Feeds:
Posts
Comments

Archive for March 1st, 2007

Tahukah Anda??

Salah satu mitos yang ada pada orang-orang pagan – penyembah berhala- atau dalam Islam sering disebut sebagai orang-orang musyrik adalah adanya korban persembahan untuk dewa agar tidak murka dan bersedia memberikan berkah kepada manusia, hampir mirip dengan mitos yang ada pada sebagian orang-orang Jawa yang mempersembahkan sesajen kepada Nyi Roro Kidul sebagai penguasa laut Selatan, di mana sesajen tersebut ditujukan agar Nyi Roro Kidul tidak murka dan berkenan memberikan rizki kepada mereka, begitu juga dengan mitos korban persembahan kepada dewa-dewa oleh orang-orang pagan/ musyrik, sesajennya –korban persembahan– adalah berupa seorang gadis sejati dalam arti belum pernah tersentuh oleh seorang lelaki atau belum menikah.

Dalam ke-Kristen-an, ada doktrin yang mirip dengan mitos orang-orang Musyrik tersebut atau sesajenan untuk Nyi Roro Kidul, yaitu adanya doktrin yang mengharuskan meyakini Yesus sebagai korban persembahan untuk menebus dosa yang pernah dilakukan oleh Adam, di mana menurut doktrin tersebut, akibat dosa yang dilakukan oleh Adam –sering disebut sebagai dosa warisan-, Adam dan keturunannya tidak lagi hidup kekal dalam taman Eden seperti rencana Tuhan mula-mula, dengan kata lain akibat dosa tersebut manusia akan binasa atau tidak selamat alias akan masuk neraka, oleh karena itu diperlukan korban persembahan agar manusia dapat memperoleh keselamatan dan masuk dalam kerajaan sorga.

Menurut doktrin tersebut, korban persembahan –penebusan dosa– haruslah seorang manusia yang tidak pernah melakukan dosa –orang suci- sekaligus seorang tidak menikah, menurut doktrin tersebut, Yesus adalah manusia yang tidak pernah melakukan dosa dan tidak menikah sehingga masuk Kriteria sebagai korban penebus dosa, dan menurut doktrin tersebut, Yesus memang diciptakan untuk menebus dosa tersebut, Benarkah Yesus tidak pernah melakukan dosa dan tidak pernah menikah sehingga layak sebagai penebus dosa ?

Dalam artikel sebelumnya yang dengan judul YESUS MENGAKU BERDOSA– Telah kita bahas bahwa Yesus adalah juga manusia yang tidak terlepas dari berbuat dosa dan secara tidak langsung Yesus sendiri telah mengakui sebagai manusia yang mempunyai dosa, sehingga dari sisi tersebut saja, Yesus tidak layak untuk dijadikan objek korban persembahan penembus dosa yang pernah dilakukan oleh Adam.

Dalam kajian berikut ini, kita akan menelusuri kisah Yesus dalam Injil yang dikarang manusia dan telah menjadi kitab pegangan dalam agama Kristen, ternyata dalam kitab tersebut ada ayat yang sangat kuat menunjukkan bahwa Yesus telah menikah dengan seorang wanita mantan pelacur yang telah bertaubat, sehingga doktrin penebusan dosa yang mengharuskan seseorang yang suci dan tidak menikah tidak terpenuhi oleh diri seorang Yesus.

PERBUATAN MANTAN PELACUR
Dalam Injil yang dikarang Lukas pasal 7 ayat 36, dikisahkan, suatu ketika Yesus datang ke rumah Simon memenuhi undangan makan, ketika Yesus dan Simon sedang makan-makan, datanglah seorang wanita mantan pelacur yang sangat terkenal reputasi pekerjaannya sebagai pelacur hendak menemui Yesus.

Wanita tersebut datang menemui Yesus dengan membawa buli-buli pualam yang berisi minyak wangi, sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.

Simon merasa risih dengan sikap apa yang dilakukan wanita tersebut terhadap Yesus dihadapannya, dalam hatinya Simon berkata :

“Jika Yesus seorang nabi, tentu ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamahnya ini; tentu ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.”

Ungkapan Simon tersebut menggambarkan betapa tidak pantasnya apa yang dilakukan oleh wanita tersebut kepada Yesus, sangat mungkin apa yang dinilai oleh Simon adalah perbuatan tersebut adalah suatu perbuatan yang menyalahi norma yang ada.

Rupanya Yesus sangat bertenggang rasa dan sangat mengerti apa yang ada dalam benak Simon yang mengundangnya, berkatalah Yesus kepada Simon untuk menetralisir apa yang dipikirkan Simon agar Simon tidak berpikiran yang macam-macam :

“Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.”

“Katakanlah, Guru.”

“Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia ?” Tanya Yesus kepada Simon.

“Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutang-nya.” Jawab Simon

“Betul pendapatmu” Kata Yesus membenarkan.

Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Yesus berkata kepada Simon:

“Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-ku, tetapi dia membasahi kaki-ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya.

Engkau tidak mencium aku, tetapi sejak aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-ku.

Engkau tidak meminyaki kepala-ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-ku dengan minyak wangi.

Sebab itu aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih.

Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia ber-buat kasih.”

ISTRI YESUS
Segenap pembaca Kristen dalam membaca kisah tersebut yang terdapat dalam Injil karangan Lukas, tentu akan memahami bahwa sikap perempuan tersebut adalah sikap kasih-nya yang amat sangat kepada Yesus yang telah mengampuni dosa-dosanya.

Tetapi pemahaman ini adalah pemahaman yang terdoktrinasi oleh pengarang Injil dan yang tidak melihat sisi yang lain, misalnya, mungkinkah Yesus membiarkan saja seorang wanita mantan pelacur menjamah dirinya dengan menciumi kakinya dan menyekanya dengan rambutnya sampai-sampai Simon yang ada dihadapannya risih melihat perbuatan perempuan tersebut.

Apakah dibenarkan oleh agama dengan alasan mengasihi orang yang telah mengampuninya dengan menciumi kakinya dan membelai dengan rambutnya dan meminyaki dengan minyak wangi di mana Yesus adalah orang lain dari perempuan tersebut.

Bukankah Yesus pernah bersabda dalam Injil karangan yang lain :

“Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu. Matius 5:28-29

Tentu saja Yesus tidak sekedar memandang perempuan tersebut, melainkan Yesus telah merasakan belaian dan ciuman perempuan tersebut. Kalau perempuan tersebut adalah orang lain dan bukan apa-apa Yesus, tentulah Yesus telah berzinah dan telah melanggar apa yang telah disabdakannya sendiri seperti yang terdapat dalam ayat di atas.

Tentulah, Yesus sebagai seorang nabi utusan Allah, tidak akan membiarkan seorang perempuan jika bukan apa-apanya katakanlah bukan istri Yesus melakukan perbuatan tersebut terhadap diri-nya. Bila kisah itu benar adanya, pastilah perempuan tersebut ada hubungan suami-istri dengan Yesus.

Benarkah perempuan tersebut istri Yesus ?, mari kita telusuri ayat-ayat yang terdapat dalam Bible dan makna tersembunyi yang ada dalam kisah Yesus tersebut.

RITUAL PERNIKAHAN
Di dalam Bible, Kitab Kidung Agung pasal 1:2-4 dikisahkan tentang ritual pernikahan sebagai berikut :

Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur,harum bau minyakmu, bagaikan minyak yang tercurah namamu, oleh sebab itu gadis-gadis cinta kepadamu! Tariklah aku di belakangmu, marilah kita cepat-cepat pergi! Sang raja telah membawa aku ke dalam maligai-maligainya. Kami akan bersorak-sorai dan bergembira karena engkau, kami akan memuji cintamu lebih dari pada anggur! Layaklah mereka cinta kepadamu!

Dalam ayat tersebut ada point-point penting :

– Mencium
– Harum bau minyak
– Tariklah aku dibelakangmu

Point-point tersebut adalah khas dalam ritual pernikahan bangsa Yahudi, dan ketiga point tersebut terdapat juga dalam kisah perempuan yang datang menemui Yesus di rumah Simon, mari kita lihat ayatnya :

“Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.” Lukas 7:38

Adanya kesamaan antara yang dilakukan oleh perempuan itu terhadap Yesus dengan ritual pernikahan bangsa Yahudi, sangat kuat mengindikasikan bahwa apa yang sedang dilakukan perempuan itu terhadap Yesus adalah sebagai ritual pernikahan dirinya dengan Yesus.

Bila yang dilakukan perempuan itu terhadap Yesus ditafsirkan sebagai ritual pernikahan, maka hal itu tidak bertentangan dengan sabda Yesus dan hukum Taurat, namun bila yang dilakukan perempuan itu ditafsirkan sebagai kasihnya kepada Yesus karena dosa-dosanya telah diampuni, maka antara Yesus dengan perempuan itu telah terjadi perzinahan karena perempuan itu bukan muhrimnya dan sesuai hukum Taurat harus dihukum mati.

Tidak mungkin dengan alasan apapun Yesus mengizinkan seorang perempuan menciumi dirinya jika perempuan itu bukan istrinya.

Yesus Tidak Layak Sebagai Penebus Dosa
Adanya indikasi kuat bahwa Yesus telah menikah, maka menjadikan Yesus sebagai korban persembahan untuk menebus dosa yang pernah dilakukan oleh Adam adalah nampak mengada-ada dan hanya berupa doktrin belaka yang harus diyakini begitu saja tanpa melihat kebenaran kisah Yesus yang sesungguhnya dan harus mengabaikan kontradiksi yang sangat mencolok. Kontradiksi yang dimaksud adalah di satu sisi Yesus menyatakan bahwa memandang saja sudah termasuk zinah tetapi Yesus sendiri membiarkan dirinya diciumi oleh seorang mantan pelacur. Apalagi doktrin penebusan ini sangat mirip dengan mitos yang ada pada bangsa-bangsa penyembah berhala, nampakanya doktrin penebusan dosa hanyalah hasil copy dari ajaran para penyembah berhala dan bukan dari Allah.

Tentu saja para pengarang Injil sangat berkepentingan untuk menyembunyikan pernikahan Yesus karena untuk mendoktrin pembacanya bahwa Yesus telah mati di tiang salib untuk menebus dosa yang pernah dilakukan oleh Adam dan sebagai syarat-nya adalah tidak pernah melakukan dosa dan tidak menikah.

Dalam Al-Qur’an diisyaratkan, bahwa para nabi oleh Allah SWT diberi istri bahkan keturunan :

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan……. . (QS. 13:38)

Dan Brown, pengarang The Davinci Code novel yang sangat kontroversial, mengisahkan memang Yesus telah menikah dengan Maria Magdalena mantan pelacur yang telah menciumi Yesus di rumah Simon dan mempunyai keturunan, hanya saja keturunan Yesus ini telah lenyap dan tahta kerajaan Yesus akhirnya berpindah ke Roma. (al-islahonline)

Streaming Yesus Berpoligami


Fitrah Logika yang dimiliki oleh setiap manusia Insya Allah ekan diatas segala galanya, seorang Kristolog Dr. H. Sanihu Munir banyak membuat buku yang menggegerkan Teologi Kristen yang diantaranya buku MENYELAMATKAN JURU SELAMAT.

Baru bari ini juga sempat menggegerkan kalangan umat kristiani pada acara Kristologi di hotel Hilton dimana dalam acara tersebut terungkap salah satunya bahwa yesus atau nabi Isa a.s dalam kehidupan rumah tangganya juga berpoligami dan yesus tidak mati di salib.

Tahukah anda ? bahwa yesus atau Nabi Isa a.s itu adalah seorang muslim? dan beliau juga tidak mati di tiang salib ? apalagi mati untuk menebus dosa seluruh bangsa ?

(swaramuslim.net)

Advertisements

Read Full Post »

Apakah Ber-KB Itu

Dosa?

Rabu, 28 Peb 07 15:35 WIB

Assalamualaikum wr wb…

Ustad yang dirahmati Allah,

Saya mau tanya masalah keluarga Berencana (KB).Ada yang bilang kalau KB itu tidak boleh, karena mengurangi jumlah umat Islam. Dalil mereka bahwa rasulullah SAW senang dengan umat yang banyak. Seingat saya dalam Islam ada bentuk KB yang namanya uzl, sementara sekarang ini ada alamat kontrasepsi.

Bagaimana hukumnyaber-KB dengan mengunakan alamat tersebut, apakah dosa kalau gunakan salah satu alat tersebut, bagaimana solusi biar tidak dosa tapi kita bisa juga menjaga jarak antara satu anak dengan anak yang lain?

Atas jawaban ustad makasih.

Wassalamualaikum wr wb

Naila

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang benar bahwa Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk memiliki keturunan yang banyak. Namun tentunya bukan asal banyak, tetapi berkualitas. Sehingga perlu dididik dengan baik sehingga mengisi alam semesta ini dengan manusia yang shalih dan beriman.

Sejak dari memilih calon isteri, Rasulullah SAW mengisyaratkan untuk mendapatkan isteri yang punya potensi untuk memiliki anak.

Nikahilah wanita yang banyak anaknya karena aku (Rasulullah SAW) berlomba dengan umat lainnya dalam banyaknya umat pada hari qiyamat (HR Ahmad dan Ibnu Hibban).

Namun perintah memilih wanita yang subur sebanding dengan perintah untuk memilih wanita yang shalihah dan baik keIslamannya.

Dunia itu adalah kesenangan dan sebaik-baik kesenangan adalah wanita yang shalihah.

Dalam hadits lain disebutkan:

Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena agamanya, nasabnya, hartanya dan kecantikannya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat.

Dalam pandangan Islam, anak merupakan karunia dan rezeki sekaligus yang harus disyukuri dan disiapkan dengan sebaik-baiknya.

Namun hal itu tidak berarti kerja orang tua hanya sekedar memproduksi anak saja. Masih ada kewajiban lainnya terhadap antara lain mendidiknya dan membekalinya dengan beragam ilmu dan hikmah.

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (QS. An-Nisa: 9)

Mengatur Jarak Kelahiran

Selain menganjurkan memperbanyak anak, Islam juga memerintahkan untuk memperhatikan kualitas pendidikan anak itu sendiri. Dan di antara metode untuk mengotimalkan pendidikan anak adalah dengan mengatur jarak kelahiran anak.

Hal ini penting mengingat bila setiap tahun melahirkan anak, akan membuat sang ibu tidak punya kesempatan untuk memberikan perhatian kepada anaknya. Bahkan bukan perhatian yang berkurang, nutrisi dalam bentuk ASI yang sangat dibutuhkan pun akan berkurang. Padahal secara alamiyah, seorang bayi idealnya menyusu kepada ibunya selama dua tahun meski bukan sebuah kewajiban.

Dan Kami perintahkan kepada manusia kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.(QS. Luqman: 14)

Inilah motivasi yang paling bisa diterima oleh syariat berkaitan dengan pencegahan sementara atas kehamilan. Sedangkan pencegahan kehamilan karena motivasi karena takut miskin atau takut tidak mendapatkan rezeki akibat persaingan hidup yang semakin ketat, tidak bisa diterima oleh Islam.

Karena ketakutan itu sama sekali tidak berdasar dan hanya hembusan dan syetan atau oang-orang kafir yang tidak punya iman di dalam dada.
Karena jauh sebelum bumi ini dihuni oleh manusia, Allah sudah menyiapkan semua sarana penunjang kehidupan. Hewan dan tumbuhan sudah disiapkan untuk menjadi rezeki bagi manusia. Allah sudah menjamin ketersediaan makanan dan minuman serta semua sarana penunjang kehidupan lainnya di bumi ini.

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (QS. Huud: 6).

Dan berapa banyak binatang yang tidak membawa rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. Al-Ankabut: 60)

Sehingga membunuh anak karena motivasi takut lapar dan tidak mendapat rizki adalah perkara yang diharamkan oleh Islam.

Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka(QS. Al-An`am: 151)

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.(QS. Al-Isra: 31)

Syarat Dibolehkannnya Penggunaan Alat Pencegah Kehamilan
Secara umum pencegahan kehamilan itu hukum dibolehkan, asal memenuhi dua persyaratan utama:

1. Motivasi
Motivasi yang melatar-belakanginya bukan karena takut tidak mendapat rezeki. Yang dibenarkan adalah mencegah sementara kehamilan untuk mengatur jarak kelahiran itu sendiri.

Atau karena pertimbangan medis berdasarkan penelitian ahli medis berkaitan dengan keselamatan nyawa manusia bila harus mengandung anak. Dalam kasus tertentu, seorangwanita bila hamil bisa membahayakan nyawanya sendiri atau nyawa anak yang dikandungnya. Dengan demikian maka dharar itu harus ditolak.

2. Metode atau alat pencegah kehamilan
Metode pencegah kehamilan serta alat-alat yang digunakan haruslah yang sejalan dengan syariat Islam. Ada metode yang secara langsung pernah dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW dan para shahabat dan ada juga yang memang diserahkan kepada dunia medis dengan syarat tidak melanggar norma dan etika serta prinsip umum ketentuan Islam.

Contoh metode pencegah kehamilan yang pernah dilakukan di zaman Rasulullah SAW adalah ‘azl.

Dari Jabir berkata:` Kami melakukan `azl di masa Nabi saw sedang Al-Qur`an turun (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Jabir berkata: `Kami melakukan `azl di masa Rasulullah saw, dan Rasul mendengarnya tetapi tidak melarangnya` (HR muslim).

Sedangkan metode di zaman ini yang tentunya belum pernah dilakukan di zaman Rasulullah SAW membutuhkan kajian yang mendalam dan melibat para ahli medis dalam menentukan kebolehan atau keharamannya.

Wallahu ‘alam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »

Fiqih

Imam Syafi’i

Kamis, 1 Mar 07 10:28 WIB

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Saya punya 2 pertanyaan.

Pertanyaan pertama, bolehkah saya mengetahui tentang tata cara fiqih ibadah(Wudhu, sholat, dll) yang merupakan pendapat dari Imam Syafi’i?

Pertanyaan kedua, bapak bilang kalau kita boleh memegang lebih dari 1 mahzab? Contoh ketika kita dalam wudhu dan sholat, bukannya itu harus satu paket? Berarti harus satu, benar atau tidak?

Demikian pertanyaan saya, terima kasih.

Wassalam

Hasya
hasya at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Untuk mengenal lebih jauh tentang fiqih Imam Asy-Syafi’i, sebenarnya sangat mudah. Sebab fiqihmazhab itu tersebar luas dalam ribuan jilid kitab.

Untuk yang paling tinggi, bisa kita baca dalam kitab beliau yang berjudul Al-Umm (induk). Kitab yang tebalnya 11 jilid ini adalah kitab utama dan sesuai dengan namanya, kitab ini menjadi kitab induk rujukan pertama dalam mazhab As-syafi’i. Ke kitab inilah para ulama mazhab Syafi’i merujuk, karena boleh dibilang bahwa kitab ini berisi fatwa-fatwa resmi Al-Imam As-Syafi’i rahimahullah.

Sayangnya tidak semua ustadz atau guru pengajian memiliki kitab ini. Mungkin karena cukup tebal dan memang dahulu ngajinya tidak sampai ke level ini.

Jangan lupa juga untuk membaca kitab ushul fiqih beliau yaitu Ar-Risalah. Kitab ini adalah bacaan wajib para ulama mazhab, karena kitab ini adalah kitab pertama yang ditulis khusus dalam ilmu ushul fiqih. Tidak mungkin ada seorang bisa jadi mujtahid fiqih, kalau belum baca kitab ini. Dan Al-Imam As-Syafi’i adalah Bapak peletak dasar ilmu ushul fiqih. Nyaris semua ulama ahli fiqih berguru dari kitab ini.

Ilmu ushul fiqih adalah ilmu untuk membuat sistematika dalam pengambilan kesimpulan hukum dari Al-quran dan As-sunnah. Orang yang tidak punya ilmu ini, tidak akan lurus dalam menarik kesimpulan hukum syariah, meski sudah memegang Al-Quran dan As-Sunnah.

Selain kedua kedua karya masterpiece itu, Al-Imam As-Syafi’i memiliki puluhan bahkan ratusan murid dari masa ke masa. Di mana mereka kemudian meneliti, membedah, memberi syarah (penjelasan)bahkan termasuk mengkritisi pendapat-pendapat sang guru.

Salah satu di antaranya yang paling masyhur adalah Al-Imam An-Nawawi rahimahullah. Beliau menulis kitab syarah (penjelasan) atas kitab fiqih syafi’i yang bernama Al-Majmu’ Syarah Al-Muhazzab. Kitab ini termasuk kitab fiqih mazhab Syafi’i yang umumnya menjadi rujukan para ulama pembesar mazhab ini. Jumlah jilidnya sampai 22 buah, lumayan tebal. Selain itu juga ada kitab Mughni Al-Muhtaj yang sedikit lebih ringan.

Sedangkan untuk kalangan pemula, banyak ulama di kalangan mazhab ini yang menulis kitab kecil-kecil seperti Kifayatul Akhyar. Bahkan ada yang sangat ringkas dan merupakan point-point kesimpulannya saja, tanpa dalil dan ta’lil, seperti kitab Matan Al-ghayah wa At-Taqrib atau Safinatun-Najah. Kitab-kitab ‘mungil’ ini paling banyak kita jumpai di berbagai pesantren dan majelis taklim di negeri kita.

Nah, pada tiap kitab itulah kita bisa mendapatkan berbagai pandangan mazhab As-Syafi’i dalam masalah agama. Sayangnya, sebagain besar kitab-kitab itu masih berbahasa arab. Para santri di berbagai pondok pesantren belajar bahasa arab karena bertujuan agar mampu membaca dalam bahasa aslinya. Sebab terjemahan-terjemahan sangat bermasalah dengan kualitasnya.

Gonta ganti Mazhab

Sebenarnya urusan bergonta-ganti mazhab bukan larangan. Namun sebaliknya, justru anjuran untuk mendapatkan kemudahan. Jadi kalimat yang benar adalah bahwa setiap muslim dibolehkan atau berhak untuk berpegang pada satu mazhab saja. Tidak harus selalu bergonta-ganti, karena akan sangat merepotkan.

Namun kalau ada pelajar atau mahasiswa ilmu syariah yang melakukan pengkajian dan kritisi atas pendapat-pendapat hukum dari para ulama, lalu mereka merajihkan satu pendapat tertentu dari sebuah mazhab dan sebagian lagi merajihkan pendapat dari mazhan lainnya, tentu tdiak dilarang. Karena belajar fiqih pada level tertentu adalah belajar mentarjih.Dan seorang yang punya beberapa dasar ilmu fiqih pada waktu tertentu harus berani melakukan tarjih.

Sebaliknya, orang awam yang tidak mengerti dasar ilmu fiqih, buta bahasa arab, tidak mengerti ilmu ushul dan lainnya, tidak punya kewajiban untuk melakukan tarjih. Dia boleh bertaqlid dengan salah satu pendapat dari mazhab tertentu sebagai kemudahan. Bahkan tidak diwajibkan atasnya untuk membedah dalil-dalil tiap masalah. Cukup meminta fatwa dan isi fatwa itu hanya satu kata: halal, titik.

Orang-orang awam dibolehkan menjadi muqallid dalam ilmu istimbath hukum. Kepadanya tidak dipikulkan beban yang tidak mampu diangkatnya. Bahkan kalau dipaksakan justru berbahaya.

Semua ini bisa kita ibaratkan dengan sebuah peperangan yang melihat pasukan profesional. Hanya tentara profesional saja yang dikirm ke medan perang. Tindakan memerintahkan rakyat sipil untuk masuk medan perang adalah keliru dan berbahaya. Rakyat sipil tidak diwajibkan ikut pertempuran, justru mereka harus diselamatkan atau diungsikan. Tapi kalau ada relawan mau ikut membantu tentara profesional menjadi milisi, tidak tertutup peluang. Namun wajib ikut latihan sebelumnya dan diperbantukan.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ahmad Sarwat, Lc

 

Read Full Post »