Feeds:
Posts
Comments

Archive for January 2nd, 2007

Sembilan Pelajaran

Ibadah Haji

1 Jan 07 11:11 WIB
Oleh Mochamad Ilyas

Berbagai ibadah yang Allah perintahkan kepada hamba-Nya sudah barang tentu mengandung hikmah besar di dalamnya, tanpa terkecuali ibadah haji. Ibadah yang kerap disebut sebagai napak tilas spiritual Nabi Ibrahim ini mengajarkan banyak hal kepada kita. Setidaknya ada 9 mutiara hikmah yang dapat digali dari ibadah haji ini.

Pertama, Imam Bukhari dan yang lainnya meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dikatakan bahwa penduduk Yaman ketika itu hendak menunaikan ibadah haji. Sementara itu mereka sama sekali tidak membawa perbekalan. Dengan entengnya mereka mengatakan, “Kami orang-orang yang bertawakkal.” Sikap orang Yaman itu mendapat teguran dari Allah. Sehingga turunlah firman Allah, “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa…,” (2:197). Lantas para ahli tafsir mengatakan, maksud bekal di sini adalah perbekalan maaliyyah (finansial) sehingga para jamaah tidak melakukan perbuatan hina dengan minta-minta dan mengemis selama perjalanan ibadah haji. Jadi jelas sekali di sini Allah secara implisit mengaitkan tindakan untuk tidak minta-mintadan mengemis denganketakwaan. Artinya, salah satu wujud ketakwaan itu adalah memelihara diri dari perbuatan minta-minta dan mengemis. Tampaknya, Allah ingin agardalam ibadah itu tidak dikotori perbuatan hina.Karena itu, kita sangat prihatin maraknya perbuatan ‘minta-minta massal’ yang dipertontonkan oleh sebagain kalangan umat Islam di jalanan dengan dalih untuk pembangunan masjid, terlebih lagi dengan sedikit memaksa. Di samping tindakan seperti itu mengganggu ketertiban umum, juga akan mengesankan bahwa Islam melegalkan perbuatan minta-minta dan mengemis. Bukankah Islam mengatakan ‘tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah’.

Kedua, adalah sudah menjadi kebiasaan orang-orang Arab jahiliyyah setelah menunaikan ibadah haji mereka menyebut-nyebut kemegahan nenek moyang mereka. Kemudian Allah meluruskan kebiasaan tersebut. Firman-Nya, “Apabila kalian telah menuntaskan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah sebagaimana kalian menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu atau bahkan berdzikir lebih banyak dari itu…,”(2:200). Dengan demikian, attajarrud lidzikrillaah (totalitas dalam berdzikir) dalam rangkaian ibadah haji tidak lantas hilang dalam kehidupan keseharian kita. Manakala seseorang berdzikir (mengingat) Allah dalam perilaku sehari-harinya, maka dirinya akan merasa diawasi, sehingga diharapkan akan timbul rasa takut kepada Allah jika hendak melakukan perbuatan-perbuatan maksiat. Untuk memupuk dzikrullaah ini, Rasulullaah telah memberikan panduan kepada kita, yaitu amalan dzikir beliau setiap pagi dan petang hari.

Ketiga, ibadah haji merupakan napak tilas ajaran Nabi Ibrahim, Bapak Para Nabi (Abu al-Anbiyaa). Nilai terpenting dari napak tilas itu adalah pengorbanan (at-Tadhhiyyah). Dengan pengorbanan ini kita diajak untuk mengenyahkan ego kita yang cenderung kepada hawa nafsu. Pengorbanan yang disimbolkan dengan penyembelihan Nabi Ismail menunjukkan betapa Ibrahim telah berhasil mengenyahkan ego kepemilikan mutlak Ismail di tangannya. Tentu untuk sampai ke sana Ibrahim bukan tanpa godaan dan hambatan. Setan terus menggodanya sehingga Ibrahim melempar setan itu untuk tidak menggodanya lagi. Pergumulan antara setan dengan Ibrahim itu kemudian diabadikan dengan melontar jumrah. Artinya, kita dituntut untuk melemparkan ego kita yang cenderung kepada hawa nafsu, keserakahan, dan kerakusan. Kita dituntut belajar berkorban untuk orang lain, berjiwa sosial, dan berlapang dada. Nilai-nilai seperti itu kini makin terkikis pada masyarakat kita yang individualis. Padahal Rasulullah melukiskan masyarakat Muslim itu seperti satu raga, yang apabila salah satu anggota raga itu sakit maka raga yang lainnya pun ikut merasa sakit.

Keempat, pada saat ibadah haji sekitar 3 juta Muslim dari seluruh dunia berkumpul. Mereka berasal dari berbagai negara, suku bangsa, budaya, profesi, status sosial, warna kulit dan sekat-sekat duniawi lainnya. Mereka bergerak kompak dari Mina, Arafah, Muzadlifah dan Makkah. Takbir, tahlil dan tahmid bergema dari lisan-lisan mereka. Tak ada huru-hara dan pertikaiaan. Maka wajar saja, seperti diriwayatkan Ibnu Hisyam, Rasulullah berpesan dalam haji wada’nya, “Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian satu, nenek moyang kalian satu, kalian semua berasal dari Adam, dan Adam itu dari tanah, yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian, tidaklah orang Arab atas non Arab dan tidak pula non Arab atas orang Arab, tidak pula orang berkulit merah atas orang yang berkulit putih, tidak pula orang yang berkulit putih atas orang yang berkulit merah itu ada kelebihan kecuali dengan takwa.” Seolah-olah Al-Mushtafa mengisyaratkan ibadah haji ini mengajarkan akan pentingnya nilai-nilai al-Musawaah (egaliter), yang pada gilirannya akan membangun rasa persatuan dan perdamaian. Dengan berkumpulnya jutaan Muslim dalam ibadah haji ini, seharusnya menjadi modal dasar wihdatul ummah yang saat ini lenyap dari umat Islam.Saat ini ummat Islam tercabik-cabik tanpa adanya persatuan, sehingga kekuatannya tercerai berai.

Kelima, ibadah haji merupakan syukur atas nikmat Allah yang berlimpah. Dari nikmat-nikmat Allah yang tak terhingga, setidaknya nikmat Allah itu dapat dikelompokkan kepada tiga jenis: nikmat keimanan, kekayaan dan kesehatan. Dan ibadah haji adalah wujud yang paling mewakili dari berbagai ibadah yang ada untuk mensyukuri ketiga nikmat tersebut. Pasalnya, ibadah haji adalah panggilan keimanan, yang merealisasikannya perlu perbekalan materi yang cukup ditambah fisik yang sehat. Maka tak heran ibadh haji disebut ibadah ruuhiyyah sekaligus ibadah jasadiyyah dan maaliyyah.

Keenam, ibadah haji merupakan sarana paling efektif bagaimana seorang Muslim menyaksikan berbagai manfaat, dari yang terbesar sampai ke hal-hal kecil. Di sana ada kebersamaan, pengorbanan, saling mengenal, persaudaraan, persamaan, persatuan, toleransi, penghormatan dan keragaman. Selain manfaat di atas, sudah barang tentu juga manfaat-manfaat material. Karena itu, berniaga saat berhaji bukanlah sebuah dosa.

Ketujuh, ibadah haji akan menumbuhkan spirit keprajuritan (ruuhul jundiyyah). Laksana tentara yang siap siaga memenuhi panggilan sang komandan, demikian pula jamaah haji. Tatkala niat dipancangkan, tekad dibulatkan, mereka pun serantak dengan sigap menjawab seruan ilahi, ”Labbaaikallohumma labaik, labbaik laa syarikala labbaaik…” Ya Allah, aku sambut panggilan ya Allah. Ya Allah, tidak sekutu bagiMu ya Allah.

Kedelapan, ibadah haji merupakan pestival tahunan agama Islam. Ummat Islam dari pelosok bumi datang ke Tanah Haram. Ragam budaya, adat istiadat dan warna-warni madzhab peribadatan tersuguhkan di Tanah Haram. Dengan demikian, jika kita hendak melihat miniatur Muslim seluruh dunia, maka perhatikanlah pestival haji tahunan itu.

Terakhir, haji sebagai konferensi Islam internasional. Inilah konferensi tahunan dengan jumlah peserta terbanyak dalam sejarah panggung kehidupan dunia. Jutaan orang berkumpul tanpa perlu diundang setiap tahunnya. Bagi Allah, cukuplah dengan undangan tertulis sekali saja. “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji…”(22:27).

Demikianlah butir-butir dari sebagian hikmah ibadah haji, yang kalau diamati meliputi segenap aspek kehidupan manusia. Semoga saja kita semua dapat mengambil hikmah itu, untuk kemudian dijadikan pola kehidupan keseharian kita. Semoga…

(eramuslim.com)

Advertisements

Read Full Post »

Pengarahan Ringkas U/ Jama’ah Haji

KEWAJIBAN-KEWAJIBAN BAGI JAMA’AH HAJI 

[1] Agar segera bertobat kepada Allah dengan sebenar-benarnya dari segala dosa, dan memilih harta yang halal untuk ibadah haji dan umrahnya.

[2] Agar menjaga lidahnya dari dusta, menggunjing, mengadu domba dan menghina orang lain. 

[3] Dalam melaksanakan haji dan umrahnya, hendaklah bermaksud untuk mendapatkan ridha Illahi dan pahala akhirat, jauh dari rasa ingin dipandang, ingin tersohor dan berbangga diri.

[4] Hendaklah mempelajari amalan-amalan yang disyariatkan dalam haji dan umrah, dan menanyakan hal-hal yang kurang jelas baginya. 

[5] Apabila telah sampai di miqat, diperbolehkan memilih antara haji Ifrad, Tammatu’ dan Qiran. Haji Tammatu’ lebih utama bagi yang tidak membawa binatang kurban, sedang bagi yang membawanya, lebih utama baginya melaksanakan haji Qiran.

[6] Seseorang yang berihram, apabila ia merasa khawatir tidak dapat melanjutkan ibadah hajinya dikarenakan sakit, atau musuh, atau karena sebab lain, maka disyaratkan ketika berihram mengucapkan : “Inna mahallii haistuu habastanii” Artinya : Tempat tahallulku adalah di tempat ku tertahan”. 

[7] Anak-anak yang masih kecil haji mereka adalah sah, hanya saja haji semacam itu belum termasuk haji fardhu.

[8] Orang yang sedang berihram boleh mandi dan membasuh kepalanya atau menggaruknya dikala perlu. 

[9] Bagi wanita yang sedang berihram diperbolehkan untuk menutup wajahnya dengan kerudung apabila takut dilihat kaum pria.

[10] Mengenakan ikat kepala dibawah kerudung agar mudah sewaktu membuka wajah, sebagaimana yang sering dilakukan oleh sebagian kaum wanita, tidak ada dasarnya dalam syari’at. 

[11] Bagi yang sedang berihram boleh mencuci kain ihramnya kemudian mengenakannya kembali dan boleh juga menggantinya dengan yang lain.

[12] Seseorang yang sedang berihram, apabila ia mengenakan pakaian berjahit atau menutupi kepalanya atau memakai wangi-wangian karena lupa atau pun karena tidak tahu akan hukumnya, maka ia tidak dikenakan fidyah. 

[13] Bagi yang melakukan haji Tamattu’ atau umrah, hendaklah menghentikan bacaan talbiyah apabila ia sampai di Ka’bah sebelum memulai Tawaf.

[14] Ramal (lari-lari kecil) dan Idhtiba’ (mengenakan selendang ihram dengan meletakkan sebagiannya di atas pundak kiri, dan bagian lain disebelah ketiak kanan), hanya dilakukan pada Tawaf Qudum saja, dan ramal itu dikhususkan pada tiga putaran pertama, lagi pula untuk kaum pria saja, tidak untuk wanita. 

[15] Seseorang yang sedang melakukan Tawaf, apabila ia ragu apakah sudah melakukan tiga putaran atau empat umpamanya, maka hendaklah dihitung tiga putaran. Demikian pula diwaktu Sa’i.

[16] Boleh melakukan Tawaf dibelakang sumur Zamzam dan Maqam Ibrahim dikala penuh sesak, karena Masjid Haram seluruhnya merupakan tempat Tawaf. 

[17] Adalah termasuk perbuatan mungkar, jika seorang wanita melakukan Tawaf dengan memakai perhiasan dan wangi-wangian serta tidak menutup aurat.

[18] Wanita yang sedang datang bulan atau baru bersalin setelah berihram, tidak boleh melakulan tawaf, kecuali setelah ia dalam keadaan suci. 

[19] Bagi wanita boleh berihram dengan mengenakan pakaian yang ia sukai, asalakan pakaian itu tidak menyerupai pakaian pria dan jangan sampai menampakkan perhiasan, tetapi hendaklah mengenakan pakaian yang tidak merangsang.

[20] Melafalkan niat dalam ibadah selain Haji dan Umrah adalah bid’ah yang diada-adakan, lebih-lebih bila dilafalkan niat itu dengan suara keras

[21] Diharamkan bagi seorang muslim mukallaf melintasi miqat tanpa berihram, apabila ia bermaksud melakukan ibadah haji dan umrah.

[22] Jama’ah haji atau umrah yang datang lewat udara, hendaklah berihram ketika berada sejajar dengan batas miqat, oleh karena itu hendaknya ia bersiap-siap untuk berihram sebelum naik pesawat. 

[23] Bagi yang tempat tinggalnya di daerah miqat, tidak perlu pergi ke salah satu tempat miqat, dan cukuplah tempat tinggalnya itu sebagi miqat untuk berihram haji dan umrah.

[24] Memperbanyak umrah setelah menunaikan haji, dari Tan’im atau Jir’anah, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian jama’ah, adalah hal yang tidak ada dalilnya. 

[25] Hendaklah para jama’ah haji pada hari tarwiyah berihram dari tempat tinggalnya di Mekkah, dan tidak perlu berihram dari dalam kota Mekkah atau dari bawah Pancuran Emas Ka’bah, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian jama’ah haji. Dan tidak perlu baginya Tawaf Wada’ ketika berangkat menuju Mina.

[26] Berangkat dari Mina menuju Arafah pada tanggal 9 Dzu-l-Hijjah, lebih utama dilakukan setelah terbit matahari. 

[27] Tidak diperkenankan meninggalkan Arafah sebelum terbenam matahari.

Dan disaat berangkat setelah terbenam matahari, hendaknya dengan tenang dan penuh kekhusuan.

[Disalin dari buku Petunjuk Jamaa Haji dan Umrah serta Penziarah Masjid Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pengarang Kumpulan Ulama, hal 42-45, Diterbitkan dan diedarkan oleh Department Agama, Waqaf, Dakwah dan Bimbingan Islam, Saudi Arabia]

Read Full Post »

Muslim Anggota Kongres AS

Lontarkan Pernyataan Provokatif soal Muslim, Anggota Kongres AS Menuai Kecaman

Jumat, 22 Des 06 11:12 WIB

Meski mengaku sebagai negara paling demokratis dan menghormati hak asasi manusia, pada kenyataannya masih banyak pejabat AS yang kerap melontarkan pernyataan yang tidak demokratis, bahkan terkesan paranoid, khususnya terkait dengan Islam dan umat Islam.

Baru-baru ini, seorang anggota legislatif AS, Virgil Goode mengatakan bahwa terpilihnya Keith Ellison, warga Muslim pertama AS yang berhasil menjadi anggota senat, membahayakan “nilai-nilai dan keyakinan tradisional AS.” Pernyataan itu disampaikan dalam surat Goode kepada seorang rekannya.

Council on American-Islamic Relations (CAIR) menilai pernyataan itu merupakan sikap tidak toleran yang seharusnya tidak ditunjukkan oleh orang yang sudah terpilih sebagai perwakilan publik. Dalam pernyataan resminya, Direktur Legislasi Nasional CAIR, Corey Saylor mengatakan, tidak ada alasan yang bisa diterima atas pernyataan tersebut.

“Perwakilan dari Minnesota yang kebetulan seorang Muslim dipilih oleh para pemilih di distrik tersebut. Jika warga Amerika sadar dan tidak mengadopsi sikap Goode terhadap masalah imigrasi, rasanya akan lebih banyak lagi warga Muslim yang akan terpilih dan meminta agar Al-Quran digunakan dalam acara pengambilan sumpah,” kata Saylor.

Saylor menyatakan hal itu, karena Goode adalah orang yang menginginkan untuk menghentikan secara total masuknya imigran ilegal dan mengurangi masuknya imigran legal ke AS.

“Saya takut di abad mendatang kita akan memiliki lebih banyak lagi warga Muslim di AS, jika kita tidak memberlakukan kebijakan imigrasi yang ketat. Saya meyakini sangat penting untuk menjaga nilai-nilai dan keyakinan tradisional di AS dan mencegah agar sumber-sumber daya kita tidak tenggelam,” tukas Goode.

Saat ini ada sekitar enam sampai tujuh juta warga Muslim di AS, atau kurang dari 3 persen dari 300 juta jumlah total penduduk AS.

Sebelum Goode, pejabat AS lainnya, anggota United States Holocaust Memorial Council, Dennis Prager, menyebut keinginan Ellison agar disumpah dengan Al-Quran dalam acara pelantikannya sebagai anggota senat, sebagai tindakan yang “merongrong peradaban AS.”

Kecaman untuk Goode

Bukan hanya dari CAIR, kecaman terhadap pernyataan Goode juga datang dari kalangan anggota legislatif lainnya antara lain dari calon juru bicara dewan legislatif, Nancy Pelosi yang menyebut pernyataan Goode “tidak layak.”

Anggota legislatif lainnya, Bill Pascell Jr dalam suratnya pada Goode menyatakan kecewa termasuk pada surat yang ditulis oleh konstituen Goode yang memberikan komentar miring soal keingginan Ellison disumpah dengan Al-Quran.

Pascell mengatakan, konstitusi AS melarang menyinggung hal-hal yang berbau agama di antara anggota Kongres. Penggunaan Injil atau Al-Quran hanya dilakukan dalam event-event bersifat terbatas yang dilakukan setelah anggota legislatif secara resmi diambil sumpahnya.

“Keith Ellison adalah contoh warga Muslim AS yang paling baik dan dia tidak perlu menjawab pada anda, pada saya atau siapapun terkait dengan keyakinannya,” kata Pascell.

Ia meminta Goode untuk merangkul warga Muslim di Virginia-daerah pemilihannya- dan belajar untuk “membuang jauh-jauh pandangan-pandangan yang salah daripada mencuatkannya ke permukaan.”

Komentar Keith Ellison

“Saya bukan ulama, saya seorang politisi dan saya melakukan apa yang dilakukan oleh seorang politisi, yaitu mengesahkan undang-undang untuk membantu bangsa ini,” kata Ellison mengomentari pernyataan-pernyataan miring terhadap dirinya.

Ia mengatakan, pernyataan Goode sepertinya menjadi informasi yang buruk tentang asal-usulnya dan terhadap perlindungan atas kebebasan beragama yang diatur dalam konstitusi Amerika.

“Saya bukan imigran. Saya adalah orang Amerika-Afrika,” tegas Ellison. Ia menyatakan, nenek moyangnya sudah tinggal di AS sejak 1742.

“Saya menunggu untuk bersahabat dengan Goode, atau paling tidak lebih mengenalnya,” sambung Ellison yang sejak terpilih menjadi anggota senat sering menerima pesan dan telepon berisi ancaman akan dibunuh.

“Saya akan menunjukkan padanya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Faktanya, ada banyak keyakinan yang berbeda-beda, banyak warna yang berbeda dan banyak budaya yang berbeda di AS, menjadi kekuatan yang hebat,” tegas Ellison lagi.

Sementara CAIR menyerukan agar Goode minta maaf atas pernyataannya yang provokatif tentang Ellison. (ln/iol) eramuslim.com

Read Full Post »

Padang Mahsyar

Haji, Gladi Resik Padang Mahsyar
Oleh : Redaksi 28 Dec 2006 – 5:00 pm ( swaramuslim.com)

Berkumpul sudah ruh-ruh berbagai bangsa dan kulit berwarna di Makkah, Arafah, dan Mina. Hati yang tenteram tunduk di hadapan Rabbil ‘Izzati, sadar akan kelemahan dan ketiadaan diri. Hati yang gelisah melata bermil-mil jauhnya, tak merasa apa-apa hebatnya miniatur Padang Mahsyar yang kelak mereka jumpai.

Haji adalah latihan mati. Detik demi detik. Adegan demi adegan. Kehancuran. Lepasnya jiwa. Kebangkitan. Pengadilan. Merugilah orang yang pulang haji, tapi tak merasakan dahsyatnya mati. Suatu hari, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengabari para shahabat Radhiallaahu ‘anhum, bahwa hari itu Israfil sudah meletakkan Sangkakala di mulutnya. Pandangannya menatap ke ‘Arasy. Menunggu isyarat Allah Ta’ala kapan Hari Kehancuran akan dieksekusi. Sudah sejak Sangkakala diciptakan Israfil melakukan hal itu, tak ada yang dapat mempercepatnya, tak ada yang dapat memperlambatnya.

Nabi mengabarkan, Sangkakala yang garis tengahnya seluas langit dan bumi akan ditiup tiga kali. Nafkhatul Faza’ tiupan dahsyat yang pertama akan menggemparkan seluruh makhluk hidup. Allah memerintahkan Israfil memperpanjang tiupan itu tanpa henti. Maka gunung-gunung akan bergerak seperti awan, lalu luluh-lantak berantakan seperti fatamorgana. Bumi berguncang hebat. Penghuninya bagaikan perahu di laut lepas, dihempas ombak kian kemari.

Hati manusia waktu itu sangat takut. Wanita-wanita melupakan bayi yang disusuinya. Yang hamil menggugurkan kandungannya. Anak-anak kecil langsung beruban. Miliaran manusia berlagak gagah dan jumawa panik berhamburan. Tak seorang pun bisa melindungi mereka dari adzab Allah di hari itu.

Tiba-tiba bumi terbelah menjadi dua. Kejadiannya amat menyengsarakan. Hanya Allah saja yang tahu penderitaan mereka. Mereka menengadah ke langit. Detik itu juga langit berubah menjadi seperti cairan logam, lalu terbelah. Bintang-bintang berhamburan, bertubrukan, matahari dan bulan tak lagi bercahaya.

Hanya orang-orang hidup yang dikehendaki Allah yang tidak terkejut oleh peristiwa dahsyat itu, yakni para syuhada yang gugur di jalan Allah. Mereka tak pernah mati di sisi Allah dan terus mendapatkan rezeki.

Selanjutnya, seluruh penghuni langit dan bumi dimatikan Allah dengan tiupan Sangkakala kedua, Nafkhatush Sha’iq. Lalu Jibril. Lalu Mikail. Lalu Israfil. Lalu malaikat-malaikat pembawa ‘Arasy. Yang terakhir dimatikan oleh Allah Azza wa Jalla ialah ‘Izrail, malaikat maut. Maka sejak itu tak ada lagi yang hidup, kecuali Allah yang Maha Ahad, Maha Mengalahkan, Maha Sendiri, Tempat bergantung semua makhluk, Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dialah yang Maha Awal dan Maha Akhir.

Dengan kekuasaan-Nya yang tak terbataskan oleh apapun, Dia menggelar Hari Pengadilan. Semua makhluk dibangkitkan dengan tiupan Sangkakala ketiga, Nafkhatul Ba’ats. Tak ada naungan dan perlindungan selain dari diri-Nya di hari itu. Miliaran manusia –sejak Adam ‘Alaihissalaam hingga manusia yang hidup terakhir kali saat langit dan bumi dihancurkan– menunggu giliran diadili satu per satu di Padang Mahsyar. Lama waktu menunggu itu 50.000 tahun Akhirat. Betapa pendeknya hidup di dunia.

Dia membentak sekeras-kerasnya seraya berfirman, “Wahai sekalian jin dan manusia, sesungguhnya Aku telah diam saja terhadap kamu sekalian sejak saat Aku menciptakan kamu sampai hari ini. (Selama itu) Aku mendengar perkataanmu dan melihat perbuatan-perbuatanmu. Maka, dengarlah Aku sekarang. Inilah semua perbuatanmu dan catatan amalmu, dibacakan kepadamu. Barangsiapa mendapat kebaikan, maka pujilah Allah. Dan barangsiapa mendapatkan yang lain, jangan mencela selain dirinya sendiri.

Semua kasus yang pernah terjadi dalam sejarah manusia diadili seadil-adilnya. Tak ada seorangpun mati terbunuh melainkan ada pembalasan bagi pembunuhnya. Tak ada seorangpun teraniaya kecuali mendapat pembalasannya. Bahkan, orang yang mencampur susu dengan air sekalipun, akan dipaksa oleh-Nya untuk memurnikan susu itu dari air kembali.

Sesudah semua kasus habis diselesaikan, dikumandangkanlah suatu seruan yang didengar oleh seluruh makhluk, “Hendaklah setiap penganut agama mengikuti tuhan mereka masing-masing, atau apapun yang mereka sembah selain Allah.

Pada hari itu ada seorang malaikat yang diwujudkan seperti Uzair, lalu diikuti oleh kaum Yahudi. Malaikat lainnya diwujudkan serupa ‘Isa, lalu diikuti oleh kaum Nasrani. Kemudian sesembahan yang salah itu menggiring mereka semuanya ke neraka.

“Andaikan berhala-berhala itu Tuhan,
tentulah mereka tidak masuk neraka.
Dan semuanya akan kekal di dalamnya.”
(Al-Anbiya’: 99)

Setelah semua penghuni neraka digiring ke tempatnya, hadirlah Allah dalam wujud yang dikehendaki-Nya seraya berfirman, “Kini tinggallah Aku, sedang Aku adalah Yang Maha Pengasih diantara mereka yang pengasih.

Lalu segolongan demi segolongan orang dimasukkan-Nya ke dalam surga, mulai dari mereka yang dikenal oleh orang yang paling dikasihinya Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, hingga orang-orang shalihin yang hidup di zaman-zaman sesudahnya. Bahkan kehendak Dia mengangkat sebagian penghuni jahannam untuk diampuni dan dipindahkan ke surga yang penuh kenikmatan, dan semua kekal di dalamnya.

Rabbana Atina fid dunya hasanah
wa fiil Akhirati hasanah
wa qina ‘azaaban naar
wa adkhilnal jannata ma’al abraar
Ya ‘Aziz, Ya Rahmaan,
Ya Rabbal ‘Aalamiin

* diadaptasi dari buku “Huru-hara Hari Kiamat” karya Ibnu Katsir, ulama terkemuka yang hidup di Abad ke-8 Hijriyah, disusun dari ayat-ayat dan hadits-hadits shahih

Read Full Post »

Mahrom

DEFENISI MAHROM DAN MACAM-MACAMNYA

Oleh
Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Latif
sumber http://www.almanhaj.or.id

Banyak sekali hukum tentang pergaulan wanita muslimah yang berkaitan
erat dengan masalah mahrom, seperti hukum safar, kholwat
(berdua-duaan), pernikahan, perwalian dan lain-lain. Ironisnya, masih
banyak dari kalangan kaum muslimin yang tidak memahaminya, bahkan
mengucapkan istilahnya saja masih salah, misalkan mereka menyebut
dengan “Muhrim” padahal muhrim itu artinya adalah orang yang sedang
berihrom untuk haji atau umroh. Dari sinilah, maka kami mengangkat
masalah ini agar menjadi bashiroh (pelita) bagi umat. Wallahu Al
Muwaffiq.

DEFINISI MAHROM

Berkata Imam Ibnu Qudamah rahimahullah, “Mahrom adalah semua orang
yang haram untuk dinikahi selama-lamanya karena seba nasab, persusuan
dan pernikahan.” [Al-Mughni 6/555]

Berkata Imam Ibnu Atsir rahimahullah, ” Mahrom adalah orang-orang yang
haram untuk dinikahi selama-lamanya seperti bapak, anak, saudara,
paman, dan lain-lain”. [An-Nihayah 1/373]

Berkata Syaikh Sholeh Al-Fauzan, ” Mahrom wanita adalah suaminya dan
semua orang yang haram dinikahi selama-lamanya karena sebab nasab
seperti bapak, anak, dan saudaranya, atau dari sebab-sebab mubah yang
lain seperti saudara sepersusuannya, ayah atau pun anak tirinya”.
[Tanbihat ‘ala Ahkam Takhtashu bil mu’minat hal ; 67]

MACAM-MACAM MAHROM

Dari pengertian di atas, maka mahrom itu terbagi menjadi tiga macam.

[A]. Mahrom Karena Nasab (Keluarga)
Mahrom dari nasab adalah yang disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam surat
An-Nur 31:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman:”Hendaklah mereka menahan
pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka
menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari
mereka.Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedada mereka, dan
janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka,
atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka,
atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau
putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara
perempuan mereka,…”

Para ulama’ tafsir menjelaskan: ” Sesungguhnya lelaki yang merupakan
mahrom bagi wanita adalah yang disebutkan dalam ayat ini, mereka
adalah:

[1]. Ayah (Bapak-Bapak)
Termasuk dalam katagori ayah (bapak) adalah kakek, baik dari bapak
maupun ibu. Juga bapak-bapak mereke ke atas. Adapun bapak angkat, maka
dia tidak termasuk mahrom berdasarkan firman Allah Ta’ala;

“Dan Allah tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu
…. “[Al-Ahzab: 4]

Dan berkata Imam Muhammad Amin Asy Syinqithi rahimahullah, “Difahami
dari firman Allah Ta’ala ” Dan istri anak kandungmu …” (QS. An Nisa:
23) bahwa istri anak angkat tidak termasuk diharamkan, dan hal ini
ditegaskan oleh Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 4, 37,40″ [Adlwaul
Bayan 1/232]

Adapun bapak tiri dan bapak mertua akan dibahas pada babnya.

[2]. Anak Laki-Laki
Termasuk dalam kategori anak laki-laki bagi wanita adalah: cucu, baik
dari anak laki-laki maupun anak perempuan dan keturunan mereka. Adapun
anak angkat, maka dia tidak termasuk mahrom berdasarkan keterangan di
atas. Dan tentang anak tiri dan anak menantu akan dibahas pada babnya.

[3]. Saudara Laki-Laki, Baik Sekandung, Sebapak Atau Seibu Saja.

[4]. Anak Laki-Laki Saudara (Keponakan)
Baik dari saudara laki-laki maupun perempuan dan anak keterunan
mereka. [Lihat Tafsir Qurthubi 12/232-233]

[5]. Paman.
Baik dari bapak atau pun dari ibu.
Berkata syaikh Abudl karim Ziadan;” Tidak disebutkan paman termasuk
mahrom dalam ayat ini (An-Nur 31) dikarenakan kedudukan paman sama
seperti kedudukan orang tua, bahkan kadang-kadang paman juga disebut
sebagai bapak, Allah berfirman ;

“Adakah kamu hadir ketika Ya’kub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika
ia berkata kepada anak-anaknya:”Apa yang kamu sembah sepeninggalku”.
Mereka menjawab:”Kami akan menyembah Tuhan-mu dan Tuhan bapak-bapakmu,
Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, …”. [Al-Baqarah :133]

Sedangkan Ismai’il adalah paman dari putra-putra Ya’qub. [Lihat
Al-Mufashal Fi Ahkamil Mar;ah 3/159]

Bahwasannya paman termasuk mahrom adalah pendapat jumhur ulama’. Hanya
saja imam Sya’bi dan Ikrimah, keduanya berpendapat bahwa paman bukan
termasuk mahrom karena tidak disebutkan dalam ayat (An-Nur 31), juga
dikarenakan hukum paman mengikuti hukum anaknya.” (Lihat afsir Ibnu
Katsir 3/267, Tafsir Fathul Qodir 4/24, dan Tafsir Qurthubi 12/155)

[B]. Mahrom Karena Persusuan

Pembahasan ini dibagai menjadi beberapa fasal sbb:

[a]. Definisi Hubungan Persusuan
Persusuan adalah masuknya air susu seorang wanita kepada anak kecil
dengan syarat-syarat tertentu. [Al Mufashol Fi Ahkamin Nisa’ 6/235]

Sedangkan persusuan yang menjadikan seseorang menjadi mahrom adalah
lima kali persusuan pada hadits dari Aisyah radhiallahu ‘anha.

“Termasuk yang di turunkan dalam Al-Qur’an bahwa sepuluh kali persusuan
dapat mengharamkan (pernikahan) kemudian dihapus dengan lima kali
persusuan.” [HR Muslim 2/1075/1452, Abu Daud 2/551/2062, Turmudhi
3/456/1150 dan lainnya) Ini adalah pendapat yang rajih di antara
seluruh pendapat para ulama’. (lihat Nailul Author 6/749, Raudloh
Nadiyah 2/175]

[b]. Dalil Hubungan Mahrom Dari Hubungan Persusuan.

Qur’an :
” … Juga ibu-ibumu yang menyusui kamu serta saudara perempuan
sepersusuan …” [An-Nisa’ : 23]

Sunnah :
Dari Abdullah Ibnu Abbas radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

“Diharamkan dari persusuan apa-apa yang diharamkan dari nasab.” [HR
Bukhori 3/222/2645 dan lainnya]

[c]. Siapakah Mahrom Wanita Sebab Persusuan?

Mahrom dari sebab persusuan seperti mahrom dari nasab yaitu:
[1]. Bapak persusuan (Suami ibu susu)
Termasuk juga kakek persusuan yaitu bapak dari bapak atau ibu
persusuan, juga bapak-bapak mereka di atas.
[2]. Anak laki-laki dari ibu susu
Termasuk di dalamnya adalah cucu dari anak susu baik laki-laki maupun
perempuan. Juga anak keturunan mereka.
[3]. Saudara laki-laki sepersusuan, baik kandung maupun sebapak, atau
seibu dulu.
[4]. Keponakan sepersusuan (anak saudara persusuan), baik persusuan
laki-laki atau perempuan, juga keturunan mereka.
[5]. Paman persusuan (Saudara laki-laki bapak atau ibu susu)

(Lihat Al Mufashol 3/160 dengan beberapa tambahan)

[C]. Mahrom Karena Mushoharoh

[a]. Definisi Mushoharoh
Berkata Imam Ibnu Atsir; ” Shihr adalah mahrom karena pernikahan.” [An
Niyah 3/63]

Berkata Syaikh Abdul Karim Zaidan; ” Mahrom wanita yang disebabkan
mushoharoh adalah orang-orang yang haram menikah dengan wanita
tersebut selama-lamanya seperti ibu tiri, menantu perempuan, mertua
perempuan. [Lihat Syarah Muntahal Irodah 3/7]

[b]. Dalil Mahrom Sebab Mushaharoh
Firman Allah:

“Dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami
mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera
mereka, atau putera-putera suami mereka….” [An-Nur 31]

“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh
ayahmu…” [An-Nisa’ : 22]

“Diharamkan atas kamu (mengawini) …ibu-ibu isterimu (mertua);
anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah
kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isteri kamu itu
(dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya;(dan
diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu);,…[An-Nisa
:23]

[c]. Siapakah Mahrom Wanita Dari Sebab Mushoharoh

Ada lima yakni :
[1]. Suami
Berkata Imam Ibnu Katsir ketika manafsirkan firman Allah Ta’ala surat An
Nur 31:

“Adapun suami, maka semua ini (bolehnya menampakkan perhiasan,
perintah menundukkan pandangan dari orang lain-pent-) memang
diperuntukkan baginya. Maka seorang istri berbuat sesuatu untuk
suaminya yang tidak dilakukannya dihadapan orang lain.: [Tafsir Ibnu
Katsir 3/267]

[2]. Ayah Mertua (Ayah Suami)
Mencakup ayah suami satu bapak dari ayah dan ibu suami juga
bapak-bapak mereka ke atas. [Lihat Tafsir sa’di hal 515, Tafsir Tahul
Qodir 4/24 dan Al-Qurthubi 12/154]

[3]. Anak Tiri (Anak Suami Dari Istri Lain)
Termasuk anak tiri adalah cucu tiri baik cucu dari anak tiri laki-laki
maupun perempuan, begitu juga keturunan mereka [Lihat Tafsir Tahul
Qodir 4/24 dan Al-Qurthubi 12/154]

[4]. Ayah Tiri (Suami Ibu Tapi Bukan Bapak Kandungnya)
Maka haram bagi seorang wanita untuk dinikahi oleh ayah tirinya, kalau
sudah berjima’ dengan ibunya. Adapun kalau belum maka hal itu
dibolehkan [Lihat Tafsir Qurthubi 5/74]

[5]. Menantu Laki-Laki (Suami putri kandung) [Lihat Al Mufashol 3/162]
Dan kemahroman ini terjadi sekedar putrinya di akadkan kepada
suaminya. [Lihat Tafisr Ibnu Katsir 1/417]

[Disalin dengan sedikit diringkas dari: Majalah “Al Furqon”, Edisi 3
Th. II, Syawal 1423, hal 29-32]

Read Full Post »

Musyrik

KEMUSYRIKAN MENURUT  MADZHAB  SYAFI’I

 
Ilmu tauhid itu mempunyai pengaruh yang baik dan jelas dalam kehidupan manusia dan masyarakat, dan juga memiliki buah yang matang yang dapat memberikan pengaruh yang sangat bagus dan agung. Antara lain:

1.    Membebaskan Manusia dari Pengabdian kepada Selain Allah.

2.    Menekankan Keseimbangan Antara Perilaku dan  Perbuatan.

3.    Mewujudkan Jiwa yang Aman, Damai dan Tangguh

4.    Menanamkan Prinsip Persaudaraan dan Persamaan

BAHAYA KEMUSYRIKAN

Apabila tauhid memberi pengaruh dan membuahkan hal-hal yang positif, maka di sisi lain kemusyrikan justru akan mendatangkan bahaya-bahaya dan kerusakan-kerusakan sebagai berikut:

1. Pelecehan Martabat  Manusia

Apabila seseorang menyembah kepada sesama makhluk, selain Allah, sementara makhluk yang disembah itu tidak dapat memberinya manfaat maupun menimpakan bahaya, tetapi ia dijadikan sebagai sesembahan yang ditaati, padahal ia adalah sama-sama makhluk seperti juga yang menyembah, yang tidak memiliki kekuasaan apa-apa, bahkan terkadang yang disembah itu lebih rendah martabatnya daripada yang menyembah, seperti sapi betina, pohon, batu dan lain-lain; maka apakah layak seorang manusia yang diberi akal dan terhormat melakukan hal seperti itu? Itulah kemusyrikan. Dan apakah ada pelecehan terhadap martabat manusia yang lebih parah dari kemusyrikan itu.

2. Membenarkan Khurafat

Hal ini dapat terjadi manakala manusia berkeyakinan, bahwa makhluk itu dapat memberikan manfaat dan menimpakan bahaya kepada yang lain, seperti halnya Allah. Kemudian dari keyakinan itu timbul cerita-cerita khurafat, takhayul dan kisah-kisah batil yang tidak dapat diterima oleh akal manusia dan tidak dapat dibenarkan oleh hati sanubari manusia.

3. Syirik adalah Kezhaliman yang Terbesar

Allah berfirman:

Artinya :

“Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim”   (QS; Al-Baqarah: 254)

Allah berfirman:

Artinya :

“Sesungguhnya kemusyrikan itu adalah kezhaliman yang agung.” (QS;Lukman: 13)

Mana ada kezhaliman yang lebih besar daripada sikap seseorang yang diciptakan oleh Allah, tetapi justru ia menyembah selain Allah? Atau ada orang  diberi rizki oleh Allah, tetapi justru berterima kasih kepada selain Allah.

Zhalim seperti ini adalah menzhalimi diri sendiri, karena ia menjadi terhalang untuk memperoleh kesenangan, kenikmatan dan kehidupan hatinya dari buah tauhid. Sementara di sisi lain, dirinya sendiri dibebani  dengan siksaan yang sebenarnya ia tidak mampu memikulnya.

4.    Syirik Menimbulkan Rasa Takut

Hal itu karena orang yang musyrik (menyekutukan Allah dengan yang lain) tidak memiliki rasa percaya kepada Allah, ia juga tidak berserah diri kepada Allah. Ia justru gelisah dengan jiwa tak berketetapan antara klenik, khurafat dan takhayul. Ia takut akan segala sesuatu. Ia khawatir akan kehidupannya dan rezekinya. Ia takut akan segala-galanya dan khawatir terhadap segala-galanya. Inilah kehidupan yang paling buruk.

5.    Menyebarkan Hal-hal yang Negatif dalam Kehidupan Manusia.

Orang yang musyrik selalu tidak percaya kepada diri sendiri, setelah tidak percaya kepada Allah. Ia selalu mengandalkan orang lain sebagai penolong dan perantara, seperti kepercayaan orang-orang Nashrani tentang al-Masih . Akibatnya, banyak potensi yang ada pada dirinya tidak digunakan sama sekali. 

6. Masuk Neraka

Kemusyrikan adalah penyebab utama untuk masuk neraka. Allah , berfiman:

Artinya :

 “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah,maka pasti Allah akan mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya adalah neraka. Tidak ada orang-orang zhalim itu seorang penolongpun.” (Al-Maidah: 72)

Tauhid adalah penyebab utama masuk surga. Karena orang yang musyrik tidak mempunyai masa depan kecuali neraka, karena dosa kemusyrikan itu tidak akan diampuni selamanya. Allah  berfirman:

Artinya :

 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik.” (An-Nisa: 48)

Inilah bahaya-bahaya kemusyrikan dan pengaruh-pengaruh buruk yang ditimbulkannya pada kehidupan manusia di dunia maupun di akhirat.

Oleh karena itu, kami  bermaksud untuk menjelaskan sebagian dari upaya yang telah dilakukan oleh para ulama dari madzhab Syafi’i yang menerangkan masalah syirik, wasilah (penyebab)nya, bentuk-bentuknya dan lain-lain, berdasarkan apa  yang kami baca dari kitab-kitab yang mereka tulis.

Ulama Syafi’iyah adalah para ulama dalam masalah fiqih mengikuti seorang imam yang dalam ilmunya, luhur derajatnya, yang merupakan tokoh  lapisan generasi ke sembilan dan pembaharu bidang agama pada akhir abad ke dua. Ia salah satu dari imam-imam empat yang banyak pengikutnya, yang dilahirkan pada tahun 150 H. Madzhab Syafi’i ini tersebar di Iraq, Syam, Mesir, Hijaz, Yaman dan lain-lain. Bahkan negara-negara Islam sampai hari ini tetap menjadikan madzhab Syafi’i ini sebagai madzhab resmi negara. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya dan pahala yang agung kepada imam yang mulia  ini. 

PENGERTIAN SYIRIK MENURUT ULAMA MADZHAB SYAFI’I

I. Imam al-Azhari asy Syafi’i

Beliau mengatakan,  Allah  menceritakan tentang hamba-Nya yang bernama Lukman al-Hakim, beliau berkata kepada putranya:

Artinya :

 “Janganlah kamu menyekutukan Allah dengan yang lain, karena syirik itu merupakan kezhaliman yang agung.”  (QS;Lukman: 13)

Syirik adalah kamu membuat sekutu bagi Allah dalam ketuhanan-Nya (Rububiah-Nya). Maha Luhur Allah dari sekutu-sekutu dan tandingan-tandingan. Makna (  لا تشرك)  dengan memakai huruf ba’ dalam (بالله) adalah : “kamu jangan menyepadankan Allah dengan yang lain sehingga yang lain itu kemudian kamu jadikan sekutu (kawan) bagi Allah. Begitu pula dalam firman-Nya:

Artinya :

 “… karena mereka menyekutukan  Allah (dengan yang lain) yang Alloh sendiri tidak menurunkan hujjah untuk mempersekutukan-Nya.” (QS; Ali Imran: 151)

Maka isyrak (menyekutukan) dalam ayat itu adalah menyepadankan Allah dengan yang lain. Dan siapa yang menyepadankan Allah dengan makhluk-Nya, maka ia telah musyrik, karena Allah itu satu, tidak ada sekutu, tidak ada tandingan maupun bandingan-Nya.”

2. Imam al-Raghib al-Ishfahani.

Beliau menyatakan, “Syirik yang agung adalah menetapkan adanya sekutu bagi Allah. Misalnya, Fulan menyekutukan Allah dengan yang lain. Syirik ini adalah kekafiran yang paling besar.”

4. Imam al-Minawi

Beliau mengatakan, “Syirik adalah menyandarkan perbuatan yang  hanya Dzat Yang Maha Esa semata berhak melakukannya kepada makhluk yang bukan haknya melakukan perbuatan itu.”

5. Al-‘Allamah Ali as-Suwaidi asy-Syafi’i

Ketika menjelaskan tentang syirik dan mengingatkan bahayanya, beliau berkata: “Ketahuilah -semoga Allah menjaga saya dan kamu dari kemusyrikan, kekafiran dan kesesatan. Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita menuju hal-hal yang disenangi dan diridhai-Nya, baik dalam perkataan maupun perbua-tan-, bahwa syirik itu berlawanan dengan tauhid. Ke-duanya tidak akan bertemu. Seperti halnya kekafiran berlawanan dengan iman,  di mana keduanya bertolak belakang. Maka apabila ada orang disebut muwahhid (bertauhid), ini artinya ia meyakini keesaan Allah dan tidak menetapkan bahwa Allah itu punya sekutu. Dan seseorang tidak mungkin dapat disebut bertauhid (mengesakan Allah) dengan tauhid yang dikehendaki Allah, sebelum dia membersihkan diri dari segala se-suatu yang mengandung unsur kemusyrikan kepada Allah (yang disembah).

Lawan dari muwahhid (bertauhid, mengesakan Allah) adalah musyrik (orang yang menyekutukan Allah dengan lain-Nya). Yaitu yang terlahir dari kemusyrikan meskipun dengan salah satu dari macam-macam syirik, seperti dengan ucapan, sifat-sifat, perbuatan, keyakinan, mu’amalah (pergaulan), persetujuan, dan penilaiannya bahwa syirik itu baik. Begitu pula apabila ia rela mengucapkan atau mendengarkan kata-kata syirik.

Orang-orang pada masa jahiliyah, karena dalam ibadah mereka telah melakukan syirik, menyekutu-kan Allah dengan hal-hal yang menurut mereka baik, karena akal mereka  tidak berfungsi dan mereka selalu mengikuti kesesatan yang sudah jelas bersumber dari nenek moyang mereka, maka mereka tetap saja selalu menyembah berhala-berhala, patung-patung, pohon-pohon, kuburan, tugu, batu-batu besar, dan lain-lain. Mereka minta keberkahan dari benda-benda tersebut seraya mengharapkan syafa’at (pertolongan) benda-benda itu di sisi Penciptanya.  Mereka berlindung kepada benda-benda tersebut, dan berpegang teguh dengan anggapan mereka, bahwa dengan itu, mereka mencukupi makan minum mereka.

Dari perbuatan syirik ini kemudian muncul kesesatan-kesesatan yang merupakan cabang-cabang dari pohon kemusyrikan itu. Seperti takhayul (klenik), bersumpah dengan menyebutkan benda-benda yang mereka jadikan tuhan, menggantungkan mantra-mantra, benda-benda pengasih (sikep), dan jimat-jimat untuk memperoleh atau menolak apa yang mereka kehendaki. Maka dengan perbuatan itu mereka telah menyepadankan dan menyekutukan antara Allah dengan makhluk-Nya, yaitu dengan sama-sama dicintai, dijadikan harapan, ditakuti, dijadikan tempat berlindung, diyakini mampu mencegah, memberi, mendekatkan dan menjauhkan.

Perbuatan-perbuatan yang dilandasi dengan kebodohan ini kemudian berkembang dan marata, dan api kesesatan menyala di antara mereka, sampai  mereka membuat upacara-upacara agama yang tidak diizinkan oleh Allah. Mereka menjadikan binatang-binatang tertentu menjadi saibah, wasilah dan ham. Begitulah, orang-orang jahiliyah itu berbuat dalam kebodohan dan kesesatan, sampai kemudian Allah mengutus Nabi-Nya Muhammad sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, sekaligus mengajak mereka untuk menyembah Allah dengan izin-Nya, dan juga ibarat lampu yang memberikan penerangan.

Maka Nabi Muhammad  kemudian memberi-kan penerangan terbuka tentang hakekat tauhid dengan cara mengesakan Allah dan membersihkan diri dari penyembahan-penyembahan kepada lain-Nya. Dan itulah hakekat tauhid. Nabi n juga menegaskan kepada orang-orang jahiliyah tentang keharusan untuk mengesakan Allah dan meninggalkan syirik (menyekutukan Allah dengan yang lain). Itulah tauhid yang dijelaskan Allah dalam kitab-Nya yang diturunkan kepada Nabi Muhammad .

Allah menerangkan tauhid dengan membuat perumpamaan-perumpamaan, dan mengetengahkan argumen-argumen secara jelas dan rinci. Oleh karena itu. anda dapat melihat Al-Qur’an dan Hadits lebih banyak  menyebutkan syirik dan orang-orang yang musyrik daripada menyebutkan kekafiran dan orang-orang kafir.

Menyebut-nyebut syirik pada masa itu, dan pada masa sesudahnya, yaitu masa Sahabat dan Tabi’in adalah suatu hal yang dikenal secara populer. Bahkan menyebutnya sampai pada tingkat yang sangat masyhur. Namun ketika pondasi-pondasi syirik itu sirna, karena orang-orang yang musyrik juga sudah tidak ada lagi, sementara ajaran-ajaran agama secara benar menjadi gejala umum, maka hampir tidak ada orang yang menyinggung-nyinggung tentang kemusyrikan. Tidak ada mulut yang mau dikotori dengan menyebut syirik itu. Karenanya para ulama kemudian banyak membahas masalah murtad, dengan menyebut-nyebut hal-hal yang menyebabkan kafir, dan mereka tidak membahas hal-hal yang dapat menjadikan musyrik pada seseorang.

Setelah penjelasan ini, kita lihat bahwa syirik dalam uluhiyyah (menyembah Allah) tidak disebut-sebut. Padahal tauhid uluhiyyah (hanya menyembah Allah saja) merupakan pokok agama Islam. Tauhid inilah yang menyebabkan terjadinya pertentangan  antara para rasul dan umatnya; dan ajaran tauhid ini pula yang dibawa oleh para rasul di mana mereka diutus oleh Allah.

Sebagaimana ditegaskan oleh Allah  :

Artinya :

     “Dan kami tidak mengutus sebelum kamu (Mu-hammad) seorang rasul pun, kecuali Kami mem-berikan wahyu kepadanya, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Aku. Oleh karena itu, sembahlah Aku.” (Al-An-biya’ : 25)

MACAM SYIRIK MENURUT SEBAGIAN ULAMA MADZHAD SYAFI’I

1. Imam ar-Raghib al-Ishfahani

Beliau berkata, “Syirik yang dilakukan manusia dalam agama itu ada dua macam. Pertama, Syirik besar, yaitu menetapkan adanya sekutu bagi Allah, dan ini merupakan kekafiran yang terbesar. Kedua adalah syirik yang samar (tidak jelas) dan kemunafi-kan.”

2. Al-‘Allamah Ali as-Suwaidi  asy-Syafi’i

Beliau berkata, “Ketahuilah bahwa syirik itu adakalanya terjadi di Rububiyah,  dan adakalanya terjadi di Uluhiyah. Yang ke dua ini dapat terjadi di dalam I’tiqad (keyakinan),  dan juga dapat terjadi di dalam mu’amalat khusus dengan Tuhan.

Syirik yang ke dua ini, dimana kemudian timbul syirik ibadah, terbagi menjadi ucapan dan perbuatan. Dan masing-masing dari dua ini, terdapat syirik besar (syirik akbar) yang tidak terampuni. Pembicaraan kita sekarang adalah tentang syirik besar, di mana Allah mewajibkan kita untuk menjaga diri dari syirik itu. Iman seseorang tidak akan sempurna kecuali setelah ia mengetahui syirik dengan macam-macam dan sebab-sebabnya.

Seorang penyair menyebutkan:

Kukenali kejahatan bukan karena kejahatannya, melainkan untuk menjaga diri dari kejahatan itu.

Siapa yang tidak dapat membedakan antara kebaikan dan kejahatan, ia pasti akan jatuh dalam kejahatan itu.

Untuk menghindari bahaya kemusyrikan ini, Nabi Muhammad selalu meminta perlindungan kepada Allah dari kemusyrikan. Padahal beliau adalah orang yang paling mengetahui Allah, dan yang paling takut kepada-Nya. Dalam sebuah do’anya, beliau berkata,

 “Wahai Allah, saya meminta perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan Engkau dengan sesuatu, sedangkan aku mengetahui hal itu. Dan aku minta perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan Engkau dengan sesuatu sedangkan aku tidak mengetahui hal itu.”

Dan masih banyak lagi do’a-do’a Nabi  yang seperti itu, khususnya seruan-seruan beliau kepada Allah. Sementara Nabi Ibrahim juga meminta perlindungan  kepada Allah dari kemusyrikan. Beliau berkata:

Artinya:

 “……dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.” (Ibrahim: 35)

Anak cucu Nabi Ibrahim adalah para nabi dan rasul. Apabila Nabi Muhammad  dan Nabi Ibrahim meminta perlindungan kepada Allah dari perbua-tan syirik, dan mereka berdua khawatir melakukan perbuatan itu, padahal kedua orang itu adalah utusan-utusan Allah paling mulia. Maka bagaimana dengan orang-orang yang lain, siapa pun dia?

Syirik dalam Rububiyah (ketuhanan) tidak pernah dilakukan oleh orang kafir mana saja. Tidak ada yang mengatakan, bahwa pencipta alam ini ada dua yang sama wajib adanya (mesti adanya), meskipun sebagian orang kafir mengatakan tidak adanya tuhan, seperti yang dilakukan oleh Fir’aun dan lain-lain.

Adapun syirik dalam Uluhiyah (penyembahan), maka hal ini bermacam-macam berdasarkan siapa yang disembah. Namun tidak ada seorang pun yang mengatakan, bahwa alam raya ini mempunyai dua tuhan (yang wajib disembah), dimana keduanya sama sebanding, kecuali golongan berhalais (politeis). Golongan berhalais (politeis) yang menyembah selain Allah ini, mereka tidak mengatakan bahwa tuhan itu banyak, meskipun mereka menyebutkan sembahan-sembahan mereka itu dengan kata alihah (tuhan-tuhan). Dalam bagian lain, Al-‘Allamah Ali as-Suwaidi asy-Syafi’i mengatakan: “Kesimpulannya, syirik itu ada dua macam. Syirik dalam Rububiyah, yaitu keya-kinan, bahwa bersama Allah ada tuhan lain yang mencipta dan mengatur alam raya ini. Dan syirik dalam Uluhiyah, yaitu berdo’a kepada selain Allah, baik do’a itu merupakan do’a ibadah maupun do’a permintaan”.

3. Imam Ahmad Ibn Hajar Ali Bathmi asy-Syafi’i

Menggarisbawahi apa yang dikatakan Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ahmad bin Hajar mengatakan sebagai berikut,  “Syirik itu ada dua macam; syirik besar dan syirik kecil. Siapa yang bersih (bebas) dari ke dua syirik itu, ia pasti masuk Surga. Siapa yang meninggalkan dunia dan masih melakukan syirik besar, maka ia pasti masuk Neraka. Sementara orang yang bersih dari syirik besar, tapi ia melakukan sebagian syirik-syirik kecil, sedangkan kebajikan-kebajikannya lebih banyak dari dosa-dosanya, maka ia akan masuk Surga.

Tetapi orang yang bersih dari dosa-dosa syirik besar, sedangkan dosa-dosanya dari syirik kecil juga banyak, sehingga dosa-dosa keburukannya lebih banyak daripada kebajikannya, maka ia akan masuk Neraka. Orang yang melakukan syirik akan dihukum apabila syiriknya termasuk syirik besar, atau syirik kecil tetapi banyak jumlahnya. Sementara orang yang melakukan syirik kecil yang jumlahnya sedikit dibarengi dengan keikhlasan yang banyak, maka ia tidak dikenai hukum apa-apa.

Perbuatan yang termasuk syirik besar adalah sujud  dan nadzar kepada selain Allah .   Sedangkan yang termasuk syirik kecil adalah riya’, bersumpah dengan menyebut selain Allah   apabila yang bersangkutan tidak bermaksud mengagungkan makhluk sebagaimana mengagungkan Allah.”      

SARANA SYIRIK YANG PERLU DIHINDARI

Dalam rangka menjaga kemurnian tauhid, para ulama madzhad Imam Syafi’i telah mengingatkan tentang wasilah (perantara, sarana), yaitu hal-hal yang dapat menyebabkan syirik, agar hal itu dihindari. Imam Syafi’i, misalnya,  begitu pula dengan iman-imam lain dalam madzhab Syafi’i,  melarang hal-hal yang dapat menjadi wasilah (perantara) syirik, seperti menembok kuburan, meninggikannya , dan membuat bangunan di atasnya .Demikian pula menulis sesuatu di atas kubur, memasang lampu di atasnya, dan menjadikan kuburan sebagai masjid .

Juga dilarang melakukan shalat dengan menghadap ke kuburan (tanpa dinding pembatas) ,berdo’a menghadap ke kuburan ,  melakukan thawaf mengelilingi kuburan, duduk di atasnya,  mencium dan mengusapnya dengan tangan, memasang tenda dan naungan-naungan apa saja di atasnya, dan me-ngatakan, “Demi Allah dan demi keturunan kamu”, atau mengatakan, “Apa yang dikehendaki oleh Allah dan kamu.”

Imam Syafi’i mengatakan , “Saya tidak menyukai ada masjid dibangun di atas kuburan, kuburan diratakan, atau dipakai untuk shalat di atasnya sedangkan kuburannya tidak diratakan, atau melakukan shalat dengan menghadap kuburan.”

Imam Syafi’i juga berkata, “Dimakruhkan menembok kuburan, menulis nama yang mati (di batu nisan atau yang lainnya) di atas kuburan, atau tulisan-tulisan yang lain, dan membuat bangunan di atas kuburan.”  Beliau juga mengatakan, “Dan saya melihat para penguasa  ada yang menghancurkan bangunan-bangunan di atas kuburan dan saya tidak melihat ada ahli fiqih yang menyalahkan hal itu. Hal itu karena membiarkan bangunan-bangunan itu di atas kuburan akan mempersempit ruang pemakaman/penguburan bagi orang-orang lain.”

Imam Syafi’i juga menegaskan, “Saya tidak menyukai ada makhluk yang diagung-agungkan sehingga kuburannya dijadikan masjid, karena khawatir terjadi fitnah (pengkultusan) pada dirinya pada saat itu, atau orang-orang yang datang  sesudahnya mengkultuskan dirinya.”

Sementara itu, Imam Nawawi mengatakan, “Di-makruhkan menembok  kuburan, mendirikan bangunan, dan menuliskan sesuatu di atasnya. Apabila ba-ngunan itu didirikan di atas tanah kubur yang diwa-kafkan fi sabilillah, maka hal itu harus dirobohkan.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami al-Makki mengatakan, “Dosa besar yang kesembilan puluh tiga, sembilan puluh empat, sembilan puluh lima, sembilan puluh enam, sembilan puluh tujuh, sembilan puluh delapan adalah menjadikan kuburan sebagai masjid, memasang lampu di atasnya, menjadikan ibarat berhala yang disembah, thawaf mengelilinginya, mengusap-usap dengan tangan, dan shalat menghadap kepadanya….”.  Kemudian beliau berkata lagi, “Peringatan! Enam perbuatan itu dimasukkan ke dalam katagori dosa-dosa besar, seperti terdapat dalam pendapat sebagian ulama Syafi’iyah, hal itu tampak diambil dari hadits-hadits yang telah saya sebutkan.

Tentang menjadikan kuburan sebagai masjid, hal itu sudah jelas, karena Nabi   melaknat orang-orang yang melakukan hal itu. Nabi juga menilai, orang-orang yang melakukan hal itu terhadap  kuburan-kuburan orang-orang shaleh dari umat beliau, sebagai makhluk terburuk pada  Hari Kiamat nanti. Itu semua merupakan peringatan bagi kita, seperti dalam sebuah riwayat, Nabi  mengingatkan akan apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani.”

Maksudnya, Nabi mengingatkan umatnya dengan hadits itu, agar umatnya tidak melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani, dengan demikian beliau akan dilaknat seperti dilaknatnya orang-orang Yahudi dan Nashrani.

Adapun menjadikan kuburan sebagai masjid, maksudnya adalah shalat di atas kuburan atau shalat dengan menghadap kuburan (tanpa dinding pembatas). Maka kata “shalat menghadap kepadanya (ke arah kuburan)” merupakan pengulangan, kecuali apabila yang dimaksud dengan “menjadikan kuburan sebagai masjid” itu adalah “shalat di atasnya” saja.

Memang kesimpulan hukum keharaman itu. Dapat diterima apabila kuburan itu dimuliakan seperti kuburan seorang nabi atau wali, seperti yang disitir dalam riwayat Imam Muslim, di mana Nabi bersabda, “Apabila terdapat orang-orang shaleh…” Oleh karena  itu, para ulama madzhab Syafi’i menga-takan, “Haram hukumnya, shalat menghadap kubur para nabi dan para wali.” Serupa dengan itu, shalat di atas kuburan, mencari keberkahan, dan mengagungkan kuburan.

Adapun perbuatan itu dimasukkan ke dalam katagori dosa besar yang nyata, hal itu sudah jelas dari hadits-hadits tersebut. Dan dapat dikiaskan dengan hal itu, segala sesuatu yang intinya pengagungan terhadap kuburan, seperti menyalakan lampu di atasnya dalam rangka mengagungkan kuburan, mencari berkah dari kuburan dan thawaf mengelilingi kuburan dalam rangka mengagungkan atau mencari berkahnya. Dan pengkiasan ini tidaklah jauh, lebih-lebih Nabi telah menegaskan dalam hadits tersebut, bahwa orang-orang yang memasang lampu di atas kuburan akan dilaknat oleh Allah.

Adapun menjadikan kuburan sebagai sesembahan (berhala), hal itu dilarang, berdasarkan hadits Nabi :

 “Jangan kamu menjadikan kuburku sebagai berhala (sesembahan) yang disembah setelah aku meninggal dunia.” 

Maksud hadits ini adalah, jangan kamu mengagungkan kuburku seperti penganut agama lain, mengagungkan sesembahan-sesembahan (berhala-berhala)nya dengan sujud atau yang lain.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami selanjutnya mengatakan, “Perbuatan-perbuatan haram yang paling besar dan sebab-sebab yang menyeret kepada kemusyrikan adalah shalat di atas kuburan, menjadikan kuburan sebagai masjid, dan membuat bangunan di atasnya. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa hal itu hukumnya makruh, maka kata makruh ini harus diartikan lain, yaitu haram. Sebab tidak mungkin para  ulama membolehkan sesuatu perbuatan di mana Nabi  melaknat pelakunya, dan berita tentang laknat itu diterima dari Nabi  dari generasi ke generasi.

Bangunan-bangunan di atas kuburan itu harus segera dihancurkan, begitu pula kubah-kubah yang ada di atasnya, karena bangunan-bangunan itu lebih berbahaya daripada masjid dhirar. Membuat bangunan itu merupakan tindakan durhaka (maksiat) kepada Rasulullah, karena beliau melarangnya, dan beliau memerintahkan untuk menghancurkan kuburan-kuburan dibangun menonjol dari dataran tanah. Sedang-kan lampu-lampu yang dipasang di atas kuburan haruslah dihilangkan, dan tidak boleh mewakafkan lampu-lampu, atau nadzar memasang lampu-lampu untuk kepentingan tersebut.

Sementara itu Imam Nawawi mengatakan “Tidak boleh melakukan thawaf mengelilingi makam Rasulullah. Tidak boleh pula menempelkan badan (perut dan punggung) pada dinding makam Rasulullah. Pendapat ini diucapkan oleh Imam Abu Ubaidillah al-Hulaimi dan lain-lain. Mereka mengatakan bahwa makruh (tidak boleh) hukumnya mengusap kubur Nabi  dan menciuminya. Yang baik sesuai dengan tata krama, adalah berdiri tegak jauh dari kubur Nabi , seperti halnya orang yang berada di hadapan Nabi  ketika beliau masih hidup, berada agak jauh dari beliau.

Ini adalah pendapat  yang benar, yang diucapkan oleh para ulama, dan mereka semua berpendapat sama. Dan seseorang hendaknya jangan terkecoh oleh pendapat dan perbuatan sementara orang-orang awam yang berlawanan dengan pendapat para ulama tadi, karena cara untuk mengikuti jejak Nabi n dan mengamalkan suatu ajaran adalah hanya berdasar-kan hadits-hadits yang shahih dan pendapat para ulama. Perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh orang orang awam dan orang-orang bodoh di kalangan mereka, di mana perbuatan itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah , maka hal itu tidak dapat dipertimbangkan.

Sementara orang barangkali terdetik dalam hatinya, bahwa mengusap dengan tangan itu lebih mengena untuk mendapatkan berkah, maka hal itu menunjukkan kebodohan dan kedunguan yang bersangkutan. Sebab berkah itu akan dapat diperoleh hanya dengan perbuatan yang sesuai dengan syari’at. Bagai-mana mungkin kemurahan Allah dapat diperoleh melalui perbuatan yang bertentangan dengan ajaran yang benar?”

Imam al-Baghawi mengatakan, “Makruh hukumnya memasang tenda (naungan) di atas kuburan. Karena Syaidina Umar pernah melihat  sebuah tenda di atas sebuah kuburan, kemudian beliau memerintahkan agar tenda itu dihilangkan. Kata beliau, “Biarlah amal mayat itu yang akan menaunginya”.

Sementara dalam kitab al-Minhaj dan Syarahnya, karya Imam Ibnu Hajar, terdapat keterangan yang intinya, “Dimakruhkan menembok kuburan dan membuat bangunan di atasnya. Demikian pula menulis sesuatu di atas kuburan, karena ada larangan yang shahih terhadap ketiga perbuatan ini, baik tulisan itu berupa nama mayit  yang dikubur  maupun tulisan yang lain, dan baik tulisan itu di atas papan yang dipasang di atas kepala mayit maupun di tempat yang lain.

Memang, Imam al-Adzra’i pernah membahas tentang diharamkannya menulis ayat-ayat al-Qur’an di atas kuburan. Hal ini karena perbuatan itu dapat melecehkan al-Qur’an, di mana ayat-ayat itu akan diinjak-injak, dan terkena najis oleh nanah orang-orang mati, apabila terjadi pemakaman yang berulang  ulang. Begitu pula bila turun hujan. Imam al-Adzra’i juga mengkaji tentang dianjurkannya menulis nama mayit saja untuk sekedar diketahui sepanjang tahun, terutama kubur para nabi dan orang-orang shalih.

Beliau mengatakan, ‘Sekarang hal itu tidak diamalkan lagi. Karena para imam kaum muslimin dari timur sampai barat ditulis namanya di kubur-kubur mereka. Perbuatan ini diambil oleh orang-orang belakangan dari orang-orang dahulu. Dan hal itu dilarang secara umum dengan adanya larangan membangun di atas kuburan. Membangun di atas kuburan tentunya lebih besar dari sekendar menulis sesuatu di atas kuburan. Dan hal ini banyak terjadi di kuburan-kuburan yang mewakafkan fi sabilillah (musabalah), seperti terdapat, khususnya di Makkah, Madinah, Mesir dan lain-lain. Padahal mereka sudah tahu bahwa perbuatan itu dilarang. Demikian pula menulis sesuatu di atas kuburan.

Apabila anda  tahu bahwa perbuatan itu sudah merupakan ijma’ fi’li (konsensus praktis para ulama) sehingga  hal itu dapat menjadi hujjah (argumen, dalil) sebagaimana mereka katakan, maka kami menjawab, bahwa hal itu dilarang, meskipun banyak dilakukan orang. Sebab perbuatan itu tidak pernah dinyatakan sebagai hujjah, meskipun oleh para ulama yang berpendapat bahwa hal itu dilarang.

Sekiranya perbuatan itu dapat disebut sebagai ijma’ fi’li (konsensus praktis para ulama), maka hal itu dapat menjadi dalil  dan dapat dipakai pada saat keadaan zaman itu baik,  di mana amar ma’ruf dan nahi mungkar dapat dikerjakan. Dan ternyata sejak masa yang lama hal itu tidak berjalan.

Apabila ada orang membangun kuburan yang sama dengan yang sudah ada, dan tidak untuk keperluan seperti yang sudah disebutkan di muka, dan itu sudah jelas. Maka seperti apa yang difatwakan oleh sejumlah ulama, bahwa semua bangunan yang ada di tempat yang akan dipakai untuk mengubur mayat di Mesir, sampai kubah Imam kita Syafi’i yang dibangun oleh seorang raja Mesir, harus dihancurkan. Semua orang seharusnya merobohkan bangunan-bangunan seperti itu, selama tidak khawatir akan terjadi mafsadah (hal-hal yang tidak diinginkan).

Apabila khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka hal itu harus dilaporkan kepada imam (penguasa) agar ia menangani hal tersebut.”

Seperti dituturkan dalam kitab Hasyiyah as Suyuthi ‘ala Sunan an-Nasa’i, Imam Baidhawi mengatakan, “Orang-orang  Yahudi dan Nashrani sujud kepada kubur para nabi mereka. Mereka menghadap ke kubur-kubur itu seraya mengagungkannya. Mereka juga menjadikan kubur-kubur sebagai kiblat di mana mereka menghadap dalam shalat, do’a, dan lain-lain. Mereka juga menjadikan kubur-kubur  itu sebagai berhala (sesembahan), maka Allah melaknat mereka dan melarang orang-orang Islam melakukan perbuatan seperti itu. Sumber kemusyrikan itu terjadi karena mengagungkan kubur dan selalu menghadap kepadanya.”

Sementara itu Imam as-Suwaidi asy-Syafi’i mengatakan, “Kamu dapat melihat orang-orang meninggikan kuburan sangat tinggi, dan menuliskan ayat-ayat al-Qur’an di atasnya. Mereka membuat peti-peti dari kayu jati dan sebagainya untuk kuburan-kuburan itu. Di atasnya mereka kasih kain kelambu yang dihiasi dengan emas dan perak murni.

Mereka tidak puas dengan membangun kuburan seperti itu, dibikinnya jendela-jendela dari perak atau yang lain mengelilingi kuburan, mereka pasang pula lampu-lampu emas. Di atasnya mereka bikin kubah-kubah dari emas atau dari kaca yang diukir. Dibikinnya pintu-pintu yang dihiasi indah. Di pintu-pintu itu dipasang kunci-kunci dari perak atau dari yang lain agar tidak dicuri maling.

Semua itu bertentangan dengan ajaran agama yang dibawa oleh para rasul, dan jelas menentang Allah dan Rasul-Nya. Sekiranya mereka itu mengikuti jejak Rasulullah, seyogianya mereka melihat apa yang dilakukan oleh Nabi kepada para sahabat, padahal mereka itu sebaik-baik sahabat Nabi. Orang-orang itu hendaknya juga melihat makam Nabi, bagaimana para sahabat memperlakukannya.”

Imam Nawawi mengatakan, “Larangan Nabi untuk menjadikan kuburan beliau dan kubur orang lain sebagai masjid, hal itu hanyalah khawatir terjadi sikap yang berlebih-lebihan dalam mengagungkan kuburan, sehingga akan terjadi hal-hal yang tidak diridhai oleh Allah (fitnah). Bahkan, bisa jadi  hal itu dapat menyebabkan kekafiran, seperti yang pernah terjadi pada umat-umat terdahulu.

Ketika para sahabat dan para tabi’in memerlukan perluasan pembangunan Masjid Nabawi, di mana umat Islam bertambah banyak, sementara perluasan masjid kemudian menjadikan rumah-rumah para istri Nabi berada di dalam masjid, termasuk dengan sendi-sendi rumah Aisyah di mana Nabi dimakamkan dan dua sahabat Beliau, Abu Bakar dan Umar , maka para sahabat dan tabi’in membuat tembok tinggi yang mengitari kubur Nabi . Dengan demikian, kubur Nabi itu tidak kelihatan dari masjid. Karena bila tampak, hal itu dapat menyebabkan perbuatan yang dilarang.

Para shahabat dan tabi’in kemudian membuat tembok dari arah dua sudut di sebelah utara, dan dua tembok itu dibuat miring sehingga keduanya bertemu. Dengan demikian orang yang shalat tidak dapat menghadap kubur Nabi .”

Dalam kitab al-Bahits ‘ala Inkar al-Bida’ wa al-Hawadits, hal. 103, terdapat  keterangan sebagai berikut, “Perhatikanlah –semoga kamu dirahmati oleh Allah-, di mana saja kamu mendapatkan sebuah pohon yang selalu dikunjungi oleh orang-orang, mereka memuliakan pohon itu, mengharapkan kebebasan dan kesembuhan dari padanya, mereka juga memasang paku-paku untuk menggantungkan kain-kain sebagai bandulnya, maka tebanglah pohon-pohon itu.”

KESALAHPAHAMAN DAN SANGGAHANYA

Sementara orang yang senang membuat bangunan-bangunan di atas kubur, berpendapat bahwa membangun masjid di atas kubur itu boleh. Dalilnya adalah kisah Ash-habul Kahfi, di mana orang-orang itu membangun masjid di atas kubur Ash-habul Kahfi.

Imam al-Hafizh Ibnu Katsir menjawab kesalahpahaman ini dengan dua jawaban:

1.    Perbuatan tersebut dilakukan oleh orang-orang kafir dan musyrik. Oleh karena itu, hal itu tidak dapat dijadikan hujjah (dalil).

2.    Sekiranya perbuatan itu dilakukan oleh orang-orang Islam, maka mereka itu bukanlah orang-orang terpuji dalam perbuatan tersebut.

CONTOH-CONTOH KEMUSYRIKAN

Para ulama madzhab Imam Syafi’i memperingatkan akan contoh-contoh kemusyrikan agar hal itu dijauhi. Imam Syafi’i dan sejumlah pengikutnya, misalnya melarang segala bentuk kemusyrikan, baik syirik besar maupun syirik kecil, seperti berdo’a dan minta tolong kepada selain Allah, bersujud  kepada selain Allah, ruku’ kepada selain Allah, nadzar kepada selain Allah, menyembelih binatang untuk selain Allah, keyakinan bahwa seseorang  itu dapat mengetahui hal-hal yang ghaib, bersumpah dengan menyebut selain Allah”, menyatakan “Apa yang dikehendaki oleh Allah dan kamu” , dan mempunyai keyakinan bahwa sihir itu sendiri memiliki kekuatan untuk mempengaruhi orang” .

Imam Syafi’i mengatakan, “Orang yang bersumpah dengan menyebut sesuatu selain Allah, seperti seseorang bersumpah, “Demi Ka’bah, demi ayahku, demi tempat ini, tempat itu, dan lain-lain”, kemudi-an ia melanggar sumpahnya itu, maka ia tidak wajib membayar kaffarat (denda sumpah).

Semua sumpah dengan menyebut nama-nama selain nama Allah, dilarang oleh Rasulullah . Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah melarang kamu bersumpah dengan menyebut (nama-nama) nenek moyangmu. Siapa yang mau bersumpah, hendaknya bersumpah dengan menyebut nama Allah, atau diam saja.”

Kami diberitahu Ibnu ‘Uyainah, katanya, ia diberitahu az-Zuhri, katanya, ia diberitahu Salim dari Ayah-nya, kata ayahnya, “Nabi mendengar Umar ber-sumpah dengan menyebut nama ayahnya. Kemudian Nabi bersabda, “Ingatlah, sesungguhnya Allah melarang kamu untuk bersumpah dengan menyebut nenek moyangmu.” Umar kemudian berkata, “Demi Allah, sesudah itu saya tidak pernah bersumpah dengan menyebut nama selain Allah.”

Kata Imam Syafi’i selanjutnya, “Semua orang yang bersumpah dengan menyebut selain Allah, saya tidak menyukai ia melakukan itu. Dan saya khawatir sumpahnya itu menjadi maksiat.

Sementara Imam Ibnu Hajar al-Haitami al-Makki mengatakan, “Dosa besar yang ke seratus enam puluh  tujuh adalah menyembelih binatang dengan menyebut nama selain Allah dengan cara yang tidak menyebabkan kafir, misalnya dengan tidak bermaksud mengagungkan sesuatu yang di tuju dalam penyembelihannya, seperti mengagungkan dengan cara beribadah dan sujud.”

Selanjutnya, Imam Ibnu Hajar mengatakan “Menurut ulama penerus madzhab Syafi’i, di antara perbuatan yang menyebabkan sembelihan binatang itu haram dimakan adalah ketika menyembelih mengatakan, “Dengan menyebut nama Allah dan nama Muhammad”, ‘atau Muhammad Rasulullah’ atau ‘Muhammad’. Demikian pula apabila seorang kafir kitabi (Yahudi dan Nashrani) menyembelih binatang untuk gereja, salib, Musa, atau Isa. Begitu pula orang muslim menyembelih hewan untuk Ka’bah, Muhammad, atau menyembelih dengan niat ketaatan ritual untuk penguasa atau yang lain, atau untuk jin, semua itu menyebabkan hewan yang disembelih haram dimakan, dan itu semua merupakan dosa besar.”

Dalam kitab Syarh al-Minhaj, Imam al-Rafi’i mengatakan, “Adapun nadzar yang diperuntukkan kepada makam-makam “keramat”, yaitu pada kubur seorang wali, ulama atau nama wali yang menempatinya, atau tempat-tempat yang dikeramatkan karena sering dikunjungi para wali atau orang-orang shaleh, maka apabila orang yang melakukan nadzar  tersebut bermaksud, dan ini yang banyak terjadi dan dilakukan orang-orang awam, untuk mengagungkan bumi, tempat, atau ruangan, orang yang dimakamkan di situ, atau orang-orang yang ada kaitannya dengan tempat-tempat itu, atau dengan niat mengagungkan suatu nama, maka nadzar tersebut batal, tidak sah.

Hal itu karena mereka berkeyakinan bahwa tempat-tempat itu memiliki keistimewaan. Mereka menganggap bahwa tempat-tempat itu dapat menolak bala, mendatangkan keberuntungan, dan dengan nadzar itu, tempat-tempat itu dapat menyembuhkan dari penyakit. Sampai mereka melakukan nadzar untuk batu-batu, karena konon ada orang shaleh yang pernah bersandaran pada batu-batu itu. Mereka juga bernadzar untuk memasang lampu, memberikan minyak untuk sebuah kuburan. Mereka beranggapan bahwa kubur seseorang,  atau tempat itu menerima nadzar; maksudnya dengan memberikan nadzar itu maksud seseorang dapat terkabul, misalnya orang sakit bisa sembuh, orang hilang bisa kembali, atau bisa diselamatkan, dan nadzar-nadzar lainnya.

Nadzar dengan cara seperti ini adalah batal, tidak diragukan lagi. Bahkan nadzar untuk memasang lampu, memberikan minyak dan lain-lain pada suatu kuburan adalah batal secara mutlak. Termasuk nadzar untuk memasang lilin yang besar dan banyak di makam Nabi Ibrahim, kubur nabi-nabi yang lain, atau kubur orang-orang shaleh. Orang yang bernadzar itu tidak punya maksud lain dengan memasang lampu di kubur-kubur itu, kecuali mencari berkah dan mengagungkan tempat-tempat itu, karena mereka mengira hal seperti itu merupakan ibadah. Hal ini tidak diragukan lagi kebatilannya. Menyalakan lampu seperti itu adalah haram, baik ada orang yang menggunakannya atau tidak.”

Imam Nawawi mengatakan, “Apabila ada yang bernadzar untuk  berjalan kaki menuju ke masjid  selain tiga masjid (Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Aqsha), maka dia tidak wajib melakukannya, dan menurut madzhab Syafi’i, nadzar tersebut tidak sah.”

Dalam kitab Syarh al-Minhaj, Imam Ibnu Hajar al-Makki mengatakan, “Orang yang menyembelih binatang tidak boleh menyebut “Bismillahi wa ismi Muhammad” (Dengan menyebut nama Allah dan na-ma Muhammad).” Kata beliau, “Menyambung dua kata itu haram, karena hal itu berarti mempersekutukan Muhammad dengan Allah. Sementara hak Allah adalah sembelihan itu disebutkan nama-Nya saja sebagaimana dengan sumpah, harus disebut nama Allah saja.

Apabila ketika menyembelih itu menyebut nama Allah, kemudian nama Muhammad disebut agar memperoleh keberkahan saja, maka hal itu dimakruhkan.

Sedangkan Imam Ahmad bin Hajar Ali Buthami asy-Syafi’i berkata, “Hal itu maksudnya mereka tidak boleh bernadzar kepada selain Allah, mereka tidak boleh thawaf kecuali di Baitullah. Oleh karena itu tidak boleh nadzar untuk para wali dan para ulama shalihin. Tidak  boleh pula melakukan thawaf mengelilingi kubur-kubur mereka, seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak tahu berthawaf mengelilingi Syaikh Abdul Qadir Jaelani, kubur Syaidina al-Husain, Syaikh al-Badawi, Syaikh ad-Dasuqi, dan lain-lain. Semua itu adalah perbuatan syirik, tidak ada perbedaan pendapat lagi dalam masalah ini.

Banyak pelaku bid’ah yang bodoh-bodoh bernadzar untuk orang-orang shaleh. Sebagian mereka mengirimkan uang untuk memasang  gordyn (kelambu) dan membangun kubah, seperti banyak dilakukan orang-orang India dan Pakistan yang bernadzar untuk Syaikh Abdul Qadir Jaelani. Perbuatan ini dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai Ahlus Sunnah.

Sementara orang-orang Syi’ah dari India dan Pakistan, mereka bernadzar menyerahkan hartanya untuk kuburan Ahli Bait di Najaf, Karbala, Khurasan, dan Qum. Mereka sengaja datang dari berbagai penjuru dunia ke kubur-kubur itu, untuk melakukan thawaf, minta pertolongan kepada penghuni kubur, meminta agar penghuni kubur itu mengabulkan hajatnya, melepaskan dari kesusahannya, suatu hal yang tidak dapat dilakukan kecuali oleh pencipta langit dan bumi.

Sebagaimana tidak boleh bernadzar untuk kubur para wali dan shalihin, tidak boleh pula mewakafkan rumah atau kebun untuk kepentingan kubur mereka. Barangsiapa bernadzar untuk selain Allah, ia tidak boleh memenuhi nadzarnya itu, bahkan dia harus minta ampun kepada Allah, bertaubat, membaca kalimat shahadat karena dia telah murtad, apabila ia telah tahu bahwa nadzar untuk selain Allah itu syirik.

Orang yang mewakafkan kebun atau binatang untuk kubur-kubur para wali, maka wakafnya itu batal (tidak sah). Apabila ada orang yang berwasiat seperti itu, maka wasiatnya juga batal (tidak sah). Kebun atau hewan tadi tetap menjadi miliknya. Kita mohon petunjuk kepada Allah untuk kita dan mereka.

Adapun pendapat orang yang mengatakan bahwa nadzar itu untuk Allah, sedangkan pahalanya untuk wali, maka pendapat itu adalah batil dan kesesatan yang nyata. Untuk wali dimasukkan ke situ? Apabila ia bermaksud sedekah, silahkan bersedekah kepada orang-orang fakir atas nama sendiri, kedua orang tuanya, dan keluarganya. Dari mana pula ia tahu bahwa penghuni kubur itu adalah wali? Segala sesuatu itu akan dinilai bagaimana akhirnya. Adakalanya seseorang kelihatan baik, tetapi ternyata batinnya buruk; tampaknya muslim, ternyata batinnya kafir zindiq. Orang-orang yang melakukan perbuatan seperti itu sudah jelas ketidakbenarannya dan kesesatannya, yaitu mereka menggiring kambing dan menyembelihnya di kuburan. Ketika anda ingkari hal itu, mereka berkata, “Sembelihan untuk Allah, sedangkan pahalanya untuk wali”. Tujuan mereka tidak lain adalah untuk mengelabui dan memutarbalikkan kebenaran. Mereka tidak punya tujuan lain kecuali untuk wali penghuni kubur.

Padahal para ulama telah menjelaskan, bahwa tidak boleh menyembelih hewan di suatu tempat yang dulu pernah dipakai untuk menyembelih hewan untuk selain Allah. Hal itu berdasarkan hadits  riwayat Tsabit adh-Dhahhak, katanya, “Ada seorang bernadzar untuk menyembelih onta di suatu tempat bernama Bawanah. Ia bertanya kepada Nabi untuk hal itu. Jawab Nabi , “Apakah di tempat itu ada patung-patung jahiliyah yang disembah?” Para sahabat men-jawab, “Tidak”. Akhirnya Nabi bersabda, “Penuhilah nadzarmu, dan tidak boleh memenuhi nadzar yang berunsur maksiat kepada Allah, dan tidak boleh pula memenuhi nadzar dalam hal-hal yang tidak dimiliki oleh manusia.”  

KESALAHPAHAMAN TENTANG AMAL IBADAH YANG DILAKUKAN DI KUBURAN

Ada dua kesalahpahaman tentang amal ibadah yang dilakukan di kuburan, baik berupa nadzar, thawaf, dan sebagainya.

1.    Anggapan sementara orang yang kurang pengetahuannya yang menyatakan bahwa orang yang melakukan amalan-amalan di atas kuburan itu tidak dapat disebut musyrik. Mereka itu mempercayai adanya Allah sebagai Pencipa Alam, mereka juga mempercayai Syari’at Islam dan Hari Kiamat. Mereka itu hanya tawassul (berperantara) dengan orang-orang yang shaleh, mereka tidak mau disebut musyrikin, bahkan mereka menghindari kemusyrikan. Bagaimana mungkin mereka disebut orang-orang musyrik?

2.    Kekafiran orang-orang musyrik itu adalah karena mereka mengingkari ketuhanan Allah, bukan karena membelokkan ibadah untuk selain Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah :

Artinya :

 “Mereka bertanya, apakah ar-Rahman itu?” (Al-Furqan: 60)

Dan firman Allah:

Artinya :

 “Padahal mereka itu kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.”

 (ar-Ra’d: 30)

Imam Ahmad bin Hajar Ali Buthami asy-Syafi’i menjawab kedua kesalahpahaman itu sebagai berikut:

1.    Orang-orang yang melakukan ibadah untuk selain Allah itu tetap disebut musyrik meskipun mereka menjalankan Syariat Islam. Hal itu karena kekafiran dan kemusyrikan itu bercabang-cabang dan bermacam-macam. Sebagaimana juga iman bercabang-cabang. Apabila ada orang yang menjalankan cabang-cabang iman, tetapi ia juga menjalankan sedikit cabang kemusyrikan, maka ia disebut musyrik. Misalnya, ada orang yang menjalankan ibadah shalat, puasa, dan beriman kepada kerasulan Nabi Muhammad, Hari Kiamat, dan hidupnya selalu zuhud, serta berakhlaq mulia, tetapi ia punya keyakinan bintang anu mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi orang. Atau dia punya keyakinan, bahwa di tangannyalah kekuasaan mendatangkan keberuntungan atau kecelakaan. Atau dia punya keyakinan tantang malaikat atau rasul, di mana hal itu tidak boleh diimani kecuali kepada Allah saja. Maka orang tersebut disebut musyrik, meskipun ia beramal shaleh. Bila tidak demikian, maka apa artinya ada kitab ar-Riddah (murtad)? Seseorang bisa disebut kafir atau musyrik meskipun tidak menjalankan semua macam dan jenis perbuatan kekafiran.

       Tentang mereka melakukan tawassul karena mereka beranggapan bahwa mereka itu banyak dosanya, sementara para wali itu lebih dekat kepada Allah, sehingga mereka menjadikan para wali itu sebagai perantara antara mereka dengan Allah, maka kemusyrikan seperti inilah yang justru dilakukan orang-orang musyrik Arab pada masa jahiliyah. Sementara bahwa mereka itu mengucapkan dua kalimat shahadat, maka dengan sendirinya ucapan shahadat itu batal atau gugur oleh perbuatan mereka yang bertentangan dengan maksud dua kalimat shahadat itu sendiri, sebagaimana halnya hadats sesudah wudhu’.  Pengakuan mereka tentang adanya Tuhan Pencipta Alam tidak ada artinya apa-apa, sebab orang-orang musyrikin juga mengaku adanya Tuhan, tetapi mereka tidak disebut muslim.

       Adapun pendapat yang mengatakan bahwa orangorang musyrik Arab mengingkari kebangkitan dari alam kubur, maka hal itu dapat dijawab, bahwa keyakinan mereka yang disebut di atas, adalah termasuk faktor-faktor yang menyebabkan seseorang dapat menjadi kafir. Rasulullah  mengkafirkan mereka, bahkan membolehkan untuk memerangi mereka, karena faktor-faktor yang banyak jumlahnya. Dan yang terbesar dari faktor-faktor ini adalah mereka menyembah berhala. Faktor lainnya adalah, mereka mengingkari kebangkitan dari kubur (al-ba’ts).

       Iman seseorang itu tidak akan diterima oleh Allah, apabila hanya separuh-separuh saja; separuh iman, separuh kafir. Ia wajib tunduk seraya meyakini terhadap apa yang disebutkan oleh Al-Qur’an dan dibawa oleh Rasulullah, serta mengamalkannya. Orang yang beriman dengan sebagian ajaran al-Qur’an  dan tidak beriman kepada se-bagian yang lain, maka dia termasuk kafir. Allah berfirman tentang orang-orang seperti itu.

Artinya :

       “Orang-orang kafir itu mengatakan:”Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir)” (An-Nisa :150)

       Sekadar mengucapkan dua kalimat shahadat saja tidak akan ada gunanya bagi mereka, sampai mereka mau mengamalkan isi maksud dari dua kalimat shahadat, yaitu melepaskan diri dari menyembah selain Allah dan hanya beribadah (menyembah) kepada Allah saja.           

       Dari keterangan-keterangan di atas dapat disimpulkan, betapa para ulama dari madzhad  Syafi’i itu sebenarnya telah berupaya untuk mengingatkan secara maksimal tentang bahaya kemusyrikan di dunia dan akhirat. Akhirnya, Allah-lah tempat kita mohon pertolongan, dan kepada-Nya kita menyerahkan segala urusan.

 

KHATIMAH

Segala puji bagi Allah, yang telah memberikan kekuatan kepada kami untuk menyelesaikan buku ini. Semua itu adalah atas anugrah dan kemurahan Allah. Hal-hal penting yang dapat disimpulkan dari buku ini adalah :

1.    Bahwa Imam Syafi’i dan para ulama Syafi’iyah pada masa klasik, sedikit sekali berbicara  tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan bid’ah-bid’ah kuburan. Hal itu karena pada masa mereka, bid’ah-bid’ah kuburan itu tidak banyak terjadi.

       Sementara ulama madzhab Syafi’i pada masa belakangan banyak berbicara tentang masalah tersebut.

2.    Kebanyakan ulama madzhab Syafi’i telah melakukan usaha-usaha yang sangat terpuji dalam menutup rapat-rapat segala pintu yang dapat membawa kemusyrikan. Hal ini mereka lakukan dalam rang-ka menjaga tauhid.

3.    Bid’ah-bid’ah yang berkaitan dalam masalah kuburan telah menjadi masalah yang sangat berat (parah) yang menimpa kebanyakan orang. Dan hal itu dapat menyeret mereka  kepada kemusyrikan yang besar.

4.    Syari’at Islam sangat berhati-hati dalam menjaga tauhid, di mana Islam mengharamkan segala macam perbuatan yang dapat menyebabkan kemusyrikan, di antaranya adalah hal-hal yang berkaitan dengan pengagungan (pemuliaan kuburan).

5.    Kemusyrikan benar-benar sangat melecehkan martabat manusia, di mana manusia harus ta’at dan menyembah kepada selain Allah. Kemusyrikan juga merusak akal manusia, karena ia akan mempercayai hal-hal yang bersifat klenik, takhayul, dan khurafat.

Akhirnya, inilah upaya kami yang belum berbuat banyak. Mudah-mudahan Allah menerimanya sebagai amal shaleh yang ikhlas kepada-Nya. Kami mohon maaf kepada para pembaca atas segala kekurangan dan kelemahan kami. Karena kelemahan adalah watak manusia. Allah-lah yang mengetahui di balik segala maksud kita. Dia-lah yang mencukupi kita, dan sebaik-baik Dzat yang kita serahi.

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

Diringkasdari buku “ Kemusyrikan Menurut Madzhab Syafi`iDr. Abdur Rahman al-Khumayyis Oleh: Husnul Yaqin,Lc


Read Full Post »

Kelompok Islam Somalia

Rencanakan Strategi Perang Panjang

Jumat, 29 Des 06 13:24 WIB

Beberapa jam setelah kelompok Mahkamah Islam Somalia menarik pasukannya dari ibukota Mogadishu, tentara pemerintah transisi dan tentara Ethiopia memasuki kota tersebut dan menguasai sejumlah markas Mahkamah Islam yang telah dikuasai sejak bulan Juni lalu.

Para pakar urusan militer Somalia sepakat bila penarikan mundur pasukan Mahkamah Islam itu justru dalam rangka mereka menyusun strategi perang besar yang akan mereka lakukan dalam jangka panjang. Tapi penarikan mundur tersebut menurut para pakar, akibat strategi militer Mahkamah Islam yang keliru.

Abdul Hakim Abu Bakar, mantan petinggi militer tentara Somalia mengatakan, “Tampaknya pasukan Mahkamah Islam mulai membaca peta masalah secara lebih baik. Mereka menggiring masuknya pasukan Ethiopia ke seluruh kota Somalia agar mereka lebih mudah diserang dari berbagai sisi.” Ia juga menilai bahwa penarikan mundur pasukan Mahkamah Islam itu boleh jadi tepat untuk menghindari korban dan kerugian yang semakin besar dari barisan mereka. Selain itu, tambahnya, langkah ini adalah langkah konsolidasi untuk melakukan perang di sejumlah tempat dengan metode perang yang tidak pernah diketahui oleh pasukan pemerintah Somalia sebelumnya.

Ini adalah awal peperangan baru. Seperti itulah analisa pakar militer terhadap peristiwa mutakhir di Somalia tersebut. Dengan masuknya pasukan pemerintah ke Mogadishu diiringi dengan tentara Ethiopia, berarti peperangan akan mendapatkan umpannya. Sejumlah pengamat menyebutkan, seperti di tahun 90-an, pasukan AS pernah kewalahan menghadapi serangan-serangan sporadis pejuang Somalia.

Sementara sikap pemerintah Ethiopia yang turut campur dalam masalah Somalia juga dianggap langkah yang keliru. “Tentara Ethiopia mendukung pemerintahan transisi Somalia yang memang tidak legitimate dan lemah. Satu-stunya jalan keluar adalah dengan menurunkan pasukan internasional atau pasukan Uni Afrika menggantikan pasukan Ethiopia.”

Namun demikian, langkah pasukan Mahkamah Islam untuk melibatkan pasukan Ethiopia masuk dalam peta peperangan dan menjadi target serangan, juga dianggap langkah yang keliru secara militer dan strategi politik. Terlebih keunggulan pasukan udara tentara Ethiopia yang bisa meluluh lantakkan barisan Mahkamah Islam. “Mahkamah Islam tidak melandaskan strategi perangnya secara tepat saat ia menyebutkan telah menguasai 80% wilayah selatan beberapa waktu terakhir.” Selain itu, pasukan Mahkamah Islam juga melakukan kekeliruan karena sejumlah pernyataan berbahaya yang dikeluarkan oleh para pimpinan mereka. Seperti perkataan, “Kami akan memerangi Adis Ababa dan mendudukinya.” Perkataan itu dikeluarkan oleh sejumlah petinggi pasukan Mahkamah Islam dan sangat berpotensi memicu kemarahan dunia. (na-str/iol) Eramuslim.com

Read Full Post »

Older Posts »