Feeds:
Posts
Comments

Archive for January 26th, 2007

Fiqih Musyawarah dan Voting Dalam Islam

Jumat, 26 Jan 07 10:36 WIB
Assalamualaikum Ustadz,

  1. Mohon penjelasan bagaimana fiqih musyawarah sesuai dengan Al-quran, hadits dan yang dicontohkan oleh Rasul dan para sahabat?
  2. Bagaimana voting dalam perspektif Islam? Voting seperti bagaimanayang diperbolehkan dan dilarang?

Wassalamualaikum

Rizza

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dalam masalah muswarah dan voting, kita bisa membaginya menjadi dua wilayah. Pertama, musyawarah yang bersifat internal dengan sesama muslim. Kedua, musyawarah ekternal antara umat Islam dengan non muslim, atau dengan sesama muslim tapi yang kurang mendukung penerapan syariah Islam.

Kalau musyawarah dengan sesama muslim yang shalil, hal yang dibicarakan selalu berada di dalam koridor aqidah dan syariah Islam. Hasilnya tidak akan ke luar dari yang telah dihalalkan Allah SWT. Siapapun yang menang, insya Allah hasilnya tidak akan melanggar agama.

Namun kalau musyawarah dengan non muslim, maka wilayahnya adalah untung rugi buat kaum muslimin. Sebenarnya tetap tidak akan ada yang berubah dari hukum Allah, sebab diterima atau tidak, hukum dan syariah Allah tetap ada dan abadi.

Yang jadi masalah tinggal negoisasi penerapannya dengan sesama penduduk yang non muslim. Misalnya, dalam kebolehan mengenakan pakaian yang menutup aurat. Di suatu negeri memang dilarang, karena yang berkuasakebetulan non muslim yang secara sengaja ingin menghalangi umat Islam menjalankan ibadahnya.

Maka tugas umat Islam adalah bernegosiasi sedemikian rupa, agar hak-hak mereka sebagai muslim bisa didapatkan. Tentu saja berbagai bentuk nego itu perlu dilakukan, dengan mendahulukan prinsip perdamaian. Bukan langsung lewat pedang.

Seandainya mekanisme pengambilan keputusan harus lewat voting, karena dianggap itulah jalan tengah dalam negosiasi, tentu saja perlu dijajaki dulu. Mungkin lewat voting bisa diupayakan. Maka para pemimpin muslim di negeri itu bertugas untuk melobi para wakil rakyat atau mereka yang ikut punya suara dalam voting. Targetnya sederhana saja, yaitu agar umat Islam boleh menjalankan agamanya dengan bebas.

Nah, dalam kasus seperti ini, voting adalah bagian dari upaya menegakkan syariah. Walau pun bukan satu-satunya cara. Dan jangan dikatakan bahwa dengan cara ini, hukum Islam diserahkan kepada voting. Sekali-kali tidak!

Yang ingin diambil manfaat dari voting ini adalah negosiasi dengan pihak luar, agar bisa mendapatkan angin kebebasan. Bukan mau bernegosiasi dengan Allahdalam menjalankan agama dengan cara separuh-separuh. Soal wajibnya pakai jilbab, kita yakin 100% wajib. Adapun kita melakukan nego dengan cara voting adalah upaya memperjuangkannya agar bisa berjalan dengan lancar.

Praktek Voting di Zaman Nabi

Banya sekali bentuk praktek voting di zaman nabi SAW, yang intinya memang menggunakan jumlah suara sebagai penentu dalam pengambilan keputusan.

Misalnya, ketika musyawarah menentukan sikap dalam menghadapi perang Uhud. Sebagian kecil shahabat punya pendapat sebaiknya bertahan di Madinah, namun kebanyakan shahabat, terutama yang muda-muda dan belum sempat ikut dalam perang Badar sebelumnya, cenderung ingin menyingsong lawan di medan terbuka.

Maka Rasulullah SAW pun ikut pendapat mayoritas, meski beliau sendiri tidak termasuk yang mendukungnya.

Sebelumnya dalam perang Badar, juga Rasulullah SAW memutuskan untuk mengambil suara terbanyak, tentang masalah tawanan perang. Umumnya pendapat menginginkan tawanan perang, bukan membunuhnya. Hanya Umar bin Al-Khattab saja berpendapat bahwa tidak layak umat Islam minta tebusan tawanan, sementara perang masih berlangsung.

Walaupun kemudian turun ayat yang mengoreksi ijtihad nabi SAW dan membenarkan pendapat Umar ra, namun peristiwa ini menggambarkan bahwa ada proses voting dalam pengambilan keputusan dalam sejarah nabi SAW.

Maka bukan pada tempatnya buat kita untuk menyatakan bahwa sistem voting itu bertentangan dengan ajaran Islam. Meski orang-orang kafir menggunakan sistem voting juga, namun tidak berarti kita meniru cara mereka. Buktinya, Rasulullah SAW sendiri pernah menjalakannya.

Kapan Voting Digunakan?

Voting memang bukan jalan satu-satunya dalam musyawarah. Boleh dibilang voting itu hanya jalan ke luar terakhir dari sebuah deadlock musyawarah.

Sebelum voting diambil, seharusnya ada brainstorming, atau bahasa kerennya ibda’ur-ra’yi. Dari sana akan dibahas dan diperhitungkan secara eksak faktor keuntungan dan kerugiannya. Tentu dengan mengaitkan dengan semua faktor yang ada.

Kalau voting itu bersifat internal umat Islam, maka haram hukumnya bila voting mengarah kepada sesuatu yang tidak dibenarkan Allah SWT. Sedangkan bila voting dengan melibatkan non muslim atau musuh Islam, maka yang terjadi bukan menjual ayat Allah, melainkan bagian dari memperjuangkan agama Allah SWT agar bisa ditegakkan. Bila belum bisa 100%, maka minimal 50%. Dan begitu seterusnya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Advertisements

Read Full Post »

Mengintip Surga Lewat Seks

Pakar Hypnosis :

Banjarmasin (ANTARA News) – Pakar hypnosis, Anisah Kortschak M.Psi. MCht, berpendapat bahwa hubungan seks suami istri yang dilakukan dengan harmonis hingga orgasme merupakan kesempatan yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk mengintip
surga.

Pendapat tersebut disampaikan Anisah, dalam seminar sehari tentang hypnoseks, Sabtu, di Hotel Victoria, Banjarmasin.

Menurut psikolog asal Jakarta itu, orgasme yang dilakukan melalui hubungan suami istri yang aman dan nyaman merupakan kesempatan bagi manusia untuk mengintip indahnya surga.

Artinya, kegiatan seksual yang dilakukan oleh suami istri itu adalah salah satu ibadah, bila dilakukan dengan benar akan mendapatkan pahala yang berlimpah.

Sayangnya tambah Anisah keindahan itu diberikan dalam waktu yang cukup singkat, tidak lebih dari lima menit, sehingga manusia menjadi ketagihan untuk kembali mengintip “surga” tersebut.

Agar kegiatan yang indah itu tidak menjadi kegiatan yang rutinitas dan membosankan, pasangan suami istri harus sama-sama memiliki kemampuan untuk menghypnotis pasangan masing-masing.

Sebagaimana layaknya orang akan menghadap Tuhan, baik itu shalat ke masjid, ke gereja maupun ke tempat peribadatan lainnya, yang harus dalam kondisi bersih dan wangi, hubungan seks suami istripun harus demikian juga.

Di antaranya, dengan selalu menjaga hubungan suami istri tetap harmonis aman dan nyaman, bagi masing-masing pasangan.

Selalu ada aroma terapi dalam setiap kesempatan bersama pasangan, kamar tidur dan penampilan diri yang selalu rapi dan bersih adalah salah satu cara untuk selalu menghipnotis pasangan dan menjaga kenyamanan hubungan itu.

Selain berdoa dan berusaha, katanya, kunci sukses seseorang juga berasal dari kesuksesan saat berhubungan suami istri.

Menurutnya, hubungan suami istri yang aman dan nyaman, mampu mendorong kreatifitas seseorang sesuai dengan minat dan bakatnya.

Karena pada saat suami istri berhubungan seks, di situ tidak ada lagi laki-laki dan perempuan, keduanya bersatu dalam kekuatan energi yang luar biasa.

Energi yang dihasilkan dari hubungan tersebut, tambahnya, secara otomatis akan tersalurkan menjadi energy positif yang memacu kerja otak dan kreatifitas.

“Di saat pasangan sedang dalam kondisi saling merayu, masing-masing bisa saling menghipnotis dengan membisikkan kata-kata lembut ke alam bawah sadarnya, yang akhirnya bisa membawa hubungan ke hal yang lebih baik,” katanya.

Menurutnya, bila pasangan telah mampu menyentuh alam bawah sadar satu dengan lainnya, tambahnya, jangan sekali-kali membisikkan kata negatif, misalnya kata “jangan” dan “tidak”.

Dicontohkannya pada saat seseorang sedang terhipnotis atau alam bawah sadarnya sedang bekerja, dibisikkan kata “jangan pukul saya”, yang terjadi justru kita akan dipukul, karena alam bawah sadar menolak kata “jangan”.

Contoh lainnya, tambah Anis, saat pasangan kita membaca dengan konsentrasi yang tinggi, maka kita bisikkan kata, “bila aku panggil namamu, kamu bahagia”.

Pada saat dia selesai dari konsentrasinya, kemudian kita panggil namanya, secara otomatis dia akan tampak berseri bahagia, karena alam bawah sadarnya yang bekerja.

“Pada dasarnya hypnotis adalah permainan logika, semuanya adalah ilmiah, mengingat 80 persen lebih dari alam pikiran manusia adalah dibawah sadar,” katanya.

Alam bawah sadar bila dioptimalkan akan berdampak positif bagi kelangsungan hidup manusia, karana alam bawah sadar menolak hal-hal yang negatif. (*)

Copyright © 2006 ANTARA

21 Januari 2007 8:34

Read Full Post »

Jumat 07 Muharam 1428

Point renungan yang dapat dipetik dari khotbah jumat hari ini :

3 hal yang dapat menyelematkan

1. Hijrah

Perjalanan yang amat berat Mekah-Medinah = 450 Km ( dataran tandus nan gersang )  hanya untuk menyelamatkan sebuah keyakinan yaitu Islam.

Kini kita tidak dapat melakukan secara phisik lagi tetapi banyak ruang/ladang yang dapat kita lakukan semacamnya, dan tentunya juga tidak kalah beratnya.

Kalau dulu….shalatnya bolong-bolong kini tidak lagi.

Kalau dulu tidak pernah belajar agama kini jadi rajin.

Kalau dulu suka yang berbau “pornoaksi” kini sudah ditinggalkan……..dst

2. Jihad

Perang Badar, Uhud pertama kalinya pecah perang…..setelah Islam telah sempurna dan diridho Allah….untuk ditegakkan.

Kali ini juga banyak ladang amalan yang tentunya juga tidak kalah nilainya

Seorang bapak bekerja berangkat pagi-pulang malam, seorang Ibu yang dengan sabar membina anak dan mendidiknya dst…..

3. Haji

Amalan ini kita semua insya Allah akan dapat melakukan secara phisik menyambut…..

PangilanMu Ya Allah.. Allahumma Labaik….

Jadilah Haji yang Mambrur, dengan persyarat 3 hal : Ilmu, Ikhlas, Istikomah

Nilainya …?

Jika seorang Hafidh (Hafal Qur’an) dapat menarik 10 orang di Neraka, Haji Mabrur dapat menarik 400 ……

Wallahu a’lam bishshawab.

Read Full Post »

Benarkah Mendoakan Orang Mati

Tidak Menghasilkan Apa-Apa?

Kamis, 25 Jan 07 06:33 WIB

Assalamu’alikum Wr wb.

Bapak Ustad yang saya hormati semoga diberkahi Allah SWT.

Setelah saya membeli beberapa buku agama dengan pengarang satu sama lain yang berbeda, di sana ada titik temu setelah saya membacanya, dalam hati saya terdetak “bahwa apa yang telah saya baca sungguh tidak diterima dan susah bila dikerjakan dan sangat menyalahi dan bertentangan bila nantinya saya terapkan di masyarakat.

Contohnya ketika kita mendoakan untuk orang yang telah meninggalkan kita (wafat), dengan niat agar pahalanya sampai kepadanya. Dalam buku yang berjudul “Tanbihat ‘ala Qiraatil Qur’an Lil-amwat” di sana menjelaskan, bahwa pengarangnya cenderung mengatakan bahwa perbuatan itu tidak akan menghasilkan apa-apa alias nihil. Namun, hati saya tetap menolak bahwa hal itu tidak mungkin!!

Mohon keterangan dari pak Ustad. Jazakallahu Khair

Ibnu Bukhari

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Setiap buku yang kita baca mewakili pemikiran dan pendapat penulisnya. Termasuk buku-buku agama sekali pun. Sehingga jangan bingung kalau ada beberapa buku tentang hal yang sama namun isinya bertentangan.

Bahkan bukan hanya sesama buku, kemungkinan pertentangan itu juga mungkin terjadi dengan apa yang selama ini kita anggap sebagai pendapat kita. Itu adalah resiko kita membaca buku, yaitu kita akan berkenalan dengan banyak pemikiran lain yang belum tentu sesuai dengan pemikiran kita.

Misalnya tentang masalah yang anda tanyakan, apakah doa yang kita bacakan itu punya manfaat buat orang yang sudah wafat. Banyak buku yang terbit menolak kemungkinan hal itu. Tentu dilengkapi dengan berbagai macam dalilnya. Beberapa buku bahkan mengatakan bahwa mendoakan orang mati sebagai bid’ah yang sesat.

Barangkali anda termasuk orang yang punya pendapat bahwa mendoakan orang yang sudah wafat itu berguna dan bermanfaat untuk kita yang membacanya serta berguna untuk yang didoakan. Begitu membaca buku yang menolak hal itu, maka muncul tanda tanya besar dalam diri anda. Paling tidak anda akan merasa bingung.

Ragam Buku Fiqih

Khusus dalam masalah buku agama dan khususnya masalah fiqih yang memang banyak variasi pendapat di dalamnya, ada duajenis buku.

Pertama, ada buku yang hanya memuat satu pendapat saja, atau satu mazhab saja. Kedua, ada buku yang memuat banyak pendapat dari beberapa mazhab, sambil menguraikan detail dari argumentasinya.

Buku jenis pertama membuat seseorang jadi punya satu pegangan dalam menjalankan agama. Karena hanya satu pendapat yang disampaikan, maka dengan mudah bisa dijalankan dan diikuti.

Buat orang awam dan pemula serta tidak terlalu banyak mengkritisi pendapat orang lain, buku seperti ini sangat baik. Karena biasanya tampil praktis, simple dan mudah. Bahkan dalam dalam banyak hal, bisa sangat cocok untuk pelajaran di sekolah dasar dan menengah yang bersifat homogen.

Buku jenis kedua adalah buku fiqih yang merangkum sekian banyak pendapat dari beragam mazhab. Buku seperti tidak memihak kepada salah satu mazhab, namun memberikan data dan materi yang dipegang oleh beberapa mazhab. Kira-kira semacam ensiklopedi khusus di bidang pendapat mazhab-mazhab fiqih dan petanya.

Buku seperti ini sangat dibutuhkan terutama oleh mereka yang hidup di tengah masyarakat yang heterogen, seperti di Jakarta. Di dalam kota Jakarta ada beragam mazhab fiqih, namun hidup di bawah satu atap masjid yang sama.

Buku ini menjelaskan landasan hujjah masing-masing pendapat, sekaligus memberikan wawasan bahwa setiap orang berhak punya pendapat dan orang lain wajib menghargai pendapatnya.

Bukan berarti penulis buku seperti tidak boleh punya pendapat sendiri. Namun ketika menyampaikan pendapatnya, penulis tidak dengan serta merta ‘menghabisi’ pendapat yang tidak sesuai dengan pendapatnya.

Masalah Doa dan Pahala Bacaan Quranuntuk Orang Mati

Sebagian ulama memang menyatakan tegas bahwa tidak ada doa atau bacaan Al-Quran yang bisa dikirimkan kepada orang yang telah wafat.

Namun di sini kami akan kami sebutkan juga beberapa dalil dari kalangan yang sebaliknya, yaitu yang mengatakan bahwa doa dan bacaan Al-Quran bisa membawa manfaat bagi orang yang sudah meninggal. Dalil-dalil itu antara lain:

Dari Ma’qil bin Yasar ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bacakanlah surat Yaasiin atas orang yang meninggal di antara kalian. (HR Abu Daud, An-Nasaa’i dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Dalil lainnya adalah hadits berikut ini:

Jantungnya Al-Quran adalah surat Yaasiin. Tidak seorang yang mencintai Allah dan negeri akhirat membacanya kecuali dosa-dosanya diampuni. Bacakanlah (Yaasiin) atas orang-orang mati di antara kalian.” (ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

Hadits ini dicacat oleh Ad-Daruquthuny dan Ibnul Qathan, namun Ibnu Hibban dan Al-Hakim menshahihkannya.

Hadits lainnya lagi adalah hadits berikut ini:

Dari Abi Ad-Darda’ dan Abi Dzar ra berkata, “Tidaklah seseorang mati lalu dibacakan atasnya surat Yaasiin, kecuali Allah ringankan siksa untuknya.” (HR Ad-Dailami dengan sanad yang dhaif sekali)

Adalah Ibnu Umar ra gemar membacakan bagian awal dan akhir surat Al-Baqarah di atas kubur sesuah mayat dikuburkan. (HR Al-Baihaqi dengan sanad yang hasan).

Mereka yang menolak terkirimnya pahala bacaan untuk orang meniggal berargumen bahwa semua hadits tentang perintah Rasulullah SAW untuk membacakan Al-Quran atas orang meninggal itu harus dipahami bukan kepada orang meninggal, melainkan kepada orang yang hampir meninggal. Jadi menjelang kematiannya, bukan pasca kematiannya atau setelah dikuburkannya.

Namun argumentasi mereka dibantah oleh As-Syaukani, penyusun kitab Nailul Authar. Beliau mengatakan bahwa lafadz yang ada di dalam hadits itu jelas-jelas menyebutkan kepada orang yang meninggal. Kalau ditafsirkan kepada orang yang belum mati, mereka harus datang dengan qarinah. (Lihat Nailur Authar jilid 4 halaman 52)

Sedangkan Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menuliskan dalam kitab Riyadhush-Shalihin dalam judul: Doa untuk mayyit setelah dikuburkan dan berdiri di kuburnya sesaat untuk mendoakannya dan memintakan ampunan untuknya serta membacakan Al-Quran, menyebutkan bahwa Al-Imam As-syafi’i rahimahullah berkata, “Sangat disukai untuk dibacakan atasnya Al-Quran. Kalau sampai bisa khatam, tentu sangat baik.

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny halaman 758 menuliskan bahwa disunnahkan untuk membaca Al-Quran di kubur dan dihibahkan pahalanya.

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad pernah mengatakan bahwa hal itu bid’ah, namun kemudian beliau mengoreksi kembali pernyataannya.

Imam Abu Hanifah dan Imam Malik rahimahumallah berpendapat bahwa membacakan Al-Quran buat orang yang sudah wafat itu tidak ada dalam sunnah. Namun Al-Qarafi dari ulama kalangan mazhab Al-Malikiyah mengatakan yang berbeda dengan imam mazhabnya.

Jadi intinya, masalah ini memang khilaf di kalangan ulama. Sebagian mengakui sampainya pahala bacaan Al-Quran untuk orang yang telah meninggal, sedangkan sebagian lainnya tidak menerima hal itu. Dan perbedaan pendapat ini adalah hal yang amat wajar. Tidak perlu dijadikan bahan permusuhan, apalagi untuk saling menjelekkan satu dengan lainnya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

Bisakah Mengaji

Lewat MP3 Player?

Asslamu’alaikum,
Pak Ustadz yang saya hormati, saya ada beberapa pertanyaan.

Saya seorang pekerja yang sibuk dan saya sadar saya harus memiliki ilmu agama makanya saya memiliki MP3 yang berisi tilawah Al-Qur’an dan saya mengikuti bacaan dari MP3 itu dengan Al-Qur’an yang saya miliki sendiri, bolehkah hal itu saya lakukan?

Saya harapkan jawaban dari pak Ustadz dan atas perhatiaanya saya ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum

Taufiq
pengawal_fajar at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alakum warahmatullahi wabarakatuh,

Belajar membaca Al-Quran memang bisa dibantu lewat fasilitas multimedia, seperti yang anda sebutkan. Ada beberapa keunggulan yang bisa anda petik dari mendengarkan bacaan Al-Quran lewat MP3 itu. Misalnya, pendengaran anda akan lebih terlatih menyimpan memori bacaan Al-Quran yang baik dan benar. Terutama bila qari’-nya memang seorang yang berkualitas dari segi bacaan. Dan tentunya bila dilakukan dengan frekuensi yang cukup tinggi.

Suara bacaan Al-Quran yang baik dan standar itu, bila diterus menerus didengarkan, secara alam bawah sadar akan terekam di dalam memori otak. Rekaman di otak ini penting, sebagai modal buat kita yang mendengarkan untuk bisa menirukannya, dengan bacaan yang sama.

Sebenarnya kalau kita telusuri sejarah, akan kita dapati bahwa pengajaran bacaan Al-Quran lebih awal dengan oral system, ketimbang dengan cara mengeja dari huruf-hurufnya. Dan memang umumnya bangsa Arab di masa lalu buta huruf, namun tetap mampu membaca Al-Quran dalam arti mampu membunyikannya dengan benar. Bukan dengan mengeja huruf-hurufnya. Maka Al-Quran yang terdiri dari 6.000-an ayat lebih itu pun mereka hafal di luar kepala. Meski mereka tidak mampu mengeja hurufnya.

Dan memang yang lebih penting dari Al-Quran itu bukan semata-mata kemampuan kita mengejanya, melainkan mampu membunyikannya dengan benar, sesuai dengan hak masing-masing huruf. Seseorang mampu membaca Al-Quran tanpa mengeja, berarti dia hafal Al-Quran. Dan hal itu tentu lebih utama dari sekedar mampu mengeja hurufnya semata.

Di masa lalu, para ahli Al-Quran itu identik dengan penghafal Al-Quran. Boleh jadi mereka buta huruf, tetapi yang penting mereka mampu membunyikan tiap ayat Al-Quran dengan sempurna.

Namun di masa lalu, oral system ini berhasil lantara ada guru yang berfungsi selain memasukkan memori suara bacaan, juga melakukan evaluasi dan perbaikan-perbaikan secara real time. Seorang murid bukan hanya diminta mendengarkan bacaan guru, tetapi pada saat yang sama, sang guru langsung mengevaluasi bacaan muridnya. Murid diminta untuk membacanya, lalu si guru saat itu juga mengoreksi bila masih ada yang salah. Bahkan dalam hal ini, yang lebih menonjol adalah aktifitas murid. Sebab merekam lebih mudah daripada memainkan atau membunyikan.

Maka fungsi sang guru yang tidak mungkin tergantikan oleh MP3 dan beragam perangkat multi media yang lainnya terletak di sini. Hingga hari ini belum ada program cerdas (artificial inteligent) yang bisa secara interaktif mampu mendengarkan dan mengevaluasi bacaan murid, lalu menegurnya dan membetulkannya saat itu juga.

Jadi memang tidak salah bila anda memanfaatkan MP3 player untuk belajar Al-Quran, tapi ketahuilah bahwa masih ada satu fungsi mendasar yang belum bisa dicover olehnya. Yaitu fungsi untuk mengevaluasi atau membetulkan bacaan si murid. Padahal fungsi ini sangat vital dan tidak mungkin ditinggalkan. apalagi artinya belajar Al-Quran, kalau tidak mampu mengoreksi bacaan yang salah?

Jadi sampai hari ini, rasanya anda masih membutuhkan guru berupa manusia biasa, yang mampu dengan cerdas memeriksa dan mengevaluasi bacaan anda, lalu membetulkan bahkan melakukannya berulang-ulang hingga bacaan anda memenuhi standar baku pembacaan Al-Quran.

Mungkin suatu ketika, bila para ahli programmer komputer sudah mampu membuat program belajar baca Al-Quran yang bersifat interaktif, insya Allah anda bisa memanfaatkannya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alakum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Read Full Post »

Catatan Konferensi

Pendekatan Mazhab Sunni-Syiah di Qatar

Jumat, 26 Jan 07 09:31 WIB
Usai sudah Muktamar Internasional Pendekatan Antar Madzhab yang digelar di Dhoha Qatar. Pada penutupan Forum Pendekatan Antar Madzhab, DR. Yusuf Al-Qaradhawi menegaskan bahwa gagasan untuk mendekatkan antara berbagai madzhab harus dilakukan dengan terus terang, tanpa basa basi. Qaradhawi kembali meminta agar kelompok Syiah menyampaikan sikap secara terus terang dan jelas dalam masalah terkait penghinaan sejumlah sahabat Rasulullah saw.

Karena menurut Qaradhawi, tak mungkin terjadi pendekatan antara Syiah dan Sunni, jika keyakinan Syiah masih terus menerus mencela para sahabat radhiallahu anhum. Qaradhawi juga meyinggung tentang proyek pensyi’ahan secara terorganisir yang terjadi di sejumlah lokasi yang dihuni orang-orang Sunni.

Hari pertama pertemuan di Dhoha Qatar itu, sempat diwarnai dengan perdebatan seru terkait perbedaan antara Sunni dan Syiah. Ini disebabkan ungkapan Qaradhawi yang meminta kelompok Syiah untuk menghentikan upaya mensyi’ahkan kaum Sunni dan memandang kaum Syiah kurang memiliki upaya untuk melakukan pendekatan dengan kelompok Sunni. Akan tetapi Sekjen Forum Internasional Pendekatan Antar Madzhab Islam yang berpusat di Teheran, Syaikh Ayatullah Taskheri, menolak anggapan adanya proyek pensyiahan kaum sunni. Ia malah mengangkat pemikiran lain tentang sikap Sunni yang hendaknya tidak lagi mengkafirkan orang Syiah.

Qaradhawi pada sambutan penutupan menyampaikan agar tidak ada basa basi dalam upaya mendekatkan antar madzhab Islam, utamanya Sunni dan Syiah. “Saya ingin pada forum pertama ini, adanya keterbukaan, keterusterangan. Tanpa ini kita tidak mungkin mencapai hasil yang diharapkan. Ide untuk mendekatkan antara madzhab ini pasti menghadapi tantangan berat. Karena itulah saya katakan kepada Syaikh Taskheri, sudah tutup saja organisasi Anda dan katakan kepada karyawan Anda, jika kita tidak bisa mendekatkan antara umat Islam.”

Terkait dengan pencelaan kaum Syiah terhadap sejumlah sahabat yang dimuliakan oleh kaum Sunni, Qaradhawi mengatakan, sulit terwujud pendekatan bila kaum Syiah masih tetap melanjutkan penghinaan terhadap sejumlah sahabat Rasulullah saw. “Tidak mungkin ada pendekatan antara orang yang mengatakan Umar radhiallahu anhu dengan orang yang mengatakan Umar la’anahullahu. Atau antara orang yang mengatakan Aisyah radhiallahu anha dengan orang yang mencaci dan menghinanya dengan tuduhan yang sangat keji…”

Qaradhawi melanjutkan, hendaknya kelompok Syiah juga menghentikan upaya pensyi’ahan yang dilakukan di sejumlah kelompok Sunni. Ia mengatakan tidak sependapat dengan jawaban Syaikh Taskhery yang menyebut bahwa upaya pensyi’ahan itu dilakukan secara individu tidak terorganisir. “Pensyi’ahan adalah program yang terorganisir dan juga dibiayai serta mempunyai program aksi sendiri, ” kata Qaradhawi.

Ketua Asosiasi Ulama Islam Internasional itu juga menyebutkan bahwa pendekatan antara Sunni dan Syiah membutuhkan kesepakatan yang tentang titik titik perbedaan prinsipil antara keduanya. Menurut Qaradhawi, masalah pendekatan yang harus dicapai bukan pendekatan antara pemahaman fiqih versi Sunni dan versi Syiah. “Ini tidak terlalu penting di sini. Tapi yang diinginkan adalah pendekatan yang dimulai pada masalah prinsipil dalam madzhab Sunni dan Syiah. Kita harus sepakat tentang sejumlah masalah yang bisa meghentikan aksi saling perang antara Sunni dan Syiah, ” ujar Qaradhawi. Lebih tegas lagi Qaradhawi juga menyinggung tentang kondisi Sunni di Irak. Ia mengatakan, “Yang memiliki kunci masalah di Irak adalah orang-orang Iran.” Qaradhawi merencanakan mengirim utusannya ke Iran untuk membicarakan masalah Irak.

Dalam konferensi dialog antar madzhab Islam ini, hadir 216 orang utusan penting dari para ulama dan peneliti, termasuk menteri dari 44 negara. Diselenggarakan dengan kerjasama antara Universitas Al-Azhar di Kairo Mesir dan Forum Internasional Pendekatan Antar Madzhab Islam di Iran. Sementara itu, para ulama Iraq tegas mengatakan, “Tidak ada gunanya pendekatan antar madzhab bila tidak mempunyai efek yang menghentikan pertumpahan darah di Irak.” (na-str/iol)-eramuslim.com

Read Full Post »

Amanah

Jepang, Muslim, Indonesia dan Amanah

http://www.eramuslim.com/atc/oim/45b76d93.htm

Oleh Lizsa Anggraeny

Suasana gerbong kereta Hibiya Line di siang hari terasa lenggang.Tak sepadat pagi ataupun sore hari yang merupakan rushhour bagi pegawai kantor. Tampak di gerbong sebelah, seorang penumpang pria Jepang setengah baya dengan pakaian jas lengkap, berdiri. Terlihat sesekali matanya memperhatikan dari jauh.

Risih rasanya dipandangi, reflek saya membetulkan letak hijab serta baju panjang, khawatir terpasang miring ataupun tersingkap. Tanpa disangka tiba-tiba pria tersebut mendekati dan bertanya. “Sumimasen, Indonesia-jin desuka, musurimu desuka….” (Maaf, Orang Indonesia…? Muslim…?). Kira-kira seperti itu pertanyaannya. Dengan kaku kepala saya berusaha menggangguk dan balik bertanya. “Iya.betul, ada yang aneh dengan penampilan saya?”

Seolah kaget, menyadari tindakannya yang kurang sopan, pria setengah baya tersebut langsung membungkukan badan berkali-kali sambil meminta maaf.

“Saya Kakeuchi, saya suka Indonesia, suka Islam.” Pria setengah baya tadi tiba-tiba menyebutkan nama dan berusaha membuka percakapan. Tanpa diminta, ia bercerita bahwa pernah ditempatkan menjadi direktur di salah satu cabang perusahaan di Indonesia. Selain tertarik dengan keindahanan dan keramahan Indonesia, ia pun tertarik dengan Islam. Ia mengatakan bahwa ajaran Islam itu indah dan sangat sesuai dengan jiwa orang Jepang yang disiplin.

Sayang, ketika berhadapan dengan beberapa pegawainya yang muslim Indonesia, ia merasakan jiwa Islam tidak masuk di sana. Ia merasakan adanya ‘gap‘ antara ajaran Islam yang indah dengan kenyataan prilaku beberapa pegawainya.

Kekeuchi-san, begitu saya memanggilnya, mengatakan beberapa muslim di Indonesia kadang sulit dipercaya dan sulit menjalankan tanggung jawab. Ada saja alasan yang dibuat untuk mengulur-ngulur pekerjaan. Belum lagi, kerepotan yang dialami jika pegawai yang diberikan tugas, tiba-tiba resign, tanpa sempat takeover pekerjaan.

Padahal, menurut buku Islam yang ia baca, seorang muslim harus menjalankan amanah dengan baik. Di mana amanah tidak dikotak-kotakan menjadi sesuatu hal yang sempit, yaitu pekerjaan besar–pekerjaan kecil, amanah besar-amanah kecil. Tapi dilihat dari substansi amanah itu sendiri yaitu tanggung jawab.

“Bukankan pekerjaan itu sama dengan amanah…?” ucapnya sambil melirik ke arah saya, seolah meminta jawaban.

Tiba-tiba diajukan pertanyaan seperti itu, saya sedikit tersentak. Pikiran melayang, mengingat-ngingat kembali pengalaman ketika masih bekerja di salah satu perusahaan Jepang di Indonesia. Pegawai yang tiba-tiba resign, tanpa sempat menyelesaikan amanah yang diberikan memang cukup sering terjadi dan menjadi hal yang biasa. Tentu saja ini merepotkan, tidak hanya bagi satu orang tapi juga bagi beberapa orang yang bekerja bersama-sama dalam satu tim.

Betul, pekerjaan sama dengan amanah. Di mana wujud sikap amanah adalah tanggung jawab. Pertanggungjawaban di dunia adalah dengan menunaikan kewajiban yang diberikan. Baik itu berupa tugas, pekerjaan ataupun titipan, tanpa melihat besar atau kecilnya pekerjaan tersebut. Sedangkan pertangungjawaban di akhirat melaui hisab yang telah ditetapkan ukurannya.

Wajar jika Kakeuchi-san kecewa pada beberapa pegawai muslim Indonesia yang tidak bisa menjalankan amanah, seperti ceritanya di atas. Karena amanah adalah salah satu karakter seorang muslim. Di mana seorang muslim dituntut memiliki sikap amanat dan menjauhi sikap khianat. Seperti nasihat Rasulullah dalam HR Abu Daud. “Tunaikan amanah pada orang yang memberikan amanah padamu dan jangan khianati…”

Saya berusaha meresapi obrolan Kakeuchi-san dan bertanya-tanya dalam hati. Sudahkan saya menjalankan amanah dengan baik? Hmm… Ada rasa sesal ketika mengingat, masih ada beberapa tanggung jawab yang terabaikan. Padahal saya seorang muslim. Dan tahu akan beratnya amanah.

***
Tanpa terasa kereta tiba di stasiun tujuan. Saya berpamitan sambil tak lupa mengucapkan terima kasih. Terima kasih atas obrolannya sepanjang perjananan. Dan juga terima kasih atas ‘tegurannya’ melalui sebuah pertanyaan tentang amanah.

Semoga, dari obrolan tersebut saya dapat bermuhasabah. Berusaha menjadi seorang muslim Indonesia yang baik. Yang bisa dipercaya. Yang tidak mengecewakan orang-orang yang telah memberikan amanah. Hingga suatu saat, orang-orang di sekitar saya, termasuk orang Jepang akan berkata, “Saya suka Indonesia, saya suka Islam.Muslim Indonesia dapat dipercaya.”

Insya Allah.

Catatan:
Hibiya Line = Salah satu jalur kereta api di daerah Tokyo, Jepang.

Read Full Post »