Feeds:
Posts
Comments

Archive for January 31st, 2007

Ilmu Mawarits

HUKUM YANG TERABAIKAN

Oleh stadz Armen Halim Naro
PENTINGNYA ILMU MAWARITS
Jika hukum-hukum syari at, seperti shalat, zakat, haji dan yang lainnya
dijelaskan secara global oleh Allah Subhanahu wa Ta ala lalu diperinci oleh
Rasulullah Shallallahu  alaihi wa sallam dalam Sunnah, sedangkan hukum
mawarits diterangkan oleh Allah Subhanahu wa Ta ala secara terperinci di
dalam Al-Qur an.

Sebagai contoh, ketika Allah Subhanahu wa Ta ala berfirman :  Dirikanlah
shalat dan tunaikan zakat   [Al-Baqarah : 43] atau : Dan bagi Allah atas
manusia untuk berhaji ke Baitullah, bagi siapa yang mampu  [Ali-Imran : 97],
baru kemudian Sunnah menjelaskan tata caranya dengan detail.

Adapun pembagian harta warisan, Allah Subhanahu wa Ta ala telah menjelaskan
di awal dan di akhir surat An-Nisa. Allah sendiri yang langsung membagi
warisan demi kemaslahatan mahlukNya. Allah Subhanahu wa Ta ala menetapkan
laki-laki memperoleh dua bagian dari perempuan, tidak ada seorangpun yang
boleh menyangkal hukum dan peraturanNya, karena Dia-lah Dzat yang Maha Adil
dan Bijaksana.

SEKILAS PERBANDINGAN PEMBAGIAN HARTA WARISAN ANTARA ADAT JAHILIYAH DENGAN
ISLAM
Pada zaman Arab Jahiliyah dahulu, harta warisan berpindah ke tangan anak
sulung si mayit, atau kepada saudaranya atau pamannya sepeninggalnya. Mereka
tidak memberikan kepada wanita dan anak-anak. Alasan mereka, karena wanita
dan anak-anak tidak bisa memelihara keamanan dan tidak bisa berperang.

Sebagaimana yang berlaku pada kedua putri Sa ad bin Rabi Radhiyallahu  anhu,
bahwa paman mereka mengambil semua harta peninggalan ayah mereka. Ketika
permasalahan tersebut sampai kepada Rasulullah Shallallahu  alaihi wa
sallam, maka beliau Shallallahu  alaihi wa sallam memerintahkan pamannya
tersebut untuk memberi kemenakannya dua pertiga, dan ibu mereka
seperdelapan, dan sisanya barulah dia ambil.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,  Orang-orang jahiliyah menjadikan seluruh
pembagian kepada laki-laki, tidak kepada perempuan. Oleh karena itu, Allah
Subhanahu wa Ta ala memerintahkan mereka untuk berbagi sama dalam pembagian,
kemudian melebihkan di antara dua kelompok dengan menjadikan laki-laki
memperoleh dua bagian perempuan. Hal itu, karena laki-laki menangggung biaya
nafkah, tanggungan, beban bisnis dan usaha, serta menanggung kesusahan,
Maka, layak dia memperoleh dua kali lipat dari bagian perempuan  [Lihat
Tafsir Ibnu Katsir 1/433]

Pada sebagian suku di Indonesia, terutama yang mengambil nasab kepada ibu,
misalnya di Minangkabau, mereka memberlakukan pembagian harta warisan kepada
perempuan. Karena tugas yang semestinya diemban oleh laki-laki, ternyata
harus dibebankan kepada perempuan, mulai dari pengasuhan orang tua ketika
lanjut usia, sampai pada pemberian uang saku untuk kemenakan dan famili.

Karena itu, suami dianjurkan (baca : diharuskan) tinggal di rumah orang tua
perempuan. Dan merupakan aib bagi suami, jika ia tinggal satu rumah dengan
orang tuanya sendiri, jika memang terpaksa harus tinggal di rumah orang tua.
Bahkan di sebagian daerah Minang, laki-laki dibeli dengan uang sebagaimana
dibelinya barang. Setelah itu, sang suami harus lebih banyak bertandang ke
rumah orang tua isteri dari pada ke rumah orang tuanya sendiri.

Fakta seperti ini berlawanan dengan adat jahiliyah Arab yang menempatkan
laki-laki sangat dominan dan diuntungkan. Dan sebaliknya, pada adat Minang
ini, laki-laki selalu dirugikan. Dikatakan oleh seorang ulama Minang, Buya
Hamka rahimahullah dalam salah satu karangannya : Jika ada laki-laki yang
paling sengsara, maka dialah laki-laki Minang. Bagaimana tidak, sewaktu dia
masih kecil yang seharusnya dia mendapatkan nasihat dan keputusan dari orang
tuanya dalam semua urusannya dari sekolah hingga menikah, itu semua diambil
alih oleh mamaknya (paman dari pihak ibu), ketika dia telah menikah dia
menjadi semanda di rumahnya sendiri, yang duduk harus di bawah dan di
tepi-tepi, ketika sudah tua renta dan mulai pula sakit-sakitan, dia harus
siap-siap untuk menyingkir karena pembagian rumah dan harta hanya untuk anak
perempuan, maka terpaksalah dia tidur di surau dan kalau makan harus pergi
ke lapau (kedai nasi)

Ada pula pemikiran yang menyimpang, dengan mengusung isu persamaan gender
yang awalnya didengungkan para orientalis barat, kemudian di negeri kita
dikembangkan oleh orang-orang Islam sendiri yang sekulit dan satu bahasa
dengan kita. Pendapat aneh tersebut ialah, tentang pembagian mawarits harus
disama-ratakan antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan pembagian waris
antara laki-laki dan perempuan  menurut mereka- tidak adil. Pendapat seperti
ini telah lama dan banyak dilontarkan tokoh-tokoh Islam yang terkontaminasi
oleh pemikiran orientalis, yang kemudian diikuti dan dikembangkan oleh
kelompok yang menamakan diri Jaringan Islam Liberal.

Tentu saja, anggapan aneh seperti diatas tidak terbukti. Karena syari at
Islam memberlakukan keadilan dan keseimbangan, dia sampaikan semua hak
kepada pemiliknya. Nabi Shallallahu  alaihi wa sallam bersabda :
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta ala telah memberi setiap yang mempunyai
hak akan haknya. Maka tidak ada wasiat bagi ahli waris  [Hadis Riwayat Abu
Dawud 3565, Tirmidzi 2/16, Ibnu Majah 2713, Baihaqi 6/264, Syaikh Al-Albani
rahimahullah berkata  sanadnya hasan ]

Jika adat jahiliyah di luar syariat Islam hanya melihat kemaslahatan
orang-orang kuat, maka Islam menjaga kemaslahatan orang-orang lemah, karena
mereka yang layak dikasihi dan dilindungi. Disabdakan oleh Rasulullah
Shallallahu  alaihi wa sallam :  Sesungguhnya engkau lebih baik meninggalkan
ahli warismu dalam keadaan kaya, daripada engkau biarkan mereka miskin
meminta-minta kepada manusia  [Hadist Riwayat Bukhari, Bab Wasiat/2, dan
Muslim, Bab Wasiat/5]

Islam juga tidak mengabaikan orang-orang kuat dan tidak menyia-nyiakan yang
lemah. Setiap orang yang telah memenuhi semua syarat dan tidak ada
penghalang yang menghalanginya, maka dia berhak memperoleh warisan, baik dia
besar maupun kecil, laki-laki maupun perempuan, lemah maupun kuat.

Jika adat jahiliyah hanya mendahulukan kepentingan orang yang dapat
memberikan manfaat, tidak akan mendapatkan warisan kecuali yang ikut serta
dalam berperang dan menjaga kehormatan, atau yang menjaga orang tua dan yang
menjaga tanah persukuan, maka dalam Islam tidak menapikan andil yang lain.
Bahkan Allah Subhanahu wa Ta ala menyatakan, ayah-ayah kalian dan anak-anak
kalian tidak akan mengetahui mana yang lebih banyak manfaatnya. Lihat
An-Nisa ayat 11

Dari paparan sekilas ini, kita dapat menyimpulkan ciri khas pembagian
mawarits dalam Islam sebagaimana berikut.

[1]. Ketetapan warisan merupakan peraturan yang bersifat sosial dan mengikat
bagi siapa saja yang telah bersaksi bahwa Allah Subhanahu wa Ta ala sebagai
Rabb-nya dan Muhammad sebagai rasul.

[2]. Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta ala telah menempatkan setiap pemilik
hak pada posisinya yang layak.

[3]. Dengan pembagian yang adil sesuai syariat tersebut, berarti Islam telah
berusaha memperkuat jalinan persaudaraan dan memperkokohnya dengan tali
silaturrahim. Allah Subhanahu wa Ta ala berfirman :  Dan orang-orang yang
punya jalinan darah sebagian mereka lebih berhak dari sebagian yang lainnya,
merupakan ketetapan dalam Kitab Allah . Lihat Al-Qur an surat Al-Anfaal ayat
75

[4].Islam sangat mempedulikan kepemilikan individu, sehingga mendorong
seseorang untuk berusaha sekuat tenaga, dengan harapan orang-orang yang dia
cintai akan ikut merasakan manisnya hasil usahanya tersebut. Hal seperti ini
tidak didapatkan pada masa jahiliyah Arab dan hukum adapt.

[5]. Pembagian harta waris berdasarkan kebutuhan. Semakin seseorang
membutuhkan kepada harta warisan, semakin banyak pula dia memperolehnya.
Oleh karena itu, laki-laki memperoleh bagian lebih besar, karena laki-laki
lebih membutuhkannya daripada perempuan.

ANCAMAN JIKA TIDAK MENGGUNAKAN HUKUM ISLAM DALAM PEMBAGIAN WARISAN
Orang yang tidak memakai hukum mawarits dalam pembagian hartanya, sama
halnya dengan orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah Subhanahu wa
Ta ala. Ancaman terhadap mereka sama dengan ancaman terhadap siapa saja yang
tidak berhukum dengan Allah Subhanahu wa Ta ala. Firman Allah Subhanahu wa
Ta ala.

Artinya : Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan
Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir  [Al-Maidah : 44]

Artinya : Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan
Allah, maka mereka adalah orang-orang yang zhallim  [Al-Maidah : 45]

Artinya : Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan
Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik  [Al-Maidah : 47]

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata,  Pernyataan tegas (dalam permasalahan ini)
ialah, barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah
Subhanahu wa Ta ala disertai pengingkaran, sedangkan ia mengetahui bahwa
Allah Subhanahu wa Ta ala menurunkan hukum tersebut, sebagaimana yang
diperbuat oleh Yahudi, maka dia telah kufur. Dan barangsiapa yang tidak
berhukum dengan hukum Allah Subhanahu wa Ta ala karena lebih condong kepada
hawa nafsu tanpa pengingkaran (terhadap hukum tersebut), maka dia telah
berbuat zhalim atau fasik  [Zadul Masir 2/366]

Dalam masalah pembagian harta waris, secara khusus Allah Subhanahu wa Ta ala
menyebutkan ancaman bagi orang yang menetapkan pembagian harta waris apabila
tidak berdasarkan hukum Allah. Allah Suhanahu wa Ta ala berfirman setelah
ayat mawarits.

Artinya ; (Hukum-hukum mawarits tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan
dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan RasulNya, niscaya Allah
memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai,
sedangkan mereka kekal di dalamnya, dan itulah kemenangan yang besar. Dan
barangsiapa yang mendurhakai Allah dan RasulNya dan melanggar
ketentuan-ketentuanNya, niscaya Allah memasukannya ke dalam api neraka,
sedangkan ia kekal di dalamnya dan baginya siksa yang menghinakan  [An-Nisa
13-14]

Ayat di atas menerangkan, Allah Subhanahu wa Ta ala menjanjikan surga bagi
orang yang membagi harta waris sesuai ketentuannya. Sebaliknya, Allah
Subhanahu wa Ta ala mengancam setiap orang yang melampaui batas, tidak
memperdulikan atau berpaling, dan menambah atau mengurangi dengan adzab yang
sangat pedih.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu  anhu, ia berkata, Rasuluillah
Shallallahu  alaihi wa sallam telah bersabda : Seseorang beramal dengan amal
orang yang shalih selamah tujuh puluh tahun. Kemudian ketika berwasiat, ia
melakukan kezhaliman dalam wasiatnya. Maka Allah Subhanahu wa Ta ala akan
menutup amalannya dengan seburuk-buruk amalan, hingga membuatnya masuk
neraka. Dan sesungguhnya, seseorang beramal dengan amal orang fasik selama
tujuh puluh tahun, kemudian dia berlaku adil dalam wasiatnya, niscaya ia
dapat menutup amalnya dengan amal yang terbaik, sehingga dia masuk surga
Abu Hurairah berkata :  bacalah kalau kalian mau . Kemudian beliau membaca
ayat di atas. [Hadits riwayat Abu Dawud, 2867, Ibnu Majah 22/3/2703 dan
Ahmad /447/7728. Ahmad Syakir berkata,  Sanadnya Shahih ]

Demikian secara singkat pembahasan ilmu mawarits yang sangat penting bagi
kaum Muslimin. Sebagi pengingat, supaya kita tidak melalaikannya. Dan
mudah-mudahan bermanfaat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi Khusus/Tahun IX/1426H/2005M. Penerbit
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183]
______
Maraji.
[1]. Tafsir Al-Qur anul Azhim, Ibnu Katsir, Maktabah Ulum wal Hikam
[2]. Tafsir Zadul Masir, Ibnu Jauzi
[3]. Irwa ul Ghalil Fi Takhrijil Manaris Sabil, Al-Albani, Al-Maktabul
Islami
[4]. At-Tahqiqatul Mardhiah Fil Mabahits Al-Faradhiyah, Shalih Al-fauzan,
Maktabah Al-Ma arif
[5]. Tashil Al-Mawarits wal Washaya, Abdul Karim Muhammad Nashr, Maktabah
Haramain

Advertisements

Read Full Post »

Warga Palestina:

Cukup, Haram Membunuh Sesama Saudara…

Selasa, 30 Jan 07 11:08 WIB

“Cukup… haram bertikai sesama saudara. Kita harus bersatu menghadapi penjajah, daripada membunuh saudara. Ini dari Fatah dan ini dari Hamas… “

Seperti inilah ungkapan yang dilontarkan di jalan-jalan Palestina, yang meminta agar pertikaian antar sesama pejuang Palestina yang belakangan terjadi, segera dihentikan. Pertikaian itu semakin meruncing hingga menewaskan sekitar 30 orang Palestina.

Abu Abdullah, penduduk Palestina sangat berduka melihat apa yang terjadi antara pendukung dua gerakan besar pejuang Palestina. Ia mengatakan dengan sedih, “Kenapa kita saling membunuh? Untuk sebuah kursi? Ini haram. Daripada engkau arahkan senjata ke dada saudaramu, engkau harusnya tahu bahwa orang mukmin yang membunuh orang mukmin tempatnya adalah di neraka. “

Abu Abdulah dalam dialog dengan Islamonline mengajak pejuang Palestina untuk bersatu menghadapi penjajah. Ia mengatakan, “Kita harus bersatu menghadapi penjajah Zionis Israel. Musuh kita satu, yag merampas tanah suci kita. Tidak benar bila kita saling bertikai. Di tengah banyak peristiwa yang menyedihkan, saya meminta kedua belah pihak untuk menghentikan pertikaian dan menarik semua senjata dari jalanan Palestina. ”

Penduduk Palestina lainnya, Abdurrahman mengingatkan soal adanya infiltrasi asing yang meletupkan fitnah antara rakyat Palestina. “Ada banyak konspirasi yang dimainkan negara-negara yang ingin menjerumuskan rakyat Palestina pada pertikaian internal dan merusak kesatuannya. ”

Sedangkan, dalam komentarnya terhadap aksi bom syahid yang baru terjadi dan menewaskan tiga orang Israel, Jubir gerakan Jihad Islam mengatakan, “Aksi ini dilakukan pada waktu yang tepat, agar menjadi tamparan di muka orang-orang Palestina yang kini sedang saling bertikai. ”

Kontak senjata hingga kini masih terjadi antara pejuang Palestina hingga menewaskan sekitar 30-an orang Palestina sendiri (na-str/iol) eramuslim.com

Read Full Post »

Isteri Meminta Cerai

Pergi Tanpa Ijin Suami

Rabu, 31 Jan 07 05:36 WIB

Assalamu ‘alaikumWr. Wb.

Pa Ustdz Yth,

Beberapa puluh tahun yang lalu (1988), kami mengalami percekcokan suami isteri, tidak mencapai kata sepakat. Tiba-tiba isteriberkata, “Memang kita tidak cocok, kita pisah aja.” Setelah kejadian itu saya mengingatkan bahwa saya sangat pantang untuk mengatakan kata “pisah.” Dan jika mencari orang yang benar-benar cocok dengan diri kita, sampai ke ujung dunia pun kita tidak akan ketemu, karena cocok itu adalah “rasa.”

Selang beberapa tahun kata-kata itu terucap lagi dan saya masih mengingatkan. Selang beberapa tahun kemudian kata iru terucap dan terucap lagi, sampai isteri saya menantang dengan senyum sinis berkata “Kita mau cerai? Kapan? Besok?”

Akhirnya saya tidak dapat membendung hati saya, mungkin memang ini adalah keinginan isteri untuk pisah, maka jatuhlah talak yang ke 1, 2 & 3 dari selang waktu kejadian tersebut di atas.

Dan pernah pada kejadian tersebut di atas isteri saya pergi dari rumah walau saya sudah melarangnya dan mengingatkan akan keberadaan anak-anak.

Yang ingin saya tanyakan,

1. Jika talak 3 sudah jatuh, masih bisakah kamirujuk lagi dengan hanya menerima/memaafkan isteri?

2. Isteri saya telah menanyakan hal ini kpd ustadz-ustdz lain, jawabannyaadalahperceraian/talak tidak sah jika diputuskan dalam keadaan emosi.

3. Menurut pemikiran saya, semua yang saya putuskan ini adalah keinginan dari isteri yang setiap ada masalah yang tidak bisa terpecahkan selalu meminta “pisah.” Maka saya berikan talak.

Sehubungan dengan pendapat para ustadz (no. 2) adakah manusia yang berumah tangga dalam keadaan menyelesaikan suatu masalah yang tanpa didasari oleh emosi tiba-tiba meminta cerai atau menjatuhkan talak? Siapa yang mau berbuat begitu?

4. Sampai saat ini isteri saya tetap sependapat dengan para ustadz yang ia tanyakan, tetapi saya bersikukuh untuk tetap bercerai, karena saya tidak menginginkan adanya perzinahan di dalam ke luarga mengingat tanggung jawab yang harus saya pikul kelak sangat berat.

Saya mohon penjelasan dari ustdz atas masalah yang sedang saya hadapi saat ini. Terima kasih,

Wassalamu ‘alaikumWr Wb.

Joy

Joy

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Islam memberikan kepada seorang muslim tiga talaq untuk tiga kali, dengan suatu syarat tiap kali talaq dijatuhkan pada waktu suci, dan tidak disetubuhinya. Kemudian ditinggalkannya isterinya itu sehingga habis iddah. Kalau tampak ada keinginan merujuk sewaktu masih dalan iddah, maka dia boleh merujuknya. Dan seandainya dia tetap tidak merujuknya sehingga habis iddah, dia masih bisa untuk kembali kepada isterinya itu dengan aqad baru lagi. Dan kalau dia tidak lagi berhasrat untuk kembali, maka si perempuan tersebut diperkenankan kawin dengan orang lain.

Kalau si laki-laki tersebut kembali kepada isterinya sesudah talaq satu, tetapi tiba-tiba terjadi suatu peristiwa yang menyebabkan jatuhnya talaq yang kedua, sedang jalan-jalan untuk menjernihkan cuaca sudah tidak lagi berdaya, maka dia boleh menjatuhkan talaqnya yang kedua, dengan syarat seperti yang kami sebutkan di atas; dan dia diperkenankan merujuk tanpa aqad baru (karena masih dalam iddah) atau dengan aqad baru (karena sesudah habis iddah).

Dan kalau dia kembali lagi dan dicerai lagi untuk ketiga kalinya, maka ini merupakan suatu bukti nyata, bahwa perceraian antara keduanya itu harus dikukuhkan, sebab persesuaian antara keduanya sudah tidak mungkin. Oleh karena itu dia tidak boleh kembali lagi, dan si perempuan pun sudah tidak lagi halal buat si laki-laki tersebut, sampai dia kawin dengan orang lain secara syar`i. Bukan sekedar menghalalkan si perempuan untuk suaminya yang pertama tadi.

Dari sini kita tahu, bahwa menjatuhkan talaq tiga dengan satu kali ucapan, berarti menentang Allah dan menyimpang dari tuntunan Islam yang lurus.

Tepatlah apa yang diriwayatkan, bahwa suatu ketika Rasulullah s.a.w. pernah diberitahu tentang seorang laki-laki yang mencerai isterinya tiga talaq sekaligus. Kemudian Rasulullah berdiri dan marah, sambil bersabda:

`Apakah dia mau mempermainkan kitabullah, sedang saya berada di tengah-tengah kamu? Sehingga berdirilah seorang laki-laki lain, kemudian dia berkata: Ya Rasulullah! Apakah tidak saya bunuh saja orang itu!` (Riwayat Nasa`i)

1. Hukum Talak Tiga

Kami belum mengatakan bahwa apa yang terjadi antara anda dan isteri anda adalah talak tiga, karena cerita anda belum terlalu jelas. Bahkan dalam beberapa kasus, para ulama sendiri masih beda pendapat tentang batasan talak tiga.

Namun jumhur ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan talak tiga adalah tiga kali mentalak isteri dengan diselingi jeda waktu. Bukan menjatuhkan talak sekaligus tiga.

Sebagai ilustrasi, bila anda mentalak isteri anda untuk pertama kalinya, maka jatuhlah talak satu. Ada dua kemungkinan saat itu, rujuk sebelum jatuh tempo atau terus cerai. Bila anda rujuk sebelum jatuh tempo, maka hubungan suami isteri terikat kembali begitu saja, tidak harus dengan nikah dari awal. Tapi persediaan talak anda berdua tinggal dua kali lagi.

Kalau anda tidak segera rujuk dengannya, lalu terkena jatuh tempo, yaitu 3 kali masa suci dari haidh isteri anda, maka segera seusai jatuh tempo itu, anda berdua sudah bukan suami isteri yang sah. Namun masih dimungkin untuk menikah ulang lagi, dengan catatan persediaan talak di antara anda berdua sudah berkurang satu dari tiga yang ada, jadi sekarang tersisa tinggal dua.

Kedua cara di atas masih dalam batas area talak satu. Lalu bagaimana dengan talak dua?

Talak dua baru terjadi setelah anda rujuk, baik sebelum jatuh tempo atau pun sesudahnya, lalu perceraian terjadi lagi. Maka sisa talak yang anda miliki berkurang satu lagi, setelah sebelumnya sudah berkurang satu. Jadi sisa jatah talak untuk anda berdua saat ini tinggal satu. Tetapi anda berdua tetap masih bisa rujuk lagi, baik secara langsung sebelum jatuh tempo atau pun secara tidak langsung, yaitu setelah jatuh tempo dengan nikah yang baru.

Apabila setelah rujuk yang kedua kalinya itu, ternyata terjadi lagi perceraian, di mana anda menjatuhkan talak untuk yang ketiga kalinya dalam sejarah hubungan suami isteri antara anda berdua, saat itulah anda melakukan talak tiga.

Jadi talak tiga adalah talak untuk yang ketiga kalinya, setelah diselingi dengan dua kali rujuk, langsung atau dengan jeda.

***

Nah, membaca sekilas cerita anda, kami belum mendapat informasi yang pasti tentang status talak anda. Apakah termasuk talak satu atau sudah talak tiga.

Tetapi di luar kasus anda, seandainya ada kasus cerai dengan status talak tiga, maka hukumnya adalah talak yang tidak bisa kembali lagi selamanya. Dalam istilah fiqih dikenal dengan sebutan talak ba’in. Lawannya adalah talak raj’i.

Talak ba’in mengakibatkan keharaman untuk rujuk selama-lamanya antara pasangan suami isteri. Dengan sebuah pengecualian yang teramat mustahil, meski masih ada celah kecil kemungkinan. Yaitu dengan cara mantan isteri menikah dengan laki-laki lain, dengan niat untuk membentuk rumah tangga selama-lamanya. Kalau niatnya hanya sekedar untuk menyeling (muhallil), maksudnya setelah nikah akan segera cerai untuk kembali lagi kepada suami pertama, maka hukumnya haram.

2. Talak Dalam Keadaan Marah

Memang benar bahwa talak dalam keadaan marah tidak sah. Tetapi yang menjadi pertanyaan, kapankah ada talak yang dijatuhkan tanpa kemarahan?

Boleh dibilang, nyaris hampir semua kasus penjatuhan talak dilakukan dalam suasana emosi, marah, tidak terkontrol dan seterusnya. Jarang sekali kita temukan kasus terjadinya talak dilakukan dengan riang gembira antara kedua belah pihak.

Maka tidak semua marah dan emosi itu membatalkan talak. Hanya jenis marah tertentu saja yang membuat talak yang dijatuhkan tidak berlaku.

Memang ada hadits yang menyebutkan tidak bahwa lafaz itu tidak bisa menjatuhkan thalaq.

“Dari Asiyah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, Tidak syah talak dan memerdekakan budak dalam keadaan marah”. (HR Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, Hakim).

Hadits ini meski dikeritik sebagian orang bahwa di dalamnya ada rawi yang tidak kuat, namun umumnya para muhaddits menshahihkannya. Dan hadits ini menurut hakim termasuk hadits shahih menurut syarat Muslim.

Imam Al-Bukhari telah menuliskan dalam kitab shahihnya sebuah bab yang berjudul: “Bab Talak Pada Waktu Ighlak (marah), terpaksa, mabuk dan gila”. Lalu beliau membedakan antara talak pada waktu ighlak (marah) dengan bentuk-bentuk lainnya.

Imam Ibnu Taymiyah dan Ibnul Qayyim cenderung menjadikan tolok ukur jatuh tidaknya talak dari sengaja atau tidaknya. Siapa yang tidak bertujuan atau tidak berniat untuk mentalak serta tidak mengerti apa yang diucapkannya, maka dia dalam kondisi ighlaq (marah), yang berarti talaknya tidak jatuh.

Para ulama membedakan marah itu menjadi tiga macam:

  • Marah yang menghilangkan akal hingga batas seseorang tidak ingat lagi apa yang diucapkannya. Dalam kasus seperti ini maka bila dia melafazkan kata talak kepada isterinya, tidak jatuh talaknya.
  • Marah yangseseorang masih bisamengetahui apa yang diucapkannya. Dalam kasus ini maka bila dia melafazkan talak, jatuhlah talak itu.
  • Marah yang ada di antara keduanya yaitu antara sebagian akalnya hilang dan sebagian masih ada. Sehingga begitu marahnya mereda, bisa jadi dia merasa menyesal atas apa yang tadi dilakukan. Marah yang jenis ini adalah menjadi bahan perbedaan pendapat di antara para ulama. Syeikh As-Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah cenderung mengatakan bahwa bila dia melafazkan talak maka talaknya tidak jatuh.

3. Pandangan Kami tentang Perceraian Anda

Sebenarnya masalah urusan rumah tangga anda adalah urusan anda pribadi. Selama masih bisa diselesaikan secara internal, silahkan lakukan. Sebisa mungkin jangan libatkan orang lain.

Tapi karena anda secara khusus meminta pandangan dari kami, sekedar jadi bahan renungan, tidak ada salahnya anda merenungkannya sejenak. Siapa tahu dengan sedikit berpikir dan merenung, anda punya pertimbangan baru. Toh, jadi atau tidaknya perceraian anda, semua terletak di tangan anda sendiri. Dan tentu saja, semua resikonya juga tanggungan anda.

Pertengkaran Adalah Hal Yang Lumrah Terjadi
Setiap pasangan suami isteri di dunia ini pastilah mengalami pertengkaran atau konflik. Bahkan meski rumah tangga seorang nabi sekalipun. Kalau penyebabnya bukan dari pihak suami, mungkin saja dari pihak isteri. Atau mungkin juga datang dari pihak luar.

Selain perbedaan pendapat, mungkin saja pertengkaran disebabkan karena kekhilafan yang sangat manusiawi. Jalan ke luar dari khilaf apabila dilakukan oleh seorang isteri bukan talak, paling tidak, talak itu bukan alternatif yang harus dipilih pertama kali. Talak harus ditempatkan pada posisi paling akhir dalam setiap alternatif jalan ke luar dari setiap persengketaan rumah tangga.

Sebelum wacana tentang talak boleh digelar, ada kewajiban untuk melewati tahap-tahap sebelumnya, seperti nasehat, hukuman baik dalam bentuk pisah ranjang atau pun pukulan yang tidak menyakitkan. Termasuk meminta bantuan pihak ketiga untuk ikut menyelesaikan konflik antara keduanya. Bila semua alternatif tadi kandas karena masalahnya memang sulit dipecahkan, barulah boleh digelar wacana terakhir yang berfungsi sebagai katup penyelamat, yaitu talak.

a. Nasehat
Dan kalau seorang suami menjumpai isterinya ada tanda-tanda nusyuz (durhaka) dan menentangnya; maka dia harus berusaha mengadakan islah dengan sekuat tenaga, diawali dengan kata-kata yang baik, nasehat yang mengesan dan bimbingan yang bijaksana.

b.Pisah Ranjang
Kalau cara ini tidak lagi berguna, maka boleh dia tinggalkan dalam tempat tidur sebagai suatu usaha agar insting kewanitaannya itu dapat diajak berbicara. Kiranya dengan demikian dia akan radar dan kejernihan akan kembali.

c. Pukulan
Kalau ini dan itu tidak lagi berguna, maka dicoba untuk disadarkan dengan tangan, tetapi harus dijauhi pukulan yang berbahaya dan muka. Ini suatu obat mujarrab untuk sementara perempuan dalam beberapa hal pada saat-saat tertentu.

Maksud memukul di sini tidak berarti harus dengan cambuk atau kayu, tetapi apa yang dimaksud memukul di sini ialah salah satu macam dari apa yang dikatakan Nabi kepada seorang khadamnya yang tidak menyenangkan pekerjaannya. Nabi mengatakan sebagai berikut:

`Andaikata tidak ada qishash (pembalasan) kelak di hari kiamat, niscaya akan kusakiti kamu dengan kayu ini.` (Riwayat Ibnu Saad dalam Thabaqat)

Tetapi Nabi sendiri tidak menyukai laki-laki yang suka memukul isterinya. Beliau bersabda sebagai berikut:

`Mengapa salah seorang di antara kamu suka memukul isterinya seperti memukul seorang hamba, padahal barangkali dia akan menyetubuhinya di hari lain?!` (Riwayat Anmad, dan dalam Bukhari ada yang mirip dengan itu)

Terhadap orang yang suka memukul isterinya ini, Rasulullah s.a.w. mengatakan:

`Kamu tidak jumpai mereka itu sebagai orang yang baik di antara kamu.` (Hadis ini dalam Fathul Bari dihubungkan kepada Ahmad, Abu Daud dan Nasa`i dan disahkan oleh Ibnu Hibban dan Hakim dari jalan Ayyas bin Abdillah bin Abi Dzubab).

Ibnu Hajar berkata: `Dalam sabda Nabi yang mengatakan: orang-orang baik di antara kamu tidak akan memukul ini menunjukkan, bahwa secara garis besar memukul itu dibenarkan, dengan motif demi mendidik jika suami melihat ada sesuatu yang tidak disukai yang seharusnya isteri harus taat. Tetapi jika dirasa cukup dengan ancaman adalah lebih baik.

Apapun yang mungkin dapat sampai kepada tujuan yang cukup dengan angan-angan, tidak boleh beralih kepada suatu perbuatan. Sebab terjadinya suatu tindakan, bisa menyebabkan kebencian yang justru bertentangan dengan prinsip bergaul yang baik yang selaiu dituntut dalam kehidupan berumahtangga. Kecuali dalam hal yang bersangkutan dengan kemaksiatan kepada Allah.

Imam Nasa`i meriwayatkan dalam bab ini dari Aisyah r.a` sebagai berikut:

`Rasulullah s.aw. tidak pernah memukul isteri maupun khadamnya samasekali; dan beliau samasekali tidak pernah memukul dengan tangannya sendiri, melainkan dalam peperangan (sabilillah) atau karena larangan-larangan Allah dilanggar, maka beliau menghukum karena Allah.`

d. Libatkan Pihak Ketiga (hakim)

Kalau semua ini tidak lagi berguna dan sangat dikawatirkan akan meluasnya persengketaan antara suami-isteri, maka waktu itu masyarakat Islam dan para cerdik-pandai harus ikut campur untuk mengislahkan, yaitu dengan mengutus seorang hakim dari ke luarga laki-laki dan seorang hakim dari ke luarga perempuan yang baik dan mempunyai kemampuan. Diharapkan dengan niat yang baik demi meluruskan ketidak teraturan dan memperbaiki yang rusak itu, semoga Allah memberikan taufik kepada kedua suami-isteri.

Perihal ini semua, Allah s.w.t. telah berfirman dalam al-Quran sebagai berikut:

`Dan perempuan-perempuan yang kamu kawatirkan kedurhakaannya, maka nasehatlah mereka itu, dan tinggalkanlah di tempat tidur, dan pukullah. Apabila mereka sudah taat kepadamu, maka jangan kamu cari-cari jalan untuk menceraikan mereka, karena sesungguhnya Allah Maha Tinggi dan Maha Besar. Dan jika kamu merasa kawatir akan terjadinya percekcokan antara mereka berdua, maka utuslah hakim dari ke luarga laki-laki dan seorang hakim lagi dari ke luarga perempuan. Apabila mereka berdua menghendaki islah, maka Allah akan memberi taufik antara keduanya; sesungguhnya Allah Maha Tinggi dan Maha Mengetahui.` (an-Nisa`: 34-35)

e. Perceraian Adalah Pilihan Terakhir

Di sini, yakni sesudah tidak mampunyai lagi seluruh usaha dan cara, maka di saat itu seorang suami diperkenankan memasuki jalan terakhir yang dibenarkan oleh Islam, sebagai satu usaha memenuhi panggilan kenyataan dan menyambut panggilan darurat serta jalan untuk memecahkan problema yang tidak dapat diatasi kecuali dengan berpisah. Cara ini disebut thalaq.

Islam, sekalipun memperkenankan memasuki cara ini, tetapi membencinya, tidak menyunnatkan dan tidak menganggap satu hal yang baik. Bahkan Nabi sendiri mengatakan:

`Perbuatan halal yang teramat dibenci Allah, ialah talaq.` (Riwayat Abu Daud)

`Tidak ada sesuatu yang Allah halalkan, tetapi Ia sangat membencinya, melainkan talaq.` (Riwayat Abu Daud)

Perkataan halal tapi dibenci oleh Allah memberikan suatu pengertian, bahwa talaq itu suatu rukhshah yang diadakan semata-mata karena darurat, yaitu ketika memburuknya pergaulan dan menghajatkan perpisahan antara suami-isteri. Tetapi dengan suatu syarat: kedua belah pihak harus mematuhi ketentuan-ketentuan Allah dan hukum-hukum perkawinan.

Dalam satu pepatah dikatakan: `kalau tidak ada kecocokan, ya perpisahan.` Tetapi firman Allah mengatakan:

`Dan jika (terpaksa) kedua suami-isteri itu berpisah, maka Allah akan memberi kekayaan kepada masing-masing pihak dari anugerah-Nya.` (QS. An-Nisa`: 130)

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

Allahu Akbar

dengan Sepeda Ia Pergi ke Tanah Suci

Rabu, 31 Jan 07 13:25 WIB
“Mahmud…Pergilah, tunaikan haji” ucap seorang ibu. Mahmud, sang anak, bertanya, “bagaimana caranya bu?” Ibunya menjawab, “Kamu punya sepeda. Allah akan menyertaimu…”

Itulah cuplikan dialog singkat yang melatarbelakangi seorang warga Chechnya bernama Dozaner Mahmud Ali (63) pergi ke tanah suci dengan sepeda.

Dialog ini terjadi di dalam mimpi, tapi inilah awal kisah Mahmud menempuh jarak 12 ribu km, dan melewati tak kurang 13 negara hingga akhirnya sampai ke Makkah.

Mahmud yang sudah berumur itu tampaknya tidak peduli dengan panjangnya jarak dan sarana transportasi yang ia miliki, asal sampai ke tanah suci. Cita-citanya hanya satu, mewujudkan mimpinya untuk bisa melihat langsung Ka’bah dan menunaikan rukun Islam yang kelima, berhaji ke Baitullah.

Mahmud tinggal di perkampungan Arus Martn, yang berdekatan dengan ibukota Chechnya, Grozni. Ia membanggakan perjalanan yang ia lakukan sejak 8 November 2006 dan memakan waktu 10 minggu. Ia menuangkan kisah perjalanannya pada sebuah harian Yordania, yang akan ia sampaikan juga kepada para penduduk dan tamu-tamu yang datang ke negaranya.

Menurut Mahmud kepada Kantor Berita Prancis (29/1), persiapan yang ia lakukan adalah dengan bersepeda ke sejumlah kota di Chechnya untuk mengetest jarak jauh yang akan ia tempuh nantinya. Ia juga melakukan reparasi sepedanya sendiri dengan peralatan yang ia bawa. Tidak lupa pula, ia membawa sejumlah serep ban sepeda sebanyak 6 buah dan membeli peta rinci tentang negara-negara yang akan ia lewati.

Mahmud menyebut sepedanya dengan istilah “kuda besi”. Kendaraan itulah yang kemudian membawa Mahmud sampai ke Baitullah. Tentu saja, Mahmud memerlukan visa untuk bisa masuk ke Saudi. Untuk itu ia mendirikan kemah di depan Kantor Kedutaan Besar Saudi di negaranya untuk mengurus visa. Ia mengaku sempat ditolak oleh pengurus visa di Saudi.

“Tapi para karyawan konsulat terkejut dengan apa yang saya ceritakan, mereka mengira apa yang saya lakukan itu mustahil karena saya akan pergi ke Saudi dengan bersepeda, ” ujar Mahmud.

Tidak tanggung-tanggung keseriusan Mahmud untuk tetap berangkat ke tanah suci. Setelah 18 hari ia berkemah di depan kedutaan, akhirnya pihak konsulat Saudi mengizinkannya memiliki visa.

Dipukul Tentara AS di Irak

Singkat cerita, Mahmud akhirnya sampai ke sisi selatan Iran dan memasuki Irak. Di negeri seribu satu malam ini, Mahmud mendapat kesulitan dan ancaman berbahaya. Ia berulangkali mendapat cercaan dan pukulan dari tentara AS. “Aku tidak bisa memperoleh visa untuk masuk Irak. Itulah yang menyebabkan aku ditolak oleh pasukan AS, dengan pukulan dan merusak sepedaku yang kemudian mereka buang di jalanan. Mereka menyebutku dengan istilah “babi Rusia”.

Mahmud terus berupaya menyampaikan bahwa dirinya bukanlah orang Rusia tapi seorang Muslim. “Tentara AS itu lalu mengambil paksa paspor saya dan menggambar tanda salib di sampulnya, ” ujar Mahmud. Karena merasa tak mungkin masuk Irak, Mahmud kembali ke Iran dan mencoba mencari jalan lain melewati Georgia, melewati Armenia dan menuju Turki, Suriah lalu Yordania.

Akhirnya, ia pun menginjakkan kaki di Saudi Arabia untuk menunaikan haji. Mahmud bersyukur pada Allah atas pertolongan-Nya dalam perjalanan. Mahmud telah menempuh jarak 12 ribu kilometer, dari jarak yang seharusnya bisa ditempuh dengan 5 ribu kilometer. Di tanah suci, ia melepaskan keharuan dan kerinduannya kepada Baitullah.

“Aku sungguh-sungguh memohon ampunan kepada Allah swt untuk ibuku, ke luargaku dan meminta kemerdekaan untuk Chechnya…. ”

Kepada orang-orang yang mendatanginya, Mahmud bercerita bahwa keinginan kuatnya untuk pergi naik haji dengan bersepeda adalah karena mimpinya bertemu sang ibu yang memintanya untuk naik haji. Kini, Mahmud telah kembali ke Chechnya dan menghias sepeda bersejarahnya dengan moto pejuang Chechnya untuk merdeka dari Rusia. Allahu Akbar. (na-str/iol) eramuslim.com

Read Full Post »