Feeds:
Posts
Comments

Archive for May 9th, 2007

Nikah Tanpa Dihadiri

Orang Tua Kandung Isteri

Jumat, 4 Mei 07 10:12 WIB

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Bpk ustadz yang dirahmati Allah SWT

Saya ingin bartanya tentang sesuatu yang selalu mangganjal dalam hidup sya.

Dulu sewaktu saya menikah, yang menikahkan adalah wali nikah dan disaksikan oleh ayah tiri dari isteri saya., tanpa dihadiri oleh ayah kandung dari isteri saya. Yang ingin saya tanyakan adalh, apakah pernikahan saya tetap sah menurut hukum agama maupun huku pemerintah, dikarenakan ayah kandung isteri saya tidak diketahui keberadaannya.

Terima kasih ustadz

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh.

Hamba Allah

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kehadiran ayah kandung pengantin wanita dalam sebuah akad nikah bukanlah suatu syarat.Asalkan ada orang yang telah ditunjuk untuk menjadi wakil baginya. Dan wakil itu boleh siapa saja. Yang penting telah memenuhi syarat sebagai wali.

Syarat sebagai wali nikah adalah Islam, berakal, baligh, laki-laki dan merdeka. Ditambah satu lagi, yaitu adil. Maka siapa pun orang yang telah memenuhi kriteria itu bisa menjadi wakil wali nikah.

Namun ayah kandung itu harus memberikan mandatnya kepada wakil yang ditunjuknya secara syar’i. Dan orang yang akan menjadi wakil itu tidak boleh begitu saja ‘merampas’ perwalian dari ayah kandung yang asli.

Bila pemberian wewenang itu telah benar-benar diberikan, maka wakil yang telah ditunjuk itu berhak dan berwenang untuk melaksanakan akad nikah. Sementara ayah kandungnya sendiri tidak wajib hadir dalam akad nikah itu.

Dan di dalam pernikahan itu hanya dibutuhkan 4 orang saja:

  1. Calon suami
  2. Wali dari pihak calon isteri
  3. Saksi pertama (laki-laki)
  4. Saksi kedua (laki-laki)

Selebihnya, mau hadir atau tidak hadir, tidak berpengaruh pada wilayah sah atau tidaknya sebuah akad nikah. Ini hanya dari sisi hukum fiqih.

Adapun dari segi kewajaran dan etika pergaulan, seharusnya semua keluarga itu hadir. Demi untuk memberikan support dan dukungan kepada pasangan baru. Dan juga untuk memberikan doa kepada kedua mempelai.

Wallahu a’lam bishshawa, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Advertisements

Read Full Post »

Islam:

Agama atau Ideologi?

Sabtu, 5 Mei 07 03:53 WIB

Asssalamualaikum Wr, Wb

Saya bingung dengan pernyataan seorang tokoh NU yang mengatakan bahwa NU ingin mengenalkan Islam pada dunia dari sudut pandang berbeda, yaitu bahwa Islam adalah sebuah agama bukan ideologi. Beliau memberi contoh organisasi yang memahami Islam sebagai ideologi antara lain ikhwanul muslimin di mesir, majelis mujahidin dan al-qaidah. Yang saya tanyakan apa perbedaan Islam sebagai agama dan sebagai ideologi?

Jzkllah atas jawabannya

Art

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebenarnya pertanyaan ini lebih tepat anda ajukan kepada tokoh yang mengeluarkan statemen di atas. Karena beliau lah yang mengemukakan wanacana tentang Islam sebagai agama dan Islam sebagai ideologi.

Maka hanya dia seorang yang mampu menjelaskan maksud dan tujuan dari pembedaan antara keduanya. Kita tidak etis bila diharuskan menerka-nerka sendiri keinginan si pembuat statemen.

Adapun komentar beliau tentang memahami Islam sebagai ideologi sebagaimana Ikhwanul Muslimin, Majelis Mujahidin atau Al-Qaidah, sepintas kita mendapat kesan bahwa nampaknya beliau kurang menyetujuinya. Namun lagi-lagi kita terpaksa kembali harus menerka-nerka, pada titik yang mana dari kelompok umat Islam yang beliau tidak sukai.

Namun semua adalah hak beliau untuk suka atau tidak suka kepada ketiga kelompok umat Islam itu. Tidak ada seorang pun yang berhak untuk melarang apa yang beliau katakan.

Sebaliknya, ketiga kelompok umat Islam itu pun juga punya hak sepenuhnya untuk punya cara pandang mereka. Tidak ada seorang pun yang berhak untuk melarangnya juga.

Islam Seutuhnya
Terlepas dari maksud atas pembedaan antara Islam sebagai agama dan Islam sebagai ideologi, juga terlepas dari ketiga kelompok yang disebutkan di atas, sesungguhnya yang penting adalah kita harus berIslam secara seutuhnya. Tidak sepotong-sepotong dan tidak hanya berIslam secara sebagian demi sebagian.

Ketika kita menyatakan tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa nabi Muhammad SAW adalah utusannya, maka yang ada dalam benak kita adalah bahwa kita akan mentaati semua perintah Allah dan Rasul-Nya. Baik dalam konteks sebagai individu maupun sebagai masyarakat.

Ketika Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kepada kita untuk mengesakan Allah, maka kita taat dan kita laksanakan. Ketika kita diminta untuk melakukan shalat, puasa, zakat, haji dan beragam ritual lainnya, kita pun segera melaksanakan.

Bahkan ketika Allah memerintahkan kita untuk meninggalkan beragama kemungkaran dan kedegilan, semacam perzinaan, perjudian, minum khamar, pencurian, perampokan dan segala bentuk kejahatan, maka kita pun meninggalkannya. Termasuk kita pun mencegah agar jangan sampai kejahatan seperti itu terjadi. Lantas ketika Allah SWT menetapkan bahwa para pelaku pelanggaran itu harus dihukum sesuai dengan hudud dari-Nya, kita pun harus menerapkannya.

Ketika Allah SWT mewajibkan kita untuk menutup aurat, berkata yang benar, menjaga amanah, menegakkan keadilan, memberi makan fakir miskin, mengasihi anak yatim, membela orang lemah dan melindungi para janda, maka kita pun kerjakan.

Ketika Allah SWT memerintahkan untuk hidup berdampingan dengan damai bersama non muslim yang sudah terikat perjanjian damai, melindungi hak-hak mereka untuk beragama, beribadah dan melakukan aktifitas kesehariannya, maka kita pun mentaati Allah SWT.

Namun ketika Allah SWT memerintahkan kita untuk membela hak, mempertahankan negeri dari serbuan musuh kafir yang membahayakan agama, harta, jiwa, kehormatan serta keturunan kita, maka kita pun mendengar dan mentaati Allah SWT.

Termasuk ketika Allah SWT memerintahkan kita untuk berjihad dengan harta dan jiwa demi menegakkan kebenaran dan keadilan serta melepaskan kaum muslimin dari belenggu penjajahan pisik, kita pun menjalankannya dengan niat ikhlas untuk mengabdi dan mempersembahkan yang terbaik kepada Allah SWT.

Maka bagi kita yang mengaku menjadi seorang muslim, apapun yang Allah SWT perintahkan, kita wajib untuk mentaatinya. Baik perkara itu terkait dengan masalah peribadatan maupun termasuk masalah sosial kemasyarakatan. Islam tidak mengenal pengkotak-kotakan agama menjadi keping-keping kecil. Sebab Islam adalah sebuah sistem hidup yang integral dan mencakup semua bentuk aspek kehidupan.

Islam adalah ibadah dan kehidupan, agama sekaligus hukum di tengah masyarakat, ritual sekaligus ilmu pengetahuan, rohani sekaligus materi.

Rasulullah SAW tidak mengajarkan Islam hanya pada wilayah tertentu dengan meninggalkannya pada bagian yang lain. Maka Islam yang kita pahami adalah Islam yang utuh sebagaimana dahulu Rasulullah SAW mengajarkannya kepada kita.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »

Shalat Jama’

Kapan Kita Boleh Melakukan ?

Senin, 7 Mei 07 07:09 WIB

 Assalamu`laikum..

Saya bingung ketika seorang jama`ah haji menanyakan, bolehkah menjama` sholat ashar ketika kita dalam keadaan darurat (macet ) dan berhadast, sedangkan jarak perjalanannya tidak jauh misalnya, dari MINA ke Makkah?

Lalu saya menjawab, hal tersebut boleh-boleh saja karena sholat merupakan suatu kewajiban. Dan saya menambahkan sedikit hadist (الضرورةتبيح المحظورات).

Apakah itu bisa dijadikan suatu dalil? Apakah ada dalil-dalil yang lebih sesuai?

Kalau tidak keberatan saya ingin menanyakan apakah antum alumni al-azhar?

Sekian dan terimakasih…

SH

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dari sekian banyak dalil yang ada di dalam Al-Quran dan Sunnah serta beragam metode ijtihad, para ulama menyusun aturan dan ketentuan shalat jama’. Ketentuan ini disusun untuk memudahkan umat dalam memahami bagaimana dan kapan shalat jama’ itu boleh dilakukan atau sebaliknya.

Hal-hal Yang Membolehkan Jama’

1. Sebab Safar

Menjama’ shalat dibolehkan bila seseorang berada dalam keadaan safar (perjalanan).

Namun para ulama menetapkan bahwa sebuah safar itu minimal harus menempuh jarak tertentu dan ke luar kota. Di masa Rasulullah SAW, jarak itu adalah 2 marhalah. Satu marhalah adalah jarak yang umumnya ditempuh oleh orang berjalan kaki atau naik kuda selamasatu hari. Jadi jarak 2 marhalah adalah jarak yang ditempuh dalam 2 hari perjalanan.

Ukuran marhalah ini sangat dikenaldi masa itu, sehingga dapat dijadikan ukuran jarak suatu perjalanan. Orang arab biasa melakukan perjalanan siang hari, yaitu dari pagi hingga tengah hari. Setelah itu mereka berhenti atau beristirahat.

Para ulama kemudian mengkonversikan jarak ini sesuai dengan ukuran jarak yang dikenal di zaman mereka masing-masing. Misalnya, di suatu zaman disebut dengan ukuran burud, sehingga jarak itu menjadi 4 burud. Di tempat lain disebut dengan ukuran farsakh, sehingga jarak itu menjadi 16 farsakh.

Di zaman sekarang ini, ketika jarak itu dikonversikan, para ulama mendapatkan hasil bahwa jarak 2 marhalah itu adalah89 km atau tepatnya 88, 704 km.

Maka tidak semua perjalanan bisa membolehkan shalat jama’, hanya yang jaraknya minimal 88, 704 km saja yang membolehkan. Bila jaraknya kurang dari itu, belum dibenarkan untuk menjama’.

Namun dalam prakteknya, bukan berarti jarak itu adalah jarak minimal yang harus sudah ditempuh, melainkan jarak minimal yang akan ditempuh. Berarti, siapa pun yang berniat akan melakukan perjalanan yang jaraknya akan mencapai jarak itu, sudah boleh melakukan shalat jama’, asalkan sudah keluar dari kota tempat tinggalnya.

2. Sebab Hujan

Kita juga menemukan dalil-dalil yangterkait dengan hujan. Di mana turunnya hujan ternyatamembolehkan dijama’nya Mahgrib dan Isya’ di waktu Isya, namun tidak untuk jama’ antara Zhuhur dan Ashar. Dengan dalil

إن من السنة إذا كان يوم مطير أن يجمع بين المغرب والعشاء – رواه الأثرم

Sesungguhnya merupakan sunnah bila hari hujan untuk menjama’ antara shalat Maghrib dengan Isya’ (HR Atsram).

Dari Ibnu Abbas RA. Bahwa Rasulullah SAW shalat di Madinah tujuh atau delapan; Zuhur, Ashar, Maghrib dan Isya`”. Ayyub berkata, ”Barangkali pada malam turun hujan?”. Jabir berkata, ”Mungkin”. (HR Bukhari 543 dan Muslim 705).

Dari Nafi` maula Ibnu Umar berkata, ”Abdullah bin Umar bila para umaro menjama` antara maghrib dan isya` karena hujan, beliau ikut menjama` bersama mereka”. (HR Ibnu Abi Syaibah dengan sanad Shahih).

Hal seperti juga dilakukan oleh para salafus shalih seperti Umar bin Abdul Aziz, Said bin Al-Musayyab, Urwah bin az-Zubair, Abu Bakar bin Abdurrahman dan para masyaikh lainnya di masa itu. Demikian dituliskan oleh Imam Malik dalam Al-Muwattha` jilid 3 halaman 40.

Selain itu ada juga hadits yang menerangkan bahwa hujan adalah salah satu sebab dibolehkannya jama` qashar.

Dari Ibnu Abbas ra. Bahwa Rasulullah SAW menjama` zhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya` di Madinah meski tidak dalam keadaan takut maupun hujan.” (HR Muslim 705).

3. Sebab Sakit

Keadaan sakit menurut Imam Ahmad bisa membolehkan seseorang menjama’ shalat. Dalilnya adalah hadits nabawi:

كان النبي ص جمع من غير خوف ولا مطر

Bahwa Rasulullah SAW menjama’ shalat bukan karena takut juga bukan karena hujan.

4. Sebab Haji

Para jamaah haji disyariatkan untuk menjama` dan mengqashar shalat zhuhur dan Ashar ketika berga di Arafah dan di Muzdalifah.Dalilnya adalah hadits berikut ini:

Dari Abi Ayyub al-Anshari ra. Bahwa Rasulullah SAW menjama` Maghrib dan Isya` di Muzdalifah pada haji wada`. (HR Bukhari 1674).

5. Sebab Keperluan Mendesak
Bila seseorang terjebak dengan kondisi di mana dia tidak punya alternatif lain selain menjama`, maka sebagian ulama membolehkannya. Namun hal itu tidak boleh dilakukan sebagai kebiasaan atau rutinitas.

Dalil yang digunakan adalah dalil umum seperti yang sudah disebutkan di atas. Allah SWT berfirman:

“Allah tidak menjadikan dalam agama ini kesulitan”. (QS. Al-Hajj: 78)

Dari Ibnu Abbas ra, “beliau tidak ingin memberatkan ummatnya”.(HR Muslim 705).

Dari Ibnu Abbas ra. Bahwa Rasulullah SAW menjama` zhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya` di Madinah meski tidak dalam keadaan takut maupun hujan.”

Menjama’ Shalat Karena Macet

Kita yang hidup di tengah belantara metropolitan ini seringkali disulitkan dengan urusan macet, khususnya masalah waktu shalat maghrib. Sedangkan shalat Dzhur, Ashar, Isya dan Shubuh relatif tidak terlalu berpengaruh karena waktunya leluasa.

Yang paling mengkhawatirkan adalah shalat Maghrib yang waktunya sangat singkat. Padahal jam-jam seperti itu adalah jam macet di mana-mana. Sehingga banyak orang yang berpikiran bahwa macet itu ‘boleh’ dijadikan alasan untuk menjama’ shalat.

Tetapi apa dalilnya? Bisakah dalil darurat dijadikan alasan? Dan seberapakah nilaidarurat sebuah kemacetan itu sehingga boleh menggeser waktu shalat? Adakah dalil yang shahih dan sharih dari Rasulllah SAW yang membolehkan jama lantaran macet?

Jawabannya tentu tidak ada. Tidak ada hadits yang bunyinya bila kalian kena macet, maka silahkan menjama’ shalat.

Lalu apakah kondisi macet sesuai dengan salah satu penyebab di atas? Misalnya dengan urusan safar, hujan, sakit, haji atau keperluan mendesak?

Kalau dikaitkan dengan safat, maka macet yang sering kita alami tidak memenuhi syarat, karena dari segi jarak tidak memenuhi standar minimal. Kalau dikaitkan dengan keperluan mendesak, di sana ada syarat bahwa hal itu tidak boleh terjadi tiap hari. Dan yang namanya darurat itu tidak boleh terjadi sepanjang waktu.

Bukankah kita masih bisa turun dari bus atau mobil untuk shalat di mana pun? Bukankah shalat itu tidak harus di dalam sebuah masjid atau musholla? Bukankah kalau tidak ada air kita masih diperbolehkan bertayamum? Bukankah air tersedia di mana-mana, bahkan para penjual air minum kemasan pun berkeliaran saat macet?

Maka kaidah fiqhiyah yang anda sampaikan itu masih ada pasangannya, yaitu:

الضرورة تقدر بقدرها

Sesuatu yang dharurat itu diukur berdasarkan kadarnya

Terakhir, kami bukan alumni Al-Azhar namun alumni Jami’ah Al-Imam Muhammad ibnu Su’ud Al-Islamiyah, yang bermarkas di ibukota Riyadh Al-Mamlakah Al-Arabiyah As-Su’udiyah. Universitas itu punya cabang di berbagai belahan dunia, salah satunya di Jakarta. Di sini lembaga itu bernama LIPIA dan anda bisa menengok kampus kami di www.lipia.org

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »

Jama’ Taqdim dan Ta’khir,

Kapan Dilakukan dan Apa Syaratnya?

Rabu, 24 Mei 06 14:33 WIB

Assalamu’alaikum wr. wb.

Semoga ustadz dalam keadaan sehat wal’afiat.langsung saja. Mohon ustadz jelaskan dalam keadaan apa saja dibolehkah kepada kita utuk menjama’ shalat? Adakah ketentuan serta syarat-syarat dibolehkannya menjama’ shalat. Baik jama’ taqdm atau jama’ ta’khir, ataukah keduanya sama saja syaratnya? Bolehkah shalat isya’ duluan baru kemudian shalat maghrib ketika menjama’?

Terima kasih atas jawabannya.

Wassalamu’alaikum,

Ki Jagaraksa
jagaraksa at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ada dua jenis jama’, yang pertama disebut jama’ taqdim dan yang kedua disebut jama’ ta’khir. Jama’ taqdim adalah melakukan dua shalat pada waktu shalat yang pertama. Jama’ taqdim ini hanya ada dua saja. yaitu shalat Zhuhur dan shalat Ashar dilakukan pada waktu Zhuhur. Lalu shalat Maghrib dan shalat Isya’ dilakukan pada waktu Maghrib. Di luar keduanya, tidak ada jama’ lainnya.

A. Hal-hal yang Membolehkan Jama’

  1. Dalam keadaan safar yang panjang sejauh orang berjalan kaki atau naik kuda selama dua hari. Para ulama kemudian mengkonversikan jarak ini menjadi 89 km atau tepatnya 88,704 km.
  2. Hujan yang turun membolehkan dijama’nya Mahgrib dan Isya’ di waktu Isya, namun tidak untuk jama’ antara Zhuhur dan Ashar. Dengan dalil: إن من السنة إذا كان يوم مطير أن يجمع بين المغرب والعشاء – رواه الأثرم Artinya: Sesungguhnya merupakan sunnah bila hari hujan untuk menjama’ antara shalat Maghrib dengan Isya’ (HR. Atsram)
  3. Keadaan sakit menurut Imam Ahmad bisa membolehkan seseorang menjama’ shalat. Dalilnya adalah hadits nabawi: كان النبي ص جمع من غير خوف ولا مطر Bahwa Rasulullah SAW menjama’ shalat bukan karena takut juga bukan karena hujan.

B. Syarat Jama’ Taqdim

Untuk dibolehkan dan sah-nya jama’ taqdim, paling tidak harus dipenuhi 4 syarat. Bila salah satu syarat ini tidak terpenuhi, tidak sah bila dilakukan jama’ taqdim.

1. Niat Sejak Shalat yang Pertama

Misalnya kita menjama’ shalat Zhuhur dengan shalat Ashjar di waktu Zhuhur, maka sejak berniat shalat Zhuhur kita juga harus sudah berniat untuk menjama’ dengan Ashar. Niat untuk menjama’ ini masih dibolehkan selama shalat Zhuhur belum selesai. Jadi batas kebolehan berniatnya hingga sebelum mengucapkan salam dari shalat Zhuhur. Bila selesai salam kita baru berniat untuk menjama’, jama taqdim tidak boleh dilakukan. Sehingga shalat Ashar hanya boleh dilakukan nanti bila waktu Ashar telah tiba.

2. Tertib

Misalnya kita menjama’ shalat Maghrib dengan shalat Isya’ dengan taqdim, yaitu di waktu Maghrib, maka keduanya harus dilakukan sesuai dengan urutan waktunya. Harus shalat Maghrib dulu yang dikerjakan baru kemudian shalat Isya’. Bila shalat Isya’ yang dikerjakan terlebih dahulu, maka tidak sah hukumnya.

Namun bila bukan jama’ taqdim, dimungkinkan untuk melakukannnya dengan terbalik, yaitu shalat Isya’ dulu baru shalat Maghirib. Meski pun tetap lebih utama bila dilakukan dengan tertb urutan waktunya.

3. Al-Muwalat (Bersambung)

Maksudnya antara shalat yang awal dengan shalat kedua tidak boleh terpaut waktu yang lama. Boleh diselingi sekadar lama waktu orang melakukan shalat dua rakaat yang ringan. Juga boleh diselingi dengan mengambil wudhu’. Tapi tidak boleh bila diselingi pekerjaan lain dalam waktu yang terlalu lama.

Disunnahkan di antara jeda waktu itu untuk mengulangi azan dan iqamah, tapi bukan shalat sunnah. Sebab pada hakikatnya kedua shalat ini disatukan. Ketiga syarat ini berlaku mutlak untuk jama’ taqdim namun untuk jama’ ta’khir bukan menjadi syarat, hanya menjadi sunnah saja.

4. Masih Berlangsungnya Safar Hingga Takbiratul Ihram Shalat yang Kedua

Misalnya kita menjama’ taqdim shalat Maghrib dengan Isya’ di waktu Maghrib, maka pada saat Isya’ kita harus masih dalam keadaan safar atau perjalanan. Paling tidak pada saat takbiratul ihram shalat Isya’.

Hal itu terbayang kalau kita melakukannya di kapal laut misalnya. Kapal itu harus masih dalam pelayaran pada saat kita takbiratul ihram shalat Isya. Tidak mengapa bila selama shalat Isya itu, kapal sudah merapat ke pelabuhan negeri kita.

B. Syarat Jama’ Ta’khir

Sedangkan syarat dibolehkannya jama’ ta’khir hanya ada dua saja. Yaitu adalah:

1. Berniat untuk Menjama’ Ta’khir Sebelum Habisnya Waktu Shalat yang Pertama

Misalnya kita berniat untuk menjama’ shalat Maghrib dengan Isya di waktu Isya’, maka sebelum habis waktu Maghrib, kita wajib untuk berniat untuk menjama’ takhir shalat Maghrib di waktu Isya’. Niat itu harus dilakuakan sebelum habisnya waktu shalat Maghrib.

2. Safar Harus Masih Berlangsung Hingga Selesainya Shalat yang Kedua.

Kita masih harus dalam perjalanan hingga selesai shalat Maghrib dan Isya’. Tidak boleh jama’ ta’khir itu dilakukan di rumah setelah safar sudah selesai. Sebab syarat menjama’ shalat adalah safar, maka bila safar telah selesai, tidak boleh lagi melakukan jama’. Oleh karena itu, bila kita mau menjama’ ta’khir, jangan lakukan di rumah, melainkan sebelum sampai ke rumah atau selama masih dalam kondisi perjalanan.

Bolehkah Shalat Isya’ Dulu Baru Maghrib?

Bila jama’ taqdim, tidak boleh mendahulukan shalat Isya’, tapi boleh bila jama’ ta’khir. Namun tetap lebih utama bila dilakukan sesuai urutan shalatnya. Kecuali ada uzdur tertentu yang tidak memungkinkan mendahulukan shalat Maghirb. Misalnya, di waktu Isya di suatu masjid di mana orang-orang sedang shalat Isya’, tidak mungkin para musafir yang singgah mengerjakan shalat Maghrib dengan berjamaah.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

 

Read Full Post »

Menjamak

Dua Salat Fardu

Selasa, 25 Apr 06 15:51 WIB

Sahkah sholat fardu yang dijamak, sementara kita masih sempat melaksanakan sesuai waktunya, hanya dengan alasan musafir, capek?

Wassalam,

Supriadi
aru_palakka82 at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sudah menjadi sebuah pemahaman umum bahwa syariat Islam itu ditegakkan di atas kemudahan. Kemudahan inilah yang telah menjadi ruh syariah Islam serta membuatnya unik dibandingkan dengan syariat yang pernah turun sebelumnya.

Salah satu bentuk kemudahan yang nyata adalah dengan disyariatkannya shalat jama’ antara Dzhuhur dengan Ashar dan jama’ antara Maghrib dan Isya’.

Namun implementasi kemudahan ini memiliki aturan dan sebab tertentu, yang hanya ditegaskan lewat nash-nash syar’i, baik lewat perkataan, perbuatan atau taqrir dari Rasulullah SAW. Adapun implementasi di luar dari apa yang telah ditetapkan oleh pembawa risalah, hendaknya dijauhi dan ditinggalkan.

Para ulama kemudian menyusun dari beragam sumber hukum Islam, terutama dari Al-Quran dan As-Sunnah, hal-hal yang membolehkan seseorang melakukan shalat jama’. Di antaranya adalah karena perjalanan, karena sakit, karena hujan, karena waktu yang mendesak atau karena sedang haji.

Khusus tentang jama’ shalat karena sebab perjalanan, adalah sudah menjadi kesepakatan para ulama dari semua kalangan, kecuali pendapat mazhab Al-Hanafiyah yang menolaknya. Namun jumhur ulama seluruhnya sepakat bahwa safar atau perjalanan adalah satu satu di antara sebab-sebab dibolehkannya jama’ shalat.

Adapun dalilnya adalah:

مُعاذ قال: «خَرجنا مع النبيِّ صلى الله عليه وسلم في غَزوة تبوك فكان يُصلّي الظُّهر والعَصر جميعاً، والمغرب والعشاء جَميعاً» رواه مسلم.

Dari Muadz bin Jabal ra. berkata, “Kami bepergian bersama Rasulullah SAW dalam perang Tabuk. Beliau shalat Dzhuhur dan Ashar dengan dijama’. Demikian juga Maghrib dan Isya’ dengan dijama’. (HR. Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. berkata, “Awal diwajibkan shalat adalah dua rakaat, kemudian ditetapkan bagi shalat safar dan disempurnakan (4 rakaat) bagi shalat hadhar (tidak safar).” (HR. Muttafaqun ‘alaihi)

Dari ‘Aisyah ra. berkata, ” Diwajibkan shalat 2 rakaat kemudian Nabi hijrah, maka diwajibkan 4 rakaat dan dibiarkan shalat safar seperti semula (2 rakaat).” (HR Bukhari)

Syarat yang harus ada dalam perjalanan itu menurut ulama fiqih antara lain:

a. Niat Safar

b. Memenuhi jarak minimal dibolehkannya safar yaitu 4 burd (88, 656 km ). Sebagian ulama berbeda dalam menentukan jarak minimal.

c. Keluar dari kota tempat tinggalnya

d. Shafar yang dilakukan bukan safar maksiat

Dari kriteria yang ditetapkan para ulama tentang syarat perjalanan yang membolehkan jama’, tidak disebutkan misalnya bahwa perjalanan itu harus mengakibatkan rasa lelah atau capek. Sehingga meski tidak capek atau tidak lelah, kita tetap dibolehkan bahkan lebih dianjurkan untuk menjama’ shalat.

Misanya, anda pergi naik pesawat ke Surabaya yang hanya butuh waktu kurang lebih 1 jam, anda sudah boleh menjama’ shalat. Sebab persyaratannya memang telah dipenuhi. Sementara syarat bahwa perjalanan itu harus melelahkan, justru tidak pernah dicantumkan oleh para ulama sejak dahulu. Maka meski tidak merasa capek, secara hukum syariah, memang sudah dibolehkan untuk menjama’nya.

Wallahu a’lam bishsawahb wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

 

Read Full Post »

[KB]

SEPUTAR HUKUM KELUARGA BERENCANA

Pertanyaan.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Baz ditanya : Apa hukum KB ?

Jawaban.

Ini adalah permasalahan yang muncul sekarang, dan banyak pertanyaan muncul berkaitan dengan hal ini. Permasalahan ini telah dipelajari oleh Haiah Kibaril Ulama (Lembaga di Saudi Arabia yang beranggotakan para ulama) di dalam sebuah pertemuan yang telah lewat dan telah ditetapkan keputusan yang ringkasnya adalah tidak boleh mengkonsumsi pil-pil untuk mencegah kehamilan.

Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan untuk hamba-Nya sebab-sebab untuk mendapatkan keuturunan dan memperbanyak jumlah umat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Nikahilah

wanita yang banyak anak lagi penyayang, karena sesungguhnya aku berlomba-lomba dalam banyak umat dengan umat-umat yang lain di hari kiamat dalam riwayat yang lain : dengan para nabi di hari kiamat)”. [Hadits Shahih diriwayatkan oleh Abu Daud 1/320, Nasa’i 2/71, Ibnu Hibban no. 1229, Hakim 2/162 (lihat takhrijnya dalam Al-Insyirah hal.29 Adazbuz Zifaf hal 60) ; Baihaqi 781, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 3/61-62]

Karena umat itu membutuhkan jumlah yang banyak, sehingga mereka beribadah kepada Allah, berjihad di jalan-Nya, melindungi kaum muslimin -dengan ijin Allah-, dan Allah akan menjaga mereka dan tipu daya musuh-musuh mereka.

Maka wajib untuk meninggalkan perkara ini (membatasi kelahiran), tidak membolehkannya dan tidak menggunakannya kecuali darurat. Jika dalam keadaan darurat maka tidak mengapa, seperti :

[a]. Sang istri

tertimpa penyakit di dalam rahimnya, atau anggota badan yang lain, sehingga berbahaya jika hamil, maka tidak mengapa (menggunakan pil-pil tersebut) untuk keperluan ini.

[b]. Demikian juga, jika sudah memiliki anak banyak, sedangkan isteri keberatan jika hamil lagi, maka tidak terlarang mengkonsumsi pil-pil tersebut dalam waktu tertentu, seperti setahun atau dua tahun dalam masa menyusui, sehingga ia merasa ringan untuk kembali hamil, sehingga ia bisa mendidik dengan selayaknya.

Adapun jika penggunaannya dengan maksud berkonsentrasi dalam berkarier atau supaya hidup senang atau hal-hal lain yang serupa dengan itu, sebagaimana yang dilakukan kebanyakan wanita zaman sekarang, maka hal itu tidak boleh”.

[Fatawa Mar’ah, dikumpulkan oleh Muhammad Al-Musnad, Darul Wathan, cetakan pertama 1412H]

Pertanyaan.

Syaikh

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : “Ada seorang wanita berusia kurang lebih 29 tahun, telah memiliki 10 orang anak. Ketika ia telah melahirkan anak terakhir ia harus melakukan operasi dan ia meminta ijin kepada suaminya sebelum operasi untuk melaksanakan tubektomi (mengikat rahim) supaya tidak bisa melahirkan lagi, dan disamping itu juga disebabkan masalah kesehatan, yaitu jika ia memakai pil-pil pencegah kehamilan akan berpengaruh terhadap kesehatannya.

Dan suaminya telah mengijinkan untuk melakukan operasi tersebut. maka apakah si istri dan suami mendapatkan dosa karena hal itu ?”

Jawaban.

Tidak

mengapa ia melakukan operasi/pembedahan jika para dokter (terpercaya) menyatakan bahwa jika melahirkan lagi bisa membahayakannya, setelah mendapatkan ijin dari suaminya.

[Fatawa Mar’ah Muslimah Juz 2 hal. 978, Maktabah Aadh-Waus Salaf, cet ke 2. 1416H]

SEPUTAR HUKUM KELUARGA BERENCANA [KB]

Oleh

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

ditanya : Seorang ikhwan bertanya hukum KB tanpa udzur, dan adakah Udzur yang membolehkannya?”

Jawaban.

Para ulama telah menegaskan bahwa memutuskan keturunan sama sekali adalah haram, karena hal tersebut bertentangan dengan maksud Nabi mensyari’atkan pernikahan kepada umatnya, dan hal tersebut merupakan salah satu sebab kehinaan kaum muslimin. Karena jika kaum muslimin berjumlah banyak, (maka hal itu) akan menimbulkan kemuliaan dan kewibawaaan bagi mereka.

Karena jumlah umat yang banyak merupakan salah satu nikmat Allah kepada Bani Israil.

“Artinya : Dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar”

[Al-Isra : 6]

“Artinya : Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu’ [Al-A’raf : 86]

Kenyataanpun mennguatkan pernyataan di atas, karena umat yang banyak tidak membutuhkan umat yang lain, serta memiliki kekuasaan dan kehebatan di depan musuh-musuhnya. Maka seseorang tidak boleh melakukan sebab/usaha yang memutuskan keturunan sama sekali. Allahumma, kecuali dikarenakan darurat, seperti :

[a] Seorang Ibu jika hamil dikhawatirkan akan binasa atau meninggal dunia, maka dalam keadaan seperti inilah yang disebut darurat, dan tidak mengapa jika si wanita melakukan usaha untuk mencegah keturunan. Inilah dia udzur yang membolehkan mencegah keturunan.

[b] Juga seperti wanita

tertimpa penyakit di rahimnya, dan ditakutkan penyakitnya akan menjalar sehingga akan menyebabkan kematian, sehingga rahimnya harus diangkat, maka tidak mengapa.

[Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah Juz 2 hal. 974-975]

SEPUTAR HUKUM KELUARGA BERENCANA [KB]

Pertanyaan.

Syaikh Muhammad bin Shalih

Al-Utsaimin ditanya : Kapan seorang wanita diperbolehkan memakai pil-pil pencegah kehamilan, dan kapan hal itu diharamkan ? Adakah nash yang tegas atau pendapat di dalam fiqih dalam masalah KB? Dan bolehkah seorang muslim melakukan azal kerika berjima tanpa sebab?”

Jawaban.

Seyogyanya bagi kaum msulimin untuk

memperbanyak keturunan sebanyak mungkin, karena hal itu adalah perkara yang diarahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya.

“Artinya : Nikahilah wanita yang penyayang dan banyak anak karena aku akan berlomba dalam banyak jumlahnya umat” [Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud 1/320, Nasa’i 2/71, Ibnu Hibban no. 1229, Hakim 2/162, Baihaqi 781, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 3/61-62]

Dan karena

banyaknya umat menyebabkan (cepat bertambahnya) banyaknya umat, dan banyaknya umat merupakan salah satu sebab kemuliaan umat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyebutkan nikmat-Nya kepada Bani Israil.

“Artinya : Dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar” [Al-Isra’ : 6]

“Artinya : Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu” [Al-A’raf : 86]

Dan tidak ada seorangpun mengingkari bahwa banyaknya umat merupakan sebab kemuliaan dan kekuatan suatu umat, tidak sebagaimana anggapan orang-orang yang memiliki prasangka yang jelek, (yang mereka) menganggap bahwa banyaknya umat merupakan sebab kemiskinan dan kelaparan. Jika suatu umat jumlahnya banyak dan mereka bersandar dan beriman dengan janji Allah dan firman-Nya.

“Artinya : Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya”

[Hud : 6]

Maka Allah pasti akan mempermudah umat tersebut dan mencukupi umat tersebut dengan karunia-Nya.

Berdasarkan penjelasan ini,

jelaslah jawaban pertanyaan di atas, maka tidak sepantasnya bagi seorang wanita untuk mengkonsumsi pil-pil pencegah kehamilan kecuali dengan dua syarat.

[a] Adanya keperluan seperti ; Wanita tersebut memiliki penyakit yang menghalanginya untuk hamil setiap tahun, atau, wanita tersebut bertubuh kurus kering, atau adanya penghalang-penghalang lain yang membahayakannya jika dia hamil tiap tahun.

[b] Adanya ijin dari suami. Karena suami memiliki hak atas istri dalam masalah anak dan keturunan. Disamping itu juga harus bermusyawarah dengan dokter terpercaya di dalam masalah mengkonsumsi pil-pil ini, apakah mmakaiannya membahayakan atau tidak.

Jika dua syarat di atas

dipenuhi maka tidak mengapa mengkonsumsi pil-pil ini, akan tetapi hal ini tidak boleh dilakukan terus menerus, dengan cara mengkonsumsi pil pencegah kehamilan selamanya misalnya, karena hal ini berarti memutus keturunan.

Adapun point kedua dari pertanyaan di atas maka jawabannya adalah sebagai berikut :

Pembatasan keturunan adalah perkara yang tidak mungkin ada dalam kenyataan karena masalah hamil dan tidak, seluruhnya di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jika seseorang membatasi jumlah anak dengan jumlah tertentu, maka mungkin saja seluruhnya mati dalam jangka waktu satu tahun, sehingga orang tersebut tidak lagi memiliki anak dan keturunan. Masalah pembatas keturunan adalah perkara yang tidak terdapat dalam syari’at Islam, namun pencegahan kehamilan secara tegas dihukumi sebagaimana keterangan di atas.

Adapun pertanyaan ketiga yang

berkaitan dengan ‘azal ketika berjima’ tanpa adanya sebab, maka pendapat para ahli ilmu yang benar adalah tidak mengapa karena hadits dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu.

“Artinya : Kami melakukan ‘azal sedangkan Al-Qur’an masih turun (yakni dimasa nabi Shallallahu ‘alihi wa sallam)” [Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud 1/320 ; Nasa’i 2/71, Ibnu Hibban no. 1229, Hakim 2/162, Baihaqi 781, Abu nu’aim dalam Al-hilyah 3/61-62]

Seandainya perbuatan itu haram pasti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya. Akan tetapi para ahli ilmu mengatakan bahwa tidak boleh ber’azal terhadap wanita merdeka (bukan budak) kecuali dengan ijinya, yakni seorang suami tidak boleh ber’azal terhadap istri, karena sang istri memiliki hak dalam masalah keturunan. Dan ber’azal tanpa ijin istri mengurangi rasa nikmat seorang wanita, karena kenikmatan seorang wanita tidaklah sempurna kecuali sesudah tumpahnya air mani suami.

Berdasarkan

keterangan ini maka ‘azal tanpa ijin berarti menghilangkan kesempurnaan rasa nikmat yang dirasakan seorang istri, dan juga menghilangkan adanya kemungkinan untuk mendapatkan keturunan. Karena ini kami menysaratkan adanya ijin dari sang istri”.

[Fatawa Syaikh ibnu Utsaimin Juj 2 hal. 764 dinukil dari Fatawa Li’umumil Ummah]

[Disalin ulang dari Majalah As-Sunnah edisi 01/Tahun V/2001M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl Solo Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo, Solo 57183]

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=127&bagian=0

Read Full Post »

Aqad Ganda Dalam Transaksi

Apa yang Dimaksud ?

Senin, 7 Mei 07 22:37 WIB

Assalamualaikum Wr. Wb.

Ustadz, apa yang dimaksudkan aqad ganda?

Misalnya saya membuka usaha kredit barang dengan harga yang disepakati di muka, kemudian dicicil 10 kali. Saya juga menawarkan yang saya sebut dengan ‘refund kredit lancar’ sebesar 1% bagi pelanggan yang membayar cicilan dengan lancar. Misalnya harga barang tersebut 3 juta, dan dicicil 300 ribu per bulan.

Saya sertakan jaminan 1% dari harga 3 juta tersebut, jika pelanggan membayar cicilannya dengan lancar dan tepat waktu, maka jaminan tersebut saya kembalikan sebesar 1% x 300rb x 10=30.000 kepada pelanggan.

Tetapi jika kreditnya macet dan waktu pembayarannya terlambat, maka jaminan tersebut tidak saya kembalikan. Apakah yang seperti ini termasuk aqad ganda yang dilarang oleh Islam?

Karena saya pernah mendapat penjelasan bahwa di dalam transaksi tidak boleh ada dua aqad sekaligus.

Mohon penjelasannya.

Wassalamualaikum. Wr. Wb

Rijal Al-banjariy

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Rasulullah SAW memang pernah bersabda yang intinya melarang dua jual beli dalam satu jual beli. Atau dalam bahasa arab disebut bai’ataini fi bai’atin.Biar lebih mudahnya, kami sertakan teks haditsnya dalam bahasa arab.

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَالنَّسَائِيُّ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ

Dari Abi Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah saw. melarang penjualan dengan dua transaksi pada satu barang` (HR Ahmad, Nasai dan At-tirmizy yang juga menshahihkan)

Namun apakah yang dimaksud dengan istilah itu, ternyata para ulama malah berselisih dalam penafsirannya. Setidaknya kami menemukan adalima pendapat yang saling berbeda.

1. Pendapat Pertama

Yang dimaksud dengan bai’ataini fi bai’atin adalah transaksi jual beli antara harga tunai dan harga kredit berbeda. Dan harga kredit lebih tinggi. Seperti, saya jual mobil ini tunai 100 juta, atau kredit 110 juta.

Transaksi jenis pertama biasa disebut bai` bits-tsaman ajil atau disingkat menjadi BBA dan ini disepakati bolehnya oleh ulama.

2. Pendapat Kedua
Yang dimaksud dengan bai’ataini fi bai’atin adalah sama dengan pendapat pertama, tetapi transaksi itu terjadi kemudian berpisah tanpa ada kejelasan mana yang diambil.

Seperti, saya jual mobil ini tunai 100 juta, atau kredit 110 juta. Keduanya sepakat tanpa menjelaskan transaksi mana yang diambil. Para ulama melarang jenis kedua ini, karena ada ketidakjelasan pada transaksi tersebut.

Tetapi jika sebelum berpisah ada kejelasan akad, yaitu memilih salah satunya maka boleh, dan itu seperti transaksi pada jenis pertama.

Namun demikian kedua transaksi itu dilarang jika barangnya berupa harta riba, misalnya emas, atau perak atau uang.

3. Pendapat Ketiga

Yang dimaksud dengan bai’ataini fi bai’atin adalah membeli barang dengan harga tertangguh, dengan syarat barang itu dijual kembali kepadanya secara tunai dengan harga yang lebih rendah.

Transaksi jenis ketiga ini diharamkan dalam Islam karena ada unsur riba. Dan transaksi ini disebut juga dengan ba`iul `inah.

4. Pendapat Keempat

Yang dimaksud dengan bai’ataini fi bai’atin adalah transaksi yang mensyaratkan penjualan lagi. Seperti menjual suatu barang yang tidak ditentukan barangnya dan harganya. Atau ditentukan harga dan barangnya.

Seperti A membeli sebuah rumah dengan harga 1 Milyar dari B dengan syarat B membeli mobilnya dari A seharga 1, 5 Milyar. Transaksi jenis keempat ini juga termasuk yang dilarang dalam Islam dan disebut juga bai`u wa syart.

5. Pendapat Kelima

Yang dimaksud dengan bai’ataini fi bai’atin adalah mensyaratkan manfaat pada salah seorang di antara yang melakukan transaksi. Misalnya, saya jual rumah ini dengan syarat saya tinggal dahulu satu tahun.

Transaksi jenis kelima diperselisihkan ulama. Madzhab Malik dan Hambali membolehkannya, sedangkan madzhab Syafi`i melarangnya.

Kasus Anda

Dalam kasus yang anda tanyakan, adanya sistem ‘refund kredit lancar’ itu pada hakikatnya anda memungut nilai tertentu kalau kreditnya tidak lancar. Sedangkan kalau kreditnya lancar, pungutan itu menjadi tidak ada.

Padahal syarat kebolehan akad kredit ini adalah kesepakatan harga di awal, di mana harga itu tidak boleh diubah-ubah oleh masing-masing pihak. Dengan adanya refund itu, maka ketentuan tidak boleh mengubah harga itu menjadi batal. Sebab ada dua harga yang belum ketahuan, karena kredit itu akan lancar atau tidak belum terjadi. Sehingga di sini terjadi unsur jahalah, apakah harga barang itu sesuai dengan harga yang ditetapkan di awal ataukah harga itu lebih besar? Yaitu harga yang telah ditetapkan plus 1 persen?

Kalau dipertimbangkan, maka nampaknya kasus anda ini masuk ke dalam kategori kedua, yaitu ketidak-jelasan harga. Maka menurut hemat kami, apa yang sebut dengan ‘refund kredit lancar’ adalah termasuk bagian dari bai’taini fi bai’atin yang hukumnya termasuk terlarang.

Solusi

Namun kami paham bahwa setiap bentuk pembayaran kredit pasti membutuhkan jaminan. Dalam hal ini, ada banyak solusi yang bisa ditawarkan, namun sebaiknya anda menghindari metode refund itu.

Mungkin anda bisa melakukan menyitaan barang, setidaknya seperti yang dilakukan beberapa perusahaan kredit motor yang belum menyerahkan PBKB kepada pihak yang mengambil kredit. Sehingga kendaraan itu masih belum sepenuhnya menjadi milik.

Atau anda bisa menerapkan sistem sanksi dalam bentuk denda uang, namun uangnya bukan untuk anda. Uang denda itu harus ditarik oleh pihak lain seperti pemerintah dan sebagainya. Kalau uangnya untuk anda, maka hukumnya kembali seperti kasus refund di atas. Maka pemerintah berhak mengenakan denda kepada kreditur nakal ini.

Bahkan kalau bentuknya perusahaan, maka bisa dengan pencabutan izin atau tidak memperpanjangnya. Dan masih banyak lagi trik yang bisa dilakukan, selama tidak mengandung unsur riba yang diharamkan.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »

Older Posts »