• Home
  • About
  • Rujukan
  • Shalat

Tridaya Mufakat Adil & Amanah

Bersinergi, Bersatu, dan Beritikad Baik.

Feeds:
Posts
Comments
« Rokok ?
Definisi »

Khatib Jumat

March 12, 2007 by trimudilah

Grogi, Jamaah Tertawa

Senin, 12 Mar 07 07:35 WIB

Assalamu’alaikum,

Ustad pengasuh yang dirahmati ALLAH, ada yang ingin kami tanyakan perihal syarat kotib jumat. Karena jumat ini di masjid kami terjadi hal yang menggelikan sekaligus agak memalukan, karena sang khotib yang ditunjuk ternyata tidak bisa mengucapkan dengan lancar rukun-rukun khutbah.

Entah karena tidak bisa atau grogi. Jadi yang diucapkan hanya ujung-ujungnya saja. Contoh ” yaa ayyuhalladzi…(ngga jelas).langsung..muslimun. Dan itu pada setiap ucapan berbahasa arab sampai ke doa juga. Sehingga membuat ada jamaah yang tertawa.

Bagaimana hukum dari sholat jumat kami? Apakah harus dilakukan khutbah ulang? Atau seperti apa tuntunannya?

Lebih dari itu, bagaimana solusi untuk mengatasi kekurangan umat ini? Sepertinya saat ini sangat sulit untuk mendapatkan seorang khotib yang bisa membangkitkan semangat atau minimal mengingatkan para jamaah jumat dengan baik.

Padahal moment jumat merupakan moment terbak untuk hal tersebut, karena kaum muslimin mau dengan sukarela dan sadar datang ke masjid. Hanya saja kurang termanfaatkan dengan baik moment-moment ini.

Demikian kami sampaikan, mohon maaf bila terlalu panjang. Atas penjelasan ustadz, kami ucapkan terimakasih.

Wassalam,

Mujahid
abu_ubaidah at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Para ulama semua mazhab sepakat bahwa paling tidak untuk sebuah khutbah jumat itu harus terpenuhi 5 rukun. Dan kelimanya harus diucapkan dalam bahasa arab. Selebihnya, boleh digunakan bahasa yang sesuai dengan bahasa hadirin yang ikut dalam khutbah tersebut.

Seandainya salah satu dari kellima hal itu tidak terpenuhi, maka khutbah itu tidak sah. Maka jamaah diwajibkan untuk melakukan shalat Dzhuhur dengan 4 rakaat, atau harus ada seseorang yang menyelematkan khutbah itu dengan memenuhi kelima rukunnya.

Lalu lima rukun itu apa saja?

1. Mengucapkan hamdalah.

Seperti lafadz ‘alhamdulillah’ atau ‘innal hamda lillah’. Dan sudak cukup terpenuhinya rukun pertama ini bila khatib hanya mengucapkan satu kalimat ini saja.

2. Mengucapkan shalat kepada nabi Muhammad SAW.

Misalnya dengan lafadz: ‘ash-shalatu ‘ala Muhammad‘, atau lafadz ‘Ushalli wa usallim ‘ala nabiyi Muhammad’, dan sebagainya. Cukup lafadz singkap ini diucapkan dengan benar, maka rukun yang kedua sudah terpenuhi.

3. Berwasiat atau Memberi Nasehat

Misalnya dengan ucapan: ‘ittaqullah’, yang artinya bertaqwa atau takutlah kepada Allah. Cukup satu kata ini saja, sesungguhnya rukun yang ketiga sudah terpenuhi.

4. Membaca sepenggal dari Ayat Quran

Misalnya, membaca potongan ayat: ‘Qul huwallahu ahad‘. Sebenarnya, sepotong itu saja sudah termasuk membaca ayat Al-Quran. Dan sudah sah rukun yang keempat.

5. Mendoakan Umat Islam

Seperti mengucapkan: ‘allahummaghfir lil muslimin’, yang artinya, “Ya Allah, ampunilah umat Islam.” Dan lafadz ini saja sudah cukup untuk memenuhi syarat yang kelima.

Khusus rukun yang keempat dan kelima, ada perlakuan khusus. Untuk khutbah yang pertama, rukunnya adalah nomor 1, 2, 3 dan 4. Untuk khutbah kedua, rukunnya adalah nomor 1, 2, 3 dan 5. Berarti pada khutbah pertama, tidak perlu mengucapkan doa. Sedangkan pada khutbah kedua tidak perlu membaca lafadz ayat Al-Quran.

Dari rukun khutbah di atas, maka sesungughnya untuk sebuah khutbah jumat itu bisa sah dilakukan, bisa dilakukan hanya dalam hitungan detik dan satu kali helaan nafas. Asal tahu ilmunya.

Sebaliknya, meski sebuah khutbah disampaikan panjang dan lebar serta dalam, namu kekurangan satu rukun, khutbah itu tidak sah. Harus diulang atau berganti jadi shalat Dzhuhur.

Tanggung Jawab Takmir Masjid

Maka sah atau tidaknya sebuah khutbah jumat, selain menjadi tanggung-jawab si khatib sendiri, juga menjadi tanggung jawab takmir masjid.

Pertama, mulai dari proses pemilihan khatib, harus diseleksi benar kefahamannya terhadap syariah, terutama dalam fiqih shalat dan khususnya shalat dan khutbah jumat. Jangan sampai takmir masjid memilih khatib yang keliru, tidak mengerti aturan dalam khutbah jumat. Akibatnya tentu fatal. Siapa yang akan menanggung dosa jamaah sekalian yang shalat jumatnya tidak sah?

Kedua, takmir masjid harus tanggap dalam mengantisipasi keadaan. Seandainya terjadi kasus di mana khatib tidak mampu menyemprnakan rukunnya, entah karena tidak tahu atau karena tidak mampu mengucapkan dalam bahasa arab yang benar, maka harus ada seorang dari takmir yang ‘menyelamatkan’.

Sesudahnya khatib turun mimbar, dia harus naik mimbar dan berkhutbah dua kali, cukup rukunnya saja dan bisa dilakukan dalam satu helaan nafas.

Hal seperti ini pernah kejadian di suatu instansi/ Departemen tertentu di negeri ini. Almarhum orang tua kami menceritakan hal itu, dan beliau sebagai penganggung-jawab masjid di Departemen tersebut, mau tidak mau harus naik mimbar sebelum iqamat dilantunkan, untuk menyelematkan shalat jumat para jamaah.

Maka takmir masjid pun harus paham syariah. Bukan asal tunjuk dan asal pilih saja.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Advertisement

Like this:

Like
Be the first to like this post.

Posted in Tanya Jawab | 4 Comments

4 Responses

  1. on November 18, 2008 at 1:10 am [DOA] bacaan dan Rukun khatib jumat « oRiDoâ„¢ On wORds

    [...] [gROgi, jamaah tertawa] http://trimudilah.wordpress.com/2007/03/12/khatib-jumat/ [...]


  2. on January 8, 2010 at 7:03 am Bacaan dan Rukun khatib jumat « Alhakiki's Blog

    [...] [gROgi, jamaah tertawa] http://trimudilah.wordpress.com/2007/03/12/khatib-jumat/ [...]


  3. on March 21, 2010 at 1:58 pm [DOA] bacaan dan Rukun khatib jumat « Berbagi Ilmu

    [...] [gROgi, jamaah tertawa] http://trimudilah.wordpress.com/2007/03/12/khatib-jumat/ [...]


  4. on July 23, 2010 at 1:52 pm Contoh bacaan/doa Khutbah Jum’at « TIADA KEMULIAAN TANPA ISLAM

    [...] Grogi Jamaah Tertawa [...]



Comments are closed.

  • TRIMUDILAH

    • About
      • Demi Masa
    • Rujukan
      • Kutipan Hadist
    • Shalat
  • Salam Hangat dari Trimudilah

    Menyatukan jejak dan merangkumnya dalam hikmah Mohon maaf apabila terdapat kekurangan, Sekaligus semoga bermanfaat. -3boys-
  • Label

  • Recent Posts

    • Daurah Sejarah Peradaban Islam
    • Melepas Belenggu Taklid dan Fanatisme
    • Trend Muslim Bergaya Musyrik
    • Petunjuk Kerja
    • Pelaut dan Musafir
  • Archives

    • April 2009 (3)
    • November 2007 (1)
    • August 2007 (26)
    • July 2007 (26)
    • June 2007 (95)
    • May 2007 (99)
    • April 2007 (161)
    • March 2007 (94)
    • February 2007 (42)
    • January 2007 (110)
    • December 2006 (101)
    • November 2006 (21)
  • Kalender

    March 2007
    M T W T F S S
    « Feb   Apr »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Top Posts

    • FADHILAH SURAT YASIN
    • Talak & Cerai
    • MALAM PERTAMA DAN ADAB BERSENGGAMA
    • Budidaya Belut (3)
    • Budidaya Belut
    • Sistem Ekonomi Islam
    • Rukun Jual Beli dan yang Boleh
    • Berzina dengan Adik Ipar
    • Berzina Adalah Dosa Besar
    • Tentang Istihsan
  • Ditanya Itu Pasti, Tapi Bagaimana Menjawabnya?

    Sesungguhnya kalian berada dalam perjalanan malam dan siang. Dalam umur yang terus berkurang, dengan amal yang tersimpan, dalam kematian yang akan tiba-tiba datang." (Ibnu Mas'ud r.a.) Alangkah luas dunia ini. Tempat setiap kita bisa menjalani hidup dan memilih -dengan sadar- arah dan tujuan kita. Tetapi segalanya tidak berakhir disini. Tapi di sana, di akhirat kelak. Saat kita akan ditanya, apa yang telah kita persembahkan untuk kehidupan yang abadi itu? Menjadi hidup memang takdir, tetapi menjalani hidup secara baik adalah pilihan. Sebab toh kita akan pergi, meninggalkan dunia ini. Tak ada yang menolak kepastian akan kematian. Tetapi menjadi sadar sepanjang waktu tidaklah mudah. Yang dengan kesadaran itu kita membekali diri dengan sebaik-baiknya. Betapa kesadaran itu tidak mudah. Ia harus terus diasah dan ditegaskan. Bahwa mengetahui kematian saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah kesadaran apa yang bisa dibangun dari pengetahuan itu. Lalu dari kesadaran itu apa yang akan kita lakukan? Apa yang akan kita jawab, pada hari hisab, pada saat kita ditanya? Sebab ditanya itu pasti. Tapi bagaimana dan dengan apa menjawabnya?
  • Top Clicks

    • en.wikipedia.org/wiki/The…
  • Pengunjung

    • 616,959 hits

Blog at WordPress.com.

Theme: MistyLook by Sadish.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Powered by WordPress.com