Feeds:
Posts
Comments

Archive for July 26th, 2007

Hidup Sehat

Cara Rasulullah SAW

Anak Adam tidak memenuhkan suatu tempat yang lebih jelek dari perutnya. Cukuplah beberapa suap yang dapat memfungsikan tubuhnya. Kalau tidak ditemukan jalan lain, maka (ia dapat mengisi perutnya) dengan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk pernafasan.” HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban

Konon, selama hidupnya Rasulullah SAW hanya sakit dua kali. Yaitu setelah menerima wahyu pertama, ketika itu beliau mengalami ketakutan yang sangat sehingga menimbulkan demam hebat. Yang satunya lagi menjelang beliau wafat. Saat itu beliau mengalami sakit yang sangat parah, hingga akhirnya meninggal. Ada pula yang menyebutkan bahwa Rasul mengalami sakit lebih dari dua kali.

Berapa pun jumlahnya, dua, tiga atau empat kali, memperjelas gambaran bahwa beliau memiliki fisik sehat dan daya tahan luar biasa. Padahal kondisi alam Jazirah Arabia waktu itu terbilang keras, tandus dan kurang bersahabat. Siapa pun yang mampu bertahan puluhan tahun dalam kondisi tersebut, plus berpuluh kali peperangan yang dijalaninya, pastilah memiliki daya tahan tubuh yang hebat.

Mengapa Rasulullah SAW jarang sakit? Pertanyaan ini menarik untuk dikemukakan. Secara lahiriah, Rasulullah SAW jarang sakit karena mampu mencegah hal-hal yang berpotensi mendatangkan penyakit. Dengan kata lain, beliau sangat menekankan aspek pencegahan daripada pengobatan. Jika kita telaah Alquran dan Sunnah, maka kita akan menemukan sekian banyak petunjuk yang mengarah pada upaya pencegahan. Hal ini mengindikasikan betapa Rasulullah SAW sangat peduli terhadap kesehatan. Dalam Shahih Bukhari saja tak kurang dari 80 hadis yang membicarakan masalah ini. Belum lagi yang tersebar luas dalam kitab Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Tirmidzi, Baihaqi, Ahmad, dsb.

Cara Rasulullah menjaga kesehatan
Ada beberapa kebiasaan positif yang membuat Rasulullah SAW selalu tampil fit dan jarang sakit. Di antaranya:

Pertama, selektif terhadap makanan. Tidak ada makanan yang masuk ke mulut beliau, kecuali makanan tersebut memenuhi syarat halal dan thayyib (baik). Halal berkaitan dengan urusan akhirat, yaitu halal cara mendapatkannya dan halal barangnya. Sedangkan thayyib berkaitan dengan urusan duniawi, seperti baik tidaknya atau bergizi tidaknya makanan yang dikonsumsi. Salah satu makanan kegemaran Rasul adalah madu. Beliau biasa meminum madu yang dicampur air untuk membersihan air lir dan pencernaan. Rasul bersabda, “Hendaknya kalian menggunakan dua macam obat, yaitu madu dan Alquran” (HR. Ibnu Majah dan Hakim).

Kedua, tidak makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Aturannya, kapasitas perut dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu sepertiga untuk makanan (zat padat), sepertiga untuk minuman (zat cair), dan sepertiga lagi untuk udara (gas). Disabdakan. ”Anak Adam tidak memenuhkan suatu tempat yang lebih jelek dari perutnya. Cukuplah bagi mereka beberapa suap yang dapat memfungsikan tubuhnya. Kalau tidak ditemukan jalan lain, maka (ia dapat mengisi perutnya) dengan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk pernafasan” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

Ketiga, makan dengan tenang, tumaninah, tidak tergesa-gesa, dengan tempo sedang. Apa hikmahnya? Cara makan seperti ini akan menghindarkan tersedak, tergigit, kerja organ pencernaan pun jadi lebih ringan. Makanan pun bisa dikunyah dengan lebih baik, sehingga kerja organ pencernaan bisa berjalan sempurna. Makanan yang tidak dikunyah dengan baik akan sulit dicerna. Dalam jangka waktu lama bisa menimbulkan kanker di usus besar.

Keempat, cepat tidur dan cepat bangun. Beliau tidur di awal malam dan bangun pada pertengahan malam kedua. Biasanya, Rasulullah SAW bangun dan bersiwak, lalu berwudhu dan shalat sampai waktu yang diizinkan Allah. Beliau tidak pernah tidur melebihi kebutuhan, namun tidak pula menahan diri untuk tidur sekadar yang dibutuhkan. Penelitian Daniel F Kripke, ahli psikiatri dari Universitas California menarik untuk diungkapkan. Penelitian yang dilakukan di Jepang dan AS selama 6 tahun dengan responden berusia 30-120 tahun mengatakan bahwa orang yang biasa tidur 8 jam sehari memiliki resiko kematian yang lebih cepat. Sangat berlawanan dengan mereka yang biasa tidur 6-7 jam sehari. Nah, Rasulullah SAW biasa tidur selepas Isya untuk kemudian bangun malam. Jadi beliau tidur tidak lebih dari 8 jam.

Cara tidurnya pun sarat makna. Ibnul Qayyim Al Jauziyyah dalam buku Metode Pengobatan Nabi mengungkapkan bahwa Rasul tidur dengan memiringkan tubuh ke arah kanan, sambil berzikir kepada Allah hingga matanya terasa berat. Terkadang beliau memiringkan badannya ke sebelah kiri sebentar, untuk kemudian kembali ke sebelah kanan. Tidur seperti ini merupakan tidur paling efisien. Pada saat itu makanan bisa berada dalam posisi yang pas dengan lambung sehingga dapat mengendap secara proporsional. Lalu beralih ke sebelah kiri sebentar agar agar proses pencernaan makanan lebih cepat karena lambung mengarah ke lever, baru kemudian berbalik lagi ke sebelah kanan hingga akhir tidur agar makanan lebih cepat tersuplai dari lambung. Hikmah lainnya, tidur dengan miring ke kanan menyebabkan beliau lebih mudah bangun untuk shalat malam.

Kelima, istikamah melakukan saum sunnat, di luar saum Ramadhan. Karena itu, kita mengenal beberpa saum sunnat yang beliau anjurkan, seperti Senin Kamis, ayyamul bith, saum Daud, saum enam hari di bulan Syawal, dsb. Saum adalah perisai terhadap berbagai macam penyakit jasmani maupun ruhani. Pengaruhnya dalam menjaga kesehatan, melebur berbagai berbagai ampas makanan, manahan diri dari makanan berbahaya sangat luar biasa. Saum menjadi obat penenang bagi stamina dan organ tubuh sehingga energinya tetap terjaga. Saum sangat ampuh untuk detoksifikasi (pembersihan racun) yang sifatnya total dan menyeluruh.

Selain lima cara hidup sehat ini, masih banyak kebiasaan Rasulullah SAW yang layak kita teladani. Dalam buku Jejak Sejarah Kedokteran Islam, Dr Ja’far Khadem Yamani mengungkapkan lebih dari 25 pola hidup Rasul berkait masalah kesehatan, sebagian besar bersifat pencegahan. Di antaranya cara bersuci, cara ”memanjakan” mata, keutamaan berkhitan, keutamaan senyum, dsb.

Yang tak kalah penting dari ikhtiar lahir, Rasulullah sangat mantap dalam ibadah ritualnya, khususnya dalam shalat. Beliau pun memiliki keterampilan paripurna dalam mengelola emosi, pikiran dan hati. Penelitian-penelitian terkini dalam bidang kesehatan membuktikan bahwa kemampuan dalam memenej hati, pikiran dan perasaan, serta ketersambungan yang intens dengan Dzat Yang Mahatinggi akan menentukan kualitas kesehatan seseorang, jasmani maupun ruhani.

 

Advertisements

Read Full Post »

Cara Rasul

Menangkal Pengangguran

Angka pengangguran pada 2007 diperkirakan mencapai 12,7 juta jiwa, dan
jumlah penduduk miskin mencapai 45,7 juta jiwa. Menurut Pusat Penelitian
Ekonomi LIPI Jakarta, angka tersebut berasal dari 1,6 juta pengangguran
baru, di mana jumlah pengangguran pada tahun 2006 mencapai sebesar 11
juta jiwa. Sementara pada tahun 2004, pengangguran baru mencapai 10,25
juta jiwa. Hal ini menunjukan bahwa angka pengangguran setiap tahun
terus meningkat tajam.

Masih menurut LIPI, jika kita mengasumsikan pertumbuhan ekonomi mencapai
skenario optimum yaitu 6,5 persen dengan tingkat serapan tenaga kerja
hanya 218.518 orang untuk setiap pertumbuhan ekonomi sebesar satu
persen, maka lapangan kerja pada 2007 yang tersedia hanya 1,4 juta.
Sedangkan angkatan kerja pada tahun 2007 diperkirakan akan mengalami
kenaikan sebesar tiga juta orang, berasal dari 1,5 juta orang tambahan
tenaga kerja baru dan 1,5 juta dari kelompok bukan angkatan kerja yang
masuk kembali menjadi angkatan kerja.

Kondisi tersebut menunjukan bahwa Indonesia akan menghadapi kondisi
sulit. Untuk menutupi kenaikan angkatan kerja tahun sekarang saja sudah
tidak bisa, apalagi menutup angka pengangguran tahun sebelumnya. Dengan
kata lain, setiap tahun Indonesia hanya akan terus menambah angka
pengangguran dan kemiskinan baru.

Faktor penyebab
Pengangguran dari zaman ke zaman merupakan sebuah keniscayaan yang tidak
bisa dihindari karena hal itu merupakan sebuah sunatullah. Namun bukan
berarti manusia tidak bisa mengantisipasinya. Pengangguran bukanlah
kodrat Ilahi yang tidak bisa diganggu gugat. Mungkin, pengangguran itu
sendiri disebabkan oleh kesalahan manusia sendiri. Allah SWT telah
memberikan kekayaan alam dan akal yang harus dipergunakan sebaik mungkin
oleh manusia.

Secara umum, adanya pengangguran disebabkan beberapa faktor. Di
antaranya, disebabkan pribadi manusia itu sendiri yang malas bekerja dan
berusaha, adanya kelainan pada diri manusia yang membuat tidak bisa
berusaha, dan tidak adanya lapangan pekerjaan.

Rendahnya pendidikan sehingga tidak adanya kreasi untuk membuka lapangan
pekerjaan sendiri, rendahnya fasilitas teknologi, kondisi pemerintahan
yang tidak sehat dikarenakan adanya pejabat-pejabat pemerintah yang
melakukan KKN, terjadinya pemecatan dikarenakan bangkrutnya perusahaan
dan yang tidak kalah pentingnya yaitu dikarenakan bencana alam. Semua
ini bisa diantisipasi jika ada kesadaran dan kerjasama antara individu
dan pemerintah sebagai pembuat kebijakan ekonomi.

Teladan Rasul
Anas bin Malik menceritakan bahwa suatu ketika ada seorang pengemis dari
kalangan Anshar datang meminta-minta kepada Rasulullah SAW. Lalu beliau
bertanya kepada pengemis tersebut, “Apakah kamu mempunyai sesuatu di
rumahmu?” Pengemis itu menjawab, “Tentu, saya mempunyai pakaian yang
biasa dipakai sehari-hari dan sebuah cangkir.” Rasul langsung berkata,
“Ambil dan serahkan ke saya!” Lalu pengemis itu menyerahkannya kepada
Rasulullah, kemudian Rasulullah menawarkannya kepada para sahabat,
“Adakah di antara kalian yang ingin membeli ini?” Seorang sahabat
menyahut, “Saya beli dengan satu dirham.” Rasulullah menawarkanya
kembali,”adakah di antara kalian yang ingin membayar lebih?” Lalu ada
seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham.

Rasulullah menyuruh pengemis itu untuk membelanjakannya makanan untuk
keluarganya dan selebihnya, Rasulullah menyuruhnya untuk membeli kapak.
Rasullulah bersbada, “Carilah kayu sebanyak mungkin dan juallah, selama
dua minggu ini aku tidak ingin melihatmu.” Sambil melepas kepergiannya
Rasulullah pun memberinya uang untuk ongkos.

Setelah dua minggu pengemis itu datang kembali menghadap Rasulullah
sambil membawa uang sepuluh dirham hasil dari penjualan kayu. Lalu
Rasulullah menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan untuk
keluarganya, seraya bersada, “Hal ini lebih baik bagi kamu, karena
meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti.
Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir
miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa
terbayar, dan penyakit yang membuat sesorang tidak bisa berusaha.” (HR
Abu Daud).

Ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari kisah tersebut.

 

Pertama,
pengangguran dan kemiskinan merupakan tanggung jawab pemerintah dan
mereka mempunyai hak untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah. Hadis
tersebut menunjukkan teladan Rasulullah SAW sebagai pemimpin yang
bertanggung jawab atas kemiskinan dan pengangguran yang terjadi pada
rakyatnya. Beliau langsung tanggap terhadap keluhan rakyatnya.

Kedua,

ada kerja sama antara pemerintah dan orang kaya untuk memberantas
pengangguran dan kemiskinan. Kekayaan tidak hanya menjadi milik pribadi
namun di dalamnya ada hak orang lain yang perlu dikeluarkan, sehingga
kesenjangan antara orang miskin dan orang kaya bisa diberantas. Cara ini
bisa ditempuh dengan memberdayakan zakat dan wakaf umat. Malah lebih
baik lagi jika hal ini ditangani langsung oleh seorang menteri.

 

Ketiga,
pemerintah tidak cukup hanya sadar akan tanggung jawabnya, namun harus
dibarengi dengan kerja nyata dengan mencari solusi untuk mengeluarkan
rakyatnya dari jeratan pengangguran dan kemiskinan.

Keempat,

cara terbaik untuk keluar dari jerat pengangguran dan
kemiskinan adalah dengan memberikan pendidikan dan pekerjaan, tidak
cukup dengan cara menyantuni rakyatnya dengan uang atau makanan. Selain
supaya bisa hidup mandiri, hal ini pula akan meningkatkan perekonomian
bangsa, sebagaimana Rasulullah SAW mendidik pengemis selama dua minggu
untuk belajar mengumpulkan kayu dan berdagang.

Kelima,

Rasulullah sangat mencela orang yang suka minta-minta dan malas
bekerja, terkecuali bagi orang yang benar-benar miskin yang tidak
mempunyai peluang untuk bekerja, orang yang banyak hutang yang tidak
bisa membayarnya dan seorang miskin yang sakit. Mereka menjadi tangung
jawab pemerintah dan masyarakat yang kaya untuk menyantuninya. Dengan
adanya kerja sama dan kesadaran antara individu, masyarakat, dan
pemerintah, insya Allah negeri ini akan segera terbebas dari jerat
kemiskinan dan pengangguran.

Rifqi Fauzi
Mahasiswa Jurusan Hadits Universitas Al Azhar Kairo Mesir

Read Full Post »

Basmalah

Dalam Shalat, Dibaca atau Tidak?

Kamis, 5 Jul 07 08:24 WIB

Assalaamu alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Bapak Ust. Ahmad Sarwat yang terhormat, saya ingin bertanya tentang suatu hal yang mengganggu pikiran saya selama ini, yaitu tentang sholat.

Saya pernah beberapa kali mengikuti sholat jama’ah khususnya sholat yang ada bacaan jahronya/keras. Kenapa kok saya mendengar antara imam yang satu dengan yang lain ada yang lain bacaannya yaitu bacaan keras pertama yang diperdengarkan. Sebelum membaca surat Alfatihah, ada yang membaca “Bismillahirrohmanirrohim” ada juga yang langsung membaca “Alhamdulillahirobbil ‘alamin”. Sebenarnya ini mana yang benar? Adakah hadist yang menerangkan hal tersebut?

Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan jazakalloh.

Wassalaamu alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Mamat

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Bacaan basmalah, apakah dibaca jahr (keras) atau dibaca sirr (lirih), oleh imam shalat di dalam shalat-shalat jahriyah (maghrib, Isya’ dan shubuh), adalah merupakan salah satukhilaf di kalangan para ulama. Khilaf itu sudah berlangsung berabad-abad yang lalu, dan hingga kini masih tetap khilaf. Apa mau dikata?

Dan salah satu sebabnya, karena para ulama berbeda pendapat, apakah basmalah itu bagian dari surat Al-Fatihah atau bukan?

Kalau kita telusuri kitab-kitab fiqih para ulama, kita akan menemukan perbedaan itu di kalangan para ulama mazhab. Kami akan kutipkan di sini bentuk-bentuk perbedaan pendapat itu.

1. Mazhab Asy-Syafi’i

Menurut mazhab As-Syafi`iyah, lafaz basmalah (bismillahirrahmanirrahim) adalah bagian dari surat Al-Fatihah. Sehingga wajib dibaca dengan jahr (dikeraskan) oleh imam shalat dalam shalat jahriyah. Dalilnya adalah hadits berikut ini:

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bila kamu membaca Alhamdulillah(surat Al-Fatihah), maka bacalah bismillahirrahmanirrahim, karena Al-Fatihah itu ummul Quran`, ummul kitab, Sab`ul matsani. Dan bismillahirahmanirrahim adalah salah satu ayatnya.” (HR Ad-Daruquthuny).

Hadits yang senada juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dengan isnad yang shahih dari Ummi Salamah.

Di dalam kitab Al-Majmu` karya Al-Imam An-Nawawi, ada 6 orang shahabat yang meriwayatkan hadits tentang basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah. (lihat kitab Al-Majmu` jilid 3 halaman 302)

2. Mazhab Malik

Sedangkan pandangan mazhab Al-Malikiyah, basmalah bukan bagian dari surat Al-Fatihah. Sehingga tidak boleh dibaca dalam shalat baik shalat wajib maupun shalat sunnah. Dan juga baik dalam shalat jahriyah maupun sirriyah.

3. Mazhab Ahmad bin Hanbal

Sedangkan dalam pandangan ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah yang dibangun oleh imam Ahmad bin Hanbal, basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah, namun tidak dibaca secara keras (jahr), cukup dibaca pelan saja (sirr).

Pilihan Kita

Yang mana saja dari pendapat itu, semua jelas memiliki landasan syar’i dan ijtihad di kalangan ulama yang tentunya dapat dipertanggung-jawabkan. Dan perbedaan ini bukan ajang untuk saling menjelekkan, apalagi saling mengkafirkan.

Sebab para ulama yang berbeda pendapat itu tetap saling bershahabat, bahkan mereka menjadi guru dan murid. Imam Malik adalah guru Imam As-Syafi’i. Dan Imam Ahmad bin Hanbal berguru kepada Al-Imam Asy-Syafi”i. Selain bershahabat, mereka saling menghormati dan saling mengagumi. Bahkan banyak tertulis dalam kitab-kitab bahwa mereka saling memuji. Luar biasa.

Tetapi lucunya, orang-orang yang kurang ilmunya di masa sekarang ini lebih mudah untuk saling mencaci, memaki dan menuding. Orang yang tidak sepemikiran dengannya, lebih sering didudukkansebagai lawannya yang harus dienyahkan. Minimal, di dalam pengajian-pengajian, adakebiasaan untuk salingmenyudutkan dan mengoblok-goblokkan. Naudzubillah

Akhirnya majelis ilmu yang harusnya berisi nasehat, ilmu dan keberkahan, berubah menjadi ajang untuk hasad, dengki dan sombong, bahkan seringkali malah menjadi majelis laknat dan kutukan. Isinya tidak lain menganggap semua orang salah, terkutuk dan terlaknat. Sungguh amat disayangkan memang. Seandainya mereka bisa sedikit lebih tawaddhu’ sebagaimana para ulama di masa lalu, tentu alangkah indahnya ukhuwah Islamiyah.

Entah kapan hal itu akan terjadi lagi.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »

Dalil-Dalil Tentang

Waktu Shalat

Jumat, 13 Jul 07 09:27 WIB

Assalamu’alaikum wr, wb.

Adakah di dalam Al-Quran dalil tentang waktu shalat? Ataukah hanya ada di dalam hadits saja? Lalu bagaimana detail tiap waktu shalat yang sesungguhnya?

Sebelumnnya kami ucapkan terima kasih

Wassalamu’alaikum wr, wb.

Sudewo
sudewoprojo@gmai at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Di dalam Al-Quran sesungguhnya sudah ada sekilas tentang penjelasan waktu-waktu shalat fardhu, meski tidak terlalu jelas diskripsinya. Namun paling tidak ada tiga ayat di dalam Al-Quran yang membicarakan waktu-waktu shalat secara global.

Ayat Pertama:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

“Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang dan pada bahagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat“(QS. Huud: 114)

Menurut para mufassriin, di ayat ini disebutkan waktu shalat, yaitu kedua tepi siang, yaitu shalat shubuh dan ashar. Dan pada bahagian permulaan malam, yaitu Maghirb dan Isya`.

Ayat kedua

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْءَانَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْءَانَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan Qur`anal fajri. Sesungguhnya Qur`anal fajri itu disaksikan (QS. Al-Isra`: 78)

Menurut para mufassrin, di dalam ayat ini disebutkan waktu shalat yaitu sesudah matahari tergelincir, yaitu shalat Zhuhur dan Ashar. Sedangkan gelap malam adalah shalat Maghirb dan Isya` dan Qur`anal fajri yaitu shalat shubuh.

Waktu-waktu Shalat Fardhu di Dalam Al-Hadits

Sedangkan bila ingin secara lebih spesifik mengetahui dalil tentang waktu-waktu shalat, kita bisa merujuk kepada hadits-hadits Rasululah SAW yang shahih dan qath`i. Tidak kalah qath`inya dengan dalil-dalil dari Al-Quran Al-Karim. Di antaranya adalah hadits-hadits berikut ini:

Dari Jabir bin Abdullah ra. bahwa Nabi SAW didatangi oleh Jibril as dan berkata kepadanya, “Bangunlah dan lakukan shalat.” Maka beliau melakukan shalat Zhuhur ketika matahari tergelincir. Kemudian waktu Ashar menjelang dan Jibril berkata, “Bangun dan lakukan shalat.” Maka beliau SAW melakukan shalat Ashar ketika panjang bayangan segala benda sama dengan panjang benda itu. Kemudian waktu Maghrib menjelang dan Jibril berkata, “Bangun dan lakukan shalat.” Maka beliau SAW melakukan shalat Maghrib ketika mayahari terbenam. Kemudian waktu Isya` menjelang dan Jibril berkata, “Bangun dan lakukan shalat.” Maka beliau SAW melakukan shalat Isya` ketika syafaq (mega merah) menghilang. Kemudian waktu Shubuh menjelang dan Jibril berkata, “Bangun dan lakukan shalat.” Maka beliau SAW melakukan shalat Shubuh ketika waktu fajar merekah/ menjelang. (HR Ahmad, Nasai dan Tirmizy. )

Di dalam Nailul Authar disebutkan bahwa Al-Bukhari mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang paling shahih tentang waktu-waktu shalat.

Selain itu ada hadits lainnya yang juga menjelaskan tentang waktu-waktu shalat. Salah satunya adalah hadits berikut ini:

Dari `Uqbah bin Amir ra bahwa Nabi SAW bersabda, “Ummatku selalu berada dalam kebaikan atau dalam fithrah selama tidak terlambat melakukan shalat Maghrib, yaitu sampai muncul bintang.“(HR Ahmad, Abu Daud dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak.)

Lebih Detail Tentang Waktu Shalat Dalam Kitab-kitab Fiqih

Dari isyarat dalam Al-Quran serta keterangan yang lebih jelas dari hadits-hadits nabawi, para ulama kemudian menyusun tulisan dan karya ilmiah untuk lebih jauh mendiskripsikan apa yang mereka pahami dari nash-nash itu. Maka kita dapati deskripsi yang jauh lebih jelas dalam kitab-kitab fiqih yang menjadi masterpiece para fuqoha. Di antaranya yang bisa disebutkan antara lain kitab-kitab berikut ini:

Kitab Fathul Qadir jilid 1 halaman 151-160,
Kitab Ad-Dur Al-Mukhtar jilid 1 halaman 331 s/d 343,
Kitab Al-Lubab jilid 1 halaman 59 – 62,
Kitab Al-Qawanin Al-Fiqhiyah halaman 43,
Kitab Asy-Syarhu Ash-Shaghir jilid 1 halaman 219-338,
Kitab Asy-Syarhul-Kabir jilid 1 halaman 176-181,
Kitab Mughni Al-Muhtaj jilid 1 halaman 121 – 127,
Kitab Al-Muhazzab jilid 1 halaman 51 – 54 dan Kitab Kasysyaf Al-Qanna` jilid 1 halaman 289 – 298.

Di dalam kitab-kitab itu kita dapati keterangan yang jauh lebih spesifik tentang waktu-waktu shalat. Kesimpulan dari semua keterangan itu adalah sebagai berikut:

1. Waktu Shalat Fajr (Shubuh)

Dimulai sejak terbitnya fajar shadiq hingga terbitnya matahari. Fajar dalam istilah bahasa arab bukanlah matahari. Sehingga ketika disebutkan terbit fajar, bukanlah terbitnya matahari. Fajar adalah cahaya putih agak terang yang menyebar di ufuk Timur yang muncul beberapa saat sebelum matahari terbit.

Ada dua macam fajar, yaitu fajar kazib dan fajar shadiq. Fajar kazib adalah fajar yang `bohong` sesuai dengan namanya. Maksudnya, pada saat dini hari menjelang pagi, ada cahaya agak terang yang memanjang dan mengarah ke atas di tengah di langit. Bentuknya seperti ekor Sirhan (srigala), kemudian langit menjadi gelap kembali. Itulah fajar kazib.

Sedangkan fajar yang kedua adalah fajar shadiq, yaitu fajar yang benar-benar fajar yang berupa cahaya putih agak terang yang menyebar di ufuk Timur yang muncul beberapa saat sebelum matahari terbit. Fajar ini menandakan masuknya waktu shubuh.

Jadi ada dua kali fajar sebelum matahari terbit. Fajar yang pertama disebut dengan fajar kazib dan fajar yang kedua disebut dengan fajar shadiq. Selang beberapa saat setelah fajar shadiq, barulah terbit matahari yang menandakan habisnya waktu shubuh. Maka waktu antara fajar shadiq dan terbitnya matahari itulah yang menjadi waktu untuk shalat shubuh.

Di dalam hadits disebutkan tentang kedua fajar ini:

“Fajar itu ada dua macam. Pertama, fajar yang mengharamkan makan dan menghalalkan shalat. Kedua, fajar yang mengharamkan shalat dan menghalalkan makan..” (HR Ibnu Khuzaemah dan Al-Hakim).

Batas akhir waktu shubuh adalah terbitnya matahari sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini.

Dari Abdullah bin Umar ra bahwa Rasululah SAW bersabda, “Dan waktu shalat shubuh dari terbitnya fajar (shadiq) sampai sebelum terbitnya matahari.” (HR Muslim)

2. Waktu Shalat Zhuhur

Dimulai sejak matahari tepat berada di atas kepala namun sudah mulai agak condong ke arah barat. Istilah yang sering digunakan dalam terjemahan bahasa Indonesia adalah tergelincirnya matahari. Sebagai terjemahan bebas dari kata zawalus syamsi. Namun istilah ini seringkali membingungkan karena kalau dikatakan bahwa `matahari tegelincir`, sebagian orang akan berkerut keningnya, “Apa yang dimaksud dengan tergelincirnya matahari?”

Zawalus-Syamsi adalah waktu di mana posisi matahari ada di atas kepala kita, namun sedikit sudah mulai bergerak ke arah barat. Jadi tidak tepat di atas kepala.

Dan waktu untuk shalat zhuhur ini berakhir ketika panjang bayangan suatu benda menjadi sama dengan panjang benda itu sendiri. Misalnya kita menancapkan tongkat yang tingginya 1 meter di bawah sinar matahari pada permukaan tanah yang rata. Bayangan tongkat itu semakin lama akan semakin panjang seiring dengan semakin bergeraknya matahari ke arah barat. Begitu panjang bayangannya mencapai 1 meter, maka pada saat itulah waktu Zhur berakhir dan masuklah waktu shalat Ashar.

Ketika tongkat itu tidak punya bayangan baik di sebelah barat maupun sebelah timurnya, maka itu menunjukkan bahwa matahari tepat berada di tengah langit. Waktu ini disebut dengan waktu istiwa`. Pada saat itu, belum lagi masuk waktu zhuhur. Begitu muncul bayangan tongkat di sebelah timur karena posisi matahari bergerak ke arah barat, maka saat itu dikatakan zawalus-syamsi atau `matahari tergelincir`. Dan saat itulah masuk waktu zhuhur.

3. Waktu Shalat Ashar

Waktu shalat Ashar dimulai tepat ketika waktu shalat Zhuhur sudah habis, yaitu semenjak panjang bayangan suatu benda menjadi sama panjangnya dengan panjang benda itu sendiri. Dan selesainya waktu shalat Ashar ketika matahari tenggelam di ufuk barat. Dalil yang menujukkan hal itu antara lain hadits berikut ini:

Dari Abi Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang mendapatkan satu rakaat dari shalat shubuh sebelum tebit matahari, maka dia termasuk orang yang mendapatkan shalat shubuh. Dan orang yang mendapatkan satu rakaat shalat Ashar sebelum matahari terbenam, maka dia termasuk mendapatkan shalat Ashar.” (HR Muslim dan enam imam hadits lainnya).

Namun jumhur ulama mengatakan bahwa dimakruhkan melakukan shalat Ashar tatkala sinar matahari sudah mulai menguning yang menandakan sebentar lagi akan terbenam. Sebab ada hadits nabi yang menyebutkan bahwa shalat di waktu itu adalah shalatnya orang munafiq.

Dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, …”Itu adalah shalatnya orang munafik yang duduk menghadap matahari hingga saat matahari berada di antara dua tanduk syetan, dia berdiri dan membungkuk 4 kali, tidak menyebut nama Allah kecuali sedikit.” (HR Jamaah kecuali Bukhari dan Ibnu Majah).

Bahkan ada hadits yang menyebutkan bahwa waktu Ashar sudah berakhir sebelum matahari terbenam, yaitu pada saat sinar matahari mulai menguning di ufuk barat sebelum terbenam.

Dari Abdullah bin Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Dan waktu shalat Ashar sebelum matahari menguning.”(HR Muslim)

Shalat Ashar adalah shalat Wustha menurut sebagian besar ulama. Dasarnya adalah hadits Aisyah ra.

Dari Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW membaca ayat, “Peliharalah shalat-shalatmu dan shalat Wustha.” Dan shalat Wustha adalah shalat Ashar. (HR Abu Daud dan Tirmizy dan dishahihkannya)

Dari Ibnu Mas`ud dan Samurah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Shalat Wustha adalah shalat Ashar.” (HR Tirmizy)

Namun masalah ini memang termasuk dalam masalah yang diperselisihkan para ulama. Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar jilid 1 halaman 311 menyebutkan ada 16 pendapat yang berbeda tentang makna shalat Wustha. Salah satunya adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa shalat Wustha adalah shalat ashar. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa shalat itu adalah shalat shubuh.

4. Waktu Shalat Maghrib

Dimulai sejak terbenamnya matahari dan hal ini sudah menjadi ijma` (kesepakatan) para ulama. Yaitu sejak hilangnya semua bulatan matahari di telan bumi. Dan berakhir hingga hilangnya syafaq (mega merah). Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW:

Dari Abdullah bin Amar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Waktu Maghrib sampai hilangnya shafaq (mega).” (HR Muslim).

Syafaq menurut para ulama seperti Al-Hanabilah dan As-Syafi`iyah adalah mega yang berwarna kemerahan setelah terbenamnya matahari di ufuk barat. Sedangkan Abu Hanifah berpendapt bahwa syafaq adalah warna keputihan yang berada di ufuk barat dan masih ada meski mega yang berwarna merah telah hilang. Dalil beliau adalah:

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Dan akhir waktu Maghrib adalah hingga langit menjadi hitam.” (HR Tirmizy)

Namun menurut kitab Nashbur Rayah bahwa hadits ini sanadnya tidak shahih.

5. Waktu Shalat Isya`

Dimulai sejak berakhirnya waktu maghrib sepanjang malam hingga dini hari tatkala fajar shadiq terbit. Dasarnya adalah ketetapan dari nash yang menyebutkan bahwa setiap waktu shalat itu memanjang dari berakhirnya waktu shalat sebelumnya hingga masuknya waktu shalat berikutnya, kecuali shalat shubuh.

Dari Abi Qatadah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah tidur itu menjadi tafrith, namun tafrith itu bagi orang yang belum shalat hingga datang waktu shalat berikutnya.” (HR Muslim)

Sedangkan waktu muhktar (pilihan) untuk shalat `Isya` adalah sejak masuk waktu hingga 1/3 malam atau tengah malam. Atas dasar hadits berikut ini.

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya aku tidak memberatkan umatku, aku perintahkan mereka untuk mengakhirkan/ menunda shalat Isya` hingga 1/3 malam atau setengahnya..” (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmizy).

Dari anas bin Malik ra bahwa Rasulullah SAW menunda shalat Isya` hingga tengah malam, kemudian barulah beliau shalat.” (HR Muttafaqun Alaihi).

Dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Waktu shalat Isya` hingga tengah malam”(HR Muslim dan Nasai)

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »

Tentang Istihsan

dan Pengertiannya

Selasa, 17 Jul 07 11:07 WIB

Assalamu ‘alaikum wr, wb.

Semoga Allah SWT memberikan rahmat dan rahim-Nya kepada kita semua, amin.

Pak Ustadz, saya minta tolong diterangkan tentang makna istilah istihsan. Mengapa dalam mazhab Asy-syafi’i tidak dikenal istilah itu? Dan bisakah dijelaskan contoh kongkrit penggunaan istihsan dalam kehidupan nyata?

Wassalamu’alaikum wr, wb.

Azzah Zumrud
azzahz@yahoo.com at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Istihsan adalah salah satu cara atau sumber dalam mengambil hukum Islam. Berbeda dengan Al-Quran, Hadits, Ijma’ dan Qiyas yang kedudukannya sudah disepakati oleh para ulama sebagai sumber hukum Islam, istihsan adalah salah satu metodologi yang digunakan hanya oleh sebagian ulama saja, tidak semuanya.

Al-Imam Asy-Syafi’i dalam mazhabnya termasuk kalangan ulama yang tidak menerima istihsan dalam merujuk sumber-sumber syariah Islam. Sebaliknya, Al-Imam Abu Hanifah justru menggunakannya. samping madzhab Hanafi, termasuk sebagian madzhab Maliki danmadzhab Hambali.

Pengertian Istihsan

Menurut bahasa, istihsan berarti menganggap baik atau mencari yang baik. Menurut ulama ushul fiqh, ialah meninggalkan hukum yang telah ditetapkan kepada hukum yang lainnya, pada suatu peristiwa atau kejadian yang ditetapkan berdasar dalil syara’.

Jadi singkatnya, istihsan adalah tindakan meninggalkan satu hukum kepada hukum lainnya disebabkan karena ada suatu dalil syara’ yang mengharuskan untuk meninggalkannya.

Misal yang paling sering dikemukakan adalah peristiwa ditinggalkannya hukum potong tangan bagi pencuri di zaman khalifah Umar bin Al-Khattab ra. Padahal seharusnya pencuri harus dipotong tangannya. Itu adalah suatu hukum asal. Namun kemudian hukum ini ditinggalkan kepada hukum lainnya, berupa tidak memotong tangan pencuri. Ini adalah hukum berikutnya, dengan suatu dalil tertentu yang menguatkannya.

Mula-mula peristiwa atau kejadian itu telah ditetapkan hukumnya berdasar nash, yaitu pencuri harus dipotong tangannya. Kemudian ditemukan nash yang lain yang mengharuskan untuk meninggalkan hukum dari peristiwa atau kejadian yang telah ditetapkan itu, pindah kepada hukum lain. Dalam hal ini, sekalipun dalil pertama dianggap kuat, tetapi kepentingan menghendaki perpindahan hukum itu.

Khilaf Tentang Dasar Hukum Istihsan

Yang menentang istihsan dan tidak menjadikannya sebagai dasar hujjah ialah Al-Imam As-Syafi’i dan mazhabnya. Menurut mereka adalah menetapkan hukum hanya berdasarkan keinginan hawa nafsu.

Imam Syafi’i berkata, “Siapa yang berhujjah dengan istihsan berarti ia telah menetapkan sendiri hukum syara’ berdasarkan keinginan hawa nafsunya, sedang yang berhak menetapkan hukum syara’ hanyalah Allah SWT.” Dalam buku Risalah Ushuliyah karangan beliau, dinyatakan, “Perumpamaan orang yang melakukan istihsan adalah seperti orang yang melakukan shalat yang menghadap ke suatu arah yang menurut istihsan bahwa arah itu adalah arah Ka’bah, tanpa ada dalil yang diciptakan pembuat syara’ untuk menentukan arah Ka’bah itu.”

Namun kalau diteliti lebih dalam, ternyata pengertian istihsan menurut pendapat Madzhab Hanafi berbeda dari istihsan menurut pendapat Madzhab Syafi’i.

Menurut Madzhab Hanafi istihsan itu semacam qiyas, dilakukan karena ada suatu kepentingan, bukan berdasarkan hawa nafsu, sedang menurut Madzhab Syafi’i, istihsan itu timbul karena rasa kurang enak, kemudian pindah kepada rasa yang lebih enak.

Maka seandainya istihsan itu diperbincangkan dengan baik, kemudian ditetapkan pengertian yang disepakati, tentulah perbedaan pendapat itu dapat dikurangi. Karena itu asy-Syathibi dalam kitabnya Al-Muwâfaqât menyatakan, “orang yang menetapkan hukum berdasarkan istihsan tidak boleh berdasarkan rasa dan keinginannyya semata, akan tetapi haruslah berdasarkan hal-hal yang diketahui bahwa hukum itu sesuai dengan tujuan Allah SWT menciptakan syara’ dan sesuai pula dengan kaidah-kaidah syara’ yang umum.”

Contoh Istihsan

Menurut madzhab Abu Hanifah, bila seorang mewaqafkan sebidang tanah pertanian, maka dengan menggunakan istihsan, yang termasuk diwaqafkan adalahhak pengairan, hak membuat saluran air di atas tanah itu dan sebagainya. Sebab kalau menurut qiyas (jali), hak-hak tersebut tidak mungkin diperoleh, karena tidak boleh mengqiyaskan waqaf itu dengan jual beli.

Pada jual beli yang penting ialah pemindahan hak milik dari penjual kepada pembeli. Bila waqaf diqiyaskan kepada jual beli, berarti yang penting ialah hak milik itu.

Sedang menurut istihsan hak tersebut diperoleh dengan mengqiyaskan waqaf itu kepada sewa-menyewa. Pada sewa-menyewa yang penting ialah pemindahan hak memperoleh manfaat dari pemilik barang kepada penyewa barang.

Demikian pula halnya dengan waqaf. Yang penting pada waqaf ialah agar barang yang diwaqafkan itu dapat dimanfaatkan. Sebidang sawah hanya dapat dimanfaatkan jika memperoleh pengairan yang baik. Jika waqaf itu diqiyaskan kepada jual beli (qiyas jali), maka tujuan waqaf tidak akan tercapai, karena pada jual beli yang diutamakan pemindahan hak milik. Karena itu perlu dicari asalnya yang lain, yaitu sewa-menyewa.

Kedua peristiwa ini ada persamaan ‘illat-nya yaitu mengutamakan manfaat barang atau harta, tetapi qiyasnya adalah qiyas khafi. Karena ada suatu kepentingan, yaitu tercapainya tujuan waqaf, maka dilakukanlah perpindahan dari qiyas jali kepada qiyas khafi, yang disebut istihsan.

Contoh Lain

Menurut Madzhab Hanafi, sisa minuman burung buas, seperti elang, burung gagak dan sebagainya adalah suci dan halal diminum. Hal ini ditetapkan dengan istihsan.

Padahal seharusnya kalau menurut qiyas (jali), sisa minuman binatang buas, seperti anjing dan burung-burung buas adalah haram diminum karena sisa minuman yang telah bercampur dengan air liur binatang itu diqiyaskan kepada dagingnya. Binatang buas itu langsung minum dengan mulutnya, sehingga air liurnya masuk ke tempat minumnya.

Sedangkan menurut qiyas khafi, burung buas itu berbeda mulutnya dengan mulut binatang huas. Mulut binatang buas terdiri dari daging yang haram dimakan, sedang mulut burung buas merupakan paruh yang terdiri atas tulang atau zat tanduk dan tulang atau zat tanduk bukan merupakan najis. Karena itu sisa minum burung buas itu tidak bertemu dengan dagingnya yang haram dimakan, sebab di antara oleh paruhnya, demikian pula air liurnya.

Dalam hal ini keadaan yang tertentu yang ada pada burung buas yang membedakannya dengan binatang buas. Berdasar keadaan inilah ditetapkan perpindahan dari qiyas jali kepada qiyas khafi, yang disebut istihsan.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

TAKDIR

Takdir adalah ketentuan yang sudah diatur dan ditetapkan oleh Allah yang
Maha Kuasa terhadap semua ciptaan-Nya, mulai dari makhluk terkecil hingga
makhluk terbesar, mulai dari yang tampak maupun yang tidak nampak oleh mata
lahiriah kita, sejak yang paling-paling baik sampai yang paling-paling
buruk.

Seorang manusia sejak ia ditakdirkan untuk terlahir dan menjadi ada dia
sudah memilki jalan hidup ataupun takdir yang jutaan atau mungkin malah
milyran jumlahnya.
Masing-masing takdir ini berbeda satu dengan yang lain tergantung dari
langkah maupun sikap yang dikerjakan. Disini hukum kausalitas atau
sebab-akibat mulai berlaku.

Jika saya tampar muka saya sendiri konsekwensinya saya pasti merasakan
sakit akibat tamparan tersebut, demikian kira-kira contoh hukum
sebab-akibat.

Pada masa pemerintahan Umar Bin Khatab, pernah suatu waktu beliau akan
mengadakan kunjungan kesuatu daerah, namun tiba-tiba dia mendapat kabar
dari salah seorang sahabat bahwa daerah yang akan dia kunjungi tersebut
ditimpa oleh bencana penyakit kulit yang menular.

Khalifah menunda kunjungannya kedaerah tersebut hingga penyakit tersebut
dapat teratasi. Sikap Khalifah Umar ini mendapatkan cukup banyak pertanyaan
dari para sahabat lainnya. Pertanyaan mereka kira-kira seperti ini : Apakah
tuan sudah tidak percaya kepada takdir Allah sehingga takut terkena
penyakit menular tersebut ?

Khalifah Umar menjawab : “Aku bukan tidak percaya kepada takdir Allah.
Manusia tidak dapat berlari dari Kausalita yang berlaku. Hanya saja manusia
dapat memilih takdir mana yang akan dia tempuh. Aku menghindari takdirku
dari terkena penyakit menular untuk memasuki takdirku yang lain.”

Sebelumnya, jauh diwaktu Nabi sendiri masih hidup, beliau pernah menegur
seorang sahabatnya yang begitu ingin bergegas mengerjakan Sholat didalam
masjid sehingga begitu turun dari kuda dia langsung masuk begitu saja tanpa
menghiraukan hewan peliharaannya tersebut.

Ketika ditanya Nabi mengapa orang tersebut melepaskan kudanya begitu saja
tanpa merasa takut kehilangannya, orang itu menjawab bahwa dia percaya
kepada Allah, dia pasrah apapun yang akan terjadi.

Perbuatannya ini tidak dibenarkan oleh Nabi.
Dia menyuruh orang itu untuk terlebih dahulu menambatkan kuda sebagaimana
mestinya, agar tidak lepas dan hilang baru kemudian menyerahkan kepada
Allah segala ketentuan lainnya. Jika setelah kuda itu ditambatkan dalam
pengertian dicarikan upaya agar tidak hilang dan lepas namun masih juga
hilang nantinya …. maka itu baru takdir Allah yang pun tidak terlepas
dari takdir-takdir lain yang berjalan paralel didalam kehidupan ini.

Mungkin anda tertawa jika saya mengatakan kausalita takdir anda tergantung
dengan kausalita takdir saya, bagaimana bisa ? kita sendiri baru berkenalan
sekarang dan inipun hanya melalui tulisan yang dijembatani oleh milis
myQers atas fasilitas Internet, pesawat telepon, pulsa telepon, modem dan
komputer.

Namun sekarang saya buktikan bahwa kausalita takdir masing-masing kita ini
saling berkaitan (paralel) :

Coba anda bayangkan, bila saja orang yang bernama Thomas Alpha Edison,
James Watt, Abraham Lincoln Bell, Bill Gates tidak pernah terlahir didunia
ini atau katakanlah mereka terlahir namun tidak menjadi seperti sekarang
ini … kira-kira, apakah saat ini kita bisa saling berkenalan seperti ini
melalui internet ? Apakah kira-kira peradaban kita sekarang ini sama
seperti yang kita jalani saat ini ?

Jawabnya tidak !
Oleh karena mereka ada dan oleh karena hasil kreatifitas mereka maka dunia
bisa menjadi seperti ini, kita tidak perlu lagi berkirim surat melalui
burung merpati, kita tidak juga perlu lagi mempelajari ilmu telepati karena
kehadiran pesawat telepon yang membuat komunikasi bisa terjadi antara 2
orang atau lebih dari tempat yang sangat berjauhan sekalipun, bahkan kita
tidak perlu repot memikirkan bagaimana caranya bisa menerima telepon saat
sedang berada dijalan raya sebab handphone sudah pula terlahir.

Kita tidak juga bingung membuat sistem pengarsipan manual yang menumpuk
kertas sebab sudah ada komputer dan sudah ada pula bermacam aplikasi,
bahasa pemrograman dan sarana-sarana penunjang lainnya diciptakan orang.

Bahkan untuk belajar agamapun kita tidak perlu jauh-jauh datang ketanah
Arab hanya untuk mempelajari Tafsir al-Mizan, Tafsir at-Thabari,
kitab-kitab Hadis dan sebagainya dan seterusnya sebab dengan adanya
komputer dan Internet maka kita bisa mempelajarinya bahkan sambil menonton
televisi dirumah ditemani secangkir kopi susu dan di-iringi musi lembut
Diego Modena lewat Imploranya.

Contoh lain, bila kita menebangi hutan terus-terusan maka karena sebab itu
akan mengakibatkan terjadi banjir, tanah longsor dan sebagainya yang bisa
saja merugikan orang lain. Begitu pula jika kita ingin anak dan istri kita
sholeh, ya harus ada proses pembelajaran bagi mereka dan harus pula ada
contoh dari orang yang paling dekat dengan mereka.

Kesimpulannya, dengan sebab takdir orang lain maka kitapun bisa menentukan
takdir pada diri kita masing-masing, mau apa, mau jadi bagaimana diri kita,
mau sebejat apa atau mau seshaleh apa, mau berjalan keneraka atau berjalan
kesurga dan lain sebagainya.

Ini semua membuktikan bahwa hidup adalah suatu rangkaian yang saling
berhubungan sampai pada titik paling kecil sekalipun, baik disadari maupun
tidak disadari.

Karenanya Allah berfirman :

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah
keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. – Qs. 13 ar-Ra’d 11

Lalu pertanyaan lainnya sekarang : Seberapa jauh intervensi Allah terhadap
kebebasan manusia dalam menentukan sikap dan hidupnya ?

Jawaban dari pertanyaan ini akan kembali pada sejauh mana kausalitas pada
diri kita telah kita maksimalkan kearah yang positip, menuju kreativitas
yang menciptakan hubungan sebab-akibat bagi diri dan sejarah orang lain.

Allah tidak menginginkan seseorang menjadi jahat, bukti bahwa Dia sudah
mengutus banyak Nabi dan Rasul-Nya, sudah mengutus para mujahid-mujahid
yang memberikan pencerahan disetiap jaman dan tempat sebagai jalan
(sebab-akibat) orang lain untuk berbuat baik dan meninggalkan kejahatan.

Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu
berbuat dosa. -Qs. al-Baqarah 2:276
Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang. -Qs. al-An’am 6:12

Akan halnya seorang penjahat tetap menjadi penjahat, seorang penzinah tetap
menjadi penzinah, seorang pengkhianat tetap menjadi pengkhianat itu bukan
karena Allah mentakdirkan dirinya harus seperti itu, sebab sekali lagi ini
adalah akibat dari sebab yang dia lakukan sendiri :

Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri
mereka sendiri. -Qs. ali Imran 3:117

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarah, dan
jika ada kebajikan sebesar zarah, niscaya Allah akan melipat gandakan dan
memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. -Qs. an-Nisa’ 4:40

Semuanya berlaku sama,

Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (kehendak Allah [nilai-nilai
positip]), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk dirinya sendiri; dan
barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi dirinya
sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan
Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. -Qs. 17
al-Israa’ :15

Kita semua dilahirkan dengan membawa sifat baik dan buruk, ini fitrah
(sesuatu yang natural) sebagai bekal dan bukti kemanusiawian kita, saat
kita hanya dibekali dengan sifat yang baik saja maka ini bukan fitrah dan
tentu kita bukan manusia, begitupula bila kita hanya dibekali sifat buruk
saja maka itupun bukan fitrah.

Fitrahnya kita ya seperti ini, tinggal lagi mau bagaimana kita memprogram
fitrah yang ada.

Jika anda yakin hidup anda akan happy ending maka berupayalah agar itu bisa
menjadi terwujud, kejar dan cari takdir tersebut dari sekian juta atau
sekian milyar takdir-takdir anda yang ada di Lauhful Mahfudz.

Allah memang merencanakan semua makhluk-Nya berakhir bahagia, akan tetapi
Allah memberikan kebebasan bagi manusia untuk tetap menentukan model
bahagia seperti apa dan akhir yang bagaimana yang dia inginkan.

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.
-Qs. al-Baqarah 2:185

Rencana Allah tidak berjalan dengan mengabaikan hukum-hukum yang pun sudah
ditetapkan-Nya sendiri.

Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu
sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada
sunnah Allah. -Qs. 33:62

Kita berdoa dan berusaha dalam hidup ini agar semua modul-modul dari semua
sintaksis pemrograman Allah yang teramat sangkat kompleks ini berjalan
dengan baik, kita berdoa agar Allah memberikan bantuan (mengintervensi)
atas semua usaha yang kita lakukan dengan memberikan jalur link pada hukum
sebab-akibat yang baik, sholeh dan positip.

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka
dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami
tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.Tiap-tiap manusia
terikat dengan apayang dikerjakannya. -Qs. 52 ath-Thuur :21

Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku,
maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah
mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. -Qs. 2
al-Baqarah: 186

Jika saya boleh menganalogikan dengan dunia saya sehari-hari, maka orang
yang mengabaikan doa adalah orang yang tidak mengerti proses hukum yang
berlaku, dia terjebak dalam logika pengulangan (looping) If … Then…Else
yang tidak berakhir dengan kata End If, bagaikan seorang Web Master yang
setelah selesai membangun sebuah website yang bagus tetapi dia bingung
harus membuat link kesitus yang mana sebab dia tidak menjalin hubungan
komunikasi dan kerjasama dengan Web Master lain dan dia akan berkutat dalam
situsnya sendiri hingga siapapun yang berkunjung kesana pasti akan
menemukan kebosanan saja, itulah makanya Allah menyebut orang yang demikian
sebagai orang yang sombong.

Dan berbuat baiklah (lakukanlah kerjasama dan jalinlah komunikasi yang
harmonis) kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman
sejawat, ibnu sabil dan orang-orang dalam tatahukummu Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. -Qs.
an-Nisa’ 4:36

Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah
kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”. -Qs. an-Naml 27:31

Wassalam.
Oleh : Armansyah
dari milis daarut tauhiid

Read Full Post »

Makna Shalat dan Perintahnya

Dalam Quran

Rabu, 18 Jul 07 07:25 WIB

Assalamu ‘alaikum wr, wb.

1. Apa sih makna kata sholat dalam bahasa arab? Dan bagaimana definisi para ulama tentang shalat?

2. Kapan ibadah shalat diperintahkan pertama kali?

3. Sebanyak apa perintah shalat di dalam Al-Quran?

Abdullah Ahmad Murtado
aamortadho@yahoo at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Secara bahasa, shalat itu bermakna doa. Shalat dengan makna doa dicontohkan di dalam Al-Quran Al-Karim pada ayat beikut ini.

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan shalatlah (mendo’alah) untuk mereka. Sesungguhnya shalat (do’a) kamu itu ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. At-Taubah: 103)

Dalam ayat ini, shalat yang dimaksud sama sekali bukan dalam makna syariat, melainkan dalam makna bahasanya secara asli yaitu berdoa.

Secara syariat, istilah shalat bermakna: Serangkaian ucapan dan gerakan yang tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam sebagai sebuah ibadah ritual.

Pertama Kali Perintah Shalat

Sebelum shalat lima waktu yang wajib disyariatkan, sesungguhnya Rasulullah SAW dan para shahabat sudah melakukan ibadah shalat. Hanya saja ibadah shalat itu belum seperti shalat 5 waktu yang disyariatkan sekarang ini.

Barulah pada malam mi`raj disyariatkan shalat 5 kali dalam sehari semalam yang asalnya 50 kali. Persitiwa isra` ini dicatat dalam sejarah terajdi pada 27 Rajab tahun ke-5 sebelum peristiwa hijrah nabi ke Madinah.Sebagaimana tertulis dalam hadits nabawi berikut ini:

Dari Anas bin Malik ra. “Telah difardhukan kepada Nabi SAW shalat pada malam beliau diisra`kan 50 shalat. Kemudian dikurangi hingga tinggal 5 shalat saja. Lalu diserukan, “Wahai Muhammad, perkataan itu tidak akan tergantikan. Dan dengan lima shalat ini sama bagi mu dengan 50 kali shalat.”(HR Ahmad, An-Nasai dan dishahihkan oleh At-Tirmizy)

Sebagian dari mazhab Al-Hanafiyah mengatakan bahwa shalat disyariatkan pada malam isra` namun tahunnya bukan 5 tahun sebelum hijrah, melainkan pada tanggal 17 Ramadhan 1, 5 tahun sebelum hijrah nabi.

Perintah Shalat Dalam Al-Quran

Ada banyak sekali perintah untuk menegakkan shalat di dalam Al-Quran. Paling tidak tercatat ada 12 perintah dalam Al-Quran lafaz “Aqiimush-shalata” yang bermakna “Dirikanlah Shalat” dengan fi`il Amr (kata perintah) dengan perintah kepada orang banyak (khithabul Jam`i). Yaitu pada surat:

  • Al-Baqarah ayat 43, 83 dan110
  • Surat An-Nisa ayat 177 dan 103
  • Surat Al-An`am ayat 72
  • Surat Yunus ayat 87
  • Surat Al-Hajj: 78
  • Surat An-Nuur ayat 56
  • Surat Luqman ayat 31
  • Surat Al-Mujadalah ayat 13
  • Surat Al-Muzzammil ayat 20.

Ada 5 perintah shalat dengan lafaz “Aqimish-shalata” yang bermakna “dirikanlah shalat” dengan khithab hanya kepada satu orang. Yaitu pada:

  • Surat Huud ayat 114
  • Surat Al-Isra` ayat 78
  • Surat Thaha ayat 14
  • Surat Al-Ankabut ayat 45
  • Surat Luqman ayat 17.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »

Older Posts »