Feeds:
Posts
Comments

Archive for March 5th, 2007

Tawaf

di Kubur Imam Asy-Syafi’i

Senin, 5 Mar 07 06:56 WIB

Assalamu’alaikum wr wb

Sebulum syukran ana ucapkan buat ustaz…

Ana mau tanya saya pernah membaca artikel yang ustaz tulis dalam jawaban’membangun kubur dalam masjid’

Kenapa ustaz katakan bodoh orang-orang yang tawaf, padahal pada hakikatnya mereka bukan tawaf, melainkan sedang berziarah?

Syukran kastiran jazakumullah khairal jaza….

Wassalamu’alaikum…

Ahmad yusuf

Abu Ali

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Seandainya ziarah kubur yang dilakukan oleh sebagain muslimin itu sesuai dengan tata cara dan aqidah yang diajarkan Rasulullah SAW, maka ziarah itu merupakan ibadah.

Namun ketika tata cara dan niatnya sudah melewati garis batas yang dibenarkan, tentu saja hal itu malah menjadi kemungkaran. Bahkan malah bisa menjerumuskan sampai kepada titik kemusyrikan.

Al-Imam As-Syafi’i adalah seorang imam mujtahid fiqih besar yang diakui karya oleh seluruh ulama dunia sepanjang masa. Karya ijtihad beliau selalu menghiasi lembar-lembar kitab syariah. Bahkan boleh dibilang, seandainya tidak ada beliau, entah seperti apa jadinya dunia ilmu fiqih.

Sangat wajar bila sebagai muslim, kita menaruh hormat dan takzim kepada beliau, atas ilmu dan jasa-jasa beliau yang mungkin tidak akan pernah lagi ada tandingannya.

Namun cara kita menghormati beliau tidak selalu bisa dibenarkan, apalagi sampai melakukan tawaf di sekeliling kubur beliau. Bahkan lebih parah lagi, ternyata kubur beliau justru terletak di dalam masjid. Masjidnya sendiri dinamakan masjid Al-Imam Asy-syafi’i, terletak di salah satu sudut kota Cair, ibu kota Mesir.

Ketika kami pernah mendatangi masjid itu, yang kami lihat sendiri adalah pemandangan yang sangat kontradiktif. Sebagian peziarah secara massal melakukan ritual khusus, sambil membaca lafaz-lafaz tertentu, mereka bergerak mengelilingi kubur beliau yang tepat di tengah-tengah masjid itu.

Sepanjang yang kami tahu sejak belajar di fakultas syariah, belum pernah ada syariat untuk melakukan tawaf di sekeliling sebuah kubur. Tak peduli kubur siapa pun, termasuk kubur Al-Imam As-Syafi’i atau kubur Rasulullah SAW sekalipun.

Berziarah ke kubur hukumnya sunnah, namun kalau tata laksana ziarah itu sampai membentuk sebuah ritual tawaf, tentu tidak bisa dibenarkan. Apalagi dengan niat untuk meminta sesuatu kepada ahli kubur itu. Jelas tindakan yang telah keliru besar. Sebab kita diharamkan untuk meminta kepada kuburan, atau kepada roh orang yang sudah wafat. Bahkan meski hanya sekedar menjadi tawassul sekali pun.

Kita belum pernah mendengar ada murid-murid beliau yang melakukan tawaf seperti itu. Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Al-Ghazali, Imam An-Nawawi, Al-Mawardi, serta ulama-ulama besar lainnya yang berada di dalam barisan mazhab Asy-Syafi’i tidak pernah melakukan ritual seperti itu di kubur guru mereka.

Lalu mengapa tiba-tiba ada segelintir orang yang melakukan hal seperti itu? Apalagi yang bisa disebut kalau bukan sebuah kebodohan?

Tentu kita tidak bergembira melihat fenomena ini, justru kita sedih. Tanpa harus menyebut siapa yang melakukannya, kita berkewajiban untuk menjelaskan bahwa tindakan seperti itu bukan tindakan yang benar. Bertawaf di sekeliling kubur siapa pun, bahkan kubur nabi Muhammad SAW, adalah sebuah kekeliruan besar. Apalagi kalau sampai menganggapnya ritual ibadah, maka hukumnya bid’ah dhalalah.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Advertisements

Read Full Post »

Hukum Harta Isteri

Menjadi Hak Isteri?

Senin, 5 Mar 07 06:54 WIB

Assalamualaikum wr. Wb

Kemarin saya membaca ulasan ustad mengenai harta isteri adalah menjadi hak isteri sepenuhnya sedang harta suami juga menjadi hak isteri. Tetapi ustad tidak menyebutkan dalilnya. Saya percaya bahwa Islam mengatur segala hal hingga detil.

Yang saya ingin ketahui atas dasar apa aturan harta isteri adalah sepenuhnya hak isteri sehingga jika ia ingin memberikan kepada suaminya dianggap sebagai sedekah atau hadiah? Karena sepengetahuan saya dalam hukum perkawinan bahwa harta yang diperoleh selama perkawinan dianggap sebagai harta bersama suami dan isteri, sehingga jika terjadi perceraian maka harus dibagi dua.

Selain itu yang saya ingin tanyakan bagaimana dengan utang karena setahu saya utang dalam perkawinan juga dianggap sebagai utang bersama walaupun hutang tersebut hanya dilakukan salah satu pihak bahkan mungkin pihak yang laun tidak mengetahui adanya hutang tersebut?

Demikian pertanyaan saya, terimakasih

Wasalam

Teto

Teto

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Apa yang anda sampaikan sebenarnya sudah benar. Yaitu bahwa selama ada dalil, maka barulahberlakuhukumnay. Dan sebaliknya, bila suatu hal tidak ada dalilnya, maka hukumnya tidak bisa ditetapkan. Maka kembali kepada hukum asal.

Kalau anda menanyakan adakah dalil yang menyebutkan bahwa harta isteri adalah hak isteri, justru kami menanyakan sebaliknya, adakah dalil yang menyebutkan bahwa harta isteri itu otomatis menjadi harta berdua?

Kalau pun pemahaman anda selama ini cenderung menganggap bahwa harta isteri menjadi harta bersama, maka sampai saat ini justru kami tidak pernah menemukan dalilnya. Yang kami ketahui, hal itu justru dianut oleh sistem rumah tangga di barat. Termasuk pembagian harta gono gini ketika terjadi perceraian. Padahal dalam syariat Islam, tidak pernah dikenal harta gono gini, karena pada hakikatnya harta suami dan isteri adalah harta masing-masing.

Yang pasti di dalam Islam, seorang suami diwajibkan memberi nafkah kepada isterinya. Tapi hanya selama masih jadi isteri hingga dicerai dan habis masa iddahnya. Namun begitu habis masa iddah, tidak ada sistem pesangon atau pembagian harta berdua.

Yang menjadi hak isteri adalah apa yang diberikan suami kepada isteri. Sedangkan harta suami yang tidak diberikan kepada isteri, statusnya tetap milik suami. Misalnya suami beli rumah, mobil, perabot dan sebagainya, selama suami tidak menyerahkan asset itu kepada isterinya, maka semua itu milik suami. Kalau terjadi perceraian, isteri tidak punya hak apa pun.

Lalu apa dalilnya?

Dalilnya adalah hukum dasar kepemilikan. Bahwa setiap orang berhak atas harta miliknya sendiri. Selama harta itu tidak pernah diserahkan kepada orang lain, maka harta itu tetap menjadi miliknya.

Harta yang didapat seorang suami dari hasil keringatnya adalah sepenuhnya harta milik suami. Namun seorang suami punya kewajiban untuk memberi sebagian hartanya sebagai nafkah kepada isterinya. Tentu yang namanya nafkah itu bukan seluruh harta, tetapi sesuatu yang dianggap telah mencukupi. Begitu sejumlah harta nafkah itu diberikan oleh suami kepada isterinya, maka harta itu barulah menjadi hak isteri. Tetapi kalau tidak atau belum diserahkan, maka harta itu tetap masih menjadi harta suami.

Demikian pula yang terjadi sebaliknya, ketika seorang isteri yang memiliki sejumlah hartamenikah dengan seorang laki-laki, maka harta itu tetap harta pribadi isteri. Tidak lantas menjadi harta milik bersama. Sebab pernikahan bukanlah perampokan. Pernikahan sekedar menghalalkan hubungan suami isteri lain jenis, tetapi tidak menghalalkan harta.

Kita tidak pernah menemukan dalil, baik Al-Quran maupun hadits yang mewajibkan seorang isteri harus berbagi harta pribadinya menjadi harta bersama dengan suami. Dan karena tidak ada dalilnya, maka hukum yang berlaku di barat sana tidak boleh diterapkan begitu saja dalam sistem kehidupan Islam.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »

Celana atau Sarung

Menutup Sampai Mata Kaki

Senin, 5 Mar 07 06:55 WIB

Yth Bapak Ustad

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Saya mau bertanya apakah orang yang sedang sholat dengan sarung atau celana panjang yang sampai menutup mata kaki termasuk orang yang sholat dengan sombong. Katanya sarung atau celana panjang harus di atas mata kaki ketika sholat.

Tapi bagaimana kalau sama sekali tidak ada rasa sombong dalam hati ketika sholat meskipun celana panjangnya sampai menutup mata kaki, Apakah sholat bisa diterima oleh Allah SWT.

Demikian pertanyaan saya, sebelumnya saya haturkan terima kasih

Wassalam

Wong Meduro

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Apa yang anda tanyakan itu sebenarnya sebuah polemik berkepanjangan yang tidak pernah ada habisnya. Dan melibatkan begitu banyak pihak yang sepanjang zaman. Serta telah menghabiskan begitu banyak resources, energi, waktu, kesempatan serta potensi terpendam umat ini. Sungguh begitu banyak maksiat dan keretakan persaudaraan di dalam tubuh umat lantaran meributkan urusan ujung celana.

Setiap hari kami menerima pertanyaan seperti ini, dengan masing-masing motivasinya. Dan ternyata pertanyaan seperti ini kami terima tanpa pernah ada habisnya juga.

Padahal semua itu dikeluarkan untuk sekedar memperdebatkan masalah ini, yang dari zaman kuda gigit besi sudah ramai diributkan, dan sampai hari ini tetap tidak ada penyelesaiannya.

Di satu sisi, kita melihat pemandangan unik. Di sana nampak saudara-saudara kita sibuk mencari dalil, hujjah dan argumentasi untuk ditusukkan ke lambung saudara kita yang lain, sekedar untuk mengatakan bahwa ujung celana yang melewati mata kaki itu adalah api neraka. Sebagian dari mereka bahkan sampai tidak mau bertegur sapa dengan orang yang celananya melewati mata kaki. Bahkan ada juga yang sampai mencaci makinya di depan umum karena urusan ini.

Anehnya, ke mana pun pergi, urusan ujung celana ini selalu menjadi primadona pembicaraannya, yang intinya ingin mencap pelakunya sebagai para pendosa, ahli bid’ah sampai jadicalon penghuni neraka. Pelakunyaharus diperangi, dibokot, dikucilkan, bahkan diintimidasi kalau perlu.

Kita hanya bisa mengurut dada melihat pemandangan seperti ini. Kok sampai segitunya, ya?

Disisi lain, kita juga melihat sebagian saudara kita yang lain merasa ‘terganggu’ dengan sikap demikian. Lantas mereka puntidak mau kalah dan balas menyerang, sambilmenyebutkan semua kejelekan-kejelekannya. Bahkan sampai mencap lawan mereka sebagai keturunan suku-suku penyamun di gurun pasir Arabia, dan seterusnya dan seterusnya…nauzdu billahi min zalik.

Lalu apakah umat yang seperti ini yang diharapkan oleh Rasulullah SAW? Akankah beliau berbahagia, bila melihat umatnya saling cakar, saling ceker dan saling cokor terhadap sesama? Sudikah beliau memberikan syafaat udzma di yaumil hisab nanti, kalau pemandangan umatnya macam ini? Hanya beliau SAW yang bisa menjawabnya.

Sungguh masalah ujung celana ini sudah sedemikian merampas kenikmatan yang Allah berikan. Berkah berukhuwah dan persaudaraan telah sirna karenanya. Indahnyakemesraan antara sesama umat Rasullah SAW entah hilang ke mana. Ke laut, kali…

Maka alangkah indahnya bila kita sejenak merenung atas beberapa hal. Misalnya, apakah amar makruf nahi mungkar yang telah kita lakukan ini sudah bisa terlaksana dengan indah dan nyaman? Ataukah malah melahirkan kemungkaran baru?

Haruskah kita selalu saling menjelekkan? Haruskah kita selalu menguntit dan mencari-cari kesalahan saudara kita? Masih tegakah kita melihat pemandangan jorok ini?

Mengapa kita tidak duduk bersama dengan baik-baik, saling membuka referensi, saling bertukar informasi, saling menyampaikan ilmu dengan penuh kemesraan? Mengapa kritik dan sanggahan itu harus berbentuk buku, kaset, rekaman video, situs internet dan media lainnya, yang kemudian hanya membongkar dan menyebar-luaskan aib sesama kita? Dan mengapa kita harus selalu berbantahan dalam perkara agama? Tidakkah ada cara yang lebih elegan, sopan, santun dan indah untuk mencari jalan tengah?

Apakah dengan berbantahan seperti ini, urusan umat ini akan selesai? Atau malah tambah ruwet lagi?

Di sisi lainnya lagi, kita lihat bagaimana yahudi dan nasrani serta musuh-musuh Allah yang lain sibuk merapatkan barisan. Mereka bahu membahu, bekerjasama, saling berkorban, saling menopang dan saling menguatkan antara sesama mereka. Semuanya untuk satu alasan bersama, yaitu menghancurkan Islam dan umatnya.

Mereka bangun pabrik senjata, bank, industri dari hulu sampai hilir, sekolah, kampus, lab, perpustakaan, rumah sakit, yayasan sosial, kekuatan militer, semua untuk tujuan bersama, yaitu menumbangkan agama Allah. Padahal perbedaan di antara mereka sangat besar, namun untuk satu tujuan bersama, mereka rela untuk menepis perbedaan.

Mereka susah makan dan susah tidur untuk menghimpun kekuatan bersama menganyang umat Islam.

Bagaimana dengan kita, umat Islam?Yang kita lakukan justru sudah makan susah tidur untuk saling menikam dan membongkar aib sesama. Mohon ampun ya Allah.

Sudahkah kita menjalin persaudaraan antara keping-keping elemen umat? Sudah tokoh salafi berangkulan mesra dengan petinggi Ikhwanul muslimin? Sudahkah petinggi Hizbuttahrir, NU, Muhammadiyah, Persi, Syiah dan lainnya, ikut melebur diri dalam kerja sama pertahanan umat Islam? Sudahkah partai-partai berbasis umat Islam saling peluk dan cium demi umatnya?

Sudahkah mereka menenangkan para kader di level grassroot untuk tidak selalu ‘cari perkara’ dengan sesama kelompok Islam lainnya?

Sudahkah kita menghidupkan sunnah Rasululah SAW untuk selalu saling berziarah dan menyambung tali kasih (silaturrahim) antara berbagai faksi yang bertentangan?

Jawaban dari semua itu ada di hati kita masing-masing. Jawabannya sebanding dengan keluasan hati, kepekaan atas realitas, kesabaran dalam berdakwah, ketulusan dalam bersikap serta kesantunan dalam berkata.

Selama kita belum bisa belajar mengimplementasikan hal-hal di atas, mungkin Allah SWT belum akan mengubah wajah dunia kita yang carut marut ini.

Khilaf tentang Isbal

Dalam pandangan kami, wallahu a’lam, masalah ujung celana di bawah mata kakiini adalah masalah khilaf. Sebagian ulama mengharamkannya secara mutlak, tanpa memperhatikan niat dan motivasi. Sementara sebagian lainnya mengharamkannya selama niat dan motivasi riya’ ikut mengiringinya. Itu saja jawabannya, karena memang begitu kenyataannya.

Wallahu ‘alm bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »