Feeds:
Posts
Comments

Archive for May 1st, 2007

SOMBONG,

takabbur, atau merasa diri besar adalah masalah yang sangat serius. Kita harus berhati-hati dengan persoalan ini. Sebab kesombongan inilah yang menyebabkan setan terusir dari surga dan kemudian dikutuk

oleh Allah selamanya. Hadirnya rasa takabbur sangat halus sekali. Banyak orang telah merasa tawadhu (rendah hati) padahal dirinya di mata orang lain sedang menunjukkan sikap takabburnya. Tentang sikap takabbur ini Rasulullah SAW bersabda: Tidak akan masuk surga siapa yang di dalam hatinya ada kesombongan walau seberat debu. (HR Muslim). Allah benar-benar mengharamkan surga untuk dimasuki orang-orang takabbur. Takabbur hanya layak bagi Allah yang memang memiliki keagungan sempurna. Sedang seluruh makhluk hanya sekadar menerima kemurahan dari-Nya.

Penyakit takabbur memang benar-benar seperti bau busuk yang tidak dapat ditutup-tutupi dan disembunyikan. Orang yang mengidap penyakit ini demikian mudah dilihat oleh mata telanjang orang awam sekalipun dan dapat dirasakan oleh hati siapapun.

Perhatikan penampilan orang takabbur! Mulai dari ujung rambut, lirikan mata, tarikan nafas, senyum sinis, tutur kata, jumlah kata, nada suara, bahkan senandungnya pun benar-benar menunjukkan keangkuhan. Begitupun cara berjalan, duduk, menerima tamu, berpakaian, gerak-gerik tangan bahkan hingga ke jari-jari kaki. Semuanya menunjukkan gambaran orang yang benar-benar buruk perangainya.

Ada pertanyaan menarik. Pantaskah sebenarnya orang bersikap takabbur, jika seluruh kebaikan pada dirinya semata-mata hanya berkat kemurahan Allah padanya? Padahal jika Allah menghendaki, dia bisa terlahir sebagai kambing. Tentu saja saat itu tidak ada lagi yang bisa disombongkan. Atau kalau Allah mau, dia bisa terlahir dengan kemampuan otak yang minim. Bahkan jika Allah takdirkan dia lahir di tengah-tengah suku pedalaman di hutan belantara, maka pada saat ini mungkin dia tengah mengejar babi hutan untuk makan malam. Apa lagi yang bisa disombongkan?

Marilah kita berhati-hati dari bahaya kesombongan ini. Jika penyakit ini datang pada kita, kita akan sengsara. Langkah kehati-hatian ini bisa dimulai dengan mengenali ciri-ciri kesombongan. Rasulullah SAW bersabda: Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia. (HR Muslim). Jika dalam hati kita ada satu dari dua hal ini, atau kedua-duanya ada, itu pertanda kita telah masuk dalam deretan orang-orang sombong.

Sebagian orang ada yang merasa dirinya paling mulia, baik, salih, dekat pada Allah, dikabul doanya, berkah urusannya, dan lainnya. Ketika ada kebaikan lalu kita laporkan padanya, dia berkata: Oh, siapa dulu dong yang mendoakannya? Dan ketika kita datang padanya dengan keluhan berupa musibah, dia berkata: Ah, itu sih tidak aneh, saya pernah mengalaminya lebih parah dari itu.

Ini adalah gambaran kesombongan. Orang merasa diri lebih dekat pada Allah, lalu memandang orang lain dengan pandangan yang merendahkan. Perilaku seperti ini jika diteruskan akan merugikan pelakunya. Hakikatnya, semua kebaikan dan keburukan terjadi karena izin Allah. Katakanlah (wahai Muhammad) bahwa semuanya (kebaikan dan keburukan itu) adalah dari sisi (atas takdir) Allah. (QS An Nisaa 4:78). Kita tidak berdaya membuat kebaikan dan keburukan jika Allah tidak menghen daki hal itu terjadi. Sekalipun berupa doa atau puasa, tidak bisa dijadikan alasan bahwa kita punya kuasa atas kebaikan dan keburukan. Wallahu alam***

KH Abdullah Gymnastiar
————————

 

Advertisements

Read Full Post »

Mengapa

Awal Membangun Rumah Tangga Begitu Berat?

Senin, 30 Apr 07 08:49 WIB

Assalamu’alaikum. Wr. Wb.

Apa kabar Ibu Anita? Saya bersyukur sekali akhirnya bisa konsultasi ke rubrik ini. Ini pertama kalinya saya bergabung dengan eramuslim. Saya wanita berusia 23 tahun. Saya sudah menikah bulan September 2006, dan saat ini saya masih kuliah di UGM. Saat ini saya dan suami sedang dilanda permasalahan ekonomi yang cukup berat.

Suami memang dari keluarga yang kurang mampu. Waktu kami menikah, suami meminjam uang sebesar 9, 5 juta untuk membantu biaya resepsi pernikahan kami. Sebenarnya kami berdua ingin agar pernikahan kami hanya akad nikah saja, akan tetapi dari pihak keluarga saya tetap bersikeras agar pernikahannya diresepsikan. Kami menikah di Jakarta, tentu saja harus mengeluarkan biaya yang cukup banyak. Akhirnya saat ini kami menanggung hutang-hutang yang cukup banyak.

Suami saya baru mendapat pekerjaan sebulan yang lalu dengan gaji yang pas-pasan. Bahkan untuk makan sehari-hari saja, dibantu oleh mertua. Tidak jarang saya minta cerai kepada suami karena beratnya hidup yang saya rasakan bersamanya.

Bagaimana sebaiknya sikap saya agar tetap bisa bertahan menghadapi cobaan ini? Apakah ini pertanda bahwa pernikahan kami tidak barokah? Mengapa awal kami membangun rumah tangga begitu berat?

Wassalamu’alaikum

Ade Khairunnisa
khairunnisa_ade at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudari Ade yang dirahmati Allah..

Pernikahan anda yang belum genap setahun, ternyata harus dihadapkan dengan ujian yang cukup berat ya? Tekanan ekonomi yang anda alami dikarenakan anda harus melunasi hutang-hutang yang digunakan untuk resepsi pernikahan, padahal suami baru saja bekerja dan anda pun masih berstatus mahasiswi yang tidak memiliki penghasilan. Alhasil, gaji suami yang pas-pasan tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari sekaligus membayar hutang.

Untungnya mertua masih dapat membantu anda berdua meski hanya untuk makan sehari-hari. Semua itu pastilah membuat anda cukup tertekan dan merasa berat menjalani awal pernikahan yang semestinya dilalui dengan indah.

Masalah ekonomi yang anda hadapi sekarang sebaiknya disikapi dengan banyak bersabar dan tentu saja lebih berhemat lagi. Alangkah baiknya jika anda mendukung dan memberi semangat kepada suami tercinta untuk dapat melalui ujian ini bersama-sama. Bukankah suami anda terlibat hutang juga dilakukannya demi menikahi anda?

Padahal menurut anda keluarga suami adalah keluarga yang kurang mampu sehingga demi memenuhi keinginan pihak keluarga anda, terpaksa suami harus meminjam uang yang jumlahnya cukup besar. Konsekuensinya anda sebagai isterinya akhirnya turut menanggung hutang-hutang itu bukan?

Sebaiknya hilangkanlah pikiran-pikiran negatif bahwa pernikahan anda tidak barokah, karena permasalahan anda saat ini tidak bisa dijadikan alasan untuk berpikir demikian. Justru inilah saatnya anda dan suami harus kompak dan saling mendukung, bukannya menyerah apalagi berpikiran untuk berpisah.

Karena bila pada awal pernikahan anda yang cukup berat ini dapat dilalui bersama dengan baik, Insya Allah akan menjadi momen yang dapat memperkokoh ikatan cinta anda dengan suami, hingga anda berdua lebih siap bila dimasa yang akan datang dalam pernikahan anda nanti akan menemui lebih banyak lagi riak-riak gelombang yang siap menerpa bahtera rumah tangga anda.

Jadi inilah saatnya ujian pertama anda untuk menjadi seorang isteri yang sholihat bagi suami. Tunjukan padanya bila anda mampu mendampinginya dalam kesulitan ini.

Saran saya, bersabarlah dan lakukan apa saja yang kiranya dapat meringankan beban anda berdua saat ini, misalnya dengan mencari penghasilan tambahan yang memungkinkan, tanpa mengganggu kuliah anda.

Sebaiknya hindari berkeluh kesah di depan suami, karena akan berkesan bahwa anda menyesali pernikahan anda. Hal ini bisa mengendurkan semangat dan motivasi kerja suami anda dan akan membuatnya merasa bersalah karena tidak dapat membahagiakan anda.

Kemudian yang paling penting haruslah diiringi dengan pendekatan kepada Allah, mintalah pertolongan-Nya agar anda diberi kesabaran, dimudahkan untuk keluar dari kesulitan dan membukakan pintu rezeki untuk anda berdua. Serta mohonkan pada-Nya agar pernikahan anda penuh dengan keberkahan. Semoga ujian ini segera dapat dilalui dengan baik.

Wallahua’lam bishshawab

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Rr. Anita Widayanti, SPsi.

 

Read Full Post »

Isteri Bekerja

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Salam kenal dengan ibu Anita. Saya adalah seorang isteri yang bekerja. Suami saya secara lisan menyatakan mengizinkan saya untuk bekerja. Tetapi memang beliau lebih suka saya tidak bekerja.

Pertama, saya bekerja untuk menyenangkan kedua orang tua saya, selain itu orang tua saya pernah berkata “masa sarjana tidak bekerja.” Kedua, saya ingin membantu keuangan suami saya walaupun sedikit. Karena sering sekali beliau lupa memberi uang belanja dan kebutuhan lainnya. Saya tidak suka meminta akan hal itu.

Jadi saya harus bagaimana, sebagai isteri dan seorang anak?

Jazakumullah khairan katsiraan.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Hamba Allah

Asiah

Jawaban

Assalamualaikum wr. wb.

Ibu yang dirahmati Allah

Agama memang tidak melarang isteri untuk bekerja, namun juga tidak menganjurkan, karena kewajiban mencari nafkah adalah tanggung jawab suami sebagai kepala rumah tangga. Namun bekerja bagi seorang isteri dapat dilakukan atas izin suami apalagi bertujuan untuk membantu perekonomian keluarga.

Ada beberapa yang semestinya diperhatikan isteri apabila terpaksa bekerja, di antaranya menghindari ikhtilat atau bercampurnya laki-laki perempuan di tempat kerja yang tidak proporsional. Selain itumemperhatikan lamanya jam kerja, jangan sampai waktu isteri habis untuk bekerja diluar rumah sehingga untuk mengurus keluarga hanya merupakan sisa waktu saja.

Karenanya bisa jadi tenaga pun habis terkuras untuk keperluan pekerjaan sehingga isteri terlalu letih untuk melakukan tanggung jawab yang lebih penting yaitu mengurus keluarga. Karenanya hampir semua suami biasanya lebih menyukai isteri yang memilih tinggal dirumah dan seluruh waktunya dikonsentrasikan untuk mengurus keluarga. Karena hatinya lebih tenang katanya.

Namun sekarang banyak wanita-wanita cerdas yang berpendidikan tinggi, biasanya lebih memilih untuk bekerja dengan alasan agar ilmunya tidak mubazir. Apalagi ada tuntutan dari orang tua yang menginginkan anak perempuannya bekerja karena sudah mengeluarkan biaya kuliah yang tidak sedikit.

Tentunya harapan mereka agar anak perempuannya menjadi wanita yang mandiri dan tidak tergantung secara ekonomi kepada suami apabila sudah menikah nanti. Tentunya hal itu sama seperti keinginan orang tua ibu yang menginginkan anda untuk bekerja kan?

Masalah ibu saat ini adalah keinginan ibu yang ingin menyenangkan orangtua untuk bekerja dan keinginan suami yang lebih suka ibu di rumah, saya rasa cukup dilematis ya bu, tapi bagaimana dengan keinginan ibu sendiri?

Apakah ibu lebih bahagia bila bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, sehingga bila ingin membeli keperluan tidak perlu menunggu jatah dari suami. Atau memilih untuk tinggal di rumah dan total mengurus keluarga dengan konsekuensi hanya mengharapkan gaji suami dan mungkin bingung mengatur pengeluaran karena penghasilan otomatis berkurang?

Ibu yang shalihat, suami ibu yang kadang suka lupa memberi uang belanja mungkin disebabkan beliau mengira penghasilan ibu dapat digunakan dahulu untuk menutupi keperluan belanja. Apalagi ibu enggan meminta hak ibu.

Padahal sebagai suami, meskipun isteri bekerja keperluan belanja tetaplah merupakan kewajibannya. Saran saya bu, jangan segan-segan memintanya bila membutuhkan, sekaligus mengingatkan suami akan kewajibannya.

Bila memungkinkan ibu bisa memilih pekerjaan yang tidak mengharuskan ibu keluar rumah atau pekerjaan paruh waktu yang memungkinkan ibu lebih banyak kesempatan mengurus keluarga. Karena dengan begitu penghasilan didapat sekaligus ibu tetap dapat memperhatikan keluarga dengan baik. Sehingga orang tua senang, suamipun tenang, anda juga bahagia bukan?

Pada akhirnya kewajiban isteri yang utama adalah patuh dan taat pada suami, namun juga sesuatu yang mulia bila dapat menyenangkan orang tua. Tapi yang terpenting adalah apapun yang membuat ibu bahagia, sejauh untuk kepentingan keluarga, lakukanlah dengan ikhlas dan bertanggung jawab.

Saya rasa tugas isteri yang bekerja sangat berat dan melelahkan. Jangan lupa meminta pertolongan Allah untuk selalu diberi kemudahan untuk menjalankan dua pekerjaan berat itu. Ibu juga wajib minta ridho dan izin suami dengan tulus, agar hasil dari pekerjaan yang ibu lakukan mendapat keberkahan. Semoga tidak bingung lagi ya bu!

Wallahu’allam bishsawab

Wassalaamu’alaikum wr wb.

Konsultasi Keluarga
bersama Rr. Anita Widayanti, SPsi.

Read Full Post »

Waria:

Taqdir atau Bukan?

Selasa, 1 Mei 07 09:27 WIB

Assalaamu’alaikum wr. Wb.

Pada tanya jawab sebelumnya ada pertanyaan tentang homoseks apakah taqdir atau bukan?

Ustadz menjawab bahwa homoseks bukan taqdir, tetapi pilihan. Bagaimana dengan waria? Terkadang perilaku yang cenderung berbeda dengan keadaan sesungguhnya (laki-laki berperilaku sepwerti wanita), sudah mulai tampak sejak kecil. Dan hal ini sering dipengaruhi oleh pola asuh dari orangtuanya.

Apa sebaiknya yang harus kita sampaikan kepada kaum waria ini untuk kembali sesuai dengan kodrat penciptaannya?

Wassalaamu’alaikum wr wb

Fadhl N

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Jawaban kami sama saja, baik menjadi homoseks maupun menjadi waria, keduanya adalah pilihan, bukan taqdir. Mungkin memang bukan pilihan pribadi, namun pilihan lingkungan, keluarga dan komunitas di mana seseorang tumbuh.

Allah SWT adalah tuhan yang Maha adil, Dia tidak akan mentakdirkan seseorang lahir dalam keadaan waria, lalu Dia melarang kewariaan. Dia juga tidak akan mentaqdirkan seseorang dilahirkandengan kecenderungan homoseksual atau lesbian, lalu Dia melarang perilaku terlarang itu.

Maka statemen kalangan waria dan barisan pendukungnya bahwa kewariaan adalah urusan taqdir nyata keliru. Sebab tidak ada orang yang lahir dalam keadaan waria. Lingkunganlah yang membentuk seseorang menjadi waria.

Sebagaimana tidak ada orang yang lahir dalam keadaan kafir, tetapi orang tua dan lingkungan yang kemudian membuat anak itu murtad, kafir dan keluar dari keIslamannya.

Jadi yang benar barangkali memang taqdirbahwa seseorang dilahirkan di lingkungan yang mendidiknya menjadi waria. Tetapi kita tidak bisa mengatakan bahwa Allah SWT telah mentaqdirkannya menjadi waria.

Sama saja dengan kasus anak pelacur yang ditumbuhkan di lingkungan prostitusi, apakah Allah SWT telah mentaqdirkan dia menjadi wanita penghibur? Tentu saja tidak, bukan?

Karena tidak ada wanita yang lahir langsung jadi pelacur. Dan kewariaan adalah saudara kembar pelacuran. Lingkungan yang salah dan jahiliyah telah menumbuhkan seseorang menjadi waria. Dan lingkungan seperti ini yang harus dilenyapkan dalam kehidupan masyarakat muslim yang beradab.

Kita harus sepakat bahwa kehidupan homoseksual dan waria adalah sesuatu yang bukan taqdir, oleh karena itu harus dihindari dan dilenyapkan. Tentu bukan memerangi para waria, melainkan melenyapkan pola pikir yang menganggap bahwa kewariaan adalah wajar. Dari situ dulu kita mulai.

Setelah itu kita melangkah kepada penghindaran linkgungan dan pola pendidikan yang keliru dengan cara memberi peluang kepada anak-anak untuk tumbuh dengan pola pikir bahwa menjadi waria itu wajar. Kurikulum ini yang harus tampil dengan tegas, bahwa menjadi waria itu adalah sebuah pilihan keliru yang salah kaprah. Bukan sebuah taqdir.

Maka sejak kecil anak-anak sudah kita tanamkan pemahaman bahwa menjadi waria adalah sebuah kekeliruan, ketidak-normalan dan sebuah peri hidup jahat yang dilaknat oleh Allah dan agama.

Sayangnya, para pembela kebejadan moral pasti tidak akan setuju dengan prinsip sikap ini. Mereka ingin menjadikan masyarakat ini rusak sampai ke akar-akarnya, sehingga menjadi waria itu dianggap wajar dan merupakan taqdir dari Allah SWT. Nauzubillahi min zalik.

Maka sebagai muslim, kita akan diminta pertanggung-jawaban nanti di akhirat tentang masalah ini. Apakah kita sudah memerangi pola kehidupan yang tidak normal itu lewat pesan dan lisan kita? Sudahkah kita nyatakan kebenaran kepada khalayak bahwa hooseksual dan kehidupan waria itu adalah kebatilan?

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »

Mengaminkan

Do’a

Selasa, 1 Mei 07 09:27 WIB

Assalamu’alaikum wr, wb.

Pak Ustaz yang terhormat,

Disetiap selesai taklim, tasyakuran, yaasiinan, sholat wajib dan wirid serta beberapa aktivitas keagamaan lainnya, biasanya diakhiri dengan do’a yang diaminkan oleh jema’ahnya.

  1. Suatu keharusankah Do’a berjema’ah tersebut atau hanya sekedar sunnah, padahal kebutuhan masing-masing orang berbeda? Sedangkan Do’a yang di bacakan oleh imam dari hari ke hari biasanya itu-itu saja.
  2. Kapan sebaiknya jema’ah mengucapkan amin?, setiap akhir kalimat atau setelah akhir do’a? Atau mengaminkan doa, secara terus menerus dengan dilagukan Amin, amin, amin amin dst. Mohon penjelasan dari Ustaz.
  3. Doa/ permohonan terhadap leluhur yang sudah meninggal agar Allah SWT menerima segala amal ibadahnya sesuai dengan perbuatannya di dunia secara lahir sepertinya tidak yakin akan firman Allah SWT, dalam surat 99 ayat 7 dan 8. Mohon dapat dijelaskan.

Atas penjelasannya diucapkan banyak terima kasih.

Wassalamu’alaikum wr, wb.

Tandiono – Tangerang

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

1. Doa berjamaah bukan sebuah keharusan. Dan tidak ada dalil yang mewajibkan bahwa seseorang harus ikut doa berjamaah, baik setelah taklim, yasinan, tasyakkuran, shalat wajib atau pun wirid.

Namun juga tidak ada larangan bila kita mendengar orang sedang berdoa, lalu kita mengaminkannya. Sebab lafadz ‘amin’ yang kita ucapkan akan menambah semakin besar kemungkinan dikabulkannya doa tersebut.

Apalagi kalau isi doa itu untuk kebaikan kita juga, tentu tidak diharamkan untuk mengamininya, bukan?

Maka kesimpulannya, silahkan mengamini kalau anda mau mengamini. Dan kalau anda tidak mau mengamini, juga tidak berdosa. Sebab berdoa itu bukan kebutuhan Allah SWT, melainkan kebutuhan manusia. Kalau anda merasa butuh dengan doa yang sedang dipanjatkan, maka sekedar mengamini tidak akan menguras kantong. Bahkan mengamini di dalam hati pun boleh.

Kalau anda ingin berdoa sendirian, maka silahkan saja anda berdoa di rumah saat sendirian. Misalnya di malam hari saat shalat tahajjud, maka silahkan anda berdoa sepuas-puasnya sampai pagi. Anda boleh cerita apa saja kepada Allah SWT, minta apa saja, mengadu apa saja.

Tetapi jangan salahkan kalau ada sebuah jamaah yang sedang berdoa bersama dan diamini. Sebab itu adalah hak asasi siapapun. Selama anda tidak dipaksa untuk ikut berdoa dan mengamini, maka anda tidak perlu merasa terusik.

2. Tidak ada aturan yang baku tentang rundown kapan kita harus mengucapkan amin, apakah setiap si pemimpin doa mengambil nafas, ataukah saat berganti paragraf atau para penggalan-penggalan lainnya.

Anda boleh mengamini dengan cara apa saja yang menurut anda paling enak. Bahkan dalam hati pun tidak terlarang.

3. Doa agar amal para leluhur diterima oleh Allah SWT bukan berarti menentang ayat Al-Quran yang anda sebutkan. Sebab ayat itu berisi jaminan bahwa amal setiap orang pasti diterima. Ayat itu hanya menyebutkan bahwa semua perbuatan baik maupun buruk, pasti akan dilihat Allah. Tetapi apakah akan dinilai sebagai amal yang diterima, ayat itu tidak menjamin.

Bahkan amal-amal yang kita lakukan ini, yang kita anggap pasti diterima, belum tentu diterima oleh Allah SWT. Tidak ada jaminan semua amal baik yang kita lakukan pasti diterima. Juga tidak ada jaminan bahwa suatu kesalahanyang tidak kita sengaja akan diampuni Allah.

Bahkan tidak ada jaminan bahwa seorang yang kelihatannya baik, alim dan shalih, pasti akan mendapatkan kenikmatan di alam kuburnya serta pasti masuk surga.

Maka kita berdoa kepada Allah SWT, agar orang tua kita itu diterima amalnya, diampuni dosanya, diluaskan kuburnya serta dijadikan kubur itu raudhah min riyadhil jannah (kebun dari kebun-kebun surga).

Doa seperti ini telah disyariatkan oleh Allah dan rasul-Nya, sehingga tidak ada alasan buat kita untuk menentang orang yangmelakukannya. Tetapi juga tidak diwajibkan, sehingga kalau anda tidak berkenan untuk mendoakan orang tua anda yang sudah dialam kubur, maka anda tidak berdosa.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »

” Sabar Menyikapi Takdir “

Pada sore hari yang mendung, aku duduk membaca berita dari surat kabar pagi yang baru sempat dibaca sore harinya. Sedih, membaca cerita ada orangtua yang hendak membunuh anaknya dengan alasan karena mereka hidup miskin. Sambil beristigfar hatiku berbisik lirih, ternyata kemiskinan telah membutakan mereka membawa mereka menjadi orang yang kufur bahkan bisa menjadi kafir. Naudzubillah.

Dari kejauhan terdengar suara bapak penjual gorengan berteriak-teriak menjajakan gorengannya. ”Comro, Misro…, nasi uduk, tempe goreng…” Suara si bapak tedengar begitu keras mengagetkan lamunanku. Segera kumemanggilnya ”Comro dan misro pak..!”.

”Oke Mbak.!” si bapak menghampiriku.

”3 ribu aja pak, sebentar saya ambil piringnya ” sahutku sambil lari ke dalam rumah mengambil piring. Sedangkan anakku yang berumur 2 tahun malah lari keluar mendekati si bapak, mereka memang sudah akrab bahkan anakku memanggil bapak penjual gorengan itu dengan panggilan Pak De.

Ketika aku kembali sampai di tempat mereka berada mereka sedang bercanda ria. ”Ini bu, saya tambahin dua misronya, bonus…” katanya sambil tersenyum ramah. Seperti biasa bapak ini memang selalu memberiku bonus. ”Makasih pak…” jawabku sambil mengigit misronya.

Rasa manis misro itu membuatku lupa akan cerita pahit yang baru saja kubaca dari surat kabar tadi. Manis tutur kata dan perilaku bapak penjual gorengan itu yang selalu dihadirkan pada setiap pembelinya, seolah menutupi pahitnya kisah hidupnya sendiri. Pak Pardi nama beliau, umurnya sudah tidak muda lagi, kuperkirakan sudah kepala lima. Pak Pardi tinggal di kampung yang letaknya bersebelahan dengan kompleks perumahakn di mana aku dan keluargaku tinggal, Pondok Jaya nama kampung itu. Dari kompleksu ada jalan akses yang bisa langsung menuju kampung pondok jaya, tak heran jika Pak Pardi dengan leluasa bisa berdagang di kompleks, karena memang jaraknya dekat sekali.

Kisah pahitnya kehidupan Pak Pardi dan keluarganya berawal saat kompleks perumahanku ini mulai dibangun. Banyak sekali tukang bangunan yang bekerja membangun rumah-rumah di komplek. Pak Pardi dan isterinya berjualan nasi, sayur, lauk-pauk dan makanan-makanan kecil lainnya untuk melayani kebutuhan makan dari para tukang bangunan dan mandornya di kompleks itu.

Para pekerja bangunan itu dibayar secara borongan jika pekerjaan mereka sudah selesai, sehingga untuk membayar makan mereka harus berhutang dulu kepada Pak Pardi dan isterinya, tidak ada jaminan apa-apa dalam hutang itu, hanya bu Pardi tiap hari mencatat siapa-siapa saja yang berhutang dan berapa jumlah hutangnya per hari. Proyek pembangunan itu berjalan kurang lebih satu tahun, dan selama itu pula para tukang bangunan itu belum membayar hutangnya pada Pak Pardi dan Bu Pardi, hanya ada segelintir tukang yang mau membayar hutangnya itupun hanya dibayarnya sebagian saja. Sementara untuk modal dagang sehari-hari Pak Pardi mengambil hutang dari bank keliling alias rentenir kampung.

Nasib sial dialami Pak Pardi dan isterinya ketika mereka sudah kehabisan modal dan sudah terjerat banyak hutang dari rentenir, mereka pun berniat menagih hutang-hutang para tukang bangunan dan mandor-mandor yang sering makan dari warung mereka, akan tetapi hampir semua tukang dan mandor itu sudah pergi, tidak berada di wilayah komplek lagi, kabur tanpa kabar, karena ternyata proyek pembangunan rumah sudah selesai. Pak Pardi dan isteri tertipu. Shock tentu saja mereka, apalagi hutang dari rentenir itu sudah beranak pinak bunganya.

Akhirnya mereka terpaksa menjual rumah mereka untuk melunasi hutang-hutang itu. Dan mereka menyewa rumah petak tepat persis di depan rumah yang telah mereka jual itu. Betapa sedih mereka setiap hari harus menghadapi kenyataan bahwa rumah yang tepat berada di rumah petak kontrakannya itu dulunya adalah rumah mereka. Aku hanya tertegun, ikut merasakan kesedihan mereka, ketika Bu Pardi dan suaminya menceritakan kisah hidupnya kepadaku ketika awal aku pindah ke ke komplek itu.

Sambil memasukkan kayu bakar di tungku penggorengan di ruma petaknya Bu Pardi sesekali terisak menangis. ”Beginilah Mbak, bodohnya saat itu kami terlalu percaya begitu saja kepada para tukang bangunan itu, ternyata mereka kurang ajar semua, bahkan mandor kontraktornya pun tidak mau bertanggung jawab..” kata Bu Pardi.

”Kami yakin ini takdir sih Mbak, namun kami juga tidak mau pasrah begitu saja tanpa usaha, kami sudah berusaha mencari-cari keberadaan para tukang bangunan ini, tapi nihil hasilnya, karena mereka semua sudah pulang ke jawa…” sahut Pak Pardi menambahkan.

”Sekarang kami sudah tidak punya apa-apa lagi mbak, setelah satu-satunya harta yang kami miliki telah kami jual untuk membayar hutang dari rentenir, terpaksa kami menyewa rumah petak kecil ini.” tutur bu Pardi sedih.

Mereka juga menyebutkan jumlah kerugian yang mereka alami yang mencapai puluhan juta rupiah. Tak heran aku mendengar jumlahnya, karena jika satu orang saja sehari makan minimal dua kali dia akan berhutang sepuluh ribu rupiah per hari maka jika dia hutang selama setahun sudah satu setengah juta lebih totalnya. Dan itu masih harus dikalikan dengan jumlah tukang yang berhutang yang berjumlah puluhan orang.

Hari-hari berlalu, musibah yang dialami keluarga Pak Pardi mereka hadapi dengan sabar. Mereka juga berusaha bangkit perlahan-lahan untuk kembali berjualan gorengan. Kini merka berjualan di lingkungan komplek kami. Dengan menjajakan dagangannya dari pintu ke pintu, wajah-wajah ceria dan ramah selalu menghiasi wajah Pak Pardi maupun Bu Pardi, mereka adalah orang-orang yang kuat dalam menghadapai cobaan hidup.

Aku harus bisa memetik pengalaman hidup mereka sebagai sebuah hikmah agar bisa meniru kesabaran mereka dalam menghadapi cobaan. Allah SWT telah berfiman ”Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ”Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan secara sempurna dan rahmat dari tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk ” (Al-Baqarah: 155-157).

Seorang muslim yang benar adalah seorang yang mampu menanggung musibah-musibah yang dialaminya dengan teguh dan sabar dengan keyakinan bahwa Allah SWT akan memberikan hikmah yang terbaik untuknya. Seorang yang beriman, tentu mengetahui bahwa takdir Allah swt akan menjadi kebaikan baginya, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Pahala dari sabar adalah surga. Anak, Isteri/Suami dan harta benda yang kita miliki bisa merupakan ujian dari Allah SWT dan jika suatu saat Allah berkehendak menguji atau bahkan mengambilnya kembali, tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali bersabar dan tidak lantas berputus asa.

Rasulullah SAW telah memperingatkan kita agar tidak berputus asa, karena dengan berputus asa, seseorang justru akan menyiksa diri sendiri. Lihatlah kasus orangtua yang membunuh anaknya karena mereka miskin, itu adalah salah satu contoh orang yang berputus asa dari rahmat Allah. Seandainya mereka mau berusaha, Insya Allah, Allah akan membukakan pintu rezekinya untuk mereka. Namun jika mereka hanya berputus asa bahkan sampai membunuh anaknya, saya yakin justru mereka akan menderita, selain mendapat dosa, batin mereka akan tersiksa.***

http://eramuslim.com/atk/oim/6c28092529-sabar-menyikapi-takdir.htm

 

Read Full Post »