Feeds:
Posts
Comments

Archive for January 10th, 2007

HIZBIYYAH ?

HIZBIYYAH BUKAN HIZBULLAH

DEFINISI HIZBIYYAH
Al-Hizbu secara bahasa adalah kelompok atau kumpulan manusia. (Al-Qomus Al-Muhith, Fairuz Abadi hal. 94). Dia berkata dalam Bashoir Dzawi Tamyiz 2/457: “Bashirotun fi Hizbi adalah kumpulan yang di dalamnya ada permusuhanâ€.Dan dikatakan bahwa Al-Hizbu adalah kelompok-kelompok yang berkumpul untuk memerangi para Nabi.

Dan firman Allah Ta’ala:

“Artinya : Maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang”. [Al-Maidah:56]

Sedangkan firman Allah Ta’ala:

“Artinya : Dan orang-orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu”[Al-Mukmin :30]

Al-Ahzab disini adalah kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud dan orang-orang yang dihancurkan Allah setelah mereka [1]. Berkata Syaikh Ustadz Shofiyur Rohman Mubarokfuri : “Al-Hizbu secara bahasa adalah sekelompok manusia yang berkumpul karena kesamaan sifat, keuntungan atauikatan keyakinan dan iman. Karena kukufuran, kefasikan dan kemaksiatan. Terikatoleh daerah, tanah air, suku bangsa, bahasa, nasab, profesi atau perkara-perkara yang semisalnya, yang biasanya menyebabkan manusia berkumpul atau berkelompokâ€.[2]

Sedangkan dalam Al-Qur’an, lafadz hizbi mengandung beberapa makna:

[1]. Bermakna kumpulan orang yang masing-masing berbeda mahzab, ajaran dan alirannya.

“Artinya : Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”. [Ar-Ruum : 32]

[2]. Bermakna laskar syaitan:

“Artinya : Mereka itulah adalah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongansyaitan itulah golongan yang merugi” [Al-Mujadilah : 19]

[3]. Bermakna tentara Ar-Rohman:

“Artinya : Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung” [Al-Mujadilah : 22]

Tidak samar lagi bagi siapapun yang memiliki pengetahuan bahwa masing-masing hizbi memiliki dasar-dasar dan pemikiran atau aturan-aturan yang menjadi undang-undang bagi hizbi tersebut, sekalipun mereka tidak menamainya demikian.

Dan undang-undang ini sama dengan azas yang menjadi sumber bagi aturan-aturan hizbi (kelompok) tersebut, dan dibangun diatasnya. Maka siapa saja yang mau mengakuinya dan menjadikannya sebagai dasar dalam beraktivitas, tergabunglah dia di dalam hizbi tersebut. Dia menjadi salah satu dari anggota-anggotanya,bahkan menjadi tokoh dari sekian tokoh-tokohnya. Sedang siapa saja yang tidak setuju, berarti bukan kelompok mereka. Jadi, undang-undang inilah yang menjadi dasar dalam wala’ (kasih sayang), bara’(membenci/bermusuhan), dalam bersatu dan berpecah, memuji dan menghina…[3]

Dari sini kita pahami bahwa di dunia ini hanya ada dua hizbi (kelompok) :
Hizbullah dan Hizbu Syaithan ; orang-orang yang beruntung dan orang-orang yang merugi ; Muslimin dan Kafirin,….Maka barangsiapa yang memasukkan kelompok-kelompok yang bermacam-macam di dalam Hizbullah ini, berarti dia telah berandil besar dalam memecah belah Hizbullah ini, memecah kalimat mereka yang satu.

FENOMENA HIZBIYYAH
Merupakan kewajiban setiap muslim untuk mencabut system hizbiyyah yang sempit dan dibenci, yang melemahkan Hizbullah. Dan tidak perlu memberikan secuil cinta pun terhadapnya, agar agama ini seluruhnya hanya untuk Allah.
Adapun sekedar lari dari lafadz hizbi kepada nama-nama lain yang dirasa pantas dan lebih enak didengar adalah menjerumuskan diri ke dalam kebodohan. Sebab lafadz hizbi pada hakekatnya –baik secara bahasa ataupun secara syar’i- tidaklah tercela. Namun pada prakteknya, di balik lafadz ini hanyalah perselisihan, ikatan-ikatan yang tidak jelas, perpecahan dan sebagainya. Oleh karena itu merubah nama dengan hakekat yang semacam itu adalah perbuatan yang tidak pantas serta menipu orang lain dan diri sendiri. Karena nama tidak dapat merubah hakekat.

Seseorang yang berwajah buruk tidak bisa menjadi bagus dan tampan hanya dengan kita beri nama Jamil, Hasan, atau Mas Bagus. Ini suatu misal. Demikian juga hizbiyyah (kelompok-kelompok) yang penuh dengan penyimpangan dari jalan agama yang lurus ini, baik dalam masalah i’tiqod, manhaj, mu’amalah dan lain-lain. Atau mengkonsumsi hasil pikiran sesat dari orang-orang yang kurang puas terhadap Sunnah Rosul dan manhaj salafi, menjadikan adat-istiadat –yang jelas-jelas mengotori agama ini- sebagai dasar gerakannya, juga tidak memiliki nyali untuk ingkarul mungkar karena takut miskin dan celaan manusia, menjadikan kebodohan dan prasangka sebagai dalil dalam dakwah dan sejenisnya, sekalipun diberi label atau nama : “Jama’atul Musliminâ€, “JamaahTablighâ€, “Islam Jamaahâ€, “Darul Hadistâ€, “Ikhwanul Musliminâ€, “Darul Islamâ€, “Harokah Sunniyahâ€, “Salamullah†atau nama-nama antik dan indah lainnya, tidak akan secuilpun merubah hakekat sebenarnya. PerhatikanHadistberikut:

Dari Jabir bin Abdullah dia berkata : Kami berperang bersama Nabi dan sekelompok kaum Muhajirin berkumpul bersama beliau. Di antara kaum Muhajirin ada seorang yang suka bercanda sehingga memukul pantat orang Anshor. Maka sangat marahlah sahabat Anshor tersebut. Sehingga masing-masing kubu saling berseru. Orang Anshor tersebut berkata: “Wahai orang-orang Anshor,….â€.Orang Muhajirin berkata: “Wahai orang-orang Muhajirin,…â€.Mendengar hal tersebut Nabi keluar seraya berkata: “Ada apa dengan seruan Jahiliyyah itu?†Kemudian bertanya: “Apa yang terjadi kepada mereka?†Kemudian beliau dikabarkan bahwasannya ada seorang Muhajirin memukul pantat seorang Anshor. Selanjutnya Nabi bersabda ; “Tinggalkanlah, karena itu sangat burukâ€.[HR. Bukhori : 3518, 4905, 4907].

Dua nama “Muhajirin†dan “Anshor†merupakan dua nama syar’i yang disebut dalam Al-Qur’an dan Sunnah, bernasab dengan keduanya adalah baik, bukan sekedar nisbah seperti bernasab kepada suku dan daerah asal. Dan juga bukan suatu yang makruh atau bahkan harom seperti bernasab kepada hal-hal yang mengarah kepada bid’ah dan maksiat. Tapi nama syar’i yang baik ini tidak bisa membuat hakekat-hakekat yang buruk (hizbiyyah) menjadi baik. Bahkan karena hakekat ini Rasul mengingkarinya dengan menyatakan sebagai panggilan Jahiliyyah. Karena sekedar mendakwahkan nasab atau menyatakan adanya hubungan dengan sesuatu, semisal manhaj, atau nama-nama baik yang syar’i tidaklah cukup, bahkan bisa jadi bertepuk sebelah tangan jika hakekatnya tidak seperti namanya.

Penyair arab berkata:
“Setiap Orang mengaku punya hubungan dengan Laila, padahal Laila tidak mengakuinya”.

Kalau demikian, perbedaan keyakinan atau perkara-perkara pokok yang lain tidak bisa dijadikan dalil untuk bolehnya berkelompok-kelompok sesuai dengan keyakinanmasing-masing.

HIZBIYYAH PEMECAH BELAH UMAT
Kita bisa saksikan masih banyak orang-orang yang kurang berfungsi atau memang sudah tidak berfungsi mata, telinga dan hatinya. Sehingga berceloteh dengan menyebarkan hadits yang tidak ada asalnya untuk melegitimasi keinginannya. Perselisihan umatku merupakan rahmat. Mereka buta, tuli serta tidak bisa memahami nash-nash yang shohih dan gamblang seperti firman Allah Ta’ala:

“Artinya : Dan perpeganglah kamu semuanya kepada tali (Agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai” [Ali-Imron : 103]

Dan firman Allah Ta’ala:

“Artinya : Dan Janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” [Ali-Imron :105]

Dan firmanNya:

“Artinya : Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan.Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” [Ar-Rum : 31-32]

Dan firmanNya:

“Artinya : Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kam wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya” [As-Syuro : 13]

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Artinya : Karena orang yang hidup di antara kalian sesudahku nanti, dia akan menyaksikan perselisihan yang sangat banyak sekali. Maka wajib bagi kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafa’ Rosyidin setelahku. Gigitlah sunnahku dengan gigi geraham [HR. Abu Dawud dan Tirmidzi]

Sabdanya pula:

“Artinya : Sesungguhnya agama ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh dua di neraka, dan satu di surga. Dialah Al-Jama’ah” [Lihatlah Shohihul Jami’ : 638]

Dan hadist-hadist lain yang semisal.

Demikianlah…..hizbiyyah menjadi sangat identik dengan perpecahan. Ibarat dua sahabat karib yang memiliki hubungan yang kokoh. Dimana ada hizbiyyah, disitu pula terletak perpecahan. Di mana terjadi perpecahan, di sana pula ditegakkan prinsip-prinsip hizbiyyah. Hal ini tidak samar lagi bagi ahli ilmu dan tholabul ilmi. Perhatikan kembali hadist diatas (tentang Muhajirin dan Anshor). Disitu Rasulullah telah memerangi benih-benih perpecahan dan hizbiyyah ketika beliau melihat gelagat akan tumbuhnya sifat-sifat hizbiyyah yang sangat erat dengan perpecahan. Padahal seruan yang mereka nasabkan adalah seruan yang terpuji lagi baik, yaitu seruan yang bernasab kepada Muhajirin dan Anshor. Bukankah Allah telah memuji mereka, Muhajirin dan Anshor?

Perhatikan firman Allah berikut:

“Artinya : Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik” [At-Taubah : 100]

Ketika nama-nama yang mulia ini dijadikan seruan-seruan untuk menganggap
dirinya lebih baik dari yang lain atau memenangkan/menolong seseorang karena dia termasuk kelompoknya, Rasulullah mengingkarinya dan

menyebutnya sebagai seruan jahiliyyah. Dan semakna pula dengan seruan jahiliyyah ini adalah seruan atau bernasab kepada suatu qabilah, ta’asub (fanatik) kepada seseorang, kepada suatu mahzab atau kelompok, kepada syaikh, ‘alim dan ulama’, mengunggulkan sebagian atas sebagian yang lain sekedar berdasarkan hawa nafsu dan fanatik buta. Lalu membangun wala’ (cinta) dan permusuhan di atas sifat dan sikap yang semacam itu tadi dan mengukur manusia ini di atas neraca tersebut, maka semua ini adalah seruan dan sitem jahiliyyah.

Kesimpulannya bahwa perpecahan dan perselisihan serta bentuk hizbiyyah, apapun jenis dan dasarnya, tidaklah selaras dengan tabiat Islam sama sekali. Dan bentuk hizbiyyah ini pasti hanya mendatangkan mudhorot dan kejelakan yang jauhlebih banyak dan berbahaya daripada manfaat dan kebaikannya kalaulah ada manfaat dan kebaikannya bagi kaum Muslimin. Dan agama kita pun telah melarang perpecahan dan perselisihan ini secara mutlak dan menjadikannya sebagai sebab kelemahan dan kehinaan kaummuslimin.

“Artinya : Janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu” [Al-Anfal : 46]

Allah tidak membatasi larangan perselisihan ini, bahkan memutlakkannya agar mencakup segala macamnya. Bahkan Allah tidak hanya sekedar melarang saja, tapi Allah mewajibkan kaum muslimin untuk bersungguh-sungguh dalam meraih kebenaran ketika terjadi perselisihan.

Firman-Nya:

“Artinya : Hai orang-orang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya), dan Ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah)”. [An-Nisa’ : 59]

Jadi perpecahan dan hizbiyyah ibarat dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Kita harus benar-benar memahami dan mengambil sikap yang benar. Sekalipun hal ini dianggap kecil dan remeh oleh semantara orang yang memandang. [4]

Mudah-mudahan Allah mengokohkan langkah dan hati di atas jalan sunnah.

[Sumber : Buletin Al-Furqon Edisi 10 Tahun 1]
_________
Foote Note
[1]. Lihat Lisanul ‘Arob:I/308-309.
[2]. Al-Ahzab As-Siyasiyyah fil Islam,hal.7.
[3]. Lihat Al-Ahzab As-Siyasiyyah fil Islam, hal.13
[4]. Lihat kitab Ad-Da’wah ila Allah, Syaikh Ali Hasan, hal. 53-74

BAHAYA HIZBIYAH

Oleh
Muhammad Al-Abadah
Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=836&bagian=0

Tidak ada satupun yang lebih berbahaya bagi da’wah Islamiyah dewasa ini ketimbang Fanatisme Hizbiyah (Fanatik Golongan). Ia merupakan penyakit berbahaya yang bakal mencerai beraikan ukhuwah Islamiyah. Ia pasti akan memutuskan ikatan-ikatan kuat tali ukhuwah, dan akhirnya akan mengotori kesuciannya.

Adakah dibenarkan seorang muslim menunjukan wajah ceria, senyum lebar dan salam hangatnya hanya kepada orang satu kelompok atau satu jama’ah saja ..? Sementara kepada orang dari kelompok lain ia bermuka masam, bersikap dingin dan hambar ..? Adakah dibenarkan seorang muslim mengabaikan kesalahan-kesalahan yang dilakukan shahabat kelompoknya, sementara apabila orang lain melakukan kesalahan yang sama, ia rajin menggunjingkan dan menyebarluaskannya..?

Apabila seorang di antara anggota kelompok (hizbiyah) ini anda beri peringatan karena fikrah atau tashawwur (orientasi berfikir)nya menyimpang (munharif), maka ia akan segera memberikan pembelaan-pembelaan dengan dalih : “Ini hanyalah kekeliruan, tetapi tidak merusak prinsip”.

Disebabkan fanatisme hizbiyah inilah maka anda lihat, seseorang tidak akan mau melakukan tela’ah, belajar atau menimba ilmu, melainkan hanya dari satu arah saja, yaitu hanya dari buku-buku, tulisan orang sekelompoknya dan dari orang-orang tertentu yang telah diwasiatkan tidak boleh belajar melainkan hanya kepada mereka.

Dari situlah lahir cakrawala berpikir sempit, dan manusia-manusia yang berkepribadian keji. Ia tidak melihat melainkan hanya dari satu sudut pandang,dan tidak tahu menahu (persoalan) melainkan hanya pemikiran itu satu-satunya.

Namun, mengapa hizbiyah semacam ini bisa menyusup ke dalam shaf (barisan) da’wah ..? Siapakah pula pendukungnya sehingga ia tetap berlangsung..?

Sesungguhnya telah jelas bahwa hizbiyah adalah suatu pola dari sebuah tarbiyah buruk yang dilakukan guna menangani penggarapan diri seorang manusia, kemudian dikatakannyalah padanya (bahwa) :”Kamilah kelompok paling afdhal, sedangkan selain kami, masing-masing mempunyai kekurangan itu ….”. Semua itu karena setiap kelompok hizbiyah ingin menghimpun dan memperbanyak jumlah anggota.

Sebagai konsekwensinya, maka mereka harus menjatuhkan nama kelompok lain supaya orang jangan sampai masuk menjadi kelompok lain tersebut. Seakan-akan kita ini menjadi kelompok-kelompok kontetstan dari beberapa partai yang bersaing guna merebut kemenangan dalam suatu pemilihan umum. Sampai-sampai terkadang perlu membeli suara massa dengan klaim-klaim memikat dan dengan harta benda.

Dari tarbiyah seperti inilah, akhirnya seseorang harus sudah terpisah dari majlis-majlis para ulama atau orang-orang berilmu semenjak pertama ia menerjuni dunia da’wah atau ketika untuk pertama kalinya ia ingin mencari ilmu, sehingga ia tidak bisa mengenyam tarbiyah para ulama yang mentarbiyah dengan adab, akhlaq dan pengalaman mereka.

Kalau demikian keadaannya, maka niscaya dia bakal menyerap (ilmu) dari orang-orang yang aktif menjalankan amaliyah tarbiyah. Jika kebetulan orang itu memiliki ilmu dan tidak mempunyai ambisi kepemimpinan, bisa jadi tarbiyahnya mendekati benar. Tetapi seandainya orang-orang itu (ternyata) menyukai kedudukan atau dalam dirinya terdapat unsur penipuan ilmu, maka tentu, dari tarbiyah ini akan terlahir pemuda-pemuda buruk yang fanatik terhadap kelompok.

Tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari penyakit ini, kecuali orang yang selalu mengambil perhatian sejak awal, dan mengerti bahwa ada beberapa bentuk tarbiyah yang secara pasti akan menunjukkan hizbiyah. Untuk itu dia akan merasa takut dan berusaha membentengi diri. Dia akan selalu mawas diri, selalu melihat ke belakang, selalu memperbaharui langkah-langkahnya dan selalu melakukan pembaharuan setiap saat, sehingga dirinya tidak terjatuh ke dalam cengkeraman penyakit berbahaya yang keburukan serta malapetakanya merajalela ini.

[Diterjemahkan secara bebas dari majalah Al-Bayan, No. 59 Rajab 1413H, Januari 1993M. hal. 46-47 , Dimuat di Majalah As-sunnah tanpa edisi, hal 43 dan 48, penerjemah Team Redaksi Majalah Assunnah]

Advertisements

Read Full Post »

Qaradhawi:

Kita Boleh Berbeda Partai dan Golongan, Tapi Kita Adalah Muslim

Rabu, 10 Jan 07 11:37 WIB

Sebuah pertemuan bersahaja tapi penting, semalam (9/1) digelar di rumah dinas Ketua MPR Hidayat Nur Wahid. Disebut bersahaja, karena proses pertemuan ini memang melalui undangan resmi melainkan hanya melalui telepon dan sms. Juga, karena mendadak para undangan pun hadir dengan kostum apa adanya sepulang tugas di tempat masing-masing. Tapi sebenarnya pertemuan itu sangat penting dan strategis, karena menghadirkan seorang ulama internasional, Dr. Yusuf Al-Qaradhawi yang sejak kemarin menginjakkan kakinya di Indonesia. Pertemuan itu juga penting karena dihadiri oleh tokoh-tokoh lintas partai dan organisasi. Termasuk tokoh Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN). Hadir juga Menteri Pertanian serta Menteri Pemuda dan Olahraga, tokoh ekonom Islam Syafii Antonio, dan tokoh-tokoh lainnya.

Dalam ceramahnya, Qaradhawi menyampaikan rasa syukur atas kehadirannya di Indonesia dan bertemu dengan para wakil dari beragam kelompok Islam di Indonesia. “Tidak mengapa kita berbeda kelompok, berbeda partai, berbeda organisasi, tapi kita semua harus menyadari bahwa kita adalah Muslim, ” begitu pesan awal yang disampaikan ketua Ulama Islam Internasional tersebut. Qaradhawi menguraikan, bahwa Indonesia telah menjawab dan membantah tudingan dusta orang-orang yang mengatakan bahwa Islam disebarkan dengan pedang. Menurutnya, Islam datang ke Indonesia bukan dengan pedang, bukan dengan tentara, bukan dengan senjata, bahkan bukan dengan kehadiran pada da’I. “Islam datang ke Indonesia melalui jalur para pedagang yang datang dari Gujarat. Mereka orang biasa. Bukan da’I, apalagi tentara, ” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Qaradhawi menyampaikan pesannya kepada kaum Muslim Indonesia untuk berpegang kuat pada kesatuan Islam yang telah mengikatnya. Ia menguraikan bagaimana kondisi umat Islam pada saat ini tengah melewati fase ujian dan tekanan yang luar biasa beratnya, melebihi tekanan yang pernah dialami kaum Muslimin dalam sejarah sebelum ini. Kita, kata Qaradhawi, pernah mengalami fase upaya penjajahan ratusan tahun oleh berbagai kekuatan di dunia ini dan memakan korban meninggal dari kaum Muslimin jutaan orang. Termasuk 9 kali perang salib yang kemudian dimenangkan oleh Imaduddin Zanki dan Shalahuddin Al-Ayyubi, termasuk pula perang Tatar yang menaklukkan Baghdad. “Meski ada dalam sejarah yang mengungkap ratusan ribu Muslim yang meninggal pada zaman itu, tapi ada pula sejarah yang mengatakan bahwa ada dua juta Muslim yang meninggal ketika itu, ” katanya. Ia melanjutkan, “Mereka mati bukan karena bom yang dijatuhkan dan mengenai banyak orang, tapi mereka meninggal karena perang tradisional menggunakan senjata yang langsung mengenai mereka satu persatu.” Bagi Qaradhawi, keberadaan pihak yang menentang atau membenci Islam adalah sebuah sunnatullah yang tak mungkin dirubah. “Allah menciptakan Muhammad dan Allah menciptakan Abu Jahal, Allah menciptakan Adam dan Allah menciptakan syaitan, Allah menciptakan orang beriman dan Allah menciptakan orang kafir. Jadi perseteruan ini memang akan selalu ada dan merupakan sunnatullah, ” ujarnya.

Tapi pada zaman ini, sesungguhnya fitnah dan gempuran terhadap Umat Islam sangat berat. Ia menyebutkan bagaimana tragedi Palestina di bawah penjajahan Zionis yang telah memakan korban ratusan ribu Muslim hingga saat ini. Bagaimana pembantaian yang terjadi di Afghanistan, di Irak, dan sekarang di Somalia. Semuanya menandakan musuh-musuh Islam bersatu bila yang dihadapinya adalah Islam. “Apa yang kalian ketahui tentang peristiwa yang menimpa saudara-saudara Muslim kita di Irak? Di sana ratusan ribu kaum Muslim Sunni dibunuh, sebagaimana saya mendengarkan langsung dari utusan Irak yang bertemu saya beberapa waktu lalu. Semua saluran kita untuk membantu kaum Muslim Sunni di Irak diputus sehingga kita tidak bisa membantu menolong mereka dari ancaman kematian.” Menurut Qaradhawi, andai saja pemimpin Syiah Ali Khamenei mau mengatakan kepada para pengikutnya, “Hentikan pembunuhan atas Muslim Sunni…” niscaya pembunuhan itu akan selesai.”

Qaradhawi kemudian kembali menandaskan pentingnya Muslim Indonesia untuk bersatu dan saling bahu membahu untuk mengangkat martabat kaum Muslimin. “Bersatulah wahai Muslimin Indonesia, karena hanya Islamlah yang bisa menyatukan kita. Hanya Islam saja yang memiliki garis persatuan yang bisa mengikat kita. Hanya Islam yang membimbing kita pada shiratal mustaqim, jalan yang lurus, yang menghindarkan kita dari berbagai penyimpangan. (na-str) eramuslim.com

 

Read Full Post »

Salaf

MAKNA SALAF

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
sumber http://www.almanhaj.or.id

Menurut bahasa, Salaf artinya nenek moyang yang lebih tua dan lebih utama[1]. Salaf berarti para pendahulu. Jika dikatakan “salafu ar-rojuli” = salaf seseorang, maksudnya kedua orang tua yang telah mendahuluinya.[2]

Menurut istilah, kata Salaf berarti generasi pertama dan terbaik dari ummat (Islam) ini, yang terdiri dari para Shahabat, Tabiin, Tabiut Tabiin dan para Imam pembawa petunjuk pada tiga kurun (generasi/ masa) pertama yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Artinya : Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Shahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabiin), kemudian yang sesudahnya (masa Tabiut Tabiin). [3]

Menurut al-Qalsyani: Salafush Shalih ialah generasi per-tama dari ummat ini yang pemahaman ilmunya sangat dalam, yang mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjaga sunnahnya, Allah pilih mereka untuk menemani Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menegakkan agama-Nya… [4]

Syaikh Mahmud Ahmad Khafaji berkata di dalam kitabnya al-Aqidah al-Islamiyyah baina Salafiyyah wal Mutazilah: Penetapan istilah Salaf tidak cukup dibatasi waktu, bahkan harus sesuai dengan al-Qur-an dan as-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih (tentang aqidah, manhaj, akhlaq dan suluk-Pent.). Barangsiapa yang pendapatnya sesuai dengan al-Qur-an dan as-Sunnah mengenai aqidah, hukum dan suluknya menurut pemahaman Salaf, maka ia disebut Salafy meskipun tempatnya jauh dan berbeda masanya. Sebaliknya, barangsiapa pendapatnya menyalahi al-Qur-an dan as-Sunnah, maka ia bukan seorang Salafy meskipun ia hidup pada zaman Shahabat, Tabiin dan Tabiut Tabiin. [5]

Penisbatan kata Salaf atau as-Salafiyyun bukanlah termasuk perkara bidah, akan tetapi penisbatan ini adalah penisbatan yang syari karena menisbatkan diri kepada generasi pertama dari ummat ini, yaitu para Shahabat, Tabiin dan Tabiut Tabiin.

Ahlus Sunnah wal Jamaah dikatakan juga as-Salafiyyun karena mereka mengikuti manhaj Salafush Shalih dari Shahabat dan Tabiin. Kemudian setiap orang yang mengikuti jejak mereka serta berjalan berdasarkan manhaj mereka -di sepanjang masa-, mereka ini disebut Salafy, karena dinisbatkan kepada Salaf. Dan Salaf bukan kelompok atau golongan seperti yang difahami oleh sebagian orang, tetapi merupakan manhaj (sistem hidup dalam ber-aqidah, beribadah, berhukum, berakhlaq dan yang lainnya) yang wajib diikuti oleh setiap muslim. Jadi, pengertian Salaf dinisbatkan kepada orang yang menjaga keselamatan aqidah dan manhaj menurut apa yang dilaksanakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabat Radhiyallahu ‘anhum sebelum terjadinya perselisihan dan perpecahan. [6]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah (wafat th. 728 H) [7] berkata : Bukanlah merupakan aib bagi orang yang menampakkan manhaj Salaf dan menisbatkan dirinya kepada Salaf, bahkan wajib menerima yang demikian itu karena manhaj Salaf tidak lain kecuali kebenaran. [8]
http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1092&bagian=0
[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]

Read Full Post »

Manakah yang Kita Pakai?

Jika MUI Berseberangan dengan Jumhur Ulama,

Selasa, 21 Peb 06 11:03 WIB

Assalamu ‘alaikum Wr Wb.

Pak Ustadz, manakah hukum yang harus kita pakai jika fatwa jumhur ulama bertentangan dengan lembaga resmi? Contohnya setahu saya fatwa MUI melarang pernikahan beda agama sementara menurut Pak Ustadz bahwa jumhur ulama membolehkannya? Sebelumnya mohon maaf jika seolah2 mengkonfrontir antara Pak Ustadz dengan lembaga MUI.

Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Dian Dwideana
deana at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Fatwa yang dikeluarkan di suatu tempat oleh para ulama biasanya memang disesuaikan dengan kondisi real di lapangan. Sifatnya tidak selalu harus bersifat universal dan baku. Namun sangat mungkin untuk disesuaikan dengan keadaan lokal serta bersifat situasional. Terutama untuk masalah yang juga masih ada perselisihan di antara para ulama dalam hukumnya.

Misalnya fatwa boikot pruduk tertentu yang dikeluarkan oleh banyak ulama di Timur Tengah, sebelumnya pasti sudah dibahas tentang efektifitas dan dampaknya oleh para ulama. Sehingga begitu fatwa itu dikeluarkan, efeknya memang terasa. Namun belum tentu bila MUI di Indonesia mengeluarkan fatwa yang sama, akan menghasilkan hal yang sedahsyat di negeri sana.

Adapun masalah larangan nikah beda agama yang dikeluarkan MUI, tentu saja tidak sekedar dikeluarkan begitu saja. Pastilah sebelumnya sudah dibahas latar belakang, antisipasi dan dampak-dampak yang akan terjadi. Sehingga meski tidak terlalu mirip dengan apa yang dipegang oleh jumhur ulama, namun fatwa itu bisa agak sedikit lebih tetap untuk kondisi sosial agama di negeri kita.

Jumhur ulama memang menghalalkan pernikahan beda agama, asalkan yang laki-laki muslim dan yang perempuan wanita ahli kitab (baca: Nasrani atau Yahudi). Adapun bila yang laki-laki bukan muslim dan yang wanita muslimah, hukumnya haram.

Di luar jumhur ulama, ada juga pendapat lain yang berbeda, tentu saja setelah dilihat manfaat dan madharatnya. Salah satunya ketika Khalifah Umar ra. melihat ada semacam kecenderungan para shahabat untuk ‘berlomba’ menikahi wanita ahli kitab, sehingga muncul dampak fitnah di tengah wanita muslimah. Sehingga beliau pernah berkirim surat kepada salah satu bawahannya yang isinya perintah untuk menceraikan istrinya yang wanita ahli kitab.

Tentu saja khalifah bukan mau melawan ayat Al-Quran yang secara tegas membolehkan laki-laki muslim menikahi wanita ahli kitab. Namun saat itu beliau ra. melihat gelagat yang kurang baik di dalam tubuh umat Islam dengan adanya pernikahan yang hukum asalnya halal itu. Kira-kira hal itulah yang bisa kita rasakan dari fatwa MUI yang mengharamkan nikah beda agama. Meski dengan latar belakang yang sedikit berbeda.

Mengapa Diharamkan?

Sebagaimana kita tahu bahwa Indonesia menjadi sasaran kristenisasi sejak masa penjajahan Belanda. Angka grafik pertumbuhan penduduk yang beragama Kristen terus naik. Salah satu metode pemurtadan yang paling efektif ternyata lewat pernikahan beda agama. Di mana banyak pemuda dan pemudi muslim yang menikah dengan pasangan beda agama, tapi akhirnya anak-anak mereka menjadi non muslim.

Di sisi lain banyak sekali orang yang sekarang beragama Kristen, namun ketika diurutkan ke silsilah orang tua dan kakek neneknya, ternyata beragama Islam. Ini suatu bukti bahwa nikah beda agama di Indonesia justru kontra produktif. Bukannya berhasil meng-Islamkan orang kafir, justru orang-orang yang sudah muslim malah jadi murtad.

Maka wajar bila MUI merasa bertanggung-jawab untuk menahan laju grafik kemurtadan ini dengan melarang pernikahan beda agama secara keseluruhannya. Sebab meski laki-laki muslim menikahi wanita Kristen, kenyataannya yang kalah justru yang laki-laki, sehingga dengan mudah dia menjual iman dan agamanya, sekedar untuk bisa tetap mempertahankan istrinya yang kafir itu.

Fatwa Itu Tidak Berlaku di Eropa

Kenyataan yang sebaliknya justru terjadi di Eropa. Grafik laju pertumbuhan penduduk muslimin di sana mengalami laju yang tak terbendung. Bahkan boleh dibilang menjadi semacam ledakan jumlah penduduk yang muslim. Sampai-sampai para penguasa barat cemas melihat kenyataan ini.

Salah satu faktornya sudah bisa anda duga,yaitu karena adanya pernikahan campur antar agama. Data kependudukan membuktikan bahwa banyak sekali wanita Eropa yang menikah dengan pria muslim. Lalu anak-anak mereka memenuhi Islamic Center yang juga tumbuh menjamur di sana. Bahkan para wanita Perancis, Jerman, Inggris telah masuk ke pola trend kehidupan untuk menikah dengan pria muslim asal Timur Tengah, tidak sedikit dari mereka yang kemudian masuk Islam, memakai jilbab dan membangun rumah tangga Islami.

Trend yang terjadi di Eropa ini juga mulai menular ke benua lain seperti Amerika dan Australia. Di kedua peradaban barat itu kini sudah tidak asing lagi kita temukan wanita bule yang memakai jilbab dan bersuamikan laki-laki muslim yang sukses dalam kehidupannya.

Maka alangkah tidak bijaksana bila para ulama di Eropa mengeluarkan fatwa model MUI di negeri kita. Sebab nikah beda agama di Eropa identik dengan proses Islamisasi yang luar biasa dahsyat. Sebaliknya, nikah beda agama di Indonesia identik dengan pemurtadan.

Di sini kita harus sedikit cerdas dalam menilai dan menganalisa situasi sosial masyarakat. Wallahu a’lam

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Read Full Post »

10 Muharram?

Amalan Apa Saja yang Dilakukan Terkait 10 Muharram?

Assalamualaikum.

Amalan apa yang seharusnya kita lakukan berkait dengan momen 10 Muharram? Benarkah semua itu tidak ada tuntunannya? Harap ustadz bisa menjelaskan duduk masalahnya, agar tidak menjadi perpecahan. Terima kasih.

Illal Albab
sie_illal at eramuslim.com

Jawaban

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh,

Dalam kitab I‘anatut Thalibin, salah satu kitab yang banyak digunakan dalam mazhab Asy-Syafi‘iyyah, pada jilid 2 hal 267, disebutkan bahwa memang banyak amal-amal yang sering dilakukan pada momentum bulan Muharram.

Beliau –An-Nawawi- mengutip nazham yang disusun anonim (tanpa nama pengarang) berkaitan dengan amalan di bulan Muharram itu yaitu:

صُم صلِّ صِلْ ثم اغتسل رأس اليتم امسح تصدق واكتحل

وسع على العيال قلم ظفر وسورة الإخلاص قل ألفا تصل

Puasalah, Shalatlah, Silaturrahim-lah, mandilah (sunnah) kepala anak yatim usaplah, bersedekahlah dan pakailah celak mata.

Luaskan belanja, potonglah kuku, kunjungi ulama, tengoklah orang sakit, bacalah surat Ihklas 1000 kali.

Namun penyusun kitab ini mengatakan bahwa hanya dua saja yang memiliki dasar kuat yaitu sunah puasa dan meluaskan belanja. Sedangkan selebihnya kebanyakan haditsnya dahif dan sebagian lagi mungkar maudhu‘.

  • Puasa Asyuro dan Tasu’a

Yang berkaitan dengan puasa adalah puasa sunah yaitu pada hari kesepuluh dan kesembilan di bulan itu. Sering juga disebut dengan ‘Asyuro dan Tasu‘a. Banyak sekali dalil yang menerangkan hal ini, antara lain:

Dari Abu Hurairoh RA ia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: “Shaum yang paling utama setelah shaum Ramadhan adalah shaum dibulan Alloh Muharram. Dan sholat yang paling utama setelah sholat fardhu adalah sholat malam” (HR Muslim 1162)

Dari Humaid bin Abdir Rahman, ia mendengar Muawiyah bin Abi Sufyan RA berkata: “Wahai penduduk Madinah, di mana ulama kalian? Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Ini hari Assyura, dan Alloh tidak mewajibkan shaum kepada kalian di hari itu, sedangkan saya shaum, maka siapa yang mau shaum hendaklah ia shaum dan siapa yang mau berbuka hendaklah ia berbuka” (HR Bukhari 2003)

Rasulullah SAW bersabda: “Shaumlah kalian pada hari ‘Assyura dan berbedalah dengan orang Yahudi. Shaumlah kalian sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya” (HR Ath-Thahawy dan Al-Baihaqy serta Ibnu Khuzaimah 2095)

Sedangkan amal lainnya –selain puasa dan meluaskan belanja- sebagaimana disebutkan oleh An-Nawawi, adalah amal yang dasar hukumnya lemah.

  • Meluaskan Belanja

من حديث أبي سعيد الخدري رضي الله عنه وفيه قال صلى الله عليه وسلم: ((من وسع على عياله يوم عاشوراء وسع الله عليه السنة كلها

Dari hadits Abi Said Al-Khudhri ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Siapa yang meluaskan belanja kepada keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan meluaskan atasnya belanja selama setahun.

Oleh sebagian ulama hadits, hadits ini dilemahkan, namun sebagian lainnya mengatakan hadits ini shahih, lalu sebagian lainnya mengatakan hasan. Yang menshahihkan di antaranya adalah Zainuddin Al-Iraqi dan Ibnu Nashiruddin. As-Suyuthi dan Al-Hafidz Ibnu Hajarmengatakan bahwa karena begitu banyaknya jalur periwayatan hadits ini, maka derajat hadits ini menjadi hasan bahkan menjadi shahih.

Sehingga Ibnu Taimiyah di dalam kitabnya Al-Ikhtiyarat termasuk yang menganjurkan perbuatan ini di hari Asyura.

  • Bersedekah

من حديث عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنه ـما أنه قال: ((من صام عاشوراء فكأنما صام السنة ومن تصدق فيه كان كصدقة السنة

Siapa yang puasa hari Asyura, dia seperti puasa setahun. Dan siapa yang bersedekah pada hari itu, dia seperti bersedekah selama setahun.

Pada hari itu juga disunnahkan untuk bersedekah, menurut kalangan mazhab Malik. Sedangkan mazhab lainnya, tidak ada landasan dalil yang secara khusus menyebutkan hal itu dan kuat derajat haditsnya.Karena mereka mendhaifkan hadits di atas.

Sebenarnya amal-amal itu semua baik-baik saja, selama tidak dikaitkan dengan momentum tertentu. Sehingga yang jadi titik masalah adalah dikaitkannya amal-amal itu dengan momen Muharram dengan keyakinan bahwa bila dilakukan di waktu lain, tidak sebesar itu pahalanya. Karena dasar haditsnya memang lemah, bahkan sebagian dhaif dan mungkar.

Namun kita harus pahami bahwa amaliyah seperti ini buat sebagain kalangan umat sudah diajarkan dan dipraktekkan, meski sebagian haditsnya dikritik oleh banyak kalangan. Dan selama masih ada kritik, sebenarnya merupakan ikhtilaf di kalangan ulama hadits.

Wallahu A‘lam Bish-Showab, Wassalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »

Parfum

Hukum Memakai Parfum

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh,
Ustadz Ahmad Sarwat, Lc. yth., dalam penjelasan Ustadz mengenai Hukum Makanan Hasil Peragian, secara sepintas telah Ustadz jelaskan bahwa tidak mengapa menggunakan parfum yang mengandung alkohol dalam shalat karena tidak termasuk benda najis. Saya ingin menanyakan mengenai hukum pemakaian parfum baik itu mengandung alkohol ataupun tidak mengandung alkohol; dan perbedaan hukumnya untuk wanita (Ibu) maupun pria (Bapak). Mohon diberikan penjelasan secara detail dengan dalil-dalilnya.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh,

Joko Pranowo
hafizhbc_9 at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Di luar dari kandungan alkoholnya, sesungguhnya penggunaan parfum adalah merupakan anjuran Rasulullah SAW, sehingga hukumnya sunnah. Dan memang sebenarnya parfum itu adalah sunnah para rasul, sebagaimana sabda beliau:

أربع من سنن المرسلين: الحناء, والتعطر, والسواك, والنكاح
Empat perkara yang merupakan sunnah para rasul: [1] Memakai hinna’, [2] memakai parfum, [3] bersiwak dan [4] menikah

Rasulullah SAW sendiri secara pribadi memang menyukai parfum, sebab beliau menyukai wewangian secara fitrah

حبب إلي من دنياكم: النساء والطيب, وجعلت قرة عيني في الصلاة
Telah dijadikan aku menyukai bagian dari dunia, yaitu menyukai wanita dan parfum. Dan dijadikan sebagai qurroatu a’yun di dalam shalat.

Bahkan di dalam beribadah, umat Islam dianjurkan untuk memakai wewangian, agar suasana ibadah bisa semakin khusu’ dan menyenangkan.

بن عباس رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن هذا يوم عيد جعله الله للمسلمين, فمن جاء منكم إلى الجمعة فليغتسل, وإن كان طيب فليمس منه, وعليكم بالسواك
Dari Ibni Abbas ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,’Hari ini (Jumat) adalah hari besar yang dijadikan Allah untuk muslimin. Siapa di antara kamu yang datang shalat Jumat hendaklah mandi dan bila punya parfum hendaklah dipakainya. Dan hendaklah kalian bersiwak.

Namun di sisi lain, ada juga dampak negatif dari pemakaian parfum ini, terutama bila dipakai oleh wanita. Sehingga bila dipakai secara berlebihan, hasilnya justru akan menimbulkan fitnah tersendiri. Karena penggunaan parfum buat wanita agak sedikit dibatasi, demi menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, terutama masalah fitnah hubungan laki-laki dan wanita.

Karena itulah Rasulullah SAW menetapkan bahwa bila wanita memakai parfum, hendaknya menggunakan yang aromanya lembut, bukan yang menyengat dan menarik minat laki-laki.

عن أبي هريرة رضي الله عنه طيب الرجال ما ظهر ريحه وخفي لونه, وطيب النساء ما خفي ريحه وظهر لونه رواه الترمذي والنسائي
Dari Abi Hurairah ra, “Parfum laki-laki adalah yang aromanya kuat tapi warnanya tersembunyi. Parfum wanita adalah yang aromanya lembut tapi warnanya kelihatan jelas. (HR. At-Tirmizi dan Nasa’i)

Bila sampai demikian, maka Rasulullah SAW sangat melarangnya, bahkan sampai beliau mengatakan bahwa wanita yang berparfum seperti itu seperti seorang pezina.

أيما امرأة استعطرت, فمرت بقوم ليجدوا ريحها فهي زانية
Siapa pun wanita yang memakai parfum lalu melenggang di depan laki-laki agar mereka menghirup bau wanginya, maka wanita itu adalah wanita pezina.

Karena itu maka bagi para wanita, sebaiknya mereka agak mengurangi volume penggunaannya. Kalau pun harus menggunakannya, maka pilihlah yang soft (lembut) dan tidak terkesan terlalu keras. Juga harus diperhatikan agar jangan sampai terlalu dekat dengan laki-laki dalam pergaulan, agar jangan sampai jatuh pada ancaman dari Rasulullah SAW.

Wallahu a’alm bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Read Full Post »

Nabi Isa

2 Kali Hidup dan 2 Kali Wafat?

Selasa, 28 Peb 06 10:21 WIB Assalamu’alaikum,

Menurut Al-Quran Nabi Isa saat ini sudah wafat (3:55, 5:177, 19:33) dan juga berdasarkan (3:144, 39:30, 21:34). Kemudian ada hadits Nabi SAW yang menyatakan bahwa suatu saat nanti Isa akan turun lagi ke dunia.
Jika demikian artinya Nabi Isa (satu-satunya) manusia yang mengalami 2 kali hidup (di dunia) dan juga 2 kali mengalami kematian sebelum kiamat terjadi.
Artinya juga beliau adalah orang pertama yang dibangkitkan Allah SWT dari kematian di dunia. Bisakah disimpulkan demikian? Mohon pendapat dari pak Ustadz. Terima kasih.

Wassalam,

Gunawan
gundala at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Pernyataan bahwa nabi Isa as adalah orang yang pertama kali dibangkitkan seteah kematian di alam dunia ini kurang tepat. Sebab kembalinya beliau sampai hari belum lagi terjadi. Beliau baru akan muncul nanti menjelang kiamat kubra menjelang. Jadi entah masih berapa lama lagi.

Sementara itu, tahukah anda bahwa di zaman nabi Isa as masih hidup, atas izin Allah SWT, beliau sendiri malah pernah menghidupkan orang mati? Orang yang sudah mati atas mukjizat yang Allah berikan kepadanya, bisa dibuat kembali menjadi hidup.

Dan Rasul kepada Bani Israil: “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.(QS. Ali Imran: 49)

Berati nabi Isa as bukanlah orang yang pertama datang dari kematian, sebab di masa lalu ternyata sudah ada orang yang kembali dari kematian.

Dan cerita tentang hidup kembalinya orang mati ternyata bukan semata-mata terjadi di zaman itu saja, di ayat lainnya di Al-Quran banyak disebutkan tentang kisah bagaimana Allah SWT menghidupkan kembali orang mati di alam dunia ini. Dan kalau kita menyebut surat Al-Baqarah yang artinya sapi betina, ternyata latar belakang kisahnya terkait dengan bagaimana hidup kembalinya orang mati di dunia ini.

Lalu Kami berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dam memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaanNya agar kamu mengerti .(QS. Al-Baqarah: 73)

Latar belakang penamaan surat ini bernama surat Al-Baqarah adalah adanya seorang yang mati terbunuh tanpa ketahuan siapa yang membunuhnya. Orang-orang lantas meminta kepada nabi Musa as agar Allah SWT memberitahukan identitas pembunuhnya.

Lalu Allah SWT memberi syarat agar orang-orang menyembelih terlebih dahulu seekor sapi betina. Singkat cerita, setelah melewati kejadian pembangkangan dan keengganan Bani Israil, akhirnya sapi betina itu disembelih, lalu bagian tubuhnya dipukulkan kepada mayat itu, lalu mayat itu pun bangun dari kematiannya dan menjelaskan siapa pembunuhnya.

Di ayat lainnya juga Allah SWT mengisahkan tentang orang yang dimatikan selama 100 tahun, kemudian dihidupkan kembali.

Atau apakah orang yang melalui suatu negeri yang telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledai kamu; Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala telah nyata kepadanya diapun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Baqarah: 259)

Apakah Nabi Isa as Saat Ini ‘Sedang’ Wafat?

Sementara itu di kalangan para ulama sendiri masih berkembang perdebatan tentang status kematian beliau. Benarkah nabi Isa as telah wafat, ataukah beliau hidup sekarang ini namun di atas langit.

Ada ayat Al-Quran yang menyebutkan kematian beliau antara lain adalah:

Ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku mematikan kamu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya.” (QS. Ali Imran: 55)

Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. (QS. Al-Maidah: 117)

Pada surat Ali Imran ayat 55 di atas juga disebutkan tentang ‘pengangkatan‘ beliau. Di mana para ulama kemudian berbeda pendapat tentang yang dimaksud dengan pengangkatan ini. Apakah diangkat derajatnya ataukah diangkat pisiknya.

Kalau diangkat derajatnya, bukankah semua nabi pun diangkat derajatnya oleh Allah SWT. Sehingga yang lebih kuat terlintas dalam benak tentang pengangkatan ini adalah pengankatan secara pisik. Dan secara umum, yang namanya diangkat itu adalah ke atas, yaitu ke langit. Pendapat ini kelihatan lebih kuat, yaitu bahwa nabi Isa as diangkat ke langit sebagai sebuah bentuk penyelamatan dari Allah atas upaya pembunuhan.

Dan kalau dikatakan bahwa saat itu nabi Isa dimatikan Allah SWT, juga kurang tepat. Sebab buat apa Allah SWT menyelamatkannya, tetapi kemudian dimatikan? Yang namanya penyelamatan itu adalah selamat dari kejahatan dan kematian. Sehingga umumnya ulama berpandangan bahwa nabi Isa as tidak wafat dalam peristiwa itu, melainkanbeliau diselamatkan dengan cara diangkat ke langit dan hidup di sana.

Sampai akhir zaman nanti beliau akan kembali diturunkan ke bumi menjadi bagian dari umat Islam.

والذي نفسي بيده ليُوشِكَنَّ أن ينزل فيكم ابن مريم حَكَمًا عدلاً مُقْسطًا، فيكسر الصليب، ويقتل الخنزير ويضع الجزية

Rasulullah SAW bersabda,”Demi Allah Yang jiwaku berada di tangan-Nya, nyaris akan segera diturunkan di tengah kalian Isa putera Maryam menjadi hakim yang adil dan menegakkan keadilan. Beliau akan menghancurkan salib, membunuh babi, menetapkan jizyah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun semua ini memang menarik banyak kalangan untuk berpendapat,serta ada banyak wacana yang diajukan tentang hal-hal seperti ini. Namun perbedaan pendapat dalam hal seperti ini sama sekali tidak terkait dengan masalah iman yang mendasar, lebih merupakan masalah tambahan yang bersifat informatif. Untuk itu anda boleh membaca beberapa kita yang menampung sekian banyak versi penafsiran tentang keadaan Nabi Isa as di dalam kitab Syarah Az-Zarqani ‘ala Mawabih Al-Ladunniyyah dan juga kitab At-Taudhih fi Tawatur Ma Jaa’a fi Muntazhar wa Ad-Dajjal wa Al-Masih karya Asy-Syaukani.

Wallahu a’lam bishshawab, Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Read Full Post »

Older Posts »