yang bisa didengar makhluk-makhluk yang berdekatan dengannya kecuall manusia, dan jin.” (Diriwayatkan Al-­Bukhari, Muslim, An-Nasai, Abu Daud, dan Ahmad).

“Jika salah seorang dari kalian meninggal dunia, maka kursinya diperlihatkan padanya pagi-sore. Jlka ia termasuk pnghuni surga maka ia termasuk penghuni surga, dan jika ia termasuk penghuni neraka maka ia akan meniadi penghuni neraka. Dikatakan kepada­nja,’Ini kursimu hingga Allah membangkitkanmu pada hari kia­mat “ (Al-Bukhari)

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata dalam doanya,“Ya Allah, aku berlindung diri kepada Mu dan siksa kubur, dan siksa neraka, dan fitnah kehidupan, dan fitnah kematian, dan dan fitnah AI Masih Ad-Dajjal. “(Diriwayatkan Al-Bukhari).

Sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika berjalan mele­wati dua kuburan,“SesunggLihnya dua orang di dua kuburan tersebut sedang disiksa, dan keduanya fidak disiksa karena dosa besar Ya, salah seorang daii keduanya beqalan dengan membawa adu domba, sedang orang sa~ tidak mengenakan tutup kefika buang air kecil ” (Diriwa­yatkan Al-Bukhari).

Keimanan seorang hamba kepada Allah swt, malaikat-malaikat­-Nya, dan hari akhir mengharuskannya beriman kepada siksa alam kubur, kenikmatannya, dan apa saja yang terjadi di dalamnya. Sebab, itu semua termasuk perkara-perkara ghaib. Jika seseorang mem­percayai sebagian sesuatu, maka menurut akal ia harus mengimani sebagian satunya. Alam kubur, kenikmatannya, pertanyaan dua malaikat bukan meru­pakan sesuatu yang mustahil menurut akal. Bahkan akal yang sehat mengakuinya dan memberi kesaksian terhadapnya.

Orang yang tidur terkadang bermimpi melihat sesuatu yang menye­nangkan kemudian ia berbahagia dengannya, dan menikmatinya, namun ia sedih jika ia terbangun. Atau terkadang ia bermimpi melihat sesuatu yang dibencinya, kemudian ia murung karenanya dan ia senang sekali kalau ada orang yang membangunkannya. Kenikmatan dan siksa di alam mimpi tersebut betul-betul terjadi pada ruhani, dan ruhani terpengaruh dengannya tanpa ia rasakan dan bisa dilihat oleh kita, serta tidak ada seorang pun yang memungkirinya. Bagaimana terhadap siksa alam kubur dan kenikmatannya yang pada dasarnya sama persis dengan mimpi tersebut?

Sedikit Tentang Mati
Tidak perlu kita takut kepada mati. Selagi kita bertaqwa kepada Allah dan mengikut ajaran yang di tunjukan oleh Nabi besar kita Muhammad s.a.w. Tetapi jika sebaliknya ingatlah janji Allah yang menyediakan azab yang pedih. Ingatlah di akhirat nanti ada syurga dan neraka. Manusia dibagi kepada tiga peringkat berhubung dengan mati. Orang yang tidak berhajat kepada mati dan sangat takut kepada mati; Orang yang ingin kepada mati tetapi masih takut kepada mati; Orang yang ingat kepada mati dan ia tidak takut kepada mati.

Allah berfirman dalam surah Al-Jumu’ah ayat 8: “Katakanlah (wahai Muhammad): “Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan”.

Allah berfirman dalam surah Ali ‘Imran ayat 185: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia Telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

Allah berfirman dalam surah Al-Munaafiquun, ayat 10-11: “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang Telah kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, Mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan Aku dapat bersedekah dan Aku termasuk orang-orang yang saleh? Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila Telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha mengenal apa yang kamu kerjakan.”

Allah berfirman dalam surah Al-Mu’minun’ ayat 99-100 : “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah Aku (ke dunia). Agar Aku berbuat amal yang saleh terhadap yang Telah Aku tinggalkan. sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.”

Allah berfirman dalam surah Al-Mulk ayat 29. : “Katakanlah: “Dia-lah Allah yang Maha Penyayang kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya-lah kami bertawakkal. kelak kamu akan mengetahui siapakah yang berada dalam kesesatan yang nyata”.

Allah berfirman dalam surah Qiyamah ayat 26 hingga 30 : “Sekali-kali jangan. apabila nafas (seseorang) Telah (mendesak) sampai ke kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan?”.Dan dia yakin bahwa Sesungguhnya Itulah waktu perpisahan (dengan dunia),. Dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan).Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.”

Hadits Rasulullah s.a.w : Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata: Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu niscaya akan masuk Neraka. Maka aku berkata yaitu perawi Hadits: Aku dan orang-orang yang tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu, akan memasuki Syurga.”

Diriwayatkan daripada Abu Zar r.a katanya: Nabi saw bersabda: Jibril as telah mendatangi aku lalu memberitahu berita gembira, iaitu sesiapa yang mati di kalangan umatku dalam keadaan tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu, niscaya dia akan dimasukkan ke dalam Syurga. Aku bertanya: Walaupun dia berzina dan mencuri? Rasulullah bersabda: Walaupun dia berzina dan mencuri.”

Hadits Ma’qil bin Yasar r.a: “Diriwayatkan dari Hasan ra berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang ditaklifkan oleh Allah untuk memimpin rakyatnya lalu mati dalam keadaan menipu rakyat, niscaya Allah mengharamkan ke atasnya Syurga.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw pernah bersabda: “Apabila seseorang dari kamu berada dalam keadaan tasyahhud, maka hendaklah dia memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara dengan berdoa: yang artinya, Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon perlindungan kepadaMu dari siksaan Neraka Jahannam, dari siksa Kubur, dari fitnah selama hidup dan selepas mati serta dari kejahatan fitnah Dajjal.”

Diriwayatkan dari Aisyah ra berkata: Nabi saw sering berdoa ketika sembahyangnya dengan berkata: “Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon perlindungan kepadaMu daripada siksa kubur dan aku memohon perlindungan kepadaMu daripada fitnah Dajjal. Aku juga memohon perlindungan kepadaMu daripada fitnah semasa hidup dan selepas mati. Ya Allah! Aku memohon perlindungan kepadaMu dari segala dosa dan hutang. Aisyah berkata lagi: Seseorang telah berkata kepada Rasulullah s.a.w: Alangkah banyaknya kamu memohon perlindungan dari beban hutang wahai Rasulullah! Lalu Rasulullah bersabda: Sesungguhnya seseorang yang sudah terkena beban hutang, apabila dia berkata-kata dia akan berdusta dan apabila berjanji dia akan mengingkari
Diriwayatkan daripada Abu Musa r.a katanya: Daripada Nabi s.a.w, baginda bersabda: “Perumpamaan rumah yang disebutkan nama Allah di dalamnya dengan rumah yang tidak disebutkan padanya nama Allah ialah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Kiamat tidak akan berlaku sehinggalah seorang lelaki datang ke kubur seorang lelaki lain dan berkata: Kalau boleh aku ingin berada di tempat mayat itu (mati) .”

Diriwayatkan daripada Ibnu Umar r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: “Apabila seseorang itu mati, akan diperlihatkan tempatnya setiap pagi dan petang. Sekiranya dia di kalangan ahli Syurga, akan diperlihatkan kepadanya Syurga. Sekiranya dia dari kalangan ahli Neraka, akan diperlihatkan kepadanya Neraka. Diberitahu kepadanya: Inilah tempatmu sehingga kamu dibangkitkan oleh Allah pada Hari Kiamat .”

Diriwayatkan dari Saidatina Aisyah ra katanya: Rasulullah saw pernah bersabda: “Barangsiapa yang suka bertemu Allah, niscaya Allah juga suka bertemu dengannya. Begitu juga siapa saja yang tidak suka bertemu Allah, niscaya Allah juga tidak suka bertemu dengannya. Aku bertanya: Wahai Nabi Allah! Apakah kita perlu membenci mati? Di mana kami semua membenci mati. Baginda bersabda: Bukan begitu. Seseorang mukmin apabila diberitahu berita gembira dengan rahmat Allah, keredaanNya dan SyurgaNya nescaya dia pasti suka untuk bertemu Allah dan Allah juga suka bertemu dengannya. Sedangkan orang kafir apabila diberitahu adanya siksa serta murka Allah, dia tidak akan suka bertemu Allah dan Allah juga tidak suka bertemu dengannya. “

Diriwayatkan dari Saidatina Aisyah r.a katanya: Rasulullah saw pernah bersabda: “Barangsiapa yang suka bertemu Allah, niscaya Allah juga suka bertemu dengannya. Begitu juga sesiapa yang tidak suka bertemu Allah, nescaya Allah juga tidak suka bertemu dengannya. Aku bertanya: Wahai Nabi Allah! Apakah kita perlu membenci mati? Di mana kami semua membenci mati. Baginda bersabda: Bukan begitu. Seseorang mukmin apabila diberitahu berita gembira dengan rahmat Allah, keredaanNya dan SyurgaNya niscaya dia pasti suka untuk bertemu Allah dan Allah juga suka bertemu dengannya. Sedangkan orang kafir apabila diberitahu adanya siksa serta murka Allah, dia tidak akan suka bertemu Allah dan Allah juga tidak suka bertemu dengannya.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: “Janganlah kamu bercita-cita supaya cepat mati dan janganlah kamu berdoa supaya mati sebelum kematian itu sendiri datang kepadamu. Sesungguhnya apabila kamu mati, akan terputuslah segala amalan kamu. Sebaliknya apabila dipanjangkan umur seorang mukmin bererti bertambahlah kebaikannya.”

Dari keterangan di atas, ingatlah jangan sekali-kali mensyrikkan Allah dengan sesuatu. Semua makhluk di dunia ini akan menemui mati, tetapi keadaan kematiannya berlainan mengikut keimanan seseorang. Apakah ia mati dalam keimanan atau sebaliknya.

Persiapan Menghadapi Mati
Kubur mengeluh terhadap sikap manusia yang tidak sadar bahwa mereka bakal bersendirian dalam kubur. Manusia dianjurkan membawa teman setia mereka (amal yang shaleh di samping hati yang bersih). Manusia harus sadar, tatkala huru-hara dan kekacauan terjadi di dalam kubur, mereka amat memerlukan teman yang dapat memberikan pertolongan.
Kubur juga merasa sedih apabila manusia melupakannya. Hadits Nabi saw yang disampaikan oleh Malik dari Abdillah bin Umar: “Bahwa Kubur telah menangis sambil berkata dalam tangisannya. (Tidakkah kamu tahu) bahawa aku adalah rumah yang sunyi gelap-gelita, rumah yang perorangan dan rumah tempat ulat-ulat (yang bakal melumat daging-daging manusia)”

Walaupun kubur menangis mengenangkan nasib manusia, namun sayangnya. Manusia sendiri terus bergelut dalam tawa, seolah mereka tidak akan bertemu dengan kubur. Alangkah bahagianya jika manusia senantiasa mengingat kubur yang tidak pernah melupakan manusia. Ketika jenazah anak cucu Adam dibaringkan di dalam kubur, lantas kubur bertanya :
“Wahai anak cucu Adam. Tidakah kamu tahu bahawa aku adalah tempat manusia bersendiri tanpa teman. Tidakkah kamu tahu bahwa aku adalah rumah yang gelap-gelita, dan tidakkah kamu tahu bahawa aku adalah rumah yang haq (yaitu rumah yang pasti dihuni oleh keturunan Adam). Wahai anak cucu Adam, apakah yang telah memperdayakan engkau sehingga melupakan aku?” Kalaulah manusia sentiasa sadar bahawa kubur adalah tempat yang gelap, tentulah mereka datang dengan membawa obor dari amal sholeh mereka yang senantiasa bersinar. Malangnya, banyak manusia yang datang dengan tangan hampa tanpa perbekalan.

Tatkala berada dalam kubur, datang dua malaikat, iaitu Munkar dan Nankir yang akan berada di sisi mayat yang terbujur di dalam kubur. Munkar dan Nankir akan mengangkat mayat itu dari perbaringan dan meletakkannya dalam keadaan duduk. Malaikat Munkar dan Nankir dengan suara bagaikan halilintar mulai bertanya kepada ahli kubur. Siapakah Tuhan Kamu?, Siapakah nabimu?, Apakah agamamu? Apakah kiblatmu?… Kemampuan ahli kubur untuk menjawab terpulang kepada sejauh mana mereka menghayati empat perkara asas itu. Ada yang mendapat rahmat Allah mampu menjawab dengan mudah (Alhamdulillah) tetapi banyak yang pecnudang dan gagal memberi jawaban. Di masa manusia ditanya tentang ketuhanan, banyak yang tahu bahwa Allah tuhan mereka, sungguhpun persoalan ini dikemukakan kepada orang kafir. “Dan sesunggunya jika kamu tanyakan kepada mereka, Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan? Tentu mereka akan menjawab : Allah” (Surah Al-Ankabut : 61)

Namun demikian, tidak semua manusia tahu bahwa Allah itu Tuhan, akan bertuhankan Allah swt, sebagaimana orang kafir tahu bahwa yang menjadikan langit dan bumi itu ialah Allah, justeru mereka tidak beriman dengan apa yang mereka tahu. Sebaliknya, mereka mengambil tuhan-tuhan yang lain, ada yang menjadikan nafsu mereka sebagai tuhan mereka. Firman Allah: “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya” (Surah Al-Furqan : 43)

Tidak kurang pula manusia yang hanya mengaku beriman dengan Allah tetapi hanya menyembah Allah dalam shalat saja akan tetapi di luar shalat, mereka tidak mematuhi Allah, enggan berpegang dan melaksanakan hukum Allah swt malah mereka ragu akan kebenaran hukum dan undang-undang Allah swt. Mereka berdalih dengan pelbagai alasan seperti hukum Islam tidak cocok diterapkan di negeri ini karena negeri kita masyarakatnya majemuk. Dalam keadaan penuh keraguan ini, tidak mudahlah baginya menjawab persoalan Munkar dan Nankir.

Tidak juga mudah untuk menjawab pertanyaan tentang ‘rasul’ jika kita tidak menjadi umat Muhammad saw yang patuh dan melaksanakan segala ajarannya dan mengikuti sunnahnya. Demikian pula soal kiblat, semua orang tahu bahawa kiblat orang Islam ialah Ka’bah tetapi mengapa banyak di antara kita menjalin hubungan sesama manusia berkiblatkan Barat. Kesemua pertanyaan yang dikemukakan oleh malaikat Munkar dan Nankir itu laksana soal-soal ujian yang bersisi tentang dasar hidup mereka semasa di dunia.

Golongan yang Selamat dari Siksa Kubur
Di kalangan ahli kubur yang mendapat taufiq Allah swt serta ditetapkan hatinya dengan kalimat Thayyibah “Lailahaillalah, Muhammadarasulullah” Mereka bukan hanya dapat menjawab pertanyaan Munkar dan Nankir malah dapat balik bertanya kepada kedua malaikat, adapun mereka adalah:
1. Para ulama yang terpilih oleh Allah swt disebabkan keimanan dan ketakwaannya yang memyebabkann mereka benar-benar ma’rifat akan Allah swt. Mereka ikhlas melakukan segala perintah Allah. Keadaan bagi mereka di kubur bagai berada di bawah sebuah kubah yang besar. Sebuah ruang yang terbuka luas dari kuburnya dan menghadap ke arah syurga. Ketika itu dihamparkan sutera-sutera syurga di tempat mereka bersimpuh, serta emerbak wewangian, ditambah nikmatnya hembusan angin yang lembut menyerpa dari taman syurga yang nyaman dan menyegarkan. Segala kesenangan yang dinikmati menjadikan mereka berada dalam keadaan yang sungguh nyaman dan mereka seringkali akan bertanya kepada Allah swt, bilakah Qiamat akan datang?

2. Golongan terpilih selepas ulama ialah orang-orang yang tergolong dalam kategori “Al-Mukmin al Amil”, sungguhpun mereka tidak mempunyai amal yang banyak seperti ulama tadi. Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang akan menjadikan amal sholeh mereka menjadi seorang yang paling disayangi dan dihormati ketika di dunia dulu untuk menjadi temannya sepanjang masa di dalam kubur. Alangkah bahagianya bagi seseorang yang sedang kesepian duduk sendirian, tiba-tiba datang beberapa teman dari kalangan sahabat dan handai taulan yang dikasihi mendampinginya. Sebelum mereka tiba, telah sampai terlebih dahalu semerbak wewangian.

Bagi mukmin ‘Ashi (mukmin yang melakukan maksiat) segala perbuatan maksiat mereka akan dijelmakan oleh Allah s.w.t menjadi seekor Khinzir atau binatang buas. Segala kejahatan akan menjadi bala kepada mereka; menambahkan lagi azab sengsara di dalam kubur, di samping azab yang didatangkan oleh malaikat disebabkan kegagalan untuk menjawab pelbagai soalan yang dikemukakan.

Pelajaran dari Azab Kubur
Allah swt memberikan ganjaran kepada manusia setimpal dengan amalnya. Bagi mukmin yang bertaqwa, mereka akan mendapat pahala yang sangat istimewa. Adapun terhadap yang fujjar dan kuffar, mereka akan ditimpa azab yang tidak dapat dibayangkan oleh fikiran manusia kerana azab ini tidak pernah disaksikan atau berlaku di atas muka bumi. Dalam keadaan menanggung azab yang pedih, tiba-tiba Allah s.w.t memerintahkan agar dibuka pintu yang menghala ke lorong yang menuju neraka. Segala bau busuk dan bahang neraka meresap masuk ke dalam kubur mereka. Malaikat akan datang membawa bunga rampai api neraka dan menaburkan ke atas kafir dan fujjar yang berbaring. Sebelum datang smeua ini, Allah s.w.t mendatangkan pula sepasang pakaian daripada minyak yang mendidih, dibalutkan pakaian tersebut kepada mereka.

Ingatlah sungguhpun Allah menurunkan pelbagai bala seperti gempa bumi, angin ribut, taufan dan lain-lain, namun semua ini hanya bala Allah yang Maha Perkasa dengan tujuan agar manusia berfikir dan insaf. Dengan berbuat demikian, niscaya akan menambahkan lagi keyakinan dan keimanan terhadap kekuasaan Allah s.w.t.

Selain malaikat Munkar dan Nankir, akan datang sekumpulan malaikat yang buta dan tuli yang khusus bertugas memberi azab yang pedih. Di tangan mereka ada palu besi yang jika dipukulkan kepada gunung batu, niscaya akan hancur lebur dengan sekali pukul. Kubur tempat roh menerima hukuman. Oleh karena itu, wajiblah seseorang itu beriman dengan perkara yang akan dirasakan oleh roh. Roh seseorang akan senang dan riang apabila ditunjukkan segala amal perbuatannya yang sholeh dan roh seseorang itu akan merasa dukacita dan bersedih hati apabila melihat amalannya yang jahat. Wallahu a’lam

Read Full Post »

Jangan Jadi Gelas

Jangan jadi gelas

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya
belakangan ini selalu tampak murung.

“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di
dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? ” sang Guru bertanya.

“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk
tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, ” jawab sang
murid muda.

Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.
Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan
gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana
yang diminta.

“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata
Sang Guru. “Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.”
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air
asin.

“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.

“Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih
meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis
keasinan.

“Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat
tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.”
Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa
bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa
asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah
di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

“Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil
mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir
danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan
membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin
dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya
kepadanya, “Bagaimana rasanya?”

“Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan
punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber
air di atas sana . Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.
Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang
tersisa di mulutnya.

“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”

“Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan
meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya,
membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah
dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.
Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus
kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai
untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang
dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun
demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang
bebas dari penderitaan dan masalah.”

Si murid terdiam, mendengarkan.

“Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat
tergantung dari besarnya ‘qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak,
supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu
dalam dadamu itu jadi sebesar danau.”

Read Full Post »