Feeds:
Posts
Comments

Archive for May 25th, 2007

Mensikapi Perbedaan Pendapat

dan Memilih yang Paling Ringan

Jumat, 25 Mei 07 09:44 WIB

Assalamu ‘alaikum.wr. wb.

Ustad saya ingin bertanya tentangbagaimanakah sikap seorang muslim dalam menghadapi perbedaan fatwa dari beragam mazhab itu? Dan bolehkah kita selalu memilih pendapat yang paling ringan

Terimakasih

A

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebuah kenyataan yang tidak mungkin dipungkiri, bahwa para ulama seringkali berbeda pendapat dalam masalah furu’ (cabang) dalam bidang fiqih. Bahkan kita mengenal ada beberapa mazhab fiqih dalam Islam, 4 di antaranya dikaitkan sebagai mazhab-mazhab yang besar.

Lalu bagaimanakah sikap seorang muslim dalam menghadapi perbedaan fatwa dari beragam mazhab itu. Dalam hal ini ada beberapa pendapat ulama ushul. Berikut uraian singkat tentang masalah ini:

  1. Kebanyakan pengikut Syafii: Manusia boleh memilih pendapat yang mana saja dari pendapat yang ada sebab ijma’ sahabat tidak mengingkari orang beramal dengan pendapat orang bukan lebih utama dari pada pendapat yang lebih utama.
  2. Pendapat ahli dlahir dan Hanbali: seseorang mengambil pendapat yang lebih keras dan berat.
  3. Seseorang harus mengambil pendapat yang paling ringan.
  4. Seseorang harus mencari pendapat imam yang paling luas ilmunya untuk diikuti.
  5. Seseorang harus mengikuti pendapat pertama kali muncul.
  6. Seseorang harus pendapat yang didasarkan pada riwayat bukan pendapat.
  7. Seseorang harus berijtihad sendiri.
  8. Jika suatu masalah terkait dengan hak Allah maka ia mengambil pendapat yang paling ringan dan jika masalah terkait dengan hak manusia maka ia harus mengambil pendapat yang paling berat. Ini pendapat yang dipegang oleh Abu Mansur Al-Maturidi.

Memilih Hanya Pendapat Yang Paling Ringan

Bila memang umat Islam yang awam boleh memilih pendapat-pendapat yang ada di dalam tiap mazhab, apakah dibolehkan bila seseorang melakukan tatabu’ ar-rukhash, yaitu mencari dan memilih hanya pendapat-pendapat yang paling ringan dari semua mazhab? Dan meninggalkan sebuah pendapat dari siapapun, bila dianggapnya memberatkan?

Mengenai tatabbu’ ar-rukhash, ada beberapa pendapat di kalangan para ulama, antara lain: Tidak boleh memilih pendapat-pendapat yang ringan saja karena ini kecenderungan hawa nafsu dan syariat Islam melarang untuk mengikuti hawa nafsu.

1. Pendapat Hanabilah, Malikiyah, dan Ghazali:

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (An Nisa: 59)

Berarti tidak sah mengembalikan perkara yang diperselisihkan kepada hawa nafsu namun dikembalikan kepada syariat.

Ibnu Abdul Barr berkata, “Ijma’ mengatakan, tidak boleh seorang awam memilih pendapat-pendapat yang ringan-ringan, ”

2. Penegasan madzhab Hanabilah:

Jika dua orang mujtahid sama kwalitasnya menurut orang yang meminta fatwah namun jawabannya berbeda maka ia memilih pendapat yang paling berat. Sebab dalam riwayat Tirmizi mengatakan, “Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah Ammar ketika dihadapkan kepada dua perkara melainkan ia memilih yang paling berat di antara keduanya, ” Tirmizi mengatakan hadis ini Hasan Gharib.

3. Penegasan Malikiyah:

Dilarang memilih pendapat-pendapat yang ringan saja dalam semua masalah yang ia hadapi. Bahkan sebagian kelompok madzhab ini mengatakan orang yang hanya memilih-milih pendapat ringan termasuk fasik. Yang lebih baik adalah dengan memilih yang paling berat sebagai langkah untuk berhati-hati, sebab orang yang agamanya kuat ia bersifat wara’ dan orang yang agamanya lemah ia mencari-cari yang bid’ah.

4. Pendapat sebagian besar Imam Syafii dan Imam Hanbali:

Boleh seseorang mengikuti dan memilih-milih yang ringan-ringan dalam pendapat madzhab karena dalam syariat tidak ada yang melarang melakukan itu. Sejumlah hadis baik sunnah fi’liyah (perbuatan) atau perkataan (qauliyah). Disebutkan dalam sebuah hadis, “Tidaklah Rasulullah saw. memilih antara dua perkara kecuali ia memilih yang paling ringan selama bukan dosa, ”

Dalam shahih Bukhari disebutkan, “Rasulullah saw. mencintai yang meringankan bagi umatnya, “(HR Bukhari)

Beliau bersabda, “Aku diutus dengan (agama) yang lurus lagi ringan, ” (HR Ahmad)

Hadis lain,

“Agama ini mudah dan tidaklah seseorang memperberat agama ini kecuali ia akan kalah, ” (HR Bukhari dan Nasai)

Hadis lain,

“Sesungguhnya Allah mewajibkan sejumlah kewajiban-kewajiban, memberikan tuntutan sunnah-sunnah (anjuran yang tidak bersifat wajib), menetapkan hukuman-hukuman, menghalalkan yang haram, menghalalkan yang haram, memberikan syariat agama dan dijadikannya mudah, luwes dan leluasa dan tidak dijadikan sempit, ” (HR Thabrani)

Asy Sya’bi mengatakan, “Tidak seseorang diberi dua pilihan dan memilih yang paling mudah kecuali itu lebih dicintai oleh Allah, ”

Al-Qarafi (Malikiyah) mengatakan, “Boleh memilih pendapat-pendapat ringan dengan syarat tidak menyebabkan perbuatan yang batil menurut semua madzhab.”

Namun batasan yang diberikan oleh Al-Qarafi ini tidak memiliki landasan nash atau ijma’ seperti yang ditegaskan oleh Al-Kamal bin Hammam, “Jika seseorang boleh berbeda dengan sebagian mujtahid dalam semua tindakannya, maka tentu juga boleh berbeda dalam sebagian tindakannya.

Adapun ucapan Ibnu Abdul Barr yang mengatakan, “Ijma’ mengatakan, tidak boleh seorang awam memilih pendapat-pendapat yang ringan-ringan, ” kutipan ijma’ ini tidak sah.

Sementara pemberian status fasiq terhadap orang yang memilih pendapat-pendapat ringan sebenarnya dalam madzhab Hanabilah ada dua riwayat. Al-Qadli Abu Ya’la menafsirkan bahwa fasiq adalah bukan orang yang mutawwil dan bukan muqallid. Sebagian Hanabilah mengatakan, “Jika dalilnya kuat atau ia awam maka ia tidak fasik.

Kesimpulan:

Dasar dari mengambil (memilih) pendapat-pendapat yang ringan adalah sesuatu yang dicintai oleh Islam, agama Islam ini mudah, tidak ada dalam agama Islam ini kesulitan. Seharusnya memang seorang muqallid (taklid) tidak bertujuan memilih-milih pendapat ringan dalam setiap masalah yang ia hadapi dan setiap urusan agamanya, ”

Namun hal ini diboleh tetap dengan syarat memalingkan seseorang dari syariat Islam. Menurut pendapat Syatibi: Seorang muqallid harus melakukan tarjih sebatas kemampuannya dan mengikuti dalil yang paling kuat. Sebab syariat dalam urusan nayata mengembalikan kepada satu perkataan, maka seorang muqallid tidak boleh memilih-milih di antara pendapat yang ada. Sebab jika ini terjadi berarti ia mengikuti pendapat sesuai dengan hawa nafsunya.

Asy-Syathibi melanjutkan, “ada beberapa hal-hal negatif akibat memilih pendapat-pendapat ringan:

  1. Mengklaim bahwa perbedaan ulama adalah hujjah (alasan) untuk memilih yang boleh sehingga tersebar di antara manusia bahwa yang dilakukannya boleh padahal sebenarnya masalah itu masih diperdebatkan ulama.
  2. Prinsip pembolehan ini menyeret seseorang untuk meninggalkan dalil dan mengikuti perbedaan. Padahal kita diperintahkan mengikuti dalil.
  3. Memberikan kesan seakan agama Islam tidak disiplin seperti meninggalkan yang jelas dalilnya memilih sesuatu yang belum jelas dalilnya karena kebodohan dengan hukum-hukum madzhab lainnya.
  4. Prinsip ini bisa menjerumuskan seseorang untuk menjauhkan seseorang dari hukum-hukum syariat secara keseluruhan, karena ia memilih yang ringan-ringan saja padahal beban-beban syariat secara umum itu berat.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Advertisements

Read Full Post »

Termasuk Mushaf?

Apakah Aplikasi Qur’an Pada Ponsel

Rabu, 23 Mei 07 07:44 WIB

Assalaamu ‘alaikum Pak Ahmad,

Saya ingin bertanya mengenai beberapa hal, yaitu:

1. Apakah aplikasi Al-Qur’an pada ponsel termasuk juga mushaf Al-Qur’an?

2. Bolehkan kita menjawab salam, walaupun tanpa menyebut nama Allah ketika kita sedang berada di dalam WC?

3. Bolehkan kita membaca ayat-ayat Al-Qur’andi dalam hati ketika kita sedang berada di dalam WC? Sebab kebetulan saya cukup sering mengakses eramuslim via ponsel ketika saya berada di WC.

Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

Wassalaam,

Boymuh

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

1. Aplikasi Al-Quran di HP atau PDAapakah merupakanMushaf?

Aplikasi Al-Quran di HP atau PDA adalah mushaf ketika sedang diaktifkan. Sedangkan ketika sedang tidak diaktifkan, maka dia bukan mushaf.

Dan fenomena ini tidak pernah terjadi di masa nabi Muhammad SAW. Di zaman itu, yang namanya mushaf pasti berbentuk benda yang tertulis di atasnya. Baik terbuat dari kulit, pelepah kurma, tulang, batu dan seterusnya.

Handphone, PDA, smartphone, laptop, PC, tablet, mp3 player, ipod, dopod dan semua alat modern yang bisa diinstall program Al-Quran, jelas tidak pernah ada di zaman nabi.

Namun demikian, benda-benda itu tidak pernah disebut sebagai mushaf Al-Quran, kecuali pada saat program aplikasi Al-Quran di dalamnya diaktifkan. Saat itulah benda-benda itu berfungsi sebagai mushaf Al-Quran. Begitu dimatikan, wujudnya berubah lagi seperti semula.

Secara logika dan nalar sederhana, seharusnya saat di dalam WC kita tidak mengaktifkannya, karena saat itu benda-benda itu berubah wujud menjadi mushaf. Kira-kiraqiyasnya mirip dengan otak kita. Di dalam memori otak kita pasti ada ‘file-file’ Al-Quran, dan selama file-file itu tidak diaktifkan dalam bentuk dibunyikan lewat mulut, maka kita boleh masuk WC. Sebaliknya, kita tidak boleh masuk WC sambil membacakan hafalan Quran yang ada di otak kita sendiri. Biarkan saja file-file itu diam sementara di otak, jangan diaktifka kecuali setelah kita keluar WC. Memangnya tidak ada waktu-waktu lain?

Secara adab, kita memang dilarang untukmembawa dan membaca tulisan yang mengandung nama Allah SWT atau nama yang diagungkan seperti nama para malaikat. Atau nama nabi SAW.

Dalilnya adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW bila masuk ke tempat buang hajat, beliau mencopot cincinnya. Sebab di cincin itu terukir kata “Muhammad Rasulullah.”

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ إِذَا دَخَلَ اَلْخَلَاءَ وَضَعَ خَاتَمَهُ أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ, وَهُوَ مَعْلُول

Dari Anas bin Malik ra berkata bahwa Rasulullah SAW bila masuk ke WC meletakkan cincinnya. (HR Arba’ah)

2. Dilarang Berbicara Saat Buang Hajat

Di antara adab buang hajat adalah kita dilarang melakukannyasambil berbicara, apalagi menjawab salam. Dalilnya adalah hadits berikut ini

وَعَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ إِذَا تَغَوَّطَ اَلرَّجُلَانِ فَلْيَتَوَارَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَنْ صَاحِبِهِ, وَلَا يَتَحَدَّثَا. فَإِنَّ اَللَّهَ يَمْقُتُ عَلَى ذَلِكَ رَوَاهُ

Dari Jabir bin Abdillah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bila dua orang di antara kamu buang air, hendaklah saling membelakangi dan jangan berbicara. Karena sesunguhnya Allah murka akan hal itu.

3. Mengkses Eramuslim di WC

Mengangkses eramuslim.com pakai handphone memang menarik dan sangat praktis, tetapi hindari melakukannya bila di dalam WC, terutama halaman-halaman yang mengandung ayat Al-Quran.

Kalau sekedar membaca berita dunia atau berita nasional, mungkin tidak masalah, tetapi jawaban di rubrik ini seringkali mengutip ayat Al-Quran, hadits atau pun hal-hal suci lainnya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »

Akad Nikah Ulang?

Apakah Kami Perlu

Jumat, 25 Mei 07 06:57 WIB

Assalamualaikum wr. Wb

Begini pak ustad. saya dulu menikah karena kecelakaan. Dan untuk menutupi aib nikah waktu ituada kandungan 2 bulan. saya sekarang bermasalah serius dengan isteri saya dan dia meminta cerai. Tapi saya tidak menginginkannya. setelah saya baca-baca buku perlu nikah lagi karena nikah waktu itu ada kandungannya jadi tidak syah katanya dan kedua-duanya harus dalam keadaan bertobat.

Kalau nikah yang kedua tidak bertobat dahulu kedua-duanya apakah pernikahannya akan syah?

Abiy

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Barangkali kali pemahaman yang anda dapat perlu sedikit diluruskan agar tidak terjadi salah paham.

Sebenarnya keharaman menikahi wanita yang sedang dalam hamil hanya berlaku buat laki-laki yang tidak menghamilinya. Misalnya, hamil karena berzina dengan A lalu yang menikahinya malah si B. Ini jelas haram, karena seseorang diharamkan menyirami tanaman yang sudah disirami orang lain.

Sedangkan bila yang menikahinya justru laki-laki yang menghamilinya, maka pernikahan itu sah dan tidak perlu diulang lagi. Sebab yang menyiraminya adalah dirinya sendiri. Dari mana datangnya keharaman?

Di sisi lain, kalau pernikahan saat kehamilan dianggap tidak sah, berarti selama ini anda berdua tetap terus berzina, sebagai pasangan suami isteri. Tentu logika ini sangat bertentangan dengan akal dan syariah.

Mana mungkin agama Islam membolehkan sepasang laki dan perempuan hidup serumah tanpa ikatan pernikahan yang sah?

Maka kita tidak boleh mengatakan bahwa pernikahan anda berdua dahulu tidak sah, apalagi sampai harus diulang. Yang benar adalah bahwa pernikahan anda bila terpenuhi rukun dan syaratnya tentu sah 100%, baik dalam pandangan agama, apalagi dalam pandangan hukum lokal (baca:kompilasi hukum Islam) di Indonesia.

Adapun terjadinya perselisihan antara anda berdua sebagai pasangan suami isteri, atau keinginan isteri anda untuk minta cerai, sama sekali tidak ada kaitannya dengan sah atau tidaknya pernikahan. Ada begitu banyak faktor lain yang berpengaruh di dalam sebuah perselisihan rumah tangga. Tapi yang jelas bukan karena pernikahan itu tidak sah.

Maka silahkan selesaikan masalah perselisihan di antara anda berdua dengan cara yang baik. Mengalah di awal biasanya seringkali menjadi jalan terbaik untuk bisa mendapatkan kesuksesan di kemudian hari.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat,

 

Read Full Post »

MUI

Vonis Murtad dan Mahkamah Syari’ah

Rabu, 23 Mei 07 07:04 WIB

Assalamu’alaikum

Dalam jawaban Pak Ustadz atas sebuah pertanyaan berjudul “Keluar dari Suatu Jamaah, Murtadkah Saya?”,

eramuslim. Com/ustadz/pol/45617b28. Htm

Pak Ustadz sebutkan bahwa:

Vonis murtad kepada seseorang tidak bisa langsung dikeluarkan saat itu juga, harus menunggu ada ketetapan resmi dari pengadilan syariah. Pengadilan syariah ini harus diselenggarakan oleh lembaga formal atas nama negara Islam yang berdaulat. Bukan pengadilan jalanan atau pengadilan swasta.Status kemurtadan seseorang harus berdasarkan sebuah ketetapan hukum positif yang tetap dan dikeluarkan oleh negara Islam yang berdaulat.

Yang ingin saya tanyakan adalah apakah MUI sudah termasuk dalam kategori Mahkamah/Pengadilan Syari’ah. Kalau memang iya bukankah Indonesia bukanlah negara Islam yang berdaulat? Jadi, apakah fatwa-fatwa MUI tentang murtadnya Ahmadiyah itu bisa dikatakan tidak sah atau bagaimana?

Selain itu, kalau boleh saya ingin sekali Pak Ustadz memberikan contoh tentang Mahkamah/Pengadilan Syari’ah yang memang diselenggarakan oleh lembaga formal atas nama negara Islam yang berdaulat! Apakah ada di Mesir, Arab Saudi?

Wassalam

Fulanto

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Majelis Ulama Indonesia merupakan janin atau cikal bakal dari sebuah mahkamah syar’iyah, namun belum bisa dikatakan sepenuhnya berfungsi. Karena belum bisa mengeluarkan vonis dengan diiringi eksekusi hukumannya.

Karena negara ini tidak memberikan wewenang itu kepada MUI, sehingga MUI tidak bisa dikatakan sebagai lembaga peradilan. Mahkamah Syar’iyah yang sesungguhnya pasti punya hak untuk melakukan eksekusi mati kepada penjahat syariah.

Dari segi perundangan, negara kita tidak memberikan hak kepada MUI untuk menjadi sebuah mahkamah syar’iyah dengan segala wewenang dan fungsi utamanya.

Maka semua fatwa yang dikeluarkan MUI tidak pernahmengikat secara hukum kepada warga negara dan tidak punya kekuatan hukum secara positif.

Fatwa Haramnya Bunga Bank

Sebagai contoh, ketika MUI mengharamkan bunga bank bagi umat Islam, seharusnya semua umat Islam yang masih saja menabung di bank konvensional harus diadili dan dihukum setimpal, karena bank konvensional melanggar syariah Islam.

Tetapi nyatanya, semua bank konvensional tetap saja dibolehkan beroperasi di tengah umat Islam. Bank-bank konvensional masih berjalan dan bahkan dimiliki oleh orang-orang yang nota bene beragama Islam, demikian juga dengan para direksi, manager dan karyawannya, kebanyakan beragama Islam. Dan yang pasti, nasabahnya juga beragama Islam.

Lalu di mana fatwa MUI tentang haramnya bunga bank? Rasanya tidak ada konsekuensi hukumnya.

Kalau MUI diberi wewenang dan berfungsi sebagai mahkamah syar’iyah, maka MUI bersama pihak keamanan berhak menangkapi semua orang Islam yang masih saja berinteraksi dengan bank-bank konvensional.

Fatwa Haramnya Natal Bersama

Demikian juga dengan fatwa MUI tentang haramnya umat Islam melakukan perayaan natal bersama dengan pemeluk agama lain. Fatwanya sudah tegas dan bisa dibaca di semua media. Tetapi nyatanya, masih saja umat Islam bercampur baur ikut masuk gereja atau ikut misa bersama. Bahkan ketika Gusdur ikut misa natal bahkan didoakan oleh ribuan umat Kristiani, toh dia aman-aman saja dan masih menghirup udara bebas. Tidak ada sanksi atau sejenisnya.

Jangankan buat umat Islam, buat seorang Gusdur pun sebuah lembaga semacam MUI sama sekali tidak dihormati. Kalau orang yang dianggap lebih mengerti agama bebas melanggar fatwa MUI, apalagi dengan jutaan umat Islam lainnya yang awam.

Fatwa Sesat Ahmadiyah

MUI dalam fatwanya pada tahun 1980 telah secara tegas menyatakan kesesatan gerakan Ahmadiyah. Anda bisa baca fatwa itu di situs resmi MUI http://www.mui.or.id/mui_in/fatwa.php? Id=33

Tetapi tetap saja aliran Ahmadiyah itu dibiarkan berkeliaran oleh aparat keamanan. Seolah-olah aparat keamanan ‘bego-bego’ semua dan cuek bebek dengan fatwa Majelis Ulama yang mulia itu. Entah karena mereka tidak tahu, atau malah tidak mau tahu.

Atau boleh jadi karena para aparat itu tidak menganggap MUI sebagai lembaga resmi pemerintahan yang berhak untuk mengeluarkan keputusan hukum positif yang mengikat.

Dan ternyata justru negara ini secara resmi telah memberi status hukum formal atas keberadaan aliran sesat ini sebagai badan hukum berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehakiman RI No. JA/23/13 tanggal 13-3-1953 (Tambahan Berita Negara: tangga131-3-1953 No. 26).

Maka apa yang divonis kafir oleh MUI dibantah oleh negara ini bahkan malah membolehkan gerakan kafir ini hidup di negeri kita dengan mengatas-namakan diri mereka sebagai pemeluk agama Islam.

Akibatnya, umat Islam bergerak sendiri-sendiri. Ketika ada sebagian kecil yang terjebak tindak anarkis, saat itulah diblow-up oleh jaringan media yang memang pada dasarnya sangat ‘sirik’ kepada umat Islam. ‘Sirik’ di sini bukan menyekutukan Allah, tetapi jaringan media nasional di negeri kita secara mayoritas memang dimiliki dan diisi oleh para jurnalis yang meski beragama Islam, tetapi berfikrah liberalis alias anti Islam. Setidaknya itulah yang bisa kita rasakan sebagai umat.

Walhasil, fatwa tinggal fatwa, anjing terus saja menggonggong dan kafilah jalan terus. Di mata mereka, MUI tidak lebih dari macan ompong yang diikat dan dikurung di dalam kandang untuk dijadikan tontonan anak kecil. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »