Feeds:
Posts
Comments

Archive for June 13th, 2007

Ilmu Waris

Pengertian dan Urgensi

Senin, 11 Jun 07 07:05 WIB

Assalamua’laikum Ustadz

Mohon dijelaskan tentang pengertian hukum waris dalam Islam serta alasan mengapa kita harus mempelajari ilmu ini.

Terima kasih banyak

Amanda
amanda at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Definisi Warisan

Al-miirats, dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata waritsa-yaritsu-irtsan-miiraatsan. Maknanya menurut bahasa ialah ‘berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain’, atau dari suatu kaum kepada kaum lain.

Pengertian menurut bahasa ini tidaklah terbatas hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan harta, tetapi mencakup harta benda dan non harta benda. Ayat-ayat Al-Qur’an banyak menegaskan hal ini, demikian pula sabda Rasulullah saw.. Di antaranya Allah berfirman:

“Dan Sulaiman telah mewarisi Daud…” (an-Naml: 16)

..”. Dan Kami adalah pewarisnya.” (al-Qashash: 58)

Selain itu kita dapati dalam hadits Nabi saw.:

‘Ulama adalah ahli waris para nabi’.

Sedangkan makna al-miirats menurut istilah yang dikenal para ulama ialah: berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup, baik yang ditinggalkan itu berupa harta (uang), tanah, atau apa saja yang berupa hak milik legal secara syar’i.

Urgensi Mempelajari Hukum Warisan

1. Melanggar Hukum Warisan Diancam Masuk Neraka dan Kekal Di Dalamnya

Allah SWT telah mewajibkan umat Islam untuk membagi warisan sesuai dengan petunjuknya. Sebagaimana yang telah Allah syariatkan di dalam Al-Quran Al-Kariem.

Itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.(QS. An-Nisa’: 13-14)

Di ayat ini Allah SWT telah menyebutkan bahwa membagi warisan adalah bagian dari hudud, yaitu sebuah ketetapan yang bila dilanggar akan melahirkan dosa besar. Bahkan di akhirat nanti akan diancam dengan siska api neraka. Tidak seperti pelaku dosa lainnya, mereka yang tidak membagi warisan sebagaimana yang telah ditetapkan Allah SWT tidak akan dikeluarkan lagi dari dalamnya, karena mereka telah dipastikan akan kekal selamanya di dalam neraka sambil terus menerus disiksa dengan siksaan yang menghinakan.

Sungguh berat ancaman yang Allah SWT telah tetapkan buat mereka yang tidak menjalankan hukum warisan sebagaimana yang telah Allah tetapkan. Cukuplah ayat ini menjadi peringatan buat mereka yang masih saja mengabaikan perintah Allah sebagai ancaman. Jangan sampai siksa itu tertimpa kepada kita semua. Nauzu billahi min zalik.

2. Perintah Rasulullah SAW Secara Khusus Untuk Mempelajarinya

Secara khusus Rasulullah SAW telah memberikan perintah untuk mempelajari ilmu warisan. Di antara sebabnya adalah karena ilmu wrisan itu setengah dari semua cabang ilmu. Lagi pula Rasulullah SAW mengatakan bahwa ilmu warisan itu termasuk yang pertama kali akan diangkat dari muka bumi.

Rasulullah SAW bersabda, “Pelajarilah ilmu faraidh dan ajarkanlah. Karena dia setengah dari ilmu dan dilupakan orang. Dan dia adalah yang pertama kali akan dicabut dari umatku.” (HR Ibnu Majah, Ad-Daruquthuny dna Al-Hakim)

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Advertisements

Read Full Post »

Al-Quran Tidak Sejalan

Antara Surah Satu dengan yang Lainnya?

Senin, 11 Jun 07 07:47 WIB

Assalamualaikum

Mengapa ada yang tidak sejalan antara satu surah dengan surah yang lain yaitu Surah Abasa menceritakan tentang “Rasulullah” bermuka masam dan berpaling dari sahabatnya yang ingin berkunjung ke rumahnya.”

Sedangkan dalam surah yang lain yaituAl-Ahzab menceritakan bahwa “di dalam diri Rasulullah terdapat contoh yang baik”, bahkan di dalam surah yang lain yaitu ada tertulis “Muhammad itu menyampaikan kepada kalian bukan berdasarkan hawa nafsunya, melainkan wahyu yang di wahyukan”,

Mengapa terjadi demikian, kalau dari surah Al-Ahzab itu tadi jelas Rasulullah tidak pernah berbuat salah dari segi apapun baik perbuatan, perkataan, dan diam beliau, kalau masih berbuat salah berarti tidak sesuai dengan firman Allah di atas.

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih

Wassalam

Mulyadi Razak
ibnu_razak at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Keteladanan seorang Muhammad Rasulullah SAW memang unik, karena di satu sisi dia hanyalah sekedar manusia biasa, yang mungkin lupa, salah, cemas, takut, marah, lelah, cemburu dan seterusnya.

Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku.”(QS. Al-Kahfi: 110)

Sisi kemanusiaan beliau memang ada, wajar, dan telah diakui oleh Allah SWT sendiri di dalam ayat di atas. Jadi tidak ada yang salah ketika seorang Muhammad SAW bereaksi tertentu dalam menghadapi suatu masalah. Seperti untuk sejenak sempat bermuka masam kepada seorang tua yang buta.

Namun itulah bedanya antara seorang manusia biasa dengan seorang nabi. Begitu terlihat agak keluar jalur, ada bimbingan ilahi yang langsung meluruskannya. Sehingga apa yang beliau lakukan itu langsung terkoreksi kembali.

Sisi Kenabian Muhammad SAW

Sementara di sisi lain, dia adalah seorang yang mendapatkan wahyu dari Allah SWT dan juga mendapat penjagaan langsung dari kesalahan fatal dan sesat.

Maka pada sebagian diri beliau ada suri tauladan yang bisa dijadikan sebagai rujukan dalam menjalankan agama Allah.

Namun yang jadi titik teladan tentu tidak bulat-bulat diri nabi, sisi tertentu tidak bisa dijadikan teladan. Bicara tentang khushushiyyah beliau, jelas hukumnya tidak bisa dijadikan teladan. Buat seorang umat Muhammad SAW, haram hukumnya puasa wishal, tidak wajib shalat malam, tidak boleh poligami lebih dari 4 wanita sekaligus dan seterusnya.

Ada juga yang hukumnya mubah, yaitu boleh diikuti atau boleh juga tidak. Seperti jenis makanan sehari-hari yang dimakan beliau. Beliau makan gandung (syair) dengan milh (garam) atau khall (cuka), minum susu kambing mentah yang baru diperas tanpa dimasak, beristinja’ seringkali tidak pakai air tapi pakai batu, tidak dilakukan di dalam kamar mandi karena saat itu jarang ada kamar mandi, tetapi buang air besar di alam bebas terbuka (al-khala’).

Beliau sering ke mana-mana membawa tongkat, naik unta, tidur di atas tikar yang kalau bangun masih terlihat tanda bekas anyaman tikar yang kasar, kadang berbaju tambalan, pernah 3 bulan dapur rumahnya tidak mengepulkan asapdan seterusnya.

Tentunya kalau anda mau melakukannya persis seperti apa yang terjadi pada diri beliau dengan niat ittiba’, tidak ada yang melarang. Tapi jangan katakan bahwa semua hal itu WAJIB dijalankan oleh setiap ummatnya.

Lalu bagaimana memilih dan memilahnya?

Mudah saja, serahkan kepada ahlinya dan anda tinggal duduk manis saja. Biarka para pakar bekerja sesuai dengan bidang keahliannya.

Siapakah para pakar itu?

Mereka adalah para ulama yang ahli dalam mensintesa data-data tentang nabi Muhammad SAW. Mulai dari memeriksa keabsahan semua riwayat (para ahli hadit) hingga memadukannya antara satu data yang valid dengan data valid lainnya.

Hasilnya adalah sebuah produk ijtihad yang amazing dan canggih luar biasa. Kita tinggal membuka daftarnya, para ulama sudah menuliskannya dalam ribuan jilid kitab fiqih.

Semua masalah sudah dikaji dengan seksama, detail, rinci dan dilengkapi dengan semua petunjuknya. Kesimpulannya telah dibagi dalam 5 kriteria, yaitu wajib, haram, makruh, sunnah dan mubah.

Secara sederhana sudha bisa kita pelajari dari sejak duduk di bangku SD saat kita belajar ilmu fiqih.

Dari apa yang dipersembahkan oleh ilmu fiqih itulah kita bisa memilah mana yang sebenarnya dari diri nabi SAW yang harus kita ikuti dengan hukum wajib, mana yang sunnah, mana yang mubah, bahkan mana yang haram sekalipun.

Ilmu fiqih juga akan menjelaskan titik temu antara satu ayat dengan ayat lainnya di dalam Al-Quran yang sekiranya menimbulkan salah persepsi atau kesan saling bertentangan.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »

Hukum Hadiah dari Suatu Perlombaan

yang Berasal dari Uang Pendaftaran

Senin, 11 Jun 07 07:22 WIB

Assalamu’alaikum Wr, Wb

Bagaimana hukumnya kita ikut suatu perlombaan semisal olahraga yang hadiahnya itu berasal dari uang pendaftaran, dan uang pendaftaran tersebut jumlahnya lumayan besar, sehingga peserta berambisi untuk mendapatkan hadiahnya

wassalamu’alaikum Wr, Wb

Art

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Perlombaan untuk mendapatkan sebuah hadiah yang ditawarkan hukumnya boleh. Asalkan hadiah yang ditawarkan berasal dari satu pihak, misalnya panitia penyelenggara. Di mana dananya bukan berasal dari ‘uang saweran’ dari para peserta lomba.

Apabila dana untuk hadiah diambilkan dari pungutan uang pendaftaran, ini yang kita sebut ‘uang saweran’, maka hukumnya tidak berbeda dengan hukum judi. Sebab di dalam sebuah perjudian, para peserta memang mengeluarkan uang untuk ‘memasang’ atau untuk taruhan. Lalu permainan judi akan menetapkan bahwa pemenangnya berhak atas uang taruhan itu.

Hakekat Perjudian
Bila diperhatikan dengan seksama, trasaksi perjudian adalah pada adanya dua belah pihak atau lebih yang masing-masing menyetorkan uang dan dikumpulkan sebagai hadiah. Lalu mereka mengadakan permainan tertentu, baik dengan kartu, adu ketangkasan atau media lainnya. Siapa yang menang, dia berhak atas hadiah yang dananya dikumpulkan dari kontribusi para pesertanya. Itulah hakikat sebuah perjudian.

Biasanya jenis permaiannnya memang khas permainan judi seperti main remi/ kartu, melempar dadu, memutar rolet, main pokker, sabung ayam, adu domba, menebak pacuan kuda, menebak skor pertandingan sepak bola dan seterusnya.

Namun adakalanya permainan itu sendiri sama sekali tidak ada hubungannya dengan perjudian. Misalnya menebak sederet pertanyaan tentang ilmu pengetahuan umum atau pertanyaan lainnya.

Namun jenis permainan apa pun bentuknya, tidak berpengaruh pada hakikat perjudiannya. Sebab yang menentukan bukan jenis permainannya, melainkan perjanjian atau ketentuan permainannya.

Dalil-dalil tentang Haramnya Judi

Allah SWT telah mengharamkan perjudian di dalam Al-Quran Al-Kariem dalam firman-Nya.

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَآ أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ كَذَلِكَ يُبيِّنُ اللّهُ لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: ‘Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfa’at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa’atnya’. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘ Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, (QS. Al-Baqarah: 219)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, berjudi, berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.(QS. Al-Maidah: 90)

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاء فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ اللّهِ وَعَنِ الصَّلاَةِ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ
Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu .(QS. Al-Maidah: 91)

Contoh Bentuk Perlombaan Yang Diharamkan
Pantia acaran 17-an di sebuah kelurahan menyelenggarakan lomba kejuaraan bulu tangkis.Untuk bisa mengikuti kuis tersebut, tiap peserta diwajibkan membayar biaya sebesar Rp 100.000, -. Peserta yang ikutan jumlahnya 100 orang. Dengan mudah bisa dihitung berapa dana yang bisa dikumpulkan oleh yayasan tersebut, yaitu 10.000.000 rupiah.

Dana itu sepenuhnya digunakan untuk memberli piala dan hadiah-hadiah agi para juaran. Besarnya dibagi-bagi mulai dari juara pertama, kedua, ketiga serta harapan satu, dua dan tiga. Nilai total hadiah itu adalah sebesar 10 juta, maka pihak panitia lomba itu pada hakikatnya sedang menyelenggarakan ebuah arena perjudian, sebab hadiah yang disediakan semata-mata diambil dari kontribusi peserta.

Bagaimana Yang Halal?

Yang halal mudah saja, silahkan cari sponsor atau pihak-pihak yang mau menyediakan hadiah bagi para penenang lomba. Asalka hadiah itu tidak diambilkan dari retribusi para peserta, sebenarnya hakikat perjudiannya sudah hilang.

Misalnya, pak Lurah menyediakan sponsor sebesar 10 juta, maka urusannya sudah selesai. Pihak panitia boleh menggunakan dana retribusi peserta untuk biaya konsumsi, sewa kursi, keamanan, kebersihan atau keperluan lainnya yang terkait dengan lomba.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »

10 Jawaban Mengatasi Bisikan Iblis

Agar kita bisa menjawab godaan setan yang selalu ingin menjerumuskan kita ke jurang neraka.
1. Jika ia datang kepadamu dan berkata:

” Anakmu mati,”

Maka katakan kepadanya :

“Sesungguhnya mahluk hidup diciptakan untuk mati, dan penggalan dariku(putraku) akan masuk surga. Dan hal itu membuatku bahagia”.

2. Jika ia datang kepadamu dan berkata:

” Hartamu musnah,”

Maka katakan :

“Segala puji bagi Allah Zat Yang Maha Memberi dan Mengambil, dan menggugurkan atasku kewajiban zakat.”

3. Jika ia datang kepadamu dan berkata:

” Orang-orang menzalimimu sedangkan kamu tidak menzalimi seorangpun.”

Maka katakan :

“Siksaan akan menimpa orang-orang yang berbuat zalim dan tidak menimpa orang-orang yang berbuat kebajikan (Mukhsinin)”.

4. Dan jika ia datang kepadamu dan berkata:

“Betapa banyak kebaikanmu,”

Maka katakan :

“Kejelekan-kejelekanku jauh lebih banyak dari pada kebaikanku”.

5. Dan jika ia datang kepadamu dan berkata:

“Alangkah banyaknya shalatmu”.

Maka katakan :

“Kelalaianku lebih banyak dibanding shalatku”.

6. Dan jika ia datang dan berkata:

“Betapa banyak kamu bersedekah kepada orang-orang”.

Maka katakan :

“Apa yang saya terima dari Allah jauh lebih banyak dari yang saya sedekahkan”.

7. Dan jika ia berkata kepadamu :

“Betapa banyak orang yang menzalimimu”.

Maka katakan :

“Orang-orang yang kuzalimi lebih banyak”.

8. Dan jika ia berkata kepadamu :

“Betapa banyak amalmu”.

Maka katakan :

“Betapa seringnya aku bermaksiat”.

9. Dan jika ia datang kepadamu dan berkata:

“Minumlah minuman-minuman keras!”.

Maka katakan :

“Saya tidak akan mengerjakan maksiat”.

10. Dan jika ia datang kepadamu dan berkata:

“Mengapa kamu tidak mencintai dunia?”.

Maka katakan :

“Aku tidak mencintainya dan telah banyak orang lain yang tertipu olehnya”.

-percikan-iman.com

Read Full Post »