Feeds:
Posts
Comments

Archive for June 8th, 2007

Kalau Begini Terus,

Kapan Bersatunya?

8 Jun 07 08:09 WIB

Oleh Ahmad Sanusi Ibnu Qoyyim

Bulan maulid (baca: Rabi’ul Awwal) lalu, saya menggabungkan diri dengan majlis maulid di sekitar tempat tinggal. Ketergabungan saya dalam majlis itu atas niat baik, merajut ukhuwah, selain karena ada waktu agak luang.

Perayaan Maulid, memang bagi sebagian kita bukan perkara yang tak penting. Sebaliknya, dimata sebagian lagi merupakan perkara yang harus (baca: menyerupai wajib) dirayakan. Ini hanya soal persepsi. Sekali lagi, ini sekedar persepsi kita terhadap masalah furu’iyah yang tak perlu diperdebatkan. Menurut mitos yang ada, Maulid dan kebetawian adalah satu paket. Bukan orang betawi kalau tidak maulid.

Sementara ini, mari kita sepakati bahwa ini merupakan masalah furu’iyah yang tak perlu diusik. Tapi siapa nyana, rupanya proses ‘pengusikan’ itu di antaranya ada dalam perayaan maulid yang agung. Setidaknya, di 24 tempat (dikampung-kampung betawi) yang saya hadiri, meski kurang representatif, namun hal ini dapat menjadi ukuran bagi kaum muslimin Jakarta, betapa hal furu’iyah ini sangat mengganggu.

Maulid yang digelar besar-besaran di Jakarta, yang mengundang Kyai, Habaib, Usatidz pilihan yang semangatnya menyala-nyala (plus lucu), tak elak hanya sebagai moment saling menghujat antar kelompok yang beda pendapat. Kelompok A menghujat golongan yang anti-maulid sebagai golongan anti-sunnah, dan mengklaim kelompoknya sebagai ahli-sunnah.

Dengan berjuta hujjah, meyakinkan jama’ah Maulid untuk percaya diri bahwa merekalah yang dimaksud ahlu-sunnah waljama’ah, sehingga letupan kebencian –kecil maupun besar- keluar secara spontan untuk mendoakan hal yang buruk bagi kelompok B yang anti-maulid.

Di tempat lain, saya sempat mengikuti pengajian yang digelar kelompok B (yang katanya anti-maulid). Pengajian biasa. Tidak seperti Maulid yang digelar kelompok A, yang mendatangkan penceramah kondang bertitel KH, menyiapkan soundsystem bernilai jutaan, memasang tenda-tenda mewah, buah-buah mahal, hidangan luar biasa dan dana yang tak sedikit.

Kelompok B, yang menggelar pengajian biasa itu, menjelaskan dengan bijak, perihal hokum maulid. Tapi, tetap saja, membuahkan hujatan terhadap kelompok A yang menurut mereka ahli bid’ah, dan ahli bid’ah itu sesat, dan sesat itu ditempatkan dineraka.

Sebetulnya bukan maulid saja yang saling dijadikan bahan hujatan. Ada tahlil, ada qunut, ada fatihah yang tanpa basmalah, bla bla bla. Banyak lagi. Dan bahan-bahan itupun tak pernah disulam sedemikian rupa menjadi kain yang dapat dijadikan bendera warna-warni.

Capek memang bicara tentang ukhuwah, ya karena semua menganggap hal tersebut utopis. Perpecahan adalah rahmat, begitu senjata yang digunakan. Kalau kasus ini terus bergulir dari hari kehari, hujat menghujat, cela mencela, hina menghina, tanpa mengambil titik temu dalam satu ruangan.

Kalau begini terus, kapan bersatunya? Menunggu datangnya Imam Mahdi? Menunggu Israel hancur? Atau menunggu negara kita bersyariatkan Islam? Wallahu a’lam. Dia Yang Maha Berencana

 

Advertisements

Read Full Post »

Ayat Mutasyabihat

Jumat, 8 Jun 07 07:48 WIB

Assalamualaikum..Wr..Wb

Pak Ustadz saya mau bertanya tentang ayat mutasyabihat sebagaimana yang disebutkan di dalam ayat ini:

Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran melainkan orang-orang yang berakal.”(QS. Imran: 7)

Ibra

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Mengenai pengertian muhkam dan mutasyabih terdapat banyak perbedaan pendapat. Biasanya berkisar antara lain sebagai berikut:

Pendapat Pertama:

Yang dimaksud dengan ayat muhkamatadalah ayat yang mudah diketahui maksudnya, sedang yang dimaksud dengan ayat mutasyabihat hanya diketahui maksudnya oleh Allah sendiri dan tidak ada seorangpun yang tahu maknanya.

Misalnya huruf-huruf yang ada di awal surat seperti alif lam min, alif lam ra’, ha miim, yaa siin dan sebagainya.

Pendapat Kedua

Yang dimaksud dengan ayat muhkamatadalah ayat yang hanya mengandung satu wajah, sedangkan ayatmutasyabihat adalah ayat yang mengandung banyak wajah.

Pendapat Ketiga

Menurut pendapat ini yang dimaksud dengan ayat muhkamat adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui secara langsung, tanpa memerluan keterangan lain.

Sedang ayat mutasyabihat sebaliknya. Ayat itu masih memerlukan penjelasan dengan merujuk kepada ayat-ayat lain.

Para ulama memberikan contoh ayat-ayat muhkam dalam Qur’an dengan ayat-ayat nasikh, ayat-ayat tentang halal, haram hudud (hukuman) kewajiban, janji dan ancaman. Sementara untuk ayat-ayat mutasyabih mereka mencontohkan dengan ayat-ayat tentang asma’ Allah dan sifat-sifatNya, antara lain dalam:

Tuhan yang Maha Pemurahbersemayam di atas ‘Arsy. (QS. Thaha: 5)

Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajah Allah. bagi-Nyalah segala penentuan, dan Hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (QS. Al-Qashash: 88)

Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu Sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah, tangan Allah di atas tangan mereka. (QS. Al-Fath: 10)

Tuhanmu datang dan malaikat berbaris-baris. (QS. Al-Fajr: 22)

Allah murka dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka jahannam. dan (neraka Jahannam) Itulah sejahat-jahat tempat kembali. (QS. Al-Tafh: 8)

Dan masih banyak lagi ayat lainnya. Termasuk didalamnya permulaan beberapa surah yang dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah dan hakikat hari kemudian serta ‘ilmus sa’ah.

Wallahu a’lam bishshawab, wasalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »

Hukum Menggulingkan

Pemerintahan

Jumat, 8 Jun 07 05:31 WIB

Assalamu ‘alaikum wr. Wb.

Ustadz, saya ada pertanyaan, semoga dapat memberikan peningkatan pemahaman keIslaman saya, dan menjadi amal kebaikan bagi ustadz.

Bagaimana hukum menggulingkan penguasa atau pemerintah, apakah Islam melarang hal itu ataukah memang bisa dibenarkan dalam beberapa kasus?

Terimakasih ustadz

Mri

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebagian umat Islam berpendapat bahwa melengserkan penguasa yang sedang memimpin pemerintahan dianggap menyalahi karakteristik syariat Islam. Mereka mengatakan bahwa menurunkan pemerintahan yang syah sama saja dengan tindakan bughat dalam bab fiqih. Sehingga kesimpulan sementara kalangan menyebutkan bahwa kudeta tidak dikenal di dalam hukum Islam.

Kalau pun seorang penguasa melakukan kesalahan, maka yang boleh dilakukan adalah menasihatinya saja. Bahwa penguasa itu mau memperbaiki kesalahannya atau tidak, tidak ada hak bagi rakyat untuk menurunkan penguasa itu dari kursi kepemimpinannnya.

Bahkan mereka menyebutkan bahwa tradisi menurunkan penguasa yang syah adalah produk non Islam, yang umumnya adalah dalam sistem demokrasi.

Bagaimanakah kedudukan masalah ini secara lebih luas?

Untuk menjelaskan kedudukan melengserkan penguasa yang dianggap tidak mampu memimpin atau telah menyeleweng dari garis yang telah ditetapkan, Islam sebenarnya punya landasan syariah yang lumayan kuat. Sehingga anggapan bahwa tidak ada istilah kudeta dalam Islam, atau tidak ada kamus melengserkan penguasa, adalah sesuatu yang kurang tepat.

Idealnya memang seorang kepala negara atau pemimpin dalam Islam tidak boleh diberhentikan begitu saja di tengah masa jabatan kekuasaannya. Namun dalam kondisi tertentu, syariat Islam membenarkan pencabutan mandat dari seorang penguasa bila di tengah jalan ditemukan hal-hal yang bisa mempengaruhi atau menurunkan kinerja dan konditenya.

Diantarnya adalah masalah yang terkait dengan managemen, keadilan serta moralitas seorang penguasa. Disisi lain kitab fiqih juga menyebutkan masalah kondisi pisik seseorang. Maka bila salah satu dari kedua kriteria itu terdapat dalam seorang penguasa, maka sudah bisa menjadi dasar bagi rakyat untuk menimal meminta penguasa itu melakukan klarifikasi masalah. Dan bila terbukti, kemungkinan untuk melengserkannya terbuka lebar.

Dalil Untuk Melengserkan Penguasa Yang Salah

1. Abdullah bin Zubeir

Sejarah Islam mencatat bahwa melengserkan penguasa pernah terjadi. Yang paling populer adalah apa yang dilakukan Abdullah bin Zubeir. Beliau sebagai tokoh ulama di zamannya telah melakukan gerakan untuk melengserkan penguasa yang saat itu memerintah dengan zhalim dan kejam, Al-Hajjaj bin Yusuf.

Meski belum sampai ke tingkat keberhasilan, namun apa yang dilakukan tokoh sekaliber Abdullah bin Zubeir merupakan bukti otentik dan nyata bahwa upaya melengserkan penguasa lalim memang dikenal di dalam sejarah Islam.

2. Hasan bin Ali ra

Sejarah juga mencatat bahwa Hasan bin Ali ra. pernah mundur dari jabatannya demi menjaga persatuan dan kesatuan seluruh elemen umat Islam saat itu. Beliau secara legowo mundur dari jabatannya. Bukan karena beliau tidak becus memimpin, melainkan karena beliau amat memahami situasi sulit yang berkembang saat itu.

Maka berangkat dari wawasannya yang luas, beliau menyimpulkan bahwa pelengseran dirinya merupakan sebuah jalan keluar yang tepat.

Kasus Hasan bin Ali ra ini memang tidak tepat benar dengan kasus melengserkan penguasa, namun cepat atau lambat, beliau merasa pasti akan dilengserkan juga oleh situasi dan keadaan yang tidak kondusif. Fitnah telah meraja lela dan kekacauan telah terjadi. Maka beliau memutuskan untuk menyerahkan tampuk pemerintahan kepada orang lain agar suasana persaudaraan.

3. Al-‘Izz Ibnu Abdis Salam

Beliau adalah tokoh ulama besar di zamannya. Selama hidupnya beliau pernah melengserkan penguasa zalim dari dinasti mamalik yang dicurigai telah melakukan penyelewengan dan tindakan culas. Kasus ini sebenarnya merupakan bagian dari klarifikasi yang beliau lakukan sebagai peran serta aktif terhadap perilaku para penguasa.

Setelah terbukti melalaui upaya penyelidikan bahwa penguasa yang bersangkutan bersih, maka penguasa tadi direhabilitasi. Sesudahnya, dia terpilih kembali dan kembali menjadi pemimpin di negerinya.

Namun kejadian ini telah memberikan pelajaran penting kepada kita bahwa melengserkan penguasa yang zalim bukan hal yang asing dalam sejarah Islam.

Literatur Fiqih Islam
Di dalam literatur fiqih Islam, banyak ulama yang menuliskan bab ‘azlu sulthan atau melengserkan penguasa. Literatur fiqih banyak mengupas perihal pelengseran penguasa yang syah demi kemaslahatan banyak orang.

Bahkan ada di antara mereka yang secara khusus menulis buku yang membicarakan tentang pelengseran penguasa yang zalim.

Kekuasaan Adalah Amanat

Kekuasaan adalah sebuah amanat yang dipercayakan kepada seseorang. Tentunya amanat itu bisadiambil lagi manakala si penerima amanat dinilai tidak mampu menjalankannya dengan benar sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan pemberi amanat itu.

Sehingga tidak ada masalah untuk meminta penguasa yang tidak mampu menjalankan amanah untuk mundur, sebagai bentuk pertanggung-jawabannya atas ketidak-mampuannya dalam memimpin.

Rasulullah SAW telah bersabda

Apabila suatu amanah telah disia-siakan, maka tunggulah saat kehancurannya. Para shahabat bertanya, “Apakah yang dimaksud dengan menyia-nyiakan amanah? Beliau menjawab, “Apabila suatu urusan telah diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya. Maka tunggulah kehancurannya.” (HR Bukhari).

Sehingga sebagai penguasa yang tidak amanah, bila tetap memaksakan diri untuk tetap bertahan di kursi kekuasaannya, maka bangsa dan negara segera akan hancur lebur. Rakyat pun akan tertindas dan kehidupan manusia akan semakin suram. Dalam kondisi demikian, maka rakyat punya hak untuk menncabut amanah yang telah dititipkannya.

Punya Pemimpin Yang Adil Adalah Hak Rakyat

Rakyat berhak untuk memiliki pemimpin yang adil, arif, bijaksana dan punya visi untuk mensejahterakan mereka. Bila ternyata hak itu tidak dipenuhi seorangyang sudah pernah dipilih, maka boleh saja rakyat memintanya mundur dari jabatan itu, apalagi bila penguasa itu mulai melakukan kezalimat dan penidasan kepada rakyat. Maka sudah seharusnya penguasa zalim itu diturunkan dengan atau tanpa paksaan.

Kesimpulan

Tidak ada masalah untuk melengserkan penguasa apabila secara umum telah menimbulkan mudharat dan kehancuran. Tindakan ini meski tidak populer, bisa saja diambil untuk menyelamatkan rakyat dari penindasan dan kezaliman yang terus menerus dari penguasa.

Naser, Soeharto dan banyak lagi pemimpin di negeri mayortis muslim memang berhak untuk dilengserkan, mengingat ulah dan sikapnya yang sangat merugikan rakyat baik dengan kekuatan militer maupun dengan tekanan ekonomi.

Penguasa sendiri bila sudah tidak disukai rakyatnya, maka tidak ada jalan lain kecuali mundur. Karena jabatan itu bukanlah sesuatu yang harus dipertahankan, bahkan jabatan itu dalam kacamata syariah adalah ujian berat dan tanggung-jawab kepada Allah yang harus ditanggung di akhirat kelak.

Ketimbang di akhirat direpotkan atas segala komplain rakyat senegara, lebih baik melepaskan jabatan itu dan meminta maaf atas kesalahan.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

Susunan Shaf Shalat

dan Kompas Kiblat

Jumat, 8 Jun 07 08:02 WIB

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ustadz yang baik, saya mo menanyakan mengenai shaf shalat nih. Jika design suatu Mushalla memanjang, boleh nggak pembagian shaf pria dan wanita dibuat kanan dan kiri, kemudian dibuat pembatas dari kain gordin?

Saya juga usul, agar EraMuslim menyusun arah kiblat yang tepat, kota-kota besar di Indonesia. Berapa derajd dari arah Barat/ Utara?

Jazakumullah khairan,

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Watik Tk
Teka_99 at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kalau kita mengacu kepada apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, maka susunan shaf shalat itu tidak pernah dibuat kanan untuk laki-laki dan kiri untuk perempuan. Di semua kitab fiqih pun kita tidak menemukan hal itu.

Yang ada hanya yang sudah kita ketahui selama ini, yaitu shaf laki-laki di depan dan shaf perempuan di belakang. Bahkan hadits-hadits yang demikian sangat banyak, sehingga sulit buat kita untuk mengubah apa yang telah ditetapkan dan dicontohkan langsung oleh sumber syariah Islam, yaitu Rasulullah SAW.

Karena itu kami agaknya kurang merekomendasikan untuk menerima usulan anda, karena kami tidak menemukan dalil yang membolehkannya. Kecuali karena alasan darurat.

Hal yang darurat bisa kita di masjid Al-Haram Makkah dan Madinah, di mana masjid itu sangat besar dan di dalamnya terdapat ratusan ribu jamaah. Ada shaf khusus wanita tetapi agak terbatas. Kalau jamaah masjid membeludak, terkadang ada posisi yang sulit dihindari, di mana shaf jamaah laki-laki bisa saja sejajar dengan shaf jamaah wanita, bahkan pernah juga posisi laki-laki bisa di belakang shaf wanita, secara tidak sengaja.

Namun di tempat yang kecil dan mudah untuk diatur, sebaiknya kita tidak terlalu menggantungkan masalah kepada masalah dharurat. Kalau mushalla punya jatah yang kurang efisien, banyak cara yang bisa dilakukan. Misalnya dengan menggilir waktu shalat. Jamaah laki-laki disepakati untuk shalat berjamaah lebih dahulu, setelah selesai, giliran jamaah wanita. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi desak-desakan serta untuk efisiensi barisan shaf.

Kompas Kiblat

Sebenarya ada cara yang mudah dan tepat untuk kita lakukan dalam hal pelurusan arah kiblat. Dan cara ini masih terkait dengan komputer dan internet.

Di situs Google ada menu Google Earth. Dengan program ini anda bila melihat photo udara dan satelit yang mencakup hampir semua tempat di dunia. Bahkan anda bisa melihat rumah anda fasilitas ini. Tentukan di mana rumah anda lewat photo udara ini dan beri tanda.

Lalu anda tinggal mencari posisi kota Makkah dan beri tanda juga persis seperti ketika anda memberi tanda.

Ada satu fasilitas di program ini untuk mengukur jarak antara dua titik sekaligus bisa menetapkan arah yang tepat dari rumah anda ke ka’bah. Dari sana akan dapat dengan mudah diketahui ke mana sesungguhnya arah kiblat dari rumah Anda.

Anda juga bisa mengecek kebenaran arah masjid-masjid yang anda kenali lewat photo udara itu. Siapa tahu anda menemukan masjid tertentu yang arahnya kurang tepat.

Fasilitas ini gratif disediakan oleh Google, silahkan download dulu file-file source-nya di earth.google.com, lalu silahkan bereksplorasi dengan arah kiblat.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

YAHUDI ATAS MASJID AL-AQSHA

KENANGAN PAHIT 40 TAHUN PENGUASAAN

Hari ini tepat 40 tahun masjid al-Aqsha dikuasai oleh Zionis.
Kesucian dan kemulian Masjid al-Aqsha yang selama ini dibawah perlindungan
umat Islam lenyap karena dicemari oleh tangan-tangan kotor Zionis. Sejak 40
tahun arogansi dan kedengkian Zionis terhadap kota suci tersebut diluahkan
dalam bentuk pengotoran masjidnya, pengrusakan bangunannya, penistaan
penduduknya terus menerus tanpa pernah berhenti, perampasan tanah-tanah
disekitarnya untuk kepentingan zionis. Puluhan terowongan dibangun sambung
menyambung untuk ruang kebaktian, musium untuk meletakkan buku-buku kunonya,
bahkan ruang-ruang khusus untuk meletakkan peralatan-peralatan Haikal
Sulaiman yang khurafat. Semuanya dibangun persis dibawah masjid al-Aqsha.
Hingga saat ini proyek penggalian terowongan di bawah masjid tersebut terus
dilakukan tanpa berhenti dengan dalih mencari Haikal Sulaiman yang hilang,
padahal satu buah pakupun tidak ditemukan sepanjang 40 tahun penggalian di
lokasi tersebut. Aljazeera telah menemukan 70 terowongan Israel di bawah
lokasi Masjis al-Aqsha. Pada tanggal 25 September 2006 telah dibuka Sinagog
di bawah tanah al-Aqsha setelah dibangun selama 10 tahun.

Sementara itu Ketua Harakah Islamiyah di Palestina ’48, Syaikh
Raed Shalah penemu terowongan mengatakan :” Bahwa penggalian yang sudah di
mulai di bawah masjid al-Aqsha sejak tahun 1967 sampai hari ini masih terus
dilakukan, setelah dibangun Sinagog Yahudi di bawah masjid al-Aqsha yang
terdiri dari dua tingkat untuk laki-laki dan wanita (tahun 1996)”. Hadir
dalam pembukaan pembangunan Presiden Israel Moshe Katzav. Syaikh Shalah
menambahkan, penggalian-penggalian itu telah menyebar bercabang-cabang dari
arah bawah masjid dan dengan kedalaman yang berbeda-beda. Penggalian telah
dimulai ke berbagai arah menjauh dari masjid. Mereka menggali terowongan
yang menghubungkan antara terowongan-terowongan yang ada di bawah masjid
dengan kampung Silwan yang berdampingan dengan masjid. Juga dengan
terowongan-terowongan panjang dari bawah masjid hingga ke gedung-gedung
milik tokoh utama Yahudi di Parlemen dan pemerintah. Selain itu juga ke
rumah tokoh-tokoh Yahudi yang melakukan ritual di dalam Sinagog tersebut.

Zionis memang berhasil memenangi perang urat syaraf terhadap
umat Islam. Mereka berhujjah bahwa kawasan suci umat Islam baitul Maqdis
adalah yang terletak di atasnya sementara yang dibawah masjid adalah
miliknya. Dengan hujjah seperti itu umat Islam terpaksa menerimanya dengan
gigit jari dan Israel terus melakukan proyek penggalian. Sesungguhnya negeri
Palestina yang didalamnya terdapat Baitul Maqdis sebagai jantungnya adalah
kota suci umat Islam yang ketiga setelah Mekah dan Madinah. Baitul Maqdis
bukan milik orang Palestina saja walaupun mereka adalah orang-orang yang
paling berhak memilikinya. Tetapi Baitul Maqdis adalah milik setiap orang
Islam dimanapun ia berada dibarat maupun di timur. Ia adalah denyut nadi
akidah kita sebagai penyempurna tiga masjid suci. Sebagaimana sabda Nabi
Muhammad s.a.w : Artinya : “Janganlah kamu bersegera untuk mengadakan
perjalanan kecuali untuk menuju tiga masjid iaitu Masjidil Haram, Masjidil
Aqsa dan Masjidku ini ” al-hadis.

Baitul Maqdis adalah sebagian dari negara Palestina dan bahkan
ia merupakan buah mata dan urat nadinya, ia mempunyai tempat tersendiri
dalam hati umat Islam. Allah SWT telah menerangkan sifat negeri ini dengan
“keberkatan”, Allah SWT mensifatkan Masjidil Aqsa dalam surat  al-Isra’ :
“Yang kami berkati sekelilingnya” (Al-Isra ‘:1). Ketika Allah SWT berfirman
tentang Kekasih-Nya Ibrahim AS: “Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Lut ke
sebuah negeri yang Kami telah memberkatinya untuk sekalian alam” (Al-Anbiya
‘: 71) “Dan Kami jadikan di antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami
limpahkan berkat kepadanya beberapa negeri yang berdekatan dan kami tetapkan
antara negeri-negeri itu (jarak jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di
kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman” (QS,Saba’: 18) dll.

Negeri-negeri yang diberkati Allah ini ialah Syam dan Palestina.
Seorang ulama tafsir, Al-Alusi penulis tafsir Ruhul Ma’ani berkata: “Yang
dimaksudkan dengan negeri-negeri yang diberkati dalam ayat di atas adalah
negeri Syam karena banyaknya pohon-pohon dan buah-buahannya serta keluasan
hidup untuk penduduknya. Berkata Ibnu Abbas: “Ia adalah Baitul Maqdis, dan
berkata Ibnu ‘Atiyyah: “Sesungguhnya para ahli tafsir berijma’ bahwa yang
dimaksudkan di situ adalah Baitul Maqdis”. Allah berfirman, maksudnya :
“Demi (buah) Tin dan (buah (Zaitun) dan demi bukit Sinai dan demi Kota
(Makkah) ini yang aman “(QS,At-Tin:1-3). Bahwa yang dimaksudkan dengan Tin
dan Zaitun adalah tanah dan bumi yang tumbuh padanya Tin dan Zaitun, yaitu
Baitul Maqdis” (Ruhul-Ma’ani, Imam Al-Alusi, 22-129).

Palestina jatuh ke tangan umat Islam pada zaman khalifah Umar
bin al-Khottob. Abu Ubaidah pada masa Khalifah Umar bin Khattab (634-644)
berhasil nenaklukkan Elia (sebutan Yerusalem pada masa itu) dan umat Islam
tidak menerima penyerahan Baitul Maqdis dari orang-orang Yahudi, dan bahkan
ketika itu tidak ada satu orang Yahudi pun yang terdapat di sana. Hal ini
ialah karena orang-orang Romawi telah melarang kewujudan orang-orang Yahudi
di Palestina, semenjak mereka mengakhiri kewujudan Yahudi di sana sejak
lebih dari empat abad. Di antara syarat yang diterima oleh Umar ibnu
Al-Khattab dari Patriak Baitul Maqdis ketika menerima penyerahan kota
tersebut adalah: “Agar Eliya (Baitul Maqdis) tidak dihuni oleh orang-orang
Yahudi” Perjanjian itu dilakukan Khalifah Umar sendiri dan patriark
(pemimpin) Yerusalem yang menyerahkan kunci kota itu kepadanya. Prinsip ini
telah menarik banyak penduduk untuk memeluk Islam. Sejak itu, Palestina
berada dalam kekuasaan Islam di bawah otoritas gubernur Mesir. Penduduknya
menikmati keamanan dan ketenteraman sehingga diinvasi oleh pasukan Salib
tahun 1096. Pasukan salib berhasil menguasai Palestina mulai tahun 1096
-1291 M.

            Sejarah perang Salib telah mencatat untuk kita segala musibah
yang menimpa Kota suci ini ketika ia diduduki oleh tentera Salib, di mana
mereka telah membunuh enam puluh ribu jiwa di dalam masjidnya dan kota ini
tetap tertawan di tangan kaum Salib selama sembilan puluh tahun, sehingga ia
dibebaskan oleh Salahuddin Al-Ayyubi rahimahullah pada tahun 1187 M setelah
mendapatkan kemenangan ke atas tentara Salib dalam pertempuran Hittin yang
masyhur. Sejarah tidak pernah menoleh akan adanya “kewujudan” Yahudi di
Palestin dan sejarah juga tidak memberi perhatian kepada hal itu dan ia
hanya memperlakukan mereka sebagaimana negeri Islam memperlakukan penduduk
Ahluzzimah dengan toleransi, kemurahan, keadilan dan kebaikan.

            Selama 400 tahun Palestina berada di bawah kekuasaan Turki
Usmaniyah. Hal ini dimulai pada 1517 dalam rangka serangan Sultan Salim I
terhadap kerajaan Mamluk Mesir dan berakhir pada 1917/1918. Dalam peran
dunia pertama Inggris merebut kawasan Bulan Sabit (Fertile Crescent) yang
subur dari pendudukan orang Turki Usmani, Palestina diletakkan dibawah
mandat Inggris. Sejak tahun tersebut dan dengan adanya perjanjian Balfour
tahun 1917 Yahudi mulai berdatangan ke Palestina dibawah perlindungan
Inggris.

Penjajahan Yahudi atas Baitul Maqdis. Sejak berdirinya Negara
Israel sehingga pertempuran tahun 1967 (1948-1967): Pemerintahan Israel
terkenal dengan istilah ;Negara dan Terorisme Negara. Pada awalnya setelah
mereka berhasil mendirikan negara pada 1948, banyak kalangan yang
memperkirakan bahwa Israel akan menghentikan secara bertahap bentuk-bentuk
terorismenya. Tetapi ternyata pandangan tersebut meleset, justru pada saat
bersamaan muncul empat buah fenomena berikut; 1) Pembentukan pasukan
pertahanan Israel dari unsur-unsur organisasi terorisme zionisme seperti
Haghana, Balmach, Arghon, Stern dan lain-lain. 2) Para pejabat
organisasi-organisasi terorisme tersebut kemudian menduduki berbagai posisi
penting di pemerintahan Israel. 3) Pasukan Israel yang baru terbentuk ini,
ternyata mempertahankan landasan terorisme sebagai dasar gerakan. 4)
Pemerintah Israel tetap melanjutkan kebijakan terorismenya dalam bentuk
terorisme negara.

Pada Juni 1967 “Perang Enam Hari” Israel melakukan sebuah
operasi yang mirip dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah Fasis Jepang
pada tanggal 7 Desember 1941 atas Pearl Harbour, yang tanpa sesuatu
pernyataan perang menyerang pusat pangkalan Amerika. Pada tanggal 5 Juni
1967, tanpa ada suatu pernyataan perang skwadron-skwadron angkatan udara
Israel menghancur-leburkan angkatan udara Mesir yang masih berada di atas
landasan. Mesir tidak bisa bangkit menyerang Israel karena hampir semua
angkatan udaranya lumpuh.

Kejahatan perang yang mereka lakukan terhadap negara-negara Arab
khususnya Mesir membuahkan hasil yang mereka harapkan. Setelah tahun 1967
tersebut kaum Zionis menduduki sebuah wilayah yang luasnya tiga kali lebih
besar dari pada wilayah yang diberikan pada mereka berdasarkan pembagian
yang ditetapkan pada tahun 1947. Salah satu wilayah caplokan barunya adalah
Tebing Barat, Jalur Gaza dan Baitul Maqdis yang jatuh pada tanggal 8 Juni
1967. Sejak itu pemerintah Israel membangun pemukiman Yahudi secara
besar-besaran dengan bantuan dari Organisasi Zionis Internasional, bank-bank
Yahudi dan berbagai lembaga atau yayasan Yahudi di seluruh dunia. Khusus
terhadap Baitul Maqdis dilakukan peng-Yahudian secara besar-besaran.

Sejak jatuhnya Baitul Maqdis pada Juni 1967, Israel telah
melakukan perbuatan-perbuatan yang keji dan menyakitkan hati umat Islam
terhadap masjid al-Aqsha. 1) Menciptakan ritual baru di dinding Masjid
al-Aqso yang disebut “Dinding Ratapan” satu bentuk peribadatan baru yang
tidak tertulis didalam kitab Taurot, Talmut maupun kitab-kitab kuno para
pemimpin agamanya. Kawasan tersebut dirampas dari umat Islam. 2) Membakar
masjid al-Aqsha pada tahun 1969. 3) Menggali berpuluh-puluh terowongan dan
menciptakan ruang-ruang khusus  untuk ritual, musium dll yang berada tepat
dibawah masjid al-Aqsha. 4) Membangun sebuah kota agama untuk para wisatawan
asing maupun lokal, dan bisa dinikmati oleh para pengunjung khususnya para
generasi muda Yahudi. 5) Israel sengaja membuat kota wisatawan itu dari
batu-batu buruk dan arsitektur klasik yang seakan-akan menggambarkan bahwa
ia telah berusia ratusan tahun, gunanya untuk mengelabuhi para wisatawan dan
khususnya generasi baru Yahudi bahwa Haikal Sulaiman itu memang wujud
dibawahnya. 6) Mengizinkan para wisatawan asing maupun lokal untuk memasuki
masjid al-Aqsha. 7) Melarang umat Islam yang berusia dibawah 44 tahun
memasuki dan solat didalam masjid al-Aqsha. 8) Mendirikan
pemukiman-pemukiman baru bagi warga Yahudi yang dekat dengan masjid dengan
cara merampas tanahnya dari para pemiliknya bangsa Palestina. Sehingga
Masjid al-Aqsha sekarang sudah mulai terkepung dengan pemukiman-pemukiman
baru warga Yahudi. 9) Membangun tempat-tempat maksiyat semisal cafe-cafe
untuk berdansa dan meminum-minuman keras persis di depan mihrab masjid
al-Aqsha.

Pada saat ini Israel terus melakukan bentuk-bentuk aksi terorisme terhadap
bangsa Palestina dan telah berkembang, baik kuantitas maupun kualitas baik
waktu maupun tempatnya. Diantaranya adalah, pembunuhan terencana,
memprovokasi dan menyerang warga Arab dimana saja, penghancuran masjid, bis
dan kendaraan-kendaraan pribadi, rumah dan fasilitas umum, penyiksaan fisik,
embargo ekonomi, penculikan, pembantaian sistematis, pengrusakan areal
pertanian dengan racun maupun bouldoser, membunuh ternak, menghancurkan
pusat-pusat perdagangan, mengebom sarana-sarana umum, meruntuhkan
rumah-rumah penduduk dan lain-lain. Aksi  terorisme yang masih baru adalah
Pengahancuran Jenin, Pembunuhan para tokoh Hamas semisal Ahmad Yasin, Abdul
Aziz Rantisi, pengeboman satu bulan penuh Libanon Selatan, penculikan dan
pemenjaraan 40 ahli dewan dan 35 setingkat camat dan bupati dari Hamas tanpa
adanya satu alasan dan bukti, aksi-aksi ini terus memuncak sehingga hari
ini. Aksi kejahatan yang  paling baru adalah penangkapan 33 tokoh-tokoh
penting Hamas.

Masjid al-Aqsha sekarang telah tertawan oleh kebuasan Israel di
tengah-tengah lalainya bangsa Arab Muslim yang jumlahnya hampir seratus
juta, atau satu milyar umat Islam di seluruh dunia. Al-Quds memerlukan para
mujahid sejati semisal Umar bin al-Khottob yang berhasil membukanya dari
tangan-tangan kolonialis Romawi Timur yang zalim untuk dilestarikan
kesuciannya dijaga kehormatannya sebagaimana dahulu berada dibawah jagaan
para ambiya’. Al-Quds memerlukan pejuang gagah berani semisal Solahuddin
al-Ayyubi yang menyatukan umat Islam sehingga berhasil memerdekakannya dari
tangan-tangan tenara salib yang telah mengotorinya hampir sembilan puluh
tahun. Umat Islam adalah penerus mata rantai risalah perjuangan para ambiya’
dengan akidahnya yang lurus, oleh karena itu sudah tentu mereka yang paling
berhak menjaga kesucian dan kehormatan masjid al-Aqsha tersebut. Kita berdoa
semoga masjid al-Aqsha cepat dikembalikan oleh Allah s.w.t ketangan umat
Islam.

[1] Makalah ditulis oleh DR. Muqoddam Cholil, MA.
Ketua Harian KNRP (Komite Nasional untuk Rakyat Palestina). Dalam rangka
mengingatkan Pendudukan Zionis atas Masjid al-Aqsha pada 8 Juni 1967.

 

Read Full Post »