Feeds:
Posts
Comments

Archive for June 18th, 2007

Tutuplah Aib Saudaramu

Senin, 04 Juni 2007 – 10:38:02,  Penulis : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah

Saudariku muslimah…
Bagi kebanyakan kaum wanita, ibu-ibu ataupun remaja putri, bergunjing membicarakan aib, cacat, atau cela yang ada pada orang lain bukanlah perkara yang besar.

 

Bahkan di mata mereka terbilang remeh, ringan dan begitu gampang meluncur dari lisan. Seolah-olah obrolan tidak asyik bila tidak membicarakan kekurangan orang lain. “Si Fulanah begini dan begitu…”. “Si ‘Alanah orangnya suka ini dan itu…”.

Ketika asyik membicarakan kekurangan orang lain seakan lupa dengan diri sendiri. Seolah diri sendiri sempurna tiada cacat dan cela. Ibarat kata pepatah, “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tiada tampak.”

Perbuatan seperti ini selain tidak pantas/tidak baik menurut perasaan dan akal sehat kita, ternyata syariat yang mulia pun mengharamkannya bahkan menekankan untuk melakukan yang sebaliknya yaitu menutup dan merahasiakan aib orang lain.

Ketahuilah wahai saudariku, siapa yang suka menceritakan kekurangan dan kesalahan orang lain, maka dirinya pun tidak aman untuk diceritakan oleh orang lain. Seorang ulama salaf berkata, “Aku mendapati orang-orang yang tidak memiliki cacat/cela, lalu mereka membicarakan aib manusia maka manusia pun menceritakan aib-aib mereka. Aku dapati pula orang-orang yang memiliki aib namun mereka menahan diri dari membicarakan aib manusia yang lain, maka manusia pun melupakan aib mereka.”1

Tahukah engkau bahwa manusia itu terbagi dua:

Pertama: Seseorang yang tertutup keadaannya, tidak pernah sedikitpun diketahui berbuat maksiat. Bila orang seperti ini tergelincir dalam kesalahan maka tidak boleh menyingkap dan menceritakannya, karena hal itu termasuk ghibah yang diharamkan. Perbuatan demikian juga berarti menyebarkan kejelekan di kalangan orang-orang yang beriman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ أَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِيْنَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyenangi tersebarnya perbuatan keji2 di kalangan orang-orang beriman, mereka memperoleh azab yang pedih di dunia dan di akhirat….” (An-Nur: 19)

Kedua: Seorang yang terkenal suka berbuat maksiat dengan terang-terangan, tanpa malu-malu, tidak peduli dengan pandangan dan ucapan orang lain. Maka membicarakan orang seperti ini bukanlah ghibah. Bahkan harus diterangkan keadaannya kepada manusia hingga mereka berhati-hati dari kejelekannya. Karena bila orang seperti ini ditutup-tutupi kejelekannya, dia akan semakin bernafsu untuk berbuat kerusakan, melakukan keharaman dan membuat orang lain berani untuk mengikuti perbuatannya3.

Saudariku muslimah…
Engkau mungkin pernah mendengar hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فيِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ …

“Siapa yang melepaskan dari seorang mukmin satu kesusahan yang sangat dari kesusahan dunia niscaya Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan di hari kiamat.Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya Allah akan memudahkannya di dunia dan nanti di akhirat. Siapa yang menutup aib seorang muslim niscaya Allah akan menutup aibnya di dunia dan kelak di akhirat. Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu menolong saudaranya” (HR. Muslim no. 2699)

Bila demikian, engkau telah tahu keutamaan orang yang suka menutup aib saudaranya sesama muslim yang memang menjaga kehormatan dirinya, tidak dikenal suka berbuat maksiat namun sebaliknya di tengah manusia ia dikenal sebagai orang baik-baik dan terhormat.

 

Siapa yang menutup aib seorang muslim yang demikian keadaannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menutup aibnya di dunia dan kelak di akhirat.

Namun bila di sana ada kemaslahatan atau kebaikan yang hendak dituju dan bila menutupnya akan menambah kejelekan, maka tidak apa-apa bahkan wajib menyampaikan perbuatan jelek/aib/cela yang dilakukan seseorang kepada orang lain yang bisa memberinya hukuman. Jika ia seorang istri maka disampaikan kepada suaminya. Jika ia seorang anak maka disampaikan kepada ayahnya. Jika ia seorang guru di sebuah sekolah maka disampaikan kepada mudir-nya (kepala sekolah). Demikian seterusnya4.

Yang perlu diingat, wahai saudariku, diri kita ini penuh dengan kekurangan, aib, cacat, dan cela. Maka sibukkan diri ini untuk memeriksa dan menghitung aib sendiri, niscaya hal itu sudah menghabiskan waktu tanpa sempat memikirkan dan mencari tahu aib orang lain. Lagi pula, orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain untuk dikupas dan dibicarakan di hadapan manusia, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membalasnya dengan membongkar aibnya walaupun ia berada di dalam rumahnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ قَلْبَهُ، لاَ تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَوْرَاتِهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ

“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya dan iman itu belum masuk ke dalam hatinya5. Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan jangan mencari-cari/mengintai aurat6 mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat kaum muslimin, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya di dalam rumahnya (walaupun ia tersembunyi dari manusia).” (HR. Ahmad 4/420, 421,424 dan Abu Dawud no. 4880. Kata Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud: “Hasan shahih.”)

Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma menyampaikan hadits yang sama, ia berkata, “Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar, lalu menyeru dengan suara yang tinggi:

يَا مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ اْلإِيْمَانُ إِلَى قَلْبِهِ، لاَ تُؤْذُو الْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تُعَيِّرُوْهُمْ، وَلاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ، يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ

“Wahai sekalian orang yang mengaku berislam dengan lisannya dan iman itu belum sampai ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, janganlah menjelekkan mereka, jangan mencari-cari aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat saudaranya sesema muslim, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walau ia berada di tengah tempat tinggalnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2032, dihasankan Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain, hadits no. 725, 1/581)

Dari hadits di atas tergambar pada kita betapa besarnya kehormatan seorang muslim. Sampai-sampai ketika suatu hari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma memandang ke Ka’bah, ia berkata:

مَا أَعْظَمَكِ وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ، وَالْمُؤْمِنُ أَعْظَمَ حُرْمَةً عِنْدَ اللهِ مِنْكِ

“Alangkah agungnya engkau dan besarnya kehormatanmu. Namun seorang mukmin lebih besar lagi kehormatannya di sisi Allah darimu.”7
Karena itu saudariku… Tutuplah cela yang ada pada dirimu dengan menutup cela yang ada pada saudaramu yang memang pantas ditutup. Dengan engkau menutup cela saudaramu, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menutup celamu di dunia dan kelak di akhirat. Siapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tutup celanya di dunianya, di hari akhir nanti Allah Subhanahu wa Ta’ala pun akan menutup celanya sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَسْتُرُ اللهُ عَلَى عَبْدٍ فِي الدُّنْيَا إِلاَّ سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah Allah menutup aib seorang hamba di dunia melainkan nanti di hari kiamat Allah juga akan menutup aibnya8.” (HR. Muslim no. 6537)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Jami’ul Ulum Wal Hikam (2/291).
2 Baik seseorang yang disebarkan kejelekannya itu benar-benar terjatuh dalam perbuatan tersebut ataupun sekedar tuduhan yang tidak benar.
3 Jami’ul Ulum Wal Hikam (2/293), Syarhul Arba’in Ibnu Daqiqil Ied (hal. 120), Qawa’id wa Fawa`id minal Arba’in An-Nawawiyyah, (hal. 312).
4 Syarhul Arba’in An-Nawawiyyah, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin (hal. 390-391).
5 Yakni lisannya menyatakan keimanan namun iman itu belum menancap di dalam hatinya.
6 Yang dimaksud dengan aurat di sini adalah aib/cacat atau cela dan kejelekan. Dilarang mencari-cari kejelekan seorang muslim untuk kemudian diungkapkan kepada manusia. (Tuhfatul Ahwadzi)
7 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 2032
8 Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu berkata: “Tentang ditutupnya aib si hamba di hari kiamat, ada dua kemungkinan. Pertama: Allah akan menutup kemaksiatan dan aibnya dengan tidak mengumumkannya kepada orang-orang yang ada di mauqif (padang mahsyar). Kedua: Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menghisab aibnya dan tidak menyebut aibnya tersebut.” Namun kata Al-Qadhi, sisi yang pertama lebih nampak karena adanya hadits lain.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16/360)
Hadits yang dimaksud adalah hadits dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ فَيَقُوْلُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا، أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُوْلُ: نَعَمْ، أَيْ رَبِّ. حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوْبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ. فَيُعْطِي كِتَابَ حَسَنَاتِهِ …

“Sesungguhnya (di hari penghisaban nanti) Allah mendekatkan seorang mukmin, lalu Allah meletakkan tabir dan menutupi si mukmin (sehingga penghisabannya tersembunyi dari orang-orang yang hadir di mahsyar). Allah berfirman: ‘Apakah engkau mengetahui dosa ini yang pernah kau lakukan? Apakah engkau tahu dosa itu yang dulunya di dunia engkau kerjakan?’

Si mukmin menjawab: ‘Iya, hamba tahu wahai Rabbku (itu adalah dosa-dosa yang pernah hamba lakukan).’ Hingga ketika si mukmin ini telah mengakui dosa-dosanya dan ia memandang dirinya akan binasa karena dosa-dosa tersebut, Allah memberi kabar gembira padanya: ‘Ketika di dunia Aku menutupi dosa-dosamu ini, dan pada hari ini Aku ampuni dosa-dosamu itu.’ Lalu diberikanlah padanya catatan kebaikan-kebaikannya…” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Advertisements

Read Full Post »

Risalah

Membawa Masalah

Sedikitnya 70 jamaah dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Lajnah Perwakilan Daerah (LPD) Surakarta mendatangi Masjid Ibnu Taimiyyah. Kedatangan mereka ke masjid yang berada di kompleks Pondok Pesantren Daarus Salafi, kawasan Cemani, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah, itu guna memprotes pengajian yang diselenggarakan pada pagi harinya. Pihak pengurus masjid dituding telah mendiskreditkan majalah Risalah Mujahidin, yang diterbitkan oleh MMI.

Sebelum pengajian digelar, sejumlah selebaran beredar di tengah-tengah masyarakat. Isinya, menurut juru bicara MMI LPD Surakarta, Adi Basuki, membuat panas-dingin komunitas MMI. Di antaranya, “Membongkar Kedustaan Risalah Mujahidin“. Adi dan jamaah MMI meminta diadakan debat terbuka saja, bukan menghakimi secara sepihak. “Tapi mereka tak mengindahkan permintaan kami,” tutur Adi.

Karena merasa tak mendapat tanggapan, Adi dan teman-temannya melaporkan kasus pencemaran nama baik itu ke polisi. Kemarahan jamaah MMI juga dipicu oleh pembicara dalam pengajian Senin pagi itu, Abu Karimah Asykary. Selain menyinggung Risalah Mujahidin, Abu Karimah juga menghujat Amir MMI, Ustad Abu Bakar Ba’asyir.

Ihwal kelompok salafi menghujat, karena di edisi 7 yang terbit bulan April itu, di halaman 42, Risalah Mujahidin menurunkan judul berita “Mengenal Agen Mossad dalam Gerakan Islam”. Isinya memuat wawancara dengan seorang agen Israel yang ditangkap Pemerintah Palestina. Dalam pengakuannya, sang agen mengatakan bahwa orang-orang salafi telah dapat mereka peralat. Antara lain dengan menerbitkan buku-buku yang menimbulkan fitnah dan perpecahan di kalangan umat Islam. Isi wawancara itu mengutip dari hidayatullah.com.

“Bagi kami, tuduhan itu bukan permasalahan yang simpel,” kata Ayip Syaifuddin, pengajar Pesantren Daarus Salafi. Bagi Ayip, secara keseluruhan, isi Risalah Mujahidin itu mengandung pemikiran-pemikiran berbahaya. “Membuat pemikiran umat terkacaukan, terutama dalam menyikapi hubungan dengan pemerintah dan sesama muslim,” ujar Ayip.

Tidak ditanggapinya permintaan untuk debat terbuka, menurut Ayip, karena tidak ada manfaatnya. “Kalau berdebat, standardisasi pemikiran mereka berbeda dengan pemikiran kami, tidak akan medapatkan titik temu, kecuali mereka mendapatkan hidayah,” katanya.

Tapi Irfan S. Awwas, Ketua Lajnah Tanfidziah MMI –yang juga Pemimpin Umum Risalah Mujahidin— punya penilaian lain tentang penolakan atas debat terbuka tersebut. “Itu berarti kelompok tersebut tidak ingin penyelesaian perkara secara damai,” kata Irfan. Dalam pandangan Irfan, semua umat Islam itu juga seorang salafi. “Jadi, kalau menganggap pihak lain bukan salafi, itu sebuah kejahatan. Berarti dia mengafirkan pihak lain yang tidak sependapat,” ia menjelaskan.

Majalah Risalah Mujahidin, menurut Irfan, diterbitkan sebagai bagian dari sarana untuk sosialisasi syariah Islam di kalangan MMI. “Juga untuk pencerahan pemikiran umat Islam dalam menumbuhkan semangat bersyariah,” ujar Irfan. Isinya pun beragam, dari berita politik yang juga bersinggungan dengan Islam sampai soal bagaimana mengatur kehidupan negara ataupun keluarga. “Kami juga membedah gerakan organisasi Islam yang sesuai syariah Islam maupun yang sebaliknya,” ia menguraikan.

Perseteruan antara pihak salafi eks Laskar Jihad dan MMI bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, terbit buku bertitel Mereka Adalah Teroris yang ditulis Al-Ustad Luqman bin Muhammad Ba’abduh, mantan Wakil Panglima Laskar Jihad. Buku yang terbit tahun 2005 itu ditujukan untuk menanggapi buku Imam Samudra berjudul Aku Melawan Terorisme. Rupanya, tidak hanya Imam yang diserang, sejumlah tokoh Islam, baik dari dalam maupun luar negeri, ikut-ikutan jadi sasaran.

Ustad Abu Bakar Ba’asyir, misalnya, dituding sebagai sindikat teroris. Sedangkan mantan Panglima Laskar Jihad, Ustad Ja’far Umar Thalib, disebut sebagai sosok yang bergaul dengan ahli bid’ah karena ikut mengisi acara zikir Ustad Muhammad Arifin Ilham. Karena amirnya dicemarkan, pihak MMI pernah mengajak debat Luqman. “Tapi yang bersangkutan tak pernah nongol,” tutur Fauzan al-Anshari, Ketua Departemen Data dan Informasi MMI.

Sebagai tanggapan, keluarlah buku Siapa Teroris? Siapa Khawarij?, yang ditulis Abduh Zulfidar Akaha, tahun 2006. Buku ini secara akademis cukup dipujikan karena mampu membantah setiap argumentasi yang dijadikan landasan oleh Luqman. Abduh Zulfidar menulis dengan bahasa yang cukup santun dan ditopang dengan rujukan kitab yang cukup memadai. Sebuah modal awal yang baik untuk dilakukan dialog antara komunitas eks Laskar Jihad dan MMI.

Herry Mohammad, dan Mukhlison S. Widodo (Solo)
[Agama, Gatra Nomor 30 Beredar Kamis, 7 Juni 2007]

 

Read Full Post »

Bolehkah Haji Dilakukan

Dalam Salah Satu dari 3 Bulan?

Jumat, 15 Jun 07 11:25 WIB

Assalamu’alaikum Wr Wb,

Bolehkah ibadah Hajji dilakukan dalam 3 bulan yang ditentukan tersebut, yaitu Syawwal – Dzul Qo’dah dan Dzul Hijjah, misal dalam bulan syawwal secara mandiri?

Bolehkah bahwa hal tersebut mengacu pada:

(1). Al-Qur-aan Surat Al-Baqarah: 128; (2). Al-Qur-aan Surat Al-Baqarah: 197 dan (3). Hadits: Qoola Rasuluullaah SAW: “Al-Hajju asyhurunma’luumaatun Syawwal wa Dzul Qo’dah wa Dzul Hijjah.” (‘An Ibni Umar) -Rowahu Thabrani fil AusathTafsir Durul Manshur Jilid I halaman 218: Imam Jalaluddin Suyuthi.

Terimakasih pak Ustadz,

Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.

SAXSON

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang benar bahwa tiga bulan untuk haji yang ditetapkan di dalam ayat ini adalah bulan Syawwal, Dzul Qa’dah dan Dzul Hijjah. Namun pengertiannya bukanlah haji itu bisa dilakukan di bulan Syawwal saja, atau di bulan Dzul-Qa’dah saja. Tidak demikian cara kita memahaminya.

Sebab ada hadits Rasulullah SAW tentang puncak ritual ibadah haji, yaitu hari Arafah yang jatuh pada tanggal 9 DzulHijjah. Diteruskan dengan melontar jamarat yang ditetapkan waktunya adalah para tanggal 10, 11 dan 12 bulan Dzul-Hijjah.

Jadi tiga bulan itu memang benar, namun posisinya sebagai awal mula start ritual haji. Sejak awal bulan Syawwal seseorang sudah bisa datang ke tanah haram dan berniat untuk menjalankan ritual ibadah haji.

Akan tetapi dia tidak bisa langsung melaksanakan ritual puncak ibadah haji begitu saja, mentang-mentang bulan Syawwal sudah termasuk bulan haji. Seorang yang mengerjakan ibadah haji harus ikut ritual puncak ibadah haji. Dan bila tidak, maka dia belum terhitung mengerjakan ibadah haji.

Belum pernah ada sebelumnya seorang muslim yang mengerjakan ritual wuquf di Arafah selain tanggap 9 Dzulhijah. Sejak dari ritual haji pertama kali di zaman Rasulullah, hingga 1400 tahun kemudian, tidak pernah terjadi. Meski hanya satu orang saja. Bahkan sejak pertama kali nabi Ibrahim melakukan ritual haji, juga tidak pernah dilakukan di luar bulan haji tanggal 9 Dzulhijjah.

Maka ide untuk menyelenggarakan haji tanpa wuquf di Arafahpada tanggal 9 Dzulhijjah adalah sebuah bid’ah yang nyata. Sesat dan menyesatkan, karena sebuah penafsiran yang nyata keliru. Bahkan tidak ada satu pun ulama baik salaf maupun khalaf yang pernah terpikir ke arah sana.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

Samarra dan Timur Tengah Baru

Akan…..

Bin Jabrin adalah ulama Wahhabi/Salafi nomor dua setelah Abdurrahman al-Barrak. Sebelum ini ia termasuk anggota Dewan Fatwa negara Arab Saudi. Tahun lalu ia mengeluarkan fatwa agar seluruh tempat-tempat suci orang-orang Syiah dihancurkan. Menurutnya, “Jangan biarkan bangunan-bangunan yang kelihatannya indah dianggap sebagai bagian dari Islam. Karena sekalipun bangunan-bangunan ini berada di negara-negara Islam, namun syariat tidak menerimanya. Islam memerintahkan untuk menghancurkan bangunan-bangunan seperti itu”.

Masih hangat beritanya ketika 16 bulan yang lalu tepatnya tanggal 22 Pebruari 2006, 20 orang teroris memaksa masuk Haram Imam Hasan Askari dan Imam Hadi as. Mereka membawa 215 kg bahan peledak dan akhirnya meledakkan Dharih kuburan Imam dan membuat kubahnya rusak berat. Seluruh kaum muslimin tersentak atas perbuatan biadab itu. :foto

Kemarin hari Rabu tanggal 13 Juni jam 09:00 pagi kelompok teroris kembali memaksa masuk ke Haram. Anggota kelompok teroris ini telah memasuki Haram sejak jam 3 subuh. Setelah membunuh penjaga Haram, mereka mulai menempatkan bom di kedua menara Haram. Pertama mereka meratakan dengan tanah menara di samping kiri dan lima menit kemudian meledakkan menara sebelah kanan sehingga tinggal setengahnya. Begitu juga atap Sardab (tempat terakhir gaibnya Imam Mahdi af) rata dengan tanah. Namun, kali ini tidak ada korban jiwa dari peziarah karena sejak peledakan pertama para peziarah telah dilarang memasuki Haram Imam Hasan Askari dan Ali al-Hadi as.

Setelah terjadi peledakan itu televisi Irak menunda siaran hariannya dan langsung memberitakan peristiwa Samarra babak kedua ini. Secara serentak ditayangkan lagu-lagu nasional yang dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi top Irak mengajak untuk tetap menjaga persatuan, menghindari tindak kekerasan atas nama mazhab dan menunjukkan sikap patriotisme membela Irak.

Dampak peledakan Haram Imam Hasan Askari dan Imam Hadi as konflik sektarian selama berbulan-bulan. Itulah mengapa Ayatullah Sistani dan ulama Syiah lainnya mengeluarkan pernyataan agar orang-orang Syiah dan Ahli Sunah bisa menahan diri. Ulama Ahli sunah di Irak juga mengutuk aksi teror tersebut.

Nouri al-Maliki dalam pertemuannya dengan Duta Besar Amerika dan komandan pasukan Amerika di Irak agar segera mengirimkan pasukan untuk mengamankan kota Samarra dari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Pemerintah Irak dan pasukan Amerika telah mengamankan jalan yang menghubungkan Baghdad dan Samarra. Selain itu, Nouri al-Maliki membentuk tim penyidik untuk menyelidiki pasukan keamanan yang bertugas di sana ketika peristiwa peledakan terjadi.

Rencana keamanan yang diterapkan oleh pemerintah Nouri al-Maliki cukup sukses. Namun rencana ini baru meliputi daerah-daerah sekitar Baghdad seluas 30 kilometer dan ini rencana ini belum sampai ke Samarra. Itulah mengapa jalur Baghdad-Samarra yang tidak aman menghalangi pembangunan kembali Haram Imam Hasan Askari dan Imam Hadi as.

Menindaklanjuti seruan Ayatullah Sistani kepada seluruh rakyat Irak; baik Syiah maupun Sunni, untuk menahan diri, Muqtada Shadr memerintahkan tentara al-Mahdi untuk mencegah kemungkinan luapan kemarahan orang-orang Syiah terhadap orang-orang Ahli Sunah.

Siapa pelakunya?
Duta Besar Amerika dan komandan pasukan Amerika di Irak dalam pernyataan terpisah mengatakan, “Kami mengecam keras serangan setan pada pagi hari ini”. “Aksi yang dilakukan oleh kelompok yang telah dikepung ini muncul dari tidak adanya harapan bagi mereka. Mereka ingin menutup perkembangan politik, ekonomi dan perdamaian di Irak yang demokratis”. Di akhir pernyataannya, Duta Besar Amerika mengatakan, “Kami tidak akan mengizinkan kelompok teroris ini melakukan aksinya terhadap rakyat Irak yang menginginkan kesejahteraan dan kedamaian untuk semua”.

Nouri al-Maliki dalam pidatonya di televisi Irak meminta kepada rakyat Irak untuk tidak berlebihan menyikapi masalah ini. Bila ingin menuangkan kemarahannya, maka tempatnya kepada kelompok al-Qaedah. Kelompok yang terdiri dari orang-orang takfiri dan sisa-sisa pengikut Saddam. Kelompok takfiri melakukan aksi teroris ini karena terilhami oleh fatwa Bin Jabrin yang memuat fatwanya di situs pribadinya. Pada peledakan pertama di Samarra ia memuji aksi tersebut dan mengatakan, “Haram Imam Hasan dan Imam Hadi adalah sesembahan orang-orang Syiah”.

Bin Jabrin adalah ulama Wahhabi/Salafi nomor dua setelah Abdurrahman al-Barrak. Sebelum ini ia termasuk anggota Dewan Fatwa negara Arab Saudi. Tahun lalu ia mengeluarkan fatwa agar seluruh tempat-tempat suci orang-orang Syiah dihancurkan. Menurutnya, “Jangan biarkan bangunan-bangunan yang kelihatannya indah dianggap sebagai bagian dari Islam. Karena sekalipun bangunan-bangunan ini berada di negara-negara Islam, namun syariat tidak menerimanya. Islam memerintahkan untuk menghancurkan bangunan-bangunan seperti itu”.

Sementara sisa-sisa pengikut Saddam melakukan aksi-aksi teror dengan harapan bila pemerintah yang ada sekarang lemah, mereka punya kesempatan untuk bisa kembali menguasai Irak. Karena pemerintah sekarang didukung oleh orang-orang Syiah, maka cara yang dipakai adalah dengan mengadu domba orang-orang Syiah dengan orang-orang Ahli Sunah.

Siapa yang bertanggung jawab?
Mungkin pertanyaan ini sudah dapat dibaca dalam penjelasan sebelumnya. Bahwa yang bertanggung jawab tentu adalah yang meledakkan. Namun, perlu diketahui sesuai dengan aturan yang berlaku, negara yang menduduki negara lain yang bertanggung jawab untuk menegakkan stabilitas keamanan negara tersebut. Di sini, Amerika yang bertanggung jawab ketika terjadinya peristiwa peledakan ini, sekalipun bukan dia yang melakukannya. Namun, bukti-bukti menunjukkan bahwa tanpa kerja sama dengan pihak Amerika, sulit untuk dapat memasuki kawasan Haram dengan membawa bahan peledak seberat 215 kg seperti yang terjadi pada peledakan pertama.

Ditambah lagi, setelah peledakan pertama Haram Imam Hasan Askari dan Imam Hadi as, kawasan di sekitar Haram dijaga ketat. Bahkan peziarah dilarang masuk, sementara toko-toko yang ada di sana diperintahkan untuk ditutup. Sekalipun secara lahiriah yang banyak berkeliaran menjaga Haram adalah pihak keamanan dari pemerintah Irak, namun mereka tidak diberi keleluasaan yang semestinya. Semua gerakan mereka didikte oleh pasukan Amerika.

Problem yang dihadapi pemerintah Irak
Masalah terbesar yang dihadapi oleh pemerintah Irak adalah sekalipun mereka dipilih oleh rakyat Irak, namun pemerintah Irak tidak punya kekuasaan yang cukup. Semua gerak-geriknya dipantau dan dikuasai oleh Irak. Nouri al-Maliki setelah berhasil membekuk kelompok “Army of Heaven” berhasil menunjukkan kekuatannya, ia kemudian membuat rencana keamanan di Irak. Apa lagi sepak terjang Nouri al-Maliki yang Syiah tidak setuju dengan kehadiran Amerika di negaranya.

Keberadaan Nouri al-Maliki yang menjadikan Ayatullah Sistani sebagai kiblat kebijakan politiknya bagaikan duri dalam daging bagi Amerika. Ayatullah Sistani adalah satu-satunya tokoh di Irak yang membuat Irak cukup stabil. Dan hal ini tidak sesuai dengan tujuan-tujuan Amerika untuk mengeruk minyak Irak di tengah-tengah koflik. Itulah mengapa sekalipun kondisi Irak konflik, tentara Amerika yang menjaga ladang-ladang dan pipa-pipa minyak Irak tetap malah sekarah diperkuat. Nouri al-Maliki harus disingkirkan.

Beberapa waktu upaya Iyad Allawi untuk menggulingkan pemerintah gagal. Salah satu orang dekat Ayatullah Sistani diteror. Aksi-aksi teror yang setiap hari bisa disaksikan yang mengakibatkan terbunuhnya orang-orang tidak berdosa. Ditambah lagi kebijakan terakhir Amerika yang mempersenjatai orang-orang Ahli Sunah yang sebelumnya bersama kelompok al-Qaedah menyerang patroli-patroli Amerika. Kebijakan yang bukan saja ditentang oleh sebagian pejabat-pejabat Amerika, tapi juga negara-negara Eropa. Karena mempersenjatai orang-orang Ahli sunah sama artinya dengan meningkatkan ketegangan dan konflik di Irak.

Bila terjadi konflik, maka akan memakan waktu berbulan-bulan untuk dapat meredamnya. Amerika dengan peristiwa ini mendapat dua keuntungan; pertama Amerika berhasil menunjukkan kelemahan pemerintah yang dipimpin oleh Nouri al-Maliki dan kedua, Bush punya alasan untuk tinggal lebih lama di Irak setelah ditekan terus oleh kongres agar segera menentukan jadwal penarikan pasukan Amerika dari Irak.

Amerika sangat berkepentingan untuk menggulingkan Nouri al-Maliki yang kebijakannya tidak searah dengan kebijakan gedung putih. Setelah peristiwa ini, kita masih menunggu perkembangan politik di Irak. Manuver-manuver apa lagi yang akan dilakukan oleh Amerika untuk menggulingkan pemerintah Irak yang dipilih secara demokratis.

Sebuah kebetulan yang direncanakan?
Mungkin terlihat kebetulan bahwa pada hari yang sama salah seorang anggota parlemen Lebanon yang berafiliasi ke partai Saad Hariri. Ledakan itu terjadi di kawasan sebelah Barat Beirut bernama al-Hammam al-Askari dekat tempat peristirahatan Saad Hariri. Peristiwa ini membawa Lebanon dalam sebuah kancah baru yang penuh konflik setelah kelompok Fath al-Islam di Nahr al-Barid. Kelompok al-Qaedah yang sebagiannya ditarik dari Irak untuk tujuan tertentu. Begitu juga hari-hari ini bentrokan senjata cukup sengit terjadi di Palestina antara anggota Hamas dan Fatah.

Kejadian-kejadian ini kelihatannya terpisah-pisah dan tidak punya hubungan karena tempat kejadiannya juga berbeda-beda. Namun, sangat menarik bila menengok kembali pidato Ahmadi Nejad presiden Iran pada hari Sabtu tanggal 26 Mei 2007 yang mengatakan, “Fitnah baru di Timur Tengah sedang mengambil bentuknya. Seharusnya negara-negara di kawasan mewaspadai masalah ini. Rezim Israel untuk menyelamatkan dirinya dari kehinaannya saat ini tengah membuat rencana baru. Informasi-informasi dan analisa yang ada menunjukkan bahwa selain ingin menghancurkan pemerintah Palestina, mereka ingin mengobarkan fitnah konflik sektarian di Lebanon”.

Ahmadi Nejad menambahkan, “Sesuai dengan data-data intelijen yang kami miliki, pada musim panas ini mereka kembali ingin menyerang Lebanon. Mereka masih belum bisa menghilangkan rasa malu sebagai pecundang menghadapi Hizbullah. Mereka berharap tahun ini dapat menutupi rasa malu mereka akibat kekalahan tahun lalu. Saya memberikan peringatan keras kepada Rezim ini. Ketahuilah! Tahun ini tidak seperti tahun lalu”.

Ucapan Ahmadi Nejad yang menyebutkan bahwa musim panas ini akan ada serangan baru Rezim Israel atas Hizbullah. Untuk itu, sesuai dengan peribahasa “mengail di air keruh”, Amerika coba memperkeruh kondisi di Lebanon. Ketika muncul kelompok Fath al-Islam di Lebanon tidak berapa lama mereka mengirimkan senjata kepada tentara Lebanon yang dalam kenyataannya tidak pernah sampai ke tangan mereka. Senjata-senjata itu raib begitu saja. Kondisi Palestina juga tidak terlalu menguntungkan karena kembali lagi partai Fatah berniat keluar dari kabinet gotong royong. Bukan Cuma itu, saat ini salah satu dari bentrokan bersenjata paling hebat antara keduanya tengah terjadi.

Irak juga sedang dikondisikan sedemikian rupa. Bila semua mata tertuju pada konflik-konflik sektarian yang dimunculkan ini, maka kemungkinan besar Israel dapat mewujudkan usahanya untuk kembali menyerang Hizbullah sebagai upaya untuk membalas kekalahannya yang memalukan setahun lalu.

Penutup
Terlepas dari apa tujuan peledakan di Samarra, namun yang perlu diperhatikan adalah al-Qaedah menjadi alat pencipta konflik. Sebagian negara-negara Arab lainnya mungkin belum kecipratan “berkah” al-Qaedah, namun cepat atau lambat al-Qaedah akan menyusup ke seluruh negara-negara Arab. Bila saat ini ada beberapa negara Arab yang membiayai, mendukung dan melindungi kelompok teroris ini, maka itu karena sampai saat ini tujuan mereka dan Amerika masih satu. Namun, tidak selamanya demikian. Amerika tidak pernah punya belas kasihan dengan siapa saja. Bagi mereka kepentingan mereka adalah nomor satu. Itulah mengapa mereka tidak pernah benar-benar serius menegakkan keamanan secara menyeluruh di Irak. Karena itu bertanda tangan dengan tujuan kedatangan mereka, di samping itu serangan-serangan sporadis yang membuat korban yang berjatuhan dari pihak mereka tidak sedikit. Saat ini yang dilakukan mereka di Irak adalah berusaha sebisa mungkin untuk mengurangi korban di pihaknya.

Bila terjadi konflik sektarian antar Syiah dan Ahli Sunah, setidak-tidaknya mereka sebagai pihak ketiga lebih aman. Dan ketika itu, mereka telah melangkah lebih jauh membawa lari kekayaan Irak atau kembali menguasai Irak dengan menjatuhkan pemerintah yang ada. Bila di Palesitna, Lebanon dan Irak semua pemerintah yang berkuasa sesuai dengan “restu” Amerika, apakah itu tidak berarti sedang terbentuknya Timur Tengah Baru? (islamalternatif)

Redaksi 14 Jun, 07 – 6:39 pm
Oleh: Saleh Lapadi
Penulis: Anggota Redaksi Islam Alternatif
-Swaramuslim.com-

Read Full Post »

Sejak Diciptakan,

Adam Memang Harus Turun ke Bumi?

Jumat, 15 Jun 07 09:34 WIB

Ass. Wr. Wb.

Ustadz yang senantiasa dilindungi Allah, Saya ingin bertanya berkaitan dengan firman Allah:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. ” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. ” (QS. Al-Baqarah: 30).

Bukankah hal ini terkesan seolah-olah Adam memang diciptakan sejak awal untuk menjadi pemimpin di bumi?

Mohon jawabannya, karena ini sangat mengganggu pendapat yang selama ini ada, bahwa Nabi Adam as diturunkan di bumi karena kesalahan yang beliau perbuat di surga, dan bukan karena dari awal diciptakan untuk persiapan atau semacamnya dalam rangka memimpin bumi.

Jazakumullah khayran katsira

Rama

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Benar sekali bahwa sejak awal diciptakan, Nabi Adam ‘alaihissalam memang telah disiapkan untuk menjadi khalifah di muka bumi. Hal itu bisa kita baca di dalam Al-Quran, yaitu saat terjadi dialog antara Allah SWT dengan para malaikat, sesaat sebelum Allah SWT menciptakan nabi Adam ‘alaihissalam.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30)

Bahwa kemudian Nabi Adam ‘alaihissalam melakukan kesalahan lalu di suruh keluar dari surga oleh Allah, memang telah menjadi skenario dan rahasia dari Allah SWT.

Nabi Adam ‘alaihissalam memang berdosa karena telah melanggar larangan Allah, namun beliau telah bertaubat begitu menyadari kesalahannya. Itulah beda Adam ‘alaihissalam yang merupakan seorang nabi dengan Iblis laknatullah.

Sebagai makhluq durjana, Iblis sama sekali tidak segera bertaubat dan tidak jera ketika tahu dirinya telah melakukan kesalahan besar. Maka Iblis dikutuk Allah selama-lamanya dan akan menjadi penghuni neraka. Dan semakin menjadi-jadilah kegilaan Iblis, karena dia bersumpah untuk menyesatkan dan menggangu anak-anak Adam ‘alaihissalam hingga hari kiamat.

Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. (QS. Al-A’raf: 16)

Sedangkan Adam ‘alaihissalam, beliau adalah seorang nabi yang mendapat petunjuk. Mengerti dan sadar atas kesalahannya, beliau pun segera bertaubat. Dan Allah SWT pun menerima taubatnya. Dan urusan pun selesai.

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.(QS. Al-Baqarah: 37)

Sementara misi utamanya tetap dijalankan sesuai dengan rencara semula, yaitu menjadi khalifah di muka bumi dan alam semesta.

Kami berfirman, “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak mereka bersedih hati.”(QS. Al-Baqarah:38)

Adam Diciptakan Untuk Menjadi Pemimpin

Sejak semula memang nabi Adam telah disiapkan oleh Allah SWT untuk menjadi pemimpin, yang dalam bahasa Al-Quran disebut dengan khalifah. Kata khalifah sesungguhnya bermakna wakil atau pengganti. Maksudnya, Nabi Adam menjadi wakil Allah di muka bumi. Misinya agar bumi ini makmur, serta berjalan secara harmoni seiring dengan peraturan yang Allah tetapkan. Bukan saja peraturan untuk sesama anak Adam, tetapi juga peraturan tentang hubungan anak Adam dan alam semesta.

Dari segi pisik dan mental, Nabi Adam telah diciptakan dengan sebaik-baik penciptaan, sebagaimana firman Allah SWT:

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .(QS. At-Tiin: 4)

Namun dalam diri Adam ada titik-titik kelemahan, yang kalau tidak dijaga dengan baik, Adam akan melakukan kesalahan. Sebuah sifat yang memang manusiawi dan wajar. Namun titik-titik kesalahan ini memang dikenal betul oleh Iblis dan dimanfaatkan semaksimal mungkin. Iblis melakukanya hanya sekedar untuk mengobati sakit hatinya dan dendam kesumat kepada Adam.

Namun Allah SWT telah memberikan bekal kepada nabi Adam untuk bisa menjaga diri dari gangguan Iblis dan sebangsanya. Pada bagian akhir Al-Quran, ada dua surat yang oleh Rasulullah SAW dijadikan sebagai perlindungan atas godaan dan jebakan Iblis.

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh. Dari kejahatan makhluk-Nya.Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” (QS. Al-Falaq: 1-5)

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.Raja manusia.Sembahan manusia.Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.dari (golongan) jin dan manusia. (QS. An-Naas: 1-6)

Makat saat Iblis dan keturunannya datang menggangu Nabi Adam ‘alaihissalam dan keturunannya, Allah SWT memerintahkan untuk membacakan dua surat di atas. Maka semua bentuk gangguan dan jebakan itu menjadi tidak ada artinya. Manusia akan menjadi sangat kuat dan tidak mempan untuk ditaklukkan. Tentu saja bila diiringi dengan iman dan tawakkal yang mendalam kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »