Feeds:
Posts
Comments

Archive for March 29th, 2007

Larangan

Sewaktu Junub

Kamis, 29 Mar 07 09:33 WIB

Assalamualaikum wr. Wb.

Ustadz, saya mau tanya apakah boleh sholat dalam keadaan junub. Saya pernah dengar hal itu diperbolehkan, asalkan mencuci kemaluannya terlebih dahulu, dan karena air mani bukan najis. Saya juga pernah dengar bahwa makan dan minum dalam keadaan najis diharamkan, benarkah hal tersebut?

Mohon penjelasan dari pak Ustadz.

Wassalamualaikum wr. Wb.

Firman

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Shalat adalah ibadah ritual yang mensyaratkan kesucian. Dan kesucian itu ada dua macam, yaitu kesucian secara hakiki dan kesucian secarahukmi.

Kesucian secara hakiki artinya seseorang harus suci dari najis, atau benda-benda yang mengandung najis. Sedangkan kesucian secara hukmi adalah keadaan seseorang suci dari hadats, baik kecil maupun besar.

Kedua jenis kesucian ini harus dipenuhi oleh orang yang akan melakukan shalat. Karena kesucian hakiki dan hukmi adalah syarat dari sahnya sebuah shalat. Di mana tanpa kedua jenis kesucian itu, shalat kita tidak memenuhi syarat.

Janabah

Janabah adalah keadaan seorang yang sedang berada pada keadaan tidak suci secara hukmi, khususnya hadats besar. Adapun hal-hal yang menyebabkan seseorang berhadats besar atau dalam kondisi janabah antara lain:

  1. Karena melakukan hubungan suami isteri
  2. Karena keluarnya mani meski di luar hubungan suami isteri
  3. Karena meninggal dunia
  4. Karena mendapat haidh (khusus bagi wanita)
  5. Karena mendapat nifas (khusus bagi wanita)
  6. Karena melahirkan meski tanpa nifas (khusus bagi wanita)

Para ulama umumnya sepakat mengatakan bahwa keenam sebab di atas adalah termasuk hal-hal yang mengakibatkan hadats besar.

Hal Yang Terlarang Buat Orang Yang Berhadats Besar

A. Shalat

B. Tawaf

C. Memegang/ Menyentuh Mushaf

لا يمسه إلا المطهرون

`Dan tidak menyentuhnya kecuali orang yang suci.`. (Al-Qariah ayat 79)

Jumhur Ulama sepakat bahwa orang yang berhadats besar termasuk juga orang yang haidh dilarang menyentuh mushaf Al-Quran

D. Melafazkan Ayat-ayat Al-Quran kecuali dalam hati atau doa/ zikir yang lafznya diambil dari ayat Al-Quran secara tidak langsung.

`Rasulullah SAW tidak terhalang dari membaca AL-Quran kecuali dalam keadaan junub`.

Namun ada pula pendapat yang membolehkan wanita haidh membaca Al-Quran dengan catatan tidak menyentuh mushaf dan takut lupa akan hafalannya bila masa haidhnya terlalu lama. Juga dalam membacanya tidak terlalu banyak.

Pendapat ini adalah pendapat Malik. Demikian disebutkan dalam Bidayatul Mujtahid jilid 1 hal 133.

E. Berihram

F. Masuk ke Masjid

Dari Aisyah RA. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, `Tidak ku halalkan masjid bagi orang yang junub dan haidh`. (HR Bukhari, Abu Daud dan Ibnu Khuzaemah.

Apabila haidh tiba, tingalkan shalat, apabila telah selesai (dari haidh), maka mandilah dan shalatlah. (HR Bukhari dan Muslim)

Larangan Makan Saat Najis?

Dahi kami agak berkerut 10 lipatan ketika membaca pertanyaan ini. Apa maksud haram makan dalam keadaan najis. Apakah maksudnya seorang haram memakan makananan najis? Atau haram makan sesuatu kalau pada tubuhnya ada najis? Atau mungkin maksudnya haram makan sesuatu dalam keadaan janabah?

Kami jawab saja ketiganya. Pertama, haram hukumnya memakan benda yang najis, seperti bangkai, darah, nanah, babi, anjing dan seterusnya. Kedua, seorang yang terkena najis, tidak haram makan sesuatu asalkan bukan pada tanggannya. Sebab kalau yang kena najis itu tanganya, tentu najis itu akan ikut termakan saya menyuap. Ketiga, sebagian ulama memakruhkan seorang yang sedang janabah memakan makanan. Tetapi tidak sampai diharamkan. Itu pun hanya sebagian ulama yang memakruhkannya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Advertisements

Read Full Post »

Infak vs Zakat vs Sedekah

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (Q.S.Al-Baqarah 2:195)

“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia; dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (Q.S.Al Hasyr 59:7)

Zakat adalah nama bagi sejumlah harta tertentu yang telah mencapai syarat tertentu yang diwajibkan oleh Allah untuk dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula.

Setiap harta yang sudah dikeluarkan zakatnya akan menjadi suci, bersih, baik, berkah, tumbuh, dan berkembang (at-Taubah: 103, dan ar-Rum: 39).

Persyaratan harta yang wajib dizakatkan itu:
1. Harta itu dikuasai secara penuh dan dimiliki secara sah, yang didapat dari usaha, bekerja, warisan, atau pemberian yang sah, dimungkinkan untuk dipergunakan, diambil manfaatnya, atau kemudian disimpan.

Di luar itu, seperti hasil korupsi, kolusi, suap, atau perbuatan tercela lainnya, tidak sah dan tak akan diterima zakatnya.

HR Muslim, Rasulullah bersabda bahwa Allah SWT tidak akan menerima zakat/sedekah dari harta yang ghulul (didapatkan dengan cara batil).

2. Harta yang berkembang jika diusahakan atau memiliki potensi untuk berkembang, misalnya harta perdagangan, peternakan, pertanian, deposito mudharabah, usaha bersama, obligasi, dan lain sebagainya.

3. Telah mencapai nisab, harta itu telah mencapai ukuran tertentu. Misalnya, untuk hasil pertanian telah mencapai jumlah 653 kg, emas/perak telah senilai 85 gram emas, perdagangan telah mencapai nilai 85 gram emas, peternakan sapi telah mencapai 30 ekor, dan sebagainya.

4. Telah melebihi kebutuhan pokok, yaitu kebutuhan minimal yang diperlukan seseorang dan keluarganya yang menjadi tanggungan nya untuk kelangsungan hidupnya.

5. Telah mencapai satu tahun (haul) untuk harta-harta tertentu, misalnya perdagangan. Akan tetapi, untuk tanaman dikeluarkan zakatnya pada saat memanennya (Q.S. Al-An’am: 141).

Perbedaan antara infak, zakat dan sedekah :
Infak berarti mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan/ penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan ajaran Islam.

Jika zakat ada nisabnya, infak tidak mengenal nisab. Jika zakat harus diberikan pada mustahik tertentu (8 asnaf) maka infak boleh diberikan kepada siapapun juga, misalnya untuk kedua orangtua, anak yatim, dan sebagainya (Q.S. Al-Baqarah: 215).

Infak dikeluarkan oleh setiap orang yang beriman, baik yang berpenghasilan tinggi maupun rendah, apakah ia di saat lapang maupun sempit (Q.S Ali Imran: 134).

Pengertian sedekah sama dengan pengertian infak, termasuk juga hukum dan ketentuan-ketentuannya. Hanya saja, jika infak berkaitan dengan materi, sedekah memiliki arti lebih luas, menyangkut hal yang
bersifat non materiil.

HR Muslim dari Abu Dzar, Rasulullah menyatakan bahwa jika tidak mampu bersedekah dengan harta maka membaca tasbih, membaca takbir, tahmid, tahlil, berhubungan suami-isteri, dan melakukan
kegiatan amar ma’ruf nahi munkar adalah sedekah.

Seringkali kata-kata sedekah dipergunakan dalam Al Qur’an, tetapi maksud sesungguhnya adalah zakat, (Q.S At-Taubah: 60 dan 103).

Jika seseorang telah berzakat tetapi masih memiliki kelebihan harta, sangat dianjurkan sekali untuk berinfak atau bersedekah.

Berinfak adalah ciri utama orang yang bertakwa (al-Baqarah: 3 dan Ali Imran: 134), ciri mukmin yang sungguh-sungguh imannya (al-Anfal: 3-4), ciri mukmin yang mengharapkan keuntungan abadi (al-Faathir: 29). Berinfak akan melipatgandakan pahala di sisi Allah (al-Baqarah: 262).

“Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al Qur’an, (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. (Q.S.Al An’am 6: 55)

————-
Sumber: Panduan Praktis tentang Zakat, Infak, Sedekah.
oleh : drs. K.H. Didin Hafidhuddin, M.Sc.

(percikan-iman.com)

Read Full Post »

Benarkah

Sejarah Wali Songo Tayangan Televisi?

Rabu, 28 Mar 07 18:00 WIB

Assalamu ‘alaikum wr, wb.

Mudah-mudahan ustdz dalam keadaan sehat wal afiat serta dalam Rahmat-Nya untuk menyampaikan syariat Allah dengan sgt bijaksana,

Berkaitan dengan pertanyaan “mencari pencuri siapa pelakunya”, , saya ada pertanyaan yang masih berhubungan dengan hal itu. Ustdaz mengatakan hal ghaib yang bisa dilakukkan seseorang yang kita lihat secara syar`i adalah datangnya tiba-tiba, tidak bisa dilakukan kapan saja. Bagaimana dengan sejarah wali songo, yang degnan mudahnya hilang atau hidup dalam tahan dalam sekian waktu yang lama, menunjuk pohon lalu menjadi emas.

Yang menjadi pertanyaan saya,

1. Apakah sejarah wali songo yang ditayangkan di TV dahulu itu benar atau tidak?

2. Seorang ustadz mengatakan bahwa antara ulama syariat dengan ulama tasawuf tidak akan pernah sambung pembicaraannya, mohon dijelaskan ustadz? Dan bagaimana kalau pernyataan itu dikatakan dengan tolak ukur karamahnya yang bisa mengeluarkan hal-hal diluar kemampuan manusia dalam waktu kapan pun?

3. Saya pernah mendengarkan cerita dari teman yang pernah mengenyam pendidikan di suatu pesantren, bahwa Kiyainya pernah pergi ke Mekah dengan perahu lewat laut terdekat. Di tempat tinggalnya hanya dalam waktu yang sangat singkat atau pun juga hanya dengan menghilang, apakah ini bisa disebut karamah?

MH

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sinetron dan cerita rakyat tentang wali songo dengan sosok sakti mandra guna adalah salah satu bentuk ghazwul-fikri yang menusuk jantung umat Islam. Disadari atau tidak, sosok para ulama penyebar agama Islam itu tiba-tiba menjadi tokol dagelan, kalau tidak mau dikatakan tokoh perdukunan.

Sama sekali tidak ada sanad yang shahih tentang tokoh para penyebar Islam di nusantara ini, kalau dikatakan bahwa mereka adalah para tokoh ilmu ghaib. Pihak produser sinetron mungkin bisa dituntut atau disomasi, karena membuat cerita yang tidak berdasarkan fakta sejarah, hanya berangkat dari cerita rakyat yang sama sekali tidak didasarkan pada penelitian ilmiyah.

Padahal para wali songo itu adalah tokoh ulama penyebar agama Islam. Dan mereka bukan ahli silat, apalagi punya ilmu-ilmu sakti. Maka cerita sosok para wali yang saksti adalah bentuk penyesatan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang memusuhi para wali songo itu sendiri.

Meski para wali songo sudah mengupayakan dakwah selembut mungkin, namun penentangan tetap terjadi, meski tidak terang-terangan. Salah satunya adalah sinkritisme, yaitu paham yang mencampur-adukkan antara ajaran leluhur nenek moyang dengan ajaran Islam. Kita mengenal dengan istilah kejawen. Dalam kaca mata syariah, ini adalah bentuk pencampur-adukan syariah dengan paham-paham asing di luar Islam.

Maka cerita yang menggambarkan sosok para wali songo sebagai jago silat, bisa menghilang, bisa menunjuk pohon jadi emas dan seterusunya adalah versi cerita dari musuh para wali songo itu sendiri. Ini yang sering kita kenal dengan pembunuhan karakter. Termasuk kebiasaan buruk sebagian masyarakat kita yang berziarah ke makam mereka dengan tujuan untuk meminta berkah, biar laris dagangannya, biar panjang jodohnya, biar naik pangkat dan jabatannya, biar diterima jadi pegawai negeri dan seterusnya.

Tanpa disadari, semua itu adalah bentuk-bentuk kepercayaan sesat yang dilancarka oleh kelompok yang anti terhadap dakwah para wali songo itu. Seandainya para wali itu hidup lagi dan melihat apa yang orang-orang lakukan terhadap makam mereka, pastilah mereka marah besar.

Cerita-cerita tentang kesaktian para wali itu akhirnya lebih menonjol ketimbang ajaran syariat Islam yang mereka sebarkan di tanah jawa. Para wali itu banyak yang jebolan dari timur tengah, tentunya mereka mengajarkan aqidah Islam yang lurus, syariah Islam yang terdapat dalam kitab-kitab fiqih, serta beragam ilmu keIslaman lainnya yang standar di dunia Islam.

Namun lewat penentangan internal, ajaran para wali itu kemudian dikalahkan dengan cerita bohong tentang kesaktian sosok para wali. Dan sayangnya, pementahan ini mengalami tanggapan luar biasa dari masyarakat Indonesia, khususnya orang jawa. Maka masuklah cerita dengan wali songo yang sakti mandra guna itu lewat cerita rakyat, masuk ke dalam cerita kethoprak, hingga masuk ke sinetron.

Dan namanya cerita bohong, siapa pun merasa berhak untuk menambah-nambahi cerita bohong itu. Hingga akhirnya jadilah sosok wali songo, para ulama penyebar agama itu, seperti sekarang ini. Nauzu billahi min zalik.

Kajian Sejarah Yang Ilmiyah

Di antara para ahli sejarah Islam di Indonesia, kita mengenal salah satunya adalah pak Uka Tjandra Sasmita. Beliau telah banyak melakukan penelitian tentang sosok para wali songo ini. Salah satunya bahkan pernah dibuat filmkan layar lebar dengan judul Fatahillah.

Di dalam film itu kita mendapatkan penjelasan yang tegas dari sejarah bahwa para wali itu ternyata bukan sosok manusia sakti mandra guna. Sebailknya, mereka justrutokoh ulama yang mengajarkan ilmu syariah serta sekaligusnya juga menjadipemimpin beberapawilayah negeri.

Kata wali bukan diartikan waliyullah, melainkan maknanya sama dengan wali kota.Konon karena jumlah wilayahnya ada sembilan, maka ada sembilan wali, yang masing-masing bertanggung-jawab terhadap wilayahnya.

Pusat kesultanannya ada di Demak. Sistem hukumnya adalah syariat Islam. Bahkan mereka sudah sampai pada penerapan hukum hudud. Mereka punya mahkamah syar’iyah, tempat untuk mengadili orang-orang yang melanggar syariah.

Di dalam hukum hudud, kita mengenal ada beberapa jenis hukuman yang telah ditetapkan Allah. Misalnya, memotong tangan pencuri, merajam pezina, mendera pemabuk, termasuk menghukum mati orang yang murtad.

Dikisahkan bahwa suatu ketika ada orang yang murtad dari agama Islam, bahkan dia menyebarkan paham yang sangat menghina Allah. Maka para wali ini mengadilinya serta mencari keterangan lebih dalam secara langsung. Akhirnya disimpulkan bahwa orang ini telah sesat dan dan proses penyesatan yang dilakukannya harus secepatnya dihentikan. Maka kepadanya diberi tenggat waktu untuk kembali kepada ajaran Islam yang benar. Bila tidak, maka dia diancam hukuman mati.

Itu adalah salah satu fungsi dan peran dari para wali songo, karena mereka adalah penanggung jawab agama sekaligus pemerintahan. Tentunya mereka adalah juga sosok para ulama yang menguasai ilmu syariah, serta sangat jauh dari ilmu-ilmu ghaib yang tidak jelas itu.

Kalau hari ini sosok para wali dan pemimpin umat itu sedemikan minor, tentu ini adalah kecelakaan sejarah. Dan bangsa kita adalah bangsa yang paling bodoh terhadap sejarahnya sendiri. Bahkan paling tidak peduli.

Sementara cerita rakyat yang fiktif dan bohong itu tetap merajalela, tidak seorang pun dari putera-puteri Islam yang mengkhususkan diri untuk menekuni bidang penulisan ulang sejarah umat Islam di negerinya sendiri.

Kewajiban kita sekarang ini adalah bagaimana melahirkan para ilmuwan dan sejarawan yang profesional di bidangnya, serta mampu melahirkan karya-karya ilmiyah, untuk mengembalikan citra para ulama dan pemimpin Islam di masa lampau. Agar jangan menjadi tokoh dunia persilatan yang kelabu dan sangat menghinakan.

2. Ulama Syariah VS Ulama Tasawuf?

Sesungguhnya yang disebut ulama tasawuf itu bukanlah sosok tokoh ilmu-ilmu ghaib. Tokoh-tokoh yang punya banyak keajaiban sesungguhnya tidak bisa disebut sebagaiulama tasawuf, melainkan para pelaku ilmu-ilmu ghaib.

Karena pada hakikatnya tidak ada dikhotomi antar ilmu syariah dan ilmu tasawauf. Karena keduanya bersumber kepada Al-Quran dan Sunnah serta berada di atas manhaj salafus-shalih. Keduanya tetap wajib tuntuk kepada sistem periwayatan yang benar tentang penafsiran Al-Quran. Keduanya tetap harus tunduk kepada sistem kritik hadits dan keshahihannya.

Maka pada dasarnya ilmu tasawuf adalah ilmu Islam yang benar dan sesuai dengan ajaran nabi SAW. Sedangkan yang berbau ghaib dan ajaib, bukanlah ilmu tasawuf, melainkan ilmu sihir.

Ilmu tasawuf itu tidak dihiasi dengan berbagai asesoris keajaiban di sana-sini. Ilmu tasawuf adalah ilmu dalam arti ilmiyah, punya hujjah berdasarkan kitabullah dan sunnah rasul-Nya. Diakui oleh seluruh ulama sebagai bagian utuh dari ajaran Islam.

Kesalahan yang paling fatal adalah ketika dunia ghaib dan perdukunan dikaitkan dengan ilmu tasawuf. Padahal perbedaan antara keduanya sangat jauh, bagaikan langit dan bumi.

Kesimpulannya, ilmu syariah dan tasawuf adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya selalu seiring sejalan. Menjelma pada sosok Al-Imam Al-Ghazali dan banyak tokoh lain rahimahumullah.

Pernahkah anda mendengar Imam Al-Ghazali terbang ke awan? Atau bisa menghilang? Atau bisa makan beling? Tentu tidak pernah. Karena tasawuf bukanlah dunia ilmu kedigjayaan.

3. Ke Makkah Dengan Menghilang

Tentu saja ke Makkah itu harus lewat perjalanan panjang. Dan caranya dengan naik kapal laut yang akan memakan waktu berminggu, atau lewat pesawat udara yang hanya memakan waktu beberapa jam.

Sedangkan cerita itu sendiri, teman anda perlu mengklarifikasi kepada kiyainya, benarkah kabar burung itu? Jangan-jangan cerita itu hanya cerita bohong untuk membunuh karakter sang kiyai.

Kalau pun memang dia pernah melakukannya, kita boleh saja menanyakannya. Misalnya, bagaimana pak Kiyai bisa ke Makkah dengan cara menghilang? Nanti penilaian kita bisa kita berikan setelah mendengar jawabannya. Kalau ada ciri-ciri sihir, tentu akan ketahuan. Dan kalau tidak ada ciri-ciri sihir, semata-mata karunia Allah, juga akan ketahuan.

Tetapi sebelumnya, yang penting kita harus lakukan wawancara panjang dan lebar terlebih dahulu kepada yang bersangkutan. Jangan sampai kita main hakim sendiri dan melemparkan tuduhan yang tidak benar.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »