Feeds:
Posts
Comments

Archive for March 15th, 2007

Coalition Of Islamic Organization:

Dokumen PBB Soal Perempuan Berbahaya

Kamis, 15 Mar 07 16:38 WIB

Sebanyak 103 Ormas Islam internasional mendesak negara-negara Islam untuk menolak hasil Konferensi Internasional PBB, yang akan segera disosialisasikan ke berbagai negara dunia, untuk ditandatangani. Alasannya, banyak isi dokumen tersebut yang bertabrakan dengan nilai-nilai Islam dan kemanusiaan secara umum.

Koalisi Islam Internasional untuk Perempuan dan Anak-anak, pada hari Rabu (14/3) mengecam hasil putusan konferensi yang penuh kontroversi yang dilakukan oleh Tim Pusat Perempuan di bawah payung PBB pada 26 maret-9 Maret yang bertema, “Menghapuskan Semua Problematika Kekerasan dan Perbedaan Terhadap Anak Perempuan. ”

Keputusan yang dikeluarkan dari pakar perempuan dalam tubuh PBB itu, mencakup saran-saran dan program aksi yang dianggap sebagai bom yang bisa merusak moral dan sosial kemanusiaan secara umum. Isi keputusan itu juga dianggap bisa menghancurkan pilar-pilar keluarga, pilar moral dan sosial masyarakat. Hal inilah yang menyebabkan lebih dari 100 ormas Islam internasional meneriakkan suara “tidak” terhadap ide berbahaya itu.

Di antara poin yang mengancam masa depan keluarga adalah saat berbicara tentang hak anak perempuan yang berusia minimal 18 tahun. Dalam dokumen itu dijelaskan kapan dan bagaimana sang anak bisa mendapatkan ruang untuk aktif secara seksual (sexually active), pemberian informasi seks terhadap anak perempuan, memberi sarana kesehatan untuk melahirkan bagi para remaja putri dengan mengajarkan mereka cara berhubungan seks yang aman, menganggap pernikahan dini sebagai problematika yang menjadi asas kekerasan terhadap perempuan, menuntut adanya undang-undang yang tegas kepada pelaku kekerasan terhadap perempuan, mentolerir hak-hak penyimpangan seksual yang dialami kaum perempuan (lesbian girls), memberi hak untuk anak perempuan menetapkan sendiri identitas seksualnya dalam arti boleh menentukan sendiri perempuan atau laki-laki kah yang akan menjadi pendampingnya, memberi ruang bagi para penderita penyimpangan seksual untuk menyampaikan pendapat dan pandangannya tentang kelainan yang dialaminya.

Dokumen itu juga menyebut bahwa faktor agama, khususnya di negara-negara yang melandaskan agama sebagai hukum, merupakan faktor yang mengekang dan membatasi kebebasan dan menambah kekerasan. Karenanya, dokumen itu menuntut adanya penekanan atau perubahan dengan apa yang mereka namakan “stereotypes gender”, karena agama dianggap sebagai alasan yang bisa menekan peran perempuan hanya sebagai ibu dan isteri belaka. Selain hal-hal ‘aneh’ itu, dokumen yang dikeluarkan oleh tim perempuan PBB itu juga menuntut persamaan sempurna antara kaum perempuan dan kaum laki-laki dalam hal warisan, karena hukum waris yang ada dianggap memiliki bias gender yang lebih mementingkan kaum laki-laki di atas kaum perempuan.

Karena hal itulah, Camelia Hilmi, Sekjen Koalisi Islam Internasional untuk Perempuan dan Anak-anak meminta semua hal yang bertentangan dengan nilai Islam dan nilai kemanusiaan, dihapus. Ia juga menyampaikan kerisauannya terhadap sebagian negara Arab dan Islam yang ingin menandatangani dokumen tersebut tanpa lebih detail memeriksa poin-poin yang terkandung di dalamnya.

Komite Islam yang terdiri lebih dari seratus ormas itu menerbitkan buku yang bertema “Sanggahan Terhadap Kesepakatan Program untuk Menghilangkan Problematika Diferensiasi Perempuan” dan buku berjudul “Pandangan Islam untuk Memerangi Penyakit Aids”. (na-str/ikhol) eramuslim.com

Advertisements

Read Full Post »

Wahabi?!

Sejauh Mana Sudah Perjalanan …

Kamis, 15 Mar 07 06:45 WIB

Sebelumnya saya sangat berterimakasih dan sangat puas atas paparan pak ustaz atas beberapa pertanyaan saya tempo dulu. Namun saat ini saya kembali menemukan hal yang mengganjal dalam hati nurani saya, seakan telah menyeret jauh dari ilmu yang telah saya pahami; terlebih saya adalah seorang penuntut ilmu.

Saya ingin menanyakan apa yang menjadi perbincangan hangat muda saat ini. Khususnya diluar Negeri, tentang suburnya kalangan yang melontarkan hal-hal yang dinilai sedikit dapat membawa ‘Khilafuhu akstar‘ terhadap ‘Wahabi
itu sendiri!

Saya sendiri pernah mendengarkan bahwasannya di Saudi sangat rentan dengan Wahabiyah, atau boleh dikatakan aliran yang dinamakan dengan Wahabiyah?!

Yang menjadi pertanyaan saya:

  1. Tolong ustaz terangkan secara global apa itu aliran ‘Wahabiyah‘ atau siapa Syekh Abdul Wahaab?
  2. Apa perbedaan dan hubungannya antara Wahabi dengan Mazahib al-arba’ah?
  3. Apakah benar yang memproklamirkan atau yang membawa ajaran ini, Muslim dari Perancis?
  4. Benarkah sifat ‘Wahabi‘ ini tergolong arogan?
  5. Referensi apa saja yang dapat saya baca untuk mengetahui perjalanan Syekh Abdul Wahab? (khususnya dalam berbahasa Arab) dan tempat percetakannya!

Terakhir, moga kita dilindungi oleh Allah Swt. Dari sifat menuding antar satu dengan lainnya dengan kalimat ‘Kafir’! Nauzu billah! Wajazakallahu Khairan!
Note: Maafkan pak ustaz, jika dari kata-kata saya terdapat bawaan kasar. Pak ustaz, tolong pertanyaan saya ini dipublikasikan ke umum, agar khalayak umum pun mengetahui, dan bagi yang sudah mengetahui dapat mengambil pelajaran darinya. Syukran

Rusdi ibnu Bukhari, yang sedang menuntut ilmu.

Rusdi Ibnu Bukhari

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Istilah ‘wahabi’ sebenarnya bukan istilah baku dalam literatur Islam. Dan pengindentifikasian wahabi kepada sebagian umat Islam pun kurang objektif. Dan orang-orang yang dijuluki sebagai ‘wahabi’ juga menolak penamaan ini kepada diri mereka. Meski mereka pendukung Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, namun mereka bilang bahwa yang ulama adalah Muhammad, bukan Abdul Wahhab. Abdul Wahhab adalah ayahnya.

Tetapi untuk memudahkan menyebutannya, untuk sementara bolehlah kita gunakan istilah ini, meski kita letakkan di tengah tanda kutip.

Sebenarnya penyebutan `Wahabi` bila kita runut dari asal katanya mengacu kepada tokoh ulama besar di tanah Arab yang bernama lengkap Syeikh Muhamad bin Abdul Wahhab At-Tamimi Al-Najdi (1115-1206 H atau 1703-1791 M).

Beliau lahir di Uyainah, salah satu wilayah di jazirah Arab. Sebenarnya secara fiqih, beliau lahir dan dibesarkan serta belajar Islam dalam mazhab Hanbali.

Dakwah beliau banyak disambut ketika beliau datang di Dir`iyah bahkan beliau dijadikan guru dan dimuliakan oleh penguasa setempat sat yaitu amir (pangeran) Muhammad bin Su`ud, yang berkuasa 1139-1179 H. Oleh Amir Muhammad bin Su’ud, dakwah beliau ditegakkan dan akhirnya menjadi semacam gerakan nasional di seluruh wilayah Saudi Arabia hingga hari ini.

Hubungan Wahabi dan Mazhab-mazhab Fiqih

Sebenarnya agak sulit juga untuk menjelaskan hubungan antara ‘wahabi’ dengan keempat mazhab fiqih. Sebab keduanya tidak saling terkait dan bukan dua hal yang bisa dibandingkan.

Kalau mazhab fiqih adalah gerakan ilmiyah dalam bidang ilmu fiqih, sehingga mampu membuat sistem dan metodologi ilmiyah dalam mengistimbath hukum dari dalil-dalil yang bertaburan baik dalam Al-Quran maupun As-Sunnah, maka gerakan wahabi lebih merupakan gerakan dakwah memberantas syirik dan bid’ah, ketimbang aktifitas keilmuan.

Kalau para ahli fiqih empat mazhab adalah pelopor di bidang ijtihad dan mereka hidup di awal perkembangan Islam, sekitar abad pertama dan kedua hijriyah, maka sosok Muhammad bin Abdul Wahhab adalah sosok yang hidup di akhir zaman, muncul menjelang masa-masa kemunduran dan kebekuan berpikir pemikiran dunia Islam.Sekitar 2 abad yang lampau atau tepatnya pada abad ke-12 hijriyah. Intinya, apa yang beliau lakukan adalah menyerukan agar aqidah Islam dikembalikan kepada pemurnian arti tauhid dari syirik dengan segala manifestasinya.

Fenomena umat yang dihadapi antara para imam mazhab dengan Muhammad bin Abdul Wahhab sangat berbeda konteksnya. Di zaman para fuqaha mazhab, umat Islam sedang mengalami masa awal dari kejayaan, peradaban Islam sedang mengalami perluasan ke berbagai penjuru dunia. Sehingga dibutuhkan sistem hukum yang sistematis dan bisa menjawab problematika hukum dan fiqih.

Sementara fenomena sosial umat di zaman Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab sangat berbeda. Saat itu umat Islam sedang mengalami masa kemundurannya.Salah satu fenomenanya adalah munculnya banyak penyimpangan dalam praktek ibadah, bahkan menjurus kepada bentuk syirik dan bid’ah. Banyak dari umat Islam yang menjadikan kuburan sebagai tempat pemujaan dan meminta kepada selain Allah. Kemusyrikan merajalela. Bid`ah, khurafat dan takhayyul menjadi makanan sehari-hari. Dukun, ramalan, sihir, ilmu ghaib seolah menjadi alternatif untuk menyelesaikan berbagai persoalan dalam kehidupan umat Islam. Itulah fenomena kemunduran umat saat di mana Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab hidu saatitu. Maka beliaumengajak dunia Islam untuk sadar atas kebobrokan aqidah ini.

Berbeda dengan para fuqaha fiqih di zaman awal yang mendirikan madrasah keilmuan sera melahirkan jutaan judul kitab fiqih dan literatur, Syeikh Muhammad bin Abdul WAhhab tidak pernah melahirkan buku berjilid-jilid, beliau hanya menulis beberapa risalah (makalah pendek) untuk menyadarkan masyarakat dari kesalahannya. Salah satunya adalah Kitab At-Tauhid yang hingga menjadi rujukan banyak ulama aqidah.

Dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab dibantu oleh penguasa, kemudian melahirkan gerakan umat yang aktif menumpas segala bentuk khurafat, syirik, bid`ah dan beragam hal yang menyeleweng dari ajaran Islam yang asli. Dalam prakteknya sehari-harinya, para pengikutnya lebih mengedepankan aspek pelarangan untuk membangun bangunan di atas kuburan, menyelimutinya atau memasang lampu di dalamnya. Mereka juga melarang orang meminta kepada kuburan, orang yang sudah mati, dukun, peramal, tukang sihir dan tukang teluh. Mereka juga melarang ber-tawassul dengan menyebut nama orang shaleh sepeti kalimat bi jaahi rasul atau keramatnya syiekh fulan dan fulan.

Dakwah beliau lebih tepat dikatakan sebagai dakwah salafiyah. Dakwah ini telah membangun umat Islam di bidang aqidah yang telah lama jumud dan beku akibat kemunduran dunia Islam.

Aliran Fiqih Pendukung Wahabi

Sebenarnya kalau mau dirunut di atas, para pendukung gerakan wahab ini -suka atau tidak suka- tidak bisa lepas dari sebuah metode penyimpulan hukum tertentu. Dan secara umum, yang berkembang secara alamiyah di negeri mereka adalah mazhab Al-Imam Ahmad bin Hanbal. Dan nama-nama tokokh ulama rujukan mereka, semuanya secara alamiyah bermazhab Hanbali.

  • Imam Ahmad ibn Hanbal (164-241 H)
  • Ibnu Taimiyah (661-728 H)
  • Muhammad Ibnul Qayyim Al-Jauziyah (6691-751H)
  • Muhammad bin Abdul Wahhab

Meski banyak dari pendukung wahabi ini mengaku tidak terikat dengan mazhab fiqih tertentu, namun tulisan, makalah, buku pelajaran serta fatwa-fatwa ulama mereka, nyaris tidak bisa dipisahkan dari mazhab Al-Hanabilah.

Anti Mazhab?

Memang ada sebagian dari pendukung atau sosok yang ditokohkan oleh para pendukung gerakanini yang secara tegas memisahkan diri dari mazhab mana pun. Katakanlah salah satunya, Syeikh Nasiruddin Al-Albani rahimahullah. Beliau sejak muda telah mengobarkan semangat anti mazhab fiqih. Seolah mazhab-mazhab fiqih itu lebih merupakan sebuah masalah ketimbang solusi di mata beliau. Maka muncul perdebatan panjang antara beliau dengan para ulama fiqih mazhab. Salah satunya perdebatan antara beliau dengan Syeikh Dr. Said Ramadhan Al-Buthy.

Para ulama fiqih tentu tidak terima kalau dikatakan bahwa mazhab fiqih itu merupakan bentuk kebodohan, kejumudan, taqlid serta suatu kemungkaran yang harus diperangi.

Sayangnya, sebagian dari murid-murid beliau ikut-ikutan memerangi para ahli fiqih dengan berbagai literatur mazhabnya dan hasil-hasil ijtihad para fuqaha’.. Padahaldi sisi lain, pendapat-pendapat Syeikh Al-Albani pun tetap merupakan ijtihad dan tidak bisa lepas dari penafsiran dan pemahaman, meski tidak sampai berbentuk sebuah mazhab.Yang sering dijadikan bahan kritik adalah beliau melarang orang bertaqlid kepada suatu mazhab tertentu, namun beliau membiarkan ketika orang-orang bertaqlid kepadadirinya.

Awalnya, oleh banyak kalangan, gerakan ini dianggap sebagai pelopor kebangkitan pemikiran di dunia Islam, antara lain gerakan Mahdiyah, Sanusiyah, Pan Islamisme-nya Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh di Mesir dan gerakan lainnya di benua India.

Namun para penerusnya kelihatan lebih mengkhususkan diri kepada bentuk penghancuran bid’ah-bid’ah yang ada di tengah umat Islam. Bahkan hal-hal yang masih dianggap khilaf, termasuk yang dianggap seolah sudah bid’ah yang harus diperangi.

Arogansi Wahabi?

Mungkin memang sebagian umat Islam ada yang merasakan arogansi dari kalangan pendukung dakwah wahabiyah ini. Hal itu mungkin disebabkan oleh beberapa hal berikut:

1. Syeikh Abdul Wahhab dan Penguasa

Sebagaimana kita ketahui, di jazirah Arabia, Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkolaborasi dengan penguasa. Maka lewat tangan penguasa, beliau melancarkan dakwahnya. Dan ciri khas penguasa, segala sesuatu ditegakkan dengan kekuasaan. Karena penguasa pegang harta, wewenang dan hukum, maka wajar bila pendekatannya lebih bersifat vonis dan punnishment.

Inilah barangkali yang unik dari dakwah wahabi dibandingkan dengan dakwah lainnya yang justru biasanya ditindas oleh penguasa.

2. Fenomena Kultur Masyarakat

Barangkali gaya yang lugas, kalimat yang menukik, vonis dan kecaman kepada para penyeleweng memang tepat untuk kultur masyarakat tertentu. Misalnya kultur masyarakat padang pasir di jazirah arab yang memang keras.

Kalau dakwah hanya menghimbau dan merayu, mungkin dianggap kurang efektif dan tidak mengalami perubahan yang berarti. Maka ketika pendekatan yang agak ‘keras’ dirasakan cukup efektif, jadilah pendekatan ini yang terbiasa dibawakan.

Sayangnya, ketika masuk ke negeri lain yang kultur masyarakatnya tidak sejalan, metode pendekatan ini seringkali menimbulkan kesan ‘arogan’. Dan rasanya, memang itulah yang selama ini terjadi.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »

Sawah Gadai

Hukum Menggarap

Kamis, 15 Mar 07 10:39 WIB

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Ustadz, saya ada pertanyaan, bagaimana hukumnya orangyanggadai sawah dengan uang. Semisal seperti ini.

Si A = Yg punya Sawah

Si B = Yg punya uang

Karena si A sedang butuh uang yang mendadak dan jumlahnya sangat besar, tapi dia mempunyai sawahy ang luasnya tidak seberapa. Kebetulan si B punya uang, sehingga si A ingin menggadaikan sawahnya kepada si B, dengan ketentuan:

1) si A dapat uang dari Si B yang memang jumlahnya tidak sesuai dengan luas sawah (jumlah uang lebih besar dari harga sawah)

2) si B berhak menggarap sawah si A, dan hasilnya untuk si B

3) ketika waktu kesepakatan gadai selesai, si A harus mengembalikan uangyangbesarnya sama ketika si A menerima dari si B. Dan hak garap sawah si B pun tidak ada lagi (artinya Hak sawah dikembalikan ke si A)

4) Kalau ternyata SI A tidak punya uang ketika waktu kesepakatan gadai habis, maka kesepakatan gadai diperpanjang lagi sampai si A mempunyai uang untuk mengambil barang gadaiannya (sawahnya)

Mungkin seperti itu, syukron atas jawabannya

Wassalam

Wahyono
wahyono at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dalam hukum gadai (rahn), para ulama memiliki beberapa hukum yang disepakati dan beberapa bagian lain yang tidak disepakati.

Para ulama sepakat bahwa pada hakikatnya akad gadai adalah akad istitsaq (jaminan atas sebuah kepercayaan kedua belah pihak), bukan akad untuk mendapat keuntungan atau bersifat komersil. Sehingga mereka sepakat bahwa seorang yang sedang menghutangkan uangnya dan menerima titipan harta gadai, tidak boleh memanfaatkan harta itu.

Namun mereka berbeda pendapat, apabila pihak yang sedang berhutang dan menitipkan hartanya sebagai jaminan memberi izin dan membolehkan hartanya itu dimanfaatkan.

1. Pendapat Jumhur Ulama Selain Hanafiyah

Umumnya para ulama selain ulama Hanafiyah mengharamkan pihak yang ketitipan harta gadai untuk memanfatkan harta gadai yang sedang dititipkan oleh pemiliknya. Baik dengan izin pemilik apalagi tanpa izinnya.

Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW

كلُّ قرْضٍ جَرَّ نَفْعًا فهوَ رِبًا

Rasulullah SAW bersabda, “Semua pinjaman yang melaihrkan manfaat, maka hukumnya riba.”

Kalau menggunakan pendapat jumhur ulama, seperti Al-Malikiyah, Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah, maka bila ada seorang berhutang uang dengan menggadaikan sawahnya, maka sawah itu tidak boleh diambil manfaatnya. Tidak boleh ditanami dan tidak boleh dipetik hasilnya oleh pihak yang menerima gadai. Baik dengan izin pemilik sawah atau pun tanpa izinnya.

2. Pendapat Hanafiyah

Sedangkan menurut pendapat kalangan mahzab Al-Hanafiyah, hukumnya boleh. Selama ada izin dari pemilik harta yang digadaikan itu.

Landasan syariah atas kebolehannya itu adalah logika kepemilikan. Bila orang yang memiilki harta itu sudah membolehkannya, maka mengapa harus diharamkan. Bukankah yang berhak untuk mengambil manfaat adalah pemilik harta? Dan kalau pemilik harta sudah memberi izin, kenapa pula harus dilarang?

Dengan demikian, sebagian jawaban atas pertanyaan anda sudah terjawab. Ada ulama yang membolehkan sawah itu untuk digarap pihak yang meminjamkah uang, namun umumnya ulama malah mengharamkannya.

Dan kalau kita mengikuti pendapat ulama kalangan Al-Hanafiyah, maka sistem gadai sawah seperti ini hukumnya boleh dan tetap berlaku selama salah satu pihak belum membatalkannya. Atau menjadi batal saat pihak pemilik sawah tidak mengizinkan sawahnya digarap.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

Tahukah anda????

Makkah sekarang sudah seperti Las Vegas

Oleh : Redaksi 12 Mar, 07 – 5:00 pm
Makkah sekarang sudah seperti Las Vegas, ” begitulah pernyataan yang dilontarkan Ali al-Ahmad, direktur Institute for Gulf Affairs-lembaga riset oposisi Saudi- yang berbasis di Washington, melihat perkembangan kota suci Makkah saat ini.

Kota Makkah yang menyandang sebutan kota suci dan menjadi pusat ibadah haji umat Islam di seluruh dunia, ketenangan dan kekhusyuk-annya makin terkikis, Ka’bah yang terletak di tengah masjid Haram dan menjadi arah sholat Muslim sedunia, semakin tenggelam oleh berdirinya gedung-gedung tinggi.

Menurutnya, perkembangan kota Makkah sekarang adalah sebuah bencana. “Hal ini akan memberikan pengaruh buruk bagi umat Islam. Ketika mereka ke Makkah mereka tidak punya perasaan apapun, tidak ada keunikan lagi. Apa yang anda lihat cuma semen dan kaca, ” ujar Ahmad serius. :foto

Ahmad cukup beralasan melontarkan pernyataannya itu, karena kota Makkah saat ini makin penuh dengan bangunan-bangunan tinggi mulai dari hotel, pusat perbelanjaan dan toko-toko besar yang menjual produk Barat. Sebut saja kedai kopi Starbucks, Cartier and Tiffany, H&M dan Topshop.

Pusat perbelanjaan Abraj Al-Bait

Pusat perbelanjaan Abraj Al-Bait ( www.abrajalbait.com ), salah satu mall terbesar di Saudi yang baru dibuka menjelang musim haji bulan Desember 2006 kemarin, nampak megah dengan monitor-monitor televisi flat, cahaya lampu-lampu neon, dengan pusat hiburan, resto-resto cepat saji, bahkan toko pakaian dalam.

Pusat perbelanjaan itu, nantinya juga akan dilengkapi dengan kompleks hotel yang menjulang tinggi. Bahkan kompleks bangunan yang rencananya selesai tahun 2009 nanti, akan menjadi gedung tertinggi ketujuh di seluruh dunia, dilengkapi dengan fasilitas rumah sakit dan tempat sholat yang luas.

Seluruh pegunungan di dekat Jabal Omar, kini sudah diratakan. Di lokasi itu juga akan dibangun kompleks hotel dan lebih dari 130 gedung-gedung tinggi baru.

Kota Makkah yang menyandang sebutan kota suci dan menjadi pusat ibadah haji umat Islam di seluruh dunia, ketenangan dan kekhusyuk-annya makin terkikis, Ka’bah yang terletak di tengah masjid Haram dan menjadi arah sholat Muslim sedunia, semakin tenggelam oleh berdirinya gedung-gedung tinggi.

Ini adalah akhir dari Makkah, ” kata Irfan Ahmad dari London, pendiri Islamic Heritage Foundation, yang secara khusus aktivitasnya mempertahankan peninggalan-peninggalan bersejarah di Makkah, Madinah dan tempat-tempat lainnya di Arab Saudi.

“Sebelumnya, bahkan pada masa Ustmani, tak satu pun gedung-gedung di Makkah yang tingginya melebihi tinggi Masjid Haram. Sekarang, banyak gedung yang lebih tinggi dari Masjid Haram dan tidak menghormati keberadaan masjid itu, ” tukas Irfan.

Uang, tentu saja menjadi motivasi utama boomingnya gedung-gedung tinggi di Makkah. Karena setiap tahun, kota itu dibanjiri oleh para jamaah haji. Papan-papan iklan di sepanjang jalan menuju Makkah, seolah menjadi daya tarik bagi para investor yang mencari keuntungan dari usaha penginapan.

Sejumlah organisasi Islam mengatakan, berdirinya gedung-gedung megah di kota Makkah, juga dilatarbelakangi motif agama. Mereka menuding pemerintah Saudi mengizinkan kelompok konservatif untuk menghancurkan tempat-tempat bersejarah dengan alasan khawatir tempat itu justeru disembah-sembah oleh para pengunjung.

Ahmad dari Islamic Heritage Foundation mengaku punya kalatog lebih dari 300 tempat-tempat bersejarah di Arab Saudi, termasuk pemakaman dan masjid-masjid. Ia mengatakan, sebuah rumah tempat Nabi Muhammad dilahirkan dihancurkan untuk membangun tempat kamar mandi.

“Sama sekali tidak menghormati Kabah, tidak menghormati rumah Tuhan atau lingkungan dari tempat-tempat bersejarah itu, ” kata Sami Angawi, seorang arsitek Saudi yang ingin mempertahankan peninggalan bersejarah di Makkah.

“Padahal, memotong pohon saja seharusnya tidak boleh dilakukan di kota ini, ” sambungnya.

Kemajuan kadang memang harus dibayar mahal. Bahkan pasar malam, di mana para jamaah bisa menjual barang-barang yang dibawanya, kini sudah tidak ada lagi. Begitu juga dengan keluarga-keluarga di Makkah yang biasa menyambut para jamaah haji, sudah tidak terlihat lagi sejak rumah-rumah mereka digusur untuk perluasan Masjid Haram di era tahun 1970-an.

Angawi kini berusaha melakukan pendekatan pada kerajaan Arab Saudi agar memberi perhatian besar atas penghancuran tempat-tempat bersejarah. Ahmad melobi pemerintah-pemerintah negara Asia dan Arab untuk menghentikan penghancuran yang dilakukan pemerintah Saudi. Kedua tokoh ini menyayangkan kurangnya kepedulian umat Islam atas isu-isu ini. Kepentingan bisnis dan uang mengalahkan segala-galanya.

“Makkah tidak pernah berubah seperti sekarang ini. Apa yang anda lihat sekarang baru 10 persennya saja dari apa yang akan ada, yang akan jauh lebih, lebih buruk lagi, ” kata Angawi risau. (ln/IHT/eramuslim)

 

Read Full Post »

SBY

“Saya Seorang Pluralis, Syari’at Islam Bertentangan Dengan Pluralisme”
Oleh : Redaksi 14 Mar 2007 – 7:14 pm

Risalah Mujahidin Edisi 6 Th. I Saffar 1428 H (Maret 2007 M), hal. 35-36.
Fenomena penolakan Syari’at Islam di lembaga negara, agaknya sudah sejak lama penggelayut di hati Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tidak mengherankan, bila ternyata agenda pemerintahan SBY-JK banyak mengabaikan aspirasi umat Islam. Fakta bahwa SBY anti Syari’at Islam, diperoleh Risalah Mujahidin dari rekaman CD dialog antara (kandidat) Presiden RI ke-6 dengan sejumlah komunitas keturunan Cina (dan tokoh Kristen-Katholik). Dialog tersebut berlangsung di Hotel Reagent, Jakata, pada tanggal 1 Juni 2004. Sekadar menyegarkan ingatan, Pemilu Legislatif berlangsung pada 5 April 2004, sedangkan pilpres putaran pertama berlangsung 5 Juli 2004, dan pilpres putaran kedua berlangsung pada 20 September 2004. SBY-Kalla dilantik sebagai Presiden RI ke-6 Oktober 2004.

DIALOG antara SBY dengan komunitas keturunan Cina yang berlangsung 1 Juni 2004, berarti terjadi setelah pemilu legislatif, dan pilpres putaran pertama berlangsung sebulan kemudian.

Bisa disimpulkan, komunitas Cina yang berdialog dengan SBY sebagai kandidat Presiden RI ke-6 kala itu, adalah Cina non Muslim. Karena, masalah utama yang mereka tanyakan adalah berkenaan dengan komitmen SBY seputar penerapan Syari’at Islam. Dan SBY secara tegas memposisikan diri sebagai pluralis dan nasionalis yang tidak setuju Syari’at Islam.

Dari dialog ini juga muncul kesan, bahwa PBB pimpinan Yusril Ihza Mahendra (kala itu, kini dipimpin MS Ka’ban), juga berada dalam posisi yang sama dengan SBY, yaitu menolak Syari’at Islam. Oleh karena itu, bisa dimengerti mengapa PBB pada pemilu 5 April 2004, perolehan suaranya terus menurun dibanding lima tahun sebelumnya.

Komunitas Cina yang berdialog dengan SBY kala itu, dicitrakan dari kalangan pengusaha, yang sangat berpengaruh di dalam roda perekonomian nasional. Mereka, tokoh Cina (dan tokoh Kristen-Katholik), memberikan kesan bahwa keberhasilan Partai Demokrat, terutama di Jakarta, adalah hasil kerja keras mereka. Untuk itu, mereka menagih janji sekaligus memberikan pressure kepada SBY yang diperkirakan akan memenangkan pilpres.

Tidak hanya itu, mereka juga menggertak : akan memutar haluan memilih Mega bila aspirasinya tidak diakomodasi.

Perlu juga diketahui, jumlah keturunan Cina di Indonesia – sebagaimana disampaikan Duta Besar RI untuk Cina, Sudrajat– berjumlah lebih dari 10 juta orang. Dengan demikian, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk keturunan Cina terbesar di dunia selain RRC. Oleh karena itu, untuk mempererat hubungan budaya, dalam memperingati Tahun Baru Imlek 2558 yang jatuh pada 18 Februari 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan menghadiri perayaan Imlek nasional di Arena Pekan Raya Jakarta, 28 Februari 2007 (Kompas Senin 22 Januari 2007, hal. 2, Kilas Politik & Hukum).

Kalau terhadap penduduk berjumlah 10 juta saja SBY begitu sibuk – malah seperti terbungkuk-bungkuk– mengakomodasi aspirasinya, seharusnya terhadap jumlah penduduk yang jauh lebih besar, SBY pun mau memperlakukannya dengan lebih terhormat. Bila tidak, itu namanya diskriminasi, bahkan mendorong terjadinya tirani minoritas atas mayoritas. Juga, tidak sesuai dengan asas ke-bhineka-tunggal-ika-an atau pluralisme yang dipahami SBY selama ini.

Sekiranya sikap anti-diskriminasi dijalankan secara konsisten, mengapa terjadi politik diskriminasi pemerintahan SBY-Kalla dalam kasus Poso berdarah misalnya, dengan tidak menegakkan hukum terhadap 16 orang otak konflik Poso, sebagaimana kesaksian terpidana mati pelaku pembantaian, Tibo. Sikap SBY terhadap kerusuhan Mei 1998 di Jakarta, dengan berlepas tangan dan menilai peristiwa tersebut sebagai kebiadaban luar biasa. Tetapi setelah jadi Presiden, SBY tidak melakukan apapun untuk mengatasi berbagai kekejaman di tanah air, bahkan melestarikan kekejaman yang sama di Poso terhadap masyarakat yang tidak mengerti persoalan sebenarnya.

Apabila SBY hendak bersungguh-sungguh menegakkan Pancasila dan konstitusi NKRI. Pertanyaannya, bukankah konstitusi dan Pancasila tidak melarang penegakan Syari’at Islam di lembaga negara? Mengapa pemerintahan SBY-Kalla, dari berbagai indikasi inkonstitusional, justru memerangi upaya penegakan Syari’at Islam, sebagaimana dikatakan di hadapan komunitas Cina dan Kristen di Jakarta itu? Apakah SBY-Kalla menjadi Presiden dan Wakil Presiden bagi komunitas Kristen dan Cina atau bagi rakyat Indonesia seluruhnya?

Dialog SBY Di Komunitas Cina-Kristen
Risalah Mujahidin Edisi 6 Th. I Saffar 1428 H (Maret 2007 M), hal. 37-44.

Materi dialog ini adalah hasil transkrip yang dilakukan koresponden Risalah Mujahidin, dengan sedikit editing redaksional atas pengulangan kata, agar enak dibaca dan tidak membosankan. Inilah hasilnya.

Pemandu:
Selamat sore Bapak-bapak, Ibu-ibu. Sore ini kita berjumpa dengan Bapak SBY, calon presiden RI keenam. Kita akan berbincang-bincang mengenai kasus-kasus utama yang merisaukan Bapak-bapak sebagai warga negara Republik Indonesia dari etnis Tionghoa.

Ini pak, kawan-kawan yang datang kemari ini, bapak-bapak ini, ini yang menghasilkan Partai Demokrat nomor satu pak di Jakarta. Kami juga membawa rombongan bapak dokter Yohanes. Ini, satu RS Husada semua jadi Partai Demokrat, pak. Prakteknya ditinggalkan, pak. Ada lagi pendeta Abraham. Ini yang paling gigih, pak dia.

Nah, ini bapak-bapak kita, pak RT segala macam. Lalu, Pantai Indah Kapuk, Pantai Mutiara berhalangan. Ini person-person minta diperjuangkan. Juga kawan-kawan dari Banten, dia bikin stiker dibagikan ke desa-desa.

Kandidat Presiden SBY:
Satu Juni kita kenal sebagai lahirnya Pancasila. Oleh karena itu, pertama kali sebagai seorang kandidat tadi saya menyampaikan pidato politik, panjang… Saya ingin nanti bapak-ibu mendapatkan copy-nya, karena ini visi lengkap saya, penglihatan komprehensif saya, bagaimana Negara ini kita bangun, kita kembangkan menjadi Negara kebangsaan yang modern, yang tentunya tumbuh menjadi Negara yang makin aman dan damai, makin adil dan demokratis, dan makin sejahtera.

Ada beberapa isu yang saya angkat di situ, saya kira bapak ibu kalau membaca nanti nyaman. Karena, sejumlah isu yang menimbulkan pertanyaan sekitar pluralisme… saya angkat secara tuntas dalam pidato politik saya. Saya menganjurkan bisa di-copy dan bisa dibaca, ditelaah, karena menggambarkan komitmen saya yang tidak pernah berubah, tentang pluralisme, tentang equality before the law, tentang equality of the opportunity, tentang non discriminatic policy, dan banyak hal.

Namun sebelum saya … berguna bagi upaya saya untuk kompetisi dalam pemilihan presiden dewasa ini. Namun sebelum ke situ, ijinkan saya dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya mengucapkan terimakasih dan penghargaan kepada bapak-ibu sekalian, yang telah berpartisipasi dan berkontribusi secara nyata hingga datanglah satu anugerah dari Tuhan yang patut kita syukuri, dimana Partai Demokrat di DKI Jaya ini meraih kemenangan yang tinggi.

Saya bersyukur, saya menyampaikan rasa hormat dan penghargaan kepada bapak-ibu sekalian, because you are contributing to history that we are making, history is in the making, dan bapak ibu berkontribusi, dan kalau itu tidak mengait pada partai politik atau partai Demokrat, yang bapak ibu lakukan juga telah mendorong posisi dan penampilan saya sebagai politisi dalam rangkaian proses pemilu sekarang ini.

Tuhan Yang Maha Kuasa akan membalas jasa baik dan kemudian komitmen perjuangan. Karena bapak ibu ikut berjuang, tentunya lebih dari pantas nanti untuk juga ikut bersama-sama mengelola kehidupan negara kita di waktu yang akan datang, bukan hanya lima tahun mendatang, tapi insyaallah untuk periode yang lebih panjang lagi.

Terimalah sekali lagi ucapan terimakasih, penghormatan dan penghargaan saya yang tulus. Persahabatan ini harus abadi, bukan hanya kepentingan politik sesaat, tapi pertemuan antara anak bangsa yang begitu perduli pada nasib dan masa depan kita. Itulah yang ingin saya sampaikan. Dan menyangkut visi politik saya, sudah sangat gamblang, baik itu di bidang keamanan dan perdamaian (peace), di bidang keadilan dan demokrasi (justice & democracy), dan di bidang kesejahteraan rakyat (prosperity). Saya tidak ingin menyampaikan secara panjang lebar, mari kita berdialog saja supaya kita bisa sama-sama memikirkan masalah-masalah yang krusial, masalah-masalah yang fundamental, yang tentu menjadi bagian dari kebersamaan kita membangun hari esok yang lebih baik. Saya kira demikian yang dapat saya sampaikan, dan saya persilahkan bapak-ibu sekalian, mohon untuk dipandu untuk bisa berdialog langsung dengan saya, kami persilahkan.

Interaktif

Wakil Kristen:
Terimakasih pak SBY, kami diberi kesempatan, yaitu kami akan menanyakan, sebelumnya memang kami sudah sepakat dari golongan Kristen yaitu mengunggulkan pak SBY, dan sudah kelihatan dimenangkan Partai Demokrat, yaitu semua suara orang Kristen masuk, hampir semua pak masuk ke partai Demokrat. Kami sudah sepakat, dan itu sudah terjadi, dan sekarang pun kami sudah sepakat, orang Kristen bukan hanya di Jakarta, tapi seluruh Indonesia untuk menggolkan pak SBY menjadi Presiden. Tetapi setelah terjadi berita di Koran Kompas tanggal 18, mereka sepakat kembali memutar balik untuk masuk ke Ibu Mega…

SBY:
Mohon maaf ya, politik yang keras dan kejam, bukan hanya isu ini yang menimpa saya, ratusan SMS, selebaran, fitnah, itu berdatangan. Saya diisukan di komunitas Islam sebagai orang yang sangat pro Kristen, buktinya partai Demokrat calegnya Kristen, sedikit yang Islam. Dan para Kiai, para Santri pimpinan Pondok Pesantren sudah termakan dengan isu ini. Bahkan orang yang mengenal saya sebagai seorang pluralis, seorang nasionalis, pun sudah ikut terpengaruh.

Di pihak kalangan Kristen, teman-teman semua, itu diisukan bahwa SBY setuju dengan syari’at Islam, dan tentu membahayakan pluralisme dan kemajemukan. Jadi, harapannya dibenci oleh komunitas Islam dan juga dibenci oleh komunitas non Islam. Saya sampaikan bahwa, semua itu adalah bagian dari character assasination terhadap saya.

Mereka tahu SBY itu kekuatannya bukan di mesin politik, karena barangkali kalah dengan PDI Perjuangan maupun Golkar yang dimiliki Bu Mega dan Pak Wiranto. SBY kekuatannya bukan pada financial capable, jauh dibandingkan mereka-mereka yang punya bantuan dana atau punya dana yang besar. SBY kekuatannya adalah pada dukungan publik. Itulah yang akan dihantam, menghancurkan image, menghancurkan citra bahwa SBY dangerous kepada Islam, kepada Kristen dangerous, kepada Katolik dangerous, dan sebagainya.

Menolak Syari’at Islam
Saya terus terang, sebagai manusia biasa, accepted, pengaruh itu sebagian sudah masuk dan sudah dianggap sebagai kepercayaan. Jadi, saya dibenci oleh komunitas Islam, dan saya juga dibenci oleh komunitas non Islam. To certain degree, it’s succeed, berhasil. Meskipun saya masih percaya kepada kebenaran dan keadilan yang diturunkan oleh Tuhan. Meskipun dihantam seperti itu, tetapi jajak pendapat di Kompas, di polling LSI, IVEST dan segala macam, tidak menunjukkan perubahan yang sangat dramatis.

Yang terakhir, saya diberi tahu tiga malam yang lalu, LSI, sebelumya IVEST, memang bergerak terus ini namanya dukungan rakyat itu. Pak Hamzah Haz di situ didukung 5 persen, pak Amien Rais didukung 9 persen, Ibu Mega pertama kali kalah dengan pak Wiranto karena ibu Mega didukung 13 persen, kemudian pak Wiranto naik tajam sekarang mendapatkan dukungan 16 persen, dan saya alhamdulillah masih mendapat dukungan 49 persen.

Meskipun penghancuran karakter itu berjalan terus, tetapi tidak semua bisa dipengaruhi. Saya mohon kepada Yang Maha Kuasa, sahabat-sahabat saya, bapak-ibu saudara saya yang di ruangan ini, termasuk yang tidak mudah dipengaruhi dengan berita-berita seperti itu. Tidak benar saya bersetuju dengan syari’at Islam dimasukkan dalam tata kehidupan kita, utamanya mengubah pembukaan Undang-undang Dasar 1945, seolah-olah seperti Piagam Jakarta, dan seolah-olah menggantikan hukum nasional yang berlaku.

Penjelasan saya ini sudah saya sampaikan di Singapura pada tanggal 26, waktu saya bicara di forum yang besar, dihadiri oleh masyarakat Singapura dan masyarakat internasional, dan kemudian sudah diliput oleh The Strait Times, kemudian ini saya baru lihat (harian) Merdeka (dengan judul) SBY Klirkan Soal Isu Syari’at Islam, besar-besar. Sesungguhnya begini. Ini saya buka saja, ya. Dalam koalisi itu selalu ada pertautan, siapa yang meng-endorce saya. Waktu itu, ada beberapa partai yang mau meng-endorce saya. Yang sudah berkomunikasi… PKB. Yang kedua, PKP Indonesia (PKPI). Tentu Partai Demokrat sendiri. Terus ada beberapa partai yang masih in process itu, termasuk PBB.

Ketika makin manifest, makin menjadi realitas, maka ada pertanyaan yang krusial yang diajukan teman-teman di PKP Indonesia dan juga di Demokrat, dan saya sendiri, kepada pak Yusril Ihza Mahendra tentang isu syari’at Islam: “pak Yusril, ini ada kekhawatiran dari pak Edi Sudrajat, dari kami yang di Demokrat, dari PKP Indonesia, tentang ketidak-jelasan bagaimana sih Partai Bulan Bintang kaitannya dengan syari’at Islam?”

Pak Yusril menjelaskan kepada saya dan kepada pak Yusuf Kalla: “bukan begitu…, ndak ada nanti ingin menggantikan hukum nasional dengan syari’at Islam. Tidak ada kami ingin memasukkan syari’at Islam dalam Undang-undang Dasar 1945. Yang kami lakukan itu, kami ingin hukum nasional itu juga mengandungi beberapa aturan hukum yang ada, hukum adat, hukum Islam, hukum yang lain-lain. Dan itu sudah terjadi. Jadi hukum nasional kita ini kan sudah mengandungi unsur-unsur itu.” Itu penjelasan saudara Yusril Ihza Mahendra.

Atas dasar itulah dibikin satu naskah kesepakatan antara Partai Demokrat, PKP Indonesia dan partai Bulan Bintang, bahwa kebersamaan ini akan menghormati pluralisme, kemajemukan, undang-undang dasar, pembukaan, dan segala macam. Clear di situ. Nah, ternyata pernyataan dari mereka: SBY setuju tentang syari’at Islam. Itu sebenarnya, SBY mengerti segala apa yang dijelaskan oleh saudara Yusril Ihza Mahendra. Oleh karena itulah ketika saya dengar memang pak Ka’ban mengeluarkan statement, langsung dibantah oleh pak Yusril Ihza Mahendra, bahwa tidak seperti itu. Jadi, ini yang betul, bahwa komitmen saya terhadap: satu, Pancasila; kedua, UUD 1945; ketiga, NKRI; keempat, kemajemukan, pluralisme, kebhinneka-tunggal-ikaan, itu final.

Baca, bapak-ibu, pidato politik saya hari ini. Baca. Sangat gamblang di situ. Bahkan saya maju lebih jauh lagi, yang diskriminatif harus dihapus, aturan-aturan yang membedakan warga negara keturunan dengan yang bukan keturunan harus dihapus, karena ini, perbedaan perlakuan harus ditiadakan. Ini komitmen saya.

Saya ambil resiko, mungkin ada yang pro dan kontra Tapi saya seorang pluralis dan saya tidak bisa menerima –dalam kepemimpinan saya nanti, kalau saya terpilih menjadi presiden– tindakan atau kebijakan yang diskriminatif. Bapak-ibu bisa lihat nanti, bagaimana perkembangan Negara kita kalau saya mendapat mandat untuk memerintah.

Pertanyaan bapak Pendeta jelas sekali. Bagaimana caranya? Kabarkan kepada mereka: “tidak benar SBY bersetuju syari’at Islam menggantikan hukum nasional, dan syari’at Islam akan dimasukkan dalam pembukaan UUD. Komitmen SBY pada pluralisme final.” Itu yang pertama.

Yang kedua, sampaikan: “SBY ini di komunitas Islam dikatakan pro Kristen, pro minoritas. Oleh karena itu, lihat caleg-caleg demokrat.” Katakan, kabarkan seperti itu: “Sementara kepada kita dikatakan SBY menyetujui syari’at Islam.” Saya yakini, bapak bilang: “saya sudah bertemu SBY, berdialog langsung, dia tetap komitmennya dan tidak pernah berubah.” Kabarkan dari hati ke hati, dari orang ke orang, dari…, silahkan. Tetapi itulah kalau saya bicara tentang kebenaran.

Pemandu:
Siapa yang ingin bertanya lagi?

SBY:
Bapak catat ini tanggal 1 Juni, omongan saya. Saya pertanggung jawabkan sore hari ini di hadapan bapak-ibu sekalian. Kalau masih ada yang ragu masalah syari’at Islam, masalah pluralisme, masalah diskriminasi dan sebagainya.

Pemandu:
Ini pak ada dari group BII, pak Johanes Sutikno. Silahkan. Ini dia bisa meng-cover banyak pak. Dia akan membawa group BII yang dengan ribuan usahanya ini supaya bisa bergabung memilih pak SBY menjadi Presiden RI 2004-2009. Silahkan, pak.

Kesetaraan Hak
Terimakasih. Nama saya Johanes Sutikno. Saya salah satu pengagum bapak. Pengagum bapak ini, karena saya mempelajari juga mendapatkan daftar riwayat hidup bapak baik dari file saya sendiri juga dari beberapa situs internet. Saya sangat respek dengan bapak, dengan gaya tutur bicara yang sangat santun, dan begitu banyak prestasi-prestasi bapak yang telah tercatat dalam riwayat hidup bapak. Tentunya kami akan sangat bersyukur, kenapa kami hadir di sini, kenapa kami katakan memilih mendukung bapak, harapan kami cuman satu, saya di sini sebagai orang yang merasa masih muda, (bangsa) 35 tahun. Saya merasa usia kami adalah usia yang sangat produktif, namun sampai dengan saat ini, sejak krisis, tidak banyak tercipta kesempatan untuk berkarya dengan baik. Bukan kami tidak ingin berkarya, kami ingin berkarya tapi situasi kurang mendukung, sehingga kalau dikatakan kami ada bisnis, itu kurang menguntungkan, bahkan kita bisa rugi. Yang kami harapkan adalah terbentuknya situasi yang sangat kondusif dan memberikan kesempatan bagi kami untuk berkarya dengan baik. Kami tidak menginginkan embel-embel, misalkan diberikan monopoli atau hal-hal yang bertentangan dengan trend dunia. Kami tidak memerlukan itu, pak. Yang kami butuhkan adalah situasi yang kondusif, dan kami mendapatkan kesetaraan hak dari semua golongan. Itu yang kami harapkan. Tentu kehadiran saya di sini, kami akan berusaha semaksimal mungkin, dan nanti bapak dapat membawa Indonesia pada situasi yang sangat kondusif dan kami dapat berkakarya dengan baik. Mungkin pada intinya seperti itu, pak. Terimakasih.

SBY:
Terimakasih. Mengapa pengangguran masih banyak, kemiskinan masih tinggi, daya beli rakyat masih rendah, infrastruktur sudah lama tidak kita bangun dan kembangkan? Ya, karena memang sektor riel tidak tumbuh atau belum pulih kembali, karena dunia usaha belum tumbuh. Karena iklim investasi belum bagus, karena ekonomi akhirnya belum tumbuh, pendapatan nasional juga tidak tumbuh dengan signifikan, itu sebabnya. Kalau kita cerdas, maka jawabannya adalah karena pemerintah dengan kekuatan fiskal nggak mungkin bisa mengurangi pengangguran secara dramatis, mengurangi kemiskinan secara besar-besaran, meningkatkan daya beli rakyat dan sebagainya. Yang bisa bikin pengurangan-pengurangan itu, jika ekonomi kita tumbuh dan pendapatan nasional besar. Bisa besar itu kalau dunia usaha pulih dan makin berkembang. Artinya apa? Pemerinlah atau Negara harus bertanggung jawab membangun kembali iklim yang bagus, politik harus semakin stabil, keamanan harus semakin baik.

Coba orang seperti saya membikin politik stabil, keamanan makin baik, waduh militer, itu represif, itu otoritarian. Di Negara demokrasi liberal pun, politik harus stabil, kemanan harus baik, hukum harus tegak, tidak boleh ada diskriminasi. Kebijakan pajak harus baik. Jangan pajak juga slanang slumun slamet: ambil sana, ambil sini, masuk kantong sana, kantong sini, peras sana, peras sini. Kebijakan kepabeanan, perburuhan… Baik buruh maupun pengusaha itu sama-sama dilindungi. Itu adil. Karena dilindungi, usahanya tumbuh, buruhnya senang, rakyat senang. Demikian juga buruhnya dilidungi, maka dia mendapatkan hak-hak dasarnya, dia mendapatkan perlakuan yang layak.

Kemudian, desentralisasi tidak boleh memunculkan raja-raja kecil, mengeluarkan perda yang bertentangan dengan undang-undang nasional, dengan kebijakan pemerintah pusat. Dan banyak hal lagi tentunya yang harus kita bangun. Oleh karena itu, tanpa saya harus terlalu mudah berjanji, tugas bersama kita nanti dan pemerintah harus bekerja sangat keras. Iklim usaha nasional harus kita pulihkan, harus kita bangun kembali. Di situ.

Kalau saya ditanya oleh temen pengusaha, “Pak apa komitmen anda pada pengusaha?” Ya, saya pikir iklim yang bagus akan mendapatkan keadilan, semua adil, ‘kan tumbuh. Kalau tumbuh, jangan nakal, bayar pajak yang benar, bikin lapangan pekerjaan, karyawan diperhatikan dengan baik. Harus begitu. Pemerintah begitu juga. Karena mengiginkan pajak dari pengusaha, ya jangan diperas-peras pengusahanya, lindungi kalau mendapatkan perlakuan yang tidak adil dan sebagainya. Demikian juga si rakyat, si tenaga kerja, anda harus mendapatkan perlindungan, nggak boleh didzolimi, harus hidup layak, nggak boleh gajinya terlalu kecil. Tapi ingat, anda harus disiplin, anda harus produktif. Anda tidak boleh ngamukan, tiba-tiba bakar sana, bakar sini, dan sebagainya. Inilah kontrak, pemerintah yang bertanggung jawab, pengusaha yang bertanggung jawab, rakyat dan juga para pekerja harus bertanggung jawab. Ini yang harus kita bangun.

Tolong dipahami, yang saya maksudkan dengan non diskriminasi itu adalah, misalnya, pajak. Kalau pengusaha keturunan, pajaknya lebih besar. Kalau pengusaha bukan keturunan, lebih kecil. Itu tidak boleh. Harus sama. Jadi kalau ukuran usahanya itu outputnya sama, maka pajaknya harus sama. Kecil, pajaknya kecil. Besar, pajaknya besar. Itu namanya adil. Tetapi begini, kalau terhadap rakyat miskin, golongan ekonomi lemah, maka tentu harus ada keberpihakan. Jadi, keberpihakan pemerintah tidak boleh dibedakan karena ras, karena agama, karena suku, karena daerah. Tapi dibedakan barangkali karena kasihan dia makan sehari-hari pun tidak bisa, berobat tidak bisa, menyekolahkan anak tidak bisa, mereka diperlukan perlindungan, yang miskin itu bukan hanya Melayu, bukan hanya orang Jawa, bukan hanya orang Batak, mungkin orang warga keturunan juga ada yang miskin. Sama perlakuannya. Itu namanya adil. Ini yang saya pikir. Insyaallah akan saya jalankan kalau saya terpilih nanti.

Itu namanya affirmative action. Di negara manapun ada. Di Amerika ada. Black itu mendapatkan affirmative action di Amerika Serikat versus White. Orang miskin yang kebetulan kulitnya putih juga sama perlakuannya. Itu yang saya maksudkan. Oleh karena itu, ya kalau nanti saya bikin charity, orang yang kaya, kaya itu bisa orang keturunan, warga nggak keturunan, Tionghoa, bisa Melayu, bisa keturunan India, bisa keturunan Arab, whatever yang kaya, dan saya mintakan kalau bisa bantulah pendidikan, bantulah puskesmas. Itu harus dianggap sebagai kepedulian dan tanggung jawab sosial. Tetapi saya minta kepada pemerintah, jangan orang-orang kaya dijadikan sapi perahan. Daripada diperah oleh penguasa, oleh pemerintah, ya kalau ada kelebihan, bantu rakyat kecil dengan pendidikan tadi, dengan kesehatan. Itu fair. Dikelola dengan baik.

Sebenarnya, dulu pak Harto punya yayasan tujuannya itu. Tapi barangkali kritiknya karena di yayasan itu kan ada campurtangan beliau, ada campurtangan barangkali keluarga dekat dan segala macam, akhirnya dicurigai wah itu korupsi, itu untuk kepentingan pribadi. Kalau nanti ada charity seperti itu, Presiden tidak boleh ikut-ikutan, sama sekali, tidak ada sentuhan. Zero. Sehingga tidak perlu wah ini presidennya korupsi, presidennya ikut ngatur. Ya kalau mereka membantu orang kecil, mengapa tidak? Tapi harus fair. Orang kaya bisa membantu orang kecil, karena tidak diganggu-ganggu, tidak digergaji, diperas sana, peras sini. Harus begitu aturan mainnya yang ada nanti. Jadi, please, sabar sedikit. Makin pulih ekonomi kita, makin luas.

Mohon maaf, ya, kemarin saya di Singapur, saya ketemu dengan teman-teman kita. Saya ketemu Lee Kuan Yeuw, beliau yang minta ketemu saya, Goh Cok Tong, BG Lee, menteri pertahanan Tio namanya, menteri industri dan perdagangan George Yeow, beliau berharap Indonesia tumbuh kembali. Indonesia tumbuh, Singapura senang. Saya ketemu dengan teman-teman Jepang, termasuk duta besarnya. Tadi baru saja Dubes Amerika ketemu saya. Dunia Barat pun senang kalau Indonesia tumbuh kembali, ekonominya maju, usahanya maju, aman, bebas dari terorisme, dan segala macam, ya untuk kita semua. Kalau kita bisa seperti itu, kan alangkah bangganya. Lama kita tidak lagi memimpin ASEAN. Dianggap sebagai, “ah ini bermasalah.” One day, saatnya akan tiba nanti, kita menjadi big brother di ASEAN. Harus. Saatnya tiba nanti, Indonesia dikenal oleh dunia sebagai peace keeper.

Saya pernah di Bosnia, diberikan apresiasi. Tapi karena krisis, kita repot. Mari kita segera keluar dari krisis, hentikan saling salah menyalahkan, tuding menuding, curiga mencurigai, bersatu kembali melangkah ke depan. Kita tampil secara terhormat di dunia internasional, kita tampil mengatasi persoalan di dalam negeri kita. Saya kira begitu komentar saya kepada Johanes Sutikno.

Tragedi Mei

Pertanyaan:
Nama saya Wie Tiong Han. Saya mengagumi bapak sejak jadi Pangdam II Sriwijaya. Jadi dalam rangka menggalang dukungan untuk bapak, saya dan rekan-rekan mendirikan Lembaga Komunitas Independen SBY. Saat ini sedang ada di 15 Propinsi. Dalam mensosialisasikan dukungan kepada bapak, banyak pertanyaan, pak, khususnya dari kalangan etnis Tionghoa. Yaitu, mereka tidak mempersoalkan keterlibatan bapak dalam peristiwa Mei, tetapi mereka mempertanyakan bagaimana perasaan bapak melihat hal itu, dan apa komitmen bapak supaya hal itu tidak terulang lagi? Sekian, terimakasih.

SBY:
Baik. Ada rekaman saya, ketika terjadi tragedi Mei. Teman-teman saya di Jawa Timur pernah mendengar statement saya, yang saya sangat marah waktu itu terjadinya tragedi Mei. Kebetulan saya dulu Kasospol, saya bukan Panglima TNI, saya bukan Kasum, saya bukan Asops, saya bukan Pangdam, Kapolda yang mengelola pasukan atau operasional. Kasospol dulu itu reformasi. Saya kira bapak-ibu ingat waktu saya memimpin reformasi dari awal selama dua tahun. Itulah dunia saya dulu. Tapi meskipun saya tidak menangani masalah operasional, waktu itu, itu suatu sejarah kelam yang tidak boleh terjadi lagi di negara kita. Jangan pernah terjadi lagi tragedi Mei. Hancur martabat kita di mata dunia. Hancur kebersamaan kita sebagai bangsa. Never ever. Kalau saya pernah ke Jepang, dia bilang, Hiroshima never again. Kemudian saya datang ke Amerika, ke Hawaii, saya mendapat kesan, no more Pearlharbour. Jadi itu sejarah-sejarah kelam yang terjadi pada perang dunia kedua.

Kalau saya, pertama-tama yang kita petik, jangan pernah terjadi peristiwa Mei: benturan antar kita yang keluar dari harkat, martabat kehidupan sebuah bangsa yang beradab. Itu yang pertama. Yang kedua, jadilah pelajaran untuk tidak mendiskriminasi di antara kita, untuk tidak saling curiga mencurigai, lihat-melihat dan seterusnya. Yang ketiga, sebenarnya ketua harus bertanggung jawab, kan begitu. Yah, ini masalah keadilan sejarah. Menurut saya suatu saat harus ada pertanggung jawaban sejarah. Siapa? Kalau misalkan situasi…

(swaramuslim.com)

Read Full Post »