Feeds:
Posts
Comments

Archive for December 11th, 2006

Gemuk.?

APAKAH GEMUK ANDA AMAN, ATAU SUDAH BERISIKO??

Istilah gemuk lambang makmur mungkin sudah tidak berlaku lagi jika kita kaitkan

dengan kesehatan. Karena banyak factor resiko dari kegemukan yang bisa mengganggu

kondisi kesehatan tubuh kita. Gemuk bukan berarti selalu penyakitan, tapi….apakah

GEMUK anda aman atau sudah beresiko?

Kalau anda mengidap hipertensi, atau cenderung bertekanan darah tinggi, Anda harus

mengusahakan mencapai atau mempertahankan kondisi tubuh ideal yang sehat. Tubuh

mampu menyimpan lemak dalam jumlah tak terbatas. Namun, biasanya banyaknya

lemak tubuh yang sehat untuk pria dewasa berkisar antara 10 – 20 persen dari berat

badannya, dan untuk wanita dewasa sekitar 25 persen. Umumnya berat badan ideal

seseorang tercapai pada usia remaja, berangsur-angsur bertambah dengan

meningkatnya usia, apalagi bila kehidupannya semakin makmur, dan mencapai

puncaknya pada usia 50 tahun.

Kenaikan berat badan itu terjadi bila makan lebih dari yang diperlukan, atau

mengemil junk food yang berkalori tinggi ( terutama lemak dan karbohidrat) dan

kurang serat. Selain itu, kurang melakukan kegiatan fisik yang umum terjadi pada usia

diatas 40 tahun. Bahkan untuk kondisi sekarang banyak diantara kita dengan usia di

bawah 40 tahunpun memiliki bobot badan yang berlebih.

Untuk mengetahui dengan cepat apakah anda

sudah menjadi gemuk berlebihan, cobalah

mencubit daging di perut Anda tepat di atas

pusar. Bila jarak antara ibu jari dengan telunjuk

lebih dari 2,5 cm, anda termasuk mempunyai

berat badan melebihi persyaratan yang sehat.

Cara evaluasi yang lebih akurat dan dapat Anda lakukan sendiri, adalah :

Menghitung IMT ( Indek Masa Tubuh). Rumus untuk menghitung IMT diberikan oleh PERSAGI (Persatuan Ahli Gizi Indonesia) dalam 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang. Pedoman ( 1994), yaitu: IMT = Berat Badan (kg) dibagi dengan Tinggi Badan pangkat dua ( m/meter). Misalnya, berat badan

IMT = BB (kg) / TB (m) 2

Anda 79 kg, dan tinggi 160 cm =1,6 m, maka:

IMT = 79/(1,6 X 1,6 ) = 30,9.

Cara lain dengan menggunakan table, untuk orang Indonesia telah dibuatkan Tabel

IMT oleh Lembaga Nasional untuk Pedoman Klinis Kesehatan (1998).

Ada pula cara praktis untuk mengetahui IMT, yaitu menggunakan “Cakram IMT” yang

dibuat oleh Klinik Konsultasi Gizi & Klub Diet GMSK ( Departemen Gizi Masyarakat dan

Sumber Daya Keluarga) IPB. Anda tinggal menggeser dalam untuk memasukan data

mengenai tinggi Anda ( missal 1,6 meter) dan mencocokannya dengan berat badan (

missal 60 kg) pada cakram luar, kemudian hasilnya dapat terlihat dengan segera.

Dalam kasus ini, IMT anda adalah 24 dan kategori anda termasuk normal.

Kategori Anda menurut IMT

Versi Klinik Konsultasi Gizi & Klub Diet GMSK:

Kurang dari 17,0 = Kurus tingkat berat

17,0 – 18,5 = Kurus tingkat ringan

18,5 – 25,0 = Normal

25,0 – 27,0 = Gemuk tingkat ringan

Lebih dari 27,0 = Gemuk tingkat berat.

LINGKAR PINGGANG. Inilah lokasi dari sebagian besar lemak yang tersimpan pada

tubuh kita. Orang yang besar dibagian pinggang, sering disebut obesitas tipe”apel”

sedangkan pada tipe “pir”, lemak berkumpul di bawah pinggang, sekitar pinggul dan

paha. Dengan lemak berkumpul di sekitar pinggang, obesitas tipe”apel” berisiko lebih

tinggi terkena hipertensi dan penyakit lainnya ( diabetes, jantung koroner, stroke. Hal

itu dimungkinkan karena lemak di rongga perut lebih mudah diuraikan, sehingga

menumpuk di arteri.

Untuk menentukan apakah Anda besar di sekitar perut, ukur lingkar pinggang

dengan mencari titik tertinggi di tulang pinggang, lalu ukur lebarnya. Seorang pria

yang berlingkar pinggang lebih dari 102 cm ( Indonesia 90 cm), dan wanita lebih

dari 88 cm ( Indonesia 80 cm), menunjukan factor resiko tinggi kena penyakit,

apalagi bila IMT – nya 25 atau lebih.

Jadi untuk sekarang, mari kita ukur IMT dan lingkar perut kita masing-masing. Apakah

kita termasuk kurus, normal, atau gemuk yang penuh risiko?

Advertisements

Read Full Post »

Berpindah Mazhab

Berpindah-Pindah Mazhab

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum wr. wb.

Ustadz yang saya hormati,
Apakah setiap muslim di masa sekarang harus mengikat dirinya dengan salah satu madzhab yang ada dan selalu mengambil pendapat madzhabnya saja, atau bolehkah kita berganti-ganti pegangan dan mengambil pendapat yang paling ‘ringan’ dari beberapa madzhab pada setiap masalah?

Jazakallahu khair atas jawaban ustadz.

Ummu Khalid
ummuumar at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wrahmatullahi wabarakatuh,

Memang ada sedikit beda pendapat tentang masalah kesetiaan pada satu mazhab ini. Ada beberapa pendapat ulama yang menganjurkan agar kita tidak terlalu mudah bergonta-ganti mazhab. Bahkan ada juga yang sampai melarangnya hingga mengharamkannya. Sementara itu umumnya ulama tidak sampai mewajibkannya.

1. Mereka yang Mengharuskan

Hujjah mereka yang mengharuskan berpegang pada satu mazhab adalah agar tidak terjadi kerancuan dalam aplikasi ibadah. Sebab tiap-tiap mazhab dihasilkan dari suatu logika ijthad yang sistematis, teratur dan runtut. Sehingga menurut pendapat ini, kita tidak boleh main campur aduk begitu saja hasil-hasil ijtihad yang metologinya saling berbeda.

Harus ada sebuah logika yang runtut dan konsekuensi untuk tiap-tiap ijtihad. Karena itu sebagian ulama yang masuk ke dalam kelompok in berpendapat tidak bolehnya bergonta-ganti mazhab.

2. Mereka yang Tidak Mengharuskan

Sedangkan pendapat yang berlawan mengatakan sebenarnya kalau diteliti lebih dalam, tidak ada kewajiban dari nash baik Quran maupun sunnah yang mengharuskan hal itu. Umumnya para ulama mengatakan bahwa setiap orang bebas untuk memilih mazhab mana yang ingin dipegangnya. Termasuk bila seseorang harus berganti mazhab berkali-kali.

Dalilnya adalah bahwa dahulu Rasulullah SAW tidak pernah mewajibkan untuk bertanya kepada satu orang shahabat saja. Tetapi siapa saja dari shahabat yang punya pengetahuan tentang suatu masalah, boleh dijadikan rujukan. Sebagaimana firman Allah:

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (QS An-Nahl: 43)

Ayat ini tidak mewajibkan bila sudah bertanya kepada satu orang, maka tidak boleh lagi bertanya kepada orang lain. Ayat ini hanya mensyaratkan bahwa kita wajib bertanya kalau tidak tahu, agar dapat beribadah dengan benar. Namun tidak boleh bertanya kepada sembarang orang, harus kepada ahluz-zikr, yang diterjemahkan sebagai ulama, fuqaha’ ahli ilmu syariah yang kompeten dan benar-benar menguasai bidangnya. Tapi tidak mengharuskan hanya pada satu orang saja.

Bagaimana dengan Kita?

Di tengah beda pendapat antara dua ‘kubu’ ini, kami lebih cenderung kepada pendapat yang memudahkan. Yaitu pendapat yang intinya tidak bikin susah seorang yang ingin menjalankan agamanya. Dan kondisi bisa saja berbeda-beda untuk tiap orang.

Di tempat tertentu, ada mungkin seorang ‘alim yang sangat menguasai ilmu agama dalam versi mazhab tertentu. Boleh dibilang bahwa dalam semua masalah agama, beliaulah satu-satunya rujukan yang ada. Meski ilmunya hanya dengan satu paham mazhab saja. Maka seorang muslim awam boleh bertanya kepada beliau dan menjadikannya sebagai rujukan dalam masalah agama.

Tidak ada kewajiban bagi si awam ini untuk melakukan konsultasi silang kepada ulama lain yang tidak terjangkau baginya. Asalkan si ‘alim itu memang seorang yang menguasai masalah fiqih, cukuplah bagi masyarakat di sekitarnya menjadikan pendapat-pendapat beliau sebagai rujukan. Atau dalam bahasa lainnya, bertaqlid kepadanya.

Tetapi bertaqlid di sini bukan kewajiban, melainkan justru memudahkan. Sifatnya bukan keharusan, tetapi kebolehan.

Di tempat lain boleh jadi ada surplus ulama, misalnya di situ berkumpul beberapa ulama dari beberapa mazhab yang saling. Maka buat orang-orang awam yang tinggal di tempat itu, boleh saja mereka berguru kepada masing-masing ulama dari beberapa mazhab itu. Tidak ada keharusan untuk ‘selalu setia sepanjang masa’ dalam menjalankan pendapat dari ulama tertentudari mereka. Sebagaimana juga tidak ada larangan untuk tetap setia kepada satu saja dari mereka.

Ini yang kami maksud dengan prinsip yang memudahkan. Bila di suatu tempat hanya ada satu ulama, kita boleh bermazhab satu saja, tidak wajib berpindah-pindah mazhab. Karena pindah-pindahitu justru menyulitkan.

Sebaliknya, bila di suatu tempat ada banyak sumber ilmu dari beragam mazhab, boleh-boleh saja untuk membandingkannya dan memilih pendapat yang menurut kita paling kuat dalilnya. Tetapi juga tidak ada larangan untuk tetap berpegang saja pada satu mazhab, meski di sekeliling terdapat banyak mazhab lain.

Artinya, yang mana saja yang kita ikuti, selama suatu pendapat keluar dari seorang ulama yang kompeten dalam masalah istimbath hukum fiqih, silahkan saja. If’al-wa laa haraj, lakukan dan tidak ada keberatan.

Dalam Satu Mazhab Bisa Saja Ada Banyak Pendapat

Apa yang kami sampaikan ini dikuatkan dengan kenyataan bahwa di dalam satu mazhab pun sangat mungkin terjadi perbedaan-perbedaan lagi.

Kalau kita umpamakan, anggaplah ada mazhab 1, 2, 3 dan 4. Terhadap suatu masalah, sangat mungkin terjadi perbedaan pendapat di antara keempat mazhab itu. Tapi kalau kita teliti di mazhab 1, ternyata masih ada perbedaan lagi.

Kita misalkan ada tiga pendapat yaitu pendapat a, b dan c. Di dalam mazhab 2, juga adalagi berpedaan pendapat, yaitu pendapat a, b dan c. Bukan itu saja, ternyata di dalam mazhab 3 ada juga perbedaan pendapat yaitu pendapat a, b dan c. Demikian juga di dalam mazhab 4, ada tiga pendapat yang berbeda, yaitu pendapat a, b dan c.

Maka kita akan punya 12 pendapat yang berbeda-beda, bukan hanya 4 pendapat saja.

Dan sangat boleh jadi, pecahan pendapat dari suatu mazhab justru punya kesamaan dengan pecahan pendapat dari mazhab lainnya. Misalnya, pendapat mazhab 1b sama dengan pendapat mazhab 3c. Pendapat mazhab 4 d sama dengan pendapat 2 d.

Kalau sudah begini, bagaimana kita mengatakan bahwa kita wajib berpegang teguh hanya pada satu mazhab saja? Padahal di dalam mazhab itu ada begitu banyak variasi pendapat?

Pendapat Suatu Mazhab Mungkin Saja Dikoreksi

Berpegang hanya pada satu mazhab saja ternyata tidak terlalu mudah. Sebab boleh jadi pendapat dalam satu mazhab berganti-ganti.

Jangan dibayangkan bahwa tiap-tiap hasil ijtihad dari suatu mazhab bersifat mutlak dan tidak bisa diubah lagi. Sebagian dari hasil ijtihad mazhab-mazhab itu sangat mungkin untuk dikoreksi dan diubah oleh ulamanya.

Ambillah contoh Al-Imam As-Syafi’i rahimahullah, yang punya dua versi dalam mazhabnya, yaitu qaul qadim dan qaul jadid. Sebagai contoh aplikatif, dalam qaul qadim-nya beliau berpendapat bahwa tayammum itu harus mengusapkan debu ke kedua tangan hingga kedua tapak tangan saja, tidak perlu sampai siku seperti dalam wudhu.

Namun dalam qaul jadid-nya, beliau mengoreksi hasil ijtihadnya dan mengatakan bahwa mengusapkan debu ketika tayammum harus sampai ke kedua siku, sebagaimana dalam wudhu’.

Orang Awam Bingung Pengelompokan Berdasarkan Mazhab

Dan yang paling menjadi hujjah tidak harusnya kita berpegang pada satu mazhab saja adalah bahwa kita sulit mengidentifikasi suatu pendapat itu merupakan produk mazhab mana.

Khususnya hal ini terjadi di wilayah di mana syariat Islam tidak diajarkan berdasarkan satu mazhab saja. Seperti yang umumnya dialami oleh muslim perkotaan. Sebab mereka punya akses yang begitu banyak, akibat padatnya arus informasi beragamnya kemungkinan akses kepada beragam ilmu syariah.

Kalau kita wajibkan mereka bermazhab dengan satu mazhab saja, justru menyulitkan, sebab mereka justru tidak tahu, detail-detail ibadah mereka itu sesuai dengan mazhab yang mana.

Apakah dalam keadaan demikian kita mengatakan bahwa sebelum menjalankan shalat, seseorang diwajibkan mencari runtutan identitas mazhabnya? Apakah kita akan bilang shalatnya tidak sah kalau tidak tahu versi mazhabnya?

Tentu hal ini justru sangat memberatkan dan jadi beban tersendiri. Sebab adanya mazhab-mazhab ulama justru untuk memudahkan orang awam, sehingga tidak perlu lagi mereka direpotkan untuk berijtihad sendiri. Sesuatu yang boleh dibilang mustahil buat orang awam, mengingatkan syarat bolehnya berijtihad itu lumayan berat.

Syariah itu jadi mudah dengan adanya mazhab, bukan untuk bikin susah.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Read Full Post »

Bercampur Mazhab

Bercampur Mazhab

Assalamualaikum, pak ustaz.

Saya ingin bertanya 2 soalan kepada ustaz,

1) Adakah diharuskan mencampur mazhab sebagaimana dilakukan sebahagian orang kerana ada ustaz mengatakannya haram?

2) Bagaimana jika kita tidak ikut mana mana mazhab dan hanya mengikut hadis yang sohih sebagaimana dilakukan oleh Imam Bukhari? Ibnu Qayyim al-Jauzi juga ada menulis banyak keburukan jika meninggalkan hadis dan hanya ikut mazhab kerana ada juga fatwa imam Syafie yang bercanggah dengan hadis sohih dan yang mana perlu didahulukan, ajaran mazhab atau hadis sohih?

Salafi

Jawaban

Assalamu ‘aaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Seringkali orang salah persepsi dalam memandang mazhab fiqih. Seolah mazhab-mazhab itu pecahan umat untuk saling bertentangan dalam segala hal.

Padahal sesungguhnya munculnya mazhab itu boleh dibilang justru sebagai sarana untuk memudahkan umat dalam memahami nash-nash syariah. Sebab tidak semua orang mampu menarik kesimpulan hukum. Tidak semua orang mampu untuk berijtihad sesuai dengan kaidahnya.

Bukhori Bermazhab Juga

Jangan dikira bahwa mazhab itu hanya untuk orang-orang awam saja, bahkan para ulama besar pun juga bermazhab. Di dalam kitab Al-Imam Asy-Syafi’i bainal mazhabaihil Qadim wal Jadid, Dr. Nahrawi Abdussalam menuliskan bahwa di antara para pengikut mazhab Syafi’i adalah Al-Imam Al-Bukhari, seorang tokoh ahli hadits yang kitabnya tershahih di dunia setelah Al-Quran.

Al-Bukhari memang tokoh ahli hadits dan paling kritis dalam menyeleksi hadits. Namun beliau bukan ahli ijtihad yang mengistimbath hukum sendiri sampai setingkat mujtahid mutlak. Dalam masalah menarik kesimpulan hukum, beliau menggunakan metodologi yang digunakan dalam mazhab Syafi’i. Dengan demikian beliau adalah salah satu ulama besar yang bermazhab, yaitu mazhab Syafi’i.

Ada juga di antara murid mazhab As-Syafi’i yang kemudian naik derajatnya sampai mampu menciptakan metodologi istimbath sendiri, sehingga beliau kemudian mendirikan sendiri mazhabnya, yaitu Imam Ahmad bin Hanbal. Marahkah As-Syafi’i mengetahui muridnya mendirikan mazhab sendiri? Beliau berkomentar, “Aku tinggalkan Baghdad dan tidak ada orang yang lebih faqih dari Imam Ahmad bin Hanbal.”

Kalau saja jumlah nash-nash syariah itu hanya 6.000-an ayat Quran plus 5.000-an hadits shahih Bukhari, tentu saja mudah sekali buat setiap orang untuk beragama. Tetapi ketahuilah bahwa bahwa nash-nash syariat jauh lebih banyak dari semua itu. Al-Quran memang hanya 6.000-an ayat saja, tapi bagaimana dengan hadits nabawi? Apakah hadits itu hanya shahih bila Bukhari saja yang mengatakannya? Tentu saja tidak, sebab imam Bukhari itu hanya satu dari sekian ratus atau sekian ribu muhaddits yang ada di dunia ini. Salah besar bila kita beranggapan hanya hadits Bukhari saja yang benar dan semua hadits selain yang terdapat dalam kitab shahihnya harus ditolak.

Ini baru dari sisi jumlah sumber nash syariah, padahal masalah hukum agama ini tidak semata-mata ditentukan oleh nash-nash saja, namun lebih jauh dari itu, setiap nash itu masih harus diteliti kekuatan derajatnya, lalu dikomparasikan antara satu dengan lainnya.

Mengapa harus demikian?

Sebab begitu banyak nash-nash syariah itu yang sekilas antara satu dengan yang lain saling berbeda, bukan hanya redaksinya tetapi sampai pada masalah esensinya. Bayangkan, ada dua nash yang sama-sama shahih, keduanya tercantum di dalam kitab Shahih Bukhari, tapi yang satu mengatakan haram dan yang lain bilang halal. Kalau sudah demikian, kita akan bilang apa?

Tentu perlu sebuah kajian mendalam dari segala sisi, serta kemampuan khusus dalam melakukannya. Minimal orang yang melakukan kajian ini punya kemampuan untuk berijtihad sampai pada tingkat tertentu. Dan harus ada logika yang kuat untuk bisa mengatakan kesimpulan akhirnya, apakah hukukmnya halal atau haram.

Lalu kepada siapakah kita menyerahkan masalah ini? Adakah suatu dewan pakar yang mau mengerjakanannya dengan teliti, cermat dan lengkap?

Jawabnya, para ulama mazhab-mazhab itulah yang telah berjasa besar untuk melakukan ‘mega proyek’ itu. Dan mereka -alhamdulillah- adalah orang-orang yang shalih, pakar, ahli, jenius serta ikhlas, karena tidak pernah minta bayaran.

Masa perkembangan mazhab-mazhab besar dunia fiqih dimulai pada kira-kira setengah abad setelah kepergian nabi SAW, yaitu sejak tahun 97 Hijriyah. Ditandai dengan kelahiran Imam Mazhab pertama yaitu Abu Hanifah rahimahullah, yang telah berhasil memadukan antara dalil nash Quran dan sunnah sesuai dengan logika nalar hukum. Kemudian diikuti oleh Imam Malik, Imam As-syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahumullah. Mereka semua adalah guru dari umat Islam, karena merekalah yang telah berjasa melakukan isitmbath hukum dari Al-Quran dan Sunnah,sehingga bisa menguraikan hukum-hukum Islam secara detail, rinci, lengkap, bahkan meliputi semua aspek kehidupan.

Bahkan mereka telah meletakkan dasar-dasar istimbath hukum, yang kemudian menjadi modal sekaligus model bagi seluruh ulama di dunia untuk melakukannya. Nyaris boleh dibilang bahwa tidak ada ulama yang mampu melakukan istimbath hukum yang berbeda, kecuali menggunakan salah satu metode yang telah mereka rintis.

Karena itulah keempat mazhab mereka tetap bertahan sampai ribuan tahun, bahkan berhasil menjadi sebuah disiplin ilmu yang abadi sepanjang zaman.

Perbedaan Mazhab

Namun yang menarik, meski masing-masing punya metode istimbath hukum yang terkadang berbeda, tetapi sebenarnya hubungan anterpersonal di antara mereka sangat dekat. Jauh dari gambaran sekte-sekte agama Kristen yang justru saling berbunuhan. Mereka justru saling berguru dan saling membangkan guru dan muridnya. Dan yang terpenting, tidak ada satu pun yang melecehkan pendapat guru ata muridnya. Semua sangat menghormati bukan sekedar basa-basi, tapi langsung dari hati.

Adapun perbedaan pendapat di antara mereka memang sangat mungkin terjadi. Bukankah dahulu di masa nabi SAW sekalipun, seringkali para shahabat saling berbeda pendapat dalam menarik kesimpulan hukum. Kurang apa shalihnya para shahabat itu? Tapi urusan berpendapat dalam masalah ijtihad, seorang Umar ra bisa saja tidak sependapat dengan ijtihad nabi Muhammad SAW, kecuali bila wahy yang turun.

Bahkan para nabi utusan Allah, tidak luput dari perbedaan pandangan dalam masalah hukum. Mereka acap kali punya sudut pandang yang brbeda, meski sama-sama menerima wahyu dari Allah.

Termasuk juga para malaikat yang maksum itu, banyak diriwayatkan mereka pun suka berbeda pendapat. Misalnya dalam kasus masuk surganya seorang penjahat yang telah membunuh 100 nyawa. Malaikat Rahman ingin membawanya ke surga, tapi malaikat azab ingin membawanya ke neraka. Malaikat pun bisa berbeda pendapat sesama mereka.

Maka kalau para shahabat mungkin berbeda pendapat, para nabi sering berbeda pendapat, bahkan para malaikat dimungkinkan berbeda pendapat, sangat manusiawi bila para imam mazhab masing-masing punya keistimewaan khas dalam menarik kesimpulan hukum atas jutaan butir nash-nash syariah.

Semua sangat dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan para imam itu, termasuk sosio-kultural mereka, kebiasaan, ketersediaan bahan baku, bahkan hasil-hasil temuan di bidang iptek.

Tidak Ada yang Paling Shohih

Mungkin akan muncul pertanyaan, kalau mazhab-mazhab itu ada dan diakui keberadaannya, lalu manakah yang paling shahih?

Jawabnya kesemuanya shahih, dalam arti kesemuanya merupakan hasil-hasil ijtihad luar biasa para ulama, yang sudah dijamin keabasahannya. Boleh dibilang kesemuanya shohih dan kesemuanya benar. Siapa pun muslim berhak bermazhab dengan salah satu dari mazhab itu, atau mengambil satu pendapat dari sekian banyak pendapat dari masing-masing mazhab.

Kita ibarat masuk ke sebuah Hypermarket raksasa, di mana di dalamnya dipenuhi dengan beragam barang kebutuhan yang tentunya sudah diseleksi. Ada berbagai macam barang dengan berbagai macam merek dan vendor yang tersedia. Tentu saja semua sudah lulus seleksi dan uji coba. Masing-masing tentu dengan ciri dan keistimewaan masing-masing. Tinggal selera kita saja yang menentukannya. Dan tidak perlu kita memaksakan selera pribadi kepada orang lain. Sebab lidah tiap orang tidak sama, demikian juga kebutuhan masing-masing juga tidak sama.

Tapi bagaimana kalau ada mazhab yang kurang shahih atau malah sesat?

Tentu saja secara alami akan tersingkir dari panggung sejarah. Dahulu sebenarnya bukan hanya ada 4 mazhab itu saja, tapi puluhan bahkan lebih banyak lagi. Tapi secara seleksi alam, yang berhasil bertahan hanya 4 mazhab itu saja.

Kalau kita ibaratkan dengan hypermarket tadi, kira-kira konsumen sudah tahu mana produk yang berkualitas dan mana yang hanya ‘ecek-ecek’ saja. Segera barang yang kurang berkualitas akan tidak laku di pasaran dan akhirnya tidak diproduksi lagi.

Tapi Bolehkah Kita Gonta-ganti Mazhab Atau Mengambil Pendapat Secara Acak?

Sebenarnya Rasulullah SAW tidak pernah menetapkan kepada kita bahwa kalau sudah bertanya kepada si A, maka jangan lagi bertanya kepada si B. Perintah beliau adalah bertanyalah kepada orang yang sesuai dengan keahliannya. Meski orang itu ada banyak, tidak jadi soal. Bahkan semakin banyak alternatif jawabannya, semakin baik. Karena kita bisa melakukan perbandingan atas semua jawaban itu.

Dengan logika hypermart di atas, sangat dibolehkan kita membeli barang dari produsen yang berbeda, yang penting sesuai dengan kebutuhan kita. Tidak ada kewajiban untuk hanya membeli dari satu produsen saja.

Meski juga tidak ada larangan bisa seseorang merasa cocok dengan satu merek dan tidak mau menggantinya dengan merek lain. Maka mulai dari pakaian, kendaraan, makanan, termasuk alat elektronik miliknya, berasal dari satu produsen yang sama.

Maka Islam membolehkan seseorang berpegang pada satu mazhab saja, kalau memang dia rela dan menginginkannya. Tapi jangan sampai selera pribadinya itu dipaksakan kepada orang lain.

Bukankah perbedaan mazhab ini sering jadi faktor pemicu perpecahan?

Alih-alih meributkan perbedaan pandangan antar mazhab, kita justru sangat berbahagia dan sangat diuntungkan dengan adanya perbedaan pandangan dari berbagai mazhab.

Sebab dunia Islam itu sangat luas, membentang dari ujung barat Maroko sampai ujung Timur Marauke, pastilah muncul berbagai macam perbedaan keadaan masyarakat. Dan semua itu pasti membutuhkan jawaban syariah yang tepat.

Dengan kekayaan khazanah intelektual warisan dari para pendiri mazhab itu, kita dengan mudah bisa menyelesaikan banyak persoalan. Kesemuanya sah dan benar, tinggal menyesaikannya dengan beragam tipe masalah.

Hanya mereka yang terlalu awam dan kurang punya wawasan yang baik, yang mau-maunya berantem dengan sesama muslim hanya lantaran perbedaan mazhab. Memang sangat kita sayangkan masih adanya kalangan yang demikian. Misalnya, begitu dia melihat saudaranya shalat tidak sama dengan cara shalatnya, langsung dicaci dan dimakinya, bahkan tudingan ahli bid’ah pun bertubi-tubi dilontarkan kepadanya. Padahal ilmu yang dimiliki hanya terbatas pada satu dua rujukan saja, namun lagak dan gayanya seperti mufti kerajaan. Nauzu billahi min zalik.

Padahal meski seandainya di dunia ini hanya ada satu sumber nash syariah saja, misalnya hanya ada Al-Quran saja, pastilah umat Islam tetap berbeda pendapat dalam menarik kesimpulan hukum.

Padahal kita punya jutaan sumber nash syariah, dengan beragam kemungkinan nilai derajat keshahihannya, dengan beragama esensi kandungan materinya, dengan beragam redaksinya, semuanya hanya akan sampai kepada satu titik, yaitu perbedaan pendapat.

Kalau setiap perbedaan pendapat harus ditanggapi dengan cacian, makian, tuduhan ahli bid’ah dan seterusnya, ketahuilah bahwa semua itu justru mencerminkan kedangkalan ilmu para pelakunya. Sama sekali tidak menggambarkan keulamaannya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Read Full Post »