Feeds:
Posts
Comments

Archive for January 4th, 2007

Yesus Berpoligami (?)

YESUS BERPOLIGAMI (?)
Oleh : Fakta 04 Jan 2007 – 2:50 am

Dengarkan ceramah Dr. H. Sanihu Munir : Yesus berpoligami :sound
Dalam antropologi sosial, Poligami merupakan praktik pernikahan kepada lebih dari satu istri atau suami. Terdapat tiga bentuk poligami, yaitu : Poligini ( Seorang pria memiliki beberapa orang istri); Poliandri ( Seorang wanita memiliki beberapa orang suami ) dan Group Marriage atau Group Family ( yaitu gabungan dari poligini dengan poliandri, misalnya dalam satu rumah ada lima laki-laki dan lima wanita, kemudian bercampur secara bergantian ). Ketiga bentuk poligami itu ditemukan dalam sejarah manusia, namun poligini merupakan bentuk paling umum. Poligami ( dalam makna Poligini ) bukan semata-mata produk syariat Islam. Jauh sebelum Islam datang, peradaban manusia di berbagai belahan dunia sudah mengenal poligami.

Nabi Ibrahim as beristri Sarah dan Hajar, Nabi Ya’qub as beristri : Rahel, Lea, dan menggauli dua budak/hamba sahayanya : Zilfa dan Bilha. Dalam perjanjian lama Yahudi Nabi Daud as disebut-sebut beristri 300 orang.

Dalam sejarah, raja-raja Hindu juga melakukan poligami dengan seorang permaisuri dan banyak selir. Dalam dunia gereja juga dikenal praktik poligami, Dewan tertinggi Gereja Inggris sampai abad sebelas membolehkan poligami.

Dalam Katholik sejak masa kepemimpinan Paus Leo XIII pada tahun 1866 poligami mulai dilarang. Dalam The Book of Mormon, Triatmojo, menjelaskan bahwa Penganut Mormonisme sebuah aliran Kristen, pimpinan Joseph Smith sejak tahun 1840 hingga sekarang mempraktikan bahkan menganjurkan poligami.

Bangsa Arab sebelum Islam datang sudah biasa berpoligami , ketika Islam datang, Islam membatasi jumlah istri yang boleh dinikahi. Islam memberi arahan untuk berpoligami yang berkeadilan dan sejahtera. Dalam Islam Poligami bukan wajib, tapi mubah, berdasar antara lain QS An-Nisa : 3 .

Muhammad Abduh (1849-1905 ) adalah satu dari sedikit ulama yang mengharamkan poligami, dengan alasan bahwa syarat yang diminta adalah berbuat adil, dan itu tidak mungkin bisa dipenuhi manusia seperti dinyatakan dalam QS An-Nisa : 129 ( Tafsier Al-Manar, Dar Al-Fikr, tt, IV: 347-350 ) Abduh yang mantan Syeikh Al-Azhar ini menjelaskan tiga alasan haramnya poligami : Pertama, Syarat poligami adalah berbuat adil, syarat ini mustahil bisa dipenuhi seperti dikatakan dalam QS An-Nisa : 129. Kedua, buruknya perlakuan para suami yang berpoligami terhadap para istrinya, karena mereka tidak dapat melaksanakan kewajiban memberi nafkah lahir dan batin secara baik dan adil. Ketiga, dampak psikologis anak-anak hasil poligami, mereka tumbuh dalam kebencian dan pertengkaran karena ibu mereka bertengkar baik dengan suami atau dengan istrinya yang lain. ( Al-‘Amal Al-Kamilah lil-imam Al-Syeikh Muhammad Abduh, Cairo, Dar Al-Syuruk, 1933 , II: 88-93 ) .

Argumen Abduh inilah yang sering diusung oleh kaum sekuler liberal, untuk menolak poligami, disamping dalih utama mereka adalah HAM dan Gender Equality ( Kesetaraan Gender ). Padahal keadilan yang mustahil bisa dilakukan manusia bukan keadilan dalam segala hal. Seperti dikatakan sahabat Ibnu Abbas ra, adalah keadilan dalam hal mahabbah dan ghirah kepada istri-istri. Yang dituntut oleh QS. An-Nisa : 3 adalah keadilan dalam memberi nafkah. ”
“Adil ” juga tidak identik dengan ” sama “. Ketika kabar Aa Gym menikah lagi dengan AlFarini Eridani muncul ke media bersamaan dengan beredarnya video mesum yang dilakukan penyanyi dangdut Maria Eva dengan Seorang anggota DPR dari Partai Golkar Yahya Zaini, reaksi keras, dan emosional dari berbagai kalangan, khususnya pengusung gerakan feminisme sekuler, lebih banyak dialamatkan kepada pelaku poligami yang dalam Islam hukumnya mubah. Sampai ada Koalisi Perempuan Kecewa Aa Gym (KPKAG). Presiden SBY pun seperti kebakaran jenggot, sampai harus memanggil mentri UPP Meutia Hatta dan Dirjen Bimas Islam Nasaruddin Umar untuk merevisi PP !0/1983 agar tidak hanya berlaku bagi TNI/Polri dan PNS saja, tapi bisa diperluas hingga menjangkau kaum swasta.

Anehnya, Baik Presiden SBY, Meutia, Nasaruddin dan mereka yang antipoligami tidak merasa resah dan prihatin atas ” Poligami liar ” model Maria Eva dan Yahya Zaini, yang jelas-jelas haram. Kenapa kaum feminis tidak merasa sakit hati diperlakukan seperti barang dagangan, setelah hamil dipaksa harus menggugurkan kandungannya, lantas dimana moral obligation mereka ? Mestinya yang harus diperketat dan diperberat bukan aturan poligami, tapi aturan dan hukuman bagi pelaku ” Selingkuh “, atau ” Teman Tapi Mesum ” yang pelakunya bisa dipastikan jauh lebih banyak dari pada pelaku poligami.

Aturan seperti PP 10/1983 yang melarang PNS berpoligami telah menciptakan opini umum dan pencitraan bahwa poligami seakan sebuah tindakan kriminal yang keji dan amoral yang harus diberantas sampai tuntas. Apalagi dengan persyaratan bathil yang sama sekali tidak rasional saking super sulitnya. Pada hakikatnya dengan peraturan model PP 10/1983 ini pemerintah RI telah ” mengharamkan ” poligami. Selain harus seizin istri pertama dan izin atasan, istri pertama haruslah : 1) Tidak mampu menjalankan tugasnya sebagai istri; 2) Berpenyakit permanen; 3 ) Tidak berketurunan. Maka jangan kaget, jika pada akhirnya banyak di antara mereka yang menempuh jalan haram dan terkutuk.

Dalam Katholik Pastur termasuk Paus jangankan berpoligami, mereka menikahpun tidak. Sebuah sikap dan tradisi yang sudah dipertahankan selama hampir dua ribu tahun. Diantara alasannya karena Tuhan (Yesus) tidak menikah, maka sebagai pelayan Tuhan mereka tidak menikah. Kebanyakan kaum muslimien juga mempercayai bahwa Nabi Isa as tidak menikah. Menurut pandangan banyak kristolog, keyakinan itu lebih banyak dipengaruhi oleh ajaran Katholik tadi. QS. Ar-Ra’du : 38 yang menyatakan bahwa Allah telah mengutus banyak Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad saw. dan telah memberikan kepada para Nabi dan Rasul itu istri dan keturunan, tak terkecuali Nabi Isa as.

Dan Brown dalam bukunya The Davinci Code menyebut nama Maria Magdalena sebagai istri Yesus, yang ketika (orang yang diserupakan) Yesus disalib, ia sedang hamil tua. Kemudian atas bantuan paman Yesus bernama Yosep dari Arimatea ia dibawa keluar dari Yarusalem menuju Prancis. Ia dititipkan pada sebuah keluarga Yahudi . Ia melahirkan seorang anak perempuan yang kemudian diberi nama Sarah. Setelah Sarah dewasa ia menikah dengan seorang bangsawan Prancis. Dari pernikahan dua bangsawan ini melahirkan sebuah marga bangsawan baru yang dikenal dengan nama Merovingian.

Mereka sampai hari ini masih mempertahankan sebuah aliran gereja bernama Churh of Sion yang pemuka agamanya adalah perempuan, meneruskan kepemimpinan Maria Magdalena. Seorang sejarawan dan pakar theology dan Al-Kitab bernama Prof Dr Barbara Theiring dari Sidney, Australia, yang selama 20 tahun mendalami Naskah Laut Mati, yakni sebuah naskah tua Injil tertua yang ditemukan di laut Mati, dalam buku yang kemudian ditulisnya “Jesus The Man” berkesimpulan bahwa Yesus itu bukan hanya menikah tapi juga berpoligami.

Upacara pernikahan Yesus oleh pihak gereja sengaja dikaburkan. Dalam injil Lukas 7:37-38 dijelaskan bahwa Maria Magdalena membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi, sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kakinya, lalu membasahi kakinya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kakinya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Ini adalah upacara pernikahan bangsawan Yahudi. Dalam Injil dikaburkan seolah-olah Maria Magdalena adalah seorang perempuan pendosa yang datang meminta ampun kepada Yesus. Menurut Barbara seorang perempuan mencium laki-laki yang bukan muhrimnya dalam agama Yahudi hukumannya adalah hukuman mati. Tapi kenapa Maria Magdalena tidak dihukum ? Karena ini merupakan upacara pernikahan Yesus.

Prof . Dr . Barbara Theiring dalam bukunya Jesus and The Riddle of The Dead Sea Scroll, Harper San Fransisco, 1992, menjelaskan kronologi perkawinan Yesus. Perkawinan pertama (kawin gantung) dengan Maria Magdalena diselenggarakan pada hari Jum’at 22 September 30 M pukul 18.00 di Ain Feskhah (Palestina). Perkawinan kedua ( Pesta Walimah ) dengan Maria Magdalena berlangsung pada 19 Maret 33 M pk. 24.00 di Ain Feskhah. Yesus juga menikah dengan istri kedua bernama Lidya pada malam Selasa 17 Maret 50 M. Jika semua ini benar, maka tidak ada alasan bagi Pastur termasuk Paus untuk tidak menikah. Wallahu’alam. (persis)

Oleh : Shiddiq Amien – swaramuslim.net

Advertisements

Read Full Post »

Saddam Hussein Mati Syahid

Mantan Mufti Mesir: Saddam Hussein Mati Syahid

Kamis, 4 Jan 07 12:01 WIB
DR. Nashr Farid Washil, Mantan Mufti Mesir mengatakan mantan presiden Saddam Husein mati syahid. Tentu bukan tanpa alasan. Ia menyebutkan alasan tersebut, antara lain secara lahir Saddam memiliki hubungan baik dengan Allah swt, bahkan di saat-saat akhir menjelang ajalnya di tiang gantung.
Karena itulah mantan mufti Mesir itu membolehkan kaum Muslimin melakukan shalat ghaib, terlebih Saddam sampai menjelang kematiannya masih dalam konteks mempertahankan tanah airnya melawan penjajah Amerika. Dan Saddam, di ujung hayatnya adalah Muslim.

Menurut Dr. Washil, dalam keterangan yang dikutip harian Al-Mashr Al-Yaom, terbitan Kairo, eksekusi mati Saddam Husein di pagi hari Idul Adha adalah penghinaan atas kaum Muslimin dan pemerintahan mereka. “Ini adalah aib dalam sejarah umat Islam. Para pemimpin dan penguasa Arab adalah simbol yang harus dihormati meskipun mereka melakukan kesalahan. Semua penguasa mempunyai sisi negatif yang keluar dari syariat Islam,” ujarnya.

Ia menambahkan, hukum Islam sendiri mempunyai berbagai syarat untuk pelaksanaan hukum qishash. Di mana harus ada konfirmasi lebih dari satu kali dari para saksi berikut keterangan dari pelaku pidana. “Islam bahkan juga melarang pelaksanaan qishash pada hari raya Ied. Karena pada hari itu Islam memerintahkan semua orang untuk bergembira,” tambahnya.

Menurut Washil, eksekusi hukuman mati bagi Saddam bisa jadi sebagai bagian dari kafarat yang akan menghapuskan dosa-dosa Saddam di masa hidupnya. Dan setiap manusia pasti mempunyai dosa dan keburukan. (na-str/akhbrn) eramuslim.com

Read Full Post »

Wali Nikah Bukan Muslim

Kamis, 4 Jan 07 07:11 WIB
Assalammualaykum wr wb…

ada dua hal yang ingin saya tanyakan ke ustadz, antara lain:

1.Bagaimana hukumnyawali seorang wanita yang mana orang tuanya non muslim? terus solusi yang dapat diambil bagaimana agar pernikahan tersebut sah menurut syariat Islam, dan apakah kita tetap punya kewajiban untuk minta ridho keduanya?

2. Bagaimana kewajiban anak kepada orangtuanya yang non muslim tersebut?

demikian saja ustadz atas segala kebaikannya

saya haturkan: jazakallah khairan jaza’.

Wassalammu’alaykum wr. wb…

marzalrakhmadi
marzalrakhmadi at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ada 4 syarat mendasar yang harus terpenuhi agar seseorang bisa menjadi wali nikah, yaitu:

1. Islam

Seorang ayah yang bukan beragama Islam tidak menikahkan atau menjadi wali bagi pernikahan anak gadisnya yang muslimah. Begitu juga orang yang tidak percaya kepada adanya Allah SWT (atheis). Dalil haramnya seorang kafir menikahkan anaknya yang muslimah adalah ayat Quran berikut ini:

Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.(QS. An-Nisa: 141)

2. Berakal

Seorang yang otaknya kurang waras, idiot atau gila tidak syah bila menjadi wali bagi seorang wanita.

3. Bulugh

Seorang anak kecil yang belum pernah bermimpi atau belum baligh, tidak syah bila menjadi wali bagi saudara wanitanya atau anggota keluarga lainnya.

4. Merdeka

Seorang budak tidak syah bila menikahkan anaknya atau anggota familinya, meski pun beragama Islam, berakal, baligh.

Tentang syarat yang pertama yaitu keharusan seorang wali nikah itu beragama Islam, berlakudengan satu pengecualian, yaitu pernikahan antara seorang laki-laki muslim dengan wanita ahli kitab yang ayahnya juga seorang ahli kitab.

Dalam kasus itu, syarat keIslaman wali tidak berlaku, lantaran Al-Quran secara tegas menghalalkan laki-laki muslim menikahi wanita ahli kitab. Silahkan simak pada ayat berikut ini:

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ حِلٌّ لَّكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلُّ لَّهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلاَ مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ وَمَن يَكْفُرْ بِالإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

(Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu (QS. Al-Maidah: 5)

Maka seorang non muslim ahli kitab (yahudi atau nasrani) boleh menjadi wali nikah, asalkan anak gadisnya yang akan dinikahkan itu beragama yahudi atau nasrani.

Namun bila anak gadis itu sudah masuk Islam, justru ayahnya yang masih non muslim tidak boleh menjadi wali nikahnya. Harus dicarikan wali yang lain dari keluarganya terlebih dahulu, yang tentunya masih ada rentetan hubungan perwalian. Dafar mereka secara berurutan adalah:

  • Ayah kandung
  • Kakek, atau ayah dari ayah
  • Saudara (kakak/ adik laki-laki) se-ayah dan se-ibu
  • Saudara (kakak/ adik laki-laki) se-ayah saja
  • Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah dan se-ibu
  • Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah saja
  • Saudara laki-laki ayah
  • Anak laki-laki dari saudara laki-laki ayah (sepupu)

Bila dari daftar orang-orang di atas tidak terdapat juga yang beragama Islam, maka yang berhak menjadi wali adalah penguasa yang sah.

Sikap Kepada Orang Tua Yang Non Muslim

Seorang muslim yang kebetulan punya orang tua non muslim, baik orang tua langsung atau mertua, tetap diwajibkan untuk menghormati dan mentaatinya dengan sebaik-baiknya. Kecuali bila perintah dan kehendaknya bertabrakan dengan aqidah dan syariah Islam. Maka dalam kasus itu tidak ada ketaatan dalam rangka maksiat kepada Al-Khaliq (Allah SWT).

Bahkan akan lebih baik lagi bila bisa bergaul dengan baik serta meraih simpatinya. Yang demikian itu akan membuat hatinya lunak dan semakin percaya terhadap kebenaran agama Islam.

Sebaliknya, bila kita bersikap ‘lain’ kepada orang tua yang masih non muslim, apalagi memperlakukannya dengan cara kasar, tidak sopan, atau bahkan kurang menghormati dan mengambil hatinya, boleh jadi mereka semakin anti pati terhadap Islam.

Jangan sampai kita menjadi penghalang orang lain untuk mendapat hidayah Allah, karena sikap-sikap kita yang kurang pada tempatnya.

Bahkan Rasulullah SAW ada sosok yang paling diberi banyak pujian oleh orang-orang musyrikin Makkah. Gelar Al-Amien yang sejak belia disandang, tetap melekat bahkan setelah beliau menjadi nabi dan dimusuhi lawannya. Tapi lawan-lawannya itu justru sangat mempercayai beliau untuk menitipkan harta dan barang kekayaan mereka. Hingga salah satu alasan keterlambatan beliau dalam berhijrah ke Madinah karena beliau sibuk mengembalikan titipan-titipan milik lawannya.

Bayangkan, lawan yang memusuhinya justru mempercayakan penitipan barang kepada dirinya. Tentu ini sebuah akhlaq yang teramat terpuji dan tidak ada tandingannya. Pantas saja Islam begitu mempesona dan membuat banyak pihak berdecak kagum. Ternyata rahasianya ada di tangan pribadi para pemeluk Islam itu sendiri, yang termasyhur dengan kesantunannya, keramahannya, kebaikan hatinya, serta selalu memberikan kesempatan kepada siapapun untuk mengagumi Islam lewat penerapan akhlaq yang indah.

Maka sudah selayaknya, keindahan akhlaq nabi SAW dalam bergaul dengan kalangan kafir kita jadikan teladan dan panutan serta contoh implemantatif. Bukanlah hal yang benar jika kita selalu menampilkan wajah Islam yang kasar, keras, antipati, sok benar sendiri, atau mudah melecehkan orang lain dan seterusnya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Read Full Post »