Feeds:
Posts
Comments

Archive for June 6th, 2007

Kuliah Agama Jarak Jauh

Via Internet, Mengapa Tidak ?!

6 June, 2007

Penjaringan Peminat
UNIVERSITAS MADINAH INTERNASIONAL

Cabang Yogyakarta
Angkatan Pertama, Tahun Ajaran 1428-1429

Kesempatan Emas

Bagi Anda yang tidak berhasil menembus kesempatan kuliah di luar negeri… Bagi Anda yang bersemangat menggali ilmu agama dari ahlinya akan tetapi terbentur biaya… Bagi Anda yang tidak sempat untuk duduk mengkaji kitab para ulama melalui sistem pondok-pondok pesantren yang ada… Bagi Anda yang rindu siraman ilmu syar’i pada jenjang perguruan tinggi…

Syaikh Prof. Dr. Muhammad Khalifah At-Tamimi hafizhahullah salah seorang ulama di kota Madinah Saudi Arabia berrencana membuka Pusat Studi Jarak Jauh via Internet di kota Yogyakarta.

Institusi: Universitas Madinah Internasional
Alamat Pusat: Madinah, Saudi Arabia
Fakultas: Pendidikan Agama Islam
Program Studi: S-1 Syari’ah dan Ma’had Bahasa Arab
Masa Studi: 4 Tahun
Biaya Pendidikan: Gratis *
Kurikulum: Standar Universitas Islam Madinah
Fasilitas: Modul Belajar Jarak Jauh
Metode Belajar: Kuliah Jarak Jauh via Internet

Bagaimana Cara Berpartisipasi ?

Syarat Partisipasi:

Lelaki, muslim, memiliki ijazah SMA atau yang sederajat

Cara berpartisipasi:

  1. Kirim sms ke nomor HP: 0815 687 2536 dengan format: Daftar, Nama Lengkap, Alamat di Yogya, Nama Sekolah Terakhir. Contoh: Daftar, Muhammad Ronal, Pogung Rejo, SMU N 1 Yogyakarta atau Daftar, Muhammad Arifin, Pogung Rejo, Teknik Sipil UGM. Atau dengan mengirimkan format yang sama ke email http://www.muslim.or.id: muslim.or.id@gmail.com
  2. Datang langsung dan mengisi lembar pendaftaran di: Wisma Darul Muslim, depan Masjid Pogung Raya, Yogyakarta (RS. Sardjito ke utara)

Waktu Pendaftaran:

Rabu – Jum’at, 6 – 8 Juni 2007

Informasi Pendaftaran Calon Mahasiswa dan Seleksi

Nantikan pengumuman lebih lanjut…

PANITIA PEREKRUTAN PEMINAT
Universitas Madinah Internasional cabang Yogyakarta

Alamat Sekretariat:
Wisma Darul Muslim, depan Masjid Pogung Raya, Pogung Dalangan SIA XVI RT 8/50, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta. 55281
HP : 0815 687 2536

*) Syarat dan ketentuan berlaku

Advertisements

Read Full Post »

Akad Nikah

di Masjid Ketika Sedang Haid

Rabu, 6 Jun 07 11:02 WIB

Assalamu’alaikum wr wb

Ustadz Ahmad yang dirahmati Allah,

Bolehkah melangsungkan akad nikah di dalam masjid ketika calon isteri sedang haid?

Untuk para tamu, bolehkah menghadiri akad nikah di masjid ketika sedang haid?

Ditunggu jawabannya secepatnya pak ustadz, berhubung dalam waktu dekat ini saya akan melangsungkan pernikahan.

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih

Wassalam

Octa Dwinanda
f3ihung at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Akad nikah memang disunnahkan untuk dilakukan di dalam masjid. Namun masjid tidak boleh dimasuki oleh orang yang sedang dalam keadaan janabah. Di antara mereka yang dalam keadaan janabah adalah para wanita yang sedang dalam keadaan haidh.

Tetapi tidak usah khawatir, karena untuk akad nikah memang tidak diperlukan kehadiran para wanita. Cukup 4 orang laki-laki saja yang harus ada, selebihnya boleh ada dan boleh tidak.

Keempat orang itu adalah:

  1. Calon suami atau wakilnya
  2. Calon mertua laki-laki atau wakilnya
  3. Saksi laki-laki pertama
  4. Saksi lak-laki kedua

Cukuplah keempat orang ini saja yang duduk dalam satu majelis akad nikah. Calon mertua kemudian mengucapkan ijab, misalnya, “Aku nikahkan kamu dengan anak gadisku di fulanah.” Lalu calon suami itu menjawab, “Saya terima”, atau “Saya setuju”, atau “Oke”, atau apapun yang tidak bisa ditafsirkan lain kecuali tanda setuju, maka pernikahan itu sudah sah.

Adapun calon isteri tidak perlu hadir, karena tidak punya peran apapun dalam akad itu. Calon isteri boleh ada di situ kalau mau hadir, tapi boleh juga tidak hadir, misalnya lagi sibuk jalan-jalan di mall, atau di rumah saja, atau bahkan sedang di luar negeri.

Pokoknya tidak ada peran bagi calon isteri untuk ikut dalam akad itu. Karena akad nikah urusan laki-laki, bukan urusan perempuan.

Apalagi dengan semua wanita yang lainnya, termasuk ibu mertua, bibi, eyang, keponakan dan semua tamu undangan, boleh datang dan boleh juga tidak datang, pernikahan sudah sah cukup dengan dihadiri oleh keempat laki-laki dalam daftar di atas.

Haramnya Masjid Bagi Wanita Haidh

Sebenarnya tidak semua bagian masjidharam dimasuki oleh wanita haidh, karena memang tidakbagian masjid menjadi wilayah ‘suci’.

Ada bagian dari masjid yang diikrarkan bukan tempat ‘suci’ dan ‘sakral’. Gampangnya, di masjid pasti ada kamar mandi, tentu kamar mandi bukan wilayah suci. Meski bagian dari masjid.

Demikian juga dengan halaman, selasar, gudang, tempat cuci-cuci sertaruang-ruang tertentu, bisa diikrarkan oleh takmir atau DKM sebagai wilayah di luar kesakralan. Pada wilayah itulah para wanita haidh boleh masuk dan duduk.

Batasannya adalah apa yang diikrarkan oleh takmir atau DKM, itu saja tidak lebih. Maka takmir masjid bisa mengatur bagaimana caranya ada acara akad nikah di masjid tetap bisa berjalan khidmat, lalu para wanita haidh tetap bisa ikut acara, meski dari luar area suci.

Ini akan kembali kepada pintar-pintarnya si takmir untuk mengatur posisi ruangan di masjid. Kalau pintar, insya Alllah bisa disiasati, kalau kurang pintar apalagi awam dengan hukum masjid, maka tentu amat disayangkan.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

Kemaluan Isterinya?

Bolehkah Suami Melihat

Rabu, 6 Jun 07 11:00 WIB

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Ustadz, saya ada beberapa pertanyaan, semoga dapat memberikan peningkatan pemahaman keIslaman saya, dan menjadi amal kebaikan bagi ustadz.

Sejauh mana suami dapat melihat aurat isterinya, apakah di bolehkan melihat suami melihat seluruh tubuh isteri termasuk alat kemaluanya(karena ada hadis yang saya baca, seseorang melihat kemaluan lawan jenisnya akan menyebabkan kebutaan) begitu pun isteri terhadap suami.

Terimakasih ustadz.

Boy

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Tujuan dari pernikahan itu selain urusan kebutuhan batin, juga kebutuhan biologis. Untuk itu maka jima’ dan segala bentuk percumbuannya dihalalkan untuk pasangan suami isteri. Kecuali yang secara tegas diharamkan, seperti melakukan seks lewat dubur dan lainnya.

Dan salah satu konsekuensi kehalalan jima’ itu adalah tidak adanya lagi batas-batas aurat antara suami dan isteri. Seorang suami boleh melihat semua bagian tubuh isterinya, termasuk kemaluannya, sebagaimana seorang isteri boleh melihat semua bagian tubuh isterinya.

Allah SWT telah menghalalkan hal itu dalam salah satu firman-Nya:

نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُواْ حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُواْ لأَنفُسِكُمْ وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُواْ أَنَّكُم مُّلاَقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. (QS. AL-baqarah: 223)

Allah SWT telah menggambarkan dengan indahnya kehalalan itu dengan ungkapan bahwa suami adalah pakaian buat isterinya. Begitu juga isteri, merupakan pakaian buat suaminya.

Pakaian itu untuk menutup aurat, sedangkan pakaian itu bersentuhan langsung dengan aurat itu sendiri. Kalau disentuh saja boleh, apalagi dilihat.

Adalah sebuah ijtihad yang aneh ketika kalau membolehkan memegang tetapi mengharamkan untuk melihatnya. Bukankah dhararnya lebih besar ketika memegang dari pada sekedar melihat? Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi.

Adapun hadits yang menyebutkan kebutaan bila melihat kemaluan isteri atau suami, adalah hadits yang dipertanyakan oleh para ulama. Syiekh Nashiruddin Al-Albani bahkan sudah memvonisnya sebagai hadits palsu (maudhu’) yang tidak ada dasarnya dari Rasulullah SAW. Karena itu tidak bisa dijadikan dasar untuk mengharamkan, karena Rasulullah SAW tidak pernah mengatakannya.

Bunyi hadits palsu itu adalah sebagai berikut:

“Apabila seorang dari kalian menjimak isterinya atau budak wanitanya, maka jangan melihat kepada kemaluannya, karena yang demikian dapat menyebabkan kebutaan.”

Hadits ini maudhu’ dan dijelaskan oleh Ibnul Jauzi dalam kitab al-Maudhu’at dari riwayat Ibnu Adidengan sanad dari Hisyam bin Khalif, dari Buqyah, dari Ibnu Juraij, dari Atha, dari Ibnu Abbas r.a.

Ibnul Jauzi berkata, “Menurut Ibnu Hibban, Buqyah dahulunya suka meriwayatkan dari para pendusta dan suka mencampur-aduk perawi sanad, banyak mempunyai sahib dhu’afa dalam meriwayatkan hadits. Riawat ini boleh jadi merupakan salah satu yang diriwiyatkan dari sanad yang dha’if, yaitu Ibnu Juraij, kemudian di-tadlis-kan (campur aduk). Hadits ini adalah maudhu’.

As-Suyuthi dalam kitabnya al-La’ali II/170 menegaskan pernyataan Ibnu Abi Hatim yang mengutip dari ayahnya yang menyatakan persis seperti pernyataan Ibnu Hibban.

Penilaian di atas dari segi sanadnya.

Adapun dari segi maknanya, jugabertentangan dengan hadits sahih yang ada dalam Shaihi Bukhari, Shaih Muslim serta dan beberapa kitab sunan lainnya,

Dalam banyak hadits shahih disebutkan bahwa Aisyah r.a. mandi bersama dengan Rasulullah saw. dengan bergantian gayungnya, dan bahkan disebutkan saling berebutan gayung. Hadits tersebut dengan jelas menunjukkan pembolehan suami isteri saling melihat kemaluan masing-masing, baik dalam keadaan mandi bersama atau ketika bersetubuh.

Yang lebih menguatkan hal ini adalah Ibnu Hibban dari sanad Sulaiman bin Musa bahwasanya ia ditanya tentang seorang suami yang melihat kemaluan isterinya, maka ia menjawab, “Aku tanyakan kepada Atha, maka ia menajawab, ‘Aku tanyakan kepada Aisyah r.a., maka ia menjawab seraya menyebutkan hadits.’”

Demikianlah penjelasan Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari I/190. Ia berkata, “Inilah nash tentang pembolehan suami melihat kemaluan isterinya, atau sebaliknya, yakni sang isteri melihat kemaluan suaminya.”

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

Mengusap Kepala

dan Membersihkan Hidung

Rabu, 6 Jun 07 10:25 WIB

Assalamu’alaykum wr wb.

Pak Ustadz, pada saat ber-wudlu ana melihat sebagian jamaah hanya menyipratkan air ke rambut bagian depan (ubun-ubun) bukan mengusap seluruh kepala, juga hanya membasahi hidung dengan air bukan memasukan air kedalamya, sebetulnya manakah yang lebih rojih dari kasus tersebut.

Terima kasih atas penjelasannya.

Wassalamu’alaykum wr wb.

Mas Wiryo

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Perintah untuk mengusap kepala memang ada di dalam ayat Al-Quran, bunyinya:

وامسحوا برؤسكم

Maka usaplah(dengan air) kepalamu (QS. Al-Maidah: 6)

Kalau melihat contoh dari praktek nabi SAW, beliau melakukan pengusapan dengan beberapa cara yang berbeda. Salah satu di antaranya adalah dengan meletakkan kedua tapak tangan di atas ubun-ubun, lalu menggerakkannya ke arah belakang kepala. Dan beliau lakukan sekali saja, tidak tiga kali.

عَنْ عَلِيٍّ-فِي صِفَةِ وُضُوءِ اَلنَّبِيِّ صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالَ: { وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ وَاحِدَةً. } أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد َ

Dari Ali bin Abi Thalib ra tentang sifat wudhu’ Nabi SAW berkata, “Dan beliau menyapu kepalanya sekali saja. (HR Abu Daud)

وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ يَزِيدَ بْنِ عَاصِمٍ -فِي صِفَةِ اَلْوُضُوءِ- قَالَ: وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ, فَأَقْبَلَ بِيَدَيْهِ وَأَدْبَرَ. } مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ

Dari Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim tentang wudhu’ nabi, berkata, “Dan beliau mengusap kepalanya kemudian meletakkan tangannya di bagian depan kepala lalu menggesernya ke bekalang. (HR Bukhari Muslim)

وَفِي لَفْظٍ: { بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ, حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ, ثُمَّ رَدَّهُمَا إِلَى اَلْمَكَانِ اَلَّذِي بَدَأَ مِنْهُ

Dalam lafadz yang lain, “Beliau memulai mengusap dari depan kepalanya lalu membawa kedua tangannya itu ke bagian belakang kepala (qafa), kemudian mengembalikan kedua tangannya ke tempat semula.

Yang dimaksud dengan mengusap adalah meraba atau menjalankan tangan ke bagian yang diusap dengan membasahi tangan sebelumnya dengan air. Sedangkan yang disebut kepala adalah mulai dari batas tumbuhnya rambut di bagian depan/ dahi ke arah belakang hingga ke bagian belakang kepala.

Perbedaan Cara Mengusap Kepala di Antara Beberapa Mazhab

Dari sekian banyak dalil, para ulama kemudian berijtihad untuk menarik kesimpulan. Memang ada sedikit perbedaan dalam kesimpulan yang dikemukakan oleh masing-masing, namun perbedaan itu cukup manusiawi dan wajar, mengingat tiap dalil memberikan keterangan yang sedikit berlainan.

Katakanlah misalnya mazhab Al-Hanafiyah, mazhab inimengatakan bahwa yang wajib untuk diusap tidak semua bagian kepala, melainkan sekadar bagian dari kepala. Yaitu mulai ubun-ubun dan di atas telinga.

Lain halnya dengan mazhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah, mereka tetap berpendapat untukmengatakan bahwa yang diwajib diusap adalah seluruh bagian kepala. Bahkan Al-Hanabilah mewajibkan untuk membasuh juga kedua telinga baik belakang maupun depannya. Sebab menurut mereka kedua telinga itu bagian dari kepala juga.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah: Dua telinga itu bagian dari kepala. Namun yang wajib hanya sekali saja, tidak tiga kali.

Lain lagi dengan pendapat dari kalangan mazhab Asy-syafi`iyyah. Mereka mengatakan bahwa yang wajib diusap dengan air hanyalah sebagian dari kepala, meskipun hanya satu rambut saja.

Tentu saja mazhab ini tidak asal ngomong, tetapi berangkat dari dalil yang kuat, setidaknya menurut mereka. Dalil itu antara lain adalah hadits Al-Mughirah:

Bahwa Rasulullah SAW ketika berwudhu` mengusap ubun-ubunnya dan imamahnya (sorban yang melingkari kepala).

Maka apa yang anda lihat itu sesungguh tidak menyalahi pendapat-pendapat yang ada di kalangan ulama. Kalau pendapat itu benar, ulama itu akan mendapat 2 pahala, tetapi kalau salah, hanya dapat satu pahala saja. Tetapi kita tidak boleh mengatakan bahwa cara itu sesat atau tidak sesuai dengan sunnah nabi SAW.

Memasukkan Air Ke Hidung

Yang disunnahkan bukan mencuci ujung hidung, melainkan memasukkan air ke hidung dan kemudian mengeluarkannya. Memasukkan air ke hidung disebut istinsyaq dan mengeluarkannya disebut istintsar. Keduanya bagian dari sunnah wudhu.

Dalilnya adalah sebagai berikut:

وعَنْ حُمْرَانَ أنَّ عُثْمَانَ دَعَا بَوَضُوءٍ فَغَسَل كَفَّيْهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَق وَاسْتَنْثَرَ (الاستنثار هو إخراجُ ما في الأنف من مخاط وغيره)، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ اليُمْنَى إِلَى المِرْفَقِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ اليُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ اليُمْنَى إِلَى الكَعْبَيْنِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ اليُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِيْ هَذَا، مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Dari Humran ra bahwa Utsman ra meminta dibawakan seember air, kemudian beliau mencuci kedua tapak tangannya tiga kali, kemudian berkumur-kumur, kemudian memasukkan air ke hidung, kemudian mengeluarkannya. Lalu beliau membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh tangannya yang kanan hingga siku tiga kali, kemudian tangan yang kiri demikian juga, kemudian mengusap kepalanya, kemudian mencuci kaki kanannya hingga mata kaki tiga kali, kemudian kaki kiri sedemikian juga, kemudian beliau berkata, “Aku telah melihat Rasulullah SAW berwudhu sebagaimana wudhu’-ku ini. (HR Muttafaq ‘alaihi)

Sedangkan mencuci ujung hidung atau bagian luar hidung bukan termasuk sunnah dalam berwudhu’. Lagian sudah dibersihkan saat membasuh wajah. Jadi buat apalagi dibersihkan?

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »