Feeds:
Posts
Comments

Archive for June 11th, 2007

Bill Gates

Setelah menunggu selama 32 tahun, Bill Gates, pemimpin sekaligus pendiri Microsoft akhirnya berhasil meraih gelar sarjananya dari Universitas Harvard. Tepat pada 7 Juni lalu, pria bernama asli William Henry Gates III ini memperoleh gelar kehormatan sebagai Doktor Hukum Universitas Harvard.

Gates meninggalkan kuliahnya di Harvard pada tahun awal kuliah setelah sukses menjual bahasa pemrograman pertama ciptaannya bertajuk BASIC untuk MITS Altair. Ia kemudian mendedikasikan dirinya untuk Microsoft yang didirikannya pada tahun 1975 bersama Paul Allen.

“Saya telah menunggu lebih dari 30 tahun untuk mengatakan ini: ‘Ayah, aku selalu berkata bahwa aku akan kembali ke sini dan akhirnya mendapatkan gelarku’. Aku berterima kasih pada Harvard untuk kehormatan ini. Aku akan berganti pekerjaan tahun depan dan senang rasanya bahwa pada akhirnya aku memiliki gelar sarjana di riwayat hidupku. Aku juga gembira dengan mereka yang menyebutku sebagai ‘dropout‘ Harvard paling sukses”.

“Saya bisa menyebut diri saya sebagai yang paling sukses dari mereka yang gagal,” canda Bill Gates lagi, yang menyebutkan bahwa ia merasa telah memberi pengaruh buruk sehingga Steve Ballmer, CEO Microsoft, juga mengikuti jejaknya dengan meninggalkan kuliah di Harvard, seperti dikutip detikINET dari Softpedia, Senin (11/6/2007).

Tidak hanya mendapat gelar sarjana, Gates juga mengaku ingin berganti pekerjaan. Tahun 2008 ini, Gates bersiap keluar rutinitasnya di Microsoft. Dia telah memutuskan untuk mengakhiri karir dalam membangun perusahaan software terbesar di dunia itu. Setelah musim panas 2008 nanti, Gates mengaku akan fokus mengurusi yayasan Bill dan Mellinda Gates. Kini, tidak disangsikan bahwa dia pun akan memberikan pengaruh besar dalam pekerjaan kemanusiaan di dunia.

“Salah satu kenangan terbesar saya di Harvard datang pada tahun 1975, ketika saya menghubungi sebuah perusahaan di Albuquerque yang mulai membuat komputer pribadi pertama. Saya menawari mereka software. Saya takut mereka akan menolak karena saya hanyalah seorang mahasiswa. Namun mereka berkata bahwa saya harus datang beberapa bulan lagi karena mereka belum siap. Sejak itu, saya bekerja siang malam untuk proyek kecil ini yang akhirnya membuat saya harus mengakhiri kuliah. Peristiwa tersebut juga menjadi awal perjalanan Microsoft yang luar biasa,” tambahnya.

Ketekunan Gates akhirnya membuat Microsoft sekarang begitu berjaya. (dwn/dwn)

Advertisements

Read Full Post »

???

Turki Jilbab & Politik

 

Apa yang sesungguhnya terjadi dalam demo dan kontra demo yang marak
pada Mei lalu di Turki? Yakni, demo besar-besaran kaum hard-die
sekularis menentang kemungkinan pencalonan PM Turki, Teyyep Recep
Erdogan, yang kemudian menarik diri.

Pencalonan Menlu Turki, Abdullah Gul, sebagai kandidat Presiden
Turki juga ditentang golongan sekuler. Kaum sekularis Turki yang
didukung militer itu, khawatir kedua tokoh yang mereka anggap
sebagai Islamis itu, jika terpilih sebagai presiden akan segera
mengubah Turki menjadi negara Islam. Partai Pembangunan dan Keadilan
(AK) yang berkuasa sekarang di bawah kepemimpinan Erdogan, mereka
pandang memiliki agenda tersembunyi; yakni, mengubah Turki dari
sekuler Kemalis menjadi negara Islam.

Meski kedua pejabat dan tokoh Turki itu membantah tuduhan kaum
sekularis, namun pihak terakhir ini punya ‘bukti’ bahwa mereka
mempunyai agenda untuk menjadikan Turki sebagai negara Islam.
Pertama, dua putri Erdogan yang diterima di salah satu universitas
Turki menolak mencopot jilbab, sebagai syarat untuk bisa diterima di
universitas Turki tersebut, karena jilbab tidak boleh dikenakan di
lembaga-lembaga pendidikan dan di institusi resmi lainnya.
Sebaliknya, kedua putri Erdogan tersebut masuk ke Universitas
Indiana, Amerika Serikat, yang mengizinkan dan tidak mempersoalkan
apakah mahasiswinya mau memakai atau tidak memakai jilbab.

Bukti kedua masih soal jilbab. Istri Menlu Abdullah Gul, Hayrunnisa
Gul, juga mengenakan jilbab. Hairunnisa menolak anggapan pemakaian
jilbab sebagai tanda ingin mendirikan negara Islam; bagi dia,
mengenakan jilbab lebih nyaman daripada tidak memakainya. Sang
suami, Menlu Abdullah Gul sepakat. Kepada Fareed Zakaria (Newsweek,
21 Mei, 2007), Abdullah Gul menyatakan, “Saya tidak berniat
mengajak, apalagi memaksa perempuan memakai jilbab. Itu adalah
masalah pilihan pribadi. Bahkan, tidak seluruh perempuan dalam
keluarga saya mengenakan jilbab. Jika saya tidak meminta seluruh
anggota perempuan dalam keluarga saya memakai jilbab, kenapa saya
harus mengajak perempuan-perempuan lain.”

Kaum sekularis, bahkan mempersoalkan juga seorang kepala sekolah
yang mengizinkan muridnya membaca Alquran dengan nada lagu yang
indah. Dan juga ketika sebagian masyarakat Turki merayakan maulid
Nabi Muhammad. Melihat kasus Turki dengan jilbab yang menghebohkan
itu, tidak bisa lain, kaum sekularis terhinggapi paranoia anti-Islam
dengan segala simbolismenya.

Bagi kolumnis Fareed Zakaria, sikap kaum sekularis itu sangat
berlebihan, dan bahkan dapat mengancam demokrasi di Turki; yakni
jika militer turun tangan melakukan kudeta yang telah lima kali
dalam lima dasawarsa menjatuhkan pemerintahan yang dipilih melalui
sistem demokrasi. Bagi Partai AK sendiri, Islam kompatibel dengan
demokrasi; dan sepanjang pemerintahan PM Teyyep Recep Erdogan lima
tahun terakhir, menurut Zakaria, telah terjadi quiet revolution,
revolusi damai Turki menuju demokrasi yang genuine.

Kenapa golongan sekularis begitu alergi terhadap jilbab dan simbol-
simbol keislaman lainnya? Kenyataan ini berkaitan banyak dengan
watak sekularisme Turki yang sejak masa Turki Muda dan Kemal Ataturk
hampir sepenuhnya berdasarkan model sekularisme Prancis, laicite,
yang tidak bersahabat dengan agama, jika tidak antiagama. Bagi saya,
sekularisme Turki sepanjang sejarahnya adalah perwujudan sempurna
daripada apa yang saya sebut tidak hanya sebagai ‘sekularisme yang
tidak bersahabat dengan agama’ (anti-religion fundamentalism), tapi
bahkan fundamentalisme sekular (secular fundamentalism), yang dengan
cara apa pun berusaha menghalangi ekspresi agama.

Hasilnya, sejak masa awal Republik Turki, di bawah pemerintahan
Presiden Kemal Ataturk, sekularisme Turki menerapkan kebijakan yang
tidak bersahabat dengan agama. Rezim-rezim sekuler tidak hanya
melarang pemakaian jilbab dan pakaian Muslim lainnya, tapi juga
penggunaan gelar-gelar keagamaan seperti haji, khoja, mullah,
effendi, dan seterusnya. Mereka yang melanggar ketentuan ini
memperoleh sanksi hukum, termasuk hukuman penjara.

Lebih daripada itu, berbeda dengan fundamentalisme yang tidak
bermusuhan agama, seperti sekularisme AS, sekularisme Turki bahkan
mencampuri urusan dasar agama. Contoh terjelas dalam hal ini adalah
pemaksaan penggantian bahasa azan dari bahasa Arab ke bahasa Turki.
Meski kebijakan ini tidak bertahan lama karena oposisi sangat hebat
dari kaum Muslimin, rezim-rezim sekuler Turki tetap berusaha
memasuki ranah teologis dan normatif agama.

Sekularisme ala Turki bukanlah sebuah contoh yang baik dari ideologi
politik dan negara. Sekularisme seperti ini dan ideologi-ideologi
antiagama lainnya yang mewujud menjadi fundamentalisme (sekuler),
bukan hanya dapat mengancam demokrasi; bahkan lebih jauh lagi
bertentangan dalam kecenderungan alamiah manusia yang memerlukan
agama dengan segala simbolismenya.
(Oleh : Azyumardi Azra)

Read Full Post »