Feeds:
Posts
Comments

Archive for June 14th, 2007

Tutup Lembah Vatikan

di Cianjur

Kawasan lembah seluas 600 hektar yang terletak di kabupaten Cianjur, Jawa Barat itu mengundang kontroversi. Tapi pemerintah setempat enggan bertindak. Di sinilah para suster dan frater digodok untuk menyebarkan misi Injil ke seluruh Indonesia.

Mobil BMW berwarna silver metalik terlihat berbelok perlahan di persimpangan jalan menuju Lembah Karmel, di suatu sore, Kamis dua pekan lalu. Di belakangnya, mobil-mobil mewah beraneka jenis dan merek mengekor dengan perlahan. Plat nomor polisinya, kebanyakan Jakarta dan Bandung. Hari itu, menurut informasi petugas keamanan Lembah Karmel, ada pertemuan orang-orang penting.

Jumlah kendaraan yang memasuki lembah kian banyak seiring bergulirnya waktu. Lapangan parkir kawasan ziarah rohani itu pun penuh sesak. Itu baru hari Kamis. Keramaian akan mencapai puncaknya di Minggu, ketika diadakan misa bersama. Misa ini dihadiri oleh para pengunjung yang kebanyakan datang dari luar kota.
Lembah Karmel adalah sebuah lokasi wisata rohani, tempat pertapaan salah satu ordo Katolik, juga tempat pembinaan para suster dan frater. Ibaratnya, Lembah Karmel adalah lembaga pendidikan Katolik terbesar di Indonesia. Lokasinya di Desa Cikanyere, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Terletak pada ketinggian 800-950 meter di atas permukaan laut, luas lahan Lembah Karmel hampir mencapai 600 hektar. Areal ini terdiri dari perbukitan dan hutan lindung. Tak tanggung-tanggung, kawasan Karmel ini menguasai delapan bukit, mencakup empat desa di empat kecamatan.

Sejarah Lembah Karmel tidak lepas dari peran pendirinya, Romo Yohanes Indrakusuma. Perintisannya dimulai sejak tahun 1988 silam, dan digunakan sebagai tempat pertapaan dan pengasingan. Yohanes menyebut tempat menyepinya dengan sebutan Pertapaan Shanti Bhuana, letaknya sekitar 100 meter di bawah tempat yang sekarang. Pada tanggal 13 April 1996 diresmikanlah sebuah rumah retret yang diberi nama Pondok Remaja Lembah Karmel.

Lembah Karmel kini dikenal sebagai tempat penyembuhan dan retret. Retret adalah suatu kegiatan undur diri dari kehidupan duniawi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu, di tempat ini juga dilakukan penggodokan para suster dan frater yang kelak akan menjadi penyebar misi-misi Injil ke berbagai penjuru.
Keberadaan Lembah Karmel yang semula tempat pertapaan, kemudian beralih fungsi menjadi pondok pembinaan remaja dan kini sebagai tempat kegiatan sosial keagamaan, mengundang protes sebagian pihak, terutama LSM dan ormas Islam.

Mereka menuding Lembah Karmel telah melanggar aturan dan hukum yang berlaku.
Berbagai protes bermunculan terhadap Karmel, namun tidak mendapat tanggapan. Baik oleh Karmel sendiri ataupun aparat pemerintah setempat. Salah satu ormas Islam yang getol melakukan perlawanan adalah Gerakan Reformis Islam, disingkat GARIS. Ketua umumya, H Chep Hernawan menilai pelanggaran pidana Karmel tak terhitung banyaknya. Membangun tanpa izin, menyalahi aturan dan memporak-porandakan alam sekitarnya. “Janganlah berbicara masalah pemurtadan, pelanggaran pidana Karmel itu sudah seabrek, tapi kenapa tidak diapa-apain?” gugat Chep.Menurut Chep, Lembah Karmel telah melanggar Keppres No. 114 tahun 1999 Tentang Penataan Ruang Kawasan Bopunjur (Bogor, Puncak, Cianjur). Keppres ini memerintahkan pemerintah daerah Bopuncur untuk menjaga daerah resapan air guna mengantisipasi bencana banjir. Di kawasan Karmel kini telah berdiri sekian banyak bangunan yang mengorbankan pohon-pohon di sekitarnya. Padahal pepohonan ini berfungsi sebagai penyerap air dan penyangga hutan.
Pasal 12 ayat 1 Keppres No. 114 tahun 1999 Tentang Penataan Ruang Kawasan Bopunjur (Bogor, Puncak, Cianjur) dengan tegas menyebutkan larangan mendirikan bangunan kecuali bangunan yang diperlukan untuk menunjang fungsi hutan lindung dan atau bangunan yang merupakan bagian dari suatu jaringan atau transmisi bagi kepentingan umum seperti pos pengamatan kebakaran, pos penjagaan, papan petunjuk/penerangan, patok triangulasi, tugu, muara kereta kabel, tiang listrik dan menara televisi.

Lembah Karmel, kata Chep, tidak hanya membangun pondok dan rumah-rumah, tapi juga gereja, kapel, wisma, restoran dan pusat pertokoan. “Apakah ini tidak melanggar aturan?”

Selain Keppres, Lembah Karmel juga dianggap melanggar peraturan Bersama Menteri Agama Dan Menteri Dalam Negeri Nomor: 9 Tahun 2006 Tentang Pendirian Rumah Ibadat. Sebelumnya, peraturan ini dikenal dengan sebutan SKB 2 Menteri. “Mereka melakukan manipulasi tandatangan warga setempat.

Mayoritas penduduk Desa Cikanyere adalah Muslim, tidak ada yang Kristen. Bagaimana bisa mendirikan gereja di tempat yang mayoritas Muslim?” ujar Chep, setengah bertanya. Aturan main membangun rumah ibadah tertuang dalam Pasal 13 dan Pasal 14 Peraturan Bersama Dua Menteri tersebut. Semua aturan ini, kata H Chep, dilanggar oleh pengelola Lembah Karmel. “Kita akan tetap berjuang melawan Karmel. Perkara hasilnya, itu urusan Allah. Kalau memang perlu perang, kita akan perangi mereka,” tegasnya.

Sejarah keberadaan Lembah Karmel di Cikanyere memang sarat kontroversi. Bupati Cianjur periode 2000-2005, Wasidi Swastomo, bahkan pernah memperingatkan secara tegas, karena izinnya disalahgunakan. Padahal sebelumnya, Wasidi sendiri yang memberikan ‘restu’ pada Karmel.

Bermula dari surat permohonan dengan Nomor: 0031/05/YAR/01 tanggal 31 Mei 2001 Perihal Permohonan Ijin Pengalihan Fungsi/Permohonan dan Surat Nomor: 009/09/SPK/01 tanggal 9 September 2001 Perihal Permohonan Perubahan Nama Yayasan Antonius Rahmat menjadi Serikat Putri Karmel.
Intinya, kedua surat permohonan ini meminta izin perubahan nama Pondok Remaja Lembah Karmel menjadi Rumah Retret dan Tempat Penziarahan Umat Katolik. Demikian pula, luas lahan yang semula 3,6 hektar bertambah menjadi 13,8 hektar. Berdasarkan berbagai pertimbangan, Wasidi pun menyetujui permohonan tersebut, namun dengan syarat. Di antaranya, pengelola Karmel tidak boleh membangun rumah ibadah, tidak boleh membangun atribut-atribut atau simbol-simbol keagaaman atau rumah peribadatan.

Nyatanya, Karmel menyalahgunakan izin tersebut. Wasidi gerah dan mengeluarkan Surat Peringatan (SP) pada tanggal 1 Agustus 2005 dengan nomor: 4532/2580/Kesbang. Intinya, larangan melakukan perubahan bangunan, bentuk atau jenis dan frekuensi kegiatan dan luas areal sebagaimana telah ditetapkan pada surat persetujuan sebelumnya. Bupati Wasidi juga meminta pengelola Karmel tidak melakukan tindak pidana yang dapat menimbulkan masalah SARA.
Tak berselang lama, Komisi I DPRD Kabupaten Cianjur pun melakukan sidak (pemeriksaan mendadak) ke Lembah Karmel. Anggota dewan ingin melihat secara langsung keberadaan dan kegiatan di pusat pendidikan keagamaan Katolik itu. Sidak ini dilakukan karena dewan mendapat laporan dari masyarakat bahwa Lembah Karmel tidak dilengkapi izin resmi. Sebelumnya, DPRD Kabupaten Cianjur telah melayangkan surat resmi kepada Karmel, namun tidak mendapat tanggapan.
Warga melapor ke DPRD karena melihat Lembah Karmel membangun rumah-rumah rumbun di bagian tertinggi lembah. Rumah berukuran mungil ini digunakan untuk bertapa oleh para frater.

Instansi-instansi terkait seperti Bappeda, Cipta Karya dan BPN, mengaku belum pernah mengeluarkan izin untuk pembangunan rumah rumbun tersebut. Menurut Wakil Komisi I DPRD Cianjur saat itu, Mochamad Toha, pembangunan rumah rumbun bisa saja dihentikan jika memang menyimpang dari aturan. “Kami hanya merekomendasikan, tergantung pemerintah berani atau tidak menghentikan pembangunannya,” kata Toha.

Kuasa Pimpinan Lembah Karmel, Suster Agatha menjelaskan, untuk perizinan pihaknya telah menempuh semua proses permohonan dan dilakukan secara bertahap. Menurut Suster Agatha, sejak dibangun sekitar tahun 1986 silam, izin dari Pemkab Cianjur keluar secara bertahap sesuai dengan bangunan yang didirikan.
“Sejak kami mendapatkan izin prinsip dari pemerintah setempat sebagai lokasi wisata ziarah keagamaan, proses perizinan lain keluar secara bertahap dan tidak bersamaan langsung. Lagi pula pembangunan tempat ini pun dilakukan secara bertahap,” ujar Suster Agatha sebagaimana dikutip harian Pikiran Rakyat (Sabtu, 2/4/05). Kini, tak kurang dari 150 buah rumbun bercokol di puncak Lembah Karmel.
Selain sebagai tempat mencari kesembuhan dan retret, Lembah Karmel merupakan tempat penggodokan calon “pejuang” Kristenisasi. Ratusan frater dan suster kini tengah dibina di lembah yang disebut-sebut sebagai Vatikan-nya Indonesia itu. Selain gereja sebagai penunjang aktivis gerakan, Karmel juga mempunyai tempat-tempat pertapaan yang disebut rumah rumbun tadi. Di sini para frater menyendiri dan bertapa. Rumah rumbun ini berbentuk rumah panggung dengan ukuran 2 x 3 meter, dengan ketinggian 3 meter.

Di kawasan rumah rumbun terdapat beberapa wisma sebagai tempat tinggal para frater. Sebuah aula yang hampir mirip bunker terdapat di depan wisma. Aula satu lantai ini dibangun ke dalam bukit, jadi yang kelihatan di permukaan tanah hanyalah atapnya yang berwarna hijau dan separuh temboknya.
Patung-patung Yesus dan gambar Bunda Maria bertebaran tiap sudut ruangan. Di aula inilah para frater mendaras kajian-kajian teologi berbagai agama termasuk Islam. “Membaca al-Qur’an secara tajwid pun mereka sangat fasih,” ujar salah seorang sumber Sabili yang pernah bertugas di tempat ini. Aula ini termasuk dalam wilayah terlarang yang tak sembarang orang dapat memasukinya.
Sumber yang mantan karyawan dan kepercayaan Karmel ini menuturkan, Lembah Karmel merupakan tempat perkumpulan rahasia untuk merencanakan berbagai program Kristenisasi di Indonesia. “Targetnya, 75 persen penduduk Indonesia harus menjadi Kristen,” ujarnya.

Guna mewujukan hal itu, mereka menempuh berbagai macam cara. Di antaranya, memiskinkan warga desa sekitar, membeli tanah-tanah warga guna memperluas wilayah, mendekati tokoh-tokoh masyarakat setempat, menguasai TNI/Polri dan aparatur pemerintahan. “Itulah sebagian isi Sumpah Perjanjian Yesus yang sempat saya baca sebelum keluar dari sana. Kalau tak salah, ada sekitar 150-an butir isi perjanjian itu,” tutur sumber tersebut.

Selama bekerja di Karmel, sumber Sabili ini mengungkapkan, lima orang rekan kerjanya telah murtad. Kebanyakan, pekerja dari Malang yang murtad ini diiming-imingi kekayaan dan kemudahan hidup. “Mereka diberi rumah, gaji yang besar dan janji akan kemudahan masa depan,” katanya.

Dia memutuskan keluar dari Karmel karena tidak kuat menahan kuatnya godaan materi yang ditawarkan. Indoktrinasi romo, suster dan frater yang sangat kuat hampir-hampir membuatnya melepaskan akidah. Bahkan sebelum pengunduran dirinya disetujui, selama seminggu lebih dia ‘disterilisasi’ terlebih dahulu. “Mungkin mereka takut saya akan membongkar kegiatan mereka,” ujarnya.
Tokoh masyarakat dan ulama Cianjur, Habib Yahya al-Kaff, meminta Karmel jangan sampai melakukan Kristenisasi pada warga desa sekitar. “Jangan sampai mengutak-atik umat Islam di sekitarnya. Kalau terjadi, kami tidak akan segan-segan melakukan tindakan tegas,” ancamnya.

Sebab, kata Yahya, mereka hidup di tengah-tengah umat Islam. Kalau mereka hidup di tengah-tengah umat Nasrani, tidak ada masalah. “Kita sudah banyak kecolongan sejak zaman LB Moerdani dulu. Karmel menjadi besar karena mendapatkan dukungan nasional bahkan internasional. Kita akan membuat gerakan besar untuk menutupnya,” tandas ulama yang dikenal tegas ini.

Pihak Karmel sendiri enggan buka suara. Berkali-kali Sabili mencoba konfirmasi, baik secara langsung maupun melalui sambungan telepon, namun tak mendapat tanggapan. Alasannya, tidak ada pengurus yang bisa diwawancarai. “Semuanya sedang di Jakarta. Tidak ada orang di sini,” ujar Wahyu, Satpam Lembah Karmel ketika dihampiri di suatu sore, Kamis pekan lalu.

Padahal, saat itu Lembah Karmel tengah dipadati para tamu dan pengunjung. Ketika ditanya siapa yang mengurusi mereka? Satpam bertubuh ceking itu menjawab, “Mereka hanya sewa tempat saja, bukan tamu. Coba Anda hubungi pengacara Lembah Karmel!”

Namun ketika dimintai alamat dan nomor kontak sang pengacara, dia mengelak, “Wah sudah lama dia tidak di sini lagi. Saya tidak tahu!”

Begitu pula ketika dihubungi via telepon dua hari kemudian, seorang petugas resepsionis yang enggan menyebutkan nama itu, memberikan jawaban yang sama dengan si Satpam. “Tidak ada orang. Semua sedang ke Jakarta.”
Kasihan, tempat semegah dan semewah itu ‘tidak’ mempunyai pengurus atau pengelola. Bubarkan saja!

Chairul Akhmad

WWW.SABILI.COM

 

Advertisements

Read Full Post »

MENDAKWAHI ANAK


PENGINGKARAN AISYAH RADHIYALLAHU ANHA TERHADAP GADIS KECIL YANG MEMAKAI GELANG KAKI YANG BERBUNYI.

Ada perempuan kecil yang dipertemukan dengan Aisyah, ia memakai gelang kaki yang menimbulkan suara. Maka Aisyah tidak mau dipertemukan dengannya kecuali jika gelang kakinya dipecahkan. Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Bunanah, budak perempuan Abdur Rahman bin Hayyan al Anshari dari Aisyah, ia berkata:

“saat budak tersebut bersama Aisyah, tiba-tiba ada gadis kecil yang bergabung dengan mereka. Ia memakai gelang kaki yang menimbulkan suara. Aisyah berkata: Janganlah kalian masukkan gadis ini kepadaku sampai kalian memotong gelangnya. Aku mendengar Rasulullah Shalallahu

Alaihi wa Sallah bersabda:

“Malaikat tidak akan memasuki rumah yang ada loncengnya”

 

Pelajaran yang dapat diambil dari kisah ini adalah:

 

1. Pengingkaran Aisyah ash-Shiddiqah terhadap anak perempuan yang memakai perhiasan yang haram, usia yang masih kecil tidak menghalangi Aisyah untuk mengingkarinya.

 

2. ketegasan Ummul Mukminin dalam mengingkari suatu hal sehingga beliau enggan menerima kehadiran gadis kecil dalam rumahnya tanpa segan sedikitpun, tidak seperti kebanyakan orang yang rikuh dan sungkan untuk menegur orang lain apalagi terhadap anak kecil.

 

3. antusiasme Aisyah yang begitu tinggi agar rumahnya terpelihara dari kehadiran anak perempuan yang memakai pakaian (perhiasan) yang menyalahi syariat. Alangkah fatalnya pelecehan kita pada hal ini. alangkah besarnya musibah kita. berapa banyak rumah milik orang baik-baik, anak-anak mereka menjadi rusak lantaran penghuninya membebaskan masuknya anak-anak kerabat dan sahabat yang telah rusak.

 Dr.Fadhl Ilahi (hal 113)

Read Full Post »

KEMATIAN

HATI 

Oleh: KH. Rahmat Abdullah 

Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya.

Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri. Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.

Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.


Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang. “Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka”, ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim mal-nya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidak-sesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang.

Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau letakkan dirimu?


Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.

Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma’siat menggodamu dan engkau menikmatinya? Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia?

Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu: 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan.

Mungkin engkau mulai berfikir “Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh” Betapa jamaknya ‘dosa kecil’ itu dalam hatimu. Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat “TV Thaghut” menyiarkan segala “kesombongan jahiliyah dan maksiat?” Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci) berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan.”

Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat?” Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang “Ini tidak islami” berarti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana?

Sekarang kau telah jadi muslim hebat. Tidak lagi malu-malu tampil. Justeru engkau akan dihadang tantangan: sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa. Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki.

Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi? Begitu jauhnya inhiraf (melenceng) di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu.

Siapa yang mau menghormati ummat yang “kiayi”nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan “Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku” dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah?

Siapa yang akan memandang ummat yang da’inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan “Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua?”

Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai ‘alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?

Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da’wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini?

 

Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa “westernnya”. Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan “lihatlah, betapa Amerikanya aku”. Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri. 

(Hidup ini hanya sekali, maka janganlah disia-siakan. Mari kita kembali kepada niat yang baik Insya Alloh akan mendapatkan yang baik pula…)

 

 

Read Full Post »

Menghidupkan Syiar

Kedokteran Nabi

Meski baru seusia jagung, namun LP3KI telah banyak memberi kontribusi bagi masyarakat. Dengan kesungguhannya menggali kedokteran Nabi, lembaga ini bercita-cita menjadi lembaga penelitian, pendidikan dan pengembangan kesehatan islami yang mumpuni.

Lima tahun belakangan ini, praktik kedokteran Nabi (thibbun nabawi) tumbuh subur, bak cendawan di musim hujan. Kini, pengobatan ala Islam itu tidak hanya berkembang di kota-kota besar di Indonesia, tapi juga ke seluruh pelosok negeri. Sayangnya, tidak semuanya ‘benar-benar Islami.’

Tidak sedikit pula dari mereka yang ‘memanfaatkan’ thibbun nabawi sekadar untuk meraup keuntungan ekonomi semata. Mereka membuka praktik kedokteran Nabi hanya sekadar mengikuti tren, bukan didasari keseriusan untuk menggali kedokteran Islam. Tentu saja, fenomena ini akan kontraproduktif bagi perkembangan kedokteran Islam itu sendiri. Masyarakat bisa saja alergi dengan segala pengobatan yang berlabel thibbun nabawi.
Situasi ini membuat gusar Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Pengembangan Kesehatan Islami (LP3KI). Lembaga yang berdiri pada tanggal 27 Maret 2007 ini khawatir citra kedokteran Nabi yang mulai diterima masyarakat akan negatif jika tidak dikelola dengan baik.

Karenanya, LP3KI berusaha menangkis tudingan miring tersebut dengan menggali dan menerapkan prinsip-prinsip kedokteran Islam secara ilmiah. Tidak sedikit hal besar dimulai dari yang kecil. Pendirian lembaga yang beralamat di Jalan Raya Perkapuran RT 02/04 No 20, Cimanggis, Depok ini berawal dari diskusi-diskusi kecil sejumlah orang. Saat itu, Dr Mohammad Ali Toha Assegaf dan Enang Rokajat Asura cukup bersyukur dengan mulai diterimanya kedokteran Nabi di masyarakat.

Namun, di sisi lain, mereka juga prihatin karena banyak dari klinik tersebut yang tidak serius menggali dan menerapkan prinsip kedokteran Islam secara ilmiah. “Kedokteran Nabi akan tetap marjinal jika tidak didukung oleh kesungguhan umat untuk menggali dan menerapkan prinsip-prinsip kedokteran Islam secara ilmiah,” kata dr Mohammad Ali Toha Assegaf.

Dari sikap keprihatinan itulah kemudian muncul gagasan untuk mendirikan LP3KI. Awalnya, LP3KI dimaksudkan sebagai payung yang nantinya akan mengadakan dan mempublikasikan hasil penelitian-penelitian ilmiah yang ada hubungannya dengan kedokteran Nabi.
Layaknya sebuah institusi, terjadi pula dinamika saat menentukan nama lembaga LP3KI. Sebelum akhirnya menemukan nama LP3KI, beberapa kali muncul nama lain di antaranya Lembaga Penelitian dan

Pengembangan Kedokteran Nabi. Namun, nama ini dirasa terlalu sempit karena realitasnya, ditemukan juga prinsip-prinsip kedokteran di luar kedokteran Nabi. Tapi, itu bisa diterima dan diselaraskan dengan kedokteran Nabi. Kemudian, nama ini diperluas menjadi Lembaga Penelitian dan Pengembangan Kedokteran Islami.
Seiring pergerakan waktu, muncul pula pemikiran, tentang perlunya kegiatan yang menjembatani dan membekali masyarakat tentang kesehatan islami ini. Dari situ muncul ide untuk memayungi lembaga ini dengan satu bentuk kegiatan pendidikan. Maka, jadilah nama lembaga itu “Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Pengembangan Kesehatan Islami (LP3KI)”.

Sebagai sebuah lembaga penelitian, pendidikan dan pengembangan kesehatan Islam, sepak terjang LP3KI mencakup banyak hal. Selain menggelar ceramah, diskusi, seminar seputar kedokteran Nabi, LP3KI juga melakukan penelitian-penelitian ilmiah tentang kedokteran Nabi, mengembangkan pusat pelayanan kesehatan yang sesusai dengan prinsip-prinsip thibbun nabawi.

Untuk pengembangan kedokteran islami ini, LP3KI juga terbuka untuk melakukan kerja sama dengan lembaga atau organisasi lain yang sama–sama menaruh perhatian dalam penelitian dan pengembangan pengobatan secara Islam ini. Tujuannya, untuk bersama-sama menghidupkan syiar kedokteran dan sunnah Nabi Muhammad saw.

Jaringan yang solid adalah modal penting bagi sebuah institusi. Meski baru seumur jagung, namun sejak awal LP3KI telah menyadari pentingnya sebuah jaringan. Karena itu, sejak pertama kali berdiri, lembaga yang diketuai Ustadz Burhanuddin, Lc ini berusaha membentuk jaringan yang solid, baik dengan perorangan maupun organisasi lain.

Para pasien terkadang kurang mendapat “perlakuan baik” dari lembaga-lembaga kesehatan. Selain mengadakan program pendidikan dan pelatihan tentang kedokteran Nabi kepada masyarakat, LP3KI juga memberikan terapi dan pengobatan kedokteran Nabi ini secara cuma-cuma kepada masyarakat kurang mampu dan yang berminat untuk bergerak di dalam dunia pengobatan Islam ini.
Selain memberikan terapi pengobatan Islami kepada masyarakat, lembaga yang bercita-cita “membumikan” kedokteran Nabi di Indonesia ini, juga tengah giat melakukan sosialisasi tentang manfaat dan pentingnya pengobatan ini kepada masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia.

Sekadar contoh, ceramah dan diskusi tentang komunkasi seksual dari sudut pandang Islam bersama dewan guru dan keluarga Yayasan Dian Didaktika, Cinere, Depok beberapa waktu lalu adalah salah satu bentuk konkret peran LP3KI menyebarluaskan kedokteran Islam ini kepada masyarakat.

Terapi dan diskusi tentang kedokteran Islam tidak bisa dipisahkan dari kegiatan LP3KI. Baru-baru ini, misalnya, LP3Ki juga menggelar ceramah dan diskusi tentang kesehatan perempuan menurut Islam bersama ibu-ibu majelis taklim Yayasan Dian Qolbu di Depok.
Sebelumnya, lembaga yang berdiri dengan Akte Notaris nomor 166, Notaris M Kholid Artha ini menggelar bekam massal di lingkungan perusahaan Panasonic Battery di Cibitung. Alhamdulillah, kegiatan yang bekerjasama dengan DKM Masjid al-Munawarah ini berjalan sukses.

LP3KI juga berhasil menggelar kegiatan serupa di Rumah Sehat Afiat beberapa waktu lalu. Saat itu, ratusan warga terlihat antusias mengikuti terapi kedokteran Nabi itu. Kegiatan ini sendiri terselenggara dalam rangka mengisi Tahun Baru Islam 1428 H.
Meski baru dua bulan berdiri, berbagai kegiatan telah masuk program LP3KI ke depan. Selain memberikan penerangan tentang bekam dari aspek medis, LP3KI juga akan mengadakan pelatihan bekam kepada para aktivis dakwah, karang taruna, pembina pramuka, terutama di daerah Depok dan sekitarnya.

Untuk memperluas pemahaman kedokteran nabi, termasuk bekam kepada kaum ibu, LP3KI akan mengadakan penyuluhan kepada ibu-ibu PKK yang akan bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK setempat.

Pengembangan kedokteran Nabi tidak bisa dilepaskan dari dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Untuk itu, LP3KI bercita-cita mendirikan klinik percontohan kedokteran Nabi. Selain tempat penelitian dan pengembangan kedokteran Islam, klinik itu sekaligus berfungsi sebagai tempat magang bagi para calon siswa sekaligus tempat berobat masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip thibbun nabawi yang bisa dipertanggungjawabkan ke publik, baik dari aspek medis dan ilmiahnya. Dengan demikian, tidak ada lagi alasan alergi pada kedokteran Islam. Rivai Hutapea

 

Read Full Post »

Awas,

Syirik !!!

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabat dan seluruh pengikut mereka yang setia. Amma ba’du, sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah. Sebaik-baik jalan adalah jalan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek urusan adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah pasti sesat.

Para pembaca yang budiman, Allah ta’ala berfirman di dalam kitabnya yang mulia,

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan Dia akan mengampuni dosa lainnya yang berada di bawah tingkatannya bagi siapa saja yang dikehendaki oleh-Nya.” (QS. An Nisaa’: 116)

Pengertian dan Ruang lingkup Syirik

Syirik adalah menyamakan antara selain Allah dengan Allah ta’ala dalam perkara yang termasuk kategori kekhususan yang hanya dimiliki oleh Allah ta’ala saja. Kekhususan Allah itu meliputi tiga hal utama, Pertama; hak rububiyah, seperti mencipta, mengatur alam, menguasainya, mengabulkan do’a dan lain-lain. Kedua; hak uluhiyah, seperti berhak untuk diibadahi, menjadi tujuan do’a, permintaan tolong, permintaan perlindungan, tujuan dalam melaksanakan persembahan atau sembelihan, menjadi tujuan harapan, rasa takut dan kecintaan yang disertai dengan ketundukkan. Ketiga, hak kesempurnaan Nama-nama dan Sifat-sifat, seperti menyandang nama Allah, Ar Rabb dan Ar Rahman, atau memiliki sifat mengetahui yang Gaib, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui, yang tidak ada sesuatupun yang menyamai-Nya. Jadi kesyirikan itu bisa terjadi dalam hal rububiyah, uluhiyah maupun nama dan sifat-Nya.

Syaikh Al Albani rahimahullah mengatakan, “Barang siapa yang bisa membersihkan diri dari ketiga macam syirik ini dalam penghambaaan dan tauhidnya kepada Allah, dia mengesakan Zat-Nya, beribadah hanya kepada-Nya dan mengesakan sifat-sifatNya, maka dialah muwahhid sejati. Dialah pemilik berbagai keutamaan khusus yang dimiliki oleh kaum yang bertauhid. Dan barangsiapa yang kehilangan salah satu bagian darinya maka kepadanyalah tertuju ancaman yang terdapat dalam firman Allah ta’ala, semacam, “Sungguh jika kamu berbuat syirik niscaya akan terhapus seluruh amalmu dan kamu benar-benar termasuk orang yang merugi”. Camkanlah perkara ini, sebab inilah perkara terpenting dalam masalah akidah…” (Al ‘Aqidah Ath Thahawiyah, Syarh wa Ta’liq, hal. 17-18) Adapun yang sering disebut dengan syirik saja oleh para ulama maka yang dimaksud adalah syirik dalam hal uluhiyah/ibadah, dan inilah yang akan kita bicarakan sekarang. Yaitu syirik dalam hal ibadah.

Dahsyatnya Bahaya Kesyirikan

Berikut ini beberapa dalil dari Al Quran maupun As Sunnah yang hendaknya kita perhatikan dengan seksama. Dalil-dalil itu akan menggambarkan kepada kita sebuah gambaran mengerikan dan sangat menakutkan tentang dahsyatnya bahaya kesyirikan. Semoga Allah menyelamatkan diri kita darinya.

Pertama, Dosa syirik tidak akan diampuni oleh Allah. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan Dia akan mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatan syirik bagi siapa saja yang dikehndaki oleh-Nya.” (QS. An Nisaa’: 48 dan 116)

Kedua, Allah mengharamkan surga dimasuki oleh orang yang berbuat syirik. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sesungguhnya Allah telah mengharamkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tiada seorang penolongpun bagi orang-orang zhalim tersebut.” (QS. Al Maa’idah: 72)

Ketiga, seorang musyrik akan kekal berada di dalam siksa neraka. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik berada di dalam neraka Jahannam dan kekal di dalamnya, mereka itulah sejelek-jelek ciptaan.” (QS. Al Bayyinah: 6)

Keempat, dosa kesyirikan akan menghapuskan semua pahala amal shalih, betapapun banyak amal tersebut. Allah ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada para Nabi sebelum engkau, ‘Jika kamu berbuat syirik maka pastilah seluruh amalmu akan lenyap terhapus dan kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65)

Kelima, syirik adalah kezhaliman yang paling zalim. Allah ta’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya syirik itu adalah kezhaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13)

Allah ta’ala juga berfirman,

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

“Sungguh Kami telah mengutus para utusan Kami dengan keterangan-keterangan, dan Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca supaya manusia menegakkan keadilan.” (QS. Al Hadiid: 25)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Allah memberitakan bahwa Dia mengutus para Rasul-Nya, menurunkan kitab-kitabNya agar manusia menegakkan yaitu keadilan. Salah satu di antara keadilan yang paling agung adalah tauhid. Ia adalah pokok terbesar dan pilar penegak keadilan. Sedangkan syirik adalah kezaliman yang sangat besar. Sehingga syirik merupakan kezaliman yang paling zalim, sedangkan tauhid merupakan keadilan yang paling adil…” (Ad Daa’ wad Dawaa’, hal. 145)

Keenam, syirik merupakan dosa terbesar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabatnya yang artinya, “Maukah kalian aku kabarkan tentang dosa-dosa yang paling besar?” (beliau ulangi pertanyaan itu tiga kali) Maka para sahabat menjawab, “Mau ya Rasulullah.” Lalu beliau bersabda, “Berbuat syirik terhadap Allah dan durhaka kepada kedua orang tua…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketujuh, orang yang berbuat syirik sehingga murtad maka menurut ketetapan syariat Islam dia berhak dihukum bunuh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Tidak halal menumpahkan darah seorang muslim kecuali dengan satu di antara tiga penyebab: seorang yang sudah menikah tapi berzina, seorang muslim yang membunuh saudaranya (seagama) atau orang yang meninggalkan agamanya sengaja memisahkan diri dari jama’ah (murtad dari Islam).” (HR. Bukhari dan Muslim). Beliau juga bersabda, “Barang siapa yang mengganti agamanya maka bunuhlah dia.” (HR. Ahmad dan Bukhari)

Kedelapan, amal yang tercampur dengan syirik akan sia-sia dan sirna sebagaimana debu-debu yang beterbangan disapu oleh angin. Allah ta’ala berfirman,

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً

“Dan Kami akan hadapi semua amal yang pernah mereka amalkan (sewaktu di dunia) kemudian Kami jadikan amal-amal itu sia-sia seperti debu-debu yang beterbangan.” (QS. Al Furqan: 23)

Kesembilan, orang yang berbuat syirik dalam beramal maka dia akan ditelantarkan oleh Allah. Allah ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi yang artinya, “Aku adalah Zat yang Maha Kaya dan paling tidak membutuhkan sekutu, oleh sebab itu barang siapa yang beramal dengan suatu amalan yang dia mempersekutukan sesuatu dengan-Ku di dalam amalnya itu maka pasti Aku akan telantarkan dia bersama kesyirikannya itu.” (HR. Muslim)

Kesepuluh, bahaya syirik lebih dikhawatirkan oleh Nabi daripada bahaya Dajjal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Maukah kalian aku beritahukan tentang sesuatu yang paling aku khawatirkan mengancam kalian dalam pandanganku dan lebih menakutkan daripada Al Masih Ad Dajjal?” Maka para sahabat menjawab, ”Mau (ya Rasulullah).” Beliau pun bersabda, “Yaitu syirik yang samar. Apabila seseorang mendirikan shalat sambil membagus-baguskan shalatnya karena dia melihat ada orang lain yang memperhatikan shalatnya.” (HR. Ahmad)

Kesebelas, syirik kecil adalah dosa yang sangat dikhawatirkan terjadi pada generasi terbaik yaitu para sahabat radhiallahu ‘anhum. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda yang artinya, “Sesuatu yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Maka beliau pun ditanya tentangnya. Sehingga beliau menjawab, “Yaitu riya’/ingin dilihat dan dipuji orang.” (HR. Ahmad, dishahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah no. 951 dan Shahihul Jami’ no. 1551)

Kedua belas, Syirik adalah bahaya yang sangat dikhawatirkan oleh bapak para Nabi yaitu Ibrahim ‘alaihis salam akan menimpa pada dirinya dan pada anak keturunannya. Allah ta’ala mengisahkan doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim di dalam ayat-Nya,

رَبِّ اجْعَلْ هَـذَا الْبَلَدَ آمِناً وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ

“Dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan kepada arca-arca.” (QS. Ibrahim: 35)

Ibrahim At Taimi mengatakan, “Lalu siapakah orang selain Ibrahim yang bisa merasa aman dari ancaman bencana (syirik)?!” Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata, “Maka tidak ada lagi yang merasa aman dari terjatuh dalam kesyirikan kecuali orang yang bodoh tentangnya dan juga tidak memahami sebab-sebab yang bisa menyelamatkan diri darinya; yaitu ilmu tentang Allah, ilmu tentang ajaran Rasul-Nya yaitu mentauhidkan-Nya serta larangan dari perbuatan syirik terhadapnya.” (Fathul Majid, hal. 72).

Ketiga belas, orang yang mati dalam keadaan masih musyrik maka pasti masuk neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barang siapa yang menjumpai Allah (mati) dalam keadaan mempersekutukan sesuatu dengan-Nya maka pasti masuk neraka.” (HR. Muslim)

Keempat belas, orang yang berbuat syirik maka amalnya tidak akan diterima. Allah ta’ala berfirman,

فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً

“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya hendaklah dia beramal shalih dan tidak mempersekutukan apapun dengan Allah dalam beribadah kepada tuhannya itu.” (QS. Al Kahfi: 110)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata sembari menukilkan ayat, “[Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya] artinya barangsiapa yang menginginkan pahala dan balasan kebaikan dari-Nya, [maka hendaklah dia beramal shalih], yaitu amal yang sesuai dengan syariat Allah. [dan dia tidak mempersekutukan apapun dalam beribadah kepada kepada Tuhannya] Artinya dia adalah orang yang hanya mengharapkan wajah Allah saja dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Inilah dua buah rukun diterimanya amalan. Suatu amal itu harus ikhlas untuk Allah dan benar yaitu berada di atas tuntunan syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 5/154). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda yang artinya, “Barang siapa yang mendatangi paranormal kemudian menanyakan sesuatu kepadanya maka shalatnya tidak akan diterima selama 40 malam.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Kelima belas, seorang mujahid, da’i atau ahli baca Quran serta dermawan yang terjangkiti kesyirikan maka akan diadili pertama kali pada hari kiamat dan kemudian dibongkar kedustaannya lalu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan wajahnya tertelungkup dan diseret oleh Malaikat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya orang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah seseorang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan kemudian ditampakkan kepadanya nikmat-nikmat yang diberikan kepadanya maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, “Apa yang kamu lakukan dengannya?” Dia menjawab, “Aku berperang untuk-Mu sampai aku mati syahid.” Allah berfirman, “Engkau dusta, sebenarnya engkau berperang karena ingin disebut sebagai pemberani. Dan itu sudah kau dapatkan.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian ada seseorang yang telah mendapatkan anugerah kelapangan harta. Dia didatangkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang diperolehnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, “Apakah yang sudah kamu perbuat dengannya?” Dia menjawab, “Tidaklah aku tinggalkan suatu kesempatan untuk menginfakkan harta di jalan-Mu kecuali aku telah infakkan hartaku untuk-Mu.” Allah berfirman, “Engkau dusta, sebenarnya engkau lakukan itu demi mendapatkan julukan orang yang dermawan, dan engkau sudah memperolehnya.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya dan juga membaca Al Quran. Dia didatangkan kemudian ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sudah didapatkannya dan dia pun mengakuinya. Allah bertanya, “Apakah yang sudah kau perbuat dengannya ?” Maka dia menjawab, “Aku menuntut ilmu, mengajarkannya dan membaca Al Quran karena-Mu.” Allah berfirman, ”Engkau dusta, sebenarnya engkau menuntut ilmu supaya disebut orang alim. Engkau membaca Quran supaya disebut sebagai Qari’.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

Keenam belas, orang yang berbuat syirik akan merasa kecanduan dengan sesembahannya dan ditelantarkan oleh Allah. Abdullah bin ‘Ukaim meriwayatkan secara marfu’ (sampai kepada Nabi) bahwasanya beliau bersabda, “Barang siapa yang menggantungkan sesuatu (jimat dan semacamnya, red) maka dia akan dibuat bersandar dan tergantung kepadanya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, dinilai hasan Al Arna’uth dalam Takhrij Jami’ul Ushul 7/575)

Ketujuh belas, orang yang menyembah selain Allah adalah orang paling sesat sejagad raya. Allah ta’ala berfirman,

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّن يَدْعُو مِن دُونِ اللَّهِ مَن لَّا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَومِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَن دُعَائِهِمْ غَافِلُ وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاء وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyeru kepada sesembahan-sesembahan selain Allah, sesuatu yang jelas-jelas tidak dapat mengabulkan doa hingga hari kiamat, dan sesembahan itu juga lalai dari doa yang mereka panjatkan. Dan apabila umat manusia nanti dikumupulkan (pada hari kiamat) maka sesembahan-sesembahan itu justru akan menjadi musuh serta mengingkari peribadatan yang dilakukan oleh para pemujanya.” (QS. Al Ahqaf: 5-6)

Kedelapan belas, orang yang berbuat syirik adalah sosok-sosok manusia yang sangat dungu lagi tidak mau mengambil pelajaran. Allah ta’ala berfirman,

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّن نَّزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِن بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka; Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah”, Katakanlah, “Segala puji bagi Allah.” tetapi kebanyakan mereka tidak memahaminya.” (QS. Al ‘Ankabut: 63)

Allah juga berfirman,

أَيُشْرِكُونَ مَا لاَ يَخْلُقُ شَيْئاً وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلاَ يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْراً وَلاَ أَنفُسَهُمْ يَنصُرُونَ

“Apakah mereka itu mau mempersekutukan (dengan Allah) sesuatu yang tidak bisa menciptakan apa-apa dan mereka sendiri pun sebenarnya diciptakan, mereka juga tidak sanggup memberikan sedikitpun pertolongan dan tidak bisa pula menolong diri mereka sendiri.” (QS. Al A’raaf: 191-192)

Allah jalla wa ‘ala juga berfirman,

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ إِن تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

“Dan sesembahan-sesembahan selain-Nya yang kalian seru itu tidak bisa menguasai setipis kulit ari sekalipun. Jika kalian menyeru mereka (berhala), maka mereka itu tidak bisa mendengar doa kalian. Dan seandainya mereka itu bisa mendengar maka mereka juga tidak akan bisa mengabulkan permintaan kalian, dan pada hari kiamat nanti mereka akan mengingkari perbuatan syirik kalian, dan tiada yang bisa menyampaikan kepadamu tentang hakikat segala hal sebagaimana (Allah) Zat yang maha mengetahui.” (QS Faathir: 13-14)

Kesembilan belas, orang yang berbuat syirik adalah orang yang berkepribadian rendah dan tidak yakin dengan kemahakuasaan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Thiyarah (menganggap sial karena melihat, mendengar atau mengetahui sesuatu) adalah syirik. Thiyarah adalah syirik…” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, hadits hasan shahih, lihat Al Jadid, hal. 259)

Kedua puluh, amalan orang yang berbuat syirik atau mengangkat thaghut (sesuatu yang disembah, ditaati atau diikuti sehingga menjadi sosok tandingan bagi Allah) akan berubah menjadi penyesalan abadi di akhirat kelak. Allah ta’ala berfirman,

إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُواْ مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُواْ وَرَأَوُاْ الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الأَسْبَابُ وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُواْ لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّؤُواْ مِنَّا كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan ketika segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti; “Seandainya kami dapat kembali ke dunia, pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluardari api neraka.” (QS. Al Baqarah: 166-167)

Kedua puluh satu, orang yang berbuat syirik sehingga mencintai sesembahan atau pujaannya sebagai sekutu dalam hal cinta ibadah maka dia tidak akan bisa merasakan manisnya iman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Ada tiga ciri, barang siapa yang memilikinya maka dia akan bisa merasakan manisnya iman: (1) Apabila Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai olehnya daripada segala sesuatu selain keduanya. (2) Apabila dia bisa mencintai seseorang hanya karena Allah saja. (3) Apabila dia merasa begitu benci untuk kembali dalam kekafiran setelah Allah selamatkan dirinya darinya sebagaimana orang yang tidak mau dilemparkan ke dalam kobaran api.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua puluh dua, orang yang berbuat syirik maka tidak akan diberikan kecukupan oleh Allah. Allah ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْراً

“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah (bertauhid dan tidak menyandarkan hatinya kepada selain Allah) maka Allah akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah akan menyelesaikan urusannya, dan Allah telah menentukan takdir dan ketentuan waktu bagi segala sesuatu.” (QS. Ath Thalaq: 3)

Kedua puluh tiga, celakalah budak harta benda dan pemuja mode busana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Binasalah hamba dinar, hamba dirham, hamba Khamishah, hamba Khamilah. Jika dia diberi maka dia senang tapi kalau tidak diberi maka dia murka. Binasalah dan rugilah dia…” (HR. Bukhari)

Khamishah adalah kain dari bahan sutera atau wol yang bercorak, sedangkan Khamilah adalah kain beludru (lihat Al Jadid, hal. 330 dan Fathul Majid, hal. 365).

Syaikh Muhammad bin Abdul ‘Aziz Al Qar’awi mengatakan, “Hadits itu menunjukkan bahwasanya barang siapa yang menjadikan (kesenangan) dunia sebagai tujuan akhir kehidupan serta puncak cita-citanya maka sesungguhnya dia telah menyembahnya dan mengangkatnya sebagai sekutu selain Allah.” (Al Jadid, hal. 332).

Kedua puluh empat, orang yang berbuat syirik pasti akan tertimpa bencana atau siksa yang sangat pedih dan menyakitkan. Allah ta’ala berfirman,

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah merasa takut orang-orang yang menyelisihi urusan Rasul kalau-kalau mereka itu akan tertimpa fitnah (bala/bencana) atau siksa yang sangat pedih.” (QS. An Nuur: 63)

Syirik Akbar

Syirik akbar adalah perbuatan atau keyakinan yang membuat pelakunya keluar dari Islam. Bentuknya ialah dengan memaksudkan salah satu peribadatan (lahir maupun batin) kepada selain Allah, seperti berdoa kepada selain Allah, berkorban untuk jin, dan sebagainya. Apabila ia meninggal dan belum bertaubat maka akan kekal berada di dalam neraka.

Macam-macam Syirik Akbar

Pertama, Syirik dalam hal doa. Yaitu perbuatan memanjatkan permohonan kepada selain Allah di samping kepada Allah. Allah ta’ala berfirman,

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Apabila mereka menaiki kapal (dan terombang-ambing di tengah samudera) maka mereka pun berdoa kepada Allah dengan ikhlas (tidak syirik sebagaimana ketika dalam kondisi tentram di darat). Kemudian tatkala Kami selamatkan mereka ke daratan maka merekapun berbuat syirik.” (QS. Al ‘Ankabuut: 65)

Termasuk kategori syirik ini adalah meminta perlindungan (isti’adzah) kepada selain Allah dalam perkara yang hanya dapat dilakukan oleh Allah, meminta pertolongan (isti’anah) kepada selain Allah, meminta dihilangkan bala (istighatsah) kepada selain Allah, dan lain-lain.

Kedua, syirik dalam hal niat dan keinginan. Yaitu melakukan suatu amal ibadah dengan niat karena selain Allah. Seperti orang yang beramal akhirat semata-mata untuk meraih keuntungan duniawi. Allah ta’ala berfirman,

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَ يُبْخَسُونَ أُوْلَـئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلاَّ النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Barang siapa yang mengharapkan kehidupan dunia dan perhiasannya maka Kami akan penuhi keinginan mereka dengan membalas amal itu di dunia untuk mereka dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak meraih apa-apa ketika di akhirat melainkan siksa neraka dan lenyaplah semua amal yang mereka perbuat selama di dunia dan sia-sialah segala amal usaha mereka.” (QS. Huud: 15-16)

Ketiga, syirik dalam hal ketaatan. Yaitu menaati selain Allah untuk berbuat durhaka kepada Allah. Seperti contohnya mengikuti para tokoh dalam hal mengharamkan apa yang dihalalkan Allah atau menghalalkan apa yang diharamkan Allah. Allah ta’ala berfirman,

اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُواْ إِلاَّ لِيَعْبُدُواْ إِلَـهاً وَاحِداً لاَّ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka telah menjadikan para pendeta (ahli ilmu) dan rahib (ahli ibadah) mereka sebagai sesembahan-sesembahan selain Allah, begitu pula (mereka sembah) Al Masih putra Maryam. Padahal mereka itu tidak disuruh melainkan supaya menyembah sesembahan yang satu. Tidak ada sesembahan yang hak selain Dia, Maha suci Dia (Allah) dari segala bentuk perbutan syirik yang mereka lakukan.” (QS. At Taubah: 31)

Keempat, syirik dalam hal kecintaan. Yaitu mensejajarkan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan. Allah ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبّاً لِّلّهِ

“Dan di antara manusia ada orang yang mengangkat sekutu-sekutu selain Allah yang mereka cintai sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah.” (QS. Al Baqarah: 165)

Kalau mensejajarkan saja sudah begitu besar dosanya, lalu bagaimana lagi jika seseorang justru lebih mencintai pujaannya lebih dalam daripada kecintaannya kepada Allah? Lalu bagaimana lagi orang yang sama sekali tidak menaruh rasa cinta kepada Allah?! Laa haula wa laa quwwata illa billaah (lihat At Tauhid li Shaffits-Tsaalits Al ‘Aali, hal. 10-11)

Syirik Ashghar

Syirik ashghar (kecil) yaitu perbuatan atau keyakinan yang mengurangi keutuhan tauhid. Apabila seseorang terjerumus di dalamnya maka dia menanggung dosa yang sangat besar, bahkan dosa besar yang terbesar di bawah tingkatan syirik akbar dan di atas dosa-dosa besar lain seperti mencuri dan berzina. Namun orang yang melakukannya tidak sampai keluar dari Islam, tapi hampir-hampir saja keluar. Dan apabila meninggal dalam keadaan berbuat syirik ashghar ini maka pelakunya termasuk orang yang diancam tidak diampuni dosanya dan terancam dijatuhi siksa di neraka, meskipun tidak akan kekal di sana. Syirik ashghar ini terbagi menjadi syirik zhahir (tampak) dan syirik khafi (tersembunyi/samar).

Pertama, syirik zhahir. Jenis ini meliputi ucapan dan perbuatan fisik yang menjadi sarana menuju syirik akbar. Bisa juga diartikan dengan ucapan dan perbuatan yang disebut sebagai syirik oleh dalil-dalil syariat akan tetapi tidak mencapai tingkatan tandid/persekutuan secara mutlak. Contohnya adalah bersumpah dengan menggunakan selain nama Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang bersumpah dengan menyebut selain nama Allah maka dia telah kafir atau berbuat syirik.” (HR. Tirmidzi, beliau (Tirmidzi) menghasankannya, dan dishahihkan juga oleh Al Hakim). Contoh lainnya adalah mengatakan,

مَا شَاءَ اللهُ ثًمَّ شِئْتَ

“Apa pun yang Allah kehendaki dan yang kamu inginkan.”

Ketika ada seseorang yang mengatakan ucapan itu kepada beliau, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam marah dan bersabda, “Apakah engkau hendak menjadikan aku sebagai sekutu bagi Allah?! Katakanlah Apa pun yang Allah kehendaki, cukup itu saja.” (HR. Nasa’i)

Atau mengatakan, “Seandainya bukan karena dokter maka saya tidak akan sembuh”, dan lain sebagainya. Adapun yang berupa perbuatan fisik ialah seperti memakai jimat untuk tolak bala apabila meyakininya sebagai sebab perantara saja untuk mewujudkan keinginannya. Akan tetapi jika dia meyakininya sebagai faktor utama penentu tercapainya tujuan maka status perbuatan itu berubah menjadi syirik akbar dan mengeluarkan pelakunya dari lingkaran Islam.

Kedua, Syirik kafi (tersembunyi). Jenis ini terletak di dalam gerak-gerik hati manusia. Ia dapat berujud rasa ingin dilihat dan menginginkan pujian orang dalam beramal (riya’) atau ingin didengar (sum’ah). Seperti contohnya: membagus-baguskan gerakan atau bacaan shalat karena mengetahui ada orang yang memperhatikannya. Contoh lainnya adalah bersedekah karena ingin dipuji, berjihad karena ingin dijuluki pemberani, membaca Quran karena ingin disebut Qari’, mengajarkan ilmu karena ingin disebut sebagi ‘Alim, dan lain-lain. Dengan catatan dia masih mengharapkan keridhaan Allah dari perbuatannya itu. Amal yang tercampuri syirik semacam ini tidak akan diterima oleh Allah. Dan apabila ternyata dia hanya mencari tujuan-tujuan hina itu maka perbuatan yang secara lahir berupa amal shalih itu telah berubah menjadi syirik akbar, sebagaimana halnya riya’ yang dimiliki oleh orang munafik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda yang artinya, “Sesuatu yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil”. Maka beliau pun ditanya tentangnya. Sehingga beliau menjawab, “Yaitu riya’/ingin dilihat dan dipuji orang.” (HR. Ahmad, dishahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah no. 951 dan Shahihul Jami’ no. 1551). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Binasalah hamba dinar, hamba dirham, hamba Khamishah, hamba Khamilah. Jika dia diberi maka dia senang tapi kalau tidak diberi maka dia murka. Binasalah dan rugilah dia…” (HR. Bukhari) (lihat At Tauhid li Shaffits Tsalits Al ‘Aali, hal. 11-12).

Cara-Cara untuk Membentengi Diri dari Syirik

  1. Mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah ‘azza wa jalla dengan senantiasa berupaya memurnikan tauhid.
  2. Menuntut ilmu syar’i.
  3. Mengenali dampak kesyirikan dan menyadari bahwasanya syirik itu akan menghantarkan pelakunya kekal di dalam Jahanam dan menghapuskan amal kebaikan.
  4. Menyadari bahwasanya syirik akbar tidak akan diampuni oleh Allah.
  5. Tidak berteman dengan orang-orang yang bodoh yang hanyut dalam berbagai bentuk kesyirikan.

Maka berhati-hatilah saudaraku dari syirik dengan seluruh macamnya, dan ketahuilah bahwasanya syirik itu bisa berbentuk ucapan, perbuatan dan keyakinan. Terkadang satu kata saja bisa menghancurkan kehidupan dunia dan akhirat seseorang dalam keadaan dia tidak menyadarinya. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian tahu apa yang difirmankan Rabb kalian?” Mereka (para sahabat) mengatakan, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu”. Beliau bersabda, “Pada pagi hari ini ada di antara hamba-Ku yang beriman dan ada yang kafir kepada-Ku. Orang yang berkata, ‘Kami telah mendapatkan anugerah hujan berkat keutamaan Allah dan rahmat-Nya maka itulah yang beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang. Adapun orang yang berkata, ‘Kami mendapatkan curahan hujan karena rasi bintang ini atau itu, maka itulah orang yang kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.’” (Muttafaq ‘alaih) (lihat sebuah buku kecil berjudul ‘Isyruuna ‘uqbatan fii Thariiqil Muslim).

Buku-Buku Tentang Tauhid dan Syirik

Para pembaca yang budiman bisa mengkaji lebih dalam lagi tentang hakikat tauhid dan syirik berdasarkan dalil-dalil Al Quran maupun Al Hadits beserta keterangan dari para ulama yang terpercaya melalui buku-buku atau kitab-kitab berikut ini:

  1. Tsalatsatul Ushul (Tiga Landasan Utama) karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah
  2. Qawa’idul Arba’ (Empat Kaidah Penting) karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah
  3. Kitab Tauhid Alladzi Huwa Haqqullahi ‘Alal ‘Abiid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah
  4. Kasyfu Syubuhaat karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah

Kitab Tauhid 1, 2 dan 3 karya Syaikh Shalih Al Fauzan dan para ulama lainnya

  1. Dalaa’ilut Tauhid (50 tanya jawab akidah) karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah
  2. Tanbihaat Muhtasharah Syarh Al Wajibaat (Penjelasan hal-hal yang harus diketahui oleh setiap muslim dan muslimah) karya Syaikh Ibrahim bin Syaikh Shalih Al Khuraishi
  3. Syarah Tsalatsatul Ushul (Penjelasan Tiga Landasan Utama) karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah
  4. Hasyiyah Tsalatsatul Ushul karya Syaikh Abdurrahman bin Qasim Al Hanbali An Najdi rahimahullah
  5. Taisirul Wushul ila Nailil Ma’muul karya Syaikh Nu’man bin Abdul Karim Al Watr
  6. Hushulul Ma’mul bi Syarhi Tsalatsatil Ushul karya Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan
  7. Thariqul Wushul ila Idhaahi Tsalatsatil Ushul karya Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah
  8. Syarah Kitab Tsalatsatul Ushul karya Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah
  9. Syarah Qawa’idul Arba’ karya Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh
  10. Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid (Membongkar akar kesyirikan) karya Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah
  11. Qaulus Sadid fi Maqashidi Tauhid (Penjabaran sistematik kitab tauhid) karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah
  12. Qaulul Mufid Syarah Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah
  13. Ibthalut Tandiid bi Ikhtishaari Syarhi Kitabit Tauhid karya Syaikh Hamad bin ‘Atiq rahimahullah
  14. Al Mulakhkhash fi Syarhi Kitabit Tauhid karya DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah
  15. Al Jadid fi Syarhi Kitabit Tauhid (Cara mudah memahami tauhid) karya Syaikh Muhammad bin Abdul ‘Aziz Al Qar’awi
  16. At Tamhid li Syarhi Kitabit Tauhid karya Syaikh Shalih bin Abul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah
  17. Syarah Kasyfu Syubuhaat karya Syaikh Shalih Al Fauzan
  18. Syarah Kasfyu Syubuhaat karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin
  19. Syarah Kasyfu Syubuhaat karya Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh
  20. At Taudhihaat Al Kasyifaat ‘ala Kasfi Syubuhaat karya Syaikh Muhammad bin Abdullah bin Shalih Al Habdan
  21. Ad Dalaa’il wal Isyaraat ‘ala Kasyfi Subuhaat karya Syaikh Shalih bin Muhammad Al Asmari
  22. Minhaaj Al Firqah An Najiyah karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
  23. Kitab ‘Aqidah Ath Thahawiyah karya Imam Abu Ja’far Ath Thahawi rahimahullah
  24. Syarah ‘Aqidah Thahawiyah karya Imam Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafi rahimahullah
  25. ‘Aqidah Thahawiyah Syarh wa Ta’liq karya Syaikh Al Albani rahimahullah
  26. Ta’liq ‘Aqidah Thahawiyah karya Syaikh Shalih Al Fauzan
  27. Al Minhah Al Ilahiyah fi Tahdzib Syarh Thahawiyah karya Syaikh Abdul Akhir Hammad Al Ghunaimi
  28. Dan lain-lain

Memurnikan Tauhid dari Kotoran Syirik

Syaikh Abdurrahman bin Hasan mengatakan bahwa makna merealisasikan tauhid ialah memurnikannya dari kotoran-kotoran syirik, bid’ah dan maksiat (lihat Ibthaalu Tandiid hal. 28) Sehingga untuk bisa merealisasikan tauhid seorang muslim harus:

  1. Meninggalkan syirik dalam semua jenisnya: Syirik akbar, syirik ashghar, dan syirik khafi.
  2. Meninggalkan seluruh bentuk bid’ah.
  3. Meninggalkan seluruh bentuk maksiat. (At Tamhiid, hal. 33)

Tauhid benar-benar akan terrealisasi pada diri seseorang apabila di dalam dirinya terkumpul tiga perkara, yaitu:

  1. Ilmu, karena tidak mungkin seseorang mewujudkan sesuatu yang tidak diketahuinya. Allah berfirman yang artinya, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang hak selain Allah.” (QS. Muhammad: 19)
  2. Keyakinan (I’tiqad). Karena orang yang mengetahui tauhid tanpa meyakininya adalah orang yang sombong. Maka orang seperti ini tidak akan bisa merealisasikan tauhid. Hal itu sebagaimana keadaan orang musyrikin Quraisy yang paham makna tauhid tapi justru menolaknya, sebagaimana dikisahkan oleh Allah di dalam ayat-Nya yang artinya, “(mereka berkata) Apakah dia (Muhammad) akan menjadikan tuhan-tuhan yang banyak itu menjadi satu sesembahan saja. Sungguh, ini adalah perkara yang sangat mengherankan !” (QS. Shaad: 5)
  3. Ketundukan terhadap aturan (Inqiyad). Orang yang telah mengetahui hakikat tauhid dan meyakininya akan tetapi tidak mau tunduk terhadap konsekuensinya bukanlah orang yang merealisasikan tauhid. (lihat Al Qaul Al Mufid ‘ala Kitab At Tauhid, jilid 1 hal. 55).

Balasan Bagi Orang yang Bersih Tauhidnya

Allah ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al An’aam: 82)

Syaikh Hamad bin ‘Atiq rahimahullah mengatakan, “Mereka itu adalah orang-orang yang mentauhidkan Allah dan tidak menodai tauhidnya dengan kesyirikan. Mereka itulah yang mendapatkan keamanan. Sedangkan keamanan itu ada dua macam (1) keamanan mutlak dan (2) keamanan muqayyad/tidak mutlak. Yang pertama itu ialah keamanan dari tertimpa azab. Keamanan ini diperuntukkan bagi orang yang meninggal di atas tauhid dan tidak terus menerus berkubang dalam dosa-dosa besar. Adapun yang kedua berlaku bagi orang yang meninggal di atas tauhid akan tetapi dia masih dalam keadaan berkubang dalam dosa-dosa besar. Maka dia akan memperoleh keamanan dari hukuman kekal di dalam neraka.” (Ibthalu Tandiid, hal. 19).

Semoga Allah ‘azza wa jalla menjadikan kita termasuk di antara hamba-hamba-Nya yang benar-benar memurnikan tauhid dari sampah-sampah syirik. Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.

Penulis: Abu Muslih Ari Wahyudi

-Muslim.or.id-

Read Full Post »

Murtad

Antara Label Politis dan Teologis

Kamis, 14 Jun 07 07:46 WIB

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Apakah memang benar bahwa menentang tatanan publik muslim (pemerintahan muslim) itu termasuk perbuatan riddah?

Kalau memang iya, maka saya pernah baca suatu artikel yang mengatakan bahwa term riddah itu sebenarnya adalah label politis dan bukan label teologis. Sehingga seorang muslim yang berpindah agama atau menyangkal salah satu doktrin vital Islam adalah dipandang melakukan perbuatan kufur dan bukan riddah.

Jadi, dia baru bisa dikatakan riddah apabila melakukan permusuhan terhadap ummah. Pendapat ini diperkuat oleh berbagai penerapan riddah oleh nabi saw yang menghukum orang murtad karena melakukan pembunuhan atau melakukan tindakan subversif internal terhadap tatanan publik muslim.

Artinya, apabila seorang muslim itu keluar dari ummah dan bergabung dengan kubu musuh, lalu memusuhi ummah, maka dia telah riddah. Atau riddahnya itu karena melakukan permusuhan, bukan karena berpindah agama. Atau riddah itu bukan dalam pengertian pindah agama atau menyangkal doktrin fundamental Islam seperti yang selama ini dipahami oleh mayoritas kaum muslimin. Ia hanya dikatakan kafir apabila berpindah agama atau menyangkal doktrin vital Islam.

Lebih jauh lagi, ayat al-Qur’an yang mengatakan, “man yartadda mingkum `an dînihi” itu bukan berarti pindah agama, namun “berpaling dalam pengertian keluar dari komunitas agama sebelumnya”, yaitu keluar dari komunitas agama Islam dan bergabung dengan kubu musuh!. Yang terjadi selama ini adalah karena idiom riddah ditempatkan sederajat dengan idiom kufur atau riddah dipandang sebagai bagian dari kekufuran.

Yang sebenarnya harus dibedakan dan dipisahkan antara keduanya dan tidak dikaitkan. Sehingga sekali lagi, murtad adalah label murni politis dan kafir itu merupakan label teologis.

Bagaimanakah pendapat Pak Ustadz tentang hal ini?

Maaf kalau kepanjangan!

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Fulanto

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Anda benar sekali, bahwa tidak setuju dengan kebijakan pemerintah muslim tidak berarti boleh dikatakan sebuah tindakan riddah, orangnya juga bukan orang murtad.

Namun kami perlu luruskan juga bahwa istilah riddah itu memang istilah yang sama dengan seorang muslim menjadi kafir. Tentunya seorang tidak menjadi kafir hanya gara-gara tidak setuju dengan kebijakan dari pimpinan umat Islam.

Seseorang baru dianggap murtad menjadi kafir kalau dia tidak setuju dengan doktrin dasar agama Islam. Intinya bila tidak menerima konsep 6 rukun iman dan konsep 5 rukun Islam. Siapa saja orang yang mengaku muslim tetapi tidak menerima konsep rukun iman dan rukun Islam, maka pengadilan formal berhak menjatuhkan vonis kafir atau murtad kepadanya.

Menolak Konsep Rukun Iman

Misalnya dia tidak setuju bahwa Allah SWT itu adalah tuhan satu-satunya. Dalam konsepnya, ada tuhan-tuhan selain Allah yang juga berperan sama dengan Allah. Kalau konsepnya demikian, jelaslah dia telah menjadi orang kafir, murtad dan bukan lagi muslim.

Atau ada orang yang berpaham wihdatul wujud, di mana dirinya telah menjadi tuhan dan tuhan menjadi dirinya. Ini jelas kufur dan murtad dari agama Islam.

Misal lainnya, dia punya konsep bahwa ada orang selain Muhammad SAW yang berhak untuk menetapkan, mencipakan serta menggugurkansyariah Islamsecara mandiri, bahkan sepeninggal Rasulullah SAW. TIndakan ini jelas kufur dan riddah, karena bertentangan dengan doktrin dasar bahwa kita ini hanya mengikuti syariah Muhammad SAW.

Misal lainnya, seorang tidak menerima konsep akan adanya hari akhir dan sebaliknya dia malah menerima konsep reingkarnasi. Otomatis dia tidak percaya adanya siksa kubur, surga, neraka, hisab, mizan (timbangan), mahsyar, shirath dan seterusnya. Maka dia telah kufur dan keluar dari agama Islam.

Menolak Konsep Rukun Islam

Di masa Rasululah SAW dan Abu Bakar, telah terjadi kemurtadan karena menolak salah satu rukun dari rukun Islam.

Para ulama sepakat bahwa seorang yang mengingkari kewajiban shalat 5 waktu secara sadar dan sengaja, bukan karena lalai atau malas, adalah kafir dan keluar dari agama Islam.

Abu Bakar sebagai khalifah telah mevonis bahwa suku-suku tertentu yang tidak mau membayar zakat dan menolak kewajiban zakat sebagai kelompok kafir yang murtad. Bahkan beliau memeranginya dan memandang dasar mereka halal.

Intinya, ketika ada orang yang tidak menerima konsep mendasar dalam aqidah Islam, seperti yang tercantum di dalam 6 rukun iman, atau 5 rukun Islam secara konsep, maka dia adalah orang yang kafir, keluar dari agama Islam, murtad dan bukan lagi muslim.

Mahkamah Syar’iyah

Tetapi ada satu hal yang perlu diingat dan diperhatikan, bahwa semua vonis murtad itu harus melalui proses hukum formal dan vonisnya dikeluarkan oleh pengadilan atau lembaga hukum yang formal.

Tidak boleh setiap orang untuk mengeluarkan vonis murtad seenaknya. Kecuali setelah digelarkan pengadian syariah dengan benar dan fomal. Di mana mereka yang dituduh murtad itu dihadirkan untuk memberikan keterangan, juga harus dihadirkan para saksi termasuk para saksi ahli dari kalangan ilmuwan khususnya di bidang ilmu aqidah.

Sayangnya, di Indonesia tidak ada lembaga itu, sehingga akhirnya saling tuduh kafir sering terjadi. Seharusnya lembaga itu didirikan untuk menetapkan dan memutuskan siapa saja yang sudah bisa divonis kafir dan murtad. Dan juga perlu diundangkan secara formal juga, agar tidak lagi ada kesamaran di dalamnya.

Tidak Setuju Kebijakan Pemerintah Islam

Adapun punya second opinion yang berbeda dengan opini yang dikembangkan oleh pemerintah yang sah, tidak menjadikan seorang menjadi murtad. Selama tidak melakukan permusuhan secara langsung, membelot atau memusuhi.

Hukum Islam memberi peluang terbuka bagi siapa saja untuk tidak setuju dengan kebijakan pemeritahannya, selama tidak terkait dengan doktrin dasar aqidah Islam.

Etika Beroposisi Dengan Penguasa

Adapun etika oposisi yang harus dipegang oleh semua pihak adalah etika amar ma’ruf dan nahi mungkar, di samping etika perbedaan mendapat (Fiqhul Ikhtilaf). Karena, tujuan oposisi adalah meluruskan, memberikan in-put posistif dan memperbaiki, bukan menjatuhkan. Di antara landasan moral oposisi adalah sebagaimana yang dirangkum Yusuf Al-Qardhawi dalam Fiqh Ikhtilaf-nya (hal. 181) dan oleh Imam Ghozali dalam Ihya’-nya (vol.II/270) adalah:

Ikhlas karena Allah serta demi kemaslahatan umat dan bangsa, bukan karena nafsu.

  1. Meninggalkan fanatisme terhadap individu, partai maupun golongan.
  2. Berprasangka baik dan positif thinking terhadap orang lain.
  3. Tidak menyakiti dan mencela
  4. Menjauhi debat kusir dan ngotot tanpa argumentasi logis.
  5. Dialog dengan cara sebaik-baiknya.
  6. Bersikap adil dalam menilai dan bersikap
  7. Memperhatikan skala prioritas (strata bobot penting masalah) masalah dan memakai fiqh muwazanah (pertimbangan masak sisi maslahat dan madharat).
  8. Mengedepankan persatuan dan menjauhi perpecahan
  9. Arif, dewasa dan bijaksana serta mampu mengontrol emosi

Wallahu a’la bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »

Belajarlah

Kesempatan pun Datang

“Sumber dari segala macam bencana dan kutukan terhadap umat manusia adalah kebodohan dan ketidakmengertian. Sumber dari tercipnayna peradaban tinggi adalah masyarakat yang menghormati pendidikan”

Setiap manusia mempunyai potensi dan kesempatan yang sama untuk bahagia dalam hidupnya. Walau ukuran kebahagiaan manusia tidak bisa disama ratakan, namun secara umum bisa dilihat dari kesuksesan yang diraih selama hidupnya. Kesuksesan tidak bisa didapat begitu saja, butuh perjuangan dan usaha keras. Salah satu yang harus dilakukan untuk mendapat kesuksesan ter – sebut adalah dengan belajar. Belajar, merupakan tugas, tanggung jawab dan panggilan pertama bagi tiap manusia. belajar, selain membuat pengetahuan yang kita miliki bertambah, kesempatan terbukanya pintu kesuksesan pun semakin lebar.

Lantas bagaimana caranya agar kesuksesan yang ingin dicapai dengan cara belajar tersebut, dapat mudah kita raih ?? Ada beberapa hal yang patut kita ingat, ketika kita sedang belajar untuk menuju kesuksesan yaitu :

HASRAT KUAT
Belajar tanpa disertai oleh keinginan dan hasrat yang kuat untuk menuju sukses, tak akan berhasil. Karena segala seuatu (termasuk belajar) yang dilakukan tidak dengan sungguh-sungguh, hasil yang dicapaipun akan ala kadarnya. Bila kesuksesan merupakan salah satu proses yang ingin diraih untuk mencapai kebahagiaan, maka mulailah belajar sungguh-sungguh dengan hasrat kuat, keinginan dan harapan yang besar.

Selain keberhasilan tidak akan pernah singgah kepada orang-orang yang berhastar lemah dan tak punya kemauan, tidak bisa dipungkiri bahwa segala sesuatu hanya akan terjadi bila kita menginginkan itu terjadi Seperti kata pepatah “Siapa yang berpikir dia bisa, maka dia akan bisa menjadi siapapun yang dia inginkan” Ciptakan dan penuhi alam bawah sadar kita dengan hasrat yang kuat untuk meraih harapan.

BERANI BELAJAR
Semua orang pada dasarnya tidak tahu dan tidak mampu. Hanya orang- orang yang berani belajar yang akhirnya akan tahu dan mampu. Ada begitu banyak cara untuk belajar, baik melalui pengalaman diri sendiri pengalaman orang lain, buku-buku bacaan, perenungan, kursus ataupun pelatihan-pelatihan yang ada. Kita tinggal memilih cara belajar yang kita sukai. Namun harus dipastikan bahwa cara belajar yang dilakukan, bisa membuat kita lebih mengerti dan memahami banyak hal. Sehingga kita mampu melihat dan mengetahui bahwa ada banyak cara dan pilihan untuk meraih kehidupan yang lebih baik.

“Saya akan belajar, maka kesempatan akan datang” sunggu tepat apa yang dikatakanAbraham Lincoln tersebut Sebab tanpa belajar, maka segala kemungkinan menuju kesuksesan bisa hilang. Untuk menjadi siri yang selalu belajar (a becoming learling person) diperlukan keberanian dan ketabahan, yang berakibat terbukanya segala kemungkinan untuk kehidupan yang lebih baik.

BERANI BERUBAH
“Learning has not taken place, until behaviour has changed,: belajar tidak akan berarti apa-apa,sampai terjadi perubahan perilaku. Dengan belajar pengetahuan dan ketrampilan kita bertambah. Tetapi pengetahuan dan ketrampilan yang kita miliki tersebut tidak akan berarti apa-apa,jika ketrampilan yang kita miliki tersebut tidak sanggup merubah diri kita menjadi lebih baik dari sebelumnya. Pengetahuan kita akan hemat tidak akan men- jadikan kita kaya kecuali kita berani berubah menjadi orang hemat dan mungkin akan kaya. Pengetahuan kita tentang kerja keras tak akan memberi manfaat, sampai kita berubah menjadi seorang pekerja keras dan meraih keberhasilan.

Setelah kita belajar, kita memiliki pengetahuan dan ketrampilan tentang hal-hal yang kita pelajar. Langkah berikutnya adalah bagaimana kita bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik, berdasarkan pengetahuan yang kita miliki. Perubahan itu mungkin terjadi begitu lambat. Bagi orang-orang tertentu hal itu mungkin menjadikannya frustasi sehingga proses belajarpun terhenti ditengah jalan, karena tidak merasa mendapatkan manfaat dari proses belajar. Namun perlu disadari bahwa jauh lebih sulit menerapkan apa yang kita ketahui, dibanding dengan proses belajar untuk mendapatkan pengetahuan itu sendiri. Perubahan kearah lebih baik yang terjadi pada diri kita, walau berjalan secara perlahan, sedikit demi sedikit, hal itu akan sangat besar artinta bagi kesuksesan kita.

Teruslah belajar dan janganlah pernah menyerah, walau kegagalan bisa sewaktu-waktu menghampiri. Gagal bukan berarti mati, tapi gagal berarti ada banyak hal yang harus diperbaiki. Lupakan kata tidak mampu dan tidak mungkin, namun persiapkan fisik dan mental Anda untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Thalabul ilmi minal lahdi ilal lahdi.
Wassalam,

(Betty (betty_rasyid@yahoo.com)-percikan-iman.com-

Read Full Post »

Older Posts »