Feeds:
Posts
Comments

Archive for July 3rd, 2007

Air Suci

Mensucikan dan Air Mutlaq

Jumat, 29 Jun 07 09:43 WIB

Assalamu ‘alaikum wr. Wb.

Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepada ustadz dan eramuslim, Amien.

Pak Ustadz, saya punya sedikit pertanyaan yang sederhana, semoga pak ustadz berkenan untuk menjawabnya. Begini pak ustadz, dahulu ketika masih kecil saya pernah belajar agama di surau, masih teringat istilah air suci dan mensucikan. Tapi saya lupa pengertiannya dan maksudnya. Sekarang ini ketika isteri saya yang muallaf belajar agama dan bertanya kepada saya, saya jadi bingung.

Mohon ustadz jelaskan tentang maksud air suci mensucikan. Apakah sama dengan pengertian air mutlaq? Sekaligus kalau bisa diberikan contoh apa saja yang termasuk di dalamnya. Terima kasih sebelumnya.

Wassalamu’alaikum wr, wb.

Rizkiyanto

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Air suci mencusikan mensucikan maksudnya adalah air yang hukumnya suci, bukan air najis atau air kotor, dan air itu bisa digunakan untuk mensucikan sesuatu. Maksudnya bisa digunakan untuk membersihkan najis, boleh digunakan untuk berwudhu’, atau mandi janabah.

Air suci mensucikan itu disebut juga air mutlaq. Dan statusnya berbeda dengan jenis air lainnya, misalnya dengan air musta’mal. Air musta’mal adalah air yang suci namun sudah digunakan untuk berwudhu’ atau mandi janabah. Istilah musta’mal berasal dari kata ustu’mila, yusta’malu, musta’malan. Artinya sudah dipakai untuk wudhu’ dan mandi janabah. Hukumnya khilaf di antara para ulama, apakah boleh dipakai lagi untuk wudhu’ dan mandi janabah atau tidak.
Namun pembicaraan kita sesuatu dengan pertanyaan anda adalah air suci mensucikan, yang dalam fiqih dikenal dengan istilah Thahirun Li nafsihi Muthahhirun li ghairihi.

Air yang suci itu banyak sekali, namun tidak semua air yang suci itu bisa digunakan untuk mensucikan. Air suci adalah air yang boleh digunakan atau dikonsumsi, misalnya air teh, air kelapa atau air-air lainnya. Namun belum tentu boleh digunakan untuk mensucikan seperti untuk berwudhu` atau mandi. Maka ada air yang suci tapi tidak mensucikan namun setiap air yang mensucikan, pastilah air yang suci hukumnya.

Contoh Air Suci Mensucikan

Di antara air-air yang termasuk dalam kelompok suci dan mensucikan ini antara lain adalah:

A. Air Hujan

Air hujan yang turun dari langit hukumnya adalah suci. Bisa digunakan untuk berwudhu, mandi atau membersihkan najis pada suatu benda. Meski pun di zaman sekarang ini air hujan sudah banyak tercemar dan mengandung asam yang tinggi, namun hukumnya tidak berubah, sebab kerusakan pada air hujan diakibatkan oleh polusi dan pencemaran ulah tangan manusia dan zat-zat yang mencemarinya itu bukan termasuk najis. Ketika air dari bumi menguap naik ke langit, maka sebenarnya uap atau titik-titik air itu bersih dan suci. Meskipun sumbernya dari air yang tercemar, kotor atau najis.

Sebab ketika disinari matahari, yang naik ke atas adalah uapnya yang merupakan proses pemisahan antara air dengan zat-zat lain yang mencemarinya. Lalu air itu turun kembali ke bumi sebagai tetes air yang sudah mengalami proses penyulingan alami. Jadi air itu sudah menjadi suci kembali lewat proses itu. Hanya saja udara kota yang tercemar dengan asap industri, kendaraan bermotor dan pembakaran lainnya memenuhi langit kita. Ketika tetes air hujan itu turun, terlarut kembalilah semua kandungan polusi itu di angkasa.

Namun meski demikian, dilihat dari sisi syariah dan hukum air, air hujan itu tetap suci dan mensucikan. Sebab polusi yang naik ke udara itu pada hakikatnya bukan termasuk barang yang najis. Meski bersifat racun dan berbahaya untuk kesehatan, namun selama bukan termasuk najis sesuai kaidah syariah, tercampurnya air hujan dengan polusi udara tidaklah membuat air hujan itu berubah hukumnya sebagai air yang suci dan mensucikan.

Apalagi polusi udara itu masih terbatas pada wilayah tertentu saja seperti perkotaan yang penuh dengan polusi udara. Di banyak tempat di muka bumi ini, masih banyak langit yang biru dan bersih sehingga air hujan yang turun di wilayah itu masih sehat. Tentang sucinya air hujan dan fungsinya untuk mensucikan, Allah SWT telah berfirman:

إِذْ يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً مِنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ وَلِيَرْبِطَ عَلَى قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الأَقْدَامَ
Ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki. (QS. Al-Anfal: 11)

وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا
Dia lah yang meniupkan angin pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya; dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih. (QS. Al-Furqan: 48

B. Salju

Salju sebenarnya hampir sama dengan hujan, yaitu sama-sama air yang turun dari langit. Hanya saja kondisi suhu udara yang membuatnya menjadi butir-butir salju yang intinya adalah air juga namun membeku dan jatuh sebagai salju. Hukumnya tentu saja sama dengan hukum air hujan, sebab keduanya mengalami proses yang mirip kecuali pada bentuk akhirnya saja.Seorang muslim bisa menggunakan salju yang turun dari langit atau salju yang sudah ada di tanah sebagai media untuk bersuci, baik wudhu`, mandi atau lainnya.

Tentu saja harus diperhatikan suhunya agar tidak menjadi sumber penyakit. Ada hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang kedudukan salju, kesuciannya dan juga fungsinya sebagai media mensucian. Di dalam doa iftitah setiap shalat, salah satu versinya menyebutkan bahwa kita meminta kepada Allah SWT agar disucikan dari dosa dengan air, salju dan embun.

اللهم باعد بيني وبين خطايا كما باعدت بين المشرق والمغرب ، اللهم نقني من خاطايا كما ينقى الثوب من الدنس ، اللهم اغسلني من خطايا بالماء والثلج والبرد
Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya bacaan apa yang diucapkannya antara takbir dan al-fatihah, beliau menjawab, `Aku membaca, `Allahumma Ba`id Baini Wa Baina Khathaya Kamaa Baa`adta Bainal Masyriqi Wal Maghrib. Allahumma Naqqini min Khathayaa Kamaa Yunaqqats Tsaubal Abyadhu Minad-danas. Allahumma aghsilni min Khathayaaya Bits-tsalji Wal Ma`i Wal Barad.(HR Bukhari 744, Muslim 597, Abu Daud 781 dan Nasai 60)
Artinya: Ya Allah, Jauhkan aku dari kesalahn-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara Timur dan Barat. Ya Allah, sucikan aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana pakaian dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan salju, air dan embun.

C. Embun

Embun juga bagian dari air yang turun dari langit, meski bukan berbentuk air hujan yang turun deras. Embun lebih merupakan tetes-tetes air yang akan terlihat banyak di hamparan kedaunan pada pagi hari. Maka tetes embun yang ada pada dedaunan atau pada barang yang suci, bisa digunakan untuk mensucikan, baik untuk berwudhu, mandi, atau menghilangkan najis. Dalilnya sama dengan dalil di atas yaitu hadits tentang doa iftitah riwayat Abu Hirairah ra.

D. Air Laut

Air laut adalah air yang suci dan juga mensucikan. Sehingga boleh digunakan untuk berwudhu, mandi janabah ataupun untuk membersihkan diri dari buang kotoran (istinja`). Termasuk juga untuk mensucikan barang, badan dan pakaian yang terkena najis.

Meski pun rasa air laut itu asin karena kandungan garamnya yang tinggi, namun hukumnya sama dengan air hujan, air embun atau pun salju. Bisa digunakan untuk mensucikan. Sebelumnya para shahabat Rasulullah SAW tidak mengetahui hukum air laut itu, sehingga ketika ada dari mereka yang berlayar di tengah laut dan bekal air yang mereka bawa hanya cukup untuk keperluan minum, mereka berijtihad untuk berwudhu` menggunakan air laut.
Sesampainya kembali ke daratan, mereka langsung bertanya kepada Rasulullah SAW tentang hukum menggunakan air laut sebagai media untuk berwudhu`. Lalu Rasulullah SAW menjawab bahwa air laut itu suci dan bahkan bangkainya pun suci juga.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سأل رجل رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله إنا نركب البحر, ونحمل معنا القليل من الماء, فإن توضأنا به عطشنا, أفنتوضأ, بماء البحر ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: هو الطهور ماؤه, الحل ميتته رواه الخمسة. وقال الترمذي: هذا حديث حسن صحيح
Dari Abi Hurairah ra bahwa ada seorang bertanya kepada Rasulullah SAW, `Ya Rasulullah, kami mengaruhi lautan dan hanya membawa sedikit air. Kalau kami gunakan untuk berwudhu, pastilah kami kehausan. Bolehkah kami berwudhu dengan air laut?`. Rasulullah SAW menjawab, `(Laut) itu suci airnya dan halal bangkainya. (HR Abu Daud 83, At-Tirmizi 79, Ibnu Majah 386, An-Nasai 59, Malik 1/22).

E. Air Zam-zam

Air Zam-zam adalah air yang bersumber dari mata air yang tidak pernah kering. Mata air itu terletak beberapa meter di samping ka`bah sebagai semua sumber mata air pertama di kota Makkah, sejak zaman Nabi Ismail as dan ibunya pertama kali menjejakkan kaki di wilayah itu.

Selain disunnahkan untuk minum air zam-zam, juga bisa dan boleh digunakan untuk bersuci, baik untuk wudhu, mandi, istinja` ataupun menghilangkan najis dan kotoran pada badan, pakaian dan benda-benda. Semua itu tidak mengurangi kehormatan air zam-zam. Tentang bolehnya air zam-zam untuk digunakan bersuci atau berwudhu, ada sebuah hadits Rasulullah SAW dari Ali bin Abi Thalib ra.

Dari Ali bin Abi thalib ra bahwa Rasulullah SAW meminta seember penuh air zam-zam. Beliau meminumnya dan juga menggunakannya untuk berwudhu`. (HR Ahmad).

F. Air Sumur atau Mata Air Air Sumur

Mata air dan dan air sungai adalah air yang suci dan mensucikan. Sebab air itu keluar dari tanah yang telah melakukan pensucian. Kita bisa memanfaatkan air-air itu untuk wudhu, mandi atau mensucikan diri, pakaian dan barang dari najis. Dalil tentang sucinya air sumur atau mata air adalah hadits tentang sumur Bidho`ah yang terletak di kota Madinah.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَتَوَضَّأُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةَ وَهِيَ بِئْرٌ يُلْقَى فِيهَا الْحِيَضُ وَلُحُومُ الْكِلابِ وَالنَّتْنُ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: الْمَاءُ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ. رَوَاهُ أَحْمَدَ وَأَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ
Dari Abi Said Al-Khudhri ra berkata bahwa seorang bertanya, `Ya Rasulullah, Apakah kami boleh berwudhu` dari sumur Budho`ah?, padahal sumur itu yang digunakan oleh wanita yang haidh, dibuang ke dalamnya daging anjing dan benda yang busuk. Rasulullah SAW menjawab, `Air itu suci dan tidak dinajiskan oleh sesuatu`. (HR Abu Daud 66, At-Tirmizy 66, An-Nasai 325, Ahmad3/31-87, Al-Imam Asy-Syafi`i 35).

G. Air Sungai

Sedangkan air sungai itu pada dasarnya suci, karena dianggap sama karakternya dengan air sumur atau mata air. Sejak dahuu umat Islam terbiasa mandi, wudhu` atau membersihkan najis termasuk beristinja dengan air sungai. Namun seiring dengan terjadinya perusakan lingkungan yang tidak terbentung lagi, terutama di kota-kota besar, air sungai itu tercemar berat dengan limbah beracun yang meski secara hukum barangkali tidak mengandung najis, namun air yang tercemar dengan logam berat itu sangat membahayakan kesehatan.

Maka sebaiknya kita tidak menggunakan air itu karena memberikan madharrat yang lebih besar. Selain itu seringkali air itu sangat tercemar berat dengan limbah ternak, limbah wc atau bahkan orang-orang buang hajat di dalam sungai. Sehingga lama-kelamaan air sungai berubah warna, bau dan rasanya. Maka bisa jadi air itu menjadi najis meski jumlahnya banyak.

Sebab meskipun jumlahnya banyak, tetapi seiring dengan proses pencemaran yang terus menerus sehingga merubah rasa, warna dan aroma yang membuat najis itu terasa dominan sekali dalam air sungai, jelaslah air itu menjadi najis. Maka tidak syah bila digunakan untuk wudhu`, mandi atau membersihkan najis. Namun hal itu bila benar-benar terasa rasa, aroma dan warnanya berubah seperti bau najis.

Namun umumnya hal itu tidak terjadi pada air laut, sebab jumlah air laut jauh lebih banyak meskipun pencemaran air laut pun sudah lumayan parah dan terkadang menimbulkan bau busuk pada pantai-pantai yang jorok.

Wallahua’lambishshawwab.

Wassalaamu’alaikum wr, wb.

Ahmad Sarwat, Lc.

 

Advertisements

Read Full Post »

Haul Fathimah Zahra 2007/1428 H

“Apabila kita mengenang orang shaleh maka pada detik itu rahmat Allah Swt akan menyapa bumi”, demikian ungkapan Ustadz Habib Abdullah Assegaf al-Kuwaity. Sosok salehah yang sekarang dikenang adalah Fathimah az-Zahra, puteri Rasulullah saw. Disebutkan dalam satu riwayat, pada saat Nabi Saw melakukan Isra Mikraj, beliau disuguhi oleh malaikat buah surga yang kemudian menjadi air sulbi yang menjadi cikal bakal janin suci sebagai cikal bakal puteri tercintanya.

Haul yang diselenggarakan di aula ICC pada 17 Juni 2007 ini dipadati sekitar 500 orang, dimulai dengan pembacaan doa ziarah yang dipimpin langsung oleh Direktur ICC Muhsin Hakimullahi. :video

Habib Abdullah Assegaf melanjutkan, ketika di dalam kandungan, suatu hari Rasulullah memasuki rumah dan mendapati isterinya sedang berbicara kepada perutnya sendiri, beliau mendengarkan dan bertanya, “Kepada siapa engkau berbicara wahai isteriku?” Khadijah menjawab, “Kepada dia yang berada dalam kandunganku karena dia yang mengajak bicara kepadaku. Dialah yang menghiburku di saat wanita-wanita Quraisy menjauhiku. Allah Swt telah memberi anugerah dengan kekuasaannya sebagai penawar qalbuku”.

Lalu Rasulullah berkata, “Jibril telah datang kepadaku dan memberi kabar gembira bahwa akan lahir dari rahimmu bayi wanita yang Allah sendiri yang mempersiapkannya. Dari perutnya akan keluar para imam yang akan membawa petunjuk”.

Kemudian puteri beliau lahir di saat Quraisy tengah memusuhi beliau. Fathimah Zahra merupakan wanita surga yang diturunkan untuk menyertai Nabi Saw dalam mengemban misinya. Bahkan Rasul Saw pernah bersabda, “Di saat aku rindu akan wanginya wewangian surga, maka aku cium kening dan wajahnya dan kucium wewangian surga yang mengalir dari wajahnya”.

 Kuwaity lalu membacakan beberapa bait puisi 

“Setiap fajar pagi dan tirai malam menjelang

Aku terusik sebab namamu terlantun dalam derita

Namamu mengirimkan semangat dalam benak dan Qalbu

Qalbu adalah tempat untuk meratapi deritamu

Wahai permata dan kekasih Rasulullah

Memahami arti dari deritamu adalah suatu kekuatan

Memahami arti dari deritamu adalah suatu sentuhan keindahan Qlabu

Apabila orang paham akan tangismu, sungguh dunia akan menangis bersamamu

Tiada burung yang berkicau kecuali menangisimu

Tiada mentari pagi kecuali membara karena deritamu

Surga tak bisu mendengarkan tangismu

Wahai kekasih Rasulullah

Kala keagungan Ilahi menjamahmu dunia pun terkesima

Setiap langkah yang kau ayunkan adalah tuntunan

Setiap kata yang kau ucapkan adalah doa

Rintihan dan deritamu menyatu melantunkan simponi Ilahi lambang dari kesedihan

Setiap kemarahanmu adalah sumber kebenaran

Tanpamu jalan menuju cinta menjadi hampa

Tanpamu jalan menuju kemuliaan menjadi sirna

Tanpamu jalan menuju Ilahi menjadi sia-sia

Tanpa mengenal deritamu siapapun takkan merasakan lezatnya kedamaian

Wahai wanita suci

Wahai permata hati dari kekasih Ilahi

Shallu ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad”

Al-Kuwaity melanjutkan ceramahnya dan berkisah mengenai masa dewasa Sayyidah Fathimah az-Zahra. Kedewasaan az-Zahra melebihi orang-orang sebayanya. Kalau di dalam derita dan memiliki kekuatan jiwa maka badai yang dihadapi menjadi kecil. Dari itu, jika seseorang mengikuti langkah puteri Rasul dalam menghadapi derita, maka ia akan menjadi manusia yang teladan. Seorang bijak mengatakan, “Keindahan dalam kepedihan jauh lebih indah daripada kepedihan dalam keindahan”.

Az-Zahra dalam setiap kesedihannya meneteskan air mata, dan setiap tetes air mata itu dikumpulkan oleh Allah Swt yang akan memadamkan api neraka bagi para pencintanya.

Setelah ceramah dari ustadz Kuwaity, lalu ustadz Muhsin Labib membacakan mengenai berita yang sangat membuat para pecinta keluarga Nabi kesal. Yaitu dengan diledakkannya kuburan dan masjid Imam Hasan Al-Askari di Sammarah, Irak.

Acara Haul Fathimah az-Zahra diisi juga oleh Ustadz Umar Shahab yang berceramah mengenai keutamaan az-Zahra. Dalam ceramahnya, beliau mengatakan bahwa sosok Fathimah dikenal sebagai sosok yang sangat dermawan. Disebutkan dalam hadis, ketika seorang peminta-minta datang menemui Rasulullah yang saat itu tidak memiliki apapun, beliau menunjuk ke rumah Fathimah sambil berkata, “Datanglah ke rumah Fathimah, karena siapa saja yang datang ke rumah itu tidak akan pernah dikecewakan”.

Fathimah as sangat mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan dirinya sendiri. Imam Hasan as, putera Fathimah as, menuturkan tentang sosok ibunya. Bahwa setiap malam, Imam Hasan mendengar ibundanya selalu berdoa dan memohonkan kepada Allah kebaikan untuk para tetangga. Bahkan Sayyidah Fathimah kerap menyebutkan nama-nama para tetangganya dalam setiap doa. Sementara Imam Hasan tidak pernah mendengar ibundanya memohon untuk dirinya sendiri. Akhirnya Imam Hasan bertanya kepada sang ibunda, “Kenapa wahai ibunda di saat engkau berdoa tidak pernah mendoakan dirimu sendiri, bahkan yang kerap didoakan adalah para tetangga?” Sayyidah Fathimah menjawab, “Al-Jar Qobla Dar, tetangga dan orang lain harus lebih diutamakan daripada diri sendiri”.[hs/icc-jakarta.com]

 

Cinta Rasul Oleh : Redaksi 27 Jun 2007 – 6:18 pm –swaramuslim.com-

Read Full Post »

Mengundi

Assalamualaikum wr, wb.

Ustadz, bagaimanakah hukumnya melakukan undian untuk menentukan sesuatu? Misal: Melempar uang koin untuk menentukan siapakah yang berhak untuk menempati kamar tertentu.

Apakah kalau kita melakukannya kita tergolong ke dalam perbuatan yang mengandung kefasikan seperti yang tertera dalam surat Al-Maidah. 3.

Terima kasih atas kesediaan Ustadz untuk menjawab pertanyaan saya.

Wassalamualaikum wr, wb.

Fatahillah
jdc at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kata Al-azlam di dalam terjemahan Al-Quran versi Departemen Agama RI memang diartikan dengan mengundi nasib. Lalu sebagian orang ada yang bertanya seperti apa yang anda tanyakan, bagaiamana hukum undian? Apakah haram dan pelakunya menjadi fasik?

Mari kita cermati ayat 3 surat Al-Maidah yang menjadi titik pertanyaan anda:

وَأَن تَسْتَقْسِمُواْ بِالأَزْلاَمِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ

Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. (QS. Al-Maidah: 3)

Al-Azlam diterjemahkan sebagai mengundi nasib dengan anak panah. Sebenarnya yang diharamkan bukan undiannya, melainkan meramal nasib lewat prosesi anak panah yang digamblingkan.

Masyarakat jahilyah sebelum Islam adalah pelaku khurafat dan percaya kepada tahayyul. Setiap ingin melakukan sesuatu yang besar, mereka punya kebiasaan mendatangi dukun dan paranormal untuk bertanya tentang nasib dan peruntungan mereka. Lalu dukun itu akan mengocokbeberapa anak panah dan pasiennya dipersilahkan untuk memilihnya. Hasil ramalan dukun itu ditentukan dari anak panah yang keluar.

Titik keharamannya bukan pada kocokan anak panahnya, melainkan pada kepercayaan atas ramalan nasib dari dukun.

Ada pun undian yang tidak ada kaitannya dengan kepercayaan dan ramalan, tentu hukumnya tidak mengapa. Bahkan Rasulullah SAW pun biasa melakukan undian, khususnya bila ada satu kesempatan berbuat baik yang terbatas namun diperebutkan oleh banyak orang.

Para isteri nabi yang mau ikut peperangan mendampingi beliau SAW, harus ikut undian terlebih dahulu. Yang namanya keluar, dia berhak ikut.

Di masa lalu sebelum era risalah Muhamadiyah, orang-orang saling mengundi untuk menentukan siapa yang berhak untuk menjadi pengasuh Maryam, ibunda nabi Isa ‘alaihissalam. Kejadian itu direkam di dalam ayat Al-Quran:

وما كُنْتَ لَدَيْهِمْ إذْ يُلْقُونَ أقْلامَهُمْ أيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ

Padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa. (QS. Al-Maidah: 44)

Ayat ini menggambarkan bahwa mengundi bukan sesuatu yang diharamkan. Bahkan pada syariat umat terdahulu.

Yang diharamkan adalah mempercayai ramalan dukun, yang kebetulan di masa jahiliyah itu para dukun mengeluarkan ramalan lewat mengocok anak panah.

Wallahu a’lam bishsahwab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »

Meski Populasi Menyusut

Norilsk, Rusia – Kakek Mukum Sidikov meninggalkan Norilsk setelah berhasil mempertahankan kelangsung hidupnya dalam kamp kerja paksa yang dibangun diktator Soviet, Yosef Stalin.

Sidikov, pemelihara mesjid paling utara di bumi, mengikuti jejak kakeknya untuk mencari pekerjaan dengan gaji lebih baik di Kutub Utara wilayah Rusia. Kini, dia memperkirakan kota itu memiliki sekitar 50 ribu Muslim, atau seperempat penduduk wilayah itu yang berjumlah 210 ribu jiwa. Umumnya dari Azerbaijan dan Republik Dagestan Rusia dan bekerja sebagai pedagang atau pekerja bangunan.

Namun, tingat upah yang tidak sebanding dengan kota-kota Rusia lainnya dan sulitnya memasuki Nurislk bagi warga asing, maka sesama Muslim tak lagi mendatangi kota ini, kata Sidikov. :foto

“Penduduknya kian menyusut. Orang-orang meninggalkan kota ini,” ujar Sidikov, 40, warga kelahiran Uzbek dan besar di Kyrgizstan.

Masjid Nurd Kamal terletak di pinggir kota modern Norislk, yang suhunya 50 derajat selsius di bawah nol. Angin kutub mendera atap emasnya dan tumpukan salju mengancam dinding batu pirusnya di musim dingin.

“Orang-orang bekerja untuk sesuap nasi. Mereka datang ke sini dan memburuk kesehatan mereka. Setiap detik ada orang sakit,” kata Sidikov.

Sebuah kota yang dibangun di atas sebuah area tambang logam terkaya dunia, pabrik peleburan logam pertama Norislk dibangun oleh para tahanan Gulag pada tahun 1930-an, dan kini tiga pabrik mengeluarkan asap tebal yang mengandung belerang ke udara.

Kota ini pada tahun silam dimasukkan sebagai salah satu dari 10 kota paling tercemar di dunia oleh kelompok lingkungan hidup independen, Blacksmith Institut. Perusahaan induknya, Norislk Nickel, telah mengeluarkan banyak dana untuk mengurangi emisi.

Terlalu Capek Untuk Berjamaah
Di Rusia terdapat 20 juta warga Muslim, sekitar 14 persen dari total 140 juta penduduk negeri itu.

Warga Muslim Asia Tengah dan Dagestan umumnya penganut Sunni, sementara lainnya dari Azerbaijan umumnya Syi`ah. Tidak ada permusuhan antara sekte sekte tersebut di Norislk dan Muslim Soviet, tidak termasuk mereka yang rajin menjalankan ajaran Islam.

“Di sana banyak Muslim, tapi hanya segelintir yang mendatangi masjid. Mereka bekerja seharian dan pada malamnya mereka capek,” papar Sidikov.

Masjid itu yang dibuka pada 1998 dibangun oleh Mukhtad Bekmeyev, seorang etnik Tartar, dan warga asli Norilsk kini bermukim di kota Laut Hitam, Sichi, sekitar 4.000 km dari tempat itu.

Dia memberi nama masjid itu setelah orang tuanya membiayai pemugarannya pada tahun ini.

Sidikov, yang berambut gundul dan memakai sebuah kopiah berwarna biru, meninggalkan kota Kyrtyz, Osh, untuk mencari kerja. Dia pernah menjalani dinas militer Soviet di Rusia dan tinggal di dua kota Siberia sebelum ia menetap di Norilsk sejak tujuh tahun silam.

Gaji yang relatif tinggi dibanding kawasan lain di negara itu menarik minat para pekerja dari seantero Uni Soviet untuk ke Norilsk ketika usaha pertambangan dan peleburan logam tumbuh.

Sidikov mengatakan gaji rata-rata setiap bulan antara 25.000 – 30.000 roubel (962 dolar – 1.154 dolar) tidak cukup untuk hidup layak.

Bukan hanya warga Muslim yang pergi meninggalkannya, penduduk tetap Norilsk berkurang sekitar 5.000 orang setiap tahun.

Kota Tertutup
Warga non-Rusia, umumnya dari Azerbaijan dan bekas-bekas republik Soviet di Asia Tengah, telah merasakan lebih sulit memasuki Norilsk sejak 2002 setelah larangan perjalanan bagi warga asing diberlakukan.

Mereka ini harus membutuhkan izin khusus untuk mengunjungi Norilsk.

Meski Norilsk Nickel dan mantan pemimpin eksekutif Mikhael Prokhorov telah mengungkapkan rencana menahan para pekerja terlatih kota itu dan menarik wajah-wajah baru, Sidikov mengemukakan tidak ada tindakan khusus telah dilakukan untuk membantu warga Muslim.

Namun warga Muslim Norilsk, katanya, telah berbaur secara baik dengan komunitas luas dan tidak mengalami banyak diskriminasi.

Selama beberapa generasi, sejumlah pendatang dari kawasan Kaukasus Rusia telah memeluk Kristen Ortodoks, kata warga setempat.

Sidikov tetap membuka masjid itu hingga larut malam setiap hari untuk memberi kesempatan bagi mereka yang ingin belajar Al-Quran.

Sekitar 500-600 orang terlihat melakukan shalat Jumat.

“Warga Muslim seharusnya mendatangi masjid setidaknya sekali sepekan. Kita tidak menemukan di sini,” kata seorang warga. (ant)

Dunia Islam Oleh : Redaksi 02 Jul 2007 – 2:27 pm  -swaramuslim.com-

 

 

Read Full Post »

Dekrit 5 Juli 1959 :

Bung Karno Bubarkan Parlemen

Tahun 2001 yang lalu, Presiden Abdurahman Wahid membuat pernyataan kontraversi. Sekalipun Antara sudah menariknya kembali berita tersebut, tapi pernyataan Gus Dur yang akan membubarkan DPR hasil Pemilu 1999 mendapat reaksi keras dari berbagai pihak. Bahkan telah ditentang oleh dua orang pembantu dekatnya: Menkeh/HAM Yusril Ihra Mahendra dan penasehat urusan hukum Presiden, Prof Harun Alrasid. Saat ini tidak ada alasan bagi Presiden mengeluarkan dekrit dan membubarkan DPR. Keduanya mengingatkan kalau hal tersebut dilakukan, bukan saja merupakan tindakan inkonstitusional, tapi juga bisa dituduh melakukan kudeta.

Berlainan dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Ketika itu negara dinyatakan dalam keadaan bahaya (SOB). SOB mulai diberlakukan sejak 1956 dan baru dicabut kembali Mei 1963.

Bung Karno dalam dekritnya kembali ke UUD 45 sekaligus telah membubarkan konstituante (MPR) hasil Pemilu 1955. Dengan alasan lembaga tertinggi negara ini telah menolak usulnya untuk memberlakukan kembali UUD 45. Anjurannya ini disampaikan 25 April 1959. Dekrit Presiden ini telah mendapat dukungan pihak militer. Yang sejak Oktober 1952 memang telah mendesaknya untuk memberlakukan kembali UUD 45. Pihak militer dibawah pimpinan KSAD Jenderal Nasution sendiri yang memimpin demo ke Istana ketika itu.

Hanya 5 hari setelah dekrit 5 Juli 1959, Bung Karno telah membentuk kabinet kerja pertama. Ia kemudian membentuk DPA dengan Bung Karno sendiri sebagai ketua. Kemudian dibentuknya Front Nasional.

Sekalipun Parlemen (DPR) hasil Pemilu 1955 pada 22 Juli telah menyatakan kesediannya untuk bekerja terus dibawah UUD 45, tapi 5 Maret 1960 Bung Karno membubarkannya. Dengan alasan DPR tidak mau mendukung Demokrasi Terpimpin, sementara RAPBN 1961 tidak mendapat dukungan dari wakil-wakil rakyat ini. Ia pun membentuk DPR-GR (Gotong Royong) pada 27 Maret 1960.

Dengan istilah ‘meretul’ DPR, sasaran utamanya DPR-GR adalah membuat ‘wakil-wakil rakyat’ ini sekedar sebagai ‘pembantu’ Presiden. Kemudian mengakhiri eksistensi partai-partai politik yang oposional, serta mengikat semua parpol dalam Front Nasional. (Dr AH Nasution: ”Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5 : Kenangan Masa Orla.”).

Kalau Dekrit 5 Juli 1959 mendapat dukungan Menteri Keamanan Nasional/KSAD Jenderal Nasution, tidak demikian saat pembubaran DPR hasil Pemilu 1955. ”Saya tidak ikut dalam penggarapan DPR ini. Tapi mendadak saya terkejut ketika menerima rencana susunan DPR yang oleh Presiden dijadikan DPR-GR,” Nasution dalam bukunya itu.

Presiden mengambil kebijaksanaan untuk menyerahkan retooling DPR itu dengan ketiga pimpinan partai Nasakom. Untuk itu diundang ke Istana Tampaksiring (Bali) Ali Sastroamidjojo (PNI), Idham Chalid (NU), DN Aidit (PKI), dan Nasution (ABRI).

Akan tetapi, Pak Nas telah menugaskan Kolonel Wiluyo Puspojudho ke Tampaksiring. ”Padanya saya instruksikan untuk mengomandir Nasakom dengan Polkar (Politik Karya). Rupanya Bung Karno dan parpol-parpol merasa tidak enak dengan usul saya ini. Hingga dalam pidato-pidatonya Bung Karno menyerang gagasan Polkar untuk mengganti Nasakom,” demikian Pak Nas. Pertentangan antara Bung Karno dan Pak Nas ini berlangsung terus hingga pecahnya pemberontakan G30S/PKI. Pak Nas sendiri luput dari pembunuhan pada kudeta tersebut.

Partai-partai Islam menjadi korban pertama pembubaran DPR. Kalau dalam DPR hasil pemilu 1955 perbandingan Nasionalis, Islam dan Komunis 65 – 115 – 52 anggota, maka dalam DPR-GR menjadi 44 – 33 – 30 anggota. Ditambah dengan wakil-wakil Golkar dari parpol-parpol yang bersangkutan, perbandingannya menjadi 94 – 67 – 81 anggota. Seperti pengangkatan anggota DPA, Bung Karno dalam membentuk DPR-GR tidak menyertakan partai-partai oposisi. Menurutnya, dalam demokrasi terpimpin tidak dikenal adanya oposisi, tapi gotong royong.

Dalam situasi itu timbullah reaksi KH Bisri Samsuri dari NU — yang memegang teguh sikap non kompromis terhadap kebatilan, kezaliman dan kemusrikan–. Kiai sepuh dari NU ini menuding pembentukan DPR-GR itu melanggar hukum dan konstitusi. Karena itu beliau mengganggap masuknya kedalam DPR-GR adalah ‘munkar’. Tapi ia toleran terhadap mereka yang berpandangan bahwa masuknya NU ke DPR-GR berdasarkan ‘amar ma’ruf.’ KH Bisri sekali lagi menunjukkan sikap konsekwen ketika dalam SU MPR 1978, ia dan para pengikutnya dari NU yang tergabung dalam PPP melakukan WO ketika MPR akan mengesahkan ‘aliran kepercayaan.’

Reaksi menolak pembubaran DPR dan pembentukan DPR-GR telah datang dari tokoh-tokoh lain seperti ucapan Ketua DPR Sartono (PNI) dalam sidang terakhir DPR 17 Maret 1960. Ia menolak duduk dalam DPR-GR. Sulit baginya menjadi wakil rakyat yang diangkat. Tokoh PNI lainnya yang menolak adalah Mr Iskaq. Sedangkan yang menolak dari NU terdapat pula Yusuf Hasyim, KH Imron Rosyadi dan KH M Dachlan.

Beberapa hari setelah pembubaran DPR hasil Pemilu 1955, lahir Liga Demokrasi sebagai gerakan oposisi. Anggotanya terdiri dari tokoh Partai Katolik, IPKI, dan juga dari NU, PSII dan Parkindo. Pada 20 Maret 1960, Liga membuat pernyataan bahwa pembentukan DPR-GR bertentangan dengan azas-azas demokrasi yang dijamin oleh UU.

Nasution dalam bukunya mengatakan, memang atas prakarsanya sendiri ia terpaksa menentang kebijakan Presiden. ”Dengan ini memproseslah konflik terbuka antara beliau dengan saya.” Ketika membentuk DPR-GR, Bung Karno mengangkat para wakil ketuanya orang-orang kedua dalam pimpinan parpol. Mereka statusnya disamakan dengan menteri. Bung Karno juga menambah kekuasaannya (trias politika) dengan menjadikan Ketua Mahkamah Agung sebagai menteri, dan MA menjadi lembaga yang berada dibawah kontrol politiknya.

Perlawanan terhadap dibubarkannya DPR hasil Pemilu waktu itu memang cukup sengit. Pada 22 Juni 1960, Bung Tomo mengadakan pengaduan kepada Mahkamah Agung dengan tuduhan pembubaran DPR hasil Pemilu ‘55 sebagai pelanggaran terhadap UUD 45. Pada 17 Agustus 1960, dua partai yang menjadi kekuatan oposisi, Masyumi dan PSI dibubarkan. Tapi konflik politik hampir tidak pernah henti. Berakhir dengan tragis, terjadinya Gerakan 30 September 1965. (Alwi Shahab/)

*Artikel dimodifikasi disesuaikan waktunya – swaramuslim.com-

Oleh : Redaksi 02 Jul 2007 – 6:00 pm

Read Full Post »