Feeds:
Posts
Comments

Archive for March 6th, 2007

Qaul

Qaul Qadim dan Qaul Jadid

Selasa, 6 Mar 07 08:17 WIB

Assalamu’alaikum Wr Wb

Ustadz yth, apa yang sebenarnya dimaksud dengan qaul qadim dan qaul jadid Imam Syafii. Apakah hal tersebut merupakan sekumpulan pendapat Imam Syafii mengenai BERBAGAI hal, ataukah hanya pendapat mengenai SATU hal saja?

Di negeri manakah kedua pendapat Imam Syafii tersebut dirumuskan. Dan Bisakah diberikan beberapa contohnya? Juga apa alasan yang melatarbelakangi perbedaan 2 pendapat tersebut.

Jazakallah, Wassalam Wr Wb

Abdullah

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Qaul qadim artinya secara bahasa adalah bentukan dari 2 kata. Qaul artinya perkataan, pendapat atau pandangan. Sedangkan qadim artinya adalah masa sebelumnya atua masa lalu. Jadi makna istilah qaul qadim adalah pandangan fiqih Al-Imam Asy-Syafi’i versi masa lalu.

Ke balikan dari istilah itu adalah qaul jadid. Jadid artinya baru. Maka qaul jadid adalah pandangan fiqih Al-Imam Asy-syafi’i menurut versi yang terbaru.

Qaul qadim dan qaul jadid adalah sekumpulan fatwa, bukan satu atau dua fatwa. Memang seharusnya digunakan istilah aqwal yang bermakna jama’, namun entah mengapa istilah itu terlanjur melekat, sehingga sudah menjadi lazim untuk disebut dengan istilah qaul qadim dan qaul jadid saja.

Sejarah Terbentuknya Mazhab Asy-Syafi’i

Asy-Syafi’i pernah tinggal di Iraq dan berguru kepada murid Imam Abu Hanifah. Sebelumnya beliau juga pernah berguru langsung kepada Imam Malik di Madinah.

Kita tahu pada masa itu baru berkembang 2 kutub fiqih, yaitu kutub Baghdad dengan Abu Hanifah sebagai maha guru, dan kutub Hijaz dengan imam Malik sebagai maha guru.

Masing-masing punya keistimewaan. Abu Hanifah telah berhasil memecahkan sistem istimbath hukum dengan kondisi minimnya hadits shahih dan berserakannya hadits dhaif dan palsu. Kondisi yang demikian telah memaksa beliau melakukan ijtihad dan pengembangan logika hukum dengan tetap berlandaskan kepada hadits-hadits shahih, meski jumlahnya sangat minim di negerinya.

Di belahan bumi yang lain, ada Imam Malik yang tinggal di Madinah dan menjadi imam masjid sekaligus menjadi mufti. Madinah adalah kota sucinabi Muhammad SAW dan para shahabat rahiyallahu anhum ajmain. Saat itu, 100 tahunan sepeninggal generasi Rasulullah SAW dan para shahabat, di Madinah masih tersisa banyak anak cucu dan keturunan generasi terbaik.

Nyaris tidak ada yang berubah dari pola kehidupan di zaman nabi. Bahkan Imam Malik berkeyakinan bahwa setiap perbuatan dan tindakan penduduk Madinah saat itu boleh dijadikan sebagai landasan hukum. Lantaran beliau yakin bahwa mustahil generasi keturuan nabi dan para shahabat memalsukan hadits atau berbohong tentang nabi.

Maka salah satu ciri khas mazhab Malik adalah kekuatan mereka menggunakan dalil, meski kalau disandingkan dengan syarat ketat versi Al-Bukhari nantinya, hadits itu dianggap kurang kuat. Dan Imam Malik nyaris menghindari logika fiqih semacam qiyas dan sejenisnya, karena memang nyaris kurang diperlukan. Sebab kondisi sosial ekonomi di Madinah di zamannya masih mirip sekali dengan zaman nabi SAW.

Berbeda dengan kondisi sosial ekonomi di Iraq, tempat di mana Al-Imam Abu Hanifah mendirikan pusat ilmu. Selain hadits palsu banyak berseliweran, Iraq sudah menjadi kosmopolitan dengan sekian banyak dinamika yang melebihi zamannya. Banyak fenomena yang tidak ada jawabannya kalau hanya merujuk kepada nash-nash hadits saja.Maka wajar bila Abu Hanifah mengembangkan pola qiyas secara lebih luas.

Lalu di manakah posisi Al-Imam Asy-Syafi’i?

Beliau adalah murid paling pandai yang berguru kepada Al-Imam Malik ketika beliau tinggal di Madinah. Namunbeliau ke Iraq, beliau juga belajar kepada murid-murid Imam Abu Hanifah. Maka mazhab fiqih yang beliau kembangkan di Iraq adalah perpaduan antara dua kekuatan tersebut. Semua keistimewaan mazhab Malik di Madinah dipadukan dengan keunikan mazhab Hanafiyah di Iraq. Dan hasilnya adalah sebuah mazhab canggih, yaitu mazhab Al-Imam Asy-Syafi’i.

Sayangnya banyak orang yang tidak tahu sejarah seperti ini, sehingga tidak sedikit yang memandang mazhab Asy-Syafi’i dengan pandangan minor dan kurang respek. Padahal, logika sederhananya, dengan menggunakan mazhab Asy-Syafi’i, boleh dibilang bahwa setiap orang sudah otomatis menggunakan mazhab Abu Hanifah dan Malik sekaligus. Meski tidak secara pas boleh dikatakan demikian.

Munculnya Qaul Jadid

Al-Imam Asy-syafi’i adalah seorang ilmuwan tulen. Dirinya tidak akan puas dengan satu ilmu. Adalah merupakan kebiasaan beliau untuk melakukan perjalanan dari barat hingga timur, dari utara hingga selatan. Seluruh hidupnya dicurahkan untuk menuntut ilmu.

Makasetelah tinggal di Iraqbeberapa lama, Al-Imam As-syafi’i kemudian pindah ke Mesir. Di negeri yang pertama kali dibebaskan oleh Amr bin Al-Ash itu, beliau menemukanbanyak hal baru yang belum pernah ditemukannya selama ini. Baik tambahan jumlah hadits atau pun logika fiqih.

Maka saat di Mesir itu, beliau melakukan revisi ulang atas pendapat-pendapatnya selama di Iraq. Revisinya begitu banyak sesuai dengan perkembangan terakhir ilmu dan informasi yang beliau dapatkan di Mesir, sehingga terkumpul menjadi semacam kumpulan fatwa baru. Kemudian orang-orang menyebutnya dengan istilah qaul jadid. Artinya, pendapat yang baru. Sedangkan yang di Iraq disebut dengan qaul qadim. Artinya, pendapat yang lama.

Contoh Perbedaan/ Revisi

Di antara beberapa contoh perbedaan atau hasil revisi ulang pendapat beliau adalah:

1. Air Musta’mal

Selama di Iraq, Asy-syafi’i berpandangan bahwa air yang menetes dari sisa air wudhu’ seseorang hukumnya suci dan mensucikan. Sehingga boleh digunakan untuk berwudhu’ lagi. Atau seandainya tetesan bekas wudhu’ itu jatuh ke dalam bejana yang kurang dari 2 qullah, maka tidak merusak apapun.

Namun saat beliau di Mesir, beliau menemukan bahwa dalil-dalil pendapatnya itu kurang kuat untuk dijadikan landasan. Sementara beliau menemukan dalil yang sangat beliau yakini lebih kuat dari dalil pendapat sebelumnya, bahwa Rasulullah SAW dan para shahabat tidak berwudhu’ dengan air bekas wudhu’. Sehingga pendapat beliau dalam qaul jadid adalah sisa air wudhu’ itu air musta’mal yang hukumnya suci (bukan air najis) namun tidak sah kalau dipakai berwudhu’ (tidak mensucikan).

2. Pensucian Kulit Bangkai

Hewan yang mati menjadi bangkai, maka hukum bangkai itu najis. Namun kulitnya akan menjadi suci bila dilakukan penyamakan (dibagh).

Sebelumnya Imam Asy-Syafi’i di Iraq mengikuti pendapat Imam Malik bahwa yang suci hanyalah kulit bagian luar saja. Sedangka kulit bagian dalam tetap tidak suci. Maka boleh kita shalat di atas kulit asalkan bagian dalam kulit berada di posisi bawah. Sedangkan bila posisi bagian dalam kulit atas di atas tempat kita shalat, hukumnya tidak sah, karena dianggap najis.

Ketika beliau hijrah ke Mesir, beliau mengoreksi pendapatnya menjadi suci kedua-duanya. Bagian dalam kulit dan bagian luar, keduanya sama-sama suci setelah dilakukan penyamakan.

Tentunya masih sangat banyak contoh-contoh perbadaan qaul qadim dan jadid, untuk lebih dalamnya kami persilahkan anda membaca saja kitab yang secara khusus ditulis tentang masalah ini. Hebatnya, kitab ini ditulis oleh ulama betawi yang tinggal 40-an tahun di Mesir dan Saudi. Beliau adalah Al-Ustadz Dr. Nahrawi Abdussalam Al-Indunisy, MA. Karya beliau yang kami maksudadalah kitab: Al-Imam Asy-syafi’i Bainal Mazhabaihil Qadim wal Jadid. (Imam Syafi’i: antara mazhab lama dan baru).

Lumayan tebal untuk ukuran kita, sekitar 750-an halaman. Tetapi termasuk tipis untuk ukuran kitab berbahasa arab. Sayangnya, beliau belum sempat menerjemahkan dan menerbitkannya dalam bahasa Indonesia. Yang kami miliki sebagai hadiah pribadi dari beliau adalah dalam versi bahasa arab aslinya.

Semoga Allah SWT melimpahkan pahala besar kepada Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dan kepada almarhum Ustadz Nahrawi Abdussalam atas jasa-jasa mereka dalam mengembangkan ilmu syariah. Amien.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc


Advertisements

Read Full Post »

Akhwat

Masalah Shalat

Selasa, 6 Mar 07 05:52 WIB

Assalamualikum wr. Wb.

Saya sering melihat ada akhwat yang shalatnya kelihatan telapak dan punggung tangannya. Yang saya tau bahwa aurat akhwat yang bisa dilihat itu hanya muka dan TELAPAK TANGAN. Yang ingin saya tanyakan apakah shalat wanita tersebut sah atau ada pendapat lain? Mohon penjelasannya.

Wassalamu’alikum wr. Wb.

Hilyah Az Zahra

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sudah menjadi ijma’ para ulama sepanjang zaman, bahwa batas aurat seorang wanita adalah seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan kedua tapak tangan. Dalam bahasa arab dituliskan begitu: wa ‘auratunnisa’i sairu jasadiha illa al-wajha wal kaffaini.

Artinya: dan batas aurat wanita adalah seluruh tubuhnya, kecuali wajahnya dan kedua tapak tangannya.

Namun seringkali karena kesalahan penerjemahan, akhirnya muncul kerancuan pemahaman. Al-kaffaini sering diartikan dengan kedua telapak tangan. Padahal makna yang benar bukan telapak. Sebab kalau diartikan dengan telapak, berarti hanya bagian dalam saja.

Yang benar bukan telapak tangan tetapi tapak tangan. Tapak tangan itu terdiri dari bagian dalam dan bagian luar (punggung). Maka bagian dalam dan luar (batinul kaffi dan zhahiruhu) bukan termasuk aurat, sehingga boleh nampak dan terlihat.

Maka tidak bisa disalahkan ketika ada wanita shalat, dengan punggung tangan terbuka dan terlihat. Sebab punggung tangan itu bukan aurat baginya.

Kesalahan interpretasi karena hanya mengandalkan terjemahan itu memang sangat fatal akibatnya. Karena itu, kami tetap berkeyakinan bahwa belajar bahasa arab itu hukumnya nyaris sudah wajib bagi tiap muslim. Agar jangan sampai terjadi kesalahan interpretasi dalam hukum.

Sayangnya, sedikit sekali kesadaran umat Islam untuk belajar bahasa arab. Dan tetap masih asyik membaca buku terjemahan. Padahal kami memandang membaca buku terjemahan mengandung resiko besar.

Salah satunya adalah pertanyaan yang datang kepada kami tentang dalil kewajiban memakai jilbab. Wanita ini mempertanyakan dasar ayatnya. Menurutnya, di Al-Quran tidak pernah ada perintah yang mewajibkan wanita untu memakai jilbab.

Ketika kami sodori ayat 59 dari surat Al-Ahzab, dengan sigapnya dia menepis dengan komentar bahwa di dalam ayat itu Allah tidak pernah memerintahkan wanita pakai jilbab. Sebab terjemahannya begini:

Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka (QS. Al-Ahzab:59)

Menurutnya, karena cuma diawali dengan kata ‘hendaklah’, maka hukumnya bukan wajib, melainkan anjuran.

Nah, kalau sudah begini, siapa yang mau disalahkan? Kata ‘hendaklah’ dalam rasa bahasa Indonesia, memang tidak bisa diartikan sebagai kewajiban. Masalahnya sekarang, siapa yang mengartikan ayat itu dengan lafadz ‘hendaklah’? Sehingga muncul kesalah-pahaman fatal seperti ini.

Dan masih banyak lagi kejadian-kejadian ‘lucu’ seperti ini, sehingga menambah semangat kita untuk sadar akan pentingnya belajar bahasa arab dan sekaligus belajar ilmu syariah. Kalau hanya mengandalkan buku bacaan terjemahan Al-Quran atau hadits saja, memang akan begitu jadinya.

Jangan sekali-kali baca terjemahan Al-Quran, kecuali anda baca juga kitab-kitab tafsirnya. Jangan baca terjemahan hadits, kecuali anda baca juga kitab-kitab syarahnya (penjelasan). Kalau tidak tahu, maka bertanyalah kepada yang punya ilmunya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

Hoka-Hoka Bento

Halal?

Selasa, 6 Mar 07 05:10 WIB

Assalamu’alaikum wr. wb.

Pa ustad, di tempat saya bekerja sering diadakan rapat membahas program kerja dan lainya, dan di setiap rapat itu pula selalu ada makan siang untuk peserta rapat.

Yang saya tanyakan apakah makanan bermerk “hoka-hoka bento” halal? Karena hampir menu ini dijadikan menu favorit para pimpinan (bos) di setiap rapat. Buat saya sangat dilematis, satu sisi memang waktu makan dan tidak ada makanan lain, sisi lain saya khawatir kalo yang saya makan tidak jelas halal haramnya (tidak terdapat logo halal di box/ kemasan).

Mohon bantuan jawabannya pa ustadz.

Jazakallah khoiron katsiron

Wassalmu’alaikum wr. Wb

Masarif

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dalam masalah ini ada dua pendekatan. Pertama, pendekatan hukum fiqih. Kedua, pendekatan tasawuf.

1. Pendekatan Hukum Fiqih

Kalau kita menggunakan pendekatan hukum fiqih, maka status suatu makanan itu belum bisa berubah menjadi haram, kecuali ada ketetapan yang meyakinkan tentang keharamannya. Bila belum ada kepastian, maka hukumnya kembali kepada hukum asal, yaitu halal.

Sebab hukum segala sesuatu pada dasarnya halal, sebagaimana kaidah fiqih menyebutkan: al-ashlu fil asy-ya’i al-ibahah. Selama kita tidak melihat secara pisik adanya indikasi keharaman atau kenajisan, atau belum dibuktikan lewat pengujian ilmiyah secara langsung, maka kita tidak boleh ‘main vonis’ secara general.

Kisah yang kita dapat dari masa nabi SAW justru menguatkan hal-hal seperti ini. Pernah beliau ditanya oleh para shahabat tentang kebolehan memakan daging pemberian suatu kaum. Para shahabat agak ragu tentang kehalalannya, persi seperti yang sedang anda alami sekarang ini. Maka beliau SAW memerintahkan untuk membaca basmalah sebelum memerintahkan untuk menyantapnya.

Kalau kita pahami dari kisah ini, seolah beliau SAW menghalalkan hal-hal yang sebelumnya telah diragukan oleh para shahabat. Namun sesuai dengan logika fiqih, keraguan itu tidak bisa atau belum bisa dijadikan alasan untuk mengubah status hukum.

Dalam kaidah fiqhiyah yang kita pelajari, ada disebutkan: al-yaqinu la yazuulu bisy-syakki. Suatu hukum yang telah ditetapkan berdasarkan sesuatu yang yakin, tidak bisa hilang hukumnya hanya karena sesuatu yang bersifat syak wasangka.

Maka makanan yang beredar di tengah umat Islam, meski tidak ada pengesahan dari suatu lembaga tertentu tentang kehalalannya, tidak bisa divonis hukumnya menjadi haram, tanpa ada penelitian khusus yang bisa meyakinkan munculya keharaman.

Pendekatan kedua, pendekatan tasawuf. Disebut dengan tasawuf maksudnya karena lebih menekankan sikap di dalam hati, berupa kehati-hatian dan wara’. Pendekatan ini jauh dari masalah hukum.

Adalah hak setiap muslim untuk menjaga diri dari hal-hal yang meragukan hatinya. Apabila seseorang kurang yakin atas kehalalan suatu makanan, meski tidak ada fatwa yang mengharamkannya, tidak mengapa bila dia tidak menyantap makanan itu, sebagai sebuah sikap wara’ (hati-hati) dari terkena kemungkinan jatuh kepada yang haram.

Di dalam dunia tasawuf, pendekatan ini sangat diutamakan, meski mereka pun sadar bahwa keraguan tidak bisa mengubah status hukum suatu hal. Sehingga, para pelaksana tasawuf memang tidak pernah mengharamkan sesuatu buat orang lain, kecuali hanya berlaku untuk diri sendiri. Dan sikap seperti ini pada batas-batas tertentu memang sangat dianjurkan.

Bila anda tertarik menggunakan pendekatan ini, silahkan tinggalkan makan makanan seperti itu. Misalnya, anda tetapkan hanya untuk diri anda sendiri bahwa semua makanan bermerek yang tidak ada label halalnya, tidak akan anda santap. Kalau anda tetapkan untuk diri sendiri karena berangkat dari sikap kehati-hatian, sungguh merupakan sebuah ibadah dengan nilai tersendiri.

Mengapa ibadah tersendiri? Sebab anda rela tidak makan dan menahan lapar, demi sekedar menjaga diri dari kemunkginan makan makanan yang anda kurang tahu hukumnya.Ketika anda direpotkan membawa nasi bungkus dari rumah, atau keluar cari warteg dengan biaya sendiri, tentu ada nilai tersendiri di sisi Allah.

Namun anda tidak punya hak dan otoritas untuk memaksakan sikap subjektif anda kepada orang lain, karena pendekatan anda hanyalah sebuah pendekatan pribadi yang bersifat kebersihan individual. Secara hukum fiqih, biar bagaimana pun tetap dibutuhkan penelitian ilmiyah secara langsung atas makanan tersebut, sampai bisa dikeluarkan fatwa keharamannya. Dan selama belum ada fatwa tentang keharamannya, kita tidak mungkin memvonisnya sebagai haram. Maka hukumnya kembali kepada hukum asal segala sesuatu.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

Tetapi proklamasi kemerdekaannya adalah proklamasi aqidah. Bandingkan dengan Indonesia?

Hari Jum’at dan Sabtu pekan lalu, Brunei Darussalam merayakan Hari Kebangsaannya. Ada beberapa catatan yang menarik untuk kita cermati.

Tepat tengah malam itu, 23 tahun lalu, dalam detik-detik pergantian waktu dari 31 Desember 1983 menuju 1 Januari 1984, ribuan rakyat yang berkumpul sejak maghrib basah kuyup disiram hujan deras. 

(Entah mengapa, meski diproklamasikan tanggal 1 Januari 1984, Brunei selalu merayakan Hari Kebangsaannya setiap 23 Pebruari. Tapi yang ini lebih penting..)

Mereka berkumpul di Masjid Omar Ali Saifuddin dan di lapangan seberangnya, Taman Haji Sir Muda Omar ‘Ali Saifuddien. Mereka sudah menunaikan shalat maghrib berjama’ah. Para ulamanya memimpin mereka memanjatkan doa syukur kepada Allah Ta’ala dan shalat ‘Isya berjama’ah.

Sesudah diguyur hujan, ribuan rakyat yang kegembiraannya meluap-luap itu masih bertahan. 

Tak ada teriakan “merdeka!”. Tak ada penurunan bendera Union Jack, seperti di Hong Kong 1997, walaupun negeri ini berada di bawah the British Empire selama 96 tahun. Rakyat Brunei tak pernah mau menyebut dirinya “dijajah”.

Yang ada gemuruh “Allaahu Akbar! Allaahu Akbar! Allaahu Akbar!”

diteriakkan ribuan manusia menggelegar di langit negeri yang baru lahir kembali itu, Brunei Darussalam. Nama itu tertulis di Al-Qur’an surah Yunus ayat 25: 

“Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).”

Rakyat menyambut teriakan pemimpin mereka, Sultan Haji Hassanal Bolkiah, yang memproklamasikan kepada seluruh warga dunia bahwa negeri ini sudah merdeka. Ini petikan proklamasinya: 

“…Brunei Darussalam dengan berkah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan selamanya menjadi Kerajaan Muslim Melayu yang berdaulat, demokratik, dan merdeka berdasarkan ajaran-ajaran Islam, kebebasan, kepercayaan dan keadilan…”

Modal aqidah 

Berapa banyak negara yang memproklamasikan kemerdekaannya dengan meneriakkan takbir tiga kali, dipimpin langsung oleh rajanya? Kalaupun ada, maka diantara daftar yang sangat pendek itu, sudah pasti Brunei salah satunya -kalau bukan satu-satunya.

Bangsa berpenduduk sangat kecil yang sangat kaya minyak ini tidak mengagung-agungkan Inggris yang telah menguasainya selama hampir satu abad, yang kemudian melepaskannya. Bangsa ini mengagungkan Allah, karena yakin, pemilik sah tanah, hutan, udara, laut dan seluruh kekayaan isinya di negeri ini adalah Allah Yang Maha Berkuasa. 

Brunei mungkin masih banyak kekurangan dan kelemahannya. Orang Brunei sendiri mengakuinya. “Manja karena minyak, kurang inisiatif dan daya juang, kurang kreatif, kurang berani ambil risiko, banyak yang hidup berlebihan,” adalah sebagian otokritik yang mereka sampaikan sendiri.

Tetapi, proklamasi kemerdekaan Brunei adalah proklamasi kemerdekaan aqidah, yang meyakini keselamatan bangsa ini hanya akan dicapai jika aqidahnya suci dan ibadahnya benar. Ini modal besar. 

Dengan modal awal aqidah yang suci, bangsa ini mudah-mudahan tidak akan pernah takut, meskipun minyak dan gas bumi akan kering dalam beberapa generasi ke depan. Beberapa penelitian menyebut, Brunei termasuk negara produser minyak yang “sudah melewati puncaknya”. Aqidah yang suci akan menjadikan sebuah negeri tandus berisi pasir dan batu menjadi negeri termakmur di seantero dunia.

Lihatlah negeri Makkah Al-Mukarramah. Ketika Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam meninggalkan isterinya Siti Hajar dan bayinya Ismail, tempat itu bernama lembah Baka’, lembah kematian, karena tak ada satupun makhluk yang hidup di situ, tidak juga selembar rumput. 

Karena aqidah yang benar dan ketaatan yang tanpa reserve kepada Allah Pemilik tanah Mekah dan seluruh bumi, Nabi Ibrahim tidak berdoa minta agar negeri itu menjadi makmur dan kaya, tetapi doanya, “Ya Allah, jadikanlah aku dan keturunanku semuanya sebagai orang-orang yang mendirikan shalat.”

Apa hasilnya? Belasan juta orang setiap tahun mendatangi Makkah untuk beribadah. Lebih dari itu, Makkah yang kini resminya menjadi bagian dari negeri bernama Arab Saudi merupakan negeri terkaya di dunia karena minyak dan gas buminya, sejak tahun 1930-an

Persoalan bangsa manapun di dunia ini bukanlah kondisi kaya atau miskinnya. Seperti Brunei atau Etiopia. Persoalan utamanya adalah apakah suatu bangsa akan selamat di dunia dan Akhirat di mata Allah Pemilik Jagat Raya ini, pemilik ruh-ruh kita.

Planologi Nabi Ibrahim adalah contoh terbaik. Pondasi bagi master plan pembangunan sebuah negara adalah aqidah yang benar. Sebelum anggaran keuangan dan infrastruktur fisik, harus dipastikan bahwa aqidah bangsa ini selalu menyeru penduduknya untuk taat dan hanya menyembah Allah saja, 24 jam sehari 7 hari seminggu, di semua bidang kehidupan. 

Kepada mereka yang kafir, menolak kebenaran aqidah ini, sama sekali tidak akan dipaksa untuk menjadi Muslim. Allah melarang pemaksaan seperti itu. Bahkan Islam mencontohkan di Madinah, di Damaskus, di Yerusalem, di Baghdad dan di mana-mana bahwa para khalifah, sultan, gubernur dan panglima perang Islam menjaga, melindungi dan menjamin keadilan orang-orang yang memilih keyakinan yang berbeda, selama mereka tidak melakukan kekacauan atau memerangi umat Islam.

Bagaimana Indonesia? 

Bandingkan Brunei Darussalam dengan negara tetangganya yang jauh lebih besar, Indonesia. Selama 350 tahun dijajah, darah dan nyawa para mujahidin membasahi sejarah jihad bangsa ini. Takbir-takbir para pejuang Indonesia jauh lebih patriotik menggelegar. Namun, ironisnya, Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tidak menyebut satu kalipun nama Allah, pemilik sah tanah, air dan udara di negeri ini.

Naskah “Piagam Jakarta” yang sudah disiapkan berbulan-bulan oleh BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), dan sedianya disiapkan untuk naskah proklamasi dinyatakan “lupa dibawa” ke rumah Laksamana Maeda. Walhasil, naskah proklamasi baru dioret-oret.

Pengakuan atas kebesaran Allah tidak disebut sama sekali. 

Tidak berhenti sampai di situ. Bangsa yang baru merdeka ini, di hari kedua (18 Agustus 1945) sudah membatalkan syahadatnya sebagai bangsa Muslim, untuk kedua kalinya. Soalnya, Bung Hatta konon didatangi opsir Jepang, yang menyampaikan bahwa para tokoh Kristen dari Indonesia Timur menyatakan akan memisahkan diri dari republik baru ini.

Yang bisa mencegah, hanya bila tujuh kata dalam Piagam Jakarta (yang menjadi mukaddimah pembukaan konstitusi), dihapus. Ketujuh kata itu adalah sambungan dari sila pertama dasar negara “Ketuhanan yang Mahaesa.., dengan kewajiban bagi ummat Islam melaksanakan syariatnya.” 

Sebuah disertasi doktor bidang sejarah di Universitas Indonesia menemukan fakta, bahwa tidak ada satu opsir Jepang pun yang pernah menemui Bung Hatta sesudah Proklamasi.

Apakah Jin Jepang atau Opsir Jepang yang pernah menemui Bung Hatta, yang pasti kesucian aqidah bangsa Indonesia sudah sukses dibatalkan. 

Saya jadi teringat obrolan dengan Ustadz Abu Bakar Baasyir, di penjara Cipinang, sekitar sebulan sebelum beliau bebas, tahun lalu.

Beliau bilang begini, “Bangsa ini ndak akan pernah beres, karena kita selalu sia-sia membereskan segala urusan kalau pangkal urusan, yaitu aqidah bangsa ini, tidak dibersihkan.” 

“Ibaratnya kita mau mandi di sungai, ya ndak akan pernah bersih badan kita. Lha wong di hulu sungai, di mata airnya, ada badak besar penuh lumpur dan buang air terus-terusan..”

“Kalau mau mandi sampai bersih, ya diusir dulu badaknya,” kata beliau. 

Nah, kita sekarang mau ikut ambil bagian mengusir badak jorok itu, atau mau terus-menerus mandi di air yang mengandung kencing dan kotoran badak?

Penulis adalah kolumnis www.hidayatullah.com

Read Full Post »